Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, di era globalisasi, setiap negara memiliki sistem politik
yang berbeda-beda. Sistem politik Islam adalah salah satu system yang ada di
dunia. Suatu negara yang mayoritas memeluk agama Islam menggunakan
system politik Islam yang dalam pelaksanaanya berpedoman kepada alquran dan hadits. dengan berpegang teguh kepada al-quran dan hadit, umat
muslim tidak perlu khawatir jika sedang mengalami suatu permasalahan dan
memerlukan solusi, bahkan sekarang sudah banyak sumber hukum yang
dibuat berdasarkan keputusan para ulama untuk memudahkan masyarakat
dalam menghadapi suatu masalah politik Islam.
Di Indonesia, mayoritas penduduknya adalah pemeluk agama Islam.
meskipun negara Indonesia bisa dikatakan sebagai negara Islam, tetapi
pelaksanaan politik Islam belum diterapkan secara maksimal baik dalam
system pemerintahan ataupun demokrasinya, hal itu memberikan pengaruh
yang besar ke dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang Islam dalam
aspek politik yaitu peranan agama Islam dalam perkembangan politik di
dunia, dengan mengkaji berbagai informasi yang bersumber dari al-quran dan
hadits.
1.2 Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian politik dalam Islam?


Apa saja prinsip dasar politik (syariah) Islam?
Apa saja prinsip politik luar negeri dalam Islam?
Apa kontribusi umat Islam dalam perpolitikan nasional?
Apa pengertian dari leadership and management?

1.3 Tujuan
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui pengertian politik dalam Islam


Mengetahui prinsip dasar politik (syariah) Islam
Mengetahui prinsip politik luar negeri dalam Islam
Mengetahui kontribusi umat Islam dalam perpolitikan nasional
Mengetahui tentang leadership and management

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Politik
Politik berasal dari bahasa latin politicos atau politicus yang berarti
relating to citizen (hubungan warga negara). Politik adalah proses
pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang berwujud
proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini
merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda
mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik. Politik adalah seni
dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun
nonkonstitusional.
Menurut Teori Klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh
warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama.
2.2 Politik dalam Islam
Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah dimana
politik adalah ilmu pemerintahan atau ilmu siyasah, yaitu ilmu tata Negara.
Dalam bahasa Arab diterjemahkan dengan kata siyasah, kata ini diambil dari
kata saasa-yasuusu yang diartikan mengemudi, mengendalikan dan mengatur
(M Quraish Shihab,2000). Politik dalam Islam menjuruskan kegiatan ummat
kepada usaha untuk mendukung dan melaksanakan syari'at Allah melalui
sistem kenegaraan dan pemerintahan.
Politik Islam terdiri dari dua aspek yaitu politik dan Islam. Politik
merupakan suatu cara bagaiman penguasa memengaruhi perilaku kelompok
yang dikuasai agar sesuai dengan keinginan peguasa.
2.3 Asas Asas Sistem Politik Islam
2.3.1

Hakimiyyah Ilahiyyah Hakimiyyah


Hakimiyyah Ilahiyyah Hakimiyyah yaitu memberikan kuasa
pengadilan dan kedaulatan hukum tertinggi dalam sistem politik Islam
hanyalah hak mutlak Allah. Tidak mungkin ianya menjadi milik
sesiapa pun selain Allah dan tidak ada sesiapa pun yang memiliki
suatu bahagian daripadanya.

Firman
Allah yang
mafhumnya: "Dan tidak ada sekutu bagi Nya dalam
kekuasaan Nya." (Al Furqan: 2)
2

Artinya : "Bagi Nya segaIa puji di dunia dan di akhirat dan bagi Nya
segata penentuan (hokum) dan kepada Nya kamu dikembalikan."
(A1 Qasas: 70)

Artinya : "Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah." (A1 An'am:


57)
Hakimiyah Islamiyah memberikan pengertian sebagai berikut
a. Allah adalah Pemelihara alam semesta yang pada hakikatnya adalah
Tuhan yang menjadi Pemelihara manusia, dan tidak ada jalan lain
bagi manusia kecuali patuh dan tunduk kepada sifat Ilahiyyah Nya
Yang Maha Esa
b. Hak untuk menghakimi dan mengadili tidak dimiliki oleh sesiapa
kecuali Allah. Oleh kerana itu, manusia wajib ta'at kepada Nya dan
ber'ibadat kepada Nya
c. Hanya Allah sahaja yang memiliki hak mengeluarkan hukum sebab
Dialah satu satu Nya Pencipta
d. Hanya Allah sahaja yang memiliki hak mengeluarkan peraturan
peraturan, sebab Dialah satu satu Nya Pemilik

e. Hukum Allah adalah sesuatu yang benar sebab hanya Dia sahaja
Yang Mengetahui hakikat segala sesuatu, dan di tangan Nyalah
sahaja penentuan hidayah dan penentuan jalan yang selamat dan
lurus.
Hakimiyyah Ilahiyyah membawa arti bahwa teras utama kepada
sistem politik Islam ialah tauhid kepada Allah di segi rububiyyah dan
uluhiyyah-Nya.
2.3.2 Risalah
Melalui landasan risalah inilah para rasul mewakili kekuasaan
tertinggi Allah dalam bidang perundangan dalam kehidupan manusia.
Para rasul meyampaikan, mentafsir, dan menerjemahkan segala wahyu
Allah dengan ucapan dan perbuatan.
Dalam sistem politik Islam, Allah telah memerintahkan agar
manusia menerima segala perintah dan larangan Rasulullah s.a.w.
Manusia diwajibkan tunduk kepada perintah-perintah Rasulullah s.a.w
dan tidak mengambil selain Rasulullah s.a.w untuk menjadi hakim
dalam segala perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak


beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam
hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya. (An-Nisa: 65)
2.3.3 Khilafah
Khilafah berarti perwakilan. Dengan pengertian ini,
dimaksudkan bahwa kedudukan manusia di atas muka bumi ialah
sebagai wakil Allah. Ini juga bermaksud bahwa di atas kekuasaan yang
telah diamanahkan kepadanya oleh Allah, maka manusia dikehendaki
melaksanakan Allah dalam batas-batas yang ditetapkan. Firman Allah
yang mafhumnya:

Artinya : "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat:


"Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khilafah di muka bumi...
" (Al Baqarah: 30)

Artinya : "Kemudian Kami jadikan kamu khilafah-khilafah di muka


bumi sesudah mereka supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu
berbuat." (Yunus: 14)
Seseorang khilafah hanya menjadi khilafah yang sah selama ia
benar-benar mengikuti hokum-hukum Allah. Oleh karena itu, khilafah
sebagai asas ketiga dalam sistem politik Islam menuntut agar tugas
tersebut dipegang oleh orang-orang yang memenuhi syarat-syarat
berikut:
a. Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang benar benar
menerima dan mendukung prinsip prinsip tanggungjawab yang
terangkum di dalam pengertian khilafah
b. Mereka tidak terdiri daripada orang orang zalim, fasiq, fajir dan lalai
terhadap Allah serta bertindak melanggar batas batas yang ditetapkan
oleh Nya
c. Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang ber'ilmu, berakal
sihat, memiliki kecerdasan, kea'rifan serta kemampuan intelek dan
fizikal

