Anda di halaman 1dari 30

KORUPSI

1. DEFINISI
Menurut asal kata, korupsi berasal dari kata berbahasa latin, corruptio. Kata
ini sendiri punya kata kerja dasar yaitu corrumpere yang artinya busuk, rusak,
menggoyahkan, memutarbalik atau menyogok.1
Pengertian korupsi dalam Kamus Peristilahaan (M.D.J.Al Barry,1996:208)
diartikan sebagai

penyelewengan atau penyalahgunaan

jabatan untuk

kepentingan diri dan merugikan negara dan rakyat.


Dalam Ensiklopedia Indonesia (Evi Hartanti, 2007:8) disebut Korupsi (dari
bahasa Latin: corruptio = penyuapan; corruptore = merusak) gejala dimana
para pejabat, badan badan negara

meyalahgunakan wewenang dengan

terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan lainnya.


Korupsi secara etimologis menurut Andi Hamzah berasal dari bahasa latin
yaitu corruptio atau corruptus yang kemudian muncul dalam banyak
bahasa Eropa seperti Inggris dan Prancis yaitu coruption, dalam bahasa
Belanda korruptie yang selanjutnya muncul pula dalam perbendaharaan
bahasa Indonesia : korupsi, yang dapat berati suka di suap.2
Korupsi juga berasal dari kata corrupteia yang berati bribery yang
berarti memberikan/menyerahkan kepada seseorang agar orang tadi berbuat
untuk keuntungan pemberi, atau juga berarti seducation yang berarti sesuatu
yang menarik untuk seseorang berbuat menyeleweng.Hal yang menarik
tersebut biasanya dihubungkan dengan kekuasaan, yang pada umumnya
berupa suap, pengelapan dan sejenisnya.3
Istilah Korupsi dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia sebagaimana yang
disimpulkan oleh Poerwadarminta adalah perbuatan yang buruk seperti
penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.4
Baharuddin Lopa mengutip pendapat dari David M.Chalmers (Evi Hartanti,
2007:9), menguraikan arti istilah korupsi dalam berbagai bidang,yakni yang
1

Krisna Harahap. Pemberantasan Korupsi Jalan tiada Ujung.. Bandung:Grafiti.2006. Hlm.1

2 Andi Hamzah, Delik-delik Tersebar Di Luar KUHP dengan Komentar, Jakarta, Pradnya Paramita,
1995:135

3Hermien Hadiati Koeswadji. Korupsi di Indonesia dari Delik Jabatan ke Tindakan Pidana Korupsi.
Bandung:Citra Aditya Bakti.1994. hlm. 32

menyangkut masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di


bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum.
Di dunia internasional pengertian korupsi berdasarkan Black Law Dictionary
(Surachmin & Suhandi Cahaya, 2011:10):
Corruption an act done with an intent to give some advantage inconsistent
with official duty and and the rights of others. The act of an official of
fiduciary person who unlawfully and wrongfully uses his station or character
to procure some benefit for himself or for another person, contrary to duty
and the right of others
Yang artinya Suatu perbuatan yang dilakukan dengan sebuah maksud
untuk mendapatkan beberapa keuntungan yang bertentangan dengan tugas
resmi dan kebenaran kebenaran lainnya. Suatu perbuatan dari sesuatu yang
resmi atau kepercayaan seseorang yang mana dengan melanggar hukum dan
penuh kesalahan memakai sejumlah keuntungan untuk dirinya sendiri atau
orang lain yang bertentangan dengan tugas dan kebenaran kebenaran
lainnya.

Menurut Transparency International, korupsi merupakan:


Korupsi sebagai perilaku pejabat publik, mau politikus atau pegawai
negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau
memperkaya

mereka

yang

dekat

dengan

dirinya,

dengan

cara

menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

Menurut Undang-Undang No. 31 tahun 1999 jo Undang-Undang no. 20 Tahun


2001 tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi:
1. Korupsi adalah perbuatan melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau
orang lain/suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian (Pasal 2)
2. Korupsi adalah penyalahgunaan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada oleh seseorang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri/orang
lain/suatu korporasi dengan menggunakan jabatan atau kedudukan yang
dapat merugikan keuangan negara/perekonomian negara. (Pasal 3).

4Andi Hamzah. Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional. Jakarta
RadjaGrafindo Persada. 2007 : 6

2. KONSEP
Menurut Para Ahli, Mengenai pengertian korupsi pada hakikatnya memiliki
dimensi yang luas, oleh karena itu perlu penjabaran secara etimologis maupun
secara yuridis dan mensinergikannya dengan pandangan para pakar mengenai
apa yang dimaksud dengan korupsi.
Mengenai istilah Korupsi itu sendiri, menurut Sudarto bermula bersifat umum
dan baru menjadi istilah hukum untuk pertama kalinya dalam Peraturan
Penguasa Militer Nomor PRT/PM/06/1957 Tentang Pemberantasan Korupsi. 5
Dalam konsideran tersebut dikatakan bahwa berhubung tidak adanya
kelancaran dalam usaha-usaha memberantas perbuatan-perbuatan yang
merugikan keuangan dan perekonomian negara yang oleh khalayak ramai
dinamakan korupsi, perlu segera menetapkan suatu tata kerja untuk dapat
menerobos kemacetan dalam usaha-usaha memberantas korupsi.
Dari konsiderans tersebut terdapat dua unsur mengenai korupsi yaitu:
1. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa saja baik untuk kepentingan
diri sendiri, orang lain maupun untuk kepentingan sesuatu badan, dan yang
langsung atau tidak langsung menyebabkan kerugian bagi keuangan
negara atau perekonomian negara.
2. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh pejabat yang menerima gaji/upah
dari (yang berasal dari) keuangan Negara atau daerah atau suatu badan
yang menerima bantuan dari keuangan Negara atau daerah,yang dengan
mempergunakan

kesempatan/kewenangan/kekuasaan

yang

diberikan

kepadanya oleh karena jabatannya, langsung atau tidak langsung


membawa keuntungan keuangan atau material baginya.6
SEHINGGA DAPAT DISIMPULKAN BAHWA KORUPSI ADALAH:

