Anda di halaman 1dari 1

Rieski Kurniasari R.

E31111292 / Ilmu Komunikasi


Etika Komunikasi dan Profesi
Opini tentang Wartawan Bodrex
Sabtu, 19 September kemarin diadakan Anti Corruption Film Festival
yang diselenggarakan oleh KPK ini berusaha mengkampanyekan
gerakan antikorupsi di kalangan anak muda. Pesan yang ingin
disampaikan dari acara ini mengingatkan saya dengan istilah
wartawan bodrex.
Istilah wartawan bodrex menurut saya terlalu halus. Alasannya
kata wartawan itu seolah-olah menunjukkan seorang jurnalis yang
ditugaskan untuk mendapat berita, namun kenyataannya lain. Lebih
tepatnya preman mengaku wartawan, bagi saya. Menurut info
yang saya dapat wartawan bodrex itu sebenarnya ada dua tipe.
Pertama, mereka yang profesi aslinya bukan jurnalis, tapi mengaku
jurnalis saat lagi memeras. Kedua, mereka yang jurnalis tapi
punya media khusus untuk mendapat keuntungan yang tidak
halal.
Namun, apa pun mereka baik definisi pertama maupun kedua
adalah hal yang memalukan. Logikanya, wartawan bodrex
memalak seseorang atau perusahaan agar aib mereka tidak
tersebar. Bukankah itu pekerjaan segerombolan preman?
Satu lagi, jika ada seorang wartawan yang menerima uang dengan
catatan cukup berita baik-baik saja yang dia sebar, menurut saya
itu melanggar esensi dari Sembilan Elemen Dasar Jurnalistik-nya Bill
Kovach. Salah satu penyebabnya mungkin karena belum banyak
orang jujur di Negara ini sehingga menghalalkan segala cara agar
bisa tetap hidup dan citranya tidak rusak. Selain itu juga banyak
orang bekerja dengan melupakan dasar-dasar etika sehingga untuk
kejahatan kecil saja lambat laun mulai dianggap lumrah.
Untuk itu bila suatu saat seseorang atau perusahaan bertemu
dengan preman dengan tipikal macam ini, jangan ragu untuk
bertindak tegas. Karena jurnalis tidak dibayar narasumber untuk
diceritakan yang baik-baik saja, namun sesuai dengan realita yang
ada di lapangan.