Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Besi Cor [2]


Besi cor adalah jenis besi dengan kadar karbon minimum 2%. Pembuatan besi cor biasanya
dengan besi kasar dicampur dengan rongsokan yang diberi zat pembunuh CaCO 3 + SiO2, hingga
dicapai komposisi yang diinginkan pada waktu pendinginan besi cor.
1. Bila kadar C 4,5% akan didapatkan kristal campur dan leduburit.
2. Bila kadar C 4,3% akan didapatkan leduburit dan simentit.
3. Bila besi cor ini bebas dari pengaruh zat pengotor lainnya dan waktu pendinginan
dilakukan secara perlahan-lahan, maka karbon yang terikat sebagai simentit sebagian
berubah menjadi grafit. Ini adalah sistem pendinginan karbon yang sangat stabil.
2.2 Macam-Macam Besir Cor [2]
Besi cor dapat dibagi menjadi besi cor berpaduan dan besi cor tidak berpaduan. Yang
berpaduan bisa mengandung Cr, Ni, dan sebagainya. Yang tidak berpaduan masih tetap
mengandung Karbon, Silisium, Mangan, Phosphor, dan Belerang.
Yang tidak termasuk besi cor paduan dapat dikelompokan:
1. Besi cor kelabu, warna patahannya kelabu dan Karbon bebas terutama terdapat sebagai
grafit lamelar, mudah dikerjakan dengan menggunakan alat potong,
2. Besi cor putih, warna patahannya putih dan Karbon terdapat dalam keadaan terikat
sebagai simentit. Jenis ini sangat keras sehingga sangat sukar untuk dikerjakan,
3. Besi cor dikeras, dimana bagian luar terdiri dari besi cor putih sebagai inti dari besi cor
kelabu, dibuat pada cetakan logam sehingga pada bagian luar terjadi pendinginan yang
mengejut.
2.2.1 Struktru Besi Cor [7]
Bentuk-bentuk penyebaran grafit serpih pada besi cor menurut klasifikasi American Castings
Association.
Grafit tipe A adalah Struktur yang paling disenangi karena besi cor ini menunjukan grafit
lamelar yang mempunyai panjang medium terdistribusi sembarang.

Gambar 2.1 Penyebaran grafit tipe A.


Grafit tipe B biasanya terdapat di sekitar permukaan coran dimana laju pendinginan agak
cepat, di sini pusat dari sel eutektik menyebabkan butir grafit yang halus karena pendinginan

super dan di sekelilingnya dengan serpih grafit. Struktur ini dinamakan struktur grafit bunga
rose.

Gambar 2.2 Penyebaran grafit tipe B


Grafit tipe C menunjukan grafit primer mengkristal secara kasar dalam hal hipereutektik akan
memberikan sifat-sifat mekanis yang secara rendah.

Gambar 2.3 Penyebaran grafit tipe C


Grafit tipe D disebabkan karena pendinginan lanjut yang sangat pada waktu pembekuan
semua grafit menjadi halus. Ini dinamakan grafit eutektik atau grafit panas lanjut, sehingga besi
cor mempunyai kekuatan yang tinggi tetapi kurang ulet.

Gambar 2.4 Penyebaran grafit tipe D

Grafit tipe E biasanya timbul kalau kadar Karbon kurang, grafit terdistribusikan di antara
austenit primer yang tumbuh besar-besar.
Keuletan sangat rendah sepeti halnya grafit tipe B. Distribusi grafit semacam itu terutama
dipengaruhi oleh adanya komponen lain selain dari pada grafit tipe C serta oleh laju pendinginan
pada waktu pembekuan. Selanjutnya struktur matriks yaitu ferit dan perlit pada perbandingan
yang berbeda-beda tergantung pada laju pendinginan pada waktu mulai temperatur transformasi
eutektoid dan juga tergantung pada kandungan unsur lainnya, yang juga memberikan pengaruh
kepada berbagai sifat besi cor.

