Anda di halaman 1dari 205

Pelatihan Berbasis Kkinerja

KATA PENGANTAR

Mencermati buku yang ada dihadapan pembaca yang budiman, sungguh mengesankan baik
secara konseptual yang disusun secara apik maupun implementasi yang terarah secara
sistematis dan didukung dengan pengungkapan gaya bahasa yang lugas dan jelas. Sehingga
kita membuat lebih penasaran untuk membaca secara teliti dari bab demi bab buku ini.
Terlepas dari semua itu, buku ini memang perlu anda miliki karena memuat topik dan kajian
kontemporer dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya para pengelola lembaga
pelatihan dan para pelatih (instructur).
Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada penulis, dengan diterbitkan buku berjudul:
Pelatihan Berbasis Kinerja: Konsep dan Implementasi pada Pelatihan Guru/Tutor.
Buku ini mencoba mengupas dengan tuntas suatu model pelatihan berbasis kinerja
(performance based training Model) dimana adanya perpaduan pendekatan kompetensi dan
kinerja untuk mencapai kompetensi ideal yang diharapkan.
Melalui buku ini pula kita diajak untuk memahami suatu pendekatan pelatihan yang mampu
meningkatkan kompetensi guru/tutor dalam pembelajaran secara berkualitas, sehingga pada
gilirannya berdampak pada meningkatnya mutu lulusan suatu lembaga pelatihan.
Mudah-mudahan dengan adanya buku ini dapat membantu kita dalam mendisain programprogram pelatihan guru/tutor di tanah air tercinta secara efektif dan efisien. Amien.

Jakarta, 20 Mei 2011


Rektor UNJ

Prof. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd


NIP. 19510316 198703 1001

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

PRAKATA

Buku yang berjudul: Pelatihan Berbasis Kinerja Suatu Konsep dan Implementasi dalam
Pelatihan Guru/tutor. memiliki dua kata kunci yaitu (1) pelatihan dan (2) kinerja guru/tutor.
Pelatihan merupakan kegiatan pengembangan sumber daya manusia, dengan berbagai fungsi
dan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pelatihan adalah aktivitas pendidikan secara
singkat, pembelajaran secara praktis dan bimbingan secara teknis dengan tujuan
memfasilitasi agar peserta pelatihan memperoleh peningkatakan kompetensi baik dalam
dimensi kognitif, skill maupun afektif yang dibutuhkan. David Dubois (1993)
mengemukakan model pelatihan lima tahap (1) analisis kebutuhan, penilaian dan
perencanaan, (2) pengembangan model kompetensi yang memperhatikan tujuan, strategi,
sasaran dan rencana organisasi, (3) perencanaan kurikulum, (4) perencanaan dan
pengembangan intervensi pembelajaran, dan (5) evaluasi pelatihan
Pelatihan berbasis kinerja merupakan salah satu dari tiga pendekatan lainnya yaitu (1)
pendekatan tradisional dan (2) pendekatan eksperiens. Model pelatihan berbasis kinerja
diharapkan dapat (1) meningkatkan sumber daya manusia, (2) meningkatkan kinerja
guru/tutor dalam pembelajaran. Selajutnya penulisan buku ini terdiri atas delapan bab,
masing-masing bab memuat hal-hal sebagai berikut: Bab 1 menjelaskan masalah pelatihan
dan manfaat pelatihan. Bab 2 Pelatihan Meningkatkan SDM. Bab 3 membahas konsep
Pelatihan Berbasis Kompetensi,. Bab 4 mengkaji tentang Pembelajaran dalam Pelatihan. Bab
5 membahas tentang Pelatihan Berbasis Kinerja. Bab 6 berisi tentang Implementasi Model
Pelatihan Berbasis Kinerja. Bab 7 bersisi tentang Pelatihan Meningkatkan Kompetensi. dan
Bab 9 berisi tentang kesimpulan dan rekomendasi.

Jakarta,

Maret 2011

Penulis,

Anan Sutisna

ii

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

UCAPAN TERIMA KASIH

Pertama dan utama penulis memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena atas
izin, karunia dan rahmat-Nya, penulisan buku ini dapat diselesaikan. Buku ini merupakan seri
pengembangan sumber daya manusia melalui model pelatihan berbasis kinerja. Pelatihan itu
sendiri adalah salah satu bentuk kegiatan pendidikan luar sekolah (PLS). Sudah barang tentu
buku ini dapat diselesaikan berkat kontribusi pemikiran Bapak Prof. Dr. H. Sutaryat
Trisnamansyah MA, Bapak Prof. Dr. H. Achmad Hufad, M.Ed dan Bapak Prof. Dr. H.
Mustofa Kamil, M.Pd, sebagai pembimbing penulis sewaktu studi di program Doktor di
Universitas Pendidikan Indonesia. Kemudian Bapak Prof. Dr. H. Bedjo Sujanto, M.Pd,
Rektor Univeristas Negeri Jakarta, sebagai pimpinan institusi penulis bekerja yang telah
memberikan kata pengantar dalam buku ini. Serta tidak lupa secara pribadi penulis Wiwi
Karyati, S.Pd, Kahfi Azzuhry, Wizananta dan Tendy Fajarsubhi, sebagai istri dan anak
penulis yang telah memberikan iringan doa pada penulis untuk menyelesaikan buku ini.
Semuanya penulis ucapan terima kasih, mudah-mudah segala pengorbanan dan partisipasi
semua pihak yang telah diberikan kepada penulis bernilai ibadah dan diberikan balasan
pahala yang setimpal. Amin yaa rabbal alamin.

Jakarta, April 2011


Penulis

Anan Sutisna

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

iii

Pelatihan Berbasis Kkinerja

DAFTAR ISI

Hal.
KATA PENGANTAR Rektor UNJ ............................................................

PRAKATA ..................................................................................................

ii

UCAPAN TERIMA KASIH .......................................................................

iii

DAFTAR ISI ................................................................................................

iv

BAB 1. PENDAHULUAN
A. Selayang Pandang Pelatihan ....................................................................

B. Masalah Pelatihan....................................................................................

C. Manfaat Pelatihan ....................................................................................

11

Rangkuman ....................................................................................................

13

Referensi .......................................................................................................

13

BAB 2. TEORI DAN KONSEP PELATIHAN


A. Batasan Pelatihan .....................................................................................

15

B. Pendekatan Pelatihan ...............................................................................

19

C. Asas-Asas Pelatihan .................................................................................

22

D. Model-Model Pelatihan ............................................................................

24

Rangkuman ....................................................................................................

32

Referensi ........................................................................................................

33

BAB 3. PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI


A. Konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi ..................................................

35

B. Kompetensi Yang Dibutuhkan .................................................................

39

C. Proses Pelatihan Berbasis Komptensi ......................................................

40

D. Konsep Kompetensi .................................................................................

42

E. Profil Kompetensi Pedagogik dan Andragogik Guru/Tutor.....................

45

Rangkuman ....................................................................................................

53

iv

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi ........................................................................................................

53

BAB 4. PEMBELAJARAN DALAM PELATIHAN


A. Teori Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi) ....................................

55

B. Teori Pembelajaran Partisipatif ................................................................

62

C. Alur Pikir Pembelajaran dalam Pelatihan ................................................

66

D. Kinerja Guru/Tutor dalam Pembelajaran .................................................

68

E. Efektivitas Pelatihan Dalam Meningkatkatkan Kompetensi ....................

69

Rangkuman ....................................................................................................

72

Referensi ........................................................................................................

73

BAB 5. MODEL PELATIHAN BERBASIS KINERJA


A. Studi Kasus pada Pelatihan Guru/Tutor Di DKI Jakarta .........................

75

B. Pengembangan Model Konseptual Pelatihan ...........................................

89

C. Pengujian Model Hipotetik ......................................................................

100

Rangkuman ....................................................................................................

111

Referensi ........................................................................................................

112

BAB 6. IMPLEMENTASI MODEL PELATIHAN BERBASIS


KINERJA
A. Implementasi Model Pelatihan .................................................................

113

B. Data Hasil Implementasi Model Pelatihan ...............................................

126

C. Hasil Temuan Implementasi ....................................................................

130

D. Model Pelatihan Direkomendasikan ........................................................

135

Rangkuman ....................................................................................................

137

Referensi ........................................................................................................

138

BAB 7. PELATIHAN MENINGKATKAN KOMPETENSI


A. Pendahuluan ............................................................................................

141

B. Analisis SWOT .......................................................................................

143

C. Sistem Program Pelatihan Guru/Tutor ....................................................

147

D. Pelatihan Meningkatkan Kompetensi ......................................................

153

Rangkuman ....................................................................................................

157

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi ........................................................................................................

158

BAB 8. PENUTUP
A. Kesimpulan ..............................................................................................

159

B. Rekomendasi ............................................................................................

162

Rangkuman ....................................................................................................

166

Referensi ........................................................................................................

166

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

167

LAMPIRAN ..................................................................................................

173

GLOSARIUM ...............................................................................................

195

INDEKS ........................................................................................................

198

RIWAYAT PENULIS ..................................................................................

199

vi

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 1. PENDAHULUAN

Setelah mempelajari bab ini diharapakan para pembaca memiliki pemahaman tentang:
1. Pelatihan merupakan salah satu aktivitas pendidikan nonformal.
2. Pelatihan dijadikan sarana untuk pengembangan sumber daya manusia dalam
meningkatkan produktifitas sesuai visi dan misi lembaga/organisasi.
3. Permasalahan yang sering muncul dalam pelatihan pengembangan sumber daya manusia
dalam suatu organisasi.
4. Manfaat pelatihan bagi lembaga/organisasi maupun bagi setiap individu.
A. Selayang Pandang Pelatihan
Salah satu pilar terpenting dalam meningkatkan kualitas manusia adalah melalui pendidikan.
Oleh karena itu pembangunan pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan dalam menghadapi tantangan nasional dan global. Pendidikan
berfungsi untuk mengembangkan diri peserta didik, pemenuhan kebutuhan hidup secara
material maupun non material dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi
demi meningkatkan kualitas kehidupan di masa yang akan datang. Pendidikan
diselenggarakan melalui jalur formal, non-formal, dan informal. Ketiga jalur pendidikan itu
dilaksanakan untuk melayani semua warga negara berdasarkan pada prinsip pendidikan
sepanjang hayat menuju terbentuknya manusia Indonesia yang berkualitas dan sejahtera.
Pendidikan non-formal (PNF) sebagai subsistem pendidikan nasional, dalam kiprahnya dapat
memberikan kontribusi terhadap peningkatan index pengembangan manusia (Human
Development Index), yaitu melalui berbagai program pendidikan non-formal. Salah satunya
program pendidikan non-formal yang sedang populer diantaranya adalah pelatihan.
Kebutuhan terhadap layanan program pelatihan dewasa ini semakin meningkat, sejalan
dengan kebijakan pemerintah dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
tuntutan kualitas hidup yang semakin meningkat.

Pada tahun 2006 tidak kurang dari 39.000 satuan pendidikan non-formal yang memberikan
layanan berbagai jenis program pendidikan non formal kepada 48 juta penduduk diantaranya;

Pendahuluan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

18,3 juta dilayani melalui program pendidikan anak usia dini, 12,7 juta mengikuti program
pendidikan kesetaraan, 16,5 juta mengikuti program pendidikan keaksaraan dan 1,5 juta
mengikuti program teknis melalui berbagai macam pelatihan dan kursus (Suryadi: 2006).
Permasalahan yang dihadapi dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan non-formal
dipengaruhi oleh beberapa faktor; salah satu faktor utama adalah kualitas Pendidik dan
Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal (PTK-PNF) dalam hal ini berkaitan dengan
kualifikasi pendidikan dan kompetensi guru/tutor. Permasalahan umum yang dihadapi PTKPNF dalam kualifikasi akademik pada saat ini adalah sekitar 40% dari 121.301 orang
pendidik dan tenaga kependidikan

belum memenuhi kualifikasi minimal sesuai dengan

Standar Nasional Pendidikan. Di samping itu kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
mencapai 60% dari 121.301 orang bekerja tidak sesuai keahliannya (miss-macth), artinya
masih belum terpenuhi sesuai harapan ideal yang dituntut penyelenggara program, bahkan
belum terselenggaranya sertifikasi profesi bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Pendidikan Non-Formal (Syamsudin: 2008).

Berkaitan dengan kebijakan pendidikan kesetaran yang tertuang dalam Keputusan Mentri
Pendidikan Nasional Nomor: 0132/U/2004 tentang Program Paket C setara SMA, maka
keberadaan program tersebut semakin dibutuhkan oleh masyarakat, oleh karena itu
pemerintah berupaya meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dengan keluarnya
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 14 Tahun 2007 tantang standar isi
Pendidikan Kesetaraan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 3 Tahun 2008
tentang standar proses Pendidikan Kesetaraan. Hanya sayang kebijakan ini tidak diiringi
dengan penyiapan tenaga guru/tutor yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan bidang
studi yang dipersyaratkan tersebut. Hal ini menjadi permasalahan yang cukup krusial dalam
pelaksanaan program pendidikan kesetaraan tersebut. Adanya kebijakan tersebut, makin jelas bahwa
keberadaan pendidikan kesetaraan perlu lebih dioptimalkan penyelenggaraannya, untuk
mendukung kesempatan anggota masyarakat memperoleh pendidikan melalui pendidikan
kesetaraan. Namun dalam penyelenggaraannya terdapat keterbatasan, di antaranya bahwa jumlah tenaga
ahli dan guru/tutor yang kompeten dan profesional masih sangat terbatas. Sejalan dengan
pandangan tersebut, sekalipun secara kuantitatif guru/tutor pendidikan kesetaraan sudah memadai
secara proporsional, namun secara kualitatif keberadaan guru/tutor tersebut masih jauh dari standar yang
diisyaratkan, sehingga dalam konteks pelaksanakaan pendidikan kesetaraan, guru/tutor bidang
keahliannya terjadi ketidakcocokan (miss-match) dalam melaksanakan tugas pembelajaran.
2

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan dan perluasan akses dari segala

lapisan

sosial

masyarakat terhadap pendidikan, maka keberadaan tutor dalam penyelenggaraan pendidikan


keseataraan merupakan komponen penting, dan perlu dikembangkan profesionalitasnya dalam
penyelenggaraan program pembelajaran tersebut. Salah satu persoalan yang sangat krusial pada
pelaksanaan pendidikan kesetaraan adalah kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor dimana
hasil penelitian menunjukkan masih lemah dan tidak sesuai tuntutan pelaksanaan pembelajaran,
mengingat para tutor adalah berasal dari berbagai latar belakang pendidikan non-kependidikan (Sutisna:
2010). Indikasi lemahnya kompetensi tutor tersebut didasarkan pada miss- macth antara bidang
keahlian dengan tugas mengajar tutor serta dihubungkan dengan tuntutan Peraturan Pemenntah Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Keadaan ini menjadi dasar perlunya pengembangan kualitas guru/tutor, di antaranya melalui
pelatihan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, agar kualitas pembelajaran dalam
penyelenggaraan pendidikan kesetaraan meningkat. Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan
upaya pengembangan kompetensi tutor melalui program-program pelatihan. Namun sayangnya
masih sangat terbatas pada pelatihan dengan cara-cara konvensional, dan berupaya untuk
meningkatkan penguasaan guru/tutor pada aspek substansi materi mata pelajaran yang diwajibkan
dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Menyadari tentang kondisi tersebut baik secara
kualifikasi maupun kompetensi guru/tutor yang masih sangat terbatas pada pendidikan kesetaraan,
Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan upaya peningkatannya, baik melalui jalur
pendidikan S1 maupun jalur pelatihan. Upaya pemenuhan peningkatan kompetensi guru/tutor
melalui program-program pelatihan, misalnya pelatihan penguasaan bidang studi bagi guru/tutor,
namun itupun belum mampu menjangkau secara luas keseluruhan guru/tutor pada seluruh
kelompok belajar pendidikan kesetaraan. Pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor, belum secara khusus dan proporsional dilakukan pelatihannya.
Pelatihan untuk pengembangan kompetensi guru/tutor yang dilaksanakan oleh lembaga-lembaga
Diklat dilingkungan Departemen Pendidikan Nasional, masih menunjukkan pola-pola pelatihan
konvensional, belum mengembangkan model pelatihan dengan terlebih dahulu melakukan asesmen
kinerja pembelajarannya guru/tutor apakah sudah efektif atau belum. Untuk itu sangat
dimungkinkan adanya upaya pengembangan suatu model pelatihan berbasis kinerja dalam
peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik. Model pelatihan ini agar lebih kontekstual

Pendahuluan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

terhadap tugas guru/tutor pada pendidikan kesetaraan, sebagai upaya meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor yang lebih efektif dan efisien.

Sesuai dengan salah satu misi pendidikan nasional

adalah mengupayakan perluasan dan

pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
Upaya untuk mewujudkan hal tersebut, di antara melalui penyelenggaraan pendidikan
kesetaraan dengan mengupayakan keberadaan guru/tutor yang profesional. Guru/Tutor adalah
agen pembelajaran yang harus memiliki kompetensi, agar profesional di dalam melaksanakan
tugasnya. Oleh sebab itu guru/tutor pendidikan kesetaraan perlu dibina kompetensinya termasuk
kompetensi pedagogik dan andragogik secara berkelanjutan, diantaranya melalui model pelatihan
berbasis kinerja (performance based training) yang lebih dikembangkan, agar pelatihan itu lebih
efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan.

Dalam Appeal Training Materials For Continuing Education Personnel (UNESCO: 1993), bahwa
secara umum prinsip penerapan pendidikan luar sekolah, dan khususnya pendidikan kesetaraan adalah
pemanfaatan yang efektif dari personalia terdidik, seperti guru/tutor dengan sertifikat mengajar, atau
lulusan pendidikan menengah ataupun universitas sebagai guru/tutor untuk dilatih dalam metode
mengajar yang relevan. Personalia semacam ini harus dilatih tentang teknik-teknik motivasi,
pengelolaan program, dan teknik pembelajaran, tidak hanya tentang pendekatan pada warga
belajar secara keseluruhan mengenai kognitif, afektif dan psikomotor, melainkan juga dalam
penguasaan pengetahuan fungsional, keterampilan-keterampilan yang relevan, serta pengembangan
sikap mental yang sesuai. Sejalan dengan pernyataan tersebut, guru/tutor pendidikan kesetaraan,
mendesak untuk ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan yang lebih efektif dan efisien.

Dalam kontek pengelolaan pendidikan kesetaraan, guru/tutor mempunyai peranan strategis, di


samping faktor-faktor lain seperti sarana prasarana, biaya, kurikulum, sistem pengelolaan, dan
peserta didik. Apa yang disiapkan dalam pengelolaan pendidikan, seperti sarana prasarana, biaya,
kurikulum, hanya. akan berarti jika guru/tutornya memiliki kinerja secara profesional. Peran dan posisi
guru/tutor tersebut, terbukti sesuai dengan yang diungkapkan Knowles (1986: 246), bahwa guru/tutor
yang efektif memerlukan pengembangan keterampilan dan sikap yang memfasilitasi belajar.
Seorang guru/tutor harus memiliki kompetensi yang diharapkan warga belajar dapat membantu
aspek-aspek: mengidentifikasi kebutuhan belajar, merancang tujuan pembelajaran, menciptakan
lingkungan belajar kondusif dan bermanfaat, merancang pengalaman dan kegiatan belajar yang menarik.
4

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Peranan guru/tutor yang cukup strategis dalam setiap upaya peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi
pendidikan, khususnya dalam pelaksanaan pendidikan kesetaraan, maka peningkatan
profesionalisme guru/tutor merupakan kebutuhan. Benar bahwa mutu pendidikan bukan hanya
ditentukan oleh guru/tutor, melainkan oleh mutu masukan (warga belajar), sarana, manajemen, dan
faktor-faktor eksternal lainnya. Akan tetapi seberapa banyak warga belajar mengalami kemajuan
dalam belajarnya, banyak bergantung kepada kepiawaian guru/tutor dalam membelajarkannya. Apa
yang dimaksud guru/tutor yang profesional paling tidak mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. mempunyai komitmen pada proses belajar peserta didik;
2. menguasai secara mendalam materi pelajaran dan cara-cara mengajarkannya;
3. mempu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya;
dan
4. merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya yang memungkinkan
mereka untuk selalu meningkatkan profesionalismenya (Supriadi, 1998: 179).
Tanpa guru/tutor menguasai bahan pelajaran dan strategi belajar mengajar, tanpa guru/tutor dapat
mendorong warga belajar untuk belajar sungguh-sungguh guna mencapai prestasi yang tinggi, maka
segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang

diharapkan.

Profesionalisme guru/tutor merupakan proses yang dijalaninya secara terus menerus. Dalam proses
ini bisa melalui pendidikan pra-jabatan (preservice education), pendidikan dalam jabatan
termasuk pelatihan (in-service training), pembinaan dari organisasi profesi guru/tutor dan termasuk
penghargaan masyarakat terhadap profesi guru/tutor, penegakan kode etik profesi, sertifikasi,
peningkatan kualitas calon guru/tutor, besar kecilnya gaji/insentif, dan lain-lain bersama-sama
menentukan profesionalisme guru/tutor. Mengingat peranan strategis guru/tutor dalam setiap upaya
peningkatan mutu, relevansi, dan efisiensi pendidikan kesetaraan, maka peningkatan kompetensi
guru/tutor merupakan kebutuhan yang sangat urgen dalam mendorong terwujudnya mutu
pendidikan kesetaraan.

Peranan guru/tutor dalam meningkatkan mutu pendidikan kesetaraan dapat dipahami dari hakekat
guru/tutor yang selama ini dijadikan landasan asumsi dalam perancangan program pelatihan.
Menurut UNESCO (1993: 90), asumsi-asumsi tersebut dijelaskan bahwa guru/tutor dalam
program post-literacy, adalah sebagai agen pembaharu, yang memerlukan kompetensi yang harus
dikembangkan di antaranya yaitu:

Pendahuluan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1. memahami komunitas dan mengidentifikasi kelompok belajar;


2. memahami hubungan program dengan rencana pengembangan;
3. menerapkan keterampilan-keterampilan bekerja dengan orang dewasa;
4. menerapkan keterampilan komunikasi dan motivasi;
5. menerapkan keterampilan manajemen yang relevan;
6. meningkatkan keterampilan kepemimpinan;
7. mengembangkan dan menyesuaikan bahan belajar;
8. mengorganisasikan pendekatan belajar, dan
9. menggerakkan sumber dan mengorganisasikan pusat belajar.

Menghadapi tantangan seperti ini, potensi guru/tutor pendidikan kesetaraan memerlukan upaya
peningkatan kompetensinya, mengingat perannya yang sangat penting dalam pengembangan program
pembelajaran. Tingginya angka putus sekolah adalah merupakan salah satu faktor penting yang
menjadi dasar perlunya ditingkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Apalagi diikuti
dengan meningkatnya angka prosentase tidak lulus ujian nasional bagi peserta didik pendidikan formal,
sehingga menambah banyak input yang akan mengikuti ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK)
setiap tahunnya.

Pemerintah di satu sisi telah mengupayakan bagi warga putus sekolah untuk terlayani dalam
pendidikan kesetaraan, yaitu melalui pelaksanaan program paket A setara SD, paket B setara SLTP
dan paket C setara SMA. Bahkan dalam kaitannya dengan wajib belajar 12 tahun, khususnya
program paket C lulusannya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.
Namun dalam pelaksanaannya masih mengalami berbagai kendala diantaranya, masih terbatasnnya
jumlah dan mutu tenaga profesional pada institusi Pendidikan Luar Sekolah di tingkat pusat dan
daerah dalam mengelola dan mengembangkan program tersebut. Kondisi ini menyebabkan
pembelajaran pada penyelenggaraan pendidikan kesetaraan tersebut, masih dirasakan belum efektif.
Efektifnya pembelajaran pada penyelenggaraan program tersebut, antara lain ditentukan oleh
guru/tutor yang jumlahnya belum memadai secara

proporsional, baik kualifikasi akademik

maupun kompetensi yang sesuai standar kompetensi yang ditetapkan. Belum efektifhya
pembelajaran kesetaraan disebabkan antara lain masih terjadinya ketidakcocokan (miss-match)
keahlian dalam melaksanakan tugas mengajar guru/tutor yang menyebabkan lemahnya kompetensi
guru/tutor dalam mengelola pendidikan kesetaraan.

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Di sisi lain pemerintah telah menerapkan kebijakan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan


melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hal ini dapat dipahami karena PKBM
sebagai lembaga pendidikan nonformal yang berazaskan dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk
masyarakat, sehingga memiliki akses yang sangat mudah terhadap warga belajar yang ada di akar
rumput paling bawah (grassroott), termasuk dalam melakukan rekrutmen para tenaga guru/tutor di
PKBM dari masyarakat, sehigga konsekuensi logis bahwa kompetensi mereka perlu dikembangkan
agar mereka profesional memenuhi standar sebagai agen pembelajaran dengan cara atau model
yang lebih efektif dan efisien sesuai karakteristik guru/tutor. Dengan adanya pendidikan kesetaraan di
PKBM, semestinya termasuk pengembangan kompetensi guru/tutornya dilakukan melalui pelatihan
baik

oleh Dinas Pendidikan Provinsi maupun oleh Lembaga atau Badan yang mempunyai

kewenangan untuk melaksanakan program pelatihan guru/tutor yang tidak selalu bergantung pada
anggaran APBD/APBN. Walaupun pelatihan yang diselenggarakan umumnya menyerap dana yang
tidak sedikit, namun dampak dari hasil pelatihan belum jelas. Sebagaimana hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa kontribusi hasil pelatihan terhadap kinerja guru/tutor Pendidikan
kesetaraan sebesar 21.53% (Wariyanto: 2005).

Melihat kondisi seperti itu, maka alternatif yang mungkin adalah mengembangkan model pelatihan
berbasis kinerja dimana secara kontekstual tugas pokok guru/tutor dalam pembelajaran di nilai ujuk
kerjanya, lalu dianalisis bagian kompetensi mana yang dianggap lemah. Sehingga kompetensi
tersebut yang di desain dalam suatu pelatihan, untuk program pelatihan yang dikembangkan dapat
meningkatkan kompetensi. Pengembangan kompetensi guru/tutor melalui competency based training
(CBT) dengan model pelatihan berbasis kinerja ini dikembangkan, diharapkan lebih efektif, karena
lebih kontekstual berkaitan dengan pelaksanaan tugas pembelajaran guru/tutor di kelompok
belajar. Di samping itu juga lebih efisien dan efektif, karena materi latihan sesuai dengan
kebutuhan aktual peserta. Pelatihan yang dilaksanakan setidaknya meliputi:
1. perencanaan yang dirancang oleh para pengambil kebijakan dan penyelenggara,
2. proses pembelajaran dilaksanakan dengan bantuan para fasilitator secara praktis,
3. rancangan dan pelaksanaan evaluasi, dan
4. pelaksnaan refleksi hasil belajar dilakukan pada akhir kegiatan.

Dari keempat komponen pelatihan tersebut, proses pembelajaran yang sangat menentukan untuk
terjadinya perubahan kompetensi para guru/tutor yang dilatih dan perlu terus dikembangkan.
Pengelolaan pembelajaran pendidikan kesetaraan di PKBM dalam kenyataannya masih belum
Pendahuluan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

optimal. Belum optimalnya pelaksanaan pembelajaran tersebut, disebabkan antara lain masih lemahnya
kompetensi guru/tutor dalam hal:
1. penguasaan landasan pendidikan;
2. pengelolaan program pembelajaran;
3. penggunaan media dan sumber belajar;
4. pengelolaan proses pembelajaran, dan
5. perancangan dan pelaksanaan evaluasi pembelajaran.

Kelemahan seperti itu berdampak pada kurang efektifnya pembelajaran pendidikan keseataraan.
Disamping lemahnya profil kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan tersebut juga
dimungkinkan akibat dari miss-match atau ketidaksesuaian tugas mengajar dengan bidang keahlian
guru/tutor. Hal ini menunjukkan bahwa pelatihan guru/tutor yang selama ini dilaksanakan belum
optimal hasilnya, belum efektif pelaksanaannya, dan belum terlihat dampaknya terhadap
kompetensi guru/tutor. Hal ini dikarenakan model pelatihan yang selama ini dilaksanakan belum
berkembang, masih mempertahankan pola-pola pelatihan secara konvensional, dan masih terbatas
pada pelatihan untuk peningkatan penguasaan substansi bidang studi. Upaya peningkatan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor sendiri kurang memperoleh porsi yang cukup,
padahal sebagian besar guru/tutor miss-macth antara bidang keahlian dengan tugas mengajarnya.
Penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik bagi guru/tutor pendidikan kesetaraan di
lembaga pendidikan sebagai agen pembelajaran, merupakan faktor penting untuk menjadikan
guru/tutor yang profesional. Dengan demikaan guru/tutor pendidikan kesetaraan perlu pengembangan
kompetensi pedagogik dan andragogiknya melalui suatu model pelatihan berbasis kinerja
(performance based training).

B. Masalah Pelatihan

Berdasarkan pengamatan penulis yang menjadi permasalahan dalam pelatihan pengembangan


sumber daya manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan secara umum dapat dilihat pada
aspek:
1. Kemampuan melakukan penilaian kebutuhan pelatihan
2. Kemampuan membuat desain pengembangan dan evaluasi program pelatihan;
3. Kemampuan pemasaran program pelatihan dan
4. Kemampuan melakukan analisis cost benefit.
8

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Kemampuan melakukan penilaian kebutuhan pelatihan bagi para praktisi HRD harus pandai
mendesain dan melakukan penilaian kebutuhan sebelum mendesain dan mengembangkan
program pembelajaran dan aktivitas pelatihan SDM. Alasannya adalah:
1. untuk mengidentifikasi bidang permasalahan tertentu dalam organisasi;
2. untuk mengidentifikasi kekurangan pembelajaran gunda dijadikan sebagai dasar program
dan aktivitas;
3. untuk menentukan dasar dari evaluasi learner di masa yang akan datang; dan
4. untuk menentukan cost and benefit dari program dan aktivitas untuk memperoleh
dukungan dari organisasi.

Kemampuan membuat desain pengembangan dan evaluasi program bagi para praktisi HRD
merupakan inti dari program pembelajaran dan aktivitas pelatihan kerja adalah desain
pelatihan etos kerja, yaitu blueprint yang membentuk seluruh pembelajaran spiritual
enrichment dalam organisasi. Tanpa program etos kerja yang didesain dengan semestinya,
maka pembelajaran spiritual enrichment tidak akan konsisten dan tidak akan memperlihatkan
hasil yang diinginkan. Praktisi HRD mesti memiliki kemampuan mengembangkan program
kerja sdm dan aktivitas pembelajaran quantum touch yang efektif serta mampu mengevaluasi
hasil spiritual enrichment secara akurat.

Kemampuan pemasaran program pelatihan, para pengelola program pengembangan sumber


daya manusia mestinya juga memiliki kemampuan untuk memasarkan program-program
pelatihan sdm kepada top manajemen dan juga direktur keuangan. Ia harus mampu
membranding dan mengkomunikasikan benefit dan potensi financial return yang dapat diraih
dari segenap program pengembangan sumber daya manusia. Tanpa kemampuan melakukan
pemasaran yang solid, acapkali program-program etos kerja yang direncanakan tidak akan
disetujui oleh pihak top manajemen dan pemegang anggaran perusahaan.

Kemampuan melakukan analisis cost benefit. Show me the money, begitu sebuah slogan
pernah berujar. Para CEO dan pengendali keuangan perusahaan juga selalu akan berkata
seperti itu, jika mereka melihat program pengembangan pelatihan kerja dan pelatihan etos
kerja hanya sekedar program kerja sdm tanpa makna yang hanya mengambur-hamburkan
uang. Disini para pengelola SDM mesti mampu menunjukkan analisa kuantitatif spiritual
Pendahuluan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

enrichment dan analisa Return On Investment (ROI) dari segenap program pengembangan
quantum touch yang dilakukan. Berapa ROI yang dapat diraih dari berbagai program
pelatihan yang direncanakan.

Gambaran permasalahan pelatihan secara umum tersebut, menjadikan suatu inpirasi bagi
penulis untuk mencermati beberapa permasalahan penting dilakukannya pelatihan pada
guru/tutor yaitu antara lain:
1. lemahnya kompetensi guru/tutor yang berlatarbelakang non-kependidikan dalam
melaksanakan tugas pembelajaran;
2. pelaksanaan pembelajaran masih terjadi miss-match bidang keahlian yg dimiliki guru/tutor
dengan bidang studi yang diajarkan;
3. umumnya guru/tutor belum memenuhi kualifikasi pendidikan sesuai standar kompetensi yang
disyaratkan yaitu D-IV atau S1;
4. kurangnya strategi, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan guru/tutor dalam
pembelajaran;
5. lemahnya kemampuan guru/tutor dalam merancang dan melaksanakan evaluasi
pembelajaran dan
6. pelaksanaan pelatihan guru/tutor yang dilakukan selama ini masih berlangsung dengan
model konvensional dan belum secara proporsional adanya pelatihan untuk peningkatan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor oleh lembaga penyelenggara pelatihan.

Seiring dengan adanya beberapa permasalahan guru/tutor tersebut di atas, maka akan mengakibatkan
rendahnya kualitas pembelajaran dalam penyelenggaraan program pendidikan, padahal salah satu faktor
penting yang turut menentukan kualitas pembelajaran dalam program pendidikan adalah
kompetensi guru/tutor dalam kaitannya melaksanakan pembelajaran yang memadai sesuai dengan
standar kompetensi yang ditentukan. Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan dimana kompetensi guru/tutor meliputi empat jenis kompetensi, yaitu
kompetensi pedagogik dan andragogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi
profesional. Selanjutnya Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional telah merumuskan Standar Kompetensi Pendidik dan
Tenaga Kependidikan termasuk untuk guru/tutor pendidikan kesetaraan yang meliputi keempat jenis
kompetensi tersebut.

10

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Mengingat kondisi faktual bahwa guru/tutor pendidikan kesetaraan pada lembaga pendidikan umumnya
berlatar belakang non pendidikan dan terjadinya miss-match bidang keahlian dengan tugas dalam
pembelajaran program pendidikan kesetaraan, maka menyebabkan kualitas dan kompetensi dalam
pembelajaran lemah, serta belum memenuhi standar kompetensi sebagaimana yang dipersyaratkan. Di
sisi lain, program-program pelatihan pengembangan kompetensi tutor secara umum yang dirancang dan
dilaksanakan terfokus pada pengembangan kompetensi profesional. Kondisi ini menunjukkan
bahwa pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor belum memperoleh
perhatian secara khusus dan proporsional, padahal pengembangan kompetensi pedagogik dan
andragogik sebagai hal penting manakala kita memandang guru/tutor sebagai agen pembelajaran.

C. Manfaat Pelatihan

Selain memahami pengertian pelatihan dan masalah pelatihan sebagaimana dikemukakan di


atas, pelatihan juga memiliki sejumlah manfaat baik bagi organisasi maupun juga bagi setiap
individu. Bagi sebuah organisasi pelatihan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Pelatihan sebagai alat untuk memperbaiki penampilan/kemampuan individu atau
kelompok dengan harapan memperbaiki performan organisasi. Perbaikan-perbaikan itu
dapat dilaksanakan dengan berbagai cara. Pelatihan yang efektif dapat meningkatkan
kinerja dalam melaksanakan pekerjaan/tugas.
2. Keterampilan tertentu diajarkan agar para peserta dapat melaksanakan tugas-tugas
sesuai dengan standar yang diinginkan.
3. Pelatihan juga dapat memperbaiki sikap-sikap terhadap pekerjaan, terhadap pimpinan,
dan sering kali juga sikap-sikap yang tidak produktif timbul dari salah pengertian yang
disebabkan oleh informasi yang membingungkan.

Menurut Siagian (1998: 183-185) mengemukakan sepuluh manfaat yang dapat dipetik oleh
lembaga dari kegiatan pelatihan sebagai berikut:
1. Membantu dalam membuat keputusan yang lebih baik,
2. Meningkatkan kemampuan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya,
3. Terjadinya interaksi dan operasionalisasi faktor-taktor motivasional,
4. Timbulnya dorongan dalam lembaga untuk terus meningkatkan kemampuan kerjanya.
5. Peningkatan kemampuan lembaga untuk mengatasi; strees, frustrasi, dan konflik yang
pada gilirannya memperbesar rasa percaya diri.
Pendahuluan

11

Pelatihan Berbasis Kkinerja

6. Tersedianya informasi berbagai program yang dapat dimanfaatkan para pegawai dalam
rangka pengembangan secara teknikal dan inteleklual.
7. Meningkatkan kinerja dan kepuasan kerja lembaga
8. Semakin besar pengakuan atas kemampuan lembaga
9. Makin besarnya tekad lembaga untuk lebih mandiri
10. Mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru di masa depan.

Sedangkan secara individual bagi guru/tutor pendidikan kesetaraan kegiatan pelatihan yang
diberikan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya:
1. Membantu guru/tutor mempercepat pemenuhan kebutuhan sebagai upaya memperbaiki
kerja sesuai dengan standar.
2. Memperbaiki sikap-sikap agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi karena
pengaruh ilmu pengtahuan dan teknologi serta dapat membuat keputusan dengan baik dan
benar.
3. Meningkatkan motivasi untuk belajar dan senantiasa bersedia untuk mengembangkan
pengetahuan dan kemampuannya.
4. Menumbuhkan rasa percaya diri dan solidaritas yang tinggi diantara sesama guru/tutor.

Beberapa uraian manfaat pelatihan di atas jelas bahwa pelatihan merupakan sarana yang
ditujukan pada upaya untuk lebih mengaktifkan kerja baik guru/tutor maupun lembaga yang
dipandang kurang efektif sebelumnya. Dengan pelatihan akan mampu mengurangi adanya
dampak negatif yang disebabkan kurangnya pengetahuan, kurangnnya kepercayaan diri atau
pengalaman yang terbatas. Dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada di lembaga
pendidikan, khusus guru/tutor pendidikan kesetaraan jelas pelatihan merupakan suatu
keharusan. Keharusan itu tergambar pada berbagai manfaat yang dapat diambil baik lembaga
maupun guru/tutor. Manfaat juga akan dirasakan bagi penumbuhan dan pemeliharaan
hubungan yang serasi baik dalam kelompok belajar maupun antara peserta dengan peserta
dalam kelompok belajar yang semuanya bermuara pada peningkatan kinerja.

12

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Pelatihan merupakan salah satu aktivitas pendidikan nonformal, dimana
pelaksanaannya dalam waktu singkat dan materi yang diberikan bersifat
praktis. Dalam suatu lembaga/organisasi pelatihan dijadikan sarana untuk
pengembangan sumber daya manusia dalam meningkatkan produktifitas
sesuai visi dan misi lembaga/organisasi tersebut.
2. Permasalahan yang sering muncul dalam pelatihan pengembangan sumber
daya manusia dalam suatu organisasi atau perusahaan secara umum dapat
dilihat pada aspek (i) Kemampuan melakukan penilaian kebutuhan
pelatihan, (ii) Kemampuan membuat desain pengembangan dan evaluasi
program pelatihan, (iii) Kemampuan pemasaran program pelatihan dan (iv)
Kemampuan melakukan analisis cost benefit.
3. Manfaat pelatihan bagi lembaga/organisasi maupun bagi setiap individu.
Bagi sebuah organisasi pelatihan dapat memberikan manfaat: (i) untuk
memperbaiki performan organisasi, (ii) dapat melaksanakan tugas-tugas
sesuai dengan standar yang diinginkan, (iii) dapat memperbaiki sikap
terhadap pekerjaan, terhadap pimpinan, dan sikap yang tidak produktif.
Sedangkan manfaat bagi guru/tutor kegiatan pelatihan yang diberikan dapat
memberikan beberapa manfaat, diantaranya: (i) membantu dan mempercepat
pemenuhan kebutuhan sesuai dengan standar, (ii) memperbaiki sikap
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi karena pengaruh ilmu
pengetahuan dan teknolgi, (iii) meningkatkan motivasi untuk belajar secara
terus-menerus, dan (iv) menumbuhkan rasa percaya diri dan solidaritas yang
tinggi diantara sesama guru/tutor.

Referensi

Sutisna, Anan. (2009). Profil Kompetensi Gutu/Tutor Paket C Di DKI Jakarta, Jurnal
Pendidikan Luar Sekolah UPI Volume 6 Nomor 1 April.
Kepmen. Pendidikan Nasional Nomor 0132/U/2004 tentang Program Paket C Setara
SMA/MA. Jakarta: Depdiknas.
Knowles, M. S., (1986), The Adut Learner, A Neglected Species. Houston: Gulf Publishing
Company.
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Pendahuluan

13

Pelatihan Berbasis Kkinerja

PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Siagian, S. P., (1998), Menejemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara
Supriadi, D. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Bandung: Adicita Karya Nusa.
Suryadi, A. (2006), Peningkatan Layanan Berbagai Program Pendidikan Nonformal
(Makalah disampaikan dalam pertemuan dengan Mitra PLS), Jakarta: Depdiknas.
Syamsudin, E. (2008), Percepatan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Pendidikan Nonformal, sesuai BSNP (Makalah disampaikan dalam pertemuan
dengan Perguruan Tinggi) di Yogyakarta,
UNESCO, (1993). Appeal Training Materials for Continuing Education Personal, Bangkok:
UNESCO Principal Regional Office for Asia Pasific.
Wariyanto, (2005), Hubungan antara Hasil Pelatihan, Motivasi Kerja, dan Pemberian
Kompensasi dengan Kinerja Tutor dalam Pengelolaan Pembelajaran Kejar Paket
C, Thesis Magister Pendidikan Luar Sekolah, SPs:UPI

14

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 2. TEORI DAN KONSEP PELATIHAN


Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Definisi pelatihan menurut para ahli mempunyai perbedaan karena disebabkan oleh sudut
pandang keilmuan yang berbeda.
2. Pendekatan dalam pelatihan baik secara tradisional, eksperiensial, maupun berbasis
kinerja.
3. Asas pelatihan yang merupakan sesuatu yang harus dikusai oleh pelatih.
4. Beberapa model pelatihan antara lain: (i) Critical Event Model (CEM) dari Nedler, (ii)
Model lima langkah dari Goad, (iii) Model lima langkah dari Mayo & Dubois, (iv) Six
stages of the training process dari Paul G. Friedmen & Elaine A.Y dan (v) Model sepuluh
langkah dari Djudju Sudjana.

A. Batasan Pelatihan
Secara umum pelatihan merupakan bagian dari pendidikan yang menggambarkan suatu
proses dalam pengembangan individu, masyarakat, lembaga dan organisasi. Pendidikan
dengan pelatihan merupakan dua bagian yang tak dapat dipisahkan dalam sistem
pengembangan sumberdaya manusia, yang di dalamnya terjadi proses perencanaan,
penempatan, dan pengembangan tenaga manusia. Dalam proses pengembangannya
diupayakan agar sumber daya manusia dapat diberdayakan secara optimal, sehingga apa yang
menjadi tujuan dalam memenuhi kebutuhan individu, masyarakat, lembaga dan organisasi
tersebut dapat terpenuhi. Menurut Moekijat (1993: 3) menyatakan bahwa pelatihan adalah
suatu bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan
meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif
singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori. Pernyataan
tersebut mengisyaratkan bahwa kegiatan pelatihan sebagai upaya mendidik dalam arti sempit,
terutama dilakukan dengan cara instruksi, berlatih, dan sikap disiplin.

Teori dan Konsep Kepelatihan

15

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Pendidikan dengan pelatihan sulit untuk menarik batasan yang tegas, karena baik pendidikan
maupun pelatihan merupakan suatu proses kegiatan pembelajaran yang mentransfer
pengetahuan dan keterampilan dari sumber belajar kepada peserta pelatihan sebagai penerima
pesan. Walaupun demikian perbedaan keduanya akan lebih terlihat dari tujuan yang ingin
dicapai melalui kegiatan tersebut. Pendidikan formal pada umumnya selalu berkaitan dengan
mata pelajaran secara konseptual, sifatnya teoritis dan merupakan pengembangan sikap dan
falsafah pribadi seseorang. Bila pelatihan lebih menitikberatkan pada kegiatan yang
dirancang untuk memperbaiki kinerja dalam menjalankan tugas, maka pendidikan lebih
menitikberatkan pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan terhadap keseluruhan
kebutuhan lingkungan. Pada bagian lain dijelaskannya bahwa pelatihan lebih dikaitkan
dengan kekhususan pembelajaran yang terbatas kepada keterampilan yang bersifat motorik
dan mekanistik.

Dalam suatu lembaga, organisasi atau perusahaan, pelatihan dianggap sebagai suatu terapi
yang dapat memecahkan permasalahan. khususnya yang berkaitan dengan peningkatan
kinerja dan produktifitas lembaga, organisasi atau perusahaan. Pelatihan dikatakan sebagai
terapi, karena melalui kegiatan pelatihan para karyawan diharapkan dapat meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya sehingga dapat memberikan konstribusi yang lebih tinggi
terhadap produktivitas organisasi atau perusahaan. Dengan meningkatnya pengetahuan dan
keterampilan sebagai hasil pelatihan, maka karyawan akan semakin matang dan terampil
dalam menghadapi semua perubahan dan perkembangan yang dihadapi lembaga atau
organisasi. Dalam pengembangan lembaga atau organisasi, pelatihan merupakan upaya untuk
meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam melakukan layanan yang lebih
profesional kepada anggota masyarakat. Pemberian pelatihan bagi warga masyarakat
bertujuan untuk memberdayakan, sehingga warga masyarakat menjadi berdaya dan dapat
berpartisipasi aktif pada proses perubahan. Pelatihan dapat membantu seseorang untuk
menerapkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki. Dengan pelatihan juga
dapat menimbulkan perubahan dalam kebiasaan-kebiasaan bekerja seseorang, perubahan
sikap terhadap pekerjaan, serta dalam informasi dan pengetahuan yang mereka terapkan
dalam pekerjaannya sehari-hari.

Kegiatan pelatihan dapat terjadi apabila seseorang menyadari perlunya mengembangkan


potensi dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan maupun kepuasan hidupnya, oleh sebab
16

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

itu untuk mengetahui penjelasan mengenai pelatihan berikut ini diuraikan beberapa
pengertian pelatihan, antara lain yang dikemukakan para ahli.

Robinson ( 1981:12)

mengemukakan bahwa : "Training, is therefore we are seeking by any instructional or


experiential means to develop a person behavior patterns in the urea of knowledge, skill or
attitude in order to achieve disered

standar". Dengan demikian pelatihan merupakan

instruksional atau experensial untuk mengembangkan pola-pola perilaku seseorang dalam


bidang pengetahuan keterampilan atau sikap untuk mencapai standar yang diharapkan. Goad
(1982: 5) menjelaskan bahwa "Training can be defined broadly is the techniques and
arrangement aimed at fostering and experiencing learning. The focus in on learning".
Goad mengemukakan, bahwa pelatihan itu lebih difokuskan pada kegiatan pembelajaran.
Michael J. Jacius (1968: 296). mengemukakan istilah pelatihan menunjukkan suatu proses
peningkatan sikap, kemampuan, dan kecakapan dari para pekerja untuk menyelenggarakan
pekerjaan secara khusus.

Ungkapan ini menunjukkan kalau kegiatan pelatihan merupakan proses membantu peserta
belajar untuk memperoleh keefektifan dalam melakukan pekerjaan mereka baik pada saat
sekarang maupun masa yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan pikiran dan
tindakan-tindakan, kecakapan, pengetahuan. dan sikap-sikap. Kegiatan pelatihan juga
dilakukan dalam upaya memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi dalam aktivitas
pekerjaan sehari-hari dan mengantisipasi kemungkinan permasalahan yang terjadi dimasa
yang akan datang. Hal ini sejalan dengan pandangan Soenanto dalam Moekijat (1993:4)
bahwa pelatihan adalah kegiatan belajar untuk mengubah rencana orang dalam melakukan
pekerjaan. Penyelenggaraan pelatihan yang baik dan optimal akan meningkatkan kemampuan
peserta pelatihan dalam mengatasi masalah yang dihadapi untuk menjalankan tugas serta
dapat meningkatkan

produktivitas dan kualitas kerja. Alex S. Nitisemito (1982: 86)

mengungkapkan tentang tujuan pelatihan sebagai usaha untuk memperbaiki dan


mengembangkan sikap, tingkah laku dan pengetahuan, sesuai dengan keinginan individu
maupun lembaga yang bersangkutan. Dengan demikian pelatihan dimaksudkan dalam
pengertian yang lebih luas, dan tidak terbatas semata-mata hanya untuk mengembangkan
keterampilan dan bimbingan.

Dengan demikian pentingnya suatu pelatihan baik bagi organisasi maupun lembaga didasari
berhagai alasan seperti :
Teori dan Konsep Kepelatihan

17

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1. Pengeluaran biaya pelatihan yang sistematis jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan
pengeluaran yang disebabkan dari beberapa kekeliruan dan kelambatan yang disebabkan
dari hasil coba-coba dalam mencari pemecahan masalah dalam pekerjaannya sendiri.
2. Seseorang yang telah dibina dalam suatu program pelatihan biasanya lebih menyenangi
pekerjaannya dan kecenderungan untuk berpindah pekerjaan menjadi kecil.
3. Adanya jenis-jenis pekerjaan tertentu yang sangat memerlukan program pelatihan, karena
tanpa pelatihan pekerjaan tersebut tidak akan mencapai sasaran dengan tepat.

Oleh karena itu kegiatan pelatihan lebih ditekankan pada peningkatan pengetahuan,
keahlian/keterampilan (skill), pengalaman, dan sikap peserta pelatihan tentang bagaimana
melaksanakan pekerjaan tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Henry Simamora (1997:
287) yang menjelaskan bahwa pelatihan merupakan serangkaian aktivitas yang dirancang
untuk meningkatkan keahlian, pengetahuan, pengalaman ataupun perubahan sikap seorang
individu atau kelompok dalam menjalankan tugasnya. Pengertian pelatihan antara satu
rumusan dengan rumusan lain pada umumnya tidak bertentangan. melainkan memiliki ciri
atau unsur yang sama. Dalam suatu pelatihan memiliki beberapa ciri, yaitu:
1. direncanakan dengan sengaja;
2. adanya tujuan yang hendak dicapai;
3. ada kelompok sasaran atau peserta pelatihan;
4. ada kegiatan pembelajaran secara praktis;
5. isi belajar dan berlatih menekankan pada keahlian atau keterampilan suatu pekerjaan
tertentu;
6. dilaksanakan dalam waktu relatif singkat, dan
7. ada tempat belajar dan berlatih.

Berdasarkan beberapa ungkapan tentang pengertian dan tujuan pelatihan serta ciri-ciri yang
digambarkan dalam suatu pelatihan tersebut di atas, maka pelatihan dapat diartikan sebagai
suatu upaya melalui proses pembelajaran

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

pengetahuan. keterampilan, dan sikap seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
pekerjaan tertentu yang dilaksanakan dalam waktu relatif singkat pada tempat tertentu.

18

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

B. Pendekatan Pelatihan
Pendekatan pelatihan menurut Paul G. Friedman dan Elaine A. Yarbrough (1985) dalam buku
"Training strategies" mengungkapkan bahwa: dalam pelaksanaan pelatihan dapat ditelusuri
dari dimensi langkah-langkahnya, pelatih dan metodenya. Proses pelatihan secara umum
dilakukan melalui dua pendekatan yaitu; pendekatan kesesuaian (adaptive) yang digunakan
sebagai fase diagnostik atau lebih dikenal dengan sebutan pendekatan "bottom-up", dan
pendekatan instruksi (directive) yang digunakan sebagai fase instruksional atau disebut
dengan pendekatan "top-down". Kedua pendekatan ini mempunyai kepentingan yang sama
sesuai dengan fungsinya, serta digunakan untuk saling melengkapi walaupun dalam situasi
yang berbeda. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Paul G. Friedman, et al. (1985: 2), yaitu:
"although the adaptive and directive approaches may appear contradictory, both can he
effective when used appropriately. In fact, both are necessary".

Dua hal yang perlu

diperhatikan dalam menyeimbangkan kedua pendekatan tersebut dalam suatu pelatihan, yaitu
dengan mengetahui situasi penggunaan masing-masing pendekatan dan mengetahui
bagaimana mengimplementasikannya. Pada tahap pertama dalam setiap tugas pelatihan
adalah diagnosis situasi dengan mencoba merespon pernyataan-pernyataan tentang status quo
(keadaan sekarang), perbedaan antara perilaku seseorang dan perilaku yang diharapkan
terjadi pada peserta pelatihan, tujuan-tujuan pelatihan yang bersifat realistik dan metode yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan instruksional. Tahapan berikutnya adalah implementasi
dengan mengunakan pendekatan directive, yang dalam hal ini program pelatihan diwujudkan
dalam praktek. Sekuensi adaptive dan directive merupakan suatu siklus dan dapat berulang
dalam suatu program pelatihan.

Menurut Halim dan Ali (1993: 20) mengemukakan adanya tiga pendekatan dalam
menyelenggarakan pelatihan yaitu:
1. pendekatan tradisional;
2. pendekatan eksperiensial dan
3. pendekatan berbasis kinerja.
Menurut mereka dalam "pendekatan tradisional" staf pelatihan merancang tujuan, konten,
teknik pembelajaran, penugasan, rencana pembelajaran, motivasi dan evaluasi difokuskan
pada intervensi yang dilakukan staf pelatihan. Dalam "pendekatan eksperiensial" pelatih
memadukan pengalaman sehingga warga belajar menjadi lebih aktif dan mempengaruhi

Teori dan Konsep Kepelatihan

19

Pelatihan Berbasis Kkinerja

proses pelatihan. Model pelatihan ini menekankan pada situasi nyata. Tujuan pelatihannya
ditetapkan bersama oleh pelatih dan warga belajar. Pelatih menjalankan peran sebagai
fasilitator, katalisator, atau nara sumber. Sedangkan dalam "pendekatan berbasis kinerja".
tujuan diukur berdasarkan pencapaian tingkat kemahiran tertentu dengan menekankan pada
penguasaan keterampilan yang bisa diamati.

Tutor pendidikan kesetaraan sebagai peserta pelatihan adalah tergolong orang dewasa. oleh
sebab itu prinsip-prinsip yang diterapkan dalam proses pelatihannya harus mengacu kepada
prinsip pembelajaran orang dewasa. Dalam pembelajaran orang dewasa (andragogy)
Knowles (1984: 41) menjelaskan tentang konsep andragogi dengan "the art and science of
helping adults learn", yaitu seni dan ilmu dalam membantu orang dewasa belajar. Proses
pembelajaran orang dewasa pada dasarnya menggunakan beberapa asumsi antara lain:
Pertama, orang dewasa telah memiliki konsep diri, dan tidak mudah untuk menerima konsep
yang datang dari luar dirinya, sehingga dalam proses pelatihannya perlu memperhatikan:
1. iklim belajarnya perlu diciptakan sesuai dengan keadaan orang dewasa;
2. warga belajar perlu dilibatkan dalam mendiagnosis kebutuhan belajarnya;
3. warga belajar perlu dilibatkan dalam proses perencanaan belajarnya;
4. proses belajarnya merupakan tanggung jawab bersama antara sumber belajar dengan
warga belajar dan
5. evaluasi pembelajarannya ditekankan pada evaluasi diri sendiri.

