Anda di halaman 1dari 11

Franklin Delano Roosevelt

Franklin Delano Roosevelt lahir di Hyde Park, New York pada tanggal 30 Januari 1882.
Franklin Delano Roosevelt adalah Presiden Amerika Serikat ke-32 dan merupakan satu-satunya
Presiden Amerika yang terpilih empat kali secara berturut turut dalam masa jabatan dari
tahun 1933 sampai 1945.
Franklin adalah anak tunggal dari James Roosevelt dan Sara Ann Delano Roosevelt. Keluarga itu
tinggal di Springwood, di lembah Sungai Hudson, Negara bagian New York . Franklin Roosevelt
mendapat hak istimewa dan dorongan rasa percaya diriyang berasal dari keluarga
besarnya.Dalam hal ini, Franklin kecil mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang lebih dari
keluarganya sehingga membentuk karakter yang peduli terhadap sesama. Karakter itu terbukti
setelah ia dewasa ketika ia menjabat sebagai gubernur di New York maupun presiden Amerika
Serikat, dengan menunjukkan rasa kepedulian dan kasih sayangnya terhadap rakyat banyak.
Semasa kecil, Ia dididik olehpembimbing yang profesionalsampai usia 14 tahun,dengan ibunya
menjadi sosok dominan dalam hidupnyahingga dewasa.
Pada tahun 1896, Franklin Roosevelt masuk Sekolah Groton di Massachusetts. Saat-saat tersebut
merupakan pengalaman mengenyam bangku sekolah yang sulit baginya, karena bagaimanapun ia
tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dengan siswa lainnya dalam hal prestasi non
akademik. Siswa Groton kebanyakan unggul dalam bidang atletik,sedangkan Roosevelt memiliki
kekuatan fisik yang kurang memadai apabila dibandingkan dengan yang lainnya. Setelah lulus
dari Groton pada tahun 1900, Franklin Roosevelt masuk ke Harvard University. Meskipun hanya
sebagai seorang mahasiswa tingkat C, ia adalah anggota dari persaudaraan Alpha Phi Delta,
yaitu editor koran Crimson Harvard dan bisa lulus dalam tiga tahun dengan nilai yang bagus.
Sebelum lulus dari Harvard, Ia bertunangan dengan Eleanor Roosevelt. Ia adalah keponakan dari
mantan Presiden Amerika Serikat, yaitu Theodore Roosevelt. Mereka menikah pada tanggal 17
Maret 1905 dan dikaruniai tiga orang anak.

