Anda di halaman 1dari 29

PEMANFAATAN KERIKIL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA


PADA MATERI PERKALIAN DENGAN MENERAPKAN METODE
PEMBELAJARAN KOOPERATIF DI SD TEMUIRENG II
PANGGANG GUNUNGKIDUL
Oleh
DARMAWAN
822425284
ABSTRAK
Matematika merupakan salah satu dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendahuluan
(KTSP) yang diberikan kepada siswa mulai dari SD untuk membekali siswa dengan
kemampuan berfikir secara logis, analisis, sistematis dan kritis. Jika dilihat dari segi
keuangan suatu ilmu dalam kehidupan sehari-hari, maka matematika mempunyai
peranan penting dalam bidang perdagangan, pertanian, pembagunan dan lain
sebagainya.
Seiring dengan perkembangannya strategi pembelajaran dari berpusat pada guru
(teacher centered) maka berkembang pula cara pandang terhadap bagaimana peserta
didik belajar dan memperoleh pengetahuan. Kenyataan bahwa peserta didik adalah
mahluk hidup yang mempunyai kemampuan berpikir maka tentu mereka mempunyai
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan belajar dan lingkungan hidup.
Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah untuk mengetahui cara
peningkatan prestasi hasil belajar siswa kelas II SD Temuireng II dalam mengalikan
bilangan dengan cara penjumlahan berulang bilangan 1 sampai 100. Penelitian ini
menerapkan media penjumlahan berulang dalam kegiatan pembelajaran khususnya
materi perkalian, dengan alat bantu kerikil.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media penjumlahan berulang
dengan alat bantu kerikil dalam kegiatan pembelajaran khususnya materi perkalian
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Secara kualitatif terjadi peningkatan minat siswa terhadap pembelajaran meningkat dari
sedang menjadi tinggi. Minat siswa terhadap materi pembelajaran mningkat dari rendah
menjadi tinggi. Keberanian siswa bertanya meningkat dari rendah menjadi sedang.
Sedangkan secara kuantitatif, prestasi belajar siswa dari nilai rata-rata 59,5 pada
prasiklus menjadi 72 pada siklus 1 dan nilai rata-rata menjadi 84,5 pada siklus 2 dan
80% siswa telah mencapai nilai KKM.
Kata kunci: prestasi belajar, materi perkalian, media penjumlahan berulang.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Matematika merupakan salah satu muatan pembelajaran dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendahuluan (KTSP) yang diberikan kepada siswa mulai dari
SD untuk membekali siswa dengan kemampuan berfikir secara logis, analisis,
sistematis dan kritis. Jika dilihat dari segi ilmu ekonomi dalam kehidupan
sehari-hari, maka matematika mempunyai peranan penting dalam bidang
perdagangan, pertanian, pembagunan dan lain sebagainya.
Guru adalah kunci pokok tercapainya tujuan pembelajaran. Guru harus
peka terhadap keadaan, kondisi, dan minat siswa, termasuk bagaimana minat
siswa terhadap mata pelajaran Matematika. Kompetensi tersebut diperlukan
agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan
memanfaatkan informasi untuk kehidupan yang selalu berubah, tidak pasti,
dan kompetitif. Untuk mempelajari matematika diperlukan suatu kecerdasan
dan keuletan yang matang, dikarenakan mata pelajaran ini dianggap oleh
sebagian siswa sebagai pelajaran yang sulit, sehingga siswa malas
mempelajarinya. Penyebab lain adalah cara penyampaian materi oleh guru
terhadap siswa kurang menarik, sehingga siswa malas untuk mengikuti
pelajaran tersebut. Oleh karena itu, prestasi pada mata pelajaran Matematika
siswa selalu berada dibawah mata pelajaran lainnya. Akan tetapi perbaikan
terhadap prestasi matematika siswa terus dilakukan, baik dari segi materi
maupun dari segi metode pengajarannya.
Penerapan strategi pembelajaran dengan model kooperatif

serta

menggunakan metode yang bervariasi dapat meningkatkan aktivitas siswa


dalam proses belajar. Keaktifan dalam proses belajar sangat mempengaruhi
tercapainya tujuan pembelajaran, selain itu penggunaan metode yang
bervariasi, pendekatan kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan sekolah
juga sangat mendukung kelancaran proses pembelajaran siswa yang minatnya
tinggi akan aktif dalam mengikuti proses pembelajaran. Dari pengamatan

penulis sebagai guru kelas II, SD Temuireng II, UPT TK dan SD Kecamatan
Panggang, nilai matematika siswa kelas II lebih rendah dibandingkan mata
pelajaran yang lainnya.
Dengan penerapan strategi ini, pembelajaran dengan model pembelajaran
cooperative , penggunaan media dan metode yang bervariasi serta pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan keaktifan, minat dan perhatian siswa
terhadap proses pembelajaran matematika, diharapkan dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang kolektif dan memiliki spesifikasi
model spiral, dimulai dari rencana, tindakan ,dan refleksi diri yang
mempunyai dasar untuk memecahkan masalah juga melanjutkan prestassi
belajar siswa (Kemis dan Turgant dalam Kasbalah, 2007)
1. Identifikasi Masalah
Proses identifikasi dilakukan berdasarkan pengalama penulis dalam
melaksanan pembelajaran lebih dari 20 tahun. Dalam beberapa kali
ulangan,dari 20 siswa, sebanyak 7 siswa yang mendapat nilai di bawah
KKM, kegiatan saat pembelajaran saat itu guru tidak menerapkan
cooperative dan tidak menggunakan alat peraga secara maksimal.
Kecerdasan dan keaktifan siswa sangat umum sehingga penguasaan
materi masih sangat kurang dan hasil prestasi siswa tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan guru.
Berdasar nilai yang belum memuaskan itu, guru meminta bantuan
kepada kepala sekolah dan teman sejawat untuk mengidentifikasi
permasalahan dalam proses belajar mengajar tersebut. Dari hasil diskusi
dengan kepala sekolah dan teman sejawat ditemukan beberapa masalah
yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
a. Adanya 7 anak yang nilainya: 30, 50,60,60,60,65 dan 65 belum
b.
c.
d.
e.

mencapai KKM
Penguasaan materi masih rendah
Media yang digunakan kurang bervariasi
Keaktifan siswa dalam belajar masih kurang
Banyak siswa yang tidak memperhatikan saat proses pembelajaran
sehingga hasil formatif masih rendah.