Perbuatan melawan hukum menggunakan

atau tidak menggunakan

jabatan/kedudukan/penyalahgunaan wewenang
Dilakukan oleh seseorang/korporasi/pejabat.
Untuk memperkaya/menguntungkan Diri sendiri/orang lain/korporasi
Yang Dapat merugikan keuangan negara/perekonomian negara
3. KONDISI
5Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung, Alumni, 1977, Hlm.123
6 Hermien Hadiati Koeswadji, Korupsi di Indonesia dari Delik Jabatan ke Tindakan Pidana Korupsi, Bandung, Citra
Aditya Bakti, 1994. Hlm. 34

Carut marut permasalahan kebangsaan diantaranya adalah Korupsi, yang


dituding oleh banyak pihak sebagai pemicu kondisi kronis bangsa. Korupsi
bagaikan lingkaran setan yang hampir bisa ditemukan dalam seluruh dalam sistem
didalam negara, baik perekonomian, sistem politik, bahkan sistem penegakan
hukum.
Semakin masif kampanye untuk melawan korupsi justru semakin banyak
kasus korupsi yang terkuak dan menjerat para pejabat, baik pejabat di daerah
hingga level menteri.
Melihat kenyataan tersebut, sangat ironis dengan cita-cita reformasi yang
didengungkan oleh rakyat Indonesia pada saat tumbangnya Rezim Orde Baru.
Indonesia selalu berada di peringkat teratas sebagai negara terkorup di dunia
maupun Asia, seperti pada tahun 2005, menurut data Paoltical Economic and Risk
Consultancy, Indonesia menempati urutan pertama sebagai Negara terkorup di
Asia.
Kejahatan maha haram ini adalah kejahatan luar biasa (extra ordinary
crimes), kejahatan kemanusiaan (crimes againts humanity) sehingga untuk itu
harus mendapat perhatian yang lebih, dimana kejahatan ini secara tidak langsung
merupakan penyebab dari carut marutnya negara, mulai dari system pendidikan
yang buruk, system kesehatan hingga kemiskinan.
Sumber segala bencana kejahatan, the roof of all evils. Koruptor bahkan
relatif lebih berbahaya dibandingkan teroris. Uang triliunan rupiah yang dijarah
seorang koruptor, misalnya adalah biaya hidup mati puluhan juta penduduk
miskin di Indonesia. Dalam konteks itulah, koruptor adalah the real terrorist.
Merupakan sebuah mimpi di siang hari jika kita ingin berhasil
memberantas kemiskinan, meningkatkan pelayanan kesehatan, mempertinggi
mutu pendidikan, dan lain-lain, bila masih korupsi masih dibiarkan menari-nari
didepan mata.7

4. TERMINOLOGI KORUPSI
7 Andi Syamsurizal Nurhadi. Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Korupsi Penyalahgunaan Wewenang dalam
Jabatan. Skripsi Universitas Hasanuddin.Makassar. 2013. Hlm. 1

(Jenis-Jenis Tindak Pidana Korupsi Dan Tindak Pidana Lain Yang


Berkaitan Dengan Tindak Pidana Korupsi)

Menurut buku saku korupsi dari

KPK (KPK, 2006:19), tindak

pidana korupsi dikelompokkan menjadi 7 macam, yaitu:


a. Perbuatan yang Merugikan Negara
b. Suap-menyuap
c. Penyalahgunaan Jabatan
d. Pemerasan
e. Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan
f. Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan
g. Gratifikasi
Jenis Tindak Pidana Lain yang berkaitan dengan tindak pidana
korupsi, terdiri atas:
a. Merintangi proses pemeriksaan pemeriksaan perkara korupsi (Pasal 21);
b. Tidak member keterangan atau member keterangan yang tidak benar;
(Pasal 22 dan Pasal 28);
c. Bank yang tidak memberikan keterangan rekening tersangka (Pasal 22 dan
Pasal 29);
d. Saksi atau ahli yang tidak memberi keterangan atau memberi keterangan
palsu (Pasal 22 jo Pasal 35);
e. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau
member keterangan palsu (Pasal 22 jo Pasal 36);
f. Saksi yang membuka identitas pelapor (Pasal 24 jo Pasal 37).

a. Perbuatan yang Merugikan Negara


Perbuatan yang merugikan negara, dapat dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu :

1. Mencari keuntungan dengan cara melawan Hukum dan merugikan negara.

Korupsi jenis ini dirumuskan dalam Pasal 2 Undang Undang Nomor 20 Tahun
2001 Tentang Perubahan atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK) :
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana
dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan yang paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit
200.000.000,00

(dua

ratus

juta

rupiah)

dan

paling

banyak

1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).


2. Menyalahgunakan jabatan untuk mencari keuntungan dan merugikan
negara, Penjelasan dari jenis korupsi ini hampir sama dengan penjelasan
jenis korupsi pada bagian pertama, bedanya hanya terletak pada unsur
penyalahgunaan wewenang, kesempatan, atau sarana yang dimiliki karena
jabatan atau kedudukan.

Korupsi jenis ini telah diatur dalam Pasal 3 UU PTPK sebagai berikut ;
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau
orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan
atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, di
pidana dengan pidan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling
sedikit 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).

b. Suap-Menyuap

Suap menyuap yaitu suatu tindakan pemberian uang atau menerima uang
atau hadiah yang dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya.
Contoh

menyuap

pegawai

negei

yang

karena

jabatannya

bisa

menguntungkan orang yang memberikan suap, menyuap hakim, pengacara, atau


advokat.

