Anda di halaman 1dari 102

http://inzomnia.wapka.

mobi

VIVIAN VANDE VELDE


Sang Penyihir Beraksi
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi
Manis dan Asam
"Aku datang untuk menolongmu."
Sang putri cemberut. "Ayah mengutusmu, kan?"
"Tidak," sang penyihir menjelaskan, "sebenarnya yang
mengutusku adalah pangeran dari Talahandra."
Sang putri melempar sebutir permen ke udara dan
menangkapnya dengan mulut. "Aku tak pernah dengar tentang
dia."
Sang penyihir memerhatikannya mengunyah, mengunyah, dan
mengunyah. Kemudian, ia memerhatikan sang putri memilih
permen lain dan kembali melemparnya ke dalam mulut.
Biasanya, usaha penyelamatan tidak berlangsung seperti ini.
Akhirnya, sang penyihir berkata, "]adi, bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" "Kau mau ikut?"
Sang putri bertanya, "Maksudmu: Apakah aku setuju untuk
diselamatkan?" "Ya." "Tidak." "Tidak?" "Ya."
Sang penyihir menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha
memahami. "Apa maksudmu tidak?"
Untuk Gloria,
si ahli aksara

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Isi Buku
Bagaimana Semuanya Berawal 9
Putri Cantik. Ibu Tiri Kejam.
dan Saudari Tiri Buruk Rupa 20
Amukan Makhluk Buas 49
Menyelamatkan Seorang Putri 75
Sang Penyihir dan Hantu 102
Sang Putri dan Petualangan
Mencari Timun Emas 152
1. Bagaimana Semuanya Berawal
SANG PENYIHIR sedang sibuk dengan urusannya sendirikurang lebih begitu ketika seorang penyihir wanita
menjatuhkan sebuah kutukan padanya-atau mungkin juga tidak
begitu.
Kejadiannya seperti ini: Sang penyihir adalah seorang pria
muda yang dengan kekuatan sihir sering menjelma menjadi pria
tua. Penampilan seperti itulah yang diharapkan khalayak ramai
dari seorang penyihir. Ia mengelola sebuah sekolah untuk para
penyihir muda dan selama satu tahun ajaran sekolah, ia
berpenampilan seperti pria tua berjanggut. Alasannya, ia
merasa kurang dihormati bila para muKoleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

rid tahu dirinya hanya sedikit lebih tua dari mereka. Jadi,
begitu tahun ajaran sekolah berakhir, ia merasa lega karena
bisa melepaskan penyamarannya dan bersantai-seperti ketika
kita melepaskan sepatu yang sangat ketat dan pakaian indah
yang kita khawatirkan akan terkait atau ketumpahan sesuatu.
Setelah melewati musim dingin yang benar-benar buruk dan
musim semi yang tiba lebih telat dari biasanya, sang penyihir
mengirim semua muridnya pulang. Hari ini adalah hari pertama
liburan musim semi. Ia-dengan kekuatan sihirnya- mengirim
dirinya sendiri ke Desa Saint Wayne the Stutterer. Saint
Wayne bukanlah seorang tokoh suci yang penting dan desa itu
sendiri berukuran kecil. Sang penyihir kenal sebagian besar
penduduk desa itu dan sebagian besar dari mereka mengenal si
penyihir dalam wujud aslinya. Ia perlu membeli persediaan
untuk kebunnya, termasuk sebuah pacul baru. Ia sedang
mengantri di toko pandai besi
ketika seorang penyihir wanita-yang tak dikenalnya-tiba-tiba
muncul bersama ketiga anaknya.
Muncul dengan kekuatan sihir.
Seperti begini: Detik ini, tidak ada- detik berikutnya, ada.
Mereka muncul tepat di depan sang penyihir kurang lebih lima
detik sebelum si pandai besi selesai dengan pelanggan
sebelumnya, mengangkat muka, dan bertanya, "Siapa
berikutnya?"
"Aku," kata si penyihir wanita sambil menghampiri si pandai
besi.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir tak ingin berburuk sangka. Ia percaya bahwa si


penyihir wanita- dengan kekuatan sihir-telah mengirim dirinya
ke mana pun yang diinginkan dan secara tidak sengaja telah
memotong antrean di depannya. Ia bahkan bersedia
membiarkan wanita itu dilayani terlebih dahulu karena ia
sendiri tidak sedang terburu-buru. Ia ingin menghabiskan hariharinya dengan tenang, damai, dan penuh kehangatan.
Anak-anak penyihir wanita itu-dua laki-laki dan satu
perempuan-sedang menyodok, menabrak, mengejek, dan
menggoda satu sama lain. Anak laki-laki yang lebih tua sangat
jahil. Anak yang lebih kecil sangat cengeng, sementara yang
perempuan suka merengek. Ketiga anak itu tak henti-hentinya
berteriak, "Bu!" dengan suara melengking dan menjengkelkanseperti, "Bu, dia melakukannya lagi!" dan "Bu, dia yang mulai!"
dan "Bu, sudah selesai atau belum?"
Si penyihir wanita mengabaikan tingkah anak-anaknya sambil
menjelaskan kepada si pandai besi tentang gerendel pagar yang
ingin ia perbaiki.
Sang penyihir tidak memiliki anak kandung, tapi menurutnya
memiliki murid hampir sama dengan memiliki anak. Dalam
hatinya ia berkata, takkan pernah kubiarkan anak-anakku
berperilaku buruk seperti ini. Memang, murid termudanya
berusia dua belas tahun, sementara yang tertua dari anak-anak
ini baru berusia
tujuh tahun, tapi hal itu sama sekali bukan alasan bagi perilaku
buruk mereka.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Anak laki-laki yang lebih besar memukul adiknya sampai


terdorong ke belakang dan menginjak jemari kaki sang
penyihir.
"Hati-hati," kata sang penyihir sambil memegang bahu sang
anak yang sepertinya tidak menyadari bahwa dirinya sudah
tidak menginjak tanah lagi.
Anak itu memalingkan kepala dan memandang sekilas ke arah
sang penyihir. Ia seakan bertanya, "Mengapa kakimu berada di
bawah kakiku?" Kakaknya mengambil kesempatan itu untuk
memukul bagian belakang kepalanya. "Bu!" rengek anak laki-laki
yang kecil sambil menyikut saudara perempuannya.
"Bu," si anak perempuan merengek.
"Bu!" anak laki-laki yang besar ikut berseru, seakan-akan
dirinya yang diganggu.
Sementara si pandai besi sedang mengerjakan gerendel, si
penyihir wanita menengok dan membelalakkan mata ke arah
sang penyihir. "Ada apa?" kata wanita itu, antara menggertak
dan membentak.
Sang penyihir sedang tidak ingin terlibat dalam pertikaian
sehingga ia hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa
ia tidak tahu-menahu. Kemudian, ia menatap langit-langit dan
dinding bagian belakang toko.
Si penyihir wanita memandang tajam selama beberapa saat
sebelum kembali memerhatikan si pandai besi.
Anak-anak itu menjadi semakin ribut.
Si penyihir wanita seperti tidak mendengar mereka.
Walaupun demikian, ia mendengar desahan sang penyihir.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia berbalik untuk kedua kalinya dan bertanya, "Apakah Anda


mempunyai masalah dengan anak-anakku?"
"Tidak," sang penyihir meyakinkannya. Ia tidak tahan untuk
bertanya, "Bagaimana dengan Anda?"
"Beraninya Anda!" si penyihir wanita menimpali dengan galak.
"Beraninya Anda
mengkritik padahal Anda tidak tahu apa pun tentang kami? Apa
menurut Anda anak-anakku menyebalkan? Apakah Anda pernah
berpikir bahwa mungkin ada alasan mengapa mereka
bertingkah-laku buruk? Akankah Anda memaklumi tingkah
mereka yang ribut dan tidak lazim ini seandainya mereka baru
saja terkurung di rumah selama dua minggu karena sakit?
Bagaimana seandainya ayah mereka mungkin tidak akan
sembuh, dan seandainya adik mereka baru saja meninggal?"
"Aku benar-benar menyesal," sang penyihir berkata. Walaupun
cenderung cepat menjadi tidak sabar, ia tak ingin menyakiti
siapa pun. "Aku sungguh tidak tahu."
Si penyihir wanita mendengus dan berbalik ke si pandai besi
yang sudah selesai mengerjakan gerendelnya.
Sang penyihir merasa betul-betul menyesal karena sudah
menganggap keluarga itu menjengkelkan, padahal mereka telah
melalui begitu banyak kesusahan. Karena itulah, ia bersedia
memaafkan mereka,
bahkan memaafkan anak perempuannya yang sedang
menjulurkan lidah kepadanya.
Anak laki-laki yang kecil masih merengek, tapi sekarang sang
penyihir sadar bahwa anak itu sedang pilek. Ia menyadari hal
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tersebut ketika anak itu men-cucukkan jari ke dalam


hidungnya, mengeluarkan jari tersebut, dan menyekanya di
lengan baju sang kakak laki-laki. Si abang sama sekali tidak
tahu karena sedang dengan diam-diam mengikat jalinan rambut
saudara perempuannya menjadi satu.
Penyihir wanita itu membayar si pandai besi dan berkata, "Ayo,
anak-anak, mari kita pergi ke tempat penggilingan gandum."
Sang penyihir ingin wanita itu tahu kalau dirinya menyesal
telah memandang rendah mereka. Jadi, ia berdiri diam di
tempat dan berkata, "Aku benar-benar menyesal."
Si penyihir wanita menjadi marah terhadap sikap sang penyihir.
"Mengapa? Apa lagi yang telah Anda lakukan sekarang?"
"Tidak ada," jawab sang penyihir sambil tergagap. "Maksudku,
aku menyesal atas apa yang telah terjadi pada Anda."
Si penyihir wanita itu memandang sekilas ke sekeliling dengan
curiga.
"Apa yang terjadi?" ia bertanya.
Sang penyihir menjadi bingung. "Ayah anak-anak ini sakit. Adik
mereka baru meninggal."
"Aku tak pernah bilang ada yang sakit atau meninggal," si
penyihir wanita itu berkata dengan geram, seakan-akan sang
penyihir dengan sengaja tidak mengerti. "Aku bilang,
'Seandainya Sebenarnya, anak-anakku bertingkah laku seperti
ini karena mereka memang manja." Si penyihir wanita
menggeleng-gelengkan kepala dan berlalu dengan cepat dari
hadapan sang penyihir sambil bergumam, "Penyihir dungu." Ia
menambahkan, "Anda takkan pernah menemukan kebahagiaan
sejati sampai Anda belajar untuk tidak terlalu cepat
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

menghakimi orang lain dan menilai suatu hal bukan dari


permukaannya saja."
Kalau itu memang hanya sebuah ucapan biasa, tentu tidak akan
ada akibat di kemudian hari. Dan kalau itu adalah sebuah
mantra, biasanya sang penyihir akan merasakan kekuatan
sihirnya, khususnya kalau mantra itu ditujukan pada dirinya.
Tapi anak-anak itu mendorongnya saat mereka berdesakan ke
luar, dan sang penyihir mungkin tidak merasakan kekuatan sihir
mantra itu.
Walaupun demikian, kalau ucapan itu memang sebuah kutukan,
itu bukan kutukan yang buruk. Sang penyihir cukup senang
dengan hidupnya. Ia bisa mengurus kebunnya di musim panasjika tidak diinjak-injak kelinci-dan memancing serta
mengerjakan hal-hal sepele lain yang menyenangkan. Dan
kalaupun sesekali ia merasa kesepian, itu biasanya bertepatan
dengan saat di mana murid-muridnya akan segera kembali di
musim gugur. Kemudian, ketika mereka mulai membuatnya
kesal, liburan musim panas pun tiba kembali.
Hidup ini cukup memuaskan dan juga bisa ditebak, pikir sang
penyihir sambil menghampiri si pandai besi untuk memberikan
pesanannya.
Kebahagiaan sejati-menurutnya-terlalu berlebihan.
2. Putri Cantik, Ibu Tiri Kejam, dan Saudari Tiri Buruk Rupa

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

SEKEMBALINYA KE rumah, ketika sang penyihir dengan ceria


sedang merawat kebun, seekor burung gagak dengan sepucuk
pesan terikat di kaki datang dan tidak mau beranjak pergi.
"Tolong," demikian bunyi pesan itu. (Pesan itu ditulis dengan
tinta ungu di atas kertas surat merah muda yang harum dan
ditutup dengan segel lilin berbentuk mawar mungil.) "Aku
dikurung oleh ibu tiriku yang kejam dan saudari tiriku yang
buruk rupa menyihirku serta tunanganku. Tolong, tolong,
tolonglah aku."
Surat itu diakhiri dengan, "Tertanda, Putri Rosalie." Siapa pun
Putri Rosalie ini, ia membubuhi gambar mawar mungil sebagai
titik di atas huruf 'i' dalam namanya.
Sang penyihir memang pemarah, namun ia tidak sampai hati
untuk tidak menolong orang yang sedang berada dalam
kesulitan, dan ini sepertinya masalah serius. "Berapa jauh?" ia
bertanya pada si burung gagak.
Si burung gagak, yang sedang berdiri di lengan kiri orangorangan sawah di kebun sang penyihir, menggaruk lengan baju
orang-orangan itu-dua kali.
Pasti bukan dua mil. Sang penyihir kenal semua orang di sekitar
sini dan tak ada yang bernama Putri Rosalie. "Dua jam
perjalanan?" ia bertanya dengan penuh harap. Sang penyihir
mempunyai kekuatan sihir yang bisa membuatnya memindahkan
diri secepat kilat ke tempat tertentu. Tapi kekuatan sihir itu
hanya berlaku untuk pergi ke tempat yang sudah
pernah ia kunjungi. Karena ia tidak tahu siapa dan di mana sang
putri berada, ia harus berjalan atau berkuda. Kuda-dengan gigi
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

besar dan kuning serta kaki besar dan aneh-bukanlah binatang


yang disukai sang penyihir. "Apakah sang putri berada dua jam
perjalanan dari sini?" tanyanya lagi.
Burung gagak itu melompat ke atas kepala orang-orangan
sawah dan mematuk matanya yang terbuat dari kancing.
Sang penyihir mendesah. "Dua hari?"
Si gagak mengembangkan sayap dan terbang ke arah timur
laut. Kemudian, ia berputar kembali dan mendarat di kepala
orang-orangan sawah.
Sang penyihir kembali mendesah. Begitu banyak yang harus ia
lakukan untuk membenahi kebunnya. Ia mencoba untuk
memusatkan pikiran pada berbagai masalah yang ia hadapi-pada
berbagai alasan yang membuatnya berpikir untuk tidak pergi,
seperti kelinci-yang sudah tidak takut lagi pada orang-orangan
sawah dan
yang telah menganggap kebunnya sebagai sarang mereka. Tapi
pandangan sang penyihir kembali tertuju pada surat berwarna
merah muda dan ungu itu. "Tolong, tolong, tolonglah aku,"
bacanya lagi.
Setelah sekali lagi mendesah, sang penyihir menggumamkan
mantra yang mengubah penampilannya menjadi pria tua yang
terlihat seratus tahun lebih tua dan yang mengganti pakaian
kerjanya dengan jubah dan topi kerucut bertabur motif
bintang yang selalu ia kenakan saat berada di depan umum.
Kalau ia tidak berpenampilan seperti itu, sepertinya tak
seorang pun akan percaya kalau ia benar-benar seorang
penyihir.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia menjulurkan lengan ke arah si gagak yang segera hinggap


sambil mengepakkan sayap hitamnya. Kemudian, burung itu
mengangkat ekor dan buang kotoran di lengan bajunya.
"Dasar bodoh," gumam sang penyihir.
Tapi seketika itu juga, mereka sudah pindah ke lumbung Petani
Seymour, di
mana ada seekor kuda betina berperangai buruk yang
disewakan si petani dengan harga selangit, kapan pun sang
penyihir membutuhkan tunggangan.
Setelah berkuda selama dua hari, si burung gagak akhirnya
memandu sang penyihir ke sebuah kastil kecil yang dikelilingi
oleh sebuah kota kecil, di tengah-tengah sebuah lembah nan
hijau dan damai.
Dan di sana, si ibu tiri kejam (sang penyihir yakin itu orangnya)
dan saudari tiri buruk rupa sedang berjalan santai di sebuah
jalan besar dari arah kastil.
Sang ibu berperawakan tinggi, kurus, dan berpakaian serba
hitam. Matanya, pikir sang penyihir, tampak seperti musang
jahat. Si ibu dan anak berjalan terus- sambil melihat ke kiri
dan kanan-memerhatikan serta menilai segala yang terjadi di
sekitar mereka.
Sang anak adalah versi muda dari sang ibu. Namun, pakaiannya
berwarna-warni terang dan suara tawanya yang keras
mengingatkan sang penyihir pada suara babi yang menguik.
Sang penyihir tidak ingin masuk ke kastil secara terangterangan karena ia tidak tahu bagaimana si ibu tiri kejam akan
bereaksi-ibu tiri kejam biasanya tak bisa ditebak. Lebih baik ia
mengitari kastil dan masuk lewat jalan belakang. Jadi, dengan
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

memasang tampang yang menurutnya terlihat acuh tak acuh


serta agak bosan, ia berkuda melewati orang-orang yang
sedang berkumpul di sekitar kedua wanita itu.
Akan tetapi, tampaknya burung gagak yang membawa pesan
Putri Rosalie tak mengerti tindakan sang penyihir. Saat melihat
sang penyihir melenceng dari jalan masuk kastil, si gagak
terbang dari tempatnya bertengger-di atas pantat kuda- dan
mulai mengitari kepala sang penyihir sambil berkaok kalut.
"Shhh!" sang penyihir mengibas-ngibaskan tangan di depan
wajahnya agar si gagak tidak terbang terlalu dekat.
Burung itu menukik ke arah kepala sang penyihir, lalu berhenti
ketika nyaris menabraknya dan memekik marah. Kemudian, ia
kembali membumbung ke udara dan menukik lagi ke arah sang
penyihir. Dan lagi. Dan lagi.
Orang-orang memerhatikan mereka. Sang ratu yang kejam dan
anak perempuannya, para pejalan kaki, para pedagang di kedai
masing-masing-semuanya berhenti untuk memerhatikan sang
penyihir dan si gagak. Seorang pesulap jalanan, yang merasa
terganggu, menjatuhkan salah satu tongkat lemparnya. Ia
kemudian memasukkan semua tongkatnya ke balik lengan baju
satinnya yang berwarna merah hijau. Ia tidak ingin bersaing
mencari perhatian dari kerumunan orang yang bertambah
ramai dalam waktu singkat.
"Hentikan!" desis sang penyihir pada si gagak.
Ia menelungkupkan bahunya dan membungkuk ke sadel kuda
agar dirinya tidak begitu kelihatan. Namun, hal itu malah
membuat anak-anak di antara kerumunan menunjuk ke arahnya
dan berteriak, "Lihat, si bungkuk dan burungnya yang terlatih!"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir menghentakkan kakinya ke perut si kuda, tapi


binatang pemarah itu malah melonjak-lonjak dan berusaha
menggigitnya. Ia menggerakkan kakinya ke belakang agar jauh
dari gigi-gigi besar milik si kuda. Usahanya sia-sia karena kuda
itu terus berusaha menggigitnya. Binatang itu berputar-putar
seperti seekor anjing yang sedang mengejar ekornya sendiri
atau seperti si burung gagak, yang masih saja berulang kali
menukik ke arahnya. Akhirnya, ia mengangkat dan menyilangkan
kedua kakinya di atas sadel.
Orang-orang yang berkerumun bertepuk tangan sebagai tanda
kagum.
Sang penyihir melepaskan topi dan berusaha menangkap si
gagak dengan topi itu. Ia hampir saja jatuh dari kuda. Setelah
mencoba tiga kali, ia akhirnya berhasil menangkap burung itu.
Dengan cepat ia
menggerakkan tangan untuk menutup topinya dari atas.
Kerumunan orang bersorak. Sang penyihir mendengar
seseorang berterima kasih pada sang ratu karena telah
memberikan atraksi yang sangat menghibur pada hari itu.
Sambil memegang topi yang berguncang hebat dan
mengabaikan jeritan penuh kemarahan dari dalam topi itu, sang
penyihir berusaha sebisa mungkin tersenyum dengan tenang
dan manis. Ia membungkuk ke arah para penonton yang sangat
terhibur. Ia memandang sekilas ke arah sang ratu. Wanita itu
memicingkan matanya sehingga yang tampak hanya sepasang
garis tipis. Ia juga mengernyitkan alisnya sehingga tampak
seram. Sambil menahan napas, sang penyihir berbisik pada
kudanya, "Cepat jalan, kuda bodoh."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Bagaikan sebuah pawai, sekarang sang penyihir dibuntuti oleh


serombongan anak kecil. Mereka terus mengikutinya sampai
jauh dari kastil. "Tuan!" mereka terus berteriak memanggil.
"Hei, Tuan! Apa lagi yang akan Tuan lakukan dengan burung itu?
Tapi akhirnya, setelah hampir satu mil jauhnya dari rumah
terakhir di kota itu, karena ia tetap diam dan tidak
memberikan tontonan, anak-anak itu satu per satu berhenti
mengikutinya.
Ketika sudah tidak ada seorang anak pun yang mengikutinya, ia
memegang ujung topinya dan menggoyangkannya. Si burung
gagak menjerit marah dan melesat terbang ke arah kastil.
Sang penyihir segera membaca mantra untuk mengubah
wujudnya menjadi seekor burung.
Kuda milik Petani Seymour pasti merasa merinding akibat
kekuatan sihir yang menyertai mantra itu. Binatang itu
meringkik dan pandangannya menjadi liar seperti yang selalu
terjadi bila ia ingin menggigit sang penyihir. Akan tetapi, pada
saat itu sang penyihir sudah terbang menjauh ke arah kastil.
Kalau aku beruntung, pikirnya, kuda itu akan berlari pulang
sebelum aku kembali.
Sang penyihir hanya bisa bertahan dalam wujud yang berbeda
untuk beberapa saat. Dan sekarang, bahunya sudah terasa
pegal karena terus dikepakkan untuk terbang. Si gagak yang
diikutinya seolah tahu penderitaan sang penyihir dan dengan
kejam sengaja mengitari kastil itu sebanyak dua kali sebelum
akhirnya terbang masuk melalui sebuah jendela di menara yang
tinggi. Dengan sisa kekuatannya, sang penyihir mendarat di

