Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

ETIKA MORAL AKHLAK TERHADAP


MAKHLUK HIDUP DAN TUHAN

LAPORAN
KULIAH KERJA PRAKTEK
Diajukan Untuk Memenuhi Mata Kuliah Character Building
Program Diploma III
Disusun oleh :
1. Erliana Sri Utami

Nim : 11130803

2. Uul Qurotul Aeni

Nim : 11130880

3. Uun Khunaefah

Nim : 11131242

4. Umi Kulsum

Nim : 11131365

5. Jamilah Pranawati Utami

Nim : 11131365

Jurusan Komputerisasi Akuntansi


Akademi Manajemen Bina Sarana Informatika
Cikarang
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah
Character Building ini dengan baik. Adapun judul penulisan Makalah yang kami ambil
adalah sebagai berikut :
Etika, Moral dan Akhlak Terhadap Makhluk Hidup dan Tuhan
Kami menyadari bahwa dalam menyelesaikan Makalah ini tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung, maka pada
kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak -pihak yang telah
membantu sehingga penyusunan Makalah ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Makalah ini masih
terdapat kekurangan baik dalam hal penulisan, pembahasan, susunan laporan, tata
bahasa maupun material yang disajikan. Oleh karena itu kami akan selalu menerima
kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan Makalah ini agar dapat lebih
bermanfaat bagi semua pihak.
Akhirnya kami berharap Makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya,
dan bagi para pembaca yang berniat pada umumnya. Atas dukungannya diucapkan
terima kasih.
Cikarang, 20 Desember 2014

DAFTAR ISI
Cover .......
Kata Pengantar ..............................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................

1
2
3

BAB.I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...........................................................................
1.2 Maksud dan Tujuan....................................................................
1.3 Sistematika Penulisan.................................................................

4
5
5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 ETIKA .......................................................................................
2.1.1 Pengertian Etika ..............................................................
2.1.2 Macam-macam Etika........................................................
2.1.3 Peranan atau Fungsi Etika ...............................................
2.1.4 Etika Dalam Penerapan Kehidupan Sehari-hari...............
2.2 MORAL ....................................................................................
2.2.1 Pengertian Moral .............................................................
2.2.2 Perbedaan Etika dan Moral .............................................
2.3 AKHLAK ..................................................................................
2.3.1 Pengertian Akhlak ...........................................................
2.3.2 Macam-Macam Akhlak ...................................................
2.2 PERBEDAAN ETIKA MORAL DAN AKHLAK ...................

6
6
7
8
9
13
13
15
16
16
17
22

BAB III KESIMPULAN


3.1 KESIMPULAN .........................................................................
3.2 SARAN......................................................................................

23
24

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Sejarah agama menunjukan bahwa kebahagiaan yang ingin dicapai dengan

menjalankan syariah agama itu hanya dapat terlaksana dengan adanya akhlak yang
baik. Kepercayaan yang hanya berbentuk pengetahuan tentang keesaan Tuhan, ibadah
yang dilakukan hanya sebagai formalitas belaka, muamalah yang hanya merupakan
peraturan tertuang dalam kitab saja, semua itu bukanlah merupakan jaminan untuk
tercapainya kebahagiaan tersebut.

Timbulnya kesadaran akhlak dan pendirian manusia terhadap-Nya adalah


pangkalan yang menentukan corak hidup manusia. Akhlak atau moral, atau susila
adalah pola tindakan yang didasarkan atas nilai mutlak kebaikan. Hidup susila dan
tiap-tiap perbuatan susila adalah jawaban yang tepat terhadap kesadaran akhlak,
sebaliknya hidup yang tidak bersusila dan tiap-tiap pelanggaran kesusilaan adalah
menantang kesadaran itu.
Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang dirinya sendiri, dimana
manusia melihat atau merasakan diri sendiri sebagai berhadapan dengan baik dan
buruk. Disitulah membedakan halal dan haram, hak dan bathil, boleh dan tidak boleh
dilkakukan, meskipun dia bisa melakukan. Itulah hal yang khusus yang manusiawi.
Dalam dunia hewan tidak ada hal yang baik dan buruk atau patut tidak patut, Karena
hanya manusialah yang mengerti dirinya sendiri, hanya manusialah yang sebagai
subjek menginsafi bahwa dia berhadapan pada perbuatan itu, sebelum, selama, dan
sesudah pekerjaan itu dilakukan. Sehingga sebagai subjek yang mengalami
perbuatannya dia bisa dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan itu.