Korupsi jenis ini telah diatur dalam UU PTPK :


a. Pasal 5 ayat (1) UU PTPK;
b. Pasal 5 ayat (1) huruf b UU PTPK;
c. Pasal 5 ayat (2) UU PTPK;
d. Pasal 13 UU PTPK;
e. Pasal 12 huruf a PTPK;
f. Pasal 12 huruf b UU PTPK;
g. Pasal 11 UU PTPK;
h. Pasal 6 ayat (1) huruf a UU PTPK;
i. Pasal 6 ayat (1) huruf b UU PTPK;
j. Pasal 6 ayat (2) UU PTPK;
k. Pasal 12 huruf c UU PTPK;
l. Pasal 12 huruf d UU PTPK.

c. Penyalahgunaan Jabatan (Penggelapan dalam jabatan)


Dalam hal ini yang dimaksud dengan penyalahgunaan jabatan adalah seorang
pejabat pemerintah yang dengan kekuasaan yang dimilikinya melakukan
penggelapan laporan keuangan, menghilangkan barang bukti atau membiarkan
orang lain menghancurkan barang bukti yang bertujuan untuk menguntungkan diri
sendiri dengan jalan merugikan negara hal ini sebagaiamana rumusan Pasal 8 UU
PTPK.

Selain undang-undang tersebut diatas terdapat juga ketentuan pasal pasal


lain yang mengatur tentang penyalahgunaan jabatan, antara lain:
a. Pasal 9 UU PTPK;
b. Pasal 10 huruf a UU PTPK;
c. Pasal 10 huruf b UU PTPK;

d. Pasal 10 huruf c UU PTPK.


d. Pemerasan dalam Jabatan
Berdasarkan definisi dan dasar hukumnya, pemerasan dapat dibagi menjadi 2
yaitu :
1. Pemerasan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah kepada orang lain atau
kepada masyarakat. Pemerasan ini dapat dibagi lagi menjadi 2 (dua) bagian
berdasarkan dasar hukum dan definisinya yaitu :
a) Pemerasan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah karena mempunyai
kekuasaan dan dengan kekuasaannya itu memaksa orang lain untuk memberi
atau melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Hal ini sesuai dengan
Pasal 12 huruf e UU PTPK;
b) Pemerasan yang dilakukan oleh pegawai negeri kepada seseorang atau
masyarakat dengan alasan uang atau pemberian ilegal itu adalah bagian dari
peraturan atau haknya padahal kenyataannya tidak demikian. Pasal yang
mengatur tentang kasus ini adalah Pasal 12 huruf e UU PTPK.
2. Pemerasan yang di lakukan oleh seorang pegawai negeri kepada pegawai negeri
yang lain.

Korupsi jenis ini di atur dalam Pasal 12 UU PTPK.

e. Korupsi yang berhubungan dengan Kecurangan dan pemborongan


Yang dimaksud dalam tipe korupsi ini yaitu kecurangan yang dilakukan oleh
pemborong, pengawas proyek, rekanan TNI / Polri, pengawas rekanan TNI / Polri,
yang melakukan kecurangan dalam pengadaan atau pemberian barang yang
mengakibatkan kerugian bagi orang lain atau terhadap keuangan negara atau yang
dapat membahayakan keselamatan negara pada saat perang. Selain itu pegawai
negeri yang menyerobot tanah negara yang mendatangkan kerugian bagi orang
lain juga termasuk dalam jenis korupsi ini.

Adapun ketentuan yang mengatur tentang korupsi ini yaitu :


a. Pasal 7 ayat 1 huruf a UU PTPK;
b. Pasal 7 ayat (1) huruf b UU PTPK;
c. Pasal 7 ayat (1) huruf c UU PTPK;

d. Pasal 7 ayat (2) UU PTPK;


e. Pasal 12 huruf h UU PTPK;
f. Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan
Pengadaan adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghadirkan barang atau
jasa yang dibutuhkan oleh suatu instansi atau perusahaan. Orang atau badan yang
ditunjuk untuk pengadaan barang atau jasa ini dipilih setelah melalui proses
seleksi yang disebut dengan tender.
Pada dasarnya proses tender ini berjalan dengan bersih dan jujur. Instansi atau
kontraktor yang rapornya paling bagus dan penawaran biayanya paling kompetitif,
maka instansi atau kontraktor tersebut yang akan ditunjuk dan menjaga, pihak
yang menyeleksi tidak boleh ikut sebagai peserta.

Kalau ada instansi yang bertindak sebagai penyeleksi sekaligus sebagai


peserta tender maka itu dapat dikategorikan sebagai korupsi.

Hal ini diatur dalam Pasal 12 huruf i UU PTPK sebagai berikut ;


Pegawai Negeri atau penyelenggara Negara baik langsung maupun
tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan,
pengadaan, atau persewaan yang pada saat dilakukan perbuatan,
seluruh atau sebagian di tugaskan untuk mengurus atau mengawasinya.

g. Korupsi yang berhubungan dengan gratifikasi (Hadiah)


Yang dimaksud dengan korupsi jenis ini adalah pemberian hadiah yang
diterima oleh pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dan tidak dilaporkan
kepada KPK dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya gratifikasi. Gratifikasi
dapat berupa uang, barang, diskon, pinjaman tanpa bunga, tiket pesawat, liburan,
biaya pengobatan, serta fasilitas-fasilitas lainnya.

Korupsi jenis ini diatur dalam Pasal 12B UU PTPK dan Pasal 12C UU
PTPK, yang menentukan :
Pegawai Negeri atau penyelenggara Negara yang menerima hadiah,
padahal diketahui atau patut di duga bahwa hadiah, tersebut diberikan
sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak
melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan
jabatannya.