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tubir jendela dan mengubah diri ke wujud aslinya secepat kilat


sehingga hampir terjatuh.
Seseorang di dalam ruangan itu menjerit.
Sang penyihir mencengkeram pinggiran jendela dan melompat
masuk.
Ruang itu adalah sebuah kamar tidur seorang wanita; dan
meskipun saat itu sudah sekitar jam dua siang, wanita yang
dimaksud sedang berbaring di tempat tidur.
Ia mencengkeram seprai di sekitar lehernya dan tampak siap
untuk menjerit lagi.
"Tolong, jangan lakukan itu," sang penyihir memohon sambil
menutup telinga dengan kedua tangannya. Wanita itu sangat
besar-dan suaranya juga besar.
Tapi ia menjadi heran karena wanita itu segera menjadi tenang.
Ia bisa melihat bahwa mulut wanita itu bergerak, tapi untuk
berbicara, bukan untuk menjerit.
"Maaf. Apa katamu?" tanya sang penyihir sambil secara
perlahan melepaskan tangannya dari telinga.
Wanita itu menaikkan seprai untuk menutupi bagian terbawah
dagunya yang berlipat-lipat. "Aku bilang, Anda sang penyihir,
bukan?'" Ia tak menunggu jawaban sang penyihir, tapi malah
menarik seprai ke atas dengan satu tangan untuk menutupi
wajahnya, dan dengan tangan lain melepas topi tidurnya serta
mengembungkan rambutnya yang berwarna gelap. Ia mengambil
sebuah cermin dari meja kecil di samping tempat tidur, danmasih sambil bersembunyi di balik seprai-mulai merapikan diri.
"Jangan repot-repot," sang penyihir bergumam. "Aku hanya
sekedar lewat."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanpa memedulikan ucapan sang penyihir, wanita itu


menjelaskan, "Aku tidak tahu kalau Anda akan datang secepat
ini. Kalau tahu, aku pasti bisa bersiap-siap."
"Begini," lanjut sang penyihir seakan-akan tak mendengar
wanita itu, "Aku tadi sedang mengikuti burung gagak ini. Ia
terbang masuk ke sini-kau pasti melihatnya tadi, bukan?" Ia
melirik burung kejam itu. Makhluk tersebut sedang bertengger
di salah satu tiang tempat tidur sambil membelalak marah.
"Dan aku tadi tidak sadar kalau ini adalah kamar tidur
seseorang. Aku benar-benar minta maaf. Aku akan segera
pergi dari sini sekarang."
Sambil terus mengabaikan kata-kata sang penyihir, wanita itu
terus berbicara, "Tadinya kupikir mungkin harus ada sesuatu
atau mungkin selembar layar untuk menyekat ruangan ini pada
saat kita bertemu pertama kali sebelum aku menjelaskan apa
yang telah terjadi."
"Begini, aku sedang ada urusan penting ...."
"Tapi ternyata begini jadinya. Tolong tunggu sebentar saja ya
...."
"Aku harus menyelamatkan seorang putri-"
Wanita itu muncul dari balik seprai sambil tersenyum dan
mengenakan sebuah mahkota. "Beginilah."
"Putri Rosalie," sang penyihir menyelesaikan kalimatnya.
"Ya," kata wanita itu sambil agak menundukkan kepala seperti
layaknya seorang bangsawan.
Sang penyihir, yang sudah memegang gagang pintu, tertegun.
Ia menatap wanita yang tampak hampir sebundar bola itu,
kemudian melihat ke arah pintu, dan kemudian ke arah wanita
itu lagi. Ia men-deham. "Putri Rosalie?" ulangnya pelan.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Kesabaran wanita itu akhirnya habis. "Kalau ini benar-benar


membuat Anda
terkejut, bayangkan bagaimana perasaanku," kata wanita itu
dengan ketus.
"Maaf, maksudmu?"
"Kutukan itu, Penyihir, ini adalah kutukan saudari tiriku yang
buruk rupa."
"Oh!"
Putri Rosalie kembali mengambil cermin. "Apakah benar-benar
seburuk itu?" Ia menatap bayangannya di cermin, dan kemudian
menyeka air mata yang menitik.
"Tidak," sang penyihir cepat-cepat menimpali. "Tidak,
sungguh." Wanita itu memang besar, tapi wajahnya sebenarnya
lumayan manis. Walau begitu, ia merasa wanita itu tidak akan
senang bila ia mengungkapkan hal itu.
Putri Rosalie menggapai sandaran kepala tempat tidur
perunggunya dan memukulkan pinggiran cermin ke dinding.
"Bernard!" teriaknya. Kemudian, ia berkata pada sang penyihir,
"Kalau menurut Anda keadaanku ini buruk, tunggu sampai Anda
melihat Pangeran Bernard."
Sebelum sempat berpikir untuk memberikan tanggapan, sang
penyihir mendengar suara garukan di pintu.
"Bisa tolong buka pintunya?" kata sang putri sambil menunjuk
ke arah pintu.
Secara perlahan dan hati-hati, sang penyihir membuka pintu
itu dan seekor anjing Saint Bernard yang sangat besar
melompat masuk serta mendorongnya sampai terjatuh.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pangeran Bernard, ini adalah Tuan Penyihir," sang putri


memperkenalkan keduanya. "Tuan Penyihir, ini adalah Pangeran
Bernard."
"Ah paling tidak, ia cukup ramah," ia akhirnya berkata,
sementara anjing itu duduk di dadanya dan menjilati wajahnya.
Putri Rosalie mulai meratap dengan keras.
Seolah ingin menghibur sang putri, Pangeran Bernard mendekat
dan mulai menjilati tangannya, tapi sang putri mendorongnya
dengan kasar. "Lihatlah dia! Dan air liurnya. Dan kutu-kutunya."
Tanpa menghiraukan perlakuan sang putri, pangeran berwujud
anjing itu duduk sambil mengibaskan ekornya di lantai.
"Aku mengerti masalahmu." Sang penyihir kembali berdiri.
"Katamu tadi, saudari tirimu yang melakukan ini?"
"Ya," jawab Putri Rosalie kesal. "Dan sekarang ia beserta
kekasihnya yang jahat itu berkomplot dengan ibu tiriku untuk
mengurungku di sini."
Sang penyihir baru saja mau menjelaskan bahwa melawan
kekuatan sihir milik seseorang yang tidak mau sihirnya dilawan
adalah pekerjaan teramat sulit-tapi ia akan berusaha
sebisanya-ketika ia mendengar ada yang datang.
Putri Rosalie juga mendengarnya. Dengan tergagap ia berkata,
"Mereka datang! Cepat, sembunyi!"
Sang penyihir melihat sekilas ke sekeliling ruangan, sementara
Pangeran Bernard tetap tenang dan menggaruk bagian belakang
telinganya.
"Cepat!" teriak sang putri.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir membuka pintu sebuah lemari besar, tapi lemari


itu penuh sesak dengan gaun, sepatu, dan topi berbulu sehingga
tak ada ruang bagi dirinya dan si anjing untuk bersembunyi.
"Oh, ya ampun!" Putri Rosalie melempar selimutnya ke samping
dan melompat dari tempat tidur. Akan tetapi, ia malah
mengambang di udara-secara perlahan- ke langit-langit. Sang
penyihir menganga tak percaya. Sang putri menendang dinding
dengan putus-asa dan melambung anggun menjauhi dinding.
Pangeran Bernard mendongak dan mulai melolong.
"Apa yang kaulakukan?" tanya sang penyihir.
"Ini akibat dari mantra jahat itu!" Putri Rosalie tersedu.
"Saudari tiriku berkata, 'Jadikanlah saudaraku besar dan
gemuk dan menggelembung seperti balon udara'-begitulah
tepatnya yang ia katakan. Dan sekarang lihatlah aku."
Pintu kamar terhempas terbuka dan sang ratu bertampang
kejam melangkah masuk, diikuti oleh anak perempuannya yang
bermata licik. "Rosalie, kami tadi dengar kau berteri-" Mata
sang ratu memicing ke arah sang penyihir. Bibirnya yang tipis
berkerut. Untuk sesaat, sang penyihir merasa was-was.
Mungkin saja wanita ini bisa sihir karena putri sulungnya bisa.
Sang ratu mungkin akan menjatuhkan mantra kepadanya
sebelum ia sempat bereaksi. Tapi kemudian, perhatian sang
ratu kembali tertuju pada anak tiri-nya, yang baru saja
membentur meja rias dan menjatuhkan beberapa sisir serta
parfum. "Rosalie! Cepat turun dari sana sekarang juga sebelum
kau terluka."
Sambil mengumpulkan harga diri yang tersisa, sang putri yang
mengambang berkata, "Ada yang bisa tolong ...?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir meraih pergelangan kaki sang putri dan


menariknya turun.
"Terima kasih." Putri Rosalie duduk di tepi tempat tidur.
Dengan anggun, ia
merapikan gaun kamar dan memastikan agar lututnya tertutup.
Namun, ia tetap memegang sebuah bantal berenda sebagai
pemberat.
"Ya," kata si ratu bengis sambil ber-balik memandang sang
penyihir, "terima kasih, Tuan yang baik." Ia kembali
memicingkan mata ke arah sang penyihir. "Sepertinya aku
pernah melihat Anda sebelumnya?"
"Ah," Putri Rosalie menimpali, "tidak. Aku rasa tidak. Penyihir
ini tadi hanya mampir untuk menawarkan bantuan untuk
mencari Pangeran Bernard. Bukan begitu, Tuan Penyihir?"
Sang penyihir menatap si saudari tiri buruk rupa, yang sedang
menggaruk-garuk kepala si anjing-yang memang seperti Putri
Rosalie katakan tadi, sangat berliur. Sang penyihir kemudian
memandang si ibu tiri kejam yang masih terus menatapnya
dengan mata terpicing. Tiba-tiba, ia sadar bahwa wanita itu
rabun jauh, dan ia memicingkan mata agar bisa melihat
dengan jelas. "Aku rasa," katanya, "Aku rasa aku perlu
petunjuk sebelum bisa menebak apa yang sedang terjadi di sini.
Apakah kalian berdua mengurung Putri Rosalie?"
"Rosalie yang malang ini menjadi korban sebuah mantra sihir,"
si saudari tiri menjelaskan. Walaupun buruk rupa dan
bertampang jahat, suaranya terdengar sedih dan prihatin.
"Bukan mantra sihirmu?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Si saudari tiri tak bisa menjawab karena terlalu kaget.


Mulutnya terbuka dan tertutup dua kali, sebelum ia akhirnya
menggelengkan kepala.
"Mantra sihir miliknya," kata sang ratu sambil menunjuk ke
arah Putri Rosalie.
"Rasanya aku jadi sakit kepala," kata sang putri yang besar itu.
"Mungkin sebaiknya kalian semua meninggalkan tempat ini
sekarang."
"Apa yang telah kauceritakan kepada pria ini?" tanya sang ratu
dengan nada kesal.
Putri Rosalie menggeliat.
"Begini," kata si saudari tiri, "Francis- ia adalah Pengrajin
Kepala dari Serikat Kerja Pemahat Kayu-Francis telah
berpacaran denganku dan minggu lalu ia memberi kami seekor
angsa gemuk yang bagus untuk makan malam."
Sang penyihir tak bisa menangkap hubungan cerita ini dengan
apa yang sedang terjadi, tapi ia tak mau berburuk sangka pada
si saudari tiri. Oleh karena itu, ia mengangguk padanya supaya
melanjutkan cerita.
"Ia mendapatkan angsa itu dari seorang wanita tua mungil yang
tinggal di sebuah pondok dekat tembok kota. Wanita itu
dikenal sebagai seorang penyihir, tapi kami tidak
menanggapinya dengan serius. Ia memang agak aneh, tapi
banyak juga kan yang seperti itu. Nah, ia memberi angsa itu
pada Francis sebagai ongkos pembuatan sebuah kursi dan
Francis membawanya ke sini-angsa itu, bukan kursi. Kemudian,
kami menyantapnya untuk makan malam, walaupun wanita itu
mengatakan bahwa angsa itu adalah angsa ajaib. Ia memang
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

suka mengatakan hal yang bukan-bukan. Setelah makan malam,


kami menemukan tulang garpu angsa itu. Rosalie dan aku
memutuskan untuk membuat permohonan dengan tulang itu.
Jadi, aku memegang ujung tulang yang satu dan Rosalie
memegang yang satunya lagi dan kami berdua menariknya-"
"Baiklah," desak sang penyihir yang sudah mulai tak sabar lagi.
"Dan kemudian?"
"-dan tulang itu patah tepat di tengah. Jadi, kupikir itu berarti
permohonan kami masing-masing dikabulkan, tapi menurut
Rosalie itu berarti permohonan kami tidak terkabul. Dan ketika
kami menanyakan hal itu pada si wanita tua mungil, ia berkata,
'Itu berarti kalian akan saling mendapat permohonan masingmasing."
"Oh! Permohonan yang tertukar." Sang penyihir berbalik
menatap Putri Rosalie. "Benarkah itu?"
Lagi-lagi sang putri menggeliat, tapi sang penyihir tak
mengalihkan pandangan darinya. "Bagaimana ya ..." kata sang
putri berkata. Sang penyihir masih terus menatapnya.
"Begitulah kira-kira." Dan sang penyihir masih saja
menatapnya. "Iya, memang begitu!" teriak sang putri.
Jadikanlah saudaraku besar dan gemuk dan menggelembung
seperti balon udara. Sebelumnya, Rosalie mengatakan bahwa
itu adalah mantra yang dikatakan saudari tirinya. Berarti itu
adalah permohonannya sendiri. Pasti ia juga menambahkan, Dan
sekaligus ubah pacarnya menjadi seekor anjing. Tapi saat itu,
sang penyihir sedang merasa penasaran pada hal lain. Ia berbalik pada si saudari tiri. "Apa permohonanmu?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Si saudari tiri menjadi malu, tapi kemudian menjelaskan.


"Begini, walaupun Rosalie memang sangat cantik, berbakat, dan
terkenal, ia selalu sedih dan selalu berkata seandainya saja ia
bisa begini dan begitu. Jadi, walaupun hubungan kami
tidak begitu baik, aku merasa prihatin padanya sehingga
permohonanku adalah agar ia mendapat kesehatan dan cinta
serta kebahagiaan. Menurutku, itu semua adalah hal terpenting
dalam hidup ini. Karena permohonan itu harus dirahasiakan dan
karena aku tidak tahu apa yang ia mohonkan-"
"Dan apakah kau mendapatkan apa yang kau sendiri mohonkan?"
sela sang penyihir.
Ia tersipu-sipu, sampai-sampai hal itu terlihat dalam matanya
yang bulat kecil. "Begini, Francis-Pengrajin Kepala dari Serikat
Kerja Pemahat Kayu-"
"Iya?"
"-Francis sedang mengupayakan usaha pencarian Pangeran
Bernard. Pangeran Bernard adalah tunangan Rosalie, tapi
secara mendadak ia menghilang minggu lalu, tepat saat semua
masalah ini mulai. Kami lalu bertanya kepada wanita tua mungil
itu-yang menurut banyak orang adalah seorang penyihir. Ia
mengaku tak tahu apa-apa tentang sang pangeran dan tak bisa
berbuat apa-apa. Sekarang Francis sedang mencarinya ke
segala penjuru karena kami sangat khawatir ia terluka atau
tersesat, tapi aku yakin mereka akan menemukannya dan ia
akan baik-baik saja. Kalau mereka sudah kembali, Francis telah
memintaku untuk menikah dengannya, hal yang sudah lama aku
harapkan, dan aku setuju untuk menikahinya."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Semua yang baru dikatakannya benar-benar panjang dan ia


sendiri akhirnya harus berhenti untuk mengambil napas. Sang
penyihir kembali memandang si anjing besar yang sedang
menggaruk-garuk badannya. Putri Rosalie membuat suara
rengekan yang tertahan sehingga sang penyihir merasa kasihan
kepadanya. "Baiklah, karena ini hanyalah mantra tulang garpu,
aku akan dengan mudah melenyapkan-nya.
Putri Rosalie bersama saudari dan ibu tirinya menghela napas
lega.
"Dan mengenai Pangeran Bernard, aku juga akan menolongnya.
Jadi, sebaiknya kau menghubungi Francis"-ia tak tahan untuk
tak menambahkan-"Pengrajin Kepala dari Serikat Kerja
Pemahat Kayu, dan memintanya untuk segera pulang."
"Oh, terima kasih!" si saudari tiri bertampang jahat itu
melingkarkan tangannya untuk memeluk sang penyihir dan
mencium pipinya, sementara ibunya membungkukkan badan
untuk memberi hormat kepadanya.
"Semoga kalian berdua selalu beruntung," katanya saat kedua
wanita itu beranjak pergi. Dan jika mereka memang sempat
memerhatikan gerakan tangan sang penyihir saat ia
melontarkan mantra atau mendengar kata-kata aneh yang
menyertainya, mereka tidak mengatakan apa-apa.
Bahkan sebelum pintu tertutup, ia telah mengayunkan tangan
untuk melontarkan sihir yang disertai beberapa ucapan mantra.
Sang putri maha besar, yang sedang duduk di tepi tempat
tidur, menciut menjadi kira-kira seperempat dari ukuran
sebelumnya dan terjatuh ke atas kasur.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Anjing Saint Bernard-yang sedang duduk di lantai di dekat kaki


sang putri dengan lidah yang terjulur-juga jatuh terjerembab.
Sebelum menyentuh lantai, ia telah berubah wujud kembali
menjadi seorang pria muda. "Aku setuju," kata sang pangeran
sambil menggaruk kepala. Dan kemudian sekali lagi, "Aku
setuju." Tatapannya yang kosong dan ramah ternyata lebih
cocok sewaktu ia masih berwujud anjing. Tapi menurut sang
penyihir, itu masalah Putri Rosalie.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada mereka, sang
penyihir mulai bersiap dan mengucapkan mantra untuk
berpindah tempat serta kembali ke rumahnya. Tapi kemudian,
ia berhenti-hanya sejenak-untuk menunjuk sebuah jarinya ke
arah sang putri. "Semoga kejadian ini menjadi pelajaran
berharga untukmu," ujarnya.
Dan saat tiba di rumahnya, ia menambahkan dengan perlahan,
"Yang pasti bagiku, peristiwa tadi adalah sebuah pelajaran
berharga."
3. Amukan Makhluk Buas
SANG PENYIHIR sedang berada di tengah kolam di belakang
kebunnya. Tepatnya di atas perahu, yang tetap utuh lebih
karena kekuatan mantra daripada karena tambalan. Hari-hari
di bulan Juli sebenarnya panjang, tapi sepertinya tidak cukup
panjang bagi sang penyihir untuk memperbaiki perahu itu
sekaligus memancing. Setiap kali harus memilih antara
memperbaiki perahu dan memancing, ia cenderung lebih suka
memancing.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Untuk berjaga-jaga kalau kehangatan sinar matahari di


pertengahan musim panas dan ayunan lembut perahu
membuatnya mengantuk dan jatuh tertidur, ia membawa serta
sebuah bantal. Ia menutup wajahnya dengan topi jerami agar
terlindung dari sengatan sinar matahari. Hal terakhir yang
diharapkannya pada saat yang sempurna ini adalah gigitan ikan
pada umpan kailnya. Namun, tiba-tiba seseorang berseru,
"Halooo!"
Tidak, sang penyihir tiba-tiba tersadar, tamu adalah hal
terakhir yang diinginkannya.
Mungkin, pikirnya, ini hanya suara yang terbawa angin dari
tempat lain karena keadaan saat itu sangat sunyi. Mungkin,
siapa pun yang sedang berteriak, sebenarnya sedang memanggil
orang lain.
"Halooo, Tuan Penyihir!" suara itu kembali memanggil.
Masa bodohi pikir sang penyihir. Ia memutuskan untuk purapura tidur, tapi ia curiga orang ini tak akan menyerah dan akan
terus berteriak sampai ia benar-benar terganggu.
Atau aku bisa berpura-pura tak mendengar, pikirnya, dan
mendayung menjauh. Tapi kolam itu tidak begitu besar. Jika ia
mendayung ke seberang, siapa pun orang ini bisa saja berjalan
mengelilingi kolam dan menemuinya di sana.
Ia tergoda untuk membaca mantra berpindah tempat, tapi hal
itu benar-benar bodoh: kabur dari rumahnya sendiri untuk
menghindari tamu tak diundang. Dan ke mana ia akan pergi?
Dan berapa lama ia akan menghindar agar orang ini pergi?
Sambil menghela napas panjang, ia berdiri, meletakkan topinya
di atas kepala, dan mulai mendayung ke tepi kolam. Mungkin ini
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tidak akan lama, ia berkata pada dirinya sendiri. Ia tetap


