Anda di halaman 1dari 4

BAB II

PEMBAHASAN
A.

MUKASYAFAH MENURUT ONTOLOGI

Mukasyafah adalah salah satu contoh pengetahuan mistik, ini termasuk mis
tik putih. Inti semua ilmu pengetahuan adalah kesadaran (consciousness) tentang
hubungan dan kesatuan subjek-objek. Pengetahuan filsafat oleh karena itu muncul
dari kesadaran tentang relasi subjek-objek. Fenomena ini di gambarkan oleh kesad
aran metodologis Descartes cogito ergo sum, suatu kesadaran rasional. Karena itu
kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan filsafat diawali dengan pemisahan subje
k-objek, demikian pula dengan sain.
Berbeda halnya dengan filsafat dan sain, pengetahuan mukasafah justru di awali o
leh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara su
bjek-objek, yaitu manusia-Tuhan.
Mukasyafah yang benar merupakan ilmu yang disusupkan Allah ke dalam hati
hamba dan menampakkan kepadanya perkara-perkara yang tidak diketahui orang lain
. Namun Allah juga bisa memalingkan dan menahannya karena kelalaian dan membuat
tutupan di dalam hatinya. Tapi tutupan ini amat tipis, yang disebut al-ghain. Ya
ng lebih tebal lagi disebut al-ghaim, dan yang paling tebal adalah ar-ran. Yang
pertama berlaku bagi para nabi, seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam, "Sesungguhnya ada tutupan dalam hatiku, dan sesungguhnya aku memohon
ampun kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali (dalam sehari)." Yang kedua berla
ku bagi orang-orang Mukmin, dan yang ketiga bagi orang-orang yang menderita, sep
erti firman Allah, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mer
eka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthaffifin: 14).
B.

TUHAN DALAM DIRI DIRI DALAM TUHAN


Mukasyafah adalah salah satu tangga menuju pengetahuan tentang dan dalam
Tuhan, suatu pengetahuan hakikiah. pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi
bahwa Alloh itu ada, dan selain Alloh ada juga. Akan tetapi terdapat perbedaan s
ifat ontologis mendasar antara ada Alloh dan ada selain Alloh.
Pengetahuan tentang alam (selain Alloh) di peroleh hanya jika manusia me
lakukan konsep tualisasi pengalaman inderawinya. Setelah itu barulah ia dapat me
lakukan penalaran lebih lanjut tentang alam tersebut. Pengetahuan yang di perole
h tidak lebih dari imajinasi manusia tentang objek tersebut.
Kepasifan alam menuntut manusia aktif, supaya alam itu berbicara tentang
dirinya. Aktifitas manusia itu dimulai dengan aktifitas inderawi, kemudian baru
lah aktifitas rasio. Penghidupan rasio itu di perlukan untuk menghidupkan cerapa
n-cerapan indera tadi perolehan indera menjadi perolehan bermakna tatkala di taf
sirkan oleh rasio.
Berbeda dengan itu, pengetahuan mukasyafah di peroleh melalui pengalaman
langsung menyarakan Tuhan berupa objek yang aktif. Artinya, Tuhan sebagai obje
k pengetahuan secara aktif menyatakan dirinya. Dari situ diterima pengetahuan o
leh subjek. Wujud keaktifan Tuhan sebagai objek ialah dalam bentuk pewahyuan dan
dalam rahasia alam ciptaanNya. Penampakan Tuhan pada alam dan wahyu secara epis
temoligis masih memerlukan instrument dan potensi inderawi dan rasio, agar menca
pai kesadaran dan pengetahuan tentang Tuhan. Tetapi, pengetahuan tentang Tuhan s
eperti ini masih berupa pengetahuan pada tingkat filsafat, dan masih spikulatif.
Tuhan mempunyai dua sisi, sisi esensi dan sisi eksistensi. Tatkala Tuhan
bereksistensilah ia dapat di pahami, ia itu tatkala ia berhubungan dengan selai
n Dia. Jadi, kita tidak akan dapat mengetahui esensi Tuhan. Tuhan diketahui tatk
ala ia dalam penampakan, dan tatkala ia berhubungan dengan yang lain, yaitu dala

m ciptaanNya. Ini masih pada level pengetahuan filsafat.