5. TERMINOLOGI GRATIFIKASI
Gratifikasi Adalah Akar Dari Korupsi
Pengertian gratifikasi terdapat pada Penjelasan Pasal 12B Ayat (1) UU
No.31 Tahun 1999 juncto UU No.20 Tahun 2001, bahwa : "Yang dimaksud
dengan "gratifikasi" dalam ayat ini adalah pemberian dalam arti luas, yakni
meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga,
tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjawalan wisata, pengobatan cuma-cuma,
dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri
maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik
atau tanpa sarana elektronik."
Apabila dicermati penjelasan pasal 12B ayat (1) tersebut, kalimat yang
termasuk definisi gratifikasi adalah sebatas kalimat : pemberian dalam arti luas,
sedangkan kalimat setelah itu merupakan bentuk-bentuk gratifikasi. Dari
penjelasan pasal 12B Ayat (1) juga dapat dilihat bahwa pengertian gratifikasi
mempunya makna yang netral, artinya tidak terdapat makna tercela atau negatif.
Apabila penjelasan ini dihubungkan dengan rumusan padal 12B dapat dipahami
bahwa tidak semua gratifikasi itu bertentangan dengan hukum, melainkan hanya
gratifikasi yang memenuhi kriteria pada unsur 12B saja.
Untuk mengetahui kapan gratifikasi menjadi kejahatan korupsi, perlu
dilihat rumusan Pasal 12B ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 juncto UU No. 20
Tahun 2001. "Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang
berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut..."
Jika dilihat dari rumusan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa gratifikasi atau pemberian hadiah berubah menjadi suatu
yang perbuatan pidana suap khususnya pada seorang Penyelenggara
Negara atau Pegawai Negeri adalah pada saat Penyelenggara Negara
atau Pegawai Negeri tersebut melakukan tindakan menerima suatu
gratifikasi atau pemberian hadiah dari pihak manapun sepanjang
pemberian tersebut diberikan berhubungan dengan jabatan atau
pekerjaannya.

10

Salah satu kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat adalah pemberian


tanda terima kasih atas jasa yang telah diberikan oleh petugas, baik dalam bentuk
barang atau bahkan uang. Hal ini dapat menjadi suatu kebiasaan yang bersifat
negatif dan dapat mengarah menjadi potensi perbuatan korupsi di kemudian hari.
Potensi korupsi inilah yang berusaha dicegah oleh peraturan UU. Oleh karena itu,
berapapun nilai gratifikasi yang diterima Penyelenggara Negara atau Pegawai
Negeri, bila pemberian itu patut diduga berkaitan dengan jabatan/kewenangan
yang dimiliki, maka sebaiknya Penyelenggara Negara/Pegawai Negeri tersebut
segera melapor ke KPK untuk dianalisa lebih lanjut.
6. TERMINOLOGI SUAP
Suap menyuap yaitu setiap orang yang Memberi atau menjanjikan atau
menerima sesuatu atau hadiah yang dilakukan kepada pejabat pemerintah atau
pegawai negeri sipil atau penyelenggara negara untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu yang berhubungan atau bertentangan dengan kewajibannya.
(misalnya: PNS, penegak hukum)

Korupsi jenis ini telah diatur dalam UU PTPK :


a. Pasal 5 ayat (1) UU PTPK;
b. Pasal 5 ayat (1) huruf b UU PTPK;
c. Pasal 5 ayat (2) UU PTPK;
d. Pasal 13 UU PTPK;
e. Pasal 12 huruf a PTPK;
f. Pasal 12 huruf b UU PTPK;
g. Pasal 11 UU PTPK;
h. Pasal 6 ayat (1) huruf a UU PTPK;
i. Pasal 6 ayat (1) huruf b UU PTPK;
j. Pasal 6 ayat (2) UU PTPK;
k. Pasal 12 huruf c UU PTPK;
l. Pasal 12 huruf d UU PTPK.

Perbedaan Antara Gratifikasi dan Gratifikasi yang dianggap Suap akan


dijelaskan dalam tabel dibawah ini:

11

12

Gratifikasi yang tidak perlu dilaporkan menurut Surat Edaran KPK


No. B-143/01-13/01/2013
Gratifikasi tidak selalu harus dilaporkan kepada KPK, oleh karena itu
KPK menerbitkan Surat B-143/01-13/01/2013 tentang Himbauan Terkait
Gratifikasi yang menyebutkan beberapa gratifikasi yang tidak perlu dilaporkan
sebagaimana disebutkan dalam Surat KPK Nomor B-143/01-13/01/2013
dalam butir 3 huruf a sd j dengan penjelasan sebagai berikut:
1. diperoleh dari hadiah langsung/undian, diskon/rabat, voucher, point
rewards atau suvenir yang berlaku umum dan tidak terkait kedinasan;
2. Diperoleh karena prestasi akademis atau non akademis
(kejuaraan/perlombaan/kompetisi) dengan biaya sendiri dantidak
terkait kedinasan;
3. Diperoleh dari keuntungan/bunga dari penempatan dana, investasi atau
kepemilikan saham yang berlaku umum dan tidak terkait kedinasan;
4. Diperoleh dari kompensasi atas profesi diluar kedinasan yang tidak
terkait dari tupoksi pegawai negeri atau penylenggara negara, tidak

13

melanggar konflik kepentingan atau kode etik pegawai dan dengan izin
tertulis dari atasan langsung;
5. Diperoleh dari hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus
dua derajat atau dalam garis keturunan kesamping satu derajat
sepanjang tidak mempunyai konflik kepentingan dengan penerima
gratifikasi;
6. Diperoleh dari hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan
lurus satu derajat atau dalam garis keturunan kesamping satu derajat
sepanjang tidak mempunyai konflik kepentingan dengan penerima
gratifikasi;
7. Diperoleh dari

pihak

yang

mempunyai

hubungan

keluarga

sebagaimana dimaksud pada huruf f dan g terkait dengan hadiah


perkawinan,

khitanan

anak,

ulang

tahun,

kegiatan

keagamaan/adat/tradisi dan bukan dari pihak-pihak yang mempunyai


konflik kepentingan dengan penerima gratifikasi;
8. Diperoleh dari pihak terkait dengan musibah dan bencana, dan bukan
dari pihak-pihak yang mempunyai konflik kepentingan dengan
penerima gratifikasi;
9. Diperoleh dari kegiatan resmi kedinasan seperti rapat, seminar,
workshop, konferensi, pelatihan atau kegiatan lain sejenis yang berlaku
secara umum berupa seminar kit, sertifikat dan plakat/cinderamata, dan
10. Diperoleh dari acara resmi kedinasan dalam bentuk hidangan/
sajian/jamuan berupa makanan dan minuman yang berlaku umum.
Dapat disimpulkan bahwa ketika perbuatan itu adalah suap maka yang
dijerat dengan tindak pidana suap adalah orang yang memberi dan
yang menerima suap, sedangkan gratifikasi hanyalah Pegawai negeri
atau penyelenggara negara yang menerima gratifikasi tersebut.

