Anda di halaman 1dari 7

KONSEP SEHAT SAKIT

UPACARA METULAK OLEH MASYARAKAT DI LOMBOK

DISUSUN OLEH :
NAMA : RATNA SULISTYA DEWI
NIM : P27226014114

PROGRAM STUDI D IV FISIOTERAPI JURUSAN FISIOTERAPI


POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
KARANGANYAR
2015

A. Latar Belakang Masalah


Masyarakat suku sasak dikenal sebagai masyarakat etnik asli Lombok yang kaya
akan tradisi dan keraifan lokal. Suku Sasak merupakan masyarakat yang telah tinggal di
Tanah Lombok selama berabad-abad lamanya. Tak heran jika di Lombok, Suku Sasak
memiliki banyak peninggalan dengan nilai historis tinggi. Tidak hanya itu, masyarakat
Suku Sasak sampai saat ini masih berpegang teguh pada tradisi-tradisi warisan nenek
moyang.
Pada saat zaman pra islam sering terjadi berbagai bencana alam yang disertai dengan
sering terjadinya wabah penyakit pula seperti penyakit penyakit penyakit kulit. Oleh
sebab itu masyarakat pada zaman tersebut melakukan suatu tradisi untuk mencegah
terjadinya penyakit ataupun untuk mengobati penyakit yang dikenal dengan nama
Upacara Metulak. Tetapi seiring dengan masuknya Islam, Upacara Metulak tetap
dilaksanakan dengan memasukan unsur-unsur keislaman ke dalam upacara tersebut.
Konon, Upacara Metulak pertama kali dilaksanakan oleh leluhur Suku Sasak di Desa
Pujut, Lombok Tengah. Akan tetapi, belum ada sumber yang menyebutkan kapan
tepatnya upacara itu pertama kali dilakukan. Hanya saja sumber lain menyebutkan bahwa
islam masuk ke Pujut sekitar abad ke-16 dengan tokoh penyebar agama Islam adalah
Wali Nyatok.

B. Pembahasan / Penyelesaian
Upacara Metulak sampai saat ini masih dilakukan oleh masyarakat Suku Sasak
terutama yang tinggal di daerah pedesaan. Kata Metulak sendiri berasal dari kata
me dan tulak. Kata me dalam bahasa sasak adalah awalan yang bisa disisipkan
kepada kata apa saja dan kata tulak berarti kembali. Secara keseluruhan arti dari
kata metulak adalah mengembalikan atau lebih dikenal dengan tolak bala. Upacara ini
bertujuan untuk untuk menolak hama, penyakit, bencana dan gangguan roh jahat.
Upacara metulak dikenal juga dengan istilah bersentulak. Upacara ini dilakukan oleh
leluhur pra Islam,
Tata Cara Upacara Adat Metulak
Pelaksanaan upacara adat Metulak disesuaikan dengan tujuannya. Misalnya jika
upacara bertujuan untuk menolak wabah penyakit dilaksanakan sekitar 4 tahun sekali
atau ada juga yang melakukan upacara metulak dalam kisaran waktu 1 atau 6 tahun
sekali. Setidaknya ada beberapa perisitiwa dimana masyarakat suku sasak biasa
melakukan Upacara Adat Metulak diantaranya adalah saat seseorang atau keluarga
tertimpa sakit, saat pendirian dan penempatan rumah baru, saat pemotongan rambut bayi,
saat keberangkatan haji, saat tertimpa wabah penyakit cacar dan saat pad baru berisi.
Lazimnya upacara metulak ini dilaksanakan selam dua hari dua malam.
Upacara ini dipimpin oleh seorang kepala desa (datu) dan dibantu oleh orang yang
dituakan (penowaq), pembantu kepala desa (keliang), kyai, kelompok pembaca lontar
(petabah), dukun (belian) dan pemangku. Semua anggota prosesi ini memiliki tugas
masing-masing yakni kepala desa bertugas memimpin upacara dengan dibantu
keliang, penowaq bertugas untuk mengundang roh leluhur dan Dewi Anjani penguasa
Gunung Rinjani dengan dibantu para perempuan yang sudah tidak haid lagi
atau menopause dan kyai bertugas memimpin doa. Upacara ini biasanya digelar di rumah

