Anda di halaman 1dari 31

TB PARU

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1993 dari WHO mengunkap penyakit disebabkan oleh rendahnya angka
kesembuhan penderita yang berdampak pada tingginya penularan. Penyakit ini kembali menjadi
perhatian dengan adanya fenomena ledakan kasus HIV/AIDS dan kejadian MDR (Muti Drags
Rasistance). Penyakit tuberkulosis paru merupakan bentuk yang paling banyak dan paling
penting. (Widoyo 2008,h : 13)
TB masih meningkat saat ini meskipun banyak meyakini bahwa ini merupakan masalah
pada waktu lampau. Meskipun sering terlihat sebagai penyakit paru. TB dapat mengenai selain
paru (1960) dan mempengaruhi organ jaringan lain. Insiden lebih tinggi pada laki-laki,bukan
kulit putih da lahir di negara asing selain itu orang pada resiko paling tinggi termasuk yang
dapatterpanjang pada basilus pada waktu lalu dan tidak mampu atau mempunyai kekebalan
rendah karena kndisi kronis. Kebnyakan pasien diobati sebavian pasien rawat jalan, tetapi dapat
di rumah sakit selama evaluasi diagnostik/awal pengobatan. Reaksi merugikan dari obat atau
penyakit atau ketidakmampuan berat. (Doenges2000,h:240)
Pada permulaan abad 19 insidensi penyakit tuberculosis dieropa dan amerika serikat
sangat besar. Angka kematian berkisar 15-30% dari semua kematian. Diantara orang yang
meningga tercatat orang-orang terkenal seperti : voltaire, sir water-scott, loenec, dan lain-lain.
Usaha-usaha untuk mengurangi angka kematian dilakukan seperti menghirup udara segar di alam
terbuka, makan minum makanan bergizi, memberi obat-obatan. Tetapi hasinya kurang
memuaskan, tahun 1840 George Bandingto dari sutton inggris mengemukakan konsep
sanatorium untuk pengobatan TB tetapi ia tidak mendapatkan tanggapan pada waktu itu. Baru
pada tahun 1859 brehmen di silesiejerman mendirikan sanatorium dan berhasil menyembuhkan
sebagian pasiennya. Sejak itu banyak sanatorium didirikan seperti di Denmark, Amerika Serikat
dan kemudian terbanyak di inggris yakni di wales. (Aru W.Sudoyo2006,h:989).
1.2 Ruang lingkup
Dalam penulisan kasus ini penulis akan mengmbil kasus yaitu : Asuhn Keperawatan pada
Ny.B dengan gangguan sistem pernapasan TB paru di ruang RW III di rumah sakit PTPN
Bangkatan Kota Binjai.

1.3 Tujuan penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk menerapkan dan mengetahui ganbaran Asuhan Keperawatan pada Ny.B dengan
gangguan sistem pernapasan TB paru di ruang RW III di rumah sakit PTPN Bangkatan Kota
Binjai.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Dapat melaksanakan pengkajian pada Ny.B dengan gangguan sistem pernapasan TB paru di
ruang RW II di Rumah Sakit PTPN Bangkatan Kota Binjai.
b. Dapat menegakkan diagnos keperawatan pada Ny.B dengan gangguan sistem pernapasan TB
c.

paru di ruang RW II di Rumah Sakit PTPN Bangkatan Kota Binjai.


Mampu menyusu perencanaan keperawatan pada Ny.B dengan gangguan sistem pernapasan TB

paru di ruang RW II di Rumah Sakit PTPN Bangkatan Kota Binjai.


d. Mampu melaksanaan pelaksanaan keperawatan pada Ny.B dengan gangguan sistem pernapasan
e.

TB paru di ruang RW II di Rumah Sakit PTPN Bangkatan Kota Binjai.


Mampu melaksanakan evaluasi pasien dengan gangguan sistem pernapasan TB paru di ruang
RW II di Rumah Sakit PTPN Bangkatan Kota Binjai.
1.4 Metode penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam penulisan karya ilmiah ini adalah metode kognitif
yaitu metode ilmiah yang bersifat menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan metode
deskriptif yang memaparkan pokok masalah, yaitu dengan cara :

a.

Studi kepustakaan
yaitu dengan membaca dan mempelajari buku-buku yang mengacu dan berhubungan
dengan pembahasan yang dibahas pada tuberkulosis paru.

b. Studi kasus
Yaitu

dengan

mengadakan

pengamatan

langsung

atau

melaksanakan Asuhan

Keperawatan langsung pada pasien melalui wawancara observasi langsung dan dokumetasi.
-

Wawancara
Yaitu melaksanakan wawancara langsung pada pasien maupun pada keluarga pasien dan
juga perawatan yang ada di ruangan tersebut untuk memperoleh keterangan yang jelas, baik
subjektif maupun objektif.