Sumber: Buku Saku Gratifikasi Dari KPK

7. PENYEBAB KORUPSI

14

Penyebab korupsi bersifat kompleks. Bank Dunia mengakui bahwa korupsi


adalah gejala lain, faktor yang lebih dalam, seperti rancangan buruk dari suatu
kebijakan ekonomi, tingkat pendidikan yang rendah, masyarakat sipil yang
terbelakang, dan akuntabilitas yang lemah dari lembaga-lembaga publik (Bank
Dunia, 1997a, b, p. 5).8
Kaitan teori kriminologi dengan tindak pidana korupsi, akan diuraikan sebagai
berikut:
1. Teori Anomie-Emilie Durkheim
Dalam menganalisa kausa kejahatan, kriminologi menggunakan teori sebagai
pisau analisa untuk menganalisa kausa kejahatan tertentu, maka dalam
menganalisa kausa kejahatan korupsi, teori anomi dapat digunakan dalam kontek
tidak menentunya perkembangan dan kebijakan ekonomi di Indonesia yang
disebabkan oleh peralihan sosio-tradisional agraris kepada sosio-modernis
industrialis dengan maraknya kejahatan korupsi di Indonesia. Hasil survei
Transparansi Indonesia memperlihatkan bahwa indeks korupsi di Indonesia
cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Romli Atmasasmita, berpendapat bahwa teori anomi sangat berguna sebagai
pisau analisa untuk menganalisa kausa kejahatan di Indonesia, dengan alasan,
bahwa perkembangan ekonomi Indonesia yang ditandai dengan perkembangan
industri dan berbagai fluktuasi yang kurang menentu dari kebijaksanaan
pemerintah dibidang perekonomian dan keuangan, dengan alasan-alasan itu,
tampaknya teori anomi (Durkheim dan Merton) dapat digunakan sebagai pisau
analisa yang dapat mengungkapkan secara memadai berbagai kausa kejahatan9.
Hadirnya teori anomi dilatarbelakangi oleh kondisi social (social heritage)
khususnya di Eropah, dimulain sejah masa revolusi industri di Prancis hingga
great depression (depresi besar) yang melanda masyarakat Eropah pada tahun
1930-an.
Depresi ini disebabkan oleh terjadinya perubahan besar dalam struktur
masyarakat Eropah, menyebabkan hilangnya tradisi-tradisi, sehingga menciptakan
8Gerasimova Ksenia. Can corruption and economic crime be controlled in developing countries and if so, is it costeffective. Journal of Financial Crime Vol. 15 No.2. Cambridge:UK. 2008.

Halif. Kejahatan Korupsi dalam Perspektif Kriminologi. Jurnal Anti Korupsi-Vol.1 No.1-Mei 2011-Pukat FHUJ:Jember

15

situasi deregulasi di dalam masyarakat. Keadaan inilah yang dinamakan oleh


Durkheim sebagai anomi atau normlessness (hancurnya keteraturan social sebagai
akibat dari hilangnya patokan dan nilai-nilai). pluralisme dan pembagian kerja
dapat mengakibatkan lemahnya kesadaran kolektif. Kekangan atau paksaan
masyarakat atas individu berkurang, dan individualisme timbul.
Depresi yang dialami oleh masyarakat Eropah pada tahun1930-an, tidak jauh
berbeda dengan depresi yang dialami oleh masyarakat Indonesia sejak datangnya
arus modernisasi yang menghilangkan nilai-nilai agama, budaya dan hukum.
Padahal nilai-nilai tersebut menjadi fundamen interaksi social masyarakat
Indonesia, jika nilai-nilai tersebut hilang, maka masyarakat Indonesia berada
dalam situasi anomi (istilah yang dipakai Durkheim dalam menjelaskan kondisi
seperti itu). Dalam situasi anomi seperti itu, maka kejahatan korupsi sebagai extra
ordinary crime merajalela di Indonesia sampai saat ini.
Menarik untuk diperhatikan dari teori anomi Durkheim adalah penyimpangan
tingkah laku yang disebabkan oleh perubahan ekonomi secara tiba-tiba (sudden
economic change). Perubahan secara tiba-tiba itu mengakibatkan orang terhempas
ke dalam suatu jalan hidup yang tidak dikenal (unfamiliar). Nilai-nilai dan aturan
aturan (rules) sebagai pembimbing tingkah laku tidak lagi dipegang. Perlu dicatat
bahwa bukan karena semata-mata perubahan dalam aspek ekonomi saja yang
dapat menyebabkan orang terhempas kejalan hidup yang tidak dikenal sehingga
hilangnya nilai dan aturan tetapi perubahan yang mendadak (sudden change)
inilah penyebabnya.
2. Teori Modernisasi-Samuel P. Huntington
Teori Modernisasi dianggap sebagai salah satu factor maraknya korupsi di
Indonesia, modernisasi telah merubah karakteristik masyarakat Indonesia yang
memiliki sosiotradisional agraris ke dalam sosio-modernis industrialis. Perubahan
secara cepat dan tiba-tiba inilah yang telah menghantarkan masyarakat Indonesia
ke jalan hidup yang tidak pernah dikenal sebelumnya (unfamiliar). Akhirnya
hilanglah nilai agama, budaya dan hukum sebagai sumber prilaku masyarakat
Indonesia, dengan begitu marak pula kejahatan korupsi khususnya dilembagalembaga pemerintahan, disebabkan oleh kondisi anomi (hilangnya nilai agama,

16

budaya dan hukum) di setiap masyarakat Indonesia, meskipun telah memiliki


intlektualitas yang tinggi.
Samuel P. Huntington, menjastifikasi bahwa kausa kejahatan korupsi
disebabkan oleh modernisasi, dengan mengatakan dalam tulisannya:
Korupsi terdapat dalam masyarakat, tetapi korupsi lebih umum dalam
masyarakat yang satu dalam dari pada yang lain, dan dalam masyarakat yang
tumbuh (negara berkembang, seperti Indonesia, pen.) korupsi lebih umum dalam
suatu periode yang satu dari yang lain. Bukti-bukti dari sana sini menunjukkan
bahwa luas perkembangan korupsi berkaitan dengan modernisasi social dan
ekonomi yang cepat.
Lalu mengapa maraknya praktek kejahatan korupsi khususnya di negara
yang sedang berkembang dapat disebabkan oleh modernisasi social dan ekonomi
yang sangat cepat, Samuel P. Huntington menjawab:
a. Modernisasi membawa perubahan-perubahan pada nilai dasar atas masyarakat.
b. Modernisasi juga ikut mengembangkan korupsi karena modernisasi membuka
sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan baru. Hubungan sumber-sumber ini
dengan kehidupan politik tidak diatur oleh norma-norma tradisional yang
terpenting dalam masyarakat, sedangkan norma-norma baru masyarakat.
c.