Kedua, orang dewasa telah memiliki pengalaman, dan berbeda-beda sehingga perlu
diperhatikan:
1. proses pembelajarannya lebih ditekankan pada teknik yang sifatnya menyadap
pengalaman mereka;
2. proses pembelajarannya lebih ditekankan pada aplikasi praktis.

Ketiga, orang dewasa memiliki masa kesiapan belajar seirama dengan adanya peran sosial
yang mereka tampilkan. Peran ini akan berubah sejalan dengan perubahan usianya sehingga
dalam proses pembelajarannya:
1. urutan program belajar perlu disusun berdasarkan urutan logik mata pelajaran, dan
2. dengan adanya konsep mengenai tugas-tugas perkembangan pada orang dewasa akan
memberikan petunjuk dalam belajar secara kelompok.
20

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Keempat, orang dewasa memiliki perspeklif waktu dan orientasi belajar, sehingga cenderung
memiliki perspektif untuk secepatnya mengaplikasikan apa yang mereka pelajari. Sehingga
dalam proses pembelajarannya harus memperhatikan:
1. sumber belajar berperan sebagai pemberi bantuan kepada warga belajar dan
2. kurikulum tidak berorientasi pada mata pelajaran, tetapi berorientasi pada masalah,
(Knowles: 1980: 45-54).

Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang tepat digunakan dalam
pelatihan adalah pendekatan yang bobot dukungannya terhadap kegiatan pembelajaran
partisipatif sangat tinggi, yakni pendekatan yang mengikutsertakan warga belajar semaksimal
mungkin dalam proses pelatihan. Beberapa pendekatan yang ada, penyelenggaraan pelatihan
lebih mengedepankan untuk menggunakan pendekatan partisipatif walaupun ada beberapa
uraian yang memiliki kesamaan dengan pendekatan yang lain. Dengan pendekatan
partisipatif, pendekatan lain juga akan lebih mudah untuk diadaptasikan. Karena dengan
pendekatan partisipatif tutor sebagai peserta pelatihan tidak akan merasa tersinggung atau
dipaksa bila diperintah dan akan dengan senang hati untuk menerima. Pendekatan ini akan
lebih efektif karena sebagaimana diungkapkan sebelumnya bahwa yang menjadi sasaran
utamanya adalah orang dewasa yang pada umumnya sudah banyak memiliki pengalaman. Di
samping itu melalui pendekatan partisipatif tutor yang direkrut dari masyarakat sebagai
peserta pelatihan akan ikut berperan lebih banyak dan luas, baik dari sejak dilakukannya
identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan dan sampai kepada menilai hasil kegiatan
pelatihan. Secara khusus pendekatan ini digunakan untuk melibatkan peserta pelatihan agar
berpartisipasi aktif dalam proses pelatihan dan juga diharapkan dapat menjalankan tugas
sebagai tutor pendidikan kesetaraan dengan baik.

Pengadaptasian dari beberapa pendekatan yang diungkapkan Paul G. Friedman dan Elaine A.
Yarbrough ke dalam pendekatan partisipatif seperti pada pendekatan adaptive (Bottom-up)
dilakukannya lebih menekankan pada partisipasi tutor dari masyarakat dalam menggali
informasi yang berkaitan dengan identifikasi kebutuhan pelatihan yang sesuai. Sedangkan
pada

pendekatan

directive

(top-down) merupakan kegiatan atau partisipasi peserta

(gutu/tutor) dalam pelaksanaan pelatihan sebagai bukti peransertanya dalam mensukseskan


pelaksanaan program pelatihan yang dilakukan penyelenggara pelatihan. Kegiatan lain yang
Teori dan Konsep Kepelatihan

21

Pelatihan Berbasis Kkinerja

hampir sama dalam bentuk partisipasi juga dari pendekatan yang dikemukakan oleh Halim
dan Ali seperti; dalam pendekatan tradisional pelatih memberikan tugas memotivasi dan
melakukan evaluasi kepada peserta. Pada pendekatan eksperiensial pelatih juga tidak lupa
memperhatikan dan berusaha memadukan pengalaman yang telah dimiliki peserta
sebelumnya. Sedangkan pada pendekatan berbasis kinerja tujuan pelatihannya diukur dengan
melihat partisipasi peserta selama mengikuti pelatihan terutama dalam pencapaian tingkat
penguasaan keterampilan yang telah dipelajari.

Penggunaan pendekatan partisipatif ini dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung.
Secara langsung biasanya dilaksanakan dalam kelompok kecil atau dalam tatap muka, dan ini
akan terasa lebih efektif karena akan terjadi hubungan keakraban di antara peserta. Secara
tidak langsung biasanya dilakukan dalam kelompok yang lebih besar yang tidak
memungkinkan bagi setiap peserta untuk bertatap muka langsung, (Sudjana, 1992:266).
Dengan demikian dalam

pelatihan

ini

pendekatannya menggunakan pendekatan

partisipatif yang dilakukan secara langsung karena jumlah pesertanya yang relatif kecil.
Sedangkan dalam penilaian hasil latihan menggunakan pendekatan yang berbasis kinerja
yaitu yang mengukur tingkat pengusaan keterampilan dalam melaksanakan tugas
pembelajaran sebagai guru/tutor dalam program pendidikan kesetaraan.

C. Asas-asas Pelatihan
Dalam melakukan pembinaan terhadap guru/tutor pendidikan kesetaraan yang berasal dari
masyarakat terlebih dahulu harus ditetapkan sasaran atau kompetensi yang ingin dicapai,
dengan demikian potensi atau keterampilan yang telah dimiliki calon peserta pelatihan
tersebut akan dapat dikembangkan dan ditingkatkan secara maksimal. Di samping itu
kegiatan pelatihan yang akan diberikan kepada peserta harus mengikuti asas-asas umum
pelatihan. Hal ini dimaksudkan agar tujuan pelatihan tersebut dapat tercapai dengan baik.
Dalam pelaksanaan suatu pelatihan, harus selalu diingat akan adanya perbedaan-perbedaan
peserta pelatihan baik dalam latar belakang pendidikan, pengalaman, maupun motivasi.
Nasution (1986: 25) mengemukakan bahwa pembelajaran tidak mungkin tanpa mengenal
perbedaan peserta didik (asas perbedaan), oleh karena itu dalam pelatihan perbedaan dari
peserta pelatihan harus mendapatkan perhatian baik dalam perencanaan, pelaksaanaan

22

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

maupun penilaian pelatihan, sehingga pelatihan tersebut benar-benar dapat memberikan


manfaat yang optimal.
Asas yang juga penting adalah sikap dan penampilan pelatih, karena sikap dan penampilan
pelatih turut menentukan keberhasilan suatu pelatihan. Alex S. Nitisemito (1982: 105)
mengemukakan peranan pelatih sangat menentukan berhasiltidaknya pelatihan tersebut.
Zaenudin Arif (1981: 54-55) mengemukakan bahwa peran utama pelatih adalah
memperlancar atau memberikan kemudahan agar setiap peserta pelatihan merupakan sumber
yang efektif bagi yang lain. Di samping memiliki pengetahuan dan skill yang memadai,
seorang pelatih juga harus memiliki ciri-ciri pribadi yang baik bagi keberhasilan
pekerjaannya yaitu:
1. memiliki konsep diri yang matang;
2. memiliki kemampuan empati;
3. mempunyai sikap terhadap keanggotaan kelompok;
4. kemauan dan kemampuan untuk mengambil resiko pribadi dan
5. mampu mengatasi tekanan emosional yang erat hubungannya dengan kemampuan
menghadapi resiko.
Beberapa asas pelatihan, yang sangat penting adalah penentuan metode pelatihan, karena
metode setiap kegiatan pelatihan yang ditetapkan oleh sumber belajar untuk mencapai tujuantujuan pelatihan (Sudjana, 2007: 10). Dengan demikian metode pelatihan harus cocok dengan
jenis pelatihan yang diberikan. Meskipun tidak ada suatu metode yang paling tepat dalam
kegiatan pelatihan, tetapi dapat dicarikan beberapa altematif metode pembelajaran yang dapat
dipilih. Di dalam memilih metode pelatihan yang tepat, perlu mempertimbangkan beberapa
faktor. Adapun pemilihan metode pelatihan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti:
1. tujuan pelatihan;
2. peserta pelatihan;
3. situasi;
4. fasilitas dan
5. pribadi pelatih.
Sementara itu yang terpenting bahwa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih
metode pelatihan adalah:
1. manusia yang meliputi sumber belajar dan warga belajar;

Teori dan Konsep Kepelatihan

23

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. tujuan belajar;
3. bahan;
4. waktu dan
5. fasilitas.
Berkaitan dengan metode pelatihan dimana alat bantu atau media pembelajaran juga penting
dalam pelatihan karena:
1. dapat mengurangi salah tafsir;
2. pelatihan yang diberikan akan lebih mudah, cepat dan jelas ditangkap;
3. menegaskan, dan memberikan dorongan kuat untuk menerapkan apa yang dianjurkan.
Sedangkan alat atau fasilitas dan sarana berhubungan dengan tempat pelaksanaan kegiatan
pelatihan, adapun alat bantu berhubungan dengan penyampaian materi pelatihan.

D. Model-Model Pelatihan.
Penyelenggaraan pelatihan pada umumnya dilakukan oleh Badan Pendidikan dan Pelatihan
dari setiap lembaga atau organisasi baik pemerintah
(LAN), Badan Diklat Depnakertran,

seperti: Lembaga Administrasi Negara

Badan Diklat Depdiknas. maupun swasta seperti:

Badan Diklat Perusahaan Otomotif Toyota, Badan Diklat Garuda Indonesia,

sangat

dimungkinkan menggunakan model-model yang berbeda. Model-model pelatihan yang


ditampilkan tersebut, kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia sebagai tenaga kerja dan untuk memperbaiki kinerja, sehingga dapat meningkatkan
produktifitas. Pelaksanaan pelatihan yang dilakukan dengan basis kinerja (performance based
training) yang juga bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, sehingga kualitas dari sumber
daya manusia baik pengetahuan atau keterampilan.
Para pakar pelatihan biasanya melaksanakan pelatihan dengan menggunakan langkahlangkah atau siklus tersendiri berdasarkan dari model yang mereka kembangkan. Di antara
model-model pelatihan yang ada para pakar mengembangkannya bermacam-macam, ada
yang menggambarkan hanya melalui siklus yang sederhana, dan ada juga yang digambarkan
secara detail. Walaupun demikian dari beberapa model yang dikembangkan ditemukan
adanya langkah-langkah atau tahapan yang memiliki kesamaan, seperti pada pelaksanaan
pelatihan umumnya. Kesamaan itu seperti sama-sama diawali dengan melakukan identifikasi,

24

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dengan tujuan untuk menemukan dan mengkaji kebutuhan yang akan diberi pelatihan serta
diakhiri dengan pelaksanaan evaluasi.
Berdasarkan model-model pelatihan yang ada, dapat dilihat diantaranya sebagaimana
diungkapkan Nedler (1982: 12), yang dikenal dengan The Critical Events model (CEM) atau
disebut dengan model terbuka yang langkah-langkahnya terlihat lebih detail dan spesifik.
Pada model ini tidak semua variabel bisa diidentifikasi atau ditetapkan pada saat dilakukan
perancangan program pelatihannya, namun pada setiap langkahnya selalu di evaluasi sebagai
balikan. Siklus pelatihan pada model CEM dapat digambarkan sebagai berikut:
Identify
the needs
of the
Conduct Training

Specific job
Evaluatio

Obstain
Instructional

Identify learner
n

Select Instructional
Strategis

and

Determine

Build
Curriculu
Gambar 2.1 Critical Event Model(CEM)
Sumber: Nedler (1982:12)
Model yang dikembangkan Nedler ini dimulai:
1. menentukan kebutuhan organisasi;
2. menentukan spesifikasi pelaksanaan tugas;
3. menentukan kebutuhan pembelajaran;
4. merumuskan tujuan;
5. menentukan kurikulum;
6. memilih strategi pembelajaran;
7. mendapatkan sumber belajar dan
8. selanjutnya kembali lagi ke menentukan kebutuhan.

Teori dan Konsep Kepelatihan

25

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Perputaran ini bertujuan untuk melihat keunggulan dan kelemahan dari pelatihan yang telah
dilaksanakan, apakah masih perlu diadakan perbaikan atau memang sudah sesuai dengan
tujuan yang diinginkan oleh organisasi. Sedangkan Goad (1982: 11) menjelaskan model
pelatihan melalui beberapa tahapan yang siklus pelatihannya terdiri dari:
1. analisis kebutuhan pelatihan (analyze to determine training requirements);
2. desain pendekatan pelatihan (design the training approach);
3. pengembangan materi pelatihan (develop the training materials);
4. pelaksanaan pelatihan (conduct the training) dan
5. evaluasi dan pemutakhiran pelatihan (evaluate and update the training).
Secara skematis langkah-langkah tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Analyze
Evaluate

Design

Conduct

Develop

Gambar 2.2 Siklus Pelatihan Lima Tahap


Sumber: Goad (1982:11)
Dalam siklus pelatihan atau pendidikan yang ditujukan pada orang dewasa sebagai sasaran.
Goad (1982: 41) mengungkapkan perlunya memperhatikan beberapa aspek sebagai berikut:
1. orang dewasa belajar dengan melakukan dirinya senantiasa ingin dilibatkan;
2. masalah dan contoh harus realistis dan relevan dengan warga belajar;
3. lingkungan belajar yang terbaik adalah lingkungan informal;
4. keragaman mendorong membuka kelima indra dari peserta belajar;
5. dilakukan perubahan kecepatan dan teknik dari waktu ke waktu;
6. tidak menerapkam sistem peringkat apapun;
7. fasilitator berperan sebagai agen pembaharu dan
8. fasilitator

bertanggung

jawab

untuk

memfasilitasi

pembelajaran,

sedangkan

pembelajarannya sendiri merupakan tanggung jawab peserta belajar, oleh karena itu peran
fasilitator sebagai, catalicator, proces helper, resources linker and solution giver,
(Havelock: 1991).

26

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Kemudian Mayo & Dubois, (1987: 3) juga mengembangkan model pelatihan melalui lima
tahap (fase), yang dikenal dengan Continuous Loop Training Development and
Implementation Model. Kelima fase tersebut adalah:
1. fase analyze operational requirement;
2. fase defining training requirement;
3. fase developing objectives;
4. fase planning, developing, and validating training dan
5. fase conduct and evaluate the training.
Secara skematis kelima langkah ini dapat digambarkan di bawah ini sebagai berikut:
Analyze
Operational

Conduct
and
Evaluate

Feedback
and
Interactio
Planning
Developing
&

Defining
Training
Requireme
Developing
Training
Objectives

Gambar 2.3 Model Siklus Pelatihan Lima Langkah


Sumber: Mayo & Dubois (1987:32)

Selanjutnya model pelatihan menurut Paul G. Friedman dan Elaine A.Y. (1985: 4),
mengemukakan enam tahap dalam proses pelatihan (six stages of the training process). Posisi
enam tahap yang digunakan dalam proses pelatihan dimaksud adalah sebagai berikut:
Tahap pertama, menyadari kebutuhan (awereness of need). Kesenjangan antara keadaan
sekarang dengan keadaan yang diharapkan biasanya disebabkan oleh dua sifat yang melekat
dalam fungsi manusia, yaitu perubahan dan aspirasi. Perubahan adalah merupakan
"dorongan'" dan aspirasi adalah "tarikan" yang menimbulkan kebutuhan pada pelatihan.
Perubahan-pcrubahan menciptakan masalah yang harus segera dipecahkan, sedangkan
aspirasi cenderung kepada tahap pertumbuhan untuk adanya nilai tambah.

Teori dan Konsep Kepelatihan

27

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Tahap kedua, menganalisis masalah (analyzing the problems). Apabila kebutuhan itu
dirasakan masih bersifat umum, maka perlu dianalisis secermat mungkin, sehingga
rumusannya tidak terlalu umum atau tidak terlalu khusus. Jika menganalisis setiap
performans maka sebaiknya dilakukan dengan menjawab lebih dahulu pertanyaan-pertanyaan
apakah yang menjadi perbedaan antara performans sekarang dan yang diharapkan?. Apakah
performans tersebut berguna untuk mengatasi kekurangan? dan Apakah performans itu dapat
meningkatkan keterampilan?.
Tahap ketiga, menentukan pilihan (knowing options). Ketika mempersiapkan pilihan-pilihan,
perlu dimasukkan suatu penjelasan tujuan tentang
kelemahan-kelemahannya,

keuntungan-keuntungan

dan

serta pengalaman yang dapat membantu peserta pelatihan

mengembangkan pedoman-pedoman untuk menentukan pilihan-pilihan yang terbaik. Tahap


keempat, menyadari suatu pemecahan (adopting solution). Dalam menghadapi suatu solusi
pertama-tama adalah dengan memberikan penjelasan tentang prosedur sehingga menjadi jelas
dan dapat dipahami oleh mereka yang akan menentukan prosedur tersebut. Selanjutnya
adalah pemberian dukungan dimana prosedur tersebut harus dijalankan mengenai
keuntungan-keuntungan dan kelemahan-kelemahannya. Dalam hal ini peranan pelatihan
adalah mempersempit pilihan-pilihan peserta pelatihan yang menyalurkan usaha-usaha
peserta pelatihan pada cara atau jalur khusus.
Tahap kelima, mengajarkan suatu keterampilan (teaching a skill). Apabila pelatihan
diharapkan untuk mampu mempengaruhi cara berpikir peserta pelatihan, sikapnya atau
pengetahuannya, maka peranan pelatihan adalah membantu peserta pelatihan dalam
mempelajari suatu keterampilan. Kemudian memberikan umpan balik pada pekerjaan peserta
pelatihan sesuai langkah-langkah yang ditempuh sampai kepada penilaian hasil belajar atau
hasil kerjanya.
Tahap keenam, integrasi dalam sistem (integration in the system). Apabila dalam prosedur
belajar peserta pelatihan tidak menimbulkan pengaruh kerjasama dalam situasi belajarnya,
maka

dalam tindaklanjutnya perlu membantu para peserta pelatihan untuk melakukan

prosedur kerjasama tersebut dalam sistem yang membutuhkan kerjasama, misalnya dalam
"team work". Pengintegrasian ini sangat diperlukan karena pada tahap akhir pelatihan selalu
muncul masalah-masalah yang dihadapi para pelatih dalam mengintegrasikan hasil-hasil
belajarnya yang baru ke dalam konteks pekerjaanya. Tipe lain dari "integrasi dalam sistem"
28

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

ini adalah dengan memusatkan pengembangan interaksi "team" yang lebih baik dalam suatu
kelompok kerja yang utuh. Keenam tahapan proses pelatihan tersebut dapat dilihat:
Integration in the
System
Learning
A skill

Adopting
A Solution

Awarennes
of need

Directive
Receptive
Approach
Approach

Analysis
of Problem
Knowing
option

Gambar 2.4 Six Stages of the Training Process


Sumber: Paul G. Friedmen & Elaine A.Y (1985:4)

Dalam pandangan lain menurut Sudjana (2005: 78) mengembangkan model pelatihan sepuluh
langkah atau dikenal dengan model pelatihan partisipatif, yang uraiannya sebagai berikut:
1. Identifikasi Kehutuhan, Sumber, dan Kemungkinan Hambatan Pelatihan. Untuk dapat
melaksanakan kegiatan pelatihan yang efektif sehingga berguna dan bermanfaat bagi
peserta, maka sebelum kegiatan dilaksanakan perlu diidentifikasi kebutuhan belajar,
sumber belajar dan kemungkinan hambatan yang akan dihadapi baik dalam pelaksaan
kegiatan pelatihan maupun dalam mengembangkan hasil pelatihan yang diperoleh.
Identifikasi kebutuhan pelatihan merupakan hal yang sangat perlu karena suatu kegiatan
pelatihan akan sangat bermanfaat bagi peserta bila yang diikutinya tersebut dapat
memenuhi kebutuhan yang dirasakannya. Setelah mengetahui kebutuhan belajar atau
pelatihan, maka selanjutnya adalah mengidentifikasi sumber belajar yang tepat dengan
kegiatan petatihan yang akan dilaksanakan. Sumber belajar yang diidentifikasi tersebut
dapat berupa manusia dan dapat pula berupa non manusia. Di samping mengidentifikasi
kebutuhan dan sumber belajar yang mungkin dapat dimanfaatkan, maka perlu
diidentifikasi kemungkinan hambatan yang akan dihadapi atau dijumpai baik dalam
melaksanakan kegiatan pelatihan maupun dalam mengembangkan hasil pelatihan.
Kemungkinan hambatan ini dapat berupa faktor manusia seperti; keterbatasan
kemampuan sumber belajar dalam memberikan dan menyajikan materi, ketidakmampuan
peserta dalam mengembangkan keterampilan. Sedangkan faktor non manusia seperti,
Teori dan Konsep Kepelatihan

29

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dukungan lingkungan sekitar, bantuan dari pihak lain berupa modal stimulan dalam
mengembangkan keterampilan yang dimiliki.
2. Perumusan Tujuan Pelatihan: Tujuan adalah merupakan arah atau target yang akan
dicapai dalam suatu kegiatan pelatihan. Untuk dapat mengarahkan pelaksanaan kegiatan
pelatihan, maka perlu dirumuskan tujuan dengan jelas dan terarah, baik yang menyangkut
tujuan umum, maupun tujuan khusus. Dengan rumusan tujuan akan mengarahkan
penyelenggaraan dalam melaksanakan program pelatihan, atau dengan kata lain bahwa
tujuan merupakan penuntun penyelenggara dalam melaksanakan program. Rumusan
tujuan yang ingin dicapai melalui pelatihan tersebut harus jelas, terarah, dan kongkrit,
sehingga dapat diukur. Dengan demikian bahwa dalam merumuskan tujuan pelatihan
harus menggunakan ungkapan-ungkapan yang operasional.
3. Penyusunan Program Pelatihan. Pada tahap penyusunan program pelatihan berarti
mencakup kegiatan penyusunan kurikulum pelatihan, menyiapkan materi pelatihan,
menentukan metode dan strategi pelatihan, waktu pelaksanaan pelatihan dan nara sumber
pelatihan (instruktur).
4. Penyusunan Alat Evaluasi Awal dan Evaluasi Ahkir Peserta. Alat evaluasi awal
digunakan untuk mengadakan evaluasi awal (pretest) guna mengetahui pengetahuan,
sikap dan keterampilan dasar yang dimiliki peserta. Sedangkan alat evaluasi akhir
(posttest) adalah digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta setelah mengikuti
kegiatan pelatihan.
5. Latihan Untuk Pelatih. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada
pelatih/tutor/sumber belajar tentang kegiatan program pelatihan secara menyeluruh.
6. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan, Memanfaatkan Bahan Belajar, dan menerapkan Metode
dan Teknik Pelatihan. Urutan kegiatan pelatihan menyangkut urutan rangkaian kegiatan
pelaksanaan kegiatan mulai dari awal hingga akhir kegiatan. Menentukan bahan belajar
dalam menentukan dan menetapkan materi yang akan disajikan berdasarkan kompetensi
yang harus dimiliki dan dikuasai oleh peserta pelatihan. Penentuan metode dan teknik
didasarkan pada tingkat kesesuaiannya dengan materi, dan karakteristik peserta serta
daya dukungnya terhadap intensitas kegiatan pelatihan.
7. Melaksanakan Evaluasi Terhadap Peserta Pelatihan. Evaluasi awal ini dilakukan untuk
mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta yang menyangkut pengetahuan,
sikap dan keterampilannya. Evaluasi awal ini dapat berupa test tulis dan dapat juga test
lisan.
30

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

8. Mengimplementasikan Proses Latihan. Tahapan ini merupakan inti pelaksaan kegiatan


pelatihan. Pada tahapan ini terjadi proses pembelajaran yaitu proses interaksi dinamis
antara peserta pelatihan dan sumber belajar/tutor/fasilitator, serta materi pelatihan.
9. Melaksanakan Evaluasi Akhir Kegiatan. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui hasil
belajar yang dicapai oleh peserta setelah mengikuti program pelatihan. Untuk
mengevaluasi akhir kegiatan dapat menggunakan alat evaluasi yang digunakan pada saat
evaluasi awal.
10. Melaksanakan Evaluasi Program Pelatihan. Evaluasi program pelatihan adalah kegiatan
mengumpulkan data tentang penyelenggaraan pelatihan untuk diolah dan dianalisis guna
dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan pelatihan
di masa mendatang.

Secara umum model-model pelatihan dalam siklusnya terbagi ke dalam tiga tahapan yaitu;
tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Dari ketiga tahap tersebut, dalam
pelaksanaannya rata-rata setiap model selalu diawali dengan analisis kebutuhan, baru
kemudian disusun desain pelatihan yang dilanjutkan dengan pengembangan bahan pelatihan,
penyelenggaraan pelatihan dan diakhiri dengan evaluasi. Dalam pelaksanaan model-model
tersebut dapat dikatakan sebagai langkah standar dalam setiap penyelenggaraan pelatihan.
Perbedaan antara satu model pelatihan dengan model pelatihan yang lain lebih terletak pada
sisi pendekatan pembelajaran dan pengorganisasian pelatihannya, namun pada prinsipnya
kesemuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan pengetahuan, keterampilan
dan sikap dari para peserta pelatihan. Sebagai sebuah proses, pelatihan bukanlah suatu
program yang telah lengkap dan dapat dibuat seketika, ia memerlukan waktu, serta meliputi
intensitas, frekuensi, dan durasi tertentu, serta bersifat continum dan melibatkan berbagai
elemen yang harus dikelola secara benar. Pendekatan sistem menghendaki pengelolaan
pelatihan secara sistematis dan berorientasi kepada hasil. Masing-masing komponen memiliki
keterkaitan dengan komponen lain, sehingga semakin sempurna setiap proses yang dilakukan,
maka akan semakin baik hasil yang didapatkan.

Teori dan Konsep Kepelatihan

31

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Dalam memberikan definisi ataupun batasan pelatihan setiap ahli mempunyai
perbedaan karena disebabkan oleh sudut pandang keilmuan yang berbeda.
Namun juga secara umum dalam mendefinikan pelatihan mempunyai key
word yaitu: (i) suatu aktivitas atau usaha atau suatu proses, (ii) ada tujuan atau
goals, dan (iii) domain menekan pada keterampilan atau skill. Contoh:
pelatihan adalah proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan
keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif
singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori.
2. Pendekatan pelatihan secara umum ada tiga yaitu (i) tradisional, (ii)
eksperiensial, dan (iii) berbasis kinerja. Dimana yang pertama semuanya
dilakukan staf pelatihan. Kedua tujuan ditetapkan bersama oleh pelatih dan
peserta pelatihan dan Keetiga tujuan diukur berdasarkan pencapaian tingkat
kemahiran keterampilan tertentu.
3. Asas pelatihan merupakan sesuatu yang harus diketahui oleh pelatih seperti (i)
kebutuhan pelatihan, (ii) karakteristik peserta, (iii) latar pendidikan peserta dan
(vi) penggunaan metode pelatihan yang tepat. Karena dalam penggunaan
metode pelatihan harus memperhatikan beberapa factor: (i) tujuan pelatihan;
(ii) peserta pelatihan; (iii) situasi; (iv) fasilitas dan (v) pribadi pelatih
4. Beberapa model pelatihan antara lain: (i) Critical Event Model (CEM) dari
Nedler, (ii) Model lima langkah dari Goad, (iii) Model lima langkah dari Mayo
& Dubois, (iv) Six stages of the training process dari Paul G. Friedmen &
Elaine A.Y dan (v) Model sepuluh langkah dari Djudju Sudjana. Dari modelmodel pelatihan tersebut secara umum siklusnya terbagi ke dalam tiga tahapan
yaitu; (i) tahap perencanaan, (ii) tahap pelaksanaan dan (iii) tahap evaluasi.
Ketiga tahap tersebut, dalam pelaksanaannya rata-rata setiap model selalu
diawali dengan analisis kebutuhan, baru kemudian disusun desain pelatihan
yang dilanjutkan dengan pengembangan bahan pelatihan, penyelenggaraan
pelatihan dan diakhiri dengan evaluasi. Perbedaan antara satu model pelatihan
dengan model pelatihan yang lain lebih terletak pada sisi pendekatan
pembelajaran dan pengorganisasian pelatihannya, namun pada prinsipnya
kesemuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan sikap dari para peserta pelatihan.

32

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi:
Arief, Z. (1981). Andragogi, Bandung : Angkasa
Friedman, P. G., & Elaine, A. Y. (1985). Training Strategies. Prentice-Hall, Inc. Englewood
Cliffs, New Jersey
Goad. T. W. (1982). Delivering Effective Training. San Diago California Inc. : University
Assoiciate
Halim, A & Ali M. M. (1993). Training and Profesional Development [On-line].
http://www.fao.org [12 Desember 2008]
Havelock, R. G. (1991), Change The Agents Guide. New Jersey, Educational Technologi
Publications, Inc.
Jacius, M. J. (1968). Personal Manajement. Tokyo : Charles E. Tutle Company
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Mayo & Dubois, D. (1987). The Complete Book of Training, California : University CSU
Moekijat. (1993). Evaluasi Pelatihan dalang Rangka Peningkatan Produktivitas. Bandung :
Mandar Maju
Nasution, S. (1986). Didaktik Azas-azas Mengajar, Bandung : Jemmar
Nedler, L. (1982) Designing Training Programs, The Criticl events Model London:
Addison Wesley Publishing Company
Nitisemito, A.S. (1982) Menejemen Personalia, Jakarta : PT. Gramedia
Robinson, D.G. (1981) Training for Impact. San Fransisco : Josey Bass Publishers. Sage
Publications. Asia-Pasific, Ltd.
Simamora, H. (1997), Manajemen Sumber daya Manusia, Jakarta: STIE YPKN
Sudjana D., (2007), Sistem & Manajemen Pelatihan Teori & Aplikasi, Bandung : Fallah
Production.

Teori dan Konsep Kepelatihan

33

Pelatihan Berbasis Kkinerja

34

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 3. PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Pelatihan berbasis

kompetensi merupakan suatu proses

yang dirancang untuk

mengembangkan kemampuan secara khusus dan mencapai target kinerja yang telah
ditetapkan.
2. Kompetensi yang dibutuhkan pada level eksekutif, level manajer dan level karyawan atau
guru/tutor.
3. Proses pelatihan berbasis komptensi dalam pelaksanaannya secara praktis dapat
menggunakan model tertentu.
4. Konsep kompetensi yaitu sesuatu yang mendasari seseorang dalam melakukan pekerjaan
sehingga efektif kinerjanya.
5. Profil kompetensi guru/tutor yang meliputi pedagogi dan andragogi, profesional, (3) sosial
dan (4) kepribadian.

A. Konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi

Pelatihan Berbasis Kompetensi (competences based training) merupakan salah satu


pendekatan dalam pengembangan sumber daya manusia yang berfokus pada hasil akhir
(outcome). Pelatihan berbasis kompetensi merupakan suatu proses pelatihan yang dirancang
untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan secara khusus, untuk mencapai hasil
kerja yang berbasis target kinerja (performance target) yang telah ditetapkan. Oleh karena itu
pelatihan berbasis kinerja sangat fleksibel dalam proses untuk memperoleh kompetensi
dengan berbagai cara, namun mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. menghasilkan kompetensi dalam menggunakan keterampilan yang ditentukan untuk
pencapaian standar pada suatu kondisi yang telah ditetapkan dalam berbagai pekerjaan
dan jabatan;
2. penelusuran (penilaian) kompetensi yang telah dicapai dan sertifikasi.

Pelatihan Berbasis Kompetensi

35

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Hasil pelatihan berbasis kompetensi hendaknya dihubungkan dengan kebutuhan:


1. standar kompetensi yang akan ditingkatkan;
2. program pelatihan didasarkan atas uraian kerja (job description);
3. kebutuhan multi-skilling;
4. alur karir (career path).

Oleh karena itu untuk mencapai hasil yang optimal perlu diperhatikan 9 prinsip dalam
pelaksanaan pelatihan berbasis kinerja (Rylatt: 1993):
1. Bermakna, praktek terbaik (Meaningful, best practice)
2. Hasil pembelajaran (Acquisition of learning), salah satu perbedaan antara pelatihan
berbasis kinerja dan pelatihan tradisional adalah hasil pembelajaran, bukan penyampaian
pelatihan. Dalam pelatihan berbasis kompetensi, kita hanya memperhatikan dan terfokus
pada orang yang dilatih memperoleh kompetensi yang diharapkan dan bukan bagaimana
mereka memperolehnya. Proses pembelajaran yang dipergunakan lebih terfokus pada
bantuan dan fasilitasi untuk mereka belajar dan keterampilan yang dipelajari akan lebih
mudah diadaptasikan.
3. Fleksibel (Fleksible), sebagai suatu hasil keprihatinan atas penguasaan pembelajaran,
maka dewasa ini cara orang belajar sangat fleksibel. Pembelajaran dapat dilakukan
dengan berbagai cara dan metode dari pelatihan, membaca dan cara belajar lainnya baik
formal maupun informal. Fleksibilitas memberikan peluang orang belajar berbasis
informal, sepanjang mereka dapat menunjukkan kemampuan (competence). Pembelajaran
mandiri oleh seseorang dimungkinkan akan divalidasi melalui suatu proses penelusuran
dan uji kompetensi.
4. Mengakui pengalaman belajar sebelumnya (Recognizes perior learning), pelatihan
berbasis kinerja mengakui pengalaman belajar yang diperoleh sebelumnya yang
mempunyai relevansi sebelum mereka mengikuti uji kompetensi. Pengakuan ini akan dan
memudahkan serta lebih fleksibel bagi mereka mengikuti pelatihan. Seseorang tidak
dituntut harus mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir, tetapi bila mereka mampu
mengikuti dan lulus ujian kompetensi, mereka berhak memperoleh kelulusan dan
kualifikasi.
5. Tidak didasarkan atas waktu (not time based), proses pelatihan ini tidak dibatasi oleh
waktu. Suatu program pelatihan dapat diselesaikan berbasis waktu yang fleksibel.
Perbedaan kemampuan individu sangat diperhatikan.
36

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

6. Penilaian yang disesuaikan (Appropriate assessment), pelatihan berbasis kompetensi


sangat memperhatikan kemampuan memperagakan kompetensi, oleh karena itu perlu bagi
setiap orang dinilai untuk menentukan apakah mereka kompeten, sehingga memperoleh
kualifikasi yang mampu melaksanakan pekerjaan dan tugasnya.
7. Monitoring dan evaluasi (On-going monitoring and evaluation), monitoring dan evaluasi
dalam pelatihan berbasis kompetensi, mutlak diperlukan mulai dari masukan, proses
sampai pada keluaran, yang hasilnya dihubungkan dengan standar kompetensi untuk
memperoleh pengalaman (accareditation).
8. Konsistensi secara standar, umumnya pelatihan keguruan dilakukan oleh penyedia jasa
pelatihan atau lembaga pelatihan terkait. Setiap penyedia jasa lembaga pelatihan
mempunyai cara dan teknik tersendiri dalam proses pelatihan. Hal ini berdampak tidak
konsistennya keterampilan dan pengetahuan serta sikap diantara peserta pelatihan dalam
melakukan pekerjaan. Pelatihan berbasis kinerja berlandaskan pada penampilan
kompetensi yang secara standar konsisten dengan kebutuhan lembaga/organisasi.
Hasilnya orang mengikuti pelatihan dari suatu tempat dapat diterima di tempat lain dan
menjadi tenaga kerja yang dapat dipekerjakan secara nasional.
9. Akreditasi pembelajaran, suatu sistim akreditasi yang konsisten secara nasional diantara
penyedia jasa pelatihan, misalnya Balai Pengembangan dan Pelatihan Pendidikan Luar
Sekolah (BP3LS) salah satu lembaga pelatihan guru/tutor pendidikan kesetaraan (standar)
kurikulum yang dipergunakan harus memperoleh pengakuan dan badan atau instansi yang
berkompeten.

Dalam kontek ini yang dimaksud dengan kompetensi adalah : kemampuan secara spesifik
dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di
dalam pekerjaan sesuai dengan standar kompetensi di pendidikan. Pengetahuan, keterampilan
serta sikap kerja yang dibutuhkan oleh seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan di tempat
kerja sesuai dengan tuntutan standar yang berlaku. Jadi pelatihan berbasis kompetensi
merupakan pendekatan atau model dalam pelatihan yang difokuskan pada tampilan
kompetensi yang diharapkan dari seorang guru/tutor di dalam kelompok belajar, yang
mencakup kemampuan untuk mentransfer serta menerapkan pengetahuan dan keterampilan
yang dimilikinya pada situasi dan lingkungan baru. Suatu kompetensi meliputi hal-hal
sebagai berikut:

Pelatihan Berbasis Kompetensi

37

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1. keterampilan melaksanakan pekerjaan (Task Skill);


2. keterampilan mengelola pekerjaan (Task Management Skill);
3. keterampilan

mengelola

kemungkinan

kejadian

dalam

pekerjaan

(Contingency

Management Skill), dan


4. keterampilan mengelola lingkungan pekerjaan termasuk bekerja dengan orang lain.

Dengan mengacu pada pemahaman tersebut maka yang dimaksud dengan Pelatihan Berbasis
Kompetensi (Competences Based Training) adalah suatu pendekatan pelatihan yang dalam
pembelajarannya penekanan utamanya dapat mengerjakan apa seseorang sebagai hasil
pelatihan (training outcome). Dalam hal penilaian maka sistem penilaian pada pelatihan
berbasis kinerja adalah penilaian yang berdasarkan patokan (Criterion Reference Assesment),
bukan penilaian berdasarkan norma (Norm Reference Assesment).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelatihan berbasis kompetensi, diantaranya
adalah:
1. standar kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif;
2. pengidentifikasian semua pengetahuan dan keterampilan serta sikap kerja yang
dibutuhkan dalam suatu pekerjaan, yang tercermin dalam standar kompetensi;
3. mekanisme untuk mencapai pengetahuan dan keterampilan serta sikap kerja sesuai
tuntutan standar kompetensi;
4. metode untuk menguji kompetensi tersebut;
5. sertifikasi dari kompetensi yang telah dicapai.
Pelatihan berbasis kompetensi memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. berdasarkan pada standar kompetensi;
2. isi dari materi pelatihan mengarah kepada kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan
tugas tetentu;
3. pelatihan dapat berupa on-job, off-job, atau kombinasi keduanya;
4. adanya fleksibilitas waktu untuk mencapai suatu kompetensi;
5. adanya pengakuan terhadap kompetensi mutakhir/yang dimiliki saat ini;
6. pengujian berdasarkan kriteria tertentu;
7. pengujian dilakukan jika peserta pelatihan sudah siap, dan
8. menekankan pada kesanggupan untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan pada
situasi baru.
38

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Pelatihan berbasis kompetensi adalah pelatihan yang menitikberatkan pada pengembangan


kemampuan untuk melakukan (competence) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar
performans yang telah ditentukan. Pelatihan adalah bagian dari pendidikan oleh karena itu
pelatihan berbasis kinerja merupakan bagian tidak terpisahkan dari pelatihan berbasis
kompetensi. Pengertian ini menunjukkan bahwa pelatihan berbasis kompetensi adalah
pendidikan yang mengacu kepada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan
perangkat kompentensi yang telah ditentukan.

B. Kompetensi Yang Dibutuhkan

Menilik dalam kelompok atau organisasi ada tiga tingkatan manajemen dimana pada
posisi yang paling atas biasa di sebut eksekutif, dalam kelompok belajar level ini biasa
dipegang oleh ketua yayasan/lembaga, kemudian manajer (ketua penyelenggara kelompok
belajar) selanjutnya adalah pendidik (guru/tutor) tentunya kompetensi yang dibutuhkan
berbeda satu dengan yang lainnya, paling tidak dapat diidentifikasi sebagai berikut.
1. Tingkat eksekutif atau ketua yayasan/lembaga diperlukan kompetensi yang berkaitan
dengan strategic thingking dan change leadership management. Strategic thingking
adalah kompetensi untuk memahami kecenderungan perubahan lingkungan yang begitu
cepat, melihat peluang pasar, ancaman, kekuatan dan kelemahan organisasi agar dapat
mengidentifikasikan strategic response secara optimum. Sedang change leadership
adalah kompetensi untuk mengkomunikasikan visi dan strategi organisasi dan dapat
mentransformasikan kepada pegawai atau stap.
2. Tingkat Manajer atau penyelenggara kelompok belajar, kompentensi yang diperlukan
meliputi aspek-aspek fleksibilitas, change implemention, interpersonal understanding and
empowering. Aspek fleksibilitas adalah kemampuan merubah struktur dan proses
manajerial; apabila strategi perubahan organisasi diperlukan untuk efektifitas pelaksanaan
tugas organisasi. Dimensi interpersonal understanding adalah kemampuan untuk
memahami nilai dari berbagai tipe manusia. Aspek pemberdayaan adalah kemampuan
mengembangkan karyawan atau tutor, mendelegasikan tanggung jawab, memberikan saran
umpan balik, menyatakan harapan-harapan yang positif untuk bawahan dan memberikan
reward bagi peningkatan kinerja.

Pelatihan Berbasis Kompetensi

39

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Tingkat pendidik atau tutor kelompok belajar, kompetensi yang diperlukan seperti
fleksibilitas, menggunakan dan mencari berita atau informasi baru, motivasi untuk terus
belajar, motivasi berprestasi, motivasi kerja di bawah tekanan waktu, kolaborasi, dan
orientasi pelayanan kepada pelanggan atau warga belajar. Dimensi fleksibilitas adalah
kemampuan untuk melihat perubahan sebagai suatu kesempatan yang menggembirakan
atau ketimpangan sebagai ancaman. Aspek mencari informasi, motivasi dan kemampuan
belajar adalah kompetensi tentang antusiasme untuk mencari kesempatan belajar tentang
keahlian teknis keahlian teknis dan interpersonal.

Dimensi motivasi berprestasi adalah kemampuan untuk mendorong inovasi; perbaikan


berkelanjutan dalam kualitas dan kinerja yang dibutuhkan untuk memenuhi tantangan
kompetensi. Aspek motivasi kerja dalam tekanan waktu merupakan kombinasi fleksibilitas,
motivasi berprestasi, menahan stress, dan komitmen dalam kelompok belajar atau organisasi
yang membuat tutor bekerja dengan baik dalam pengembangan warga belajar walaupun
dalam waktu yang terbatas. Dimensi kolaborasi adalah kemampuan bekerja secara kooperatif
di dalam kelompok yang multi disiplin; menaruh harapan positif kepada yang lain,
pemahaman interpersonal dan komitmen organisasi. Sedangkan dimensi yang terakhir untuk
tutor adalah keinginan yang besar untuk melayani warga belajar dengan baik; dan inisiatif
untuk mengatasi masalah yang dihadapi warga belajar.

C. Proses Pelatihan Berbasis Kompetensi


Dalam proses pelatihan berbasis kompetensi pelaksanaannya pada umumnya tidak
terpisahkan dari pelatihan berbasis kinerja. Secara praktis pelaksanaan model pelatihan
berbasis kompetensi yang dikembangkan menggunakan model pelatihan lima tahap yang
dikembangkan oleh David Dubois (1993), yaitu:
1. tahap analisis kebutuhan, penilaian dan perencanaan;
2. tahap pengembangan model kompetensi yang memperhatikan tujuan, strategi, sasaran dan
rencana organisasi;
3. tahap perencanaan kurikulum;
4. tahap perencanaan dan pengembangan intervensi pembelajaran, dan
5. tahap evaluasi.

40

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Model Dubois ini sesungguhnya dilaksanakan dalam pelatihan para karyawan otomotif di
Amerika dalam mengikuti perkembangan karoseri mobil terbaru. Namun demikian model
pelatihan Dubois ini diadopsi untuk meningkatkan kompentensi tutor yang sesuai dengan
standar yang diharapkan. Lima langkah model pelatihan tersebut adalah seperti gambar di
bawah ini:

Lingkungan Luar
Lingkungan Organisasi

Langkah 1
Langkah 2
Langkah 3
Langkah 4
Langkah 5

Analisis Kebutuhan,
Penilaian dan Perencanaan
Pengembangan Model
Kompetensi
Perencanaan Kurikulum

Tujuan,
Strategis,
Sasaran &
Rencana
Organisasi

Perencanaan & Pengembangan


Intervensi Pembelajaran

Evaluasi

Gambar 3.1 Model Sistem Strategis Untuk Menciptakan dan Mengelola Program
Peningkatan Kinerja Berbasis Kompetensi
Sumber: Competency Based Performance Improvement (Dubois,1993:24)

Untuk mencapai

hasil

yang optimal pada model pelatihan berbasis kompetensi

hendaknya diperhatikan faktor yang dapat berpengaruh pada hasil akhir pelatihan. Menurut
Mitrani, et.al. (1992) faktor-faktor ini antara lain:
1. keselarasan tujuan program dengan kebutuhan dan kebijakan organisasi;
2. dukungan dan anggaran dari manajemen;
3. kurikulum;
4. peserta pelatihan;
5. instruktur, dan
6. metode dan teknik, sarana dan prasarana.

Pelatihan Berbasis Kompetensi

41

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Oleh karena itu adanya integrasi seluruh sumber yang ada dalam organisasi. Untuk lebih
jelasnya integrasi dari seluruh sumber dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Recruitment
And Selection
Career pathing
And
D l
t

Competencie
s

Placement
and
S
i

Pay for
Skills/Competenci
es and
P f
Gambar 3.2 Integreted HRM Around a Clear Understanding of Core Competencies
Sumber: Competency Based HRM Value Driven ( Mitrani 1992:64)

D. Konsep Kompetensi
Kompetensi didefinisikan (Mitrani et.al, 1992; and Spencer, 1993) sebagai an underlying
characteristics of an individual which is causally related to criterion-referenced effective
and or superior performance in a job or situasion. Atau karakteristik yang mendasari
seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannnya. Berangkat
dari pengertian tersebut kompentensi seorang individu merupakan sesuatu yang melekat
dalam dirinya yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kinerjanya. Menurut Seema
Sanghi (2007: 10) ada lima karakteristik dalam kompetensi seseorang yaitu:
1. Motives, yaitu sesuatu dimana seseorang secara konsisten berpikir sehingga ia melakukan
tindakan. Mitrani et al, menambahkan bahwa motives adalah "drive, direct, and select
behavior toward certain action or goals and away from others". Sebagai contoh,
seseorang yang memiliki motivasi berprestasi secara konsisten akan mengembangkan
tujuan-tujuan yang memberi tantangan pada dirinya dan bertanggung jawab penuh untuk
mencapai tujuan tersebut serta mengharapkan "feedback" untuk memperbaiki dirinya.

42

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. Traits, yaitu watak yang membuat orang berperilaku atau merespon sesuatu dengan cara
tertentu, seperti percaya diri (self confidence), kontrol diri (self control) dan ketabahan
(stress resistance).
3. Self Concept, yaitu sikap dan nilai-nilai yang dimiliki seseorang.
4. Knowledge, yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang untuk bidang tertentu.
Pengukuran aspek ini dapat dilakukan dengan menggunakan test pengetahuan (knowledge
test). Test ini mempunyai kelemahan karena hanya mampu mengukur peserta dalam
memilih jawaban yang paling benar, tetapi tidak mampu melihat apakah seseorang
tersebut dapat melakukan pekerjaan berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
5. Skills, yaitu keterampilan atau kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu baik
secara fisik maupun mental.
Dari kelima karakteristik kompetensi tersebut kompetensi pengetahuan (knowledge) dan
kompetensi keahlian (skill) cenderung bersifat lebih nyata (visible) dan relatif berada di
permukaan sebagai salah satu karakteristik yang dimiliki manusia. Sedangkan konsep diri
(self concept), watak (traits) dan motif (motives) kompetensi cenderung lebih tersembunyi
dari dalam dan berada pada titik central kepribadian seseorang. Oleh karena itu pengetahuan
dan keterampilan individu yang bisa dikembangkan melalui program pelatihan.

Selanjutnya menurut Spencer (1993) kompetensi dapat dibagi atas 2 (dua) kategori yaitu:
1. threshold competencies adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seseorang
agar dapat melaksanakan pekerjaannya. Tetapi tidak untuk membedakan seorang yang
berkinerja tinggi dan rata-rata.
2. differentiating compentencies adalah faktor-faktor yang membedakan individu yang
berkinerja tinggi dan rendah.

Misalnya seorang tutor harus mempunyai kemampuan utama mengajar, itu berarti pada
tataran threshold competencies, selanjutnya apabila tutor dapat mengajar dengan baik, cara
mengajarnya mudah dipahami dan analisanya tajam sehingga dapat dibedakan tingkat
kinerjanya maka hal itu sudah masuk kategori differentiating competencies. Kompetensi
guru/tutor terdiri atas dua kelompok yakni kompetensi generik dan kompetensi spesifik.
Kompetensi generik meliputi kompetensi pedagogik dan andragogik, kepribadian dan sosial,
sedangkan kompetensi spesifik adalah kompetensi profesional. Kompetensi generik berlaku

Pelatihan Berbasis Kompetensi

43

Pelatihan Berbasis Kkinerja

untuk semua jenis tutor, sementara kompetensi spesifik berlaku untuk masing-masing jenis
tutor.

Adapun elemen kompetensi tutor pendidikan kesetaraan adalah sebagai berikut:


1. kompetensi Pedagogik dan Andragogik meliputi:
a. memahami karakteristik, kebutuhan, dan perkembangan peserta didik;
b. menguasai konsep dan prinsip pendidikan;
c. menguasai konsep, prinsip dan prosedur pengembangan kurikulum;
d. menguasai teori, prinsip, dan strategi pembelajaran;
e. menciptakan situasi pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian;
f. Menguasai konsep, prinsip, prosedur, dan strategi bimbingan belajar peserta didik;
g. menguasai media pembelajaran termasuk teknologi komunikasi dan informasi dan
h. menguasai prinsip, alat, dan prosedur penilaian proses dan hasil belajar.
2. Kompetensi Kepribadian meliputi:
a. menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, mantap, stabil, dewasa, berwibawa serta
arif dan bijaksana;
b. berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat sekitar;
c. memiliki jiwa, sikap, dan perilaku demokratis;
d. memiliki sikap dan komitmen terhadap profesi serta menjunjung kode etik pendidik.
3. Kompetensi Sosial meliputi:
a. bersikap terbuka, objektif, dan tidak diskriminatif;
b. berkomunikasi dan bergaul secara efektif dan santun dengan peserta didik;
c. berkomunikasi dan bergaul secara kolegial dan santun dengan sesama tutor dan
tenaga kependidikan;
d. berkomunikasi secara empatik dan santun dengan orangtua/wali peserta didik serta
masyarakat sekitar;
e. beradaptasi dengan kondisi sosial budaya setempat dan
f. bekerja sama secara efektif dengan peserta didik, sesama tutor dan tenaga
kependidikan dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional meliputi:

44

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

a. menguasai substansi/materi pembelajaran sesuai standar kompetensi lulusan dan


standar isi;
b. menguasai konsep dan teori yang menaungi substansi/materi pembelajaran;
c. memetakan hubungan substansi antar mata pelajaran;
d. memetakan hubungan antara substansi/materi pembelajaran dengan kehidupan seharihari, dan
e. memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri dan
profesi (BSNP: 2008)

E. Profil Kompetensi Pedagogik dan Andragogik Guru/Tutor

Seorang guru/tutor sebagai agen pembelajaran, perlu memiliki kemampuan (competency)


khusus, kemampuan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang yang bukan guru/tutor, karena tugas
mengajar bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi suatu proses mengubah perilaku peserta
didik atau warga belajar. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran terdapat kegiatan
membimbing warga belajar agar berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya, melatih
keterampilan baik keterampilan intelektual maupun keterampilan motorik, memotivasi warga
belajar agar tetap semangat menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, kemampuan
merancang dan menggunakan berbagai media dan sumber belajar untuk menambah efektivitas
mengajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut harus dimiliki guru/tutor, maka tugas
guru/tutor adalah sebagai tugas profesional, yakni sebagai tugas yang hanya dilakukan oleh
orang-orang tertentu, sesuai apa yang diungkapkan Cooper, 1990 dalam (Sanjaya, 2005: 142)
bahwa: A professional is a person who processes some specialized knowledge and skills, can
weigh alternatives and can select from among a number of potentially productive actions one
that is particularly appropriate in a given situation.

Kita meyakini bahwa pekerjaan guru/tutor adalah pekerjaan profesional yang memiliki
karakteristik:
1. pekerjaan ditunjang oleh suatu ilmu tertentu secara mendalam;
2. pekerjaan yang menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu yang spesifik sesuai
dengan profesinya;
3. tingkat kemampuan dan keahlian dalam melaksanakan tugas pekerjaannya didasarkan pada
latar belakang pendidikan tertentu yang diakui, dan
Pelatihan Berbasis Kompetensi

45

Pelatihan Berbasis Kkinerja

4. pekerjaan yang dibutuhkan oleh

masyarakat dan memiliki dampak terhadap sosial

kemasyarakatan.

Seorang guru/tutor dalam melaksanakan tugas mengajarnya, perlu ditunjang dengan kompetensi
yang cukup, sesuai yang diungkapkan oleh Johnson (1974) dalam Sanjaya (2005: 108)
bahwa: "Competency as rational performance which satisfactorily meets the objective for a desired
condition". Menurutnya bahwa kompetensi merupakan perilaku rasional untuk mencapai tujuan
yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Dengan demikian suatu kompetensi
ditunjukkan

oleh

penampilan

atau

unjuk

kerja

(performance)

yang

dapat

dipertanggungjawabkan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Sanjaya (2005: 145-146)


selanjutnya menjelaskan bahwa, tugas guru/tutor sebagai suatu profesi, terdapat sejumlah
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru/tutor, yakni: kompetensi kepribadian,
profesional, dan sosial kemasyarakatan.

Kompetensi kepribadian, merupakan kompetensi yang berhubungan dengan pengembangan


kepribadian (personal competencies), yang meliputi antara lain:
1. kemampuan yang berhubungan dengan pengamalan ajaran agama sesuai dengan keyakinan
agama yang dianutnya;
2. kemampuan untuk berperilaku sesuai dengan norma, aturan, dan sistem nilai yang berlaku di
masyarakat;
3. mengembangkan sifat-sifat terpuji sebagai seorang tutor, misalnya sopan santun, dan
tatakrama, dan
4. bersikap demokratis dan terbuka terhadap pembaruan dan kritik.

