Anda di halaman 1dari 37

Tinjauan Pustaka

Pembunuhan Anak Sendiri


Edwinda Desy Ratu
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
Email: edwindadr@ymail.com

Pendahuluan
Pembunuhan anak sendiri menurut UU di Indonesia adalah pembunuhan
yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau
tidak berapa lama setelah dilahirkan , karena takut ketahuan bahwa ia
melahirkan anak.
Aspek hukum[1]
Pasal 338 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam
karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas
tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuh an yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu
perbuatan

pidana,

yang

dilakukan

dengan

maksud

untuk

mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk


melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam
hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan
barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan

pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling


lama dua puluh tahun.
Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu
merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan
rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur
hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima
tahun.
Pasal 353 KUHP
(1)Penganiayaan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan
pidana penjara paling lama 4 tahun.
(2)Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah
dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
(3)Jika perbuatan mengakibatkan mati, dia dikenakan pidana penjara
paling lama 9 tahun.
Pasal 354 KUHP
(1)Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam,
karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara
paling lama delapan tahun.
(2)Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama sepuluh tahun.
Pasal 355 KUHP
(1)Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu,
diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
(2)Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan
pidana penjara paling lama 15tahun.

Aspek Medikolegal[2]
Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
1) Dalam

hal

penyidik

untuk

kepentingan

peradilan

menangani

seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga

karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang


mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran
kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan
tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau
pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh
penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang
memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan yang dilekatkan
pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut
keterangan ahli, sedangkan

keterangan yang diberikan oleh dokter

bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan.


Pasal 179 KUHAP
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran
kehakiman atau

dokter atau

ahli

lainnya

wajib

memberikan

keterangan ahli demi keadilan.


2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi
mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan
bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan
keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenanr-benarnya menurut
pengetahuan dalam bidang keahliannya.
Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali
apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia
memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar
terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.
Pasal 184 KUHAP

1) Alat bukti yang sah adalah:


- Keterangan saksi
- Keterangan ahli
- Surat
- Pertunjuk
- Keterangan terdakwa
2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang
pengadilan.
Pasal 180 KUHAP
1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang
timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta
keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh
yang berkepentingan.
2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau
penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu
dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan
penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2)
Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
1) Barangsiapa

dengan

sengaja

tidak

menuruti

perintah

atau

permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat


yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan
tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan
sengaja

mencegah,

menghalang-halangi

atau

menggagalkan

tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana


penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling
banyak sembilan ribu rupiah.

2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang


menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk
sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum.
3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak
adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam
itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga.
Pasal 222 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana
denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 224 KUHP
Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi
saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu
kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara

pidana

dihukum

dengan hukuman penjara

selama-lamanya 9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya 6 bulan.
Pasal 522 KUHP
Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli
atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam
dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.
Rahasia Jabatan dan Pembuatan Ska/ V Et R

Peraturan Pemerintah No 26 tahun 1960 tentang lafaz sumpah


dokter
Saya bersumpah/ berjanji bahwa:
Saya

akan

perkemanusiaan

membaktikan

hidup

saya

guna

kepentingan

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat


dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi
luhur jabatan kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena
pekerjaan saya dan karena keilmuan saya sebagai dokter.dst.

Peraturan Pemerintah no 10 tahun 1966 tentang wajib simpan


rahasia Kedokteran.

Pasal 1 PP No 10/1966
Yang dimaksud dengan rahasia kedokteran ialah segala sesuatu
yang diketahui oleh orang-orang

tersebut dalam pasal 3 pada

waktu atau selama melakukan pekerjaannya dalam lapangan


kedokteran.
Pasal 2 PP No 10/1966
Pengetahuan tersebut pasal 1 harus dirahasiakan oleh orang-orang
yang tersebut dalam pasal 3, kecuali apabila suatu peraturan lain
yang sederajat atau lebih tinggi daripada PP ini menentukan lain.
Pasal 3 PP No 10/1966
Yang diwajibkan menyimpan rahasia yang dimaksud dalam pasal 1
ialah:
a. Tenaga

kesehatan

menurut

pasal

UU

tentang

tenaga

kesehatan.
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan
pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain
yang ditetapkan oleh menteri kesehatan.
Pasal 4 PP No 10/1966
Terhadap pelanggaran ketentuan mengenai wajib simpan rahasia
kedokteran yang tidak atau tidak dapat dipidana menurut pasal 322
atau pasal 112 KUHP, menteri kesehatan dapat melakukan tindakan
administrative berdasarkan pasal UU tentang tenaga kesehatan.

Pasal 5 PP No 10/1966
Apabila pelanggaran yang dimaksud dalam pasal 4 dilakukan oleh
mereka yang disebut dalam pasal 3 huruf b, maka menteri
kesehatan

dapat

mengambil

tindakan-tindakan

berdasarkan

wewenang dan kebijaksanaannya.


Pasal 322 KUHP
1) Barangsiapa

dengan

sengaja

membuka

rahasia

yang

wajib

disimpannya karena jabatan atau pencariannya baik yang sekarang


maupun yang dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu
rupiah.
2) Jika kejahatan

dilakukan

terhadap

seorang

tertentu,

maka

perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.


Pasal 48 KUHP
Barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa
tidak dipidana.

Identifikasi forensik
a. Pemeriksaan terhadap bayi[2]
Lahir Mati atau Lahir Hidup
Pada pemeriksaan mayat baru lahir, harus dibedakan apakah
ia lahir mati atau lahir hidup. Bila bayi lahir mati maka kasus
tersebut bukan merupakan kasus pembunuhan, atau penelantaran
anak hingga menimbulkan kematian. Pada kasus seperti ini, si ibu
hanya dapat dikenakan tuntutan menyembunyikan kelahiran dan
kematian orang.
Lahir mati (still birth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum
keluar atau dikeluarkan dari ibunya, tanpa mempersoalkan usia
kehamilan (baik sebelum maupun sesudah kehamilan berumur 28
minggu dalam kandungan). Kemudian ditandai oleh janin yang tidak
bernapas atau tidak menunjukkan tanda kehidupan lain, seperti
denyut jantung, denyut nadi tali puat atau gerakan otot rangka.

Tanda-tanda

maserasi

(aseptic

decomposition).

Merupakan

proses pembusukan intrauterine, yang berlangsung dari luar ke


dalam (berlainan dengan proses pembusukan yang berlangsung dari
dalam ke luar). Tanda maserasi baru terlihat setelah 8-10 hari
kematian inutero. Bila kematian baru terjadi 3 atau 4 hari, hanya
terlihat perubahan pada kulit saja, berupa vesikel atau bula yang
berisi cairan kemerahan. Bila vesikel atau bula memecah akan
terlihat kulit berwara merah kecoklatan. Tanda-tanda lain adalah
epidermis berwarna putih dan berkeriput, bau tengik (bukan bau
busuk),

tubuh

mendatar,

mengalami

sendi

lengan

perlunakan
dan

tungkai

sehingga
lunak,

dada

terlihat

sehingga

dapat

dilakukan hiperkestensi, otot atau tendon terlepas dari tulang. Pada


bayi yang mengalami maserasi, organ-organ tampak basah tapi
tidak berbau busuk. Bila janin telah lama sekali meninggal dalam
kandungan, akan terbentuk litopedion.
Dada belum mengembang. Iga masih datar dan diafragma masih
setinggi iga ke 3-4. Sering sukar dinilai bila mayat telah membusuk.
Pemeriksaan makroskopik paru. Paru-paru mungkin masih
tersembunyi di belakang kantung jantung atau telah mengisi rongga
dada. Pada 75% kasus paru-prau telah menngisi rongga dada, baik
pada bayi yang lahir mati maupun lahir hidup. Paru-paru berwarna
kelabu ungu merata seperti hati, konsistensi padat tidak teraba
derik udara, dan pleura yang longgar (slack pleura). Berat paru-paru
kira-kira 1/70 x berat badan.
Uji apung paru. Uji ini harus dilakukan dengan teknik tanpa sentuh
(no touch technique), paru-paru tidak disentuh untuk menghindari
kemungkinan

timbulnya

artefak

pada

sediaan

histopatologik

jaringan paru akibat manipulasi berlebihan.


