Anda di halaman 1dari 7

BAWANG MERAH

A. Deskripsi
Bawang merah merupakan tanaman semusim yang berumur sangat pendek dan
diperbanyak melalui cara vegetatif. Bawang merah yang telah melalui periode
pendinginan (vernalisasi) selanjutnya akan mengalami pembungaan di lapangan.
Bawang merah sering kali digunakaan untuk penyedap masakan. Akan tetapi bawang
merah juga dapat digunakan sebagai obat tradisional yang berguna untuk menurunkan
panas orang sakit. Permintaan bawang merah di indonesia cukup besar seperti di brebes
di jawa tengah dan probolinggo di jawa timur.
Pada saat ini produktifitas bawang merah saat ini adalah 5 t/ha , padahal potensi
bawang merah dapat mencapai 20 t/ha. Biaya produksi terutama untuk pembelian bibit
cukup tinggi serta penggunaan tenaga kerja yang intensif. Untuk mengatasi hal tersebut
perlu penanganan budidaya tanaman yang baik serta penggunaan bibit yang unggul.
B. Syarat Tumbuh
Tanaman bawang merah dapat ditanam dan tumbuh pada dataran rendah sampai
ketinggian 1000 meter dpl. Untuk mendapatkan hasil dan pertumbuhan yang optimal
bawang merah ditanam pada ketinggian 0-450 meter dpl. Tanaman bawang merah sangat
sensitif terhadap iklim yang buruk seperti hujan dan intensitas hujan yang tinggi serta
cuaca yang berkabut. Tanaman bawang merah memerlukan penyinaran cahaya matahari
yang minimal 70% penyinaraan, suhu udara 25-32oC serta kelembapan nisbi yang
rendah.
Jenis tanah yang cocok untuk ditanami bawang merah yaitu tanah aluvial atau
kombinasi dengan tanah Glei-Humus atau Latosol. Ciri ciri tanah yang baik antara lain
berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, drainase/aerasi yang baik, dan
mengandung bahan organik yang cukup dan reaksi tanah tidak masam (pH = 5,6 6,5).
Waktu tanam yang baik pada bawang merah adalah musim kemarau dengan
ketersediaan air yang cukup yaitu pada bulan April/Mei setelah panen padi dan pada
bulan Juli/Agustus. Penanaman di musim kemarau biasanya dilakukan pada lahan bekas
sawah atau tebu. Sedangkan penanaman di musim hujan dilakukan pada lahan tegalan.
Bawang merah juga dapat ditanam secara tumpangsari seperti dengan tanaman cabai.
C. Hama dan Penyakit
Banyak berbagai hama dan penyakit pada tanaman yang dapat merusak sistem dan
jaringan pada tumbuhan yang dapat mengurangi kualitas pada tanaman dan dapat
berpotensi mengurangi produksi pada komoditas tanaman tersebut. Banyak berbagai
hama dan penyakit pada tanaman bawang merah sebagai berikut.
Hama dan penyakit pada tanaman bawang merah yang pertama yaitu Ulat grayak
Spodoptera. Pada hama ini yaitu berupa ulau bawang, ulat ini berwarna hijau atau
kecokelat-cokletan. Larva yang baru menetas merupakan fase yang paling merusak
tanaman bawang. Hama ini banyak merusak tanaman di musim kemarau. Tanaman yang