Kompetensi profesional, adalah kompetensi atau kemampuan yang berhubungan dengan penyelesaian
tugas-tugas keguruan. Beberapa kemampuan yang berhubungan dengan kompetensi ini,
diantaranya:
1. kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan misalnya paham terhadap tujuan
pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan
tujuan pembelajaran;
2. pemahaman dalam bidang psikologi pendidikan, misalnya paham terhadap tahap
perkembangan peserta didik, paham tentang teori-teori belajar;
3. kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya;
46

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

4. kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran;


5. kemampuan memanfaatkan berbagai media dan sumber belajar;
6. kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran, dan
7. kemampuan dalam menyusun program pembelajaran.

Guru/Tutor pendidikan kesetaraan dipandang kompetensinya mumpuni dalam melaksanakan


pembelajaran, tetapi manakala diperhatikan dalam kenyataan banyak guru/tutor pendidikan
keseataraan yang belum tentu memahami karakteristik warga belajar karena karakteristik warga
belajar sangat berbeda jika dibandingkan dengan pembelajaran di sekolah, apalagi guru/tutor
masih melaksanakan pola-pola pembelajaran tradisonal. Oleh sebab itu guru/tutor perlu
menyesuaikan dan mengembangkan kompetensi profesional seperti dijelaskan di atas agar
pembelajaran program pendidikan kesetaraan menjadi lebih efektif.

Kompetensi sosial kemasyarakatan, yaitu kompetensi yang berhubungan dengan kemampuan


tutor sebagai anggota masyarakat dan sebagai makhluk sosial, meliputi antara lain:
1. kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sejawat untuk meningkatkan
kemampuan profesional;
2. kemampuan untuk menjalin kerjasama baik secara individual maupun kelompok.

Guru/Tutor program pendidikan kesetaraan pada implementasi sehari-harinya tentu mereka telah
menguasai kompetensi sosial seperti tersebut dan kecil kemungkinan para guru/tutor tidak
memiliki kompetensi sosial seperti tersebut di atas. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya pada pasal 28 ayat 3, dijelaskan bahwa
kompetensi pendidik sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial. Selanjutnya dijelaskan bahwa
kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi
pemahaman peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran. Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil,
dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan
mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi
yang ditetapkan. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat

Pelatihan Berbasis Kompetensi

47

Pelatihan Berbasis Kkinerja

untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, orang tua
peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Peningkatan kinerja (performansi) sebagai upaya yang difokuskan pada perbaikan hasil kerja
sekarang dan masa yang akan datang secara sistematik dan holistik oleh orang-orang dalam setting
organisasi (Rothwell, 1996: 30). Selanjutnya menjelaskan pula bahwa peningkatan performansi
manusia adalah serangkaian metode dan prosedur, serta strategi untuk memecahkan masalah, atau
menyadari peluang-peluang berkaitan dengan performan orang yang dapat diaplikasikan pada
individual, kelompok kecil ataupun organisasi yang lebih besar. Disamping itu Rothwell
mengungkapkan pula bahwa perbaikan performansi manusia merupakan pendekatan yang sistematik
untuk mernperbaiki produktivitas dan kompetensi. Guru/Tutor pendidikan kesetaraan secara minimal
harus memiliki empat kompetensi tersebut di atas. Salah satu kompetensi yang penting dan harus
dikuasai tutor adalah kompetensi pedagogik dan andragogik, di samping kompetensi lainnya.

Kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan keseataraan secara ideal sesuai standar
yang harus dipenuhi meliputi:
1. memahami peserta didik, dengan indikator esensialnya adalah:
a. memahami warga belajar dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif;
b. memahami dengan prinsip-prinsip kepribadian, dan
c. mengidentifikasi kebutuhan belajar warga belajar.
2. merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan
pembelajaran, indikator esensial, diantaranya:
a. menerapkan teori belajar dan pembelajaran;
b. menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik warga belajar,
c. menerapkan prinsip-prinsip andragogi;
d. memahami kompetensi warga belajar yang ingin dicapai;
e. memahami materi pembelajaran, serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi
yang dipilih;
3. melaksanakan pembelajaran, memiliki indikator esensial diantaranya:
a.

menata latar (setting) pembelajaran;

b. melaksanakan pembelajaran yang kondusif, dan


c. menerapkan prinsip-prinsip andragogi;
4. merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran, memiliki indikator esensial antara lain:
48

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

a. melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai
metode;
b. menganalisis hasil penilaian proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat
ketuntasan belajar;
c. memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program
pembelajaran pendidikan nonformal secara keseluruhan, dan
5. mengembangkan warga belajar untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya,
memiliki indikator esensial diantaranya:
a. memfasilitasi warga belajar untuk mengembangkan berbagai potensi akadermk;
b. memfasilitasi warga belajar untuk meningkatkan berbagai potensi nonakademik, (BSNP:
2008).
Pengertian pedagogik, menurut Knowles dalam bukunya The Adult Learner: A Neglected
Species, (1984: 52-54), mengungkapkan tentang pedagogik bahwa: "Pedagogy is derived from the
Greek -words paid, meaning "child" (the same stem from which "pediatrics" comes) and
agogus, meaning "leader of. Thus, pedagogy literally means the art and science of teaching
cildren ". Dari pengertian tersebut di atas, dapat dijelaskan bahwa, pedagogik berasa dari bahasa
Yunani yaitu dari kata paid yang berarti "anak" (sama dengan kata dari bahasa Inggris yaitu
pediatrics) dan agogus yang berarti pemimpin. Dengan demikian secara harfiah pedagogik berarti
seni dan ilmu mengajat anak-anak. Selanjutnya Knowles menjelaskan bahwa model pedagogik
pendidikan adalah serangkaian keyakinan yang dipandang oleh kebanyakan guru tradisional, sebagai
suatu ideologi didasarkan pada asumsi-asumsi tentang mengajar dan belajar secara berangsur-angsur
mengalami perubahan, serta secara keseluruhan termasuk pendidikan tinggi juga mempertahankan
model pedagogik tersebut.
Model pedagogik mengisyaratkan tanggung jawab sepenuhnya ada pada tutor dalam membuat
keputusan tentang apa yang akan dipelajari, bagaimana akan dipelajari, kapan akan dipelajari.
Pendidikan diarahkan oleh tutor/guru (teacher-directed education), peran warga belajar hanya
mengikuti instruksi tutor. Peranan guru/tutor dalam pembelajaran didasarkan pada asumsi-asumsi
tentang pebelajar (learners), yakni:
1. kebutuhan mengetahui (the need to know), pebelajar hanya perlu mengetahui yang harus mereka
pelajari apa yang diajarkan tutor, jika mereka menginginkan lulus dan mendapatkan
peningkatan, tanpa perlu mengetahui bagaimana akan menerapkannya dalam kehidupan mereka;

Pelatihan Berbasis Kompetensi

49

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. konsep diri pebelajar (the learner's self concept), konsep tutor tentang pebelajar yaitu bahwa
pebelajar adalah personalitas yang dependen (dependent personality) yaitu sebagai pribadi
bergantung pada tutor;
3. peran pengalaman (the role of experience), pengalaman pebelajar sedikit dimanfaatkan
sebagai sumber untuk belajar, lebih menekankan pada sumber belajar yaitu tutor sendiri, dan
penulis buku teks. Teknik transmisi pengalaman dari sumber belajar sebagai landasan
metodologi pedagogik, yaitu model kuliah, dan bacaan yang dipersyaratkan;
4. kesiapan belajar (readiness to learn);
5. orientasi belajar (orientation to learning), pebelajar memiliki orientasi belajar berpusat pada
subyek pelajaran, mereka melihat bahwa belajar adalah perolehan isi materi subyek pelajaran.
Pengalaman belajar diorganisasikan sesuai dengan logika isi materi subyek pelajaran, dan
6. motivasi (motivation), pebelajar dimotivasi untuk belajar melalui motivator eksternal, misalnya
dorongan dari tutor dan tekanan orang tua.
Mengkomparasikan model pedagogik dengan model andragogi, dijelaskan oleh Knowles (1984: 5561), bahwa andragogi didasarkan pada asumsi-asumsi terhadap pebelajar (warga belajar) yang
berbeda dengan asumsi-asumsi terhadap pebelajar dalam pedagogik, yaitu:
1. kebutuhan untuk mengetahui (the need to know), orang dewasa perlu mengetahui mengapa
mereka perlu mengetahui sesuatu sebelum melakukan belajar;
2. konsep diri pebelajar (the learner's self concept), orang dewasa memiliki konsep diri,
bertanggung jawab atas keputusannya sendiri untuk kehidupannya, mampu mengarahkan
belajarnya sendiri;
3. peran pengalaman belajar (the role experience), orang dewasa memasuki aktivitas belajar
dengan volume dan kualitas pengalaman lebih besar, mereka memiliki akumulasi pengalaman
yang lebih banyak dijadikan sebagai sumber belajar;
4. kesiapan belajar (readiness to learn), orang dewasa siap belajar hal-hal yang sesuai dengan yang
mereka butuhkan untuk mengetahui dan melalukannya secara efektif yang tercakup dalam
kehidupan nyata;
5. orientasi belajar (orientation to learning), orientasi belajar orang dewasa berpusat pada kehidupan
atau pada tugas-tugas dan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan, dan
6. motivasi (motivation), orang dewasa memiliki respon terhadap beberapa motivator eksternal (seperti,
pekerjaan yang lebih baik, gaji lebih tinggi dan lain sebagainya).

50

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Motivator yang paling berpotensi bagi orang dewasa adalah dorongan

internal

(misalnya,

keinginan meningkatkan kepuasan kerja, kepercayaan diri, kualitas hidup dan lain-lain.). Knowles
(1984: 64), selanjutnya menjelaskan bahwa andragogi bukanlah suatu ideologi tetapi sebuah sistem
serangkaian asumsi-asumsi alternatif yang masuk ke dalam asumsi-asumsi pedagogik.
Sedangkan pedagogik itu sendiri sebagai suatu ideologi yang terpisah dari asumsi-asumsi
andragogi.

Jika konsep-konsep andragogi diadaptasi ke dalam pembelajaran model pedagogik maka


pembelajaran menjadi lebih efektif. Atas dasar penjelasan tersebut, penulis berpandangan bahwa
secara kajian teoretik sesungguhnya untuk mengembangkan seseorang menjadi tutor yang
profesional adalah menguasai kompetensi pedagogik dan andragogik, sesuai yang dijelaskan
oleh Sanjaya (2005: 145-146) dan (BNSP: 2008) yaitu bahwa seorang guru/tutor yang
profesional seharusnya menguasai kompetensi yang berhubungan dengan penyelesaian tugastugas keguruan, yang meliputi diantaranya:
1. kemampuan untuk menguasai landasan kependidikan misalnya paham terhadap tujuan
pendidikan yang harus dicapai, baik tujuan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler,
dan tujuan pembelajaran;
2. pemahaman terhadap tahap perkembangan warga belajar, dan teori-teori belajar;
3. kemampuan dalam penguasaan materi sesuai bidang studi yang diajarkannya;
4. kemampuan dalam mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran;
5. kemampuan memanfaatkan beragam media dan sumber belajar;
6. kemampuan dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran, dan
7. kemampuan dalam menyusun program pembelajaran.

Pelatihan Berbasis Kompetensi

51

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Kompetensi pedagogik dan andragogik secara substantif yang seharusnya dikuasai oleh tutor
pendidikan kesetaraan, dapat dirinci sebagaimana terlihat pada tabel berikut:

Tabel 3.1
Komponen dan Indikator Kompetensi Pedagogik & Andragogik Guru/Tutor
NO.
(1)
1.

KOMPONEN
(2)
Mamahami warga
belajar

INDIKATOR
(3)
1.1 Memahami warga belaj ar berdasarkan prinsip- prinsip
perkembangan kognitif
1.2 Memahami warga belajar sesuai prinsip-prinsip
kepribadian
1.3 Mengidentifikasi bekal ajar warga belajar sesuai dengan
pelajaran yang diampunya
Menguasai
2.1 Memahami berbagai teori belajar dan prinsip-prinsip
landasan
pembelajaran
pendidikan untuk 2.2 Memahami berbagai pendekatan, strategi, metode dan
kepentingan
teknik pembelajaran yang sesuai
pembelajaran
2.3 Memahami prinsip-prinsip pembelajaran andragogi
Merancang
3.1 Menenrukan strategi pembelajaran berdasarkan
pembelajaran
karakteristik warga belajar
3.2 Menerapkan prinsip-prinsip andragogi
3.3 Memahami kompetensi warga belajar yang ingin
dicapai, memahami materi pembelajaran
3.4 Menyusun rancangan/persiapan pembelajaran
berdasarkan strategi yang dipilih
Melaksanakan
4. 1 Menata latar (setting) pembelajaran
pembelajaran
4.2 Melaksanakan pembelajaran yang kondusif
4.3 Menerapkan prinsip-prinsip andragogi
4.4 Berkomunikasi efektif, empatik, dan santun dengan
bahasa yang sesuai dengan warga beiajar
Merancang dan 5.1 Menentukan aspek-aspek hasil belajar yang penting
melaksanakan
untuk dinilai
evaluasi
5.2 Menentukan prosedur penilaian hasil belajar
pembelajaran
5.3 Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
secara berkesinambungan
5.4 Menganalisis hasil penilaian proses dan hasil
belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan
Mengembangkan 6.1 Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran bagi
warga belajar
warga belajar untuk mencapai prestasi secara optimal
untuk
6.2 Menyediakan berbagai kegiatan pembelajaran untuk
mengaktualisasik
mengaktualisasikan potensi dan kreativitas warga
an berbagai
belajar
potensi yang

2.

3.

4.

Sumber: Draf Standar Tutor Pendidikan Kesetaraan, Jakarta : BSNP Diknas, 2008
52

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Pelatihan berbasis kompetensi merupakan suatu proses yang dirancang untuk
mengembangkan kemampuan secara khusus dan mencapai target kinerja yang
telah ditetapkan. Hasil pelatihan berbasis kompetensi berorientasi: (i) standar
kompetensi yang akan ditingkatkan, (ii) uraian kerja, (iii) kebutuhan, (iv) alur
karir. Oleh karena itu prinsip pelaksanaanya: (i) bermakna & praktek terbaik,
(ii) hasil belajar focus pada kompetensi yang harus dikuasai, (iii) fleksibel
dalam pembelajaran, (iv) mengakui pembelajaran sebelumnya, (v) proses
pelatihan tidak terikat waktu, (vi) penilaian berorientasi pada kompetensi, (vii)
monitoring & evaluasi secara komprehensif, (viii) konsistensi dengan standar,
(ix) ada akreditasi oleh lembaga berwenang.
2. Kompetensi yang dibutuhkan pada level eksekutif, level manajer dan level
karyawan atau guru/tutor berbeda dimana:(i) tingkat eksekutif atau ketua
lembaga diperlukan kompetensi yang berkaitan dengan strategic thingking dan
change leadership management, (ii) tingkat manajer atau penyelenggara
kelompok belajar, kompentensi yang diperlukan meliputi aspek-aspek
fleksibilitas, change implemention, interpersonal understanding and
empowering dan (iii) tingkat karyawan atau guru/tutor, kompetensi yang
diperlukan seperti fleksibilitas, menggunakan dan mencari berita atau informasi
baru, motivasi untuk terus belajar, motivasi berprestasi, motivasi kerja, dan
orientasi pelayanan kepada pelanggan.
3. Proses pelatihan berbasis komptensi dalam pelaksanaannya secara praktis dapat
menggunakan salah satunya model lima tahap, yaitu (i) analisis kebutuhan
pelatihan, (ii) pengembangan model pelatihan, (iii) perencanaan kurikulum, (iv)
perencanaan dan pengembangan intervensi pembelajaran, dan (v) evaluasi.
Faktor yang berpengaruh dalam proses pelatihan: (i) keselarasan tujuan,
kebutuhan dan kebijakan organisasi, (ii) dukungan dan anggaran dari
manajemen; (iii) kurikulum; (iv) peserta pelatihan; (v) instruktur, dan (vi)
metode, teknik, sarana dan prasarana.
4. Konsep kompetensi adalah sesuatu yang mendasari seseorang dalam melakukan
pekerjaan sehingga efektif kinerjanya. Kompentensi seorang individu
merupakan sesuatu yang melekat dalam dirinya yang dapat digunakan untuk
memprediksi tingkat kinerjanya. Karakteristik kompetensi meliputi: (i)
dorongan, (ii) watak, (iii) konsep diri, (iv) pengetahuan dan (v) keterampilan.
5. Profil kompetensi guru/tutor meliputi: (1) pedagogi dan andragogi dengan
indikator: (i) memahami peserta didik, (ii) merancang pembelajaran, (iii)
melaksanakan pemberlajaran, (iv) merancang dan melaksanakan evaluasi dan
(v) mengembangkan peserta didik, (2) profesional dengan indikator: (i)
mengusai landasan pendidikan, (ii) mengussai materi pelajaran, (iii)
menerapakan metode & strategi pembelajaran, (iv) menggunakan media dan (v)
menyusun program pembelajaran, (3) sosial dengan indikator: (i)
berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat dan (ii) menjalin
kerjasama dan (4) kepribadian dengan indikator: (i) kemampuan menjalankan
Referensi
agama yang dianaut, (ii) berperilaku sesuai norma, (iii) mengembangkan sikap
terpuji dan (iv) bersikap demokratis dan terbuka.
BSNP. (2008). Draf Standar Tutor Pendidikan Kesetaraan, Jakarta: Depdiknas.

Pelatihan Berbasis Kompetensi

53

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Dubois, D. (1993), Competency Based Performance Improvement: A Strategy for


Organization Change, United Stated by HRD Press. Inc.
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Mitrani, A., Daziel, M., And Fitt, D. (1992), Competency Based Human Resource
Management: Value-Driven Strategies for Recruitment, Development and Reward,
Kogan Page Limited:London.
PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Rothwell, W. J. and Kazanas H.C. (1996), Improving on-the-job Training, How to Establish
and Operate a Comprehensive OJT Program, Second Edition :John Wiley & Son
Inc. San Fransisco.
Ryllatt, A., et.al, (1993), Creating Training Miracles, AIM Australia.
Sanghi, S. (2007). The Hanbook of Competency Mapping, Understanding, Designing, and
Implementing Competency Models in Organizations. Sage Publications. AsiaPasific, Ltd.
Sanjaya. W. (2005). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta : Pernada Media
Spencer, M. L., and Spencer, M. S. (1993), Competence at Work:Models for Superrior
Performance, John Wily and Son. Inc. New York, USA.

54

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 4. PEMBELAJARAN DALAM PELATIHAN

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Teori pembelajaran orang dewasa dalam pelatihan, sehingga proses pelatihan melibatkan
aktivitas mental dan fisik peserta pelatihan secara sungguh-sungguh dan konsisten dalam
setiap pentahapan pelatihan.
2. Pembelajaran partisipatif yaitu upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam
kegiatan

pembelajaran mulai

perencanaan,

pelaksanaan

dan penilaian kegiatan

pembelajaran.
3. Pembelajaran dalam pelatihan guru/tutor dengan memperhatikan kondisi real pembelajaran
yang dilaksanakan guru/tutor.
4. Kinerja guru/tutor dalam pembelajaran yang terefleksi dalam tugas dan tanggungjawabnya
melaksanakan pembelajaran.
5. Efektivitas pelatihan untuk meningkatakan kompetensi guru/tutor dalam memberikan
pelayanan pembelajaran yang berkualitas.

Dalam kegiatan pelatihan pada dasarnya tidak bisa terpisah dari aktivitas pembelajaran. Oleh
karena itu ada dua teori pembelajaran yang dominan digunakan dalam menerapkan model
pelatihan berbasis kinerja ini, yaitu teori andragogi, dan teori pembelajaran partsisipatif.
Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan uraikan.

A. Teori Pembelajaran Orang Dewasa (Andragogi)


Dalam konsep yang paling awal, pendidikan orang dewasa adalah bagian dari kehidupan.
Pendidikan tidak hanya persiapan untuk memahami hal-hal yang belum diketahui dalam
kehidupan masa depan, melainkan keseluruhan kehidupan individu adalah belajar. Oleh
karena itu, pendidikan dapat tidak berakhir, yang berarti bahwa pendidikan pada orang
dewasa tetap terjadi dalam pembatasan kedewasaan dan kematangan (Trisnamansyah: 2007).
Pernyataan di atas dapat dimaknai bahwa pendidikan orang dewasa juga harus selalu
memperhatikan berbagai aspek dan persoalan hidup yang dihadapi. Kehidupan orang dewasa
Pembelajaran dan Pelatihan

55

Pelatihan Berbasis Kkinerja

yang dimaknai sebagai proses belajar adalah kehidupannya, maka sistem dan model
pembelajaran orang dewasa dipersyaratkan untuk memperhatikan demensi kehidupan orang
dewasa itu sendiri. Menurut Malcolm S. Knowles (1979) pendidikan orang dewasa harus
mengacu pada kebutuhan belajar warga belajar dengan melibatkan warga belajar sebagai
subjek belajar. Pelibatan warga belajar dalam proses pembelajaran didasarkan pada
kenyataan bahwa peserta belajar memiliki kekayaan pengalaman (the role of the learners
experience) yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran, memiliki konsep diri (the self
concept) yang kuat dalam memerankan diri dalam berbagai kehidupan, memiliki kesiapan
belajar yang khas (the readiness to learn) sesuai dengan minat dan kebutuhannya, orientasi
belajar yang

berbeda dengan anak kecil (orientasion to learning) sehingga diperlukan

strategi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristiknya, memiliki kebutuhan akan


pengetahuan (the need to know) dan motivasi (motivation).

Kebutuhan belajar dalam konteks pelatihan berbasis kinerja bukan hanya sosok kebutuhan
individual sebagai calon peserta pelatihan akan tetapi menyangkut kebutuhan yang real
dalam melaksanakan tugas pekerjaan di institusi. Di sini pelatihan melibatkan berbagai
sumber, fasilitas, orang-orang yang terlibat dan saling berinteraksi, perlengkapan material,
lingkungan sosial yang terorganisasi. Oleh karena itu, pelatihan berbasis kinerja guru/tutor
pendidikan kesetaraan sebagai bentuk dari pendidikan non formal dapat dilakukan dengan
melibatkan peserta pelatihan secara aktif baik secara individual maupun kelasikal.

Berkaitan dengan teori pembelajaran orang dewasa atau andragogi tersebut dapat
disimpulkan bahwa pelatihan berbasis kinerja akan efektif dapat dicapai apabila proses
pelatihan melibatkan aktivitas mental dan fisik peserta pelatihan secara sungguh-sungguh dan
konsisten dalam setiap pentahapan pelatihan. Menurut teori ini, orang dewasa dapat
menentukan apa yang akan dipelajari, dimana dan bagaimana cara mempelajarinya, serta
kapan melakukan kegiatan belajar dengan melibatkan pikiran dan perbuatan. Implikasinya,
dalam pelatihan berbasis kinerja orang dewasa akan belajar secara efektif dengan melibatkan
fungsi otak kiri dan otak kanan, menggunakan kemampuan intelek dan emosi serta dengan
memanfaatkan berbagai media, metode, teknik dan pengalaman belajar yang sesuai dengan
karakteristiknya. Maka seacara operasional pelaksanaan pendidikan orang dewasa dapat
terlihat pada proses pembelajaranya itu sendiri, karena disitu terjadi interaksi antara fasilitator
dengan warga belajar.
56

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Menurut konsep andragogi dari Knowles (1984: 44-46), bahwa pembelajaran orang dewasa
dirancang melibatkan sejumlah pandangan yang mengakui keterkaitan dengan kematangan
pebelajar dewasa, yaitu bahwa:
1. belajar orang dewasa berpusat pada masalah (problem - centered) bukan berpusat pada isi
pelajaran (content - centered);
2. belajar orang dewasa harus memungkinkan dan mendorong partisipasi aktif pebelajar;
3. belajar orang dewasa mendorong pebelajar melibatkan pengalaman masa lalu ke dalam
proses, untuk menilai kembali pengalaman itu di dalam situasi dan masalah-masalah yang
baru;
4. iklim belajar harus kolaboratif (instruktur dengan pebelajar, dan pebelajar dengan
pebelajar);
5. perencanaan belajar dilakukan sebagai aktivitas bersama antara pebelajar dengan instruktur;
6. evaluasi dilakukan sebagai aktivitas bersama antara pebelajar dengan instruktur;
7. evaluasi diarahkan pada penilaian kembali tentang kebutuhan dan minat, dan untuk
merancang ulang kembali aktivitas pembelajaran yang baru, dan
8. aktivitas belajar orang dewasa adalah pengalaman bukan "pemindahan dan penyerapan" (not
"transmittal and absorption").

Sedangkan menurut Brookfield, 1983 dalam Finger dan Asun (2004: 89-90) ada enam prinsip
pembelajaran orang dewasa, yakni:
1. pembelajaran orang dewasa bercirikan partisipasi sukarela;
2. pembelajaran orang dewasa terdapat saling menghargai;
3. adanya semangat kerja sama antara warga belajar dan fasilitator;
4. adanya tindakan atau refleksi konsep pragmatis yang khas;
5. terjadi pemikiran yang kritis, dan
6. belajar orang dewasa adalah mengarahkan diri untuk berkembang, dan mengaktualisasikan diri.

Keenam prinsip belajar orang dewasa menurut Brookfield tersebut, maksudnya bahwa
partisipasi sukarela dalam belajar orang dewasa sejalan dengan pedagogi humanistik, dimana warga
belajar terlibat menentukan kebutuhannya, langkah belajar, dan proses belajar. Saling
menghargai, artinya fasilitator harus menghargai warga belajar sebagai orang dewasa yang harus
serius melaksanakan belajarnya, dan pada dasarnya rnerupakan proses belajar individu. Semangat
Pembelajaran dan Pelatihan

57

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kerja sama antara fasilitator dengan warga belajar yaitu, fasilitator dan warga belajar sama-sama
terikat secara kolaboratif untuk mengatasi persoalan. Tindakan atau refleksi konsep yaitu
berkaitan dengan pengalaman psikologis yang membawa tindakan dan pemikiran kepada
upaya-upaya perbaikan. Pemikiran kritis adalah merefleksikan pengalaman pribadi, sehingga
seseorang bisa berkembang lebih bisa mengaktualisasikan diri dan berpikir kritis.

Menurut Knowles (1984: 9-12) mengungkapkan bahwa pembelajaran orang dewasa


ditekankan berdasarkan asumsi-asumsi yang membedakannya dengan pendekatan lain, yakni:
1. Terkait dengan konsep warga belajar, bahwa orang dewasa adalah orang yang mampu
belajar secara mandiri (seff-directed learning). Kenyataannya secara psikologis orang
dewasa didefinisikan sebagai orang yang telah sampai pada konsep diri, bertanggung
jawab untuk kehidupan dirinya menjadi mandiri. Bila memahami hal demikian, maka dapat
dikembangkan lebih luas kebutuhan secara psikologis orang dewasa dalam belajar yang harus
dipahami oleh yang lain. Orang dewasa belajar mungkin belajar secara mandiri dalam setiap
aspek, oleh karenanya tidak biasa memperlakukan mereka dalam pelatihan disamakan dengan
pembelajaran bagi anak- anak, karena jika ini terjadi maka akan terjadi konflik internal dalam
dirinya.
2. Terkait dengan peran pengalaman belajar, dijelaskan bahwa orang dewasa memasuki
aktivitas pendidikan baik dengan pengalaman yang lebih besar, maupun kualitas
pengalaman yang berbeda dari orang muda.

Perbedaan dalam pengalaman memiliki

beberapa konsekuensi dalam pelatihan, antara lain:


a. untuk kebanyakan jenis pembelajaran, orang dewasa adalah mereka sendiri sebagai
sumber belajar bagi yang lainnya;
b. penekanan yang lebih besar pada pendidikan orang dewasa adalah terletak pada masalah
tekniknya, yaitu diskusi kelompok, latihan simulasi, pengalaman lapangan, pemecahan
masalah, dan lain sebagainya;
c. rentang perbedaan pengalaman dalam kelompok sangat heterogen, maka konsekuensinya
adalah pendidikan orang dewasa menekankan pada rencana pembelajaran individual;
3. Terkait dengan kesiapan belajar, diasumsikan bahwa orang dewasa siap untuk belajar jika
mereka mengalami suatu kebutuhan untuk mengetahui atau melakukan sesuatu, agar mereka
dapat menampilkan aspek-aspek kehidupan yang lebih baik;
4. Terkait dengan orientasi belajar, mengingat orang dewasa termotivasi untuk belajar setelah
mengalami suatu kebutuhan dalam situasi kehidupan mereka, mereka memasuki suatu
58

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

aktivitas pendidikan dengan orientasi terpusat pada kehidupan, terpusat pada tugas, atau
terpusat pada pemecahan masalah untuk belajar.

Orang dewasa mau belajar karena

keinginan meningkatkan kemampuan menunjukkan suatu tugas, meryelesaikan masalah,


atau mendapatkan kehidupan dengan cara yang lebih memuaskan;
5. Terkait dengan motivasi belajar, sekalipun diakui bahwa orang dewasa akan merespon
terhadap beberapa motivasi eksternal (misalnya pekerjaan yang lebih baik, peningkatan
gaji), model pembelajaran orang dewasa mendasarkan bahwa motivasi yang paling
berpotensi adalah motivasi internal, yaitu keyakinan diri, pengakuan, kualitas hidup yang
lebih baik, kepercayaan diri yang lebih besar, aktualisasi diri dan semacamnya (Herzberg,
1966, Maslow, 1970, dalam Knowles, 1984).

Selanjutnya Knowles menjelaskan pula bahwa karakteristik rancangan proses pembelajaran


orang dewasa terdiri dari tujuh unsur, yaitu:
1. setting suasana, utamanya adalah suasana psikologis, seperti suasana saling menghormati,
kebersamaan saling kepercayaan, saling mendukung, keterbukaan dan apa adanya,
menyenangkan;
2. melibatkan perencanaan bersama-sama dengan pebelajar;
3. melibatkan pebelajar dalam mendiagnosis kebutuhannya sendiri;
4. melibatkan pebelajar dalam menyusun tujuan pembelajaran;
5. melibatkan pebelajar dalam merancang rencana pembelajaran;
6. membantu pebelajar melaksanakan rencana pembelajarannya, dan
7. melibatkan pebelajar dalam mengevaluasi pembelajaran mereka sendiri.

Aplikasi

prinsip-prinsip

belajar

orang

dewasa

menurut

Knowles

1984,

dalam (Cranton ,1992 : 13), meliputi:


1. Orang dewasa belajar secara mandiri (self directed learning), hal ini menunjuk pada lima
implikasi sebagai berikut:
a. iklim belajar harus menjadi sesuatu yang menyebabkan orang dewasa merasa diterima,
dihormati, dan didorong, yaitu harus adanya semangat bersama antara tutor dan peserta
didik sebagai kebutuhan bersama;
b. penekanannya harus ditempatkan pada keterlibatan pebelajar di dalam proses diagnosis
sendiri terhadap kebutuhan belajar;
c. pebelajar harus dilibatkan di dalam proses perencanaan belajar mereka sendiri, dengan
Pembelajaran dan Pelatihan

59

Pelatihan Berbasis Kkinerja

layanan tutor sebagai petunjuk prosedural dan sumber isi (content resource);
d. proses mengajar dan belajar menjadi tanggung jawab bersama pebelajar dan tutor,
yaitu bahwa tutor menjadi sumber dan katalisator dari pada instruktur, dan
e. pebelajar melakukan evaluasi sendiri, sedangkan tutor membantu untuk memperoleh bukti
ketercapaian kemajuan pebelajar;
2. Orang dewasa memiliki banyak pengalaman yang beragam, hal demikian memiliki tiga
implikasi di dalam praktek, yaitu:
a. teknik-teknik pengalaman partisipatori harus digunakan agar pengalaman pebelajar
terbuka;
b. ketentuan harus dibuat bagi pebelajar untuk merencanakan bagaimana mereka akan
menerapkan pembelajarannya dalam kehidupan sehari-hari, dan
c. aktivitas harus diupayakan dengan mendorong pebelajar melihat penglamannya secara
obyektif dan mempelajari bagaimana belajar dari pengalaman itu;
3. Orang dewasa siap belajar sebagai hasil yang terdapat pada nilai transisi pengembangan,
konsep demikian sedikitnya memiliki dua implikasi, yaitu:
a. kurikulum harus diorganisasikan sedemikian rupa untuk memenuhi keterkaitan
kehidupan nyata individual, dan
b. konsep kesiapan pengembangan tugas harus dipertimbangkan di dalam pengelompokan
pebelajar; dan
4. Orang dewasa lebih suka belajar berpusat pada masalah, atau pada performansi, prinsip
demikian memiliki beberapa implikasi bahwa:
a. pendidik harus menyesuaikan keterkaitan secara individual, dan mengembangkan
pengalaman-pengalaman belajar yang relevan;
b. prinsip pengorganisasian yang tepat untuk menjadi tutor belajar orang dewasa sesuai
dengan wilayah masalah, bukan subyek pelajaran, dan
c. pada permulaan sesi pembelajaran orang dewasa, harus ada sebuah latihan untuk
mendorong peserta mengidentifikasi masalah-masalah khusus.

Menurut Mezirow dalam (Cranton : 1992) mendefinisikan pendidikan orang dewasa bahwa:
...adult education becomes the process of assisting those who are fulfilling

adult roles to

understand the meaning of their experience by participating more fully and freely in
rational discource to validate expressed idieas and totake action upon resulting insight.
Rational thought and action are the cardinal goals of adult education. Dalam definisi tersebut
60

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dapat dicermati bahwa proses refleksi diri yang penting, mengarah pada formulasi ulang
tentang

perspektif

pengertian

secara

individual

(asumsi

bahwa

biasanya

orang

menginterpretasikan pengalaman). Formulasi ulang ini sesuai dengan tindakan yang dilakukan
dalam memformulasi ulang tersebut, hal ini sering disebut sebagai belajar transformatif
(transformative learning). Upaya untuk memfasilitasi belajar ini oleh Mezirow disebut
pendidikan emansipasi (emancipatory education).

Sedangkan menurut Smith dalam bukunya Learning how to learn (1982: 20-23)
mengemukakan bahwa proses pendidikan orang dewasa, pembelajarannya terdiri dari tiga
komponen atau dimensi penting yang saling berhubungan, yaitu:
1. kebutuhan pebelajar, sebagai keperluan untuk berhasil dalam belajar;
2. gaya belajar, yang dimiliki oleh setiap orang secara berbeda. dan
3. pelatihan, untuk menjadikan orang lebih baik dan berhasil dalam belajar.

Kebutuhan pebelajar untuk berhasil dalam belajar, dapat dijelaskan bahwa bagaimana seseorang
mampu belajar secara efektif untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai situasi, tanpa
mempermasalahkan metode apapun yang digunakan, yang terkait dengan kompetensikompetensi yang perlu dipelajari. Hal demikian lebih menekankan pada belajar secara mandiri,
sebagaimana dikatakan oleh Apps, 1978 dalam (Smith, 1982: 21) bahwa pebelajar dewasa
memiliki kemampuan dan tanggung jawab untuk merencanakan belajar sendiri. Kebutuhan belajar
yang relevan pebelajar dewasa, meliputi:
1. pemahaman pengetahuan secara umum untuk membantu mempersiapkan landasan sikap
dan motivasi positif bahwa belajar sangat diperlukan;
2. keterampilan-keterampilan dasar, untuk membantu pebelajar melakukan belajar yang
signifikan tethadap keberhasilan dalam belajar, dan
3. pengetahuan dirinya sendiri (self-knowledge), penting untuk membantu kepedulian dan
pemahaman dirinya sendiri sebagai pebelajar.

Pembelajaran pada proses pendidikan orang dewasa menurut Smit difokuskan pada tiga
model pembelajaran, yakni:
1. belajar secara mandiri;
2. belajar secara kolaboratif. dan
3. belajar secara institusional (tradisional).
Pembelajaran dan Pelatihan

61

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Belajar secara mandiri, dilakukan sebagai kegiatan belajar secara personal yang memerlukan
keterampilan perencanaan untuk memutuskan tentang apa, kapan, bagaimana dan dimana
belajar, untuk melakukan setting tujuan-tujuan yang realistik, menemukan sumber-sumber
belajar, serta memilih strategi dan implementasi belajar. Belajar secara kolaboratif, prosesnya
menekankan pada kelompok pebelajar yang belajar atau memecahkan masalah dengan setiap
anggota terlibat dalam perencanaan, melaksanakan kegiatan, dan mengevaluasi terhadap upayaupaya yang dilakukan. Penekanan belajarnya terdiri kelompok kecil, belajar secara tatap muka,
menggunakan pengalaman dan keahlian dan seluruh anggota kelompok dalam menyelesaikan
tugas-tugas dan tujuan kelompok. Model belajar secara institusional (tradisional), bertujuan
untuk mencapai tingkat suatu kelas pendidikan dalam suatu setting pendidikan dan atau
lembaga tertentu.
Dalam

konteks

pelatihan

atau

pengembangan

sumber

daya

manusia,

selanjutnya Knowles (1984: 117) menjelaskan bahwa, agen perubahan, fasilitator,


konsultan,

perancang

andragogi,

perlu

pelatihan

yang

mempersiapkan

melaksanakan

serangkaian

pembelajaran

prosedur

untuk

dengan

model

melibatkan

warga

belajar dalam proses pembelajaran, setidaknya mencakup unsur-unsur:


1. membangun iklim belajar yang kondusif;
2. menciptakan mekanisme perencanaan bersama;
3. mendiagnosis kebutuhan belajar belajar;
4. merumuskan

tujuan

program,

mencakup

konten

untuk

memenubi

kebutuhan

belajar;
5. merancang pola pengalaman belajar;
6. melaksanakan pengalaman belajar dengan teknik-teknik dan materi yang cocok/sesuai, dan
7.

mengevaluasi hasil belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.

Model proses ini berfokus pada penyiapan prosedur dan sumber-sumber untuk membantu
warga belajar memperoleh informasi dan keterampilan.
B. Teori Pembelajaran Partisipatif
Menurut Sudjana dalam bukunya tentang Strategi Pembelajaran (2005: 155) mendefinisikan
bahwa: Pembelajaran partisipatif adalah upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik
dalam
62

kegiatan

pembelajaran.

Kegiatan

pembelajaran partisipatif mengandung arti

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

ikutsertanya peserta didik di dalam program pembelajaran, yang diwujudkan dalam tiga
tahapan kegiatan pembelajaran, yaitu
pelaksanaan

perencanaan

program

(program planning),

program (program implementation), dan penilaian (program evaluation)

kegiatan pembelajaran. Definisi tersebut tersebut di atas mencerminkan adanya upaya untuk
terjadinya keterlibatan peserta dalam setiap tahapan pembelajaran, yaitu keterlibatan pebelajar
mulai dari tahap perencanaan (identifikasi kebutuhan dan penyusunan tujuan), penetapan
program kegiatan pembelajaran, pelaksanaan program kegiatan pembelajaran, dan evaluasi program
pembelajaran.

Keterlibatan pebelajar tersebut sebagai bentuk partisipasi pebelajar. Selanjutnya Sudjana (2000:
155-157) menjelaskan bahwa:
1. partisipasi pada tahap perencanaan, merupakan keterlibatan warga belajar dalam kegiatan
mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan dan prioritas masalah, sumber-sumber
atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran. Kebutuhan
belajar dinyatakan oleh warga belajar merupakan keinginan yang dirasakan mengenai
pengetahuan, keterampilan, dan nilai apa yang rngin dimiliki melalui kegiatan pembelajaran;
2. partisipasi pada perumusan tujuan belajar, adalah keterlibatan warga belajar merumuskan
tujuan belajar. Tujuan belajar sebagai pemyataan mengenai perolehan belajar yang
hendak dicapai oleh pebelajar melalui kegiatan belajar. Untuk mencapai tujuan belajar
tersebut harus dirancang dan ditetapkan program kegiatan pembelajaran. Program kegiatan
pembelajaran yang dirumuskan meliputi komponen-komponen bahan belajar, metode dan
teknik pembelajaran, evaluasi proses dan hasil, alat-alat dan fasilitas, dan waktu yang
digunakan. dan
3. partisipasi pada tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran, berupa keterlibatan
warga belajar dalam menciptakan iklim yang kondusif dalam belajar. Iklim kondusif yang
dimaksudkannya meliputi:
a. kedisiplinan warga belajar yang ditandai dengan keteraturan dalam kehadiran pada setiap
kegiatan pembelajaran;
b. pembinaan hubungan antar sesama warga belajar, dan warga belajar dengan pengajar
(pendidik) sehingga tercipta hubungan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai,
saling membantu dan saling belajar;
c. interaksi kegiatan pembelajaran antara warga belajar dengan pengajar dilakukan secara
horizontal, yang menggambarkan terjadinya komunikasi yang sejajar baik antara warga
Pembelajaran dan Pelatihan

63

Pelatihan Berbasis Kkinerja

belajar dengan pengajar, maupun antar warga belajar, dan


d. kegiatan pembelajaran berpusat pada warga belajar bukan pada pengajar, artinya
menekankan pada peran warga belajar yang lebih aktif melakukan kegiatan
pembelajaran, bukan terletak pada pengajar yang mengutamakan kegiatan mengajar.

Menurut Sudjana (2000: 172-174), menyatakan bahwa pembelajaran partisipatif terdiri dari
empat prinsip yaitu bahwa pembelajaran partisipatif:
1. Didasarkan pada kebutuhan belajar (learning needs based);
2. Kebutuhan belajar sebagai landasan untuk penyusunan dan pengembangan program kegiatan
pembelajaran partisipatif, sehingga kebutuhan belajar menjadi salah satu faktor penting dalam
pembelajaran partisipatif. Pentingnya kebutuhan belajar didasarkan pada asumsi bahwa warga
belajar akan belajar secara efektif, jika semua komponen program pembelajaran dapat
membantu warga belajar untuk memenuhi kebutuhan belajarnya;
3. Berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran (learning goals and objective oriented);
4. Pembelajaran partisipatif direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan kebutuhan belajar warga belajar.
Penyusunan tujuan pembelajaran harus mempertimbangkan latar belakang pengalaman warga
belajar, potensi yang dimiliki, sumber-sumber yang tersedia di dalam lingkungan kehidupan
warga belajar, dan kemungkinan kendala atau hambatan dalam kegiatan pembelajaran;
5. Berpusat pada warga belajar (participant centered), prinsip ini mengandung makna bahwa
kegiatan pembelajaran yang dilakukan, harus didasarkan dan disesuaikan dengan latar
belakang kehidupan warga belajar. Latar belakang kehidupan warga belajar yang meliputi
latar belakang pendidikan, pekerjaan atau tugas, pergaulan, agama dan lain-lain, harus
dijadikan dasar dalam penyusunan rencana kegiatan pembelajaran partisipatif. Perancangan
atau penyusunan proses kegiatan pembelajaran sebagai kegiatan bagian dari peran utama
warga belajar. Dengan demikian kegiatan pembelajaran menjadi milik warga belajar, dan
warga belajar berkewajiban melakukan proses pembelajaran yang telah ditetapkan; dan
6. Berangkat dari pengalaman belajar (experiential learning), kegiatan pembelajaran
partisipatif disusun dan dilaksanakan bertitiktolak dari hal-hal yang telah dikuasai warga
belajar atau dari pengalaman yang telah dikuasai warga belajar.

Prinsip ini berkaitan erat dengan pengalaman di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan, dari
cara-cara belajar (learning styles) yang biasa dilakukan warga belajar. Proses kegiatan pembelajaran
64

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

terwujud dalam bentuk kegiatan warga belajar yang dilakukan secara bersama dalam situasi
pengalaman nyata, baik pengalaman pada tugas yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari,
maupun pengalaman yang diangkat dari tugas dalam lingkungan pekerjaan. Dengan demikian
pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran partisipatif lebih menitikberatkan
pada pendekatan pemecahan masalah. Karakteristik pembelajaran partisipatif berbeda dengan
karakteristik model pembelajaran lainnya, didasarkan pada tinjauan interaksi antara pengajar
dengan warga belajar. Sudjana (2000: 180-181), menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran
partisipatif meliputi:
1. Pengajar menempatkan diri pada kedudukan yang tidak serba mengetahui terhadap seluruh
bahan belajar, dan memandang warga belajar sebagai sumber nilai yang bermanfaat dalam
kegiatan pembelajaran;
2. Pengajar memainkan peran dalam membantu warga belajar melakukan kegiatan belajar.
Kegiatan belajar didasarkan pada kebutuhan belajar yang dirasa perlu, penting, dan
mendesak oleh warga belajar;
3. Pengajar memotivasi warga belajar agar berpartisipasi dalam menyusun tujuan belajar, bahan
belajar, serta langkah-langkah yang akan ditempuh dalam kegiatan pembelajaran;
4. Pengajar menempatkan diri sebagai warga belajar selama kegiatan pembelajaran. Pengajar
memberikan dorongan dan bimbingan kepada warga belajar untuk selalu memikirkan,
mempelajari, melakukan dan menilai kegiatan pembelajaran;
5. Pengajar bersama-sama warga belajar melakukan kegiatan saling belajar melalui bertukar
pikiran tentang isi, proses dan hasil kegiatan pembelajaran, serta langkah-langkah
pengembangan pengalaman belajar selanjumya;
6. Pengajar berperan membantu warga belajar untuk menciptakan situasi yang kondusif dalam
belajar, mengembangkan semangat belajar, dan saling bertukar pengalaman seeara terbuka.
Dengan demikian warga belajar akan melibatkan diri seeara aktif dan bertanggung jawab
dalam kegiatan pembelajaran;
7. Pengajar mengembangkan kegiatan pembelajaran berkelompok, memperhatikan minat
individual warga belajar, serta membantu pebelajar untuk meningkatkan respon secara
optimal terhadap stimulus yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran;
8. Pengajar mendorong warga belajar untuk tetap meningkatkan semangat berprestasi, dalam
arti pebelajar agar senantiasa untuk berkeinginan paling berhasil, semangat berkompetisi dalam
belajar, dan semangat menghadapi tantangan, serta berorientasi pada kehidupan yang lebih
baik; dan
Pembelajaran dan Pelatihan

65

Pelatihan Berbasis Kkinerja

9. Pengajar membantu dan mendorong warga belajar untuk mengembangkan kemampuan


memecahkan masalah yang diangkat dari kehidupan warga belajar, agar warga belajar
mampu berpikir dan bertindak dalam menghadapi dunia kehidupannya. Dalam konteks
pelatihan, selanjutnya Sudjana menyatakan bahwa model pembelajaran partisipatif dapat
dijadikan pendekatan pembelajaran utama dalam program pelatihan tutor pendidikan kesetaraan.

C. Alur Pikir Pembelajaran dalam Pelatihan


Kompetensi guru/tutor merupakan salah satu komponen penentu untuk berhasilnya
pembelajaran pendidikan kesetaraan. Secara empiris profil kompetensi guru/tutor pendidikan
kesetaraan masih lemah kalau disandingkan dengan kompetensi ideal. Faktor penyebabnya
terjadinya miss-match keahlian dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan, dan juga secara
kualifikasi pendidikan pada umumnya S1 dari non kependidikan. Kondisi tersebut, mendorong
perlunya pengembangan kompetensi guru/tutor, khususnya kompetensi pedagogik dan
andragogik melalui suatu pelatihan berbasis kinerja yang dapat meningkatkan kompetensi
yang sesuai dengan standar yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun
2005.

Dalam kontek pembelajaran dalam pelatihan guru/tutor perlu memperhatikan kondisi real
pembelajaran yang dilaksanakan guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM, dan teori
pembelajaran yang tepat sesuai karakteristik peserta pelatihan yaitu teori andragogi dan teori
pembelajaran partisipatif. Dua teori ini termasuk dalam humanistic theories, dimana dalam
pelaksanaan pembelajaran peserta pelatihan diperlakukan sebagai orang dewasa yang kaya
pengalaman, mempunyai konsep diri, orientasi belajar untuk mengatasi masalah dan

hasil

pelatihanya bisa langsung diaplikasikan sebagai guru/tutor pendidikan kesetaraan.

Dalam model pelatihan berbasis kinerja untuk peningkatan kompetensi menggunakan teori
dan konsep pembelajaran Behavioristic theories, dimana peserta pelatihan diintervensi dan
dibentuk perilakunya sebagai guru/tutor yang memiliki keterampilan melaksanakan
pembelajaran yang lebih baik. Sehingga model pelatihan berbasis kinerja dapat
direkomendasikan menjadi alternatif dalam pemenuhan standar kompetensi yang ideal.
Untuk jelasnya alur pikir ini dapat di lihat pada gambar di bawah ini.

66

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Gambar 4.1 Alur Pikir Pembelajaran dalam Pelatihan

KOMPETENSI
IDEAL

KOMPETENSI
TUTOR PAKET C

PROFIL
KOMPETENSI

Terjadinya Missmacth,
Kulifikasi Akademik
S1 Nondik
ANDRAGOGI
(Humanistic
Theories)

PEMBELAJARAN
PROGRAM
PAKET C

PELATIHAN
YANG
DIKEMBANGKAN

PELATIHAN
(Behavioristic
Theories)

MODEL
PELATIHAN
BERBASIS
KINERJA

PERFORMANSI
TUTOR
MENINGKAT

DIREKOMEN
DASIKAN
ALTERNATIF PEMENUHAN
STANDAR KOMPETENSI

Pembelajaran dan Pelatihan

67

Pelatihan Berbasis Kkinerja

D. Kinerja Guru/Tutor dalam Pembelajaran


Kinerja tutor adalah performans yang ditunjukkan

oleh seorang guru/tutor dalam

melaksanakan tugas-tugas yang telah dijabarkan, dapat diwujudkan atau dilaksanakan sebagai
bentuk tanggung jawab yang menggambarkan pola perilaku dan aktualisasi dari kompentensi
yang dimiliki. Pada umumnya para ahli memberikan batasan mengenai kinerja disesuaikan
dengan sudut pandangnya masing-masing. Menurut Simamora (1997: 327), kinerja adalah
tingkat pencapaian standar pekerjaan. Sementara Nawawi (1997: 235) menegaskan bahwa
kinerja diistilahkan sebagai karya adalah hasil pelaksanaan suatu pekerjaan, baik bersifat
fisik/material maupun nonfisik/nonmaterial. Hal senada dikemukakan oleh Mangkunegara
(1986: 86) bahwa kinerja sama dengan performance yang esensinya adalah berapa besar dan
berapa jauh tugas-tugas yang telah dijabarkan, telah dapat diwujudkan atau dilaksanakan
yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab yang menggambarkan pola perilaku
sebagai aktualisasi dari kompentensi yang dimiliki.
Menurut Whitmore (1997: 104) mengatakan bahwa pengertian kinerja yang dianggapnya
representatif untuk menuntut tergambarnya tanggung jawab yang besar dari pekerjaan
seseorang. Menurutnya, kinerja yang nyata jauh melampaui apa yang diharapkan adalah
kinerja yang menetapkan standar-standar yang melampaui apa yang diminta atau diharapkan
orang lain. Dengan demikian menutrut Whitmore kinerja adalah suatu perbuatan, suatu
prestasi atau apa yang diperlihatkan seseorang melalui keterampilan yang nyata. Bertolak dari
pandangan Whitmore di atas, kinerja menuntut adanya pengekspresian potensi seseorang, dan
pengekspresian ini menuntut pengambilan tanggung jawab atau kepemilikan yang
menyeluruh. Oleh karena itu, pengarahan dari pimpinan suatu organisasi akan menjadi
penting dalam rangka mengoptimalkan potensi seseorang dalam mewujudkan kinerjanya.
Pandangan lain mengenai kinerja dikemukakan oleh Patricia King (1993: 19) bahwa kinerja
adalah aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugas pokok yang dibebankan kepadanya.
Mengacu dari pandangan ini, dapat diinterpretasikan bahwa kinerja seseorang dihubungkan
dengan tugas-tugas rutin yang dikerjakannya. Berbeda dengan Patricia King, Terence (1978:
25) memandang bahwa kinerja merupakan hasil interaksi atau berfungsinya unsur-unsur
motivasi, kemampuan, dan persepsi pada diri seseorang. Pandangan yang hampir sama
dikemukakan oleh Daniel bahwa kinerja adalah interaksi antara kemampuan seseorang

68

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dengan motivasinya. Berdasarkan pandangan ini dapat ditegaskan bahwa kinerja merupakan
penjumlahan antara kemampuan dan motivasi kerja yang dimiliki seseorang.

Dalam kaitan dengan kinerja guru/tutor dalam kegiatan pembelajaran pendidikan kesetaraan,
kinerja mereka dapat terefleksi dalam tugas dan tanggungjawabnya yang meliputi:
1. aspek perencanaan pembelajaran;
2. asspek pengorganisasian pembelajaran;
3. aspek pelaksanaan/proses pembelajaran, dan
4. aspek pelaksanaan evaluasi pembelajaran. Empat aspek tersebut dijabarkan ke dalam
indikator-indikator sebagai berikut:
a. penyampaian metode sesuai rencana pembelajaran (RPP);
b. penjelasan mudah dipahami;
c. motivasi yang diberikan;
d. kesiapan dalam mengajar;
e. kemampuan menarik minat belajar;
f. sistematika dalam pembelajaran;
g. menciptakan suasana belajar yg kondusif;
h. penguasaan bahan/materi pelajaran;
i. disiplin waktu mengajar;
j. kemampuan pemberian contoh aplikatif;
k. lemampuan membimbing warga belajar;
l. kemampuan memberikan penjelasan;
m. pemberian kesempatan bertanya dan berdiskusi;
n. penampilan selama melaksanakan mengajar, dan
o. kualitas secara keseluruhan dalam pembelajaran.

E. Efektifitas Pelatihan Dalam Meningkatkan Kompetensi

Keberadaan guru/tutor dalam kelompok belajar memiliki posisi yang sangat strategis.
Keberhasilan kelompok belajar sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang bekerja di
dalamnya. Perubahan lingkungan yang begitu cepat menuntut kemampuan mereka dalam
menangkap fenomena perubahan tersebut, menganalisa dampaknya terhadap kelompok
belajar dan menyiapkan langkah-langkah guna menghadapi kondisi tersebut. Menyimak
Pembelajaran dan Pelatihan

69

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kenyataan di atas maka peran guru/tutor dalam kelompok belajar tidak hanya sekedar
administratif tetapi justru lebih mengarah pada bagaimana mereka mampu mengembangkan
kompetensi agar menjadi kreatif. Seiring dengan persaingan yang semakin tajam perubahan
teknologi yang cepat dan lingkungan yang begitu drastis pada setiap aspek kehidupan
manusia, maka setiap kelompok belajar membutuhkan guru/tutor yang kompenten agar
memberikan pelayanan berkualitas. Dengan kata lain kelompok belajar tidak hanya mampu
memberikan pelayanan yang memuaskan tetapi juga berorientasi pada kualitas atau mutu.
Sehingga kelompok belajar tidak semata-mata mengejar pencapaian hasil belajar yang tinggi
tetapi lebih pada kinerja dalam proses pembelajaranannya. Kinerja setiap guru/tutor
merupakan kunci pencapaian hasil belajar. Karena kinerja adalah suatu hasil dimana
guru/tutor yang ada dalam kelompok belajar secara bersama-sama membawa hasil akhir yang
didasarkan pada mutu dan standar yang ditetapkan.