Lidah dikeluarkan seperti biasa di rahang bawah, ujung lidah
dijepit

dengan

pinset

atau

klem,

kemudia

ditarik

kea

rah

ventrokaudal sehingga terdapat palatum mole. Dengan scalpel yang


tajam, palatum mole disayat sepanjang perbatasannya dengan
paratum durum. Faring, laring, esofagus bersama dengan trakea
dilepaskan dari tulang belakang. Esofagus bersama dengan trakea

diikat dibawah kartilago krikoid dengan benang. Pengikatan ini


dimaksudkan agar pada manipulasi berikutnya cauran ketuban,
mekonium atau benda asing lain tidak mengalir ke luar melalui
trakea; bukan untuk mencegah masuknya udara ke dalam paru.
Pengeluaran organ dari lidah sampai paru dlakukan dengan
forsep atau pinset bedah dan scalpel, tidak boleh dipegang dengan
tangan. Kemudian esofagus diikat diatas diafragma dan dipotong di
atas ikatan. Pengikatan ini dimaksudkan agar udara tidak masuk ke
dalam lambung dan uji apung lambung-usus (uji Breslau) tidak
memberikan hasil yang meragukan.
Setelah semua organ leher dan dada dikeluarkan dari tubuh,
lalu dimasukkan ke dalam air dan dilihat apakah mengapung atau
tenggelam. Kemudian paru-paru kiri dan kanan dilepaskan dan
dimasukkan kembali ke dalam air, dan dilihat apakah mengapung
atau tenggelam.
Hingga tahap ini, baru bayi yang lahir mati masih dapat
mengapung oleh karena kemungkinan adanya gas pembusukan.
Bila potongan kecil itu mengapung, diletakkan diantara 2 karton dan
ditekan (dengan arah tekanan yang tegak lurus, jangan bergeser)
untuk mengeluarkan gas pembusukan yang terdapat pada jaringan
intersisial paru, lalu masukkan kembali ke dalam air dan diamati
apakah masih mengapung atau tenggelam. Bila masih mengapung
berarti paru tersebut berisi udara residu yang tidak akan keluar.
Kadang-kadang dengan penekanan, dinding alveoli pada
mayat bayi yang telah membusuk lanjut akan pecah juga dan udara
residu keluar dan menunjukkan hasil uji apung paru negatif.
Uji apung paru harus dilakukan menyeluruh sampai potongan
kecil paru mengingat kemungkinan adanya pernapasa sebagian
(partial repiration) yang dapat bersifat buatan (pernapasan buatan)
ataupun alamiah (vagitus uterinus atau vagitus vaginalis, yaitu bayi
sudah bernapas walaupun kepala masih dalam uterus atau dalam
vagina).
Hasil negatif belum berarti pasti lahir mati karena adanya
kemungkinan bayi dilahirkan hidup tapi kemudian berhenti bernapas
meskipun jantung masih berdenyut, sehingga udara dalam alveoli

diresorpsi. Pada hasil uji negatif ini, pemeriksaan histopatologik paru


harus dilakukan untuk memeastikan bayi lahir mati atau lahir hidup.
Bila sudah jelas terjadi pembusukan, maka uji apung paru
kurang dapat dipercaya, sehingga tidak dianjurkan untuk dilakukan.
Biasanya paru dengan perangai maskroskopik lahir mati akan
memberikan hasil uji apung paru negatif.
Mikroskopik paru. Setelah paru-paru dikeluarkan dengan teknik
tanpa sentuh, dilakukan fiksasi dengan larutan formalin 10%.
Sesudah

12

jam,

dibuat

irisan-irisan

melintang

untuk

memungkinkan cairan fiksatif meresap dengan baik ke dalam paru.


Setelah

difiksasi

selama

48

jam,

kemudian

dibuat

sediaan

hhistopatologik. Biasanya dilakukan pewarnaan HE dan bila perlu


telah membusuk digunakan pewarnaan Gomori atau Ladewig.
Struktur seperti kelenjar bukan merupakan cirri paru bayi
yang belum bernapas, tetapi merupakan cirri paru janin yang nelim
mencapai usia gestasi 26 minggu. Tanda khas untuk paru bayi
belum

bernapas

berbentuk

seperti

adalah
bantal

adanya

tonjolan

(cushion-like)

(projection),

yang

kemudian

yang
akan

bertambah tinggi dengan dasar menipis sehingga tampak seperti


gada (club-like). Pada permukaan ujung bebas projection tampak
kapiler yang berisi banyak darah. Pada paru bayi belum berrnapas
yang sudah membusuk, dengan pewarnaan gomori atau ladewig,
tampak serabut-serabut retikulin pada permukaan dinding alveoli
berkelok-kelok seperti rambut yang keriting, sedangkan pada
projection berjalan di bawah kapiler sejajar dengan permukaan
projection dan membentuk gelung-gelung terbuka (open loops).
Serabut-serabut elastin pada dinding alveoli belum terwarnai
dengan jelas, masih merupakan fragmen-fragmen yang tersusun
dan belum membentuk sartu lapisan yang mengelilingi seluruh
alveoli. Serabut tersebut tegang, tidak bergelombang dan tidak
terdapat di daerah basis projection.
Pada paru bayi lahir mati mungkin pula ditemukan tanda
inhalasi cairan amnion yang luas karena asfiksia intrauterine,
misalnya akibat tertekannya tali pusat atau solutio plasenta
sehingga

terjadi

pernapasa

janin

premature

(intrauterine

submersion). Tampak sel-sel verniks akibat deskuamasi sel-sel


permukaan kulit, berbentuk persegi panjang dengan inti piknotik
berbentuk huruf S, bila dilihat dari atas samping terlihat seperti
bawang (onion bulb). Juga tampak sedikit sel-sel amnion yang
bersifat asidofilik dengan batas tidak jelas dan inti terletak eksentrik
dengan batas yang juga tidak jelas.
Mekonium yang berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau
tua mungkin terlihat dalam bronkioli dan alveoli. Kadang-kadang
ditemukan deskuamasi sel-sel epitel bronkus yang merupakan tanda
dari maerasi dini, atau fagositosis mekonium oleh sel-sel dinding
alveoli. Kolon dapat menggelembung berisi mekoniumm yang
merupakan tanda usaha untuk bernapas (struggle to breath).
Lahir mati ditandai pula oleh ditemukannya keadaan yang
tidak

memungkinkan

terjadinya

kehidupan,

seperti

trauma

persalinan yang hebat, pendarahan otak yang hebat, dengan atau


tanpa robekan tentorium serebeli, pneumonia intrauterine, kelainan
congenital yang fatal seperti anensefalus dan sebagainya.
Lahir hidup (live birth) adalah keluar atau dikeluarkannya hasil
konsepsi yang lengkap, yang setelah pemisahan, bernapas atau
menunjukkan tanda kehidupan lain, tanpa mempersoalkan usia
gestasi, sudah atau belumnya tali pusat dipotong atau uri dilahirkan.
Pada

pemeriksaan

ditemukan

dada

sudah

mengembang

dan

diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5, terutama pada bayi
yang telah lama hidup.
Pemeriksaan mikroskopik paru. Paru sudah mengisi rongga dada dan
menutupi sebagian kandung jantung. Paru berwarna merah muda
tidak merata dengan pleura yang tegang (taut pleura), dan
menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara.
Apeks paru kanan paling dulu atau jelas terisi karena halangan
paling minimal. Gambaran marmer terjadi akibat pembuluh darah
intersisial berisi darah. Konsistensi seperti spons, teraba derik
udara. Pada pengisian paru dalam air terlihat jelas keluarnya

gelembung udara dan darah. Berat paru bertambah hingga dua kali
atau kira-kira 1/35 kali berat badan karena berfungsinya sirkulasi
darah jantung paru.
Uji apung paru memberikan hasil positif. Jika hasil negatif,
harus

dilanjutkan

dengan

pemeriksaan

mikroskopik

paru.

