Anda di halaman 1dari 11

Punca dan Cara Mengatasi Penyakit

Unstable Angina Pectoris


Angela Mamporok (10.2011.427)
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat Korespondensi:
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email : angie92_john@yahoo.com
PENDAHULUAN
Jantung merupakan suatu organ yang vital dan sangat penting dalam menetukan derajat
kesihatan seseorang. Jantung berfungsi sebagai oragan yang memompa aliran darah agar oksigen
yang diangkut oleh darah bisa menyebar keseluruh tubuh untuk dimetabolisme. Namun jika
terdapat kelainan atau sumbatan pada jalur pembuluh darah terutama yang memperdarahi
jantung sendiri, maka jantung kita bakal tidak berfungsi dengan baik dan timbullah gejala-gejala
yang tidak diingini dalam kehidupan kita.
Oleh itu, dalam makalah ini, saya akan membahas kelainan pada jantung yaitu Unstable
Angina Pectoris (UAP), dengan harapan dapat membantu masyarakat agar lebih menjaga jantung
mereka agar tidak mendapat penyakit seperti ini.

PEMBAHASAN
1. Anamnesis
Anamnesis adalah proses tanya jawab untuk mendapatkan data pasien beserta keadaan
dan keluhan-keluhan yang dialami pasien. Anamnesis dapat dibagi menjadi dua, yaitu auto
anamnesis dan alloanamnesis. Autoanamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan pasien
sendiri. Sedangkan alloanamnesis adalah bila tanya jawab dilakukan dengan orang lain yang
dianggap mengetahui keadaan penderita.
Dalam anamnesis umum ini berisi identitas pasien, dari anamnesis ini bukan hanya dapat
diketahui siapa pasien, namun juga dapat diketahui bagaimana pasien tersebut dan permasalahan
pasien. Identitas pasien terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, alamat, agama dan
pekerjaan pasien.
Anamnesis yang khusus pula adalah anamnesis untuk bertanya akan keluhan utama,
riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat keluarga, riwayat pengobatan dan
keadaan sosial dan lingkungan. Keluhan utama merupakan keluhan atau gejala yang mendorong
atau membawa penderita mencari pertolongan. Pada kasus ini, keluhan utama pasien yaitu
seorang pria yang berumur 60 tahun adalah nyeri pada dada kiri terus menerus sejak 40 menit
yang lalu. Keluhan penyertanya adalah perut terasa mual sejak nyeri tersebut timbul. Riwayat
penyakit dahulunya adalah darah tinggi dan pasien adalah seorang perokok sejak 20 tahun
terakhir.
2. Pemeriksaan fisik1
Pemeriksaan awal mencakup pemeriksaan vital dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini
meliputi pengukuran tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, suhu tubuh, tinggi badan, berat
badan. Setelah memeriksa tanda-tanda vital, lakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi dan perkusi
untuk mengetahui jika ada kelainan pada tubuh pasien.
Inspeksi dilakukan untuk melihat warna kulit, permukaan kulit jika terlihat ada lesi kulit,
nodul dan vena yang dilatasi. Selain itu, periksa juga bentuk toraks anterior jika normal, pectus
excavatum, pectus carinatum dan barrel chest. Diperiksa juga jika terlihat ictus cordis pada
bagian kiri toraks pasien.