Berdasarkan masalah di atas, guru menitikberatkan penelitian pada


permasalahan bagaimana cara siswa lebih aktif dalam proses
pembelajaran, penguasaan materi meningkat, dan hasil ulangan formatif
lebih baik.
2. Analisis Masalah
Berdasarkan hasil

identifikasi

masalah

dalam

pembelajaran

matematika, siswa tidak dapat mencapai hasil optimal sesuai harapan


guru. Hal ini disebabkan karena pada saat proses pembelajaran guru
tidak menerapkan pendekatan cooperative , tidak menggunakan media
kontekstual tetapi hanya menggunakan metode ceramah dan tidak
menggunakan alat peraga. Apabila menerapkan pendekatan cooperative ,
menggunakan media kontekstual serta alat peraga yang digunakan
optimal, diharapkan keaktifan, perhatian, dan kerja sama siswa dalam
proses belajar akan efektif sehingga hasil belajar siswa akan meningkat.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka masalah yang paling
mendesak dan paling penting untuk segera ditangani adalah penggunaan
metode pembelajaran yang sesuai sehingga proses pembelajaran menjadi
lebih efektif. Dalam penelitian ini, perbaikan metode pembelajaran yang
diterapkan

dengan

menggunakan

media

penjumlahan

berulang

khususnya materi perkalian di SD Temuireng II.


Dengan pembelajaran ini, siswa diharapkan mampu menganalisis
materi dan mampu untuk menyelsaikan soal-soal yang terkait dengan
materi

pembelajaran

Matematika

khususnya

materi

perkalian.

Pembelajaran akan lebih bermakna dan lebih membekas dalam benak


siswa. Siswa mampu memperoleh pemahaman dengan cara mereka
sendiri dan tentunya mereka dapat mengerjakan soal-soal dengan baik
sehingga siswa Kelas II SD Temuireng II dapat mencapai KKM yang
diinginkan.
B. Rumusan Masalah
4

Berdasarkan pada identifikasi dan analisis masalah di atas, permasalahan


yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut:
Bagaimana peningkatan prestasi hasil belajar siswa kelas II SD Temuireng II
dalam mengalikan bilangan dengan cara penjumlahan berulang bilangan 1
sampai 100 dengan media kerikil ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasar pada rumusan masalah di atas, tujuan penelitian perbaikan
pembelajaran ini adalah untuk mengetahui cara peningkatan prestasi hasil
belajar siswa kelas II SD Temuireng II dalam mengalikan bilangan dengan
cara penjumlahan berulang bilangan 1 sampai 100.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik bagi
siswa, guru, sekolah, maupun pemerhati pendidikan secara umum. Adapun
mamfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat Bagi Siswa
a. Melatih siswa memahami materi pembelajaran Matematika dan
menyelesaikan soal-soal yang diberikan.
b. Pengetahuan siswa yang didapat menjadi lebih tahan lama.
2. Manfaat Bagi Guru
a. Mampu memberi sumbangan ilmu untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran dan hasil pembelajaran.
b. Sebagai pengenalan kepada guru-guru Sekolah Dasar tentang metode
mengajar yang tepat.
c. Meningkatkan kualitas kinerja guru dalam kegiatan pembelajaran.
3. Manfaat Bagi Sekolah
a. Dapat menciptakan suasana sekolah yang kondusif melalui
pengelolaan kelas yang tepat.
b. Menjadi informasi penting bagi guru-guru di sekolah tentang
pembelajaran yang berkualitas.
4. Manfaat Pemerhati Pendidikan.

Penelitian ini mampu memberikan andil yang besar dalam dunia


pendidikan dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan karena
penelitian ini berdasar pada teori-teori keilmuan yang ada.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Proses Belajar
Dalam proses belajar matematika, Bruner (1982) menyatakan pentingnya
tekanan pada kemampuan peserta didik dalam berfikir intuitif dan analitik
dan mencerdaskan peserta didik membuat prediksi dan terampil dalam
menemukan pola (pattern) dan hubungan/keterkaitan (relations). Pembaruan
dalam proses belajar ini, dari proses drill dan practice ke proses bermakna,
dan dilanjutkan proses berpikir intuitif dan analitik, merupakan usaha luar
biasa untuk selalu meningkatkan mutu pembelajaran matematika. Reaksireaksi positif untuk perubahan mempunyai dampak perkembangan kurikulum
matematika sekolah yang dinamis.
Gerakan matematika modern pada tahun 1950-1960 menekankan
perlunya makna (meaning), terutama dari sudut pandang materi (subject
masser), yaitu pemusatan perhatian pada pemahaman (understanding).
Struktur atau sistem formal matematika lebih diutamakan untuk dipahamai
dari pola latihan, pengerjaan, dan kemampuan komputasional, dengan
harapan peserta didik lebih mudah

dan lebih mampu menggunakan

matematika pada situasi yang beragam (Muhsetyo, 2012).