Modernisasi

merangsang

korupsi

karena

perubahan-perubahan

yang

diakibatkannya dalam bidang kegiatan system politik. Modernisasi terutama


di Negara-negara yang memulai modernisasi lebih kemusian, memperbesar
kekuasaan pemerintah dan melipatgandakan kegiatan-kegiatan yang diatur
oleh peraturan-peraturan pemerintah.
3. Teori Social Structure atau Strain Theory-Robert K. Merton
Teori anomi Durkheim dilanjutkan secara gemilang oleh Robert K. Merton
dengan tetap mengaitkan masalah kejahatan dengan anomi, tetapi teori anomi
Merton berbeda dengan teori anomi Durkheim. Kausa kejahatan sesungguhnya
tidak disebabkan oleh perubahan yang cepat (sudden change) tetapi disebabkan
oleh struktur social (social structure). Secara subtansial masih ada hubungan
antara teori anomi Durkheim dengan Merton, hal ini dapat dilihat dari adanya
sudden change tidak hanya mengakibatkan stress sehingga menimbulkan keadaan

17

yang anomi, tetapi juga mengakibatkan berubahan paradigma terhadap nilai-nilai


budaya, akhirnya akan sampai pada kondisi anomi dalam situasi tertentu.
Analisa Merton menghasilkan dua unsur penting yang selalu ada dalam setiap
masyarakat, yaitu: (1) culture aspiration atau culture goals yang diyakini berharga
untuk diperjuangkan; dan (2) institutionalized means atau accepted ways untuk
mencapai tujuan.36 Jika suatu masyarakat stabil, dua unsure ini akan terintegrasi;
dengan kata lain sarana harus ada bagi setiap individu guna mencapai tujuantujuan yang berharga bagi mereka.
Kausa kejahatan korupsi dapat disebabkan oleh perubahan nilai budaya kearah
materialisme yang dihasilkan dari arus modernisasi, sehingga masyarakat
beranggapan bahwa kesuksesan hanya dilihat dari kesuksesan dalam bidang
ekonomi

saja.

Sehingga

masyarakat

Indonesia

berlomba-lomba

untuk

mencapainya, dalam teori anomi Merton disebut culture aspiration atau culture
goals. Negara dituntut mampu menyediakan institutionalized means, wadah atau
sarana demi tercapainya tujuan tersebut. Secara normative negara telah menjamin
adanya sarana dan tujuan tersbut yang tertian dalam konstitusi UUD 1945.
Konstitusi telah memberikan jaminan bahwa tiap-tiap warga negara berhak
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan jaminan tersebut
merupakan satu contoh yang terdapat dalam UUD 1945 Pasal 27 Ayat (2).
Permasalahannya terletak pada implementasi dari konstitusi itu, sehingga
menimbulkan disparitas antara tujuan (goal) dan sarana, di mana negara tidak
optimal memberikan sarana-sarana kepada masyarakat demi tercapainya tujuan.
Ketidak optimalan ini mengakibatkan adanya potensi untuk melakukan kejahatan
korupsi. kejahatan yang timbul diakibatkan oleh disparitas antara tujuan dan
sarana, tidak hanya kejahatan korupsi saja tetapi segala bentuk kejahatan
tergantung klasifikasi sosialnya. 10
Yang pada kesimpulannya Maraknya kejahatan korupsi dapat disebabkan oleh
dua faktor, yaitu:

pertama, faktor sudden change (perubahan cepat) yang disebabkan oleh


arus modernisme;

10

Halif.Ibid.

18

kedua, faktor social structure (struktur sosial) yang tidak adil, antara
tujuan atau cita-cita masyarakat (gols) tidak diimbangi oleh sarana yang
memadai dari pemerintah (legitimate means), dengan situasi tersebut
masyarakat cenderung menggunakan sarana tau jalan yang illegitimate
means.

Lebih lanjut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam buku


yang berjudul strategi Pemberantasan Korupsi, mengemukakan tentang
penyebab korupsi di Indonesia antara lain:
a. Aspek Individu Pelaku:
- Sifat Tamak Manusia
- Moral yang kurang kuat menghadapi godaan
- Penghasilan kurang mencukupi kehidupan yang wajar
- Kebutuhan hidup yang mendesak
- Gaya hidup konsumtif
- Malas atau tidak mau bekerja keras
- Ajaran-ajaran agama yang kurang
b. Aspek Organisasi
- Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan
- Tidak adanya kultur organisasi yang benar
- System akuntabilitas yang benar di instansi
- Kelemahan system pengendalian manajemen
- Manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi
c. Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada
- Nilai-nilai dimasyarakat kondusif untuk terjadinya korupsi, korupsi
dapat ditimbulkan oleh budaya masyarakat
- Masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi
- Aspek peraturan perundang-undangan.11
8. STATISTIK KEJAHATAN dan PELAKU KORUPSI
Berdasarkan Rekapitulasi dari Pengaduan Masyarakat

11Septa Candra. Hukum Pidana Dalam Perspektif: Tindak Pidana Korupsi:Upaya Pencegahan dan Pemberantasan.
Bali:Pustaka Larasan. 2012. Hlm.111

19

Sumber: Kpk.go.id
Dari Laporan tersebut yang terindikasi adalah sebagai berikut:

Ada 3.803 laporan masyarakat yang masuk kategori Tindak Pidana Korupsi
Per 31 Oktober 2014, KPK melakukan verifikasi atas laporan pengaduan
masyarakat. Dan dari total jumlah pengaduan di tahun 2014 yakni sebesar 7.692

20

laporan yang telah terverifikasi, ada sebanyak 3.889 yang bukan masuk kategori
TPK dan ada 3.803 laporan yang masuk kategori TPK.
BANYAKNYA PELAKU

Pelaku Korupsi Terbanyak adalah dari Kalangan Swasta.