Untuk menambah wawasan tentang perhukuman, Franklin mulai menekuni studi hukum di
Fakultas Hukum Universitas Columbia dan ia pun lulus ujian pengacara pada tahun 1907. Akan
tetapi selama proses belajar di almamaternya tersebut, iahanya menemui praktek hukumyang
membosankan dan membatasi kebebasan saja. Oleh karena itu, ia mulai meninggalkan bidang
hukum dan memantapkan pandangannya untuk menekuni dunia politik.
Pada tahun 1910 saat usianya 28 tahun, Roosevelt diundang untuk mencalonkan diri sebagai
senat negara bagian New York. Ia melanggar tradisi keluarga karena bergabung dengan Partai
Demokrat di sebuah distrik, sedangkan keluarganya adalah simpatisan Partai Republik. Ia
berkampanye keras dan memenangkan pemilu dengan bantuan nama besar keluarga dan Partai
Demokrat. Sebagai seorang senator negara, Roosevelt menentang unsur-unsur dari mesin politik
Demokrat di New York. Ia kerap kali mengkritisi kebijakan politik partai yang tidak
mengutamakan kepentingan rakyat. Dengan ini, iamenjadi tenar dan merupakan pengalaman
berharga dalam taktik politik dan intrik. Ia membentuk aliansi dengan Louis Howeyang
kemudian akan membentuk karir politiknya selama 25 tahun ke depan. Roosevelt terpilih
kembali pada tahun 1912 dan menjabat sebagai ketua komite pertanian dan peternakan.
Dalam Konvensi Nasional tahun 1912, Roosevelt didukung oleh calon presiden Woodrow
Wilson dan dijanjikan untuk menjadi Asisten Sekretaris Angkatan Laut. Akan tetapi, pekerjaan
ini tidak lama dijalankanya karena pada tahun 1914Franklin Rooseveltmemutuskan untuk
menduduki kursi Senat AS mewakili New York. Sehingga Wilson tidak bisa lagi mendukung
Franklin Roosevelt yang telah membuat musuh-musuh politik Demokrat semakin banyak. Hal
tersebut terjadi karena ditengah-tengah pemerintah federal mencanangkan program kerjanya
yang telah disetujui oleh Kongres, namun FDR tetap bersikukuh untuk mempraktekkan gagasangagasan barunya untuk mengambil kebijakan mengurusi rakyatnya di New York. Kebijakan itu
terlihat seolah-olah menentang keputusan pusat, namun dari apa yang dilakukan Roosevelt
tersebut setidak-tidaknya memberikan dampak yang positif bagi rakyat New York. Roosevelt
mendapat pelajaran yang berharga dari hal tersebut bahwa kebijakan nasional tidak bisa
mengalahkan sebuah organisasi yang terorganisasi dengan baik di lokal.
Dalam bidang politik, Franklin Roosevelt menemukan kesuksesan pribadi maupun profesional.
Pada tahun 1914, Ia menjalin hubungan cinta dengan Lucy Mercer, sekretaris sosial Eleanor

Roosevelt. Pada tahun 1918, Eleanor mengetahui perselingkuhanya dan mengancam Franklin
untuk berhenti menjalin hubungan dengan Lucy atau akan digugat cerai. Setelah kejadian itu,
Roosvelt merasa khilaf dan fokus kembali pada dunia politik.
Karir politik Franklin Roosevelt terus berkembang. Pada tahun 1920, Franklin menerima
nominasi untuk menjadi wakil presiden mendampingi James M. Cox. Akan tetapi, pasangan ini
dikalahkan oleh calon dari Partai Republik yaitu Warren G. Harding dalam pemilihan umum.
( Nico Erman & John Feda. 2008 : 75 ). Pada tahun 1921, Ia diracuni oleh Rony Dappit dan
terserang penyakit polio yang mengakibatkan kakinya lumpuh. Selama menderita penyakit folio,
Ia menumbuhkan sifat sabar dan kemampuan menguasai diri sendiri. Ia juga memperluas
pemahamanya mengenai masalah masalah sosial. Akhirnya, keluarga dan teman dekat FDR
membawanya ke rumah sakit New York untuk menjalani terapi. FDR bertekad untuk tidak akan
kalah oleh penyakit tersebut. Akhirnya pada tahun 1924, FDR dinyatakan sembuh dan kembali
berkancah di dunia politik. Akibat penyakit ini, FDR harus membatalkan niatnya untuk naik
sebagai kandidat Gubernur. Akan tetapi dengan dukungan Eleanor Roosevelt, FDR kembali
bangkit sebagaimana cita citanya untuk membangun perubahan di Amerika Serikat.
Keterpurukan ekonomi yang hebat sempat memukul Amerika selama beberapa tahun, dan ini
bermula pada peristiwa Kamis Kelabu yang berawal dari merosotnya saham-saham Wall Streat
di bursa New York. Sejak saat itu, Amerika terseret dalam suatu malaise yang kemudian
merembet ke seluruh dunia. Ekonomi Amerika mengalami inflasi sampai 600 % dan terjadi krisis
persediaan bahan makanan. Angka pengangguran meningkat dari 1,5 juta pada akhir 1929,
menjadi 13 juta pada Maret 1933. Ini yang kemudian disebut sebagai sebuah depresi besar bagi
rakyat Amerika Serikat pada waktu itu.
Kejahatan merajalela di seluruh Amerika Serikat, sedangkan polisi kesulitan memberantasnya.
Herbert Hoover, sang presiden berkuasa, dijadikan kambing hitam atas kekacauan tersebut,
sehingga kaum buruh selalu mengejek di setiap pidato-pidatonya. Kalangan industrialis
melemparkan kritik yang amat pedas kepada Hoover atas ketidakmampuannya memimpin
Amerika. Berkali kali Hoover berpidato tentang keadaan Amerika. Semua yang diucapkannya
memang benar dan logis, tetapi tidak pernah apa yang dikatakannya itu mengandung sebuah
solusi untuk membawa Amerika keluar dari krisis.

