Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM PTK III

PEMBUATAN COFFEINE DARI TEH

Disusun Oleh:
Sri Mulyani Rahayu F.D.H. (1513059) KA02

Teknik Kimia Polimer


Politeknik STMI Jakarta
Jl. Letjen Suprapto No.26 Cempaka Putih, Jakarta Pusat 10510
2013

PEMBUATAN COFFEINE DARI TEH

I.

PRINSIP PERCOBAAN
Ekstraksi, yaitu cara pemisahan suatu zat cair dari campurannya (merupakan zat padat
atau cair) yang berdasarkan daya larut dalam pelarut tertentu (pelarut sebagai
pemisah).

II.

III.

MAKSUD DAN TUJUAN


Untuk Mengetahui Cara Pembuatan Coffeine dari Teh
Untuk Mengetahui Cara Kristalisasi
Untuk Mengetahui Sifat Fisika dan Kimia dari Coffeine
Untuk Mengetahui Cara Ekstraksi Coffein dari Campurannya dalam Teh
LANDASAN TEORI
Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi,
daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar. Kafein
memiliki berat molekul 194,19 gr/gmol dengan rumus kimia C8H10N8O2 dan pH 6,9
(larutan kafein 1% dalam air). Secara ilmiah, efek langsung dari kafein terhadap
kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti
menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa
gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia), dan denyut jantung tak beraturan
(tachycardia) (Hermanto, 2007).
Banyak senyawa nitrogen dalam tumbuhan mengandung atom nitrogen basa dan
karena itu dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan itu dengan asam encer.
Senyawa ini disebut alkaloid yang artinya mirip alkali. Setelah ektraksi, alkaloid
bebas dapat diperoleh dengan pengolahan lanjutan dengan basa dalam air (Khopkar,
2010).
Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier atau siklik.
Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, dan alkaloid merupakan golongan
senyawa metabolit sekunder terbesar dari tanaman, Tidak ada satupun definisi yang
memuaskan tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawasenyawa
bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya sebagai
bagian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah golongan yang sangat
heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana seperti coniiene sampai ke
struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah terpenoid di alam dan
beberapa adalah steroid. Lainnya adalah senyawa-senyawa aromatik, contohnya
colchicine (Utami, 2008).

Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan pembagian sebuah
zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat tercampur untuk mengambil zat
terlarut tersebut dari satu pelarut ke pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan
padat dan cair (misalnya bahan alami) tidak dapat atau sukar sekali dipisahkan
dengan metode pemisahan mekanis atau termis yang telah dibicarakan. Misalnya
saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat erat, peka terhadap panas,
beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau tersedia dalam konsentrasi yang terlalu
rendah (Suparni, 2009).
Pada sistem heterogen, reaksi berlangsung antara dua fase atau lebih. Jadi pada
sistem heterogen dapat dijumpai reaksi antara padat dan gas, atau antara padat dan
cairan. Cara yang paling mudah untuk menyelesaikan persoalan pada sistem
heterogen adalah menganggap komponen-komponen dalam reaksi bereaksi pada
fase yang sama.
Kesetimbangan heterogen ditandai dengan adanya beberapa fase. Antara lain fase
kesetimbangan fisika dan kesetimbangan kimia. Kesetimbangan heterogen dapat
dipelajari dengan 3 cara :
a.
Dengan mempelajari tetapan kesetimbangannya, cara ini digunakan untuk
kesetimbangan kimia yang berisi gas.
b.
Dengan hukum distribusi Nersnt, untuk kesetimbangan suatu zat dalam 2
pelarut.
c. Dengan hukum fase, untuk kesetimbangan yang umum.
Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas
zat terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain diketahui,
asalkan kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain. Faktor-faktor yang
mempengaruhi koefisien distribusi diantaranya:
1. Temperatur yang digunakan. Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat
sehingga volume titrasi menjadi kecil, akibatnya berpengaruh terhadap nilai k.
2. Jenis pelarut. Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap
maka akan sangat mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada
perhitungan nilai k.
3. Jenis terlarut. Apabila zat akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau
higroskopis, maka akan mempengaruhi normalitas (konsentrasi zat tersebut),
akibatnya mempengaruhi harga k.
4.
Konsentrasi. Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k.
Harga K berubah dengan naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k tergantung
jenis pelarutnya dan zat terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum diatas hanya

berlaku bila zat terlarut tidak mengalami disosiasi atau asosiasi, hukum di atas hanya
berlaku untuk komponen yang sama.
Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi, analisis dan penentuan
tetapan kesetimbangan. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa solut akan
mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, sehingga
setelah kesetimbangan distribusi tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam
kedua fasa pelarut pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut
koefisien distribusi (KD), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-reaksi
apapun. Akan tetapi, jika solut di dalam kedua fasa pelarut mengalami reaksi-reaksi
tertentu seperti assosiasi, dissosiasi, maka akan lebih berguna untuk merumuskan
besaran yang menyangkut konsentrasi total komponen senyawa yang ada dalam tiaptiap fasa, yang dinamakan angka banding distribusi (D).
Teknik ekstraksi, tiga metode dasar pada ektraksi cair adalah : ekstraksi
bertahap (batch), ekstraksi kontinyu, dan ekstraksi counter current. Ekstraksi
bertahap merupakan cara yang paing sederhana. Caranya cukup dengan
menambahkan pelarut pengektraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula
kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat
yang akan diekstraksi pada kedua lapisan. Setelah ini tercapai, lapisan didiamkan
dan dipisahkan. Metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik.
Kesempurnaan ektraksi akan tergantung pada banyaknya ektraksi yang dilakukan.
Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ektraksi yang dilakukan berulang kali dengan
jumlah pelarut sedikit-sedikit. Ektraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan
distribusi besar. Alat yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong
pemisah (Day, 2002).
Ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat dengan pelarut. Ekstraksi menyangkut
distribusi suatu zat terlarut (solut) diantara dua fasa cair yang tidak saling
bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan
bersih, baik untuk zat organik atau anorganik, untuk analisis makro maupun mikro.
Selain untuk kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk
pekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia, dan anorganik di
laboratorium. Alat yang digunakan berupa corong pisah (paling sederhana), alat
ekstraksi soxhlet, sampai yang paling rumit berupa alat counter current craig. Secara
umum, ekstraksi adalah proses penarikan suatu zat terlarut dari larutannya di dalam
air oleh suatu pelarut lain yang tidak bercampur dengan air. Tujuan ekstraksi ialah
memisahkan suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan pelarut.