1.2

Maksud dan Tujuan


Dalam menyusun Makalah ini ada beberapa macam maksud dan tujuan
yang ingin dicapai, adapun maksud dan tujuan tersebut adalah :
1. Untuk memenuhi Nilai UAS Mata Kuliah Character Building
2. Untuk mengetahui pengertian, peranan dari Etika
3. Untuk mengetahui pengertian dari Moral
4. Untuk mengetahui pengertian dan macam-macam dari Akhlak.

1.3

Sistematika Tulisan

Dalam sistematika penulisan Makalah ini penulis membaginya menjadi


beberapa bab diantaranya sebagai berikut :

BAB I

: PENDAHULUAN

Bab ini berisikan penjelasan umum tentang alasan pemilihan

judul, maksud dan

tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II

: PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan tentang pengertian dari Etika, Macam-macam Etika, Peranan &
Fungsi Etika, Etika dalam Penerapan Kehidupan Sehari-hari, Pengertian Moral,
Perbedaan Etika dan Moral, Pengertian Akhlak, Macam-macam Akhlak, dan
Perbedaan Etika, Moral dan Akhlak.

BAB III

: PENUTUP

Bab ke empat merupakan bab terakhir yang berisikan kesimpulan dan koreksi dari
hasil penulisan disertai saran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

ETIKA
2.1.1

Pengertian Etika
Etika adalah suatu ajaran yang bebicara tentang baik dan buruknya

yang menjadi ukuran baik dan buruknya atau dengan istilah lain ajaran tentang
kebaikan dan keburukan, yang menyangkut peri kehidupan manusia dalam
hubungannya dengan Tuhan, sesama manusia dan Alam.

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata) berasal dari bahasa Yunani
Ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika
biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupakan istilah dari
bahasa latin, yaitu Mos dan dalam bentuk jamaknya Mores yang berarti
juga kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang
baik (kesusilaan) dan menghindari hal-hal tindakan yang buruk.
Etika adalah moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam
kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk
penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian
sistem nilai-nilai yang berlaku.
Istilah lain yang identik dengan etika, yaitu: usila (sansekerta), lebih
menunjukan kepada dasar-dasar, prinsip, aturan hidup (sila) yang lebih baik
(su). Dan yang kedua adalah Akhlak (Arab), berarti moral, dan etika berarti
ilmu akhlak.
Menurut para ahli etika tidak lain adalah perilaku, adat, kebiasaan
manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar
dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazin juga disebut etik, berasal dari
kata Yunani Ethos yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan
ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan
oleh beberapa ahli berikut ini :
- Drs. O.P. SIMORANGKIR :
Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran
dan nilai yang baik.
- Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat :
Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi
baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan akal.
- Drs. H. Burhanudin Salam :

Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral
yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

2.1.2 Macam-Macam Etika


Etika dibagi atas dua macam yaitu :
1. Etika Deskriptif

Etika Deskriptf etika yang berbicara mengenai suatu fakta yaitu tentang
nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan realistis yang
membudaya dalam kehidupan masyarakat.
2. Etika Normatif
Etika yang memberikan penilaian serta himbauan kepada manusia tentang
bagaimana harus bertindak sesuai norma yang berlaku. Mengenai normanorma yang menuntun tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Etika dalam keseharian sering dipandang sama dengan etiket, padahal
sebenarnya etika dan etiket merupakan dual hal yang berbeda. Dimana etiket
adalah suatu perbuatan yang harus dilakukan. Sementara etika sendiri
menegaskan bahwa suatu perbuatan boleh atau tidak. Etiket juga terbatas pada
pergaulan. Di sisi yang lain etika tidak bergantung pada hadir tidaknya orang
lain. Sementara itu etika bernilai absolute atau tidak bergantung dengan
apapun. Etiket memandang manusia dipandang dari segi lahiriah. Sementara
itu etika itu secara utuh.
Dengan cirri-ciri yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang
dilakukan manusia untuk dikatakan baik atau buruk. Dengan kata lain etika
adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasilkan oleh akal manusia.
2.1.3

Peranan atau Fungsi Etika

Etika mempunyai peranan atau fungsi diantaranya :