d. Mereka mestilah terdiri daripada orang orang yang amanah sehingga


dapat dipikulkan tanggungjawab kepada mereka dengan aman dan
tanpa keraguan

2.3 Prinsip Prinsip Utama Sistem Politik Islam


Prinsip prinsip sistem politik Islam terdiri daripada beberapa perkara
di antaranya:
2.3.1 Musyawarah
Asas musyawarah yang paling utama adalah berkenaan dengan
pemilihan ketua negara dan orang orang yang akan memegang tugas
tugas utama dalam mengurus atau mengelola ummah. Asas
musyawarah yang kedua pula adalah berkenaan dengan penentuan jalan
dan cara perlaksanaan undang-undang yang telah dimaktubkan di dalam
al quran dan al Sunnah. Asas musyawarah yang seterusnya ialah
berkenaan dengan jalan-jalan yang menentukan perkara-perkara baru
yang timbul di kalangan ummah melalui proses ijtihad.
2.3.2 Keadilan
Prinsip kedua dalam sistem politik Islam ialah keadilan. Ini
adalah menyangkut dengan keadilan sosial yang dijamin oleh sistem
sosial dan sistem ekonomi Islam. Di dalam perlaksanaannya yang luas,
prinsip keadilan yang terkandung dalam sistem politik Islam meliputi
dan menguasai segala jenis perhubungan yang berlaku di dalam
kehidupan manusia, termasuk keadilan di antara rakyat dan pemerintah,
diantara dua pihak yang bersengketa di hadapan pihak pengadilan, di
antara pasangan suami isteri dan di antara ibu bapak dan anak anaknya.
Oleh sebab itu, kewajiban berlaku 'adil dan menjauhi perbuatan zalim
adalah merupakan di antara asas utama dalam sistem sosial Islam.
2.3.3 Kebebasan
Prinsip ketiga dalam sistem politik Islam ialah kebebasan.
Kebebasan yang dipelihara oleh sistem politik Islam ialah kebebasan
yang berteraskan kepada ma'ruf dan kebajikan.
2.3.4 Persamaan

Prinsip keempat dalam sistem politik Islam ialah persamaan atau


musyawah. Persamaan di sini terdiri daripada persamaan dalam
mendapat dan menuntut hak hak, persamaan dalam memikul
tanggungjawab menurut peringkat peringkat yang ditetapkan oleh
undang-undang perlembagaan dan persamaan berada di bawah
kekuasaan undang-undang.
2.3.5 Hak Menghisab Pihak Pemerintah
Prinsip kelima dalam sistem politik Islam ialah hak rakyat untuk
menghisab pihak pemerintah dan hak mendapat penjelasan terhadap
tindakannya. Prinsip ini berdasarkan kepada kewajiban pihak
pemerintah untuk melakukan musyawarah dalam hal hal yang berkaitan
dengan urusan dan pentadbiran negara dan ummah. Hak rakyat untuk
disyurakan adalah bererti kewajipan setiap anggota di dalam
masyarakat untuk menegakkan kebenaran dan menghapuskan
kemungkaran.
Prinsip ini berdasarkan kepada firman Allah yang mafhumnya:
a. "Dan apabila ia berpaling (daripada kamu), ia berjalan di bumi
untuk mengadakan kerosakan padanya, dan merosak tanaman
tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai
kebinasaan." (Al-Baqarah: 205)
b. "..maka berilah keputusan di antara manusia dengan 'adil dan
janganlah kamu mengikut hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan
kamu daripada jalan Allah. Sesungguhnya orang orang yang sesat
daripada jalan Allah akan mendapat 'azab yang berat, kerana
mereka melupakan hari perhitungan." (Sad: 26)
2.4 Tujuan Politik Menurut Islam
Tujuan sistem politik Islam ialah untuk membangunkan sebuah sistem
pemerintahan dan kenegaraan yang tegak di atas dasar untuk melaksanakan
seluruh hukum syari'at Islam. Tujuan utamanya ialah untuk menegakkan
sebuah negara Islam atau Darul Islam.Dengan adanya pemerintahan yang
mendukung syari'ah, maka akan tertegaklah al Din dan berterusanlah segala
urusan manusia menurut tuntutan tuntutan al Din tersebut.
Para fuqaha Islam telah menggariskan sepuluh perkara penting
sebagai tujuan kepada sistem politik dan pemerintahan Islam:

a. Memelihara keimanan menurut prinsip prinsip yang telah disepakati


oleh 'ulama' salaf daripada kalangan umat Islam
b. Melaksanakan proses pengadilan di kalangan rakyat dan
menyelesaikan masalah di kalangan orang orang yang berselisih
c. Menjaga keamanan daerah daerah Islam agar manusia dapat hidup
dalam keadaan aman dan damai
d. Melaksanakan hukuman hukuman yang ditetapkan syara' demi
melindungi hak hak manusia
e. Menjaga perbatasan negara dengan berbagai persenjataan bagi
menghadapi kemungkinan serangan daripada pihak luar
f. Melancarkan jihad terhadap golongan yang menentang Islam
g. Mengendalikan urusan pengutipan cukai, zakat dan sedekah sebagai
mana yang ditetapkan oleh syara'
h. Mengatur anggaran belanjawan dan perbelanjaan daripada
perbendaharaan negara agar tidak digunakan secara boros ataupun
secara kikir
i. Mengangkat pegawai pegawai yang cakap dan jujur bagi mengawal
kekayaan negara dan menguruskan hal ehwal pentadbiran negara
j. Menjalankan pergaulan dan pemeriksaan yang rapi di dalam hal
ehwal amam demi untuk memimpin negara dan melindungi al Din.