Proses ekstraksi dengan pelarut digunakan untuk memisahkan dan isolasi bahanbahan dari campurannya yang terjadi di alam, untuk isolasi bahan-bahan yang tidak
larut dari larutan dan menghilangkan pengotor yang larut dari campuran.
Berdasarkan hal di atas, maka prinsip dasar ekstraksi ialah pemisahan suatu zat
berdasarkan perbandingan distribusi zat yang terlarut dalam dua pelarut yang tidak
saling melarutkan. Perbandingan distribusi ini disebut koefisien distribusi (K).
Ekstraksi digolongkan menjadi dua macam ekstraksi yaitu:
1). Ekstraksi jangka pendek atau disebut juga proses pengocokan
Hampir dalam semua reaksi organik, dalam proses pemurniannya selalui melalui
proses ekstraksi (penarikan senyawa cair yang akan dimurnikan dari pelarut air oleh
pelarut organik dengan cara mengocoknya dalam corong pisah). Pelarut organik
yang biasa dipakai untuk melarutkan senyawa organik / ekstraksi ialah eter. Hal ini
dikarenakan eter merupakan pelarut yang memiliki sifat inert, mudah melarutkan
senyawa-senyawa organik, dan titik didihnya rendah sehingga mudah untuk
dipisahkan kembali dengan cara destilasi sederhana. Cara ekstraksi ini biasa
dipergunakan dalam :
Pembuatan ester, untuk memisahkan ester dari pencampurnya.

Pembuatan anilin, nitrobenzen, kloroform, dan preparat organik cair


lainnya.Bahan yang akan dipisahkan dalam suatu campuran akan terdistribusi
diantara pencampurnya dan pelarutnya membentuk dua fasa/lapisan. Dengan
demikian ekstraksi jangka pendek merupakan proses pengocokan yang dilakukan
dengan menggunakan corong pisah, setelah dikocok dengan kuat dengan
mencampurkan pelarut yang lebih baik bila didiamkan larutan akan membentuk dua
lapisan. Cara melakukan ekstraksi jangka pendek (pengocokan) menggunakan
corong pisah:
2). Ekstraksi jangka panjang
Ekstraksi jangka panjang biasa dilakukan untuk memisahkan bahan alam yang
terdapat dalam tumbuh-tumbuhan atau hewan. Senyawa organik yang terdapat
dalam bahan alam seperti kafein dari daun teh dapat diambil dengan cara ekstraksi
jangka panjang dengan menggunakan suatu alat ekstraksi yang disebut alat soxhlet.
(Nurul, 2011).
Kafein digunakan pada penyakit tertentu, seperti neuralgia migrain dan terjadi
kelelahan, digabungkan dengan anmalgetik seperti aspirin. Dosis yang terlalu besar
menyebabkan insomnia, kurang tidur/istirahat dan tokirdodia ( Ahmad, 1992 ).
Kafein dari teh kering terdapat 3%, bahan inilah yang menimbulkan rasa nikmat dari
teh, pada hakikatnya, kafein menyabar merata pada semua bagian tanaman, tetapi
kadarnya berbeda. Daun yang muda banyak mengandung kafein yaitu sebesar 3-4%,

sedangkan daun-daun yang ke-5 dan ke-6 mengandung 1,5% serta daun yang paling
ujung pangkal mengandung 0,5% kafein 9 Sujarwo, 1964 ).
Rumus molekul kafein yang terdapat dalam teh berhubungan dengan asam urie yang
ditunjukkan reaksi oksida dengan potasium warat dan asam hidroklit, kafein
memberikan dimetialoxan dan molulea dalam basilan molekul yang sama struktur
dari produk yang berlebihan dan dikonvemasikan dalam senyawa dimetilurea dan
asam meksosalit hidrilisis dan dipertegas sintesis dua susunan ( Firna, 1985).
BAHAN BAKU
Bahan Baku Utama Teh
Teh didefinisikan sebagai pohon kecil, tumbuh di alam bebas, daunnya
berbentuk jorong atau bulat telur yang pucuknya dilayukan dan dikeringkan
untuk dibuat minuman.Teh umumnya tumbuh pada ketinggian 200 2300
m.Biasanya tumbuhan teh tumbuh ditempat yang sejuk dan diperbukitan.Daun
teh terbagi menjadi dua kelompok Varasamica dari asam dan Varsineosi dari
Cina. Perbedaan dari dua kelompok daun teh tersebut adalah dilihat dari
bentuk daunya. Untuk kelompok Varasamica daunya besar dan ujung daunnya
runcing, Sedangkan kelompok Varasineosi bentuk daunya kecil dan ujungnya
tumpul tidak lancip.
a. Sifat Fisis dari Teh
o Titik didih 80 oC
o Mudah larut dalam pelarut organik
o Mempunyai sifat non eksplosit
o Kadar karbon rendah
o Mengandung coffeine
o Berwarna hitam bila sudah dioleh
o Berbau wangi
b. Sifat Kimia dari Teh
o Reaktifitasnya rendah
o Dapat dipisahkan dari komponennya dengan metode ekstraksi
o Mudah larut dalam air terutama air panas.
c. Kegunaan Teh
o Sebagai zat anti oksidasi dan bersifat merangsang saraf otak
o Sebagai bahan baku minuman penyegar dan untuk menyerap kolesterol
Alkohol
Alkohol adalah kelompok senyawa yang mengandung satu atau lebih
gugus fungsi hidroksil (-OH) pada suatu senyawa alkana.Alkohol dapat
dikenali dengan rumus umumnya R-OH.Alkohol merupakan salah satu zat
yang penting dalam kimia organik karena dapat diubah dari dan ke banyak tipe
senyawa lainnya. Reaksi dengan alkohol akan menghasilkan 2 macam

