Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

PEMERIKSAAN INDRA
BLOK NEUROLOGY AND SPESIFICS SENSE SYSTEM

Asisten :
Intan Puspita Hapsari
G1A010109
Disusun Oleh:
Iman Hakim Wicaksana
Imelda Widyasari S
Irma Nuraeni H
Isnila F Kelilauw
Mona Septina R
Ridwan
Nurul Istiqomah
Viny Agustiani L

G1A011001
G1A011002
G1A011005
G1A011007
G1A011030
G1A011026
G1A011029
G1A011031

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEDOKTERAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Judul Praktikum
Pemeriksaan visus

B.

Tanggal Praktikum
Selasa, 25 Maret 2014

C.

Tujuan
1.

Menetapkan visus seseorang dengan menggunakan

optotipe snellen
2.
Mengetahui kelainan refraksi
3.
Mengoreksi kelainan refreaksi yang ditemukan

4.

Memeriksa

kemungkinan

adanya

astigmatis

pada

seseorang dengan menggunakan gampar kipas lancasater regan dan


keratoscop placido
D.

Dasar Teori
Visus
Visus atau Ketajaman penglihatan merupakan hal yang sering
diperiksa dalam pemeriksaan fungsi mata. Secara definitif, visus ini adalah
kemampuan mata untuk mampu membedakan objek dengan tegas.
Kemampuan mata kita untuk mampu melakukan diferensiasi antar objek
dengan jelas maka dipengaruhi kemampuan mata untuk melihat objek tertentu
terkecil dalam jarak tertetentu.Kemampuan mata untuk bisa membedakan dua
sumber cahaya sebagai dua hal yang berbeda adalah jika kedua titik sentral
cahaya dari objek tersebut berjarak maksimal 2 micrometer (Guyton et al.,
2007).
Fungsi mata pada dasarnya adalah untuk mengarahkan sumber cahaya
di lingkungan luar ke fotoreseptor (sel kerucut dan sel batang pada retina).
Untuk bisa sampai ke reseptor maka cshaya harus melewati berbagai
komponen dalam bola mata itu sendiri. Mata harus melewati berbagai
komponen media refraksi yang fungsinya adalah menangkap sumber cahaya
yang divergen untuk difokuskan kepada retina. Proses untuk membelokkan
cahaya supaya bisa fokus untuk jatuh tepat di retina merupakan proses
refraksi mata. Ada berbagai komponen media refraksi mata yaitu kornea,
lensa, vitreous humor dan aqueous humor. Sumber cahaya yang datang pada
jarak sekitar 6 m akan diterima lensa (Sebagai media refraksi) sebagai sumber
cahaya yang paralel yang kemudian akan direfraksikan oleh lensa menuju
retina. Namun sumber cahaya yang berada kurang dari 6m( jarak dekat) maka
akan sampai ke mata dalam keadaan divergen sehingga perlu penyesuain
refraksi agar bayangannya jatuh tepat di retina. Untuk memfasilitasi hal ini
maka struktur lensa memiliki kemampuan akomodasi. Kemampuan
akomodasi ini hanya dimiliki oleh lensa saja bukan media refraksi yang lain
sehingga lensa sangat berperan penting dalam ketajaman penglihatan
terutama penglihatan dekat (Sherwood, 2011).

Lensa merupakan medan refrakta dengan kemampuan refraktif yang


bisa diubah-ubah karena memiliki sifat elastik dan bentuknya diatur oleh
kerja musculus siliaris dan ligamenteum suspensorium yang merekatkan lensa
ke badan siliar. Kerja kontraksi otot siliaris akan mebuat ligamentum
suspensorium akan tegang dan menarik lensa sehingga lensa semakin pipih
dan daya refraktifnya berkurang. Ketika otot siliaris relaksasi maka secara
ototmatis tarikan ligamentum suspensorium berkurang dan kelengkungan
lensa bertambah semakin bulat sehingga daya refraktifnya bisa bertambah.
Pada konsisi mata berpenglihatan norma (visus normal) maka sumber cahaya
jauh bisa langsung difokuskan ke retina tanpa akomodasi sedangkan
akomodasi dibutuhkan untuk penglihatan dekat sehingga cahaya yang masih
cukup[ divergen ketika diterima mata akan langsung direfraksikan untuk tepat
jatuh diretina (Sherwood, 2011).
Hasil pembiasan sinar pada mata bisa ditentukan oleh media
penglihatan terdiri atas kornea, aques humor, vitreus humor, lensa, benda
optik, serta termasuk panjang mata itu sendiri. Kestabilan untuk refraksi
cahaya di mata paling besar dipengaruhi oleh kelengkungan kornea serta
panjang bola mata. Bila terdapat abnormlaitas refraksi seperti permukaan
kornea dan panjang bola mata maka sinat tidak bisa terfokus di makula lutea
(retina). Sehingga penglihatan bisa menjadi ametropia. Abnormalitas refraksi
bisa didapatkan dalam wujud