Observasi

Yaitu melakukan pengamanan langsung terhadappasien pengamatan ini untuk mencari


perubahan atau hal-hal yang akan diteliti.
-

Dokumentasi
Yaitu penulis memperoleh data dari status pasien dan medical record.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Tuberkulosis pru (TB paru)
2.1.1 defenisi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru yang
disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh
lain seperti ginjal, tulang dan nodus limfe (Soematri 2008,h:59)
Sedangkan menurut Arif Mansjoer, 2001 adalah :
Tuberkulosis adalah penyakit ifeksi menular disebbkan oleh bateri mycobacterium
Tuberculosis dengan gejala yang bervariasi. (Arief mansjoer 2001,h : 472)
Tubeculosis adalah penyakit menular disebabkan oleh bakteri mycobacterium
Tuberculosis. Suatu basil aerobik tahan asam yang ditularkan melalui udara (air bane). Pada
hampir semua kasus infeksi tuberkulosis paru didapt melalui inhalasi partikel kuman yang sangat
kecil. (Asih 2004,h:82)

Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang dapat menyerang organ atau
jaringan tubuh tuberkulosis paru merupakan bentuk yang paling banyak dan paling penting.
(Widoyon 2008,h:13)
TB paru merupakan penyakit radang paru-paru (16%) dan mempengaruhi organ dan
jaringan lain. Insiden lebih tinggi terjadi pada laki-laki. Selain itu, orang pada resiko paling
tinggi terpanjang paa basilus pada waktu lalu dan tidak mampu atau mempunyai kekebalan
rendahkarena kondisi kronis, seperti AIDA, kanker, usia lanjut, mal nutrisi dan sebagainya.
Kebanyakan pasien diobati dengan rawat jalan, tetapi dapat dirawat di rumah sakit selama
evaluasi diagnostik/awal pengobatan. (Doenges 2000, h : 248)
2.1.2 anatomi fisiologi
a. Anatomi

Paru-paru merupakan alat pernapasan utama pada manusia, paru-paru mengisi dada.
Terletak di sebelah kanandan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah
besarnya dan struktur dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastium. Paru-paru adalah
organ berbentuk kerucut dengan aspeks (puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tinggi dari
pada klavikula di dalam dasar leher.pangkal paru-paru duduk di atas landai rongga toraks, diatas
diafragma. (Evelyn C. Pearce 2009,h: 261)
Paru-paru adalah sebuah organ tubuh sebagian besar terdiri dari gelembung (gelembung
aveolid) gelembung luas permukaannya 90m2 pada lapisan ini terjadi pertukaran udara O 2
memasuki ke dalam darah CO 2 dikeluarkan dari darah banyaknya gelombang paru-paru ini
700.000 buah paru-paru kiri dan kanan.

Paru-paru dibagi dua, paru-paru kanan terdiri dari 3 lobus yaitu :


-

Lobus pulma dekstra superior

Lobus median

Lobus inferior
Paru-paru kiri terdiri dari :

Pulma sinistra obus superior

Lobus inferior
Kapasitas paru-paru pada manusia yaitu merupakan kesanggupan paru-paru dalam
menampung udara di dalamnya.
Kapasitas paru-paru dibedakan sebaai berikut :

1. Kapasits total
Yaitu jumlah udara yang dapat mengisis paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya.
2. Kapasitas vital
Yaitu jumlah udara yang dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal.
Dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak 5 liter
waktu ekspirasi di dalam paru-paru tertinggal 3 liter. Pada waktu kita bernafas udara yang masuk
ke paru-paru tertingga 3 liter. Pad waktu kita bernafas udara yang masuk ke paru-paru 2.600 cm 3
(2 liter ). (Syaifuddin 2006,h:197-198).
b. Fisiologi
oksigen dalam tubuh dapat diatur menurut keperluan. Manusia sangat membutuhkan
oksigen dalam hidupnya. Kalau tidak mendapatkan oksigen selama 4 menit akan mengakibatka
kerusakan pada otak yang tidak dapat diperbaiki dan bisa menimbulkan kacau pikiran dan
anoksia storebralis. Misalnya orang bekerja pada ruangan yang sempit, tertutup, ruang kapal,
ketel uap, dan lain-lain. Bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang
berganti kebiru-biruan misalnya yang terjadi pada bibir, telinga, lengan dan kaki (disebut
sianosis). (Syaiuddin 2006,h : 199).
2.1.3