senyawa. Reaksi bisa menghasilkan senyawa yang mengandung ikatan R-O


atau dapat juga menghasilkan senyawa mengandung ikatan O-H.
Nama Iupac Alkohol diambil dari nama alkana induknya, tetapi dengan
akhiran OL suatu angka awalan. Yang dipilih srendah mungkin digunakan jika
digunakan.

OH
CH3-OH
CH3-CH2-CH2-OH
CH3CHCH3
(Metanol)
(1 Propanol)
(2 Propanol)
Gugus OH yang berpioritas lebih rendah diberi nama dengan awalan hidroksil
seperti nama dalam contoh.
OH O

CH3 CH C - OH

HO-CH2-CH2-CH

(Asam 2 Hidroksi Propana)

(3 Hidroksi Propanol)

a. Sifat Fisis Alkohol


o Titik didih 78,3 oC
o Alkohol berbobot molekul rendah larut dalam air
o Mudah terbakar
o Bersifat polar karena mengandung gugus OH
o Tidak berwarna ( Jernih)
o Hidrokarbon suatu alkohol bersifat hidrofob (menolakmolekul
molekul air)
b. Sifat Kimia Alkohol
o Mudah terbakar
o Alkohol adalah asam atau basa yang sangat lemah
o Reaksi eliminasi alkohol
(CH3)3 COH H2SO4 (CH3)2 C = CH2 + H2O
t-butil alkohol
Metripropena
CH3CH2OH H2SO4(P)
CH2 = CH2 + H2O
Etanol
etana
o Oksidasi alkohol
Oksidasi alkohol dapat dioksidator oleh oksidator oksidator KmnO4
atau K2Cr2O oksidator dengan K2Cr2O2 atau KmnO4 dalam suasana
asam (H2SO4) alkohol primer mula-mula feroksidasi menjadi aldehida
dan teroksidasi selanjutnya menjadi asam karboksilat
c. Kegunaan Alkhol

o Digunakan untuk minuman keras (etanol)


o Digunakan sebagai zat pembunuh kuman (2 propanol)
o Digunakan sebagai bahan bakar dan pelarut (metanol)
o Alkohol berfungsi sebagai pengikat coffeine dari teh
Natrium Hidroksida (NaOH)
NaOH merupakan zat padat higroktis, basah leleh, berwarna putih
mudah larut dalam air dan griserol, merupakan elektrolit dan basa kuat.
a) Sifat Kimia Natrium Hidroksida (NaOH)
Bereaksi dengan asam (HCl) membentuk garam.
NaOH + HCl
NaCl + H2O
b) Kegunaan NaOH
NaOH pada pembuatan Coffeine untuk menjernihkan
Asam Sulfat ( H2SO4)
Asam sulfat, H2SO4,

merupakan asam

mineral (anorganik)

yang

kuat.Zat ini larut dalam air pada semua perbandingan.Asam sulfat mempunyai
banyak kegunaan dan merupakan salah satu produk utama industri
kimia.Kegunaan utamanya termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia,
pemrosesan air limbah dan pengilangan minyak.
Merupakan salah satu senyawa terpenting dari belerang dalam teknik
asam sulfat dapat dibuat dengan dua cara yaitu :
A. Proses Kontak
B. Proses bilik / Kamar Timbal
Persamaan dari proses diatas adalah menggunakan SO 2 sebagai bahan
dasar untuk membuat asam sulfat. Dimana SO2 dihasilkan dari pembakaran
belerang / pemanggangan pyrit (FES2). Perbedaan keduanya proses ini
terletak pemakaia jenis katalisnya. Pada proses kontak digunakan
katalisator FE2O3, V2O5, Pt dan pada proses timbal digunakan katalisator
gas Mg dan NO2 Belerang adalah zat padat yang pada temperatur kamar
melebur 119oC. Fungsi H2SO4 dalam pembuatan Coffeine dari teh
adalahuntuk mengisolasi Coffeine dari teh.
a. Sifat Fisis H2SO4
o Memilki aroma khas yaitu belerang
o Bersifat korosif dan bersifat hidrokofis
o Berbentuk cair dan berat jenis 1,84

/ML ,titik didih 240

25

titik

leleh 10
b. Sifat Kimia H2SO4
o Merupakan asam kuat
o H2SO4 bersifat encer tidak bereaksi dengan Bi, Hg, Cu, dan logam
mulia