Pemeriksaan mikroskopik paru menunjukkan alveoli paru yang


mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif,
serta tidak terlihat adanya projection. Pada pewarnaan Gomori atau
Ladewig, serabut retikulin akan tampak tegang.
Pada pernapasan parsial yang singkat, mungkin hasil uji
apung paru negatif dan mikroskopik memperlihatkan gambaran
alveoli yang kolaps dengan dinding yang berhimpitan atau hampir
berhimpit. Kadang-kadang ditemukan edema yang luas dalam
jaringan paru, membrana duktus alveolaris yang tersebar dalam
jaringan paru, yang mungkin berasal dari lemak verniks (membran
hialin, yang akan terlihat bila bayi telah hidup lebih dari 1 jam), atau
atelektasis paru akibat obstruksi oleh membran duktus alveolaris.
Adanya udara dalam saluran cerna dapat dilihat dengan foto
rontgen. Udara dalam duodenum atau saluran yang lebih distal
menunjukkan lahir hidup, dan telah hidup 6-12 jam. Bila dalam usus
besar

berarti

telah

hidup

12-24

jam,

tetapi

harus

diingat

kemungkinan adanya pernapasan buatan atau gas pembusukan.

Umur bayi intra dan ekstra-uterine.


Penentuan umur janin/embrio dalam kandungan rumus De Haas,
adalah untuk 5 bulan pertama, panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat
umur gestasi (bulan) dan selanjutnya = umur gestasi (bulan) x 5.
Umur

Panjang badan (kepala-

tumit)
1 x 1 = 1 cm

bulan
2

2 x 2 = 4 cm

bulan
3

3 x 3 = 9 cm

bulan
4

4 x 4 = 16 cm

bulan
5

5 x 5 = 25 cm

bulan
6

6 x 5 = 30 cm

bulan
7

7 x 5 = 35 cm

bulan
8

8 x 5 = 40 cm

bulan
9

9 x 5 = 45 cm

bulan

Perkiraan umur janin dapat pula dilakukan dengan melihat pusat


penulangan (ossification centers) sebagai berikut :
Pusat penulangan
pada :
Clavicula
Tulang
panjang
(diafisis)
Ischium
Pubis
Calcaneus
Manubrium sterni
Talus
Sternum bawah
Distal femur
Proksimal tibia
Cuboid

Umur (bulan)
1,5
2
3
4
5-6
6
Akhir 7
Akhir 8
Akhir 9 / setelah lahir
Akhir 9 / setelah lahir
Akhir 9 / setelah lahir (bayi wanita lebih
cepat)

Pemeriksaan pusat penulangan dapat dilakukan secara radiologis


atau pada saat autopsi dengan cara sebagai berikut :

Calcaneus dan cuboid. Lakukan dorsofleksi kaki dan buat insisi mulai
dari antara jari kaki ke 3 dan ke 4 ke arah tengah tumit. Dengan
cara ini dapat dilihat pusat penulangan pada calcaneus dan cuboid
serta talus.
Distal femur dan proksimal tibia. Lakukan fleksi tungkai bawah pada
sendi lutut dan buat insisi melintang pada lutut. Patela dilepas
dengan memotong ligamentum patela. Buat irisan pada femur dari
arah distal ke proksimal sampai terlihat pusat penulangan pada
epifisis distal femur (bukan penulangan diafisis). Hal yang sama
dilakukan terhadap

ujung

proksimal tibia

dengan

irisan dari

proksimal ke arah distal. Pusat penulangan terletak di bagian tengah


berbentuk oval berwarna merah dengan diameter 4-6 mm.
Walaupun dalam undang-undang tidak dipersoalkan umur bayi,
tetapi kita haris menentukan apakah bayi tersebut cukup bulan atau
belum cukup bulan (prematur) ataukah non-viable, karena pada
pada keadaan prematur dan nonviable, kemungkinan bayi tersebut
meninggal

akibat

proses

alamiah

besar

sekali

sedangkan

kemungkinan mati akibat pembunuhan anak sendiri adalah kecil.


Viable

adalah keadaan

bayi/janin

yang

dapat hidup

di

luar

kandungan lepas dari ibunya. Kriteria untuk itu adalah umur


kehamilan lebih dari 28 minggu dengan panjang badan (kepalatumit) lebih dari 35 cm, panjang badan (kepala-tungging) lebih dari
23 cm, berat badan lebih 1000g, lingkar kepala lebih dari 32 cm,
dan tidak ada cacat bawaan yang fatal. Bayi cukup bulan (matur)
bila umur kehamilan >36 minggu dengan panjang badan kepalatumit lebih dari 48 cm, panjang badan kepala-tungging 30-33 cm,
berat badan 2500-3000g, dan lingkar kepala 33 cm.
Pada bayi cukup bulan, hampir selalu terdapat pusat penulangan
distal

femur

sedangkan

pada

proksimal

tibia

kadang-kadang

terdapat atau baru terdapat sesudah lahir, juga pada tulang cuboid.
Pada bayi wanita, pusat penulangan timbul lebih cepat.

Ciri-ciri lain dari bayi cukup bulan adalah : lanugo sedikit, terdapat
pada dahi, punggung, dan bahu; pembentukan tulang rawan telinga
telah sempurna (bila daun telinga dilipat akan cepat kembali ke
keadaan semula); diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih; kukukuku jari telah melewati ujung-ujung jari; garis-garis telapak kaki
telah terdapat 2/3 bagian depan kaki; testis sudah turun ke dalam
scrotum; labia minora sudah tertutup oleh labia mayora yang telah
berkembang sempurna; kulit berwarna merah muda (pada kulit
putih) atau merah kebiruan (pada kulit berwarna), yang setelah 1-2
minggu berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitam-hitaman;
lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput
(kulit pada bayi prematur berkeriput).
Penentuan umur bayi ekstra uterin didasarkan atas perubahanperubahan yang terjadi setelah bayi dilahirkan, misalnya:
Udara dalam saluran cerna. Bila hanya terdapat dalam lambung
atau duodenum, berarti hidup beberapa saat, dalam usus halus
berarti telah hidup 1-2 jam, bila dalam usus besar, telah hidup 5-6
jam, dan bila telah terdapat dalam rektum berarti telah hidup 12
jam.
Mekonium dalam kolon. Mekonium akan keluar semua kira-kira
dalam waktu 24 jam setelah lahir.
Perubahan tali pusat. Setelah bayi keluar akan terjadi proses
pengeringan tali pusat baik dilahirkan hidup maupun mati. Pada
tempat lekat akan terbentuk lingkaran merah setelah bayi hidup
kira-kira 36 jam. Kemudian tali pusat akan mengering menjadi
seperti

bendang

dalam

waktu

6-8

hari

dan

akan

terjadi

peneymbuhan luka yang sempurna bila tidak terjadi infeksi dalam


waktu 15 hari. Pada pemeriksaan mikroskopik daerah yang akan
melepas akan tampak reaksi inflamasi yang mulai timbul setelah 24
jam berupa serbukan sel-sel leukosit berinti banyak, kemudian akan
terlihat sel-sel limfosit dan jaringan granulasi.

Eritrosit berinti akan hilang dalam 24 jam pertama setelah lahir,


namun kadangkala masih dapat ditemukan dalam sinusoid hati.
Ginjal. Pada hari ke 2-4 akan terdapat deposit asam urat yang
berwarna jingga berbentuk kipas (fan-shapped), lebih banyak dalam
piramid daripada medula ginjal. Hal ini akan menghilang setelah
hari ke 4 saat metabolisme telah terjadi.
Perubahan sirkulasi darah. Setelah bayi lahir, akan terjadi obliterasi
arteri dan vena umbilikalis dalam waktu 3-4 hari. Duktus venosus
akan tertutup setelah 3-4 minggu dan foramen ovale akan tertutup
setelah 3 minggu sampai 1 bulan, tetapi kadang-kadang tidak
menutup walaupun sudah tidak berfungsi lagi. Duktus arteriosus
akan menutup setelah 3 minggu sampai 1 bulan.
Sudah atau belum dirawat. Pada bayi yang telah dirawat dapat
ditemukan hal-hal sebagai berikut:
Tali pusat. Tali pusat telah terikat, diputuskan dengan gunting atau
pisau lebih kurang 5 cm dari pusat bayi dan diberi obat antiseptik.
Bila tali pusat dimasukkan ke dalam air, akan terlihat ujungnya
terpotong

rata.