miopi, hipermetropi, dan astigmatisme.

Sedangkan kelainan akomodasi itu sendiri yang terjadi akibat terganggunya


kelengkungan lensa manifestainya menjadi presbiopi (Ilyas, 2009).

Gambar 1. Refraksi dan Akomodasi Lensa (Barret et al., 2012)


Pemeriksaan visus bisa dilakukan dengan pemeriksaan visus satu amta
dengan menggunakan gambar kartu Snellen. Prinsip pemeriksaan visus ini
adalah bahawa masing-masing mata normal hanya dapat membedakan satu
huruf jika seluruh huruf membuat angulasi 5 menit dan tiap bagian huruf
tersebut terpisah dalam angulasi 1 menit. Setiap huruf Snellen mebentuk
sudut 5 menit pada jarak tertentu. Pemeriksaan ini dilakukan pada jarak 6 saat
mata bisa melihat tanpa akomodasi. Pemeriksaan pinhole bisa digunakan
pada pasien dengan keluhan penurunan ketajaman penglihatan dengan
interpretasi jika setelah melihat dengan pinholejadi lebih baik maka kelaian
refraksi bisa diatasi dengan kacamata. Jika setelah diletakkan pinhole didepan
mata justru ketajaman penglihatan berkurang maka, kelainan refraksi tidak
bisa dikoreksi dengan kacamata karena ada kelainan organik atau kekeruhan
lensa (Ilyas, 2009).
Pemeriksaan visus terdiri dari 4 tahap(Faradilla, 2009) :
1

Visus optotype snelen/straub


Pada pemeriksaan visus optotype snelen nilai normalnya 6/6
sedangkan pada straub 5/5. Penderita berdiri sejajar dengan optotype

snelen dengan jarak 6 meter kemudian penderita membaca optotype yang


ditunjuk oleh pemeriksa dengan 1 mata terbuka dan lakukan pada mata
sebelahnya. Satuan yang dipakai dalam optotype snelen sendiri adalah
feet sehingga penghitungan visus ini dilakukan dengan cara menjdaikan
satuan meter atau dikalikan 3/10 (Faradilla, 2009).
Jika pada pemeriksaan visus optotype snelen visus penderita
belum diketahui

lakukan dengan pemeriksaan visus hitung jari.

Pemeriksaan visus ini dilakukan dengan cara menghitung jari pada jarak
satu meter yang seharusnya orang normal bisa melihat pada jarak 60
2
3

meter (Faradilla, 2009).


Visus hitung jari
Visus gerakan lambaian tangan
Lakukan pemeriksaan visus gerakan lambaian tangan jika
pemeriksaan visus hitung jari tidak diketahui. Pada pemeriksaan kali ini
penderita hanya bisa melihat gerakan lambaian tangan pada jarak satu
meter yang seharusnya bisa dilihat oleh orang normal pada jarak 300

meter (Faradilla, 2009).


Visus gelap dan terang
Pemeriksaan selanjutnya adalah visus gelap dan terang. Penderita
hanya bisa membedakan gelap dan terang. Perlu juga dilakukan
pemeriksaan apakah penderita masih dapat membedakan arah datangnya
sinar dan membedakan warna merah hijau (Faradilla, 2009).
Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan penurunan visus, yaitu :
a. Kelainan media refrakta
Yang termasuk media refrakta disini adalah kornea, humor
akuos dan corpus vitreus ( keduanya merupakan cairan bola mata )
serta lensa. Contoh penyakit yang mengenai organ-organ ini yang
paling kita kenal adalah katarak.Katarak adalah kekeruhan yang
terjadi pada lensa. Bisa disebakan olah karena faktor usia ( penyebab
terbesar ), infeksi, trauma dan penyakit sistemik ( misalnya DM ).
Saat ini metode operasi katarak dengan irisan lebar mulai
ditinggalkan.