tampil dalam wujud aslinya dengan harapan penampilannya yang
muda akan membuat sang tamu kecil hati. Tapi tamunya sendiri
adalah seorang pria muda dan tidak mudah kecil hati.
Sang tamu mencoba membantunya turun dari perahu, walaupun
ia benar-benar
mampu dan terbiasa melakukannya sendiri. Akibatnya, mereka
berdua malah terendam genangan lumpur setinggi mata kaki di
tepi kolam.
"Aku betul-betul senang bisa menemui Anda di rumah," kata
pria itu padanya. "Aku datang dari Desa Saint Wayne the
Stutterer dan kami membutuhkan pertolongan Anda."
Paling tidak, Saint Wayne the Stutterer berada dekat sini,
hanya di balik bukit. Sang penyihir benar-benar berharap agar
masalah ini tak banyak memakan waktu.
"Apa masalahnya?" tanyanya.
"Amukan mahkluk buas," kata pria itu.
"Makhluk buas apa?" Sang penyihir mengira-ngira. Serigala
rabieskah? Tak seperti serigala sehat, serigala rabies biasanya
sering menyerang orang. Babi hutan liarkah? Para penduduk
desa baru-baru ini menebangi sebidang hutan, dan mungkin,
karena tempat hidupnya dirusak, sekelompok babi hutan-yang
pada dasarnya memang binatang agresif-menyerang mereka.
Serombongan anjing liarkah? Nagakah? Ular raksasa
purbakala?
Kata pria dari Saint Wayne itu, "Kuda bercula satu."
Sang penyihir merinding. Katanya, "Aku akan ke sana
secepatnya."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Walikota Saint Wayne the Stutterer adalah seorang wanita


bernama Enid. Ia terpilih ketika suaminya, walikota terdahulu,
kabur dengan dana kas kota. Enid adalah wanita besar yang
jujur, blak-blakan, dan berakal sehat-karakter yang sama
sekali tidak dimiliki suaminya.
Sang penyihir memindahkan dirinya ke rumah Enid dan
menemukan wanita itu sedang membuat adonan roti di dapur.
Tanpa ada dana kas, warga tak mampu membayar gaji walikota
sehingga Enid harus mencari uang sendiri.
"Halo, Penyihir," kata Enid sambil berhenti sejenak dari
pekerjaannya. "Terima kasih sudah datang begitu cepat."
"Aku tahu bagaimana sifat kuda bercula satu," kata sang
penyihir. "Apakah mereka kuda-kuda dewasa yang berubah
jahat, ataukah yang masih muda?
"Yang masih muda," jawab Enid sambil mencopoti potongan
adonan roti yang melekat di tangannya, "sekitar setengah lusin.
Yang jantan memamerkan diri pada para betina-yang semuanya
berpenampilan garang. Surai mereka ditata seperti paku-paku
tajam. Mereka menertawakan dan menghasut para jantan.
Makhluk-makhluk itu menjadi mabuk karena makan buahbuahan yang sudah meragi. Kemudian, mereka ke kota dan
menakuti anak-anak, mengunyah tembakau dan me-ludahkannya
ke trotoar, membuat pola-pola berbentuk lingkaran di ladang
dengan menggunakan cula, mencipratkan lumpur ke kuda-kuda
di peternakan serta meledek mereka dengan sebutan 'kuda tak
bercula.' Tadinya kami berharap mereka akan pergi dari sini,
tapi masalahnya malah jadi bertambah. Mereka berjalan
beriring sambil mengancam orang-orang supaya tak
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

menghalangi jalan mereka. Mereka juga mengancam orangorang tua dengan cula mereka. Memecahkan jendela-walaupun
selalu pada malam hari- sehingga tidak ada bukti kalau mereka
yang melakukannya. Sejumlah pakaian juga menghilang dari tali
jemuran. Tapi tadi malam..."
Enid berhenti sejenak dan sang penyihir bisa menebak apa
yang akan dikatakannya kemudian. Semua yang terjadi memang
sudah ada polanya.
"Tadi malam," lanjutnya, "mereka mendobrak masuk ke
peternakan Petani Sey-mour, mengambil salah satu babinya,
dan berpesta babi panggang di pantai."
Sang penyihir menggeleng-gelengkan kepala. "Kuda bercula
satu yang makan daging pasti akan bertambah liar."
"Itulah alasan kami memanggil Anda."
"Di mana kira-kira mereka berada sekarang?"
"Wah, itu masalah lain lagi," kata Enid. "Anak laki-lakiku, Jack,
belakangan ini sering bergaul dengan mereka. Anak itu
tampaknya sudah tidak memakai akal sehat lagi. Sudahlah,
jangan membuatku membahasnya."
Sang penyihir menggelengkan kepala untuk mengisyaratkan
kalau ia tak berniat membuat wanita itu membahas anaknya.
"Aku coba memberi Jack tanggung jawab, dengan harapan
membuatnya lebih dewasa agar ia bisa berpikir dengan benar,
bersikap selayaknya orang yang rasional, dan bukan seperti
ayahnya." Ia kembali berkata, "Sudahlah, jangan membuatku
membahasnya."
Sang penyihir mencoba menebak, "Jadi, ... maksudmu Jack
sedang bersama kuda-kuda bercula satu itu?
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Cobalah cari di tempat bilyar," saran Enid. "Itu tempat yang


paling menyenangkan untuk menyia-nyiakan waktu di musim
panas yang indah ini."
"Terima kasih," kata sang penyihir sambil beranjak dari dapur
sebelum wanita itu mulai membahas putranya yang berumur
enam belas tahun atau suaminya yang menghilang atau kudakuda bercula satu yang jahat.
Jack sedang berada di tempat bilyar, tapi para kuda bercula
satu itu tidak. Sang penyihir memang tak yakin kalau mereka
akan berada di situ. Entah makhluk gaib atau bukan, kuda-kuda
bercula satu itu pasti tidak bisa menggenggam tongkat bilyar
dan pengelola tempat itu telah memasang sebuah pengumuman
yang berbunyi:
DILARANG MENYODOK BOLA DENGAN BENDA APA PUN
SELAIN DENGAN TONGKAT BILYAR YANG TELAH
DISEDIAKAN.
Jack sedang duduk di salah satu meja bar. Kepalanya rebah di
atas lengan. Sang penyihir merasa bahwa bukan cuma kudakuda bercula satu yang terlalu banyak
makan buah-buahan yang sudah meragi. Ia tahu hal terbaik
yang harus dilakukannya adalah mengabaikan Jack dan
bertanya pada orang lain kalau-kalau mereka tahu di mana
kuda-kuda bercula satu itu berada. Tapi anak muda itu tampak

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

begitu tertekan sehingga ia turut prihatin. Ia mendekati


remaja itu dan duduk di sampingnya.
"Ibuku," ucap Jack tanpa mengangkat muka, "akan
membunuhku."
Sang penyihir mempertimbangkan ucapan tersebut. "Yah,
menurutku itu mungkin saja terjadi. Tapi kalau dipikir-pikir,
agaknya tidak juga."
"Tidak," ujarnya bersikeras. "Ibu pasti akan membunuhku."
"Apakah ini ada hubungannya dengan kuda-kuda bercula satu?"
tanya sang penyihir sambil berpikir mungkin saja mereka telah
lancang atau menantang Jack untuk melakukan hal yang
semestinya tidak dilakukan.
"Kurasa tidak." Jack berdiri dan menatapnya. "Apakah kudakuda bercula satu
biasa berlaku curang ketika bermain kartu judi?"
"Sepertinya tidak," jawab sang penyihir. "Pasti sulit kan untuk
menyelipkan kartu as di balik lengan baju jika kau tak punya
lengan baju."
Jack memandangnya dengan pandangan muak. "Aku tidak
berjudi dengan kuda-kuda bercula satu itu. Aku berjudi dengan
sekelompok pria. Kaulah yang menyebut-nyebut tentang kudakuda bercula satu. Tadinya kupikir maksudmu adalah kuda-kuda
bercula satu itu yang mengirim para pria itu untuk
memenangkan semua uangku." Jack mengernyit. "Sebenarnya,
itu uang ibuku. Ia seharusnya tak memercayaiku. Ini semua
salahnya. Selain itu, kurasa para pria itu memang bermain
curang."
"Mengapa kau bisa bilang begitu?" tanya sang penyihir.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Jack memandangnya seolah ia idiot dan berkata, "Karena


mereka memenangkan semua uangku."
Sang penyihir ingin mengatakan mungkin saja itu karena
mereka pemain judi yang lebih baik dari Jack. Dan tampaknya,
anak muda itu termasuk tipe yang suka menyalahkan orang lain
atas masalah yang dihadapinya.
Jack bertanya, "Apa menurutmu ibuku akan percaya kalau aku
bilang aku dirampok dengan todongan pisau?"
"Sebagai seorang walikota," jelas sang penyihir, "ia akan
merasa bertanggung jawab untuk melindungi warga dari para
bandit bersenjata. Jadi, jika ada laporan seperti itu, ia pasti
akan menyelidikinya."
"Bagaimana kalau badai topan yang dahsyat?" tanya Jack.
"Badai topan bukan tanggung jawab seorang walikota. Aku bisa
bilang kalau uangnya tersapu angin sebelum aku sempat
menyimpannya."
"Kau bisa saja mengatakan yang sebenarnya," saran sang
penyihir.
"Bisa saja sih," Jack termenung. "Atau bagaimana kalau begini:
Aku bertemu seorang anak yatim piatu malang yang kelaparan
serta sakit-sakitan dan kupikir, 'Kami punya jauh lebih banyak
dari dia,' jadi kuberikan uang itu kepadanya?"
Sang penyihir bisa saja meninggalkan Jack untuk terus
mengasihani diri sendiri, tapi ia tidak ingin Enid bersedih
karena kelakuan anaknya. "Mungkin kalau kau membantuku
menemukan dan mengatasi kuda-kuda bercula satu, ibumu akan
memaafkanmu."
"Apa yang akan kauberikan sebagai imbalan untukku?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak ada," kata sang penyihir.


"Yah kalau begitu, itu bukan sebuah tawaran yang
menggiurkan," kata Jack.
Aku seharusnya membiarkannya sendiri dan bertanya pada
orang lain, pikir sang penyihir sambil beranjak berdiri.
Tapi Jack juga ikut berdiri. "Baiklah, aku akan menolongmu,"
katanya. "Mungkin kalau aku terbunuh, ibuku akan
memaafkanku."
"Kuda-kuda bercula satu itu," cerita Jack pada sang penyihir,
"mungkin berada
di bagian utara peternakan Petani Seymour. Makhluk-makhluk
itu gemar mengganggu Petani Seymour karena kalau sedang
marah, wajahnya bersemu ungu lucu."
Ketika sang penyihir dan Jack tiba di bagian utara peternakan,
mereka bisa mencium aroma daging bakar yang menggoda.
"Wah," kata Jack, "sepertinya mereka sudah menyembelih
satu babi lagi."
Sang penyihir mencium bau itu. Bukan babi, pikirnya. Daging
sapi. Kuda-kuda bercula satu itu bertingkah semakin buruk
saja. Jika tak ada yang bisa menghentikan mereka, mereka
akan mulai menginginkan daging naga. Bisa dimengerti kalau
naga-naga akan menjadi marah dan mengobarkan perang
dengan kuda-kuda bercula satu itu-semburan api naga melawan
kekuatan sihir kuda bercula satu. Itu berarti akhir dari
keberadaan lahan pertanian dan para petani di mana pun
mereka berada karena terjebak di antara kedua pihak yang
bertikai.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Dan kuda-kuda bercula satu yang paling jahat pada akhirnya


akan memburu mangsa yang paling menantang: manusia.
Tapi saat ini, kuda-kuda tersebut telah mengalihkan perhatian
mereka pada lumbung Petani Seymour, yang atapnya gampang
dinaiki. Dengan tujuan menarik perhatian para betina, yang
jantan bergantian menantang satu sama lain untuk melompat
dari atas atap itu.
Ketika Jack dan sang penyihir sampai di tempat para kuda
bercula satu sedang memanggang sapi, keenam kuda itu
serentak berdiri di depan panggangan, seakan-akan khawatir
sang penyihir akan mencoba mengambil makanan bergaya karnifora milik mereka. Mereka mulai bersiul dan mencemooh. "Hei,
Jack," teriak mereka, "siapa temanmu yang tua ini?"
Padahal saat itu, sang penyihir sedang tidak menyamar sebagai
pria tua.
Tapi ia lega begitu tahu kalau ternyata Enid memang benar.
Kuda-kuda bercula satu ini masih muda. Perilaku mereka
mungkin akan membaik setelah dewasa, dengan catatan: kalau
mereka belum menyebabkan kekacauan di mana-mana.
Ia berkata kepada mereka, "Mengapa kalian tidak pulang saja
dan meninggalkan penduduk di sini? Pasti orangtua kalian
merindukan kalian."
"Pasti tak seorang pun merindukanmu," salah seekor kuda itu
mengejek. Yang lain terbahak-bahak, seakan-akan apa yang
dikatakannya tadi sangat cerdas.
Kalau saja ia tahu di mana orangtua mereka berada, sang
penyihir bisa menggunakan mantra pemindahan tempat untuk
mengirim mereka ke sana. Orangtua mereka pasti akan
langsung tahu berapa banyak buah-buahan meragi yang sudah
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka makan, dan ia ragu kalau kuda-kuda muda ini akan


diizinkan keluar tanpa pengawalan.
Tapi karena ia tidak tahu di mana orangtua mereka berada, hal
itu tidak bisa dilakukannya.
Ia bisa saja memindahkan mereka dari Saint Wayne the
Stutterer, tapi hal itu hanya akan memindahkan masalah ke
orang lain.
"Mengapa kalian tidak menyalurkan energi kalian untuk
melakukan sesuatu yang berguna?" sarannya.
"Oh, tentu," ujar salah seekor betina dengan nada mendayu.
"Ayo kita pergi memetik bunga-bunga cantik." Ia lalu tertawa
meringkik. Sang penyihir bertanya-tanya apakah kuda itu sadar
kalau suaranya mirip suara keledai.
"Jack, temanmu ini membosankan," kata yang lain. "Ayo kemari
dan nikmati daging sapi panggang bersama kami."
Jack sepertinya hendak menghampiri mereka, tapi tidak jadi
saat melihat sebuah tali kekang tergeletak di tanah. Tali
kekang itu bertuliskan sebuah nama.
"Bessie!" teriaknya.
"Oh ow," ujar salah seekor kuda sambil mencungkil gigi dengan
ujung tulang rusuk sapi, "temanmu yang lain, ya?"
"Bessie itu sapi kami!" seru Jack. "Aku baru saja menjualnya di
pasar pagi ini."
"Oh ow," ulang kuda itu. "Kami baru saja mencurinya dari pasar
siang ini. Kau mau mengambilnya kembali?" Ia menyodorkan
tulang rusuk yang dipegangnya pada Jack. "Tapi harus dirakit
dulu, ya."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah, cukup," perintah sang penyihir. "Pulanglah sekarang


atau aku akan bertindak."
"Bertindak seperti apa?" tanya yang lain. "Membuat sebuah
wajah jelek seperti ini?" Ia mendorong kepalanya ke belakang,
membelalak, melebarkan lubang hidung, dan menjulurkan lidah.
"Oh " teriak kelima ekor kuda yang lain, "kami jadi takut!
Sang penyihir sadar tidak ada gunanya berdebat dengan
mereka. Ia kemudian melontarkan sebuah mantra ke arah
kuda-kuda muda itu untuk membuat mereka menjadi lebih tua
dan dewasa.
Karena merupakan makhluk gaib, kuda-kuda bercula satu itu
merasakan getaran
sihir pada saat mantra itu terlepas dari ujung jemari sang
penyihir. Dua dari mereka yang paling sigap segera
melontarkan mantra pertahanan untuk melindungi mereka
berenam dari sang penyihir.
Kedua mantra beradu kurang dari sejengkal di depan hidung
kuda-kuda itu. Hamburan bintang perak berjatuhan di ladang
itu seperti sisa kembang api. Sang penyihir kembali
melontarkan mantra, kali ini melambung tinggi jauh di udara,
supaya nanti bisa jatuh di atas kepala para kuda. Tapi kedua
kuda yang sama mengangkat tabir pelindung ke atas kepala
untuk menutupi mereka berenam. Seekor betina-yang tak tahu
apa sebenarnya tujuan mantra sang penyihir-mengeluarkan
energi penyembuh dari culanya.
Kali ini, bintang-bintang berwarna emas berjatuhan di atas
tanah.
"Jack," sang penyihir bergumam, "alihkan perhatian mereka."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ehm," kata Jack, "coba lihat di belakang kalian. Petani


Seymour sedang menuju ke mari"
"Memangnya kaupikir kami ini sedungu apa?" tanya para kuda
bercula satu itu.
Sang penyihir melontarkan mantra melewati para kuda, ke atas
api yang sedang memanggang Bessie malang. Ia membuat api
itu berwujud seperti Petani Seymour dan mengubah suara
percikan api agar terdengar seperti suara Petani Seymour.
Kata suara itu, "Aku tak tahu sedungu apa kalian, tapi kurasa
sangat dungu."
Karena terkejut, kuda-kuda bercula satu itu menoleh ke
belakang dan sang penyihir kembali melontarkan mantra yang
membuat mereka tumbuh satu tahun lebih tua.
Dalam sekejap mata, mereka tumbuh menjadi sedikit lebih
tinggi dan tak tampak montok lagi. Mereka berdiri tegak dan
gagah, tidak lagi membungkuk.
Salah seekor betina berkata pada yang jantan, "Kalian ini
sangat kekanak-kanak-an.
"Sebenarnya," sahut salah seekor jantan dengan suara baru
yang lebih berat, "tidak lagi."
Betina yang lainnya berujar, "Daging ini membuatku ngeri."
"Aku juga," balas jantan lainnya. "Memangnya, apa sih yang
ingin kita buktikan?"
Semua setuju bahwa tidak ada yang perlu mereka buktikan,
dan betapa tidak bertanggungjawabnya mereka karena telah
pergi begitu jauh dari keluarga tanpa mengatakan ke mana
tujuan mereka. Semua setuju bahwa pulang ke rumah adalah
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

hal terbaik harus dilakukan sebagai makhluk dewasa. Selamat


tinggal, Jack," seru mereka sambil beranjak pergi. "Maaf ya
atas perbuatan kami dan mengenai sapimu."
Sang penyihir mendatangi tempat di mana tiga kekuatan sihir
bertemu: mantra tumbuh dewasa miliknya dan mantra
pelindung serta penyembuh milik para kuda bercula satu.
Hampir semua bintang emas telah menguap sebelum menyentuh
tanah, tapi ada seberkas kilauan di atas rumput yang
menunjukkan sisa-sisa sihir yang telah berubah menjadi bentuk
fisik nyata.
Ia memungut benda-benda berkilau itu. Semuanya ada tiga,
masing-masing mulus dan tak lebih besar dari sebutir kacang.
"Bolehkah aku memintanya?" tanya Jack. "Sebagai imbalan
karena telah membantumu?"
Tapi kekuatan sihir pada benda-benda itu telah menguap.
Kilauan emasnya sudah pudar. Yang tertinggal di telapak tangan
sang penyihir hanyalah tiga butiran kecil berwarna cokelat
tanah.
"Ah," kata Jack. "Sudahlah, tidak usah."
Sang penyihir tak yakin apakah butiran-butiran itu masih
menyimpan kekuatan sihir, tapi ia memasukkan benda-benda itu
ke dalam saku untuk berjaga-jaga. Kemudian, ia berbalik
menuju desa.
Jack berlari mengejarnya. "Aku bahkan tak bisa membawa
pulang daging sapi bakar untuk ibuku-semuanya hangus. Ia
benar-benar akan membunuhku. Apa menurutmu ia akan
percaya kalau kukatakan bahwa para kuda bercula satu itu

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mencuri Bessie dariku sebelum aku sempat menjualnya ke


pasar dan karena oleh itu, aku tidak dapat uang sepeser pun?"
Sang penyihir berpikir untuk melontarkan mantra tumbuh
dewasa pada Jack, tapi akibatnya lebih bahaya pada manusia
daripada pada hewan. Selain itu, Enid mungkin akan jengkel bila
sekembalinya nanti, Jack tiba-tiba harus bercukur setiap hari.
"Apakah kau pernah berpikir untuk mengatakan yang
sebenarnya?" ia bertanya. "Mengakui kesalahanmu? Meminta
maaf? Dan bertekad untuk tidak bersikap bodoh lagi lain kali?
Kupikir saat ibumu melihatmu sudah berubah, ia tentu akan
memaafkanmu."
"Kurasa begitu," Jack mengiyakan sambil merengut. Tapi
kemudian, ia terlihat ceria. Ia melingkarkan lengan pada bahu
sang penyihir. "Kau tahu," katanya, "itu usul yang bagus. Aku
berhutang pada-mu.
Sang penyihir merasa terkejut dan puas karena nasihatnya
berdampak dalam pada anak muda itu. Dengan ceria ia kembali
ke rumah Walikota Enid. Di sana ia mendapati Enid sedang
mengibas-ngibaskan keset dapur di pekarangan.
"Para kuda bercula satu itu telah pulang," katanya. Karena
menurutnya Jack sudah benar-benar berubah, ia kemudian
menambahkan, "Jack ikut membantuku."
"Terima kasih," kata Enid padanya. Dan pada Jack ia
berkomentar, "Itu sebuah kejutan." Kemudian, ia bertanya
pada anak itu, "apakah kau mendapat harga yang bagus untuk
sapi kita?"
"Begini, ada hal menarik mengenai api itu ...," kata Jack sambil
mengajak ibunya masuk ke rumah.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir menunggu sebentar untuk mendengar reaksi Enid


atas pengakuan Jack. Ia berharap semoga dirinya telah
memberi Jack nasihat yang benar.
Dari dalam rumah, terdengar suara Enid yang meninggi dan
marah. "Kacang ajaib?" teriaknya. "Kacang ajaib? Apa kau
sudah gila-menukarkan seekor sapi dengan kacang ajaib?"
Sang penyihir menepukkan sakunya dan sadar sakunya telah
kosong. Jack telah mencopet sakuku! katanya dalam hati.
Tiga butir benda kecil terbang ke luar dari jendela kamar dan
hampir mengenai kepala sang penyihir. Untuk sesaat, mereka
terlihat berkilauan, tapi ia meyakinkan diri kalau itu hanya
tipuan mata, efek dari pantulan sinar matahari.
Ia bisa saja berusaha mencarinya di tengah keremangan, tapi
untuk apa? Kekuatan sihir benda-benda itu pasti sudah lenyap
sekarang dan tidak akan menimbulkan masalah bagi Jack
maupun ibunya.
Jadi, ia membaca mantra memindahkan diri dan pulang.
4. Menyelamatkan Seorang Putri
SANG PENYIHIR sedang duduk di gudang rumah menaranya.
Ia sedang memikirkan tempat untuk meletakkan semua brokoli
yang telah ditanamnya selama musim panas. Akan tetapi, tibatiba ia sadar kalau dirinya tak begitu suka brokoli dan heran
mengapa ia telah menanam begitu banyak-selain karena alasan
bahwa brokoli gampang tumbuh. Secara kebetulan,
pandangannya jatuh ke luar jendela. Ada yang datang.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia melihat seseorang sedang meniti jalan setapak yang curam.