Daya pikat matematika modern mulai menyusul ketika para matematisi
dan para pendidik mengkritik formalism matematika sebagai sesuatu yang
terkaku berlebihan dan tidak konsisten dalam keperluan kehidupan.
Penurunan kemampuan peserta didik dalam komputasi dituduhkan akibat
kurikulum matematika modern. Pada tahun tujuh-puluhan, gerakan
keterampilan dasar (basic skills movement)

berusaha mengembalikan

keterampilan berhitung peserta didik tanpa harus membuang kegiatan


pembelajaran yang bermakna (Muhsetyo, 2012).
Selalu melalui tahapan yang cukup waktu, sekitar 10 tahun, ternyata
diketahui bahwa gerakan (basic skills) mempunyai dampak peserta didik
lebih pandai berhitung dibanding peserta didik pada tahun-tahun sebelumnya,

tetapi

mereka

kurang

pandai

menggunakan

keterampilan

dalam

menyelesaiakan masalah beragam. Reaksi tentang dampak positif ini ditandai


dengan munculnya gerakan pemecahan masalah (problem solving) pada tahun
delapan-pulunhan. Gerakan ini merekomendasikan bahwa pemecahan
masalah menjadi focus dari kurikulum sekolah dan keterampilan dasar
berhitung perlu diperluas untuk memberi arah lebih, tidak sekadar
kemempuan komputasional.
Banyak ragam kegiatan dan pendapat tentang penjabaran makna
pemecahan masalah, antara lain soal tidak rutin (non-routine problems), soal
cerita (ord problems), soal penerapan (application problems), soal dengan
banyak cara menyelesaikan (multiple metods odd solution problem), dan soal
yang memerlukan pemikiran tingkat tinggi. Ada juga pendapat yang
mengaitkan sebagai strategi atau serangkaian langkah terencana dalam
menjawab soal, dan penyelesaian soal yang mengaitkan bantuan kalkulator,
grafik atau diagram.
Seiring dengan perkembangannya strategi pembelajaran dari berpusat
pada guru (teacher centered) maka berkembang pula cara pandang terhadap
bagaimana peserta didik belajar dan memperoleh pengetahuan. Kenyataan
bahwa peserta didik adalah mahluk hidup yang mempunyai kemampuan
berpikir maka tentu mereka mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan belajar dan lingkungan hidup. Mereka, secara individual
atau berkelompok, dapat membangun sendiri pengetahuan mereka dari
berbagai sumber belajar di sekitar mereka, tidak hanya yang berasal dari guru.
Aliran ini disebut aliran kontruktivisme.
Dampak dari berkembangnya aliran yang kontruktivistik adalah
munculnya kesadaran tentang pentingnya kekuatan atau tenaga matemati
(mathemayical power) pada tahun menjelang tahun sembilan-puluhan.
Kemampuan matematika antara lain terdiri dari kemampuan untuk (1)
mengkaji, menduga dan memberi alasan secara logis, (2) menyelesaikan soalsoal yang tidak rutin, (3) mengkomunikasikan tentang dan melalui
matematika, (4) mengaitkan ide-ide dalam matematika dan ide-ide antara

matematika dan kegiatan intelektual yang lain, dan (5) mengembangkan


percaya diri, watak atau karakter untuk mencari, mengevaluasi, dan
menggunakan informasi kuantitatif dan special dalam menyelesaiakan
masalah dan membuat keputusan. Hal-hal yang dapat menumbuhkan
kesadaran

tentang

kekuatan

matematikal

adalah

ketekunan/keuletan/kekerasan hati, minat (interest), keingintahuan (curiosity),


dan daya temu atau daya cipta (inventines).
Untuk mendukung usaha pembelajaran yang mampu menumbuhkan
kekuatan matematika, diperlukan guru yang professional dan kompeten,
adalah guru yang menguasai materi pembelajaran matematika, memahami
bagaimana anak-anak belajar, menguasai pembelajaran yang mampu
mencerdaskan peserta didik, dan mempunyai kepribadian yang dinamis dalam
membuat keputusan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.
Dukungan dan bimbingan untuk pengembangan profesioanlisme dalam
mengajar matematika dapat berupa pengembangan dan penetapan ukuranukuran baku (standar) minimal yang perlu dikuasai setiap guru matematika
yang professional. Beberapa komponen dalam standar guru matematika yang
profesioanal adalah (1) penguasaan dalam pembelajaran matematika, (2)
penguasaan dalam pelaksanaan evaluasi pembelajaran matematika, (3)
penguasaan dalam pengembangan professional guru matematika, dan (4)
penguasaan tentang posisi penopang dan pengembang guru matematuka dan
pembelajaran matematika.
Guru matematika yang profesioanal dan kompeten mempunyai wawasan
landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran matematika. wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang
dapat diterapkan untuk pengembang dan/atau perbaikan pembelajaran
matematika.

B. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika adalah proses pembarian pengalaman belajar
kepada pesrta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga
peserta didik memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang
dipelajari. Salah satu komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi
adalah penggunaan strategi pembelajaran matematika, yang sesuai dengan (1)
topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat perkembangan intelektual peserta
didik, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan aktif peserta didik, (5)
keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, (6) pengembangan
dan pemahaman penalaran matematis.
Beberapa strategi pembelajaran matematika yang konstruktivistik dan
dianggap sesuai pada saat ini anatara lain (1) problems solving, (2) problems
posing, (3) open-ended problems, (4) mathematical investigation, (5) guide
discovery, (6) contextual learning, dan (7) cooperative learning.
1. Pemecahan masalah
Ciri utama problem solving (pemecahan masalah) dalam matematika
adalah adanya masalah yang tidak rutin (non-routine problem). Masalah
seperti ini dirancang atau dibuat agar siswa tertantang untuk
menyelesaikan. Meskipun perserta didik pada awalnya mengalami
kesulitan mengerjakan permasalahan karena tidak ada aturan, prosedur
dan langkah-langkah yang segera dapat digunakan, mereka menjadi
terbiasa

dengan

memperoleh

cerdas

memecahkan

banyak latihan.