Kadang-kadang

ibu

menyangkal

melakukan

pembunuhan dengan mengatakan telah terjadi partus presipiatus


(keberojolan). Pada keadaan ini

tali pusat akan terputus dekat

perlekatannya pada uri atau pusat bayi dengan ujung yang tidak
rata. Hal lain yang tidak sesuai dengan partus presipiatus adalah
terdapatnya caput sucsadaneum, molase hebat dan fraktur tulang
tengkorak serta ibu yang primipara.
Vernix caseosa (lemak bayi) telah dibersihkan, demikian pula bekasbekas darah. Pada bayi yang dibuang ke dalam air vernix tidak akan
hilang seluruhnya dan masih dapat ditemukan di daerah lipatan
kulit; ketiak, belakang telinga, lipat paha, dan lipat leher.
Pakaian. Perawatan terhadap bayi antara lain adalah memberi
pakaian atau penutup tubuh pada bayi.

b. Pemeriksaan terhadap ibu[3]


Konsep Polimorfisme
Polimorfisme adalah istilah yang digunakan untuk menunjukan
adanya suatu bentuk yang berbeda dari suatu struktur dasar yang
sama. Jika terdapat variasi / modifikasi pada suatu lokus yang
spesifik (pada DNA) dalam suatu populasi, maka lokus tersebut
dikatakan bersifat polimorfik. Sifat polimorfik ini di samping
menunjukkan variasi individu, juga memberikan keuntungan karena
dapat digunakan untuk membedakan satu orang dari yang lain.
Dikenal polimorfisme protein dan polimorfisme DNA.
Polimorfisme protein antara lain ialah golongan darah, golongan
protein serum, sistim golongan enzim eritrosit dan sistim HLA
(Huma Lymphocyte Antigen). Polimorfisme DNA merupakan suatu
polimorfisme
polimorfisme

pada
protein,

tingkat

yang

lebih

awal

yaitu

tingkat

kode

genetik

dibandingkan
atau

DNA.

Pemeriksaan polimorfisme DNA meliputi pemeriksaan Sidik DNA


(DNA fingerprint), VNTR (Variable Number of Tandem Repeats) dan
RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism), secara Southern
blot maupun dengan PCR (Polymerase Chain Reaction).
Dibandingkan dengan pemeriksaan polimorfisme protein,
pemeriksaan polimorfisme DNA menunjukan beberapa kelebihan.
Pertama, polimorfisme DNA menunjukkan tingkat polimorfis yang
jauh lebih tinggi, sehingga tidak diperlukan pemeriksaan terhadap
banyak sistem. Kedua, DNA jauh lebih stabil dibandingkan protein,
membuat pemeriksaan DNA masih dimungkinkan pada bahan yang
sudah membusuk, mengalami mummifikasi atau bahkan pada
jenazah yang tinggal kerangka saja. Ketiga, distribusi DNA sangat
luas meliputi seluruh sel tubuh, sehingga berbagai bahan mungkin
untuk digunakan sebagai bahan pemeriksaan. Keempat, dengan
ditemukannya metode PCR, bahan DNA yang kurang segar dan
sedikit jumlahnya masih mungkin untuk dianalisis.
Pemeriksaan DNA Fingerprint
Pemeriksaan sidik DNA pertama kali dperkenalkan oleh
Jeffreys pada tahun 1985. Pemeriksaan ini didasarkan atas adanya

bagian DNA manusia yang termasuk daerah non-coding atau intron


(tak mengkode protein) yang ternyata merupakan urutan basa
tertentu yang berulang sebanyak n kali.
Bagian DNA ini tersebar dalam seluruh genom manusia
sehingga dinamakan multilokus. Bagian DNA ini dimiliki oleh smua
orang

tetapi

masing-masing

individu

mempunyai

jumlah

pengulangan yang berbeda-beda satu sama lain, sedemikian


sehingga kemungkinan dua individu mempunyai fragmen DNA yang
sama adalah sangat kecil sekali. Bagian DNA ini dikenal dengan
nama Variable Number of Tandem Repeats (VNTR) dan umumnya
tersebar pada bagian ujung kromosom. Seperti juga DNA pada
umumnya, VNTR ini diturunkan dari kedua orangtua menurut hukum
Mendel,

sehingga

keberadaanya

dapat

dilacak

secara

tidak

langsung dari orangtua, anak maupun saudara kandungnya.


Jeffreys dan kawan - kawan menemukan bahwa suatu fragmen
DNA yang diisolasi dari DNA yang terletak dekat dengan gen globin
manusia ternyata dapat melacak VNTR ini secara simultan. Pelacak
DNA (probe) multilokus temuannya ini dinamakan pelacar Jeffreys
yang terdiri dari beberapa probe, diantaranya 16.6 dan 16.15 yang
paling sering digunakan.
Pemeriksaan sidik DNA diawali dengan melakukan ekstraksi
DNA dari sel berinti, lalu memotongnya dengan enzim restriksi Hinfl,
sehingga DNA menjadi potongan-potongan. Potongan DNA ini
dipisahkan satu sama lain berdasarkan berat molekulnya (panjang
potongan) dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose.
Dengan menempatkan DNA pada sisi bermuatan negatif, maka DNA
yang bermuatan negatif akan ditolak ke sisi lainnya dengan
kecepatan yang berbanding terbalik dengan panjang fragmen DNA.
Fragmen DNA yang tleha terpisah satu sama lain di dalam agar lalu
diserap pada suatu membran nitroselulosa dengan suatu metode
yang dinamakan metode Southern blot.
Membran yang kini telah mengandung potongan DNA ini lalu
diproses untuk membuat DNA-nya menjadi DNA untai tunggal
(proses denaturasi), baru kemudian dicampurkan dengan pelacak

DNA yang telah dilabel dengan bahan radioaktif dalam proses yang
dinamakan hibridisasi. Pada proses ini pelacak DNA akan bergabung
dengan fragmen DNA yang merupakan basa komplemennya.
Untuk menampilkan DNA yang telah ber-hibridisasi dengan
pelacak berlabel ini, dipaparkanlah suatu film diatas membran
sehingga film akan terbakar oleh adanya radioaktif tersebut (proses
autoradiografi). Hasil pembakan film oleh sinar radioaktif ini akan
tampak pada fil berupa pita-pita DNA yang membentuk gambaran
serupa Barcode (label barang di supermarket).
Dengan metode Jeffreys dan menggunakan 2 macam pelacak
DNA umumnya dapat dihasilkan sampai 20-40 buah pita DNA persampelnya. Pada kasus identifikasi mayat tak dikenalm dilakukan
pembandingan pita korban dengan pita orangtua atau anak-anak
tersangka korban. Jika korban benar adalah tersangka maka akan
didapatkan bahwa separuh pita anak akan cocok dengan ibunya dan
separuhnya lagi cocok dengan pita ayahnya. Hal yang sama juga
dapat dilakukan pada kasus ragu ayah (disputed paternity).
Analisis VNTR Lain
Setelah penemuannya Jeffreys ini, banyak terjadi penemuan
VNTR lain. Metode pemeriksaanpun menjadi beraneka ragam
dengan menggunakan enzim restriksi, sistim labeling pelacak dan
pelacak yang berbeda, meskipun semua masih menggunakan
metode Southern blot seperti metode Jeffreys.
Setelah kemudian ditemukan suatu pelacak yang dinamakan
pelacak

lokus

tunggal

(single

locus),

maka

mulailah

orang

mengalihkan perhatiannya pada metode baru ini. Pada sistim


pelacakan dengan pelacak tunggal, yang dilacak pada suatu
pemeriksaan hanyalah satu lokus tertentu saja, sehingga pada
analisis selanjutnya hanya akan didapatkan dua pita DNA saja.
Karena pola penurunan DNA ini juga sama, maka satu pita berasal
dari ibu dan pita satunya berasal dari sang ayah.
Adanya jumlah pita yang sedikit ini menguntungkan karena
interpretasinya menjadi lebih mudah dan sederhana. Secara umum,
metode Jeffreys dan pelacak multilokus dianjurkan untuk kasus