Seorang pangeran, pikirnya, karena anak muda itu menunggang
kuda. Rakyat jelata biasanya berjalan kaki. Saat anak muda itu
mendekat, ia bisa melihat pakaiannya yang terbuat dari satin
dan sutra. Ya, pikirnya, seorang pangeran. Saat si tamu
semakin mendekat, ia bisa melihat wajahnya yang congkak dan
penuh percaya diri. Ya, pikirnya, pastilah seorang pangeran.
Sang penyihir benci pada kunjungan tak diharapkan seperti ini,
apalagi dari para bangsawan. Ia meringkuk ke bawah pinggiran
jendela dan mengintip. Ia berniat untuk berpura-pura sedang
tak ada di rumah.
Di bawah sana, sang pangeran mengeluarkan pedang dan
mengaca pada mata pedangnya yang berkilau. Kemudian, ia
mengetuk pintu dengan pangkal pedangnya.
Sang penyihir mengernyit karena pintu kayunya baru saja
dicat.
"Hei!" teriak sang pangeran. "Bukalah! Aku datang ke sini untuk
urusan penting."
"Mereka memang selalu datang untuk urusan penting," keluhnya
pada diri sendiri. Pada saat yang sama, sang pangeran kembali
mengetuk pintu dan membuat catnya terkelupas akibat
hantaman pangkal pedang. Sang penyihir benar-benar berniat
melempar sesuatu-kalau bisa yang dingin, basah, dan benarbenar berlendir-ke atas kepala sang pangeran.
Dari arah belakang, ia mendengar suara mendesis, "Ssst!
Bodoh! Menunduklah sebelum ia melihatmu." Suara itu berasal
dari sebuah cermin ajaib, benda kuno yang ia dapat dari hasil
bekerja selama setahun untuk seorang bangsawan berwatak
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

pemarah. Bangsawan itu mengatakan bahwa benda itu


mempunyai sejarah dan kesaktian hebat-yang sama sekali tak
pernah dijelaskan lebih lanjut. Sejauh ini, bagi sang penyihir,
cermin itu tak berguna dan sangat menyebalkan. Satu-satunya
hal yang bisa dilakukan benda itu dengan baik adalah
mengumumkan secara berkala -tanpa ditanya-bahwa seorang
wanita
tertentu adalah yang tercantik di seluruh negeri.
Bahkan sekarang, peringatan cerminku bukannya menolong, tapi
malah membuatnya lebih bermasalah. Sang pangeran ternyata
mendengar suara cermin itu dan melihat ke atas, tepat ke
arahnya. "Kau. Anak muda. Cepat buka pintu dan panggil tuanmu
ke sini. Aku pangeran dari Talahandra dan aku sedang terburuburu."
Sang penyihir berniat untuk mengabaikannya, tapi ia khawatir
pintunya akan rusak. Dan kalau ia mengubah pangeran ini
menjadi kodok, seseorang pasti akan datang mencarinya-lebih
banyak gangguan dari yang diharapkan. "Terima kasih banyak,"
gumamnya pada cermin itu.
Ia kemudian menuruni tangga dan membuka palang pintu.
Pangeran dari Talahandra melangkah masuk dan memandang
sekeliling dengan raut wajah menghina. Secara sekilas ia
melihat bayangannya sendiri pada permukaan baju zirah yang
digunakan sang penyihir
sebagai tempat menggantung jubah dan ia kemudian menepuknepuk rambutnya yang sudah sangat rapi. "Jadi," katanya, "di
mana sang penyihir?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir tersenyum tanpa bermaksud untuk bersikap


ramah. "Akulah sang penyihir."
Hidung sang pangeran kempas kempis karena jengkel. "Oh,
begitu." Ia memonyongkan bibirnya. "Aku mempunyai sebuah
tugas yang harus dikerjakan."
"Tugas yang harus dikerjakan," kata sang penyihir, "tempat
yang harus didatangi, orang-orang yang harus ditemui."
Sang pangeran memerhatikannya dengan curiga. Ia yakin sang
penyihir tidak menanggapinya dengan serius. Namun, ia
berkata, "Ya. Lebih tepatnya, kukira begini 'tempat yang harus
didatangi dan tugas yang harus dikerjakan.' Ada seorang putri
yang harus diselamatkan."
Sang penyihir berpikir semestinya ia sudah bisa menduga. Tapi
ia tak mengatakannya. Ia bertanya, "Dari apa?"
"Seekor naga."
Sang penyihir mencoba tidak berpikir tentang bagaimana
takutnya gadis malang
itu. Ia bertanya, "Apakah kautahu namanya?"
"Putri Gilbertina dari Mustigia." Sang penyihir mendesah.
"Maksudku naganya."
"Oh." Sang pangeran mengangkat bahu. "Memangnya naga
punya nama?"
Sang penyihir tak mau menjawab. "Apakah kautahu kalau naga
tersebut memiliki sihir atau tidak?"
Sang pangeran kembali mengangkat bahu. "Napasnya
mengeluarkan api."
"Semua naga mengeluarkan api."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, begitu. Wah, aku tak tahu apa hal itu ada bedanya."
"Tentu ada bedanya bagi orang yang akan pergi untuk menolong
sang putri."
"Oh begitu," ujar sang pangeran dengan nada yang
mengisyaratkan bahwa mungkin saja dirinya yang akan
menyelamatkan sang putri dan kalau memang
benar begitu, ia tak akan peduli apakah si naga memiliki sihir
atau tidak. "Tahu tidak, ia sangat cantik." "Si naga?"
"Si putri. Aku diberi tahu bahwa ia wanita tercantik di seluruh
negeri."
Dari lantai atas, si cermin ajaib menye-lutuk, "Tercantik
kedua. Yang tercantik adalah gadis pemerah susu Aspasia di
rumah Petani Seymour."
Sang pangeran menengadah untuk melihat ke atas. "Apa yang
baru saja kaukatakan?" tanyanya.
"Jangan pedulikan," sela sang penyihir. "Maksudmu kau diberi
tahu kalau ia yang tercantik? Kau sendiri tak mengenalnya?"
Sang pangeran menggeleng.
"Jadi, apa sebenarnya hubunganmu dengannya?"
"Ayahnya telah berjanji bahwa siapa pun yang berhasil
menolong sang putri akan dinikahkan dengannya dan mendapat
separuh wilayah kerajaan."
"Tapi kau memintaku untuk menyelamatkannya," tegas sang
penyihir. "Ya, begitulah."
"Apakah hal itu sebagai balas jasa karena kita sudah berteman
sejak lama?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang pangeran cemberut. "Begini, aku sudah mencobanya. Tapi


naga itu tinggal di sebuah puncak gunung yang hanya bisa
dicapai dengan terbang."
"Coba aku simpulkan duduk perkaranya. Kau memintaku untuk
membahayakan jiwaku untukmu-seseorang yang tak kukenal
sama sekali-untuk menyelamatkan seorang putri, yang juga tak
kukenal, agar kau bisa menikah dengannya dan mewarisi
separuh dari wilayah kerajaan ayahnya."
"Ya, betul begitu."
"Dan untuk apa aku melakukan semua ini? Demi ketenaran
pribadi?"
"Ya, sebenarnya bukan begitu. Kita tak mungkin mengumumkan
bahwa kau yang melakukannya untukku. Nanti aku tidak berhak
menikahi sang putri dan
mendapatkan separuh wilayah kerajaan, bukan?"
Sang penyihir memejamkan mata. "Tepat sekali. Jadi, mengapa
aku harus menolongmu?"
"Demi kepuasan pribadi karena telah berhasil menyelamatkan
seorang putri?"
Mengapa pada akhirnya mereka selalu mengatakan hal seperti
itu? Sang penyihir terus membayangkan rasa takut yang
mencekam sang putri karena ditawan naga jahat. "Siapa
namanya?"
Sang pangeran menatapnya dengan bingung. "Kalau si naga, aku
tidak tahu. Kalau si putri, Gilbertina," ia mengingatkan.
Sang penyihir mendesah. "Puncak gunungnya."
"Oh, puncak gunungnya. Tidak, aku tidak tahu namanya. Tapi
aku bisa mengantarmu ke sana."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir tadinya berharap bisa menggunakan mantra


memindahkan diri daripada harus menunggangi kuda Petani
Seymour melalui jalan yang berbatu-batu. Ia mendesah lagi
dan berharap-seperti yang sering ia lakukan-seandainya ilmu
sihir yang ia miliki tak terbatas. "Kalau begitu sebaiknya kita
segera pergi," katanya.
Tapi sebelum mereka beranjak pergi, si cermin ajaib berteriak,
"Hei, penyihir! Kuharap kau sudah membuat surat wasiat. Aku
tak mau menghabiskan lima tahun ke depan menunggu di loteng
berdebu ini sementara para pengacara memilah-milah
hartamu."
"Temanmu di atas sangat tidak menyenangkan, ya," bisik sang
pangeran di telinganya. "Omongannya tidak masuk akal, kan?
Wanita tercantik katanya." Ia menatap bukit yang memisahkan
tanah milik sang penyihir dan Desa Saint Wayne the
Stutterer. "Apakah kita kebetulan berada di dekat peternakan
Petani Seymour?" tanyanya.
"Sekarang kita memang akan pergi ke sana untuk meminjam
kuda," kata sang
penyihir. Sang pangeran ternyata tak cukup pandai untuk
membawa dua kuda sekaligus. "Mengapa?"
Sang pangeran mengempiskan perutnya dan menepuk-nepuk
rambutnya yang masih sangat rapi. "Tidak apa-apa," katanya.
"Hanya ingin tahu."
Mereka menghabiskan sisa hari itu dan sebagian besar waktu
pada keesokan hari untuk mencapai gunung di mana sang naga
menawan Putri Gilbertina. Pangeran dari Talahandra, yang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

bersandar di punggung kudanya, sedang memerhatikan sang


penyihir dan terlihat bosan.
Sang penyihir sedang memegang segumpal awan biru di tangan
kirinya. Tangan kanannya menarik-narik awan itu. Awan itu
bukannya semakin menipis malah menjadi semakin tebal dan
panjang. Ia kemudian menggerakkan tangannya ke arah
berlawanan sehingga awan itu menjadi semakin mengembung.
Sang pangeran menguap, tapi mendadak berhenti dan kembali
memerhatikan sang penyihir.
Ahli sihir itu terus menarik gumpalan awan di tangannya
sehingga menjadi semakin panjang: tangan kiri mendorong ke
atas dan tangan kanan menarik ke samping. Awan itu menjadi
sebesar ikan paus-dan sang penyihir terus berkutat dengannya.
"Ehm ujar sang pangeran sambil bergerak dengan gelisah.
Sang penyihir menambahkan leng-kungan, lekukan, sebuah kaki
di sini, dan sebuah ekor berduri di sana.
"Seekor naga," kata sang pangeran akhirnya. "Kau membuat
seekor naga lagi. Masuk akal juga sih. Mengapa cuma berkelahi
melawan satu naga kalau bisa melawan dua sekaligus."
"Shhh," kata sang penyihir sambil menambahkan beberapa
detail ekstra.
Mungkin sebelumnya, tak ada seorang pun yang pernah
menyuruh sang pangeran
untuk diam dengan 'shhh.' Ia mengabaikan peringatan sang
penyihir dan bertanya, "Apa yang akan dilakukannya? Berkelahi
dengan naga itu?"
"Ini hanya sebentuk awan. Sebuah ilusi.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sepertinya akan sangat membantu."


Sang penyihir melihat sekilas ke arahnya sambil berpikir
mungkin belum terlalu terlambat untuk mengubahnya menjadi
kodok. Tapi ia malah berkata, "Para naga biasanya sangat
peduli pada wilayah kekuasaan mereka. Aku akan meluncurkan
awan ini ke arah barat di sebelah sana, dan naga yang menawan
putrimu itu akan segera mendatanginya untuk mencari tahu.
Sementara itu, aku akan mengubah diriku menjadi seekor
burung elang dan terbang ke puncak gunung untuk menemui
sang putri. Kemudian, aku akan memindahkan kita semua ke
rumah menaraku."
"Kuda-kudanya juga," sang pangeran mengingatkan. "Tahu
tidak, kuda sangat
mahal. Jadi, jangan lupa membawa mereka."
Sang penyihir berpikir, Kalau memang ada yang lupa kubawa,
pasti bukanlah kuda. Tapi ia tidak mengatakan hal tersebut. Ia
hanya melambungkan naga buatannya ke arah pegunungan nan
jauh.
Dari atas, mereka mendengar sebuah pekikan marah.
Sang penyihir merentangkan tangan, membisikkan sebuah
mantra, dan merasakan bulu-bulunya mulai tumbuh. Ia meloncat
dari tepi tebing, melayang dalam embusan angin, dan sudah
berada setengah jalan ke puncak gunung sebelum mengepakkan
sayap.
Gua yang tak terlihat dari bawah, kini mudah ditemukan. Sang
penyihir hinggap di tempat yang sepertinya sering dipakai oleh
sang naga untuk mendarat. Kemudian, ia mengubah diri ke

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

wujud asli sebelum memasuki gua itu-agar tidak mengagetkan


sang putri-karena biasanya
seorang putri sangat rapuh. Setelah itu, ia berjalan ke dalam.
Sang putri sedang berbaring di atas tumpukan bantal
berbordir benang emas dan berisi bulu anak angsa. Di samping
sikunya ada sekotak besar permen. Ia baru saja akan
melemparkan sebuah permen ke dalam mulut saat sadar akan
kehadiran sang penyihir. "Halo," kata sang putri- tangannya
menggantung di udara. "Ada apa ini?"
"Aku datang untuk menolongmu."
Sang putri cemberut. "Ayah mengutusmu, bukan?"
"Tidak," sang penyihir menjelaskan, "sebenarnya yang
mengutusku adalah pangeran dari Talahandra."
Sang putri melempar sebutir permen ke udara dan
menangkapnya dengan mulut. "Aku tak pernah dengar tentang
dia."
Sang penyihir memerhatikannya mengunyah, mengunyah, dan
mengunyah. Kemudian, ia memerhatikan sang putri memilih
permen lain dan kembali melemparnya ke dalam mulut.
Biasanya, usaha penyelamatan tidak berlangsung seperti ini.
Akhirnya, sang penyihir berkata, "Jadi, bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kau mau ikut?"
Sang putri bertanya, "Maksudmu: Apakah aku setuju untuk
diselamatkan?" "Ya." "Tidak." "Tidak?" "Ya."
Sang penyihir menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha
memahami. "Apa maksudmu tidak?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang putri mengambil sebuah piring emas dan bercermin untuk


memastikan tidak ada yang terselip di antara giginya. Ia
tersenyum pada dirinya sendiri dan menepuk-nepuk rambut
pirangnya yang indah. "Maksudku," katanya, seakan-akan
akhirnya baru sadar kalau ada sang penyihir di sana, "Aku
sangat bahagia di sini. Naga itu baik padaku. Ia membawakanku
berbagai camilan manis yang kumau dan mengajakku terbang ke
seluruh pelosok negeri ini. Di sini, aku bahkan mendapat barang
yang lebih bagus daripada yang kudapat di rumah-dan aku
harus berbagi dengan kedua saudariku yang buruk rupa." Ia
menunjuk ke arah timbunan harta milik sang naga, di bawah
tumpukan bantalnya. "Bisa kubayangkan ayahku telah berjanji
untuk menikahkanku dengan siapa pun yang bisa
menyelamatkanku. Iya kan? Ayah memang kuno. Begini, aku tak
memilih untuk diselamatkan oleh seorang pangeran gemuk yang
terlalu malas untuk datang dan menyelamatkanku sendiri." Ia
memerhatikan kotak permen dan mengambil sebutir lagi.
"Maaf," gumamnya dengan mulut penuh.
Sang penyihir mengentakkan kaki dengan tak sabar. Ia sadar
jika ia langsung pulang ke rumah, sang pangeran pasti akan
mengikutinya dan tak akan membiarkannya tenang. "Coba
dengar," katanya dengan nada letih, "pangeran dari Talahandra
tidak gemuk atau tua. Ia sangat tampan dan lumayan kaya."
Sang putri terlihat mulai tertarik, tapi masih ragu-ragu.
Sang penyihir menambahkan, "Pangeran ini juga sangat pandai
dan banyak akal. Daripada datang sendiri, ia memintaku
menyelamatkanmu karena itu akan lebih aman bagimu."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bagaimana ya", kata sang putri. "Aku sangat menikmati


terbang dengan sang naga."
"Selain itu," kata sang penyihir dengan halus sambil berbohong,
"beberapa pembuat permen terbaik di dunia berada di
Kerajaan Talahandra. Ayolah," desaknya. "Sang naga bisa
kembali kapan saja."
Dengan lamban dan ragu-ragu, sang putri berdiri sambil
mengapit kotak. "Apa menurutmu aku akan menyukai pangeran
ini?" ia bertanya.
Kali ini, sang penyihir bisa menjawab dengan jujur. "Percayalah
padaku, kalian tercipta untuk satu sama lain." Kemudian, saat
sang putri memasukkan sisir bertabur berlian dan perhiasan
kecil lain ke dalam saku, ia menambahkan, "Dan aku punya
sebuah cermin bagus yang akan menjadi hadiah pertunangan
sempurna untuk kalian berdua."
"Oh, terima kasih," ujar sang putri sambil mengunyah sebutir
permen karamel.
Seminggu kemudian, sang penyihir sedang berbaring setengah
terlelap di tempat tidur ayun di halaman belakang rumah
menaranya. Musim panas sudah hampir berlalu. Beberapa
minggu lagi, murid-muridnya akan kembali untuk semester
musim gugur. Ia tersenyum saat sadar bahwa ia merindukan
mereka, walaupun hal itu tidak akan pernah dikatakannya.
Sesuatu yang besar dan berat jatuh di atas dadanya. "Halo,
sobat lama," terdengar suara cermin ajaib yang tak asing,
namun yang sama sekali tak diharapkannya. "Rupanya kau
sedang bermalas-malasan di hari tuamu."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Ia membuka mata dan melihat Putri Gilbertina sedang berdiri


