Anda di halaman 1dari 54

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

KOLESISTITIS DAN KOLELITIASIS


disusun sebagai pemenuhan tugas Keperawatan Klinik IIIA
dengan dosen pengampu Ns. Wantiyah., M. Kep

Oleh:
Kelompok 5
Bella Alvionnita G P

NIM 132310101008

Ria Agustina

NIM 132310101009

Fikri Nur Latifatul Q

NIM 132310101011

Mashilla Refani Putri

NIM 132310101013

Karina Diana Safitri

NIM 132310101019

Larasmiati Rasman

NIM 132310101018

Novaria Dyah Ayu P

NIM 132310101022

Anis Fitri Nurul Anggraeni

NIM 132310101023

Nailul Aizza Rizqiyah

NIM 132310101032

Popi Dyah Kartika P

NIM 132310101035

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

Kasus 1
Seorang pasien perempuan usia 45 tahun dibawa ke UGD karena
mengalami nyeri hebat pada perut sebelah kanan atas. Nyeri kadang dirasakan
pada daerah baru. Pasien juga merasakan demam sejak 1 hari yang lalu.
Berdasarkan berbagai pemeriksaan yang dilakukan pasien didiagnosa kolesistitis.
Jawaban
Dikerjakan Oleh: Novaria Dyah Ayu P NIM 132310101022
A. Pengertian Kolesistitis
Kolesistitis merupakan inflamasi yang terjadi pada kandung empedu
yang menyebabkan nyeri akut, nyeri tekan, dan kekakuan pada abdomen
kuadran kanan atas (Smeltzer,2001). Kolesistitis adalah radang kandung
empedu yang merupakan reaksi inflamasi akut dinding kandung empedu
disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan panas badan.
Kolesistitis sering disebabkan cholelithiasis (kehadiran choleliths, atau batu
empedu, di kandung empedu), dengan cholelithiasiss sering memblokir
saluran cystic langsung. Hal ini menyebabkan penebalan dari empedu ,
empedu stasis , infeksi sekunder dan organisme usus, terutama E. coli and
Bacteroides species. coli dan Bacteroides spesies. Kolelitiasis (kalkuli atau
batu empedu) biasanya dibentuk didalam kandung empedu dari bahan bahan
padat empedu dan sangat bervariasi

dalam hal bentuk, ukuran, dan

komposisinya (Diane C, Baughman. 2000). Kolelitiasis merupakan gabungan


beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk
dalam kandung empedu (kolesistolitiasis) atau didalam saluran empedu
(koledokolitiasis) atau pada keduanya.
Dua klasifikasi dari kolesistitis yaitu kolesistitis akut dan kolesistitis
kronis.

Kolesistitis

akut

adalah

peradangan

dari

dinding

kandung

empedu,biasanya merupakan akibat dari adanya batu empedu di duktus


sistikus,yang secara tiba-tiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa.
Kolesistitis kronis adalah peradangan menahun dari dinding kandung

empedu,yang ditandai dengan serangan berulang dari nyeri perut yang tajam
dan hebat.
Dari kasus diatas kolesistitis yang dialami pasien termasuk jenis
kolesistitis akut, yaitu peradangan dari dinding kandung empedu,biasanya
merupakan akibat dari adanya batu empedu di duktus sistikus,yang secara tibatiba menyebabkan serangan nyeri yang luar biasa ,karena pada kasus diatas
disebutkan bahwa pasien terkadang merasakan nyeri yang hebat pada daerah
baru.
Dikerjakan Oleh: Ria Agustina NIM 132310101009
B. Etiologi / Factor Resiko
1. Etiologi
a. Batu empedu
Sifat kolesterol yang larut lemak dibuat menjadi larut air dengan
cara agregasi melalui garam empedu dan lesitin yang dikeluarkan
bersama kedalam empedu. Jika konsentrasi kolesterol melebihi
kapasitas solubilisasi empedu (supersatusasi), kolesterol tidak lagi
tidak terdispersi sehingga terjadi penggumpalan menjadi kristal
kolesterol monohidrat padat. Sumbatan batu empedu pada duktus
sistikus menyebabkan distensi kandung empedu dan gangguan aliran
darah darah dan limfe, bakteri komensal kemudian berkembang biak
sehingga mengakibatkan inflamasi pada saluran kandung empedu.
b. Pembedahan (terjadi perubahan fungsi)
Dapat terjadi sebagai akibat dari jejas kimiawi oleh sumbatan batu
empedu yang menjadi predisposisi terjadinya infeksi atau dapat pula
terjadi karena adanya ketidakseimbangan komposisi empedu seperti
tingginya kadar garam empedu atau asam empedu, sehingga
menginduksi terjadinya peradangan akibat jejas kimia.
c. Sepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh)
Sudah jelas jika terjadi membentukan batu empedu akan terjadi
infeksi dengan adanya kuman seperti E. Coli, salmonela typhosa,
cacing askaris, atau karena pengaruh enzim enzim pankreas karena
Sistem saluran empedu adalah sistem drainase yang membawa empedu

dari hati dan kandung empedu ke daerah dari usus kecil yang disebut
duodenum
d. Luka bakar
Respon umum pada luka bakar > 20 % adalah penurunan aktivitas
gastrointestinal. Hal ini disebabkan oleh kombinasi efek respon
hipovolemik dan neurologik serta respon endokrin terhadap adanya
perlukan luas
e. Pemasangan infus dalam jangka waktu lama
Pemasangan infus lama dapat menyebabkan radang pada kandung
empedu karna cairan infus banyak mengandung elektrolit sehingga jika
terpasang lama maka dapat membentuk kristal yang disebut batu
empedu selain itu juga cairan tersebut sangat pekah sehingga tidak
dapat diserap oleh empedu di kandung empedu
f. Trauma abdomen
Trauma abdomen adalah suatu keadaan klinik akibat kegawatan di
rongga abdomen biasanya timbul secara mendadak dengan nyeri
sebagai keluhan utama yang memerlukan penanganan segera. Hal ini
bisa disebabkan karena pertama adanya inflamasi/peradangan padak
kandung empedu.
2. Factor Resiko
Faktor risiko utama untuk kolesistitis, memiliki peningkatan prevalensi
di kalangan orang-orang keturunan Skandinavia, Pima India, dan populasi
Hispanik, cholelithiasis sedangkan kurang umum di antara orang dari subSahara Afrika dan Asia. Beberapa faktor resiko yang lain sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

adanya riwayat kolesistitis akut sebelumnya


wanita (beresiko dua jadi lebih besar dibanding laki-laki)
usia lebih dari 40 tahun
kegemukan (obesitas)
faktor keturunan
aktivitas fisik
kehamilan (resiko meningkat pada kehamilan)
hiperlipidemia
diet tinggi lemak dan rendah serat
pengosongan lambung yang memanjang
nutrisi intravena jangka lama
dismotilitas kandung empedu

m. obat-obatan antihiperlipedmia (clofibrate)


n. penyakit lain (seperti fibrosis sistik, diabetes militus, sirosis hati,
pankreaitis, dan kanker kandung empedu) dan penyakit ileus
(kekurangan garam empedu)
Dikerjakan Oleh: Anis Fitri Nurul Anggraeni NIM 132310101023
C. Tanda Gejala dan Gejala Khas
Menurut Arvin (2000) tanda dan gejala kolesistitis, diantaranya:
a. Demam
b. Nyeri pada kuadran kanan atas
c. Adanya masssa
Menurut Price & Wilson (2006), manifestasi klinis kolesistitis,
diantaranya:
a. Nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kanan atas,
spasme otot polos
b. Nyeri menyebar ke punggung dan bahu kanan
c. Berkeringat banyak atau berjalan mondar - mandir atau berguling ke
d.
e.
f.
g.
h.
i.

