Anda di halaman 1dari 11

Kelompok 3

Eka Puspitasari
Saepullah Abdul Zabar
Syara Gina Qalbiyah
Yulianti

(121320128)
(121320142)
(121320144)
(121320147)

MODEL ADAPTASI ROY


Suster Callista Roy pertama kali menerbitkan konseptual adaptasinya pada tahun
1970-an dan telah secara kontinu memperbaiki dan mengembangkan lebih jauh modelnya
pada publikasi-publikasi berikutnya (Roy, 1980, 1981, 1984). Model Roy didasarkan pada
teori sistem umum seperti yang diterapkan pada individu dan pandangan Helson tentang
adaptasi seperti yang berkaitan dengan stimulus fokal, kontekstual, dan residual.
Fokus model Rongers adalah serangkaian proses ketika seseorang beradaptasi dengan
stresor lingkungan. Setiap orang merupakan sistem kesatuan biopsikososial dalam interaksi
konstan dengan lingkungan yang terus berubah. Jika tuntutan stimuli lingkungan terlalu besar
atau mekanisme adaptip individu terlalu rendah, maka respons perilaku orang tersebut tidak
efektif untuk mengatasi stresor.
Roy (1984) memandang orang sebagai sistem adaptip yag berfungsi sebagai keutuhan
melalui interdependensi dari bagian-bagiannya. Sistem terdiri atas input, prosees
pengendalian, output, dan umpan balik. Input adalah stimuli dari lingkungan eksternal dan
diri internal, termasuk informasi (stimuli) dari mekanisme kognator dan regulator. Proses
pengendalian mencakup baik mekanisme koping biologis maupun spikologis, serta reponsrespons kognator dan reulator. Output adalah respons perilaku adaptif dan tidak efektif dari
seseorang. Umpan balik adalah informasi mengenai respons perilaku yang ditunjukkan
dengan input dalam sistem.
Setiap orang dipengaruhi oleh stresor disebut stimulus. Stimulus fokal adalah suatu
perubahan yang secara langsung dihadapi oleh orang tersebut, hal ini membutuhkan suatu
respons adaptif. Stimulus kontekstual adalah (semua stimulus lain yang ada pada orang atau
lingkungan) dan stimulus residual (keyakinan, sikap, atau sifat yang mempengruhi situasi
individu saat ini) memediasi dan membantu efek stimulus fokal/stresor dan menentukan
tingkat stres atau adaptasi.
Kemampuan masing-masing individu terhadap stimullus yang terus berubah
ditentukan oleh tingkat adaptasi individu, yang merupakan titik yang terus berubah secara
konstan yang ditentukan oleh efek kolektif dari stimulus fokal, kontekstual, dan residual yang

dapat ditoleransi pada suatu waktu tertentu. Roy menguraikan dua proses internal dasar yang
digunakan dalam adaptasi, yaitu sistem regulator dan sistem kognator. Subsistem regulator
menerima dan memproses stimulus yang terus berubah dari lingkungan eksternal dan diriinternal melalui saluran neural-kimia-endokrin. Proses ini menghasilkan reaksi-reaksi
otomatis dan di bawah sadar pada organ-organ atau jaringan target, yang keudian
mempengaruhi respons tubuh yang berfungsi sebaga umpan balik (stimulus tambaan) untuk
input. Subsistem kognatoe menerima berbgai stimulus internal dan eksternal yang mencakup
faktor-faktor psikologis dan sosial. faktor-faktor psikologis dan sosial, yang mencakup
respons-respons tubuh dari sistem juga termasuk. Stimulus yang terus berubah ini
diproses/dikendalikan melalui berbagai jaras kognitif/emotif, yang mencakup pemrosesan
persepsi/informasi, pembelajaran, penilaian, dan emosi.
Subsistem regulator dan kognator menghasilkan respons perilaku dalam empat model
efektor yaitu fisiologis, konsep diri, fungsi, dan interdependensi. Respons perilaku seseorang
yang dalam empat model ini menentukan apakah adaptasi merupakan respons yang efektif
atau tidak efektif terhadap stimulus. Respons-respons daptif meningkatkan itegritas individu
dengan menghemat energi dan meningkatkan kebertahanan, pertumbuhan, reprosuksi, dan
penguasaan sistem manusia.
Kesehatan didefinisikan sebagai suatu keadaan atau proses akan dan menjadi orang
yang terintegrasi dan utuh (Roy, 1984:39). Melalui adaptasi energi individu dibebaskan dari
upaya-upaya koping tidak efektif dan dapat digunakan untuk meningkatkan integritas,
penyembuhan, dan menngkatkan kesehatan. Integritas menunjukkan hal-hal yang masuk akal
yang mengarah pada kesempurnaan atau keutuhan.