di dekatnya. Gadis itu mengentak-entakkan kaki dan tangannya
terlipat di depan dada dengan sikap menantang.
"Tidak berhasil," katanya. "Pertunanganku batal, dan aku mau
kau mengambil kembali sampah ini dari tanganku."
Sang penyihir benar-benar terkejut dan napasnya tercekat
sehingga tak sadar kalau sampah yang dimaksud sudah tidak
lagi berada di tangan sang putri tapi sedang bertengger di atas
dadanya sendiri.
Ia menyingkirkan cermin berat itu sampai terjatuh dari
pinggiran tempat tidur ayun.
"Hati-hati, sobat," gerutu cermin itu.
Sang penyihir akhirnya bisa bernapas lagi. "Apa masalahnya?"
"Cermin bodohmu inilah yang menjadi biang keladinya."
"Tidak!" sang penyihir tergagap dan mencoba untuk terdengar
kaget.
"Cermin ini menjejalkan berbagai gagasan gila ke dalam kepala
pangeran dari Talahandra. Mestinya ia menikahiku, tapi ia
malah menghabiskan waktu di sekitar peternakan Petani
Seymour. Ia mendesah dan menulis puisi-puisi jelek tentang
gadis pemerah susu itu, yang sebenarnya-kalau boleh
kutambahkan-tidak begitu hebat."
"Aku mengerti," kata sang penyihir.
"Lagi pula," sang putri mulai menggembungkan rambutnya,
"cermin bodoh ini bahkan mengatakan bahwa aku gadis
tercantik kedua di seluruh negeri, dan pangeran dari
Talahandra hanyalah pria tertampan kedelapan. Begitu kata
cermin ini.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Aku minta maaf karena semua hal antara kau dan pangeran
tak berjalan seperti yang diharapkan," kata sang penyihir.
"Tapi aku tak mengerti mengapa kau ada di sini."
"Aku mau kembali pada nagaku."
"Oh." Ia menatap wajah sang putri yang cemberut namun penuh
tekad. "Ehm-"
"Dan kau akan mengantarku ke sana."
Ia baru mau membuka mulut untuk protes, tapi sang putri mulai
berbicara semakin keras dan cepat sambil mengacungkan
telunjuk padanya. "Ini semua salahmu. Kaulah yang membujukku
untuk pergi, dan kaulah yang memberiku cermin sial ini." Ia
mengangkat dagu dan berbicara dengan penuh wibawa.
"Sekarang, aku siap diantar pulang."
Sang penyihir yakin itu adalah satu-satunya cara untuk
menyingkirkan gadis itu. Ia melontarkan mantra untuk
memindahkan mereka berdua ke gua sang naga. Namun, ia
mengeluarkan terlalu banyak energi sehingga bukan hanya ia
dan sang putri yang terbawa, tapi juga tempat tidur ayun,
cermin ajaib, dua batang pohon mawar yang berada di dekatnya
tadi, dan pakaian musim dingin yang sedang diangin-anginkan di
tali jemuran.
Yang tidak terbawa adalah sepasang pohon tempat ia
menyangkutkan tempat tidur ayunnya. Akibatnya, tempat tidur
itu jatuh ke lantai gua-beserta dirinya yang masih berbaring di
dalamnya.
"Terima kasih," kata Putri Gilbertina.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Naga hijau yang sedang duduk bersandar di mulut gua segera


berbalik saat mendengar suara gadis itu dan langsung menjerit
kaget bercampur cemas.
"Ya," kata sang putri, "Aku telah kembali."
Naga itu memejamkan mata dan menutupinya dengan cakar. Ia
berbalik dan menjauh. "Aku tak mau melihatmu!" katanya. "Kau
hanya akan membodohiku lagi."
Sang penyihir bangkit berdiri dari jeratan tempat tidurnya. Ia
menatap naga itu, kemudian sang putri. "Aku rasa ada yang
tidak kumengerti di sini."
"Apakah kau memerhatikan apa yang sedang ia lakukan?" tanya
si naga sambil mengintip dari balik cakarnya. "Aku sadar yang
terjadi dahulu adalah sebuah kesalahan, tapi rambut pirangnya
yang begitu indah telah membuatku tak bisa menolaknya. Dan
ia tahu hal itu." la mengangkat bahu dengan canggung. "Kautahu
kan naga sangat suka emas."
"Ayo, ayo ke mari," kata sang putri pada si naga. "Maukah kau
tersenyum sedikit untukku?" Ia menggaruk-garuk bagian
belakang telinga makhluk besar itu.
Naga itu menggeleng-gelengkan kepala. "'Selamatkan aku,'
katamu. 'Selamatkan aku dari kebosanan yang menyiksaku,'
katamu. 'Bawa aku terbang dan kau akan menjadi temanku
seumur hidup.' Ha! Lebih tepatnya, menjadi pelayanmu. Aku
sudah lelah melayanimu dan berulang kali mengatakan betapa
cantiknya dirimu. Punggung dan sayapku sakit karena
membawamu berkeliling sepanjang hari. Saat aku melihat sang
penyihir dan pangeran, aku sadar apa yang sedang terjadi dan
sepertinya hal itu adalah kesempatan yang sempurna. Aku

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

berpura-pura mengejar naga palsu mereka supaya mereka bisa


membawamu pergi dari sini."
Sang putri cemberut. "Itu sangat tidak sopan." Kemudian, ia
tersenyum. "Tapi aku memaafkanmu." Ia menggelitik dagu sang
naga. "Kau juga mau memaafkanku?"
Naga besar itu berkata sambil menggeliat. "Ya, baiklah.
Sekarang pergilah dari sini."
"Ayolah," bujuk Gilbertina, "berikan aku sebuah senyuman
kecil. Senyuman kecil nan manis seekor naga. Penyihir, tidakkah
menurutmu ia naga termanis yang pernah kaulihat?"
Sang penyihir tak tahu bagaimana harus menjawab, tapi
untungnya cermin ajaib tahu jawabannya. Kata cermin itu,
"Sebenarnya, itu betul. Ia nomor satu; naga tertampan di
negeri ini."
Mata si naga membelalak. Benarkah?"
"Aku tak pernah tidak benar. Dan yang pasti, aku tak pernah
berbohong."
"Cermin yang mengagumkan!" seru naga itu. Bukankah ini
cermin yang mengagumkan? Dan terbuat dari emas pula. Milik
siapa ini?"
"Milikku," dengung sang putri.
Naga itu mengalihkan pandangan ke arah sang putri.
Gilbertina memiringkan kepala dengan gaya santun sehingga
yang terlihat oleh naga itu hanyalah rambut emasnya.
Naga itu tersenyum.
Sang penyihir memungut tempat tidurnya dan membisikkan
mantra pindah tempat.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah berada di halamannya, ia kembali mengikat tempat


tidurnya ke pohon. Semoga sang putri akan mencoba untuk
lebih bisa bergaul dan semoga sang naga bisa lebih sabar
sehingga mereka berdua dan si cermin bisa hidup bahagia
selamanya.
Ia kemudian berbaring dengan wajah menghadap matahari yang
sudah hampir terbenam. Dan semoga saja pangeran dari
Talahandra tidak akan datang untuk mencari sang putri.
Semoga ia menikah dengan gadis pemerah susu di peternakan
Petani Seymour.
Sang penyihir bersenandung pelan. Kalau hal itu terjadi, ia
punya sebuah hadiah perkawinan untuk mereka, sesuatu yang ia
dapatkan dari salah satu perjalanannya, tapi ia belum pernah
tahu kegunaannya: sebuah sepatu kaca...
5. Sang Penyihir dan Hantu
SANG PENYIHIR sedang berada di kebunnya. Ia sedang
melilitkan tali di sekeliling potongan besi usang dan kemudian
memaku barang aneh itu ke pasak kayu. Sebagian besar bahan
yang ia pakai adalah potongan baju zirah berkarat yang ia
dapatkan sebagai imbalan dari seorang kesatria malang nan
miskin. Kesatria itu tak bisa memberi imbalan untuk sebuah
mantra pembawa kemujuran. Selain itu, ada juga beberapa
panci hangus dan penyok karena memasak memang bukan salah
satu keahlian sang penyihir. Ia berharap bunyi yang
ditimbulkan oleh benda buatannya

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

itu saat tertiup angin mampu menakut-nakuti kelinci-yang


tahun ini sangat lancang. Mereka melompati pagar yang telah ia
buat pada bulan Mei, menggerogoti bagian bawah orangorangan sawah yang ia buat pada bulan Juni, dan membuat
sarang dari potongan rambut orang-orangan sawah yang
tercecer sejak bulan Juli. Sekarang sudah bulan Agustus. Ia
berprinsip untuk tidak mencelakai makhluk hidup dengan sihir.
Namun, sayur-sayuran di kebunnya sudah tinggal sedikit dan
pendiriannya mulai goyah.
Ia sedang memandang benda yang baru saja dipakunya ketika
seorang pria datang sambil menginjak-injak sayurannya. Orang
asing itu sepertinya tidak sadar sama sekali kalau ia berada di
sebuah kebun. Tanaman wortel mungkin masih bisa bertahan
walau terinjak. Tapi pohon tomat jelas tidak.
Ia bisa saja berteriak kepada orang itu agar memerhatikan
langkahnya, tapi ia tidak dapat melakukannya. Ibunya dulu
selalu memeringatkan bahwa menggigiti paku sangatlah
berbahaya karena ia khawatir paku itu tertelan.
"Berhenti!" ia mencoba berteriak dengan mulut penuh paku.
Orang asing itu pasti mengira apa yang diteriakkan sang
penyihir sebagai sebuah sapaaan karena ia menyahut, "Halo
juga!" sambil terus berjalan mendekat.
Sang penyihir meludahkan paku-paku dalam mulutnya ke
tangan. Pria asing yang sudah berada di depannya bertanya,
"Apakah kau sang penyihir atau tukang kebun?"
"Aku tadinya seorang tukang kebun," jawab sang penyihir
dengan nada sarkastis. "Tapi kelihatannya tidak berhasil."
Sepertinya sikap sarkastis sang penyihir tidak dimengerti oleh
orang itu. "Jadi, kau bukan sang penyihir? Aku diberi tahu
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

bahwa ia tinggal di sini. Tahukah kau di mana sebenarnya ia


tinggal?"
"Akulah sang penyihir."
Pria itu jadi kesal. "Bagaimana sih, mengapa tidak bilang dari
tadi? Kausuka ya, membuat orang jadi bingung?"
Sang penyihir menahan diri untuk tidak mengatakan bahwa
sebagian orang memang lebih gampang menjadi bingung
dibandingkan yang lain. Ia mendesah dan berkata, "Tolong
perhatikan kakimu dan katakan mengapa kau ada di sini."
Orang itu langsung memerhatikan kakinya. Sepertinya ia tidak
sadar bahwa dirinya terbenam sampai ke mata kaki di antara
tanaman daun selada.
Ia berkata, "Tuanku, Duke Snell, mengutusku untuk
menjemputmu, untuk datang ke kastilnya di Northrup."
"Aku tak kenal Duke Snell," kata sang penyihir. Meskipun
demikian, ia tahu bahwa Northrup berada di tempat yang
jauhnya bukan main. Ia tak terkesan pada undangan itu-apalagi
pada si pembawa pesan yang masih terus memerhatikan
kakinya sendiri. Sepertinya, ia mengira perintah sang penyihir
untuk memerhatikan kakinya harus terus dilakukan. Duke Snell mungkin
mempekerjakan orang-orang yang kurang cerdas atau ia
mungkin suka memberikan perintah yang harus diikuti persis
seperti apa yang dikatakan. Kedua alasan itu tetap tak bisa
menjelaskan kebodohan tamu ini.
Si pembawa pesan itu meyakinkan sang penyihir, "Tapi sang
bangsawan mengenal Anda. Atau paling tidak, ia pernah dengar
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tentang Anda. Ada masalah di kastil dan ia membutuhkan


bantuan Anda untuk mengatasinya."
"Benarkah?" Sang penyihir sudah mulai kehilangan kesabaran.
"Dan apa yang membuatnya berpikir aku akan menolongnya?" Si
tamu sepertinya tidak sadar bahwa kemarahan sang penyihir
semakin memuncak. Sambil masih terus memerhatikan kakinyamungkin karena khawatir sang penyihir akan mengutuknya-si
pembawa pesan menjelaskan, "Raja akan datang berkunjung
minggu depan dan Duke Snell ingin memastikan kalau kastilnya
aman."
Itu sama sekali bukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya,
tapi sang penyihir tahu bahwa raja bukan tipe orang yang
secara sembarangan memberikan perintah atau yang
membiarkan dirinya dikelilingi oleh orang-bodoh. Ia tak ingin
sesuatu yang buruk terjadi pada sang raja. Jadi, ia bertanya,
"Apa masalah yang dihadapi Duke Snell?"
"Kastilnya berhantu."
Sang penyihir tak punya banyak pengalaman dalam menangani
hantu karena laporan tentang hantu jauh lebih banyak daripada
hantu itu sendiri. Sebenarnya, ia curiga mungkin saja ada
penjelasan sederhana tentang apa yang sedang terjadi di kastil
Duke Snell. Walaupun demikian, rasa ingin tahunya tumbuh dan
ia bertanya, "Siapa yang menghantui kastilnya?"
"Hantu."
Sang penyihir mendesah. "Siapa yang meninggal baru-baru ini?"
"Itulah masalahnya," kata laki-laki itu. "Tepatnya, itulah salah
satu masalahnya:

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tak ada seorang pun yang meninggal baru-baru ini. Begini,


maksudku seseorang di suatu tempat di dunia yang luas ini
pasti telah meninggal baru-baru ini, tapi bukan salah seorang
yang tinggal di kastil. Mau pergi ke sana?"
Sang penyihir kembali mendesah. Mungkin ini bukan hantu
betulan-hantu sungguhan sangatlah jarang. Terlebih lagi, ia
harus membereskan beberapa hal di kebun sebelum muridmuridnya kembali dari liburan musim panas. Namun, masalah ini
membuatnya penasaran. Ia juga berniat melindungi sang raja.
"Baiklah," katanya.
"Bagus," kata si pembawa pesan. "Bolehkah aku berhenti
memerhatikan kakiku sekarang?"
Sang penyihir sebenarnya ingin melihat berapa lama hal itu
dapat berlangsung, tapi akhirnya ia berkata, "Ya."
Walaupun sebelumnya sudah pernah berkunjung ke daerah
Northrup, sang penyihir tidak pernah singgah ke kastil milik Duke Snell. Jadi, ia
tidak bisa memindahkan dirinya ke sana dengan mantra. Ia
minta si pembawa pesan memberi tahu tempat-tempat terkenal
di sekitar kastil. Salah satu yang ia kenal dan pernah kunjungi
ialah Standish Wood. Jadi, dengan menggunakan mantra, ia
memindahkan diri ke kota Frisbane yang terletak di antara
pinggiran Standish Wood dan dataran luas di bagian utara.
Dengan demikian, ia menghemat waktu tiga hari jika dibanding
harus mengendarai kuda berperangai buruk milik Petani
Seymour. Ia juga terbebas dari orang suruhan Duke Snell. Ia
mengatakan-walaupun hal itu tidak benar-bahwa mantranya
hanya berlaku untuk dirinya sediri.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Di Frisbane, ia mengubah wujudnya agar terlihat lebih seperti


seorang penyihir dan kemudian menyewa sebuah perahu. Ia
membutuhkan setengah hari untuk sampai di tujuan. Tentu saja
dengan mantra, ia bisa tiba dalam sekejap. Hari sudah mulai
sore ketika akhirnya tukang perahu mengumumkan, "Kastil
Bangsawan Snell."
Kastil itu berada di sebuah pulau di tengah sungai. Sang
penyihir melihat dua gerbang air di dekat kastil-satu di depan
dan satu lagi di belakang-dan ada alat untuk menaik-turunkan
kedua gerbang itu.
Seorang penjaga menghampiri dan mengisyaratkan mereka
untuk merapat. Ia memegang seberkas kertas catatan dan
tampangnya terlihat bosan. Seakan-akan telah mengatakan hal
yang sama sebanyak seribu kali dalam sehari, penjaga itu
memberi tahu: "Sekeping uang perak untuk bea masuk ke area
parit di sekeliling parit." Satu keping uang perak cukup untuk
membeli satu kaleng cat serta ampelas untuk memperbaiki
perahu yang sedang ditumpangi sang penyihir dan juga
beberapa bantal empuk untuk alas duduknya.
"Aku tak ingin masuk ke area parit," kata si tukang perahu.
"Aku hanya perlu mendayung ke tempat tambatan perahu di
kastil untuk menurunkan penumpang-ku."
Penjaga itu menandai berkas catatannya. "Dua keping uang
perak untuk bea berlabuh di sekitar area parit," katanya.
Sang penyihir mencondongkan badan ke depan dan
menjelaskan, "Duke Snell memintaku untuk datang."
Penjaga itu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya
berkata, "Maksudmu ...?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya masalah ini tidak terlalu rumit, demikian pikir sang


penyihir. "Maksudku: karena aku adalah tamu sang bangsawan,
kami seharusnya tidak perlu membayar bea masuk."
"Tentu saja," kata penjaga itu dengan nada mencemooh. "Dan
anjing mestinya tidak berkutu. Apel seharusnya tidak berulat
dan sepatu baru seharusnya tidak membuat kaki menjadi sakit.
Sang penyihir berpikir untuk berubah menjadi seekor burung
agar bisa terbang melewati perairan menuju kastil, tapi ia
tidak ingin menyebabkan kehebohan. Ia tidak tahu apakah
Snell ingin orang-orang tahu atau tidak kalau dirinya telah
menyewa seorang penyihir. Kadang-kadang, saat bekerja untuk
para bangsawan, kita harus merahasiakannya. Selain itu,
mungkin saja ada bea masuk tiga keping emas untuk
menggunakan wilayah udara di situ.
Tukang perahu itu jelas-jelas menunggu sang penyihir untuk
membayar bea masuk. Sang penyihir tidak menyalahkannya
karena kalau tidak begitu, ia akan kehilangan setengah dari
ongkos yang baru didapatkan.
Sang penyihir mengambil dua keping dari sejumlah koin yang
telah diberikan si pembawa pesan sebagai bayaran untuk
datang ke sini dan menyerahkannya pada si penjaga.
Penjaga itu kembali menandai sesuatu di berkas catatannya
dan kemudian memutar roda penggerak untuk menaikkan
gerbang.
Gerbang itu naik, berderik, dan meneteskan air.
Setelah mereka lewat, penjaga itu menandai berkas catatannya
lagi. "Teruskan perjalanan langsung ke area penambatan

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

perahu," ia memperingatkan dengan tegas. "Akan ada denda


kalau kalian berkeliaran di sekitar sini."
"Aku sama sekali tidak terkejut," gumam si tukang perahu
sambil mendayung.
"Hati-hati," bisik sang penyihir. "Bisa jadi, ada bea untuk sikap
sarkastis."
Tukang perahu itu cemberut tapi tidak bilang apa-apa lagi
ketika mendayung ke tempat penambatan perahu.
Sang penyihir merambat ke luar dari perahu tanpa dibantu oleh
penjaga kastil-yang berdiri sekitar tiga kaki dari situ dan
terlihat seakan-akan tugasnya adalah berdiri seperti patung.
Perasaanku tidak enak tentang urusan ini, kata sang penyihir
kepada dirinya sendiri. Mungkin sebaiknya aku pulang saja
sekarang-hal mana yang akan lebih mudah daripada perjalanan
ke sini karena ia bisa menggunakan mantranya. Tapi ia masih
penasaran dengan masalah hantu ini dan ia sudah dibayar. Coba
aku lihat sebentar lagi, katanya pada diri sendiri.
"Katakan urusanmu," kata penjaga kastil yang menyerupai
patung itu.
Karena si pembawa pesan tidak pernah memanggil namanya,
sang penyihir menduga Snell juga tidak tahu namanya. Jadi, ia
hanya mengatakan, "Aku sang penyihir." Ia merasa tak perlu
merahasiakan kedatangannya kepada penjaga karena mungkin
tidak akan dibiarkan masuk.
Penjaga ini juga mempunyai daftar dan di daftar itu pasti
tertulis Sang Penyihir,' karena ia kemudian menandai
daftarnya dan berkata, "kau boleh masuk. Seseorang akan
mengantarmu menuju ruang pertemuan. Oh ya, uang tip
diterima dengan tangan terbuka."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terima kasih atas keterangannya," kata sang penyihir.


Saat menaiki tangga menuju kastil, sang penyihir mendengar
penjaga gerbang berkata kepada tukang perahu, "Sekeping
perak untuk bea keluar dari area penambatan perahu." Sang
penyihir menggeleng-gelengkan kepala dan memasuki kastil
sambil menduga-duga apakah dirinya dan Snell bisa bergaul
dengan baik.
Sang penyihir menunggu dan menunggu dan menunggu di ruang
pertemuan sampai ia akhirnya berniat membaca mantra untuk
kabur-tak peduli apakah kastil itu berhantu atau tidak. Ia
curiga tak akan bisa bertemu Snell kalau tidak menyogok salah
seorang penjaga. Tentu saja, ia sama sekali tak berniat untuk
melakukan hal itu. Dalam perjalanan pulang, ia bisa singgah ke
tempat sang raja, pikirnya, dan memperingatkannya bahwa
kastil milik Snell tidak aman. Lamunannya terpotong oleh
sebuah pertanyaan: apakah para penjaga gerbang akan meminta
bea masuk dari sang raja. Sementara ia sedang memikirkan hal
itu, Snell akhirnya muncul untuk menemuinya.
Duke Snell adalah seorang pria tinggi dan tampan dengan
senyum terkulum. Rambutnya yang berwarna pirang gelap
sering terjatuh ke depan sehingga ia harus sering
menggerakkan kepala untuk melempar rambutnya ke belakang
agar tidak menutupi mata. Sang penyihir menduga bahwa hal
tersebut mungkin menarik bagi para wanita. Ia langsung
merasa kesal pada pria ini.
"Ah, Tuan Penyihir!" kata Snell. "Terima kasih telah datang
begitu cepat. Aku yakin perjalananmu pasti tidak bermasalah."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir tersenyum. "Ya, begitulah, sampai para penjaga


kastil mulai menggerogoti uangku."
Snell memperlihatkan wajah prihatin. "Bea masuk?" tanyanya.
"Sesuatu yang tidak menyenangkan tapi penting. Aku baru saja
mewarisi wilayah ini dan aku harus mengumpulkan dana untuk
membiayai fasilitas umum seperti sekolah dan perbaikan jalan
yang terabaikan oleh pen-dahuluku."
Ketika terakhir kali berkunjung ke daerah Northrup, sang
penyihir tidak melihat ada jalan yang rusak. Dan jika dilihat
dari berbagai hiasan dinding yang mewah serta ornamen dari
emas dan perak di dalam kastil, sang penyihir menduga filosofi
Snell mengenai perbaikan pasti dimulai dari tempat tinggalnya
sendiri.
Snell kemudian berkata, "Tapi seharusnya kau tidak dipungut
bea masuk karena aku yang mengundangmu datang. Kau
sebaiknya meminta kembali uangmu dari para penjaga."
Aku? pikir sang penyihir. Ia tahu bahwa hal itu percuma saja.
Snell juga sudah tahu. Tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia
malah bertanya, "Jadi, kau baru saja diangkat menjadi
bangsawan?"
Snell mengangguk.
"Dan sekarang kau diganggu oleh hantu."
Sekali lagi Snell mengangguk. "Padahal," tambahnya, "tidak ada
seorang pun di kastil ini yang meninggal baru-baru ini."
Meskipun ia menduga bahwa ada penjelasan yang lebih
sederhana mengenai masalah tersebut, sang penyihir tetap
bertanya, "Mungkinkah itu arwah bangsawan sebelumnya?"