kanan dan ke kiri diatas tempat tidur


Nausea dan muntah
95% pasien kolisistitis akan menderita kolelitiasis
Ikterus
Gatal
Kandung empedu kadang kadang dapat teraba
Leukositosis

Dikerjakan Oleh: Popi Dyah Kartika P NIM 132310101035


D. Mekanisme Penyakit
Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah
stasis cairan empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu.
Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang
terletak di duktus sistikus yang menyebabkan stasis cairan empedu, sedangkan
sebagian kecil kasus kolesititis (10%) timbul tanpa adanya batu empedu.
Kolesistitis kalkulus akut disebabkan oleh obstruksi duktus sistikus oleh batu
empedu yang menyebabkan distensi kandung empedu. Akibatnya aliran darah
dan drainase limfatik menurun dan menyebabkan iskemia mukosa dan
nekrosis. Diperkirakan banyak faktor yang berpengaruh seperti kepekatan

cairan empedu, kolesterol, lisolesitin, dan prostaglandin yang merusak lapisan


mukosa dinding kandung empedu diikuti oleh reaksi inflamasi dan supurasi.
Faktor predisposisi terbentuknya batu empedu adalah perubahan susunan
empedu, stasis empedu, dan infeksi kandung empedu. Perubahan susunan
empedu mungkin merupakan faktor terpenting pada pembentukan batu
empedu. Sejumlah

penelitian menunjukkan bahwa hati penderita batu

kolesterol mensekresi empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol. Kolesterol


yang berlebihan ini mengendap dalam kandung empedu dengan cara yang
belum

dipahami

sepenuhnya.

Stasis

empedu

dapat

mengakibatkan

supersaturasi progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur


tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu atau spasme sfingter Oddi atau
keduanya dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal terutama pada
kehamilan dapat dikaitkan dengan pengosongan kandung empedu yang lebih
lambat. Infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan sebagian dalam
pembentukan batu, melalui peningkatan deskuamasi sel dan pembentukan
mukus. Akan tetapi, infeksi mungkin lebih sering sebagai akibat adanya batu
empedu daripada menjadi penyebab terbentuknya batu empedu.
Meskipun mekanisme terjadinya kolesistitis akalkulus belum jelas,
beberapa teori telah diajukan untuk menjelaskan mekanisme terjadinya
penyakit ini. Penyebab utama penyakit ini dipikirkan akibat stasis empedu dan
peningkatan litogenisitas empedu. Pasien-pasien dalam kondisi kritis lebih
mungkin terkena kolesistitis karena meningkatnya viskositas empedu akibat
demam dan dehidrasi dan akibat tidak adanya pemberian makan per oral
dalam jangka waktu lama sehingga menghasilkan penurunan atau tidak adanya
rangsangan kolesistokinin untuk kontraksi kandung empedu. Selain itu,
kerusakan pada kandung empedu mungkin merupakan hasil dari tertahannya
empedu pekat, suatu senyawa yang sangat berbahaya.
Pada pasien dengan puasa yang berkepanjangan, kandung empedu tidak
pernah mendapatkan stimulus dari kolesistokinin yang berfungsi merangsang
pengosongan kandung empedu, sehingga empedu pekat tersebut tertahan di
lumen. Iskemia dinding kandung empedu yang terjadi akibat lambatnya aliran

empedu pada demam, dehidrasi, atau gagal jantung juga berperan dalam
patogenesis kolesistitis akalkulus.
Dikerjakan Oleh: Fikri Nur Latifatul Qolbi NIM 132310101011
E. Pemeriksaan dan Hasil
1. Pemeriksaan Radiologi
a. Foto polos abdomen
Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran
kolesistitis akut. Hanya pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat
batu tidak tembus pandang (radioopak) oleh karena mengandung
kalsium cukup banyak.
b. Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG dapat dilihat bentuk, besar, dinding
menjadi sangat tebal dan saluran ekstrahepatik. Nilai kepekaan dan
ketepatan USG mencapai 90-95 %.
c. Kolesistografi oral
Kolesistografi oral 95% dapat dipercaya bila fungsi hepar dan
intestinal normal, tetapi dapat dipercaya selama serangan akut.
d. Skintigrafi saluran empedu
Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA
atau 99nTc6 Iminodiacetic acid mempunyai nilai sedikit lebih rendah
dari USG tapi teknik ini tidak mudah. Terlihatnya gambaran duktus
koledokus tanpa adanya gambaran kandung empedu pada pemeriksaan
kolesistografi oral atau scintigrafi sangat menyokong kolesistitis akut.
e. CT scan abdomen
CT Scan abdomen: kurang sensitif dan mahal tapi mampu
memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil yang
mungkin

tidak

terlihat

pada

pemeriksaan

USG

serta

dapat

membedakan sakit kuning obstruktif dengan non-obstruktif


f. Kolangiografi transhepatik percutaneous
Kolangiografi transhepatik perkutaneous: Pembedahan gambaran
dengan fluoroskopi antara penyakit kandung empedu dan kanker
pankreas (bila ikterik ada).
g. Endoscopic retrograde choledochopancreatiacography (ERCP)

Endoscopic

retrograde

choledochopancreaticography

(ERCP)

sangat bermanfaat untuk memperlihatkan adanya batu di kandung


empedu dan duktus koledokus.
h. Kolesistogram
Kolesistogram (untuk kolesistitis kronik): Menyatakan batu pada
sistem empedu.
2. Pemeriksaan Laboraturium
a. Kenaikan indeks ikterik dan kenaikan kadar bilirubin total,
bilirubin urin dan alkalin fosfatatse mendukung diagnosis
b. Jumlah sel darah putih sedikit saat serangan kolesistitis

Dikerjakan Oleh: Nailul Aizza Rizqiyah NIM 132310101032


F. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan Medis (Leveno, 2009)


1. Terapi medis
a. Pengisapan nasogastrik
b. Cairan intravena dan antimikroba
c. Analgesik (sebelum menjalani terapi bedah)
d. Terapi bedah (kolesistektomi)
Dikerjakan Oleh: Karina Diana Safitri NIM 132310101019 dan Mashilla
Refani Putri NIM 132310101013
G. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Data umum
a. Nama
b. Umur
c. Jenis Kelamin
d. Agama
e. Pendidikan
f. Pekerjaan
g. Suku bangsa
h. Golongan Darah
i. Tanggal Masuk RS.

: Ny. P
: 45 tahun
: Perempuan
: Islam
: SMU
: Wiraswasta
: Jawa
: B
: 19 April 2015

j.
k.
l.
m.
n.

Tanggal Pengkajian
No. Reg.
Dx. Medis
Alamat
Keadaaan Umum

:
:
:
:
:

19 April 2015
0312230368 / D / X / 04
Koletistitis
Jl. Sudirman No.37 Jember
- Ny. P merasakan nyeri
- TD : 140/80 mmHg
- HR: 95x/ menit
- RR : 20 x/menit
- Suhu : 39o C
- BB : 60 kg

2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Keluhan utama yang dirasakan oleh Ny. P nyeri hebat mendadak
pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan atas, nyeri dapat
menyebar ke punggung dan bahu kanan.
b) Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat kesehatan sekarang ditemukan pada saat pengkajian yang
dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST,
yaitu :
1. P (Provokatif atau Paliatif), Ny. P merasakan nyeri yang sangat
hebat ketika melakukan aktivitas dn nyeri berkurang ketika
pasien beristirahat atau meminum obat penghilang nyeri.
2. Q (Quality dan Quantity)
Nyeri yang dirasakan Ny. P seperti ditusuk-tusuk dengan skala
6 (0-10) dan biasanya membuat klien kesulitan untuk
beraktivitas.
3. R (Regional/area radiasi)
Nyeri yang dirasakan Ny. P menyebar, dan terkadang dirasakan
nyeri pada daerah bahu.
4. S (Severity)
Aktivitas Ny. P terganggu akibat nyeri hebat pada daerah
abdomen (epigastrium) kuadran kanan atas.
5. T (Timing)
Nyeri yang dirasaka Ny. P hilang timbul, dan bisa dirasakan
sepanjang hari. Namun, nyeri hilang ketika Ny. P istirahat.
c) Riwayat kesehatan dahulu
Kaji apakah klien pernah menderita penyakit sebelumnya dan
kapan

terjadi.Biasanya

gastrointestinal.