Sungguh ironis, ketika seorang presiden yang memiliki bakat intelektual dan administrasi yang
mumpuni, harus terkekang oleh dasar falsafah politik yang dianutnya. Dasar falsafah politik ini
seharusnya menjadi sebuah pedoman, bukan sebagai penghalang dalam menentukan kebijakankebijakan politik. Dengan lebih menyerupai seorang penganut liberal tradisional lama daripada
seorang reaksioner, dan jiwa yang terpaku oleh dogma Jefferson yang membatasi kekuasaan
pemerintah federal, Hoover apabila dipandang dari segi psikologi maupun falsafah, tidak
mungkin bisa menggunakan kekuasaan dan sumber-sumber jabatannya untuk menghalau
ancaman pengangguran yang meluas hingga seluruh pelosok negeri.
Berlainan halnya dengan FDR, Ia mengerti yang dikehendaki oleh rakyat dan hal ini terbukti dari
piadato pidato kampanye pemilihan untuk jadi presiden Amerika yang diadakan pada 1933.
Tema tema kampanye yang disampaikannya sesuai dengan keadaan masa itu. Ia berbicara
dengan semua lapisan masyarakat dan berkeliling ke penjuru Amerika dengan program-program
kampanye yang memikat hati rakyat. FDR bicara mengenai masalah penyediaan sarana sarana
umum, perluasan kesempatan kerja, perlindungan kelestarian alam, pemulihan hak-hak suku
Indian, upah minimum buruh, pensiun hari tua, regulasi pasar modal dan sebagainya.

Amerika Serikat pada Masa Pemerintahan FDR

Pada Pemilu Presiden tahun 1933, Franklin Delano Roosevelt (FDR) meraih 22.821.857 juta
suara sementara Herbert Hoover memperoleh 15.761.841 juta pemilih. Di tingkat electoral
college, FDR memenangkan 472 suara dibanding Hoover yang hanya memperoleh 59 suara.
Setelah Ia memangku jabatan presiden, diambil beberapa tindakan tegas dan cepat untuk
mengatur keadaan yang serbau kacau itu. FDR meminta beberapa kekusaan penuh untuk
bertindak menanggulangi keadaan darurat.
Kata Roosevelt, Pemerintahan negara menyusun suatu program politik dan mempergunakan
segala alat yang sah untuk mencapai hasil yang sebesar-besarnya selama masih sesuai dengan
kehendak umum. Tugas pemimpin negara ialah: membujuk, memimpin, berkorban serta selalu
mengajari rakyat. Tugasnya yang terpenting ialah mendidik. FDR juga mengangkat moril dan
membangkitkan semangat rakyat Amerika untuk keluar dari depresi besar itu lewat pidatonya
yang menyejukkan hati. Ditegaskan dalam pidato pelantikannya pada 4 Maret 1933, Satusatunya yang harus kita takuti adalah rasa takut itu sendiri

Franklin Delano Roosevelt memegang jabatan Presiden untuk pertama kalinya pada tahun 1933.
Saat itu Amerika mengalami puncak masa depresi kerena lebih dari 13 juta rakyat Amerika tidak
mempunyai pekerjaan, dan susunan perbankan tidak jelas. Ia memberikan harapan kepada rakyat
Amerika dan berjanji akan mengambil tindakan tegas dan cepat. Dalam seratus hari pertama ia
mengusulkan rencana untuk:

Menghidupkan kembali kegiatan perusahaan dan pertanian.