7

1. Dengan etika seseorang atau kelompok dapat mengemukakan penilaian


tentang perilaku manusia.
2. Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau
kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai
mahasiswa.
3. Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang
kita hadapi sekarang.
4. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam
menjalankan aktivitas kemahasiswaannya.
5. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan
etika kita di cap sebagai orang yang baik di dalam masyarakat.
2.1.4 Etika Dalam Penerapan Kehidupan Sehari-hari
1. Etika bergaul dengan orang lain
a. Hormati perasaan orang lain, tidak coba menghina atau menilai
orang catat.
b. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan
akhlak mereka, lalu pergauilah mereka masing-masing menurut
apa yang sepantasnya.
c. Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain.
Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal
mereka.
d. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai
mereka.
e. Memaafkan kekeliruan mereka dan jangan mencari-cari
kesalahannya dan tahanlah rasa benci terhadap mereka
2. Etika Bertamu
a) Untuk Orang Yang Mengundang:

jangan mengundang orang-orang yang kaya untuk jamuan


dan mengabaikan orang fakir.

jangan anda membebani tamu untuk membantumu, karena


hal ini bertentangan dengan kewibawaan.

jangan kamu menampakkan kejemuan terhadap tamumu,


tetapi

tampaklah

kegembiraan

dengan

kehadirannya,

bermuka manis, dan berbicara ramah.


-

hendaklah segera menghidangkan makanan untuk tamu,


karena yang demikian itu berarti menghormatinya.

disunatkan mengantar tamu hingga diluar pintu rumah. Ini


menunjukan penerimaan tamu yang baik penuh perhatian.

b) Bagi Tamu:
-

hendaknya tidak membedakan antara undangan orang fakir


dengan undangan orang yang kaya, karena tidak memenuhi
undangan orang fakir itu merupakan pukulan (cambuk)
terhadap perasaannya.

jangan tidak hadir sekalipun karena sedang berpuasa, tetapi


hadirilah pada waktunya

bertamu tidak boleh lebih dari tiga hari, kecuali kalau tuan
rumah memaksa tinggal lebih dari itu

hendaknya pulang dengan hati lapang dan memaafkan


kekurangan apa saja yang terjadi pada tuan rumah.

3. Etika Dijalan
a) Berjalan dengan sikap wajar dan tawadhu, tidak berlagak sombong
disaat berjalan atau mengangkat kepala karena sombong atau
mengalihkan wajah dari orang lain karena takabbur.
b) Memelihara pandangan mata, baik laki-laki maupun perempuan.

c) Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini merupakan sedekah yang


karenanya seseorang bisa masuk surga.
d) Menjawab salam orang yang dikenal ataupun yang tidak dikenal.
4. Etika Makan Dan Minum
a) Berupaya untuk mencari makanan yang halal.
b) Hendaknya mencuci tangan sebelum makan jika tangan kamu koto,
dan begitu juga setelah makan untuk menghilangkan bekas
makanan yang ada ditanganmu.
c) Hendaklah kamu puas dan rela dengan makanan dan minuman yang
ada, dan jangan sekali-kali mencelanya.
d) Hendaknya jangan makan sambil bersandar atau dalam keadaan
menyungkur.
e) Hendaknya makan dan minum yang kamu lakukan diniatkan agar
bisa dapat beribadah kepada Allah, agar kamu mendapat pahala dari
makanan dan minuman itu.
f) Hendaknya memulai makanan dan minuman dengan Bismillah dan
diakhiri dengan Alhamdulillah.
g) Tidak berlebih-lebihan didalam makan dan minum.

5. Etika Berbicara
a) Hendaknya pembicaraan didalam kebaikan.
b) Menghindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun kamu
berada dipihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun
bercanda. Rasullah SAW bersabda : Aku adalah penjamin sebuah
istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian
(perdebatan) sekalipun ia benar, dan (penjamin) istana di tengah-

10

tengah surge bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun


bercanda. (HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
c) Menghidari sikap memaksakan diri dan banyak bicara didalam

berbicara. Didalam hadits Jabir Radhiallaahu 'anhu disebutkan:


Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling
jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara,
orang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para
sahabat bertanya: Wahai Rasullah, apa artinya mutafaihiqun? Nabi
menjawab: Orang-orang yang sombong. (HR. At-Turmudzi,
dinilai hasan oleh Al-Albani).
d) Tenang dalam berbicara dan tidak tergesa-gesa.
e) Menghindari perkataan jorok (keji).
f) Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagimu.
g) Jangan memonopoli dalam berbicara, tetapi berikanlah kesempatan

kepada orang lain untuk berbicara.


h) Menghidari perkataan kasar, keras dan ucapan menyakitkan
perasaan dan tidak mencari-cari kesalahan pembicaraan orang lain
dan kekeliruannya, karena hal tersebut dapat mengundang
kebencian, permusuhan dan pertentangan.

