Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN TUTORIAL

Leprosy
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Tutorial
Blok Sistemik

Pembimbing :
DR. drg. Atik Kurniawati, M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2015

DAFTAR ANGGOTA KELOMPOK

Tutor

: DR. drg. Atik Kurniawati, M.Kes

Ketua

: Mochammad Fahmi

(131610101026)

Sciber Meja : Farah Firdha A

(131610101046)

Sciber Papan : Veda Chandrika

(131610101071)

Anggota

Canggih Patriot B

(131610101032)

Aditya Pristyhari

(131610101034)

Galuh Cita Sari R

(131610101041)

Putri Dewi Septiany

(131610101055)

Loly Sinaga

(131610101057)

Ziyana Mawaddatul W

(131610101061)

Natasha Destanti H

(131610101063)

Desy Futri Intan G A N

(131610101070)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah NYA
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan yang berjudul Leprosy.
Laporan ini disusun untuk memenuhi hasil diskusi tutorial kelompok VI pada
skenario kedua.
Penulisan makalah ini semuanya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,
oleh karena itu penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. DR. drg. Atik Kurniawati, M.Kes selaku tutor yang telah membimbing
jalannya diskusi tutorial kelompok VI Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember dan member masukan yang membantu bagi
pengembangan ilmu yang telah didapatkan.
2. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunan laporan ini tidak lepas dari kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikan perbaikan di masa yang akan dating demi kesempurnaan laporan ini.
Semoga laporan ini dapat berguna bagi kita semua.

Jember, 28 Februari 2015

Tim Penyusun

SKENARIO 2 : LEPROSY
Seorang laki-laki, 50 tahun, pekerjaan tukang becak, datang ke klinik dengan
keluhan adanya makula hipopigmentasu pada kulit dan ulkus di kaki dan tangan
disertai nyeri di kedua lengannya sejak 3 hari yang lalu. Penderita juga mengalami
demam ringan dan nyeri sendi, anoreksia, neuritis, depresi, tangan dan kaki
membengkak epitaksis dan lain-lain. Kelainan tersebut diawali timbulnya bercak
kemerahan sejak 9 bulan yang lalu di punggung kemudian bertambah banyak
serta meluas, telapak kaki terasa tebal, tidak dapat merasakan sensasi apa apa dan
kesemutan. Pada pemeriksaan intra oral (palatal) didapatkan kelainan berupa
ulkus eritomatosa, berbatas tegas, mengkilat, dan tidak nyeri. Pada kedua lengan
terdapat nodus eritomatosa yang nyeri bila disentuh. Kulit kedua tungkai sangat
kering dan bersisik. Pada pemeriksaan saraf ditemukan pembesaran saraf daerah
lesi. Saat ini penderita sedang dalam pengobatan penyakitnya.

STEP 1

Epitaksis :
Suatu perdarahan yang keluar dari hidung, karena adanya kelainan
sistemik (contoh : leprosy) dan faktor lokal (contoh : trauma).
Epitaksis terjadi karena pecahnya pembuluh darah di septum nasi.
Leprosy :
Penyakit menular kronik yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae,
diawali dengan lesi granulomatosa pada kulit, membran mukosa, dan
sistem saraf perifer.
Mycobacterium leprae bersifat obligat intraseluler, dimana hidup
didalam sel suatu mahkluk hidup.

Makula hipopigmentasi :
Lesi pada kulit, datar, karena sintesis melaninnya berkurang bahkan
tidak ada sama sekali sehingga menyebabkan lesi berwarna putih.

Ulkus eritematosa :
Lesi berbentuk cekung, jelas, berwarna kemerahan.

Nodus eritematosa :
Lesi berbentuk kerucut dan jaringan padat serta kemerahan.

Neuritis :
Peradangan pada saraf yang dapat disebabkan bakteri atau virus yang
disertai rasa nyeri.

Anoreksia :
Suatu keadaan psikologis seseorang yang merasa kelebihan berat
badan padahal orang tersebut kekurangan nutrisi. Setelah makan selalu
berusaha mengeluarkan makan tersebut.