Memberi bantuan kepada para penganggur dan kepada mereka yang terancam akan
kehilangan ladang dan tempat tinggalnya.

Rencana Seratus Hari Pertama-nya ini disetujui oleh Kongres.Setelah masa seratus hari
pertama memegang jabatan, Roosevelt telah menunjukkan diri sebagai pemimpin negara yang
cakap. Ia memperoleh dukungan rakyat dalam melancarkan sebuah program percobaan yang
bertujuan mencapai apa yang disebut sebagi sistem yang bersifat lebih sosial dan lebih
demokratis.
Depresi Besar Amerika Serikat dan Munculnya New Deal
Masa kampanye 1932 menjadi masa yang buruk bagi Presiden Hoover pada saat itu. Dari
pidato-pidato yang disampaikannya selalu saja mendapatkan cemoohan dari rakyat. Rakyat
terlanjur kecewa dengan kebijakan Hoover yang terlihat menyudutkan nasib rakyat bawah
terutama kaum buruh dan petani. Pengangguran yang melanda seluruh negeri dan fenomena
kelaparan yang semakin meluas menjadi bukti bahwa tingkat depresi semakin menekan rakyat,
dan mereka terkatung-katung dalam kemerosotan moral dan asa.
Munculnya Franklin Delano Roosevelt dalam kampanye mendapatkan sambutan hangat dari
rakyat karena Roosevelt membawa janji berupa obat kuat yang diharapkan mampu
membangkitkan gairah masyarakat setelah sekian lama terpuruk dalam kelesuan ekonomi. Obat
tersebut berupa gagasan yang mengacu pada upaya untuk mengentaskan masyarakat dari
belenggu pengangguran, orang biasa menyebutnya New Deal. Selain daripada itu, Roosevelt
berkeinginan meningkatkan daya beli rakyat dengan cara menyalurkan bantuan yang berasal dari
China. Hal tersebut tidak luput dari beberapa sorotan massa. Diantaranya adalah beberapa

kritikan, terutama yang datang dari Al Smith, saingannya di Partai Demokrat, yang menuduh
Roosevelt sebagai demagog pengadu domba antara golongan kapitalis dan sosialis. Namun
begitu Roosevelt tetap kukuh pendiriannya untuk mempertahankan konsep yang ia rencanakan.
Hingga pada waktunya Hoover lengser dari tahta pemerintahan Amerika Serikat dan digantikan
posisinya oleh Roosevelt yang memenangi jumlah suara dalam pemilu 1933.
Roosevelt dalam menjabat sebagai presiden tetap memegang teguh prinsip anggaran belanja
seimbang yang dipraktekkannya sejak menjabat sebagai gubernur di New York. Hal ini terlihat
dari pernyataannya sebagai berikut :
Kelihatannya saja aneh bagi suatu pemerintahan untuk mengurangi pengeluaran negara, dan
sementara itu meminjam dan menghabiskan milyaran dolar untuk mengatasi keadaan darurat.
Tetapi kebijaksanaan itu sungguh-sungguh sehat, karena sebagian besar uang darurat itu
dikeluarkan dalam bentuk piutang yang sehat; dan untuk menutup kekurangankita telah
menaikkan pajak Dengan demikian kita telah menjaga kesehatan keuangan negara. Kita telah
membangun pondasi yang kokoh didalam masa penuh keresahan ini (Allen, 1991:466)
Beberapa program dan peraturan-peraturan pun mulai dicanangkan semasa New Deal ini
diantaranya adalah program perbankan dan keuangan, Administrasi Kekaryaan Masyarakat, UU
Kesejahteraan Sosial, UU Hubungan Kerja Nasional, Tennessee Valley Authority, dan Secruity
and Exchange Commission. Pada dasarnya, kebijakan-kebijakan New Deal tersebut ditujukan
untuk memperbaiki keuangan negara, mendongkrak moral dan mental masyarakat, serta
mengoptimalkan kehidupan sosial masyarakat. Namun dari apa yang telah dilakukan Roosevelt
tersebut, masih ada saja suara-suara yang menyatakan kritikan pedas terhadapnya. Salah satunya
adalah telegram yang dilontarkan oleh seorang kritikus, yang berisi mengenai tindakan-tindakan
Roosevelt akhir-akhir ini, hanya membuat sifat manja bagi masyarakat, dan menjadikan mereka
bayi sakit yang terlantar dan tidak bisa hidup mandiri serta hanya bergantung pada belas kasihan
sang dokter saja. Sebagai seorang presiden yang bijak, lantas Roosevelt memberikan balasan
terhadap isi telegram tersebut :
Sebagai dokter muda (ko-as) pasti Anda menyadari bahwa proses transisi yang menarik dan
Anda gambarkan di dalam telegram Anda itu dipersyarati bahwa botol, sendok, maupun cangkir

