Anda di halaman 1dari 16

Sejarah Studi Perencanaan

Komunikasi
By : Elok Perwirawati

Studi perencanaan komunikasi awalnya muncul pd tahun 1970-an dari

konflik kepentingan antara negara-negara yg sdng berkembang dengan


negara-negara maju yg memuncak.
Ketika itu negara berkembang yg dimotori oleh perdana menteri Indira

Gandhi mengeluhkan adanya ketidakseimbangan dan ketidakadilan arus


informasi yg mengalir di dunia.
Ketidakseimbangan ini terjadi salah satunya krna negara maju lebih

memiliki kekuatan teknologi komunikasi yang canggih dibandingkan


dengan negara berkembang.

Ketidakseimbangan informasi ini didukung pula oleh hasil riset Dr.gebner


( Annenberg school of communication) terhadap isi enam puluh surat
kabar yang terbit di sembilan negara, yakni tiga negara kapitalis ( AS,
Inggris dan Jerman barat), tiga negara sosialis ( Rusia, hongaria,
cekoslovakia), dan tiga negara sdng berkembang ( India, filipina dan
ghana).
Dari hasil analisis ke -60 surat kabar tersebut menunjukan bahwa suratsurat kabar yg terbit di negara kapitalis dan sosialis terlalu sedikit
mengekspos berita tentang negara yg sdng berkembang, jika pun ada
surat kabar tersebut cenderung memberitakan hal-hal yg negatif.

Para pekerja media di negara-negara maju cenderung melihat negaranegara yg sedng berkembang dari sisi negatif semata dan tidak
memberi solusi untuk memotivasi dan mengajak mereka keluar

dari

kemisikinan dan keburukan itu.


Mereka justru membuat stereotip bahwa mereka (ngra sdng brkembang)
diidentikan dengan kemiskinan, buta huruf, kriminal, teroris, korupsi,
pelanggaran hak asasi manusia, dan para kepala negaranya banyak yg
berprilaku aneh, unik dan antik.

Keluhan Indira Gandhi ini mendapat dukungan luas dari negara-negara


yg sdng berkembang, yg merasa negaranya menjadi sasaran penjajahan
terutama dibidang informasi, ekonomi dan ideologi.

Dukungan ini kemudian dimanfaatkan oleh negara sdng berkmbng


untuk menyerang negara maju melalui UNESCO (united nation education
scientific cultural organization).

Menurut John C Merriel (mahaguru komunikasi) :


Perbedaan cara penyampaian informasi ini bersumber pada perbedaan
konsep kebebasan arus informasi yg digunakan oleh masing-masing
negara. Dimana :
Negara-negara maju (barat) menilai informasi boleh bebas masuk ke
negara lain. Dengan demikian juga bebas memberitakan apa saja.
Sementara negara yg sdng berkembang (timur) menganggap kebebasan
arus informasi menuntut adanya keseimbangan termasuk isi informasinya
juga

harus

memberitakan

perkembangan negara tersebut.

hal

yang

positif

sesuai

dgn

tahap

Mengapa harus melalui UNESCO?


Satu hal yg perlu dicatat bahwa sampai tahun 1969 belum banyak orang
yg membicarakan tentang perencanaan komunikasi, kecuali para ahli
dan konsultan yg bekerja di UNESCO.
Dalam pertemuan pertama yg dilakukan di Montreal kanada tahun 1969,
di agendakan tiga pembahasan utama, yakni:

1. Masalah komunikasi yg erat hubungannya dengan kebebabasan arus


informasi dan bahaya imperealisme budaya yg bs meracuni tatanan
sosial negara yg sdng brkmbng.
. Karena memang dalam dekade 1970 an hingga 1980-an, produksi
bahan komunikasi ( film, program tv, musik dan alat rekaman lainnya
seperti buku, majalah, dan media lainnya) dari negara maju terutama
AS

dan

eropa

barat

melimpah

masuk

ke

negara

yg

sedang

berkembang,
. Hal inilah yg dikhawatirkan akan merusak tatanan dan budaya
komunikasi di negara tersebut.