klien

memiliki

riwayat

penyakit

d) Riwayat kesehatan keluarga


Orang dengan riwayat keluarga kelelitiasis mempunyai resiko lebih
besar dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
3. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola fungsi kesehatan
Pola fungsi kesehatan dapat dikaji dengan pola gordon dimana
pendekatan ini memungkinkan perawat untuk mengumpulkan data
secara sistematis, dengan cara mengevaluasi pola fungsi kesehatan
dan memfokuskan pengkajian fisik pada masalah khusus.
b. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
Kaji persepsi keluarga serta klien terhadap kesehatan dan upayaupaya keluarga untuk mempertahankan kesehatan termasuk juga
penyakit aklie saat ini dan upaya yang diharapkan.
c. Pola nutrisi metabolic
Kaji pola nutrisi klien, jenis, frekuensi, dan jumlah makanan dan
minuman

yang

dikonsumsi

dalam

sehari.Klien

mengalami

gangguan nafsu makan, mual, muntah dan diare.Muntah berwarna


hitam dan fekal serta membran mukosa pecah-pecah, turgor kulit
buruk.
d. Pola eliminasi
Dalam pola eliminasi Ny. P terdapat perubahan warna urin (Kuning
pekat) dan feses, distensi abdomen, teraba masa pada kuadran
kanan atas.Urin gelap, pekat.
e. Pola istirhat dan tidur
Pola istirahat dan tidur Ny. P terganggu akibat dari nyeri yang
dirasakan.
f. Pola Sirkulasi
Ny. P mengalami takikardia dan pucat.
g. Pola Pernapasan
Ny. P mengalami peningkatan frekuensi pernafasan, ditandai
dengan napas pendek dan dangkal
h. Pola peran hubungan
Kaji peran klien dalam keluarganya, apakah klien dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan.
i. Pola aktivitas dan latihan

Kaji tingkat perkembangan atau tumbuh kembang sesuai dengan


usia, aktivitas klien sehari-hari di rumah, dan observasi tingkat
kemampuan klien dlam beraktivitas.
j. Pola keyakinan
Kaji pola keyakinan klien dan orang tua klien, tanyakan apa agama
klien.
4. Pemeriksaan Fisik (Head To Toe)
1. Kepala
a. Rambut : rambut berwarna hitam, kulit kepala bersih, tidak ada
lesi, distribusi rambut merata.
b. Mata : konjungtiva anemis, sklera : ikterik , reflek pupil
normal, kornea berwarna bening.
c. Telinga : serumen tidak ada, pendengaran normal
d. Hidung : tidak ada cuping hidung, pola napas regular, fungsi
penciuman normal
e. Mulut : rongga mulut bersih
f. Leher : simetris, tidak ada pembesaran kelejar tiroid
2. Dada
a. Paru paru
- Respirasi : 20x/menit
- Bunyi nafas : vesikuler
- Irama nafas : Reguler
- Bunyi perkusi : Resonan
b. Jantung
- Bunyi jantung : S1 dan S2
- Irama jantung : Reguler
- Kelainan bunyi jantung : Tidak ada
3. Abdomen
a) Bentuk
: Datar, superl, tidak ada lesi
b) Bising usus : Bunyi 12x/menit
c) Aorta
: 2 jari diatas umbilikal, bunyi desiran air
d) Lambung
: Tidak ada nyeri tekan, bunyi perkusi :
timpani.
e) Hepar

: Terdapat nyeri tekan pada daerah

hipokondria kanan atas.


f) Limpa
: Tidak teraba, tidak ada nyeri tekan, tidak
ada pembesaran.
g) Ginjal : Teraba tidak ada pembesaran, tidak ada nyeri
tekan.
4. Genetalia : bentuk utuh, tidak ada secret
5. Ekstremitas

a. Ekstremitas atas
Tangan kanan klien terpasang infus, oedema tidak ada, klien
dapat melakukan flexi, ekstensi, inversi, ekspersi, pronasi,
supinasi, abduksi, aduksi, rotasi, reflek bisep (+), reflek trisep
(+)
b. Ekstremitas bawah
Oedema tidak ada, klien dapat melakukan flexi, ekstensi,
inversi, ekspersi, pronasi, supinasi, abduksi, aduksi, rotasi,
reflek patela (+), reflek asiles (+),

c. Analisa data
Data
DO:
a. Pasien tampak
meringis kesakitan.
b. TTV: TD : 140/80
mmHg, N: 95x/
menit, RR : 20
x/menit, S: 39o C
c. Pemeriksaan
abdomen :
I : tidak ada lesi tidak
ada asites
A: peristaltic usus 12x
/ menit
P: terdapat nyeri
tekan pada perut
kanan atas
P: Tympani
DS:
a. Pasien mengatakan
sering mengalami

Etiologi

Nyeri akut
Menggesek mukosa
saluran empedu
Kristal atau batu
bergerak atau bergeser
Terbentuk inti yang
lambat laun akan
berubah menjadi batu
Perubahan cairan
empedu dan produksi
empedu
Penumpukan komponen
empedu

Diagnosa
Nyeri akut

nyeri pada perut


sebelah kanan atas.
b. Pasien mengatakan
nyeri berlangsung agak
lama sekitar 30 menit.
DO:
a. Turgor kulit tidak
baik
b. Mata ikterik
c. Berkeringat
d. Mukosa mulut kering
DS:
a. Keluarga pasien
mengatakan pasien
sering mual dan
muntah
b. Pasien mengatakan
badannya terasa lemas
c. Pasien mengatakan
sering merasa haus.

Kekurangan volume
cairan

Kekurangan volume
cairan

Kulit dan mata ikterik,


warna urin gelap
Masuk kedalam
peredaran darah
Cairan empedu refluks
Menyumbat aliran darah
Terbentuk inti yang
lambat laun menjadi batu
Penumpukan komponen
empedu

DO:
a. BB sebelum 63 kg
b. BB sekarang 60 kg
c. Makan habis porsi
RS
DS:
a. pasien mengatakan
mual sehabis
makan
b. pasien mengatakan
nafsu makan
menurun

Perubahan nutrisi:
kurang dari kebutuhan
tubuh
Mual muntah
Defisiensi bilirubin
dalam saluran
pencernaan
Masuk kedalam
peredaran darah
Cairan empedu refluks
Menyumbat aliran

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh

empedu
Terbentuk inti yang
lambat laun menjadi batu

DO:
a. Pasien terlihat
kebingungan
b. Pasien terlihat
cemas
DS:
a. Pasien mengatakan
tidak mengetahui
tentang
penyakitnya
b. Keluarga pasien
mengatakan tidak
mengerti
bagaimana cara
merawat
keluarganya yang
sakit

Penumpukan komponen
empedu
Kurang pengetahuan

Kurang pengetahuan

kurang pengetahuan
Menggesek mukosa
saluran empedu
Kristal atau batu
bergerak atau bergeser
Terbentuk inti yang
lambat laun akan
berubah menjadi batu
Perubahan cairan
empedu dan produksi
empedu
Penumpukan komponen
empedu

d. Diagnose
1. Nyeri akut b/d proses inflamasi kandung empedu, obstruksi/spasme
duktus, iskemia jaringan/nekrosis
2. Kekurangan volume cairan b/d dispensi dan hipermortilitas gaster,
gangguan proses pembekuan darah
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan
pencernaan lemak intake yang tidak adekuat
4. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi

e. Intervensi
Diagnosa

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Intervensi

Rasional
1. Memberikan informasi tentang

Nyeri akut b/d proses

Tujuan: Nyeri teratasi

1. Observasi dan

inflamasi kandung

setelah dilakukan

catat lokasi,

kemajuan/perbaikan penyakit,

empedu,

perawatan selama 2x24

beratnya (skala

komplikasi dan keefektifitan

obstruksi/spasme

jam.