2.5 Prinsip-Prinsip Politik Luar Negeri Dalam Islam


Prinsip-prinsip politik luar negeri dalam Islam adalah seagai berikut:
1. Saling menghormati fakta-fakta dan traktat-traktat (Al-Anfaal ayat 58)

Artinya : Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari


suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka
dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berkhianat.
2. Kehormatan dan integrasi nasional (Surah An-Nahl ayat 92)

Artinya : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang


menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai
berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat
penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak
jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji
kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskanNya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.
3. Keadilan universal (internasional) (Surah Al-Maidah ayat 8)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orangorang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu
kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena
adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,

sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.


(Q.S. AL-Maidah: 8)

4. Menjaga perdamaian abadi (Surah Al-Maidah ayat 61)

Artinya : Dan apabila mereka (Yahudi atau munafik) datang kepadamu,


mereka mengatakan, Kami telah beriman, padahal mereka datang
kepadamu dengan kekafiran dan mereka pergi pun demikian; dan Allah
lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
5. Menjaga kenetralan terhadap Negara-negara lain (Surah An-Nisaa ayat
89, 90)

Artinya : Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka


telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka
janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu),
hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling,
tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan
janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan
jangan (pula) menjadi penolong.

10

Artinya : kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada


sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian
(damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka
merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.
Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka
terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka
membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan
perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk
menawan dan membunuh) mereka.
6. Larangan terhadap eksploitasi para imperialis (Surah Al-Anam ayat 92)

Artinya : Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan
yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya
dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura
(Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang
beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al
Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.
7. Memberikan perlindungan dan dukungan pada orang-orang Islam yang
hidup di Negara lain (Surah Al-Anfaal ayat 72)

11

Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta


berjihad dengan harta benda dan jiwa mereka pada jalan Allah, dan
orang-orang (Ansaar) yang memberi tempat kediaman dan pertolongan
(kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu), mereka semuanya
menjadi penyokong dan pembela antara satu dengan yang lain. Dan
orang-orang yang beriman yang belum berhijrah, maka kamu tidak
bertanggungjawab sedikit pun untuk membela mereka sehingga mereka
berhijrah. Dan jika mereka meminta pertolongan kepada kamu dalam
perkara (menentang musuh untuk membela) ugama, maka wajiblah kamu
menolongnya, kecuali terhadap kaum yang ada perjanjian setia diantara
kamu dengan mereka. Dan (ingatlah) Allah Maha Melihat akan apa yang
kamu lakukan.
8. Bersahabat dengan kekuasaan-kekuasaan netral (Surah Al-Mumtahinah
ayat 8,9)

Artinya : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak
(pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.

12

Artinya : Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan


sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan
mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim.
9. Kehormatan dalam hubungan Internasional (Surah Ar-Rohman ayat 60)

Artinya : Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).