Selanjutnya adalah perkusi, yaitu meraba dan memeriksa adanya ictus cordis. Ictus cordis
dapat diraba pada bagian sela iga ke-4 atau ke-5 pada linea midclavikula sinistra. Selain itu, bisa
dilakukan palpasi untuk mengetahui posisi dan saiz jantung pada pasien. Bunyi jantung adalah
bunyi redup dan dibedakan dengan bunyi paru yaitu sonor. Bisa dilakukan juga auskultasi untuk
mendengar bunyi katup pada katup mitral, tricuspid, aorta dan pulmonal. Jika terdapat kelainan
pada hasil pemeriksaan, maka bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
3. Pemeriksaan penunjang1
Pemeriksaan jantung yang bisa dilakukan pada pasien yang terduga mengidap angina
pectoris adalah elektrokardiogram (EKG). EKG adalah suatu alat yang merekam aktivitas listrik
yang ada pada jantung. Pada UAP, berlaku depresi pada segmen ST, walaupun begitu tidak
semua kasus mengalami depresi, akan ada juga beberapa kasus yang mengalami elevasi segmen
ST tapi sangat singkat sekali (transient). Pasien yang baru didiagnosa akan terlihat deviasi pada
segmen STnya, dan ia merupakan suatu dugaan yang penting. Hal ini selalunya disertai dengan
inversi gelombang T sebanyak 30-50% tergantung tingkat keparahan daripada manifestasi klinis.
Jika terdapat iskemia, maka gelombang T akan berubah karena ia sangat sensitif tetapi tidak
begitu spesifik. Pemeriksaan ini haruslah diulang beberapa kali untuk mendapatkan kepastian
diagnosis.
Selain itu, ada juga pemeriksaan lain yaitu pemeriksaan enzim jantung seperti troponin
dan creatine kinase MB (CKMB). Peningkatan biomarker ini menunjukkan terjadinya suatu
nekrosis pada jantung tersebut dan beresiko untuk terjadinya kematian mendadak atau
Miocardiac Infark yang reccurent. Peningkatan biomarker ini merupakan hal penting untuk
mebedakan UAP dengan Non ST Elevation Miocardial Infark (NSTEMI) dan ST Elevation
Miocardial Infark. Pada UAP, tidak terdapat peningkatan pada enzim. Pada NSTEMI dan STEMI
pula meningkat minimal 2x dari batas nilai normal.
4. Diagnosis
Diagnosis kerja adalah Unstable Angina Pectoris (UAP) dan juga hipertensi derajat 2,
yang merupakan riwayat penyakit dahulu pada pasien dalam kasus ini. Oleh itu, penyakit ini
akan dibahas juga.

Diagnosis banding bagi penyakit UAP adalah NSTEMI, STEMI, Prinzmetals angina dan
perkarditis.
5. Etiologi2
Unstable Angina Pectoris adalah suatu kelainan yang terjadi akibat dari miokardial
iskemik yang disebabkan oleh kurangnya bekalan darah ke jantung sesuai dengan kebutuhan
oksigen. Penyebab utama daripada UAP adalah disebabkan oleh obstruksi pada arteri coroner
yang berlaku. Arterosclerosis merupakan penyebab utama kepada meningkatnya kematian sejak
beberapa dekade yang lalu, ia diduga karena pasien menghidap hiperkolesterolemia atau
mempunya riwayat keluarga dengan kolesterol darah yang tinggi secara genetik.
Melalui EKG, depresi ST segmen berlaku karena pembentukan thrombus non-oklusif
pada bagian yang mengalami ruptur atau erosi di permukaan yang terdapat plak. Penimbunan ini
jika berterusan tanpa pengobatan, maka sumbatan itu bisa terus menghambat saluran pembuluh
darah secara total. Selanjutnya, daerah tersebut akan mengalami iskemia dan timbul gejala
seperti nyeri dada yang dirasakan. UAP selain daripada arterosklerosis, boleh juga terpacu oleh
kondisi dimana kebutuhan oksigen tinggi melebihi kemampuan memompa darah pada daerah
jantung.
Terdapat dua kategori factor risiko pada penyakit UAP yaitu yang bisa diubah dan tidak
bisa. Bagi faktor risiko yang bisa diubah akan lebih membantu dalam pengobatan, dibanding
dengan yang tidak bisa diubah. Factor yang bisa diubah adalah merokok, tekanan darah tinggi,
kandungan kolesterol darah yang tinggi, diabetes mellitus dan obesiti. Factor yang tidak bisa
diubah adalah peningkatan umur, lelaki dan genetik.
6. Epidemiologi
Dianggarkan terdapat 9.8 juta warga Amerika yang pernah mengalami gejala Angina
setiap tahun, 500.000 kasus pula dilaporkan setiap tahun dinegara itu. Pada tahun 2009,
dianggarkan sebanyak 780.000 daripada warganya akan terkena serangan jantung dan 470.000
akan kambuh daripada serangan tersebut. Hanya 18% sahaja daripada pasien yang terhitung itu
didahului dengan gejala angina2.

