Anda di halaman 1dari 9

Kulit dan Absorbsi Perkutan

Proses masuknya suatu zat dari luar kulit melintasi lapisan lapisan kulit
menuju posisi di bawah kulit hingga menembus pembuluh darah disebut absorbsi
perkutan. Absorbsi transdermal terjadi melalui proses difusi yang lambat yang
ditentukan oleh gradient konsentrasi obat dari konsentrasi tinggi (pada sediaan yang
diaplikasikan) menuju konsntrasi rendah di kulit. Obat dapat mempenetrasi kulit utuh
melalui dinding folikel rambut, kelenjar minyak, atau kelenjar lemak. Dapat pula
melalui celah antar sel dari epidermis dan inilah cara yang paling dominan untuk
penetrasi obat melalui kulit dibandingkan penetrasi melalui folikel rambut, kelenjar
minyak, maupun kelenjar lemak. Hal ini terkait perbandingan luas permukaan di antara
keempatnya.
Sebenarnya, kulit yang rusak pun (robek, iritasi, pecah pecah, dll) dapat
terpenetrasi oleh obat. Bahkan penetrasinya lebih banyak dari pada kulit normal. Hal
ini karena kulit rusak telah kehilangan sebagian lapisan pelindungnya. Meski demikian,
penetrasi melalui kulit yang rusak tidak dianjurkan karena absorbs obat menjadi sulit
untuk diprediksi.
Diantara faktor faktor yang mempengaruhi absorbs perkutan antara lain:
1. Sifat fisiko kimia obat
2. Sifat pembawa
3. Kondisi kulit
4. Uap air
Penghantaran Obat secara Transdermal
Sistem penghantaran obat secara transdermal merupakan salah satu inovasi
dalam sistem penghantaran obat modern untuk mengatasi problema bioavailabilitas

obat tersebut jika diberikan melalui jalur lain seperti oral. Obat yang diberikan secara
transdermal masuk ke tubuh melalui permukaan kulit yang kontak langsung dengannya
baik secara transeluler maupun secara interseluler. Inovasi penghantaran obat ini
memiliki keunggulan dibandingkan jalur panghantaran obat yang lain, di antaranya:

1. Meminimalisasi ketidak teraraturan absorbsi dibandingkan dengan jalur oral yang


dipengaruhi
oleh pH, makanan, kecepatan pengosongan lambung, waktu transit usus, dll
2. Obat terhindar dari first passed effect,
3. Terhindar dari degradasi oleh saluran gastro intestinal;
4. Jika terjadi efek samping yang tidak diinginkan (misal reaksi alergi, dll) pemakaian
dapat dengan mudah dihentikan
5. Absorbsi obat relatif konstan dan kontinyu
6. Input obat ke sirkulasi sistemik terkontrol serta dapat menghindari lonjakan obat
sistemik
7. Relatif mudah digunakan dan dapat didesain sebagai sediaan lepas terkontrol yang
digunakan dalam waktu relatif lama (misalnya dalam bentuk transdermal patch atau
semacam plester) sehingga dapat meningkatkan patient compliance.
Namun , tidak semua obat dapat diberikan secara transdermal dengan baik.
Idealnya, obat obat yang akan diberikan secara transdermal memiliki sifat sifat:
a. Memliki bobot molekul relatif kecil (kurang dari 500 Da). Hal ini karena
pada dasarnya stratum corneum pada kulit merupakan barrier yang cukup
efektif untuk menghalangi molekul asing masuk ke tubuh sehingga hanya

molekul molekul yang berukuran sangat kecil sajalah yang dapat


menembusnya
b. Memiliki koefisien partisi sedang (larut baik dalam lipid maupun air)
c. Memiliki titik lebur yang relatif rendah. Hal ini karena untuk dapat
berpenetrasi ke dalam kulit, obat harus dalam bentuk cair, serta
d. Memiliki effective dose yang relatif rendah.
Mengingat syarat keidealan tersebut, maka sistem penghantaran transdermal ini
memiliki keterbatasan:
1. Range obat terbatas (terutama terkait ukuran molekulnya);
2. Dosisnya harus kecil;
3. Kemungkinan terjadinya iritasi dan sensitivitas kulit;
4. Tidak semua bagian tubuh dapat menjadi tempat aplikasi obat obat
transdermal. Misalnya telapak kaki, dll;
5. Harus diwaspadai pre-systemic metabolism mengingat kulit juga
memiliki banyak enzim pemetabolisme.
Faktor fisiologi yang mempengaruhi penyerapan perkutan
1.Keadaan dan umur kulit
a.
b.
c.
d.
e.