Konsekuensinya kelompok belajar memerlukan guru/tutor yang memiliki keahlian dan


kemampuan yang handal sesuai dengan tuntutan standar kompetensi. Oleh karena itu
pelatihan berbasis kinerja merupakan bagian dari pelatihan berbasis kompetensi yang
dilakukan agar dapat memberikan hasil belajar berupa keterampilan dalam melaksanakan
tugas pembelajaran yang sesuai dengan dengan standar kinerja yang telah ditetapkan.
Kompentensi menyangkut kewenangan setiap individu untuk melakukan tugas atau
mengambil keputusan sesuai dengan perannya dalam kelompok belajar yang relevan dengan
keahlian, pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Kompetensi yang dimiliki guru/tutor
pendidikan kesetaraan secara individual harus mampu mendukung pelaksanaan pembelajaran
yang efektif dan mampu mendukung setiap perubahan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran di kelompok belajar. Dengan kata lain kompentensi guru/tutor dapat
mendukung peningkatan kinerja pembelajaran pada pendidikan kesetaraan.

Mengacu pada pendapat Ryllat, et.al (1993) kompentensi memberikan beberapa manfaat
kepada guru/tutor yaitu:
1. Kejelasan

relevansi

pembelajaan

sebelumnya,

kemampuan

untuk

mentransfer

keterampilan, nilai, dari kualifikasi yang diakui, dan potensi pengembangan karier,
2. Adanya kesempatan bagi guru/tutor untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan melalui
akses sertifikasi nasional berbasis standar yang telah ditentukan,
3. Kompetensi yang ada sekarang dan manfaatnya akan dapat memberikan nilai tambah
70

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pada pembelajaran kelompok belajar pendidikan kesetaraan,


4. Penilaian kinerja yang lebih obyektif dan umpan balik berbasis standar kompetensi yang
ditentukan dengan jelas.

Sedangkan manfaat kompetensi bagi lembaga penyelenggara pendidikan kesetaraan adalah:


1. Pemetaan yang akurat mengenai kompetensi guru/tutor yang ada dan yang akan
dibutuhkan dalam pendidikan kesetaraan,
2. Meningkatnya efektifitas pembelajaran dengan cara menyesuaikan kompetensi yang
diperlukan tutor dengan standar kompetensi,
3. Pelatihan difokuskan pada kesenjangan kompetensi yang dimiliki guru/tutor dengan
kompetensi yang lebih spesifik dan
4. Pengambil keputusan dalam pendidikan kesetaraan akan lebih percaya diri karena
guru/tutornya telah memiliki kompetensi dalam keterampilan pembelajaran yang
diperoleh dalam Pelatihan.

Pembelajaran dan Pelatihan

71

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Teori pembelajaran orang dewasa dalam pelatihan akan efektif, apabila proses
pelatihan melibatkan aktivitas mental dan fisik peserta pelatihan secara
sungguh-sungguh dan konsisten dalam setiap pentahapan pelatihan. Menurut
teori ini, orang dewasa dapat menentukan apa yang akan dipelajari, dimana
dan bagaimana cara mempelajarinya, serta kapan melakukan kegiatan belajar.
Sesuai dengan asumsi dalam pembelajaran dewasa yaitu: (i) memiliki konsep
diri, (ii) kaya pengalaman, (iii) kesiapan belajar, (iv) orientasi belajar dan (v)
motivasi belajar eksternal. Oleh karena itu para perancang pelatihan perlu
mempersiapkan proses pembelajaran dengan memperhatikan: (i) iklim belajar
yang kondusif; (ii) perencanaan bersama; (iii) mendiagnosis kebutuhan belajar;
(iv) merumuskan tujuan program kebutuhan belajar; (v) merancang pola
pengalaman belajar; (vi) melaksanakan pengalaman belajar dengan teknik dan
materi yang sesuai; dan (vii) mengevaluasi hasil belajar.
2. Pembelajaran partisipatif adalah upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta
didik dalam kegiatan pembelajaran mulai perencanaan, pelaksanaan dan
penilaian kegiatan pembelajaran. Dengan karakteristik: (i) pengajar menempatkan
diri tidak serba tahu terhadap seluruh bahan belajar; (ii) pengajar memainkan
peran sebagai warga belajar; (iii) pengajar memotivasi warga belajar agar
berpartisipasi; (iv) pengajar menempatkan diri sebagai warga belajar selama
kegiatan pembelajaran; (v) pengajar bersama-sama warga belajar melakukan
kegiatan saling belajar; (vi) pengajar berperan membantu warga belajar untuk
menciptakan situasi yang kondusif dalam belajar; (vii) pengajar
mengembangkan kegiatan pembelajaran berkelompok; (viii) pengajar mendorong
supaya berprestasi; dan (ix) pengajar membantu memecahkan masalah.
3. Dalam kontek pembelajaran dalam pelatihan guru/tutor perlu memperhatikan
kondisi real pembelajaran yang dilaksanakan guru/tutor, teori pembelajaran yang
tepat sesuai karakteristik peserta pelatihan yaitu andragogi dan teori pembelajaran
partisipatif (humanistic theories), model pelatihan berbasis kinerja menggunakan
teori perilaku (Behavioristic theories), dimana peserta pelatihan diintervensi
dan dibentuk perilakunya sebagai guru/tutor yang memiliki keterampilan yang
lebih baik.
4. Kinerja guru/tutor dalam pembelajaran terefleksi dalam tugas dan
tanggungjawabnya yang meliputi aspek (i) perencanaan pembelajaran, (ii)
pengorganisasian pembelajaran, (iii) pelaksanaan/proses pembelajaran, dan (iv)
melaksanakan evaluasi pembelajaran.
5. Efektivitas pelatihan harus mampu meningkatakan kompetensi guru/tutor
dalam memberikan pelayanan pembelajaran yang berkualitas. Karena setiap
guru/tutor merupakan kunci pencapaian hasil belajar bagi peserta didikinya.
Guru/tutor yang kompeten cenderung mempunyai kinerja yang baik dalam
kelompok belajar atau lembaganya. Hal ini secara bersama-sama membawa
dampak terhadap hasil akhir yaitu mencapai mutu dan standar yang
ditetapkan.

72

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi

Cranton, P. A. (1992). Working with Adult Learners. Toronto: Wall & Emerson, Inc.
Finger, M. & Asun, J. M. (2004). Quo Vadis Pendidikan Orang Dewasa (Alih Bahasa:Nining
Fatikasari) Yogyakarta : Pustaka Kendi
King, P. (1993). Performance Planning & Appraisal, A How-To Book for Manager. New
York: McGraw-Hill Book Company.
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Mangkunegara, A. P. (1986) Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung.
Rosdakarya.
Nawawi, H. (1997). Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan
dengan Ilustrasi di Bidang Pendidikan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Ryllatt, A., et.al, (1993), Creating Training Miracles, AIM Australia.
Simamora, H. (1997), Manajemen Sumber daya Manusia, Jakarta: STIE YPKN
Smith R.M., (1982), Learning How to Learn Applied Theory for Adults, Chicago, Follet
Publishing Company.
Sudjana D., (2005), Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah, Bandung:
Nusantara Press.
Terence, M. (1978). People in Organisations Understanding Their Behavior. Kogaksha:
McGraw-Hill Book Company.
Trisnamansyah, S. (2007). Pendidikan Orang Dewasa dan Usia Lanjut. (Hand Out Kuliah
PLS UPI). Bandung. SPS UPI
Whitmore, J. (1997). Coaching Performance. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Pembelajaran dan Pelatihan

73

Pelatihan Berbasis Kkinerja

74

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 5. MODEL PELATIHAN BERBASIS KINERJA

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Pelatihan guru/tutor di DKI Jakarta yang dilakukan melalui model pelatihan berbasis
kinnerja.
2. Pengembangan model pelatihan berbasis kinerja

bagi guru/tutor untuk meningkatkan

kompetensi pedagogik dan andragogik.


3. Pengembangan model konseptual pelatihan berbasis kinerja.
4. Pengujian model pelatihan berbasis kinerja secara hipotetik.

A. Studi Kasus pada Pelatihan Guru/Tutor Di DKI Jakarta


Studi kasus ini bertujuan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang dianggap relevan
mendukung pengembangan model pelatihan berbasis kinerja untuk peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor Pendidikan Kesetaraan. Kegiatan studi kasus ini
dilakukan melalui pengumpulan informasi berkaitan dengan:
1. hasil-hasil penelitian lain yang relevan dengan model pelatihan berbasis kinerja;
2. teori-teori yang mendukung terhadap pengembangan model pelatihan;
3. analisis kesenjangan antara kondisi faktual pelatihan dalam pengembangan kompetensi
guru/tutor dengan permasalahan aktual yang dihadapi guru/tutor dalam melaksanakan
tugas pembelajaran sehari-hari, dan
4. analisis kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan yang
seharusnya.

Kegiatan studi kasus ini dilakukan dengan menggunakan teknik:


1. wawancara dengan Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas
Pendidikan Nasional Provinsi DKI Jakarta, Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan,
wawancara tersebut dalam kaitannya untuk memperoleh informasi tentang kebijakankebijakan pengembangan kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan melalui program
pelatihan di wilayah Provinsi DKI Jakarta;
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

75

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. wawancara dengan penyelenggara pelatihan (BP3LS) melalui Kepala Seksi Pelatihan


yang yang mempunyai kewenangan untuk melakukan program pelatihan guru/tutor
pendidikan kesetaraan di Provinsi DKI Jakarta. Wawancara dengan pengelola pelatihan
tersebut, untuk memperoleh informasi atau gambaran tentang model pelatihan yang
dilakukan di lembaga tersebut;
3. survei terhadap guru/tutor pendidikan kesetaraan sebagai peserta pelatihan dengan tujuan
untuk memperoleh informasi tentang kualifikasi dan kompetensi guru/tutor dalam
melakukan kegiatan pembelajaran dan sekaligus untuk membuat profil kompetensi
guru/tutor;
4. survei di PKBM 15 Cideng, PKBM Al Ishlah Jakarta Pusat, PKBM Miftahul Jannah
Jakarta Timur, PKBM 17 Kemayoran. Sebagai penyelenggara program pendidikan
kesetaraan di Provinsi DKI Jakarta. Dimana PKBM tersebut yang ditentukan sebagai
sampel dalam studi kasus ini.
Survei yang dilakukan PKBM di DKI Jakarta tersebut ditempuh melalui kegiatan studi
dokumen, wawancara, dan pengamatan terhadap guru/tutor dalam pembelajaran. Studi
dokumen pada kegiatan survei di PKBM dimaksudkan untuk mengetahui data umum PKBM,
data warga belajar program pendidikan kesetaraan, data ketenagaan (guru/tutor), data sarana
dan prasarana, data kurikulum dan kegiatan pembelajaran. Secara keseluruhan kegiatan studi
kasus yang dilakukan bertujuan untuk:
1. mengetahui

profil

tutor

berkenaan

dengan

kualifikasi

akademik

dan

profil

kompetensinya;
2. model pelatihan dan strategi pengembangan kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan
di Provinsi DKI Jakarta;
3. mengetahui kondisi pelaksanaan pembelajaran program pendidikan kesetaraan di PKBM,
dan
4. mengetahui ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran di PKBM.
Deskripsi hasil kegiatan pengumpulan informasi atau kajian teori serta kajian hasil penelitian
lain, dan hasil studi kasus dijadikan acuan melakukan analisis dalam merumuskan konsep
model awal pelatihan. Temuan hasil studi kasus berdasarkan tahap kegiatan yang ditempuh
dan tujuan yang hendak dicapai, diuraikan lebih lanjut sebagai berikut.

76

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1. Kualifikasi Pendidikan Guru/Tutor


Studi dokumen pada kegiatan studi kasus di Dinas Pendidikan Nasional Propinsi DKI
Jakarta, khususnya di Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal, yaitu melalui Kepala
seksi Pendidikan Kesetaraan. Dimana Di DKI Jakarta, tercatat data tentang PKBM
penyelenggara pendidikan kesetaraan tahun 2008 sebanyak 154 PKBM yang tersebar di
Jakarta, dengan jumlah tutor 522 orang guru/tutor dengan berbagai kualifikasi pendidikan
yang beragam mulai dan kualifikasi SLTA, Diploma, SI.dan S2. Profil kualifikasi pendidikan
guru/tutor berdasarkan data sebagaimana tersebut dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut
Tabel 4.3
Profil Kualifikasi Pendidikan Guru/Tutor
Nomor
1
2
3
4

Jenjang Pendidikan
SLTA
Diploma/Sarjana muda
Sarjana (S1)
Magister (S2)

Jumlah
27
106
375
14

Prosentase
5,17%
20,3%
71,84%
2,68%

Sumber: Dinas Pendidikan Nasional Propinsi DKI Jakarta (2008)


Berdasarkan data dalam tabel di atas diketahui bahwa prosentase tertinggi kualifikasi tutor adalah
kualifikasi SI (71,84%). Menurut penuturan Kasi Pendidikan Kesetaraan (Drs. Budi.) kualifikasi
tersebut umumnya adalah dari program S1 Non Pendidikan. Urutan kedua adalah kualifikasi
Diploma/Sarjana muda (20,3%), dan kualifikasi S2 (2,68%). Dalam konteks implementasi
program pendidikan kesetaraan, kenyataan ini menunjukkan bahwa kualifikasi tutor (qualifled)
dan ketidakcocokan (miss-match) antara bidang keahlian guru/tutor di PKBM dengan tugas
mengajarnya dalam pendidikan kesetaraan pada PKBM tersebut, serta ditambah dengan latar
belakang pendidikan guru/tutor 75% S1-nya dari non kependidikan.

Hasil survei terhadap guru/tutor pendidikan kesetaraan yang telah mengikuti pelatihan bidang studi
Bahasa Inggris, pada penyelenggaraan pelatihan oleh BP3LS Provinsi DKI Jakarta pada bulan Juli
2008, dari 40 orang guru/tutor pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris masing-masing mewakili
PKBM, diperoleh: 1 orang guru/tutor (2,5%) berkualifikasi SLTA; 4 orang guru/tutor (10%)
berkualifikasi Diploma/Sarjana Muda, dan 35 orang guru/tutor (87,5%) berkualifikasi SI,
serta 10 orang guru/tutor (25%) berkualifikasi SI pendidikan Bahasa Inggris. Temuan tersebut
juga menunjukkan sebagian besar guru/tutor kualifikasinya sudah qualified dan hanya
keahlian mengajarnya yang masih miss-match. Kondisi ini makin memperkuat sinyalemen bahwa
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

77

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mutu pembelajaran dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan pada PKBM rendah, dan
sekaligus memperkuat anggapan bahwa pengembangan dan peningkatan kompetensi guru/tutor
pada PKBM dibutuhkan.

Terkait dengan standar guru/tutor sebagaimana yang dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005, guru/tutor adalah pendidik yang harus memiliki
kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran. Mengacu pada pasal 29 pada
peraturan tersebut, kualifikasi akademik minimal tutor pendidikan kesetaraan adalah D-IV atau
S1. Berdasarkan data temuan hasil survei sebagaimana dijelaskan di atas, dan dalam konteks
implementasi pendidikan kesetaraan, jika dikaitkan dengan ketentuan sebagaimana disebutkan
dalam peraturan pemerintah tersebut, jelas bahwa guru/tutor pendidikankesetaraan di PKBM
sebagian besar (87,5%) telah memenuhi standar kualifikasi akademik minimal sebagaimana yang
dipersyaratkan. Sedangkan disisi lain masih terjadinya miss macth bidang keahlian guru/tutor
dengan tugas yang dilakukan dalam pembelajaran mencapai (75%) mengakibatkan tidak
terpenuhinya standar kompetensi sebagai tenaga guru/tutor seharusnya.

2. Profil Kompetensi Pedagogik dan Andragogik Guru/Tutor


Dalam konteks pelaksanaan pendidikan kesetaraan di PKBM, kualifikasi guru/tutor pada
umumnya sudah tidak masalah (qualified), sedangkan yang masih masalah adalah missmacth antara keahlian guru/tutor dengan tugas yang dilakukan dalam pembelajaran. Sehingga
Dinas pendidikan Provinsi DKI Jakarta memandang bahwa kompetensi guru/tutor memang
lemah dalam melaksanakan pembelajaran pada penyenggaraan pendidikan kesetaraan. Hal
ini diungkapkan oleh Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan Bidang PNFI Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta. Atas dasar kondisi seperti ini, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
telah berupaya mengembangkan kompetensi guru/tutor melalui pelatihan. Pelatihan tutor
diprogramkan berdasarkan APBN maupun APBD yang tersedia pada setiap tahun anggaran,
dan pelatihan yang dilaksanakan memprioritaskan pelatihan peningkatan penguasaan bidang
studi yang diwajibkan dalam pendidikan kesetaraan, belum pernah secara khusus dan
proporsional dilaksanakan pelatihan pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik
bagi guru/tutor. Sejauh ini tidak ada catatan secara khusus di Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta tentang profil kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan sebagai hasil evaluasi
kompetensi guru/tutor di PKBM penyelenggara pendidikan kesetaraan.

78

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Untuk memperoleh gambaran tentang profil kompetensi guru/tutor, pada kegiatan studi kasus
melakukan survei terhadap 40 orang tutor peserta pelatihan bidang studi bahasa Inggris (Juli
2008), yang masing-masing sebagai perwakilan dari masing-masing PKBM di DKI Jakarta.
Deskripsi tentang profil kompetensi guru/tutor diangkat dari jawaban guru/tutor melalui
kuesioner yang diberikan kepada mereka. Data profil kompetensi guru/tutor yang dijaring,
meliputi indikator sebagai berikut:
a. pemahaman kurikulum mata pelajaran;
b. penyusunan program tahunan;
c. penyusunan program semester;
d. penyusunan program mingguan;
e. penyusunan persiapan mengajar;
f. penjabaran kurikulum;
g. penguasaan materi bahan pelajaran;
h. pengembangan materi pelajaran;
i. penggunaan berbagai strategi dan teknik mengajar;
j. penggunaan media dan sarana pendukung pembelajaran;
k. penggunaan sumber belajar;
l. pelaksanaan bimbingan warga belajar;
m. penyusunan ringkasan materi bahan pelajaran;
n. penyusunan tes hasil belajar;
o. pelaksanaan evaluasi formatif;
p. penyusunan rencana bimbingan pengembangan potensi dan prestasi belajar warga belajar;
q. perencanaan pengembangan data hasil belajar;
r. pelaksanaan pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran;
s. sistematika melaksanakan pembelajaran;
t. penggunaan variasi metode pembelajaran,
u. pemberian latihan untuk pemantapan hasil belajar, dan
v. pemberian motivasi belajar warga belajar.

Profil kompetensi guru/tutor dapat diketahui, didasarkan pada hasil analisis jawaban guru/tutor
kelompok sampel dalam survei yang dilakukan pada studi kasus sebagaimana telah dijelaskan di
atas. Berdasarkan analisis

data

profil kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

79

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pendidikan kesetaraan pada PKBM, berdasarkan sampel yang di survei pada studi kasus. Maka
hasil analisa menunjukkan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor rata-rata
hanya 37,3%. Profil kompetensi guru/tutor diketahui berdasarkan pemahaman dan persepsi
guru/tutor terhadap indikator kompetensi. Temuan survei dalam studi kasus ini dapat
dideskripsikan sebagai berikut.
1) Mengikuti

pelatihan

setiap

ada

kesempatan,

guru/tutor

dalam

mengembangkan

kompetensinya dapat dilakukan melalui pelatihan. Hal ini dari data survei menunjukan bahwa
guru/tutor mengikuti pelatihan 36,7% kadang-kadang dan 63,3.% selalu mengikuti pelatihan
jika ada kesempatan.
2) Pemahaman Kurikulum pendidikan kesetaraan, pemahaman guru/tutor terhadap kurikulum
kurang. Pemahaman guru/tutor terhadap kurikulum mata pelajaran belum berkembang.
Terbukti dari jumlah guru/tutor yang disurvei dalam studi kasus, hanya 10,0% yang
menyatakan selalu berupaya memahami secara keselumhan kurikulum mata pelajaran yang
diajarkannya, dan 73,3% menyatakan hanya kadang-kadang berupaya memahami kurikulum,
dan sisanya 16,7% menyatakan tidak pernah.
3) Penyusunan Program Pembelajaran Tahunan, penguasaan guru/tutor di dalam penyusunan
program pembelajaran tahunan kurang. Dari jumlah guru/tutor yang disurvei dalam studi
kasus, hanya 6,7% yang menyatakan selalu menyusun program tahunan. 43,3% menyatakan
kadang-kadang menyusun, dan 26,7% menyatakan tidak pernah menyusun program tahunan.
4) Penyusunan Program Pembelajaran Semester, penguasaan guru/tutor dalam penyusunan
program pembelajaran semester kurang. Dari jumlah guru/tutor yang disurvei pada studi
kasus, hanya 20,0% yang menyatakan selalu menyusun program semester. 56,7%
menyatakan tidak pernah menyusun, dan 23,3% menyatakan kadang-kadang menyusun.
Penguasaan guru/tutor dalam penyusunan program semester belum berkembang.
5) Penyusunan silabus mata pelajaran yang diajarkan, penguasaan guru/tutor pada penyusunan
silabus kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti pada studi pendahuluan, hanya 20,0%
menyatakan selalu menyusun silabus mata pelajaran yang diajar. 63,3% menyatakan
hanya kadang-kadang menyusun, dan 16,7% menyatakan tidak pernah menyusun
program silabus. Penguasaan guru/tutor dalam mengembangkan pembuatan silabus mata
pelajaran yang diajar belum berkembang.
6) Penyusunan Persiapan Mengajar, kebiasaan guru/tutor menyusun persiapan mengajar
kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti dalam survei dari studi kasus hanya 26,7%
menyatakan
80

selalu

menyusun

persiapan

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

mengajar

ketika

akan

melaksanakan

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pembelajaran. 46,7% menyatakan hanya kadang-kadang menyusun, dan 26,7%


menyatakan tidak pernah menusun persiapan mengajar. Penyusunan persiapan mengajar
belum berkembang sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh guru/tutor dalam
melaksanakan pembelajaran.
7)

Penjabaran Kurikulum ke dalam Program Pembelajaran, pemahaman guru/tutor dalam


menjabarkan kurikulum ke dalam program pembelajaran (program tahunan dan semester)
kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti dalam survei pada studi kasus, 70,0%
menyatakan kadang-kadang menjabarkan kutikulum ke dalam program pembefajaran.
Hanya 10,0% yang menyatakan selalu menjabarkan, dan 20,0% tidak pernah menjabarkan
kurikulum ke dalam program pembelajaran. Pemahaman guru/tutor dalam hal
menjabarkan kurikulum mata pelajaran belum berkembang.

8) Pemahaman Menyusun Persiapan Mengajar, pemahaman guru/tutor pada penyusunan


persiapan mengajar kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 70,0% menyatakan
pernah berupaya memahami menyusun persiapan mengajar. Hanya 30,0% yang menyatakan
selalu berupaya memahami menyusun persiapan mengajar.
9) Meningkatkan penguasaan materi bahan pembelajaran, penguasaan guru/tutor terhadap materi bahan
pembelajaran kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 40,7% menyatakan kadang-kadang
berupaya meningkatkan penguasaan materi bahan pembelajaran dalam mata pelajaran yang
diajarkannya. Hanya 40,0% yang menyatakan selalu menguasai materi bahan pembelajaran pada
setiap mengajar, dan 20,0% menyatakan tidak pernah.
10) Pengembangan Materi Pelajaran, kemampuan guru/tutor mengembangkan materi pembelajaran
kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 43,3% menyatakan hanya kadang-kadang
mengembangkan materi ketika melaksanakan pembelajaran. Hanya 30,0% yang menyatakan selalu
mengembangkan materi pembelajaran, dan 26,7% menyatakan tidak pernah mengembangkan.
11) Penggunaan Media dan Sarana Pendukung Lain dalam Pembelajaran, penggunaan media dan
sarana pendukung lain dalam melaksanakas. pembelajaran kurang. Dari jumlah tutor yang
diteliti, 53,3% menyatakan kadang-kadang saja menggunakan media dan sarana pendukung lain
dalam pembelajaran. Hanya 46,7% yang menyatakan selalu menggunakan media dan sarana
pendukung lain alam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran belum berkembang,
dimungkinkan karena fasilitas yang ada di PKBM masih kurang, sehingga belum menunjang
sepenuhnya terhadap pengembangan kemampuan guru/tutor dalam penggunaan media dan sarana
pendukung dalam pembelajaran.

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

81

Pelatihan Berbasis Kkinerja

12) Mengembangkan Sumber Belajar, kemampuan guru/tutor mengembangkan penggunaan sumber


belajar kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 60,0% menyatakan kadang-kadang
mengembangkan sumber lain selain menggunakan buku paket siswa/warga belajar yang dimiliki.
Hanya 40,0% yang menyatakan selalu menggunakan sumber belajar yang beragam.
Penggunaan sumber belajar secara beragam dalam melaksanakan pembelajaran oleh guru/tutor
belum berkembang.
13) Pelaksanaan Bimbingan Terhadap Warga Belajar. kemampuan guru/tutor melaksanakan
bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar warga belajar cukup. Dari jumlah guru/tutor yang
diteliti, 56,7% menyatakan selalu melakukan bimbingan untuk mengatasi kesulitan warga
belajar. 26,7% menyatakan hanya kadang-kadang saja melakukan bimbingan, dan 16,7%
menyatakan tidak pernah melakukan bimbingan. Bimbingan untuk meningkatkan prestasi belajar
warga belajar oleh guru/tutor, sudah cukup berkembang.
14) Pembuatan media sendiri untuk efektivitas pembelajaran, dari data survei menunjukkan
bahwa guru/tutor dalam kegiatan pembelajaran, 10,0% selalu membuat media sediri,
kemudian 23,3% tidak pernah membuatan media sendiri, dan 66,7% kadang-kadang
membuat media pembelajaran sendiri.
15) Penyusunan Ringkasan Materi Pembelajaran, kemampuan guru/tutor menyusun
ringkasan materi pembelajaran kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, hanya 43,3%
menyatakan selalu menyusun ringkasan mater pembelajaran ketika melaksanakan
pembelajaran. 33,3% menyatakan hanya kadang-kadang saja membuat ringkasan materi
pembelajaran, 23,3% menyatakan tidak pernah membuat ringkasan materi pembelajaran
dalam melaksanakan pembelajaran.
16) Penyusunan Tes Hasil Belajar, kemampuan guru/tutor dalam menysun tes hasil belajar
(untuk setiap unit materi pembelajaran) kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti,
36,7% menyatakan hanya kadang-kadang saja menyusun tes hasil belajar pada unit materi
pembelajaran. Hanya 40,0% yang menyatakan selalu menysun tes hasil belajar untuk
setiap unit materi pembelajaran, dan 23,3% menyatakan tidak pernah menyusun tes hasil
belajar untuk setiap unit materi pembelajaran.
17) Pelaksanaan Evaluasi Formatif dalam Pembelajaran, pelaksanaan evaluasi formatif oleh
guru/tutor kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 53,3% menyatakan hanya kadangkadang saja melaksanakan evaluasi formatif. Hanya 33,3% yang menyatakan selalu
melaksanakan evaluasi formatif, dan 13,3 % menyatakan tidak pernah melaksanakan
evaluasi formatif.
82

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

18) Pengembangan Potensi dan Prestasi Warga Belajar, mengembangkan potensi dan prestasi
belajar warga belajar kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 63,3% menyatakan
kadang-kadang merencanakan kegiatan bimbingan untuk mengembangkan potensi dan
prestasi belajar warga belajar. Hanya 26,7% yang menyatakan selalu menyusun rencana
bimbingan untuk mengembangkan potensi dan prestasi belajar warga belajar, dan 10,0%
menyatakan tidak pernah merencanakan bimbingan.
19) Pengembangan Data Hasil Belajar Warga Belajar, guru/tutor merencanakan mengembangkan
data hasil belajar warga belajar baik. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 76,6% menyatakan
selalu merencanakan untuk mengembangkan data hasil belajar warga belajar. 23,3%
menyatakan hanya kadang-kadang saja merencanakan untuk mengembangkan data hasil
belajar warga belajar.
20) Penyusunan rencana bimbingan dan konseling pada warga belajar , guru/tutor yang melakukan
penyusunan rencana bimbingan dan konseling pada warga belajar, hasil survei menunjukkan,
16,7% tidak pernah, 56,7% kadang-kadang dan 26,7% selalu membuat rencana bimbingan dan
konseling pada warga belajar.
21) Pelaksanaan Pembelajaran Sesuai Rencana Pembelajaran, guru/tutor melaksanakan pembelajaran
kurang didasarkan pada rencana pembelajaran. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti hanya 26,7%
menyatakan selalu melaksanakan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran. 66,7% menyatakan
kadang-kadang saja melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana pembelajaran. dan 6,7%
menyatakan tidak pernah melaksanakan pembelajaran didasarkan pada rencana pembelajaran.
22) Sistematika Pelaksanaan Pembelajaran, tutor melaksanakan pembelajaran yang sistemaris
kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 43,3% menyatakan kadang-kadang melaksanakan
pembelajaran sistematis. Hanya 30,0% yang menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan
selalu sistematis, dan 26,7% menyatakan melaksanakan pembelajaran tidak pernah sistematis.
23) Penggunaan Metode Pembelajaran yang Variatif, kemampuan guru/tutor menggunakan metode
pembelajaran kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, hanya 40,0% menyatakan selalu
menggunakan metode mengajar yang variatif. 36,7% menyatakan kadang-kadang saja
mengunakan metode mengajar yang variatif, dan 23,3% menyatakan tidak pernah
menggunakan metode mengajar bermacam-macam (variatif) dalam melaksanakan pembelajaran.
24) Pemberian Latihan untuk Meningkatkan Hasil Belajar, guru/tutor memberikan latihan untuk
meningkatkan hasil belajar warga belajar kurang. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, hanya
50,0% menyatakan selalu memberikan latihan dalam rangka memantapkan atau meningkatkan

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

83

Pelatihan Berbasis Kkinerja

hasil belajar warga belajar. 30,0% menyatakan hanya kadang-kadang memberikan latihan, dan
20,0% menyatakan tidak pemah memberikan latihan kepada warga belajar.
25) Pengembangan Motivasi Belajar Warga Belajar, Guru/Tutor mengembangkan motivasi belajar
warga belajar cukup. Dari jumlah guru/tutor yang diteliti, 23,3% menyatakan selalu memotivasi
warga belajar dalam pelaksanaan pembelajaran. 76,7% tutor menyatakan hanya kadang-kadang
memberikan motivasi warga belajar dalam melaksanakan pembelajaran. Kemampuan tutor
memotivasi warga belajar untuk mencapai hasil belajar yang optimal sudah berkembang.
26) Dalam pembelajaran terjadi interaksi antara guru/tutor dan warga belajar, guru/tutor yang dalam
pembelajaran terjadinya interaksi dengan warga belajar dari hasil survei menunjukkan bahwa, 26,7%
kadang-kadang dan 73,3% selalu menunjukkan adanya interaksi antara tutor dengan warga belajar
dalam kegiatan pembelajaran.
27) Pembuatan rencana persiapan pembelajaran memperhatikan karakteristik warga belajar, guru/tutor
yang melakukan pembuatan rencana persiapan pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik
warga belajar dari hasil survei menunjukkan bahwa, 10.0% tidak pernah, 13,3% kadang-kadang dan
76,7% selalu membuat rencana persiapan pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik warga
belajar.
28)Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran (internet), guru/tutor yang memanfaatkan
teknologi informasi (internet) dalam pembelajaran dari hasil survei menunjukkan hasil bahwa, 13,3%
tidak pernah, 16,7% kadang-kadang dan 70,0% selalu memanfaatkan teknologi informasi (internet)
dalam pembelajarannya.
29)Pemanfaatkan sumber berlajar yang ada dilingkungan sekitar, guru/tutor yang melakukan pemanfaatan
sumber belajar yang ada dilingkungan sekitar dalam pembelajaran dari hasil survei menunjukkan
bahwa, 16,7% tidak pernah, 10,0% kadang-kadang, dan 73,3% selalu memanfaatkan sumber belajar
yang ada dilingkungan sekitarnya dalam kegiatan pembelajaran.
30)Melaksanakan kegiatan pembelajaran remidial, guru/tutor yang melakukan kegiatan pembelajaran
remidial dari hasil survei menunjukkan bahwa, 6,7% tidak pernah, dan 93,3% kadang-kadang
melaksanakan kegiatan pembelajaran remidial jika diperlukan.

3. Analisis Kebutuhan Pengembangan Model Pelatihan


Berdasarkan informasi dari hasil studi kasus yang dilakukan melalui wawancara dengan unsurunsur terkait, serta tutor, dan studi dokumen serta observasi pelaksanaan pembelajaran,

84

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

terdapat permasalahan penting yang dihadapi oleh para guru/tutor pendidikan kesetaraan pada
PKBM. Di antara permasalahan itu adalah:
a. akses pelatihan untuk pemberdayaan guru/tutor masih sangat terbatas;
b. pelaksanaan model pelatihan bersifat konvensional;
c. masih rendahnya kemampuan guru/tutor dalam mengelola pembelajaran pendidikan
kesetaraan;
d. belum optimalnya pembinaan yang dilakukan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
terkait pembinaan guru/tutor langsung di PKBM;
e. belum adanya pemetaan kinerja tutor (kompetensi guru/tutor) sebagai dasar untuk melakukan
pemebinaan melalui pelatihan-pelatihan, dan
f. belum optimalnya upaya peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor secara
mandiri di lingkungan PKBM itu sendiri melalui forum guru/tutor untuk diskusi dan kerja
kelompok.

Pertama, akses pelatihan untuk pemberdayaan guru/tutor masih sangat terbatas, sesuai informasi dari
Kasi Pendidikan Kesetaraan pada Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta, keterbatasan tersebut diakibatkan belum adanya sistem pembinaan guru/tutor
yang lebih terpadu, disampai terbatasnya dana yang tersedia, sementara jumlah guru/tutor yang
harus ditingkatkan kemampuannya cukup banyak. Pelatihan yang diselenggarakan tetap
mempertahankan model konvensional dengan memobilisasi peserta di panggil ke suatu tempat
dengan pembelajaran tatap muka, dan konteks terhadap pelaksanaan tugas dalam pembelajaran
aktual di PKBM belum dijadikan perhatian oleh penyelenggara pelatihan.

Kedua, penggunaan model pelatihan bersifat konvensional, pembelajaran terbatas dilakukan secara
tatap muka dengan lebih banyak input materi, diskusi dan tanya jawab di kelas tempat pelatihan.
Konteks dalam masalah kompetensi pedagogik tutor dalam pembelajaran faktual di PKBM tidak
teramati. Dengan demikian rendahnya kompetensi pedagogik tutor, dirasakan sebagai masalah penting
yang perlu alternatif pengembangannya. Sehingga dengan rendahnya kemampuan tutor dalam mengelola
pembelajaran pada pendidikan kesetaraan. Hasil observasi menunjukkan bahwa minimnya
guru/tutor mengajar menggunakan variasi metode dan strategi dalam melaksanakan pembelajaran.
Hasil studi dokumentasi perangkat pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran kurang didukung dengan
program pembelajaran yang disiapkan mulai dari program semester sampai denga rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Dari hasil wawancara dengan beberapa tutor terungkap umumnya
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

85

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mereka memang menginginkan pengembangan kemampuan yang lebih baik dalam


mengelola pembelajaran program pendidikan kesetaraan di PKBM itu.

Ketiga, belum optimalnya pembinaan yang dilakukan pihak Dinas Pendidikan terkait sebagai
pembina penyelenggaraan program penididikan keseataraan. Didasarkan pada wawancara dari
pimpinan dua PKBM seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, belum adanya pembinaan
langsung pada PKBM tersebut, dalam kaitannya dengan upaya meningkatkan kualitas
penyelenggaraan ataupun mengembangkan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor. Bahkan upaya peningkatan kompetensi guru/tutor secara mandiri di PKBM belum
optimal dilaksanakan. Selayaknya upaya-upaya peningkatan kompetensi guru/tutor dengan
berbagai alternatif perlu dilakukan. Berdasarkan struktur penyelenggaraan pendidikan kesetaraan
pada PKBM, pimpinan PKBM berfungsi sebagai penyelenggara program tersebut di PKBM
yang dipimpinnya. Hasil wawancara dengan guru/tutor dan pimpinan PKBM, pelatihan yang
berbasis kinerja belum pernah dilakukan. Dimana mereka yang dipanggil untuk menjadi peserta
pelatihan yang diadakan oleh institusi berwenang, khususnya Dinas Pendidikan telah tepat
yaitu mereka yang kinerja belum optimal.

Keterbatasan

untuk mengetahui kinerja guru/tutor

yang kurang baik tersebut, dirasakan sebagai permasalahan tersendiri yang perlu pemecahannya.

Berdasarkan hasil analisis permasalahan pada penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan


pada PKBM, kompetensi guru/tutor (khususnya kompetensi pedagogik dan andraggik) menjadi
prioritas untuk ditingkatkan. Alternatifnya adalah melalui pelatihan berbasis kinerja bagi
guru/tutor. Program-program pengembangan kompetensi guru/tutor agar mencapai sasaran
secara lebih efektif, maka perlu alternatif pengembangan model pelatihannya. Atas dasar analisis
permasalahan tersebut, maka kebutuhan pengembangan model pelatihan berbasis kinerja untuk
meningkatkan kompetensi tutor pendidikan kesetaraan.

Hasil analisis terhadap kondisi faktual pembelajaran dalam pelatihan peningkatan kompetensi
guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM yang selama ini dilaksanakan, serta hasil analisis
kebutuhan pengembangan model pelatihan, dan potensi guru/tutor dalam pengembangan kompetensi
pedagogik dan andragogik, maka perlu dirancang model pelatihan berbasis kinerja bagi guru/tutor
pendidikan keseteraan di PKBM. Perancangan model tersebut, berdasarkan suatu yang dapat
dipertanggungjawabkan. Perancangan model pelatihan berbasis kinerja diperlukan upaya untuk
melibatkan guru/tutor dalam kegiatan pembelajaran di kelompok belajar untuk dilakukan asesmen
86

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kinerja guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM, sebagai sasaran kegiatan sekaligus subyek dalam
pelatihan yang akan dilakukan pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik seacara
seoptimal mungkin mulai dari tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan maupun evaluasi
pelatihan.
Pengembangan model pelatihan yang dimaksud akan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien
dalam setting performance based training, dengan prosesnya memperhatikan input, proses, output, dan
outcome. Input atau masukan yang dimaksudkan dari pengembangan model pelatihan adalah:
a. guru/tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM sebagai peserta pelatihan;
b. fasilitator (penulis dan personal lain yang ditunjuk) yang berfungsi memfasilitasi proses
pembelajaran sekaligus sebagai sumber belajar;
c. sumber lain yaitu buku modul dan bahan ajar yang dikemas penulis/fasilitator untuk
membantu memenuhi kebutuhan belajar; dan
d. sarana atau alat pendukung dalam proses pembelajaran.
Pengorganisasian model pelatihan adalah kegiatan yang dilakukan dengan melaksanakan
tahapan:
a. perencanaan;
b. pelaksanaan, dan
c. evaluasi.
Sedangkan output atau hasil akhir dari kegiatan pelatihan adalah peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor (peserta pelatihan). Dari seluruh tahapan tersebut,
pengembangan model pelatihan pada gilirannya akan menghasilkan keluaran (outcome) yaitu
meningkatnya kinerja guru/tutor dalam melaksanakan pembelajaran program pendidikan
kesetaraan di PKBM. Dengan demikian diharapkan pelaksanaan pembelajaran pendidikan
kesetaraan di PKBM akan lebih efektif.
Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, maka diperlukan suatu studi kasus pengembangan
model pelatihan berbasis kinerja bagi guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM. Program
pelatihan berbasis kinerja tersebut diarahkan untuk meningkatkan kompetensi guru/tutor,
lebih khusus yaitu kompetensi pedagogik dan andragogik. Peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik bagi guru/tutor pendidikan kesetaraan, diasumsikan sangat penting
terkait dengan upaya meningkatkan efektivitas pembelajaran pada pelaksanaan program
pendidikan kesetaraan di PKBM. Efektivitas pembelajaran perlu ditingkatkan yang pada
gilirannya akan meningkatkan kualitas hasil belajar warga belajar program pendidikan
kesetaraan pada pelaksanaannya di PKBM.
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

87

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Analisa keterkaitan pengembangan model pelatihan berbasis kinerja dengan kebutuhan


belajar untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan di PKBM, sebagaimana telah diuraikan di atas, maka secara sistematis dapat
digambarkan di bawah ini.
KON
DISI
EMPI
RIK
PELA
TIHA
N
TU

ANA
LISA
KEB
UTU
H AN
BELA

LAN
DAS
AN
PENG
EMB
ANG
AN

Latar
Belakang &
Kualifikasi
Pend. Tutor

Pengalaman
Tutor dalam
Pembelajaran

Pembi
naan
Tutor
Profil
Kompete
nsi Tutor
Paket C
di PKBM

Wawasan
Landasan
Pendidikan
Pengembangan
Warga Belajar

Efektivita
s
Pelatihan

Merancang
Pembelajaran

Kebutuha
n Belajar

Pemahaman
Terhadap
Warga

Pelaksanaan
Pembelajaran
Merancang dan
Melaksanakan
P il i

Teori Belajar
(Humanistic
Theories)
Model
Pelatiha
n
Berbasis
Kinerja
Teori Perilaku
(Behavioristic
Theories)

Konsep
Pembelajaran
Partisipatif

Pembelajaran
Orang
Dewasa

Gambar 5.1 Hubungan Kebutuhan Pengembangan Model Pelatihan dengan Upaya


Peningkatan Kompetensi Pedagogik & Andragogik Tutor
88

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

B. Pengembangan Model Konseptual Pelatihan

1. Rasionalisasi Pengembangan Model Pelatihan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (Community Learning Centre) merupakan salah satu
bentuk satuan pendidikan nonformal yang telah tumbuh dan berkembang dari masyarakat,
oleh masyarakat dan untuk masyarakat sejak tahun 1994. Sejalan dengan upaya pemerintah
untuk pencapaian dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan secara wajar dan
proporsional, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) kini muncul dan diberdayakan untuk
berperan menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan paket A setara SD/MI, paket B
setara SMP/MTs dan paket C setara SMA/MA (Kamil: 2009). Peningkatan peran PKBM
sebagai satuan pendidikan nonformal didasarkan pada Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003,
terutama dalam peningkatan pelayanan pendidikan kesetaraan program paket A, B dan C, yang
semakin kini dibenah penyelenggaraanya, kurikulumnya dan tutornya. Hal ini seiring dengan
keinginan untuk memenuhi standar minimal yang diisyaratkan BSNP. Maka atas dasar ini
lahirlah beberapa peraturan yang memayungi pendidikan kesetaraan antara lain:
a. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 0131/U/1994 Tentang paket
A dan Paket B;
b. Keputusan Mentri Pendidikan Nasional RI Nomor: 132/U/2004 tentang program
paket C;
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar
Kompetensi

Lulusan

Untuk

SD/MI/Paket

A,

SMP/MTs./Paket

dan

SMA/MA/Paket C, dan
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi
Pendidikan Kesetaraan.

Penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan pada PKBM dimaksudkan untuk membuka


kesempatan bagi warga masyarakat mencapai pendidikan dasar 9 tahun, bahkan tidak menutup
kemungkinan wajib belajar kita di tingkatkan menjadi 12 tahun, dengan pertimbangan bahwa:
a. warga masyarakat umumnya adalah mereka yang telah lulus pendidikan formal tingkat
SMP/paket B, dan putus sekolah SMU, dan

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

89

Pelatihan Berbasis Kkinerja

tersedianya tutor yang cukup, walaupun dengan kualifikasi pendidikan S1 dari non-keguruan
untuk melaksanakan pembelajaran program pendidikan kesetaraan pada PKBM tersebut.

Untuk tercapainya pembelajaran yang efektif dan berkualitas dalam implementasi program
pendidikan kesetaraan di PKBM, salah satu komponen utama yang menentukan adalah
tersedianya guru/tutor yang profesional, memiliki kompetensi yang memadai sesuai standar
kompetensi guru/tutor yang ditentukan. Namun pada kenyataannya PKBM sendiri tidak mampu
merekrut guru/tutor secara selektif dari masyarakat yang dipandang lebih profesional karena
kelemahan finansial PKBM, sehingga pada umumnya lembaga pendidikan penyelenggara
program pendidikan kesetaraan lebih mengutamakan melakukan pemberdayaan tenaga tutor yang
ada.

Di tinjau secara kuantitatif guru/tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM jelas memadai
dengan latar belakang pendidikan beragam dan umumnya berlatar belakang nonkependidikan, dan secara kualitatif mereka mungkin kompetensinya mumpuni dalam
melaksanakan tugas pembelajaran pada pendidikan kesetaraan di PKBM dengan teknik dan
metode pembelajaran mengandalkan pengalaman, keberanian dan kebiasaan. Tetapi kalau
ditelaah lebih jauh dalam implementasi program pendidikan kesetaraan, sekalipun secara
kuantitatif guru/tutor memadai, tetapi latar belakang keahlian guru/tutor pendidikan kesetaraan
dipandang masih terjadi miss-match. Sehingga secara kualitatif, kompetensi mereka harus
dikembangkan sesuai tuntutan kurikulum program pendidikan kesetaraan yang menuntut
pengembangan berbagai teknik dan metode pembelajarannya agar implementasi program
pendidikan kesetaraan di PKBM menjadi lebih efektif.

Melihat permasalahan seperti dijelaskan di atas, tentu kondisi guru/tutor pada implementasi
pendidikan kesetaraan di PKBM belum profesional, dan kompetensinya belum memenuhi standar
kompetensi guru/tutor yang ditetapkan (Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005). Namun
hal ini tidak bisa dibiarkan, manakala semua pihak menginginkan aksesibilitas pemerataan
pendidikan dasar 12 tahun, karena PKBM memiliki nilai strategis untuk membantu aksesibilitas
pemerataan tersebut. Hal yang dianggap sangat penting sekarang adalah diperlukan adanya
upaya pengembangan kompetensi tutor, agar mereka menjadi guru/tutor yang profesional
minimal memenuhi standar kompetensi, sehingga diharapkan implementasi pendidikan kesetaraan
di PKBM lebih efektif dan berkualitas. Salah satu alternatifnya adalah melalui pelatihan berbasis
90

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kinerja dimana kompetensi yang dikembangkan lebih banyak dipraktekan, karena dengan
performance based training model pembelajaran yang dikembangkan kongrit dialami oleh peserta
pelatihan.

Upaya ke arah peningkatan kompetensi guru/tutor telah dilakukan melalui pelatihan oleh
pihak Dinas Pendidikan Propinsi dalam hal ini melalui Balai Pengembangan dan Pelatihan
Pendidikan Luar Sekolah (BP3LS), namun masih sangat terbatas dan tidak jarang menyerap
dana yang cukup besar. Pembelajaran yang digunakan bersifat konvensional, kurang memenuhi
kebutuhan belajar dan kurang bisa menjawab permasalahan faktual yang dihadapi para guru/tutor
dalam pembelajaran. Pelatihan yang selama ini dilakukan sering menjadi kurang efektif dan
menimbulkan dampak disfungsional bagi para guru/tutor dalam melaksanakan pembelajaran di
PKBM. Keadaan sebagaimana tersebut, menjadikan kegiatan pembelajaran dalam pelatihan itu
menjadi kurang kondusif, karena:
a. rendahnya keterlibatan peserta pelatihan (guru/tutor) dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian. Guru/Tutor sebagai warga belajar dalam pelatihan ditempatkan sebagai obyek
bukan sebagai subyek belajar (learner centered), sedangkan fasilitator menjadi satu-satunya
sumber belajar;
b. secara empirik para guru/tutor belum dapat terpenuhi kebutuhan belajamya.

Kondisi seperti ini menimbulkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
oleh para tutor dengan kondisi pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki sebagai prasyarat
terjadinya peningkatan efektivitas pembelajaran dalam pelatihan yang mereka lakukan. Para
guru/tutor masih merasakan adanya hambatan yang tidak terfasilitasi dalam usahanya untuk
meningkatkan keterampilan melaksanakan pembelajaran. Hal tersebut dianggap bertolak belakang
dengan upaya untuk meningkatkan kinerja pembelajaran pada program pendidikan kesetaraan di
PKBM.

Untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik secara ideal bagi guru/tutor, dan
terpenuhinya kebutuhan belajar bagi guru/tutor pendidikan kesetaraan diperlukan intervensi lain
yang diorientasikan untuk memfasilitasi belajar para guru/tutor dalam pendekatan pelatihan yang
berbasis kinerja (performance based training approach). Intervensi tersebut dilakukan dalam
upaya menanggulangi kesenjangan kompetensi pedagogik dan andragogik gruu/tutor terkait
dengan upaya peningkatan kinerja pembelajaran program pendidikan kesetaraan di PKBM.
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

91

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Pembelajaran yang dikembangkan dalam model pelatihan berbasis kinerja, menawarkan


suatu alternatif pembelajaran dalam pelaksanaan pelatihan bagi peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor, dengan tujuan jangka pendek yaitu untuk
memberdayakan guru/tutor agar mampu melakukan pembelajaran yang lebih efektif,
utamanya dalam pengelolaan pembelajaran pada pendidikan kesetaraan di PKBM. Sedangkan
tujuan jangka panjangnya yaitu pada gilirannya akan membantu percepatan pemerataan
pendidikan bagi masyarakat, agar mampu beradaptasi terhadap transformasi sosial budaya,
sehingga diharapkan dapat mempercepat menuju terciptanya masyarakat yang gemar belajar
(learning society).

Tujuan dari model pelatihan ini, diorientasikan pada upaya memenuhi kebutuhan belajar para
guru/tutor pada PKBM untuk menjembatani kesenjangan antara profil kompetensi pedagogik
dan andragogik para guru/tutor dengan kompetensi pedagogik dan andragogik secara ideal
yaitu yang sesuai standar kompetensi guru/tutor sebagai agen pembelajaran dalam pendidikan
nonformal. Upaya tersebut diarahkan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran pada
pendidikan kesetaraan di PKBM. Secara khusus tujuan ini sebagai upaya untuk
mengembangkan kegiatan belajar praktek bagi guru/tutor dalam proses perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogik mereka dalam melaksanakan tugas sebagai guru/tutor.

2. Asumsi Pengembangan Model Pelatihan


Beberapa asumsi yang melandasi pengembangan model pelatihan, berawal dari kondisi empirik dari
penyelenggaraan pelatihan faktual dalam upaya pemberdayaan guru/tutor, serta kondisi profil
kompetensi guru/tutor dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan di PKBM. Atas dasar kondisi
empirik seperti yang telah dijelaskan di atas, perlu adanya pengembangan model pelatihan berbasis
kinerja. Pengembangan model pelatihan ini diarahkan pada kegiatan-kegiatan praktek
pengembangan kompetensi yang pada giliranya dapat meningkatkan kinerja tutor dalam
melaksanakan pembelajaran pendidikan kesetaraan di PKBM.
Asumsi ini dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:
a. guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM, memiliki potensi dan peluang untuk
ditingkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik tetapi mereka tidak ceramahi dengan teori

92

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

tetapi harus disertai praktek langsung. Peningkatan kompetensi guru/tutor tersebut, pada
gilirannya akan mampu meningkatkan kinerja pembelajaran;
b. adanya program-program pelatihan yang dilakukan oleh Depdiknas atau Dinas
Pendidikan Provinsi dalam rangka peningkatan kompetensi guru/tutor, tetapi
pemerataan kesempatannya masih sangat terbatas. Di samping itu penyelenggaraan
pelatihan masih konvensional, strategi pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan
belum optimal sesuai kontekstual kebutuhan belajar nyata yang dihadapi guru/tutor;
c. keberhasilan dalam mencapai tujuan pelatihan bergantung pada kegiatan pembelajaran
yang dilakukan, sedangkan efektivitas pembelajaran bergantung pada kebutuhan belajar
dan sumber belajar;
d. fasilitator dalam melakukan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
pengembangan kompetensi, yaitu lebih menekankan pada kegiatan praktek dalam
kelompok dan berkolaboratif antara peserta pelatihan dengan fasilitator, saling mengisi.
Oleh karena pembelajaran dalam bentuk praktek, merupakan pengembangan kompetensi
bagi guru/tutor yang lebih kondusif, dan
e. guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM adalah orang dewasa yang siap dan dapat
melaksanakan belajar sesuai kebutuhan, sepanjang adanya upaya fasilitasi kegiatan
belajar mereka.

Sesuai dengan karakteristik belajar orang dewasa, yang didasarkan pada asumsi:
a. orang dewasa dapat belajar sesuai dengan kebutuhannya;
b. belajar adalah proses internal, dan
c. pembelajaran orang dewasa meliputi kondisi umum dan berfokus pada prinsip-prinsip
pembelajaran yang kondusif yang memungkinkan terjadinya hasil pembelajaran yang
optimal.

Oleh sebab itu pembelajaran dalam mengembangkan komptetensi guru/tutor akan lebih sesuai jika
menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa, dan menekankan pada upaya memfasilitasi
guru/tutor agar melakukan belajar.

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

93

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Tujuan Pengembangan Model Pelatihan

Tujuan dari pengembangan model pelatihan berbasis kinerja ini meliputi tujuan umum dan tujuan
khusus. Tujuan umum pengembangan model ini yaitu mencari sebuah alternatif model pelatihan
dalam pengembangan kompetensi pedagogik dan angragogik guru/tutor dalam upaya
meningkatkan kinerja guru/tutor dalam pembelajaran di PKBM. Model pelatihan yang
dimaksudkan di sini yakni model pelatihan di dalam upaya meningkatkan kinerja yang
diorientasikan pada karakteristik:
a. kebutuhan faktual dari hasil pemetaan asesmen kinerja;
b.

pendekatan partisipatif dan kolaboratif dalam pembelajaran pengembangan kompetensi


guru/tutor;

c. pembelajaran dikondisikan dalam kegiatan praktek dengan fasilitator sebagai sumber belajar,
sekaligus berfungsi sebagai mentor dalam pelatihan.

