Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan karunia dan rahmat-Nya kepada kami,
hingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Karya sederhana ini disusun
dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata kuliah komunitas III di STIKes Widya
Dharma Husada Tangerang, Tangerang Selatan.
Kami menyadari, bahwa makalah ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan dan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terima kasih sebesarbesarnya dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. H. Darsono sebagai Ketua Yayasan Widya Dharma Husada yang telah mencurahkan
segenap perhatian dan pemikiran untuk kemajuan yayasan dan perkembangan mahasiswa.
2. Drs. H. M. Hasan, SKM,. M.Kes sebagai Ketua STIKes Widya Dharma Husada yang telah
bekerja keras dalam peningkatan kualitas pendidikan di STIKes ini.
3. Ns. Dewi Fitriani, S.kep. Selaku dosen mata kuliah manajemen keperawatan yang telah
memberikan dorongan dalam penyusunan makalah ini
4. Keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang
besar kepada kami, baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan
makalah ini.
5. Rekan-rekan semua yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Tak ada gading yang tak retak. Tak ada yang sempurna di dunia ini. Demikian pula
dengan penulisan makalah ini. Kritik dan saran sangatlah kami harapkan dan dapat
disampaikan secara langsung maupun tidak langsung. Semoga makalah ini menjadi tambahan
pengetahuan bagi siapa pun yang membacanya.
Tangerang selatan, 24 Maret 2015

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Tujuan..............................................................................................................................2
C. Sistematika Penulisan......................................................................................................2
BAB II TINJAUAN TEORITIS................................................................................................3
A. Konsep Promosi Kesehatan.............................................................................................3
B. Program Kesehatan.......................................................................................................22
C. Satuan acara penyuluhan...............................................................................................23
BAB III PENUTUP..................................................................................................................25
A. Kesimpulan...................................................................................................................25
B. Saran..............................................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................i
LAMPIRAN...............................................................................................................................1

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti
memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan,
kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah
tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab
untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat
Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.
Salah satu usaha pemerintah dalam menyadarkan masyarakat tentang hidup sehat dan
pelaksanaanya bagaimana cara hidup sehat adalah dengan cara melakukan pendidikan
kesehatan yang tidak hanya didapat dibangku sekolah tapi juga bisa dilakukan dengan cara
penyuluhan oleh tim medis. Yang biasa disebut dengan promosi kesehatan ataupun
penyuluhan kesehatan. Mengingat tugas kita sebgai tim medis adalah salah satunya
memperkanalkan bagaimana cara hidup sehat dengan masyarakat maka didalam makalah
ini kami akan membahas tentang Promosi Kesehatan.
Dalam konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia disepakati antara lain bahwa
diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya adalah hak yang fundamental bagi
setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan tingkat sosial
ekonominya. Diperlukan adanya reformasi di bidang kesehatan untuk mengatasi
ketimpangan hasil pembangunan kesehatan antar daerah dan antar golongan, derajat
kesehatan yang masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan
kurangnya kemandirian dalam pembangunan kesehatan. Reformasi di bidang kesehatan
perlu dilakukan mengingat lima fenomena yang berpengaruh terhadap pembangunan
kesehatan. Pertama, perubahan pada dinamika kependudukan. Kedua, Temuan-temuan
ilmu dan teknologi kedokteran. Ketiga, Tantangan global sebagai akibat dari kebijakan
perdagangan bebas, revolusi informasi, telekomunikasi dan transportasi. Keempat,
Perubahan lingkungan. Kelima, Demokratisasi.
Paradigma pembangunan kesehatan yang baru yaitu Paradigma Sehat merupakan
upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan masyarakat yang bersifat proaktif. Paradigma
sehat sebagai model pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang diharapkan
mampu mendorong masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan melalui
kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif
dan preventif.
1

Dalam Piagam Ottawa disebutkan bahwa promosi kesehatan adalah proses yang
memungkinkan orang-orang untuk mengontrol dan meningkatkan kesehatan mereka
(Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to
improve,

their

health).

Penyelenggaraan

promosi

kesehatan

dilakukan

dengan

mengombinasikan berbagai strategi yang tidak hanya melibatkan sektor kesehatan belaka,
melainkan lewat kerjasama dan koordinasi segenap unsur dalam masyarakat. Hal ini
didasari pemikiran bahwa promosi kesehatan adalah suatu filosofi umum yang
menitikberatkan pada gagasan bahwa kesehatan yang baik merupakan usaha individu
sekaligus kolektif (Taylor, 2003 dalam notoatmodjo).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Diharapkan pembaca mampu, memahami, menjelaskan serta mengaplikasikan
pengetahuan yang didapat dari makalah ini sehingga lebih bermanfaat baik bagi diri
pribadi maupun untuk masyarakat luas.
2. Tujuan Khusus
a. Memahami dan menjelaskan definisi Konsep kesehatan.
b. Memahami dan menjelaskan tentang perubahan perilaku dan pendidikan kesehatan.
c. Memahami dan menjelaskan tentang peran promosi kesehatan dalam perubahan
perilaku.
d. Memahami dan menjelaskan tentang dimensi pomosi kesehatan
e. Memahami dan menjelaskan tentang strategi promosi kesehatan
f. Memahami dan menjelaskan tentang sasaran promosi kesehatan
g. Memahami dan menjelaskan tentang program kesehatan
h. Memahami dan menjelaskan tentang satuan acara penyuluhan
C.

Sistematika Penulisan
1. BAB I

: Pendahuluan

2. BAB II

: Tinjauan teori

3. BAB III

: Kesimpulan

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Promosi Kesehatan
1. Definisi
promosi kesehatan tidak hanya bertanggungjawab pada sektor kesehatan saja,
melainkan juga gaya hidup untuk lebih sehat. (Keleher,et.al, 2007).
promosi kesehatan adalah proses sosial dan politis yang menyeluruh, yang tidak
hanya menekankan pada kekuatan ketrampilan dan kemampuan individu, tetapi juga
perubahan sosial, lingkungan dan kondisi ekonomi yang mempengaruhi kesehatan
individu dan masyarakat. (Nutbeam 2007), Jadi promosi kesehatan adalah proses
untuk memungkinkan individu mengontrol faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan dan mengembangkan kesehatan individu dan masyarakat.
WHO (2008) menyebutkan bahwa promosi kesehatan adalah strategi inti untuk
pengembangan kesehatan, yang merupakan suatu proses yang berkembang dan
berkesinambungan pada status sosial dan kesehatan individu dan masyarakat.
Dari beberapa definisi diatas, promosi kesehatan mempunyai beberapa level
pengertian, sehingga konsep promosi kesehatan adalah semua upaya yang
menekankan pada perubahan sosial, pengembangan lingkungan, pengembangan
kemampuan individu dan kesempatan dalam masyarakat, dan merubah perilaku
individu, organisasi dan sosial untuk meningkatkan status kesehatan individu dan
masyarakat. (Keleher,et.al, 2007).
2. Perubahan prilaku dan pendidikan kesehatan
Perilaku merupakan factor terbesar kedua setelah factor lingkungan yang
mempengaruhi kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat. (Blum: 2009). Oleh
sebeb itu, dalam rangka

membina dan meningkatakan kesehatan masyarakat,

intervensi atau upaya yang ditunjukan kepada factor prilaku secara garis besar dapat
dilakukan melalui dua upaya yang saling bertentangan. Masing - masing upaya
tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kedua upaya tersebut dilakukan
melalui :
a. Paksaan (coertion)
Upaya agar masyarakat mengubah perilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan
dengan cara - cara tekanan, paksaan atau koersi(coertion). Upaya ini bisa secara
tidak langsung dalam bentuk undang-undang atau peraturan-peraturan (law
enforcement), intruksi-intruksi, dan secara langsung melalui tekanan-tekanan
(fisik atau non fisik), sanksi-sanksi dan sebagainya.
3