efektivitas sawar berkurang


perubahan/kerusakan sel tanduk
Keadaan patologis
Striping
Pelarut organik (pengikisan lemak)

2. Aliran darah
a. Kecepatan penembusan molekul
b. Terutama saat kulit luka/zat aktif secara ionoforesis

3. Tempat pengolesan
a.

Jumlah yang diserap untuk suatu molekul yang sama akan berbeda dan
tergantung pada susunan anatomi dari tempat pengolesan.

b. Ketebalan lapisan tanduk(stratum corneum) berbeda pada setiap bagian tubuh,


antara 9 m untuk kulit scrotum sampai 600 m untuk kulit telapak tangan
dan telapak kaki.
4. Kelembaban dan suhu tubuh
a. Kelembaban normal lapisan tanduk 5-15%
b. Dapat ditingkatkan sampai 50% dg cara dioleskan bahan pembawa yg dpt
menyumbat:
vaselin, minyak atau suatu pembalut impermeabel.
c. Stratum corneum lembab mempunyai afinitas yg sama thd senyawa2 yang
larut dalam air atau dlm lipida struktur histologi sel tanduk dan oleh
benang-benang keratin yang dapat mengembang dalam air dan pada media
lipida amorf yang meresap di sekitarnya
d. Secara in vivo, suhu kulit yang diukur pada keadaan normal, relatif tetap dan
tidak berpengaruh pada peristiwa penyerapan.
e. Semakin tinggi suhu akan meningkatkan permiabilitas kulit.
f. Pembalut impermeabel menyebabkan terjadi peningkatan luas permukaan
kulit sebesar 17%, peningkatan suhu setempat dan kelembaban relatif.

Faktor Obat
1. Konsentrasi obat Umumnya, jumlah obat yang diabsorpsi secara perkutan
per unit luas permukaan per satuan waktu akan meningkat, bila kosentrasi
obat ditambah.
2. Profil pelepasan obat dari pembawanya tergantung dari afinitas obat
terhadap pembawa, kelarutan obat dalam pembawa, dan pH pembawa.

3. Harga koefisien partisi obat tergantung dari kelarutannya dalam air dan
minyak Harga ini menentukan laju perpindahan melewati daerah absorbsi
Koefisien partisi dapat diubah dengan memodifikasi gugus kimia dalam
struktur obat dan variasi pembawa.
4. Kondisi pH akan mempengaruhi tingkat disosiasi serta kelarutan obat yang
bersifat lipofil.
5. Pembawa yang dapat meningkatkan kelembaban kulit akan mendorong
terjadinya absorpsi per kutan dari obat.
6. Waktu kontak obat dengan kulit.
7. Luas permukaan tempat obat dioleskan.
Optimasi Sediaan Perkutan
1. Faktor fisikokimia
- Tetapan difusi
Konsentrasi zat aktif
Koefisien partisi
2. Pemilihan pembawa (vehicle)
Kelarutan dan keadaan termodinamika
Surfaktan
Enhancer absorbsi zat aktif
Iontoforesis
Tetapan Difusi
Bila dihubungkan dengan gerakan Brown, maka tetapan difusi merupakan
fungsi dari bobot

molekul senyawa dan interaksi kimia dg konstituen membran; selain itu juga
tergantung
pada kekentalan media serta suhu.
Hukum Stoke-Einstein
k' = tetapan Boltzman
T = suhu mutlak
r = jari jari molekul yang berdifusi
= kekentalan lingkungan
Konsentrasi Zat Aktif
Jumlah zat aktif yang diserap pada setiap satuan luas permukaan dan satuan
waktu adalah sebanding dengan konsentrasi senyawa dalam media pembawa.
Bila zat aktif dengan konsentrasi tinggi dioleskan pada permukaan kulit tjd
perubahan struktur membran sebagai akibat konsentrasi molekul yang tinggi,
mungkin terjadi perubahan koefisien partisi antara pembawa dan sawar kulit.
Koefisien Partisi
Koefisien partisi yang tinggi mencerminkan afinitas senyawa terhadap
pembawanya; koefisien partisi mendekati satu menunjukkan bahwa molekul
bergerak dlm jumlah sama menuju lapisan tanduk dan pembawa senyawa
yang mempunyai afinitas sangat tinggi thd pembawanya tidak dapat berdifusi
dlm lapisan tanduk.
Jika sifat lipofil sangat besar maka senyawa akan tertumpuk dlm lapisan tanduk
dan tdk mampu berdifusi ke dlm epidermis yg mrp senyawa berair.
Kelarutan dan Keadaan Termodinamika
Difusi molekul terjadi karena adanya perbedaan potensial termodinamika yang
terdapat antara pembawa dengan struktur lipida dari lapisan tanduk dan aliran