Sedangkan tujuan khusus dari model pelatihan berbasis kinerja, antara lain untuk:
a. mensosialisasikan model pelatihan berbasis kinerja (performance based training model)
kepada instansi pembina guru/tutor, fasilitator, pendamping ataupun pengelola
penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan;
b. memfasilitasi dan memberikan pandangan bagi para guru/tutor dan pengelola program
pendidikan kesetaraan, bahwa pengembangan kompetensi dilakukan dengan memobilisasi
guru/tutor untuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan secara praktek dalam
memberdayakan guru/tutor agar penyelenggaraan pembelajaran pada pendidikan kesetaraan
lebih efektif;
c. mengenalkan pendekatan dan tahapan model pelatihan dalam rangka memberikan kemudahan
belajar secara kontekstual dalam pelatihan untuk pengembangan kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan, yang berorientasi pada unjuk kerja dalam pembelajaran, dan
pengintegrasian konsep pelatihan dalam pendidikan luar sekolah, terkait dengan upaya pengembangan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM.

4. Komponen Pembelajaran dalam Pelatihan


Komponen pembelajaran dalam pelatihan yang dimaksudkan adalah unsur-unsur umum yang
digunakan dalam mendukung berlangsungnya proses pembelajaran yang dikembangkan dalam

94

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pelatihan. Komponen pembelajaran dalam pendidikan luar sekolah berkaitan dengan prinsip pelatihan
partisipatif yang mempertimbangkan kesesuaian:
a. sasaran pelatihan (guru/tutor);
b. bahan ajar yang digunakan, dan
c. sumber belajar.

Sasaran pelatihan adalah guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM, yang memungkinkan dapat
meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik. Bahan ajar diorientasikan sesederhana mungkin
untuk bisa dipraktekan pada program peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor
yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Bahan ajar yang digunakan baik berupa bahan ajar
cetak (buku teks) maupun berupa bahan ajar yang disusun oleh fasilitator (penulis). Sumber belajar
adalah fasilitator, yang dianggap mampu dan memungkinkan memfasilitasi kegiatan pelatihan
berbasis kinerja pada pelatihan guru/tutor pendidikan kesetaraan.

Model pelatihan yang dikembangkan dilengkapi dengan seperangkat instrumen, yaitu:


a. instrumen untuk identifikasi kebutuhan belajar yang dijadikan dasar merumuskan program
pelatihan, dan
b. instrumen implementasi pengembangan model yang meliputi:
1) instrumen untuk pretes dan postes;
2) instrumen untuk observasi implementasi pembelajaran guru/tutor dan
3) instrumen efektivitas model.

Sedangkan tahapan umum kegiatan yang dibangun di dalam model pelatihan yang dikembangkan
meliputi:
a. tahap perencanaan;
b. tahap pengorganisasian;
c. tahap pelaksanaan, dan
d. tahap evaluasi.

Operasionalisasi dari tahapan umum dalam pengembangan model, serta terkait dengan kebutuhan
belajar dalam peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor meliputi:
a. wawasan pendidikan;
b. konsep dasar pembelajaran;
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

95

Pelatihan Berbasis Kkinerja

c. pengembangan kurikulum pembelajaran;


d. pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran;
e. keterampilan dasar mengajar, dan
f. evaluasi dalam pembelajaran.

5. Indikator Keberhasilan
Sesuai dengan tujuannya, pengembangan model pelatihan ini untuk meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM, indikator keberhasilannya
antara lain adalah:
a. meningkatkanya pengetahuan guru/tutor tentang wawasan pendidikan;
b. meningkatnya pemahaman guru/tutor tentang warga belajar;
c. meningkatnya pemahaman guru/tutor dalam merancang program pembelajaran;
d. meningkatnya kemampuan guru/tutor dalam menyusun persiapan pembelajaran;
e. meningkatnya kemampuan guru/tutor melaksanakan pembelajaran;
f. meningkatnya kemampuan guru/tutor melaksanakan evaluasi pembelajaran, dan
g. meningkatnya kemampuan guru/tutor dalam mengembangkan warga belajar melalui berbagai
kegiatan.

Ketujuh

komponen

yang

harus

ditingkatkan

tersebut merupakan komponen di dalam

kompetensi pedagogik dan andragogik yang harus dipenuhi oleh guru/tutor pendidikan kesetaraan.

6. Prosedur Pelaksanaan Model Pelatihan

Prosedur yang ditempuh dalam mengimplementasikan model pelatihan berbasis kinerja ini, melalui
empat tahapan, yakni:
a. tahap perencanaan;
b. tahap pengorganisasian;
c. tahap pelaksanaan, dan
d. tahap evaluasi.

Masing-masing tahapan tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut:


1. Tahap Perencanaan

96

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Tahap perencanaan dalam implementasi model ini menempuh beberapa kegiatan antara lain:
a. Identifikasi kebutuhan belajar, ditempuh melalui dua tahapan yakni:
Pertama, wawancara dengan Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan Bidang PNFI
Provinsi DKI Jakarta dan Penangung jawab PKBM. Teknik wawancara menggunakan
wawancara terbuka untuk memperoleh gambaran umum kebutuhan belajar tutor.
Kedua, identifikasi kebutuhan belajar setiap tutor dengan menggunakan format
identifikasi kebutuhan belajar, dan dilengkapi dengan wawancara untuk memperoleh
gambaran kebutuhan belajar tutor terkait dengan pengembangan kompetensi mereka
dalam pembelajaran.
b. Menetapkan kebutuhan belajar berdasarkan prioritas, kebutuhan belajar ditetapkan
berdasarkan porsi terbanyak dari hasil identifikasi pengisian format identifikasi dan
wawancara. Langkah ini ditempuh untuk menghindari terlalu beragamnya kebutuhan
belajar dan sumber belajar yang diperlukan. Penetapan kebutuhan belajar, dijadikan dasar
untuk menetapkan tujuan pembelajaran, materi pokok pembelajaran, strategi atau
pendekatan pembelajaran, serta perumusan alat evaluasi yang akan digunakan.
c. Identifikasi sumber belajar, yaitu memilih dan menentukan fasilitator yang dapat dilibatkan
membantu melakukan pembelajaran dalam pelatihan, di samping penulis sendiri sebagai
fasilitator, juga merekrut dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah dan dosen Jurusan Kurikulum
dan Teknologi Pendidikan yang dianggap kompeten dalam materi pelatihan yang akan
diberikan. Di samping menentukan fasilitator, dipilih pula sumber belajar lainnya yang
mendukukung kegiatan pembelajaran, yaitu berupa bahan ajar. Bahan ajar ditentukan
sesuai dengan hasil identifikasi kebutuhan, yang meliputi bahan ajar cetak (buku teks), dan
bahan ajar yang dikembangkan sendiri oleh fasilitator.
d. Identifikasi peserta pelatihan, peserta belajar dalam pengembangan model pelatihan ini
adalah guru/tutor yang mengajar pada pendidikan kesetaraan di PKBM 15 Cideng,
PKBM Miftahul Jannah, PKBM Al Ishlah dan PKBM 17 Penjaringan sebagai sampel.
Dengan persyaratan:
1) berlatang belakang pendidikan S1 Non-Kependidikan;
2) aktif menjadi guru/tutor pemidikan kesetaraan pada tahun 2009, dan
3) guru/Tutor yang direkrut dari masyarakat (bukan guru PNS).

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

97

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. Tahap Pengorganisasian

Pengorganisasian merupakan tahap pengaturan atau penataan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan.
Pengorganisasian meliputi baik pengorganisasian personal yang terkait untuk kelancaran pelaksanaan
kegiatan pelatihan, maupun pengorganisasian atau perumusan program pembelajaran (kurikulum).
Pengorganisasian personal yang dimaksudkan adalah melakukan koordinasi dengan pihak
penanggung jawab PKBM dan Kepala Seksi PNFI Sudin Pendidikan, Penilik PLS dan Tenaga
Lapangan Diknas. Koordinasi diarahkan untuk memperoleh kelancaran pelaksanaan kegiatan pelatihan.
Sedangkan perumusan program pembelajaran disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan
belajar, dan diorientasikan untuk perumusan:
a. tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan umum, yaitu untuk meningkatkan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor dalam pembelajaran;
b. materi pembelajaran yang diorientasikan pada materi-materi yang dapat meningkatkan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor di PKBM;
c. media atau alat pembelajaran yang disesuaikan dengan materi dan kebutuhan dalam
pembelajaran;
d. sarana dan prasarana yang mendukung pembelajaran;
e. pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan materi dan karakteristik peserta pelatihan;
f. sumber belajar meliputi fasilitator, bahan belajar baik berupa buku teks maupun bahan belajar
yang disusun oleh fasilitator, dan
jadwal pembelajaran, disusun dan disepakati bersama peserta dan fasilitator, dengan
mempertimbangkan waktu dan kesempatan semua pihak yang akan terlibat dalam pelatihan.

3.

Tahap Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan pelatihan diorientasikan pada strategi pelatihan keterampilan dalam pembelajaran.
Strategi ini diproyekksikan pada pengkondisian interaksi profesional dengan mempertahankan
pendekatan pembelajaran transmisi, transaksional, dan kolaboratif. Dalam pembelajaran fasilitator
bertindak sebagai sumber belajar untuk memfasilitasi terjadinya kegiatan proses pembelajaran dengan
langkah-langkah:
a.

menyampaikan target kompetensi yang akan dicapai;

b. mendeskripsikan materi secara singkat;


c. memberikan pengalaman belajar dengan cara memfasilitasi kegiatan kerja kelompok dalam
98

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mempraktekan tugas-tugas pokok pembelajaran; dan


d. melakukan kolaborasi dalam implementasi hasil belajar melalui kegiatan peer tutorial sebagai
bentuk reflektif dalam pelatihan.

Memberikan pengalaman belajar dalam pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan


kemampuan guru/tutor baik dimensi pengetahuan maupun keterampilan melaksanakan pembelajaran
secara kontekstual dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru/tutor. Peserta pelatihan
(guru/tutor) dalam hal ini sebagai warga belajar bertindak secara individual maupun kelompok secara
kolaboratif dengan fasilitator melaksanakan kegiatan dalam proses pelatihan dengan langkah-langkah:
a. menyimak uraian materi secara seksama;
b. melakukan kegiatan praktek sesuai materi yang diajarkan dengan bimbingan fasilitator;
c. merancang implementasi pembelajaran dalam kegiatan peer tutorial sebagai bentuk reflektif
dalam pelatihan ini melalui langkah-langkah:
1) menyusun rencana persiapan pembelajaran;
2) melaksanakan pembelajaran di kelompok kecil dengan warga belajarnya teman sebaya (peer
teaching) dan sekaligus diobservasi secara seksama;
3) menganalisis dan diskusi pembelajaran yang telah dilakukan, dan
4) merencanakan pembelajaran tahap selanjutnya.

Langkah-langkah tersebut ditempuh bertujuan untuk lebih meningkatkan pemahaman dan keterampilan
guru/tutor dalam pembelajaran secara terbuka dalam kondisi aktual. Strategi belajar seperti ini dapat
diharapkan guru/tutor dapat mengadopsi, menginternalisasi, dan mengaktualisasi hal-hal yang dialami,
diamati, dan diterapkan. Dengan demikian guru/tutor akan lebih percaya diri dan berupaya
mengembangkan kompetensinya sesuai pengalaman praktek pembelajaran dalam meningkatkan
efektivitas pembelajaran khususnya pada pendidikan kesetaraan di PKBM.

4. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria dan instrumen yang akan digunakan untuk menilai
efektivitas model pelatihan. Evaluasi efektivitas model ditempuh melalui tiga tahap penilaian, yaitu
penilaian terhadap hasil pembelajaran (output\ evaluasi terhadap proses implementasi model, dan
evaluasi terhadap dampak implementasi model (outcome). Evaluasi hasil pembelajaran dilakukan
untuk mengukur tingkat efektivitas keberhasilan pembelajaran melalui pengujian awal (pre test) untuk
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

99

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mengetahui tingkat awal penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, dilakukan
sebelum implementasi ujicoba model, melalui test dan observasi mengajar, dan pengujian akhir
(post test) dari keseluruhan proses pembelajaran dilakukan pada pasca pelatihan, melalui tes dan
observasi mengajar. Evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk mengukur efektivitas penerapan
model pelatihan, melalui penggunaan angket tentang pendapat guru/tutor sebagai peserta pelatihan
terhadap model pelatihan yang dikembangkan.

Evaluasi dampak implementasi model (outcome), dilakukan pada kegiatan reflektif untuk mengetahui
performansi guru/tutor (peserta pelatihan), dilaksanakan melalui observasi terhadap guru/tutor mengajar
di kelompok kecil. Pengamatan atau observasi dilakukan secara seksama oleh peserta pelatihan
(guru/tutor) dan fasilitator. Ketika salah seorang guru/tutor mengajar, guru/tutor yang lain bersama
fasilitator mengamati proses pembelajaran guru/tutor yang sedang mengajar. Hasil pengamatan
selanjutnya didiskusikan untuk saling memberikan masukan perbaikan bagi guru/tutor yang diamati,
untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya.

C. Pengujian Model Hipotetik


1. Uji Kelayakan Model Hipotetik
Model hipotetik pelatihan yang telah dikonsep, sebelum dilakukan uji coba terbatas, dan uji
lapangan, terlebih dahulu dilakukan uji kelayakan. Maksud dilakukannya uji kelayakan yaitu untuk
menghasilkan model pelatihan awal yang lebih sesuai dan efektif ketika dilakukan uji coba. Uji
kelayakan model ditempuh melalui dua tahap kegiatan, yakni:
a. analisis model oleh praktisi, dan
b. penilaian oleh para ahli (expert judgement).

Analisis model oleh praktisi, dilakukan oleh peneliti dangan mendiskusikan model hipotetik yang
telah dikonsep bersama Kepala Seksi Pelatihan Balai Pengembangan Pelatihan Pendidikan Luar
Sekolah (BP3LS) Provinsi DKI Jakarta (Drs. Supandi, NA), yang bertugas sebagai koordinator
program pelatihan guru/tutor, dan bersama Kasi pendidikan kesetaraan selaku pembina program
pendidikan kesetaraan Provinsi DKI Jakarta (Drs. Budi). Analisis model dilakukan untuk mengkaji
relevansi isi, dan keterkaitan setiap komponen dari model pelatihan hipotetik yang dirumuskan, serta
melihat sesuai tidaknya komponen tersebut dengan usaha peningkatan kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan dalam pembelajaran pada PKBM. Diskusi untuk menganalisis model

100

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

tersebut dilakukan dengan cara penulis mengajukan beberapa pertanyaan atas keragu-raguan terhadap
beberapa komponen dari konsep model yang dikembangakan. Hasil diskusi diperoleh masukan atau
saran-saran untuk penyempurnaan konsep model pelatihan yang dikembangkan.

Berdasarkan masukan dari diskusi dengan praktisi tersebut, model hipotetik pelatihan yang telah
dikonsep penulis, masih ada beberapa kekurangan yang perlu dimasukkan, di antaranya perlu
dimasukkan komponen konten yang berkaitan dengan keterlibatan aktif guru/tutor sebagai peserta
pelatihan dan kemampuan menyusun persiapan pembelajaran, dan mempraktekkannya dalam
pembelajaran, serta dilakukannya observasi di dalam penerapan pembelajaran, hasil observasi
pembelajaran untuk melakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya. Berdasarkan masukan tersebut
penulis selanjutnya melakukan penyempurnaan terhadap model hipotetik yang telah dikonsep.

Penilaian oleh pakar (expert judgement), dilaksanakan dengan cara melakukan konsultasi sesuai
dengan kebutuhan dalam penyempurnaan model yang sedang dikembangkan. Pakar yang melakukan
judgement model pelatihan yang dikembangkan ini sebanyak tiga orang, bertujuan untuk memperoleh
model yang lebih sesuai dan efektif dalam pelaksanaan ujicoba model. Saran atau masukan dari
pakar selanjutnya digunakan untuk perbaikan model hipotetik, baik yang menyangkut isi, bahasa,
serta relevansinya. Selain model hipotetik, peneliti melakukan pengujian kelayakan instrumen
efektivitas model melalui penilaian ahli (expert judgement), dan ujicoba empirik instrumen tersebut
(khususnya instrumen tes) untuk memperoleh validitas maupun reliabilitas empirik dari instrumen
tes yang akan digunakan.

2. Revisi Model Hipotetik Pasca Uji Kelayakan

Revisi model hipotetik pelatihan dilakukan setelah dilaksanakannya uji kelayakan dari model
hipotetik tersebut sebagaimana telah dijelaskan di atas. Didasarkan pada hasil penilaian praktisi,
dan penilaian para ahli (expert judgement), model pelatihan berbasis kinerja (performance based
training) untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan, sudah dianggap layak untuk diimplementasikan dalam uji coba di PKBM
penyelenggara program pendidikan kesetaraan yang dijadikan sampel penelitian yaitu PKBM 15
Cideng, PKBM Al Ishlah, PKBM Miftahul Jannah dan PKBM 17 Penjaringan.

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

101

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Menurut hasil penilaian praktisi dan pakar, model hipotetik tersebut sebelum ujicoba, masih
perlu penyempurnaan, utamanya berkaitan dengan beberapa hal sebagai berikut:
a. sistematika model pelatihan disusun kembali;
b. komponen pembelajaran dalam model pelatihan disesuaikan dengan kondisi di lembaga
pendidikan, sehingga dapat diikuti oleh guru/tutor dalam uji coba model tersebut;
c. komponen peningkatan kompetensi guru/tutor dalam model pelatihan perlu lebih
difokuskan, sehingga dapat dilihat peningkatannya kompetensi pedagogi dan andragogik;
d. model yang dikembangkan perlu adanya kegiatan aktif guru/tutor melakukan pembelajaran
nyata mulai dari rencana, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi;
e. model tersebut perlu dicantumkan komponen (outcome) untuk melihat

performance

guru/tutor mengajar, dan setiap komponen dalam model perlu diuraikan secara rinci dan jelas.

Sehubungan rekomendasi dari praktisi dan pakar dari uji kelayakan model hipotetik sebagaimana
telah dijelaskan di atas, selanjutnya dilakukan perbaikan. Perbaikan tersebut diorientasikan untuk
penyempurnaan model pelatihan yang dikembangkan, dan siap untuk dilakukan implementasi model.

3. Uji coba Model Terbatas


Untuk ujicoba terbatas, setelah adanya hasil revisi dari uji kelayakan praktisi dan pakar. Sasaran
ujicoba adalah guru/tutor pendidikan kesetaraan secara terbatas beberapa orang guru/tutor di
PKBM penyelenggara program pendidikan kesetaraan yaitu PKBM 15 Cideng Jakarta Pusat, PKBM
Miftahul Jannah Jakarta Timur, PKBM Al Ishlah Jakarta Pusat dan PKBM 17 Penjaringan Jakarta
Utara. Ujicoba terbatas dilakukan melalui empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap
pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi.
a. tahap perencanaan, meliputi kegiatan identifikasi kebutuhan belajar, identifikasi bahan belajar,
identifikasi struktur program. Secara rinci dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut.
1) identifikasi kebutuhan belajar, dilakukan melalui pengisian format identifikasi kebutuhan
yang telah disiapkan oleh peneliti, dan wawancara untuk memperoleh masukan tentang
kebutuhan belajar terkait dengan pengembangan kompetensi pedagogik dan
andragogik;
2) identifikasi sumber belajar, berupa handout yang di kemas oleh peneliti. Di samping
itu peneliti sendiri sebagai fasilitator dalam pelatihan dan dibantu oleh fasilitator lain
dari dosen dan tutor senior program pendidikan kesetaraan di Provinsi DKI Jakarta;

102

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3) menyusunan struktur program pelatihan yang telah disiapkan peneliti didiskusikan


dengan tim dan peserta diminta memberikan masukan untuk menyempurnakan
struktur terkait dengan kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi.
b. tahap pengorganisasian ujicoba model, dilakukan oleh peneliti sebagai fasilitator bersamasama tim dan peserta ujicoba. Tahap pengorganisasian dilakukan dengan maksud untuk
memvalidasi langkah-langkah yang mendukung kelancaran pelaksanaan pelatihan dalam
proses ujicoba model, yaitu untuk menentukan lima faktor pendukung sebagai berikut:
1) tujuan pelatihan. dirumuskan oleh peneliti dengan melibatkan peserta ujicoba dan
sesuai materi pelatihan yang dibutuhkan, yaitu pengembangan kompetensi pedagogik
dan andragogik. Tujuan pelatihan diklasifikasikan menjadi tujuan umum dan tujuan
khusus. Hasil perumusan tujuan umum adalah:
a) meningkatkan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor dalam
mengelola pembelajaran pendidikan kesetaraan;
b) mengembangkan keterampilan dasar mengajar tutor dalam pembelajaran
pendidikan kesetaraan; dan
c) meningkatkan efektivitas pembelajaran pendidikan kesetaraan.
Sedangkan hasil perumusan tujuan khusus, adalah:
a) menjelaskan wawasan kependidikan;
b) (menjelaskan perencanaan pembelajaran serta metode dan tekniknya;
c) menjelaskan kurikulum pendidikam kesetaraan beserta silabus dan RPP;
d) menyusun program pembelajaran;
e) menyusun persiapan pembelajaran;
f) melaksanakan pembelajaran secara efektif; dan
g) melaksanakan evaluasi hasil belajar.
2) materi pembelajaran yang dikembangkan dalam pelatihan pada kompetensi yang telah
ditetapkan yaitu pedagogik dan andragogik., meliputi komponen-komponen pemahaman
terhadap wawasan pendidikan dan pemahaman karakteristik warga belajar, penyusunan
persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, serta merancang dan melaksanakan
evaluasi pembelajaran.
3) media pelatihan yang digunakan meliputi LCD, handout materi terkait, bahan ajar yang
disusun, dan format Silabus, RPP dan kisi-kisi penilaian untuk peserta.
4) sarana pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di PKBM,
meliputi meja dan kursi untuk peserta, papan tulis , dan alat-alat tulis yang diperlukan peserta.
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

103

Pelatihan Berbasis Kkinerja

5) fasilitator pembelajaran. dalam pembelajaran adalah peneliti sendiri dan dibantu fasilitator
lain yang ditunjuk peneliti, sesuai dengan pengalaman dan kemampuannya sebagai
fasilitator dalam pelatihan.
c. tahap pelaksanaan ujicoba dilakukan fasilitator bersama-sama dengan peserta, mengingat
peserta ujicoba adalah orang dewasa, maka pendekatan yang digunakan dalam pelatihan adalah
pendekatan andragogi dan pendekatan partisipatif. Dimana proses pembelajaran untuk setiap pokok
bahasan, pada dasarnya dibedakan menjadi tiga tahap kegiatan, yaitu kegiatan pendahuluan,
kegiatan inti/penyajian, dan kegiatan penutup.

Pertama tahap pendahuluan dilakukan tiga kegiatan, yaitu:


1) membangun perhatian peserta belajar dengan cara meyakinkan bahwa pengalaman belajar
yang akan dilakukan berguna untuk melaksanakan tugas pembelajaran, dan

fasilitator

melakukan interaksi yang menyenangkan baik secara individual ataupun kelompok secara
dialogis dan demokratis;
2) fasilitator membangun motivasi peserta, dengan cara menciptakan suasana akrab, menyapa dan
berkomunuikasi secara kekeluargaan, mengaitkan pengalaman belajar yang akan dilakukan
sesuai kebutuhan peserta dalam melaksanakan tugas mengajar;
3) memberikan acuan atau rambu-rambu tentang pembelajaran yang akan dilakukan, yaitu:
a) menjelaskan tujuan yang akan dicapai;
b) menjelaskan tahapan pembelajaran, sehingga peserta diharapkan memahami langkahlangkah belajar yang harus dilakukan, dan
c) menjelaskan target kemampuan yang harus dimiliki setelah pembelajaran berlangsung.

Kedua tahap pelaksanaan pembelajaran peran fasilitator dan peserta pelatihan, sesungguhnya
terdiri kegiatan pendahuluan pembelajaran, inti, dan kegiatan penutup. Adapun peran fasilitator dan
peserta, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) fasilitator menciptakan interaksi yang kondusif di antara peserta belajar, dan fasilitator dengan
peserta belajar; sekaligus fasilitator melakukan pengkondisian peserta belajar untuk belajar;
2) fasilitator melakukan penjajagan untuk memahami pengalaman dan kemampuan dasar peserta
belajar sesuai dengan tema melalui dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman
apa saja yang telah peserta alami sesuai dengan tema yang akan dikaji dan didiskusikan;
3) fasilitator memberikan wawasan kepada peserta belajar sebagai pembekalan teori untuk
menambah pengetahuan dalam melaksanakan tugas dalam pembelajaran;
104

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

4) fasilitator memberikan toolkit berupa format silabus, RPP dan kisi-kisi penilaian (sesuai dengan
tema yang dibahas), untuk meningkatkan keterampilan peserta yang berhubungan dengan upaya
meningkatkan kemampuan tutor dalam pembelajaran;
5) fasilitator memberikan tugas langsung kepada setiap peserta untuk mempraktekan membuat
perencanaan program untuk diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran;
6) fasilitator mendorong peserta dapat memecahkan persoalan pembelajaran dalam pelaksanaan
tugas mengajar, melalui penyelesaian tugas-tugas mandiri;
7) fasilitator menugaskan peserta secara individual menyusun perencanaan pembelajaran disesuaikan
dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD)

yang akan diajarkan, dan

mendiskusikan hasilnya, serta melakukan revisi bersama;


8) fasilitator meminta masing-masing peserta secara bergilir mengimplementasikan rencana
pelaksanaan pembelajaran secara aktual melalui peer tutorial, dan lainnya secara kolaboratif
bersama fasilitator melakukan pengamatan;
9) fasilitator dan peserta melakukan refleksi hasil pengamatan pelaksanaan pembelajaran aktual
untuk memberikan masukan untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya;
10) fasilitator melakukan evaluasi program pelatihan, dalam hal ini peneliti mengadakan
evaluasi yaitu posttest, tanya jawab maupun pengisian kuesioner berkaitan dengan proses
pelatihan secara keseluruhan yang telah dilaksanakan.

Peran peserta pelatihan selama pelaksanaan ujicoba tampak aktif, dan berpartisipasi penuh dalam
pemebelajaran yang ditunjukkan melalui kegiatan sebagai berikut:
1) menunjukkan sikap antusiasme yang cukup baik ketika menyimak orientasi tentang strategi
pembelajaran yang dikemukakan oleh fasilitator, dimana mereka mempunyai motivasi
mengikuti pelatihan cukup baik;
2) menyimak penjelasan fasilitator secara aktif, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, serta
menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator;
3) menjelaskan tentang pengalaman mereka yang relevan dengan tema yang dijelaskan
fasilitator dan mengajukan masalah-masalah yang dihadapi dalam melaksanakan
pembelajaran;
4) melaksanakan tugas mandiri sesuai petunjuk yang telah dijelaskan dengan menggunakan
bahan belajar (toolkit) dan penyelesaian pengisian format tugas-tugas pembelajaran secara
individual;
5) mempelajari bahan belajar yang diberikan oleh fasilitator, kemudian mendiskusikan
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

105

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pengalaman belajar yang dianggap sulit dengan fasilitator;


6) merancang rencana kegiatan implementasi pembelajaran aktual melalui peer tutorial mulai
dari penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran;
7) mendiskusikan hasil penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, untuk dilakukan
perbaikan seperlunya;
8) setiap peserta melaksanakan simulasi praktek pembelajaran sesuai dengan rencana
pembelajaran yang telah diperbaiki, fasilitator dan peserta lainnya melakukan pengamatan
praktek pembelajaran tersebut, demikian seterusnya secara bergiliran;
9) melakukan refleksi yaitu mendiskusikan hasil pengamatan secara kolaboratif
pelaksanaan praktek peer tutorial untuk diberikan masukan perbaikan, pada
pembelajaran selanjutnya, dan demikian seterusnya.

tahap evaluasi dilakukan peneliti dengan melibatkan peserta terhadap keseluruhan komponen
program, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai pada evaluasi. Fasilitator
melakukan pengamatan terhadap keseluruhan proses pembelajaran, dan secara umum proses
pembelajaran berlangsung lancar. Untuk memperoleh gambaran tanggapan peserta terhadap model
pelatihan yang dilaksanakan, dilakukan penilaian dengan rnenggunakan angket pendapat peserta
tentang rangkaian seluruh kegiatan pembelajaran selama pelatihan. Hasil pada tahap evaluasi ini
dijadikan sebagai temuan untuk melakukan revisi model yang dikembangkan. Temuan hasil
evaluasi diuraikan lebih lanjut sebagai temuan ujicoba model dan dijadikan bahan untuk revisi
model hipotetik.

4. Temuan Hasil Uji coba Model


Hasil angket tentang pendapat peserta terhadap model pelatihan yang dikembangkan, data
menunjukkan pelaksanaan pelatihan selama ujicoba model dapat digambarkan pada tabel berikut.

106

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Tabel 4.6
Pendapat Peserta terhadap Pelaksanaan Model Pelatihan
No.

Pernyataan

Sangat Kurang
kurang
F % F %

Kategori
Cukup

Baik

Sangat
baik
F % F % F %
1
6,7 12 80 2 13,3

1. Relevansi pelatihan terhadap


pengembangan kemampuan
mengajar
2. Pelatihan berpengaruh untuk
1 6,7 2
13,3 6 40 6 40
mengembangkan kompetensi
pedagogik dan andragogik
3. Minat peserta terhadap
1
6,7 12 80 2 13,3
pemebelajaran dim pelatihan
4. Relevansi matode, sumber
1
6,7 9 60 5 33,3
belajar thd pencapaian tujuan
pelatihan
5. Manfaat perlunya toolkit
1 6,7 1
6,7 9 60 4 26,7
belajar digunakan pada
pelatihan
6. Partisipasi peserta dalam
1 6,7 2
13,3 6 40 6 40
pelatihan secara keseluruhan
7. Partisipasi peserta dalam
1 6,7
12 80 2 13,3
kegiatan peer tutorial
8. Manfaat pendekatan pelatihan
2
13,3 9 60 4 26,7
yang diterapkan dalam
pembelajaran
Rata-rata
3,4
7,5
62,5
25,8
Sumber: Data pendapat tutor terhadap model pelatihan yang dikembangkan (2009)
Berdasarkan tabel di atas, bahwa respon peserta terhadap model pelatihan yang dikembangkan
dalam ujicoba, dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:
a. model pelatihan yang dikembangkan memiliki relevansi dimana 80% peserta menyatakan baik, dan
13% menyatakan sangat baik untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran tutor;
b. pelatihan dengan model yang dikembangkan 40% peserta menyatakan berpengaruh baik,
dan 40% dinyatakan sangat baik untuk mengembangkan kompetensi pedagogik dan andragogik;
c. minat peserta terhadap pelatihan 80% menyatakan baik, dan 13% menyatakan sangat baik;
d. relevansi materi pelatihan untuk pencapaian tujuan pelatihan, peserta menyatakan 60%
relevan, dan 33% menyatakan sangat relevan;
e. manfaat perlunya toolkit belajar dalam pelatihan dinyatakan peserta 60% baik, dan 27% sangat
baik manfaatnya;
f. partisipasi peserta secara keseluruhan dalam pelatihan 40% peserta menyatakan baik, dan 40%
Model Pelatihan Berbasis Kinerja

107

Pelatihan Berbasis Kkinerja

menyatakan sangat baik;


g. partisipasi peserta dalam kegiatan peer tutorial 80% menyatakan baik, dan 13% menyatakan sangat
baik;
h. kemanfaatan pendekatan pembelajaran yang diterapkan dalam pelatihan, 60% peserta
menyatakan baik, dan 27% menyatakan sangat baik.

Secara keseluruhan rata-rata respon peserta terhadap ujicoba model pelatihan diketahui 62,5%
dianggap baik, dan 25,8% sangat baik. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanggapan
peserta terhadap ujicoba terbatas model pelatihan berbasisi kinerja (performance based training)
dikatakan sangat positif. Hal ini dapat diterima bahwa model pelatihan yang dikembangkan secara
umum sudah bisa untuk dimplementasikan (uji lapangan).

Kemudian beberapa temuan lain yang muncul selama proses pelatihan, baik dari pengamatan maupun
wawancara dengan beberapa peserta, dapat dilaporkan sebagai berikut:
a. secara umum kegiatan pelatihan dengan menggunakan model berbasis kinerja yang
dikembangkan berjalan lancar dan berhasil, sekalipun pada awal kegiatan umumnya peserta
ujicoba belum memahami tujuan dari kegiatan yang dilakukan. Namun selanjutnya peserta
memahami maksud dari kegiatan pelatihan, terbukti dari partisipasi peserta secara
keseluruhan tampak antusias melakukan belajar;
b. hasil dialog dengan peserta, terungkap untuk melakukan kegiatan peer tutorial memerlukan
persiapan dan kepercayaan diri, sehingga di dalam melaksanakan praktek kegiatan tersebut
hasilnya dapat memuaskan;
c. hasil wawancara dengan peserta secara umum terungkap, bahwa peserta mengalami
kekurangan akses informasi tentang pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik,
karena mereka berlatar belakang non kependidikan. Sehingga adanya pelatihan berbasis
kinerja yang dikembangkan ini dirasakan sangat bermanfaat. Di samping itu mereka
mengharapkan pelatihan semacam ini bukan hanya untuk meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik saja, tetapi dikembangkan pula untuk keterampilan lainnya,
dan
d. akhirnya proses pelatihan dalam ujicoba, peserta mengharapkan adanya pembinaan terus
menerus yaitu dalam menerapkan hasil pelatihan dalam praktek
terjadinya perbaikan dalam pembelajaran.

108

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

sehari-hari, supaya

Pelatihan Berbasis Kkinerja

5. Revisi Model Pasca Ujicoba Terbatas


Perbaikan model pelatihan didasarkan pada hasil ujicoba, dimaksudkan untuk penyempurnaan
model sesuai temuan dan masukan secara empirik terhadap model hipotetik yang telah diuji
kelayakan sebelum diujicoba. Dari ujicoba model, ada beberapa temuan sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya. Temuan tersebut, menurut peneliti sangat berharga sebagai bahan
masukan dalam menyempurnakan model, sehingga memperoleh model yang memiliki
validitas dan reliabilitas tidak diragukan, dan layak untuk uji lapangan yang lebih luas.
Berdasarkan temuan hasil ujicoba sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa sekalipun
secara umum model yang dikembangkan sudah positif dan diterima untuk bisa
diimplementasikan,

namun

ada

beberapa

temuan

yang

perlu

ditindaklanjuti

untuk

menyempurnakan model, yaitu antara lain:


a. peserta masih mengalami kebingungan dalam

langkah-langkah peer tutorial dalam

pelatihan, terutana pada prosesnya, sehingga perlu diperjelas prosedur pembelajarannya;


b. peserta mengeluhkan kurangnya pembinaan dari institusi yang terkait untuk mengembangkan
kompetensi mereka lebih lanjut dalam mengelola pembelajaran program pendidikan
kesetaraan, dan
c. peserta mengeluhkan masih kurangnya akses informasi tentang pelatihan-pelatihan dari
institusi pembina ataupun dari institusi lain yang relevan untuk melakukan pengembangan
tentang pendidikan kesetaraan.

Temuan hasil ujicoba tersebut yang dijadikan rujukan untuk merevisi model, terlebih dahulu
dikonsultasikan kepada pakar, untuk memperoleh saran-saran lebih lanjut dalam menyempurnakan
model yang akan diimplementasikan (diujicoba lapangan). Dengan mempertirnbangkan saran para
ahli, penyempurnaan model dilakukan. Dari revisi model pasca ujicoba, dihasilkan model yang
lebih disempurnakan dan siap untuk dilakukan implementasi uji lapangan. Model pelatihan hasil
revisi berdasarkan hasil ujicoba terbatas, secara jelas dapat digambarkan sebagai berikut di bawah
ini.

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

109

Pelatihan Berbasis Kkinerja

LINGKUNGAN
SOSIAL &
BUDAYA

BAHAN BELAJAR

I
N
P
U
T

TUTOR
PAKET C
SARANA &
PRASARANA

FASILITATOR

PERENCANAAN
1. Analisis Kebutuhan,
2. PengembanganKompetensi
3. Perencanaan Kurikulum

P
E
L
A
T
I
H
A

PR
O
SE
S

4. PENGORGANISASIAN
5. PELAKSANAAN
(Pengembangan Intervensi
Pembelajaran)
TEORI

PRAKTEK

REFLEKSI

6. EVALUASI

OUT
PUT

Meningkatnya Penguasaan Kompetensi Pedagogik &


Andragogi Tutor Paket C

OTHER
INPUT

1. Akses Informasi, 2. Pembinaan, dan


3. Pengawasan

OUT
COME

Meningkatnya Kinerja Tutor dalam Pembelajaran


Paket C

Gambar 5.2 Model Pelatihan Berbasis Kinerja yang Dikembangkan


(Revisi Pasca Ujicoba)

110

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Studi kasus pada pelatihan guru/tutor di DKI Jakarta ini dilakukan melalui
pengumpulan informasi berkaitan dengan: (i) hasil penelitian yang relevan
dengan model pelatihan berbasis kinerja, (ii) teori yang mendukung
pengembangan model pelatihan, (iii) analisis kesenjangan faktual dengan
aktual yang dihadapi guru/tutor dalam melaksanakan tugas pembelajaran dan
(iv) analisis kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan. Tujuan studi kasus (i) mengetahui profil tutor kualifikasi
akademik dan profil kompetensinya; (ii) model pelatihan dan strategi
pengembangan kompetensi guru/tutor di DKI Jakarta, (iii) mengetahui kondisi
pembelajaran program pendidikan kesetaraan dan (iv) mengetahui
ketersediaan sarana dan prasarana pendukung pembelajaran. Diperlukan suatu
studi kasus pengembangan model pelatihan berbasis kinerja bagi guru/tutor
pendidikan kesetaraan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogik. Peningkatan kompetensi guru/tutor terkait dengan upaya
meningkatkan efektivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan
meningkatkan kualitas hasil belajar warga.
2. Pengembangan model konseptual pelatihan mencakup aspek (i) rasionalisasi
bahwa model pelatihan berbasis kinerja menjadi alternatif bagi peningkatan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, dengan tujuan agar mampu
melakukan pembelajaran yang lebih efektif, (ii) asumsi bahwa kondisi empirik
pelatihan dan kondisi profil kompetensi guru/tutor, maka perlu adanya
pengembangan model pelatihan berbasis kinerja, (iii) tujuan mensosialisasikan,
memfasilitasi, mengenalkan dan mengintegrasikan konsep pelatihan dengan upaya
pengembangan kompetensi guru/tutor, (iv) komponen pembelajaran dalam
pelatihan meliputi instrumen identifikasi kebutuhan belajar, instrumen
implementasi pengembangan model (a) soal pretes dan postes; (b) pedoman
observasi implementasi pembelajaran guru/tutor dan (c) instrumen efektivitas
model, (v) indikator keberhasilan yaitu (a) meningkatkanya pengetahuan guru/tutor
tentang wawasan pendidikan; (b) meningkatnya pemahaman guru/tutor tentang
warga belajar; (c) meningkatnya pemahaman guru/tutor dalam merancang,
melaksanakan dan mengevaluasi program pembelajaran dan (vi) prosedur
pelaksanaan model pelatihan secra umum meliputi: perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi.
3. Pengujian model hipotetik meliputi beberapa tahap (i) uji kelayakan model
ditempuh melalui dua tahap kegiatan (a) analisis model oleh praktisi, dan (b) penilaian
oleh para ahli (expert judgement), (ii) revisi model dilakukan sesuai saran dan
masukan dari pakar baik yang menyangkut isi, bahasa, serta relevansinya., (iii)
ujicoba terbatas dilakukan melalui empat tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap
pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi., (iv) temuan hasil ujicoba bahwa
tanggapan peserta terhadap ujicoba terbatas model pelatihan berbasisi kinerja
dikatakan sangat positif dan (v) revisi model pasca ujicoba dilakukan
berdasarkan saran dan masukan dari peserta pelatihan baik menyangkut
substansi maupun teknis pelaksanaan.

Model Pelatihan Berbasis Kinerja

111

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi:

Dinas Pendidikan. (2008). Kualifikasi Pendidikan Tutor Paket C. Jakarta: Disdik Provinsi
DKI Jakarta.
Kamil, M. (2009). Pendidikan Non Formal, Pengembangan Melalui Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat di Indonesia, Sebuah Pembelajaran dari Kominkan Jepang. Bandung:
Alfabeta.
Kepmen. Pendidikan Nasional Nomor: 131/U/1994 tentang Program Paket A Setara SD dan
Paket B Setara SMP. Jakarta: Depdiknas.
Kepmen. Pendidikan Nasional Nomor: 132/U/2004 tentang Program Paket C Setara
SMA/MA. Jakarta: Depdiknas.
Sudin. Dikdasmen. Profil Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat 15 Cideng Jakarta Pusat.
Jakarta:Dinas Pedidikan
------------ Profil Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Miftahul Jannah Jakarta Timur.
Jakarta:Dinas Pedidikan
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Peraturan Pemerintah. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta.
Depdiknas.
Undang-Undang Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta:
Depdiknas

112

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 6. IMPLEMENTASI MODEL PELATIHAN BERBASIS KINERJA

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Implementasi model pelatihan dilakukan melalui empat tahap yaitu perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi.
2. Data hasil implementasi model pelatihan yang meliputi analisis perbedaan, deskripsi dan
refleksi.
3. Temuan implementasi model pelatihan berbasis kinerja dilakukan di Lab. Pelatihan Jurusan
Pendidikan Luar Sekolah UNJ, didasarkan pada strategi penggunaan lima komponen yaitu
input, process, output, other input, dan outcome.
4. Model pelatihan yang direkomendasikan mulai proses uji kelayakan, sistematika, dan hasil
implementasi model pelatihan.
5. Model pelatihan berbasis kinerja dapat diaplikasikan di lembaga pelatihan untuk meningkatkan
kompetensi guru/tutor.

A. Implementasi Model Pelatihan


Model hipotetik pelatihan yang telah diuji kelayakan melalui penilaian praktisi yang relevan,
dan penilaian ahli (expert judgement), serta telah diujicoba terbatas, selanjutnya
diimplementasikan secara faktual di masyarakat dengan maksud untuk melakukan analisis
efektivitas model serta kelayakannya secara empirik model pelatihan yang dikembangkan. Di
samping itu, implementasi model pelatihan tersebut untuk melihat ada tidaknya peningkatan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor sebagai pengaruh implementasi model yang
dikembangkan tersebut. Analisis model pelatihan tersebut, dilakukan melalui prosedur pelatihan,
yang meliputi tahap-tahap:
1. perencanaaan.
2. pengorganisasian,
3. pelaksanaan, dan
4. evaluasi.

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

113

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Implementasi model pelatihan ini, menekankan pada pendekatan andragogis dan partisipatif.
Pendekatan andragogis dimaksudkan bahwa peserta dalam kegiatan ini adalah mereka orang
dewasa. Orang dewasa memiliki konsep diri, pengalaman belajar, kesiapan belajar dan orientasi
terhadap belajar (Knowles, 1984). Pendekatan partisipatif, dimaksudkan bahwa dalam kegiatan
ujicoba melibatkan peserta secara partisipatif dan berkontribusif dalam setiap tahap proses
pembelajaran (Sudjana, 2005).
Sebelum ujicoba lapangan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan pengujian kondisi penguasaan
awal kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor melalui tes dan observasi praktek
pembelajaran. Pretes tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kompetensi awal peserta sebelum
memperoleh perlakuan dalam implementasi model. Sasaran implementasi model pelatihan yang
dikembangkan adalah guru/tutor kelompok belajar pendidikan kesetaran PKBM 15 Cideng
Jakarta Pusat, PKBM Miftahul Jannah Jakarta Timur, PKBM Al Ishlah Jakarta Pusat, PKBM 17
Penjaringan Jakarta Utara sebagai sampel yang telah ditentukan sebagai kelompok eksperimen
atau kelompok perlakuan (treatment). Implementasi model pelatihan yang akan diujicoba
lapangan dilaksanakan melalui proses pelatihan berbasis kinerja (performance based training)
yaitu dilangsungkan di Lab. Pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri
Jakarta. Kelompok treatment pelatihan ini adalah guru/tutor pendidikan kesetaraan, dengan
sumber belajar penulis sebagai fasilitator dan fasilitator lain yang ditunjuk oleh penulis karena
kemampuan untuk membantu pelaksanaan pelatihan dalam kegiatan ujicoba lapangan tersebut.
Pelaksanaan ujicoba lapangan model pelatihan tersebut menempuh tahapan sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan Pelatihan


Pada tahap perencanaan, ada beberapa kegiatan yang ditempuh untuk mendukung

kelancaran

pelaksanaan pelatihan. Kegiatan dalam tahap perencanaan tersebut, adalah:


a. identifikasi kebutuhan belajar,
b. menemukan kebutuhan belajar,
c. menyusun dan menetapkan struktur program.
(1) Identifikasi kebutuhan belajar sebagai kegiatan langkah awal sebelum pelatihan dimulai,
dilakukan oleh peneliti sebagai fasilitator bersama-sama dengan peserta kegiatan pelatihan
dalam ujicoba. Langkah yang ditempuh untuk identifikasi kebutuhan adalah pengisian
format identifikasi kebutuhan oleh seluruh peserta, dan wawancara dengan penyelenggara
114

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

program serta beberapa orang tutor, terkait dengan kebutuhan materi untuk peningkatan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan. Wawancara
dilakukan untuk memperoleh masukan tentang kebutuhan yang bersifat untuk melengkapi
hasil identifikasi kebutuhan belajar. Hasil pengisian format identifikasi kebutuhan dan
wawancara selanjutnya dianalisis untuk menentukan prioritas kebutuhan yang akan
dijadikan dasar penyusunan struktur program dalam pelatihan.
Hasil identifikasi kebutuhan belajar sesungguhnya yang dirasakan guru/tutor dalam
hubungannya untuk mengembangkan kompetensi pedagogik dan andragogik, baik
kebutuhan materi dalam tataran pengetahuan berupa konsep-konsep, maupun matode dan teknik
dalam tataran praktis. Materi dalam tataran peningkatan pengetahuan, meliputi konsep-konsep
dasar:
(a) konsep pendidikan dan pembelajaran;
(b) pemahaman karakteristik warga belajar;
(c) perencanaan pembelajaran beserta metode dan teknik; dan
(d) evaluasi dalam pembelajaran.
Kebutuhan materi dalam tataran peningkatan keterampilan praktis teridentifikasi, meliputi:
(a) penyusunan program pembelajaran dan silabus;
(b) penyusunan persiapan pelaksanaan pembelajaran;
(c) pelaksanaan pembelajaran; dan
(d) evaluasi pembelajaran.
(2) Identifikasi peserta pelatihan berbasis kinerja (performance based training) adalah para guru/tutor
pendidikan kesetaraan, yang menjadi sampel dengan ditentukan secara purposif yaitu sesuai
dengan tujuan dalam implemenyasi ini. Identifikasi peserta belajar ini dilakukan oleh penulis
bersama penanggung jawab lembaga pendidikan, serta berdasarkan atas persetujuan tim pembina
program pendidikan kesetaraan, di tingkat provinsi DKI Jakarta. Hasil identifikasi peserta
pelatihan diperoleh kesepakatan bahwa kegiatan implementasi model ujicoba lapangan
dilaksanakan di Lab. pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta,
sebagai tempat implementasi model pada kelompok perlakuan (treament), dengan sampel
guru/tutor yang akan mengikuti pelatihan, dari PKBM 15 Cideng, PKBM Miftahul Jannah, PKBM
Al -Ishlah, dan PKBM 17 Penjaringan dengan datanya sebagai berikut:
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

115

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Tabel 6.1
Data Peserta Pelatihan dalam Implementasi Model
No.

Peserta

Usia

1.
2.

Suastuti Abd Rahman


Heriyanto

38
30

Latar Belakang
Pendidikan
S1Komputer
SI Matematika

Lamanya
menjadi tutor
8 tahun
5 tahun

3.
4.

Ratna Suciatie SH
Muhammad Anwar

34
27

SI Hukum
S1 Sosiologi

6 tahun
5 tahun

5.
6.
7.
8.

Emma Komariah
Darsono
Latifah
Elly Nuraliah

41
38
21
31

S1 Hukum
SI Ekonomi
S1Teknik Komputer
SI Ekonomi

7 tahun
6 tahun
2 tahun
5 tahun

9.
10
11
12

Suhardi
Ujang Amir
Mimi Solihat
Ayat H

25
34
28
30

S1 Matematika
S1 Bahasa Inggris
S1 Hukum
S1 Kimia

3 tahun
7 tahun
4 tahun
2 tahun

13
14
15

Nanik Masudah
Bintang N Yulia
Khaeroni

29
31
40

S1 Ekonomi
S1 Hukum
S1 Sosiologi

5 tahun
3 tahun
9 tahun

(3) Identifikasi sumber belajar mengingat uji coba model pelatihan ini dilaksanakan sebagai
pengkajian tindakan dalam pembelajaran, maka yang bertindak sebagai fasilitator adalah penulis,
ditambah 5 orang fasilitator yang ditunjuk oleh penulis berdasarkan pengalamannya sebagai
fasilitator dalam pelatihan, serta penguasaan dalam ilmu keguruan, dan mau diajak bekerjasama
dalam melaksanakan pelatihan tersebut. Fasilitator yang dimaksud minimal berlatar belakang
kualifikasi kependidikan S1, dan berpengalaman dalam melakukan tugas sebagai fasilitator
pelatihan, khususnya pelatihan peningkatan kompetensi tutor pendidikan kesetaraan. Dengan segala
keterbatasan yang ada dalam implementasi model ujicoba lapangan ini, bahan ajar yang
digunakan yaitu bahan ajar yang dikemas sendiri oleh narasumber/penulis dan bersifat praktis
dalam pelatihan, bahan belajar tersebut berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan, dan kondisi
guru/tutor di lembaga pendidikan. Dengan bahan belajar yang dikemas sedemikian ini,
diharapkan peserta pelatihan dapat mempraktekan dalam mengembangkan pembelajaran
sebagai tugas pokok guru/tutor.

116

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. Tahap Pengorganisasian Pelatihan


Pengorganisasian implementasi model ujicoba lapangan sebagai salah satu tahap kegiatan untuk
melaksanakan pelatihan setelah ditempuh tahap perencanaan, yaitu tahap pengorganisasian dimana
dilakukan penulis dan penanggung jawab lembaga pendidikan serta pembina program pendidikan
kesetaraan. Penulis dan penanggung jawab lembaga pendidikan, melakukan sosialisasi awal
kepada para guru/tutor sebagai calon peserta dalam pelatihan, dan pengorganisasian kegiatan
pelatihan ini juga menyangkut materi untuk pengembangan kompetensi pedagogik dan andragogik.
Tahap pengorganisasian dilakukan sebelum pelaksanaan ujicoba model secara empirik, dengan
maksud untuk melaksanakan langkah-langkah yang mendukung kelancaran pelaksanaan pelatihan
sebagai proses ujicoba lapangan, yaitu untuk menentukan lima faktor pendukung yakni:
a. tujuan pelatihan;
b. penyusunan materi pelatihan;
c. media pelatihan;
d. sarana pelatihan;
e. fasilitator pelatihan, dan
f. sumber biaya pelaksanaan pelatihan.
(1) Tujuan pelatihan dirumuskan berdasarkan masukan dari guru/tutor sebagai calon peserta pelatihan
dan disesuaikan dengan hasil identifikasi kebutuhan belajar yang telah dilakukan sebelumnya.
Untuk itu tujuan pelatihan dirumuskan sesuai dengan apa yang harus dikuasai oleh peserta dalam
kaitannya untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor. Berdasarkan
pada hasil identifikasi kebutuhan, tujuan pelatihan dirumuskan dalam tujuan pelatihan secara
umum dan tujuan pelatihan secara khusus. Tujuan umum pelatihan merujuk pada hasil analisis
kebutuhan belajar adalah sebagai berikut:
(a) Meningkatkan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor dalam
melaksanakan pembelajaran program pendidikan kesetaraan di PKBM
(b) Mengembangkan keterampilan mengajar guru/tutor dalam program pendidikan kesetaraan
pada PKBM dan
(c) Meningkatkan efektivitas pembelajaran pendidikan kesetaraan pada PKBM.
Sedangkan tujuan khusus dalam model pelatihan ini, yaitu agar guru/tutor pendidikan
kesetaraan dapat:
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

117

Pelatihan Berbasis Kkinerja

(a) Mendeskripsikan proses pembelajaran berdasarkan wawasan kependidikan yang dimiliki,


(b) Menerapkan teori dan konsep pembelajaran,
(c) Menyusun perencanaan pembelajaran,
(d) Menyusun silabus pembelajaran,
(e) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran,
(f) Melaksanakan pembelajaran secara efektif, dan
(g) Melaksanakan evaluasi pembelajaran.
(2) Materi pelatihan yang digunakan dalam implementasi model pelatihan yang dikembangkan,
didasarkan pada hasil identifikasi kebutuhan belajar peserta, dan tujuan yang telah
dirumuskan. Materi pelatihan menggunakan sumber berupa bahan belajar yang disusun oleh
narasumber/peneliti. Materi pelatihan, di samping merujuk pada hasil identifikasi kebutuhan
dan tujuan yang dirumuskan, juga disesuaikan dengan rambu-rambu yang ditentukan dalam
standar kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan, tentang komponen kompetensi
pedagogik dan andragogik yang harus dikuasai guru/tutor pendidikan kesetaraan (BSNP:
2008). Materi dikemas sesuai dengan kebutuhan dalam pelatihan yang relevan dengan
upaya peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor. Struktur materi yang
diberikan dalam pelatihan dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 6.2
Struktur Materi Pelatihan dalam Implementasi Model
No.