identifikasi personal, sedang untuk kasus perkosaan menggunakan


metode dengan pelacak lokus tunggal.
Pemeriksaan RFLP
Polimorfisme yang

dinamakan

Restriction

Fragment

Length

Polymorphism (RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi


akibat adanya variasi panjang fragmen DNA setelah dipotong
dengan enzim restriksi tertentu. Suatu enzim restriksi mempunyai
kamampuan memotong DNA pada suatu urutan basa tertentu
sehingga akan menghasilkan potongan-potongan DNA tertentu.
Adanya mutasi tertentu pada lokasi pemotongan dapat membuat
DNA yang biasanya dapat dipotong menjadi tak dapat dipotong
sehingga membentuk fragmen DNA yang lebih panjang. Variasi
inilah yang menjadi dasar metode analisis RFLP.
VNTR yang telah dibicarakan di atas sesungguhnya adalah salah
satu jenis RFLP, karena variasi fragmennya didapatkan setelah
pemotongan dengan enzim restriksi. Metode pemeriksaan RFLP
dapat dilakukan dengan metode Southern blot tetapi dapat juga
dengan metode PCR.
Metode PCR
Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah suatu metode
untuk memperbanyak fragmen DNA tertentu secara in vitro dengan
menggunakan enzim polimerase DNA.
Kelompok Cetus pada tahun 1985 menemukan bahwa DNA yang
dicampur dengan deoksiribonukleotida trifosfat atau dNTP (yang
terdiri dari ATP, CTP, TTP dan GTP), enzim polimerase DNA dan
sepasang primer jika dipanaskan, didinginkan lalu dipanaskan lagi
akan memperbanyak diri dua kali lipat. Jika siklus ini diulang
sebanyak n kali, maka DNA akan memperbanyak diri 2n kali lipat.
Yang dimaksud dengan primer adalah fragmen DNA untai tunggal
yang sengaja dibuat dan merupakan komplemen dari bagian ujung
DNA yang akan diperbanyak, sehingga dapat diibaratkan sebagai
patok pembatas bagian DNA yang akan diperbanyak.
Adanya mesin otomatis untuk proses ini membuat prosedurnya
menjadi amat sederhana. DNA hasil perbanyakan dapat langsung

dianalisis dengan melakukan elektroforesis pada gel agarose atau


gel poliakrilamide.
LokusDNA yang dapat dianalisis dengan metode PCR, meliputi
banyak sekali lokus VNTR maupun RFLP lainnya, diantaranya lokus
D1S58 (dulu disebut D1S80) dan D2S44. Metode analisis dengan
PCR ini begitu banyak disukai sehingga penemuan-penemuan lokus
DNA polimorfik yang potensial untuk analisis kasus forensik terus
terjadi tanpa henti setiap saat.
Pada masa sebelum berkembangnya
identifikasi

personal

dilakukan

hanya

teknologi

bio-molekuler,

dengan

memanfaatkan

pemeriksaan polimorfisme protein, seperti golongan darah, dengan


segala

keterbatasannya.

Keterbatasan

pertama,

ia

hanya

dimungkinkan dilakukan pada bahan yang segar karena protein


cepat rusak oleh pembusukan. Keterbatasan kedua, ia hanya dapat
memberikan

kesimpulan

"mungkin".
Pada metode

eksklusi

konvensional,

yaitu

untuk

"pasti

bukan"

mempertinggi

atau

ketepatan

kesimpulan pada kelompok yang tak terkesklusi, pemeriksaan harus


dilakukan terhadap banyak sistim sekaligus.
Penemuan DNA fingerprint yang menawarkan metode eksklusi
dengan kemampuan

eksklusi yang amat tinggi

membuatnya

menjadi metode pelengkap atau bahkan pengganti yang jauh lebih


baik karena ia mempunyai ketepatan yang nyaris seperti sidik jari.
Dengan mulai diterapkannya metode PCR, kemampuan metode ini
untuk

memperbanyak

DNA

jutaan

samapi

milyaran

kalomemungkinkan dianalisisnya sampel forensik yang jumlahnya


amat minim, seperti analisis kerokan kuku (cakaran korban pada
pelaku), bercak mani atau darah yang minim, puntung rokok dsb.
Kelebihan lain dari pemeriksaan dengan PCR adalah kemampuannya
untuk menganalisis bahan yang sudah berdegradasi sebagian. Hal
ini penting karena banyak dari sampel forensik merupakan sampe
postmortem yang tak segar lagi.
Pemeriksaan TKP[2]

Dasar pemeriksaan adalah hexameter, yaitu menjawab 6 pertanyaan : (1)


apa yang terjadi, (2) siapa yang tersangkut, (3) dimana dan kapan terjadi,
(4) bagaimana terjadinya dan (5) dengan apa melakukannya, serta (6)
kenapa terjadi peristiwa tersebut. Bila korban masih hidup maka tindakan
yang paling utama dan pertama bagi dokter adalah menyelamatkan
korban dengan tetap menjaga keutuhan TKP.
Perlengkapan yang sebaiknya dibawa pada saat pemeriksaan di TKP
adalah kamera, film berwarna dan hitam putih (untuk ruangan gelap),
lampu kilat, lampu senter, lampu ultraviolet, alat tulis dan tempat
menyimpan barang bukti berupa amplop atau kantong plastik, pinset,
skapel, jarum, tang, kaca pembesar, termometer rectal, termometer
rangan, sarung tangan, kapas, kertas saring serta alat tulis (spidol) untuk
memberi label pada benda bukti.
Pada pemeriksaan TKP didapatkan bayi terbungkus kain, masih terdapat
plasenta, dan bayi dinyatakan cukup bulan berdasarkan pemeriksaan
yang dilakukan.

Teknik autopsi forensik[3]


Asfiksia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya
gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen darah
berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbon dioksida
(hiperkapnea). Dengan demikian organ tubuh mengalami kekurangan
oksigen (hipoksia hipoksik) dan terjadinya kematian.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala yang dapat
dibedakan dalam empat fase, yaitu:
a. Fase dispnea. Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan
penimbunan karbon dioksida dalam plasma akan merangsang pusat
pernapasan di medula oblongata, sehingga amplitudo dan frekuensi
pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi
dan mulai tampak tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan
tangan.

b. Fase konvulsi. Akibat kadar karbon dioksida yang naik maka akan
timbul rangsangan terhadap susunan saraf pusat sehingga terjadi
konvulsi, yang mula-mula berupa kejang klonik tetapi kemudian
menjadi kejang tonik, dan akhirnya timbul spasme opistotonik. Pupil
mengalami dilatasi, denyut jantung menurun, tekanan darah juga
menurun. Efek ini berkaitan dengan paralisis pusat yang lebih tinggi
dalam otak akibat kekurangan oksigen.
c. Fase apnea. Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat,
pernapasan melemah dan dapat berhenti. Kesadaran menurun dan
akibat relaksasi sfingter dapat terjadi pengeluaran cairan sperma,
urin, dan tinja.
d. Fase akhir. Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap.
Pernafasan berhenti setelah kontraksi otomatis otot pernapasan
kecil pada leher. Jantung masih berdenyut beberapa saat setelah
pernapasan berhenti.
Masa dari saat asfiksia timbul sampai terjadinya kematian sangat
bervariasi. Umumnya berkisar antara 4-5 menit. Fase 1 dan 2 berlangsung
lebih kurang 3-4 menit, tergantung dari tingkat penghalangan oksigen,
bila tidak 100 persen maka waktu kematian akan lebih lama dan tandatanda asfiksia akan lebih jelas dan lengkap.
Pembekapan adalah penutupan lubang hidung dan mulut yang
menghambat pemasukan udara ke paru-paru. Pembekapan menimbulkan
kematian akibat asfiksia.
Cara kematian yang berkaitan dengan pembekapan dapat berupa :
a. Bunuh diri. Bunuh diri dengan cara pembekapan masih mungkin
terjadi misalnya pada penderita penyakit jiwa, orang tahanan
dengan menggunakan gulungan kasur, bantal, pakaian, yang
diikatkan menutupi hidung dan mulut.
b. Kecelakaan. Kecelakaan dapat terjadi misalnya pada bayi dalam
bulan-bulan pertama kehidupannya, terutama bayi prematur bila
hidung dan mulut tertutup oleh bantal atau selimut. Anak-anak dan
dewasa muda yang terkurung dalam suatu tempat yang sempit

dengan sedikit udara, misalnya terbekap dengan atau dalam


kantung plastik.
c. Pembunuhan. Biasanya terjadi pada kasus pembunuhan anak
sendiri.
Bila pembekapan terjadi dengan benda yang lunak, maka pada
pemeriksaan luar jenazah mungkin tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan. Tanda kekerasan yang dapat ditemukan tergantung dari jenis
benda yang digunakan dan kekuatan menekan.
Kekerasan yang mungkin terdapat adalah luka lecet tekan atau geser,
goresan kuku, memar pada ujung hidung, bibir, pipi, dagu yang mungkin
terjadi akibat korban melawan.
Luka memar atau lecet pada bagian atau permukaan dalam bibir akibat
bibir yang terdorong dan menekan gigi, gusi, dan lidah. Luka memar atau
lecet pada bagian belakang tubuh korban.