tidak boleh kosong, bukan? Memberi makan dengan wadah yang kosong hanya akan
menyebabkan perut kembung dan sang bayi akan mati karena tidak mendapatkan makanan.
Maka pertanyaan berikutnya dalam ujian Anda ialah : Apabila kiranya periode tradisional telah
tiba, dari manakah si Dokter akan mendapatkan makanan untuk ditaruhkan ke dalam wadah
itu? (Allen, 1991:472)
Bahkan kritikan yang datang dari pengusaha-pengusaha sakit hati karena iri terhadap bantuan
yang diberikan pada rakyat kecil, Roosevelt pun memberikan tanggapan sebagai berikut :
Kita harus berjuang melawan musuh-musuh lama dari perdamaian-monopoli bisnis dan
keuangan, spekulasi, perbankan yang tak kenal perhitungan, pertentangan antara golongan, dan
pencari keuntungan di dalam perang. Mereka itu mulai menganggap Pemerintah Amerika
Serikat sebagai embel-embel dari bisnis mereka sendiri. Dan sekarang kita tahu bahwa
Pemerintah yang dikuasasi oleh uang yang terorganisasi adalah sama bahayanya dengan
Pemerintah yang dijalankan oleh rakyat buas yang terorganisasi. Belum pernah terjadi di
sepanjang sejarah kita kekuatan-kekuatan itu dipersatukan untuk melawan satu-satunya calon
yang sekarang ini. Mereka seia dan sekata dalam hal membenci diri saya-dan saya
mengucapkan terima kasih atas segala kebencian itu. (Allen, 1991:472)
Dari pernyataan diatas dapat diketahui bahwasannya yang dimaksud FDR dengan New Deal
ini. Pertama, perbaikan dan pembaharuan di lapangan ekonomi. Amerika tidak boleh dibiarkan
kepada inisiatif tiap-tiap negara bagian. Yang harus mengambil tindakan tegas ialah pemerintah
federal di Washington. Kedua, kepentingan petani dan buruh selama puluhan tahun yang
diabaikan akan mendapat prioritas utama . Kebijakan kebijakan FDR yang tertuang dalam
program program New Deal boleh dikatakan berhasil. Hal ini dikarenakan mendapat dukungan
penuh dari Kongres Amerika. Pada sisi lain, program itu mendapat simpati, dukungan dan
partisipasi rakyat Amerika karena kemampuan FDR dalam mensosialisasikan kepada publik.