H2SO4 (encer) + Fe
FeSO4 + H2
o H2SO4 pekat dalam keadaan panas akan mengoksidasi logam-logam
CuSO4 + SO2 + 2H2O
2H2SO4 (P) + Cu
o Merupakan oksidator dengan reduksi terkuat
c. Kegunaan H2SO4
o Bahan pembuatan pupuk amonium sulfat
o Industri obat
o Untuk pembuatan zat warna
Magnesium Oksida (MgO)
MgO dibuat dengan cara memanaskan magnosit maupun hidroksinya
MgCO3
MgO
+ CO2
Mg(OH)
MgO
+ H2O
MgO dapat dijumpai sebagai mineral periklasa dan dibuat dengan
memanaskan magnesium adalah Oksigen atau lewat peruraian garam-garam
Mg-nya seperti Mg (OH)2, MgCO3, Mg(NO3)2, MgC2O4 dan garam-garam lain
dari asam organik.
a. Sifat Fisis Magnesium Oksida (MgO)
o Berwarna putih
o Bersifat keras dan tahan api
o Titik leleh 2800
b. Sifat Kimia Magnesium Oksida (MgO)
o Pijar bila dicampur dengan larutan magnesium klorida, akan
membentuk bubur bersifat plastik.
o Bersifat basa lemah disebabkan gaya tarik ion-ion oksidanya terhadap
proton-proton molekul air.
Chlorofrom (CHCl3)
Jika etanol direaksikan dengan Cl2 dan KOH atau dengan CHLOR
maka mula-mula etanol dioksidasi menjadi metana. Etana ini kemudian
bereaksi dengan Cl2 sehingga terbentuk Trichlorentana atau CCl3-CHO. Dalam
lingkungan KOH maka diubah menjadi Kalium Metanoat dan Cholorofrom.
CH3-CH2OH + Cl2
CH3-CHO + 2HCl
CH3-CHO + 3Cl2
CHCl3 + HCOOK
CCl3 CHO KOH
CHCl3 + HCOOK
Chlorofrom dapat juga dibuat dari asetan Cl3 dan KOH
CH3 CO CH3 + 3Cl2
CCl3 CO CH3 + 3HCl
CCl3 CO CH3 + KOH
CHCl3 + CH3COOK
a. Sifat Fisis Chlorofrom (CHCl3)
o Suatu zat cair yang manis baunya dan mudah menguap
o Mempunyai titik didih 61
o Jika uap Chlorofrom dihisap maka bersifat membius

b. Sifat Kimia Chlorofrom (CHCl3)


o Merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan Lipida
o Tidak larut dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol atau eter
c. Kegunaan Chlorofrom (CHCl3)
Chlorofrom banyak digunakan sebagai obat bius dan sebagai pelarut
organik
PRODUK
COFFEINE
Coffeine merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji
kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat, dan beberapa minuman penyegar.
Kafein memiliki berat molekul 194.19 dengan rumus kimia 1,3,7 trimetil santina
(C8H10N8O2) atau dan pH 6.9 (larutan kafein 1% dalam air). Zat ini didapatkan pada
tahun 1820 oleh Runge Pelletries dan Capentau dari kopi adalah identik dengan tiena
dari teh. Coffein merupakan zat alkohol yaitu suatu zat yang dapat membuat orang
mabuk. Coffein merupakan senyawa heteroaromatik yang mempunyai unsur nitrogen
yang terikat pada gugusan karbonilnya yang mempunyai struktur bangun sebagai
berikut:

CH3

CH

O
N
Kristal Coffein dari larutannya dalam air berupa jarum-jarum bercahaya
sutra, bila tidak mengandung air. Coffein mencair pada 236,5oC dan mensublimasi
pada temperatur yang lebih rendah. Dalam air panas zat ini mudah larut sedangkan
pada air dingin sukar larut.
a. Sifat Fisis Coffeine
o Merupakan kristal putih berupa jarum-jarum bercahaya sutra
o Bila tak mengandung air coffein mencair pada 236,5 oC dan menyublimasi
pada temperatur rendah
o Mudah larut dalam air panas tetapi sukar larut pada air dingin
b. Sifat Kimia Coffeine
Coffein mudah larut dalam pelarut organik seperti alkohol dan khlorofrom
c. Kegunaan Coffeine
o Untuk mengiatkan pekerjaan susunan syaraf sentral dan mempertinggi tenaga
jantung
o Dalam ilmu kedokteran digunakan dalam keadaan bebas dan dalam bentuk
senyawa-senyawa rangkap contohnya dengan natrium salisilat

Operasi Proses
Proses ekstraksi pada dasarnya merupakan pemisahan saling kontak campuran yang
berdasarkan daya larut dalam pelarut tertentu. Proses ekstraksi meliputi tiga tahap
yaitu :
1. Campurkan / mencampur bahan ekstraksi dengan pelarut dan membiakkannya
saling kontak dalam proses ini terjadi perpindahan masa dengan cara difusi
pada bidang antara muka ekstrak dengan pelarut.
2. Memisahkan larutan ekstrak dari rafinat
3. Mengisolasi ekstrak dari larutan ekstrak dan mendapatkan kembali pelarutnya
umumnya dilakukan dengan cara penguapan.
Penggunaan pelarut yang digunakan untuk ekstraksi harus memperhatikan beberapa
faktor seperti :
1. Selektivitas. Yaitu pelarut yang hanya dapat melarutkan ekstrak yang
diinginkan bukan komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi.
2. Kelarutan. Yaitu pelarut yang sedapat mungkin memiliki kemampuan
melarutkan yang besar.
3. Kemampuan tidak saling bercampur, hal ini penting bila yang akan diekstrak
merupakan cairan.
4. Kerapatan terutama pada ekstraksi cairan yang sedapat mungkin mempunyai
perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi hal ini
dimaksudkan agar kedua fase dapat mudah dipisahkan kembali setelah
pencampuran. Bila perbedaan kerapatan kecil, pemisahan harus dilakukan
dengan meggunakan gaya sentrifugal.
5. Reaktifitas pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara
kimia pada komponen bahan ekstraksi.
6. Titik didih, karena ekstrak dan pelarut harus dipisahkan dengan cara
penguapan, maka titik didih kedua bahan harus jenuh.
Berdasarkan bahan yang dipakai ekstraksi dibagi menjadi 2 macam :
1. Ekstraksi padat

- cair yaitu suatu ekstraksi yang bahan ekstraksinya

merupakan zat padat yang menggunakan pelarut zat cair.