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Bisa saja," Snell mengiyakan, "tapi aku ragu tentang itu


karena pria itu belum meninggal." Snell tersenyum pada sang
penyihir dan sang penyihir tersenyum balik padanya-sekedar
untuk mengisyaratkan kalau pemikiran Snell itu sangat cerdas.
Ia merasa Snell benar-benar angkuh dan hanya memikirkan diri
sendiri. "Aku tidak mewarisi kastil ini," Snell menjelaskan.
"Kastil ini diberikan oleh Duke Lawrence sebagai hadiah atas
pekerjaan yang ku-selesaikan dengan baik. Ia sendiri
mempunyai tanah di tempat lain."
"Beruntung sekali semuanya." Sang penyihir tidak berniat
menanyakan pekerjaan seperti apa yang telah dilakukan oleh
Snell. Ia yakin Snell pasti sangat ingin menceritakannya "Jadi,
menurutmu siapa hantu ini dan apa yang kira-kira
diinginkannya?"
"Entahlah," kata Snell. "Itulah sebabnya aku menyewamu."
"Apa yang dilakukan hantu ini?"
"Oh, ia mengerang terus dan meneteskan air di lorong."
"Mengerang," ulang sang penyihir. "Air." Snell tidak
memberikan informasi yang membantu. "Biasanya rumah tua
memang suka mengeluarkan bunyi, kan? Dan kau yakin tidak ada
yang bocor di kastil ini?"
"Sangat yakin," kata Snell. "Mari kita lihat bagian yang dulu
kuhuni."
Ia mengajak sang penyihir ke ruangan lain, ke sebuah kamar
tidur. Kelambu tempat tidur di kamar itu sudah terlepas dari
kaitannya. Gantungan dindingnya juga sudah terkoyak-koyak.
Semua benda yang tadinya berada di atas rak dan meja rias
sudah terlempar ke lantai.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sepertinya ada yang tak suka padamu," sang penyihir


menyimpulkan. Ia sendiri tidak suka pada Snell, tapi situasi ini
tampak berbahaya. "Tidak tahu kira-kira siapa?" tanyanya.
"Tidak tahu," ulang Snell. "Sudah dua kali kau menanyakannya.
Apakah kaumau mendengar kelanjutan ceritanya?"
"Mengapa tidak?" kata sang penyihir. Ia kesal karena Snell
sangat cinta pada suaranya sendiri. "Aku kan sudah jauh-jauh
datang ke mari."
Snell tidak memerhatikan atau bahkan berkomentar atas nada
kesal sang penyihir. "Kelanjutannya," katanya, "adalah semua
jendela terpalang dan pintu terkunci ketika peristiwa itu
terjadi."
"Kalau begitu pelakunya pasti memiliki kunci," tebak sang
penyihir sambil terus mencari penjelasan yang lebih masuk
akal.
"Dan memiliki kecenderungan untuk tak kasatmata," kata Snell.
"Aku berada di dalam ruangan waktu itu."
Hal itu menarik perhatian sang penyihir. "Mungkin sebaiknya
kau mulai dari awal."
Dengan tampang seperti orang yang sangat bangga, Duke Snell
berkata, "Setelah aku menyelamatkan anak perempuan Duke
Lawrence, Cordelia, dari serangan sekelompok bandit di
Standish Wood, bangsawan itu menghadiahiku tempat ini dan
menikahkanku dengan putri-nya.
Sang penyihir tidak terkejut saat Snell kembali menceritakan
prestasinya.
"Segera setelah kami menikah dan pindah ke kastil ini, kami
mulai mendengar suara erangan. Awalnya sangat lemah. Tapi
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

setiap hari, suara itu bertambah keras dan mulai terdengar


lebih awal dan berlangsung lebih lama. Kemudian, kami mulai
menemukan air di lorong dan di beberapa ruangan lain. Awalnya
hanya berupa genangan kecil di beberapa tempat. Tapi makin
lama genangannya menjadi semakin banyak sampai akhirnya
menjadi seperti jejak basah yang besar-dan seringnya, harus
aku akui, tepat di depan pintu kamarku."
Beberapa pertanyaan terlintas di benak sang penyihir. Yang
pertama ia tanyakan adalah "Jejak? Maksudmu jejak kaki pria?
Atau perempuan? Apakah jejak-jejak ini jejak sepatu bot, atau
sepatu biasa, atau kaki telanjang?"
Snell menggeleng. "Bukan jejak kaki. Lebih seperti bekas
dilewati sesuatu yang basah. Seakan-akan hantu itu menarik
sesuatu di belakangnya, seperti selimut basah yang lebar."
"Mengapa hantu itu menarik selimut?"
"Aku bilang tadi seakan-akan," Snell mengeluh. "Kau tidak
menyimak dengan baik. Bagaimana kau bisa menyelesaikan
masalah ini kalau terus-terusan mengulang pertanyaan yang
sama dan tidak mendengarkan dengan baik? Aku tidak
mengatakan kalau hantu itu menarik selimut basah di
belakangnya. Aku bilang ia meninggalkan jejak air seakan-akan
itu adalah
sebuah selimut basah. Kau perlu meningkatkan kemampuan
menyimak." Kemudian, ia menambahkan, "Kadang-kadang
dindingnya juga basah."
Untuk membuktikan kalau dirinya menyimak, sang penyihir
bertanya, "Seakan-akan hantu itu menempelkan selimut basah
di dinding?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa kau tidak menanggapi masalah ini dengan serius," kata


Snell dengan suara yang agak merengek. "Untuk apa aku
membayar mahal kalau kau tidak menanggapiku dengan serius?"
Sang penyihir tergoda untuk menjawab bahwa Snell tidak bisa
membayar orang untuk menanggapinya dengan serius, dan
bahwa Snell tidak membayarnya terlalu mahal. Tapi ia hanya
berkata, "Suara erangan dan kemudian air. Teruskan."
Snell melanjutkan, "Kemudian, barang-barang mulai pecah.
Barang-barangku. Maksudku, semua barang di dalam kastil ini
memang milikku. Duke Lawrence menyatakan demikian. Tapi
yang kumaksud tadi
adalah barang-barang pribadiku. Kemudian, hal itu bertambah
buruk, sampai akhirnya aku meminta kau datang. Kau bisa
melihat apa yang terjadi semalam," Snell menunjuk kamar yang
rusak itu dengan gerakan dramatis, "saat aku sedang menunggu
kedatanganmu."
Sang penyihir tidak berkata, "Jangan salahkan aku karena
tinggal di tempat yang jaraknya tiga hari perjalanan dari sini."
Ia hanya mengatakan, "Katamu kau menyaksikan semuanya
terjadi."
"Aku menyumpal telingaku dengan lilin agar terhindar dari
bunyi erangan itu," Snell menjelaskan, "kalau tidak begitu, aku
tidak akan pernah bisa tidur. Tapi kemudian, aku terbangun
saat kaca hias berwarna yang besar itu jatuh terhempas ke
lantai. Tahu tidak, kaca hias seperti itu sangat mahal."
"Bisa kubayangkan." Menurut sang penyihir, Snell adalah tipe
yang tidak puas dengan berbagai barang mewah yang

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mengelilinginya. Ia juga ingin semua orang tahu kalau ia


dikelilingi barang-barang mewah.
"Aku sedang duduk di tempat tidurku. Dan sebelum kau
menanyakannya, tidak, aku waktu itu tidak sedang bermimpi.
Aku benar-benar sedang terjaga."
Sang penyihir tersenyum dengan tampang tak berdosa.
"Dan kemudian, aku melihat barang-barang itu terangkat dari
atas meja kecil di samping tempat tidur, satu per satu, tanpa
ada yang menyentuhnya. Setelah itu, meja tersebut terbalik.
Lalu, meja itu hancur, seakan-akan ada yang menghantamnya
dengan palu raksasa."
"Palu hantu ...," tebak sang penyihir dengan ragu-ragu.
Snell mendesah tak sabar. "Atau mungkin hantu itu melompat
ke atasnya"
"Lebih tepat seperti itu," sang penyihir menyetujui. "Apakah
istrimu juga menyaksikan semua ini?"
"Duchess Cordelia telah kembali ke rumah orangtuanya demi
keselamatannya," kata Snell. "Tapi ini bukanlah imajinasiku
semata, kalau itu maksudmu."
"Aku sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu," sang
penyihir berbohong. "Apakah kau tidak pernah berpikir untuk
kembali ke rumah orangtuamu?"
Duke Snell mendengus seakan-akan berbicara tentang
orangtuanya mengingatkannya pada bau tak sedap.
"Orangtuaku adalah penebang kayu-orang-orang sederhana
yang tinggal di rumah sederhana."
Sang penyihir menebak bahwa itu berarti tidak. Snell tidak
berpikir untuk kembali ke tempat mereka. Ia juga sadar bahwa
Snell tidak pernah mengatakan bahwa mertuanya
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

mengundangnya untuk tinggal bersama mereka. "Meski begitu,"


katanya, "kalau kau pergi, kita bisa melihat apakah hantu itu
akan tetap tinggal di sini atau mengikutimu."
"Mengapa hantu itu akan mengikutiku?"
"Mengapa hantu itu merusak barang-barangmu?" sang penyihir
balas bertanya.
Snell kembali menunjukkan tampang seperti mencium bau tak
sedap.
Sang penyihir melanjutkan, "Kita akan melihat apakah hantu itu
mengganggu kastil ini atau mengganggumu. Biasanya, hantu
tinggal di tempat mereka meninggal, tapi kau bilang tak ada
seorang pun di kastil ini yang meninggal baru-baru ini.
"Sejauh ini betul sekali," kata Snell dengan nada tidak sabar.
"Seperti ... yang ... sudah ... kukatakan ... tadi."
"Tapi kadang-kadang hantu mengganggu orang yang
bertanggung jawab atas kematiannya."
"Aku tidak pernah membunuh siapa pun," protes Snell.
Sang penyihir ingin sekali berkata, "Kau yakin belum pernah
membuat orang bosan sampai akhirnya meninggal?" Sebaliknya,
ia bertanya, "Bagaimana dengan para bandit yang menyerang
istrimu waktu itu?
Snell menggelengkan kepala. "Aku tidak membunuh mereka.
Mereka kabur ke dalam hutan."
"Beruntung sekali Cordelia," kata sang penyihir. "Beruntung
sekali kau. Beruntung sekali para bandit itu."
"Dan aku tidak kenal satu pun dari mereka," Snell
menambahkan, meskipun hal itu tidak akan pernah ditanyakan
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

oleh sang penyihir. "Mereka mengenakan topeng saat menawan


Cordelia dan mereka menutup mata istriku selama ia ditawan
sehingga ia tidak bisa mengenali mereka."
"Dan kebetulan kau berada di sekitar tempat persembunyian
mereka," kata sang penyihir, "karena kau adalah anak penebang
kayu. Tapi kau juga tidak pernah melihat wajah mereka."
"Betul sekali," kata Snell.
Sang penyihir menduga bahwa orang berambisi seperti Snell
tidak akan pernah puas dengan kehidupan sebagai seorang
penebang kayu. Sebenarnya mungkin saja, ia adalah salah
seorang dari bandit itu.
Ia telah meyakinkan atau membayar rekan-rekannya untuk
kabur supaya ia bisa tampil sebagai pahlawan bagi gadis muda
itu dan keluarganya. Tapi sang penyihir tidak memiliki bukti
tentang hal ini, dan- selain itu-hal tersebut tidak memperjelas
masalah hantu ini.
"Kalau kau tidak pergi ke rumah orang-tuamu atau ke rumah
mertuamu," kata sang penyihir, "apakah ada tempat lain di
mana kau bisa bermalam?"
"Ini sangat menjengkelkan," keluh Snell. Ia diam sejenak
sambil melihat ke ruangan yang hancur di sekelilingnya. "Kurasa
aku bisa bermalam di pondok berburu milikku."
Walaupun ia mengatakannya sambil lalu, dalam waktu satu jam,
Snell sudah berangkat ke pondok tersebut.
Sang penyihir telah menghabiskan hampir satu hari hanya
untuk datang ke kastil dan sekarang waktu makan malam telah
tiba. Ia makan bersama para penghuni

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

lain di ruang utama (dengan membayar sekeping uang perak)


dan ia berbincang-bincang dengan para pelayan. Cerita mereka
cocok dengan cerita Duke Snell. Mereka juga mendengar suara
erangan yang setiap malam bertambah keras dan menemukan
lorong-lorong licin karena basah.
"Lorong-lorong yang mana?" ia bertanya saat para pelayan
sedang membereskan bekas makan malam.
Sebagian besar adalah lorong-lorong di antara jalan masuk dan
ruang pribadi Duke Snell, demikian kata mereka.
"Sungguh menarik," kata sang penyihir. "Suara erangan seperti
apa?"
Para pelayan saling menatap. Salah seorang mencoba
menirukannya-erangan sedih yang keras. Yang lainnya
mengangguk atau berkata, "Ya," atau, "Kurang lebih seperti
itu," atau, "Tidak begitu tepatnya."
"Bukan suara erangan manusia," seorang yang lain akhirnya
berkata, dan semuanya mengangguk setuju.
"Suara erangan yang membuat bulu kudukmu berdiri dan ingin
segera pergi," tambah seorang pelayan lain yang sedang
menyapu lantai. Pelayan ini botak, yang mungkin berarti ia
sebaiknya ditanggapi dengan serius. Atau mungkin juga tidak.
Sang penyihir bertanya, "Siapa orang terakhir yang meninggal
di sini?"
Para pelayan meletakkan piring, tatakan cangkir, sabut pencuci,
dan sapu. Mereka sama-sama berpikir keras dan mencoba
untuk mengingat. Ibu dari salah seorang asisten tukang roti,
akhirnya mereka ingat. Seorang wanita tua yang meninggal

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam tidurnya antara Natal dan Tahun Baru-beberapa bulan


sebelum kemunculan Snell dari persembunyian para bandit.
Sepertinya bukan dia, pikir sang penyihir. Biasanya, orang yang
mati di usia tua tidak menjadi hantu yang gentayangan di
malam hari. Umumnya, hantu adalah korban tindak kekerasan.
Dan mengapa arwah itu baru menunjukkan keberadaannya
setelah delapan bulan berkeliaran di dunia dan kemudian
melampiaskan kejengkelannya pada benda-benda milik Snell?
Dan bagaimana dengan air?
"Apakah kalian tahu kalau ada yang tenggelam baru-baru ini?"
tanya sang penyihir.
Para pelayan menjadi resah dan gelisah karena ia membuat
mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan mereka. Beberapa
dari mereka bahkan sudah kembali ke dapur sementara ia
masih sibuk bertanya-tanya pada yang lain. Tidak, kata para
pelayan yang masih bersamanya-mungkin di salah satu kota
kecil yang berbatasan dengan sungai, tapi tidak di kastil ini.
Mereka jarang bepergian melalui sungai dan lebih suka
dikunjungi. Dan tidak seorang pun berenang di area sekitar
kastil karena ada monster parit.
Sang penyihir tidak tahu kalau ada monster di parit. Kalau saja
tahu, ia pasti sudah merasa gugup saat berada di perahu siang
tadi. "Mungkinkah monster itu telah memangsa seseorang?"
tanyanya.
Pandangan para pelayan menunjukkan bahwa mereka tidak
sependapat.
"Tidak ada seorang pun yang hilang," kata salah seorang dari
mereka.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kami tidak terlalu sering melihat makhluk itu," kata yang lain.
"Aku sudah tidak melihatnya selama beberapa minggu."
"Ia pemalu, tambah yang lain. Para pelayan yang lain
mengangguk.
"Kami jarang melihatnya."
"Hanya sesekali, bagian atas kepalanya kalau ia sedang
mengintip ke luar air, atau punuk di punggungnya atau ekor-nya.
"Ia makhluk yang lembut dan setia. Tidak mungkin ia memakan
siapa pun juga."
Sang penyihir-yang pernah bertemu dengan anjing ganas yang
menurut pemiliknya sangat ramah-merasa ragu.
Sore makin gelap dan sepi, dan sang penyihir pergi ke kamar
tidur Snell yang
sudah dikosongkan. Ia akan bermalam di sana-untuk
menghindar dari biaya menginap dan untuk melihat apakah si
hantu akan muncul walaupun Snell sudah tidak ada.
Mungkin ia akan muncul, pikir sang penyihir, atau mungkin si
hantu telah mengikuti Snell ke pondok berburu. Hal tersebut
akan membuktikan sesuatu, walaupun sang penyihir tidak yakin
apa tepatnya. Kalau hal itu memang terjadi, Snell pasti sangat
terganggu. Gagasan tersebut menyenangkan hati sang penyihir
yang sedang duduk di kursi besar nan nyaman milik Snell.
Sang penyihir sudah terlelap saat ia terbangun oleh suara
erangan rendah yang sedih-terdengar mirip tapi tidak persis
seperti yang ditirukan para pelayan. Suara itu datang dari luar,
tapi ketika ia membuka tirai jendela, yang terlihat hanyalah
pantulan bulan di permukaan air parit yang tenang dan hutan di
kejauhan.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Walaupun sang penyihir tidak melihat apa-apa, suara erangan


itu terus bergerak-sehingga sekarang datangnya dari bawah
kastil, bergema lemah di antara batu-batu yang dingin.
Sang penyihir tidak bergerak. Ia yakin suara itu mendekatinya:
arahnya dari jalan masuk di lantai pertama, melalui ruang
utama, menaiki tangga, semakin mendekat, melalui sepanjang
lorong hingga sampai di tikungan, dan terus bergerak ke ujung
lorong hingga akhirnya tiba di depan ruang pribadi Snell.
Ia bisa mendengar suara erangan cukup keras yang berasal
dari balik pintu sehingga tulang-tulangnya bergetar.
Ia berniat membuka pintu, tapi menurut Snell, hal itu tidak
perlu.
Tak lama kemudian, setitik rembesan air muncul di pintu, dan
kemudian di lantai di depan pintu-sebuah genangan air yang
besar. Sangat besar. Sebuah genangan yang sangat besar, yang
tak mungkin dibuat oleh hantu seukuran manusia biasa. Sesuatu
yang tak terlihat-sesuatu yang sebesar sebuah rumah kecilsedang berdiri di depannya sambil meneteskan air. Ia bisa
melihat air mulai menetes, mulai dari tempat yang tingginya
hampir menyentuh langit-langit ruangan yang tingginya lima
belas kaki.
Suara erangan itu-yang berasal dari atas kepala sang penyihirberhenti sejenak ...
... kemudian berlanjut, agak pelan, seakan hantu itu berbalik
dari sang penyihir dan keluar melalui pintu.
Tentu saja ia pergi, pikir sang penyihir. Ia mencari Snell.
"Tunggu!" panggilnya.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Suara erangan itu berhenti sama sekali, tapi tetesan airnya


tidak.
"Aku di sini untuk menolongmu," katanya. Menolong
menghilangkanmu tepatnya, tapi cara menghilangkan hantu
adalah dengan membereskan masalah yang mengganggunya.
Jika dilihat dari air yang menetes, makhluk tak terlihat itu-apa
pun itu- sedang berdiri diam di tempat.
"Bisakah kau bicara?" tanya sang penyi
hir.
Suara erangan itu terdengar lagi.
Karena sadar bahwa suara erangan adalah bahasa yang dipakai
makhluk itu, sang penyihir melontarkan sebuah mantra agar
dirinya bisa mengerti. "Baiklah. Sekarang, bisakah kaukatakan
siapa kau?"
"Aku adalah Penjaga," kata sebuah suara yang berat tapi
tenang. "Tugasku adalah menjaga sarang ini."
"Sarang?" ulang sang penyihir. Apakah kastil ini dulu dibangun
di atas sarang naga? Tapi biasanya naga lebih suka gua di
tempat tinggi. Dan kastil ini sudah lama berdiri. Tak mungkin
ada sarang naga yang terusik.
Suara seram itu kembali berkata, "Sarang ini. Beserta seluruh
makhluk sebang-samu yang tinggal di dalamnya."
Yang dimaksud oleh si makhluk adalah kastil ini. Makhluk itu
menyebut kastil ini dengan istilah yang ia ketahui, istilah yang
paling dekat artinya dengan 'rumah' atau 'tempat tinggal.'
Monster parit, sang penyihir teringat. Ia tidak pernah
membunuh siapa pun- ia sendirilah yang telah meninggal. Semua
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