Kira-kira setiap 25 detik, seorang pasien akan diserang oleh gangguan coroner manakala
setiap 1 menit, akan ada seorang yang mati akibat serangan tersebut. Jika diperitungkan dari
aspek ratio, pada 2005, di Amerika akan ada 1 daripada 5 orang yang mati akibat serangan
jantung diawali angina.
Table 1: Kadar kasus angina baru per 1000 populasi berdasarkan ras2
Umur

Laki-laki berkulit

Perempuan

Laki-laki berkulit

Perempuan

(tahun)
45-54
55-64
65-74

cerah
8,5
11,9
13,7

berkulit cerah
10,6
11,2
13,1

gelap
11,8
10,6
8,8

berkulit gelap
20,8
19,3
10,0

Berdasarkan jenis kelamin pula, angina pectoris ini lebih sering terjadi sebagai gejala
penyakit arteri coroner pada perempuan dibandingkan laki-laki dengan ratio perempuan : lakilaki = 1,7:1. Dianggarkan prevalensi terjadinya Angina Pektoris adalah 4.6 juta pada wanita
dibandingkan 3.3 juta pada laki-laki2. Dalam suatu penelitian ditemukan wanita lebih banyak
mati akibat penyakit ini dibandingkan laki-laki, jika dibadingkan kedua-dua jenis kelamin pada
umur mereka yang seusia, wanita juga lebih cenderung menderita angina pectoris dibanding lakilaki.
Berdasarkan aspek umur pula, semkain meningkatnya umur, semakin banyak kasusn
angina ditemukan. Umur merupakan suatu faktor yang independent dan di Amerika 150.000 mati
akibat CVD pada tahun 2005 yang bermanifestasi sebagai angina, mati sebelum usia 65 tahun.
Manakala, 32% daripada kematian akibat penyakit cardiovascular adalah kurang daripada usia
75 tahun, ini bermaksud, purata jangka hayat untuk pasien yang ada angina ini adalah sebnayak
77.9 tahun sahaja.
7. Patofisiologi
Aterosklerosis dianggap penyebab terpentinga angina pektoris tak stabil, sehingga tibatiba terjadi oklusi subtotal atau total dari pembuluh koroner yang sebelumnya mempunyai
penyempitan yang minimal. Terjadinya rupture pada plak aterosklerosis akan menyebabkan
aktivasi, adhesi dan agregasi platelet dan meyebabkan aktivasi terbentuknya trombus. Bila