Ada

Phacoemulsification,

satu

metode

yaitu

suatu

yang

lebih

metode

canggih
operasi

yaitu
dengan

menggunakan gelombang ultrasound pada frekwensi tertentu untuk


menghancurkan lensa yang keruh, kemudian dihisap oleh mesin
tersebut.Pada metode ini hanya diperlukan irisan 2-3 mm saja untuk
memasukkan alat Phaco, dibandingkan dengan metode dahulu yang
harus membuat irisan lebar sehingga perlu jahitan 4-5 buah.Dengan
metode phaco yang tanpa jahitan ini resiko infeksi lebih kecil,
penyembuhan lebih cepat dan pasien juga lebih puas (Faradilla,
2009).
b. Refraksi anomali
1) Miopia ( Rabun Jauh )
Miopia yaitu mata tidak dapat melihat benda-benda jauh
dengan jelas, disebut juga mata perpenglihatan dekat (terang
dekat/mata dekat).Penyebab terbiasa melihat sangat dekat
sehingga lensa mata terbiasa tebal.Miopi sering dialami oleh
tukang arloji, penjahit, orang yang suka baca buku (kutu buku)
dan lain-lain.Untuk mata normal (emetropi) melihat benda jauh
dengan akomodasi yang sesuai, sehingga bayangan jatuh tepat
pada retina.Mata miopi melihat benda jauh bayangan jatuh di
depan retina, karena lensa mata terbiasa tebal (Faradilla, 2009).
Mata miopi ditolong dengan kacamata berlensa cekung
(negatif).Tugas dari lensa cekung adalah membentuk bayangan
benda di depan mata pada jarak titik jauh orang yang
mempunyai cacat mata miopi. Karena bayangan jatuh di depan
lensa cekung, maka harga si adalah negatif. Dari persamaan
lensa tipis, 1/f=1/So+1/Si si adalah jarak titik jauh mata miopi.
so adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata
(Faradilla, 2009).
2) Hipermetropia ( Rabun Dekat )
Hipermetropiatidak dapat melihat jelas benda dekat,
disebut juga mata perpenglihatan jauh (terang jauh/mata
jauh).Rabun dekat mempunyai titik dekat yang lebih jauh
daripada jarak baca normal.Penyebab terbiasa melihat sangat
jauh sehingga lensa mata terbiasa pipih.Rabun dekat sering

dialami oleh penerbang (pilot), pelaut, sopir dan lain-lain. Rabun


jauh

ditolong

dengan

kacamata

berlensa

cembung

(positif).Bayangan yang dibentuk lensa cembung harus berada


pada titik dekat mata penderita rabun dekat.Karena bayangan
yang dihasilkan lensa cembung berada di depan lensa maka
harga

si

adalah

negatif.

Dari

persamaan

lensa

tipis,

1/f=1/So+1/Si. Si adalah jarak titik jauh mata hipermetropi, So


adalah jarak benda ke mataf adalah fokus lensa kaca mata
(Faradilla, 2009).
3) Astigmatisma ( bisa dikoreksi dengan kaca mata silindris )
Astigmatisma disebabkan karena kornea mata tidak
berbentuk sferik (irisan bola), melainkan lebih melengkung pada
satu bidang dari pada bidang lainnya.Akibatnya benda yang
berupa titik difokuskan sebagai garis.Mata astigmatisma juga
memfokuskan sinar-sinar pada bidang vertikal lebih pendek dari
sinar-sinar

pada

ditolong/dibantu

bidang

dengan

horisontal.