b. Pendidikan (education)
Upaya agar masyarakat berprilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan
cara persuasi, bujukan, imbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan
kesadaran, dan melalui kegiatan yang disebut pendidikan atau romosi kesehatan.
Konsep umum yang digunakan untuk mendiagnosis perilaku adalah konsep dari
Lawrence Green (1980). Menurut Green perilaku dipengaruhi oleh tiga factor
utama yaitu:
1) Factor predisosisi
Factor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan,
tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan
keseatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat
social ekonomi.
2) Factor pemungkin (Enabling factors)
Factor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan
bagi masyarakat, misalnya air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat
pembuangan tinja, ketersediaan makanan yang bergizi. Termasuk juga fasilitas
pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu,
polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktik swasta.
3) Factor penguat (Reinforcing factors)
Factor ini meliputi factor sikap dan prilaku tokoh masyarakat, tokoh agama,
sikap dan prilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga
disini undang-undang, peraturan-peraturan, baik dari pusat maupun pemerintah
daerah, yang terkait dengan kesehatan.
3. Peran promosi kesehatan dalam perubahan perilaku
Promosi kesehatan dalam arti pendidikan, secara umum adalah segala upaya yang
direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok, atau
masyarakat, seingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan
atau promosi kesehatan. Dan batasan ini tersirat unsur-unsur:
a. Input adalah asaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat, dan pendidik
pelaku pendidikan)
b. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain)
c. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Hasil (output) yang diharapkan dari suatu promosi atau pendidikan kesehatan
adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang kondusif.
4. Dimensi promosi kesehatan
Sampai saat ini masih terjadi distorsi pemahaman promosi kesehatan. Promosi
kesehatan masih dipahami semata-mata sebagai pengganti istilah pendidikan
kesehatan. Secara institusional mungkin benar bahwa promosi kesehatan itu
4

merupakan pengganti pendidikan atau penyuluhan kesehatan, namun secara konsep


berbeda, maka lebih baik dikatakan bahwa promosi kesehatan merupakan revitalisasi
pendidikan kesehatan. Terminology promosi dalam promosi kesehatan sekurangkurangnya mengandung empat pengertian sekaligus,yakni:
a. Peningkatan seperti halnya dalam five level of prevention dari leavels and clark
(1974), dimana pencegahan tingkat pertama adalah healt promotion .
terminology ini juga seperti di gunakan dalam dunia akademik (promosi doctor),
atau dunia pekerjaan (promosi jabatan). Dalam konsep lima tingkat pencegahan
(five levels of prevention), pencegahan tingkatpertama dan utama adalah promosi
kesehatan (healt promotion). Secara lengkap adalah:
1) Promosi kesehatan(healt promotion)
2) Perlindungan khusus melalui imuniasi
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera
4) Disability limitation (membatasi atau mengurangi kecacatan)
5) Pemulihan
b. Memasarkan atau menjual, seperti yang berlaku di dunia bisnis sehingga muncul
istilah dalam fungsi sales promotion girls adalan seseorang yang bertugas
memasarkan atau menjual sesuatu produk tertentu, bahkan disuatu prusahaan
menciptakan jabatan striktural manager promosi/pemasaran
c. Dalam literature lama,banyak dijumpai istilah propaganda kesehatan yang
sebenarnya adalah mempengaruhi orang lain atau masyarakat untuk melaukan halhal yang orang lain atau masyarakat untuk melakukan hal-hal yang sehat misalnya:
makan makanan bergizi, minum air yang direbus, buang air besar di jamban.
d. Belakangan muncul di lapangan atau dalam praktisi promosi kesehatan, bahwa
promosi kesehatan dilakukan dan identik dengan penyuluhan kesehatan.tidak keliru
memang karena dalam penyuluhan tersebut terjadi proses peningkatan pengetauan
kesehatan bagi masyarakat.
Dalam strategi Global Promosi Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO,1984) merumuskan

bahwa promosi

kesehatan

sekurang-kurangnya

mengandung tujuh prinsip, yakni:


1) Perubahan prilaku
Seperti telah disebutkan diatas bahwa pendidikan kesehatan mempunyai tujuan
focus utama perubahan perilaku. Promosi kesehatan tetap masih menargetan
perubahan perilaku. Namun perubahan perilaku yang dimaksutkan oleh
promkes bukan semata-mata perilaku masyarakat saja melainkan juga perilaku
tokoh masyarakat dan tidak kalah pentingnya perilaku para pembuat keputusan
diberbagai jenis maupun tingkatan intitusi baik pemerintahan maupun
5

nonpemerintahan. Dimensi perubahan perilaku yang diharapkan terhadap tiga


sasaran tersebut(primer,sekunder,tersier) memang sedikit berbeda antara lain:
a) Untuk masyarakat (sasaran primer) diharapkan memunyai pemahaman
pengetahuan yang benar tentang kesehatan dengan pengetahuan yang benar
tentang kesehatan ini mereka akan mempunyai sikap positif tentang
kesehatan dan selanjutnya diharapkan akan terjadi perybahan perilaku.
b) Untuk tokoh masyarakat (sasaran sekunder), perubahan perilaku yang
diharapkan juga seperti pada sasaran primer, yakni mereka ini berprilaku
sehat di tengah-tengah masyarakat.
c) Untuk para penentu kebijakan

atau

para

pejabat

pemerintahan

setempat(sasaran tersier), prilaku yang diharapkan mencakup 3 hal,yakni:


(1) Berprilaku sehat untuk dirinya sendiri.
(2) Para pejabat yang berprilaku sehat dengan dirinya sendiri juga akan jadi
contoh untuk masyarakat yang lain
(3) Sikap dan prilaku yang sangat penting diharapkan adalah berkaitan
dengan otoritasnya sebagai penguasa yang mempunyai kewenangan
untuk membuat kebijakan-kebijakan public yang berwawasan kesehatan.
2) Perubahan social
Kesehatan adalah bagian dari kesejahteraan social. Oleh sebab itu di beberapa
Negara dua kementrian ini, kementrian kesehatan dan keentrian social digabung
menjadi satu, dengan nama kementrian kesehatan dan kesejahteraan social
(ministry of health and social welfare). Pada pemerintahan adbdurrahman Wahid
(Gusdur). Kementrian kesehatan dan departemen social ini juga pernah digabung
menjadi satu departemen saja. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa
promosi kesehatan tidak hanya sekedar berbisnis tentang perubahan prilaku
semata, sebagai salah satu determinan kesehatan, tetapi juga determinan kesehatan
atau factor-faktor yang mempengaruhi kesehatan yang lain.
3) Perubahan lingkungan fisik
Lingkungan fisik termasuk sarana dan prasarana untuk kesehatan sangat penting
perannya dalam mempengaruhi kesehatan dan juga prilaku kesehatan. Karena
dengan penyuluhan kesehatan atau pemberian informasi kesehatan hanya mampu
meningkatkan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat. Karena untuk
terwujudnya pengetahuan kesehatan menjadi prilaku praktik atau tindakan
kesehatan memerlukan sarana dan prasarana lingkungan fisik.
Oleh sebab itu promosi kesehatan harus juga melakukan kegiatan bagaimana
supaya masyarakat terfasilitasi sarana dan prasarana untuk mewudjudkan prilaku
sehat.
4) Pengembangan kebijakan
6

Otoritas pengembangan kebijakan berada ditangan para pemegang kekuasaan atau


otoritas masyarakat, utamanya adalah pemerintah daerah, baik eksekutif
,gubernur, bupati dan legislative. Dalam hal ini, promosi kesehatan melakukan
advokasi kepada para pemegang otoritas ini agam mengembangkan kebijakankebijakan pblik yang berwawasan kesehatan.
5) Pemberdayaan
Tujuan dari pemberdayaan di bidang kesehatan adalah masyarakat baik secara
individu, keluarga, dan kelompok atau komunitas mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Oleh sebeb itu terkait dengan urutan
sebelumnya mereka agarmasyarakat berdaya dalam arti mampu memelihara dan
meningkatkan kesehatannya, hal ini berarti bahwa masyarakat harus diberikan
kemampuan untuk memfasilitasi dirinya sendiri untuk hidu sehat.
6) Partisipasi masyarakat
Keterlibatan masyarakat dalam program kesehatan, seperti kader kesehatan, iuran
jamban, dana sehat, posyandu, polindes, pos kesehatan, adalah merupakan
perwujudan partisipasi masyarakat dibidang kesehatan. Di Indonesia kegiatan
tersebut sudah ada sejak tahun 1970, di mulai oleh Yakum di solo dan di desa
klampok-Banjarnegara.
7) Membangun kemitraan
Telah disebutkan di atas bahwa sector kesehatan tidak mungkin dapat berjalan
sendiri dalam menjalankan program termasuk promosi kesehatan dalam
mewujudkan kesehatan masyarakat
Tujuan utama membangun kemitraan ini adalah untuk memperoleh dukungan
sumber daya untuk terwujudnya sarana dan prasarana guna memfasilitasi perilaku
hidup sehat masyarakat. Hal ini telah diuraikan pada bagianlingkungan fisik yang
mendukung. Dalam mengembangkan kemitraan prinsip umum yang harus
dipahamibersama antara sector kesehatan dengan mitra kerja adalah:
a) Persamaan (equity)
Dalam menjalin kemitran, masing-masing institusi atau lembaga harus
menempatkan diri setara atau satu dengan yang lain, tidak ada satu pihak pun
yang merasa lebih tinggi.,lebihbaik, lebih penting dibandingkan dengan pihak
lain.
b) Keterbukaan (transparency)
Dalam memulai kemitraan dengan pihak yang lain proses kemitraan mulai
perencanaan sampai dengan memonitor dengan mengevaluasi kegiatan
bersama masing-masing pihak harus terbuka terhadap yabg lain.
c) Saling menguntungkan (mutual benefit)
7

