Anda di halaman 1dari 9

I.

LEARNING OBJECTIVE
A. Bagaimana sejarah profesi veteriner dan filisofi lambang veteriner?
B. Apa saja etika medis veteriner dan kode etik veteriner?
C. Apa saja contoh dari organisasi teritorial dan non teritorial kedokteran hewan?

II. PEMBAHASAN
A. Sejarah profesi veteriner dan filisofi lambang veteriner?
Profesi Veteriner merupakan profesi yang sangat tua di dunia yang muncul
sebagai pengembangan dari Profesi Kedokteran di zaman Yunani Kuno pada 460-367
Sebelum Masehi(SM) oleh Bapak Kedokteran di dunia yaitu Hippocrates.
Metode kedokteran dan dasar-dasar filosofi kedokteran yang dikembangkan oleh
Hippokrates sangat dipahami dan dihayati oleh seorang ilmuwan bernama Aristoteles
(lahir 384 SM) yang menerapkannya pada penanganan penyakit-penyakit hewan.
Pencetus Kedokteran Perbandingan (Comparative Medicine) yaitu penerapan
metode medik yang dipelajari untuk kedokteran manusia kepada spesies hewan adalah
Aristoteles .Ia sangat terkenal dengan bukunya Historia Animalium (Story of
Animals) yang menguraikan lebih dari 500 spesies hewan.
Ia juga menulis buku tentang Pathology Hewan yang mengungkapkan tentang
penyakit-penyakit hewan serta memperkenalkan Kastrasi pada hewan ternak muda dan
efeknya pada pertumbuhan dan banyak lagi metode-metode kedokteran pada berbagai
spesies hewan.
Profesi kesehatan di zaman dahulu kala dimanapun, berakar dari Mythologi dan
hal-hal gaib (magic). Di zaman Yunani kuno, cerita tentang dewa-dewa penyakit dan
penyembuh antara lain Apollo, Chiron(digambarkan sebagai manusia berbadan kuda=
centaur) dan murid-muridnya antara lain yang terkenal adalah Asklepios (latin :
Aesculapius) seorang manusia biasa yang berkemampuan menyembuhkan penyakit
manusia dan hewan.
Simbol dari Aesculapius adalah Ular (As) dan Melingkar (klepios) di batang
pohon dimana ular tidak beracun ini merupakan lambang sacral cara penyembuhan
zaman kuno. Symbol kedokteran kemudian mengambil dari symbol Aesculapius ,
sedangkan profesi kedokteran hewan (veteriner) ada yang mengambil Centaur atau
Aesculapius. Maka lambang profesi veteriner mencantumkan huruf V dari kata
veterinarius bersamaan dengan lambang kedokteran (ular melingkar di tongkat) atau
menggunakan Centaur.

Sejarah Kata Veteriner


Versi 1 :
Di zaman Romawi Kuno dikenal bangsa Etruscans yang sangat menyukai
kuda dan sapi. Hal ini tampak dari gambar-gambar yang merupakan peninggalan kuno.
Hewan pada masa itu mempunyai nilai sakral ataupun nilai martabat dan pada ritualritual khusus digunakan sebagai hewan kurban .
Setiap keberhasilan atau kemenangan,dilakukan perayaan dengan hewan
kurban yang diberi nama-nama khusus.
Kumpulan beberapa hewan kurban yang terdiri dari kombinasi beberapa jenis
hewan antara lain babi (sus) ,biri-biri (ovis) , sapi jantan (bull) disebut souvetaurilia.
Sedangkan orang-orang yang mengurus hewan-hewan sakral yang akan dijadikan
kurban tadi disebut sou-vetaurinarii yang kemudian diyakini sebagai lahirnya istilah
veterinarius
Versi 2 :
Kemungkinan dari terminologi lain yaitu masih di masa Romawi, dikenal
hewan beban sebagai veterina dan suatu kamp penyimpanan hewan-hewan tersebut
disebut veterinarium. Term veterinarii juga digunakan pada dukumen kuno sebagai
orang yang memiliki kekebalan khusus karena memiliki kompetensi khusus.
Dalam jurnal American Veterinary Medical Association 1972, diuraikan sejarah
bagaimana para ilmuwan kedokteran jaman dahulu memerlukan hewan coba untuk
pengembangan ilmu kedokteran manusia, namun mereka

memerlukan veterinarius

untuk menangani hewan-hewan tersebut dan bukan Ferrarius.