Thanatologi[2]
1. Tanda yang segera dikenali setelah kematian.
Berhentinya sirkulasi darah.
Berhentinya pernafasan.
2. Tanda-tanda kematian setelah beberapa saat kemudian:
a. Perubahan temperatur tubuh (algor mortis)
Suhu tubuh pada orang yang sudah meninggal perlahan-lahan
akan sama dengan suhu lingkungannya karena mayat tersebut
akan

melepaskan

panas

dan

suhunya

menurun.

Kecepatan

penurunan suhu pada mayat bergantung kepada suhu lingkungan


dan suhu mayat tu sendiri. Pada iklim yang dingin maka
penurunan suhu mayat berlangsung cepat.
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Suhu Mayat
1. Usia. Penurunan suhu lebih cepat pada anak-anak dan orang
tua dibandingkan orang dewasa.

2. Jenis kelamin. Wanita mengalami penurunan suhu tubuh yang


lebih lambat dibandingkan

pria karena jaringan lemaknya

lebih banyak.
3. Lingkungan sekitar mayat. Jika mayat berada pada ruangan
kecil tertutup tanpa ventilasi kecepatan penurunan suhu mayat
akan lebih lambat dibandingkan jika mayat berada pada tempat
terbuka dengan ventilasi yang cukup.
4. Pakaian. Tergantung pakaian yang di pakai tebal atau nipis atau
tidak berpakaian.
5. Bentuk tubuh. Mayat yang berbadan kurus akan mengalami
penurunan suhu badan yang lebih cepat.
6. Posisi tubuh. Mayat dalam posisi terlentang

mengalami

penurunan suhu yang lebih cepat.


b. Lebam mayat (livor mortis)
Lebam mayat terjadi akibat terkumpulnya darah pada jaringan
kulit dan subkutan disertai pelebaran pembuluh kapiler pada
bagian tubuh yang letaknya rendah atau bagian tubuh yang
tergantung. Keadaan ini memberi gambaran berupa warna ungu
kemerahan.Setelah

seseorang

meninggal,

mayatnya

menjadi

suatu benda mati sehingga darah akan berkumpul sesuai dengan


hukum gravitasi. Lebam mayat pada awalnya berupa barcak.
Dalam waktu sekitar 6 jam, bercak ini semakin meluas yang pada
akhirnya akan membuat warna

kulit menjadi gelap. Pembekuan

darah terjadi dalam waktu 6-10 jam setelah kematian. Lebam


mayat ini bisa berubah baik ukuran maupun letaknya tergantung
dari perubahan posisi mayat. Karena itu penting sekali untuk
memastikan bahwa mayat belum disentuh oleh orang lain. Posisi
mayat ini juga penting untuk menentukan apakah kematian
disebabkan karena pembunuhan atau bunuh diri.
Ada 5 warna lebam mayat yang dapat kita gunakan untuk
memperkirakan penyebab kematian :
a. Merah kebiruan merupakan warna normal lebam
b. Merah terang menandakan keracunan CO, keracunan CN atau
suhu dingin

c. Merah gelap menunjukkan asfiksia


d. Biru menunjukkan keracunan nitrit
e. Coklat menandakan keracunan aniline
c. Kaku mayat (rigor mortis)
Perubahan otot yang terjadi setelah kematian bisa dibagi dalam 3
tahap :
1. Periode relaksasi primer (flaksiditas primer)
Hal ini terjadi segera setelah kematian. Biasanya berlangsung
selama 2-3 jam. Seluruh otot tubuh mengalami relaksasi,dan
bisa digerakkan ke segala arah. Iritabilitas otot masih ada tetapi
tonus otot menghilang. Pada kasus di mana mayat letaknya
berbaring rahang bawah akan jatuh dan kelopak mata juga
akan turun dan lemas.
2. Kaku Mayat
Kaku mayat akan terjadi setelah tahap relaksasi primer.
Keadaan ini berlangsung setelah terjadinya kematian tingkat
sel, dimana aktivitas listrik otot tidak ada lagi. Otot menjadi
kaku. Fenomena kaku mayat ini pertama sekali terjadi pada
otot-otot mata, bagian belakang leher, rahang bawah, wajah,
bagian depan leher, dada, abdomen bagian atas dan terakhir
pada otot tungkai. Akibat kaku mayat ini seluruh mayat menjadi
kaku, otot memendek dan persendian pada mayat akan terlihat
dalam posisi sedikit fleksi. Keadaan ini berlangsung selama 24
- 48 jam pada musim dingin dan 18 - 36 jam pada musim
panas. Penyebabnya adalah otot tetap dalam keadaan hidrasi
oleh karena adanya ATP. Jika tidak ada oksigen, maka ATP akan
terurai

dan

akhirnya

habis,

sehingga

menyebabkan

penumpukan asam laktat dan penggabungan aktinomiosin


(protein otot).
3. Periode Relaksasi Sekunder
Otot menjadi relak (lemas) dan mudah digerakkan. Hal ini
terjadi karena pemecahan protein, dan tidak mengalami reaksi
secara fisik maupun kimia. Proses pembusukan juga mulai

terjadi. Pada beberapa kasus, kaku mayat sangat cepat


berlangsung sehingga sulit membedakan antara relaksasi
primer dengan relaksasi sekunder.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kaku Mayat
1) Keadaan Lingkungan. Pada keadaan yang kering dan dingin,
kaku mayat lebih lambat terjadi dan berlangsung lebih lama
dibandingkan pada lingkungan yang panas dan lembab. Pada
kasus di mana mayat dimasukkan ke dalam air dingin, kaku
mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lebih lama.
2) Usia. Pada anak-anak dan orangtua, kaku mayat lebih cepat
terjadi dan berlangsung tidak lama. Pada bayi prematur
biasanya tidak ada kaku mayat. Kaku mayat baru tampat pada
bayi yang lahir mati tetapi cukup usia (tidak prematur).
3) Cara kematian. Pada pasien dengan penyakit kronis, dan sangat
kurus, kaku mayat cepat terjadi dan berlangsung tidak lama.
Pada pasien yang mati mendadak, kaku mayat lambat terjadi
dan berlangsung lebih lama.
4) Kondisi otot. Terjadi kaku mayat lebih lambat dan berlangsung
lebih lama pada kasus di mana otot dalam keadaan sehat
sebelum meninggal, dibandingkan jika sebelum meninggal
keadaan otot sudah lemah
3.

Tanda-tanda kematian setelah selang waktu yang lama:


a. Proses pembusukan
Perubahan warna. Perubahan ini pertama kali tampat pada
fossa iliaka kanan dan kiri berupa warna hijau kekuningan,
disebabkan

oleh

perubahan

hemoglobin

menjadi

sulfmethemoglobin. Perubahan warna ini juga tampak pada seluruh


abdomen, bagian depan genitalia eksterna, dada, wajah dan leher.
Dengan semakin berlalunya waktu maka warnanya menjadi semakin
ungu. Jangka waktu mulai terjadinya perubahan warna ini adalah 612 jam pada musim panas dan 1-3 hari pada musin dingin.
Perubahan warna tersebut juga diikuti dengan pembengkakan

mayat. Otot sfingter mengalami relaksasi sehingga urin dan faeses


keluar. Lidah juga terjulur. Bibir menebal, mulut membuka dan busa
kemerahan bisa terlihat keluar dari rongga mulut.