Dalam menjalin kemitraan, masing-masing pihak harus di untungkan dengan


adanya kegiatan atau hasil kegiatan bersama tersebut, selain itu dalam
kemitraan tidak boleh ada pihak yang merasa dirugikan karena adanya
kemitraan tersebut.
5. Dari Pendidikan Kesehatan ke Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan sebagai bagian atau cabang dari ilmu kesehatan, juga
mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan seni. Dari sisi seni, yakni praktisi atau
aplikasi promosi kesehatan, merupakan penunjang bagi program-program kesehatan
lain. Artinya setiap program kesehatan, misalnya pemberantasan penyakit, perbaikan
gizi masyarakat, sanitasi lingkungan, kesehatan ibu dan anak, program pelayanan
kesehatan, dan sebagainya, perlu ditunjang atau dibantu oleh promosi kesehatan (di
Indonesia sering disebut penyuluhan kesehatan). Hal ini esensial, karna masingmasing program tersebut mempunyai aspek prilaku masyarakat yang perlu
dikondisikan dengan kondisi promosi kesehatan.
Dari pengalaman bertahn-tahun pelaksanaan pendidikan ini, baik di negara
maju maupun negera berkembang, mengalami berbagai hambatan dalam rangka
pencapaian tujuannya, yakni mewujudkan perilaku hidup sehat bagi masyarakatnya.
Hambatan yang paling besar dirasakan ialah faktor pendukung-nya (enabling factor).
Dari penelitian-penelitian yang ada terungkap, meskipun kesadaran dan pengetahuan
masyarakat masih rendah. Setelah dilakukan pengkajian oleh Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO), terutama di negara-negara berkembang, ternyata faktor penduukung
atau sarana dan prasarana tidak menunjang masyarakat untuk berprilaku hidup sehat.
Misalnya, meskipun kesadaran dan pengetahuan orang atau masyarakat tentang
kesehatan (misalnya, sanitasi lingkungan, gizi, imunisasi, pelayanan kesehatan, dan
sebagainya) sudah tinggi, tetapi apabila tidak didukung oleh fasilitas, yaitu
tersedianya jamban sehat, atau bersih, makanan yang bergizi, fasilitas imunisasi,
pelayanan kesehatan, dan sebagainya, maka mereka sulit untuk mewujudkan perilaku
tersebut.
Oleh sebab itu WHO pada awal tahun 1980 menyimpulkan bahwa pendidikan
kesehatan tidak mampu mencapai tujuannya apabila hanya memfokuskan pada upayaupaya perubahan perilaku saja. Promosi kesehatan harus mencakup pula upaya
perubahan lingkungan (fisik, sosial budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya) sebagai
penunjang atau pendukung perubahan perilaku tersebut. Sebagai perwujudan dari
perubahan konsep promosi kesehatan ini secara organisasi struktural, maka pada
tahuun 1984, Divisi Pendidikan Kesehatan (Health Education) dalam WHO diubah
8

menjadi Divisi Promosi dan Pendidikan Kesehatan (Division on Health Promottion


and Education). Sekitar 16 tahun kemudian, awal tahun 2000 Kementrian Kesehatan
RI baru dapat menyesuaikan konsep WHO dengan mengubah Pusat Penyuluhan
Kesehatan Masyarakat (PKM) menjadi Direktorat Promosi Kesehatan, dan kemudian
berubah menjadi Pusat Promosi Kesehatan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan merupakan revitalisasi
pendidikan kesehatan pada masa lalu. Promosi kesehatan bukan hanya proses
penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat
tentang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku kesehatan saja, tetapi juga disertai
upaya-upaya memfasilitasi perubahan perilaku. WHO telah merumuskan:
Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and
improve, their health. To reach a state of complete physical, menttal, and social, wellbeing, an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to
satisfy needs, and to change ao cope with the environment.(Ottawa Char-ter, 1986).
Dari kutipan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa promosi kesehatan
kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat,
kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, sosial, maka masyarakat harus mampu
mengenal dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhanyya, dan mampu mengubah atau
mengatasi lingkungannya (lingkungan fisiik, sosial budaya, dan sebagaianya).
Batasan lain, promosi kesehatan adalah yang dirumuskan oleh salah satu negara
bagian Australia sebagai berikut:
health promotion is programs are designed to bring about change wwithin people,
organization, sommunities,and their environment(Victoria Health Foundation, 1996).
Hal ini berarti bahwa promosi kesehatan adalah program kesehatan yang
dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri,
maupun dalam organisasi dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya, politik,
dan sebagaianya). Dari dua kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa promosi
kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan
praktiik kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan (baik
fisik maupun nonfisik) dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka. Kemudian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperbaharui batasan
promosi kesehatan sebagai berikut:
health promotion is the process of enabling individuals and communities to encrease
control over the determinants of healths and thereby improve their health(WHO,
2003). Batasan WHO ini mengindikasikan bahwa ruang lingkup promosi kesehatan
9

bukan hanya kegiatan intervensi terhadap perilaku dan lingkungan saja, tetapi
mencakupi semua determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan.
6. Visi dan Misi Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan harus mempunyai visi yang jelas. Yang dimaksud visi
dalam konteks ini adalah apa yang diinginkan oleh promosi kesehatan sebagai
penunjang program-program kesehatan yang lain. Visi umum promosi kesehatan tidak
terlepas dari undang-undang Kesehatan No. 36/2009, maupun WHO, yakni
meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dalam meningkatkan
derajat kesehatan, baik fisik, mental dan sosialnya, sehingga produktif secara ekonomi
maupun sosial. Promosi kesehatan di semua program kesehatan, baik pemberantasan
penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun
program kesehatan lainnya bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan, baik kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat.
Untuk mencapai visi tersebut, perlu upaya-upaya yang harus dilakukan, dan
inilah yang disebut misi. Jadi yang dimaksud misi pendidikan kesehatan adalah
upaya yang harus dilakukan untuk mencapai visi tersebut. Misi promosi kesehatan
secara umum dapat dirumuskan menjadi tiga butir.
a. Advocat (Advocate)
Melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambilan keputusan di berbagai
program dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Melakukan advokasi berarti
melakukan upaya-upaya agar para pembuat keputusan atau penentu kebijakan
tersebut mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan
perlu didukung melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan politik.
b. Menjebatani (Mediate)
Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor
yang terkait dengan kesehatan. Dalam melaksanakan program-program kesehatan
perlu kerja sama dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun sektor
lain yang terkait. Oleh sebab itu, dalam mewujudkan kerja ama atau kemitraan ini
perabn promosi kesehatan diperlukan.
c. Memampukan (Enable)
Memberikan kemampuan atau keterampilan kepada masyarakat agar mereka
mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri secara mandiri.
Hal ini berarti kepada masyarakat diberikan kemampuan atau keterampilan agar
mereka mandiri di banding kesehatan, termasuk memelihara dan meningkatkan
10

kesehatan

mereka.