kacamata

Astigmatisma

silindris.Saat

ini

ada

teknologi baru yang sudah dikembangkan dan terbukti aman


untuk menghilangkan plus, minus, maupun silindris. Yaitu
dengan

metode

LASIK

Laser

Assisted

In

Situ

Keratomileusis ). Metode operasi ini dapat digunakan bagi


mereka yang merasa terganggu dengan pemakaian kaca mata.
Ada profesi-profesi tertentu yang juga mengharuskan orang
tersebut terbebas dari kaca mata ( mis. ABRI, peragawati,
presenter ). Hanya untuk dapat di lakukan operasi ini ada
persyaratan tertentu yang harus dipenuhi oleh kandidat lasik.
Diantaranya adalah usia penderita minimal 18 tahun dan ukuran
kaca mata stabil dalam satu tahun terakhir.Memiliki ketebalan
kornea yang cukup serta kondisi syaraf penglihatan/retina dan
tekanan bola mata dalam batas normal agar tercapai hasil
operasi yang memuaskan. Adapun proses operasi cukup dengan
menggunakan bius local dengan waktu kurang lebih 30 menit
untuk operasi pada kedua mata (Faradilla, 2009).

4) Kelainan pada sistem syaraf


Dari 3 penyebab kelainan tajam penglihatan, kelainan
pada syaraf ini yang paling berat,karena bila sudah terjadi
kelainan pada retina maka bersifat permanent sehingga sulit
untuk diperbaiki. Kelainan syaraf yang dapat menyebabkan
penurunan visus yaitu kelainan pada retina (retinitis, retinopati,
ablasio retina, atrofi retina,sikatrik retina, ARMD), kelainan
pada nervus Optikus sampai pusat penglihatan di kortek cerebri
(papillitis, neuritis optik, atrofi papilnervus optikus, tumor atau
kelainan lain yang dapat merusak saraf).Terdapat beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan
visus karena kelainan pada sistem syaraf, yaitu:
a) Membaca dalam jarak baca ( min. 30 cm dari obyek baca )
b) Posisi membaca yang baik yaitu duduk ( tidak dengan
tiduran maupun tengkurap)
c) Penerangan yang cukup, tidak remang-remang (Faradilla,
2009)

E.

Alat Dan Bahan


1.
Optotype van snellen
2.
Gambar kipas Lancaster Regan
3.
Sejumlah lensa spheris dan silindris bermacam-macam
daya biasnya
4.
5.

Mistar
Ruangan

dengan

pencahayaan

cukup

tapi

tidak

menyilaukan
F.

Cara Kerja Visus


1. Probandus berdiri atau duduk pada jarak 6 meter dari optotype van
snellen
2. Tinggi mata horizontal dengan optotype snellen

3. Mata diperiksa satu persatu dengan memasang bingkai kacaata khusus


pada probandus dan tutup amta kirinya dengan penutup hitam khusus
4.

yang tersedia dalam kotak lensa


Periksa visus

mata

kanan

probandus

dengan

menyuruhnya membaca huruf yang saudara tunjuk. Dimulai dari baris


huruf yang terbesar sampai baris huruf terkecil (seluruh huruf). Huruf
yang masih dapat dibaca OP dengan lancar tanpa kesalahan
5. Catat visus mata kanan probandus
6.
Ulangi pemeriksaan pada mata kiri
7. Catat hasil pemeriksaan

BAB II
HASIL dan PEMBAHASAN
A. Hasil
Pemeriksaan visus dilakukan pada hari Senin, tanggal 22 Maret 2010
di laboratorium anatomi dan fisiologi FK Unsoed. Probandus pada
pemeriksaan ini adalah:
Nama
: Imelda Widyasari Situmorang
Usia
: 20 tahun
Pada mata kanan ditemukan :
d
6
V= =
D 7,5
Artinya : orang percobaan dapat membaca tulisan terkecil dengan jarak 6
meter , sedangkan orang normal dapat membaca tulisan tersebut dengan jarak
7,5 meter.
B. Pembahasan
Gelombang cahaya ketika mengenai benda mengalami divergensi
( pemancaran cahaya ) kesemua arah dari setiap titik sumber cahaya . berkas
cahaya divergen yang mencapai mata harus dibelokkan kearah dalam tuntuk

difokiuskan kembali ke sebuah titik peka-cahaya di retina agar dihasilkan


suatu bayangan akurat mengenai sumber cahaya.