terserang daunnya akan akan berlubang-lubang mulai dari tepi daun hingga bagian atas
atau bawah daun.
Pengendalian pada hama ini dapat dilakukan dengan cara telur dan larva dikumpulkan
dan dimusnahkan. Penyemprotan dengan insektisida yang dianjurkan seperti Atabron 50
EC, Basminon 600 EC, Bayrusil 250 EC, Carbavin 85 WP, Curacron 500 EC, Dursban
20 EC, Lannate L, Nuvacron 20 SCW, Sumicidin 5 EC, Tamaron 200 LC.
Hama dan penyakit pada bawang merah yang kedua yaitu Trips. Gejala yang didapat
yaitu daun-daun akan berwarna keperak-perakan. Trips dewasa panjang tubuhnya kirakira 1 mm dan pembentukan kepompong terjadi di tanah.
Pengendalian pada hama ini seperti menggunakan insektisida misalnya Mesurol 50
WP, Decis 2,5 EC, Hostathion 40 EC. Penyemprotan pertama 3-4 kali dengan interval 23 hari untuk mematikan telur dan kepompong yang baru menetas.
Penyakit yang ketiga yaitu Bercak ungu Alternaria (trotol) dan Colletotrichum.
Gejala pada trotol permulaanya adalah bercak-bercak putih, kemudian akan meluas
menjadi bercak coklat tua atau keunguan yang konsentris. Yang paling berbahaya adalah
daunya sampai berwarna kuning dan akan mati. Penyakit Colletorichum akan menyerang
pada umbi dan juga akan menyerang dasar daun sehingga daun-daun menjadi berwarna
cokelat dan tanaman akan mati.
Pengendalian pada hama dan penyakit ini adalah penggunaan bahan tanaman yang
sehat dan mengatur jarak tanam yang tidak begitu rapat. Pada serangan awal sebaiknya
yang sudah menunjukan gejala kemudia dikumpulkan dan kemudia dimusnahkan agar
mengurangi infeksi. Penyemprotan dengan Dithane M-45, Polyram 80 WP, Antracol 70
WP, Indafol 476 F, Zincofol 68 WP.
Hama dan penyakit yang keempat adalah busuk umbi Fusarium dan busuk putih
Selerotium. Gejala yang dihadapi umbi bawang akan menjadi busuk setelah umbi di
tanam.
Pengendaliannya adalah dengan cara memilih umbi-umbi bawang sehat yang akan
dijadikan bibit dan membuang umbi yang telah membusuk.
Selanjutnya yaitu penyakit busuk dan Stemphylium. Gejalanya yaitu daun-daun tua
menunjukan gejala busuk hitam, kemudian menyebar pada daun-daun yang masih muda
dan umbi penyakit ini sering ditemukan pada tanah-tanah yang strukturnya kurang baik
dan drainasenya buruk.
Pengendalianya yaitu dengan memperbaiki cara budidaya tanaman, penyemprotan
dengan menggunakan fungisida seperti untuk penyakit colletotrichum.
Penyakit yang terakhir yaitu virus. Gejalanya yaitu helaian daun berwarna belang
kuning atau hijau pucat, pertumbuhan tanaman agak kredil dan ukuran umbinya relatif
lebih kecil.
Pengendalianya yaitu dengan cara menanam bibit tanaman yang sehat.

BAWANG DAUN
A. Deskripsi
Pada dasarnya bawang daun merupakan tanaman yang daun dan batangnya dapat
dimanfaatkan secara menyeluruh. Batang dan daunya dapat digunakaan untuk
penyedap masakan agar lebih harum.
Bawang daun merupakan salah satu tanaman sayuran yang tipe pertumbuhannya
tegak seperti rumput-rumputan. Tunas,tunasnya akan tumbuh dari sisi bagian pangkal
batang, yang akhirnya akan membentuk cabang-cabang baru yang merumpun.
Bawang daun dapat dibedakan menjadi dua yaitu bawang daun atau bawang bakung
(Allium fistulosum), yang bentuk daunya bundar dengan bagian dalamnya kosong
spesifikasi ukuranya yaitu panjang daun 20-40 cm dan tinggi tanaman 30-60 cm.
Selanjutnya yaitu bawang prei (Allium porrum) bentuk daunya panjang pipih dan liat,
spesifikasi tanamanya yaitu tinggi tanaman mencapai 60 cm. Bawang prei dapat
tumbuh di ketinggian di atas 1000 meter, sedangkan bawang daun tumbuh pada
ketinggian 200 meter dpl. Cara budidaya kedua bawang ini sama saja.
B. Syarat Tumbuh
Tanaman ini dapat tumbuh dengan optimal jika tanah lempung dan memiliki
drainase yang baik dan disertai dengan kadar bahan organik yang cukup tinggi. Tanah
yang cocok untuk pertumbuhan bawang daun dengan keasaman pH tanahnya berkisar
anatara 6 7.
Bawang daun dapat tumbuh di dataran rendah atau dataran tinggi sampai
ketinggian 2000 meter dpl. Tanaman ini juga dapat ditanam pada ketinggian 200
meter, akan tetapi alangkah baiknya penanaman nya dilakukan pada saat musim
hujan, karena tanaman ini perlu banyak air pada saat pertumbuhan.
C. Hama dan Penyakit
Pada tanaman bawang daun ini jarang sekali ditemukanya hama dan penyakit
yang tingkat kebahayaanya sangat mematikan sel-sel pada jaringannya. Akan tetapi
hama dan penyakit yang sering mucul pada tanaman bawang daun ini juga dapat
mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut.
Hama dan penyakit pada bawang daun yang pertama yaitu Ulat grayak
spodoptera. Gejala yang dihadapi bawang daun yaitu larva pada ulat akan masuk di
dalam daun bawang dan akan memakan daun.
Pengendalian yang dapat dilakukan ialah penyemprotan secara teratur yang
dimulai pada umur 3 bulan setelah tanam dengan menggunakan insektisida seperti
Alystin 25 WP, Arrivo 30 EC, Carbavin 85 WP, curacron 500 EC, Sumicidin 5 EC.
Selanjutnya, penyakit yang terdapat pada bawang daun yaitu bercak ungu.
Gejalanya disebabkan oleh cendawan Alternaria, yang banyak menyerang tanaman
bawang-bawangan. Biasanya penyakit ini terjadi pada musim hujan, gejala yang
pertama terjadinya bercak-bercak kecil,melekuk, berwarna putih sampai kelabu.
Selanjutnya bercak akan membesar dan akan membentuk cincin.