Misalnya,

pendidikan

dan

pelatihan

dalam

rangka

meningkatkan keterampilan cara-cara bertani, beternak, bertanam obat-obatan


tradisional, koperasi, dan sebagainya dalam rangka meningkatkan pendapat
keluarga (in come generating). Selanjutnya dengan ekonomii keluarga yang
meningkat, maka kemampuan dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
keluarga juga meningkat.
7. Strategi Promosi Kesehatan
Untuk mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan seperti diuraikan diatas,
diperlukan cara pendekatan yang strategis agar tercapai secara efektif dan efesien.
Cara ini sering disebut strategi. Jadi strategi ialah, cara untuk mencapai atau
mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan secara efekstif dan efesien.
a. Strategi Global (Promosi Kesehatan) Menurut WHO, 1984
1) Advokasi (advocacy)
Kegiatan yang ditunjukan kepada pembuat keputusan (decision makers) atau
penentu kebijakan (policy makers) baik dibidang kesehatan maupun sektor lain
di luar kesehatan, yang mempunyai pengaruh terhadap publik. Tujuannya adalah
agar para pembuat keputusan mengeluarkan kebijakan-kebijakan, antara lain
dalam bentuk peraturan, undang-undang, instruksi, dan sebagainya yang
menguntungkan kesehatan publik. Bentuk kegiatan advokasi ini antara lain
lobying, pendekatan atau pembicaraan-pembicaraan formal atau informasi
terhadap para pembuat keputusan, penyajian isu-isu tau masalah-masalah
kesehatan atau yang mempengaruhi kesehatan atau yang mempengaruhi
kesehatan masyarakat setempat, seminar-seminar masalah

keesehatan, dan

sebagainya.
Output kegiatan advokasi adalah undang0undangg, peraturan-peraturan daerah,
instrukdi-instruksi yang mengikat masyarakat dan instansi-instansi yang terkait
dengan masalah kesehatan. Oleh sebab itu sasaran advokasi adalah para pejabat
eksekusi, dan leegistik, para pemimpin dan pengusaha, serta organisasi politik
dan organisasi masyarakat, baik tingkat pusat, proviinsi, kabupaten, kecamatan,
maupun desa atau kelurahan.
2) Dukungan sosial (social support)
Kegiatan yang ditunjukan kepada para tokoh masyarakat, baik formal (guru,
lurah, camat petugas kesehatan, dan sebagainya) maupun informal (tokoh
agama, dan sebagainya) yang mempunyai pengaruh di masyarakatt. Tujuan
11

kegiatan ini adalah agar kegiatan atau program kesehatan tersebut memperoleh
dukungan dari para tokoh masyarakat (toma) dan tokoh agama (toga).
Selanjutnya toma dan toga diharapkan dapat menjebatani antara pengelola
program kesehatan dengan masyarakat.
Pada masyarakatt yang masih paternalistik seperti di Indonesia ini, toma dan
toga merupakan panutan perilaku masyarakat yang sangat signifikan. Oleh
sebab itu apabila toma ddan toga sudah mempunyai perilaku sehat, akan mudah
ditiru oleh anggota masyarakat yang lain. Bentuk kegiatan mencari dukungan
sosiial ini antara lain pelatihan-pelatihan para toma dan toga, seminar,
lokakarya, penyuluhan, dan sebagainya.
3) Pemberdayaan masyarakat (empowerment)
Pemberdayaan ini ditunjukan kepada masyarakat langsung, sebagai sasaran
primer atau utama promosi kesehatan,, tujuannya adalah agar masyarakat
memiliki kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri. Pemberdayaan masyarakat ini dapat diwujudkan dengan berbagai
kegiatan, antara lain penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pembangunan
masyarakat dalam bentuk, misalnya, koperasi dan pelatihan keterampilan dalam
rangka peningkatan pendapatan keluarga (latihan menjahit, pertukangan,
peternakan, dan sebagainya). Melalui kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan
masyarakat memiliki kemampuan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan mereka sendiri (self relince in health). Oleh karena bentuk kegiatan
pemberdayaan masyarakat ini lebih pada kegiatan penggerakan masyarakat
untuk kesehatan, misalnya adanya dana sehat, adanya pos obat desa, adanya
gotong-royong kesehatan sebagainya, maka kegiatan ini sering disebut gerakan
masyarakat untuk kesehatan. Meskipun demikian, tidak semua pemberdayaan
masyarakat itu berupa kegiatan gerakan masyarakat.
b.

Stategi Promosi Kesehatan Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter)


Konferensi International Promosi Kesehatan di Ottawa-Canada tahun 1986
menghasilkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter), dan salah satunya rumusan strategi
promosi kesehatan yang dikelompokan menjadi 5 butir.
1) Kebijakan berwawasan kesehatan (healthy public policy)
Kegiatan ini ditunjukan para pembuat keputusan atau penentu kebijakan,
sehingga

dikeluarkan

atau

dikembangkannya

kebijakan-kebijakann

pembangunan yang berwawasan kesehatan. Hai ini berarti bahwa setiap


12

kebijakan pembangunan di bidang apa saja harus mempertimbangkan dampak


kesehatannya bagi masyarakat. Misalnya apabila orang akan mendirikan pabrik
atau industri, maka sebelumnya harus dilakukan analisis dampak lingkungan,
sejauh mana lingkungan akan tercemar oleh limbah pabrik tersebut, yang
akhirnya berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
2) Lingkungan yang mendukung (supportive enviroment)
Kegiatan untuk mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang
mendukung. Kegiatan ini ditunjukan kepada para pemimpin organisasi
masyarakat serta pengelola tempat-tempat umum (public place). Kegiatan
mereka diharapkan memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun lingkungan nonfisik yang mendukung atau kondusif
terhadap kesehatan masyarakat.
3) Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health service)
Kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan
(provider), baik pemetintah maupun swasta saja, melainkan juga masalah
masyarakat sendiri (konsumer). Oleh sebab itu penyelenggaraan pelayanan
kesehatan juga merupakan tanggung jawab bersama antara pihak pemberi
pelayanan (provider) dan pihak penerima pelayanan (konsumer). Dewasa ini
titik berat pelayanan kesehatan masih berada pada pihak pemerintah dan
swasta, dan kurang melibatkanmasyarakat sebagai penerima pelayanan.
Melibatkan masyarakat dalam pelayanan kesehatan berarti memberdayakan
masyarakat dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan ini bervariasi,
mulai dari terbentuknya lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli
terhadap kesehatan, baik dalam bentuk pelayanan maupun bantuan-bantuan
teknis (pelatihan); sampai dengan upaya-upaya swadaya masyarakat sendiri.
4) Keterampilan individu (personal skill)
Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agreget, yang terdiri dari kelompok,
keluarga, dan individu. Oleh sebab itu kesehatan masyarakat terwujud apabila
kesehatan kelompok, kesehatan masing-masing keluarga, dan kesehatan
individu terwujud. Oleh sebab itu meningkatkan keterampilan setiap anggota
masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri (personal skill), adalah sangat penting. Hai ini berarti bahwa masingmasing individu di dalam masyarakat seyogianya mempunyai pengetahuan
dan kemampuan yang baik terhadap cara-cara memelihara kesehatannya,
13

mengrnal penyakit, mampu meningkatkan kesehatannya, dan mampu mencari


pengobatan yang layak bilamana mereka atau anak-anak mereka sakit.
5) Gerakan masyarakat (community action)
Telah disebutkan ddi atas bahwa kesehatan masyarakat adalah perwujudan
kesehatan kelompok, keluarga dan individu. Oleh sebab itu mewujuudkan
derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang ada di
masyarakat tersebut bersama-sama.
8. Sasaran promosi kesehatan
Telah di sebutkan di atas bawah tujuan akhir atau visi promosi kesehatan adalah
kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka
sendiri. Dan visi ini jelas bahwa yang menjadi sasaran utama promosi kesehatan
adalah masyarakat khususnya lagi perilaku masyarakat. Namun demikian mereka,
karna terbatasnya sumber daya, akan tidak efektifnya apabila upaya atau kegiatan
promosi kesehatan, baik yang di selenggarakan oleh pemerintah maupun swasta
itu,langsung di alamatkan kepada masyarakat. oleh sebab itu perlu di lakukan
pentahapan sasaran promosi kesehatan. Berdasarkan pentahapan upaya promosi
kesehatan ini, maka sasaran di bagi dalam 3 (tiga) kelompok sasaran.
a. Sasaran primer (primary target)
Masyarakat pada umumnya menjadi sasaran langsung segala upaya pendidikan
atau promosi kesehatan, maka sasaran ini dapat di kelompokkan menjadi: kela
keluarga untuk masalah kesehatan umum, ibu hamil dan menyusui untuk masalah
KTA(kesehatan ibu dan anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja, dan
sebagainya upaya promosi yang di lakukan terhadap sasaran primer ini sejalan
dengn strategi pemberdayaan masyarakat (empower ment).asaran
b. Sasaran sekunder (secondary target)
Para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sebagainya. Disebut sasaran
sekunder,karena dengan memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok ini di
harapkan untuk selanjutnya kelompok ini akan memberikan pendidikan kesehatan
kepada masyarakat di sekitarnya. Di samping itu dengan perilaku sehat para rokoh
masyarakat sebagai hasil pendidikan kesehatan yang di terima, aka para tokoh
masyarakat ini akan memberikan contoh atau acuan perilaku sehat masyarakat
sekitar. Upaya promosi kesehatan yang di tujukan kepada sasaran sekunder ini
adalah sejalan dengan strategi dukungan sosial (social support).
c. Sasaran tartier ( tertiary target)
14