yang mempunyai hajat kecuali jika upacara dilakukan untuk menanggulangi wabah cacar
biasanya dilakukan di rumah adat desa.
Upacara ini dihadiri oleh keluarga, kerabat dan warga desa yang masing-masing telah
membawa botol kosong dan uang sebanyak 9 kepeng (uang koin yang hanya digunakan
untuk sarat ritual saja tidak dipergunakan untuk alat tukar). Botol tersebut nantinya akan
diisi air yang telah didoakan oleh belian lalu diminumkan kepada anggota keluarga yang
sakit atau juga sebagai obat penolak bala
Prosesi adat metulak
Prosesi Adat Metulak ini terbagi menjadi 3 bagian yakni tahap persiapan, tahap
pelaksanaan dan penutup. Pada tahap persiapan dilakukan musyawarah untuk mengambil
keputusan tentang tempat, waktu dan proses penyelenggaraan upacara. Musyawarah ini
dilakukan di rumah kepala desa atau di rumah pemuka adat atau pemuka agama setempat.
Setelah itu setiap rumah tangga membuat saweq. Kemudian mendirikan terop dari bambu
dan anyaman daun kelapa (kelansah), memndirikan pondok bambu yang beratap ilalang
tanpa dinding (das), mendirikan tempayan yang ditutup kelambu, menyiapkan lima
penginang yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah dan sembeq, pembacaan lontar
hikayat Nabi Yusuf, memasak gulai ayam dan menggelar Tarung Parasean. Dan untuk
menghias tempayan dibutuhkan tanaman seperti nagasari, tandan uwaratau injan
bonte yang termasuk tumbuhan yang langka sehingga harus dicari ke hutan atau desa lain
Di tahap pelaksanaan, upacara ini dilaksanakan setelah Shalat Isya dengan diawali
dengan pembacaan barzanji secara bergantian oleh jamaah, proses ini terbilang lama
karena Barzanji yang dibaca berjumlah ratusan bait. Selama pembacaanBarzanji ini terus
disuguhkan berbagai jenis makanan khas Lombok yang disebut dengan istilah Metun
Manaek.
Makanan-makanan

yang

disajikan

memilki

symbol-simbol

tersendiri

yaitu

tape (poteng) yang menyimbolkan daging manusia, tebu sebagai symbol tulang, sumping
symbol sumsum, jongkong symbol isi tubuh manusia, ketuapat dan tekel symbol pria dan

wanita serta rowut symbol kehidupan. Seusai pembacaan barzanji dilakukan pembacaan
kisah ( cakepan) nabi yusuf yang tertulis dalam lontar, dibacakan oleh petabah, kyai dan
pemangku, selesai pembacaan bait ke 9, pembacaan dihentikan lalu kyai atau pemangku
mencicipi serabi, serabi dicampurkan dengan santan, lau digarami dan dicicipi selama 3
kali lalu pembacaan barzanji ini dilanjutkan setiap di akhir bait cerita Nabi Yusuf
dilemparkan ke dalam sumur oleh saudaranya lontar dimasukan ke dalam air.
Setelah prosesi ini selesai acara dilanjutkan dengan makan bersama, sebelum makan
dimulai di depan kyai diatur dolang, panginang rowah, air bunga celupan lampu biji
jarak dan kemenyan. Seusai makan para pemangku mencampurkan air seloa dan air
bunga celupan lampu biji jarak. Air ini kemudian dibagikan kepada warga kemudian
warga menyiramkan air di sekitar kandang atau di sawah dan diminumkan pada keluarga
yang sakit. Air ini dipercaya bisa menolak bala. Setelah prosesi ini selesai keesokan
harinya diadakan tarung peresean yakni tarung antar dua orang dengan menggunakan
sebilah rotan. Setiap orang dibekali tameng kulit kambing atau rajutan rotan. Permainan
ini berlangsung dari pagi hingga sore hari. Dalam prosesi terkandung nilai-nilai moral
yang baik di samping nilai kulturalnya, seperti nilai kebersamaan, nilai ketaatan terhadap
agama dan adat serta nilai mempertahankan tradisi.
Tradisi ini masih berkembang dan dipertahankan oleh masyarakat suku sasak. Hanya
saja pada perekembangannya upacara ini sudah jarang dilakukan secara utuh. Ada
beberapa perubahan seperti pemimpin upacara yang asalnya kepala desa (datu) menjadi
ulama atau pemuka agama. Walaupun begitu, masyarakat suku sasak masih memegang
teguh pada nilai-nilai kultural dan nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
http://uun-halimah.blogspot.com/2013/10/upacara-metulak-pada-masyarakat-sasak.html diakses tanggal 26
Maret 2015
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2765/metulak-upacara-tolak-bala-orang-sasak-nusa-tenggara-barat
diakses tanggal 26 Maret 2015
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1144/upacara-metulak diakses tanggal 26 Maret 2015
http://www.kaskus.co.id/thread/546e83a60e8b46e501000002/metulak---upacara-menolak-bencana-suku-sasakpulau-lombok/ diakses tanggal 29 Maret 2015

LAMPIRAN

Pemimin dan peserta upacara