masalah

setelah

merekan

Banyak manfaat dari pengalaman

memecahkan masalah, antara lain adalah peserta didik menjadi aktif (1)
kreatif dalam berfikir, (2) kritis dalam menganalisa data, fakta, dan
informasi, (3) mandiri dalam bertindak dan bekerja.
Sasaran utama pemecahan masalah adalah (1) soal yang mempunyai
banyak selesaian (multiple solus), (2) soal yang diperluas (extending
problem), dan (3) soal yang mempunyai banyak cara menyelesaikan
(multiple methods of solusi). Kohei (2000) mengungkapkan tiga kegiatan
dalam pemecahan masalah, yaitu solving, posing problem, dan exploring

10

open-ended problem. Negara-negara maju menempatkan pemecahan


masalah sebagai focus dalam pendidikan matematika (Kohei, 2000:
NCTM, 1987). Beberapa contoh kegiatan pembelajaran matematika yang
berorientasi pada pemecahan masalah.
Contoh 2.1 (Banyak selesaian)
Guru memberikan soal/masalah kepada kelas sebagai berikut.
Perhatikan susunan bilangan berikut: 2, 5, 8, 11, 14, , 29
Kemudian guru meminta siswa untuk mencari paling sedikit 3
keadaan atau sifat yang dimiliki susunan bilangan tersebut.
Soal semacam ini tidak bisa (tidak rutin) dibuat oleh guru, sehingga
pada awalnya tentu guru juga mengalami kesulitan tentang keinginan
yang tersirat dalam soal ini. Siswa pada awalnya juga mengalami
kesulitan untuk memahami soal ini karena memang tidak ada petunjuk
yang jelas cara menjawabnya, sehingga merekan mempunyai kesempatan
untuk mengembangkan imajinasi pikiran, dan penalaran menjangkau
wilayah ketangapan bilangan (number sense) yang luas. Beberapa
jawaban yang semuanya benar antara lain adalah:
a. Susunan bilangan itu dimuali dengan 2
b. Susunan bilangan itu diakhiri dengan 29
c. Bilangan-bilangan itu berurutan dari kecil ke yang lebih besar
d. Bilangan-bilangan itu bergantian ganjil dan genap
e. Bilangan-bilangan itu semua positif
f. Bilangan-bilangan itu semua bulat
g. Banyak bilangan yang disusun adalah sepuluh selisih bilangan ke
satu dan ke dua adalah 3
h. Selisih bilangan ke satu dan kedua adalah 3
i. Selisih bilangan ke satu dua sama dengan selisih bilangan ke dua dan
ke tiga
Dari jawaban di atas dapat diketahui bahwa banyak konsep muncul
menyertai pikiran siswa. Potensi ini tumbuh dan berkembang dari
pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa menjadi

11

sumber belajar (yang biasanya hanya oleh guru). Siswa merasa gembira
dan bangga karena masing-masing jawaban dihargai oleh yang lain
sehingga keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat dan
pikirannya meningkat, serta kesadaran akan perbedaan dan mau
menghargai pendapat orang lain akan tumbuh seiring dengan
bertambahnya kegiatan mereka memecahkan masalah.
2. Penyelidikan Matematis
Penyelidikan matematis adalah penyelidikan tentang masalah yang
dapat dikembangkan menjadi model matematika, berpusat pada tema
tertentu, berorientasi pada kajian atau eksplorasi mendalam, dan bersifat
opne-ended. Kegiatan belajar yang dilakukan dapat berupa cooperative .
Contoh
Guru menyampaikan suatu masalah yang bertema persamaan linear:
Seorang peternak sapi mempunyi tiga kandang, jumlah ternak pada
kandang pertama dan kedua adalah 12, jumlah ternak pada kendang
pertama dan ketiga adalah 8, dan jumlah ternak pada kandang kedua dan
ketiga adalah 6. Berapakah jumlah seluruh sapi peternak itu?
Untuk menjawab soal ini siswa dikelompokkan dalam 3-5 orang
(cooperative ). Mereka diminta untuk membahas cara menyelesaiakan.
Sebagai gantinya sapi mereka dapat diganti dengan kerikil. Hasil diskusi
kemudian disampaiakan kepada kelas. Tentu mereka tidak dapat
disalahkan jika meraka menyebutkan cara coba-coba (trial and error).
Kelompok yang cerdas barangkali sudah merinci cara untuk memperoleh
jumlah tertentu dengan model tabel.
3. Penemuan Terbimbing
Penemuan terbimbing adalah suatu kegiatan pembelajaran yang
mana guru membimbing siswa-siswanya dengan menggunakan langkahlangkah yang sistematis sehingga mereka merasa menemukan sesutau.
Apa yang diperoleh siswa bukanlah temuan baru bagi guru, tetapi bagi
siswa temuan itu dirasakan sebagai temuan baru.

12

Agar siswa dapat mengetahui dan memahami proses penemuan,


mereka perlu dibimbing antara lain dengan menggunakan pengamatan
dan pengukuran langsung atau diarahkan untuk mencari hubungan dalam
wujud pola atau bekerja secara induktif

berdasarkan fakta-fakta

khusus untuk memperoleh aturan umum.


