Anda di halaman 1dari 3

REVIEW :

IDEALISM
Nama : Rausanfiker Robby Maulana
NIM : 14010414120024 / HI-A

Setiap orang menginginkan terciptanya perdamaian dan menghindari


peperangan. Meski terdapat perdebatan dalam studi hubungan internasional dalam
menjawab Bagaimana menciptakan perdamaian dan menghindari perang?.
Seorang idealis memandang, bahwa kita dapat mencapai hal tersebut dengan
sebuah gerakan dari unit kecil ke unit yang lebih besar. Dari tingkat individu, ke
tingkat negara sampai tingkat internasional yang membentuk masyarakat
internasional.
Kegley berpendapat pandangan dunia idealis dapat diringkas dalam inti
berikut prinsip:
1. Sifat manusia pada dasarnya adalah "baik" atau altruistik.
2. Keprihatinan manusia yang mendasar bagi kesejahteraan orang lain
memungkinkan terciptanya kemajuan.
3. Perilaku manusia yang buruk adalah produk bukan dari orang-orang
buruk, tetapi lembaga yang buruk.
4. Perang tidak bisa dielakkan dan frekuensinya dapat dikurangi dengan
memberantas kondisi anarkis yang mendorong hal itu.
5. Perang

dan

ketidakadilan

adalah

masalah

internasional

yang

membutuhkan upaya kolektif atau multilateral, bukan upaya nasional.


6. Masyarakat internasional harus membenahi diri secara kelembagaan untuk
menghilangkan anarki yang membuat masalah seperti perang mungkin.
(Kegley, 1995: 4)

Keenam prinsip tersebut menggambarkan sebuah pergerakan dari tingkat


individu hingga tingkat internasional. Kegley percaya bahwa jika masyarakat
internasional terorganisir dengan baik, tentu akan menghilangkan anarki yang
memungkinkan terjadinya perang. Lalu mengapa perilaku negara-negara berdaulat
lebih kooperatif di era pasca Perang Dingin? Kegley menyimpulkan bahwa tidak
ada pemerintahan dunia (gerakan masyarakat internasional atau organisasi
internasional) di era Perang Dingin dan adanya pemerintahan dunia di era pasca
Perang Dingin. Perubahan perilaku negara-negara berdaulat dari konfliktual
menjadi kooperatif mengikuti perubahan dalam pemerintahan dunia atau
organisasi internasional. Dan masyarakat internasional pula menjadi ruang
perkembangan moral.
Kaum idealis meyakini bentuk organisasi pemerintahan yang terbaik
adalah demokrasi. Sebab dalam demokrasi rakyat dimungkinkan lebih ekspresif
dan bebas. Jika setiap individu adalah baik, maka hal ini dapat memberikan
pengaruh positif dalam tatanan masyarakat dan membentuk good state yang
bermuara terciptanya kolektifitas tatanan masyarakat internasional. Hal ini dapat
membuat terciptanya kerjasama internasional sebagai bentuk koordinasi upaya
moral masyarakat.
Idealisme lebih menekankan pada etik, moral, legal, dan institusional yang
percaya bahwa ketertiban internasional tidak dapat terjadi dengan sendirinya,
melainkan harus dikonstruksi. Idealisme juga menekankan apa yang seharusnya,
bukan apa yang sesungguhnya terjadi. Kaum idealis berpendapat bahwa
perdamaian dapat diciptakan melalui prinsip collective security di mana organisasi
internasional menjadi representative of security. Kaum idealis menyarankan agar
negara mengurangi tingkat persenjataannya hingga level yang paling rendah dan
menyandarkan keamanannya pada collective security. Collective security adalah
prinsip di mana ketika suatu negara diserang oleh negara lain, negara-negara lain
yang tergabung dalam organisasi internasional akan membantu negara yang
diserang tersebut.

Asumsi dasar idealisme :


1. Semua manusia (bangsa) menginginkan perdamaian. Watak dasar manusia
adalah ingin hidup dalam suasana damai, karena itu hubungan antar
bangsa pada perinsipnya dikembangkan untuk menciptakan kedamaian.

2. Perang adalah dosa dan terjadi karena ketidak sengajaan. Negara-negara


memiliki kedaulatan sendiri-sendiri, dan untuk memelihara kedaulatan itu
diperlukan kekuatan-kekuatan terutama militer. Kemunculan militer ini
telah memancing suasana tegang dan salah sangka diantara negara-negara
tersebut satu sama lain, sehingga tidak terelakkan terjebak dalam perang.

3. Harus ada pemerintahan dunia yang dapat mengendalikan kekuatankekuatan yang menyebar dalam sistem dunia.Pemerintah dunia ini harus
diberi kewenangan untuk mengendalikan kekuatan-kekuatan dari berbagai
negara sehingga dapat mencegah terjadinya salah sangka yang dapat
memicu perlombaan senjata dan perang. Gagasan ini menghasilkan
pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (LBB)

DAFTAR PUSTAKA
Saeri, M. Jurnal Transnasional, Vol. 3, No. 2, Februari 2012. Teori
Hubungan Internasional Sebuah Pendekatan Paradigmatik.
Weber, Cynthia, 2005, Realism dalam International Relations Theory: A
Critical Introduction (2nd). New York : Routledge.