2. Ekstraksi cair cair yaitu suatu ekstraksi yang bahan ekstraksinya merupakan
zat cair dengan menggunakan pelarut zat cair.

Secara garis besar ekstraksi didefinisi, yaitu suatu cara pemisahan suatu zat cair
dari campurannya (merupakan zat padat atau cair) yang berdasarkan daya larut
dalam pelarutnya tertentu (pelarut sebagai pemisah).
Metode dasar pada ekstraksi cair-cair sebenarnya dibagi menjadi ekstraksi
bertahap continue dan counter current seperti dibawah ini :
-

Ekstraksi bertahap : cara ekstraksi yang paling sederhana caranya dengan


menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut
semula kemudian dilakukan pengocokkan sehingga terjadu kesetimbangan
konsenterasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah lapisan ini

tercapai didiamkan dan dipisahkan.


Ekstraksi continue : digunakan bila perbandiangn distributif relatif kecil
sehingga untuk pemisahan yang kuantitatif diperlukan beberapa tahap
ektraksi, efisiensi yang tinggi pada ekstraksi continue tergantung pada
viskositas fase dan faktor lain yang mempengaruhi kecepatan tercapainya
kesetimbangan. Efisiensi ekstraksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan

luas kotak yang besar.


Ekstraksi counter current fase cair pengekstraksi dialirkan dengan arah yang
berlawanan dengan larutan yang mengandung zat yang akan diekstrak.
Biasanya digunakan untuk pemisahan zat isolasi ataupun pemurnian sangat
bermanfaat untuk fraksional senyawa organik tetapi kurang bermanfaat untuk

senyawa-senyawa organik.
B. Kristalisasi
Pemisahan bahan padat berbentuk kristal dari suatu larutan atau peristiwa
pembentukan partikel zat padat dalam fase homogen. Kristalisasi yang dapat terjadi
sebagai pembentukan partikel padat dalam uap.
Syarat syarat terbentuknya kristal
-Larutan harus jenuh adalah larutan yang mengeandung jumlah zat terlarut
sedemikian rupa pada suhu tertentu sehingga kelebihan tidak lagi melarut
-Larutan harus homogeny
Partikel partikel yang sangat kecil tetap tersebar merata biarpun didiamkan dalam
waktu lama.
-Adanya perubahan suhu
Penurunan suhu secara dratstis/kenaikan suhu secara drastis tergantung dari kristal
yang diinginkan.
Metode metode kristalisasi :
1. Pendinginan

Untuk bahan-bahan yang kelarutannya berkurang drastis dengan menurunnya


temperatur, kondisi lewat jenuh dapat dicapai dengan pendinginan larutan panas
yang jenuh.
2. Pemanas
Untuk bahan yang kelarutannya berkurang sedikit dengan menurunnya suhu.
Kondisi lewat jenuh dapat dicapai dengan penguapan sebagai pelarut.
3. Pemanas dan pendinginan
Metode ini merupakan gabungan dari 2 metode diatas larutan panas yang jenuh
dialirkan kedalam sebuah ruangan yang divakumkan
4. Penambahan bahan (zat) lain.
Proses kristalisasi pada pembekuan :
1. Dalam keadaan cair atom-atom tidak memiliki susunan tertentu dan selalu mudah
bergerak
2. Dengan turunnya temperatur maka energi atom akan semakin rendah
3. Inti atom menjadi pusat kristalisasi
Mekanisme pembentukan kristal
1. Pembentukan inti. Inti kristal adalah partikel partikel kecil bahkan sangat kecil
yang dapat terbentuk secara sponton akibat dari keadaan lewat jenuh.
2. Pertumbuhan kristal. Pertumbuhan kristal merupakan gabungan dari 2 proses yaitu
:
a. Transportasi molekul molekul dari bahan yang akan dikristalkan dalam
larutan kepermukaan kristal dengan cara difusi, proses ini berlangsung
semakin cepat jika derajat lewat jenuh dalam larutan semakin besar.
b. Penempatan molekul-molekul pada kisi kristal semakin luas total permukaan
kristal semakin banyak bahan yang ditempatkan pada kisi kristal persatuan
waktu
IV.

METODE PROSES
Dalam praktikum ini kita menggunakan metode kristalisasi pemanasan karena
perubahan suhu drastisnya dengan cara dipanaskan.

V.

DIAGRAM ALIR PROSES


-Diagram Alir Proses

5 gram teh
dan 20 cc
alkohol

25 gr MgO

dipanaskan
hingga 4 jam

Dibuat suspensi
dalam 150 cc air

Filtrate yg
dihasilkan
dijadikan satu

Tepung
direbus lagi
dgn 150 cc air
sebanyak 3x

Dimasukkan
25 cc H2SO4

Filtrat dikocok
hingga 3x

Perhitungan

VI.

DESKRIPSI PROSES
ALAT DAN BAHAN

Alat alat yang digunakan :


Corong Pemisah
Kertas saring
Gabus
Erlenmeyer hisap
Klem
Statif
Piring porselin
Bunzen
Pompa vakum

Bahan bahan yang digunakan :


Teh

Dipanaskan hingga
menjadi tepung

Tepung yg terjadi
direbus dlm 250 cc
air lalu saring

Ditambahkan
NaOH lalu
diteteskan ke
piring porselin yg
dipanaskan

Diperoleh kristal
kurang lebih
sebabanyak 2 gr

VII.