4. Contextual Learning
Ini merupakan pengelolaan suasana belajar yang mengaitkan bahan
pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, hal-hal faktual, atau keadaan
nyata yang dialami sisa.
C. Prestasi Belajar
Prestasi belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah
dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang
diterima dalam jangka waktu tertentu. Menurut Prakoso (dalam Azhar, 2012)
prestasi belajar pada umumnya dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga
dapat dibandingkan dengan satu kriteria.
Prestasi belajar kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang
tinggi. Prestasi belajar harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan
psikomotor. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya pada
seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang
keilmuan. Prestasi belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh
siswa yang didapat dari proses pembelajaran. Prestasi belajar adalah hasil
pencapaian maksimal menurut kemampuan anak pada waktu tertentu
terhadap sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan diterapkan.
Semua pelaku pendidikan (siswa, orang tua, dan guru) pasti
menginginkan tercapainya sebuah prestasi belajar yang tinggi, karena prestasi
belajar yang tinggi merupakan salah satu indikator keberhasilan proses
belajar.

Namun kenyataannya tidak semua siswa mendapatkan prestasi

belajar yang tinggi dan terdapat siswa yang mendapatkan prestasi belajar
yang rendah. Tinggi dan rendahnya prestasi belajar yang diperoleh siswa
dipengaruhi banyak faktor.

13

Menurut Dimyati Mahmud (dalam Azhar, 2012), mengatakan bahwa


Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa mencakup : faktor
internal dan faktor eksternal yaitu sebagai berikut :
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu
sendiri, yang terdiri dari N. Ach (Need For Achievement) yaitu kebutuhan
atau dorongan atau motif untuk berprestasi.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar sipelajar. Hal ini
dapat berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan
keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat. Menurut pendapat
Rooijakkers yang diterjemahkan oleh Soenoro (dalam Azhar, 2012),
mengatakan bahwa Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah
faktor yang berasal dari si pelajar, faktor yang berasal dari si pengajar.

14

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat, Waktu, dan Pihak yang Membantu Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas II yang berjumlah 20 siswa
yang terdiri dari 11 siswa putri dan 9 siswa putra. Subjek diambil
berdasarkan pertimbangan bahwa peneliti yang melakukan penelitian ini
adalah guru Kelas II.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini mengambil latar sebagai berikut:
a. Nama Sekolah

: SD Temuireng II

b. Kelas

: II

c. Mata Pelajaran

: Matematika

3. Jadwal Waktu Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran


Pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran ini akan dilaksanakan
pada bulan Pebruari sampai dengan April dengan jadwal perbaikan
pembelajaran sebagai berikut:

15

Tabel 1. Jadwal Penelitian


N
o
1

Kegiatan
Persiapan Observasi
Menyusun rencana

Pebruari
Maret
April
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
x

pelaksanaan
2
3

penelitian
Penyusunan

Proposal Penelitian
Pengumpulan data:
Pengumpulan data

awal
Pelaksanaan siklus 1
Refleksi
Pelaksanaan siklus 2
Refleksi
Penyusunan Laporan
Jadwal perbaikan pembelajaran

x
x
x
x
x
mata

x x x x
pelajaran Matematika

dilaksanakan sebagai berikut:


a. Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2015.
b. Siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2015.
4. Pihak yang Membantu Penelitian
Selama proses perbaikan pembelajaran peneliti dibantu oleh teman
sejawat, yaitu:
Nama

: UMI FITRIATI, S. Pd. SD

Guru Kelas

: VI

16

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Pelaksanaan perbaikan pembelajaran dilaksanakan melalui Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) yang direncanakan berlangsung dalam 2 siklus. Setiap
siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan/pengumpulan
data, dan refleksi. Skema pelaksanaan siklus dapat digambarkan sebagai
berikut.

Gambar 1. Skema Siklus


1. Siklus 1
a. Rencana siklus 1
Rencana tindakan pada penelitian ini meliputi:
1) Perencanaan pembelajaran materi perkalian dengan media
penjumlahan berulang yang disusun dalam sebuah Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2) Pelaksanaan pembelajaran materi perkalian dengan media
penjumlahan berulang.
3) Pengamatan pelaksanaan pembelajaran.
4) Pelaksanaan evaluasi hasil belajar.
5) Refleksi, yaitu menganalisis hasil evaluasi melalui pengamatan
untuk menentukan tindakan yang sesuai dan perlu tidaknya
melanjutkan pembelajaran siklus 2.
b. Pelaksanaan siklus 1
Pelaksanaan siklus didasarkan pada rencana yang telah dibuat
agar tindakan siklus 1 ini sesuai dengan rencana. Sebelum

17

melaksanakan kegiatan pelaksanaan siklus 1 perlu dilakukan tindakan


pengamatan. Pengamatan diperlukan untuk mengetahui permasalahan
yang perlu segera diatasi agar proses pelaksanaan siklus 1 berjalan
sesuai dengan rencanan dan memperoleh hasil sesuai dengan yang
diharapkan.
Guru

sebagai

pembelajaran.

berperan

Dalam

proses

sebagai

pelaksana

pembelajaran,

guru

tindakaan
melakukan

pengamatan pada hal-hal tertentu. Dengan bantuan ibu Umi fitriati,


S.Pd. SD sebagai kolaborator, pengamatan dilakuan agar memperoleh
hasil yang maksimal. Siswa diamati terkait dengan perhatian dan
keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu,
guru tidak luput dari proses pengamatan terkait dengan ketepatan
guru dalam penggunaan metode dan kemampuan guru dalam
mengelola kelas.
Pengamat bertugas mengamati proses pembelajaran dan
mengisikan hasil pengamatan ke dalam instrumen yang telah
disediakan. Hal ini bertujuan agar pengamatan yang dilakukan terarah
dan terukur oleh ketentuan. Dengan demikian, hasil pengamatan
menjadi maksimal.
Siklus ini terdiri dari satu pertemuan. Kegiatan pembelajaran
tentang materi perkalian dengan penjulahan berulang meminta siswa
belajar secara berkelompok, siswa diminta untuk mengamati gambar
2 pasang mata, 3 buah pensil ataupun 4 gambar meja. Meminta siswa
mendiskusikan apa yang dilihatnya dan dengan bimbingan guru
dihubungkan dengan perkalian. Setelah itu, siswa mengerjakan soal
evaluasi.
Kegiatan pembelajaran pada pertemuan satu dengan langkahlangkah sebagai berikut:
1) Menjelaskan materi perkalian adalah penjumlahan berulang dan
meminta siswa untuk berkelompok.