0-10) dan

intervensi.

duktus, iskemia
jaringan/nekrosis

Krieria hasil

karakter nyeri
(menetap, hilang,

Pasien akan:

timbul atau

-Melaporkan nyeri hilang/

kolik ).
2. Catat repons

terkontrol

terhadap obat dan

-Menunjukkan penggunaan

laporkan bila

ketrampilan relaksasi dan

nyeri tidak

aktivitas hiburan

hilang.
3. Tingkatkan
tirah baring,
berikan pasien

2. Nyeri berat yang tidak hilang


dapat menunjukkan adanya
komplikasi.

3. Posisi yang nyaman fowler


rendah menurunkan tekanan
intraabdomen.

posisi yang
nyaman.
4. Gunakan sprei
yang halus/katun;
minyak kelapa;

4. Menurunkan iritasi kulit dan


sensasi gatal.

minyak
mandi(alpha
keri).
5. Berikan teknik
relaksasi
6. Kolaborasi

5. Meningkatkan istirahat dan

dengan dokter

memusatkan kembali perhatian,

dalam pemberian

dapat menurunkan nyeri.

obat anti nyeri.

6. Membantu dalam mengatasi


nyeri yang hebat.

Kekurangan volume
cairan b/d dispensi
dan hipermortilitas

Tujuan:
Setelah dilakukan
perawatan selama 3x24 jam

1. Monitor

1. Memberikan informasi tentang

pemasukan dan

status cairan / volume sirkulasi

pengeluaran

dan kebutuhan penggantian

gaster, gangguan

Keseimbangan cairan

proses pembekuan

adekuat

darah
Kriteria hasil:
Dibuktikan oleh tanda vital
stabil, membran mukosa
lembab, turgor kulit baik,

cairan
2. Awasi

cairan.
2. Muntah berkepanjangan,

belanjutnya

aspirasi gaster dan pembatasan

mual/muntah,

pemasukan oral dapat

kram

menimbulkan defisit natrium,

abdomen,kejan

kaliumdan klorida.

g ringan,
kelemahan
3. Kaji

pengisian kapier baik,

pendarahan

eliminasi urin normal

yang tidak
biasa

3. Protrombin darah menurun dan


waktu koagulasi memanjang
bila aliran empedu terhambat,
meningkatkan resiko
hemarogi.

contohnya
pendarahan
pada
gusi,mimisan,
petekia,
melena.
4. Kaji ulang
pemeriksaan

4. Membantu dalam proses

laboraturium
5. Beri cairan IV,
elektrolit, dan
vit. K
Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh b/d gangguan
pencernaan lemak
intake yang tidak
adekuat

Tujuan :
Setelah dilakukan

1. Kaji distensi
abdomen

evaluasi volume cairan


5. Mempertahankan volume
sirkulasi dan memperbaiki
ketidakseimbangan.
1. Adanya ketidaknyamanan
karena gangguan

percernaan,nyeri gaster.
perawatan selama 3x24 jam 2. Timbang dan
2. Mengidentifikasi
pantau BB tiap
Pemenuhan kebutuhan
kekurangan/kebutuhan nutrisi.
hari
nutrisi pasienadekuat.
3. Diskusikan
3. Melibatkan klien dalam
Kriteria hasil:
Pasien akan :
-

Melaporkan mual/muntah

hilang.
- Menunjukkan kemajuan

dengan klien

perencanaan, klien memiliki

makanan

rasa kontrol dan mendorong

kesukaan dan

untuk makan.

jadwal makan
yang disukai
4. Berikan

mencapai BB individu

suasana yang

yang tepat.
-Makanan habis sesuai

menyenangkan

porsi yang diberikan.

pada saat

4. Untuk meningkatkan nafsu


makan/ menurunkan mual.

makan,
hilangkan
ransangan
yang berbau.
5. Jaga

5. Oral yang bersih


meningkatkan nafsu makan.
6. Berguna untuk merencanakan

kebersihan

kebutuhan nutrisi individual

oral sebelum

melalui rute yang paling tepat.

makan
6. Konsul dengan
ahli diet/ tim
pendukung
nutrisi sesua

7. Memenuhi kebutuhan nutrisi


dan meminimalkan ransangan
pada kandung empedu.

indikasi
7. Berikan diet
sesuai
toleransi
biasanya
rendah lemak,
Kurang pengetahuan

Tujuan :
Setelah diberi penjelasan 2-

tinggi serat.
1. Jelaskan

1. Penjelasan mengenai penyakit

b/d kurang informasi

3 kali selama 10 menit

mengenai

dapat menurunkan kecemasan

pasien dapat mengerti dan

penyebab dan

klien atas penyakitnya

memahami penyakit yang

konsep

dialaminya
Kriteria Hasil:
- pasien mengatakan

penyakit yang 2. Untuk memberi informasi

sudah tahu terkait


penyakitnya
- pasien dan keluarga
melakukan perubahan
pola hidup dan
berpartisipasi dalam
program pengobatan

dialami
2. Berikan
penjelasan/ala
san tes dan
persiapannya
3. Kaji ulang
program obat

terkait penyakit sehingga dapat


menurunkan cemas dan
rangsang simpatis
3. Batu empedu merupakan
penyakit yang dapat berulang
sehingga perlu terapi jangka
panjang.

dan
kemungkinan
efek samping
4. Anjurkan
pasien untuk
makan/minu
m makanan
dan minuman
yang tinggi

4. Mencegah atau membatasi


terulangnya serangan batu
empedu

lemak

f. Implementasi
No
1

Diagnosa
Nyeri akut b/d proses inflamasi

Rencana Tindakan
1. Mengobservasi dan dicatat lokasi, beratnya (skala 0-10) dan

kandung empedu, obstruksi/spasme

karakter nyeri (menetap, hilang, timbul atau kolik ). Dengan

duktus, iskemia jaringan/nekrosis

hasil nyeri dirasakan diperut atas sebelah kanan dengan


skala nyeri 8 dan nyeri berlangsung sekitar 30 menit.
2. Mencatat repon terhadap obat
3. Meningkatkan tirah baring, dan pasien telah diberikan posisi
yang nyaman.
4. Menggunakan sprei yang halus/katun; minyak kelapa;
minyak mandi(alpha keri).
5. Memberikan teknik relaksasi dengan respon klien
mengatakan nyeri membaik.
6. Mengkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti

nyeri dengan hasil klien memberikan respon membaik.


2

Kekurangan volume cairan b/d


dispensi dan hipermortilitas gaster,
gangguan proses pembekuan darah

1. Memonitor pemasukan dan pengeluaran cairan


2. Mengawasi belanjutnya mual/muntah, kram

abdomen,kejang ringan, kelemahan


3. Mengkaji pendarahan yang tidak biasa contohnya
pendarahan pada gusi,mimisan, petekia, melena.
4. Mengkaji ulang pemeriksaan laboraturium
5. Memberikan cairan IV, elektrolit, dan vit. K sesuai

kebutuhan
3

Perubahan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh b/d gangguan
pencernaan lemak intake yang tidak
adekuat

1. Mengkaji adanya distensi abdomen


2. Menimbang dan memantau BB tiap hari
3. Mendiskusikan dengan klien makanan kesukaan dan jadwal
makan yang disukai
4. Memberikan suasana yang menyenangkan pada saat makan,
hilangkan ransangan yang berbau.
5. Menjaga kebersihan oral sebelum makan
6. Mengkonsultasikan dengan ahli diet/ tim pendukung nutrisi
sesuai indikasi
7. Memberikan diet sesuai toleransi biasanya rendah lemak,

Kurang pengetahuan b/d kurang


informasi

tinggi serat.
1. Menjelaskan mengenai penyebab dan konsep penyakit yang
dialami

2. Memberikan penjelasan/alasan tes dan persiapannya


3. Mengkaji ulang program obat dan kemungkinan efek
samping
4. Menganjurkan pasien untuk makan/minum makanan dan
minuman yang tinggi lemak

g. Evaluasi
No
1

Diagnosa
Nyeri akut b/d proses

Evaluasi
S: Pasien mengatakan, Sus, perut saya

inflamasi kandung empedu,

masih terasa nyeri.

obstruksi/spasme duktus,

O: Pasien terlihat meringis menahan nyeri.

iskemia jaringan/nekrosis

A: Masalah teratasi sebagian.