Pemilu dan Terpilihnya Kembali FDR


Pada Pemilu tahun 1936 , revolusidamai dalam bidang ekonomi dan sosial sebagai pokok

kampanyenya, berhasil memikat hati rakyat. Oleh karena itu, Ia dipilih kembali sebagai Presiden
Amerika dengan jumlah suara yang besar.Selama jabatannya yang kedua yaitu dari 1937 sampai
1940 Presiden Roosevelt menghadapi banyak kesukaran. Ia berbeda pendapat dengan Mahkamah
Agung Amerika, perekonomian Amerika telah mengalami kemunduran.
Pada awal tahun 1940, Roosevelt tidak dipublikasikan untuk mencalonkan diri sebagai presiden
karena sudah dua periode menjadi presiden Amerika. Akan tetapi, dengan kemenangan Jerman di
Eropa dan dominasi Jepang yang terus berkembang di Asia, Ia merasa bahwa hanya dirinyayang
memiliki pengalaman dan keterampilan untuk memimpin Amerika pada saat diambang
kekalahan perang. Pada Konvensi Nasional Demokrat di Chicago, Roosevelt mampu
mengalahkan semua penantang dan menerima nominasi terkuat. Pada November 1940, Ia
memenangkan pemilihan presiden melawan calon dari Partai Republik yaitu Wendell Willkie. ( A
Paremon, Yusi : 2003 )
Politik Luar Negeri Pasca Depresi Besar
Perlahan tapi pasti, kebijakan New Deal ini mampu mendongkrak perekonomian dan kehidupan
sosial masyarakat. Sebagian besar masyarakat telah mampu berdiri kembali setelah beberapa
tahun lamanya bencana sosial ekonomi melanda mereka. Bahkan konsentrasi terhadap bidang
sosial ekonomi pun mulai berkurang dan bantuan dana pemerintah mulai beralih ke bidang seni.
Bagaimanapun seni dapat menjadi wadah pengungkapan hati rakyat maupun propagandapropaganda atas apa yang telah dialami masyarakat pada waktu sebelumnya. Dari sini mulai
nampak benih-benih kesejahteraan yang mulai bermunculan dari kalangan masyarakat.
Dengan keadaan internal yang cukup stabil waktu itu, yakni tahun 1937, Amerika Serikat mulai
memperluas pandangan terhadap urusan-urusan eksternalnya terhadap negara-negara lain
terlebih kepada sekutu-sekutunya. Inisiatif membangun perdamaian dunia dan memilih kebijakan
isolasionis menjadikan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral dan mengupayakan jaminan
perdamaian. Berikut pernyataan Roosevelt terkait keadaan tersebut :

Kita telah selesai melewati konflik dalam negeri mengenai pelaksanaan program
Kesejahteraan Sosial. Segala daya upaya kita sekarang dapat diabdikan untuk memperkokoh
proses Rehabilitasi dan untuk mempertahankan pembaharuan-pembaharuan, selain daripada
itu, kita akan memberikan pekerjaan kepada setiap warga yang menginginkannya dengan gaji
upah yang memadai untuk hidup. Akan tetapi masalah waktu adalah sangat penting. Ancaman
dari dalam maupun dari luar negeri tidak dapat kita kendalikan. Nasib mungkin berada di
tangan bangsa-bangsa lain. Nasib kita sendiri menunjukkan kepada kita bahwa kita harus
berlomba melaksanakan karya demokrasi kita agar kita dapat mencapai efisiensi sebesarbesarnya dalam waktu damai dan menjamin pertahanan nasional. (Allen, 1991:481).
Pada September 1939, perang pecah di Eropa dengan penyerbuan Jerman ke Polandia. Melalui
perundang-undangan, Presiden Roosevelt berusaha untuk menghindarkan Amerika dari
peperangan. Akan tetapi di lain pihak, Ia juga memperkuat negara-negara yang terancam atau
diserang.
Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor dan Hawaii pada tanggal 8 Desember 1941, Presiden
Roosevelt memimpin pengerahan tenaga rakyat serta sumber-sumber yang ada untuk
menjalankan perang total.Sebelum tampilnya Amerika Serikat di medan perang, FD Roosvelt
dan Churchill telah menyusun sebuah Deklarasi delapan pasal yang terkenal dengan nama
Piagam Atlantik. Program ini dapat dikatakan sebagai program perdamaian dunia yang terdiri
dari :