orang telah mencoba mengingat-ingat orang yang telah


meninggal. Dan selama ini, makhluk malang yang telah mati ini
tetap melaksanakan tugas yang telah dibebankan kepadanya.
Sang penyihir berkata, "Bagus sekali karena kau telah
menjalankan tugasmu dengan serius, tapi sekarang sudah
saatnya kau beristirahat."
"Aku tidak bisa," kata hantu monster itu.
"Apakah dulu ada penyihir yang me-mantraimu?"
Monster itu berkata, "Dulu ada kata-kata yang diucapkan di
bawah sinar perak beraroma wangi bunga melati dan berasa
seperti batu-batuan kecil yang hangat karena sinar mataharipersis seperti yang tadi kaulakukan agar bisa mengerti
perkataanku. Kata-kata tersebut memerintahkan agar aku
menjadi Penjaga dan melindungi sarang ini beserta semua yang
tinggal di dalamnya selama waktu hidupku yang alami."
Sang penyihir tidak tahu kalau kata-kata mantra ternyata
mempunyai aroma dan tekstur. "Begini," katanya,
"menyampaikan sebuah berita buruk sama sekali tidak mudah,
tapi aku harus mengatakannya padamu ..." Ia mendesah karena
sebelumnya tidak pernah harus mengatakan pada seseorang,
Kau telah mati.
Tapi ia tidak harus mengatakannya sekarang. Sepertinya
makhluk itu sudah tahu kalau dirinya sudah mati. "Waktu hidup
alamiku," ulangnya. "Makhluk sepertiku biasanya hidup selama
seribu kali perputaran bumi mengelilingi matahari: musim hujan
dan semi, musim panas, musim daun-daun berubah menjadi
warna menyala, dan musim salju. Tapi aku baru hidup selama
seratus kali perputaran."
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Itulah masalahnya. Kadang-kadang, kekuatan mantra bisa


berlanjut terus-menerus.
Sang penyihir berkata, "Mantra orang lain bisa sangat sulit
untuk diatasi, tapi aku bisa mencoba untuk melepaskan mantra
yang telah mengikatmu pada tempat ini."
Hening.
Sang penyihir memang tak biasa mendapat sambutan meriah
atas semua pernyataannya, tapi paling tidak ia berharap
monster itu mengatakan sesuatu. Apakah ia telah meninggalkan
ruangan ini? Karena tidak terlalu yakin akan mendapat
tanggapan, ia kemudian bertanya, "Apakah kau tak ingin
melanjutkan ke kehidupan selanjutnya?"
Suara monster itu terdengar seperti sebuah desahan, tapi
masih dari tempat yang sama. Katanya, "Seratus dari seribu
kali perputaran sama sekali bukan waktu yang lama."
"Aku tahu itu," kata sang penyihir. Kemudian, ia bertanya, "Apa
yang membuatmu mati?"
"Daging jelek," kata monster itu.
Itulah resikonya kalau makan daging mentah. Sang penyihir
ingin mengatakan hal itu, tapi tindakan tersebut mungkin
terlalu kasar. Tapi kemudian, ia ingat bagaimana para pelayan
menegaskan kalau monster ini adalah makhluk yang lembut. Dan
ia sadar monster ini tadi mengatakan 'daging' bukan 'ikan,' dan
ia ingin tahu dari mana si monster parit memperoleh daging. Ia
bertanya, "Maksudmu busuk?"
"Maksudku beracun." Monster itu mendesah. "Tentu saja, aku
tidak memakannya. Hidung dan mataku bisa mendeteksi kalau
ada yang salah. Tapi racun itu menyebar dari potonganpotongan daging ke dalam air. Aku menghindari area yang
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

terkena racun, tapi kemudian makin banyak potongan-potongan


yang dilemparkan ke dalam air, di sana dan di sini, di seluruh
perairan yang mengelilingi sarang ini. Kalau tidak berenang
menjauh, ikan-ikan pasti akan sakit atau mati. Tapi aku tidak
diizinkan untuk berenang menjauh."
"Duke Snell," tebak sang penyihir. "Ia membangun gerbang air
supaya bisa menarik bea keluar-masuk dan mendapatkan uang
untuk membeli barang-barang bagus untuk dirinya sendiri
serta membuat orang-orang kagum padanya." Untuk sesaat, ia
ingin menjelaskan apa yang telah terjadi pada monster itu.
Tapi kemudian, setelah melihat berbagai benda yang rusak di
sekeliling ruangan, ia sadar bahwa monster itu telah
mengetahui segalanya.
"Aku tak bisa mengembalikan nyawamu yang hilang," kata sang
penyihir, "tapi aku bisa membuat Duke Snell membayar-nya.
"Bagaimana caranya?" tanya monster
itu.
"Tunggu dan lihat saja," kata sang penyihir karena ia tahu
monster itu tidak
akan suka pada jalan keluar yang ia rencanakan.
Pagi berikutnya, segera setelah Duke Snell kembali, sang
penyihir memintanya untuk memerintahkan semua penghuni
kastil- para pelayan dan pengikut pengikutnya- untuk
meninggalkan kastil.
"Mengapa?" tanya Snell.
"Aku akan mengenyahkan hantu kastil ini," sang penyihir
menjelaskan.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kurasa kau seharusnya melakukan hal tersebut semalam,"


keluh Snell.
Sang penyihir memaksakan sebuah senyuman manis. "Hantu
lebih kuat pada saat gelap. Siang hari adalah waktu yang tepat
untuk mengenyahkan mereka."
Snell mendesah. "Wah, untuk mengeluarkan semua hartaku dari
dalam kastil akan memakan waktu hampir satu hari."
"Oh, harta bendamu bisa tinggal," kata sang penyihir,
"sedangkan para penghuni lain tidak. Aku tidak ingin terlalu
membahas masalah teknisnya, tapi makhluk
organik biasanya dapat ... terpengaruh zat-zat sisanya"-sang
penyihir berpikir cepat-"mmm ... zat sisa dari kekuatan sihirku.
Tapi harta benda akan tetap aman."
Snell bertanya dengan nada tidak yakin, "Kau yakin?"
"Bukankah kau membayarku sangat mahal karena aku memang
ahlinya?"
Snell terlihat seperti sedang berpikir apakah ia telah
membayar terlalu mahal atau sang penyihir hanya sedang
bersikap sarkastik. Tapi akhirnya, ia memberi perintah untuk
mengosongkan kastil. Sang penyihir menyuruh semua orang
untuk menunggu di tepi sungai, di seberang pulau tempat kastil
itu berdiri.
Mereka baru saja hendak memakan bekal piknik mereka ketika
sang penyihir mulai melontarkan mantranya. Mantra itu adalah
variasi dari mantra pindah tempat dan ia bekerja dengan
sangat hati-hati, sedikit demi sedikit, memindahkan bagian
belakang kastil terlebih dahulu karena bagian itu tidak terlihat
oleh orang-orang di seberang sungai.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Si monsterlah yang pertama kali sadar apa yang sedang


dilakukan sang penyihir. Karena terikat oleh mantra untuk
melindungi kastil, hantu itu muncul dari parit diiringi raungan
marah dan ledakan air yang dashyat sehingga air yang
menempel pada badannya memperlihatkan wujud si monster
yang tak kasatmata: tubuh yang bundar besar dengan leher
panjang dan rahang terbuka lebar yang meneteskan sesuatu,
mungkin air liur atau air parit.
Orang-orang menunjuk sambil berteriak dan sang penyihir
memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memindahkan
seluruh bagian dasar kastil sebelah belakang ke halaman
belakang rumahnya sendiri. Nanti ia bisa menggunakan batubatu dari dasar kastil itu untuk membangun dinding kebun
sehingga kelinci-kelinci tak tahu aturan itu harus memiliki
sayap untuk bisa memasuki kebunnya. Tapi itu bukanlah tujuan
utamanya. Tujuannya adalah untuk menggoyahkan bangunan
kastil dan memang itulah yang sedang terjadi. Retakan besar
muncul di bagian depan kastil pada saat seluruh bangunan mulai
runtuh ke atas bagian yang sudah hilang.
"Penyihir!" teriak Snell dari seberang sungai. "Lihat apa yang
terjadi!"
Air telah terlepas dari badan monster sehingga ia tidak begitu
terlihat lagi. Tapi sesuatu mendorong sang penyihir sampai
terjatuh. Ia yakin itu pasti ulah si monster, yang menyundulnya
dengan kepala. Walau begitu, tak peduli seberapa gigih si
monster berusaha menjaga kastil, makhluk itu tidak akan cukup
kuat-apalagi pada siang hari-untuk melawannya.
Ada suara krak! pada saat kastil itu terbelah karena tidak kuat
menopang berat sendiri. Batu-batu terhempas ke luar. Itulah
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sebabnya sang penyihir tidak ingin ada siapa pun berdiri di


dekat situ. Dan kemudian, dengan diiringi gumpalan debu yang
muncul dari dasar bangunan dan membubung ke atas, kastil itu
runtuh.
"Dasar orang bodoh tak becus!" jerit Snell. "Kastilku! Kastilku
yang indah! Duke Lawrence takkan memberiku satu lagi!
Cordelia tak akan mau tetap menikah denganku kalau ia harus
tinggal di gubuk penebang kayu!"
"Maaf," kata sang penyihir. Kalau Snell cukup dekat, ia mungkin
mengira sang penyihir meminta maaf karena gagal
menyelamatkan kastil dari si hantu. Ia tidak mungkin mengira
kalau sang penyihir sebenarnya meminta maaf kepada hantu
itu.
Sang penyihir bangkit berdiri dari rumput dan berjalan ke
pinggir pulau. "Apakah kalian melihat makhluk yang keluar dari
air tadi?" ia berseru kepada orang-orang di seberang. Ia tahu
mereka melihat karena tadi semua berteriak. "Siapa yang akan
mengira kalau makhluk itu bisa merobohkan kastil seperti tadi?
Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu terjadi
sebelumnya. Oleh karenanya, Duke Snell, aku tidak akan
meminta sisa bayaranku yang setengah lagi."
Sang penyihir tidak menunggu sampai Snell sempat berkatakata. "Selamat tinggal, kalau begitu," katanya dengan riang dan
berbalik untuk berbicara dengan si monster. "Maaf," ulang
sang penyihir. "Sepertinya itu jalan terbaik untuk
membebaskanmu dari tugas melindungi kastil dan sekaligus
menghukum Duke Snell."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Tentu saja, ia tidak bisa melihat apakah makhluk itu memang


benar-benar berada di depannya atau tidak. Setelah beberapa
saat-karena tidak ada jawaban-ia mengira-ngira apakah dengan
hancurnya kastil, arwah si monster juga ikut lenyap. Kemudian,
ia mendengar monster itu berkata dengan tenang, "Kalau aku
tahu kau merencanakan hal ini, aku pasti telah mencegahmu."
"Itulah sebabnya aku tidak membahas rencanaku denganmu,"
jelas sang penyihir. "Kastilnya sudah lenyap; orang-orang yang
tinggal di sana sekarang harus pergi ke tempat lain. Mantra
yang mengekangmu sebagai Penjaga sudah tidak menguasaimu
lagi."
"Tetap saja ..." desah monster itu. "Akan lebih menyenangkan
seandainya aku bisa tinggal di dunia ini selama paling tidak
beberapa siklus lagi, seperti yang seharusnya terjadi."
"Tinggallah kalau begitu," kata sang penyihir, "selama yang
kauinginkan." Sekilas ia melihat dua penjaga kastil sedang
mendayung perahu ke arah pulau. Snell juga ada dalam perahu.
Bangsawan itu sedang mengayunkan tinju ke arahnya.
Monster itu berkata, "Tapi terlalu banyak kenangan buruk di
sini. Seandainya aku tahu ada sungai atau danau lain
... Tapi sulit bagi makhluk sepertiku
untuk bepergian melalui jalan darat..."
Sang penyihir tadi sempat melihat tubuhnya yang besar dan
kakinya yang kecil. Ia menawarkan, "Aku bisa membawamu ke
suatu tempat yang kukenal:
sebuah danau yang dalam dan indah, yang terpencil, dengan air
yang bersih, dan tanah yang gembur di dasarnya. Dengan
demikian, kalau ada orang yang datang, kau bisa berguling di
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

tanah gembur itu dan membiarkan mereka melihatmu-seperti


orang-orang di sini melihatmu tadi, sebelum air terlepas dari
badanmu-dan mereka pasti akan lari ketakutan."
"Kau bisa mengantarku ke sana dengan kata-kata perak
beraroma wangi bunga melati dan berasa seperti batu-batuan
kecil yang hangat karena sinar matahari?" Ketika sang penyihir
mengangguk, monster itu berkata, "Kalau begitu aku mau."
Sambil diiringi suara perahu Snell yang bergesekan dengan
dasar parit yang dangkal, sang penyihir melontarkan mantra
ganda untuk berpindah tempat.
"Tempat ini benar-benar menyenangkan untuk menghabiskan
beberapa siklus lagi sebelum aku siap untuk melanjutkan hidup
di alam berikutnya," kata si monster sambil menceburkan
kepalanya ke
dalam air dan kemudian muncul kembali dengan cepat sehingga
sang penyihir hanya bisa melihat sebentuk kepala kecil di atas
leher panjang selama sekejap.
"Dan aku akan mengingat-ingat bagaimana cara untuk membuat
tubuhku terlihat kalau aku mau sesekali menggoda bangsamu
yang mungkin datang ke sini. Terima kasih, Penyihir."
"Sama-sama, Penjaga," kata sang penyihir. Sebelum
mengucapkan mantra untuk pulang, ia berkata, "Nikmati danau
ini. Oh ya, namanya Ness."
6. Sang Putri dan Petualangan Mencari Timun Emas
KETIKA RAJA dan ratu yang berkuasa di negeri sang penyihir
mengundangnya untuk minum teh di kastil mereka, si ahli sihir
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

sadar bahwa ia seharusnya membuat alasan untuk menolak.


"Sekolah akan segera mulai minggu depan," ia bisa bilang
begitu. "Ada banyak yang harus kukerjakan," ia bisa juga bilang
begitu. Lagi pula, ia tahu mereka memiliki seorang putri dan di
musim panas ini, ia sudah cukup banyak berurusan dengan para
putri.
Walau begitu, ia tidak ingin membuat mereka marah. Jadi, ia
menyiapkan sekotak besar brokoli untuk dipersembahkan
kepada sang ratu dan tiba di istana tepat pada waktunya.
Sang putri belum datang.
Sambil menunggu, sang penyihir membuat teko teh terangkat
dari meja dan melayang tepat di di atas cangkir sang raja.
Sang raja dan ratu mengundangnya datang untuk meminta
bantuan. Ia sangat yakin akan hal itu. Dan tidak diragukan lagi,
hal terbaik yang harus dilakukannya adalah tidak menonjolkan
kemampuan sihirnya, tapi ia sulit menahan godaan untuk tidak
memamerkan kemampuannya, terutama karena penyamaran
sebagai pria tua nan bijaksana tidak berpengaruh pada raja
dan ratu. Mereka tahu usianya yang sebenarnya. Saat ini,
mereka sedang memandang sesuatu di balik punggung sang
penyihir, sesuatu di luar jendela pran-cis besar yang terbuka
ke taman bunga. Ia baru saja menangkap bayangan seorang
wanita muda yang sedang menunggang seekor kuda besar
ketika sang raja menepuk lututnya.
"Putriku benar-benar gadis yang menawan," kata sang raja.
"Menawan, dengan caranya sendiri. Tapi tidak dalam pengertian
yang orang sebut sebagai ... emm ... tepatnya, emm ..."
"Layak untuk dinikahi," sang ratu membantunya.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang raja mengernyit. "Layak untuk dinikahi," ujarnya setuju.


"Masalahnya adalah, tidak ada pelamar untuknya. Maksudku,
kami belum menemukan seseorang yang pantas, yang ... emm,
seperti, ah
"Yang mau mengajaknya menikah," sang ratu menyelesaikan
kalimatnya.
Sang raja mengangkat bahu dengan tampang menyesal. "Kami
berharap kau bisa melakukan sesuatu tentang hal ini," bisiknya
dengan cepat ketika sang putri meluncur turun dari kuda dan
melompati melewati tanaman perdu yang pendek dan masuk
melalui jendela. Ia bertubuh tinggi. Itulah kesan pertama
tentang sang putri. Ia memiliki rambut keriting panjang yang
agak cokelat dan kusam. "Halo," katanya sebelum sang penyihir
sempat memerhatikan hal lain pada dirinya. "Maaf, aku
terlambat, tapi kereta Petani Seymour terperosok-"
"Ya, ya, sayangku." Sang ratu memerhatikan celana putrinya
dengan pandangan tidak suka dan menepuk lengan bajunya yang
berdebu. "Kau seharusnya membiarkan Petani Seymour
mendorong keretanya sendiri. Ayo sapa sang penyihir."
Sang penyihir-yang tidak pendek- berdiri dan mendapati
dirinya hanya setinggi dagu sang putri.
"Senang bertemu denganmu," kata sang putri sambil menjabat
tangan sang penyihir sebelum pria itu sempat mencium
tangannya. "Kau agak muda untuk seorang penyihir, ya?"
Sang ratu terdengar bergumam ah. "Theodora, jangan bersikap
tidak sopan." Ia berbalik ke sang penyihir. "Aku tahu kalau
Theodora-"
"Teddy," sela sang putri.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Theodora," lanjut sang ratu, "telah menyiapkan hidangan


istimewa untuk kita. Mungkin kau bisa mengambilnya sekarang,
sayangku, sebelum kita mulai?"
Sang penyihir memerhatikan Putri Teddy melangkah
meninggalkan ruangan dengan tungkai yang agak melengkung,
persis seperti orang yang menghabiskan sepanjang hari di atas
sadel.
Sang raja menggeleng-gelengkan kepala dan melihat ke luar
jendela.
"Kami sudah mencoba. Ya ampun, kami sudah mencoba," kata
sang ratu. "Tapi ia tidak terlihat seperti seorang putri. Ia
tidak bertingkah seperti seorang putri..."
"Yah ...," kata sang penyihir untuk mengisi keheningan, tapi
ternyata ia mendapati dirinya sedang diperhatikan oleh dua
pasang mata yang penuh harapan. Ia berdeham dan menepuknepuk jari-jarinya di lutut. Kemudian, ia melihat ke luar
jendela. "Ia bukannya tidak menarik-"
"Seorang putri seharusnya terlihat elok," kata sang raja.
"Mereka seharusnya memiliki kecantikan yang tak tertandingikecantikan yang membuat para pria muda menahan napas
karena kagum. Mereka seharusnya tidak memiliki bintik-bintik
di wajah dan mereka seharusnya tidak menggigiti kuku, dan
mereka seharusnya sama sekali tidak tampak di depan calon
pelamar seperti seorang ... seorang..."
"Seperti seorang kakak perempuan," kata sang ratu, "yang
lebih ahli dalam hal menunggang kuda, memanah, dan
menjelajahi hutan ..." Ia menghitung
semua hal tersebut dengan jarinya.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dan yang tidak mau mengalah dalam berdebat-"