P: Lanjutkan intervensi

Kekurangan volume cairan

S: Keluarga Pasien Mengatakan Bahwa

b/d dispensi dan

Sus, suami Saya Sudah Tidak Lemas Lagi

hipermortilitas gaster,

O: Pasien Tidak Memperlihatkan Tanda-

gangguan proses pembekuan

Tanda Sianosis

darah

A: Masalah Teratasi Sebagian

Perubahan nutrisi kurang dari

P: Lanjutkan Intervensi
S: Istri pasien mengatakan bahwa sus,

kebutuhan tubuh b/d

suami saya sudah bisa makan dengan

gangguan pencernaan lemak

teratur namun masih dalam porsi yang

intake yang tidak adekuat

sedikit
O: BB pasien bertambah dan pasien
mengabiskan makanan yang diberikan
A: Masalah teratasi sebagian.

Kurang pengetahuan b/d

P: Lanjutkan Intervensi.
S: pasien mengatakaniya sus, saya faham

kurang informasi

dengan penyakit saya sekarang. Saya tidak


akan mengulangi penyebab sakit saya
O: pasien tampak tidak cemas
A: Masalah teratasi sepenuhnya
P: Intervensi dihentikan

Kasus 2
Seorang pasien laki-laki usia 50 tahun periksa ke poli interna RS Sehat
karena sering mengalami nyeri pada perut sebelah kanan atas. Nyeri berlangsung
agak lama sekitar 30 menit. Berdasarkan berbagai pemeriksaan yang dilakukan
pasien didiagnosa kolelitiasis.
Jawaban
Dikerjakan Oleh: Larasmiati Rasman NIM 132310101018
A. Definisi
Kolelitiasis atau koledokolelitiasi merupakan penyakit batu empedu,
terbentuknya batu di kandung empedu, atau pada saluran kandung empedu
atau pada keduanya. Kolelitiasis merupakan suatu keadaan dimana terdapat
batu empedu di dalam kandung empedu (vesika felea) dari unsur unsur
padat yang membentuk cairan empedu yang memiliki ukuran bentuk dan
komposisi yang bervariasi.(brunner & suddarth : 2001). Batu empedu
merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu: kolesterol, bilirubin,
garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid. Kolesterol
hampir tidak dapat larut dalam air dan bilirubin sukar larut dalam air. Batu
empedu memiliki komposisi yang terutama terbagi atas tiga jenis: pigmen,
kolesterol, dan batu campuran (Price: 2005)
B. Etiologi
Penyebab pasti dari kolelitiasis atau koledokolelitiasis atau batu empedu
belum di ketahui. faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar
kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasias yaitu:
1. Usia
Risiko

untuk

terkena

kolelitiasis

meningkat

sejalan

dengan

bertambahnya usia. Orang dengan usia > 40 tahun lebih cenderung untuk
terkena kolelitiasis dibandingkan dengan orang degan usia yang lebih
muda. Semakin meningkat usia, prevalensi batu empedu semakin tinggi.
Hal ini disebabkan oleh:

a. Batu empedu sangat jarang mengalami disolusi spontan.


b. Meningkatnya sekresi kolesterol ke dalam empedu sesuai dengan
bertambahnya usia.
c. Empedu menjadi semakin litogenik bila usia semakin bertambah.
2. Jenis Kelamin
Wanita mempunyai risiko dua kali lipat untuk terkena kolelitiasis
dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen
berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung
empedu. Hingga dekade ke-6, 20 % wanita dan 10 % pria menderita batu
empedu dan prevalensinya meningkat dengan bertambahnya usia,
walaupun umumnya selalu pada wanita.
3. Berat badan (BMI)
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih
tinggi untuk terjadi kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka
kadar kolesterol dalam kandung empedu pun tinggi, dan juga mengurasi
garam empedu serta mengurangi kontraksi atau pengosongan kandung
empedu
4. Makanan
Konsumsi makanan yang mengandung lemak terutama lemak hewani
berisiko untuk menderita kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen
dari lemak. Jika kadar kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu
melebihi batas normal, cairan empedu dapat mengendap dan lama
kelamaan menjadi batu. Intake rendah klorida, kehilangan berat badan
yang cepat mengakibatkan gangguan terhadap unsur kimia dari empedu
dan dapat menyebabkan penurunan kontraksi kandung empedu. Suatu teori
mengatakan bahwa.
Kolesterol dapat menyebabkan superaturasi empedu di kandung
empedu. Setelah beberapa lama, empedu yang telah mengalami
superaturasi menjadi mengkristal dan memulai membentuk batu. Tipe
lain batu empedu adalah batu pigmen. Batu pigmen tersusun oleh

kalsium bilirubin, yang terjadi ketika bilirubin bebas berkombinasi dengan


kalsium.
5. Aktifitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko
terjadinya kolelitiasis. Ini mungkin disebabkan oleh kandung empedu lebih
sedikit berkontraksi.
6. Gangguan Intestinal
Pasien pasca reseksi usus dan penyakit crohn memiliki risiko penurunan
atau kehilangan garam empedu dari intestinal. Garam empedu merupakan agen
pengikat kolesterol, penurunan garam pempedu jelas akan meningkatkan
konsentrasi kolesterol dan meningkatkan resiko batu empedu.
7. Nutrisi intravena jangka lama
Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak
terstimulasi untuk berkontraksi, karena tidak ada makanan atau nutrisi yang
melewati intestinal. Sehingga resiko untuk terbentuknya batu menjadi
meningkat dalam kandung empedu.
C. Patofisiologi
Pembentukan batu empedu dibagi menjadi tiga tahap yaitu pembentukan
empedu yang supersaturasi, nukleasi atau pembentukan inti batu, dan
berkembang karena bertambahnya pengendapan. Kolelitiasis merupakan
istilah dasar yang merangkum tiga proses litogenesis empedu utama
berdasarkan lokasi batu terkait:
1.
2.
3.

Kolesistolitiasis (litogenesis yang terlokalisir di kantung empedu)


Koledokolitiasis (litogenesis yang terlokalisir di duktus koledokus)
Hepatolitiasis (litogenesis yang terlokalisir di saluran empedu dari awal
percabangan duktus hepatikus kanan dan kiri
Ada dua tipe utama batu empedu yaitu: batu yang terutama tersusun

dari pigmen dan tersusun dari kolesterol.


a. Batu pigmen
Batu pigmen terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari keempat
anion ini adalah bilirubinat, karbonat, fosfat dan asam lemak. Pigmen
(bilirubin) pada kondisi normal akan terkonjugasi dalam empedu. Bilirubin

terkonjugasi karna adanya enzim glokuronil tranferase bila bilirubin tak


terkonjugasi diakibatkan karena kurang atau tidak adanya enzim glokuronil
tranferase tersebut yang akan mengakibatkan presipitasi/pengendapan dari
bilirubin tersebut. Ini disebabkan karena bilirubin tak terkonjugasi tidak
larut dalam air tapi larut dalam lemak.
Sehingga lama kelamaan terjadi

pengendapan

bilirubin

tak

terkonjugasi yang bisa menyebabkan batu empedu tapi ini jarang terjadi.
Mekanisme batu pigmen Pigmen (bilirubin) tak terkonjugasi dalam
empedu
Akibat berkurang atau tidak adanya enzim glokuronil tranferase
Presipitasi / pengendapan
Berbentuk batu empedu
Batu tersebut tidak dapat dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan
operasi
b. Batu kolesterol
Kolesterol merupakan unsur normal pembentukan empedu dan
berpengaruh dalam pembentukan empedu. Kolesterol bersifat tidak larut
dalam air, kelarutan kolesterol sangat tergantung dari asam empedu dan
lesitin (fosfolipid).