Untuk itu ternyata diperlukan veterinarius yang berpendidikan agar memahami
apa yang diperlukan. Kemudian timbulah gelar-gelar Ph.D(Doctor of Philosophy) yang
merupakan awal dari para Veterinarius menjadi medical doctor atau Doctor of
Veterinary Medicine (Bagdja,2005).
B. Etika medis veteriner dan kode etik veteriner
Etika pada dasarnya adalah tentang nilai nilai dan berkaitan dengan
moral.Yang disebut dengan etika medis veteriner adalah nilai nilai yang dipergunakan
pada tindakan tindakan medis/kedokteran yang menetapkan hal hal/tindakan
tindakan yang dikategorikan mal praktek (Bagdja,2005).
Etika adalah segala nilai yang baik dan yang buruk atau yang benar dan yang
salah yang disepakati oleh sekumpulan orang/masyarakat yang memiliki kepentingan
atau profesi yang sama.
Pada Etika Veteriner (Veterinary Ethics) adalah membahas mengenai isu moral
dalam hubungan ilmu kedokteran dengan hewan.
2

Dalam hal ini ada dua (2) aspek etika yang dibahas yaitu :
1. Etika mengenai bagaimana dokter hewan / profesi veteriner dan tenaga-tenaga
pendukungnya (paramedis, perawat hewan, dll) memperlakukan hewan atau dalam
praktek kedokteran.
2. Etika mengenai hewan-hewan yang berada di tangan manusia perlu dijaga hak dan
mendapatkan perlindungan dengan kajian/argumentasi ilmiahnya maupun animal
behaviour mengapa spesies hewan tersebut perlu diperlakukan tertentu serta
manfaatnya.
Ada 4 Jenis Etika Veteriner
a. Etika Veteriner Deskriptif, adalah yang secara umum perilaku sebagai profesi
dan individu yang langsung terlihat baik buruknya oleh masyarakat.
b. Etika Veteriner Profesi (profesional), adalah kesepakatan organisasi
profesinya.
c. Etika Veteriner Administratif, adalah yang diatur pemerintah, berkekuatan
hokum dan dapat diberi sanksi.
d. Etika Veteriner Normatif , adalah norma-norma etika yang benar dan tepat
yang dalam berperilaku sebagai profesi veteriner termasuk terhadap hewan
atau disepakati sebagai norma-norma Kesejahteraan Hewan (Bagja, 2009).
Kode Etik Dokter Hewan akan mengatur Etika dalam hal :
1. Bagaimana berkomitmen terhadap profesi melalui citra diri yang bermartabat dan
kompeten.
2. Bagaimana

berkomitmen

dalam

menangani

dan

memperlakukan

hewan

(menegakkan kesejahteraan hewan / animal welfare).


3. Bagaimana membina hubungan keprofesian veteriner dengan sesama dokter
hewan/sejawatnya.
4. Kode Etik Dokter Hewan Indonesia yang disahkan tahun 1994 walaupun belum
sempurna (perlu revisi) namun telah mengatur tiga hal tersebut di atas.

KODE ETIK VETERINER


BAB I
KEWAJIBAN UMUM
Pasal 1
Dokter Hewan merupakan Warga negara yang baik yangmemanifestasikan dirinya dalam
cara berpikir, bertindak dan menampilkan diri dalam sikap dan budi pekerti luhur dan
penuh sopan santun.
3

Pasal 2
Dokter Hewan menjunjung tinggi Sumpah/Janji Kode Etik Dokter Hewan.
Pasal 3
Dokter hewan tidak akan menggunakan profesinya bertentangan dengan perikemanusiaan
dan usaha pelestarian sumber daya alam.
Pasal 4
Dokter hewan tidak mencantumkan gelar yang tidak ada relevansinya dengan profesi
yang dijalankannya.
Pasal 5
Dokter hewan wajib berhati-hati mematuhi perundangan dan peraturan yang berlaku.
Pasal 6
Dokter Hewan berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan
teknik therapi atau obat baru yang belum teruji kebenarannya..
Pasal 7
Dokter Hewan menerima imbalan sesuai dengan jasa yang diberikan kecuali dengan
keikhlasan , sepengetahuan dan kehendak klien sendiri.