STEP 2
1. Adakah secara epidemologi hubungan pekerjaan penderita dengan
penyakit leprosy?
2. Mengapa penyakit leprosy ini dapat menyebabkan neuritis dan anoreksia?
3. Mengapa tanda dan keluhan pasien muncul setelah 9 bulan?
4. Mengapa leprosy menyebabkan ulkus eritematosa?

5. Mengapa pada ulkus tidak nyeri dan pada nodus nyeri?


6. Mengapa tungkai dapat kering dan bersisik?
7. Apa yang menyebabkan terjadinya pembesaran saraf dan bagaimana
terjadinya?

STEP 3
1. Mycobacterium leprae dapat hidup di iklim subtropis
o rata-rata bakteri ini menyerang golongan ekonomi menengah kebawah
karena kebanyakan dari mereka kekurangan biaya untuk memenuhi
asupan gizi dan nutrisi. Sehingga tubuh mereka akan rentan terhadap
suatu penyakit.
o Faktor usia juga menentukan kerentanan seseorang terhadap
terserangnya peyakit karena semakin tua usia seseorang pertahanan
tubuh akan semakin menurun.
o Jenis kelamin, berdasarkan survei yang telah banyak dilakukan, bahwa
jenis kelamin laki-laki lebih sering terserang Mycobacterium leprae
dibanding wanita. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor
pekerjaan, dimana pria lebih sering bekerja.
2. Leprosy Neuritis
- M. leprae Sel Schwan kurangnya fagosit Neuritis
- M. leprae tidak dapat menembus sistem saraf pusat karena pertahanan
tubuh untuk menuju sistem saraf pusat lebih kuat sehingga bakteri
tidak mudah untuk masuk kesana. Selain itu, M. leprae lebih suka pada
saraf perifer karena suhu pada saraf perifer sangat cocok untuk hidup
M. Leprae.
Leprosi Anoreksia
-

Bakteri menginvasi saraf rusak (saraf yang mengatur nafsu makan)


nafsu makan menurun (faktor psikis)

3. Pada leprosy ada reaksi memunculkan diagnosa lepra timbul 9-12


bulan massa inkubasi 3-20 tahun (Jadi, leprosy timbul lama)

Leprosy dapat sembuh jika sistem pertahanan tubuh kuat, nutrisi baik, dan
penanganan cepat.
Leprosy menyerang saraf, 3 stage :
- Stage of involvement Saraf menebal
- Stage of damage (saraf rusak dan fungsi terganggu)
- Stage of structure (saraf rusak permanen)
Infeksi

primer

membran

plasma

membesar

makrofag

memfagositosis didalam sel tidak dapat dicerna berkembang dalam


darah manifestasi M. leprae
4. Leprosy ulkus eritematosa
- Saraf sensorik rusak atau terganggu mati rasa rentan terhadap
-

termis dan trauma (meningkatkan sensitifitas)


Penyakit lepra kebanyakan lesi terletak di palatal karena M. leprae
suka pada suhu tubuh yang lebih rendah. Palatal merupakan tempat
yang cocok untuk manifestasi M. leprae, terutama palatum yang keras
(Palatum durum)

5. Pada nodus eritematosa masih terdapat jaringan padat sehingga terasa


nyeri (saraf masih aktif). Nyeri timbul akibat adanya penebalan saraf.
Nodus yang selalu tergesek lama lama akan pecah menjadi ulkus, sehingga
semakin dalam infeksi dan menyebabkan saraf mati serta tidak terasa sakit.
6. M. leprae menyerang saraf otonom sehingga terjadi gangguan fungsi
kelenjar keringat dan lemak sehingga :
- Terjadi gangguan pada fungsi kelenjar keringat dan lemak kemudian
-

menyebabkan kulit kering bahkan retak dan dapat keluar pus.


Terjadi gangguan regulasi darah sehingga rentan termis dan tekanan.