Mekanisme batu pigmen

Proses degenerasi dan adanya penyakit hati

Penurunan fungsi hati


Penyakit gastrointestinal Gangguan metabolisme
Mal absorpsi garam empedu - Penurunan sintesis (pembentukan) asam
empedu
Peningkatan sintesis kolesterol
Berperan sebagai penunjang: iritan pada kandung empedu - Supersaturasi
(kejenuhan) getah empedu oleh kolesterol
Peradangan dalam eningkatan sekresi kolesterol kandung empedu
Kemudian kolesterol keluar dari getah empedu Penyakit kandung empedu
Pengendapan kolesterol
Batu empedu

D. Tanda Gejala
Menurut Price (2005, hlm 503) Sebanyak 75% orang yang memiliki batu
empedu tidak memperlihatkan gejala. Sebagian besar gejala timbul bila batu
menyumbat aliran empedu, yang seringkali terjadi karena batu yang kecil
melewati ke dalam duktus koledokus.

1. Gejala Akut
a. Nyeri hebat mendadak pada epigastrium atau abdomen kuadran kanan
b.
c.
d.
e.

atas, nyeri dapat menyebar ke punggung dan bahu kanan.


Penderita dapat berkeringat banyak dan Gelisah
Nausea dan muntah sering terjadi.
Ikterus
Perubahan warna urine berwarna gelap dan feses tidak lagi diwarnai

pigmen.
2. Gejala kronis
Gejala kolelitiasis kronis mirip dengan gejala kolelitiasis akut, tetapi
beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang nyata. Pasien sering memiliki
riwayat dispepsia, intoleransi lemak, nyeri ulu hati, atau flatulen yang
berlangsung lama.
Menurut Reeves (2001) tanda dan gejala yang biasanya terjadi adalah:
a. Nyeri di daerah epigastrium kuadran kanan atas
b. Pucat biasanya dikarenakan kurangnya fungsi empedu
c. Pusing akibat racun yang tidak dapat diuraikan
d. Demam
e. Urine yang berwarna gelap seperti warna teh
f. Dispepsia yang kadang disertai intoleransi terhadap makanan-makanan
g.
h.
i.
j.

berlemak
Nausea dan muntah
Berkeringat banyak dan gelisah
Nausea dan muntah-muntah
Defisiensi Vitamin A,D,E,K

E. Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium : lekositosis, blirubinemia ringan, peningkatan alkali
posfatase.
2. USG: dapat mendeteksi kalkuli dalam kandung empedu atau duktus
koledokus yang mengalami dilatasi, USG mendeteksi batu empedu
dengan akurasi 95%.
3. CT Scan Abdomen
4. MRI
5. Sinar X abdomen
6. Koleskintografi/pencitraan

radionuklida:

preparat

radioaktif

disuntikkan secara intravena. Pemeriksaan ini lebih mahal dari USG,

waktu lebih lama, membuat pasien terpajar sinar radiasi, tidak


dapat mendeteksi batu empedu.
7. Kolesistografi: alat ini digunakan jika USG tidak ada / hasil
USG meragukan.
F. Penatalaksanaan
Menurut

Brunner

2001)

penatalaksanaan

untuk

kolelitiasis

sebagai berikut:
1. Non Bedah, yaitu :
a. Terapi Konservatif
1) Pendukung diit : Cairan rendah lemak
2) Cairan Infus : menjaga kestabilan asupan cairan
3) Analgetik : meringankan rasa nyeri yang timbul akibat gejala
penyakit
4) Antibiotik : mencegah adanya infeksi pada saluran kemih
5) Istirahat
b. Farmakoterapi
Pemberian asam ursodeoksikolat dan kenodioksikolat digunakan
untuk melarutkan batu empedu terutama berukuran kecil dan
tersusun dari kolesterol. Zat pelarut batu empedu hanya digunakan
untuk batu kolesterol pada pasien yang karena sesuatu hal sebab tak
bisa dibedah. Batu-batu ini terbentuk karena terdapat kelebihan
kolesterol yang tak dapat dilarutkan lagi oleh garam-garam empedu
dan lesitin. Untuk melarutkan batu empedu tersedia kenodeoksikolat
dan

ursodeoksikolat.

Mekanisme

kerjanya

berdasarkan

penghambatan sekresi kolesterol, sehigga kejenuhannya dalam


empedu berkurang dan batu dapat melarut lagi. Terapi perlu dijalankan
lama, yaitu tiga bulan sampai dua tahun dan baru dihentikan minimal
tiga bulan setelah batu-batu larut. Recidif dapat terjadi pada 30% dari
pasien dalam waktu satu tahun, dalam hal ini pengobatan perlu
dilanjutkan.

c. Penatalaksanaan Pendukung dan Diet


Suplemen bubuk tinggi protein dan karbohidrat dapat diaduk
kedalam susu skim. Makanan berikut ini ditambahkan jika pasien
dapat menerimanya yaitu buah yang dimasak, nasi atau ketela,
daging tanpa lemak, kentang yang dilumatkan, sayuran yang tidak
membentuk gas, roti, kopi atau teh. Makanan seperti telur, krim,
daging babi, gorengan, keju dan bumbu-bumbu yang berlemak,
sayuran yang membentuk gasserta alkohol harus dihindari.
d. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
e. Litotripsi Intrakorporeal
Pada litotripsi intrakorporeal, batu yang ada dalam kandung
empedu atau doktus koledokus dapat dipecah dengan menggunakan
grlombang ultrasound, laser berpulsa atau litotripsi hidrolik yang
dipasang pada endoskop, dan diarahkan langsung pada batu.
Kemudian fragmen batu atau derbis dikeluarkan dengan cara irigasi
dan aspirasi. Prosedur tersebut dapat diikuti dengan pengangkatan
kandung empedu melalui luka insisi atau laparoskopi. Jika kandung
empedu tidak di angkat, sebuah drain dapat dipasang selama 7 hari.
2. Pembedahan
a. Cholesistektomy
Merupakan tindakan pembedahan yang dilakukan atas indikasi
cholesistitis atau pada cholelitisis, baik akut /kronis yang tidak sembuh
dengan tindakan konservatif
b. Kolesistektomi
Dalam prosedur ini kandung empedu diangkat setelah arteri dan
duktus

sistikus diligasi. Kolesistektomi dilakukan pada sebagian

besar kasus kolesistis akut dan kronis. Sebuah drain (Penrose)


ditempatkan dalam kandung empedu dan dibiarkan menjulur keluar
lewat luka operasi untuk mengalirkan darah, cairan serosanguinus
dan getah empedu ke dalam kasa absorben.

c. Koledokostomi
Dalam koledokostomi, insisi dilakukan pada duktus koledokus
untuk mengeluarkan batu. Setelah batu dikeluarkan, biasanya dipasang
sebuah kateter ke dalam duktus tersebut untuk drainase getah empedu
sampai edema mereda. Keteter ini dihubungkan dengan selang
drainase gravitas. Kandung empedu biasanya juga mengandung
batu, dan umumnya koledokostomi dilakukan bersama- sama
kolesistektomi.
G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis (Sjamsu Hidajat,
2005):
1. Kolesistitis akut
2. Ikterus obstruksi karena batu saluran empedu
3. Kolangitis
4. Ilius obstruksi karena batu
5. Degenerassi keganasan
6. Obstruksi duktus sistikus
7. Kolik bilier
8. Perikolesistitis
9. Peradangan pankreas (pankreatitis)
10. Perforasi
11. Empiema kandung empedu
Dikerjakan Oleh: Bella Alvionnita G. P. NIM 132310101008
H. Asuhan Keperawatan

a. Pengkajian
Identitas Pasien
1. Nama
2. Umur
3. Jenis kelamin
4. Agama
5. Pendidikan
6. Pekerjaan
7. Alamat
8. Suku bangsa
9. Tanggal masuk RS
10. No. Reg