Mayat berbau

tidak enak disebabkan oleh adanya gas pembusukan. Gas ini bisa
terkumpul pada suatu rongga sehingga mayat menjadi tidak mirip
dengan korban sewaktu masih hidup. Gas ini selanjutnya juga bisa
membentuk lepuhan kulit
Lepuhan Kulit (blister)
Mulai tampak 36 jam setelah meninggal. Kulit ari dapat
dengan cukup mudah dikelupas. Di mana akan tampak cairan
berwarna kemerahan yang sedikit mengandung albumin. Jika
pembusukan terus berlangsung, maka bau busuk yang timbul akan
menarik lalat untuk hinggap pada mayat. Lalat menempatkan
telurnya pada mayat, di mana dalam waktu 8-24 jam telur akan
menetas menghasilkan larva-yang sering disebut belatung. Dalam
waktu 4-5 hari, belatung ini lalu menjadi pupa, dimana setelah 4-5
hari kemudian akan menjadi lalat dewasa. Pada tahap ini bagian
dari tulang tengkorak mulai tampak. Rektum dan uterus juga
tampak dan uterus gravid juga bisa mengeluarkan isinya Rambut
dan kuku dengan mudah dapat dicabut. Bagian perut dan dada bisa
pecah berhubung besarnya tekanan gas yang di kandungnya. Jika
pembusukan terus berlangsung, maka jaringan jaringan menjadi
lunak, rapuh dan berwarna kecoklatan.
Organ Tubuh Bagian Dalam
Organ tubuh bagian dalam juga mengalami perubahan. Bentuk
perubahan sama seperti diatas, jaringan-jaringan menjadi berwarna
kecoklatan. Ada yang cepat membusuk dan ada yang lambat.
Jaringan yang cepat membusuk :

Laring
Trakea
Otak terutama pada anak-anak
Lambung
Usus halus

Hati
Limpa
Jaringan yang lambat membusuk :
Jantung
Paru-paru
Ginjal Prostat
Uterus non gravid
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecepatan Pembusukan.
a. Temperatur.

Temperatur

yang

paling

cocok

untuk

proses

pembusukan adalah antara 700F sampai 1000F. Pembusukan


akan melambat diatas temperatur 1000F dan dibawah 700F, dan
berhenti dibawah 320 F atau diatas 2120F .
b. Udara. Udara yang mempercepat pembusukan. Kecepatan
pembusukan

lebih

lambat

didalam

dibandingkan di udara terbuka.


c. Kelembaban.
Keadaan
lembab

air

dan

dalam

mempercepat

tanah
proses

pembusukan.
d. Penyebab kematian. Bagian tubuh yang terluka biasanya lebih
cepat membusuk. Beberapa jenis racun bisa memperlambat
pembusukan, misalnya arsen, zinc (seng) dan golongan logam
antimon. Mayat penderita yang meninggal karena penyakit
kronis lebih cepat membusuk dibandingkan mayat orang sehat.
b. Saponifikasi atau adiposera
Fenomena ini terjadi pada mayat yang tidak mengalami
proses

pembusukan

yang

biasa.

Melainkan

mengalami

pembentukan adiposera. Adiposera merupakan subtansi yang mirip


seperti lilin yang lunak, licin dan warnanya bervariasi mulai dari
putih keruh sampai coklat tua. Adiposera mengandung asam lemak
bebas, yang dibentuk melalui proses hidrolisa dan hidrogenasi
setelah kematian. Adanya enzim bakteri dan air sangat penting
untuk berlangsungnya proses tersebut. Dengan demikian, maka
adiposera biasanya terbentuk pada mayat yang terbenam dalam air
atau rawa-rawa. Lama pembentukan adiposera ini juga bervariasi,
mulai dari 1 minggu sampai 10 minggu. Kepentingan medikolegal

dari adiposere adalah dapat menunjukkan tempat kematian (kering,


panas atau tempat basah).
c. Mumifikasi
Mayat

mengalami

pengawetan

penyusutan bagian-bagian

tubuh.

akibat
Kulit

proses

menjadi

pengeringan
kering,

keras

dan
dan

menempel pada tulang kerangka. Mayat menjadi lebih tahan dari


pembusukan sehingga masih jelas menunjukkan ciri-ciri seseorang.
Fenomena ini terjadi pada daerah yang panas dan lembab, di mana mayat
dikuburkan tidak begitu dalam dan angin yang panas selalu bertiup
sehingga

mempercepat

penguapan

cairan

tubuh.

Lama

terjadinya

mummifikasi adalah antara 4 bulan sampai beberapa tahun. Kepentingan


medikolegal

dari

mummifikasi

adalah

dapat

menunjukkan

tempat

kematian (kering, panas atau tempat basah).


Traumatologi forensik[2]
Memar adalah suatu pendarah dalam jaringan bawah kutis/kulit akibat
pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda
tumpul. Luka memar kadangkala memberi petunjuk tentang

bentuk

benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang sebenarnya adalah suatu


pendarahan tepi (marginal hemorrhage).
Luka, bentuk, dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti besarnya kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi),
kondisi dan jenis jaringan (jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia,
jenis kelamin, corak, dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah,
penyakit (hipertensi, penyakit kardiovaskuler, diatesis hemoragik).
Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang
longgar dan masih tipisnya jaringan lemak subkutan, demikian pula pada
usia lanjut sehubungan dengan menipisnya jaringan lemak subkutan dan
pembuluh darah yang kurang terlindung.
Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari benturan,
misalnya kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom

palpebra atau kekerasan benda tumpul pada paha dengan patah tulang
paha menimbulkan hematom ada sisi luar tungkai bawah.
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan
warnanya. Pada saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah
menjadi warna ungu atau hitam, setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna
hijau yang kemudian berubah menjadi warna kuning dalam 7 sampai 10
hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna
tersebut berlangsung mulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi
tergantung derajat dan berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Dari

sudut

pandang

medikolegal,

intepretasi

luka

memar

dapat

merupakan hal yang penting, apalagi bila lika memar tersebut disertai
luka lecet atau laserasi. Dengan perjalanan waktu, baik pada orang hidup
maupun mati, luka memar akan memberi gambaran yang makin jelas.
Hematom ante-mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian
biasanya akan menunjukkan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam
jaringan sehingga dapat dibedakan dari lebam mayat dengna cara
melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat (hipostasis pascamati)
darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat sehingga
bila dialiri air, penampang sayatan tetap berwarna merah kehitaman.
Tetapi harus diingat bahwa pada pembusukan juga terjadi ekstravasasi
darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan ini.
Luka lecet tekan disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit.
Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan
belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut,
tetapi

masih

memungkinkan

identifikasi

benda

penyebab

yang

mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas


gigitan, dan sebagainya. Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada
mayat adalah daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari
sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang tertekan serta
terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati.