6. Etika Bertetangga
a) Menghormati tetangga dan berprilaku baik terhadap mereka.
b) Bangunan yang kita bangun jangan mengganggu tetangga kita,

tidak membuat mereka tertutup dari sinar mata hari atau udara, dan
kita tidak boleh melampaui batasnya, apakah merusak atau
mengubah miliknya, karena hal tersebut menyakiti perasaannya.

11

c) Jangan kikir untuk memberikan nasihat dan saran kepada mereka,

dan seharusnya kita ajak mereka berbuat yang ma`ruf dan


mencegah yang munkar dengan bijaksana (hikmah) dan nasihat baik
tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekkan mereka.
d) Hendaknya kita selalu memberikan makanan kepada tetangga kita.
e) Hendaknya kita tidak mencari-cari kesalahan/kekeliruan mereka

dan jangan pula bahagia bila mereka keliru, bahkan seharusnya kita
tidak memandang kekeliruan dan kealpaan mereka.
f) Hendaknya kita sabar atas prilaku kurang baik mereka terhadap

kita.

7. Etika Bertetangga
a) Untuk Orang Yang Berkunjung (menjenguk)

Hendaknya tidak lama berkunjung , dan mencari waktu


yang tepat untuk berkunjung, dan hendaknya tidak
menyusahkan orang yang sakit, bahkan berupaya untuk
menghibur dan membahagiakannya.

Mendoakan semoga cepat sembuh, dibelaskasihi Allah,


selamat dan disehatkan.

Mengingatkan si sakit untuk bersabar atas takdir Allah SWT.

b) Untuk Orang Yang Sakit


-

Hendaknya

segera

bertobat

dan

bersungguh-sungguh

beramal shalih
-

Berbaik sangka kepada Allah, dan selalu mengingat bahwa


ia sesungguuhnya adalah makhluk yang lemah diantara
12

makhluk Allah lainnya, dan bahwa sesungguhnya Allah


SWT

tidak membutuhkan untuk menyiksanya dan

membutuhkan ketaatannya.
-

Hendaknya cepat meminta kehalalan atas kezhalimankezhaliman

yang

dilakukan

olehnya,

dan

segera

membayar /menunaikan hak-hak dan kewajiban kepada


pemilknya, dan menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya.
8. Etika Berbeda Pendapat
a) Ikhlas dan mencari yang hak serta melepaskan diri dari nafsu
di saat berbeda pendapat.
b) Juga menghindari sikap show (ingin tampil) dan membela diri dan
nafsu.
c) Mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada Kitab AlQur'an dan Sunnah.
d) Sebisa mungkin berusaha untuk tidak memperuncing perselisihan,
yaitu denga cara menafsirkan pendapat yang keluar dari lawan atau
yang dinisbatkan kepadanya dengan tafsiran yang baik.
e) Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mudah menyalahkan orang
lain, kecuali sesudah penelitian yang dalam dan difikirkan secara
matang.
f) Sedapat

mungkin

menghindari

permasalahan-permasalahan

khilafiyah dan fitnah.


g) Berpegang teguh dengan etika berdialog dan menghindari
perdebatan, bantah membantah dan kasar menghadapi lawan.

2.2 MORAL

13

2.2.1

Pengertian Moral
Adapun arti moral dari segi bahasa berasal dari bahasa latin, mores

yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum
bahasa Indonesia dikatan bahwa moral adalah pennetuan baik buruk terhadap
perbuatan dan kelakuan.
Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan
untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau
perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral
adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas
manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.
Jika pengertian etika dan moral tersebut dihubungkan satu dengan
lainnya, kita dapat mengetakan bahwa antara etika dan moral memiki objek
yang sama, yaitu sama-sama membahas tentang perbuatan manusia selanjutnya
ditentukan posisinya apakah baik atau buruk.
Namun demikian dalam beberapa hal antara etika dan moral memiliki
perbedaan. Pertama, kalau dalam pembicaraan etika, untuk menentukan nilai
perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau
rasio, sedangkan moral tolak ukurnya yang digunakan adalah norma-norma
yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung di masyarakat. Dengan
demikian etika lebih bersifat pemikiran filosofis dan berada dalam konsepkonsep, sedangkan etika berada dalam dataran realitas dan muncul dalam
tingkah laku yang berkembang di masyarakat.
Dengan demikian tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk
mengukur tingkah laku manusia adalah adat istiadat, kebiasaan dan lainnya
yang berlaku di masyarakat.
2.2.2