Pato fisiologi
Infeksi primer pertama kali klien terinfeksi oleh tuberkulosis disebut sebagai infeksi
primer dan biasanya terdapat pada aspek paru atau dekat pengukur pada lobus bawah. Infeksi
primer mungkin hanya berukuran mikro kapis dan karenanya tidak tampak pada foto ronsen.
Tampak nfeksi primer dapat mengalami proses degenerisasi nekrotik (perkejuan), tatapi bisa saja

tidak. Yang menyebabkan pembentukkan rongga yang berisi massa basil tuberkel seperti
keju.sel-sel darah putih yang mati dan jaringan paru nekrotik pada waktunya. Material ini
mencari dan dapat mengalir ke dalam percabangan trakhea bronkia dan dibatuka. Rongga yang
terisi udara tetap ada dan mungkin terdeteksi ketika dilakukan ronsen dada.
Sebagian besar tuberke primer sembuh dengan periode bulanan dengan membentuk
jaringan perut dan pada akhirnya terbentuk lesi pengapuran yang juga dikenal dengan tuberkel
ghonisi ini dapat mengandung basil hidup yang dapat aktif kembali. Meski telah bertahun-tahun
dan menyebabkan tubuh mengalami reaksi alergi terhadap basil tuberkel dan proteinnya.
Respon imun seluler ini tampak dalam bentuk sensitisan sel-sel T dan terdeteksi oleh
reaksi positif pada tes kulit tuberkulin. Perkembangan sensivitas tuberkulin ini terjadi pada
semua sel-sel tubuh 2-6 minggu setelah infeksi primer. Dan akan dipertahankan selama basil
hidup berada dalam tubuh. Imunitas didapat ini biasanya menghambat pertumbuhan basil lebih
lanjut dan terjadinya ineksi aktif.
Faktor yang tampaknya akan mempunyai peran dalam perkembangan TB menjadi
penyakit aktif termasuk : usia lanjut, imunopresi, infeksi HIV, mal nutrisi, alkoholisme dan
peyalahgunaan obat. Jika adanya malignasisi dan predis posisi genetik.
Infeksi sekunder selain penyakit primer yang progresif. Infeksi ulang juga mengarah pada
bentuk klinis TB aktif. Tempat primer bertahun-tahun dan kemudian teraktifkan kembali jika
daya tahan tubuh klien menurun. Penting artinya untuk mengkaji kembali secara periodik klien
yang telah mengalami infeksi TB untuk mengetahui adanya penyakit aktif. (Asih, h: 82)
2.1.4

etiologi
penyebab penyakit tuberkulosis adalah bakteri mycrobacterium tuberculosis dan
mycrobacterium boxis. Kuman tersebut mempunyai ukuran 0,5-4 mikron x 0,3-0,6 mikron
dengan bentuk benang tipis lurus atau agak bengkok beraranular atau tidak mempunyai selubung
tetapi mempunyai lapisan luar tebal terdiri dari lipoid (terutama asam mikrolat). Bakteri ini
mempunyai sifat istimewa yaitu bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan alkohol.
Sehingga sering disebut basil tahan asam (BTA) serta tahan terhadap zat kimia dan fisik. Kuman
tuberkulosis juga tahan dalam keadaan kering dan dingin bersifat dorman aerob.
Bakteri tuberkulosis ini mati pada pemanasan 100o C selama 30 menit. Dan dengan
alkohol 70-95% selama 15-30 detik, bakteri ini tahan selama 1-2 jam di udara terutama di tempat
lembab dan gelap(bisa bertahan) namun tidak tahan terhadap sinar atau aliran di udara. Data

tahun 1993 melaporkan bahwa untuk mendapatkan 90% udara bersih dari kontaminasi bakteri
memerlukan 40 x pertukaran udara perjam (widoyono 2008,h : 13)
2.1.5

Pemeriksaan diagnostik
Deteksi dan diagnosis TB dicapai dengan tes objektif dan temuan pengkajian subjektif.
Perawat tenaga kerja kesehatan lainnya harus tetap mempertahankan indeks kecurigaan yang
tinggi terhadap TB bagi kelompok yang berisiko tinggi. Infeksi TB primer sering tidak dikenai
karena biasanya infeksi ini asim otomatis.
Pemeriksaan diagnostik berikut biasanya dilakukan untuk menegakkan infesi TB.
Kultur sputum