7. Inflamasi perbesaran saraf


M. leprae Sistem Imun Respon pembesaran saraf
Infeksi primer :
Inkubasi M.leprae lama merusak Sel Schwan memberikan respon
makrofag akan difagosit mengeluarkan respon inflamasi.

STEP 4

Patofisiologi

STEP 5 (LEARNING OBJECTION)


1.
2.
3.
4.

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan definisi Leprosy


Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan etiologi Leprosy
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan patofisiologi Leprosy
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pemeriksaan klinis

STEP 7
1. Leprosy merupakan merupakan salah satu penyakit menular kronik yang
disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae (M leprae) yang intra
seluler obligat menyerang saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit
dan mukosa traktus respiratorius bagian atas kemudian ke organ lain
kecuali susunan saraf pusat. Penyakit kusta dikenal juga dengan nama
Morbus Hansen atau lepra. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta,
yakni kushtha yang berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum.
Penyakit leprae dapat masuk ketubuh melalui luka pada kulit dan saluran
pernafasan atas.
Mycobacterium leprae :
Secara morfologik, M.leprae berbentuk pleomorf lurus, batang panjang,
sisi paralel dengan kedua ujung bulat. Ukuran 0,3-0,5 x 1-8 mikron. Basil
ini berbentuk batang gram positif, bersifat tahan asam (BTA), tidak
bergerak dan tidak berspora, dapat tersebar atau dalam berbagai ukuran
bentuk kelompok. Pada mikroskop elektron, tampak M.leprae mempunyai
dinding yang terdiri dari 2 lapisan, yakni lapisan peptidoglikan pada
bagian dalam dan lapisan transparan lipopolisakarida dan kompleks
protein-lipopolisakarida pada bagian luar. M.leprae adalah basil obligat
intraseluler yang terutama dapat berkembang biak di dalam sel Schwann
saraf dan makrofag kulit. M.leprae merupakan basil Gram positif karena
sitoplasma basil ini mempunyai struktur yang sama dengan gram positif

yang lain, yaitu mengandung DNA dan RNA dan berkembang biak secara
binary fision dan membutuhkan waktu 11-13 hari.
2. Etiologi Leprosy
-

Agen :
Kuman ini satu genus dengan kuman TB dimana di luar tubuh
manusia, kuman kusta hidup baik pada lingkungan yang lembab akan
tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari. Kuman kusta dapat
bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap tanpa sinar
matahari sampai bertahun-tahun lamanya. Kuman Tuberculosis dan
leprae jika terkena 23 cahaya matahari akan mati dalam waktu 2 jam,
selain itu. Seperti halnya bakteri lain pada umumnya, akan tumbuh
dengan subur pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Air
membentuk lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal
esensial untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri.
Di luar bakteri ini dapat bertahan hidup selama 8-9 hari pada suhu 2730 C. Pembelahan dari bakteri ini 2-3 minggu

Host :
Manusia merupakan reservoir untuk penularan kuman seperti
Mycobacterium tuberculosis dan morbus Hansen, kuman tersebut
dapat menularkan pada 10-15 orang. Menurut penelitian pusat ekologi
kesehatan (1991), tingkat penularan kusta di lingkungan keluarga
penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat
menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya. Di dalam rumah
dengan ventilasi baik, kuman ini dapat hilang terbawa angin dan akan
lebih baik jika ventilasi ruangannya menggunakan pembersih udara
yang bisa menangkap kuman. Hal yang perlu diketahui tentang host
atau penjamu meliputi karakteristik; gizi atau daya tahan tubuh,
pertahanan tubuh, hygiene pribadi, gejala dan tanda penyakit dan

pengobatan. Karakteristik host dapat dibedakan antara lain : umur,


jenis kelamin, pekerjaan , keturunan, pekejaan, ras dan gaya hidup.
-

Lingkungan :
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di luar diri host baik benda
mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti suasana yang terbentuk
akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk host yang lain.
Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik, lingkungan
fisik terdiri dari : keadaan geografis (dataran tinggi atau rendah,
persawahan dan lain-lain), kelembaban udara, suhu, lingkungan tempat
tinggal. Adapun lingkungan non fisik meliputi : sosial (pendidikan,
pekerjaan), budaya (adat, kebiasaan turun temurun), ekonomi
(kebijakan mikro dan local) dan politik (suksesi kepemimpinan yang
mempengaruhi kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu
penyakit).