Para membuat keputusan atau penentu kebijakan baik di tingakat pusat, maupun
daerah adalah sasaran tertier promosi kesehatan. Dengan kebijakan-kebijakan atau
sasaran yang de keluarkan oleh kelompok ini akan mempunyai dampak terhadap
perilaku para tokoh masyarakat (sasaran sekunder), dan juga kepada masyarakat
umum( sasara primer). Upaya promosi kesehatan yang di tujukan kepada sasaran
tertier ini sejalan strategi advokasi (advocacy).
9. Ruang lingkup promosi kesehatan
Cakupan promosi kesehatan, baik sebagai illmu maupun seni sangat luas. Cukupan
tersebut dapat di lihat dari dua di mensi, yakni: a). Di mensi aspek pelayanan
kesehatan b. Di mensi tatanan (setting) atau tempat pelayanan promosi kesehatan.
a. Ruang lingkup berdasarkan aspek kesehatan
Telah menjadi kesepakan umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencangkup
empat aspek pokok, yakni promotif, preventif, kuratik dan rehabilitatif. Ahli lain
hanya menjadikan dua aspek, yakni : 1) aspek promotif preventif dengan sasaran
kelompok orang sehat, dan 2) aspek kuratif ( penyembuhan) dan rehabilitatif
dengan sasaran kelompok orang yang berisiko tinggi terhadap penyakit dan
kelompok yang sakit. Sejalan dengan uraian ini, maka ruang lingkup pendidikan /
promosi kesehatan juga di kelompokkan menjadi dua.
1) Promosi kesehatan pada aspek preventif-promotif
Sasaran promosi kesehatan pada sapek promotif adalah sekelompok orang sehat.
Selama ini kelompok orang sehat kurang memperoleh perhatian dalam upaya
kesehatan masyarakat. Padahal kelompok orang sehat di suatu masyarakat.
Padahalkelompok orang sehat di suatu komunitas skitar 80-85% dari populasi.
Apabila jumlah ini tidak di bina kesehatannya, maka jumlah ini akan meningkat.
Oleh sebab itu pendidikan kesehatan pada kelompok ini perlu di tingkatkan atau
di bina agar tetap sehat, atau lebih meningkat lagi. Derajat kesehatan bersifat
dinamis, oleh sebab itu meskipun seseorang sudah dalam kondisi sehat, tetap
perlu di tingkatkan dan di bina kesehatannya.
2) Promosi kesehatan pada aspek penyembuhan dan pemulihan (kuratifrehabilitatif).
pada aspek ini upaya promosi kesehatan mencakup tiga upaya atau kegiatan
yakni,
a) Pencegahan tingkat pertama (primery prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok masyarakat
yangberiisiko tinggi (higt risk) misalnya kelompok ibu hamil dan menyusuin,
pada kelompok obesitas (orang-orang yang ke gemukan), para perkerja seks
15

(wanita atau pria), dan sebagainnya. Tujuan upaya promosi kesehatan pada
kelompok ini adalah agar mereka tidak jatuh sakit atau terkena penyakit.
b) Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada sapek ini adalah para penderita pennyakit
kronis misalnya asma, diabetes melitus, tuberkulosis, rematik, tekanan darah
tinggi, dan sebagainnya. Tujuan upaya promosi kesehatan pada kelompok ini
adalah agar penderita mampu mencegah penyakit menjadi lebih parah.
c) Pencegah tingkat ketiga (tertiary prevention)
Sasaran promosi kesehatan pada aspek ini adalah kelompok pasien yang baru
sembuh (recovery) dari suatu penyakit. Tujuannya adalah agar meraka segera
pulih kembali kesehatannya. Dengan kata lain menolong para penderita yang
baru sembuh dari penyakitnya ini agar tidak menjadi cacat atau mngurangi
kecacatan seminimal mungkin (rehabilitas).
b. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan pelaksanaan.
Berdasarkan tatanan (setting) atau tempat pelaksanaan promosi atau pendidikan
kesehatan., maka ruang lingkup promosi keehatan ini dapat di kelompokan menjadi:
1) Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga).
Keluarga atau rumah tangga adalah unit masyarakat terkecil oleh sebab itu untuk
menccapai perilaku masyarakat yang sehat harus di mulai di masing-masing
keluarga. Di dalam keluargalah mulai berbentuk perilaku-perilaku masyatrakat
orang tua (ayah dan ibu) merupakan sasaran utama dalam promosi kesehatan
pada tatanan ini. Karena orang tua terutama ibu, merupakan peletakan dasar
perilaku dan terutama perilaku kesehatan bagi anak-anak mereka.
2) Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan ini mencakup rumah sakit puskesmas, poliklinik,
rumah bersalin, dan sebagainnya. Kadang-kadang sangat ironis, di mana rumah
sakit atau puskesmas tidak menjadi kebersihan fasilitas pelayanan kesehatan.
Keadaan fasilitas tersebut kotor, bau, tidak ada air, tidak ada tempat sampah dan
sebagainnya. Oleh sebab itu pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan merupakan
sasaran utama promosi kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan ini. Meraka
inilah yang bertanggung jawab atau terlaksannya pendidikan atau promosi
kesehatan di insituasinya. Kepada para pemimpin atau manajer instituasi
pelayanan kesehatan ini perlukan kegiatan advokasi. Sedangkan bagi para
karyawanya di perlukan kegiatan advokasi. Sedangkan bagi para karyawannya di
perlukan pelatihan tentang promosi kesehatan.beberapa rumah sakit memang
telah mengembangkan unit pendidikan (penyulihan) tersendiri di sebut PKMRS
(penyuluhan/promosi kesehatan masyarakat di rumah sakit).
16

c. Ruang lingkup berdasarkan tingkat pelayanan


Berdasarkan dimensi tingkat pelayanankesehatan, promosi kesehatan dapat di lakukan
berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention). Dari leavel and clark.
1) Promosi kesehatan ( health promotion)
Dalam tingkat ini promosi kesehatan di perlukan misalnya dalam peningkatan gizi,
kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan,kesehatan perorangan, dan
sebagainnya perlindungan khusus (specifik protection).
2) Dalam program imunisasi sebagai bentuk pelayanan perlindungan khusus
ini,promosi kesehatan sangat di perlukan terutama di negara-negara berkembang.
Hal ini karena kesadaran masyarakat tentang pentingnya imunisasi dengan cara
perlindunag terhadap penyakit pada orang dewasa maupun pada anak-anak, masih
rendah.
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment).
Di kerenakan rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap
kesehatan dan penyakit, maka penyakit-penyakit yang terjadi di dalam masyarakat
sering sulit terdektesi bahkan kadang-kadang masyarakat sulit atau tidak mampu di
perika dan di obati penyakitnya. Hal ini akan menyebabkan masyarakat tidak
memperoleh pelayanan kesehatan yang layak oleh sebab itu, promosi kesehatan
sangat di perlukan pada tahap ini.
4) Pembatasan cacat (disability limitation)
Kurang pengertian dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan dan penyakit,
sering mengakibatkan masyarakat tidak melanjutkan pengobtan sampai tuntas.
Mereka

tidak

melakukan

pemeriksaan

dan

pengobatan

yang

komplit

terhadappenyakitnya. Pengobatan yang tidak layak dan sempurna dapat


mengakibatkan yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki ketidak mampuan
untuk melakukan sesuatu. Oleh karen itu promosi kesehatan juga di perlukan pada
tahap ini, agar masyarakat mau memeriksakan kesehatan secara dini.
5) Rehabilitasi ( rehabilitation)
Setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, kadang-kadang orang menjadi
cacat.untuk memeulihkan ke cacatannya tersebut di perlukan latihan-latihan
tersebut. Oleh karena kurangnya pengertian dan kesadaran orang tersebut,nnmaka
ia tidak atau segan melakukan latihan- latihan yang di anjurkan. Di samping itu
orang yang cacat setelah sembuh dari penyakitnya, kadang merasa malu untuk
kembali kemasyarakat. Sering pula masyarakat tidak mau menerima mereka
sebagai anggota yang normal. Oleh sebab itu,jelas, promosi kesehatan di perlukan
bukan saja untuk orang yang cacat tersebut, tetapi jugauntuk masyarakat.
10. Sub- bidang keilmuan promosi kesehatan
17

diilustrasikan bahwa promosi kesehatan merupakan usaha intervensi untuk


mengarahkan perilaku kepada tiga faktor pokok, yakni faktor predisposisi, faktor
pendukung, dan faktor pendorong. Strategi dan pendekatan untuk ketiga faktor tesebut
berbeda-beda, meskipun tidak secara eksplisit. Perbedaan strategi dan pendekatan
tersebut berakibat di kembangkannya mata ajaran subdisiplin ilmu sebagai bagian dari
promosi kesehatan. Mata ajaran tersebut antara lain:
a. Komunikasi
Komunikasi di perlukan untuk mengondisika

faktor-faktor predisposisi.

Kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan serta penyakit,


adanya tradisi, kepercayaan yang negatif tentang penyakit, makanan, lingkungan,
dan sebagainnya, mengakibatkan meraka tidak berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
kesehatan. Untuk itu maka berperilaku komunikasi dan pemberian informasi
kesehatan. Untuk dpat berkonukasi dengan efektif, para petugas kesehatan perlu di
belakangi ilmu komunikasi, tersebut media komunikasi.
b. Dinamika kelompok
Dinamika kelompok adalah salah satu metode promosi kesehatan yang efektif
untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan kepada sasaran pendidikan. Oleh
sebab itu dinamika kelompok di perlukan dalam mengondisikan faktor-faktor
predisposisi perilaku kesehatan, dan harus di kuasai oleh setiap petugas kesehatan.
c. Pengembangan dan pengorganisasikan masyarakat (PPM)
untuk memperoleh perubahan perilaku yang efektif di perlukan faktor-faktor
pendukung berupa sumber-sumber dan fasilitas yang memadai. Sumber-sumber
dan fasiltas-fasilitas tersebut, sebagiannya haruus digali dan di kembangkan dari
masyarakat. Masyarakat harus mampu mengorganisasikan komunikasinya sendiri
untuk beberpa serta dalam menyediakan fasilitas untuk itu para petugas kesehatan
harus di bekali ilmu pengembangan dan pengorganisasian masyarakat (PPM).
d. Pengembangan kesehatan masyarakat desa (PKMD)
PKMD pada dasarnya adalah bagian dari PPM. Bedanya PKMD ini lebih
mengarahkan kepada kesehatan. PKMD pada prinsipnya adalah wardah partisipasi
masyarakat dalam bidang pengembangan kesehatan. filosofi dari PKMD adalah
pelayanankesehatan untuk meraka, dari mereka, dan oleh meraka. Dan di samping
itu PKMD adalah bentuk operasional dari primary health care yang merupakan
wahana untuk mencapai kesehatan pada tahun 2000., dan merupakan kesepakatan
internasional (Deklarasi Alta Atta). Oleh sebab itu semua petugas kesehatan harus
di bekali dengan PKMD. Namun dengan adanya posyandu,peran PKMD menjadi
menurun bahkan menghilang.
e. Pemasaran sosil (social marketing)
18

Untuk masyarakat produk kesehatan, baik yang berupa peralatan, fasilitas dan jasajasa pelayanan, di perlukan usaha pemasaran. Pemasaran jasa-jasa pelayanan ini
menurut istilah promosi kesehatan di sebut pemasaran sosial. Pemasaran sosial di
perlukan untuk intervensi pada faktor-faktor mendukung dan faktor-faktor
pendorong dalam perubahan perilaku masyarakat.
f. Pengembangan organisasi
Agar institusi kesehatan sebagai organisasi pelayanan kesehatan dan organisaiorganisasi masyarakat maupun berfungsi sebagai faktor pendukung dan mendorong
perubahan perilaku kesehatan masyarakat, maka perlu di namisasi dari organisasiorganisasi tersebut.
g. Pendidikan dan pelatihan
Semua petugas kesehatan, baik di lihat dari jenis maupun tingkatnya, pada
dasarnya adalah pendidikan kesehatan. Di tengah-tengah masyarakat petugas
kesehatan menjadi tokoh panutan di bidang kesehatan. Untuk itu maka petugas
kesehatan harus mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai
kesehatan. Mereka juga merupakan panutan atau acuan perilaku, termasuk perilaku
kesehatan. Oleh sebab itu mereka harus mempunyai sikap dan prilaku yang positif,
dan merupakan dorongan atau penguat perilaku sehat di masyarakat. Untuk
mencapai hal tersebut memperoleh pendidikan serta pelathan khusus tentang
kesehatan serta ilmu perilaku.
h. Pengembangan media (teknologi promosi kesehatan)
Agar di peroleh hasil yang efektif dalam proses promosi kesehatan di perlukan alat
bantu atau media pendidikan. Fungsi media dalam pendidikan adalahsebagai alat
peraga untuk menyampaikan informasi atau pesan-peasan tentang kesehatan.
i. Perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan
Untuk mencapai tujuan program dan kegitan efektif dan efisien, diperlukan
perancanaan dan evaluasi. perancanaan dan evaluasi program promosi kesehatan
mempunyai kekhsusan, bila di bandingan dengan evaluasi program kesehatan yang
lain. Hai ini karena tujuan program kesehatan adalah perubahan pengetahuan, sikap
dan perilaku sasaran yangmemerlukan pengukuran khusus. Oleh sebab itu untuk
evaluasi secara umum, meraka perlu diberikan perancanaan dan evaluasi program
kesehatan.
j. Perilaku kesehatan
Kegiatan utama program kesehatan adalah berurusan dengan perilaku, utamanya
perilaku kesehatan. Oleh sebab itu, perilaku kesehatan merupakan mata kuliah
pokok promosi kesehatan. Pentingnya mempelajari perilaku dan promos kesehatan
19

adalah agar dalam melakukan kegiatan promosi atau pendidikan kesehatan


memperoleh hasil yang optimum.
k. Antropologi kesehatan
Perilaku manusia di oengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik, maupun
lingkungan sosial budaya. Untuk melakukan pendekatan perubahan perilaku
kesehatan, petugas kesehatan harus menguasai berbagai macam latar belakang
sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Oleh sebab itu petugas kesehatan
harus menguasai antropologi kesehatan.
l. Sosiologi kesehatan
Latar belakang sosial, struktual sosial, dan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap
perilaku kesehatan masyarakat. Petugas kesehatan juga perlu mendalami aspekaspek sosial masyarakat. Oleh karena itu mereka pun harus menguasai sosiologi
kesehatan.
m. Psikologi sosial
Psikologi merupakan

dasar

ilmu

perilaku.

Untuk

memahami

perilaku

individu,kelompok atau masyarakat, orang harus memperalaji psikologi. Dalam


memahami perilaku masyarakat, psikologi sosial sangat di perlukan. Oleh sebb itu
semua petugas kesehatan harus menguasai psikologi sosial.
B. Program Kesehatan
1. Program Kesehatan Ibu dan Anak
a. Tujuan
Meningkatnya persalinan yang di tolong oleh tenaga kesehatan menjadi 90% pada
tahun 2010
b. Strategi Promosi Kesehatan
Integrasi Promosi kesehatan dengan program KIA di fokuskan pada tatanan rumah
tangga dan institusi pelayanan kesehatan yang mempunyai daya ungkit yang besar
untuk meningkatkan cakupan program KIA dan menurunnya angka kematian ibu.
c. Kegiatan
1) Pemberdayaan masyarakat dalam perawatan ibu hamil, bersalin, dan nifas.
2) Pembentukan suami siaga.
3) Pembentukan masyarakat Siaga.
2. Program Gizi Masyarakat
a. Tujuan
Meningkatnya prosentase bayi yang mendapatkan ASI ekslusif menjadi 80% pada
tahun 2010.
b. Strategi Promosi Kesehatan
20

Promosi kesehatan dengan program gizi masyarakat di fokuskan pada tatanan


rumah tangga dan tempat tempat umum yang mempunyai daya ungkit yang besar
untuk meningkatkan cakupan pemberian ASI.
c. Kegiatan
1) Sosialisasi tentang peningkatan penggunaan ASI.
2) Peningkatan perilaku ibu hamil dalam pemberian ASI.
3) Peningkatan kemampuan petugas puskesmas.