Per 31 Oktober 2014, di tahun 2014 ini KPK menangkap tersangka
korupsi dari dari profesi Kepala Lembaga/Kementerian sebanyak 8 orang, Swasta
sebanyak 12 orang, Walikota/Bupati/Wakil sebanyak 9 orang, Hakim sebanyak 2
orang, Anggota DPR/DPRD sebanyak 3 orang, dan Eselon I/II/III sebanyak 1
orang.

9. KARAKTERISTIK KEJAHATAN & KARAKTERISTIK PELAKU


Karakteristik Kejahatan

21

Sumber: Kpk.go.id
Melihat dari statistic diatas, dapat kita temukan bahwa karakteristik dari
tindak pidana korupsi ini terbanyak berbentuk penyuapan, penyalahgunaan
anggaran, pengadaan barang dan bentuk-bentuk lain yang berkaitan dengan
perbuatan yang merugikan keuangan negara.
Sehingga dapat kita ambil kesimpulan, inti dari korupsi adalah :
perbuatan yang dapat merugikan keuangan negara.

Karakteristik Pelaku

22

Untuk melihat Karakteristik Pelaku akan kita lihat melalu sebuah tabel dan grafik
berikut ini:

Sumber: Kpk.go.id
Pelaku Korupsi Terbanyak adalah dari Kalangan Swasta.
Per 31 Oktober 2014, di tahun 2014 ini KPK menangkap tersangka
korupsi dari dari profesi Kepala Lembaga/Kementerian sebanyak 8 orang, Swasta
sebanyak 12 orang, Walikota/Bupati/Wakil sebanyak 9 orang, Hakim sebanyak 2
orang, Anggota DPR/DPRD sebanyak 3 orang, dan Eselon I/II/III sebanyak 1
orang.

Karakteristik Kejahatan:

23

1.
2.
3.
4.
5.

Perbuatan melawan hukum.


Yang dapat merugikan keuangan negara.
Dengan berbagai modus kejahatan, misalnya penyuapan, perizinan dsb
Baik oleh perorangan maupun korporasi
Dilakukan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau

korporasi.
6. Biasanya dengan cara melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam
jabatannya atau yang bertentangan dengan jabatannya

Karakteristik Penjahat:

1. Tidak hanya dilakukan oleh para pemegang jabatan tetapi juga pihak
swasta;
2. Biasanya dilakukan dari pihak swasta ke pemegang jabatan, atau

3.
4.
5.
6.

sebaliknya.
Baik itu korporasi atau perorangan.
Intinya dilakukan orang yang mempunyai kepentingan.
Memiliki tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi.
Dengan cara atau niat untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu

dalam jabatannya atau yang bertentangan dengan jabatannya.


10. CONTOH KASUS
Kasus Gayus Tambunan
Kasus Gayus Tambunan yang di dakwa dalam sejumlah perkara korupsi antara
lain:
1. Kasus Suap
Dalam kasus terbaru, Gayus dinyatakan terbukti bersalah menerima suap
senilai Rp925 juta dari Roberto Santonius, konsultan PT Metropolitan
Retailmart terkait kepengurusan keberatan pajak perusahaan tersebut.
Selain itu, Gayus juga dinyatakan terbukti memberikan uang suap kepada
sejumlah petugas rumah tahanan negara Mako Brimob Depok sekitar
tahun 2010, termasuk kepada Kepala Rutan (Karutan) Mako Brimob,
Kelapa Dua, Depok Kompol Iwan Siswanto.

24

Tidak hanya itu, Gayus juga telah dinyatakan terbukti bersalah menyuap
Ketua Pengadilan Negeri Tangerang Muhtadi Asnun sebesar US$30.000
dan US$10.00 kepada hakim anggota lainnya.
Gayus juga terbukti bersalah menyuap penyidik kepolisian Arafat Enanie
dan Sri Sumartini masing masing US$2.500 dan US$3.500. Sedangkan,
Haposan Hutagalung sebagai penasihat hukum juga diberi Rp800 juta dan
US$45.000.
2. Gratifikasi
Selain kasus suap, Gayus juga terbukti bersalah dalam penerimaan
gratifikasi. Saat menjabat petugas penelaah keberatan pajak di Ditjen
pajak, Gayus terbukti menerima gratifikasi sebesar US$659.800 dan
Sin$9,6 juta. Gratifikasi itu tidak dilaporkan ke KPK namun disimpan di
safe deposit box Kelapa Gading Bank Mandiri.
3. Pencucian Uang
Selain dijerat dengan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Gayus
juga dijerat dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Selama
persidangan, Gayus gagal membuktikan kekayaannya berupa uang Rp925
juta, US$3,5 juta, US$659.800, Sin$9,6 juta dan 31 keping logam mulai
masing-masing 100 gram bukan berasal dari hasil tindak pidana.
Sumber: Tempo.co.id
Kasus Dugaan Korupsi Suryadharma Ali
Berkaitan dengan dana haji di kementrian agama
Diduga melakukan penyalahgunaan wewenang untuk memperkaya diri
sendiri, orang lain atau korporasi dengan memanfaatkan dana setoran awal
haji untuk membiayai beberapa pejabat dan keluarganya untuk naik haji.
PPATK menyebut sepanjang tahun 2004-2012 ada dana biaya
penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) sebesar 80 trilyun dengan bunga
sekitar 2,3 trilyun rupiah
Hasil audit PPATK ada transaksi mencurigai sebesar 230 miliar rupiah
yang tidak jelas penggunaannya.
Sumber: tribunnews dan kompas
Kasus Suap Impor Daging Sapi Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan
Luthfi Hasan divonis 16 tahun penjara sedangkan Ahmad fathanah
14 tahun penjara