Sistem pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi (keyakinan) bahwa Tuh
an memancarkan pengetahuanNya. Tetapi pengetahuan yang di pancarkanNya itu tidak
dapat di pahami oleh indera atau pun rasio. Pengetahuan yang di pancarkanNya it
u hanya dapat di pahami oleh potensi spiritual kita. Indera dan akal rasional it
u tidak hanya tidak mampu memahaminya, bahkan juga menjadi penghalang tatkala po
tensi spiritual kita berusaha menangkap pengetahuan itu. Karena itu pada saat pe
nyerapan pengetahuan Tuhan oleh potensi spiritual itu, potensi indera dan rasio
dinonaktifkan untuk sementara. Yang dilakukan ialah membiarkan potensi spiritual
(yaitu hati, qalb) menerima dan menampung pengetahuan tersebut.
Karena pengetahuan mukasyafah terkait dengan situasi batin tertentu maka epistem
ologinya akan beersifat spikologis, yaitu mengusahakan agar potensi spiritual at
au batin itu sanggup membuka diri dan menangkap pengetahuan Tuhan tersebut. Cara
menonaktifkan akal rasional dan mengaktifkan qalbu itulah yang merupakan bahasa
n ilmu mukasyafah.
Dalam al-Qur an disebut empat istilah yang berkenaan dengan batin manusia yaitu na
fs, roh, qolb, dan aql. empat istilah ini dalam khazanah islam simpang siur penge
rtiannyan karena memang al-Qur an tidak menerangkan secara tegas. Bahkan roh itu d
ikatakan Tuhan tidak akan diketahui oleh manusia. Padahal dalam literatur shufi
roh merupakan dimensi tertinggi sedangkan nafs terndah.
Roh berasal dari kata rih (angin), sementara nasf (jiwa) sama dengan na
fas. Barangkali dari dimensi itu dapat disimpulkan bahwa manusia dapat merasakan
kehadiran roh seperti manusia memahami adanya angina dan adanya gemerisik daun
ditiup angin: tarikan nafas menunjukkan adanya roh.
Roh tercipta dari cahaya, sebagaimana malaikat, sepenuhnya terpisah dar
i dunia materi. Roh adalah realitas tunggal dan sederhana. sebaliknya badan ter
buat dari tanah liat yang gelap dan mempunyai banyak bagian. tidak mungkin ada k
aitan langsung antara relaitas yang bercahaya dan tunggal dengan realitas yang g
elap dan mempunyai banyak bagian. Mungkin jiwa adalah penengah antara keduanya y
ang memilki sifat kedua realitas yang berlawanan itu. jiwa terbuat dari api. ia
adalah campuran antara cahaya dan gelap, tunggal dan jamak.
Al-Ghazali dalam konteks tersebut melihat ada dua kecenderungan iwa manusia,yait
u sifat ketuhanan (rabbani) dan kesetanan (syaythani). Yang pertama naik dan yan
g kedua turun. Yang pertama adalah yang menarik ke Tuhan, yang kedua adlah menar
ik kemateri. Selama kecenderungan manusia kepada materi maka ia akan didominasi
oleh materi, manusia akan cenderung pada kejahatan; jika kecenderungan ke atas s
tsu ketuhsn maka yang mendominasi adalah Tuhan, mak jiwa akan sampai pada kedama
ian bersama Tuhan.
Al-Qur an mengunkan istilah qalb dan menyebutnya sebanyak 123 kali. Makna dasar Ql
b adalah membalik, kembali, pergi maju mundur, berubah, naik turun, mengalami pe
rubahan. Dari sejumlah penampkannya di dalam Al-Qur an secara garis besar ia menun
juk hati dalam diri manusia. Atau dapat dimaknai sebagai mana makna dasar tadi,
sebagi tempat kebaikan dan kajahatan, kebenaran dan kesalahan. Secra luas al-Qur a
n menyebut hati sebgai alat yang membuat manusia menjadi manusiawi, pusat keprib
adian manusia. Karena manusia terikat dengan Tuhan maka pusat ini merupakan temp
at manusia beertemu dengan Tuhan.
Karena pusat pusat sejati manusia maka tuhan menaruh perhatian khusus pada apa y
ang dilakukan hati itu dan kurang memperhatikan perbuatan manusia lainnya. Tidak
ada celanyakau berbuat slah keuali jika hatimu menyenanginya (QS.33:5). Banding
kan juga dengan QS. 2:118,225; 8:70 atau dengan hadis Tuhan idak melihat badan m
u atau bentukmu melainkan hatimu.
Hati jiga kunci kemunafikan. Tuhan berkata, Tuhan tahu apa yang ada di d