3. Program Lingkungan Sehat


a. Tujuan
Meningkatnya Prosentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Air Bersih, jamban,
menempati rumah tidak padat penghinu, cukup pentilasi, dan berlantai kedap air
menjadi 80 % pada tahun 2010
b. Kegiatan
1) Sosialisasi tentang lingkungan rumah tangga sehat
2) Mobilisasi masyarakat dalam mewujudkan lingkungan rumah tangga sehat
3) Pembentukan dan memantapan kelompok kelompok potensial dalam
kesehatan lingkungan seperti kelompok desa wisma.
4. Program pencegahan dan penangukangan penyakit tidak menular
a. Tujuan
Pada tahun 2010 persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak merokok
telah mencapai 70%, yang melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari
dalam sebulan terakhir telah mencapai 70% dan mengkonsumsi buah dan sayur 5
porsi setiap hari telah mencapai 60%.
b. Kegiatan
1) Peningkatan kemampuan petugas dalam penangulangan masalah merokok.
2) Peningkatan peran tokoh masyarakat atau tokoh agama kaitannya dengan
produktivitas terutama dalam menjalankan ibadah dan kegiatan sosial.
3) Gerakan keluara peduli merokok.
C. Satuan acara penyuluhan
1. Definisi
21

Satuan acara penyuluhan (Sap) Merupakan Rencana Kegiatan Penyuluhan Yang


Digunakan Untuk Setiap Pertemuan dalam Memberikan Petunjuk Secara Rinci
Mengenai Tujuan, Ruang Lingkup Materi Yang Harus Disampaikan, Kegiatan
Pembelajaran, Media Dan Evaluasi Yang Harus Digunakan.
2. Komponen Sap
a. Identitas Sap
1) Nama Penyuluhan
2) Pokok Bahasan
3) Sub Pokok Bahasan
4) Sasaran
5) Target
6) Hari, Tanggal, Jam
7) Waktu Pertemuan
8) Tempat Pertemuan
9) Latar Belakang
10) Metode
11) Media
12) Materi
13) Kegiatan Penyuluhan
14) Pengorganisasian
15) Setting Tempat
16) Evaluasi
17) Referensi
b. Tahapan Kegiatan
1) Tahap Persiapan
2) Tahap Pelaksanaan/Penyajian
3) Tahap Penutup

22

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Promosi Kesehatan adalah suatu kegiatan penyampaian ilmu dan informasi
kesehatan kepada individu kelompok, keluarga dan komunitas dengan tujuan dari
tidak mampu menjadi mampu merubah kebiasaan yang

sesuai dengan prinsip

kesehatan dalam berbagai aspek kehidupannya secara mandiri

dan menerapkan

sepanjang hidupnya. Strategi dalam promosi kesehatan ada dua yaitu Strategi promosi
kesehatan menurut WHO ( internasional) dan strategi promosi kesehatan berdasrkan
perjalan penyakit. Strategi promosi kesehatan menurut WHO sesuai dengan visi dan
misi promosi kesehatan yaitu advokasi, mediasi dan memampukan masyarakat.
Sedangkan strategi promosi kesehatan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit yaitu
strategi promosi kesehatan primer, sekunder dan tersier.
Metode yang digunakan dalam promosi kesehatan terdiri dari 3 yaitu metode
promosi kesehatan secara individual, secara kelompok dan secara masal. Sasaran
dalam promosi kesehatan mencakup aspek yang luas mulai dari individu kelompok
dan masyarakat. Promosi kesehatan sendiri memiliki peran penting dalam berbagai
aspek kehidupan masyarakat.
B. Saran
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca terutama mahasiswa dan menambah
wawasan serta pengetahuan baru dalam ilmu kesehatan terutama dalam keperawatan
Komunitas dan menambah dokumnetasi bagi perpustakaan. Pemakalah menyadari
bahwa makalah ini kurang dari sempurna, maka kami membutuhkan kritik dan saran
dari pembaca. Supaya dapat memperbaiki makalah ini.
23

24

DAFTAR PUSTAKA

Notoatmodjo, Soekidjo.2012.Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan.Rineka cipta.


Jakarta.
Efendi, F & Makhfudli.2009. Keperawataan kesehatan Komunitas teori dan praktik dalam
keperawatan.Salemba Medika. Jakarta.
Rochmah,Hafni.dkk.2010. Panduan integrasi promosi kesehatan dalam program program
kesehatan di kabupaten/kota jilid 1. Pusat promosi kesehatan dapartemen kesehatan
RI. Jakarta.

LAMPIRAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN
TUBERKULOSIS ( TBC )
Pokok Bahasan

: Tuberkulosis ( TBC )

Sub Pokok Bahasan

: Mengenal penyakit Tuberkulosis dan cara pencegahannya

Sasaran

: Masyarakat RT 02, Perumahan Pamulang Permai

Target

Hari/ tanggal

: Senin, 05 April 2015

Jam

: 09.30 10.00

Waktu pertemuan

: 30 menit

Tempat

: Perumahan Pamulang Permai,blok B-77 ,Tangerang Selatan

A. LATAR BELAKANG
Penyakit Tuberculosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Menurut WHO
tahun 2007 menunjukkan bahwa Tuberculosis Paru merupakan penyebab kematian pada
semua golongan usia dari golongan penyakit infeksi. TBC adalah penyebab nomor 8
kematian pada lansia terkait dengan penurunan fungsi tubuh. Berdasarkan data dari WHO
tahun 1993 didapatkan fakta bahwa sepertiga penduduk Bumi telah diserang oleh penyakit
TBC. Sekitar 8 juta orang dengan kematian 3 juta orang pertahun. Diperkirakan dalam
tahun 2002-2020 akan ada 1 miliar manusia terinfeksi, sekitar 5-10 persen berkembang
menjadi penyakit dan 40 persen yang terkena penyakit berakhir dengan kematianan.
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum bisa
dimusnahkan. Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap
tahunnya, dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan Indonesia adalah
negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak di dunia, setelah Cina dan
India. Sulitnya memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah munculnya bakteri yang
resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu, upaya penemuan obat baru terus
dilakukan.
penyakit tuberkulosis tidak terkendali, hal ini disebabkan banyak penderita yang tidak
berhasil disembuhkan, terutama penderita menular (BTA positif).WHO memperkirakan
setiap tahun terdapat 583.000 kasus barutuberkulosis dengan kematian sekitar 140.000
jiwa. Di Indonesia pada tahun2009, hasil survey penyakit tuberculosis mengenai 100 per
100.000 penduduk di Indonesia dan menyerang usia produktif. Di perumahan pamulang
permai sendiri saat ini terdapat 7 pasien tuberculosis baik yang sudah positif ataupun yang
suspect tuberculosis. Untuk itu kami melakukan penyululuan agar banyak masyarakan
dapat mengenal penyakit tuberkolusis dan cara pencegahannya terutama pada golongan
lansia.
B. TUJUAN
1. Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan selama 30 menit, Pasien dan keluarga pasien
mampu mengetahui cara cara pencegahan dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan
sehari hari.
2. Khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit pasien dan keluarga pasien mampu :
a. memahami pengertian TBC
2

b. menyebutkan tentang penyebab TBC


c. menyebutkan Tanda dan Gejala TBC
d. menyabutkan Cara penularan TBC
e. menyebutkan Cara pencegahan TBC
f. menyebutkan pengobatan TBC
C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. MEDIA
1. Leaflet
2. LCD
E. MATERI
Materi (terlampir) :
1. Pengertian TBC
2. Penyebab TBC
3. Tanda dan gejala TBC
4. Cara Penularan TBC
5. Cara pencegahan TBC
6. Cara pengobatan TBC
F.