Pengendalian pada penyakit ini adalah penggunaan bibit yang sehat, kemudian
melakukan pergiliran tanaman, dan selanjutnya dilakukanya penyemprotan dengan
fungisida seperti Antracol 70 WP, Dithane M-45, Indafol 476 F, Polyram 80 WP,
Zincofol 68 WP.
Penyakit yang berikutnya yaitu buusuk peronospora gajala yang didapat oleh
bawang daun yaitu ujung-ujung daun akan muncul bercak-bercak hijau pucat. Pada
saat cuaca lembab, permukaan daun akan berkumpulnya cendawan yang berwarna
putih lembayung atau ungu, dan akhirnya tanaman akan layu, kunging , dan akan
mengering dan mati.
Pengendalianya yaitu dengan cara menanam bibit bawang daun yang sehat,
kemudian melakukan pergiliran tanaman dan melakukan penyemprotan dengan
fungisida misalnya Indafol 476 F, Dithane M-45, Antracol 70 WP.

KANGKUNG
A. Deskriptif
Kangkung merupakan tanaman yang dapat hidup di dua tempat yaitu darat dan
di air.ada tipe kangkung yang berbunga putih dan ada juga yang berbunga biru
atau ungu. Tanaman ini bersifat menjalar sampai lebih dari 2 meter panjangnya,
bunga berbentuk trompet dan batangnya berlubag. Cara bertanam ada dua yaitu
kangkung air dan kangkung darat.
B. Syarat Tumbuh
Tanaman kangkung penanaman paling penting adalah air yang cukup. Jika
kekurangan air makan pertumbuhan kangkung akan terhambat. Kangkung cocok
ditanam di dataran rendah, jika di tanam di dataran tinggi maka tumbuhnya
lambat dan hasilnya pun kurang. Untuk menanam kangkung, kangkung akan
subur dan cepat tumbuh jika keasaman pH tanahnya yang sesuai 5,5 6,5. Tetapi
tanaman toleran terhadap tanah asam dan naungan.
C. Hama dan Penyakit
Hama yang terdapat pada tanaman bayam yaitu ulat grayak Spodoptera atau
disebut ulat daun. Gejala yang ada yaitu ulat daun ini akan memakan daun
kangkung sampaiberlubang-lubang. Pengendaliannya yaitu dengan telur larva
dikumpulkan dan selanjutnya di musnahkan. Penyemprotan dengan sediaan
bakteri Bacillus thuringiensis seperti Florbac, Dipel, Bactospeina atau Thuricide.
Kemudian selanjutnya hama terhadap tanaman kangkung yaitu karat putih.
Gejala yang dihadapi pada kangkung yaitu bercak-bercak putih pada daun yang
disebabkan oleh cendawan Albuugo candida, biasanya ini terutama menyerang
daun sebelah bawah. Penyakit ini sering terjadi apabila cuaca yang lembab sekali.
Pengendalianya yaitu dengan cara jarak tanam yang tidak terlalu rapat dan
tanaman yang telah sakit dicabut dan dibakar agar tidak menular pada tanaman
kangkung yang lainnya.