Gambar 2.5 Penyebaran grafit tipe E


2.2.2

Pembagian Jenis Besi Cor Dilihat Dari Segi Struktur Mikronya [2]

1. Besi cor feritik


Jenis ini adalah lunak dan mengandung granit yang berbentuk lamel-lamel. Sangat mudah
dikerjakan, hanya akibat grafit berbentuk lamel maka kekuatan tariknya rendah.
2. Besi cor austenitik
Dengan pembubuhan mangan (8 10%) pada cairan besi cor maka akan didapatkan yang
austenitik yang lebih tahan karat, juga dapat menahan terbentuknya grafit.
3. Besi cor martensit
Jenis ini dapat terjadi mengandung sekitar 7% Ni, sifatnya keras dan tahan aus, bila kadar
Ni rendah maka masih dapat dikeraskan dengan penyepuhan dan temper supaya tidak
getas.
4. Besi cor perlitik

Jenis ini mengandung 3% Si dan kadar karbonya rendah, tetapi karena mengandung Ni,
maka akan didapat besi cor yang halus/baik dengan kekuatan antara 40-50 kg/mm 2 dan
diberi nama besi cor mulia.
5. Besi cor noduler
Jenis ini diberi nama nodulit, karena dibubuhi magnesium. Dengan macam-macam
pengolahan panas akan ditentukan struktur yang berlainan seperti:
a. Yang feritik didapat melalui pemijaran, kemudian didinginkan perlahan-lahan, maka
akan mempunyai kuat tarik 45 - 55 kg/mm2 dengan perpanjangan 15 - 18%,
b. Yang perlitik yang didapat melalui pemijaran, kemudian didinginkan dengan
pengejutan. Kuat tariknya 70-80 kg/mm2 dengan perpanjangan antara 5 - 8%.
6. Besi cor mehanit
Grafitnya dibuat merata (tidak berbentuk lamel-lamel) melalui pengolahan khusus,
sehingga kuat tariknya lebih baik dari yang berbentuk lamel (30 40 kg/mm 2), malah
melalui pengerasan dan penemperan dapat dicapai kuat tarik sampai 62 kg/mm2.
2.3 Pengaruh Unsur Paduan Pada Logam [2]
Logam ferro penggunaannya sangat luas dan banyak. Hal ini memang dapat dibayangkan,
karena hampir semua komponen mesin, konstruksi bangunan, jembatan, alat angkat dan angkut
tersebut dari logam ferro.
Sedangkan yang dimaksud dengan paduan adalah larutan padat yang homogen antara logam
dengan elemen-elemen yang dibutuhkan.
2.3.1

Karbon (C)

Karbon merupakan paduan yang paling banyak dalam logam ferro, karena pengaruhnya juga
besar, bagi tiap logam ferro tanpa paduan. Disamping mengandung Karbon selalu mengandung
Si, Mn, P, dan S.
Bila kadar Karbon naik maka sifat mekanik dan kekerasannya akan naik, tapi elastisitasnya,
mampu tempa, mampu las, mampu potongnya akan menurun.

2.3.2

Silikon (Si)

Silikon akan selalu ada dalam logam ferro, karena dari bijinya. Yang dimaksud logam ferro
Silikon harus mengandung Silikon minimal = 0,4 % Si akan menaikan kekuatan mekanik,
menahan pengelupasan terutama pada besi cor. Sedikit berpengaruh pada elastisitas logam tetapi
akan menaikan kuat tarik dan batas mulur dan membuat besar butir menjadi kasar. Bila kadar Si
14% maka logam ferro akan menjadi tahan terhadap korosi dan bahan kimia.