Keyakinan Roy
Keperawatan: Peningkatan adaptasi klien dalam empat model guna meningkatkan kesehatan
dengan menggunakan proses keperawatan.
Klien: individu, kelompok, atau komunitas dengan mekanisme koping yang tidak efektif atau
stres yang tidak lazim.
Kesehatan: status atau proses akan dan menjadi individu yang terintegritas dan utuh.
Lingkungan: semua kondisi, keadaan dan mempengaruhi lingkungan sekitar dn
mempengaruhi perkembangan dan perilaku seseorang atau kelompok, setiap situasi yang
terkait kesehatan disebutkan sebagai tempat.

Keperawatan dianggap sebagai ilmu dan praktik yang meningkatkan adaptasi dan
individu dapat berfungsi secara holistik melalui aplikasi proses keperawatan untuk
mempengaruhi kesehatan secara positif. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan respons
adaptif individu dengan mengurangi energi yang diperlukan untuk mengatasi situasi tertentu
sehingga tersedia lebih banyak energi untuk manusia lainnya. Keperawatan meningkatkan
adaptasi dalam empat model, yang berperan pada kesehatan, kualitas hidup, dan meninggal
denan tenang.
Model proses keperawatan Roy mempunyai dua tingkat pengkajian. Pada pengkajian
tingkat pertama, perawat mengkaji perilku individu yang adaptif dan tidak efektif pada
masing-masing model dari keempat model. Model fisiologis mencakup oksigensi, nutrisi,
eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, penginderaan, cairan dan elektrolit, dan
fungsi neurologis dan endokrin.
Terdapat tiga model adaptif psikososial: konsep diri, fungsi peran, dan
interdependensi. Model konsep diri terdiri atas perasaan dan keyakinan individu pada waktu
tertentu yang mempengaruhi prilaku. Model ini termsuk integritas psikis, diri-fisik, diripersonal, konsistensi diri, ideal/harapan diri, diri moral-etika-spiritual, pembelajaran, konsep
diri internal, dan harga diri. Model ketiga, fungsi peran mencakup peran, posisi, performa
peran, penguasaan peran, integritas sosial, peran primer, peran sekunder, peran tarsier dan
perilaku instrumental dn ekspresif.
Interpendensi,

model

keempat,

membahas

kemampuan

untuk

mencintai,

menghormati, dan saling menilai orang lain dan berespons terhadap orang lain dengan caracara ini. Model ini mencakup kecukupan efeksi, kasih sayan, orang terdekat, sistem
pendukung, perilaku reseptif, dan perilaku yang menunjang.
Masing-masing dari keempat model ini mempunyai masalah-masalah khusus
tersendiri yang dapat diidentifikasi. Setelh mengkaji perilaku-perilaku adaptif dan tidak
efektif pada masig-masing model, perawat beralih ke pengkajian tingkat kedua dengan
menentukan stimulus fokal, kontekstual, dan residual yang membantu setiap perilaku yang
tidak efektif atau perilaku adaptif yang membutuhkan penguatan. Stimulus fokal adalah
stimulus langsug dihadapi oleh individu. Stimulus kontekstual adalah semua stimulus laiinya
yang terdapat di dalam individu atau dari lingkungan. Stiulus residual adalah keyakinan,
sikap, atau sifat-sifat yang mempunyai efek pada situasi individu saat ini.
Diagnosa keperawatan, yang didapatkan dari kedua tingkat pengkajian, adalah
pernyataan tentang perilaku dan stimulus yang tidak efektif atau membutuhkan penguatan.
Tujuan keperawatan adalah pengidentifikasian hasil-hasil perilaku adptif yang secara bersama