trombus menutup pembuluh darah 100% akan terjadi infark dengan elevasi segmen ST,
sedangkan bila trombus tidak menyumbat 100%, dan hanya menimbulkan stenosis yang berat
akan terjadi angina tak stabil. Kira-kira 50% pasien yang mengalami coronary aterosklerosis
akan mengalami iskemia miokardial saat dibutuhkan oksigen3.
Agregasi platelet dan pembentukan trombus merupakan salah satu dasar terjadinya
angina tak stabil. Terjadinya trombosis setelah plak terganggu disebabkan karena interaksi yang
terjadi antara lemak, sel otot polos, makrofag, dan kolagen. Inti lemak merupakan bahan
terpenting dalam pembentukan trombus yang kaya trombosit, sedangkan sel otot polos dan sel
busa (foam cell) yang ada dalam plak berhubungan dengan ekspresi faktor jaringan dalam plak
tak stabil. Setelah berhubungan dengan darah, faktor jaringan berinteraksi dengan faktor VIIa
untuk memulai reaksi enzimatik yang menghasilkan pembentukan trombin dan fibrin3,4.
Sebagai reaksi terhadap gangguan faal endotel, terjadi agregasi pletelet dan pletelet
melepaskan isi granulasi sehingga memicu agregasi yang lebih luas, vasokonstriksi dan
pembentukan trombus. Faktor sistemik dan inflamasi ikut berperan dalam perubahan terjadinya
hemostase dan koagulasi dan berperan dalam memulai trombosis yang intermiten, pada angina
tak stabil4.
Terjadinya vasokonstriksi juga mempunyai peran penting pada angina tak stabil.
Diperkirakan adanya disfungsi endotel dan bahan vasoaktif yang diproduksi oleh platelet
berperan dalam perubahan dalam tonus pembuluh darah dan meenyebabkan spasme. Selain itu,
vasokonstriksi juga bisa menyebabkan tekanan darah meningkat lebih dari normal dan
menyebabkan hipertensi. Oleh itu, secara tidak langsung, hipertensing yang tidak dikontrol juga
bisa menyebabkan UAP4.
8. Manifestasi klinis
Gambaran khas nyeri pada Angina Pectoris adalah nyeri terasa seperti beban berat,
tertindih, diremas dan ada tekanan. Saat nyeri terasa seperti terbakar, sakit dan menusuk. Nyeri
terjadi pada retrosternal dan bisa menjalar ke leher, rahang, gigi, bahu dan lengan kiri. Bisa juga
terasa nyeri pada epigastrium. Pada umbilicus dan punggung sangat jarang ada nyeri.

Sifat nyeri bisa dipengaruh oleh aktivita, stress fisik dan emosional. Bisa juga disertai
dengan keringat dingin, mual dan muntah. Nyeri tidak bersifat lokal dan dapat diperbaiki dengan
pemberian nitrat. Lama nyeri adalah dalam hitungan menit dan bersifat periodik. Nyeri yang
pertama kali timbul biasanya agak nyata, dari beberapa menit sampai kurang dari 20 menit.
Nyeri yang timbul secara terus menerus sepanjang hari, bahkan sampai berhari-hari biasanya
bukanlah nyeri angina pectoris4.
Bedanya Angina Pektoris stabil dan tidak stabil adalah, pada yang stabil nyeri dada dan
sesak nafas terjadi saat melakukan kegiatan dan menghilang saat beristirahat. Pada yang tidak
stabil pula, nyeri dada dan sesak nafas tetap terjadi walau dalam keadaan istirahat, karena
atheroma yang sudah lebih menutup jalan darah.
9. Penatalaksanaan
Terbagi menjadi dua yaitu yang medikamentosa dan non-medikamentosa.
Non-medikamentosa, bisa dilakukan pengelolaan umum seperti observasi hemodinamik
seperti tanda-tanda vital, terutama pada kasus yang hipertensi. Selain itu, pasien perlu perawatan
di rumah sakit, sebaiknya di unit intensif koroner, pasien diistirahatkan (bed rest), diberi
penenang dan oksigen. Pemberian morfin atau pefidin perlu pada pasien yang masih merasakan
sakit dada walaupun sudah mendapat nitrogliserin.
Ada berbagai cara lain yang diperlukan untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung
antara lain adalah pasien harus berhenti merokok, karena merokok mengakibatkan takikardia dan
naiknya tekanan darah, sehingga memaksa jantung bekerja keras. Orang obesitas dianjurkan
menurunkan berat badan untuk mengurangi kerja jantung, mengurangi stres untuk menurunkan
kadar adrenalin yang dapat menimbulkan vasokontriksi pembuluh darah dan pengontrolan gula
darah.
Tindakan pembedahan yaitu percutanens transluminal coronary angioplasty (PTCA). Ia
merupakan upaya memperbaiki sirkulasi koroner dengan cara memecah plak atau ateroma
dengan cara memasukkan kateter dengan ujung berbentuk balon.