Pembelokkan berkas

cahaya disebut refraksi , dan terjadi ketika berkas berpindah dari satu medium
dengan kepadatan ( densitas ) berbeda. Visus adalah kemampuan mata utuk
melihat dengan jelas dan tegas. Visus mata ditentukan oleh refraksi. Cahaya
bergerak lebih cepat melalui udara daripada melalui media transparan lain.
Ketika berkas cahaya masuk ke medium dengn densitas yang lebih tinggi,
cahaya tersebut melambat. berkas cahaya kemudian mengubah arah
perjalanannya jika mengenai permukaan medium baru pada setiap sudut. Ada
2 faktor yang berperan pada derajat refraksi , yaitu densitas komparatif antara
dua media ( semakin besar perbedaan densitas, semakin besar derajat
pembelokan ) dan sudut jatuhnya berkas cahaya di medium kedua ( semakin
besar sudut, semakin besar pembiasan ) (Sherwood, 2001).
Lensa dengan permukaan konveks ( cembung ) menyebabkan
konvergensi / penyatuan berkas berkas cahaya sehingga dapat membawa
bayangan ke titik focus. Sedangkan apabila lensa berbentuk konkaf ( cekung )
menyebabkan divergensi ( penyebaran ) berkas berkas cahaya sehingga
bayangan tidak jatuh di titik focus. Lensa konkaf biasanya digunakan untuk
memperbaiki kesalahan refraktif mata miopi ( rabun jauh ) (Sherwood, 2001).
Media refraktif adalah media pada mata yang berfungsi
menyampaikan berkas cahaya hingga jatuh di foveas sentrails pada retina.
Media refraktif mata ada 4 yaitu kornea , aquos humour , lensa , vitrous
humour. Dua struktur yang paling penting yaitu kornea dan lensa. Permukaan
kornea , struktur pertama yang dilalui cahaya sewaktu masuk mata, berperan
paling besar dalam kemampuan refraktif total / kornea jauh lebih besar
daripada perbedaan densitas antara lensa dan cairan yang mengelilinginya.
Indeks refraksi udara adalah 1.00 dan Indeks refraksi kornea 1.38.
Kemampuan refraktif kornea bersifat konstan karena kelengkungannya tak
pernah berubah. Sedangkan kemampuan refraktif lensa dapat disesuaikan
dengan merubah kelengukungannya sesuai keperluan untuk melihat dekat
atau jauh. Bayangan kemudian dibawa terfokus 1 titik di retina agar
penglihatan jelas . Apabila bayangan terfokus sebelum mencapai retina atau
belum terfokus sebelum mencapai retina , maka bayangan akan tampak kabur.

Berkas cahaya yang berasal dari benda dekat lebih divergen ( menyebar )
sewaktu mencapai mata. Untuk mata tertentu , jarak antara lensa dan retina
sellau sama. Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di
retina ( dalam jarak yang sama > , harus dipergunakan lensa yang lebih kuat
untuk sumber dekat. Kekuatan lensa dapat disesuaikan melalui proses
akomodasi ( setyanto, 2010 ; Sherwood, 2001 ).
C. Aplikasi Klinis
1. Astigmatisme
Astigmatisme pada mata menyebabkan mata menghasilkan suatu
bayangan dengan titik atau garis fokus multipel. Pada

astigmatisme

reguler terbentuk 2 garis fokus karena adanya 2 meridian utama dengan


orientasi dan kekuatan konstan di sepanjang lubang pupil. Astigmatisme
oblik adalah astigmatisme reguler yang meridian-meridian utamanya
tidak terletak dalam 200 .kelainan ini terlihat aksis horizontal dan vertikal
saling membentuk sudut yang miring. Pada astigmatisme ireguler
terdapat kelainan berupa permukaan kornea tidak beraturan dan daya
/orientasi meridian-meridian utamanya saling berubah di sepanjang
lubang pupil(Silbernagl, 2012; Whitcher, 2012).
Astigmatisme secara umum disebabkan oleh kelainan bentuk
kornea. Kelainan ini dikoreksi dengan lensa silindris, dan sering
dikombinasi dengan lensa sferis (Whitcher, 2012).