Alkohol
MgO
H2SO4
Khlorofrom
NaOH

PROSEDUR PRAKTIKUM
1. Kedalaman alat ekstraksi dimasukan 50 gr teh dan 200 cc alkohol
2. Proses ekstraksi ini berlangsung selama 2 jam (sampai cairan yang kembali kelabu jernih)
3. Setelah ekstraksi cairan ditambah 25 gram MgO dan dibuat suspensi dalam 150 cc
air pada piring porselin
4. Kemudian dipanaskan diatas bonzen hingga suspensi menjadi kering seperti
tepung
5. Tepung yang terjadi direbus dengan 250 cc air lalu disaring dengan saringan
pengisap
6. Kemudian tepung direbus lagi dengan air 150 cc sebanyak 3x
7. Pada tiap tiap penuaringan filtratnya dijadikan satu
8. Kemudian dalam cairan ini dimasukan 15% larutan asam sulfat 25 cc dan cairan
direbus hingga volumenya mancapai 1/3 dari volume awal
9. Setelah perebusan saring kembali untuk menghilangkan kotoran kotoran yang
masih ada
10. Filtratnya yang didapat dikocok 3 kali dengan khlorofrom setiap 25 cc
pemakaiannya
11. Larutan chlorofrom yang akan kuning diberi larutan NaOH encer agar warnanya
agak muda
12. Kemudian diteteskan kepiring porselin yang sedang dipanasi diatas bonzen,
sehingga didapat kristal coffeine
13. Kristal coffeine yang didapat berupa jarum jarum putih yang mengkilap,
mempunyai 1 mol air kristal dengan titik lebur 236 oC dan menyublin pada suhu
180 oC
14. Timbang kristal yang didapat dan hitung rendemen praktisnya.
15. Hasil yang didapat kira kira 2 gram

VIII.

RANGKAIAN ALAT PRAKTIKUM

Proses Penyaringan dengan Saringan Penghisap

1
2
5
3

7
4

Keterangan Gambar :

3. Kakitiga
4. Bonzen
5. Klem
6. Statif

1. Corong Pemisah
2. Piring porselin

1
2
3

Pemisahan Coffein dari Larutannya

Keterangan Gambar:
Corong Pemisah
Piring Porselin
Kakitiga

Alat Untuk Ekstraksi Coffein

4
5
6

Bonzen
Klem
Statif

10
1

2
3
4
5

Keterangan Gambar :
1
2
3
4
5
6
7

Kondensor
Klem
Soxlet
Kertas Saring
Hols
Labu didih
Waterbath / Heater

8 Statif
9 Selang Air Masuk
10 Selang Air Keluar
A. Teh didalam hols
B. Etanol dan ekstrak
11

12
IX.

DATA PRAKTIKUM
13
DATA PENGAMATAN
o Tepung yang didapat direbus dengan air 200 ml sampai mendidih kemudian
disaring dengan penyaring vacuum pada saat masih keadaan panas (mendidih) dan
dilakukan hal sama dengan air sebanyak 150 cc sebanyak 3 x
o Filtratnya dijadikan satu dan ditambah 25 ml H 2SO4 15 % kemudian direbus hingga
volumenya menjadi 1/3 volume awal
o Kemudian disaring dengan penyaring vacuum untuk menghilangkan kotoran
kotoran yang masih ada
o Dimasukan kedalam corong pemisah dan diberi Chlorofrom 25cc tiap pengocokan
sebanyak 3x
o Cairan pada lapisan bawah ditampung sedangkan lapisan atas dikocok lagi
14
DATA PERHITUNGAN
Secara teoritis
15

Berat kristal coffein

= 2gr

16
Vawal

: 200 ml

Hasil praktikum

17

-Berat cawan + isi

= 238,56 gr

18

-Berat cawan kosong = 237,89 gr

19

-Berat kristal coffein =

0.67 gr

20
Rendemen Coffein

berat h asilpraktikum
beratsecarateoritis x

21

22

= 33,5%

0.67 gr
2 gr

100 %

x 100 %

23
X.

PEMBAHASAN
24 Pada praktikum ekstraksi kafein ini bahan baku yang digunakan adalah teh,
karena teh mengandung kafein paling banyak dibandingkan dengan jenis tanaman
lainnya seperti kopi dan coklat. Untuk mengekstraksi teh, teh ini dibungkus dengan

kertas saring dan dimasukkan ke dalam ekstraktor.Kemudian diisi dengan alcohol


sebagai pelarutnya. Digunakan alkohol sebagai pelarutnya karena mempunyai sifat
yang sama dengan sampel, yaitu bersifat polar, sehingga dapat melarutkan kafein
yang terdapat di dalam teh. Pada proses ekstraksi digunakan alat ekstraktor, dimana
pada percobaan ini alat ekstraktor yang berisi teh dengan pelarut alkohol bekerja
dengan cara pemanasan yang dilakukan dimana akan terjadi sirkulasi selama
pemanasan. Semakin sering terjadi sirkulasi maka akan semakin banyak kafein yang
dihasilkan. Sirkulasi ini terjadi karena pelarut alkohol yang berada pada labu bulat
akan menguap akibat pemanasan. Alat ekstraktor ini dilengkapi dengan cooler yang
akan mendinginkan alkohol yang menguap dan akan turun ke dalam ekstraktor
hingga akhirnya jatuh ke dalam alas bulat kembali. Setelah selesai diekstraksi,
larutan campuran kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi suspensi
dari MgO dan air.Tujuan dari penambahan MgO tersebut untuk mengikat klorofil
dan mengikat air, agar kafein menjadi terlindungi pada saat pengeringan sehingga
tidak pecah-pecah yang menyebabkan kerusakan pada strukturnya.Kemudian
campuran dituangkan dalam cawan porselin kemudian dikeringkan.Pengeringan
disini bertujuan untuk menghilangkan kandungan alkohol dari campuran.Tepung yang terbentuk
direbus dengan 200 cc air. Hal ini bertujuan untuk melarutkan coffein dan juga untuk
memurnikan campuran dari pengaruh alkohol yang masih ada dalam MgO.Setelah
itu