Kompetensi

Substansi Kajian

Jam belajar
Teori Praktek

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

Hakekat pendidikan dan pembelajaran


Prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa
Memahami perkembangan kognitif
Teori belajar dan pembelajaran
Pendekatan dalam pembelajaran orang
dewasa

1. Peserta dapat
mengusai
wawasan
kependidikan
dalam
pembelajaran

1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

2. Peserta dapat
memahami
karakteristik
warga belajar
dalam

1.6 Prinsip-prinsip pembelajaran partisipatif


1.7 Karakteristik belajar orang dewasa
1.8 Prinsip perkembangan orang dewasa
1.9 Pengembangan warga belajar
1.10 Belajar berbasis pengalaman

118

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Peserta dapat
merancang
program
pembelajaran
pendidikan
kesetaraan (paket
C)

2.1 Pengembangan kurikulum pendidikan kesetaraan


paket C
2.2 Identifikasi kebutuhan belajar
2.3 Metode dan teknik penyusunan program
pembelajaran
2.4 Standar kompetensi dan kompetesi dasar
pelajaran yang diampu
2.5 Penyusunan silabus mata pelajaran
2.6 Persiapan pembelajaran dan menyusun rencana
program pembelajaran
4. Peserta dapat 3.1 Penyusunan setting pembelajaran
melaksanakan
3.2 Pengorganisasian pembelajaran
pembelajaran
3.3 Pengunaan pendekatan pembelajaran orang
program C
dewasa
dengan efektif
3.4 Pengkondisian suasana pembelajaran partisipatif
3.5 Komunikasi dan interaksi dalam pembelajaran
yang kondusif
5. Peserta dapat 4.1 Konsep evaluasi pembelajaran
melakukan
4.2 Prinsip-prinsip evaluasi hasil belajar
kegiatan
4.3 Penyusunan kisi-kisi soal
evaluasi dalam 4.4 Pelaksanaan evaluasi hasil belajar
program paket 4.5 Pengolahan data hasil belajar
C dengan baik 4.6 Pelaporan hasil evaluasi

(3) Fasilitator pelatihan sesuai dengan kebutuhan dalam ujicoba model yang memfokuskan
pada proses tindakan dalam pengujian model, serta berdasarkan pada perencanaan seperti
yang telah ditetapkan, maka fasilitator dalam pelatihan adalah penulis sendiri dan nara sumber
yang ditunjuk oleh peneliti yaitu Prof. Dr. Anisah Basleman, M.Si, Dr. Elais Retnowati, M.Si
dan Dr. Khaerudin, M.Pd, berdasarkan pertimbangan penguasaan substansi materi, berlatar
belakang pendidikan S2 dan S3 kependidikan, bahkan ada dua orang fasilitator yang didatangkan
dari Forum Tutor Pendidikan Kesetaraan yaitu Sdr. Jamal Riswanto, S.Pd dan Euis Susilowati,
S.Pd yang berpengalaman sebagai fasilitator dalam berbagai pelatihan guru/tutor pendidikan
kesetaraan, serta memiliki antusiasme tinggi terhadap upaya peningkatan kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan di Provinsi DKI Jakarta.
(4) Pembiayaan pelatihan memperhatikan beberapa pertimbangan dalam menentukan tempat
pelaksanaan ujicoba model ini, maka lab. pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Jakarta yang dipakai berlangsungnya pelatihan tersebut. Adapun
pembiayaan pelaksanaan ujicoba model pelatihan ini, sepenuhnya ditanggung oleh penulis.
Sehingga biaya pelaksanaan ujicoba model pelatihan ini dari mulai pengadaan ATK sampai
dengan honor narasumber sudah dialokasi secara khusus. Atas dasar pembiayaan tersebut,
maka ujicoba pelatihan model yang dimaksud diharapkan hasilnya lebih optimal.
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

119

Pelatihan Berbasis Kkinerja

(5) Jadual pelatihan yang disusun dan dilaksanakan berdasarkan hasil kesepakatan antara
semua peserta pelatihan, penanggung jawab lembaga pendidikan, dan penulis. Kesepakatan
tersebut diperlukan terutama untuk mengakomodasikan ketersediaan waktu para guru/tutor
sebagi peserta pelatihan, agar tidak mengganggu waktu kegiatan rutin mengajar mereka
maupun kegiatan lainnya. Berdasarkan kesepakatan waktu yang tersedia dari para guru/tutor
peserta pelatihan dan penulis serta penanggung jawab lembaga pendidikan, maka jadual
kegiatan pelatihan tersebut disusun dan ditetapkan pada hari senin sampai dengan sabtu
tanggal 12-17 Oktober 2009 mulai pukul
pertemuannya adalah

sebanyak

delapan

08.00 sampai pukul


kali

pertemuan

sesuai

17.00. Frekuensi
dengan

struktur

materi pelatihan yang telah dirancang dan akan disampaikan. Untuk lebih jelasnya, jadual
pelatihan dikembangkan, seperti terlihat pada label berikut.
Tabel 6.3
Jadwal Pelatihan dalam Implementasi Model
Pert.
Hari/Tgl.
(1)
(2)
1.
Senin, 12-10-2009

2.
3.

Selasa, 13-10-2009

4.
5.

Rabu, 14-10-2009

6.
7.

Kamis,15-10-2009

8.

Waktu
Materi
Tempat
(3)
(4)
(5)
08.00-12.00 Landasan pendidikan dan
Lab. Pelatihan Jurusan
pembelajaran serta pemahaman
PLS UNJ
karakteristik warga belajar.
13.00-17.00 Perencanaan program
Lab. Pelatihan Jurusan
pembelajaran beserta metode dan
PLS UNJ
08.00-12.00 Pengembangan Kurikulum
Lab. Jurusan PLS - UNJ
pendidikan kesetaraan serta
penyusunan silabus dan RPP
13.00-17.00 Penyusunan alat evaluasi dalam Lab. Jurusan PLS - UNJ
pembelajaran
08.00-12.00 Pelaksanaan pembelajaran
(peer tutorial) kelp 1
13.00-17.00 Pelaksanaan pembelajaran
(peer tutorial) kelp 2
08.00-12.00 Pelaksanaan pembelajaran
(peer tutorial) kelp 1
14.30-17.30 Pelaksanaan pembelajaran
(peer tutorial) kelp 2

Lab. Jurusan PLS - UNJ


Lab. Jurusan PLS - UNJ
Lab. Jurusan PLS - UNJ
Lab. Jurusan PLS - UNJ

9.

Jumat, 16-10-2009

14.00-17.00 Refleksi hasil pelatihan

PKBM Miftahul Jannah

10.

Sabtu, 17-10-2009

14.00-17.00 Refleksi hasil pelatihan

PKBM Al Ishlah

120

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Tahap Pelaksanaan Pelatihan


Pelatihan dilaksanakan di Laboratorium Pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Negeri Jakarta, dengan model pelatihan berbasis kinerja (performance based
training) yang dikembangkan merupakan tahap implementasi model, dengan peserta pelatihan
adalah guru/tutor pendidikan kesetaraan di PKBM Miftahul Jannah, PKBM 15 Cideng, PKBM
Al Ishlah dan PKBM 17 Penjaringan. Sumber belajar dalam pelatihan tersebut adalah fasilitator,
buku cetak, dan bahan belajar yang dikemas oleh penulis. Pelatihan dalam kegiatan ujicoba
ini pesertanya adalah guru/tutor sebagai orang dewasa, maka pelaksanaan pelatihan dalam
ujicoba tersebut, digunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa dan partisipatif. Supaya
pelatihan lebih kondusif, maka diperlukan pengkondisian yang sesuai dengan keadaan
sosiokultural dan latar belakang pendidikan guru/tutor. Di samping menggunakan kedua
pendekatan tersebut, digunakan pula pendekatan praktek, sehingga pelaksanaan pelatihan
diharapkan dapat meningkatkan kinerja secara efektif. Dalam pelatihan ini, peneliti bersamasama peserta melakukan pembukaan. Pada kegiatan pembukaan, peneliti menyampaikan
langkah-langkah umum pembelajaran yang perlu ditempuh, mulai dari awal kegiatan sampai
akhir pelatihan. Tahapan kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan dalam pelatihan
ini, ditempuh melalui beberapa tahap kegiatan sebagaimana diuraikan di bawah ini.
a. Pengkondisian awal pelatihan sebelum pelatihan inti di dimulai, penulis selaku fasilitator mengatur
pembukaan pelatihan dengan maksud untuk:
1) menciptakan suasana yang kondusif untuk menempuh pembelajaran,
2) memberikan pemahaman terhadap langkah-langkah belajar yang harus ditempuh selama
melaksanakan pelatihan,
3) menyampaikan kebermanfaatan mengikuti kegiatan pelatihan,
4) melakukan identifikasi kemampuan awal peserta pelatihan.
Pengkondisian suasana kondusif dibangun oleh fasilitator berdasarkan prinsip pembelajaran
orang dewasa, yaitu peserta pelatihan memiliki banyak pengalaman dan memiliki konsep diri
dan kemandirian dalam belajar. Dengan demikian pada awal pembelajaran berfokus pada peserta
pelatihan sebagai subyek belajar diciptakan suasana yang lebih demokratis dan partisipatif, namun
fasilitator juga memposisikan sebagai nara sumber yang siap memberikan pembimbingan dan
arahan pembelajaran yang harus ditempuh berdasarkan petunjuk belajar yang telah disiapkan.

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

121

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Setelah pengkondisian suasana pembelajaran yang kondusif, fasilitator melakukan identifikasi


kemampuan awal peserta untuk mengatahui wawasan peserta berkaitan dengan kompetensi pedagogik
dan andragogik yang telah dimiliki peserta. Fasilitator mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang
mengarah pada mengukur tingkat pengetahuan peserta, dan merespon pertanyaan-pertanyaan, serta
pendapat yang dikemukakan oleh setiap peserta. Dengan demikian fasilitator dapat menentukan
standar materi yang harus disampaikan dan disesuaikan dengan tingkat pengetahuan peserta pelatihan.
Fasilitator menginforrnasikan tentang langkah pelatihan secara keseluruhan yang harus dilakukan
peserta, meliputi: kegiatan pembekalan (teori), dan kegiatan praktek. Kegiatan praktek yang harus
dilakukan peserta, sesuai teori atau panduan toolkit belajar yang diberikankan oleh fasilitator
dalam bentuk tugas-tugas yang harus diselesaikan baik secara individual maupun kelompok.
b. Proses pelatihan untuk setiap substansi kajian, pada dasarnya dibedakan menjadi tiga kegiatan
yaitu: kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Pertama, pada kegiatan pendahuluan minimal dilakukan tiga hal, yakni:
1) fasilitator membangun perhatian peserta dengan langkah:
(a) meyakinkan bahwa materi atau pengalaman belajar yang akan dilakukan berguna untuk
melaksanakan tugas pembelajaran, dan
(b) menciptakan interaksi yang menyenangkan baik secara individual ataupun kelompok,
secara dialogis dan demokratis;
2) fasilitator berupaya memotivasi peserta, dengan cara menciptakan suasana akrab, menyapa
dan berkomunikasi secara kekeluargaan, mengaitkan materi atau pengalaman belajar yang
akan dilakukan sesuai kebutuhan peserta dalam melaksanakan tugas pembelajaran;
3) fasilitator memberikan panduan atau toolkit belajar yang akan dilakukan, melalui:
(a) menjelaskan tujuan yang akan dicapai, dan tugas-tugas belajar yang harus dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut,
(b) menjelaskan langkah-langkah atau tahapan pembelajaran, sehingga peserta diharapkan
memahami tahapan belajar yang harus dilakukan, dan
(c) menjelaskan target kemampuan yang haras dimiliki setelah pelatihan;
4) fasilitator sebelum proses pelatihan berlangsung, memberikan pretest kepada peserta, dengan
maksud untuk mengetahui kemampuan awal peserta. Data hasil pretest merupakan informasi
awal tentang pengetahuan peserta pelatihan.
Kedua, pada kegiatan inti, proses kegiatan didasarkan pada peran fasilitator, dan peran peserta.
Peran masing-masing tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
122

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1) Peran fasilitator sebagai narasumber bertindak memfasilitasi

proses pelatihan dengan

langkah-langkah sebagai berikut:


(a) Melakukan orientasi, pada tahap ini fasilitator menciptakan interaksi yang kondusif
antara fasilitator dengan peserta dan peserta dengan peserta. Pada tahap ini fasilitator
melakukan pengkondisian peserta pada posisi siap untuk belajar, baik belajar secara teori
maupun praktek.
(b) Melakukan penjajagan untuk mengetahui kemampuan dasar peserta sesuai dengan tema
atau pokok persoalan yang akan didiskusikan. Pada tahap ini, fasilitator
mengembangkan dialog dan tanya jawab untuk mengungkap pengalaman apa saja
yang telah dimiliki peserta dan relevan dengan tema yang dikaji atau didiskusikan.
(c) Melakukan distribusi bahan belajar kepada peserta sebagai sumber belajar, untuk
dipelajari dan meningkatkan wawasan pengetahuan dan mendistribusikan panduan
belajar yang harus dikerjakan oleh peserta dalam melaksanakan praktek nanti.
(d) Menyampaikan materi sesuai dengan tema yang dibahas, fasilitator memberikan materi
yang relevan dengan tema yang sedang dibahas, untuk meningkatkan wawasan
pengetahuan peserta sesuai dengan kebutuhan dalam upaya meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik.
(e) Memberikan tugas-tugas secara langsung kepada setiap peserta baik untuk pendalaman
materi, ataupun untuk diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas mengajar peserta
sebagai tutor.
(f) Mendorong peserta agar dapat memecahkan masalah pembelajaran dalam pelaksanaan
tugas mengajar, melalui pendalaman sumber belajar dan penyelesaian tugas-tugas
praktek yang dilakukan.
(g) Membimbing peserta secara individual menyusun perencanaan pembelajaran (silabus
dan RPP) sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan diajarkan,
dan mendiskusikan dengan fasilitator, hasilnya untuk melakukan revisi.
(h) Mengamati setiap peserta mengimplementasikan rencana pelaksanaan pembelajaran
dalam kegiatan tutorial teman sebaya (peer tutorial), secara bergiliran

dan

peserta

dibagi dalam dua kelompok dengan pengamatan fasilitator dan teman-temannnya.


(i) Memberikan masukan (feedback) terhadap hasil pengamatan kegiatan peer tutorial
untuk melakukan perbaikan pembelajaran selanjutnya.
(j) Melaksanakan evaluasi program, setelah keseluruhan pelatihan berakhir, fasilitator
dalam hal ini peneliti mengadakan posttest, tanya jawab maupun pengisian kuesioner,
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

123

Pelatihan Berbasis Kkinerja

berkaitan dengan proses pelatihan yang telah dilaksanakan.


2) Paran peserta berdasarkan pengamatan dalam setiap kegiatan pelatihan selama pelaksanaan
ujicoba model, peserta tampak terlibat aktif, dan berpartisipasi penuh menunjukkan
kerjasama yang baik dengan fasilitator dan peserta yang lainnya. Partisipasi mereka tampak
dalam pelatihan yang ditunjukkan melalui peran dalam kegiatan sebagai berikut:
(a) Menunjukkan semangat dan antusiasme yang cukup tinggi ketika menyimak orientasi
tentang strategi pelatihan yang dikemukakan fasilitator.
(b) Melakukan komunikasi dan interaksi yang cukup aktif, menyimak setiap
penjelasan dari fasilitator, aktif mengajukan pertanyaan, serta menjawab setiap
pertanyaan yang diajukan oleh fasilitator.
(c) Mengungkapkan pengalaman mereka berkaitan dengan masalah-masalah yang
dihadapi ketika mereka melaksanakan tugas mengajar, sesuai dengan pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh fasilitator.
(d) Melaksanakan tugas praktek sesuai dengan pedoman belajar yang telah diberikan
fasilitator. Dibuktikan dengan penyelesaian pengisian format tugas-tugas
individual maupun kelompok.
(e) Mempelajari

bahan

belajar

yang

diberikan

oleh

fasilitator,

kemudian

mendiskusikan materi yang dianggap sulit dengan fasilitator dan menggunakan


pengalaman mengajar sebagai referensi, serta memberikan argumentasi secara
kolaboratif.
(f) Menyusun rencana pembelajaran untuk dipraktekan oleh setiap peserta, berupa
rencana pelaksanaan pembelajaran.
(g) Mendiskusikan hasil penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran, untuk
dilakukan perbaikan seperlunya.
(h) Melaksanakan praktek pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah
diperbaiki, sementara peserta yang lainnya dan fasilitator melakukan pengamatan proses
pembelajaran tersebut, demikian seterusnya secara bergiliran.
Melakukan refleksi, yaitu mendiskusikan hasil pengamatan pelaksanaan praktek pembelajaran untuk
diberikan masukan saran perbaikan untuk dapat dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran selajutnya.

124

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

4. Tahap Evaluasi Pelatihan


Evaluasi yang dilakukan meliputi tiga tahapan evaluasi, yaitu:
a. evaluasi terhadap hasil pembelajaran (output);
b. evaluasi terhadap keseluruhan program, dan
c. evaluasi terhadap outcome atau dampak pasca pelatihan. Secara rinci, tahapan kegiatan evaluasi
tersebut diuraikan lebih lanjut sebagai berikut.
1) Evaluasi hasil pelatihan (output) ditempuh oleh peneliti setelah keseluruhan pelatihan berakhir.
Evaluasi ini ditempuh melalui dua kegiatan, yakni: pertama, melaksanakan posttest dengan soalsoal tes yang sama diguanakan pada waktu pretest. Pelaksanaan posttest dimaksudkan untuk
data bahan analisis terkait dengan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik tutor
pada dimensi pengetahuan pasca pelatihan. Kedua, melakukan observasi tutor melaksanakan
pembelajaran pasca pelatihan. Kegiatan ini ditempuh untuk memperoleh data bahan analisis
penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik tutor dimensi keterampilan melaksanakan
pembelajaran pasca pelatihan. Hasil pelaksanaan posttest dan observasi pelaksanaan pembelajaran
pasca pelatihan, selanjutnya dikomparasikan dengan data hasil pretest dan observasi pelaksanaan
pembelajaran guru/tutor sebelum pelatihan. Analisis lebih lanjut kedua data tersebut, untuk
memperoleh gambaran tingkat perubahan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor, baik dimensi pengetahuan maupun dimensi keterampilan dari pelaksanaan pelatihan
yang dikembangkan.
2) Evaluasi program pelatihan secara keseluruhan ditempuh oleh peneliti, melalui dua tahapan, yakni:
pertama, melakukan pengamatan terhadap jalannya proses pelatihan secara langsung, karena
peneliti sebagai fasilitator. Pengamatan dilakukan untuk melihat kelemahan dan kekurangan
terhadap setiap langkah dan kegiatan model pelatihan yang dikembangkan. Kelemahan yang
muncul dicatat sebagai bahan refleksi peneliti untuk menyempurnakan model yang
dikembangkan. Kedua, menjaring pendapat peserta melalui pengisian lembar kusioner, untuk
memperoleh tanggapan peserta terhadap model pelatihan yang diimplementasikan. Data tersebut
dianalisis dan dideskripsikan dalam mendukung validasi model yang dikembangkan.
3)

Evaluasi dampak (outcome) pasca implementasi model

dilakukan oleh penulis dan

penanggung jawab lembaga pendidikan melalui observasi, dan langsung pada setting
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru/tutor sebagai kegiatan refleksi hasil
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

125

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pelatihan. Observasi tersebut dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi


berbentuk skala, dan terbatas hanya untuk mengetahui tentang kinerja tutor mengajar. Data
hasil pengamatan sebagai bahan analisis untuk mengetahui kondisi kinerja guru/tutor
dalam melaksanakan pembelajaran. Kegiatan refleksi ini merupakan kelebihan model pelatihan
berbasis kinerja yang dijadikan penilaian performa.

B. Data Hasil Implementasi Model Pelatihan


Implementasi ini untuk membuktikan seberapa besar model pelatihan berbasis kinerja
memberikan pengaruh terhadap peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor, setelah itu dilakukan analisis perbedaan rerata (mean gain) skor pretest-posttest, dan
mean gain skor observasi sebelum dan sesudah pelatihan guru/tutor kelompok treatment dengan
mean gain skor pretest- posttest, dan mean gain skor observasi sebelum dan setelah
implementasi model dari guru/tutor kelompok kontrol. Untuk membuktikan signifikan
tidaknya perbedaan (gain) itu, digunakan analisis statistik uji perbedaan mean gain melaui uji
F untuk pemenuhan kriteria homogenitas varian, dan uji t dua belahan (two tails), dengan
signifikansi = 0,05 (Sugiyono, 199:2007)

126

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

1. Analisis Perbedaan Rerata Skor Pretest - Posttest


Tabel. 6.4
Komparasi Distribusi Skor Pretest dan Posttest Guru/Tutor Kelompok
Perlakuan dengan Kelompok Kontrol (skor maksimal = 40)
No Tutor
1
A
2
B
3
C
4
D
5
E
6
F
7
G
8
H
9
I
10
J
11
K
12
L
13
M
14
N
15
O
Rerata

Kelompok Perlakuan
Pretest
Posttest
Gain
Skor % Skor % Skor %
25 62.5 32 80.0
7 17.5
16 40.0 37 92.5 21 52.5
24 60.0 29 72.5
5 12.5
18 45.0 23 57.5
5 12.5
24 60.0 35 87.5 11 27.5
26 65.0 28 70.0
2 5.0
23 57.5 31 77.5
8 20.0
29 72.5 37 92.5
8 20.0
22 55.0 30 75.0
8 20.0
17 42.5 23 57.5
6 15.0
27 67.5 39 97.5 12 30.0
23 57.5 28 70.0
5 12.5
26 65.0 37 92.5 11 27.5
25 62.5 33 82.5
8 20.0
22 55.0 29 72.5
7 17.5
23.1 57.8 31.4 78.5 8.3 20.7

Kelompok Kontrol
Pretest
Posttest
Gain
Skor % Skor % Skor %
15 37.5 15 37.5 0
0
21 52.5 24 60 3 7.5
23 57.5 27 67.5 4
10
19 47.5 21 52.5 2
5
22 55 22 55 0
0
26 65 27 67.5 1 2.5
19 47.5 25 62.5 6
15
19 47.5 21 52.5 2
5
18 45 26 65 8
20
22 55 31 77.5 9 22.5
23 57.5 27 67.5 4
10
22 55 25 62.5 3 7.5
22 55 26 65 4
10
23 57.5 24 60 1 2.5
18 45 26 65 8
20
20.8 52.0 24.5 61.2 3.7 9.2

Tabel. 6.5
Komparasi Mean Gain Skor Pretest dan Posttest Guru/Tutor
Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol
Perolehan Skor
Pretest
Posttest
Mean gain

Kelompok Perlakuan
Rerata Skor
%

Kelompok control
Rerata Skor
%

23.1
31,4

57.8
78.5

20.8
24.5

52.0
61.2

8.3

20.7

3.7

9.2

Net gain = 11,5%

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

127

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. Analisis Perbedaan Rerata Skor Observasi Sebelum-Sesudah Pelatihan


Tabel. 6.6
Komparasi Skor Observasi Pembelajaran Guru/Tutor Sebelum dan Sesudah pelatihan
Kelompok Perlakuan dengan Kelompok Kontrol (skor maksimal =150)
No Tutor
1
A
2
B
3
C
4
D
5
E
6
F
7
G
8
H
9
I
10
J
11
K
12
L
13
M
14
N
15
O
Rerata

Kelompok Perlakuan
Kelompok Kontrol
Sebelum Sesudah
Gain
Sebelum Sesudah
Gain
Skor % Skor % Skor % Skor % Skor % Skor %
47 31.3 95 63.3 48 32.0 33 22.0 42 28.0 9 6.0
50 33.3 95 63.3 45 30.0 35 23.3 50 33.3 15 10.0
54 36.0 104 69.3 50 33.3 46 30.7 70 46.7 24 16.0
51 34.0 94 62.7 43 28.7 43 28.7 63 42.0 20 13.3
52 34.7 98 65.3 46 30.7 38 25.3 47 31.3 9 6.0
62 41.3 108 72.0 46 30.7 42 28.0 65 43.3 23 15.3
51 34.0 106 70.7 55 36.7 46 30.7 72 48.0 26 17.3
50 33.3 96 64.0 46 30.7 40 26.7 57 38.0 17 11.3
48 32.0 97 64.7 49 32.7 37 24.7 67 44.7 30 20.0
45 30.0 100 66.7 55 36.7 39 26.0 60 40.0 21 14.0
46 30.7 85 56.7 39 26.0 44 29.3 50 33.3 6 4.0
45 30.0 98 65.3 53 35.3 34 22.7 35 23.3 1 0.7
47 31.3 97 64.7 50 33.3 45 30.0 60 40.0 15 10.0
52 34.7 89 59.3 37 24.7 40 26.7 43 28.7 3 2.0
46 30.7 86 57.3 40 26.7 35 23.3 41 27.3 6 4.0
49.7 33.2 96.5 64.4 46.8 31.2 39.8 26.5 54.8 36.5 15.0 10.0

Tabel. 6.7
Perbandingan Mean Gain Skor Observasi Pelaksanaan Pembelajaran Guru/Tutor
Perolehan Skor
Sebelum inplementasi model
Sesudah implementasi model
Mean gain
Net gain = 21,2%

128

Kelopok Perlakuan
Rata-rata Skor
%
49.7
96.5
46.8

33.2
64.4
31.2

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Kelompok Kontrol
Rata-rata Skor
%
39.8
54.8
15.0

26.5
36.5
10.0

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Data Hasil Analisis Perbedaan


Tabel. 6.8
Total Mean Gain Kelompok Perlakuan dan Kelompok Kontrol
Kelompok Perlakuan Kelompok Kontrol
Skor
%
%
Skor
Pretest dan posttest
8.3
20.7
3.7
9.2
Observasi sebelum dan sesudah pelatihan
46.8
31.2
15.0
10.0
Total mean gain yang diperoleh
55,1
51,9
18,7
19,2
Komponen pengujian

Total net gain = 32,7%


4. Deskripsi Hasil Uji Perbedaan
Pertama, Hasil uji perbedaan berdasarkan skor pretest dan posttest. Mean gain skor pretest posttest kompetensi pedagogik dan andragogik dimensi pengetahuan dari hasil perhitungan uji
F, diperoleh Fhit = 2,55. Harga kritis Ftab = 2,48 pada masing-masing df (N-l) dengan = 0,05.
Dengan demikian Fhit (2,55) > harga kritis Ftab (2,48), kedua varian tidak homogen pada tingkat
signifikansi = 0,05. Sedangkan hasil uji signifikansi dari rerata perbedaan (mean gain) skor
pretest-posttes antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol, dengan menggunakan
uji t dua ekor (two tails) diperoleh t hit = 3,26 dengan = 0,05 dan df 28, harga kritis t tab =
2,05. Karena hasil perhitungan diperoleh t hit (3,26) > t tab (2,05), maka dapat disimpulkan
terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik
tutor dimensi pengetahuan antara tutor kelompok perlakuan dengan tutor kelompok kontrol.
Kedua, hasil uji perbedaan berdasarkan skor hasil observasi pembelajaran. Mean gain skor
observasi penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik dimensi keterampilan melaksanakan
pembelajaran dari hasil perhitungan dengan uji F, diperoleh Fhit sebesar 2,68. Harga. kritik Ftab =
2,48 pada masing-masing df (N-l) dengan = 0,05. Dengan demikian Fhit (2,68) > Ftab (2,48),
maka kedua varian itu tidak menunjukkan homogenitas pada = 0,05. Mean gain kelompok
perlakuan sangat signifikan berbeda dengan mean gain kelompok kontrol. Sedangkan hasil uji
signifikansi dari mean gain skor observasi pembelajaran tutor sebelum dan sesudah pelatihan,
dengan menggunakan uji t dua ekor (two tails), diperoleh t hit = 5,38 dengan = 0,05 dan df 28,
harga kritis t tab = 2,05. Karena hasil perhitungan diperoleh t hit. (5,38) > t tab. (2,05), maka
dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara mean gain kelompok perlakuan

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

129

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dengan mean gain kelompok kontrol. Dengan demikian model pelatihan berbasis kinerja terbukti
efektif untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik tutor paket C di PKBM.
5. Hasil Refleksi Pembelajaran dalam Pelatihan
Tabel. 6.9
Prosentase Rerata Kinerja Pembelajaran Guru/Tutor Kegiatan Refleksi
No.

Performansi Kemampuan

1. Penyampaian matode sesuai rencana


pembelajaran (RPP)
2. Penjelasan mudah dipahami
3. Motivasi yang diberikan
4. Kesiapan dalam mengajar
5. Kemampuan menarik minat belajar
6. Sistematika dalam mengajar
7. Menciptakan suasana belajar yang kondusif
8. Penguasaan bahan/materi pelajaran
9. Disiplin waktu mengajar
10. Kemampuan pemberian contoh aplikatif
11. Kemampuan membimbing warga belajar
12. Kemampuan memberikan penjelasan
13. Pemberian kesempatan bertanya dan berdiskusi
14. Penampilan selama melaksanakan mengajar
15. Kualitas secara keseluruhan dalam mengajar
Rata-rata

Rerata
3,7
3,7
3,9
3,5
3,6
3,6
3,9
3,5
4,5
3,3
3,6
3,9
3,1
4,5
4,1

%
74.0
74.0
78.0
70.0
72.0
72.0
78.0
70.0
90.0
66.0
72.0
78.0
62.0
90.0
82.0
75,2

Kategori
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Amat
Cukup
Baik
Baik
Cukup
Amat
B ik
Baik

C. Hasil Temuan Implementasi


Temuan dalam implementasi ini setelah dianalisis dan dibahas pada uraian sebelumnya, merupakan
hasil penelitian tentang pengembangan model pelatihan berbasis kinerja (performance based
traming) untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan di PKBM Provinsi DKI Jakarta. Temuan penelitian ini dikelompokkan ke dalam empat
bagian utama, yakni:
1. Implementasi model pelatihan yang dikembangkan; dan
2. model pelatihan berbasis kinerja (performance based training) yang direkomendasikan.
1. Implementasi model pelatihan berbasis kinerja dilakukan di Lab. Pelatihan Jurusan Pendidikan
Luar Sekolah Universitas Negeri Jakarta, didasarkan pada strategi penggunaan lima komponen

130

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

yaitu komponen input, process, output, other input, dan outcome (Sudjana: 2007) . Dari
hasil implementasi model yang dikembangkan telah dapat diterima dan sesuai untuk pelatihan
guru/tutor, dengan harapan lebih efektif dan efisien sesuai dengan kondisi lembaga pendidikan.
a) Input, komponen input dalam pelaksanaan ujicoba model pelatihan yang dikembangkan ini
terdiri atas komponen sebagai berikut:
(1) Guru/Tutor kesetaraan paket C, sebagai masukan mentah (raw input), sebagai
peserta pelatihan yang memiliki karakteristik dan pengalaman mengajar dan
kualifikasi akademik, serta kompetensi yang miss-match dalam melaksanakan
pembelajaran pendidikan kesetaraan di PKBM . Mereka memiliki kebutuhan perlunya
mengembangkan wawasan dan keterampilan mengajar, sesuai penyelenggaraan
pembelajaran pendidikan kesetaraan.
(2) Sumber belajar, sebagai instrumental input yang mendukung berlangsungnya pelatihan,
dan untuk mencapai terpenuhinya kebutuhan belajar tutor dalam pengembangan
kompetensi tutor yang relevan dengan tugas tutor. Sumber belajar di sini terdiri dari
fasilitator, dan bahan belajar baik berupa buku cetak yang relevan atau bahan ajar yang
dikemas oleh fasilitator. Sumber belajar dalam implementasi pelatihan yang
dikembangkan terbukti telah dapat diterima, dan mendukung berlangsungnya pelatihan.
(3) Lingkungan sosial budaya, sebagai environmental input memiliki kontribusi terhadap
kegiatan pembelajaran tersebut berlangsung tanpa penjenjangan dan kurikulum yang
ketat. Kondisi ini ternyata mendukung dalam pelaksanaan model pelatihan yang
dikembangkan berbasis kinerja dalam upaya mengembangkan kompetensi guru/tutor.
(4) Sarana dan prsarana sebagai instrumental input meliputi keseluruhan sumber dan
fasilitas yang dimiliki lembaga pendidikan. Sumber dan fasilitas yang ada meliputi
ketersediaan guru/tutor secara kuantitatif memadai, program pendidikan kesetaraan
tersedia dan berlangsung baik, kurikulum dan sumber belajar, serta pengelola
program pendidikan kesetaraan. Fasilitas tempat dan alat, yang tersedia dan
mendukung kelancaran pelaksanaan ujicoba model pelatihan yang dikembangkan
dalam peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan di PKBM.
b) Proses, komponen proses dalam pelaksanaan model pelatihan berbasis kinerja
(performance based training) dengan mengembangkan strategi yang meliputi
komponen perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, serta refleksi.
Dalam implementasinya telah berlangsung lancar, dapat diterima sesuai dengan
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

131

Pelatihan Berbasis Kkinerja

karakteristik guru/tutor pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan, dalam peningkatan


kompetensi pedagogik dan andragogik, sesuai masing-masing komponen yang dikembangkan
tersebut dapat dilihat, sebagai berikut:
(1) perencanaan, antara lain meliputi kegiatan identifikasi kebutuhan, mempersiapkan
sumber belajar dan struktur program pelatihan, dilakukan sebagai persiapan sebelum
pelaksanaan pelatihan dengan melibatkan peserta pelatihan. Perencanaan pelatihan,
sebagai komponen utama dalam pelatihan, menunjukkan sangat mendukung terjadinya
kelancaran belajar peserta dalam pelaksanaan sesuai model pelatihan yang dikembangkan.
(2) Pengorganisasian, pengorganisasian pelatihan yang dilakukan sebelum pelaksanaan
pelatihan dirancang dalam bentuk desain program pembelajaran sebagai strategi
pelatihan yang akan dilaksanakan. Strategi pelatihan yang dikembangkan, meliputi
komponen kegiatan, yakni:
(a) identifikasi tujuan pelatihan;
(b) identifikasi materi pelatihan;
(c) identifikasi media pelatihan;
(d) identifikasi sarana pelatihan;
(e) identifikasi metode pelatihan;
(f) identifikasi fasilitator pelatihan;
(g) menetapkan jadual pelatihan; dan
(h) identifikasi sumber pembiayaan.
Seluruh komponen dalam kegiatan pengorganisasian tersebut sebagai satu kesatuan
saling terkait sebagai langkah kegiatan melaksanakan strategi pelatihan. Dalam
pelaksanaannya, strategi yang dikembangkan memberikan arah yang lebih jelas dalam
menempuh proses pelatihan sehingga pelaksanaan pembelajaran dalam pelatihan dapat
berlangsung lancar sesuai dengan komponen dan prosedur pelatihan yang dikembangkan.
(2) Pelaksanaan proses pelatihan telah dapat berlangsung dengan baik didasarkan pada
pengkondisian pembelajaran orang dewasa (andragogi), sehingga peserta pelatihan
mampu mengikuti pelatihan dengan baik dan menunjukkan kesesuaian prinsip-prinsip
pembelajaran yang telah dirancang. Keterlibatan peserta dalam menempuh pelatihan
berdasarkan prinsip pembelajaran partisipatif, interaktif, kolaboratif, dan demokratis, telah
dapat ditunjukkan oleh peserta dalam pelaksanaan kegiatan bersama fasilitator,
mengerjakan tugas-tugas, melaksanakan praktek mengajar dalam bentuk peer tutorial,
dan diskusi kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas praktek.
132

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

(3) Refleksi hasil belajar, sebagai kegiatan yang ditempuh oleh peserta untuk merefleksi
hasil belajar pasca pelatihan dalam bentuk melaksanakan pembelajaran dalam tindakan
nyata peserta sebagai tutor mengajar. Peserta telah menunjukkan secara serius
melaksanakan kegiatan reflektif dengan menempuh langkah-langkah kegiatan:
(a) menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan masing-masing materi mata pelajaran
yang biasa mereka ajarkan,
(b) melaksanakan pembelajaran berdasarkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang
disusun,
(c) melaksanakan pengamatan bersama fasilitator tentang pelaksanaan mengajar
yang dilakukan sebagai bahan diskusi dan masukan dalam memperbaiki proses
kegiatan pembelajaran.
Kegiatan refleksi tersebut telah dapat ditempuh dan dilaksanakan oleh peserta dalam
pelaksanaan pelatihan yang dikembangkan tersebut.
c) Output, komponen output merupakan hasil belajar peserta

pasca pelatihan yang

diperoleh berdasarkan hasil kegiatan evaluasi. Evaluasi yang dilakukan meliputi


penilaian hasil belajar, dan penilaian proses pelatihan. Penilaian hasil belajar ditempuh
melalui posttest dan dikomparasikan dengan hasil pretest, dan observasi pembelajaran
yang dilaksanakan peserta

pasca pelatihan yang dikomparasikan dengan hasil

pengamatan pelaksanaan pembelajaran oleh peserta sebelum pelatihan. Hasil penilaian


melahii pretest-postest telah menunjukkan adanya peningkatan penguasaan kompetensi
pedagogik dan andragogik peserta dimensi pengetahuan yang signifikan. Hasil penilaian
melalui observasi pelaksanaan pembelajaran oleh peserta sebelum dan setelah
pelatihan, menunjukkan terjadinya peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik
peserta dimensi keterampilan secara signifikan pula. Hasil uji perbedaan baik berdasarkan
mean gain skor pretest dan posttest maupun mean gain skor observasi sebelum dan
sesudah implementasi model antara kelompok treatment dan kelompok kontrol,
membuktikan terdapat perbedaan yang signifikan. Terdapatnya perbedaan tersebut menunjukkan
adanya penguruh yang signifikan dari implementasi model terhadap peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor.
Evaluasi proses merupakan kegiatan penilaian ditempuh melalui prosedur kualitatif tentang
keterlaksanaan program pelatihan selama pelaksanaan implementasi model uji empirik
dalam bentuk pelaksanaan pelatihan di Lab Pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

133

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Universitas Negeri Jakarta (kelompok treatment). Analisis secara deskriptif kualitatif hasil
evaluasi proses, menunjukkan secara keseluruhan proses pelatihan berlangsung lancar, sesuai
dengan langkah-langkah dalam prosedur model pelatihan yang dikembangkan, dapat
dilakukan oleh peserta dengan baik. Hasil analisis penilaian hasil belajar dan hasil penilaian
proses sebagai landasan penilaian efektivitas model yang dikembangkan, menunjukkan
bahwa model pelatihan yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM di DKI Jakarta.
d) Other Input, berdasarkan ujicoba terbatas, dan uji empirik model pelatihan berbasis kinerja
(performance based training), telah terungkap temuan bahwa:
Pertama, kurangnya informasi tentang program-program peningkatan dan pengembangan
kualitas tutor yang dapat dilakukan dengan banyak pendekatan. Program peningkatan dan
pengembangan guru/tutor yang selama ini diketahui baru terbatas pada program
pelatihan secara umum dan formal (formal in-service training programs) serta
cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional. Pada hal pendekatan lain
banyak seperti pelatihan berbasis kompetensi (competence based training) yang bisa
dilakukan, termasuk: pelatihan berbasis kinerja (performance based training), studi
lanjut, dan kegiatan ilmiah sederhana, seperti diskusi dan seminar.
Kedua, pembinaan dan pemantauan (supervisi dan monitoring) oleh pihak Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta untuk mengoptimalkan pelaksanaan program
pendidikan kesetaraan pada PKBM, utamanya untuk mengoptimalkan peningkatan dan
pengembangan kompetensi tutor, terungkap belum adanya kegiatan supervisi dan
monitoring yang baik terkait manajemen penyelenggaraan maupun pelaksanaan
pembelajaran pada implementasi program pendidikan kesetaraan tersebut, dan belum
intensif dilakukan secara terprogram oleh pihak-pihak terkait. Peningkatan dan
pengembangan kompetensi guru/tutor melalui pelatihan oleh Dinas Pendidikan dalam hal
ini BP3LS masih terbatas, belum ada tindak lanjut melalui menitoring secara
terprogram terhadap hasil pelatihan di masing-masing lembaga pendidikan. Kedua unsur
sebagaimana dijelaskan di atas merupakan temuan penting sebagai komponen masukan
lain (other input) terkait dengan komponen dalam model pelatihan yang
dikembangkan.
134

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

e) Outcome pelaksanaan model pelatihan yang dikembangkan, terjadi meningkatnya


kinerja (performance) tutor dalam melaksanakan pembelajaran. Implementasi model
pelatihan berpengaruh pada peningkatan performansi guru/tutor pendidikan kesetaraan
di PKBM, dapat dideteksi dari pengamatan guru/tutor melakukan pembelajaran
sebagai kegiatan refleksi hasil pelatihan, menunjukkan rerata kinerja tutor dapat
dikatakan menjadi lebih baik.

D. Model Pelatihan yang Direkomendasikan


Berdasarkan hasil temuan penelitian sebagaimana telah dibahas, sesuai dengan setiap
komponennya, sebagai landasan bahwa model pelatihan berbasis kinerja (performance based
training), dapat berpengaruh meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor
pendidikan kesetaraan, dapat ditemukan beberapa hasil penelitian berikut.
1. Proses pengembangan model pelatihan berbasis kinerja, dilakukan melalui uji kelayakan
model dengan analisis kualitas dan penilaian oleh pakar dan praktisi, telah memantapkan
kelayakan model hipotetik dari model pelatihan yang dikembangkan. Hal itu terbukti dari
sistematika dan hubungan antar komponen model yang dikembangkan, telah sesuai, dan
dapat memudahkan dalam

pelaksanaan pelatihan, baik bagi fasilitator maupun peserta

pelatihan kelompok treatment.


2. Model pelatihan yang disempurnakan melalui ujicoba terbatas, telah dapat diterima secara
positif oleh tutor sebagai peserta dan memantapkan kelayakan setiap komponen model,
sehingga dalam proses implementasinya, kelompok tutor sebagai peserta implementasi model
pelatihan dapat belajar dengan lancar sesuai langkah-langkah pelatihan yang harus ditempuh,
mampu menampilkan belajar secara sungguh-sungguh.
3. Hasil implementasi model pelatihan yang dikembangkan, telah menunjukkan efektivitas dalam
perolehan hasil belajar peserta, yakni peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik, dan
memiliki kesesuaian dengan karakteristik guru/tutor. Model tersebut dapat diaplikasikan di
lembaga pendidikan untuk meningkatkan kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan.
Dari seluruh proses kajian pada pelaksanaan penelitian, model pelatihan yang dikembangkan, telah
diuji kelayakannya baik melalui uji secara teoretik maupun uji lapangan. Dengan demikian model
yang dihasilkan sebagai model "akhir", yang telah teruji pada tahap implementasi (uji lapangan),
merupakan model pelatihan berbasis kinerja (performance based training), sesuai komponen dan
Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

135

Pelatihan Berbasis Kkinerja

prosedur model pelatihannya yang dikembangkan, dianggap layak direkomendasikan. Secara diagram
model yang direkomendasikan tersebut, dapat digambarkan sebagai berikut:
LINGKUNGAN
SOSIAL &
BUDAYA

BAHAN BELAJAR

I
N
P
U
T

TUTOR
PAKET C
SARANA &
PRASARANA

FASILITATOR

P
E
L
A
T
I
H
A
N

P
R
O
S
E
S

1. PERENCANAAN
Analisis Kebutuhan,
PengembanganKompetensi
Perencanaan Kurikulum
2. PENGORGANISASIAN
3. PELAKSANAAN
(Pengembangan Intervensi
Pembelajaran)
TEORI

PRAKTEK

REFLEKSI

4. EVALUASI

OUT
PUT

Meningkatnya Penguasaan Kompetensi Pedagogik &


Andragogi Tutor Paket C

OTHER
INPUT

1. Akses Informasi, 2. Pembinaan, dan


3. Pengawasan

OUT
COME

Meningkatnya Kinerja Tutor dalam Pembelajaran


Paket C
Gambar 6.1 Model Pelatihan Berbasis Kinerja yang Direkomendasikan

136

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

PERENCANAAN

PENGORGANISASIAN

PELAKSANAAN

EVALUASI

``

IDENTIFIKASI
KEBUTUGAN

DISAIN PROGRAM

PRIORITAS
KEBUTUHAN

PELATIHAN

PENDEKATAN PELATIHAN
PENDAHULUAN
Pengkondisian Situasi
Belajar Andragogik
Partisipasi
Interakstif
Kolaboratif
Demokratis

TUJUAN PELATIHAN

IDENTIFIKASI
KEBUTUHAN BELAJAR
FASILITATOR

BAHAN
PELATIHAN

PENILAIAN
KETERLAKSANAAN
PROGRAM

MATERI PELATIHAN

PENILAIAN
EFEKTIVITAS
MODEL

MEDIA PELATIHAN
PROSES PELATIHAN

SARANA PELATIHAN
METODE PELATIHAN

KOORDINASI
FASILITATOR PELATIHAN

PENJAB
PKBM

PEMBINA
PROGRAM

JADWAL PELATIHAN

PAKET C

BIAYA PELATIHAN

PERAN
FASILITA
TOR
REFLEKSI
HASIL
PELATIHAN

PERAN
PESERTA

PENILAIAN
HASIL
BELAJAR

Gambar 6.2 Komponen dan Prosedur Model Pelatihan Berbasis Kinerja yang Direkomendasikan

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

137

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman

1. Implementasi model pelatihan dilakukan melalui empat tahap: (i) perencanaan


kegiatannya adalah: identifikasi kebutuhan belajar, menemukan kebutuhan belajar dan
menyusun dan menetapkan struktur program, (ii) tahap pengorganisasian kegiatannya adalah
merumuskan tujuan pelatihan; menyusun materi pelatihan; membuat media pelatihan;
menyediakan sarana pelatihan; menyiapkan fasilitator pelatihan, dan menyiakan sumber
biaya pelaksanaan pelatihan. (iii) tahap pelaksanaan meliputi kegiatan pengkondisian awal
pelatihan, proses pelatihan baik peran fasilitator maupun peran peserta pelatihan dan (iv)
tahap evaluasi meliputi kegiatan evaluasi hasil pelatihan, evaluasi program pelatihan dan
evaluasi dampak.
2. Data hasil implementasi model pelatihan meliputi (i) analisis perbedaan rerata
skor pretes-postes hasil pelatihan, (ii) analisis perbedaan rerata skor observasi
sebelum-sesudah pelatihan, (iii) analisis perbedaan kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol, (iv) deskripsi hasil uji perbedaan dan (v) refleksi
pembelajaran dalam pelatihan.
3. Hasil temuan implementasi model pelatihan berbasis kinerja dilakukan di Lab.
Pelatihan Jurusan Pendidikan Luar Sekolah UNJ, didasarkan pada strategi
penggunaan lima komponen yaitu komponen (i) input,(ii) process, (iii) output,
(iv) other input, dan (v) outcome. Hasil implementasi model yang dikembangkan
telah dapat diterima dan sesuai untuk pelatihan guru/tutor, dengan harapan lebih
efektif dan efisien. Model pelatihan berbasis kinerja (performance based training)
yang direkomendasikan.
4. Model pelatihan yang direkomendasikan melalui (i) proses uji kelayakan dengan
analisis kualitas dan penilaian pakar dan praktisi, (ii) sistematika dan hubungan
antar komponen model yang dikembangkan, telah sesuai, dan dapat memudahkan
dalam pelaksanaan pelatihan, baik bagi fasilitator maupun peserta pelatihan, (iii)
Hasil implementasi model pelatihan yang dikembangkan, telah menunjukkan
efektivitas dalam perolehan hasil belajar peserta, yakni peningkatan kompetensi
pedagogik dan andragogik, dan memiliki kesesuaian dengan karakteristik guru/tutor.
5. Model pelatihan berbasis kinerja dapat diaplikasikan di lembaga pelatihan untuk
meningkatkan kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan. Secara keseluruhan proses
kajian pada pelaksanaan penelitian, model pelatihan yang dikembangkan, telah diuji
kelayakannya baik melalui uji secara teoretik maupun uji lapangan. Dengan demikian
model yang dihasilkan sebagai model "akhir", yang telah teruji pada tahap
implementasi (uji lapangan), merupakan model pelatihan berbasis kinerja (performance
based training), sesuai komponen dan prosedur model pelatihannya yang dikembangkan,
dianggap layak direkomendasikan.

138

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi:

BSNP. (2008). Draf Standar Tutor Pendidikan Kesetaraan, Jakarta: Depdiknas.


Gall, M. D., Gall J. P., & Borg W. R. (2003), Educational Research An Introduction. 7 th.
Ed. Boston : Pearson Education, Inc.
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Sudjana D., (2005), Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah, Bandung:
Nusantara Press.
-----------, (2007), Sistem & Manajemen Pelatihan Teori & Aplikasi,, Bandung : Fallah
Production.
Sugiyono, (2007), Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung, Alfabeta.

Implementasi Model Pelatihan Berbasis Kinerja

139

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 7. PELATIHAN MENINGKATKAN KOMPETENSI

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Keberadaan guru/tutor di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dalam hubungannya
kompetensinya umumnya masih terjadi miss-match, antara bidang tugas tidak sesuai
dengan keilmuaanya dan lemahnya kompetensi pedagogik dan andragogik.
2. Kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan dalam peningkatan kompetensi guru/tutor.
3. Model pelatihan berbasis kinerja untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogik guru/tutor, dari masukan (input), proses (process), keluaran (output), masukan
lain (ather input), dan pengaruh (outcome).

Peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor yang dilakukan melalui model
pelatihan berbasis kinerja, memberikan manfaat bagi upaya peningkatan kompetensi
pembelajaran, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas lulusan program pendidikan
kesetaraan. Model pelatihan ini menunjukkan efektif dalam meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan.

A. Pendahuluan

Seiring dengan Peraturatan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang
Standar Kompetensi Lulusan untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B dan SMA/MA/Paket
C, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi
Pendidikan Kesetaraan. Maka penyelenggaraan pendidikan kesetaraan harusnya semakin
baik, apa lagi dimasa yang akan datang wajib belajar kita ditingkat dari 9 tahun menjadi 12
tahun. Sehingga program pendidikan kesetaraan menjadi alternatif yang akan diminati oleh
warga masyarakat yang tidak sekolah di pendidikan formal. Namun permasalahan seputar
penyelenggaraan pendidikan kesetaraan pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),
dihubungkan dengan kualitas sumberdaya manusia (human resources) khususnya tenaga
guru/tutor, terdapat kelemahan (weakness). Kelemahan tersebut di antaranya bahwa

Pelatihan Meningkatan Kompetensi

141

Pelatihan Berbasis Kkinerja

keberadaan guru/tutor di lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan implementasi


program pendidikan kesetaraan secara kuantitatif keberadaan guru/tutor memang
proporsional dan memadai, tetapi secara kualitatif baik kualifikasi akademik maupun
kompetensinya umumnya belum memadai, apalagi dikaitkan dengan standar pendidik dan
standar kompetensi menurut Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005. Kompetensi tutor
terkait dengan pembelajaran sesuai bidang pelajaran yang diampu, masih terjadi miss-match.

Kelemahan lain yang cukup mendasar pada guru/tutor pendidikan kesetaraan

adalah

lemahnya kompetensi, khususnya kompetensi pedagogik dan andragogik. Hal ini


dimungkinkan akibat dari miss-match. Sehingga masalah ini menjadi isu krusial dalam upaya
peningkatan mutu pendidikan kesetaraan secara umum dan upaya pengembangan kompetensi
guru/tutor secara khusus. Peningkatan dan pengembangan kompetensi guru/tutor merupakan
hal penting yang perlu diupayakan agar mereka memenuhi standar yang ditetapkan baik
standar kualifikasi akademik maupun standar kompetensinya. Secara faktual kondisi ini
mendesak

adanya

upaya

pengembangan

kompetensi

guru/tutor

dalam

mengelola

pembelajaran pada pendidikan kesetaraan agar menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas.
Keberadaan masalah tersebut, tidak bisa dipisahkan dari kondisi empirik guru/tutor dalam
implementasi pendidikan kesetaraan yang dinilai kurang mampu mengoptimalkan kualitas
pembelajaran yang efektif, dalam pendidikan kesetaraan, dan secara faktual kompetensi
guru/tutor yang lemah akan tercermin dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

Oleh karena itu menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi lembaga pendidikan untuk
mempunyai tutor yang profesional dan kompeten dalam bidangnya. Menyadari akan
pentingnya hal tersebut, penanggung jawab lembaga pendidikan didorong untuk
mengupayakan peningkatan kualitas para guru/tutor dengan pendekatan dan cara-cara yang
tempuh. Banyaknya program pelatihan pengembangan sumber daya manusia dalam
lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, baik melalui Direktorat Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pendidikan Nonformal maupun Dinas Pendidikan Provinsi khususnya lembaga
penyelengara pelatihan seperti Balai Pelatihan dan Pengembangan Penadidikan Luar Sekolah
(BP3LS), Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) dan Pusat Pengembangan
Pendidikan Nonformal dan Informal (P2PNFI)

yang berkewajiban mengembangkan

kompetensi guru/tutor menjadi lebih profesional, khususnya dalam melaksanakan


pembelajaran pendidikan kesetaraan.
142

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Ada beberapa pendekatan peningkatan kompetensi guru/tutor yang mungkin dikembangkan,


di antaranya dengan pendekatan pelatihan berbasis kinerja. Penyelenggaraan program
pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan dalam konteks peningkatan mutu dan perluasan
akses dari segala lapisan masyarakat terhadap pendidikan, sebagai sebuah tantangan (threat)
bagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dalam perannya sebagai satuan pendidikan luar
sekolah di masyarakat sekarang ini, untuk lebih menawarkan program pendidikan yang
unggul, kurikulum yang sistematis, tenaga pengajar yang handal, serta pengelolaan yang
profesional. Sehingga peran PKBM dalam pembangunan pendidikan luar sekolah semakin
diperhitungkan kontribusinya.

B. Analisis SWOT

Berdasarkan analisis faktual implementasi program pendidikan kesetaraan pada lembaga


pendidikan dilakukan dengan analisis SWOT (Stength, Weakness, Opportunity, Threat)
dalam hubungannya dengan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan, khususnya di PKBM,
terdapat kekuatan (strength) yang dapat diungkapkan di antaranya:
1. Secara kuantitas guru/tutor yang ada di PKBM cukup memadai, dan mendukung
lancarnya pelaksanaan pendidikan kesetaraan;
2. Guru/tutor di PKBM direkrut dari masyarakat sekitar lingkungan lembaga pendidikan
yang mempunyai dedikasi pengabdian kepada lingkungannya;
3. Pelibatan

PKBM

dalam

melaksanakan

pendidikan

kesetaraan

semakin

eksis

keberadaannya di tengah-tengah masyarakat;


4. Keberadaan PKBM dari, oleh, dan untuk masyarakat sangat strategis dalam
pemberdayaan;
5. Penaggung jawab lembaga pendidikan memiliki komitmen tinggi, serta kemandirian
melaksanakan pendidikan bagi masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat;
6. PKBM sebagai satuan pendidikan luar sekolah menempati posisi penting di tengah
masyarakat, dan mampu memberikan stimulasi pentingnya makna pendidikan;
7. Secara kelembagaan, PKBM sebagai institusi Pendidikan Luar Sekolah yang memiliki
kelengkapan sarana dan prasarana yang cukup memadai untuk menyelenggarakan
pendidikan luar sekolah;
8. Penanggung jawab lembaga pendidikan dan guru/tutor memiliki minat untuk
Pelatihan Meningkatan Kompetensi

143

Pelatihan Berbasis Kkinerja

meningkatkan kompetensinya, dan mengharapkan adanya kesempatan lebih luas lagi


untuk mengikuti pelatihan dalam rangka mengembangkan kompetensi.