BAB II
KEWAJIBAN TERHADAP PROFESI
Pasal 8
Dokter Hewan dalam menjalankan profesinya wajib mematuhi persyaratan umum dan
khusus yang berlaku sehingga citra profesi dan korsa terpelihara karenanya.
Pasal 9
Dokter Hewan wajib selalu memepertajam pengetahuan, keterampilan dan meningkatkan
perilakunya dengan cara mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Kedokteran Hewan.

Pasal 10
Dokter Hewan yang melakukan prakterk hendaknya memasang papan nama sebagai
informasi praktek yang tidak berlebihan.
Pasal 11
Pemasangan iklan dalam media massa hanya dalam rangka pemberitahuan mulai buka,
pindah, atau penutupan prakteknya.
Pasal 12
Dokter Hewan dianjurkan menulis artikel dalam media massa mengenai Kedokteran
hewan dalam rangka kesejahteraan hewan dan pemiliknya.
Pasal 13
Dokter hewan tidak membantu datau mendorong adanya praktek illegal bahkan wajib
melaporkan bilamana mengetahui adanya praktek illegal itu.
Pasal 14
Dokter Hewan wajib melaporkan kejadian penyakit menular kepada instansi yang
berwenang.

BAB III
KEWAJIBAN TERHADAP PASIEN
Pasal 15
Dokter Hewan memperlakukan pasiendengan penuh perhatian dan kasih sayang
sebagaimana arti tersebut bagi pemiliknya, dan menggunakan segala pengetahuannya,
keterampilannya dan pengalamannya untuk kepentingan pasiennya.
Pasal 16
Dokter Hewan siap menolong pasien dalam keadaan darurat dan atau memberikan jalan
keluarnya apabila tidak mampu dengan menunjuk ke sejawat lainnya yang mampu
melakukannya.
5

Pasal 17
Pasien yang selseai dikonsultasikan oleh seorang sejawat wajib dikembalikan kepada
sejawat yang meminta konsultasi.
Pasal 18
Dokter hewan dengan persetujuan kliennya dapat melakukan Euthanasia (mercy
sleeping), karena diyakininya tindakan itulah yang tebaik sebagai jalan keluar bagi pasien
dan kliennya.
BAB IV
KEWAJIBAN TERHADAP KLIEN
Pasal 19
Dokter Hewan menghargai klien untuk memilih Dokter hewan yang diminatinya.
Pasal 20
Dokter Hewan menghargai Klien untuk setuju/tidak setuju dengan prosedur dan tindakan
medik yang hendak dilakukan Dokter Hewan setelah diberi penjelasan akan alasanalasannya sesaui dengan ilmu Kedokteran Hewan.
Pasal 21
Dokter Hewan tidak menanggapi keluhan (complain) versi klien mengenai sejawat
lainnya.
Pasal 22
Dokter Hewan melakukan klien education dan memberikan penjelasan mengenai
penyakit yang sedang diderita atau yang mungkin dapat diderita (preventive medicine)
hewannya dan kemungkinan yang dapat terjadi. Dalam beberapa hal yang dianggap perlu
Dokter hewan bertindak transparan.