: Tn.Y
: 50 tahun
: Laki laki
: Islam
: SMU
: Wiraswata
: Patrang, Jember
: Indonesia
: 20 April 2015
: 01234567

Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien sering mengalami nyeri pada perut sebelah kanan atas.
Nyeri yang dirasakan berlangsung sekitar 30 menit.
b. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan bahwa ini kali pertama ia dirawat di Rumah
Sakit dan didiagnosa penyakit tersebut.
c. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga pasien tidak memiliki riwayat penyakit keturunan atau
penyakit yang sama dengan yang diderita oleh pasien.

Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Kesadaran pasien compos menthis
b. Tanda tanda vital
TD: 110/70 mmhg
Suhu: 37C
Nadi: 70x/menit
RR: 20x/menit
c. Kepala
Kulit kepala bersih, rambut berwarna hitam, tidak ada lesi, tidak
ada nodul, distribusi rambut merata.
d. Mata
Konjungtiva anemis, sclera ikterik, reflek pupil normal, kornea
berwarna bening, fungsi penglihatan baik, klien dapat membaca pada
jarak 25 cm tanpa alat bantu.
e. Telinga
Tidak ada serumen, tidak ditemukan adanya

peradangan,

pendengaran baik pasien dapat mendengar pada jarak 30 cm dari


sumber suara.
f. Hidung
Tidak ada cuping hidung, penyebaran rambut hidung merata, tidak
ada secret, mukosa merah muda dan lembab, fungsi penciuman dapat
membedakan bau.
g. Mulut
Bibir simestris atas dan bawah, warna merah muda. Gusi warna
merah muda, gigi bersih, tidak ada caries. Lidah bersih, fungsi perasa
normal, rongga mulut bersih, tidak ada radang.

h. Leher
Bentuk simestris, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada
peningkatan vena jugularis.
i. Dada
Bentuk simestris, tidak ada retraksi dinding dada, ekspansi dada
sama antara kiri dan kanan.
Paru paru
RR: 20x/menit
Bunyi nafas vesikuler
Irama nafas regular
Bunyi perkusi resonan
Jantung
Bunyi jantung S1 dan S2
Irama jantung regular
j. Abdomen
Bentuk datar, bising usus 18x/menit
Lambung tidak ada nyeri tekan, bunyi perkusi tympani, hepar
terdapat nyeri tekan pada daerah hipokondria kanan atas, teraba
adanya masa pada darah abdomen, ginjal tidak ada pembesaran,
tidak ada nyeri tekan.
k. Genetalia
Tidak ada radang, tidak ada kelainan.
b. Analisa data
NO
1.

DATA

ETIOLOGI

DS:

Adanya sumbatan pada Gangguan

Pasien
sering
pada

mengatakan
merasa
perut

nyeri

Pasien

duktus

sistikus

batu empedu

Kandung
dirasakan

berlangsung sekitar 30
menit
DO:

empedu

mengatakan mengalami distensi


yang

oleh nyaman: nyeri

sebelah

kanan atas.

nyeri

MASALAH

Terjadi infeksi

rasa

Terdapat

nyeri

pada

tekan Pasien merasa panas


daerah dan teraba adanya masa

hipokondria kanan atas.

padat pada abdomen

Pasien tampak meringis


Nyeri
2.

DS:

Adanya gangguan pada Ketidakseimbang

Pasien

mengatakan

nafsu makan berkurang,


dan merasa mual
DO:
Porsi

makan

pasien

empedu mengakibatkan an nutrisi kurang


berkurangnya

jumlah dari

bilirubin

kebutuhan

direk tubuh

duodenum,

sehingga

duodenum

menjadi

asam

hanya setengah porsi


Pasien tampak leamah Mengiritasi duodenum
dan lemas
Berat

badan

pasien Impuls iritatif ke otak

menurun
Merangsang

medulla

vomiting centre

Mual
3.

DS:
Pasien
merasa
lemas,

Intake nutrisi kurang Intoleransi


mengatakan
lemah
hanya

dari kebutuhan tubuh

dan
dapat

duduk dan tidur saja.

Produksi metabolisme
menurun

aktivitas

DO:
Pasien tampah lemah Energy berkurang
dan lemas
Aktivitas pasien dibantu

Lemah dan lemas

Intoleransi aktivitas
4.

DS:

Kurang

Pasien

mengatakan

tentang penyakitnya dan


pengobatannya

pengetahuan Ansietas

pasien

tentang

penyakitnya
pengobatan

DO:
Pasien tampak cemas
Pasien

sering

menanyakan

tentang Cemas

penyakitnya
Pasien
mengerti

Stressor bagi pasien

tampak

tidak

dan

c. Diagnose
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terjadinya peradangan yang ditandai dengan nyeri pada ulu hati.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan perasaan mual yang ditandai dengan
klien tidak nafsu makan.
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan yang ditandai dengan klien tampak lemah dan lemas.
4. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan proses penyembuhan yang ditandai
dengan klien tampak cemas dan tidak mengerti.
d. Intervensi
Diagnosa Keperawatan

Intervensi

No.

1.

Kreteria
Hasil
Gangguan rasa nyaman Setelah

- Monitor

nyeri berhubungan dengan dilakukan


terjadinya
yang

peradangan tindakan

ditandai

nyeri pada ulu hati.

dengan keperawata
n
1x24

Intervensi

selama
jam

nyeri yang

nyeri

skala

Rasional

- Mengatahui ada tidaknya penurunan skala


nyeri pasien
- Posisi yang tepat dapat mengurangi rasa
nyeri
- Kompres hangat dapat mengurangi rasa
nyeri
- Analgesic berfungsi untuk mengurangi
nyeri apabila terjadi nyeri hebat

dirasakan
pasien akan

- Atur

posisi

pasien

lupa dengan nyerinya.


- Beraktivitas berat dapat meningkatkan

berkurang,

rasa nyeri
- Istirahat dapat mengurangi rasa nyeri

yang
dibuktikan
dengan:
- Berikan
- Skala
nyeri
berkurang
- Pasien

kompres hangat
- Berikan
analgetik

mengatak
an

nyeri

yang
dirasakan
nya
berkurang
.
- Pasien
tidak

- Mengalihkan perhatian pasien agar pasien

- Alihkan
perhatian

obat

meringis
kesakitan

pasien
- Anjurkan
pasien

tidak

beraktivitas
berat
- Anjurkan
pasien
2.

beristirahat
- Diskusikan

Ketidakseimbangan nutrisi Setelah


kurang
tubuh
dengan

dari

kebutuhan dilakukan
berhubungan tindakan

perasaan

tidak nafsu makan.

selama

1x24

penyebab

jam

kebutuhan
nutrisi
pasien akan
terpenuhi
dan pasien

dispneu

dan

mual
- Tawarkan dan
bantu

bertujuan

untuk

mengatasi

masalah dengan tepat


- Istirahat dapat membantu pasien dalam

anoreksia,

mual keperawata

yang ditandai dengan klien n

- Diskusi

pasien

untuk
beristirahat
sebelum makan

merelaksasi

otot

pencernaan

guna

meminimalkan perasan mual


- Makan sedikit namun sering

dapat

mencegah mual
- Hygiene mulut

dapat

yang

baik

meningkatkan nafsu makan


- Bertujuan
dalam
mempertahankan
stamina tubuh dan mempercepat proses
penyembuhan
- Bertujuan untuk mengetahui cara yang

tampak
segar, yang
dibuktikan
dengan:
- Porsi
makan

tepat untuk mengatasi masalah guna


tercapainya kebutuhan nutrisi

- Tawarkan
makan

sedikit

tapi sering
- Pertahankan
hygiene mulut

pasien
habis
- Bertamba

- Anjurkan

hnya

pentingnya

nafsu

untuk

makan
- Pasien
tampak
segar
- Berat

menggunakan
bentuk vitamin
larut dalam air
atau lemak
- Konsul dengan

badan

dokter

bila

pasien

pasien

tidak

meningka

mengkonsumsi

nutrisi
3.