Visum et Repertum[4]
Menurut bahasanya berasal dari kata latin yaitu visum (sesuatu
yang dilihat), et (dan), dan repertum (melaporkan). Visum et repertum
adalah keterangan tetulis yang dibuat oleh dokter (Pasal 133 KUHAP ayat
1), berisi temuan dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil
pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dari tubuh manusia,
baik yang hidup maupun mati, atas pemintaan tertulis (resmi; Pasal 133
KUHAP ayat 2) dari penyidik yang berwenang (Pasal 133 KUHAP ayat 1)
yang

dibuat

atas

sumpat

atau

dikuatkan

dengan

sumpah

untuk

kepentingan peradilan. Visum et repertum adalah alat bukti surat dimana


merupakan satu dari lima alat bukti yang sah (Pasal 184 KUHAP) selain
keterangan saksi, keterangan ahli, petunjuk, dan keterangan terdakwa.
Visum et repertum dibtuhkan pada kasus :
Luka (Pasal 133 KUHAP ayat 1)
Keracunan
Mati
Maka penyidik akan mencantumkan dalam surat permintaan
visumnya, visum apa yang diinginkan (Pasal 133 KUHAP ayat 2), sesuai
dengan kebutuhan atas keterangan yang mereka perlukan.
Pada kasus korban luka, jenis kasus yang umumnya dimintakan
visum et repertum oleh penyidik adalah kasus-kasus :

Kecelakaan lalu lintas


Kecelakaan kerja
Penganiayaan
Percobaan pembunuhan
Kekerasan terhadap perempuan
Kekerasan terhadap anak
Dugaan malpraktik
Visum et repertum terdiri dari lima bagian yaitu :

1. Projustisia
2. Pendahuluan

Bagian ini tidak diberi judul Pendahuluan. Merupakan uraian tentang


identitas dokter pemeriksa, instansi pemeriksa, tempat dan waktu
pemeriksaan, instansi peminta visum, nomor dan tanggal surat
permintaan, serta identitas korban yang diperiksa sesuai dengan
permintaan visum et repertum tersebut.
Di bagian ini dicantumkan ada/tidaknya label identifikasi dari pihak
penyidik, bentuk, dan bahan label serta isi label identifikasi yang
dilekatkan pada benda bukti, biasanya pada ibu jari kaki kanan
mayat.
3. Pemberitaan
Diberi judul Hasil Pemeriksaan. Memuat semua hasil pemeriksaan
terhadap barang bukti yang dituliskan secara sistematik, jelas, dan
dapat dimengerti oleh orang yang tidak berlatar belakang kedokteran.
Pada pemeriksaan jenazah, bagian ini terbagi tiga bagian, yaitu :
a. Pemeriksaan luar
b. Pemeriksaan dalam (bedah jenazah)
c. Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pendukung lainnya
4. Kesimpulan
Diberi judul Kesimpulan. Berisi kesimpulan pemeriksa atas hasil
pemeriksaan dengan berdasarkan keilmuan/keahliannya. Pada korban
hidup berisi setidaknya jenis perlukaan atau cidera, penyebab, serta
derajat luka.
Apabila memungkinkan, tuliskan juga saat kematian dan petunjuk
tentang kekerasan ataupun pelakunya.
5. Penutup
Tanpa judul. Merupakan uraian kalimat penutup yang menyatakan
bahwa visum et repertum dibuat dengan sebenarnya, berdasarkan
kelimuan mengingat sumpah dan sesuai dengan KUHAP.

HASIL VISUM ET REPERTUM KASUS 2


RS UKRIDA
Jalan Arjuna Utara Nomor 6 Kebon Jeruk Jakarta Barat 11510
Telp. 021-566 9999
Jakarta, 5 Desember 2013
PRO JUSTISIA

VISUM ET REPERTUM
No. 11/TU.RSUKRIDA/XII/2013
Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Petric Libut, SpF, dokter pada
Rumah Sakit UKRIDA, atas permintaan dari Kepolisian Sektor Kebon
Jeruk

dengan

suratnya

nomor

12/VER/XII/2013/Sek.KebJeruk,

tertanggal 1 Desember 2013, maka dengan ini menerangkan bahwa


pada tangal satu Desember tahun duaribu tigabelas, pukul.
dua puluh satu.
Lanjutan VER No. 11/TU.RSUKRIDA/XII/2013
Halaman ke-2 dari 4 halaman
dua puluh satu lewat sepuluh menit Waktu Indonesia bagian Barat,
bertempat di RS UKRIDA, telah melakukan pemeriksaan kobran
dengan nomor registrasi 00990015 yang menurut surat tersebut
adalah------------------------------------------------------------------Nama

Tono------------------------------------------------------------------------------------Umur

minggu------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin

laki-

laki--------------------------------------------------------------------------------Warga Negara

Indonesia-----------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

------------------------------------------------------------------------------------------Alamat

Jalan

Guji

Baru

No.

99

Jakarta

Barat------------------------------------------Mayat telah diidentifikasikan dengan sehelai label berwarna merah


muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki
kanan.-----------------------------------------------

HASIL

PEMERIKSAAN

-----------------------------------------------------------------------------------I.

Pemeriksaan
Luar-----------------------------------------------------------------------------------1. Mayat
terbungkus
handuk
berwarna
merah
muda.-----------------------------------2. Mayat
berpakaian

sebagai

berikut :-------------------------------------------------------a. Kaos


lengan
pendek
berwarna
putih

tidak

bermerek..--------------------------b. Celana
pendek
berwarna

tidak

putih

bermerek.----------------------------------3. Kaku mayat terdapat pada seluruh tubuh, sukar dilawan.


Lebam mayat terdapat pada bagian punggung, bokong, paha
kanan dan kiri, tungkai bawah sisi belakang kanan dan kiri,
tumit kanan dan kiri, berwarna merah kebiruan, tidak hilang
pada
penekanan.---------------------------------------------------------------4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia. Umur kurang
lebih dua minggu, kulit berwarna kuning langsat, gizi kurang,
panjang badan empatpuluh delapan sentimeter dan berat
badan

dua

koma

delapan

kilogram

dan

zakar

tidak

disunat.----------------------------------------------------------------------5.Rambut kepala berwarna.


Lanjutan VER No. 11/TU.RSUKRIDA/XII/2013
Halaman ke-3 dari 4 halaman
5. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh jarang lurus, panjang
lima sentimeter, alis berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang
dua millimeter.------6. Kedua mata tertutup. Selaput bening mata jernih, kedua
teleng mata bundar dengan garis tengah empat millimeter.
Tirai mata berwarna coklat tua. Selaput bola mata dan selaput
kelopak mata kanan dan kiri berwarna putih, tidak tampak

perdarahan

maupun

pelebaran

pembuluh

darah.-------------------7. Hidung berbentuk biasa. Kedua daun telinga berbentuk


biasa.--------------------8. Mulut terbuka lima milimeter. Kedua bibir tampak tebal. Gigi
geligi

belum

tumbuh.----------------------------------------------------------------------------------------9. Dari lubang hidung, telinga, mulut, dan lubang tubuh lainnya
tidak

keluar

apa-

apa.----------------------------------------------------------------------------------------10.
Alat

kelamin

berbentuk

biasa,

tidak

menunjukan

kelainan. Lubang dubur berbentuk biasa, tidak menunjukan


kelainan.------------------------------------------11.
Pada
tubuh
ditemukan
luka-luka

sebagai

berikut :------------------------------------a. Pada leher sisi depan, tepat pada garis pertengahan depan,
tiga sentimeter di atas puncak bahu, terdapat luka memar
berwarna

merah

kebiruan

berukuran

lima

kali

lima

sentimeter.------------------------------------KESIMPULAN :-------------------------------------------------------------------------------------------Pada korban laki-laki berusia dua minggu ini ditemukan dan luka
memar

pada

leher

sisi

depan

akibat

kekerasan

tumpul.------------------------------------------------------------------Luka pada leher sisi depan menunjukkan cirri-ciri yang sesuai dengan
penjeratan.------Sebab mati bayi ini adalah kekerasan tumpul pada leher sisi depan
sehingga menyebabkan susah napas. Sebab mati korban bisa
dipastikan

jika

dilakukan

pemeriksaan

dalam

jenazah.---------------------------------------------------------------------------Korban diperkirakan sudah mati kurang lebih sepuluh jam sebelum


dilakukan

pemeriksaan

jenazah.------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah visum et.


Lanjutan VER No. 11/TU.RSUKRIDA/XII/2013
Halaman ke-4 dari 4 halaman
Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya
dengan menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat
sumpah

sesuai

dengan

Kitab

Undang-undang

Hukum

Acara

Pidana.----------------------------------------------------------------------------

Daftar Pustaka
1. Bagian

Kedokteran

Forensik

Universitas

Indonesia.

Peraturan

perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI;


1994.h.1-25
2. Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia. Ilmu kedokteran
forensik. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI; 1997.h42-4.
3. Bagian Kedokteran Forensik Universitas Indonesia. Teknik autopsy
forensic. Edisi ke-4. Jakarta: FKUI; 2000.h.
4. Safitry O. Mudah membuat visum et repertum kasus luka. Jakarta:
FKUI; 2013.h.1-15