Selanjutnya, bisa dilakukan Coronary artery bypass graft (CABG) yang merupakan salah
satu penanganan intervensi dengan cara membuat saluran baru melewati bagian arteri koronaria
yang mengalami penyempitan atau penyumbatan. Sebelumnya harus sudah melakukan
kateterisasi arteri koronaria untuk menentukan daerah yang mengalami penyempitan. CABG
dilakukan dengan membuka dinding dada melalui pemotongan tulang sternum selanjutnya
dilakukan pemasangan pembuluh sarah baru yang dapat diambil dari arteri radialis atau arteri
mammaria interna tergantung pada kebutuhan.
Secara medikamentosa pula, dapat diberikan nitrat yaitu vasodilator endothelium yang
sangat bermanfaat untuk mengurangi simptom angina pektoris, disamping juga mempunyai efek
antitrombotik dan antiplatelet. Nitrat menurunkan kebutuhan oksigen miokard melalui
pengurangan preload sehingga terjadi pengurangan volume ventrikel dan tekanan arterial. Salah
satu masalah penggunaan nitrat jangka panjang adalah terjadinya toleransi terhadap nitrat. Untuk
mencegah terjadinya toleransi dianjurkan memakai nitrat dengan periode bebas nitrat yang cukup
yaitu 8-12 jam. Obat golongan nitrat adalah amil nitrit, ISDN, isosorbid mononitrat,
nitrogliserin5.
Selain itu, bisa diberi obat golongan penghambat resptor beta adrenergik. Obat ini
merupakan terapi utama pada angina. Penghambat resptor beta adrenergik dapat menurunkan
kebutuhan oksigen miokard dengan cara menurunkan frekuensi denyut jantung, kontraktilitas ,
tekanan di arteri dan peregangan pada dinding ventrikel kiri. Efek samping biasanya muncul
bradikardi dan jika dihentikan secara tiba-tiba pada pasien angina akan menimbulkan serangan
dada hebat dan infark miokard. Contoh obat adalah atenolol, metoprolol, propranolol dan
nadolol5.
Selanjutnya adalah obat golongan antagonis kalsium. Penyekat atau antagonis kalsium
memiliki sifat yang sangat berpengaruh kebutuhan dan suplai oksigen jantung, jadi berguna
untuk menangani angina. Secara fisiologis, ion kalsium berperan ditingkat sel mempengaruhi
kontraksi semua jaringan otot dan berperan dalam stimulus listrik pada jantung.
Antagonis ion kalsium meningkatkan suplai oksigen jantung dengan cara melebarkan
dinding otot polos arteriol koroner dan mengurangi kebutuhan jantung dengan menurunkan
tekanan arteri sistemik dan, demikian juga beban kerja ventrikel kiri. Tiga antagonis ion kalsium