Gambar 1. Astigmatisma (Silbernagl, 2012)


2. Presbiopia
Presbiopia merupakan kelainan mata akibat hilangnya daya
akomodasi yang biasa terjadi bersamaan dengan proses penuaan dan
sklerosis. Orang dengan mata emetrop pada usia 44-46 tahunan akan
mulai tidak mampu untuk membaca huruf kecil aau membedakan huruf
kecil yang letaknya berdekatan. Kelainan ini bukan termasuk dari
kelainan refraksi namun membutuhkan kacamata (Whitcher, 2012).
Pada akomodasi normal terjadi peningkatan daya refraksi mata
karena perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan

kapsul. Lensa akan

menjadi cembung ketika melihat jarak dekat.

Seiring peningkatan umur, lensa pun semakin besar dan menebal hingga
menjadi kurang elastis. Pada sebagian besar kasus, kelainan ini
disebabkan oleh denaturasi lensa yang progresif. Kemampuan lensa
untuk berubah pun berkurang. Pada pasien dengan presbiopi, matanya
terfokus secara permanen pada suatu jarak yang hampir tidak berubahubah dan bergantung pada keadaan fisik pasien(Guyton, 2008).
Presbiopi dapat dikoreksi dengan menggunakan lensa plus
(konveks) untuk melihat jarak dekat dan mengatasi daya fokus otomatis
lensa yang telah hilang Silbernagl, 2012; Whitcher, 2012).

Gambar 3. Kelainan refraksi mata (Silbernagl, 2012)

BAB III
KESIMPULAN

Secara definitif, visus adalah kemampuan mata untuk mampu membedakan

objek dengan tegas.


Lensa merupakan medan refrakta dengan kemampuan refraktif yang bisa
diubah-ubah karena memiliki sifat elastik dan bentuknya diatur oleh kerja
musculus siliaris dan ligamenteum suspensorium yang merekatkan lensa ke

badan siliar.
Ada 4 cara pemeriksaan visus mata, yaitu visus optotype snellen, hitung jari,

lambaian tangan, dan gelap terang.


Beberapa contoh kelainan pada visus mata yaitu presbiopi dan astigmatisma.

DAFTAR PUSTAKA
Barret, Kim E.M. Barman, Susan, Boitano, Scott, Brooks, Hedwen L. 2012
Ganongs Reviw of Meidcal Physiology 24th Edition. United States :The
McGraw-Hill Companies, Inc
Baehr, Mathias dan Michael Frotscher. 2012. Dignosis Topok Neurologis DUUS.
Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C. Dan John E.Hall. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
11. Jakarta: EGC

Guyton, Athur C, Hall, John C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta :
EGC
Handayani,E.
2011.
Buta
Warna.
Diunduh
pada
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23511/5/Chapter%20I.pdf.
Pada tanggal 27 Maret 2012.

Harmen, Dahlina.2008.Automated Perimetry. Padang : FK Universitas


Andalas.Available
at
:
http://repository.unand.ac.id/239/1/Automated_Perimetri.pdf
(diakses
terakhir, 30 Januari 2014)
Ilyas, Sidharta. 2004. Ilmu Perawatan Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Ilyas, S. 2008. Trauma Mata. Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
Ilyas, Sidarta.2009. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Rohmah, Yuyuhn Mawaddatur.2011. Pemeriksaan Lapang Pandang Jember :
FK Universitas Jember.
http://www.scribd.com/doc/76560493/Pemeriksaan-Lapang-Pandang
(diakses terakhir, 30 Januari 2014)
Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Susunan syaraf
pusat. Jakarta : EGC. Hal . 118
Sherwood, Lauralee.2011. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC
Setyanto , dr Muhammad rifqy . 2010.Lecture fisiologi mata. Blok NBSS.
Fakultas kedokteran dan ilmu ilmu kesehatan Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto.
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. 2012. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi.
Jakarta : EGC
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. 2012. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi.
Jakarta : EGC

Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnosis Fisik. Jakarta: EGC


Vorvick, Linda J. 2011. Color blindness. U.S. National Library of
MedicineNational
Institutes
of
Health.Diunduh
pada:
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001002.htm.
Pada
tanggal: 27 Maret 2012
Whitcher, John P. Dan Paul Riodan E. 2012. Vaughan dan Asbury Oftalmologi
Umum. Jakarta: EGC