Perbedaan Antara Etika Dan Moral

14

Etika dan moral sama artinya tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada
sedikit perbedaan. Moral atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang
dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian system nilai yang ada.
Kesadaran moral erta pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam
bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa
arab disebut dengan qalb, fu'ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal,
yaitu:
1. Perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral.
2. Kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu

perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal
yang objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat
disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang
berada dalam situasi yang sejenis.
3. Kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.

Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan,


bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang
dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup
tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan
munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang
berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika
nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan
membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan
mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau
paksaan dari luar.

2.3 AKHLAK
2.3.1

Pengertian Akhlak

15

Ada dua pendekatan untuk mendefenisikan akhlak, yaitu pendekatan


linguistik (kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Akhlak
berasal dari bahasa arab yakni khuluqun yang diartikan: budi pekerti, perangai,
tingkah laku atau tabiat.
Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan
Ahmad Amin menyatakan bahwa akhlak adalah perangai yang melekat pada
diri

seseorang

yang

dapat

memunculkan

perbuatan

baik

tanpa

mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu. Sedangkan sebagaian ulama yang


lain mengatakan akhlak itu adalah suatu sifat yang tertanam didalam jiwa
seseorang dan sifat itu akan timbul disetiap ia bertindak tanpa merasa sulit
(timbul dengan mudah) karena sudah menjadi budaya sehari-hari.
Akhlak yang baik akan mengangkat manusia ke derajat yang tinggi dan
mulia. Akhlak yang buruk akan membinasakan seseorang insan dan juga akan
membinasakan ummat manusia. Manusia yang mempunyai akhlak yang buruk
senang melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Senang melakukan
kekacauan,

senang

melakukan

perbuatan

yang

tercela,

yang

akan

membinasakan diri dan masyarakat seluruhnya.


Nabi S.A.W.bersabda yang bermaksud: "Orang Mukmin yang paling
sempurna imannya, ialah yang paling baik akhlaknya."(H.R.Ahmad). Nabi
S.A.W.bersabda yang maksudnya:"Sesungguhnya aku diutus adalah untuk
menyempurnakan budipekerti yang mulia."(H.R.Ahmad). Wa innaka la'ala
khuluqin 'adzim, yang artinya: Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di
atas budi pekerti yang agung (Al Qalam:4).
Ciri-Ciri Perbuatan Akhlak
1. Tertanam kuat dalam jiwa seseorang sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2. Dilakukan dengan mudah tanpa pemikiran.
3. Timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan atau

tekanan dari luar.

16

4. Dilakukan dengan sungguh-sungguh.


5. Dilakukan dengan ikhlas.

2.3.2

Macam-Macam Akhlak

1. Akhlak Kepada Allah


a) Beribadah kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah Allah untuk

menyembahNya sesuai dengan perintah-Nya. Seorang muslim


beribadah membuktikanketundukkan terhadap perintah Allah.
b) Berzikir kepada Allah, yaitu mengingat Allah dalam berbagai

situasi dan kondisi,baik diucapkan dengan mulut maupun dalam


hati. Berzikir kepada Allah melahirkan ketenangan dan ketentraman
hati.
c) Berdoa kepada Allah, yaitu memohon apa saja kepada Allah. Doa

merupakan inti ibadah, karena ia merupakan pengakuan akan


keterbatasan dan ketidakmampuan manusia, sekaligus pengakuan
akan kemahakuasaan Allah terhadap segala sesuatu.
d) Tawakal kepada Allah, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah

dan menunggu hasil pekerjaan atau menanti akibat dari suatu


keadaan.
e) Tawaduk kepada Allah, yaitu rendah hati di hadapan Allah.