alam hatimu (QS. 33:51). Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan sebuah su
rat yang mengungkapkan apa-apa yang tersirat didalam hati mereka (QS.9:64 ; 3:16
7 ; 48:11). Hati juga mengambarkan memiliki mata dan telinga karena itu ia meru
pakan pusat pandangan, pemahaman dan ingatan atau dzkir. Sehingga wajar jika ima
n tumbuh didalam hati, juga keraguan tumbuh disana, penyelewengan dari jalan lur
us juga wajar.
Al-Qur an menempatkan kebikan-kebaikan seperti kesucian, kelembutan, kelua
san, perdamaian, cinta dan taubat didalam hati. Namun kebaikan itu tidak melekat
didalam hati. Jika Tuhan tidak mensucikan hati, mka hati akan sakit, berdosa, k
asar, jahat. Untuk itu hati hendaknya lembut dan bersifat reseptif terhadap petu
njuk Ilahi, cahaya dan cinta.
Berdasarkan ayat-ayat al-Qur an dapat diketahui dua hal, pertama, hati pada dasrny
a bersifat netral, ia diciptakan mempunyai kecenderungan lurus atau bengkok (ses
at), kedua, hati dipertahankan oleh Tuhan untuk cenderung pada sifat baik, seper
ti pada petuntuk, iman, cahaya, cinta.
Dalam kenyataan sesungguhnya, hati terperangkap antara dua sisi yaitu ca
haya dan kegelapan, roh dan jasad. Hati mungkin dikuasai oleh jiwa yang menguasai
kejahatan yang diselubungi oleh kegelapan. Hati mungkin berada diantara jiwa dan
roh, yang disitu Chaya dan kegelapan bersaing. Hati dengan demikian adalak loku
sbagi ingatan akan tuhan, ia meupakan tempat kebimbangan (hawa) muncul dan mengu
bah individu menjadi begini atau begitusekaligus tempat pertimbangan (hilm) dar
i akal, muncul cenderunglah hati pada kebaikan.
Mukasyafah adalah upaya penyingkapan hijab-hijab yang menutupi diri. Secara esen
sial penyingkapan adalah penghancuran tirai yang menutup objek dengan jalan roha
ni.
Hijab ada sepuluh macam:
1. Hijab peniadaan dan penafian hakikat asma' serta sifat. Ini merupakan
hijab yang paling tebal. Orang yang memiliki hijab ini tidak mempunyai kesiapan
untuk mengetahui Allah dan sama sekali tidak sampai kepada Allah, sebagaimana b
atu yang tidak bisa naik ke atas.
2. Hijab syirik, yaitu membuat hati menyembah kepada selain Allah.
3. Hijab bid'ah yang bersifat perkataan, seperti hijab orang-orang yang
mengikuti hawa nafsu dan berbagai macam perkataan yang batil lagi rusak.
4. Hijab bid'ah yang bersifap ilmiah, seperti hijab para ahli thariqah y
ang melakukan bid'ah dalam perjalanannya kepada Allah.
5. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batinnya, seperti
hijab orang-orang yang takabur, ujub, riya', dengki, membanggakan diri dan lain
sebagainya.
6. Hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara zhahir. Hijab mere
ka lebih tipis daripada hijab orang-orang yang melakukan dosa besar secara batin
, sekalipun mereka lebih banyak ibadahnya dan lebih zuhud. Dosa besar secara zha
hir lebih dekat kepada taubat daripada dosa besar secara batin. Orang yang melak
ukan dosa besar secara zhahir lebih bisa diselamatkan dan hatinya lebih baik dar
ipada orang yang melakukan dosa besar secara batin.
7. Hijab orang-orang yang melakukan dosa-dosa kecil.
8. Hijab orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal-hal yang mubah.
9. Hijab orang-orang yang lalai melakukan tujuan penciptaannya dan yang
dikehendaki dari dirinya, tidak senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah ke