disaring

dengan

saringan

penghisap.Tepung

direbus

kembali

hingga

menghasilkan filtrate.Fitrat yang mengandung kafein kemudian ditambahkan dengan


15% larutan H2SO4 25cc. Penambahan asam ini dimaksudkan untuk mengoksidasi
larutan dan menurunkan pH larutan sehingga kafein tidak mengalami kerusakan.
Pada suasana pH yang tinggi,kafein sangat mudah rusak, sehingga untuk
mendapatkan kafein yang baik, penambahan asam seperti asam sulfat untuk
menurunkan pH harus dilakukan.Setelah itu diakukan pengisatan sampai 1/3 volume
semula. Hal ini dilakukan agar larutan tersebut jenuh dan memenuhi syarat
kristalisasi dan zat-zat dan air yang tercampur pada kafein menjadi terpisah melalui
proses ini.
25 Proses pemanasan ini sangat berperan dalam mendukung difusivitas yaitu
masuknya pelarut air menembus bahan padat daun teh dan melarutkan kafein dari
daun karena perbedaan konsentrasi yang besar antara pelarut dn bahan. Difusivitas
ini memerlukan perbedaan temperatur dan tekanan yang signifikan yang dapat di
peroleh melalui pendidihan larutan.Hasilnya adalah sari daun teh tersebut larut

dengan warna larutan coklat tua dan ampas daun teh diatasnya, sedangkan H2SO4,
menjadi endapan putih di dasar larutan sehingga tidak mengganggu larutan yang di
inginkan.Larutan yang tertinggal dimasukkan ke dalam corong pisah. Di dalam
corong pisah dilakukan pencucian dengan CHCl3 dengan carapengocokan corong
pemisah yang berisi larutan dan kloroform agar kloroform dapat terdistribusi dengan
cepat dan keduanya tercampur sempurna. Dibukanya kran pada saat pengocokan
agar mengeluarkan gas didalamnya, karena jika tidak dikeluarkan dapat memberikan
tekanan.Pemisahan

larutan

ini

dikarenakan

sifat

kepolarannya.Penggunaan

kloroform (CHCl3) sebagai pencuci karena CHCl3 bersifat semipolar yang dapar
mengikat kotoran-kotoran dan zat-zat lain yang ada pada kafein sekaligus berikatan
dengan air.Penggunaan kloroform sebagai pelarut ke dua adalah karena kloroform
tidak bercampur dengan air dan mudah menguap sehingga pada akhir percobaan
dapat terpisah dengan ekstrak kafein.Selain itu, kafein dan kloroform sama-sama
bersifat non polar.Pada saat larutan berada di dalam corong pemisah ini terlihat
bahwa air dan kloroform tidak dapat bercampur.Air berada di bagian atas, sedangkan
kloroform yang kerapatannya lebih tinggi berada di bawah nya.Mulanya kafein
hanya terkonsentrasi pada air. Namun setelah corong pemisah di kocok, kafein akan
terdistribusi menempati kedua bagian pelarut dan mencapai kesetimbangan sebagian
antara fasa bagian atas (dalam air) dan fasa yang lebih rendah (kloroform). Kafein
merupakan zat organik yang dapat larut dalam pelarut organik kloroform dan
memiliki gugus karbonil yang hidrofilik sehingga juga larut dalam air.
26

Larutan yang telah dikocok dalam corong pemisah terbagi menjadi 3

lapisan.Lapisan atas berwarna cokelat tua yang mengandung zat sisa, lapisan tengah
berwarna coklat muda adalah kafein yang masih bercampur dengan zat sisa
sedangkan lapisan bawah yang berwarna bening adalah larutan kafein. Terbentuknya
3 lapisan ini disebakan massa jenis. Semakin kecil massa jenis maka akan berada di
lapisan paling atas. Larutan kafein dikeluarkan ke dalam gelas beker agar kafein
terpisah dari zat-zat lainnya.Larutan atas ditambah kloroform agar kafein yang
masih tertinggal di nlarutan dapat terpisah secara sempurna.Sehingga, kafein terikat
dengan kloroform dan dapat dikeluarkan ke gelas beker.Larutam kafein yang telah
dipisahkan, ditambahkan NaOH encer.Penambahan NaOH untuk menjernihkan
larutan coffein yang berwarna kuning dari pengaruh Kloroform. Kemudian larutan
terbagi menjadi dua lapisan, lapisan yang paling bawah berisi kafein yang akan

dievaporasi diatas piring porselin hingga menyisakan kristal kafein. Hasil kristal
kafein yang didapat adalah 0,67 gram.
27

Pembahasan secara singkat :

a) Penambahan MgO bertujuan untuk mengikat coffeine dan etanol


b) Campuran dituangkan dalam cawan porselin kemudian dikeringkan. Pengeringan
disini bertujuan untuk menghilangkan kandungan alkohol dari campuran
c) Tepung yang terbentuk direbus dengan 200 cc air. Hal ini bertujuan untuk
melarutkan coffein dan juga untuk memurnikan campuran dari pengaruh alkohol
yang masih ada dalam MgO
d) Filtrat dicuci / dengan 150 cc sebanyak 3 x untuk pencucian coffein dan juga
bertujuan untuk menarik kandungan coffein dalam MgO
e) Pemanasan larutan menjadi 1/3 volume awal dilakukan untuk menjenuhkan
larutan
f) Penambahan Chlorofrom bertujuan untuk mengikat coffein dalam air
g) Penambahan NaOH untuk menjernihkan larutan coffein yang berwarna kuning