Mengakui bahwa dirinya rendah dan hina di hadapan Allah Yang


Maha Kuasa, oleh karena itu tidak layak kalau hidup dengan
angkuh dan sombong, tidak mau memaafkan orang lain, dan pamrih
dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

2. Akhlak Kepada Diri Sendiri

17

a) Sabar, yaitu prilaku seseorang terhadap dirinya sendiri sebagai hasil

daripengendalian nafsu dan penerimaan terhadap apa yang


menimpanya.Sabar diungkapkan ketika melaksanakan perintah,
menjauhi larangan dan ketika ditimpa musibah.
b) Syukur, yaitu sikap berterima kasih atas pemberian nikmat Allah

yang tidak bisa terhitung banyaknya. Syukur diungkapkan dalam


bentuk ucapan dan perbuatan. Syukur dengan ucapan adalah
memuji Allah dengan bacaan alhamdulillah, sedangkan syukur
dengan

perbuatan

dilakukan

dengan

menggunakan

dan

memanfaatkan nikmat Allah sesuai dengan aturan-Nya.


c) Tawaduk, yaitu rendah hati, selalu menghargai siapa saja yang

dihadapinya, orang tua, muda, kaya atau miskin. Sikap tawaduk


melahirkan ketenangan jiwa, menjauhkan dari sifat iri dan dengki
yang menyiksa diri sendiri dan tidak menyenangkan orang lain.

3. Akhlak Kepada Keluarga


Akhlak terhadap keluarga adalah mengembangkann kasih sayang di antara
anggota keluarga yang diungkapkan dalam bentuk komunikasi. Akhlak
kepada ibu bapak adalah berbuat baik kepada keduanya dengan ucapan dan
perbuatan. Berbuat baik kepada ibu bapak dibuktikan dalam bentuk-bentuk
perbuatan antara lain :
a) Menyayangi dan mencintai ibu bapak sebagai bentuk terima kasih
dengan cara bertutur kata sopan dan lemah lembut.
b) Mentaati perintah
c) Meringankan beban, serta
d) Menyantuni mereka jika sudah tua dan tidak mampu lagi berusaha.

18

4. Akhlak Kepada Sesama Manusia


a) Ahklak Terpuji (Mahmudah)
1) Huznuzan
Berasal

dari

lafal

husnun (baik) dan

Adhamu (Prasangka).

Husnuzan berarti prasangka, perkiraan, dugaan baik. Lawan kata


husnuzan adalah suuzan yakni berprasangka buruk terhadap
seseorang . Hukum kepada Allah dan rasul nya wajib, wujud
husnuzan kepada Allah dan Rasul- Nya antara lain:
-

Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua perintah Allah


dan Rasul Nya Adalah untuk kebaikan manusia.

Meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan


agama pasti berakibat buruk. Hukum husnuzan kepada
manusia mubah atau jaiz (boleh dilakukan). Husnuzan
kepada sesama manusia berarti menaruh kepercayaan
bahwa dia telah berbuat suatu kebaikan. Husnuzan
berdampak positif berdampak positif baik bagi pelakunya
sendiri maupun orang lain.

2) Tawaduk
Tawaduk berarti rendah hati. Orang yang tawaduk berarti orang
yang merendahkan diri dalam pergaulan. Lawan kata tawaduk
adalah takabur. Allah berfirman , Dan rendahkanlah dirimu terhadap
keduanya, dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai
Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah
mendidik aku pada waktu kecil. (Q.S. Al Isra/17:24)
3) Tasamu
Artinya sikap tenggang rasa, saling menghormati dan saling
menghargai

sesama

manusia.

19

Allah

berfirman,

Untukmu

agamamu, dan untukku agamaku (Q.S.Alkafirun/109: 6) Ayat


tersebut

menjelaskan

bahwa

masing-masing

pihak

bebas

melaksanakan ajaran agama yang diyakini.


4) Taawun
Taawun berarti tolong menolong, gotong royong, bantu membantu
dengansesama

manusia.