2. Kemajuan teknologi komunikasi yang begitu cepat terutama dengan


kehadiran teknologi satelit dikhawatirkan dapat merusak dan melanggar
kedaulatan banyak negara.
. Dalam sidang umum PBB ke-16 tahun 1970, para pemimpin dunia
khususnya negara berkembang meminta perlunya perhatian dunia
untuk mengatasi ketidakseimbangn informasi melalui pertukaran berita
internasional yg sehat sehingga menghormati kedaulatan masingmasing negara.

3. Pemanfaatan infrastruktur komunikasi untuk mendukung program


pembangunan dalam meningkatkan standar hidup umat manusia.
Resolusi dari sidang umum PBB tersebut adalah membentuk tim yang
menyusun Tatanan Informasi Dunia Baru (New world Information order)
yang akan ditangani langsung oleh UNESCO, sebagai badan resmi PBB
yg mengurus urusan-urusan informasi, pendidikan dan kebudayaan.

Pertemuan pertama yg dilakukan di Montreal, belum bisa meredakan


masalah-masalah komunikasi yg muncul dan hal ini menggelisahkan
sejumlah pakar dan para pemimpin negara berkembang.
Hingga akhirnya dilakukan pertemuan lanjutan guna membicarakan
pentingnya perencanaan komunikasi. Untuk itu secara berturut-turut
dilakukan pertemuan di :
1. PARIS (1972), membahas isu kunci yang erat hubungannya dengan
kebijaksanaan dan perencanaan komunikasi serta pentingnya dilakukan
riset dalam memformulasi sistem komunikasi masing2 negara.

2. PARIS

(1974),

membahas

tentang

aspek2

perencanaan

dan

manajemen terhadap proyek2 komunikasi yg akan dilaksanakan dan yg


sedang berjalan di berbagai negara.
3. KUALA

LUMPUR

(1974),

membahas

tentang

pedoman2

dasar

perencanaan komunikasi dan peranan tenaga perencana komunikasi,


serta membahas tentang kemungkinan pelaksanaan pendidikan dan
pelatihan dibidang komunikasi untuk tingkat nasional, regional, dan
internasional.

Selain 3 pertemuan diatas, dengan dukungan dana yg tersedia, UNESCO


memutuskan melaksanakan tiga pertemua lanjutan yang kali ini
melibatkan pemerintah antaranegara untuk membicarakan pengalaman
masing2 negara dalam memformulasikan dan menyusun kebijakan dan
perencanaan komunikasi, yakni :
1. COSTA RICA (1976) untuk negara Amerika latin & Karibia.
2. KUALA LUMPUR (1979) untuk negara Asia Pasifik.
3. KAMERUN (1980) untuk negara Afrika.

Selain pertemuan yang dilakukan oleh UNESCO, beberapa organisasi komunikasi


regional

juga

aktif

melakukan

pertemuan

dan

mbahas

masalah

komunikasi

diantaranya:
AMIC ( The Asian Media Information and Communication centre), yg berkedudukan di
singapura jg aktif melakukan seminar tentang perencanaan komunikasi.
Seminar sejenis juga dilakukan di Dacca, bangladesh yg dihadiri 7 negara di kawasan
Asia Selatan,
Sementara di Indonesia seminar dilakukan oleh Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (
ISKI) di solo tahun 1984 yg dihadiri oleh pakar dan praktisi komunikasi dari jepang,
thailand, filipina, australia dan singapura.
dll

Dari pertemuan2 diatas, dpt disimpulkan bahwa dalam dekade 19701980 an perhatian para ahli untuk membicarakan tentang kebijakan
dan perencanaan komunikasi sangat besar dan berlanjut hingga saat
ini.
Dan pada akhirnya, diputuskanlah agar setiap negara anggota UNESCO
menyusun

dan

memantapkan

kembali

kebijaksanaan

dalam

hal

perencanaan komunikasi untuk menangani pengelolaan infrastruktur,


sumber daya, dan program2 komunikasi di negara masing-masing.

TERIMA KASIH