disetujui oleh individu dan oleh perawat. Intervensi keperawatan guna mencapai tujuan
bertujuan mengelola stimulus fokal, kontekstual, dan residual dengan menyingkirkan,
meningkatkan, mengurangi, atau mengubah stimulus ini sehingga stimulus tersebut berada
dalam tingkat adaptasi individu. Evaluasi adalah pengkajian kembali pencpaian tujuan dari
perilaku adaptif.
Lingkungan didefinisikan sebagai stimulus internal dan eksternal, yang meliputi
stimulus fokal, konstekstual, dan residual, yang secara bersamaan membentuk tingkat
adaptif individu atau zona kemampuan kopin. Stimulus lingkungan mencakup semua
kondisi, keadaan, dan pengaruh yang ada di sekitar dan yang mempengaruhi perkembangan
dan perilaku induvidu atau kelompok. Tahap perkembangan individu, keluarga, dan budaya
adalah stimulus signifikan yang mempengaruhi adaptasi semua manusia.
Model Roy memandan individu sebagai suatu sistem adaptif yang berespons terhadap
stimulus lingkungan dan eksternal dalam empat model adaptif, sebut saja, fisiologis, konsep
diri, fungsi peran, dan interpendensi. Tingkat adaptasi individu ditentukan oleh intensitas dan
keberagaman stimulus fokal, kontekstual, dan residual. Keperawatan meningkatkan
kemmpuan adaptasi individu drngan memanipulasi stimulus lingkungan untuk mengurangi
respons-respons tidak efektif atau menguatkan perilaku adaptif. Model Roy mencakup faktorfaktor biopsikososial dan cukup luas digunakan dengan individu dalam semua komponen
proses keperawatan. Model ini adalah alat yang sangat baik untuk mengkaji dan menganalisis
pola-pola kesehatan klien dan untuk mengidentifikasi diagnosis keperawatan. Jika strategi
implementasi keperawatan diarahkan pada pengubahan stimulus fokal, kontekstual, dan
residual, maka Model Roy dapat berfungsi sebagai pendekatan teoritis yang sangat berguna.
Teori adaptasi Suster Callista Roy (Roy, 1980, 1989, Roy dan Obloy 1979) melihat klien
sebagai suatu sistem adaptasi. Menurut model Roy, tujuan keperawatan adalah membantu
individu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan psikologis, konsep diri, aturan-aturan
yang berlaku, dan hubungan bebas pada waktu sehat dan sakit (Tomey dan Alligood, 2006).
Kebutuhan pelayanan keperawatan timbul pada saat klien tidak dapat beradaptasi dengan
tekanan lingkungan internal dan eksternal. Semua individu harus beradaptasi dengan tekanan
dla hal berikut ini.
1. Memenuhi kebutuhan dasar psikologis.
2. Mengembangkan konsep diri yang positif.
3. Melaksanakan peraturan-peraturan sosial.
4. Mencapai keseimbangan antara kebebasan dan keterikatan.

Perawat menjelaskan tentang apa yan menyebabkan masalah buat klien dan menilai
bagaimana sebaiknya klien beradaptasi dengan semua itu. Perawat mebantu klian beradaptasi.
Sebagai contoh, klien yang kehilangan banyak darah pascaoperasi dan saat ini kadar
hematokritnya rendah memerlukan intervensi keperawatan untuk membantu dalam mengatasi
masalah tersebut. Perawat membuat intervensi selama masa istirahat.

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT KOMUNITAS

ADVOCATE
Dukungan klien saat ini mungkin lebih penting dalam praktik berbasis komunitas karena
kebingungan seputar jalan masuk ke fasilitas pelayanan kesehatan. Klien anda sering
memerlukan seseorang untuk membantu mereka menjalani system, mengetahui di mana
mendapatkan fasilitas, bagaimana mencapai individu dengan kepemilikan yang sesuai,
fasilitas yang diperlukan, dan bagaimana mengikuti melalui informasi yang mereka terima.
Dalam lingkungan komunitas, anda sering menjadi seseorang yang menunjukan pendapat
klien untuk mendapatkan sumber daya yang sesuai. Penting untuk memberikan informasi
yang penting kepada klien untuk membuat keputusan dalam memilih dan menggunakan
fasilitas yang sesuai. Selain itu, perlu juga bagi anda untuk mendukung atau menolak
keputusan klien.
Menurut Foss & Foss et al. (1980); Toulmin, (1981), advokasi adalah upaya persuasive
yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi, dan rekomendasi tindak
lanjut mengenai sesuatu (Hadi Pratomo dalam Notoatmodjo, 2005).
Advokasi adalah usaha memengaruhi kebijakan public melalui bermacam-macam bentuk
komunikasi persuasif (johns Hopkins school for public health). WHO (1989) seperti dikutip
UNFPA dan BKKBN (2002), mengungkapkan bahwa, advocacy is a combination on
individual and social action design to gain political commitment, policy support, social
acceptance and systems support for particular health goal or programme.
Advokasi kesehatan adalah advokasi yang dilakukan untuk memperoleh komitmen atau
dukungan dalam bidang kesehatan, atau yang mendukung penggembangan lingkungan dan
prilaku sehat (Depkes, 2007).