Intoleransi

cukup
- Anjurkan

aktifitas Setelah

berhubungan

yang

dengan dilakukan

pasien

- Bertujuan
untuk

kelemahan yang ditandai tindakan

membatasi

dengan

aktivitas

klien

lemah dan lemas.

tampak keperawata
n

meminimalkan

penggunaan energy yang tidak penting


- Membantu atau mengontrol penggunaan
energy supaya tidak terjadi pengeluaran
energy yang percuma
- Dapat membantu perbaikan status nutrisi

selama

1x24

untuk

jam

pasien

pasien dapat
- Dapat mengurangi pemborosan energy

melakukan
aktivitas

- Anjurkan

sederhana

pasien

untuk

sendiri,

menghemat

yang

energy

dibuktikan

tepat

secara

dengan:
- Pasien
dapat
beraktivit

- Anjarkan
pentingnya

- Meminimalkan penggunaan energy yang


berlebih

as

pemasukan

sederhan

nutrisi

a secara

pembentukan

mendiri

dalam

ATP
- Anjurkan
pasien

dibantu

dalam
melakukan
aktivitas

yang

berat
- Anjurkan untuk
mendekatkan
alat atau barang
yang
dibutuhkan
supaya

tidak

beraktivitas
terlalu berat

4.

Ansietas

berhubungan Setelah

dengan

- Ajarkan pasien

kurangnya dilakukan

atau

keluarga

pengetahuan klien tentang tindakan

tentang konsidi

penyakit

dan

dan

proses keperawata

penyembuhan

yang n

ditandai

klien 1x24

dengan

selama
jam

tampak cemas dan tidak pasien dapat


mengerti.

memahami
informasi
disampaika
n,

penyebab

serta
pengobatannya
- Mengajarkan
pada

keluarga

pasien

untuk

mengobservasi

yang
yang

dibuktikan
dengan:

mengerti

- Adanya

dan melaporkan

persyarafan

adanya

kepribadian

kacau

perubahan

pada

dan

perubahan

dapat

system
pada

memungkinkan

mental, tremor

keadaan atau kondisi penyakit lebih parah

mengigau, dan

- Meminimalkan penggunaan energy yang

perubahan
- Pasien

- Dapat mengurangi rasa cemas pasien

berlebihan

kepribadian
- Menjelaskan

dan

pentingnya

melaksan

istirahat

akan

adekuat

- Protein dapat membangun sel yang rusak


dan

dan berperan dalam proses penyembuhan

tindakan

menghindari

untuk

aktivitas

proses

melelahkan
- Menjelaskan

pengobat
an

- Mengurangi keadaan atau kondisi yang

yang

pentingnya diet
tinggi

protein

dan kalori serta


rendah lemak
- Mengajarkan
pasien

atau

keluarga untuk
mempertahanka
na

dan

melaporkan
tanda dan gejala
komplikasi

buruk

e. Implementasi
No.
1.

Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan
terjadinya peradangan yang ditandai dengan nyeri pada
ulu hati.

2.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan perasaan mual yang ditandai
dengan klien tidak nafsu makan.

Implementasi
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Memonitor skala nyeri


Mengatur posisi klien
Memberikan kompres hangat
Memberikan obat analgetik
Mengalihkan perhatian klien
Menganjurkan klien untuk istirahat dan

tidak beraktifitas yang berat.


a. Menawarkan dan membantu klien untuk
istirahat sebelum tidur
b. Menawarkan makan sedikit tapi sering
c. Mempertahankan higiene mulut yang baik
d. Mengajarkan pentingnya untuk
menggunakan bentuk vitamin larut dalam

3.

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan


yang ditandai dengan klien tampak lemah dan lemas.

air atau lemak.


a. Ajarkan pada klien untuk membatasi
aktifitasnya dan menghemat energi secara
tepat.

b. Ajarkan pentingnya pemasukan nutrisi


dalam pembentukan ATP
c. Ajarkan pada klien untuk dibantu dalam
4.

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan

melakukan aktifitas yang berat.


a. Mengajarkan klien untuk keluarga klien

klien tentang penyakit dan proses penyembuhan yang

tentang kondisi dan Penyebab serta

ditandai dengan klien tampak cemas dan tidak mengerti.

pengobatannnya.
b. Mengajarkan pada klien untuk melaporkan
adanya sistem persyarafan atau kepribadian
dan adanya tanda dan gejala komplikasi.
c. Menjelaskan pentingnya istirahat adequat
dan menghindari aktivitas yang
melelahkan.
d. Menjelaskan pentingnya diet tinggi protein
dan kalori serta rendah lemak.

f. Evaluasi
No.
1.

Diagnosa Keperawatan

Evaluasi

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan S : keluarga mengatakan pasien sering mengeluh

terjadinya peradangan yang ditandai dengan nyeri kesakitan di daerah ulu hati
pada ulu hati.

O : pasien sering terlihat meringis dan memegangi


perut bagian atas
A : pasien nyeri di daerah ulu hati
P : lanjutkan intervensi

2.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

S : keluarga pasien mengatakan nafsu makan pasien

tubuh berhubungan dengan perasaan mual yang

berkurang dan sering kali mengeluh mual dan

ditandai dengan klien tidak nafsu makan.

muntah
O : pasien sering terlihat muntah beberapa kali
dalam sehari
A : nafsu makan pasien berkurang karena mual dan
muntah
P : lanjutkan intervensi

3.

Intoleransi

aktifitas

berhubungan

dengan S : Klien mengatakan bahwa lemah dan lemas

kelemahan yang ditandai dengan klien tampak


lemah dan lemas.

berkurang.
O : Klien tampak tidak lemah lagi, tidak adanya

kelemahan otot
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan Intervensi

4.

Ansietas

berhubungan

dengan

kurangnya S : Klien mengatakan bahwa dirinya sudah mulai bisa

pengetahuan klien tentang penyakit dan proses


penyembuhan yang ditandai dengan klien tampak
cemas dan tidak mengerti.

tidur dengan nyenyak.


O : Klien terlihat tampak aktif bertanya tentang
penyakit yang dialami.
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009, Asuhan Keperawatan pada kolelitiasis, diakses pada tanggal 20
April 2015 pukul 09.00
Arvin, Behrman Klirgman, 2000. Ilmu Keperawatan Anak Nelson Vol.2. Jakarta:
EGC
Barbara, C. Long. 1996. Ilmu penyakit dalam, EGC : Jakarta.
Diane C, Baughman. 2000. Keperawatan Medikal Bedah: Buku Saku untuk
Brunner dan Suddarth. EGC: Jakarta
Doengoes, Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta
:EGC
Leveno, Kenneth J. 2009. Obstetri Williams: Panduan ringkas. Jakarta. EGC
Price, S.A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed. 6.
Jakart: EGC
Price & Wilson, 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed. 6.
Jakarta: EGC
Rasad, Sjahriar. 2010. Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Smeltzer, Suzanne c, dkk. 2001. Keperawatan Medical Bedah .EGC: Jakarta
Sudoyo, A.W. dkk. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Ed. IV. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Jakarta : EGC
http://www.scribd.com/doc/80911328/kolesistitis