MENTIMUN
A. Deskriptif
Mentimun adalah tanaman semusim yang bersifat menjalar atau memanjat dengan
alat yang disebut sulur yang bentuknya spiral. Panjang batangnya antara 0,5 2
meter.bunga mentimun berbentuk terompet berkelamin tunggal, berumah satu, artinya
bunga jantan dan bunga betina berletak pisah, tetapi masih berada dalam satu
pohon.bunga betina mempunyai bakal buah yang membengkak dibawah mahkota
bunga. Sedangkan bunga jantan tidak memiliki bagian yang membengkak dengan
seperti ini tampak jelas perbedaan dari betina dan jantan.
Mentimun memiliki dua golongan yaitu mentimun biasa dan mentimun suri.
Mentimun biasa merupakan mentimun yang buahnya halus dan mempunya bintil pada
permukaan kulit buah terutama pada bagian pangkal buah. Jenis mentimun ini
mempunya kulit tipis dan lunak. Buah muda berwarna hijau keputih-putihan sampai
hijau tua dan setelah tua berwarna kuning sampai coklat.
Mentimun suri (Cucumis melo ver conomon) mentimun ini mempunyai buah yang
kulitnya halus (tidak berbintik), buahnya besar, lonjong, berwarna kekuning-kuningan
dan bergaris garis putih.
B. Syarat Tumbuh
Untuk pertumbuhan yang baik terhadap mentimun, mentimun baik ditanam di
dataran rendah. Hal hal yang paling penting untuk menanam mentimun adalah
tanahnya subur dan cukup tersedia air terutama pada saat berbunga, tetapi lahan untuk
penanaman tidak boleh tergenang. Mentimun tidak cocok jika terkena hujan yang
sangat lebat, tetapi mentimun suka pada penanaman yang terbuka dan cuaca yang
cerah.
Mentimun dapat dilakukan penanaman setiap tahun akan tetapi yang baik
dilakukan pada akhir musim hujan atau pada awal musim kemarau. Keasaman pH
tanah yang cocok terhadap mentimun ini adalah 6-7.
C. Hama dan Penyakit
Banyak berbagai macam hama dan penyakit yang terdapat pada mentimun. Yang
pertama yaitu Kumbang Epilachna. Hama ini akan memakan daun sehingga daun
menjadi berlubang-lubang. Pengendalianya yaitu dengan penyemprotan insektisida
seperti Basudin 60 EC, Bayrusil 250 EC, Orthene 75 SP, Monitor 200 LC, Lebaycid
500 EC atau insektisida yang lain. Penggunaanya satu minggu sekali sampai serangan
selesai.
Kutu daun merupakan hama yang terdapat pada mentimun yang mengisap daun
apabila jumlahnya banyak akan menyebabkan daun menjadi kecil-kecil dan
mengkerut. Kutu daun ini dapat bertindak sebagai penyebar virus.

Pengendalianya yaitu melakukan penyemprotan menggunakan insektisida


Chimithion 500 EC, Curacron 500 EC, Decis 2,5 EC dan bahan-bahan insektisida
yang lain yang dianjurkan dengan dosis sesuai petunjuk.
Kemudian hama selanjutnya yaitu rebah kecambah. Penyakit ini menyebabkan
pembusukan leher batang yang disebabkan cendawan phythium dan Rhizoctonia dan
terjadi pada pangkal batang dari bibit-bibit tanaman di persemaian, sehingga sering
bibit mengalami kematian.
Pengendalianya yaitu dengan cara disenfikasi tanah dengan suhu panas, mencegah
keadaan tanah yang terlalu lembab. Kemudian melakukan disenfikasi benih dengan
Benlate T 20/20 WP atau Thiram 5 gr/kg benih atau menuangkan larutan Ridomil di
tempat persemaian. Dan terakhir menyebar benih yang tidak terlalu rapat agar
keadaan lingkungantidak lembab.