Gambar 1
Tujuan advokasi

Adanya
pemahaman/kesadaran
Adanya komitmen dan dukungan upaya
kesehatan:
Adanya kemauan/permintaan

Kebijakan
Tenaga
Dana

Adanya
kemauan/kepedulian

Sarana
Adanya
tindakan/kegiatan
nyata

Adanya Kemudahan
tindaklanjut
kegiatan Keikutsertaan, dll

(Sumber: Depkes, 2007)


Peran Perawat Sebagai Client Advocate
Sebagai adkovat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, memberla kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim
kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi sekaligus
mengharuskan perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap
pengembalian keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam
menjalankan peran sebagai advocate (pembela klien) perawat harus dapat melindungi dan
memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan. Perawat advokasi juga
bertanggung jawab untuk:
1. Bertanggung jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi
dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan
untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan
kepadanya.
2. Mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit
dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat
adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan klien, sehingga diharapkan
perawat harus mampu membela hak-hak klien.

Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak klien. Pembelaan termasuk
didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi
dan melindungi hak-hak klien.
Hak-Hak Klien antara lain :
1. Hak atas informasi yang benar; pasien berhak memperoleh informasi mengenai tata tertib
dan peraturan yang berlaku di rumah sakit / sarana pelayanan kesehatan tempat klien
menjalani perawatan. Hak mendapatkan informasi yang meliputi hal-hal berikut:
a. Penyakit yang dideritanya.
b. Tindakan medic apa yang hendak dilakukan.
c. Kemungkinan pemnyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya.
d. Perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang diderita.
2. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3. Hak untuk memperoleh pelayananan keperawatan dan asuhan yang mutu sesuai dengan
standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi.
4. Hak menyetujui/memberikan izin persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh
perawat/tindakan medic sehubungan dengan penyakit yang dideritanya (informed
consent)
5. Hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan mengakhiri
pengobatan serta perawatan atas tanggungjawab sesudah memperoleh informasi yang
jelas tentang penyakitnya.
6. Hak didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.
7. Hak menjalankan ibadah sesuai agama/kepercayaan yang dianutnya selama hal itu tidak
mengganggu pasien lain.
8. Hak atas keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan dirumah sakit.
9. Hak mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan rumah sakit terhadap dirinya.
10. Hak menerima atau menolak bimbingan moral atau spiritual.
11. Hak di damping perawat keluarga pada saat diperiksa dokter.
12. Hak untuk memilih dokter, perawat atau rumahsakit dan kelas perawatan sesuai dengan
keinginannya dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit atau sarana
pelayanan kesehatan.
13. Hak atas rahasia medik atau hak atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita
termasuk data-data medisnya.

14. Hak meminta konsultasi kepada dokter lain yang terdaftar di rumah sakit tersebut (second
opinion), terhadap penyakit yang dideritanya dengan sepengetahuan dokter yang
menangani.
15. Hak untuk mengetahui isi rekam medik.
16. Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.
Hak-Hak Tenaga Kesehatan antara lain :
1. Hak untuk bekerja sesuai standart
2. Hak untuk mengakhiri hubungan dengan klien
3. Hak untuk menolak tindakan yang kurang cocok
4. Hak atas rahasia pribadi
5. Hak atas balas jasa
ROLE MODEL
Peran perawat sebagai role model adalah segala perilaku yang ditampilkan perawat
semestinya dapat dijadikan panutan, panutan ini digunakan pada semua tingkat pencegahan
terutama perilaku hidup bersih dan sehat, menampilkan profesionalisme dalam bekerja.
Perawat komunitas harus dapat memberikan contoh yang baik dalam bidang kesehatan
kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang bagaimana cara hidup sehat
agar dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat.
Sebuah panutan adalah seseorang yang secara sadar atau tidak sadar menunjukkan
perilaku yang nantinya akan ditiru oleh oranglain. Perawat komunitas menjadi panutan bagi
berbagai jenis orang yang mereka temui. Melalui perilaku mereka sendiri, perawat
mempengaruhi perilaku orang lain. Misalnya, kemampuan perawat komunitas untuk
menangani krisis tanpa panik memberikan panduan bagi klien untuk melakukan hal yang
sama.
Peran poerawat komunitas sebagai role model tidak terbatas hanya untuk mempengaruhi
kesehatan - perilaku yang berhubungan dengan klien. Perawat juga berfungsi sebagai panutan
bagi para perawat professional dan tenaga kesehatan lainnya. Cara perawat komunitas
memperlakukan klien, jenis kegiatan yang melibatkan perawat, dan tingkat kompetensi yang
ditampilkan dapat mempengaruhi semua orang, pengaruh ini dapat bersifat positif atau
negatif.

DAFTAR PUSTAKA
Kusnanto. (2004). Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.
Effendy, Nasrul. (2004). Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.
Heri D. J. Maulana. (2009). Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.

Jo Clark, Mary. (2003). Community Health Nursing: Caring for Populations. New Jersey:
Prentice Hall.
Christeen, Paula J. (2009). Proses keperawatan : aplikasi model konseptual. Ed.4. jakarta :
EGC.