"Dan yang tidak punya waktu untuk belajar bagaimana
melakukan pekerjaan seorang wanita seperti menyulam dan
memasak-"
"Ini dia!" Teddy masuk ke ruangan. Ia membuka dan menutup
pintu dengan kakinya. Ia meletakkan piring yang dibawanya di
atas meja pendek di hadapan mereka. "Memanggang kue
bukanlah keahlianku," jelasnya kepada sang penyihir, "tapi ibu
memaksaku untuk membuat sesuatu yang istimewa karena kau
akan datang."
Sang penyihir menatap gundukan remah-remah berwarna
merah, putih, dan hijau di atas piring di hadapannya. Yang
muncul dalam pikirannya adalah Kue Yang Diserang Oleh
Pembuat Kue Gila.
"Aku mendapat kesulitan saat mengeluarkannya dari dalam
loyang," jelasnya ketika ketiga orang itu tidak bergerak dan
hanya duduk memandang. Akhirnya, ia menjelaskan, "Ini kue
pepermint dengan lapisan gula pistachio."
Sang ratu menarik sebuah saputangan berenda dari balik
lengan bajunya dan bersandar di sofa sambil menutupi
mulutnya.
Sang raja menelan tegukan terakhir tehnya yang sudah dingin
dan mengalihkan pandangannya.
Sang putri meletakkan sepotong kue di atas piring perak dan
memberikannya
pada sang penyihir. "Mereka pasti sedang menceritakan
kepadamu kalau mereka belum berhasil menjodohkanku."
"Anakku sayang," sang ratu berkata dari balik saputangannya.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak apa-apa. Aku mengerti. Banyak pangeran datang


berkunjung, tapi kami tidak pernah berhasil. Aku selalu merasa
mereka semua terlalu muda dan bodoh. Dan mereka selalu
secara mendadak teringat pada sebuah urusan penting di
tempat lain. Ibu dan Ayah menjadi kalut. Aku anak tunggal
mereka, putri mahkota salah satu kerajaan di wilayah ini, dan
aku belum menerima satu pinangan pun. Semua temanku sudah
menikah. Semua adik teman-temanku sudah menikah. Aku
sudah menjadi aib." Teddy duduk bersila di lantai,
menyandarkan kedua sikunya di meja, dan tangannya menopang
dagu. "Jadi, apa rencananya?"
Sang penyihir berusaha menghindari tatapan sang putri. Ia
memusatkan perhatian pada kuenya dan mencoba
menyembunyikan kenyataan bahwa garpunya tidak cukup kuat
untuk mencungkil kue tersebut. "Begini ...," katanya.
"Bisakah kau mengusahakan sebuah mantra untuk memperbaiki
wajahku?
Untuk membuatku agar tidak terlalu..."
Ia memperlihatkan tampang pasrah. "... tidak terlalu seperti
diriku dan lebih seperti layaknya seorang putri?"
Sang penyihir menekan garpunya. Secungkil kue terlepas serta
terloncat ke luar dari piring dan menghantam cangkir dengan
suara ting! yang keras.
Putri Teddy menatap cangkir itu. "Apakah kaukenal seorang
pangeran rabun," tanyanya pelan, "yang kebetulan sedang
diet?"
"Coba dengar." Sang penyihir meletakkan garpunya dengan
tegas. Ia menatap sang putri, kemudian sang raja, kemudian
sang ratu, dan kembali ke sang putri. "Kau adalah seorang putri
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

yang sempurna sebagaimana adanya." Ia mengangkat sebuah


jari sebagai isyarat agar tak seorang pun menyela. "Yang kita
butuhkan hanyalah sedikit usaha ekstra. Nuansa misteri!
Petualangan! Pencarian! Sebuah hadiah yang sulit
dimenangkan!"
"Apa maksumu?" tanya sang ratu.
"Sebuah ujian?" kata Teddy. "Apakah maksudmu sebuah
ujian?"
"Tepat." Sang penyihir berdiri dan mulai melangkah mondarmandir. "Kita akan mengumumkan bahwa hanya pria yang bisa
melewati ujian berhak mendapatkan sang putri. Saat kita
memacu semangat bersaing mereka-"
"Ah ya, aku mengerti!" sela sang putri. "Kita akan menyuruh
orang bodoh malang yang datang ke mari untuk
mempertunjukkan berbagai atraksi luar biasa, seperti
menyentuh jempol kaki dua kali, atau menyeimbangkan buku di
atas kepala selama tujuh detik, atau mungkin kita bisa
mengajukan sebuah teka-teki-antara lain, siapa namanya dan
dari mana asalnya-dan kalau ia bisa menjawab dengan benar, ia
harus menikah denganku."
"Yah," sang raja mengiyakan, "seperti itulah kira-kira."
"Tidak," kata sang penyihir dengan tegas. Kemudian, ia
mengulang untuk memberikan penekanan. "Tidak." Ia menatap
lekat-lekat pada sang putri. "Hal itu sangat rendah dan hina."
Sang putri memalingkan wajah.
"Percayalah padaku. Yang perlu kaulakukan adalah berusaha
untuk bersemangat. Kau tidak perlu menggunakan tipu daya."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Gadis itu mengusap rambutnya dan berusaha mengaturnya agar


rapi. "Baiklah," katanya pelan. "Aku setuju. Aku akan menikahi
pria yang berhasil melewati ujianmu. Sekarang, ujian seperti
apa?"
Sang penyihir tiba-tiba mendapat inspirasi. "Kita akan meminta
para pelamar untuk mempersembahkan kepadamu tiga buah
timun emas dari kebun rahasia milik kurcaci Maximilian.
Dengan demikian, jika kau tidak suka pelamar tertentu- kalau
ia ternyata terlalu muda atau terlalu bodoh, atau terlalu
apalah-yang harus kaulakukan hanyalah menolak menerima
timun darinya, dan pencariannya tidak dianggap berhasil."
"Timun?" tanya sang raja. "Timun? Bukankah biasanya para
peserta diminta mencari apel emas?
"Siapa pun bisa mendapatkan apel," cemooh sang penyihir.
"Oh, baiklah, terima kasih banyak!" kata Teddy "Tapi aku
pernah mendengar cerita tentang kurcaci Maximilian ini. Ia
pelit sekali."
"Coba dengar," kata sang penyihir. "Memang sulit, tapi
bukannya tidak mungkin."
"Bukannya tidak mungkin" ulang Teddy. "Mungkin mudah untuk
seorang penyihir." Ia mulai menggigiti salah satu kuku jarinya.
"Sungguh," sang penyihir mencoba meyakinkannya. Sambil
mengabaikan kata hatinya yang mengingatkan kalau dirinya
sudah melangkah terlalu jauh, ia berkata, "Lihat. Aku akan
membuktikan kalau hal itu bisa dilakukan. Aku akan melakukannya.
"Tanpa sihir?" tanya Teddy.
Sang penyihir mengangguk, tapi sang putri tetap terlihat
khawatir. Sungguh tidak adil, pikir sang penyihir. Setelah
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat bagaimana para putri seperti Rosalie dan Gilbertina


mampu menarik perhatian pelamar dari golongan bangsawan,
sang penyihir merasa bahwa tidak adil jika seorang gadis manis
seperti Teddy tidak mampu melakukan hal yang sama. Rasa
marah membuatnya berkata, "Baiklah, ya ampun, kalau kau
tidak percaya padaku. Kalau kau mau, kau bisa ikut bersamaku
untuk mengawasiku-"
"Oh," kata sang putri. "Gagasan yang bagus! Terima kasih."
Sang raja segera berdiri untuk menjabat tangan sang penyihir.
"Baiklah, beres sudah." Sang ratu berdiri dan tersenyum.
"Selamat jalan."
Sang penyihir menarik napas dalam-dalam dan bertanya dalam
hati bagaimana
ia bisa sampai terlibat dalam urusan ini. Mungkin ia bisa
menyalahkan penyihir wanita-yang dulu ditemuinya di toko
pandai besi. Wanita itu mungkin-mungkin juga tidak-telah
mengutuknya.
Ia terus bertanya-tanya dalam hati tentang hal itu selama tiga
hari perjalanan mencapai pulau yang dikuasai oleh raja kurcaci
Maximilian.
Mereka harus melakukan perjalanan dengan berkuda karena
Putri Teddy bersikeras bahwa menggunakan mantra pindah
tempat terhitung tidak adil karena termasuk sihir.
"Tapi tak ada apa pun di sini," keluh sang penyihir saat kudakuda mereka berjalan dengan susah payah sepanjang jalan
setapak berdebu. Sang penyihir terbatuk-batuk dan bersin
karenanya. "Hanya ada dataran dan padang rumput serta kota-

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

kota kecil sampai kita tiba di danau Maxi-milian. Tidak ada


bahaya. Tidak ada yang menarik."
"Walaupun begitu, kita tidak pernah tahu," kata Teddy
berulang kali.
Jadi, mereka menunggang kuda dan bermalam di hutan. Sang
penyihir dengan sukarela memasak. Waktu berjalan dengan
cepat karena ternyata Teddy seorang teman seperjalanan yang
baik. Ia menceritakan berbagai kisah menarik.
Setelah tiga hari berlalu, lebih cepat dari yang diperkirakan
sang penyihir, mereka tiba di tepi danau yang mengelilingi pulau
terlarang raja kurcaci.
Kebun milik sang raja kurcaci dapat terlihat dari seberang
pulau. Putri Teddy mengalihkan pandangannya dari kebun yang
dibatasi dinding itu dan menatap perairan yang menghalangi
mereka. "Ikan jenis apakah itu?" tanya sang putri dengan rasa
khawatir sambil menunjuk ke arah bayangan gelap yang
memerhatikan mereka dari dalam air.
Sang penyihir menatap ikan-ikan itu dengan waspada.
"Entahlah. Yang pasti, mereka memiliki banyak gigi, ya?"
Teddy menariknya menjauh dari tepi sungai itu. "Hati-hati.
Yang satu itu menjilat bibirnya saat kau mencondongkan badan
seperti itu."
Sang penyihir tidak tahu bahwa ikan- tak peduli seberapa
laparnya mereka-bisa menjilat bibir. Namun, ia memutuskan
untuk menjaga jarak-untuk berjaga-jaga. Katanya, "Kurcaci
adalah makhluk yang praktis. Mereka tinggal di bawah gunung
dan merasa bahwa memakai mantra setiap kali datang ke sini
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

adalah pemborosan sihir. Jadi, kesimpulanku adalah ada cara


untuk menyeberangi danau ini tanpa menggunakan kekuatan
sihir." Ia mulai berjalan di sepanjang tepi danau sambil
mengintai ke dalam air. Makhluk-makhluk di dalam danau itu
membalas tatapannya.
"Cara-cara untuk menyeberangi sebuah perairan," kata Teddy
sambil mulai menghitung dengan jarinya. "Perahu: Kita tidak
punya. Berenang: Kita tidak berani. Meloncat: Kita tidak bisa.
Jembatan: Satu pun tak terlihat."
Sang penyihir menangkap jari terakhir yang digunakan sang
putri. "Tepat sekali!"
"Tepat sekali apanya?"
"Pasti ada sebuah jembatan," kata sang penyihir, "tapi kita
tidak melihatnya. Mengapa? Benda apa yang tembus pandang?"
Teddy menggigit salah satu kuku jarinya. "Udara ... air ..." Ia
memerhatikan wajah sang penyihir untuk melihat kalau ada
perubahan ekspesi. "Kaca..."
Sang penyihir menyeringai dan menunjuk ke arah air tepat di
depan mereka. Di sebelah kiri, sekelompok ikan kecil galak yang
bergigi tajam menunggu dengan penuh harapan. Di sebelah
kanan, seekor ikan besar galak yang juga bergigi tajam sedang
berenang mondar-mandir dan menunggu. Tapi di depan mereka
ada rentangan air di mana tidak ada satu pun ikan yang
melewatinya. Tidak ada pemisah yang tampak di dalam air, dan
dasar danau yang berpasir membentang luas tanpa ada
pembatas. Setelah sekian

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

lama mereka berdua memandang, tidak ada satu makhluk pun


yang melintasi rentangan tersebut.
"Sebuah jembatan kaca," bisik Teddy, "di bawah permukaan
air."
Sang penyihir berjalan mendahului dan Teddy mengikutinya
dari dekat. Jembatan kaca itu sempit dan licin. Makhlukmakhluk danau, yang besar dan yang kecil, berenang sedekat
mungkin ke jembatan itu. Sang penyihir hampir percaya kalau
ia bisa mendengar ikan-ikan itu menggertakkan gigi dengan
putus asa, tapi hal itu sama bodohnya dengan membayangkan
mereka menjilat bibir dengan lapar. Akhirnya, ia dan sang putri
berhasil sampai ke seberang.
"Huh!" kata sang putri. Kemudian, ia terkejut. "Awas!"
Seorang kurcaci melompat melewati dinding yang mengelilingi
taman dan berlari menuruni bukit ke arah mereka.
"Tadinya, kupikir kau mengatakan para kurcaci itu tinggal di
sebuah kerajaan di
bawah gunung," kata Teddy. Ia mundur selangkah begitu pria
kerdil itu mendekat sambil memegang mahkota dengan satu
tangan dan mengayunkan kapak dengan tangan yang lain.
"Mengapa raja mereka yang menjaga kebunnya?"
Sang penyihir menjadi bingung. "Ia seharusnya tidak berada di
sini. Raja Maxi-milian dan rakyatnya memang tinggal di bawah
gunung. Ia pasti mempunyai urusan-urusan yang lebih penting
dibandingkan sekadar duduk di sini setiap hari untuk menjaga
sayurannya."
Saat sang penyihir sedang berbicara, raja kurcaci itu berhenti
hanya beberapa kaki di depan mereka. Meskipun ia pendek,
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

lengannya sangat berotot dan wajahnya sangat galak. Bahkan


seorang ibu pun akan bilang begitu. Ia membenahi mahkotanya
dan berkata dengan suara yang seperti sedang mengeram,
"Kalian pasti datang untuk mengambil timun emasku, kan?
Semua selalu berusaha mencuri timun-timunku. Dulu ada dua
kesatria yang tidak
bisa memutuskan siapa yang terhebat. Kemudian, mereka
memutuskan bahwa siapa yang mampu mencuri timun
Maximilian adalah pemenangnya. Seorang pangeran, yang ingin
membuktikan dirinya pantas mendapatkan cinta seorang
wanita, juga mencuri sebuah timun dari Maximilian yang
malang. Seorang ayah, yang tidak mempunyai mahar perkawinan
untuk anak gadisnya, menyelinap ke sini, karena Maxi-milian tua
memang bisa diandalkan dan memiliki cukup emas untuk seratus
mahar perkawinan, walaupun dalam bentuk sayuran. Aku berani
bertaruh. Kalian pasti datang ke sini dengan berbagai alasan
yang panjang, menyedihkan, dan juga masuk akal, kan?"
Dengan raut wajah bersalah, Teddy melihat sekilas ke arah
sang penyihir. "Begini, aku-"
"Ha!" Maximilian mendengus. "Cerita yang mirip!"
Sang penyihir meletakkan tangan di depan mulut dan
berdeham. Kemudian,
ia menutupi mulut dengan tangan untuk berbisik kepada Teddy.
"Ia seharusnya tidak berada di sini."
"Kalian mestinya malu pada diri sendiri," kata sang raja kurcaci
sambil mengeram lagi, "orang-orang tinggi seperti kalian." Ia
mengangkat kapaknya lebih tinggi untuk mengancam.
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir menggeleng-gelengkan kepala. "Raja Maximilian


ada di sini? Untuk menjaga timun emasnya?"
Teddy mencondongkan badannya untuk berbisik di telinga sang
penyihir, "Itu tidak begitu penting sekarang."
"Tentu saja penting," katanya kepada sang putri, meskipun
Maximilian telah maju selangkah. Ia memberikan senyuman
yang diharapkan bisa meyakinkan Teddy. Ia berkata padanya,
"Sudah kukatakan tadi. Para kurcaci adalah makhluk yang
praktis. Dan kurasa Maximilian terlalu praktis untuk duduk di
sini setiap hari dan berjaga-jaga bila ada yang berhasil
menyeberangi danau. Semua ini tidak
nyata. Penjaga itu jadi-jadian." Dengan lebih pelan, ia
menambahkan, "Kuharap begitu." Ia sadar kalau ia sedang
menggenggam tangan Putri Teddy. Walaupun bintik-bintik di
wajah gadis itu berubah menjadi pucat, tapi sang penyihir
merasa terkesan karena sang putri tidak jatuh pingsan-karena
biasanya para putri mudah pingsan-atau mencoba untuk kabur.
"Kita melihatnya, tapi ia sebenarnya tidak ada," sang penyihir
meyakinkan dengan maksud untuk menguatkan sang putri
sekaligus dirinya sendiri.
"Kesempatan terakhir untuk kabur," Maximilian mengingatkan.
Sang penyihir dan Teddy berdiri tegak.
Kurcaci itu mengayunkan kapaknya.
Sang penyihir bisa melihat rambut-rambut yang tumbuh di
kutil prajurit kecil itu dan ia juga bisa merasakan kibasan
udara dari kapaknya yang terayun untuk memenggal lehernya.
Tapi kapak itu lewat menembus dirinya. Ia bahkan tidak
merasakannya dan
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

hanya menatap kapak itu saat melewatinya melalui sisi yang


lain.
Sang penyihir memejamkan mata dan menghitung dalam hati
sampai sepuluh sebelum bisa bernapas normal lagi. Kemudian, ia
berjalan menembus bayangan Maximilian, yang terus masih
mengayunkan kapak, seolah-olah sedang menebas sekawanan
penyihir.
Sambil menarik napas lega, Putri Teddy menyingkirkan rambut
keriting coklatnya dari wajah dan mengikuti sang penyihir.
Maximilian tetap tinggal di pinggir danau dan mengayunayunkan kapaknya. "Sekarang bagaimana?" tanya Teddy.
"Sekarang," kata sang penyihir ketika sudah bisa berbicara
lagi, "kita ambil timunnya."
Tapi hal itu lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan. Di
sana ada pohon pir, pohon persik, pohon cherry, dan segala
jenis pohon kacang-kacangan. Ada tanaman anggur, semaksemak buah berry, tanaman tomat, dan pohon jagung. (Sang
penyihir sangat iri pada kebun kurcaci ini.) Tapi tidak ada
tanaman timun emas sama sekali.
"Aku tidak mengerti," kata sang penyihir.
Hanya ada satu tanaman timun di kebun itu. Tanaman itu
tumbuh merambat dan mengelilingi lengkungan berkisi-kisi.
Kedua orang itu berdiri tepat di bawahnya sambil memandang
ke atas. Mereka melihat begitu banyak timun-timun biasa nan
hijau dan besar.
"Mungkin timun emas berwarna hijau sebelum matang," Teddy
menyimpulkan tanpa terlalu yakin.

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Mungkin," kata sang penyihir sambil mencoba terdengar lebih


penuh harapan daripada yang sebenarnya ia rasakan, karena
menurutnya, sebagian timun itu sudah matang dengan
sempurna, tapi tidak ada tanda-tanda akan menjadi emas.
"Atau mungkin timun emas tumbuh di pohon yang sama dengan
timun biasa, tapi mereka tersembunyi di bawah dedaunan."
"Mungkin," Teddy mengiyakan, tapi sang penyihir menduga ia
mengatakannya hanya untuk bersikap sopan.
Sang penyihir memanjat teralis, tapi setelah beberapa menit
kemudian, sekujur tubuhnya bermandi keringat. Ranting dan
daun tersangkut di rambutnya dan menggores lengannya.
"Cukup sudah," katanya sambil melompat turun ke tanah. Kau
benar. Hal ini tidak bisa dilakukan. Kita pikirkan pencarian lain
untuk menguji calon pelamarmu."
"Tahu tidak?" kata Teddy, "Aku baru saja berpikir. Pertama:
kita menemukan sesuatu yang tidak bisa kita lihat, tapi
memang ada-jembatan kaca. Kemudian, kita menemukan
sesuatu yang bisa kita lihat, tapi tidak nyata-kurcaci penjaga."
Ia mengitari teralis itu dengan tampang serius. "Sekarang di
sini, kita memiliki sesuatu yang bisa kita lihat, yang mungkin
benar-benar ada di sini, tapi yang mungkin ...."
"... tidak seperti yang terlihat," sang penyihir menyelesaikan
kalimatnya. Ia mengangguk. "Sangat bagus. Sangat, sangat
bagus. Aku terkesan."
Putri Teddy tersipu. "Sebelum kau menjadi terlalu terkesan,
coba periksa apakah aku benar."

Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

Sang penyihir menggapai dan meme gang sebuah timun hijau


yang besar. Ia menariknya, merasakan timun itu menjadi
hangat serta berat di dalam tangannya. Ia menurunkan tangan,
memegang timun itu di depan mereka dan menjadi terkejut
karena tangannya sedikit bergetar. Pantulan cahaya matahari
berkilau di permukaan timun yang mulus itu dan secara
perlahan timun itu berubah menjadi emas padat, yang cukup
berkilau sehingga ia bisa melihat bayangannya yang basah
kuyup. Ia menarik napas panjang dan menatap wajah sang putri.
Ia telah berhasil. Ia telah membuktikan bahwa seseorangtanpa sihir-bisa mendapatkan timun emas. Kalau ia bisa
melakukannya, orang lain
juga pasti bisa dan orang tersebut akan menikahi Putri Teddy.
Tugas sang penyihir sudah selesai. Jadi, mengapa ia merasa
sedih? Ia menjulurkan timun itu pada Teddy.
Gadis itu bergerak sedikit seakan hendak mengambil darinya.
Kemudian, ia menarik tangannya. "Katamu tiga," gumamnyawalaupun ia sendiri bisa saja menggapai timun-timun itu lebih
mudah daripada sang penyihir karena badannya yang tinggi.
Sang penyihir memetik dua lagi, dan kemudian menjulurkan
ketiganya pada Theodora. "Betul, kan?" katanya sambil
membungkuk, "mungkin saja bagi seseorang untuk mencuri tiga
timun emas dari kebun rahasia kurcaci Maximilian- tanpa sihirdan kemudian mendapatkan Putri Theodora."
Sang putri menerima timun-timun itu sambil senyum malu. Ia
berkata, "Kena kau!"
Senyum sang penyihir sirna. "Apa maksudmu?"
Koleksi ebook inzomnia

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kena kau. Dan kautahu maksudku. Kau memenuhi semua syarat


pencarian ini." Ia mengacungkan sebuah jari dengan kuku yang
patah. "Betul, kan?"
"Tunggu sebentar-"
"Betul, kan?"
Sang penyihir mendesah, melipat tangan di depan dada, dan
mendesah lagi. Sang putri memerhatikannya dengan ekspresi
gelisah. Sang penyihir tidak mempermasalahkan rambut
keriting atau bintik-bintik pada wajah sang putri, atau
kenyataan bahwa ia harus menengadah untuk menatap matanya.
Ia teringat pada kisah-kisah lucu yang diceritakan sang putri
di sepanjang perjalanan dan pada kepandaian serta
keberaniannya. Menurutnya, Theodora adalah putri tercantik
yang pernah ia temui. Penyihir wanita dulu itu sangat benar
mengenai kebahagiaan sejati. Ia menggeleng-gelengkan kepala
sambil tersenyum. "Kena aku," katanya.
Teddy mengalihkan pembicaraannya. "Bukannya aku ingin
memaksamu-"
Sang penyihir meraih tangannya dan menciumnya dengan
lembut. "Ayo pulang," katanya, "putriku."
Dan mereka pun pulang.
Edit & Convert: inzomnia
http://inzomnia.wapka.mobi

Koleksi ebook inzomnia