18

2) Siswa diminta untuk mengamati gambar 2 pasang mata, 3 buah


pensil ataupun 4 gambar meja.
3) Meminta siswa mendiskusikan apa yang dilihatnya dan dengan
bimbingan guru dihubungkan dengan perkalian.
4) Meminta

siswa

mencari

hasil

perkalian

melalui

bentuk

penjumlahan secara berulang dari soal cerita yang mengandung


perkalian.
5) Meminta

tiap

kelompok

untuk

menjelaskan

hasil

penyelesaiannya.
6) Mengevaluasi

jawaban

masing-masing

kelompok

dan

menjelaskan kembali tentang perkalian.


7) Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang belum
dipahami.
8) Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
9) Bersama

siswa

bertanya

jawab

meluruskan

kesalahan

pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.


10) Guru memberi penguatan dan kesimpulan.
11) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
12) Pemberian tugas/PR.
c. Pengamatan, pengumpulan data, dan instrumen siklus 1
Selama proses pembelajaran berlangsung, siswa diamati terkait
dengan perhatian dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Selain itu, guru tidak luput dari proses pengamatan
terkait dengan ketepatan guru dalam penggunaan metode dan
kemampuan guru dalam mengelola kelas. Pengamatan dilakukan
dengan menggunakan pedoman observasi. Soal tes juga digunakan
untuk mengumpulkan data tentang prestasi belajar Matematika
tentang materi perkalian.
d. Refleksi siklus 1
Refleksi dilakukan bersama-sama oleh peneliti dan pengamat
setelah kegiatan pembelajaran, pengamatan, dan evaluasi selesai

19

dilaksanakan agar memperoleh hasil yang maksimal. Data yang


diperoleh dari hasil pengamatan siklus 1 diamati bersama antara
peneliti dan pengamat sehingga diperoleh hasil data yang akurat
terkait dengan kelebihan dan kekurangan. Data tersebut kemudian
direfleksi untuk menentukan tidakan selanjutnya. Apabila dari hasil
refleksi siklus 1 ditemukan hasil yang belum sesuai dengan target,
yaitu 80% siswa sudah mencapai KKM serta siswa dapat membuat
soal dengan tepat dan mengerjakannya dengan benar, maka penelitian
ini akan dilanjutnya ke dalam siklus 2.
2. Siklus 2
a. Rencana siklus 2
Rencana tindakan pada siklus 2 ini pada dasarnya sama dengan
siklus 1, yaitu dengan menggunakan media penjumlahan berulang.
Perbedaan yang ada adalah pada siklus 1 siswa dikelompokkan maka
dalam siklus 2 ini adalah siswa tidak dikelompokkan.
b. Pelaksanaan siklus 2
Tahap-tahap dalam pelaksanaan dalam siklus 2 ini pada
prinsipnya sama dengan tahap-tahap yang dilakukan dalam siklus 1.
Pelaksaan kegiatan pembelajaran siklus 2 dilaksanakan dalam satu
pertemuan. Kegiatan pembelajaran menitikberatkan pada pada proses
pembelajaran

siswa

bekerja

secara

individu.

Pelaksanaan

pembelajaran yang dilakukan dalam siklus 2 ini didasarkan atas hasil


refleksi siklus 1 yang telah dilakukan antara pengamat dan peneliti.
c. Pengamatan, pengumpulan data, intrumen siklus 2
Pengamat melakukan pengamatan seperti yang telah dilakukan
pada siklus 1. Cara mengamati, teknik pengambilan data, dan
intrumen yang digunakan untuk melakukan pengamatan juga seperti
yang digunakan dalam siklus 1.
d. Refleksi siklus 2
Refleksi yang dilakukan sama dengan yang dilakukan pada
siklus 1. Refleksi dilakukan untuk mencari kelebihan dan kekurangan

20

yang terdapat dalam siklus 2. Hasil yang diperoleh digunakan untuk


menentukan tindakan yang perlu dilakukan berikutnya. Indikator
yang digunakan pun masih sama dengan indikator yang digunakan
pada siklus 1. Apabila dari hasil refleksi siklus 2 ini ditemukan hasil
yang sudah sesuai dengan target, yaitu 80% siswa sudah mencapai
KKM, maka penelitian ini tidak akan dilanjutnya ke dalam siklus 3.
C. Analisis Data
1. Observasi
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif
dalam mengamati keaktifan dan perhatian siswa dalam proses
pembelajaran serta terkait dengan ketepatan guru melakukan proses
pembelajaran yang sesuai dengan metode. Cara menghitung prosentase
setiap indikator adalah sebagai berikut:

prosentase=

jumlah jawaban
x 100
jumlah butir pertanyaan

2. Tes
Peningkatan

prestasi

belajar

siswa

dapat

diketahui

dengan

menggunakan teknik analisis data kuantitatif. Cara mnghitung nilai ratasata untuk tes adalah sebagai berikut:
2

x = r =

Keterangan :

x
N
x

= rata-rata

= jumlah
x = nilai mentah yang dimiliki siswa
N = banyaknya siswa

21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
1. Deskripsi Siklus 1
a. Perencanaan Siklus 1
Kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan siklus 1 adalah
sebagai berikut:
1) Menyiapkan buku pelajaran dan RPP
2) Menyiapkan presensi kelas
3) Menyiapkan lembar observasi siswa dan guru
Kegiatan pembelajaran pada siklus 1 ini tentang materi
perkalian

dengan

media

penjumlahan

berulang

dan

siswa

dikelompokkan. Setelah itu, siswa mengerjakan soal evaluasi.