Kelemahan (weakness), implementasi program pendidikan kesetaraan di PKBM khususnya


guru/tutor, di antaranya:
1. Kompetensi guru/tutor rata-rata miss-match tidak sesuai dengan bidang studi yang
diampu dalam pelaksanaan pendidikan kesetaraan;
2. Guru/tutor pendidikan kesetaraan tidak direkrut secara khusus karena masih kecilnya
imbalan yang diterima, sehingga guru/tutor dalam melaksanakan tugas berbekal
pengalaman, keberanian dan kebiasaan (PKK);
3. Profil kompetensi guru/tutor dalam implementasi program pendidikan kesetaraan rata-rata
rendah belum sesuai dengan standar kompetensi guru/tutor yang berlaku;
4. Lembaga pendidikan belum mampu melaksanakan program pengembangan dan
peningkatan kompetensi guru/tutor, secara mandiri tetapi menunggu kesempatan yang
ditawarkan oleh Dinas Pendidikan Kota atau Provinsi;
5. Guru/tutor pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan belum terjangkau secara merata
untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya; dan
6. Penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan kurang didukung
oleh tersedianya biaya operasional yang proporsional.

Peluang (opportunity), atas pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan di


PKBM yang memungkinkan terus ditingkatkan dan dilanjutkan, antara lain:
1. Adanya kebijakan Permen Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi Lulusan,
dan Permen. Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi untuk program paket A, program
paket B, dan program paket C; Sehingga penyelenggaraan pendidikan kesetaraan
harusnya semakin mendapatkan perhatian pemerintah;
2. Jumlah anak usia sekolah yang putus sekolah, ataupun yang tidak mampu melanjutkan
pendidikannya, dari tahun ke tahun meningkat dan jumlahnya cukup besar;
3. Adanya institusi lain yang banyak memfasilitasi pengembangan dan peningkatan
kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan;
4. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk
pengembangan dan peningkatan kompetensi guru/tutor program pendidikan kesetaraan
pada PKBM masih bersifat konvensional;
144

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

5. Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal yang banyak


menangani program pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal,
tetapi sayang belum secara maksimal memfasilitasi pengembangan kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan.

Tantangan (Threat), terhadap keberlangsungan program pendidikan kesetaraan, di PKBM,


antara lain:
1. Dalam konteks peningkatan mutu dan perluasan akses dari segala lapisan masyarakat
terhadap pendidikan, PKBM oleh sebagian masyarakat masih belum mengenalnya;
2. Institusi pendidikan sekarang ini banyak menawarkan pendidikan yang unggul, kurikulum
yang sistematis, tenaga pengajar yang handal, dan pengelolaan yang profesional;
3. Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan,
mempersyaratkan kualifikasi dan kompetensi guru/tutor sebagai tenaga pendidik pada
pendidikan nonformal harus memenuhi standar yang ditetapkan.
4. Belum optimalnya kegiatan pembinaan terhadap pelaksanaan program pendidikan
kesetaraan di PKBM dari institusi terkait, sehingga mutu pembelajaran program tersebut
tidak terjamin.

Kebijakan tentang pelaksanaan program pendidikan kesetaraan di PKBM adalah sejalan


dengan upaya pemerataan pendidikan menuju pendidikan untuk semua (education for all),
dimana warga belajar yang umumnya anak-anak yang tidak mampu melanjutkan di
pendidikan formal ataupun putus sekolah harus memperoleh kesempatan yang sama. Jumlah
anak pustus sekolah dan tidak mampu melanjutkan sekolah dari tahun ke tahun selalu
meningkat. Akan tetapi kendala lain menghadang, yaitu kompetensi guru/tutor miss-macth
khususnya kompetensi pedagogik dan andragogik pelaksanaan pembelajaran pendidikan
kesetaraan pada PKBM relatif lemah.

Di sisi lain, dalam upaya optimalisasi mutu pendidikan, pemerintah telah menetapkan
kebijakan tentang standar nasional pendidikan, termasuk di dalamnya adalah standar
kompetensi guru/tutor. Standar kompetensi guru/tutor kesetaraan ditetapkan oleh Direktorat
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (PTK - PNF) yang mengacu pada
Peraturan Pemerintah Nomor: 19 Tahun 2005, sebagai rambu-rambu minimal kompetensi
yang seharusnya dipenuhi oleh guru/tutor pendidikan kesetaraan dalam melaksanakan
Pelatihan Meningkatan Kompetensi

145

Pelatihan Berbasis Kkinerja

tugasnya. Profil kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM secara empiris
masih lemah, belum memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan tersebut. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan yang harus segera di
atasi agar pembelajaran pada program pendidikan kesetaraan di PKBM lebih berkualitas.

Berdasarkan pada hasil studi kasus dalam Bab V, menunjukkan bahwa profil kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan rata-rata masih rendah. Di lain
pihak, untuk melaksanakan pembelajaran program pendidikan kesetaraan yang efektif demi
mencapai mutu lulusan yang lebih baik dari program tersebut, guru/tutor seharusnya
memenuhi kompetensi secara ideal. Dengan kata lain guru/tutor pendidikan kesetaraan,
selayaknya memenuhi standar kompetensi yang menjadi ketentuan. Berdasarkan kenyataan
yang telah dijelaskan, menunjukkan adanya kesenjangan antara profil kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan yang ada sekarang dengan kompetensi ideal yang seharusnya dikuasai
untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. Kesenjangan tersebut sudah
semestinya memperoleh perhatian semua pihak yang terkait untuk mengatasinya.

Dalam lingkup struktur birokrasi pendidikan nonformal, instansi yang bertanggung jawab, di
antaranya Direktorat PTK PNF yang semestinya mengintervensi dalam meningkatkan
kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan. Salah satu alternatif yang bisa digunakan
dalam upaya peningkatan kompetensi guru/tutor, yaitu melalui pelatihan berbasis kinerja
(performance based training) yang merupakan salah satu pendekatan pelatihan yang
dikembangkan, dan sesuai kebutuhan guru/tutor dalam peningkatkan kompetensi pedagogik
dan andragogik. Rendahnya mutu pendidikan, termasuk pendidikan yang diselenggarakan
oleh PKBM utamanya dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan dipengaruhi oleh
sejumlah faktor, diantaranya adalah kualitas proses pembelajaran yang belum mampu
menciptakan proses pembelajaran yang efektif. Ditinjau dari dimensi pendidikan luar
sekolah, PKBM memang merupakan satuan pendidikan luar sekolah yang memiliki asas dari,
oleh, dan untuk masyarakat serta berbasis kemandirian dalam arti tidak bergantung pada dana
pemerintah, namun kelemahannya bahwa output pendidikan kesetaraan kurang kompetitif
dalam percaturan dunia kerja.

Berdasarkan pernyataan tersebut, sumber daya manusia yang penting turut menentukan
dalam mengelola pembelajaran di lembaga pendidikan diantaranya adalah guru/tutor.
146

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Mengingat kompetensi guru/tutor di lembaga pendidikan peran utamanya adalah


menyelenggarakan pembelajaran dirasakan masih rendah, terutama disebabkan oleh masih
kurangnya penyiapan pengembangan kompetensi guru/tutor dan masih memerlukan
pengembangan lebih profesional. Alternatif yang dapat diambil untuk mengatasi kelemahan
tersebut, di antaranya melalui pelatihan berbasis kinerja (performance based training) bagi
guru/tutor pendidikan keseataraan yang direkomendasikan, mengingat

hasil

kajian

pengembangan model pelatihan ini, menunjukkan temuan yang berimplikasi, terhadap:


1. Meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, dengan meningkatnya
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor dapat diharapkan akan berdampak pada
meningkatnya kualitas pembelajaran di lembaga pendidikan. Apabila mutu pembelajaran
meningkat, maka diharapkan pada gilirannya mutu lulusannya (output} juga akan
meningkat;
2. Meningkatkan kinerja guru/tutor dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga diharapkan
warga belajar akan meningkat. Bila mutu warga belajar pendidikan kesetaraan meningkat,
maka dapat diharapkan peringkat kelulusan dalam program tersebut akan lebih
meningkat;
3. Memberikan alternatif bagi Dinas pendidikan Provinsi sebagai pembina program
pendidikan kesetaraan di PKBM mendorong dan mempersiapkan tenaga tutor yang
terampil melaksanakan tugas pembelajaran, serta program lainnya yang terkait dengan
pemberdayaan PKBM;
4. Sebagai alternatif praktis bagi lembaga pendidikan dalam melakukan pengembangan
sumber daya manusia di lingkungannya sesuai dengan kondisi yang ada, dalam rangka
melengkapi dirinya dengan tenaga yang terampil mengelola program pendidikan
kesetaraan khususnya dan umumnya program-program yang akan mendukung
peningkatan mutu sebagai komponen keberhasilan PKBM dalam perannya sebagai
institusi pendidikan luar sekolah.

C. Sistem Program Pelatihan Guru/Tutor


Model pelatihan berbasis kinerja menunjukkan efektif untuk meningkatkan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor, patut dipertimbangkan dalam implementasi model
pelatihan ini yang memiliki komponen-komponen, yakni:
1. masukan (input),

Pelatihan Meningkatan Kompetensi

147

Pelatihan Berbasis Kkinerja

2. proses (process),
3. keluaran (output),
4. masukan lain (ather input), dan
5. pengaruh (outcome).

Komponen masukan (input), yaitu masukan sarana dan lingkungan. Sarana yang dimiliki
PKBM penyelenggara program pendidikan kesetaraan secara keseluruhan meliputi sumber
dan fasililitas dengan keterbatasan yang ada dioptimalkan untuk memungkinkan
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran guru/tutor yang ada. Masukan lingkungan terdiri dari
unsur-unsur lingkungan sosial, dan kultur kehidupan kolegial, komunikatif, demokratis, dan
humanistik. Sedangkan masukan mentah (raw input), yaitu guru/tutor pendidikan kesetaraan
dengan berbagai karakteristiknya, baik karakteristik internal maupun karakteristik eksternal.
Karakteristik internal yang meliputi antara lain pengalaman, keberanian, kebiasaan, sikap,
minat, keterampilan, dan kebutuhan belajar. Karakteristik eksternal meliputi anatara lain
status sosial dan ekonomi, tingkat pendidikan, biaya serta sarana belajar.

Komponen proses (process), proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan


bervariasi sebagai pendekatan belajar orang dewasa. Sesuai dengan pandangan andragogi,
menurut Knowles, 1980 (dalam Sudjana, 1992: 63) bahwa, setiap pendidik harus mampu
membantu peserta didik dalam:
a. menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar melalui kerjasama dalam
merencanakan program pembelajaran,
b. menentukan kebutuhan belajar,
c. merumuskan tujuan dan materi yang cocok untuk memenuhi kebutuhan belajar,
d. merancang pola belajar dalam sejumlah pengalaman belajar untuk peserta didik,
e. melaksanakan kegiatan belajar dengan menggunakan metode, teknik, dan sarana belajar
yang tepat, dan
f. menilai kegiatan belajar serta mendiagnosis kebutuhan belajar untuk kegiatan belajar
selanjutnya.

Komponen keluaran (output), merupakan tujuan antara yaitu mencakup perubahan


kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor melalui kegiatan pelatihan. Komponen
keluaran yang meliputi perubahan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor sesuai
148

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

setiap komponennya, dalam melaksanakan pembelajaran sebagai tugas pokok guru/tutor


melaksanakan program pendidikan kesetaraan. Komponen masukan lainnya (other input),
menyangkut tentang peningkatan akses informasi bagi PKBM khususnya informasi
pengembangan dan peningkatan untuk pemberdayaan sumber daya manusia. Pemberdayaan
PKBM untuk mengembangkan program-program pendidikannya bagi masyarakat sekitarnya,
misalnya pemberdayaan melalui pendidikan keterampilan hidup (life skill) dan menanamkan
kesadaran akan pentingnya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) bagi masyarakat
sekitarnya. Dengan demikian akan mempertegas peran dan fungsi PKBM dalam
eksistensinya sebagai institusi pengembangan masyarakat. Other input yang berupa supervisi,
terkait dengan semua pihak yang bertanggung jawab dalam mengembangkan kompetensi
guru/tutor di PKBM. Supervisi sebagai kegiatan pembinaan, baik pembinaan pasca pelatihan
guru/tutor, maupun pembinaan untuk pengembangan manajernen lembaga secara umum.

Komponen pengaruh (outcome), menyangkut tentang kinerja guru/tutor dalam melaksanakan


pembelajaran setelah guru/tutor mengikuti pelatihan dengan model pembelajaran yang
dikembangkan menunjukkan lebih baik. Dengan adanya peningkatan kinerja mengajar
guru/tutor, diharapkan pembelajaran pendidikan kesetaraan di PKBM akan lebih berkualitas,
dan pada gilirannya akan meningkatkan

mutu lulusan. Merujuk pada model pelatihan

berbasis kinerja berpengaruh pada meningkatnya kompetensi pedagogik dan andragogik


guru/tutor dalam melaksanakan tugas mengajar. Pengembangan model pelatihan ini sebagai
upaya meberikan alternatif dalam mengembangkan kompetensi guru/tutor pendidikan
kesetaraan di PKBM. Sesuai dengan pandangan Thorpe, 1954 (dalam Sudjana, 2005:58)
bahwa belajar sebagai bentuk perubahan nilai, kecakapan, sikap dan perilaku yang terjadi
dengan usaha yang sengaja melalui rangsangan atau stimulus, sedangkan perubahan yang
terjadi pada pebelajar adalah dalam bentuk tanggapan atau repon terhadap rangsangan
tersebut. Sedangkan Smith (1982: 34) menyarankan bahwa pembelajaran digunakan
berhubungan dengan:
a. pemerolehan dan penguasaan tentang sesuatu apa yang telah diketahui;
b. perluasan dan klarifikasi makna pengalaman, dan
c. proses yang disengaja dan diorganisasikan berkaitan dengan pengujian ide-ide atau
gagasan yang relevan dengan permasalahan.

Pelatihan Meningkatan Kompetensi

149

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Apabila pelatihan untuk menghasilkan (produk), maka penekanannya adalah outcome, yaitu
membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Jika pelatihan digunakan untuk
menggambarkan suatu proses, maka penekanannya adalah mempertimbangkan apa yang
terjadi ketika pengalaman belajar berlangsung, disebut sebagai proses pencarian untuk
memenuhi kebutuhan dan pencapaian tujuan. Jika pelatihan digunakan untuk menjelaskan
fungsi, penekanannya adalah aspek-aspek penting tertentu seperti motivasi yang diyakini
menghasilkan belajar. Sedangkan model pelatihan yang dikembangkan dalam penelitian ini,
secara empirik telah mempengaruhi perilaku guru/tutor sebagai peserta dalam kaitannya
dengan meningkatkan kompetensi melaksanakan tugas pembelajaran.

Model pelatihan berbasis kinerja untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan adalah sebagai suatu tawaran
konsep bagi PTK PNF dan instansi terkait, sebagai alternatif

dalam pengembangan

kompetensi guru/tutor sebagai salah satu komponen penting dalam pembelajaran yang lebih
berkualitas, serta mendukung keberhasilan berbagai program pendidikan nonformal. Model
pelatihan berbasis kinerja ini telah memberikan arah pemecahan masalah kelemahan
penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan. Model
pelatihan ini memiliki karakteristik yang menekankan adanya refleksi hasil belajar yang
diimplementasikan langsung dalam praktek pembelajaran aktual dan diamati secara
kolaboratif oleh fasilitator.

Di samping itu, model pelatihan ini sesuai dengan kondisi tutor sebagai pebelajar dewasa,
sehingga mengkondisikan pembelajaran dalam pelatihan yang paling baik jika memenuhi
enam kondisi yaitu:
a. pebelajar merasakan kebutuhan untuk belajar dan memiliki input mengenai apa, mengapa
dan bagaimana mereka harus belajar;
b. isi dan proses pembelajaran melahirkan hubungan yang dipahami dan bermakna terhadap
pengalaman yang lalu, dan pengalaman digunakan sebagai sumber belajar;
c. apa yang harus dipelajari secara optimal berhubungan dengan perubahan pengembangan
dan tugas-tugas kehidupan individu;
d. otonomi belajar menjadi pertimbangan dan melatih pebelajar melalui motode atau bentuk
belajar yang digunakan;
e. pebelajar belajar dalam iklim yang mendorong kebebasan untuk mencobakan dan
150

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

menghindari rasa kelelahan, dan


f. gaya belajar pebelajar menjadi pertimbangan penting dalam pembelajaran.

Merujuk pada model pelatihan yang diterapkan ini, telah mengacu pada prinsip
pengkondisian pelatihan yaitu:
1. Peserta diarahkan untuk merasakan dan mengidentifikasi kebutuhan belajar, sebelum
kegiatan pelatihan dilaksanakan;
2. Isi dan proses pelatihan yang dilaksanakan menekankan pada hubungan kolaboratif dan
saling menggali pengalaman masing-masing dan menjadikan pengalaman mereka sebagai
sumber pembelajaran;
3. Peserta menunjukkan belajar secara optimal melalui sumber belajar (fasilitator, dan
bahan belajar yang

disediakan),

sehingga

menghasilkan kemampuan dalam

melaksanakan tugas mengajarnya;


4. Peserta tampak secara otonomi dan tanpa tekanan, bebas mengungkapkan pandangan dan
pengalamannya

sesuai

dengan

strategi

pembelajaran

yang

diterapkan,

yaitu

mencerminkan kolaborasi dengan fasilitator;


5. Peserta dalam pelatihan dikondisikan untuk menerapkan dalam pelaksanaan pembelajaran
secara aktual sebagai wujud refleksi hasil pelatihan secara kolaboratif bersama fasilitator,
dan
6. Pelatihan dilaksanakan dengan mempertimbangkan gaya belajar mereka sebagai pendidik
yang sesuai dengan lingkungan dan kondisi lembaga pendidikan tempat mereka
melaksanakan tugas.

Mengacu pada pelatihan yang dikembangkan menekankan pada refleksi hasil belajar yang
dicobakan dalam kegiatan pembelajaran aktual oleh peserta dalam pelatihan dan dilakukan
pengamatan terhadap refleksi tersebut. Melalui pengkondisian pembelajaran seperti itu, maka
model pelatihan yang diterapkan secara empirik dalam penelitian ini menunjukkan efektif
dapat meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor kesetaraan di PKBM.
Keberhasilan pelatihan tersebut tidak lepas dari adanya peran fasilitator mengkondisikan
pembelajaran yang kondusif, sesuai dengan fungsinya yaitu memfasilitasi belajar.
Berdasarkan pandangan Rogers, (1969 dalam Knowless, (1984: 75-77) bahwa unsur penting
dalam yaitu menampilkan hubungan antara fasilitator dengan pebelajar sebagai berikut:
1. Fasilitator perlu banyak melakukan setting kondisi awal kelompok belajar atau
Pelatihan Meningkatan Kompetensi

151

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pengalaman pembelajaran;
2. Fasilitator mengemukakan dan memperjelas tujuan baik tujuan umum maupun tujuan
khusus;
3. Fasilitator mendasarkan pembelajaran pada minat peserta dalam mengimplementasikan
tujuan yang bermakna dan memperkuat motivasi belajar;
4. Fasilitator berupaya mengorganisasikan dan membuat kemudahan tersedianya sumbersumber untuk belajar;
5. Fasilitator memposisikan diri sebagai sumber belajar yang luwes untuk dimanfaatkan oleh
kelompok belajar dalam pembelajaran;
6. Dalam merespon pernyataan pebelajar, fasilitator mau menerima sikap pebelajar baik
berkaitan dengan content intelektual maupun emosional, berupaya memberikan
tingkat penekanan yang tepat, baik secara kelompok maupun individual;
7. Fasilitator mampu membangun iklim belajar, mendorong setiap pebelajar mau
menyatakan pandangannya;
8. Fasilitator berinisiatif berbagi pengalaman dengan kelompok belajar baik menyangkut
perasaan maupun pemikiran dengan cara-cara yang tidak menuntut atau

memaksa,

tetapi secara sederhana mencerminkan sharing antar personal;


9. Fasilitator tetap menjaga kesan yang menunjukkan perasaan kuat terhadap pengalaman
pembelajaran secara keseluruhan; dan
10. Fasilitator memposisikan fungsinya sebagai fasilitasi pembelajaran adalah pemimpin
yang

berusaha

mengakui dan

menerima keterbatasan-keterbatasan dirinya dalam

pembelajaran.

Hasil kajian model pelatihan berbasis kinerja yaitu menggabungkan mekanisme refleksi
tindakan dengan teori pembelajaran, dimana:
1. Belajar harus dilihat sebagai proses, bukan hasil, sebagai gagasan yang tidak pernah tetap,
tetapi selalu dirumuskan dan kembali dirumuskan dalam menghadapi realita;
2. Belajar adalah proses pengalaman, sebagai pengetahuan yang maju hanya melalui
pengalaman yang berkelanjutan;
3. Berkaitan dengan proses pengalaman, maka ada empat bentuk, yakni: a
a. kemampuan untuk memiliki pengalaman konkret,
b. kemampuan membuat observasi reflektif,
c. kemampuan membuat konseptualisasi abstrak, dan
152

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

d. kemampuan membuat eksperimen secara aktif;


e. Belajar adalah proses holistik untuk diterapkan, yaitu keempat kemampuan tersebut di
atas diperlukan dalam belajar;
f. Belajar berisi serangkaian transaksi antara seseorang dan lingkungannya, hasil dari
transaksi tersebut, menyebabkan terbentuknya pengetahuan.

Mengacu pada pernyataan tersebut, maka model pelatihan ini, mendukung terhadap tataran
teoretis, maupun dalam tataran praktis dalam pengembangan kompetensi guru/tutor dalam
melaksanakan tugas pembelajaran pada pendidikan kesetaraan secara khusus, dan umumnya
tenaga pendidik lainnya dalam lingkup pendidikan luar sekolah. Model pelatihan ini sebagai
alternatif yang dapat diterapkan lebih lanjut, serta direkomendasikan kepada pihak-pihak
terkait dalam memberdayakan guru/tutor dalam menyelenggarakan pendidikan kesetaraan,
agar lebih optimal pembelajaran.

D. Pelatihan Meningkatkan Kompetensi

Berdasarkan arah kebijakan pembangunan nasional dan memperhitungkan berbagai


permasalahan yang terjadi dalam lingkungan sosial, dan isu-isu strategis dalam pembangunan
pendidikan nasional, maka ditetapkan prioritas pembangunan pendidikan nasional ke depan
secara sistematis diarahkan pada peningkatan mutu dan keunggulan serta efisiensi biaya
pendidikan. Untuk itu dimensi peningkatan mutu dan keunggulan pendidikan mendapat
perhatian paling besar untuk lebih dikembangkan melalui berbagai jalur, jenis dan jenjang
pendidikan. Salah satu dimensi prioritas peningkatan mutu dan keunggulan pendidikan, di
antaranya dengan menitikberatkan pada proses pembelajaran, maka PKBM sebagai institusi
masyarakat (community college) dalam penyelenggaraan pendidikan kesetaraan, perlu
ditingkatan mutu pembelajarannya. Untuk meningkatkan mutu pembelajaran dalam
penyelenggaraan pendidikan kesetaraan, tentu lebih menitikberatkan pada pengembangangan
kompetensi dan profesionalisme guru/tutor di PKBM penyelenggara pendidikan kesetaraan
melalui berbagai alternatif model pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik guru/tutor.

Pengembangan model pelatihan adalah upaya meningkatkan kompetensi pedagogik dan


andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM. Upaya tersebut merupakan inovasi
Pelatihan Meningkatan Kompetensi

153

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dalam mengembangkan keterlibatan satuan pendidikan luar sekolah berkontribusi dalam


penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Dengan meningkatnya kompetensi guru/tutor,
khususnya kompetensi pedagogik dan andragogik, diharapkan pembelajaran efektif dan mutu
lulusannya juga meningkat. Dengan demikian kontribusi PKBM sebagai satuan pendidikan
luar sekolah untuk membantu percepatan pencapaian program wajib belajar akan semakin
dipercaya oleh masyarakat.

Merujuk hal tersebut, maka model pelatihan yang berbasis kinerja untuk guru/tutor
pendidikan kesetaraan pada PKBM, termasuk sebagai upaya pemberdayaan, karena
berdasarkan kajian teoretik maupun kajian empirik kegiatan pelatihan berfungsi:
1. Menumbuhkan kesadaran guru/tutor sebagai pelaku pembelajaran dan pentingnya upaya
mereka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi warga belajar yang dibimbingnya
agar mencapai prestasi;
2. Membantu

guru/tutor

sebagai

agen

pembelajaran

untuk

bisa

belajar

dalam

mengembangkan kompetensinya, sesuai dengan tugas pokoknya;


3. Meningkatkan kesadaran guru/tutor akan pentingnya peningkatan kualitas dirinya secara
efisien dalam rangka melengkapi dirinya menjadi tenaga yang profesional.

Ketiga fungsi tersebut menunjukkan guru/tutor sebagai agen pembelajaran khususnya dalam
penyelenggaraan program pendidikan kesetaraan di PKBM menuju pada pembelajaran yang
lebih baik. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip pendidikan sepanjang hayat (Sudjana,
2001: 217), bahwa pendidikan luar sekolah dikembangkan berdasarkan pada salah satu
prinsip diantaranya, kegiatan belajar untuk memperoleh, memperbaharui, dan/atau
meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang telah dimiliki oleh warga
masyarakat sesuai dengan perubahan yang terus menerus sepanjang kehidupan.

Pengembangan model pelatihan berbasis kinerja sebagai upaya mengembangkan kompetensi


pedagogik dan andragogik guru/tutor, sesungguhnya merupakan aktualisasi peranan
pendidikan nonformal yang berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut:
1. sebagai pendekatan mendorong guru/tutor agar mampu mengembangkan kompetensi
yang telah dimiliki dan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan baru atau
memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas melalui proses belajar;
2. sebagai pendekatan membantu memecahkan kelemahan dalam pendidikan luar sekolah,
154

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

salah satu kelemahan sebagaimana disebutkan oleh Sudjana (2001: 41) bahwa tenaga
pendidik atau sumber belajar profesional dalam pendidikan luar sekolah masih kurang,
oleh sebab itu penggunaan model pelatihan yang lebih efisien adalah visibel untuk
meningkatkan tenaga pendidik menuju ke arah yang profesional;
3. pendidikan luar sekolah berperan membantu dan memberikan pembinaan melalui
pelatihan-pelatihan dan bimbingan pengembangan sumber daya manusia di lingkungan
masyarakat,

termasuk PKBM sebagai lembaga pendidikan yang telah tumbuh dan

berkembang di masyarakat.

Performance based training sebagai salah satu pendekatan pelatihan dengan prinsip
pembelajaran teori-praktek dari setiap materi pembelajaran yang diberikan selama proses
pelatihan berlangsung, bahkan secara khusus diseparuh waktu kegiatan berlangsung sudah
disimulasikan dalam bentuk kegiatan peer tutorial untuk melatih berbagai keterampilan dasar
dalam pembelajaran. Terkait dengan pengembangan model pelatihan yang digunakan untuk
meningkatkan kompetensi guru/tutor pendidikan kesetaraan, secara empirik sangat sesuai
dengan kebutuhan belajar guru/tutor dalam menyelenggarakan pembelajaran pendidikan
kesetaraan di PKBM. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata kompetensi pedagogik dan
andragogik guru/tutor yang meliputi kompetensi dimensi pengetahuan, dan dimensi
keterampilan, mengalami peningkatan secara signifikan. Di samping itu kinerja pembelajaran
guru/tutor dapat teramati menjadi lebih baik, serta sikap mereka terhadap model pelatihan
yang dikembangkan menunjukkan positif. Atas dasar hasil kajian ini maka model pelatihan
berbasis kinerja dikatakan efektif untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor pendidikan kesetaraan pada PKBM.

Keberartian kajian ini tidak lepas dari pengaruh hubungan antara fasilitator dengan peserta
(guru/tutor), pengelola pendidikan kesetaraan, dan penanggung jawab PKBM serta Dinas
Pendidikan sebagai institusi pembinanya. Di samping itu ada faktor lain yang turut
menentukan keberhasilan kajian ini, diantaranya adalah adanya koordinasi dan kerja sama
diantara guru/tutor sebagai responden yang semakin mantap, lingkungan belajar yang
kondusif serta dukungan moral dari semua pihak. Kerjasama di antara peserta terjadi secara
kolaboratif terutama dalam kegiatan peer tutorial yang bertujuan untuk meningkatkan dan
mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan secara praktis, di mana kedua

Pelatihan Meningkatan Kompetensi

155

Pelatihan Berbasis Kkinerja

belah pihak khususnya guru/tutor senior yang menjadi fasilitator dalam kegiatan refleksi
saling memberi balikan, penilaian tentang metode, isi dan tugas pembelajaran yang baik.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor yang dilakukan melalui model pelatihan berbasis kinerja, memberikan manfaat
bagi upaya peningkatan kompetensi pembelajaran, yang pada gilirannya akan meningkatkan
kualitas lulusan program pendidikan kesetaraan. Model pelatihan ini menunjukkan efektif
dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan
pada PKBM. Dengan demikian model pelatihan ini adalah salah satu alternatif dalam
pendidikan luar sekolah, sebagai cara pengembangan kualitas dan keterampilan guru/tutor
khususnya, dan sumber daya manusia di lingkungan lembaga pendidikan umumnya secara
lebih efektif dan efisien. Efektif dalam arti model pelatihan ini secara empirik terbukti dapat
meningkatkan kompetensi guru/tutor mengelola pembelajaran pendidikan kesetaraan, karena
mereka langsung mempraktekan apa yang diajarkan, dan dikatakan efisien, karena
penggunaan model pelatihan ini proses pelatihannya dilaksanakan secara praktis oleh tutor
dalam melaksanakan tugas pembelajaran, sehingga lebih relevan dengan kebutuhan tutor
yang berlatar belakang pendidikan S1 non kependidikan.

156

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Rangkuman
1. Keberadaan guru/tutor di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dalam
hubungannya dengan implementasi program pendidikan kesetaraan secara
kuantitatif keberadaan guru/tutor memang proporsional dan memadai, tetapi
secara kualitatif baik kualifikasi akademik maupun kompetensinya umumnya
belum memadai, apalagi dikaitkan dengan standar pendidik dan standar
kompetensi menurut Peraturan Pemerintah RI No. 19 tahun 2005. Kompetensi
tutor terkait dengan pembelajaran sesuai bidang pelajaran yang diampu, masih
terjadi miss-match. Kelemahan lain yang cukup mendasar pada guru/tutor
pendidikan kesetaraan adalah lemahnya kompetensi, khususnya kompetensi
pedagogik dan andragogik. Sehingga masalah ini menjadi isu krusial dalam
upaya peningkatan mutu pendidikan kesetaraan. Pengembangan kompetensi
guru/tutor merupakan hal penting yang perlu diupayakan agar mereka
memenuhi standar yang ditetapkan baik standar kualifikasi akademik maupun
standar kompetensinya. Pengembangan kompetensi guru/tutor dalam mengelola
pembelajaran pada pendidikan kesetaraan pada hakekatnya suatu upaya agar
menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas.
2. Analisis SWOT menunjukkan bahwa: (i) kekuatan: secara kuantitas guru/tutor
cukup memadai, direkrut dari masyarakat, (ii) kelemahan, kompetensi
guru/tutor rata-rata miss-match, guru/tutor pendidikan kesetaraan tidak direkrut
secara khusus, profil kompetensi guru/tutor rata-rata rendah, (iii) peluang:
adanya kebijakan Permen Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar Kompetensi
Lulusan, dan Permen. Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan
Kesetaraan, Direktorat PTK-PNF yang banyak menangani program pembinaan
pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal, tetapi sayang belum
secara maksimal. (iv) tantangan: peningkatan mutu dan perluasan akses, adanya
standar nasional pendidikan.
3. Model pelatihan berbasis kinerja menunjukkan efektif untuk meningkatkan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, patut dipertimbangkan dalam
pelatihan ini yaitu komponen-komponen: (1) masukan (input), (2) proses
(process), (3) keluaran (output), (4) masukan lain (ather input), dan (5)
pengaruh (outcome).
4. Peningkatan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor yang dilakukan
melalui model pelatihan berbasis kinerja, memberikan manfaat bagi upaya
peningkatan kompetensi pembelajaran, yang pada gilirannya akan
meningkatkan kualitas lulusan program pendidikan kesetaraan. Model pelatihan
ini menunjukkan efektif dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan.

Pelatihan Meningkatan Kompetensi

157

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Referensi

Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.


San Francisco: Jossey Bass Inc.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B dan SMA/MA/Paket C. Jakarta:
Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Smith R.M., (1982), Learning How to Learn Applied Theory for Adults, Chicago, Follet
Publishing Company.
Sudjana D., (2005), Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah, Bandung:
Nusantara Press.
-----------, (2005), Metode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, Bandung, Fallah
production.
-----------, (1992), Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan
Pengembangan Sumberdaya Manusia, Bandung: Fallah Production.

158

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

BAB 8. P E N U T U P

Setelah mempelajari bab ini diharapkan para pembaca dapat memahami tentang:
1. Kesimpulan buku ini yang terdiri dari dua bagian besar yaitu pertama hasil kajian secara
konseptual tentang pelatihan berbasis kompetensi dan kinerja kemudian yang kedua
merupakan implementasi model pelatihan berbasis kinerja.
2. Model pelatihan berbasis kinerja ini diperlukan untuk para pengelola pelatihan sumber
daya manusia, khususnya untuk pelatihan guru/tutor karena sudah terbukti efektivitasnya
dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogiknya.

A. Kesimpulan

Pembahasan buku tentang model pelatihan berbasis kinerja (performance based training
Model) suatu konsep dan implementasu dalam pelatihan guru/tutor, dengan tujuan untuk
meningkatkan kompetensi guru/tutor yang

dilaksanakan dengan berbagai pendekatan,

metode dan tahapan analisis yang relevan terhadap fokus permasalahan dalam pelatihan.
Sesuai dengan tujuannya, pelaksanaan pelatihan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan,
sikap dan keterampilan pembelajaran guru/tutor pendidikan kesetaraan. Deskripsi buku ini,
pada intinya terdiri dari dua bagian besar yaitu pertama hasil kajian secara konseptual tentang
pelatihan berbasis kompetensi dan kinerja kemudian yang kedua merupakan implementasi
model pelatihan berbasis kinerja dalam meningkatkan kompetensi.

Sedangkan secara rinci uaraian buku ini muat dalam sembilan bab yaitu masing-masing bab
menjelaskan sebabagi berikut: Bab I berisi tentang selayang pandang pelatihan, masalah
pelatihan dan manfaat pelatihan. Bab II mengurai batasan pelatihan, pendekatan pelatihan,
asas-asas pelatihan dan model-model pelatihan. Bab III mengungkap tentang konsep
pelatihan berbasis kompetensi, kompetensi yang dibutuhkan, proses pelatihan berbasis
komptensi, konsep kompetensi dan profil kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor.
Bab IV membahas tentang teori pembelajaran orang dewasa (Andragogi), teori pembelajaran
partisipatif, alur pikir pembelajaran dalam pelatihan, kinerja guru/tutor dalam pembelajaran
Penutup

159

Pelatihan Berbasis Kkinerja

dan efektivitas pelatihan dalam meningkatkatkan kompetensi. Bab V menguraikan tentang


studi kasus pada pelatihan guru/tutor di DKI Jakarta, pengembangan model konseptual
pelatihan, rasionalisasi pengembangan model pelatihan, asumsi pengembangan model
pelatihan, tujuan pengembangan model pelatihan, komponen pembelajaran dalam pelatihan,
indikator keberhasilan pelatihan, prosedur pelaksanaan model pelatihan dan pengujian model
hipotetik. Bab VI membahas tentang implementasi model pelatihan mulai dari tahap
perencanaa pelatihan, tahap pengorganisasian pelatihan, tahap pelaksanaan pelatihan dan
tahap evaluasi pelatihan, kemudian data hasil implementasi model pelatihan, hasil temuan
implementasi serta model pelatihan yang direkomendasikan. Bab VII berisikan mengenai
pendahuluan, analisis

SWOT, sistem program pelatihan guru/tutor dan pelatihan

meningkatkan kompetensi. Bab VIII memuat tentang pedoman dan instrrumen pengukuran
kinerja dan terakhir Bab IX yang memuat mengenai kesimpulan dan rekomendasi.

Secara subsantif isi buku ini menguraikan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik
guru/tutor pendidikan kesetaraan masih lemah, umumnya belum memenuhi penguasaan
kompetensi pedagogik dan andragogik secara ideal, sehingga belum sesuai standar
kompetensi yang ditentukan. Lemahnya kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor
tersebut didasarkan pada indikator:
1. Secara umum guru/tutor pendidikan kesetaraan kualifikasi pendidikannya sudah S1, tetapi
berlatar belakang non-kependidikan. Kondisi ini mempengaruhi penguasaan kompetensi
pedagogik dan andragogik guru/tutor, dimana pemahaman mereka kurang dalam konteks
pembelajaran pada pendidikan kesetaraan.
2. Sebagian besar guru/tutor pendidikan kesetaraan dalam hubungannya dengan
penyelenggaraan pembelajaran mengalami ketidakcocokan (miss-match) antara bidang
keahlian guru/tutor dengan tugas mengajamya. Kondisi ini menunjukkan bahwa,
umumnya guru/tutor belum memenuhi standar kompetensi.

Perlunya model pelatihan berbasis kinerja (performance based training) sebagai sebuah
pendekatan pelatihan yang menitikberatkan pada kegiatan praktis dalam pelaksanaanya, dan
sekaligus merupakan sebuah intervensi

pembelajaran

untuk

meningkatkan kompetensi

pedagogik dan andragogik guru/tutor penidikan kesetaraan. Maka hal ini dapat dideskripsikan
bahwa:
1. Proses pengembangan model pelatihan yang dilakukan melalui uji kelayakan baik
160

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

oleh pakar dan praktisi dan telah memantapkan kelayakan model hipotetik
pelatihan

model

yang dikembangkan. Mantapnya kelayakan model hipotetik yang

dikembangkan, terbukti dari adanya sistematika dan hubungan antar komponen model
yang memudahkan implementasi model baik bagi fasilitator maupun peserta.
2. Model hipotetik pelatihan yang dikembangakan, telah disempurnakan, dan layak
diimplementasikan, dimana secara positif telah mengkondisikan peserta dalam
pelatihannya. Hal ini menunjukkan kemauan dan kemampuan berpartisipasi positif dalam
melakukan kegiatan belajar dan terciptanya komunikasi edukasi dalam pembelajaran
akibat intervensi model pelatihan yang dilakukan fasilitator terhadap peserta pelatihan.
3. Model pelatihan yang dikembangkan dalam pelatihan telah mampu memfasilitasi
guru/tutor, sehingga mereka mampu melakukan proses pembelajaran secara partisipatif
dan kolaboralif berdasarkan kebutuhan belajarnya, dan membuka akses untuk pemenuhan
kebutuhan peningkatan kompelensinya.

Implementasi model pelatihan berbasis kinerja yang dikembangkan, telah menunjukkan


efektivitas dalam perolehan hasil belajar yang didukung oleh sistematika dan hubungan antar
komponen yang adaptif, sehingga dapat dilaksanakan oleh fasilitator sebagai sumber belajar
dan oleh peserta pelatihan dalam melakukan upaya pengembangan kompetensinya. Hal ini
dapat dideskripsikan bahwa:
1. Fasilitator

berperan

sebagai

sumber belajar

dapat memperoleh dan memahami

strategi, metode, dan materi dalam model pelatihan yang dikembangkan. Fasilitator dapat
menerapkan model sesuai dengan prinsip dan prosedur, serta pendekatan yang dirancang
dalam model pelatihan ini.
2. Peserta pelatihan, menunjukkan kesungguhan dan motivasi yang cukup tinggi terhadap
penerapan model pelatihan berbasis kinerja. Bagi guru/tutor sebagai peserta pelatihan
memiliki keyakinan, bahwa model pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensinya, pada
gilirannya akan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran dalam pelaksanaan
pendidikan kesetaraan.

Hasil implementasi model pelatihan berbasis kinerja yang dikembangkan cukup efektif,
berpengaruh secara signifikan terhadap meningkatnya penguasaan kompetensi pedagogik dan
andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan. Hal ini diindikasikan bahwa:
1. Guru/Tutor setelah mengikuti model pelatihan berbasis kinerja mengalami peningkatan
Penutup

161

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kompetensi pedagogik dan andragogik cukup signifikan, baik pada dimensi pengetahuan
sebelum 58% dan sesudah mencapai 73% maupun keterampilan sebelum 33% dan
sesudah mencapai 64% yang terbukti terjadinya perbedaan prosentase penguasaan
kompetensi tersebut sebelum dan setelah pelatihan.
2. Besarnya peningkatan penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor
setelah implementasi model pelatihan yang dikembangkan, secara rata-rata mencapai
21% pada dimensi pengetahuan, dan 31% pada dimensi keterampilan guru/tutor
melaksanakan pembelajaran. Besarnya prosentase peningkatan penguasaan kompetensi
pedagogik dan andragogik tersebut mencapai 33%, sebagai pengaruh implementasi model
pelatihan yang dikembangkan (Sutisna: 2010).
3. Pandangan guru/tutor sebagai peserta dalam pelatihan, umumnya memberikan tanggapan
positif terhadap model pelatihan yang dikembangkan, cocok diimplementasikan dalam
memenuhi kebutuhan pengembangan kompetensi guru/tutor, sebagai model pelatihan
berbasis kinerja (performance based training), terbukti aktivitas peserta mengikuti
pembelajaran dalam pelatihan kondusif dan hasilnya optimal.

B. Rekomendasi

Buku model pelatihan berbasis kinerja ini diperlukan untuk para pengelola pelatihan sumber
daya manusia, khususnya untuk pelatihan guru/tutor karena sudah terbukti efektivitasnya bagi
terpenuhinya kebutuhan belajar guru/tutor dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogiknya. Oleh sebab itu, keberartian pengembangan model pelatihan ini memiliki
implikasi baik secara teoretis dalam menambah khasanah pengetahuan, maupun secara
praktis untuk kebijakan operasional yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pelatihan
guru/tutor.

Secara teoritis model pelatihan ini berkontribusi memperkuat teori-teori pendidikan dan
pelatihan yang dapat menambah khasanah pengetahuan dalam dimensi pendidikan luar
sekolah. Pendidikan dan pelatihan sebagai investasi penting dalam human capital, artinya
bahwa program-program pendidikan dan pelatihan dirancang dan dilaksanakan, pada
dasamya bertujuan untuk mengembangkan kinerja tenaga kerja, agar dapat meningkatkan
produktivitasnya. Model pelatihan berbasis kinerja (performance based training) dengan
pengembangan strategi pembelajarannya, secara nyata telah dapat meningkatkan kompetensi
162

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

tutor pendidikan kesetaraan. Sesuai temuan empirik penerapan model ini menunjukkan
efektivitasnya bagi terpenuhinya kebutuhan belajar guru/tutor dalam upaya meningkatkan
kompetensinya, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar dan kreativitas untuk
meningkatkan kinerja pembelajarannya dalam memenuhi kebutuhan untuk mengembangkan
kompetensi. Pada gilirannya akan mendukung efektivitas implementasi pendidikan
kesetaraan.

Model pelatihan berbasis kinerja pada implementasinya telah menunjukkan efektif dalam
meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, dan bisa diterima sebagai
alternatif pengembangan program pelatihan yang lebih kontekstual, efektif dan efisien sesuai
dengan kondisi guru/tutor. Hasil kajian dalam pengembangan model tersebut, dapat
memperkuat keunggulan pendidikan luar sekolah, yang menyatakan bahwa penyelenggaraan
pendidikan luar sekolah relatif lebih mengarah kepada yang praktis karena adanya programprogram pelatihan yang dilakukan dalam waktu singkat menghasilkan perubahan
pengatahuan, keterampilan dan sikap, program pendidikan luar sekolah, lebih berkaitan
dengan kebutuhan masyarakat (Sudjana, 2001: 39). Model pelatihan berbasis kinerja yang
dikembangkan terbukti efektif dengan hasil yang lebih optimal, karena upaya perbaikan
kualitas guru/tutor berlangsung praktis dan lebih kontekstual.

Secara praktis model pelatihan berbasis kinerja menunjukkan efektif dalam meningkatkan
kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor, sehingga dapat dijadikan altematif dalam
membantu meningkatkan kemampuan profesional guru/tutor di lembaga pendidikan, agar
penyelenggaraan program-program pendidikan berkembang ke arah yang lebih berkualitas,
dan efektif. Lembaga pendidikan umumnya tidak didukung oleh guru/tutor dalam jumlah
besar. Sekalipun jumlah yang ada cukup proporsional, namun secara kualitatif kompetensinya
masih rendah. Atas dasar hal tersebut, perlu diupayakan peningkatan profesionalitas mereka
secara lebih praktis dan efektif.

Bagaimana guru/tutor yang ada dapat memiliki kinerja yang tinggi, sehingga lembaga
pendidikan tetap mampu memberi layanan pembelajaran yang optimal kepada peserta didik.
Altematifnya adalah membekali keterampilan teknis praktis dan teori konseptual mengenai
penguasaan kompetensi pedagogik dan andragogik mereka melalui pelatihan berbasis kinerja
(performance based training), sebagai pendekatan kolaboratif, partisipatif, dan parktis dalam
Penutup

163

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kegiatan reflektif hasil pelatihan, serta dapat memberi masukan untuk pengembangan
kebijakan penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan lembaga pendidikan. Hasil
studi kasus di DKI Jakarta menunjukkan, bahwa:
1. Profil kualifikasi akademik guru/tutor umumnya dalam kondisi sudah qualified, hanya S1
dari non kependidikan

serta

terjadinya

ketidakcocokan

(miss-match) dalam

melaksanakan tugas mengajar pada implementasi pendidikan pada lembaga pendidikan.


2. Profil kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan pada
umumnya kurang dan belum sesuai dengan kompetensi ideal, yang harus mereka kuasai
dalam hubungannya sebagai agen pembelajaran.
3. Implementasi

model

pelatihan

ini secara signifikan cukup efektif meningkatkan

kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan kesetaraan.


4. Guru/Tutor dan penanggung jawab PKBM sangat terbuka untuk menerima dan bahkan
mengharapkan adanya upaya pengembangan dan peningkatan kompetensi guru/tutor
dalam hubungannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran pada pendidikan
kesetaraan, dan pengembangan kualitas sumber daya manusia pada umumnya.

Kemudian rekomendasi buku ini penting dalam upaya desiminasi model pelatihan berbasis
kinerja. Rekomendasi tersebut dapat disampaikan sebagai berikut: Pertama: Rekomendasi
untuk desiminasi model pelatihan berbasis kinerja (performance based training), telah
menunjukkan efektif berpengaruh signifikan dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan
andragogik guru/tutor di lembaga pendidikan. Berdasarkan hal tersebut, diharapkan para
pengambil keputusan dapat mendiseminasikan model ini sebagai alternatif untuk mendukung
keberlanjutan program pelatihan yang efektif dan efisien dalam hubungannya dengan
pengembangan kompetensi guru/tutor. Dalam implementasinya perlu secara konsisten
mengintegrasikan pengembangan komponen utama yakni komponen input, proses, output,
other input, dan outcome. Pertama, Komponen input, dikembangkan berdasarkan
subkomponen

yakni

identifikasi

peserta

(guru/tutor)

dengan

mempertimbangkan

karakteristiknya sebagai masukan mentah, identifikasi sumber belajar baik fasilitator maupun
bahan belajarnya didasarkan pada kesesuaiannya dengan kebutuhan belajar, analisis
karakteristik sosial budaya dalam lingkungannya, serta sarana dan prasarana sebagai
pendukung kelancaran pelaksanaan pelatihan. Kedua, proses pelatihan berfokus pada
pengembangan komponen perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi
hasil pelatihan.
164

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Perencanaan dikembangkan konsisten berdasarkan pada identifikasi dan analisis kebutuhan


belajar

peserta,

penyiapan

sumber

belajar,

dan

struktur

program

pembelajaran.

Pengorganisasian dilakukan baik terhadap personal yang akan terlibat dalam kegiatan,
maupun pengorganisasian program pembelajaran. Pengorganisasian program merupakan
desain program pelatihan, dengan mengembangkan strategi pelatihan yang meliputi:
1. Identifikasi tujuan pelatihan;
2. Identifikasi materi pelatihan;
3. Identifikasi media pelatihan;
4. Identifikasi sarana pelatihan;
5. Identifikasi metode pelatihan;
6. Identifikasi fasilitator;
7. Jadual pelatihan ditentukan bersama; dan
8. Identifikasi sumber biaya yang memungkinkan.

Pelaksanaan pelatihan dikembangkan berdasarkan pada urutan tahapan yakni:


1. Langkah pendahuluan dilakukan untuk pengkondisian pembelajaran dengan menekankan
pada pembelajaran partisipatif, interaktif, kolaboratif, dan demokratis;
2. Pelaksanaan (proses) pembelajaran didasarkan atas kejelasan peran fasilitator dan
partisipasi peserta;
3. Refleksi hasil pelatihan di wujudkan dalam bentuk kegiatan pelaksanaan pembelajaran
aktual oleh peserta yang diobservasi secara kolaboratif oleh fasilitator.

Evaluasi yang dilakukan harus konsisten mencakup tiga komponen, yakni:


1. Penilaian hasil belajar (output) dilakukan melalui pretest dan posttest untuk mengukur
tingkat penguasaan dimensi pengetahuan hasil belajar, dan observasi sebelum dan
sesudah pelatihan untuk mengukur tingkat penguasaan dimensi keterampilan; dan
2. Penilaian pengaruh (outcome) terhadap perbaikan kinerja guru/tutor sebagai peserta
dalam melaksanakan tugas pembelajaran, yang ditempuh melalui observasi pelaksanaan
kegiatan reflektif hasil belajar yakni dalam setting pembelajaran aktual yang dilaksanakan
peserta.

Penutup

165

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Secara khusus buku model pelatihan berbasis kinerja ini direkomendasikan kepada Lembaga
pendidikan dan Pelatihan yang mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan pelatihan
guru/tutor dilingkungan Dinas Pendidikan, sudah selayaknya mencoba menerapkan model
pelatihan ini untuk melakukan peningkatan kompetensi para guru/tutor.

Rangkuman
1. Kesimpulan buku ini, pada intinya terdiri dari dua bagian besar yaitu pertama
hasil kajian secara konseptual tentang pelatihan berbasis kompetensi dan
kinerja kemudian yang kedua merupakan implementasi model pelatihan
berbasis kinerja dalam meningkatkan kompetensi. Sedangkan secara rinci
uaraian buku ini muat dalam sembilan bab yaitu: bab satu pendahuluan, bab
dua pelatihan meningkatkan sumber daya manusia, bab tiga pelatihan
berbasis kompetensi, bab empat pembelajaran dalam pelatihan, bab lima
pelatihan berbasis kinerja, bab enam implementasi model pelatihan berbasis
kinerja, bab tujuh pelatihan meningkatkan kompetensi, bab delapan pedoman
implementasi dan pengukuran kinerja serta terakhir bab sembilan penutup.
2. Rekomendasi buku model pelatihan berbasis kinerja ini diperlukan untuk
para pengelola pelatihan sumber daya manusia, khususnya untuk pelatihan
guru/tutor karena sudah terbukti efektivitasnya dalam meningkatkan
kompetensi pedagogik dan andragogiknya. Oleh sebab itu, keberartian
pengembangan model pelatihan ini memiliki implikasi baik secara teoretis
dalam menambah khasanah pengetahuan, maupun secara praktis untuk
kebijakan operasional yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan pelatihan
guru/tutor.

Referensi
Sutisna, Anan. (2010). Model Pelatihan Berbasis Kinerja untuk Meningkatkan Kompotensi
Tutor. Jurnal Cakrawala Pendidikan ISPI DIY No.3 Th XXIX
Sudjana, Djudju. (2001), Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan
Pengembangan Sumberdaya Manusia, Bandung: Fallah Production.

166

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Z. (1981). Andragogi, Bandung : Angkasa


Blanchard, P. N. and James, W. T. (2004), Effective Training, system, strategies, and
practices, New Jersey : Pearson Prentice Hall.
BSNP. (2008). Draf Standar Tutor Pendidikan Kesetaraan, Jakarta: Depdiknas.
Burke, W. J. (2005), Competency Based Education and Training, The Falmer Press: London
Cranton, P. A. (1992). Working with Adult Learners. Toronto: Wall & Emerson, Inc.
Creswell, J. W. (2008), Educational Reseaerch, Planning, Conducting, Evaluating
Qualitative and Quantitative researchers, New Jersey : Pearson Merrill prentice
hall.
Depdiknas, (2006). Pedoman Evaluasi Kinerja SDM Diklat. Direktorat Pembinaan Diklat.
Ditjen. PMPTK.
------------, (2006) Pendidikan Kesetaraan, Direktorat Pendidikan Kesetaraan, Ditjen. PLS
------------, (2006). Standar Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Direktorat PTK
PNF Ditjen. PMPTK.
Dinas Pendidikan. (2008). Kualifikasi Pendidikan Tutor Paket C. Jakarta: Disdik Provinsi
DKI Jakarta.
Dubois, D. and Rothwell, W. (2004), Competency Based or Traditional Approach to
Training. [Online]. Tersedia http://www.eric.ed.gov [4 Maret 2009]
Dubois, D. (1993), Competency Based Performance Improvement: A Strategy for
Organization Change, United Stated by HRD Press. Inc.
Finger, M. & Asun, J. M. (2004). Quo Vadis Pendidikan Orang Dewasa (Alih Bahasa:Nining
Fatikasari) Yogyakarta : Pustaka Kendi
Friedman, P. G., & Elaine, A. Y. (1985). Training Strategies. Prentice-Hall, Inc. Englewood
Cliffs, New Jersey
Gall, M. D., Gall J. P., & Borg W. R. (2003), Educational Research An Introduction. 7 th.
Ed. Boston : Pearson Education, Inc.