3. Patofisiologi Leprosy
M. leprae memilki bagian G. Domain of extrasellular matriks
protein laminin 2 yang akan berikatan dengan Sel Schwan melalui reseptor
dystroglikan lalu akan mengaktifkan MHC II setelah itu mengaktifkan
CD4+. CD4+ akan mengaktifkan Th 1 dan Th 2 sehingga mengaktifkan
makrofag. Makrofg gagal memakan M. leprae akibat adanya fenolat
glikolipid I yang melindunginya didalam makrofag. Ketidakmampuan
makrofag akan merangsang dia bekerja terus-menerus untuk menghasilkan
sitokin dan GF yang lebih banyak lagi. Sitokin dan GF tidak mengenali
bagian self atau non self sehingga akan merusak saraf dan saraf yang rusak
akan digantikan dengan jaringan fibrous sehingga terjadilah penebalan
saraf tepi.
Terdapat banyak jenis klasifikasi penyakit kusta diantaranya adalah
klasifikasi Madrid, klasifikasi Ridley-Jopling, klasifikasi India dan
klasifikasi menurut WHO.
Jenis-jenis klassifikasi:

A. Klassifikasi Madrid (1953)


1. Indeterminate (I)
2. Tuberkuloid (T)
3. Borderline (B)
4. Lepromatose (L)
B. Klassifikasi RIDLEY-JOPLING (1962)
1. Tuberkuloid Tuberkuloid (TT)
2. Borderline Tuberkuloid (BT)
3. Borderline Borderline/= Mid Boderline (BB)
4. Borderline Lepromatose (BL)
5. Lepromatose Lepromatose (LL)

Gb. Penderita Kusta Tipe Tuberkuloid & Bordeline


C. Klassifikasi WHO/DEPKES (1981) dan (1988)
1. Pausi Basiler (PB)

yang termasuk PB :
kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif
menurut klassifikasi Ridley- Jopling dan type I dan T menurut
klassifikasi Madrid

2. Multi Basiler (MB)

yang temasuk MB :
Kusta type LL, BL, BB dengan sebagian BT menurut
klassifikasi Ridley-jopling dan type B dan L menurut
klassifikasi Madrid dan semua type kusta dgn BTA positif

Perbedaan ciri ciri Pausi Basiler (PB) dan Multi Basiler (MB)
Kelainan kulit
1. Bercak
(Makula)
2. Ukuran

PB
1-5

Banyak

Kecil dan besar

Kecil-kecil
Halus,

3. Konsistensi

Kasar, kering

4. Batas bercak
5. Kehilangan rasa

Tegas
Selalu ada dan jelas
Bercak tidak

6. Kemampuan
berkeringat

MB

berkeringat, bulu rontok

pada bercak
7. Nodula
8. Penebalan saraf 1 Saraf
9. Hipopigmentasi Ada
LL : Makula tidak terhitung

mengkilat
Kurang tegas
Tidak jelas
Bercak dan
tidak rontok
Kadang ada
>1 saraf
-

BL : Makula tidak terhitung


4. Gejala utama pada penyakit lepra ada 3 tanda, yaitu :
- Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa . Kelainan kulit atau lesi dapat
berbentuk bercak keputih-putihan (hypopigmentasi )atau kemerah-

merahan (Eritemtous ) yang mati rasa.


Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi
saraf.Ganggguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan

kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi saraf ini bisa
berupa :
Kerusakan fungsi sensorik
Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya
kurang/mati rasa (anestesi). Akibat kurang/mati rasa pada
telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka. Sedangkan pada
kornea mata akan mengakibatkan kurang/hilangnya reflek
kedip sehingga mata mudah kemasukan kotoran, benda-benda
asing yang dapat menyebabkan infeksi mata dan akibatnya

buta.
Kerusakan fungsi motorik
Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi
lemah/lumpuh dan lama-lama otot mengecil (atrofi) oleh
karena tidak dipergunakan. Jari-jari tangan dan kaki menjadi
bengkok (clow hand/clow toes) dan akhirnya dapat terjadi
kekakuan pada sendi, bila terjadi kelemahan/ kekakuan pada

mata, kelopak mata tidak dapat dirapatkan (lagoptalmus)


Kerusakan fungsi otonom
Terjadinya gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak
dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering,
menebal, mengeras, dan akhirnya dapat pecah-pecah. Pada
umumnya apabila terdapat kerusakan fungsi saraf tidak
ditangani secara tepat dan tepat maka akan terjadi cacat ke

tingkat yang lebih berat.


Adanya kuman tahan asam didalam kerokan jaringan kulit (BTA+),
pemeriksaan ini hanya dilakukan pada kasus yang meragukan.
Gejala lain :
o
o
o
o

Alis rambut rontok


Neuritis
Arthritis (peradangan pada sendi)
Muka tegang atau berbenjol-benjol (muka singa)

Saraf yang terganggu :

N. Ulnaris :
- anestesia ujung jari anterior kelingking dan jari manis,
- clawing kelingking dan jari manis
N. Medianus :
- anestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
- tidak mampu aduksi ibu jari
- clawing ibu jari, telunjuk, dan jari tengah
N. Radialis :
- anestesia ujung proksimal jari telunjuk
- tangan gantung (wrist drop)
- tidak mampu ekstensi jari-jari atau pergelangan tangan.
N. Poplitea lateralis :
- anestesia tungkai bawah
- kaki gantung (foot drop)
N. Tibialis posterior :
- anestesia pada telapak kaki
- claw toes
N. Facialis :
- cabang temporal dan zigomatik menyebabkan lagoftalmus
- cabang bukal, mandibular dan servikal menyebabkan kehilangan ekspresi
wajah dan kegagalan mengatupkan bibir.
N. Trigeminus :
- anestesia kulit wajah, kornea dan konjungtiva mata sehingga pandangan
kabur.

Gb. Claw Toe

Gb. Drop Foot


Manifestasi Oral
a. Lepromatus Leprosy
o Di palatum (pernafasan terganggu bernafas melalui mulut
suhu palatum rendah cocok untuk M. leprae hidup)
o Nodul 2-10 mm
o Pada lidah 2/3 anterior (suhu lebih dingin) : hilang papila, fisur
dalam
o Uvula : fibrosis hilang sebagian atau seluruh
o Gingivitis diarea yang dilewati udara

Gb. Lepromatous leprosy whitish lesions on the palate

Gb. Lepromatous leprosy enanthem of the anterior pillar


b. Borderline : papula, ulser
TB Persyarafan terganggu kelumpuhan wajah dan palatum
Manifestasi pada Gigi
-

M. leprae masuk dalam pembuluh darah mengakibatkan pembuluh


darah pecah dan menyebabkan terjadinya perubahan warna pada gigi
DAFTAR PUSTAKA

Yuliartha, I Gusti Putu. 2004. Hubungan antara Tipe Lepra dan Lama Kontak
dengan Terjadinya Lepra Subklinis pada Narakontak Serumah. Semarang :
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Lubis, Syahril Rahmat. Penyakit Kusta. Sumatra. Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatra.
Ana Paula Fucci da Costa, Jos Augusto da Costa Nery, Maria Leide Wan-del-Rey
de Oliveira, Tullia Cuzzi, Marcia Ramos-e-Silva. 2003. Oral lesions in
leprosy. Brazil. Departments of Dermatology and Pathology, HUCFF-UFRJ
and School of Medicine, Federal University of Rio de Janeiro.

Kosasih, A.,dkk. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Keenam. Jakarta:
Balai Penerbit UI.