10. Persamaan dan keadilan untuk para penyerang (Surah Al-Baqarah ayat
195)

Artinya : Dan belanjakanlah (apa yang ada pada kamu) kerana


(menegakkan) ugama Allah, dan janganlah kamu sengaja mencampakkan
diri kamu ke dalam bahaya kebinasaan (dengan bersikap bakhil) dan
baikilah (dengan sebaik-baiknya segala usaha dan) perbuatan kamu
kerana sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berusaha
memperbaiki amalannya.
Berdasarkan paparan diatas, prinsip politik dalam negeri menurut
Islam ialah, bahwa manusia diciptakan Allah dalam berbagai bangsa,
berbagai suku bangsa, dan atau yang sejenisnya dengan tujuan, agar
manusia saling kenal mengenal antara satu dengan yang lain.
2.6 Objek Pembahasan Sistem Politik Islam
2.6.1 Siyasah Dusturiyyah
Dalam fikih modern disebut hukum tata negara. Siyasah
Dusturiyyah membahas hubungan pemimpin dengan rakyatnya
serta institusi-institusi yang ada di negara itu sesuai dengan
kebutuhan rakyat untuk kemaslahatan dan pemenuhan kebutuhan
rakyat itu sendiri. Bahasan meliputi :
1. Eprsoalan imamah, hak, dan kewajibannya
2. Persoalan rakyat, status, hak, dan kewajibannya
13

2.6.2

3. Persoalan baiat
4. Persoalan waliyyul ahdi
5. Persolan perwakilan
6. Persoalan ahl al halli wa al-aqdi
7. Wizarah dan pembagiannya
Siasah Dauliyyah
Siasah Dauliyyah biasa disebut dengan Hukum Internasional.
Hukum Internasional berdasar pada :
1. Kesatuan umat manusia
2. Keadilan
3. Persamaan
4. Kehormatan manusia
5. Toleransi
6. Kerjasama kemanusiaan
7. Kebebasan, kemerdekaan
8. Perilaku moral yang baik
Pembahasan siasah dauliyyah berorientasi pada :
1. Damai
2.
Memperlakukan tawanan perang secara manusiawi
3.
Kewajiban suatu negara terhadap negara lain
4.
Perjanjian-perjanjian internasional
5.
Perjanjian yang ada sementara dan selamanya
6.
Perjanjian terbuka dan tertutup
7.
Menaati perjanjian
8.
Siasah dauliyyah dan orang asing

2.6.3

Siasah Maaliyyah
Hukum yang mengatur tentang pemasukan, pengelolaan, dan
pengeluaran uang milik negara. Pembahasannya meliputi :
1. Prinsip-prinsip kepemilikan harta
2. Tanggung jawab sosial yang kokoh; terhadap diri sendiri,
keluarga, masyarakat, dan sebaliknya
3. Zakat
4. Harta karun
5. Pajak
6. Harta peninggalan dari orang yang tidak meninggalkan ahli
waris
7. Jizyah
8. Ghanimah dan FaI
9. Bea cukai barang import
10. Eksploitasi sumber daya alam yang berwawasan lingkungan

2.7 Kontribusi Umat Islam Dalam Perpolitikan Nasional


Kontribusi umat Islam dalam perpolitikan nasional selalu punya pengaruh
yang besar. Sejak bangsa ini belum bernama Indonesia, yaitu era berdirinya
kerajaan-kerajaan hingga saat ini, pengaruh perpolitikan bangsa kita tidak lepas
14

dari pengaruh umat Islam. Hal ini disebabkan karena umat Islam menjadi
penduduk mayoritas bangsa ini. Selain itu, dalam ajaran Islam sangat dianjurkan
agar penganutnya senantiasa memberikan kontribusi sebesar-besarnya bagi orang
banyak, bangsa, bahkan dunia. Penguasaan wilayah politik menjadi sarana penting
bagi umat Islam agar bisa memberikan kontribusi bagi bangsa ini. Sekarang mari
kita amati kontribusi umat Islam dalam perpolitikan nasional di setiap era/ masa
bangsa ini:
1. Era Kerajaan-Kerajaan Islam Berjaya
Pengaruh Islam terhadap perpolitikan nasional punya akar sejarah
yang cukup panjang. Jauh sebelum penjajah kolonial bercokol di tanah air,
sudah berdiri beberapa kerajaan Islam besar. Kejayaan kerajaan Islam di
tanah air berlangsung antara abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi.
2. Era Kolonial dan Kemerdekaan (Orde Lama)
Peranan Islam dan umatnya tidak dapat dilepaskan terhadap
pembangunan politik di Indonesia baik pada masa kolonial maupun masa
kemerdekaan. Pada masa colonial, Islam harus berperang menghadapi
ideologi kolonialisme sedangkan pada masa kemerdekaan, Islam harus
berhadapan dengan ideologi tertentu macam komunisme dengan segala
intriknya.
Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sejarah secara tegas menyatakan
kalau pemimpin-pemimpin Islam punya andil besar terhadap perumusan
NKRI. Baik itu mulai dari penanaman nilai-nilai nasionalisme hingga
perumusan Undang-Undang Dasar Negara.
Para pemimpin Islam terutama dari Serikat Islam pernah
mengusulkan agar Indonesia berdiri di atas Daulah Islamiyah yang
tertuang di dalam Piagam Jakarta. Namun, format tersebut hanya bertahan
selama 57 hari karena adanya protes dari kaum umat beragama lainnya.
Kemudian, pada tanggal 18 Agustus 1945, Indonesia menetapkan
Pancasila sebagai filosofis negara.
3.