BAB V
KEWAJIBAN TERHADAP
SEJAWAT DOKTER HEWAN
6

Pasal 23
Dokter hewan memperlakukan sejawat lainnya seperti dia ingin diperlakukan seperti
dirinya sendiri.
Pasal 24
Dokter Hewan tidak akan mencemarkan nama baik sejawat Dokter hewan lainnya.
Pasal 25
Dokter Hewan wajib menjawab konsultasi yang diminta sejawat menurut pengetahua,
keterampilan, dan pengalaman yang diayakininya benar.
Pasal 26
Dokter Hewan tidak merebut pasien dan atau menyarankan kepada klien berpindah dari
Dokter Hewan sejawatnya.
BAB VI
KEWAJIBAN TERHADAP DIRI SENDIRI
Pasal 27
Dokter Hewan wajib memelihara bahkan meningkatkan kondisi dirinya sehingga selalu
berpenampilan prima dalam menjalankan profesinya.
Pasal 28
Dokter Hewan tidak mengiklankan kelebihan dirinya secara berlebihan.
BAB VII
PENUTUP
Pasal 29
Dokter Hewan harus berusaha dengan sungguhsungguh menghayati dan mengamalkan
Kode Etik Dokter Hewan Indonesia dalam pekerjaan profesinya sehari-hari, demi untuk
mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan segara.
Kode Etik Dokter Hewan Indonesia, janganlah merupakan kata-kata dan tulisan di kertas
belaka. Setiap Dokter Hewan harus berusaha sungguh-sungguh menghayati dan
mengamalkannya dalam pekerjaan profesi sehari-hari agar martabat profesi tidak akan
kahilangan keluhuran dan kesuciannya.
7

Oleh karena itu, setiap Dokter Hewan harus menjaga nama profesi dengan menjauhkan
diri dari perbuatan yang bertentangan atau tidak sesaui dengan ilmu,moral,iman dan etik.
Undang-undang Negara, Peraturan pemerintah, Ketentuan-ketentuan moral dan etik
merupakan batas gerak yang tidak boleh dilanggar, kalau telah mulai keluar dari batasbatas tersebut maka akan timbul pertentangan antara kewajiban dan keinginan antara
suara hati nurani dan iblis. Pikiran tenteram dan hati damai merupakan syarat mutlak
untuk hidup bahagia di dunia, tidak akan dinikmati berapapun kebendaan yang dimiliki.
(Anonim, 1994)

C. Contoh dari organisasi teritorial dan non teritorial kedokteran hewan


1. Organisasi Teritorial
Organisasi teritorial adalah organisasi yang memiliki batasan wilayah kerja. Organisasi
teritorial yang bergerak di bidang profesi veteriner adalah PDHI yang cabangcabangnya memiliki batasan wilayah kerja (Akoso, 2005).
2.

Organisasi Non-Teritorial

Organisasi Non-Teritorial adalah Organisasi Spesialis di Bawah PDHI atau yang


dikenal dengan ONT (organisasi Non teritorial) PDHI.
Contoh ONT
a. Ikatan Dokter Hewan Sapi Perah Indonesia (Indonesian Dairy Cattle Veterinary
Association)
b. Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Aquatik dan Hewan Eksotik Indonesia
(Indonesian Wild life, Aquatic and Exotic Animal Veterinary Association)
c. Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Indonesia (Indonesian Small Animal
Practitioner Veterinary Association
d. Asosiasi Kesehatan Masyarakat Veteriner Indonesia (Indonesian Society of
Veterinary Public Health)
e. Asosiasi Pathologi Veteriner Indonesia (Indonesian Veterinary Pathology
Association)
f. Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (Indonesian Poultry Veterinary
Association)
g. Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Laboratorium Indonesia (Indonesian
Laboratory Animal Practitioner Veterinary Association)
h. Ikatan Dokter Hewan Karantina Indonesia (Indonesian Veterinary Quarantine
Association)
8

i. Asosiasi Epidemiologi Veteriner Indonesia (Indonesian Veterinary Epidemiology


Association)
j. Asosiasi Dokter Hewan Akupunktur Indonesia (Indonesian Veterinary Akupunktur
Association)
k. Asosiasi Farmakologi dan Farmasi Veteriner Indonesia (Indonesian Veterinary
Pharmacology and Pharmacy Association)
l. Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Kuda Indonesia (dalam proses)
m. Asosiasi Dokter Hewan Medik Reproduksi Indonesia (dalam proses) (Akoso,
2005).

Daftar Pustaka

Akoso, B.T. 2005. Peran dan Posisi Profesi Dokter Hewan. Munas PDHI: Jakarta
Anonimus, 1994. Kode Etik Dokter Hewan Indonesia. Kongres XII PDHI: Surabaya
Bagja, W. 2005. Peningkatan Profesionalisme Dokter Hewan. Munas PDHI: Jakarta
Gunawan. 1992. Memahami Etika Kedokteran. Kanisius: Yogyakarta