Daftar Pustaka

167

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Goad. T. W. (1982). Delivering Effective Training. San Diago California Inc. : University
Assoiciate
Halim, A & Ali M. M. (1993). Training and Profesional Development [On-line].
http://www.fao.org [12 Desember 2008]
Hamalik, O. (2000). Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung: SPs Universitas
Pendidikan Indonesia.
Havelock, R. G. (1991), Change The Agents Guide. New Jersey, Educational Technologi
Publications, Inc.
Jacius, M. J. (1968). Personal Manajement. Tokyo : Charles E. Tutle Company
Kamil, M. (2007). Teori Andragogi, dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung.
Pedagogiana Press.
------------. (2009). Pendidikan Non Formal, Pengembangan Melalui Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat di Indonesia, Sebuah Pembelajaran dari Kominkan Jepang. Bandung
Alfabeta.
Kepmen. Pendidikan Nasional Nomor 0132/U/2004 tentang Program Paket C Setara
SMA/MA. Jakarta: Depdiknas.
Kirkpatrick, D. L. (1996). Evaluatig Training Programs. San Fransisco: Berret-Kohler
Publisher.
King, P. (1993). Performance Planning & Appraisal, A How-To Book for Manager. New
York: McGraw-Hill Book Company.
Knowles, M. S., (1986), The Adut Learner, A Neglected Species. Houston: Gulf Publishing
Company.
Knowles, M. S. (1984). Andragogy in Action: Applying Modern Principles of Adult Learning.
San Francisco: Jossey Bass Inc.
Leatherman, D. (2007), The Training Trilogy Third Edition, Conducting Needs Assessments
Designing Programs Training Skills. HRD Press, Inc. Amhers, Massachusetts.
Mangkunegara, A. P. (1986) Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung.
Rosdakarya.
-------------- (2005). Evaluasi Kinerja SDM. Bandung. Refika Aditama.
Mayo & Dubois, D. (1987). The Complete Book of Training, California : University CSU
Mitrani, A., Daziel, M., And Fitt, D. (1992), Competency Based Human Resource
Management: Value-Driven Strategies for Recruitment, Development and Reward,
Kogan Page Limited:London.
168

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Mc. Ashan, M. W. (1981), Competency Based Education and Bahavioral Objective,


Englewood Cliffs, Education Technologycal Publication Inc. New Jersey.
Moekijat. (1993). Evaluasi Pelatihan dalang Rangka Peningkatan Produktivitas. Bandung :
Mandar Maju
Nawawi, H. (1997). Manajemen Strategik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan
dengan Ilustrasi di Bidang Pendidikan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Nasution, S. (1986). Didaktik Azas-azas Mengajar, Bandung : Jemmar
Nedler,

L. (1982) Designing Training Programs, The Criticl events Model London:


Addison Wesley Publishing Company

Nitisemito, A.S. (1982) Menejemen Personalia, Jakarta : PT. Gramedia


Permen. Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs/Paket B dan SMA/MA/Paket C. Jakarta:
Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
Permen. Pendidikan Nasional Nomor 3 Tahun 2008 tentang Standar Proses Pendidikan
Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas.
PP. Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta. Depdiknas.
Rasyid, A. (2008), Profil Balai Pengengembangan dan Pelatihan Pendidikan Luar Sekolah
Provinsi DKI Jakarta, Jakarta: BP3LS.
Robinson, D.G. (1981) Training for Impact. San Fransisco : Josey Bass Publishers.
Rothwell, W. J. and Kazanas H.C. (1996), Improving on-the-job Training, How to Establish
and Operate a Comprehensive OJT Program, Second Edition :John Wiley & Son
Inc. San Fransisco.
Ryllatt, A., et.al, (1993), Creating Training Miracles, AIM Australia.
Sanghi, S. (2007). The Hanbook of Competency Mapping, Understanding, Designing, and
Implementing Competency Models in Organizations. Sage Publications. AsiaPasific, Ltd.
Sanjaya. W. (2005). Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Jakarta : Pernada Media
Siegel, S. (1994), Statistiik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial,
Pustaka Utama.

Jakarta, Gramedia

Daftar Pustaka

169

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Siagian, S. P., (1998), Menejemen Sumber Daya Manusia, Jakarta : Bumi Aksara
Simamora, H. (1997), Manajemen Sumber daya Manusia, Jakarta: STIE YPKN
Simon, M. and Jacinta, C. (2005), Step on the Road Toward Competency based Training
Development
ICAIs
Education
and
Training
Process.
Tersedia
http://www.eric.ed.gov [4 Maret 2009]
Smith R.M., (1982), Learning How to Learn Applied Theory for Adults, Chicago, Follet
Publishing Company.
Spencer, M. L., and Spencer, M. S. (1993), Competence at Work:Models for Superrior
Performance, John Wily and Son. Inc. New York, USA.
Sugiyono, (2007), Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung, Alfabeta.
Sudjana D., (2005), Strategi Pembelajaran dalam Pendidikan Luar Sekolah, Bandung:
Nusantara Press.
-----------, (1992), Manajemen Program Pendidikan Untuk Pendidikan Nonformal dan
Pengembangan Sumberdaya Manusia, Bandung: Fallah Production.
Supriyatno, N. (2008), Pengembangan Model Pembelajaran dalam Pelatihan di Tempat
Kerja untuk Peningkatan Kompetensi Tutor Kesetaraan Paket B di Pondok
Pesantren, Disertasi, Pendidikan Luar Sekolah, SPs:UPI
Suriasumantri, J.S., (2005), Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Supriadi, D. (1998). Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Bandung: Adicita Karya Nusa.
Suryadi, A. (2006), Peningkatan Layanan Berbagai Program Pendidikan Nonformal
(Makalah disampaikan dalam pertemuan dengan Mitra PLS), Jakarta: Depdiknas.
Syamsudin, E. (2008), Percepatan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidik dan Kependidikan
Pendidikan Nonformal, sesuai BSNP (Makalah disampaikan dalam pertemuan
dengan Perguruan Tinggi) di Yogyakarta,
Terence, M. (1978). People in Organisations Understanding Their Behavior. Kogaksha:
McGraw-Hill Book Company.
Trisnamansyah, S. (2007). Pendidikan Orang Dewasa dan Usia Lanjut. (Hand Out Kuliah
PLS UPI). Bandung. SPS UPI
UNESCO, (1993). Appeal Training Materials for Continuing Education Personal, Bangkok:
UNESCO Principal Regional Office for Asia Pasific.

170

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Wariyanto, (2005), Hubungan antara Hasil Pelatihan, Motivasi Kerja, dan Pemberian
Kompensasi dengan Kinerja Tutor dalam Pengelolaan Pembelajaran Kejar Paket
C, Thesis Magister Pendidikan Luar Sekolah, SPs:UPI
Widyasari Suzy, (2004). Competency Based Education and Training Training (CBET).
Tersedia http://www.id-jurnal.blogspot.com [4 Maret 2009]
Whitmore, J. (1997). Coaching Performance. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Daftar Pustaka

171

Pelatihan Berbasis Kkinerja

172

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

LAMPIRAN: 01
PEDOMAN PELATIHAN BERBASIS KINERJA

A. Pendahuluan
Dalam rangka meningkatkan peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai lembaga
pendidikan luar sekolah, serta untuk membuka kesempatan bagi warga masyarakat yang ingin
menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, maka dilakukan melalui pendidikan kesetaraan
(program paket A setara SD/MT, paket B setara SMP/MTs dan paket C setara SMU/MA).
Seiring dengan keinginan tersebut, maka lahirlah beberapa peraturan yang memayungi
pendidikan kesetaraan antara lain:
1. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0131/U/1994 Tentang paket A dan
Paket B,
2. Keputusan Mentri Pendidikan Nasional RI Nomor: 132/U/2004 tentang program paket C,
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar
Kompetensi Lulusan Untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs./Paket B dan SMA/MA/Paket C,
dan
4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi
untuk program paket A, program paket B, dan program paket C.
Meskipun demikian, dalam konteks peningkatan mutu pendidikan dan perluasan akses dari segala
lapisan sosial masyarakat terhadap pendidikan, peran lembaga pendidikan dalam melaksanakan
pendidikan kesetaraan khususnya masih perlu lebih ditingkatkan, utamanya keberadaan tutor yang
berkompetensi memadai sebagai agen pembelajaran di lembaga pendidikan. Keberadaan
guru/tutor pendidikan kesetaraan tidak dipersiapkan secara kuhusus, sehingga kenyataan
menunjukkan bahwa guru/tutor di lembaga pendidikan dalam melaksanakan program pendidikan
kesetaraan kualifikasi akademiknya kurang (underqualified), dan terjadi ketidakcocokan
profesionalnya (miss-match) dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan kesetaraan.

Lampiran

173

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Kondisi

tutor

dengan

kualifikasi

kurang

(underqualified), dan ketidakcocokan keahlian

melaksanakan pembelajaran (miss-match), berdampak pada

kurangnya kualitas

pelaksanaan

pembelajaran pendidikan kesetaraan pada lembaga pendidikan, dan akan berpengaruh pada mutu
lulusan. Oleh sebab itu diperlukan adanya pengembangan profesional guru/tutor melalui berbagai
alternatif,

antara

andragogik)

lain

meningkatkan kompetensinya (khususnya kompetensi pedagogik dan

melalui pelatihan yang dikembangkan ke arah pelatihan yang lebih efektif dan efisien,

yaitu pelatihan berbasis kinerja (perforcemance based training) untuk peningkatan kompetensi guru/tutor
pendidikan kesetaraan.
1. Landasan Hukum
a. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 73 tahun 1971 tentang Pendidikan Luar Sekolah;
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Standar
Kompetensi Lulusan Untuk SD/MI/Paket A, SMP/MTs./Paket B dan SMA/MA/Paket C
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 14 Tahun 2007 tentang Standar Isi
untuk program paket A, paket B, dan program paket C;
e. Keputusan Mentri Pendidikan Nasional RI Nomor: 132/U/2004 tentang program paket
C; .

2. Tujuan
a. Tujuan Umum
Secara umum tujuan yang hendak dicapai dalam implementasi model pelatihan berbasis kinerja
(performance based training) yang dikembangkan ini, adalah untuk meningkatkan kompetensi
guru/tutor pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan yang lebih efektif, sehingga pada
gilirannya pembelajaran pada pelaksanaan program pendidikan kesetaraan di lembaga
pendidikan efektivitasnya akan lebih meningkat.
b. Tujuan Khusus
Secara khusus tujuan pelatihan berbasis kinerja (performance based training) yang
direkomendasikan, adalah:
(1) Meningkatkan kompetensi pedagogik dan andragogik guru/tutor pendidikan
kesetaraan di lembaga pendidikan;
(2) Mendorong guru/tutor program pendidikan kesetaraan sebagai agen pembelajaran,
174

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

agar dapat memenuhi kompetensi ideal


dan andragogik)

(khususnya untuk kompetensi

pedagogik

sesuai standar kompetensi guru/tutor yang ditetapkan.

(3) Meningkatkan kinerja mengajar guru/tutor program pendidikan kesetaraan pada


lembaga pendidikan dalam implementasi program pembelajaran pendidikan
kesetaraan.

B. Prosedur Penerapan Model Pelatihan


Prosedur yang ditempuh dalam penerapan model pelatihan berbasis kinerja (performance based
training), terdapat empat tahapan yang harus dilalui yakni:
1. perencanaan,
2. pengorganisasian,
3. pelaksanaan, dan
4. Evaluasi.

1. Tahap perencanaan

Perencanaan yang dilakukan untuk melaksanakan kegiatan pelatihan berbasis kinerja (performance
based training) yang direkomendasikan, menempuh kegiatan:
a. analisis kebutuhan belajar secara urnum,
b. identifikasi kebutuhan belajar peserta,
c. identifikasi sumber belajar, dan
d. koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.

Analisis kebutuhan belajar secara umum, didasarkan pada masukan dari pembina dan pengelola
program pendidikan kesetaraan di lembaga pendidikan, baik pembina dan pengelola program pada
lembaga pendidikan maupun di Dinas Pendidikan Provinsi dan Kota. Masukan dari pengelola dan
pembina program dilakukan melalui wawancara dengan informan sebagai pengelola dan pembina
program pendidikan kesetraan.
Identifikasi/penetapan kebutuhan belajar, dilakukan bersama dengan warga belajar (guru/tutor peserta
pelatihan). Teknik yang digunakan dalam penetapan kebutuhan belajar peserta menggunakan
instrumen identifikasi dan wawancara langsung dengan peserta. (contoh instrumen identifikasi
Lampiran

175

Pelatihan Berbasis Kkinerja

kebutuhan belajar terlampir). Berdasarkan hasil isian instrumen identifikasi kebutuhan belajar,
selanjutnya ditentukan kebutuhan belajar porsi terbanyak, yang dijadikan dasar menentukan struktur
program pembelajaran. Identifikasi sumber belajar, kegiatan yang ditempuh adalah menentukan dan
menyusun, serta mengadakan bahan ajar yang relevan dengan kebutuhan belajar yang telah
ditetapkan untuk digunakan oleh peserta. Dalam tahap identifikasi sumber belajar juga dilakukan
penunjukkan dan penetapan fasilitator yang relevan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Koordinasi dengan pihak terkait, untuk lancarnya kegiatan pelatihan, maka sebelum kegiatan
dilaksanakan, terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, yaitu penanggung
jawab lembaga pendidikan, pengelola dan pembina program di Dinas Pendidikan Provinsi maupun
Sudin pendidikan kota.
2. Tahap Pengorganisasian

Pada tahap pengorganisasian, kegiatan yang dilaksanakan adalah merumuskan program pelatihan
sesuai dengan model pelatihan yang direkomendasikan. Perumusan atau penyusunan program
pelatihan tersebut, didasarkan kebutuhan belajar yang telah diidentifikasi sebelumnya. Perumusan
program pelatihan meliputi perencanaan pelatihan, jadwal pelatihan, identifikasi fasilitator, sumber
belajar, sarana dan prasarana, pembiayaan dan lain sebagainya.

Untuk

memudahkan dalam

pengorganisasian perlu memperhatikan:


Pertama, perencanaan pembelajaran dalam pelatihan memuat komponen:
a. Tujuan pembelajaran, adalah kompetensi/kemampuan yang ingin dicapai disesuaikan tujuan
umum yaitu peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada kompetensi pedagogik dan
andragogik tutor untuk mengelola pembelajaran pendidikan kesetaraan di lembaga
pendidikan;
b. Pengembangan materi pembelajaran, yaitu materi pembelajaran sesuai kebutuhan belajar yang
diarahkan pada kemampuan-kemampuan dasar dalam bentuk kemampuan pengetahuan dan
keterampilan, isi materi dapat berupa fakta, konsep, prinsip, dan prosedur untuk
meningkatkan kemampuan mengelola pembelajaran dalam program pendidikan kesetaraan;
c. Pengalaman belajar, yaitu aktivitas belajar yang harus dilakukan peserta dalam rangka
mencapai kompetensi baik kognitif, afektif maupun psikomotorik, dan materi pembelajaran;
d. Menentukan alokasi waktu, untuk dapat memperkirakan waktu yang diperlukan untuk

176

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mempelajari satuan-satuan materi pembelajaran, alokasi waktu didasarkan pada banyaknya


cakupan materi, tingkat kesulitan, frekuensi penggunaan dan pentingnya materi
pembelajaran tersebut;
e. Menentukan sumber belajar, yaitu bahan pembelajaran yang memuat materi yang relevan dan
dikembangkan sesuai untuk digunakan dalam pembelajaran baik berupa bahan ajar yang
dikembangkan sendiri maupun dalam bentuk buku cetak yang telah tersedia;
f. Pemilihan media pembelajaran, yaitu alat bantu dalam melaksanakan digunakan untuk
mendukung kelancaran dan efektivitas pelatihan,
g. Evaluasi pelatihan, didasarkan pada observasi unjuk kerja atau kemampuan peserta
dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan, baik terhadap penilaian proses maupun
penilaian hasil belajar.
Dari uraian di atas, maka pengembangan program pembelajaran hendaknya dapat menjawab
pertanyaan:
1) apa yang akan diajarkan (kemampuan dan materi pembelajaran),
2) bagaimana cara mengajarkannya (pengalaman belajar, metode dan media, dan
3) bagaimana dapat diketahui bahwa kompetensi/kemampuan telah tercapai (evaluasi, dan
sistem penyajian).
Dari ketiga pertanyaan tersebut, maka dirumuskan matrik program pembelajaran sebagaimana
berikut.

Tabel 1: Contoh Matrik Program Pembelajaran dalam Pelatihan

Tujuan

Materi
pokok

Pengalaman
Belajar

Evaluasi
Aloka si Sumber
Indikator Jenis Tagi- Bentuk
waktu dan media
han
Instrumen

Lampiran

177

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Kedua, terkait dengan jadwal pelatihan, jadwal pelatihan dirumuskan dan disusun bersama,
antara calon peserta (guru/tutor) bersama fasilitator dan/atau perancang program, dengan
memperhatikan kesempatan semua pihak baik peserta maupun fasilitator serta pihak lain
yang akan dilibatkan dalam kegiatan. Penyusunan jadwal hendaknya diupayakan sejelas
mungkin, dengan memperhatikan contoh matriknya sebagai berikut.

Tabel 2. Contoh Matrik Jadwal Pembelajaran

No.

Hari/tanggal

Waktu
Kegiatan

Uraian
Kegiatan

Narasumber/
Fasilitator

Keterangan

Ketiga, berkaitan dengan fasilitator, yairu orang sebagai sumber belajar yang akan memfasilitasi
pembelajaran, sehingga perlu diidentifikasi/ditentukan dengan pertimbangan kemampuannya
untuk membimbing/memfasilitasi belajar sebagai sumber belajar yang dipercaya menguasai
materi pembelajaran yang relevan, sehingga pembelajaran yang dilakukannya akan efektif.
Keempat, berkenaan dengan sarana dan prasarana yang mendukung iklim pelatihan berupa
perlunya tersedia ruang belajar, bahan ajar, media serta perlengkapan lain yang mendukung
kelancaran pelatihan.
Kelima, berkaitan dengan sumber pembiayaan, sumber pembiayaan ditanggung oleh pihakpihak terkait yang terlibat, seperti pembina dan pengelola program pendidikan kesetaraan
ditingkat provinsi/kota, bahkan dari Departemen Pendidikan Nasional tingkat pusat. Jika
memungkinkan sumber pembiayaan dilakukan secara mandiri oleh pihak lembaga pendidikan
sebagai kebutuhan pengembangan (guru/tutor) yang ada di lingkungannya sendiri.

178

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

3. Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pelatihan menekankan pada pendekatan pembelajaran orang dewasa,
dengan iklim pembelajaran yang mengkondisikan belajar secara partisipatif, demokratis, dan
praktis melalui fasilitator yang diarahkan pada kegiatan reflektif sebagai unjuk kerja sebagai
guru/tutor. Fasilitator sebagai sumber belajar memposisikan diri untuk mampu mengelola dan
memfasilitasi pembelajaran. Pada tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran perlu ditempuh sejumlah
langkah pokok yang digambarkan seperti terlihat pada tabel di bawah.
Tabel 3: Matrik Langkah-langkah Pokok Pembelajaran dalam Pelatihan
Tahapan
Kegiatan Fasilitator
Kegiatan
(1)
(2)
(3)
1. Pembukaan Menyiapkan bahan ajar.
Menentukan fasilitas dan alat-alat.
Menanamkan rasa akrab, dan
membina keakraban diantara
peserta dan fasilitator sendiri.
Menyampaikan informasi lisan
tujuan dan strategi pembelajaran
yang akan dilaksanakan.
Memberikan kesempatan
merespon dan sekaligus
melakukan kegiatan apersepsi
untuk masuk materi pembelajaran

No.

Kegiatan Peserta
(4)
Menerima bahan ajar untuk
dipelajari baik secara kelompok
maupun mandiri
Menjalin keakraban dintara
mereka dan memperkenalkan
diri dengan fasilitator
Menyimak informasi tujuan
dan strategi belajar yang harus
ditempuh
Mendiskusikan dan bertanya
serta menyepakati durasi waktu
yang sesuai.

2. Membentuk Pembagian kelompok, jika jumlah Membagi diri dalam kelompok


kelompok
peserta cukup besar
Menyimak untuk memahami
belajar
tugas belajar dalam kelompok
3. Memberikan Membantu peserta menemukan Mendiagnosis kebutuhan belajar,
pengalaman
kebutuhan belajar, melaui
yaitu:
belajar
Memfasilitasi pengalaman
Mengungkapkan kemampuan
kepada
belajar untuk membentuk
yang diinginkan
peserta
kemampuan yang diinginkan
Gambaran kemampuan yang
Memfasilitasi peserta
telah dimiliki dan kemampuan
menggambarkan kemampuan
yang perlu dikembangkan
yang telah dimilik.

Lampiran

179

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Menemukan Membantu peserta menemukan secara kelompok dan


dan
tujuan belajar, melalui upaya:
kolaboratif , peserta menyusun
mengungkap merumuskan tujuan yang akan
dan merumuskan tujuan belajar;
kan tujuan
dicapai melalui kegiatan
tujuan belajar dirumuskan
belajar
belajar;
secara khusus dan
menggambarkan perubahan
memahami pentingnya tujuan
tingkah laku/kemampuan;
belajar, sebagai arah kegiatan
belajar, sebagai rujukan
Merumuskan tujuan belajar
kegiatan
secara khusus dalam bentuk
topik, konsep, atau unsur- unsur
memilih komponen komponen
perbuatan yang diperoleh
pembelajaran, dan sebagai
melalui kegiatan belajar.
tolok ukur dalam evaluasi hasil
belajar

5. Mengorganis
asikan
pengalaman
belajar

Mengungkapkan,
Menyiapkan diri untuk
pengorganisasian bahan belajar
mempelajari bahan belajar yang
yang telah disusun;
diberikan
Mengungkapkan prosedur
Mempelajari bahan belajar
mempelajari bahan belajar, melalui
berdasarkan setiap topik secara
langkah-langkah yang berurutan;
mandiri
Memfasilitasi diskusi dan
Melakukan diskusi hasil
pembahasan setiap topik.
mempelajari bahan belajar, dan
penyelesaian tugas.

180

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

6. Melaksanaka Melaksanakan tahap


n
pendahuluan dalam
langkahpembelajaran, dengan kegiatan
langkah
diantaranya:
kegiatan
Mendiagnosis pengalaman
pembelajara
peserta;
n
memotivasi peserta
mengungkap tujuan
menyampaikan urutan materi
pembelajaran yang akan dibahas.
Menjelaskan cara belajar yang
harus ditempuh peserta
Malaksanakan tahapan inti
pembelajaran,yang meliputi
antara lain:
presentasi dan pembahasan
materi yang relevan yang harus
dikuasai peserta
Memberikan bimbingan yang
diperlukan
Memberikan tugas- tugas yang
harus dikerjakan selanjutnya
Melakukan penilaian akhir
pembelajaran bersama dengan
peserta, melalui langkah:
(1) meminta pendapat peserta
tentang proses pembelajaran
(2) membagikan lembar bagi
peserta
(3) Menyusun dan membagikan
lembar pengamatan
(4) Melakukan pengamatan
bersama peserta terhadap
peserta lainnya yang
mengajar

Mengungkapkan pengalaman
mengajar dan permasalahan
yang dihadapi setiap
melaksanakan tugas.
Memperhatikan penjelasan
fasilitator tentang tujuan yang
telah dirumuskan dan urutan
materi yang akan dipelajari.
Memperhatikan penjelasan
dalam pembahasan materi
yang disampaikan fasilitator
Mengajukan pertanyaan
Meminta bimbingan
Fasilitator
Memberikan masukan atas
jawaban yang kurang Jelas
Memberikan
masukan/pendapat tentang
proses pembelajaran yang
dilakukan
Mengisi lembar penilaian baik
proses maupun hasil belajar
Memberikan masukan/saran
untuk perbaikan

Lampiran

181

Pelatihan Berbasis Kkinerja

7. Refleksi
Memandu diskusi hasil
kompetensi
pengamatan mengajar dari
hasil
peserta
belajar
Urun rembuk bersama peserta
peserta
untuk memberikan saran-saran
perbaikan mengajar selanjutnya

Merencanakan kegiatan
reflektif (implementasi
mengajar dalam setting
pembelajaran nyata, melalui:
Membuat rencana
pembelajaran
Melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan rencana
pembelajaran
Saling melakukan observasi
kolaboratif proses
pembelajaran
Diskusi hasil observasi proses
pembelajaran sejawatrnya
Memberikan saran- saran
untuk perbaikan pembelajaran

d. Tahap Evaluasi
Evaluasi yang dimaksudkan di sini adalah evaluasi program dari model pelatihan yang
digunakan untuk melihat sejauh mana pengaruhnya terhadap perubahan atau peningkatan
kompetensi khsusunya kompetensi pedagogik dan andragogik dimensi pengetahuan, dan
keterampilan pada pelaksanaan pelatihan. Evaluasi program bukanlah kegiatan untuk
mengukur karakteristik unsur-unsur program seperti komponen proses dan hasil program,
sebab kegiatan itu lebih tepat apabila dikategorikan ke dalam pengukuran (measurement).
Evaluasi program mencakup pengukuran terutama dalam menilai keluaran (output) dan
pengaruh (outcome). Keluaran adalah adanya peningkatan kompetensi pedagogik dan
andragogik dalam ranah pengetahuan dan keterampilan. Pengaruh adalah manfaat yang
dialami lulusan (peserta) setelah mengikuti pelatihan dalam peningkatan kinerja pembelajaran
pada warga belajar (Sudjana, 2006:17-18), Sesuai dengan prinsip pembelajaran, bahwa
pembelajaran sebagai upaya peningkatan dimana peserta mengubah sikap, memperbaiki
pengetahuan, dan meningkatkan keterampilan sebagai hasil dari mengikuti program pelatihan
(Kirkpatrick, 1994:22).
Evaluasi kompetensi pedagogik dan andragogik dimensi pengetahuan dilakukan melalui tes,
relevan dengan materi yang dipelajari, tes dilaksanakan sebelum dan sesudah pelaksanaan

182

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

pelatihan dan hasilnya diperbandingkan sehingga diperoleh perbedaan skornya (gain) dan
prosentase perubahannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat contoh formatnya sebagai berikut:
Tabel.4: Format Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Pada Aspek Pengetahuan

No.

Nama Peserta

Hasil Tes
Skor Sebelum Skor Sesudah
Pelatihan
Pelatihan

Selisih
(gain)

% perubahan

Jumlah
Rata-rata

Evaluasi kompetensi dimensi keterampilan dari hasil belajar peserta, dilakukan melalui
pengamatan terhadap praktek pembelajaran dalam kegiatan peer tutorial. Evaluasi tersebut
menggunakan instrumen pengamatan, yang disusun berdasarkan pada aspek keterampilan
mengajar yang diamati. Format instrumennya dapat dilihat pada contoh di bawah ini.
Tabel 5: Format Pengamatan Hasil Belajar Peserta Aspek Keterampilan
No.

Kegiatan/unsur yang diamati


1

Skala Nilai
2
3

Untuk mengetahui perubahan keterampilan peserta, didasarkan pada hasil pengamatan yang
direkap dalam suatu matriks hasil pengamatan pelaksanaan tindakan pmbelajaran, akan
diketahui tingkat perubahan dengan melihat selsih/perbedaan (gain) dari memperbandingkan

Lampiran

183

Pelatihan Berbasis Kkinerja

hasil pengamatan sebelum pelatihan dan setelah pelatihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
matriknya seperti pada tabel berikut.
Tabel.6: Matrik Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Pada Aspek Keterampilan

No.

Nama Peserta

Hasil Pengamatan
Skor Pra
Skor Pasca
Pelatihan
Pelatihan

Selisih
(gain)

% perubahan

Jumlah
Rata-rata

Untuk melakukan evaluasi pengaruh (outcome) dari hasil pembelajaran dalam pelatihan, dilakukan
berdasarkan observasi reflektif terhadap pelaksanaan pembelajaran sebagai implementasi mengajar
oleh peserta dalam setting pembelajaran nyata. Menilai pengaruh dari pelatihan, dilakukan penilaian
kinerja peserta dalam mengajar melalui observasi (reflektif). Observasi reflektif terhadap kinerja
mengajar dalam setting pembelajaran nyata dilakukan secara kolaboratif diantara peserta bersamasama fasilitator yang hasilnya ditindaklanjuti melalui diskusi untuk memberikan saran-saran perbaikan
mengajar selanjutnya. Adapun format observasi dapat digunakan contoh sebagai sebagai berikut:
Tabel.7: Format observasi kinerja peserta dalam implementasi mengajar
No.

Aspek Kinerja Dalam


Baik sekali
Pembelajaran
(5)

Baik
(4)

Skala dan skor


Cukup
Kurang
(3)
(2)

Sangat
kurang (1)

Selanjutnya skor hasil observasi reflektif dari setiap peserta berdasarkan setiap aspek kinerja
yang dinilai, secara keseluruhan diambil rata-ratanya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
klasifikasi performansi setiap tutor/peserta dalam mengajar dari setiap peserta, dan

184

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

mengetahui pula klasifikasi rata-rata kinerja peserta secara keseluruhan berdasarkan kriteria
yang ditentukan.
Tabel. 8 Matrik Hasil Penilaian Kinerja Mengajar Peserta
No.

Nama Peserta

Jumlah Skor Rata-rata skor

Kategori

Rata-rata

Refleksi pelatihan yang dilakukan peserta, baik performansi secara individual ataupun kinerja
rata-rata dalam kelompok berdasarkan kategorinya, yaitu baik sekali, baik, cukup, kurang atau
sangat kurang, sesuai kriteria yang ditentukan.

C. Instrumen Pengukuran Kinerja


Dalam implementasinya model pelatihan berbasis kinerja memerlukan beberapa instrumen
pengukuran antara lain:
1. instrumen tes tertulis kompetensi pedagogik dan andragogik dimensi pengetahuan,
2. instrumen pedoman observasi kompetensi dimensi keterampilan,
3. angket profil kompetensi pedagogik dan andragogik tutor pendidikan kesetaraan dan
4. angket pendapat peserta pelatihan terhadap pelaksanaan pelatihan berbasis kinerja.
Keempat jenis instrumen ini akan diuraikan secara lengkap dengan indikator-indikatornya di
bawah ini.

Lampiran

185

Pelatihan Berbasis Kkinerja

LAMPIRAN: 02
INSTRUMEN TES TERTULIS PENILAIAN KOMPETENSI
PEDAGOGIK DAN ANDRAGOGIK DIMENSI PENGETAHUAN
1. Petunjuk Pengisian
a. Tuliskan identitas Anda pada kolom yang tersedia
b. Jawablah soal dengan cara memberikan tanda silang (X) pada pilihan jawaban A, B, C,
atau D yang menurut Anda paling tepat
c. Waktu penyelesaian soal 60 menit
Nama
: ..........................................................................................
Alamat
: ..............................................................................................
Pendidikan Terakhir : ............................................................................................
Tempat Tugas
: ..............................................................................................
Hari/tanggal
: / ..
2. Soal-soal
1. Pembelajaran yang menekankan pada pengembangan kemampuan kognitif warga
belajar, diantara strateginya adalah sebagai berikut, kecuali....
A. pemberian tugas-tugas latihan
B. penugasan untuk mempelajari buku sumber
C. melatih warga belajar biasa beradaptasi dalam lingkungan
D. memberikan pemantapan terhadap materi pembelajaran
2. Agar belajar lebih bermakna dan mengembangkan berpikir warga belajar, strategi
pembelajaran yang lebih tepat digunakannya adalah ....
A. membiasakan warga belajar menghafal materi pelajaran
B. membiasakan warga belajar berlatih memecahkan masalah
C. membiasakan warga belajar merangkum materi pelajaran
D. membiasakan warga belajar mendengarkan tutor mengajar dengan baik
3. Kemampuan pemahaman tutor terhadap perkembangan akhlak mulia warga belajar
sesuai dengan norma religius, termasuk prinsip ....
A. perkembangan kognitif
B. perkembangan kepribadian
C. perkembangan keterampilan
D. perkembangan kedewasaan
4. Bimbingan dalam pembelajaran merupakan suatu proses, hal ini mempunyai makna
pokok ....
A. mengarahkan perkembangan pribadi warga belajar sesuai potensinya
B. mendoromng warga belajar mencapai prestasi belajar tertentu
C. mendorong warga belajar tetap tumbuh motivasi belajarnya
D. pemahaman mendalam tentang kepribadian warga belajar

186

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

5. Untuk mengetahui bekal ajar awal warga belajar pada awal kegiatan pembelajaran, apa
yang Anda lakukan?
A. mengungkapkan tujuan pembelajaran
B. mengungkapkan tugas apa yang akan dipelajari
C. memberikan dorongan atau motivasi belajar
D. memberikan pertanyaan-pertanyaan bersifat apersepsi
6. Strategi pembelajaran yang berpusat lebih banyak pada aktivitas tutor, didasarkan pada
teori belajar....
A. pemrosesan pengalaman
B. pemrosesan informasi
C. kontekstual lingkungan
D. pembentukan perilaku
7. Suatu proses interaksi warga belajar dengan tutor dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar, di sebut:
A. teknik pembelajaran
B. strategi pembelajaran
C. model pembelajaran
D. hakikat pembelajaran
8. Untuk mengajar suatu kelompok warga belajar yang jumlahnya lebih besar, biasanya
akan lebih efektif digunakan pendekatan ....
A. pembelajaran kontektual
B. pembelajaran partisipatif
C. pembelajaran berpusat pada tutor
D. pembelajaran berpusat pada pemprosesan informasi
9. Suatu strategi pembelajaran dikatakan efektif apabila....
A. tujuan dicapai dalam waktu lebih singkat
B. kemampuan mentransfer informasi yang dipelajari lebih besar
C. diimbangi efisiensi dalam rangka pencapaian tujuan
D. keterlibatan warga belajar dalam kegiatan pembelajaran lebih intensif
10. Pertimbangan utama penentuan metode yang akan digunakan pada kegiatan
pembelajaran adalah sebagai berikut, kecuali....
A. jumlah warga belajar
B. alat dan fasilitas yang tersedia
C. kemampuan yg akan dicapai
D. biaya dan waktu
11. Belajar melalui diskusi kelompok sangat berarti dalam menciptakan pembelajaran yang
efektif, karena....
A. belajar pada prinsipnya adalah aktualisasi potensi warga belajar
B. belajar di dalam kelompok akan mempercepat pemahaman
C. belajar melalui kelompok meringankan tugas tutor
D. belajar di dalam kelompok mempercepat pencapaian kurikulum
12. Seseorang dikatakan telah belajar apabila ia ....
A. memiliki buku pelajaran
B. menunjukkan rasa ingin tahu
C. menunjukkan perubahan tingkah laku
D. memiliki pengalaman yang sesuai
13. Pembelajaran yang berpusat pada peran aktif warga belajar, dapat digunakan strategi
pembelajaran sebagai berikut, kecuali....
Lampiran

187

Pelatihan Berbasis Kkinerja

A. belajar dengan metode "sorogan"


B. belajar dengan secara kelompok
C. belajar dgn diskusi tukar pengalaman D. belajar melalui pemecahan masalah
14. Tugas apakah yang harus Anda lakukan sebelum melaksnakan pembelajaran? A.
Menyusun silabus pembelajaran
B. Menyusun satuan acara pembelajaran
C. Menyusun kurikulum pembelajaran
D. Menyusun struktur program pembelajaran
15. Maksud digunakannya metode belajar kelompok dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut, kecuali....
A. menyampaikan fakta atau informasi materi
B. mendorong partisipasi aktif warga belajar
C. mendorong aktualisasi potensi warga belajar
D. mendorong aktualisasi pengalaman warga belajar
16. Pada saat Anda menentukan strategi pembelajaran, pertimbangan utama yang harus
dilakukan adalah ....
A. memahami karakteristik warga belajar
B. memahami latar belakang sosial warga belajar
C. memahami latar balakang ekonomi warga belajar
D. memahami kehidupan keluarga warga belajar
17. Untuk memahami kemampuan/kompetensi warga belajar yang ingin dicapai, kegiatan
yang harus dilakukan tutor sebagai berikut, kecuali...
A. mempelajari garis besar program pembelajaran
B. memahami kurikulum yang berlaku
C. mengidentifikasi kebutuhan belajar warga belajar
D. memelajari satu-satunya buku paket yang tersedia
18. Kemampuan pemahaman tutor terhadap warga belajar menurut Peraturan
Pemerintah nomor 19 tahun 2005 termasuk kompetensi....
A. pedagogik
B. profesional
C. kepribadian
D. Sosial
19. Pemahaman tutor terhadap metode pembelajaran dapat tercermin dalam upayanya antara
lain....
A. menyusun program pembelajaran
B. menyusun program semester
C. menyusun sistematika materi pokok dalam SAP
D. tersedianya buku sumber baik bagi tuor mapun bagi warga belajar
20. Komponen utama dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran/acara satuan
pembelajaran adalah sebagai berikut, kecuali....
A. identitas pelaj aran
B. kegiatan pembelajaran
C. tujuan pembelajaran
D. materi pokok
21. Penyusunan persiapan pembelajaran/satuan acara pembelajaran (SAP) harus diupayakan
sebagai berikut, kecuali....
A. SAP terdiri dari komponen tujuan, materi, kegiatan pembelajaran, metode,
188

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

media, alokasi waktu, evaluasi, dan sumber bahan


B. SAP menggambarkan keterkaitan antar komponen kegiatan yang akan
dilaksanakan
C. SAP terdiri dari metode dan media pembelajaran yang dipilih sesuai dengan
kemampuan, karakteristik materi, dan karakteristik warga belajar
D. SAP mengandung pengalaman belajar tidak harus mencerminkan tahapan
pembelajaran tertentu
22. Kegiatan pembelajaran untuk mendorong aktualisasi potensi warga belajar, diantaranya
adalah ....
A. melaksanakan kegiatan pembekalan keterampilan
B. penugasan warga belajar mengerjakan soal-soal latihan
C. penugasan warga belajar merangkum materi dalam buku paket
D. melaksanakan pembelajaran melalui strategi belajar "bandongan"
23. Kemampuan tutor dalam mengembangkan kurikulum ke dalam rancangan pembelajaran
dari setiap pelajaran disebut.
A. silabus mata pelajaran
B. rencana persiapan pembelajaran
C. penguasaan materi pembelajaran
D. kompetensi dasar kunkulum.
24. Dalam merancang media pembelajaran yang baik seyogyanya memperhatikan hal-hal
berikut, kecuali....
A. karakteristik warga belajar
B. tujuan pembelajaran
C. substansi materi belajar
D. ketentuan kunkulum.
25. Agar pembelajaran berlangsung kondusif, kegiatan di awal pembelajaran yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut, kecuali....
A. penyiapan warga belajar siap belajar
B. penyiapan media dan fasilitas yang diperlukan
C. melakukan apersepsi untuk memotivasi warga belajar
D. mengerjakan tugas sesuai lembar kerja warga belajar
26. Penjelasan tentang tujuan atau kemampuan yang akan dicapai pada awal kegiatan
pembelajaran adalah bertujuan sebagai berikut, kecuali....
A. menginformasikan kemampuan yang akan dicapai
B. memotivasi warga belajar
C. menjelaskan deskripsi singkat materi
D. memudahkan warga belajar mengorganisasikan proses belajarnya
27. Pembelajaran pada program kesetaraan paket C dianggap cocok menggunakan
pendekatan pembelajaran orang dewasa, di antaranya karakteristiknya adalah sebagai
berikut, kecuali....
A. warga belajar memilki konsep diri
B. warga belajar memiliki pengalaman untuk dasar belajar
C. warga belajar memiliki kebutuhan untuk belajar
D. warga belajar memerlukan lebih banyak bimbingan
28. Proses interaksi yang efektif dalam pembelajaran yang kondusif, maka komunikasi
dalam pembelajaran adalah sebagai berikut, kecuali....
Lampiran

189

Pelatihan Berbasis Kkinerja

A. santun dalam berkomunikasi dengan warga belajar


B. empatik dalam menanggapi kesulitan warga belajar
C. efektif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan warga belajar
D. bergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi dalam pembelajaran
29. Komponen-komponen pembelajaran yang komprehensif adalah mencakup hal-hal di
bawah ini, kecuali.
A. metode dan media
B. tujuan dan materi
C. sarana dan evaluasi hasil belajar
D. Biaya dan perlengkapan
30. Dalam menciptakan suasana yang partisipatif diperlukan teknik memotivasi
belajar dengan cara berikut, kecuali:
A. memberikan pujian kepada warga belajar
B. memberikan hadiah bagi yang berhasil dalam pembelajaran
C. memberikan apresiasi dengan tepuk tangan
D. memberikan hukuman yang edukatif.

warga

31. Untuk nenciptakan suasana pembelajaran yang menumbuhkan kemandirian dan


kreativitas anak., maka peran tutor sebagai....
A. motivator
B. fasilitator
C. mentor
D. katalisator.
32. Untuk bisa menerapkan pembelajaran kecakapan hidup yang relevan dengan kebutuhan
lingkungan, maka tutor melakukan........
A. identifikasi kebutuhan belajar life skill
B. memperhatikan muatan kurikulum
C. kegiatan sesuai dengan buku petunjuk
D. ketuntasan pencapaian kunkulum.
33. Syarat untuk menerapkan pendekatan pembelajaran yang mendasarkan
pengalaman/kehidupan nyata warga belajar adalah sebagai berikut, kecuali...
A. sesuai dengan kebutuhan belajar
B. sesuai dengan kontek lokal
C. warga belajar sekaligus menjadi sumber belajar
D. sesuai tuntutan kunkulum.

pada

34. Untuk memanfaatkan media dan sumber belajar yang tersedia atau yang ada di sekitar
lingkungan secara efektif, apabila tutor memiliki sikap
A. kreatif yang tinggi
B. pasif terhadap warga belajar
C. tegas terhadap warga belajarnya
D. pathuh terhadap kunkulum.
35. Dalam menerapkan prosedur penilaian hasil belajar sebaiknya seorang tutor melakukan
kegiatan sebagai berikut, kecuali...
A. perencanaan penilaian hasil belajar
B. pembuatan butir-butir soal
C. pelaksanaan penilaian hasil belajar
D. pengolahan nilai hasil belajar
36. Penilaian formatif yang dilakukan tutor pada kegiatan pembelajaran berfungsi sebagai....
190

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

A. umpan balik pembelajaran


B. informasi keberhasilan belajar
C. penentuan peringkat prestasi warga belajar
D. indikator ketuntasan belajar
37. Langkah pokok dan utama ketika tutor menyusun alat evaluasi hasil belajar adalah
A. menentukan aspek-aspek hasil belajar yang penting
B. menentukan prosedur evaluasi hasil belajar
C. menentukan aspek-aspek proses penilaian yang akan dilakukan
D. menentukan banyaknya soal yang akan digunakan dalam penilaian
38. Prinsip dasar penilaian proses pembelajaran pada hakekatnya adalah sebagai berikut,
kecuali....
A. memberikan penguatan belajar warga belajar
B. memberikan umpan balik perbaikan pembelajaran
C. mengetahui pencapaian tujuan pembelajar
D. mengetahui tingkat ketuntasan pencapaian kunkulum.
39. Tutor dalam menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran interaktif, memiliki keunggulan
yaitu:.
A. menimbulkan rasa mengantuk warga belajar
B. menciptakan suasana dinamis dalam pembelajaran
C. membosankan bagi warga belajar yang pendiam
D. menyenangkan bagi semua warga belajar.
40. Manfaat dari penilaian hasil belajar bagi tutor adalah untuk program tindak lanjut,
kecuali...
A. memberikan pembelajaran remedial
B. memperbaiki metode dalam pembelajaran
C. mengetahui tingkat penguasaan materi ajar
D. mengetahui tingkat pencapaian kunkulum.

Lampiran

191

Pelatihan Berbasis Kkinerja

LAMPIRAN: 03
INSTRUMEN PEDOMAN
OBSERVASI KOMPETENSI DIMENSI KETERAMPILAN
1. IDENTITAS GURU/TUTOR YANG DIOBSERVASI
Nama
Kelomp. Belajar
Mata Pelajaran
Alokasi Waktu
Hari/tanggal

:.....................................................................................
:.....................................................................................
:.....................................................................................
:.....................................................................................
:.....................................................................................

1. PETUNJUK PENGISIAN LEMBARAN OBSERVASI


a. Lembar observasi ini merupakan salah satu instrumen penilaian kinerja Tutor berbasis
kompetensi pada program paket C..
b. Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan pada lembaran observasi yang merupakan
kegiatan tutor dalam melakukan pembelajaran .
c. Lingkari salah satu angka pada kolom skor 5, 4; 3; 2; 1 yang tersedia di sebelah kanan
sesuai dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan tutor.
1 = tidak pernah
2 = jarang
3 = kadang-dakang
4 = sering
5 = selalu
d. Jika terjadi kesalahan melingkari angka pada satu kolom skor, maka dapat diperbaiki
dengan cara memberi tanda silang (X) pada angka yang salah tersebut, kemudian
melingkari angka pa lainnya yang dianggap tepat.
No.

Skor

4.

Aspek yang Diobservasi


Mengidentifikasi standar kompetensi mata pelajaran yang
dibina.
Melakukan pembuatan rencana persiapan sebelum pembelajaran
Menentukan strategi pembelajaran sesuai karakteristik warga
belajar
Ketepatan pemilihan materi pembelajaran

5.

Sistematika penyusunan materi pembelajaran

1 2 3 4 5

6.

Ketepatan rumusan tujuan/kompetensi yang akan dicapai


Kesesuaian media dengan tujuan dan karakteristik warga belajar
dalam rencana persiapan pembelajaran

1 2 3 4 5

1.
2.
3.

7.

192

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5

1 2 3 4 5

Pelatihan Berbasis Kkinerja

8.

Pengorganisasian warga belajar dalam pembelajaran

1 2 3 4 5

9.

Pengaturan kegiatan belajar warga belajar dalam pembelajaran

1 2 3 4 5

10.

Penyajian materi secara sistematis dalam pembelajaran

1 2 3 4 5

11.

Penggunaan contoh dalam menyampaikan pembelajaran

1 2 3 4 5

12.

1 2 3 4 5

23.

Pemberian jawaban terhadap pertanyaan warga belajar


Penggunaan metode sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
ingin dicapai
Menggunakan metode yang bervariasi dalam pembelajaran
Penggunaan media sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
karakteristik warga belajar
Pengunaan waktu dialokasikan secara proporsional untuk
pembukaan, inti dan penutup.
Penyampaian tujuan/komptensi yang akan dicapai ketika
membuka pelajaran
Kesesuaian materi pelajaran dengan pengalaman yang dimiliki
warga belajar
Pemberian kesempatan kepada warga belajar untuk terlibat aktif
dalam pembelajaran
Pemberian penguatan secara bervariasi dengan waktu yang
tepat dan konsisten
Pemberian kesimpulan pada akhir pembelajaran
Penggunaan bahasa dalam penyajian materi pembelajaran
dengan bahasa yang mudah dipahami
Menguasai substansi materi mata pelajaran yang akan diajarkan.

24.

Kemampuan menghidupkan suasan kelompok belajar

1 2 3 4 5

25.

Kemampuan menjelaskan materi pembelajaran

1 2 3 4 5

26.

Ketepatan prosedur dan jenis penilaian hasil belajar

1 2 3 4 5

27.

Kesesuaian alat penilaian dengan kompetensi yang ingin dicapai 1 2 3


Penulisan butir soal untuk penilaian hasil belajar dijabarkan
1 2 3
dalam kisi-kisi dan menggunakan bahasa yang mudah dipahami
Melaksanakan penilaian hasil belajar dalam proses pembelajaran 1 2 3
1 2 3
Melaksanakan penilaian pada akhir pembelajaran

13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

28.
29.
30.

1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5

4 5
4 5
4 5
4 5

Jakarta,
Observer

(........................................................)

Lampiran

193

Pelatihan Berbasis Kkinerja

194

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

GLOSARIUM
Andragogi

: Ilmu dan seni membelajarakan orang dewasa

Analyzing the problems

: Menganilisis masalah

Awereness of need

: Menyadari kebutuhan

Behavioristic theorie

: Teori-teori tingkah laku

Berbasis kinerja

: Berdasar pada unjuk kerja

Bottom-up

: Pendekatan dari bawah ke atas

BSNP

: Badan Standar Nasional Pendidikan

BP3LS

: Balai Pengembangan dan Pelatihan Pendidikan Luar


Sekolah

BPKB

: Balai Pengembangan Kegiatan Belajar

BPPNFI

: Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal


Informal

Competence based training

: Pelatihan berbasis kompetensi

Community Learning Center : Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat


Cost benefit

: Nilai Manfaat

Criterion Reference Assesment: Penilaian yang berdasarkan patokan


Definisi

: Pengertian/batasan

Depdiknas

: Departemen Pendidikan Nasional

Depnakertran

: Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi

Diklat

: Pendidikan dan Pelatihan

Directive

: Perintah

Differentiating compentencies:Faktor pembeda berkinerja tinggi dan rendah.


Education for all

: Pendidikan untuk semua

Eksperiensial

: Pendekatan pengalaman

Experiential learning

: Pengalaman belajar

Expert Judgement

: Penilaian ahli

Fasilitator

: Orang yang memberikan kemudahan dalam belajar

Grassroott

: Akar rumput paling bawah

Glosarium & Indeks

195

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Human Development Indexs : Indek Pembangunan Manusia


Humanistic theories,

: Teori-teori kemanusian

In-service training

: Pendidikan dalam jabatan termasuk pelatihan ,

Instruktur

: Orang yang memberikan keterampilan

Kompetensi

: Kemampuan cerdas dalam bekerja

Knowing options

: Menentukan pilahan

Kompetensi Pedagogik

: Kemampuan keilmuan dalam mengajar

Kompetensi Dasar

: Kemampuan dasar

Learning styles

: Cara-cara belajar

Miss-match

: Ketidakan sesuaian antara bidang tugas dengan keahlian

Norm Reference Assesment

: Penilian berdasarkan norma

Outcome

: Dampak suatu program

Participant centered

: Berpusat pada peserta didik

Permendiknas

: Peraturan Mentri Pendidikan Nasional

Peer Tutorial

: Tutor sebaya

Pendidikan kesetaraan

: Salah program pendidikan non formal

Performance based training : Pelatihan berbasis kinerja


Performance Targets

: Target kinerja

Personal Competencies

: Pengembangan kepribadian

Peservice education

: Pendidikan Pra jabatan

Pre-Test

: Tes awal

Post Test

: Tes akhir

PNF

: Pendidikan Nonformal

PTK-PNF

: Pendidik dan Tenaga Kependidikan


Pendidikan Nonformal

PKBM

: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

PM PTK

: Peningkatan Mutu Pendidik &Tenaga Kependidikan

P2PNFI

: Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal


Informal

Qualified

: Sudah memenuhi syarat

Return On Investment

: Perputaran modal

RPP

: Rencana program pembelajaran

Skill

: Keterampilan

196

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

Spiritual enrichment

: Menguatkan keyakinan

Self directed learning

: Belajar secara mandiri

Standar Kompetensi

: Kemampuan minimal yang harus dikuasai

SWOT

: Strenght, Weeknest, Opportunity, Treat

Team

: Kelompok kerja

Threshold competencies

: Karakteristik seseorang dalam melaksanakan


pekerjaannya.

Tradisional

: Pendekatan yang dulu atau lama

Top-down

: Pendekatan dari atas ke bawah

Training Model

: Model pelatihan

Training Process

: Proses pelatihan

Training strategies

: Strategi pelatihan

Training outcome

: Hasil Pelatihan

Tutor

: Orang yang mengisi kegiatan tutorial

UNPK

: Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan

Glosarium & Indeks

197

Pelatihan Berbasis Kkinerja

INDEKS
A

Alex S. Nitisemito,18

Nawawi, 77
Nedler, 16
Nasution, 24

C
Cranton ,67
Cooper, 51

P
Patricia King, 77
Paul G. Friedmen & Elaine A.Y, 16

D
Daniel, 77
Djudju Sudjana, 16, 71, 126, 169, 183
David Dubois, 45

Robinson, 17
Rothwell, 54
Ryllat, 40, 80

Finger dan Asun, 64

Halim dan Ali, 21


Henry Simamora, 19

Sanjaya, 51
Seema Sanghi, 47
Siagian, 13
Simamora , 77
Suryadi, 2
Smith, 69, 163
Spencer, 48
Syamsudin, 2

Kirkpatrick, 183
Knowles, 5, 22, 55, 63, 126

Terence, 77
Trisnamasyah, 62

Mayo & Dubois, 16


Michael J. Jacius, 17
Moekijat, 16
Mangkunegara, 77
Mitrani, 46

Whitmore ,77

Goad, 16
H

198

Z
Zaenudin Arif,25

Konsep & Implementasi dalam Pelatihan Guru/Tutor

Pelatihan Berbasis Kkinerja

RIWAYAT HIDUP
Anan Sutisna, lahir di Bekasi pada tanggal 19 April 1966, anak
pertama dari Bapak Nian dan Ibu Atem, Pendidikan SD, SMP
dan SPGN di Bekasi. Tahun 1986, masuk ke Jurusan
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) IKIP Jakarta pada program D-2
lulus tahun 1988 dan melanjutkan S1 pada jurusan yang sama
lulus tahun 1991. Tahun 1993 diangkat menjadi dosen tetap
pada Jurusan PLS Universitas Negeri Jakarta.
Sejak memperoleh Magister Pendidikan (M.Pd) pada Program Studi
Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) dari Universitas Negeri Jakarta pada
tahun 1999 dan Menamatkan program S3 pada Pendidikan Luar Sekolah
Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2010. Penulis banyak terlibat dalam
kegiatan pelatihan untuk mempersiapkan pendidik/tutor pendidikan non formal,
pelatihan yang pernah dilakukan selama 10 tahun terakhir yaitu:
1. Pelatihan Tutor Paket B tentang Perencanaan dan Metodologi Pembelajaran
melalui Modul di DKI Jakarta, tahun 2001,
2. Pelatihan Perencanaan Pembelajaran pada Kelompok Belajar Paket A dan B
di Propinsi DKI Jakarta, tahun 2002,
3. Pelatihan Evaluasi Hasil Belajar Bagi Dosen STIKES Wilayah III DKI
Jakarta, pada tahun 2003,
4. Pelatihan Penilaian Hasil Belajar Program Pembelajaran pada Tenaga Pendidik
Luar Sekolah di DKI Jakarta, tahun 2003,
5. Pelatihan Komunikasi Efektif dalam Pembelajaran Paket A dan B Dinas
Pendidikan Dasar Subdis PLS Propinsi DKI Jakarta, tahun 2004
6. Pola Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Prodi PLS Ditjen. Dikti
Depdiknas, tahun 2005
7. Pelatihan Tenaga Widyaiswara Lembsgs Administrasi Negara, Jakarta, 2008
8. Pelatihan Penyusunan Kisi-kisi Soal Pendidikan Kesetaraan Sudin Dikmenti
Jakarta Pusat, Juli 2009.
9. Pelatihan Berbasis Kinerja untuk Peningkatan Kompeteinsi Tutor Pendidikan
Kesetaraan, September 2010
Pengalaman menjadi pelatih secara praktis dan pemahaman pelatihan
secara teoritis selama kuliah S3 Program Studi PLS dengan konsentrasi pelatihan
SDM, sehingga terbitlah buku ini (Pelatihan Berbasis Kinerja). Publikasi ilmiah
penulis dalam bentuk artikel/makalah dimuat Jurnal Pemasindo Jurusan PLS UNJ,
Jurnal Visi PTK PNF Kemendiknas (Akreditasi LIPI), Jurnal Cakrawala
Pendidikan LPM UNY (Akreditasi DIKTI) dan Jurnal Inovasi & Perekayasa
Pendidikan Balitbang Kemendiknas. Sedangkan Karya Ilmiah dalam bentuk buku
yang telah diterbitkan adalah Sejarah Pendidikan Masyarakat dari Masa ke Masa,
pada tahun 2010.
Penulisan buku ini juga tidak luput dari dukungan moril dan spritual Istri
tercinta Wiwi Karyati, S.Pd yang dinikahi tahun 1994 dan anak-anakku Kahfi,
Wizananta dan Tendy di Perumahan Telaga Murni Blok C23 No.16 Kecamatan
Cikarang Barat-Bekasi, 17520 Telp. (021) 89106417 HP. 08161945175 E-mail
ananpls@yahoo.com
Riwayat Penulis

199