2.3.3

Mangan (Mn)

Mangan akan memperbaiki kekuatan dan kekerasan dari logam ferro dan hanya sedikit
pengaruh pada elastisitas. Mempengaruhi pada sifat mampu tempa dan las. Dengan Karbon akan
menaikan kekerasan dan tahan gesek. Tetapi kenaikan Mn 1% akan menaikan kekuatan tarik : 10
kg/mm2. Tapi bila diatas 8% maka kekuatan itu akan turun kembali, hal ini terjadi juga pada
batas mulur. Mangan akan menaikan kekerasan sampai ke dalam intinya.
2.3.4

Pospor (P)

Pospor memberikan sifat buruk pada logam. Dan merupakan pengotor pada logam. Oleh
karena itu bagi logam yang bermutu tinggi maksimal diperbolehkan = 0,03% samapi 0,05%.
2.3.5

Sulfur (S)

Sulfur memberikan sifat buruk waktu kena panas tinggi dan akan membuat logam ferro
menjadi getas, sehingga diberi Belerang sampai 0,3% dan menjadi mudah dibubut dan
memberikan geram yang pendek-pendek. Logam ferro mutu tinggi boleh mengandung Sulfur (S)
maksimal 0,025%.
2.3.6

Krom (Cr)

Menaikan kekerasan dan kekuatan sedikit mempengaruhi pada elastisitas. Akan memperbaiki
ketahanan terhadap panas dan pengelupasan. Akan memperbaiki ketahanan korosi dan dengan
Karbon membentuk karbida yang tahan terhadap gesek tetapi dengan pengelasan akan berubah
sifat karena terbentuknya karbida yang berkaitan tahan korosinya turun dan dapat retak. Tiap

penambahan 1% Krom maka kuat tarik logam akan naik, antara 8 10 kg/mm 2. walaupun batas
mulurnya ada kenaikan tapi kuat pukul tariknya akan turun, karena menurunnya sifat ulet.
2.3.7

Molibden (Mo)

Molibden titik lelehnya = 2610 oC, akan memperbaiki pada kekuatan tarik dari logam ferro
dan menaikan ketahanan terhadap panas. Molibden akan mempengaruhi sifat mampu las. Logam
ferro dengan kadar Molibden tinggi ada kecenderungan untuk lebih sukar ditempa. Biasanya
Molibden disatukan dengan Krom. Sering juga Molibden digunakan untuk mengganti Wolfram.
Logam ferro paduan yang mengandung Molibden, Krom dan Nikel akan mengakibatkan
batas mulur dan kuat tarik. Dalam logam ferro tahan karat austenetik Molibden sangat kuat untuk
membentuk karbida. Molibden (Mo) merupakan unsur yang banyak digunakan untuk logam
ferro potong cepat dan logam ferro perkakas olah bentuk panas, logam ferro untuk dikeras
permukaan, logam ferro dimuliakan, dan logam ferro tahan temperatur tinggi. Dengan adanya
Molibden (Mo) akan menurunkan sifat getas.
2.3.8

Nikel (Ni)

Nikel akan menaikan kekuatan logam ferro tetapi lebih rendah dari Mangan (Mn) dan hanya
sedikit menurun elastisitas. Bila bersama kobalt (Co) akan memperbaiki sifat mampu keras yang
baik, karena Kobalt (Co) tidak membentuk karbida dan akan menghalangi pada pertumbuhan
butir pada temperatur tinggi .
Logam ferro Co-Ni yang tinggi adalah tahan karat dan tahan temperatur tinggi, serta tahan
mengelupas. Pada logam ferro konstruksi akan memperbaiki ketahanan pukul takik pada dan
lebih tahan temperatur rendah. Bersama Co-Ni akan memperluas daerah austenit dan tahan lelah.
2.3.9

Cuprum atau Tembaga (Cu)


Tembaga akan menaikan kuat tarik pada batas mulur, tapi akan menurunkan

elastisitasnya. Walaupun kadar cuprum sangat sedikit, tapi diudara logam fero sudah tahan karat
dan tembaga tidak merugikan kepada mampu las