25

Diduga menerima suap terkait pengaturan kuota impor daging sapi dengan
Direktur PT. Indoguna Utama yaitu Maria Elizabeth Liman
Suap sebanyak 1,3 miliar rupiah.
Pemberian uang atau janji tersebut dilakukan agar luthfi menggunakan
kedudukannya untuk mempengaruhi pejabat Kementerian Pertanian agar
member persetujuan atau rekomendasi permohonan kuota impor daging
tahun 2013
Sebelumnya, telah disepakati bahwa jika penambahan kuota impor daging
untuk PT Indoguna disetujui sebanyak 8000 ton, Elizabeth bersedia
memberikan fee kepada Luthfi sebesar 5000 rupiah perkilogram atau total
40 miliar rupiah.
Pada pemberian awal, Elizabeth menyerahkan uang 300 juta rupiah kepada
luthfi yang disebut untuk keperluan acara partai keadilan sejahtera di
medan.
Pemberian selanjutnya sebesar 1 milliar melalui fathanah

11. STATISTIK RESPON TERHADAP KASUS KORUPSI


Rekapitulasi Penindakan Perkara Korupsi

26

Sumber: kpk.go.id
Respon terhadap korupsi dan pelaku korupsi, semenjak berdirinya Komisi
Pemberantasan Korupsi, mengalami peningkatan, kebanyakan respon yang
diberikan adalah berupa sanksi penjara, pengembalian asset dan denda.
Beberapa kasus terakhir penghukuman terhadap koruptor cenderung
kepada penjatuhan sanksi penjara yang cukup lama, misalnya dalam beberapa
kasus 14 tahun, 16 tahun bahkan 30 tahun serta ada pencabutan hak politik seperti
yang diberikan kepada Luthfi Hasan. Karena dianggap bahwa dengan
menjatuhkan pidana yang lebih lama maka akan diberikan efek jera. Melihat juga
Reaksi masyarakat kepada koruptor dan kasus korupsi sekarang yang sangat
menarik perhatian dari masyarakat, sehingga menurut saya memberi pengaruh
terhadap berat ringannya sanksi yang diberikan.

KESIMPULAN
1. Korupsi Adalah:
Perbuatan melawan hukum menggunakan

atau tidak menggunakan

jabatan/kedudukan/penyalahgunaan wewenang yang Dilakukan oleh


seseorang/korporasi/pejabat Untuk memperkaya/menguntungkan Diri
sendiri/orang

lain/korporasi,

Yang

Dapat

merugikan

keuangan

negara/perekonomian negara.
2. Kondisi: Carut marut permasalahan kebangsaan diantaranya adalah
Korupsi, yang dituding oleh banyak pihak sebagai pemicu kondisi kronis
bangsa. Korupsi bagaikan lingkaran setan yang hampir bisa ditemukan
dalam seluruh dalam sistem didalam negara, baik perekonomian, sistem
politik, bahkan sistem penegakan hukum. Sehingga korupsi menjadi
penting untuk dibahas.
3. Tindak pidana korupsi dikelompokkan menjadi 7 macam, yaitu:
Perbuatan yang Merugikan Negara
Suap-menyuap
Penyalahgunaan Jabatan

27

Pemerasan
Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan
Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan
Gratifikasi
4. Membedakan terminology suap dan gratifikasi:
Dapat disimpulkan bahwa ketika perbuatan itu adalah suap maka yang
dijerat dengan tindak pidana suap adalah orang yang memberi dan yang
menerima suap, sedangkan gratifikasi hanyalah Pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang menerima gratifikasi tersebut.
5. Teori Kriminologi Penyebab Korupsi:
-

Teori Anomie dari Emilie Durkheim

Teori Modernisasi dari Samuel P.Huntington

Strain Theory dari Robert K. Merthon

6. Statistic: dari statistic bahwa bentuk korupsi yang paling banyak


dilakukan adalah penyuapan dan pelaku korupsi terbanyak berasal dari
kalangan swasta
7. Respon terhadap korupsi dan pelaku korupsi: semenjak berdirinya
Komisi Pemberantasan Korupsi, mengalami peningkatan, kebanyakan
respon yang diberikan adalah berupa sanksi penjara, pengembalian asset
dan denda.

28

DAFTAR PUSTAKA
Andi Hamzah, Delik-delik Tersebar Di Luar KUHP dengan Komentar, Jakarta,
Pradnya Paramita, 1995.
-----------------, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan
Internasional, Jakarta RadjaGrafindo Persada, 2007.
Andi Syamsurizal Nurhadi. Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Korupsi
Penyalahgunaan
Wewenang
dalam
Jabatan.
Skripsi
Universitas
Hasanuddin.Makassar. 2013.
Gerasimova Ksenia. Can corruption and economic crime be controlled in
developing countries and if so, is it cost-effective. Journal of Financial Crime Vol.
15 No.2. Cambridge:UK. 2008.
Halif. Kejahatan Korupsi dalam Perspektif Kriminologi. Jurnal Anti KorupsiVol.1 No.1-Mei 2011-Pukat FHUJ:Jember
Hermien Hadiati Koeswadji, Korupsi di Indonesia dari Delik Jabatan ke
Tindakan Pidana Korupsi, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1994.
-----------------------------------, Korupsi di Indonesia dari Delik Jabatan ke
Tindakan Pidana Korupsi, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1994.
Krisna
Harahap.
Pemberantasan
Bandung:Grafiti.2006.

29

Korupsi

Jalan

tiada

Ujung.

Robert Klitgaard. Membasmi Korupsi. Jakarta:Buku Obor. 1998.


Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung, Alumni, 1977.
Septa Candra. Hukum Pidana Dalam Perspektif: Tindak Pidana Korupsi:Upaya
Pencegahan dan Pemberantasan. Bali:Pustaka Larasan. 2012.
Komisi Pemberantasan Korupsi. Buku Saku memahami Gratifikasi.
------------------------------------. Buku Saku Memahami untuk membasmi Korupsi
SUMBER LAIN:
Kpk.go.id
Tempo.co.id.
Tribunnews.co.id
Kompas.co.id

30