Tidak ada perluasan wilayah

Tidak ada perubahan wilayah tanpa persetujuan rakyat yang bersangkutan

Semua bangsa berhak menentukan bentuk negaranya sendiri

Kerjasama eksternal antar negara

Kebebasan dari perang, rasa takut dan ancaman

Dipulihkanya pemerintahan sendiri kepada yang berhak yang telah disingkirkan

Menghindari kekerasan untuk menyelesaikan masalah Internasional

Dibentuk badan yang menjaga perdamaian dunia

Dalam program itu juga dimasukkan beberapa hal yang menyangkut masalah sosial dan politik
yaitu ;

Hak rakyat untuk menentukan nasib sendiri.

Jaminan perdamaian serta bebas dari kemelaratan dan ketakutan.

Presiden Roosevelt mencantumkan empat kebebasan dalam amanat tahunannya kepada Kongres
pada Januari 1941, keempat kebebasan itu adalah:

Kebebasan untuk menyatakan pendapat.

Kebebasan untuk beragama.

Kebebasan dari kemelaratan

Kebebasan dari ketakutan.

Selama Perang Dunia II, FDR adalah seorang panglima yang bekerja dengan cerdas dan
terkadang menjadi penasihat militernya. FDR membantu mengembangkan strategi untuk
mengalahkan Jerman di Eropa melalui serangkaian invasi yaitu di Afrika Utara pada bulan
November 1942, Sisilia dan Italia pada tahun 1943, diikuti oleh invasi D-Day di Eropa pada
tahun 1944. Pada saat yang hampir sama, pasukan Sekutu berhasil mengalahkan Jepang di Asia
dan Pasifik Timur.

Pemikiran FDR Mengenai Kepemimpinan

Salah satu sebab penting mengapa usaha mengatasi berbagai persoalan di negeri ini belum
menunjukkan kemajuan berarti, sesungguhnya lantaran kita mengalami apa yang dinamakan
krisis kepemimpinan. Tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga sampai ke tingkat

lokal. Tidak hanya kepemimpinan tingkat paling tinggi, melainkan juga sampai tingkat terendah,
kata Roosevelt. Dikutip dari William E.Leuchtenbur.
Menurut FDR, Faktor kepemimpinan merupakan faktor terpenting dan menentukan agar sebuah
negeri segera keluar mengatasi kesulitan-kesulitan kompleks yang tengah dihadapi. Baik yang
menyangkut ekonomi, politik, sosial-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, pertahanan
keamanan dan sebagainya.
Prasyarat yang harus dimiliki oleh para pemimpin di Negara ini adalah pemimpin yang harus
memiliki visi dan misi untuk keluar mengatasi persoalan, berkomitmen pada visi dan misi itu,
memiliki keahlian manajerial, inspiratif, berintegritas (dapat dipercaya dan memelihara
kepercayaan publik) dan berkepribadian (asketis, jujur, terbuka dan komunikatif).
FDR selalu meninggalkan ciri khasnya kepada para penggantinya dengan cara cara yang hebat.
Tiga dari empat Presiden pertama yang menggantikannya yaitu Truman, Eisenhower dan
Johnson adalah orang orang yang kariernya didorong oleh Roosevelt. Sementara yang lain
seperti JF. Kennedy dan Jimmy Carter menjadi akrab dengan publik Amerika karena Roosevelt
mengangkat Ayahnya menduduki jabatan tinggi.
Tak ada orang sebelum Roosevelt yang begitu menguasai budaya politik di zamannya, Ia
menciptakan harapan bahwa pimpinan tertinggi akan menjadi inspirasi bagi pemimpin
selanjutnya. FDR mewariskan kepada penggantinya bukan hanya warisan Kebijakan Baru
melainkan pula kebijakan global politik luar negeri, maupun segala macam peralatan yang
muncul selama bertahun tahun ia menjadi Presiden ( William E.Leuchtenburg, 1994 : 94 )