XI.

dari pengaruh Klorofrom


28
KESIMPULAN
29

Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :

Coffein mudah larut dalam keadaan panas sehingga dalam praktek ini harus

berlangsung pada suhu tinggi


Metode kristalisasi digunakan pemanasan
Operasi pemisahan yang digunakan yaitu ekstraksi, filtrasi, dekantasi dan
kristalisasi
Dalam praktek ini didapat coffein sebesar 0,67 gr dan rendemennya 33,5%.
30
XII.
TUGAS
1
Sebutkan 4 macam teknik pemisahan dalam kafein !
31 Jawab :
32
Ekstraksi secara dingin
a) Maserasi, merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara
merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada
temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
33
Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang
mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak
mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Keuntungan dari metode ini adalah
peralatannya sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang
diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang

digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang


mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin.
34 Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi sebagai berikut :
Modifikasi maserasi melingkar
Modifikasi maserasi digesti
Modifikasi Maserasi Melingkar Bertingkat
Modifikasi remaserasi
Modifikasi dengan mesin pengaduk
b) Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan
penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi
menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia
dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat
setelah melewati pipa sifon.
35 Keuntungan metode ini adalah :
Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan
terhadap pemanasan secara langsung.
Digunakan pelarut yang lebih sedikit
Pemanasannya dapat diatur
36 Kerugian dari metode ini :
Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah
bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi
peruraian oleh panas.
Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui
kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam
wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk
melarutkannya
Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk
menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti metanol
atau air, karena seluruh alat yang berada di bawah komdensor perlu berada
pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif.
37 Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran
azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran
pelarut, misalnya heksan : diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang
diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi
yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.
c) Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk
simplisia yang telah dibasahi.Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan
langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak.
Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas
dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama
proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.
38
Ekstraksi secara panas
d) Metode refluks
39 Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampelsampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung..

40 Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan


sejumlah manipulasi dari operator.
e) Metode destilasi uap
41 Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak
menguap (esensial) dari sampel tanaman. Metode destilasi uap air diperuntukkan
untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung
komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal.
42 Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya
melarutkanyang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi
ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang
diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut
polar dan sebaliknya.
Jelaskan metode soxhlet dengan refluks !
43 Jawab :
44 Prinsip soxhletasi adalah penyarian berulang ulang sehingga hasil yang
didapatkan sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyaringan
ini telah selesai, maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang
tersaring. Metode soxhletasi merupakan penggabungan antara metode maserasi dan
perlokasi.
45 Prinsip Refluks adalah penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan
cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan
penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola
menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu
alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat,
demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian
sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat
yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.
Tujuan pemanasan 1/3 volume dalam ekstraksi?
Pemanasan larutan menjadi 1/3 volume awal dilakukan untuk menjenuhkan

larutan.
2 Mengapa dilakukan penambahan CHCl3?
46 Jawab:
karena Fungsi Kloroform
: chloroform digunakan untuk pengikat coffeine
dari air. Kafein larut baik dalam kloroform sehingga untuk memperoleh ekstrak
kafein yang maksimal digunakan pelarut ini. ( sebagai Pelarut yang dapat
melarutnya lipida).
1 Bagaimana ekstraksi cair-cair?
47 Jawab:
Ekstraksi Cair-Cair adalah suatu ekstraksi yang bahan ekstraksinya merupakan zar
cair dengan menggunakan pelarut zat cair.
48

Metode dasar pada ekstraksi cair cair sebenarnya dibagi menjadi


beberapa, yaitu:

Ekstraksi bertahap yaitu cara ekstraksi yang paling sederhana caranya dengan
menambahkan pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut
semula kemudian dilakukan pengocokkan sehingga terjadi ksetimbangan
konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah lapisan ini
tercapai didiamkan dan dipisahkan.
Ekstraksi continue yaitu digunakan bila perbandingan distributive relative kecil

sehingga untuk pemisahan yang kuantitatif diperlukan beberapa tahao ekstraksi,


efisiensi yang tinggi pada ekstraksi continue teragantung pada viskositas fase
dan factor lain yang mempengaruhi kecepatan tercapainya kesetimbangan.
Efisiensi ekstraksi dapat ditingkatkan dengan menggunakan luas kotak yang
besar.
Ekstraksi counter current : fase cair pengekstraksi dialirkan dengan arah yang

berlawanan dengan arah larutan yang mengandung zat yang akan diekstrak.
Biasanya digunakan untuk pemisahan zat isolasi ataupun pemurnian sangat
bermanfaat untuk fraksional senyawa organic tetapi kurang bermanfaat untuk

XIII.

senyawa- senyawa organic.


49
DAFTAR PUSTAKA
50
o Modul Percobaan PTK 3 Kimia Organik Universitas Muhammadiyah Jakarta.
o Ahmad, Mustafa, 1992, Kimia Organik, Erlangga: Jakarta.
o Arsyad., 2001, Kamus Kimia, Jakarta : Rineka Cipta,
o Barasella, Diana. 2012. Buku Wajib Kimia Dasar. Jakarta : Trans Info media.
o Foust, A.S, 1980, Principles of Unit Operation, 2nd edition, John Wiley and
Sons Inc., New York.
o Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
o Muizliana, Coir. 2010. Laporan Ekstraksi. [online: 18 Mei 2015]
http://choalialmu89.blogspot.com/2010/10/percobaan-v-ekstraksi-kafein-daridaun.html.
o (http://www.ardydii.wordpress.com/2013/03/10/ekstraksi) Diakses 20 Mei
2015.
51