pada Allah.
10. Hijab orang-orang yang berijtihad namun menyimpang dari tujuan.
Inilah sepuluh macam hijab yang mendinding antara hati dengan Allah, men
jadi penghalang di antara keduanya. Hijab-hijab ini muncul dari empat unsur: Jiw
a, syetan, dunia dan nafsu. Hijab tidak bisa disingkirkan jika unsur-unsur penye
babnya masih ada. Empat unsur inilah yang merusak perkataan, perbuatan, tujuan d
an jalan, tergantung dari banyak dan sedikitnya, memotong jalan perkataan, perbu
atan dan tujuan untuk sampai ke hati. Sementara apa yang dipotong agar tidak sam
pai ke hati, juga dipotong agar tidak sampai kepada Allah. Antara perkataan dan
perbuatan dengan hati terbentang jarak perjalanan. Seorang hamba menempuh jarak
perjalanan itu agar sampai ke hatinya, agar dia bisa melihat berbagai macam keaj
aiban di sana. Dalam perjalanan ini terdapat banyak perampok jalanan seperti yan
g sudah disebutkan di atas. Jika dia bisa memerangi para perampok jalanan itu da
n amalnya bisa sampai ke hati, maka ia akan menetap di dalam hati, lalu dari hat
i ini dia akan mendapatkan jendela agar dapat melihat Allah.
Sekalipun perjalanan itu sudah sampai ke hati, namun hamba tidak mendapa
tkan jendela untuk melihat Allah, bahkan di dalamnya bersemayam nafsu dan pasuka
nnya, sekalipun dia orang yang zuhud dan paling banyak beribadah, maka dia adala
h orang yang paling jauh dari Allah.
Bahkan orang-orang yang melakukan dosa besar, hatinya bisa lebih dekat d
engan Allah daripada mereka. Lihatlah seorang ahli ibadah dan zuhud,yang di keni
ngnya terdapat bekas sujud, tapi justru mengingkari Nabi Shallallahu Alaihi wa S
allam karena amalnya yang kelewat batas, sehingga dia pun mencemooh orang Muslim
lainnya dan menumpahkan darah para shahabat. Di sisi lain lihat seorang peminum
berat,(Orang pertama adalah Dzul-Khuwaishirah At-Tamimy Al-Khariji, dan orang k
edua adalah Iyadh bin Himar). yang sering mendatangi Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam, dan dia pun siap dijatuhi hukuman karena kebiasaannya itu. Karena iman,
keyakinan dan kecintaannya kepada Allah serta Rasul-Nya, dia rela menerimanya, s
ampaisampai beliau melarang orang lain yang memakinya. Dari sini dapat diketahui
bahwa orang yang melakukan kedurhakaan lebih baik kesudahannya daripada orang y
ang melanggar ketaatan.