yang terjadi selalu berasal dari daerah dengan potensial termodinamika tinggi
menuju daerah dengan potensial yang lebih rendah.
Koefisien partisi zat aktif antara pembawa dengan lapisan tanduk juga dapat
dinyatakan sebagai fungsi koefisien aktivitas termodinamika ..
Bahan aktif dengan konsentrasi tertentu mempunyai aktivitas termodinamika
yang dapat berubah tergantung pada komposisi pembawa.
Bila molekul obat berbentuk kompleks yang larut dalam pembawa, maka
aktivitas termodinamikanya sangat rendah dan jumlah zat yang diserap sangat
kecil
Surfaktan
Lapisan tanduk merupakan sawar yang efektif dalam mencegah penembusan
dari sebagian besar surfaktan.
Surfaktan anionik seperti Natrium lauril sulfat dapat melintasi sawar kulit walau
dalam jumlah kecil.
Alkil-benzena sulfonat, terbukti terikat dalam lapisan tanduk (stratum corneum)
tanpa diikuti penembusan ke lapisan kulit yang lebih dalam.
Enhancher Absorbsi Zat Aktif
Bahan yang mempunyai efek thd permiabilitas sawar(barrier) kulit.
Bbrp bahan bekerja langsung scr kimia pd kulit dan sebagian bahan tdk
mempunyai efek khusus thd barrier misalnya dg mempengaruhi solubilitas
dan/atau dispersibilitas dari bahan obat dan/atau sistem penyampaiannya
( bahan pembawa).
Pelarut organik spt benzene, alcohol, aseton, terbukti dpt meningkatkan
kecepatan penetrasi baik bahan yg larut dalam air atau bahan yg larut dlm
lemak.
Iontoforesis

Untuk beberapa senyawa ion yang penyerapannya ke kulit tidak baik, dan
pemakaian enhancher kimia juga tidak memberikan hasil yang diharapkan,
maka pemberian secara parenteral merupakan suatu pilihan utama.
Alternatif meningkatkan penyerapan secara iontoforesis, artinya dengan
pengaliran listrik terus menerus melintasi kulit yang diolesi obat.
Kulit mengandung air dalam jumlah sedikit, sehingga kulit dapat dianggap
sebagai kapasitor.
Aliran yang dipakai cukup lemah, antara 0,5 - 1 mA/cm 2 dengan maksud agar
tidak terjadi kerusakan kulit.
Elektroda aktif yang diletakkan pada daerah pengolesan adalah anoda untuk
molekul bermuatan positif dan katoda untuk molekul bermuatan negatif.
Iontoforesis akan meningkatkan penyerapan sistemik obat yang dipakai zat
aktif langsung menembus ke dalam dennis dan memasuki sistem peredaran
darah.
Meskipun tehnik iontoforesis telah terbukti dapat meningkatkan absorbsi
perkutan obat-obat yang dapat terionisasi atau obat dalam bentuk ion
(meliputi lidokaine, salisilat dan peptida dan protein, misalnya insulin),
namun keamanan secara klinis dan efikasi masih dievaluasi dan diselidiki
secara mendetail.
Kriteria Obat Sediaan Perkutan
Sifat FISIKA-KIMIA yang cocok
1. BM
2. Uk. Molekul
3. Kelarutan
4. Titik Lebur
TIDAK IRITASI pada kulit (Irritant Dermatitis, Alergik Dermatitis)
CLINICAL NEED
1. Pemakaian Lama
2. Menyenangkan pasien

3. Pengurangan Dosis
4. Efek yang tidak diinginkan pada non target tissue