Anda di halaman 1dari 3

Tradisi Ngopi untuk Saling Berbagi

Posted: Februari 24, 2013 in Uncategorized

Budaya ngopi sambil kongko menjadi gaya hidup urban untuk berbagi pengalaman.

Jika kita menyusuri Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, kita bisa menemukan beberapa kafe atau kedai
kopi yang buka 24 jam. Di dalamnya ada anak muda dan orang tua yang asyik kongko-kongko,
duduk-duduk santai hingga larut dalam pembicaraan yang tidak menentu ujung pangkalnya.
Tentunya sambil ditemani secangkir kopi serta camilan yang fresh dan hangat. Di meja-meja lain,
ada anak muda yang tengah berselancar di dunia maya. Ada pula para pekerja yang duduk
berdampingan membahas rutinitasnya. Di sisi lain, ada mahasiswa yang sedang mojok membaca
buku. Mereka menghabiskan waktu di kedai kopi hingga lupa jam. Sampai-sampai ada orang yang
terlelap oleh alunan musik yang terus berbunyi.

Bagi para penikmat kopi, tak lengkap rasanya jika sehari tidak menyeruput kopi. Minuman
berkafein yang dihasilkan dari biji kopi pilihan ini tidak lagi hanya sebagai penghilang rasa kantuk.
Juga bukan sekadar pelepas dahaga. Kini, ngopi sembari kongko telah menjadi gaya hidup kaum
urban. Tidak hanya di perkotaan, gairah minum kopi di masyarakat pedesaan juga bertambah.
Setidaknya terjadi peningkatan jumlah penikmat kopi di Indonesia sebesar tujuh persen setiap
tahun. Bahkan tren mengopi juga memikat kaum perempuan belakangan ini.

Budaya ngopi sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Kebiasaan ngopi sambil kongko-kongko
mulai berkembang tahun 1700-an. Sejak abad ke 17, tumbuhan kopi arabika dibawa bangsa

Belanda ke Indonesia. Kopi kemudian dibudidayakan di tanah partikelir Kesawung yang kini dikenal
sebagai Pondok Kopi. Kala itu, kopi belum bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Kopi
merupakan minuman berkelas bagi para pembesar kolonial Belanda, karena mereka yang
membawa kopi ke Indonesia. Sementara masyarakat kelas bawah hanya mampu membeli kopi
jagung yang dibakar dan ditumbuk dengan kasar. Namun saat itu kebiasaan kongko-kongko di
warung kopi terus berkembang. Hingga akhirnya kopi memiliki banyak peminat di Indonesia.

Meski budaya ngopi sambil kongko sempat meredup di era 1970-an, kini tren minum kopi mulai
naik kembali. Hal ini didukung dengan munculnya sejumlah kedai yang menyediakan kopi dengan
beraneka rasa dan gaya. Di beberapa kota besar di Indonesia, kedai kopi juga menjamur di manamana. Dari kedai kopi warungan hingga waralaba yang menyasar di mal-mal. Setiap kedai kopi
menjanjikan tampilan dan rasa yang berbeda. Banyak kedai kopi dibangun dengan konsep
mempertahankan tradisi kongko di dalamnya. Tentu saja agar para penikmat kopi tetap bisa
nongkrong, membaca, mengobrol bersama, mendapatkan free Wi-Fi dan free charging untuk
menambah daya listrik telepon genggam. Ruangan kedai pun didesain khusus agar suasana ngopi
benar-benar segar dan nyaman. Fasilitas tersebut ikut menentukan pilihan para penikmat kopi.
Modifikasi kedai ini sejalan dengan perubahan gaya hidup kaum urban yang tengah berkembang di
Indonesia.

Pernah ada ungkapan bahwa minum kopi menunjukkan derajat seseorang. Ungkapan ini dibuktikan
oleh segmen masyarakat kelas menengah atas yang minum kopi beraneka rasa dan gaya di
sejumlah kedai. Tentu kopi yang diminum berbeda rasa dan harga dengan warung kopi di pinggir
jalan. Di seluruh dunia ada sekitar 70 spesies pohon kopi. Namun hanya ada dua spesies kopi yang
secara umum dikenal untuk diproduksi sebagai produk kopi, yaitu kopi arabika dan robusta. Kopi
arabika memiliki kandungan kafein tidak lebih dari 1,5 persen serta memiliki jumlah kromosom
sebanyak 44 kromosom. Kopi jenis ini paling banyak diproduksi sekitar lebih dari 60 persen
produksi kopi dunia. Sedangkan, kopi robusta memiliki kandungan kafein mencapai 2,8 persen dan
memiliki 22 kromosom. Produksi kopi robusta saat ini mencapai sepertiga produksi kopi seluruh
dunia.

Sebagai negara penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam, Indonesia memiliki
jenis kopi yang berbeda, yaitu kopi luwak. Proses pembuatan kopi ini tidak lazim karena diambil

dari kotoran luwak, binatang sejenis musang. Prosesnya diawali dengan dimakannya biji kopi oleh
luwak. Biji kopi hasil kotoran luwak kemudian dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh
dengan air panas. Kopi luwak pun tercipta. Biji kopi ini diyakini sebagai yang terbaik karena
difermentasikan secara alami di dalam sistem percernaan luwak. Aroma dan rasanya memberikan
cita rasa tambahan dalam kopi luwak. Ini alasan utama tingginya harga jual kopi luwak adalah
yang termahal di dunia, yaitu mencapai USD 100 per 450 gram.

Di tengah kesumpekan kota, kedai kopi menjadi ruang publik bagi orang-orang yang penat dengan
kepadatan aktivitas. Sambil menikmati secangkir kopi, orang-orang bisa bercerita ngalor ngidul,
diskusi, debat, lobi, curhat sesama teman. Di beberapa titik, ada orang-orang yang memanfaatkan
kedai kopi sebagai tempat bertukar gagasan. Diskusi bedah buku, pemutaran film, debat politik,
dan acara sosial lain. Bahkan dari obrolan di warung kopi, banyak memicu perubahan sosial di
belahan dunia mana pun, termasuk Indonesia. Singkatnya, kedai kopi menjadi tempat yang
nyaman untuk mencurahkan unek-unek.

Budaya kongko di kedai kopi ini hanya berkembang di sebuah negara yang masyarakatnya secara
kultural bersifat komunal, seperti Indonesia. Berbeda dengan yang terjadi di beberapa wilayah
dunia yang bukan masyarakat mediterania. Budaya mereka bukanlah budaya kongko di kedai atau
warung kopi. Usai bergelut dengan kuliahnya atau aktivisme, mereka kembali menjadi manusia
individual yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Di Indonesia, konsep kongko yang
diadaptasi kedai-kedai kopi adalah budaya warung yang selama ini sudah kita kenal. Warung yang
bersahabat dan harganya terjangkau tentu akan mendorong munculnya jutaan kelas menengah
baru Indonesia. Tak heran jika kedai kopi makin menjamur di berbagai kota. Di tengah kepenatan
orang-orang beraktivitas dan kebosanan berdiam diri di rumah, kedai kopi sederhana dengan
harga terjangkau tetap menjadi pilihan.

http://jongprima.wordpress.com/2013/02/24/tradisi-ngopi-untuk-saling-berbagi/