KEGIATAN PENYULUHAN
No
1

Kegiatan Penyuluh
Pendahuluan

Waktu Kegiatan Peserta

Memberi salam

Memperkenalkan diri

Mengkomunikasikan pokok bahasan

Mengkomunikasikan tujuan
Kegiatan Inti

Menjawab salam

Mendengarkan

Mendengarkan

Mendengarkan

Menjelaskan :

Pengertian TBC

Penyebeb TBC

Tanda dan Gejala TBC

Cara Penularan TBC

20

Memperhatikan
dengan seksama

Memperhatikan
dengan seksama

Cara penatalaksanaan TBC


Penutup

5
3

Menyimpulkan materi penyuluhan

Memperhatikan

bersama peserta

Menjawab

Memberikan evaluasi secara lisan

Memberikan salam penutup


Total

30

G. PENGORGANISASIAN
Moderator dan timer

: Dewi Shinta

Penyaji

: Gustiawan Yudha Kusuma

Dokementator dan obeserver

: Saipullah Abdul Zabar

Fasilitator

: Umi Khalistirah

Notulen

: Sinta

H. SETTING TEMPAT
1

: peserta penyuluhan

: Moderator dan Timer

: Penyaji

: Fasilitator

: Dokumentator dan Observer

: Notulen

I. EVALUASI
Kriteria evaluasi:
1.

Evaluasi Struktur
a.

Persiapan Media
Media yang digunakan dalam penyuluhan semua lengkap dan dapat digunakan
dalam penyuluhan yaitu :
4

1) LCD + LAPTOP
2) Leaflet
b. Persiapan Materi
Materi disiapkan dalam bentuk power point dan leaflet dengan ringkas, menarik,
lengkap mudah di mengerti oleh peserta penyuluhan.
c. Persiapan Peserta
Penyuluhan mengenai TBC diberikan kepada seluruh keluarga Tn.A yang telah
diinformasikan sebelum dilaksanakan penyuluhan.
2. Evaluasi Proses
a. Proses penyuluhan dapat berlangsung dengan lancar dan peserta penyuluhan
memahami materi penyuluhan yang diberikan.
b. Peserta penyuluhan memperhatikan materi yang diberikan.
c. Selama proses penyuluhan terjadi interaksi antara penyuluh dengan sasaran.
d. Kehadiran peserta diharapkan 80% dan tidak ada peserta yang meninggalkan
tempat penyuluhan selama kegiatan berlangsung.

3. Evaluasi Hasil
a. Evaluasi struktur
Pengorganisasian dari moderator, penyaji, fasilitator, dan observer dapat
menjalankan tugas sesuai kewajibannya masing - masing.
b. Evaluasi proses
Peserta mampu mengikuti jalannya penyuluhan dengan baik dan penuh antusias.
c. Evaluasi hasil
Audien dapat mengerti dengan materi yang telah disampaikan dan dapat melakukan
menjawab pertanyaan penyaji dengan benar tanpa melihat leaflet.
Prosedur

: Post tes

Jenis Tes

: Pertanyaan lisan

Alat evaluasi

1) Sebutkan pengertian TBC ?


2) Sebutkan penyebab TBC ?
3) Sebutkan tanda dan gejala TBC ?
4) Sebutkan cara penularan TBC ?
5

5) Sebutkan cara pencegahan TBC ?


6) Sebutkan pengobatan TBC ?

REFERENSI
http://www.medicastore.com/tbc/%20http://update.tbcindonesia.or.id/index.php
www.tbcindonesia.or.id
Smeltzer,suzanne C. Buku ajar keperawatan medikal-bedah brunner&suddarth, Ed.8,
jakarta

:EGC,2001

Widiyanto, Sentot. 2009. Mengenal 10 Penyakit Mematikan. Yogyakarta: PT Pustaka


Insan Madani
Zulkifli Amin, Asril Bahar, 2006. Tuberkulosis Paru, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam,
Jakarta: UI
.

LAMPIRAN MATERI
A. Apakah pengertian TBC itu ?
TBC atau dikenal juga dengan Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh basil
tahan asam disingkat BTA, nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit
ini pada umumnya menyerang paru-paru, namun terkadang juga dapat menyerang
organ lain seperti ginjal, tulang, limpa, dan otak.
Tuberculosis merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Angka
mortalitas dan morbiditasnya terus meningkat, TB sangat erat kaitannya dengan
kemiskinan, malnutrisi, tempat kumuh, perumahan dibawah standart, dan perawatan
kesehatan yang tidak adekuat.
B. Penyebab TBC
Seperti yang telah dijelaskan di atas, Tuberculosis disebabkan oleh Basil Tahan
Asam, Mycobacterium tuberculosis. Di dalam jaringan tubuh, bakteri Mycobacterium
tuberculosis berada dalam keadaan dormant, yaitu tidak aktif atau tertidur dalam
waktu beberapa tahun. Mycobacterium tuberculosis akan mati dengan cepat jika
terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam bila
berada di tempat yang gelap dan lembab.
C. Apa saja tanda dan gejala penyakit TBC Paru
1. Batuk berdahak 2-3 minggu atau lebih
7

2. Demam tanpa sebab lebih dari 1 bulan


3. Keringat malam tanpa kegiatan
4. Penurunan berat badan dan kurang nafsu makan
5. Perasaan tidak enak dan badan terasa lemah
6. Sesak napas dan nteri dada
7. Pernah batuk bercampur bercak darah
D.

Apa yang harus dilakukan bila ada tanda dan gejala penyakit TBC Paru
tersebut
1. Segera periksa ke puskesmas / RS
2. Lakukan pemeriksaan dahak untuk memastikan adanya kuman TBC didalam tubuh
3. Pemeriksaan foto rontgen dada

E. Bagaimana cara penularannya


Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis, Kuman disebarkan kepada orang lain melalui batuk,
bersin, meludah disembarang tempat dari orang yang menderita penyakit TBC, Kuman
tersebut masuk ke dalam tubuh manusia melalui udara pernafasan ke dalam paru,
Penyakit TBC dapat menyerang pada siapa saja tak terkecuali pria, wanita, tua, muda,
kaya dan miskin serta dimana saja.
Individu yang beresiko tinggi untuk tertular tuberculosis adalah:
1. Mereka yang kontak dekat dengan seseorang yang mempunyai TB aktif
2. Pengguna obat-obatan IV dan alkoholoik
3. Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya (mis:
diabetes,gagal ginjal kronis, silikosis, penyimpangan gizi )
4. Imigran dari negara dengan insiden TB yang tinggi (asia tenggara, afrika,amerika
latin)
5. Individu yang tinggal didaerah perumahan kumuh
6. Resiko untuk tertular tuberculosis juga tergantung pada banyaknya organisme yang
terdapat di udara.
F. Bagaimana cara mencegah penularan penyakit TBC Paru
1. Untuk Penderita TBC Paru
a. Minum obat secara teratur sampai selesai.
b. Menutup mulut waktu bersin atau batuk.
c. Tidak meludah di sembarang tempat.
8

d. Meludah di tempat yang kena sinar matahari atau di tempat yang diisi sabun
atau karbol
e. Makan makanan yang bergizi
f. Berhenti merokok, minum alkohol, narkoba dan sering begadang
2. Untuk keluarga
a. Jemur tempat tidur bekas penderita secara teratur,
b. Buka jendela lebar-lebar agar udara segar & sinar matahari dapat masuk,
karena kuman TBC akan mati bila terkena sinar matahari
c. Vaksin BCG untuk bayi baru lahir.
G. Apa obat TBC Paru
1. ISONIAZID
2. RIFAMPICIN
3. PYRAZINAMIDE
4. ETHAMBUTOL
5. STREPTOMYCIN
cara minumnya
1. Tahap Intensif
a.

Selama 2 bulan

b.

Obat diminum setiap hari

c.

Obat

diminum

sebelum

pagi

makan/saat

hari,
perut

kosong
2. Tahap Lanjutan

H.

a.

Selama 4 bulan

b.

Obat diminum 3 x seminggu

c.

Obat diminum pagi hari, sebelum makan/saat perut kosong

Apakah penyakit TBC Paru dapat disembuhkan


Penyakit TBC DAPAT disembuhkan, bila berobat dengan teratur dan benar sampai
tuntas selama 6-8 bulan.
Kapan penderita TBC dinyatakan sembuh
Setelah minum obat secara teratur dan benar, akan dilakukan pemeriksaan ulang dahak
pada akhir bulan ke 2,5 dan 6 pengobatan
Bila hasilnya kuman TBC sudah negatif atau hasil rontgen paru baik, maka penderita
dinyatakan SEMBUH
9

Oleh karena itu, setiap orang yang mempunyai gejala TBC dilingkungannya (keluarga,
teman, rekan kerja) harus memeriksakan dirinya ke puskesmas/RS untuk menghindari
penularan.

10