b. Pelaksanaan Siklus 1
Pelaksanaan siklus 1 ini dilaksanakan pada tanggal 16 Maret
2015, dengan alokasi waktu masing-masing 2 x 35 menit. Adapun
tahap-tahap yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Pertemuan

diawali

dengan

berdoa

dan

guru

melakukan

apersepsi/motivasi.
2) Guru menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai siswa.
3) Sosialisasi tentang media penjumlahan berulang.
4) Menjelaskan materi perkalian adalah penjumlahan berulang dan
meminta siswa untuk berkelompok.
5) Siswa diminta untuk mengamati gambar 2 pasang mata, 3 buah
pensil ataupun 4 gambar meja.
6) Meminta siswa mendiskusikan apa yang dilihatnya dan dengan
bimbingan guru dihubungkan dengan perkalian.
7) Meminta

siswa

mencari

hasil

perkalian

melalui

bentuk

penjumlahan secara berulang dari soal cerita yang mengandung


perkalian.
8) Meminta

tiap

kelompok

penyelesaiannya.

22

untuk

menjelaskan

hasil

9) Mengevaluasi

jawaban

masing-masing

kelompok

dan

menjelaskan kembali tentang perkalian.


10) Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan hal yang belum
dipahami.
11) Guru bertanya jawab tentang hal-hal yang belum diketahui siswa.
12) Bersama

siswa

bertanya

jawab

meluruskan

kesalahan

pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan.


13) Guru memberi penguatan dan kesimpulan.
14) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
15) Pemberian tugas/PR.
c. Pengamatan Siklus 1
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru melakukan
pengamatan terhadap perilaku siswa dengan dibantu kolaborator
(UMI FITRIATI, S. Pd. SD) yang mengisi lembar observasi siswa
serta mengisi lembar observasi terhadap ketepatan guru dalam
penggunaan tindakan.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Siswa Siklus 1
Kriteria Pengamatan
Rendah Sedang Tinggi

No

Uraian

Minat siswa terhadap


pembelajaran
Minat siswa terhadap
materi pembelajaran
Keberanian siswa untuk
bertanya

2
3

Ket

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus 1


N
o

Nilai
Nama

Pra Siklus

Siklus 1

Ketuntasan
Belum
Tuntas
Tuntas
13
7

Jumlah
1190
1440
Rata-rata
59,5
72
Terendah
30
30
Tertinggi
80
100
Adapun hasil observasi belajar siswa selengkapnya dapat dilihat pada
tabel lampiran.

23

d. Refleksi Siklus 1
Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran
berlangsung diketahui bahwa minat siswa terhadap pembelajaran
masih sedang dan minat terhadap materi pembelajaran masih rendah
serta keberanian siswa bertanya pada saat proses pembelajaran masih
rendah. Sedangkan untuk nilai prestasi yang dicapai siswa saat
evaluasi telah mencapai KKM 13 siswa (65%) sedangkan 7 siswa
(35%) belum mencapai KKM. Target belum tercapai

(80%) dari 20

siswa sehingga perlu dilakukan siklus 2.


2. Deskripsi Siklus 2
a. Perencanaan Siklus 2
Pada perencanaan siklus 2 ini hampir sama dengan perencanaan
siklus 1. Pelaksaan kegiatan pembelajaran siklus 2 dilaksanakan
dalam satu pertemuan. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan
dalam siklus 2 ini didasarkan atas hasil refleksi siklus 1 yang telah
dilakukan antara pengamat dan peneliti.
b. Pelaksanaan Siklus 2
Pelaksanaan siklus 1 ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret
2015, dengan alokasi waktu masing-masing 2 x 35 menit. Tahap-tahap
pelaksanaan pembelajaran pada dasarnya sama dengan siklus 1.
Kegiatan pembelajaran pada siklus 2 ini menekankan pada proses
belajar siswa secara individu dan tidak dilakukan pengelompokan
siswa.
c. Pengamatan Siklus 2
Pengamatan yang dilakukan dalam siklus 2 ini menggunakan cara
pengamatan, pengumpulan data, dan instrumen yang digunakan masih
sama dengan siklus 1 yang diisi oleh kolaborator.

24

Tabel 4. Hasil Pengamatan Siswa Siklus 1 dan Siklus 2


No

Siklus 1
1
2
3

Uraian

Minat siswa terhadap

pembelajaran
Minat siswa terhadap

materi pembelajaran
Keberanian siswa untuk

bertanya
Keterangan 1: rendah

Siklus 2
1
2
3

2: sedang

3: tinggi

Tabel 5. Rekapitulasi Hasil Prestasi Belajar Siswa Siklus 1 dan 2


Nilai
No

Nama

Pra

Siklus 1

Ketuntasan
Belum
Tuntas
Tuntas
13
7

Nilai
Siklu

Ketuntasan
Belum
Tuntas
tuntas
17
3

Siklus
s2
Jumlah
1190
1440
1690
Rata-rata 59,5
72
84,5
Terendah
30
30
50
Tertinggi
80
100
100
Adapun hasil observasi belajar siswa selengkapnya dapat dilihat
pada tabel lampiran.
d. Refleksi Siklus 2

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran


berlangsung

dapat

diketahui

bahwa

minat

siswa

terhadap

pembelajaran meningkat dari sedang menjadi tinggi. Minat siswa


terhadap materi pembelajaran juga mengalami peningkatan dari
rendah menjadi tinggi. Keberanian siswa untuk bertanya juga sudah
meningkat dari rendah menjadi sedang. Sedangkan untuk nilai prestasi
yang dicapai siswa saat evaluasi telah mencapai KKM 17 siswa (85%)
sedangkan 3 siswa (15%) belum mencapai KKM. Jadi, target yang
ingin dicapai 16siswa (80%) mencapai KKM telah terpenuhi bahkan
perolehan siswa melebihi target yaitu 16 siswa (85%) mencapai KKM
sehingga tidak perlu dilakukan siklus 3.