Era Orde Baru


Pemerintahan masa orde baru menetapkan Pancasila sebagai satusatunya asas di dalam negara. Ideologi politik lainnya dipasung dan tidak
boleh ditampilkan, termasuk ideologi politik Islam. Hal ini menyebabkan
terjadinya kondisi depolitisasi politik di dalam perpolitikan Islam.
Politik Islam terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama di sebut

15

kaum skripturalis yang hidup dalam suasana depolitisasi dan konflik


dengan pemerintah. Kelompok kedua adalah kaum subtansialis yang
mendukung pemerintahan dan menginginkan agar Islam tidak terjun ke
dunia politik.

4. Era Reformasi
Bulan Mei 1997 merupakan awal dari era reformasi. Saat itu rakyat
Indonesia bersatu untuk menumbangkan rezim tirani Soeharto. Perjuangan
reformasi tidak lepas dari peran para pemimpin Islam pada saat itu.
Beberapa pemimpin Islam yang turut mendukung reformasi adalah KH.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketua Nahdatul Ulama. Muncul juga
nama Nurcholis Majid (Cak Nur), cendikiawan yang lahir dari kalangan
santri. Juga muncul Amin Rais dari kalangan Muhamadiyah. Bertahuntahun reformasi bergulir, kiprah umat Islam dalam panggung politik pun
semakin diperhitungkan. Umat Islam mulai kembali memunculkan dirinya
tanpa malu dan takut lagi menggunakan label Islam. Perpolitikan Islam
selama reformasi juga berhasil menjadikan Pancasila bukan lagi sebagai
satu-satunya asas. Partai-partai politik juga boleh menggunakan asas
Islam. Kemudian bermunculanlah berbagai partai politik dengan asas dan
label Islam. Partai-partai politik yang berasaskan Islam, antara lain PKB,
PKU, PNU, PBR, PKS, PKNU, dan lain-lain. Dalam kondisi bangsa yang
sangat memprihatinkan sekarang, sudah waktunya umat Islam untuk terjun
dalam perjuangan politik yang lebih serius. Umat Islam tidak boleh lagi
bermain di wilayah pinggiran sejarah. Umat Islam harus menyiapkan diri
untuk memunculkan pemimpin-pemimpin yang handal, cerdas, berahklak
mulia, profesional, dan punya integritas diri yang tangguh. Umat Islam di
Indonesia diharapkan tidak lagi termarginalisasi dalam panggung politik.
Politik Islam harus mampu merepresentasikan idealismenya sebagai
rahmatan lil alamin dan dapat memberikan kontribusi yang besar bagi
bangsa ini.

16

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dikaji,dapat disimpulkan bahwa:
1. Sumber-sumber politik Islam yang ada di dunia memiliki pedoman yaitu AlQuran dan hadits karena al-quran dan hadits merupakan sumber yang utama
untuk dijadikan sebagai pedoman hidup dalam hal apa pun.
2. Sistem politik harus berasaskan dan berdasarkan prinsip dasar agama Islam
3. Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didominasi oleh
umat muslim yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang ada di agama
Islam secara baik, yang didasari dengan kemampuan dalam kepemimpinan
dan manajemen
3.2 Saran
Saran yang bisa kami berikan mengenai sistem politik Islam adalah untuk
masyarakat Indonesia dan umat Islam lainnya di dunia agar lebih mengerti dan
memahami tentang politik Islam. Supaya kedepannya system politik Islam ini
penerapannya menjadi lebih baik dan kondusif.

17