Allah

berfirman,

...dan

tolong

menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan


jangan

tolong

menolong

dalam

berbuat

dosa

dan

permusuhan...(Q.S. Al Maidah/5:2)

b) Akhlak Tercela (Mazmumah)


1) Hasad
Artinya iri hati, dengki. Iri berarti merasa kurang senang atau
cemburu melihat orang lain beruntung. Allah berfirman, Dan
janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan
Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.(Karena) bagi
laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi
perempuan (pun) ada bagian dari mereka usahakan. Mohonlah
kepada Allah sebagian dari Karunia_Nya..(Q.S. AnNisa/4:32)
2) Dendam
Dendam yaitu keinginan keras yang terkandung dalam hati untuk
membalas kejahatan. Allah berfirman, Dan jika kamu membalas,
maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang
ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhlah
itulah yang terbaik bagi orang yang sabar (Q.S. An Nahl/16:126)

20

3) Gibah dan Fitnah


Membicarakan

kejelekan

orang

lain

dengan

tujuan

untuk

menjatuhkan nama baiknya. Apabila kejelekan yang dibicarakan


tersebut memang dilakukan orangnya dinamakan gibah. Sedangkan
apabila kejelekan yang dibicarakan itu tidak benar, berarti
pembicaraan itu disebut fitnah. Allah berfirman, ...dan janganlah
ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah
ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Tentu kamu merasa jijik... (Q.S. Al Hujurat/49:12).
4) Namimah
Adu domba atau namimah, yakni menceritakan sikap atau
perbuatan seseorang yang belum tentu benar kepada orang lain
dengan maksud terjadi perselisihan antara keduanya. Allah
berfirman, Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang
fasik datang kepadamu membawa suatu berita maka telitilah
kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena
kebodohan

(kecerobohan),

yang

akhirnya

kamu

menyesali

perbuatanmu itu. (Q.S. Al Hujurat/49:6).

2.4 PERBEDAAN ETIKA MORAL DAN AKHLAK


Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika dapat dilihat dari dasar
penentuan atau standar ukuran baik dan buruk yang digunakannya. Standar baik
dan buruk akhlak berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rasul, sedangkan moral dan
etika berdasarkan adat istiadat atau kesepakatan yang dibuat oleh suatu masyarakat
jika masyarakat menganggap suatu perbuatan itu baik maka baik pulalah nilai
perbuatan itu. Dengan demikian standar nilai moral dan etika bersifat lokal dan

21

temporal, sedangkan standar akhlak bersifat universal dan abadi. Dalam


pandangan Islam, akhlak merupakan cermin dari apa yang ada dalam jiwa
seseorang. Karena itu akhlak yang baik merupakan dorongan dari keimanan
seseorang, sebab keimanan harus ditampilkan dalam prilaku nyata sehari-hari.
Inilah yang menjadi misi diutusnya Rasul sebagaimana disabdakannya : Aku
hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.(Hadits riwayat Ahmad).
Secara umum dapat dikatakan bahwa akhlak yang baik pada dasarnya
adalah akumulasi dari aqidah dan syariat yang bersatu secara utuh dalam diri
seseorang. Apabila aqidah telah mendorong pelaksanaan syariat akan lahir akhlak
yang baik, atau dengan kata lain akhlak merupakan perilaku yang tampak apabila
syariat Islam telah dilaksanakan berdasarkan aqidah.

BAB III
KESIMPULAN
3.1

KESIMPULAN
Etika menurut filasafat dapat disebut sebagai ilmu yang menyelidiki mana yang

baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh
yang dapat diketahui oleh akal pikiran. moral adalah penetuan baik buruk terhadap
perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batasbatas suatu perbuatan, kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik,
buruk,layak atau tidak layak,patut maupun tidak patut.
Akhlak adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak
mencakup segala pengertian tingkah laku, tabi'at, perangai, karakter manusia yang
baik maupun yang buruk dalam perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk,layak
atau tidak layak,patut maupun tidak patut.hubungannya dengan Khaliq atau dengan
sesama makhluk.
Ketiga hal tersebut (etika, moral dan akhlak) merupakan hal yang paling
penting dalam pembentukan akhlakul karimah seorang manusia. Dan manusia yang
22

paling baik budi pekertinya adalah Rasulullah S.A.W. Anas bin Malik radhiallahu
anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan: Rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya. (HR.Bukhari dan
Muslim).
3.1

KESIMPULAN
Dan diharapkan, dengan diselesaikannya makalah ini, baik pembaca maupun

penyusun dapat menerapkan etika, moral dan akhlak yang baik dan sesuai dengan
ajaran islam dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun tidak sesempurna Nabi
Muhammad S.A.W, setidaknya kita termasuk kedalam golongan kaumnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://nurdinfivers1.blogspot.com/2014/02/makalah-agama-tentang-etika-moraldan.html

23

24