25

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


1. Pembahasan Siklus 1
Pembelajaran Matematika dengan materi perkalian pada siklus 1
dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2015 dengan media penjumlahan
berulang untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II, SD
Temuireng

II. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif

kualitatif dan deskriptif kuantitatif.


Prestasi belajar siswa secara kualitatif pada siklus 1 berupa hasil
pengamatan terhadap minat siswa terhadap pembelajaran, minat siswa
terhadap materi pembelajaran, dan keberanian siswa untuk bertanya.
Berdasarkan hasil data selama pengamatan, minat siswa terhadap
pembelajaran dan minat siswa terhadap materi pembelajaran masih dalam
kategori sedang dan rendah. Hasil pengamatan terhadap keberanian siswa
untuk bertanya ternyata masuk dalam kategori rendah.
Prestasi belajar secara kuantitatif

berupa hasil evaluasi belajar

siswa. Berdasar data rekapitulasi hasil evaluasi belajar siswa tersebut nilai
rata-rata siswa 72 nilai tertinggi 100, dan terendah 30. Ada 7 siswa (35%)
yang belum mencapai KKM.
Prestasi belajar siswa pada siklus 1 mengalami peninggkatan dari
tahap prasiklus. Peningkatan hasil belajar ini disebabkan oleh penggunaan
media penjumlahan berulang dalam pembelajaran terutama materi
perkalian. Menurut Abdur Rahman Asari (dalam Qomarudin, 2006),
peningkatan prestasi belajar siswa sangat terpengaruh oleh penggunaan
pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru.
2. Pembahasan Siklus 2
Pembelajaran Matematika dengan materi perkalian pada siklus 2
dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2015 dengan media penjumlahan
berulang untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SD
Temuireng II, Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dan deskriptif kuantitatif.

26

Prestasi belajar siswa secara kualitatif pada siklus 1 berupa hasil


pengamatan terhadap minat siswa terhadap pembelajaran, minat siswa
terhadap materi pembelajaran, dan keberanian siswa untuk bertanya.
Berdasarkan hasil data selama pengamatan, minat siswa terhadap
pembelajaran dan minat siswa terhadap materi pembelajaran meninggkat
dari sedang dan rendah ke tinggi. Hasil pengamatan terhadap keberanian
siswa untuk bertanya ternyata juga mengalami peningkatan yaitu dari
rendah ke sedang.
Prestasi belajar secara kuantitatif

berupa hasil evaluasi belajar

siswa. Berdasar data rekapitulasi hasil evaluasi belajar siswa tersebut nilai
rata-rata siswa 84,5 nilai tertinggi 100, dan terendah 50. Ada 3 siswa
(15%) yang belum mencapai KKM. Indikator ketuntasan sudah mencapai
80% siswa mencapai KKM. Prestasi belajar siswa pada siklus 2
mengalami peninggkatan dari siklus 1. Peningkatan hasil belajar yang
signifikan ini disebabkan oleh penggunaan media penjumlahan berulang
dalam pembelajaran terutama materi perkalian. Hasil pengamatan pada
siklus 1 dan 2 diperoleh hasil sebagai berikut:

Gambar 2. Histogram Pengamatan Siswa Siklus 1 dan 2


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

27

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas Peningkatan Prestasi Belajar
Matematika Materi Perkalian Pembelajaran dengan Media Penjumlahan
Berulang di SD Temuireng II dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan
media penjumlahan berulang dalam kegiatan pembelajaran khususnya materi
perkalian dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal tersebut terbukti
dengan hasil sebagai berikut:
1. Minat siswa terhadap pembelajaran meningkat dari sedang menjadi
tinggi.
2. Minat siswa terhadap materi pembelajaran mningkat dari rendah menjadi
tinggi.
3. Keberanian siswa bertanya meningkat dari rendah menjadi sedang.
4. Prestasi belajar siswa dari nilai rata-rata 59,5 pada prasiklus menjadi 72
pada siklus 1 dan nilai rata-rata menjadi 84,5 pada siklus 2.
5. 80% siswa telah mencapai nilai KKM.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini, maka dapat disampaikan
saran sebagai berikut:
1. Gunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dan prestasi belajar siswa dapat
meningkat.
2. Pembelajaran Matematika dengan media penjumlahan berulang di SD
perlu dilakukan untuk meningkatkan minat dan keberanian siswa untuk
bertanya.

DAFTAR PUSTAKA

28

Anitah W, Sri dkk. 2008. Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas


Terbuka.
Arikunto, Suharsimi. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Akasara.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Yogyakarta: Rineka Cipta.
Azhar. 2012. Definisi, Pengertian dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Prestasi Belajar.
Diakses
tanggal
4
April
2014
dari
http://azharm2k.wordpress.com/2012/05/09/definisi-pengertian-danfaktor-faktor-yang-mempengaruhi-prestasi-belajar/
Boediono, dkk. (2001). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Balitbang
Depdiknas.
Muhsetyo, Gatot, dkk. 2012. Pembelajaran Matematika SD. Tangerang Selatan:
Universitas Terbuka.
Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta.
Wardani, I G.A.K., dkk. (2013). Pemantapan Kemampuan Profesional. Tangerang
Selatan: Universitas Terbuka.

29