yang biasa digunakan adalah nifedipin (Prokardia), verapamil (Isoptin, Calan) dan diltiazen
(Cardizem). Efek vasodilatasi obat-obat tersebut, terutama pada sirkulasi koroner, berguna untuk
angina yang diakibatkan oleh vasospasme koroner (angina prinzmetal).
Antagonis ion kalsium harus digunakan secara hati-hati pada pasien gagal jantung karena
obat ini akan menyekat kalsium yang mendukung kontraktilitas5. Hipotensi dapat terjadi pada
pemberian intra vena (IV). Efek samping yang bisa terjadi adalah konstipasi, distres lambung,
pusing atau sakit kepala. Antagonis / penyekat ion kalsium biasanya diberikan tiap 6-12 jam.
10. Komplikasi
Miokardial infark yang akut bisa terjadi akibat aliran darah yang berisi nutrisi dan
oksigen ke otot terganggu dan mengakibatkan nekrosis. Selain itu, bisa terjadi juga aritmia
kardial yang merupakan suatu respon yang timbul akibat ada jaringan yang tidak mendapatkan
suplai darah. Paling parah komplikasi yang bisa terjadi adalah sudden death. Terjadi akibat
kelelahan jantung yang memompa darah terus-menerus dengan frekuensi yang tidak stabil dan
diperberat oleh nekrosis otot jantung yang makin meluas5,6.
11. Pencegahan
Lakukan perubahan pada diet karena kajian telah menunjukan bahawa makanan yang
tinggi kandungan kolesterol dan lemaknya (terutamanya lemak tepu) boleh meningkatkan
kandungan kolesterol dalam darah dan seterusnya meningkatkan lagi risiko untuk mengidap
penyakit jantung koroner6.
Selain itu, lakukan senaman karena mereka yang tidak bersenam adalah lebih cenderung
untuk mendapat serangan jantung. Jadikan senaman sebagai sebahagian dari cara hidup anda.
Coba lah untuk melakukan aktivitas yang ringan sebagai langkah awal seperti jogging selama 30
menit.
Bagi menjaga jantung anda dengan lebih baik, kawal tekanan darah anda. Hal ini karena,
tekanan darah tinggi meningkatkan risiko serangan jantung, strok dan lain-lain. Keadaan ini
boleh dikawal melalui pemeriksaan kesihatan yang kerap, mengawal pengambilan makanan dan
rawatan yang berterusan.

Bagi mereka yang obesitas atau mempunyai berat badan yang tinggi, kawal berat badan
dengan mengamalkan diet yang benar. Penyakit-penyakit (terutamanya diabetes, tekanan darah
tinggi dan penyakit jantung koroner) boleh menyerang dengan mudah pada individu yang
mengalami berat badan yang berlebihan. Berjumpalah dengan doktor atau pegawai pemakanan
untuk mengetahui tentang berat badan yang ideal atau unggul.
Paling penting sekali adalah, jangan merokok. Demi jantung yang sihat, jangan merokok.
Jika anda adalah seorang perokok, berhenti dengan segera. Membuang tabiat ini dapat
mengurangkan risiko penyakit jantung. Oleh itu, adalah satu tindakan yang bijak apabila anda
bertindak berhenti merokok.
12. Prognosis
Jika dilakukan penanganan yang cepat, maka prognosis dari angina ini akan bagus2.
Dimana dengan adanya penanganan medis yang cepat, maka insidens terjadinya infark miokard
juga akan berkurang. Begitu juga sebaliknya.
KESIMPULAN
UAP adalah penyakit jantung yang bahaya jika tidak ditangani karena bisa menyebabkan
kematian. Oleh itu, penatalaksanaan yang menyeluruh dibutuhkan untuk mencegah pasien UAP.
Selain itu, pasien yang hipertensi juga harus sering kali memantau tekanan darahnya. Hal ini
karena, penyakit hipertensi merupakan penyakit yang tidak bisa diobati tetapi bisa dikontrol
karena penyakit ini mempunyai banyak faktor penyebab.

DAFTAR PUSTAKA
1. Glynn M, Drake W. Cardiovascular system. Hutchisons clinical methods. 23rd ed. British:
Elsevier;2012.p.165-216
2. Yang EH, Alaedini J. Medscape reference. Angina pectoris. 10 Augustus 2011. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/150215-overview pada 10 Septembet 2013
3. Davey, Patrick. Medicine at glance. Penyakit kardiovaskuler. Erlangga. Jakarta. 2006. Pg 101, 142-3.
4. Kumar V, Abbas A.K, Fausto N, Aster J.C. Pathologic basis of disease. 8th ed. New Delhi:
Elsevier; 2011.p.487-506.
5. Tripathi K.D. Medical pharmacology.6th ed. New Delhi: Jaypee brothers medical
publishers;2008.p.479-539.
6. Thaler MS. The only EKG book youll ever need. Myocardial ischemia and infaction. 6th ed.
Lippincott Williams & Wilkins. Hong Kong. 2010. Pg 216-42