: positif untuk M. Tuberkulosis pada tahap aktif penyakit

Zient-Neelsen

: (pewarnaan tahap asam) positi untuk bail tahap asam

Teskulit mantaoux (PDD,OT) : reaksi signifikan pada individu yang sehat biasanya menunjukkan
TB

doman

Ronsen data

: Menunjukkan infiltrasi kecil lesidini pada bidang atas paru ,

deposit

kalsium dari lesi primer yang telah menyembu

Biopsi jaringan paru

: positif untuk aranuloma TB adanya sel-sel raksasa menunjukkan


nekrosis

ungsi pulma

: penurunan kapasitas vital, peningkatan ruang rugi, peningkatan rasio udara

residual

teradap kapasitas paru total


(Asih 2004,h : 83)
2.1.6

mengidentifiksi klinis
untuk mengetahui tentang penderita tuberkulosis (TB) dengan baik harus dikenali tanda
dan gejalanya. Seseorang ditetapkan sebagai tersangka penderita tuberkulosis paru apabila
ditemukan gejala klinis utama (cardinam symptom) pada dirinya.
Gejala utama pada penerita TBC adalah :

batuk berdahak lebi dari tiga minggu


batuk berdarah
sesak napas
nyeri dada
gejala lainnya adalah berkeringat pada malam hari, demam tidak tinggi/meriang dan
penurunan berat badan. Dengan strategi yang baru (DOTS, Directly Observasi Trakment
Shorkcourse), gejala utamanya adalah batuk berdahak secara terus menerus selama 3 minggu

atau lebih. Berdasarkan keluhan tersebut seseorang sudah mengidap penyakit TB paru.
(widoyono 2008,h : 16)
2.1.7

komplikasi
penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi dini dan komplikasi lanjut.

Komplikasi dini
Yaitu : pleuritis, efusi pleura, emplema, laringihs usus, poncers arthoapay.

Komplikasi lanjut
Yaitu : obstruksi jalan napas soft (Sindrom obstruksi pasca tuberkulosis) kerusakan
parenkim berat sapt/fibrosis paru, kor pulmunol, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal

2.1.8

Penatalaksanaan
Klien dengan diagnosa TB aktif biasanya mulai diberikan medikasi untuk memastikan
bahwa organisme yang resisten telah disingkirkan dosis dari berbagai obat mungkin cukup besar
karena beasil sulit untuk dibuuh. (Asih 2004, h: 84)
Pada klien TBC obat yang diberikan yaitu :

I.

Obat ANH TB (OAT)


OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat dengan atau
tanpa obat ketiga.
Tujuan pemberian obat OAT antara lain :

Membuat konferensi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan
bakterisid.

Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.
Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan tubuh
(immunologi gejala dan seli melalui perbaikan daya tahan tubuh (imunlogi).
Maka pengobatan TBC dapat dilakukan melalui 2 fase yaitu :

a.

Fase awal insentif, dengan kegiatan bakteresid untuk memusnahkan populasi kuman yang
membelah cepat .

b. Fase lanjutan melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek .
Penilaian keberhasilan pengobatan dapat dilihat dari hasil pemeriksaan radiologi dan klinis TB
paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA (-) . (arif mansjoer,;473)

2.2

asuhan keperawatan
asuhan keperawatan adalah asuhan keperawatan yang diberikan perawat kepada pasien yang
tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, baik berupa bio.pisiko,sosial, dan spritual. (Hidayat
A Aziz Alimul 2000,h:1)
2.2.2 pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dalam proses keperawatan dan merupakan proses yang
sistematis dan mengumpulkan data dari berbagai sumber dana untuk megidentifikasi dan
mengevaluasi status kesehatan pasien . ( Hidayat A. Aziz Alimu 2000 h : 25 )
Hal hal yang perlu di kaji dala TB paru adalah :

a.

aktivitas / istirahat
gejala : kelelahan umum dan kelelahan nafas pendek karena kerja. Kesulitan tidur pada
malam hari atau demam malam hari berkeringat dan mimpi buruk.
Tanda : taktikardi, takipnea/dispnea pada kerja, kelelahan otot dan sesak.

b. Integritas ego
Gejala : adanya faktor stres lama, masalah keuangan rumah, persaan tak berdaya/tak ada
harapan
Tanda : menyangkal (khususnya tahap dini) disenitas , ketakutan dan mudah terangsang
c.

Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, tidak dapat mencerna dan penurunan berat badan
Tanda : tugor kulit buruk, kering/kulit bersisik, kehilangan otot/hilang lemak subkutan.

d. Nyeri/keamanan
Gejala : nyeri dada meningkat karena batk berulang.
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi gelisah
e.

Pernafasan
Gejala : batuk produktif atau tak produktif, napas pendek riwaayat tuberkulosis terpajan pada
individu terinfeksi
Tanda : peningkatan frekuensi pernapasn (penyakit luas atau fibrosi parenkim paru dan
pleural)

f.

Keamanan
Gejala : adanya penekanan imun dan daya tahan tubuhmenurun.
Tanda : demam rendah atau sakit panas akut

g. Interaksi sosial
Gejala : perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular perubahan pola biasa dalam
tanggung jawb/perubahan kapasitaas fisik dalam melakukan perannya
h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat keluarga TB paru ketidakmampuan umum/status kesehatan buruk gagal
untuk membaik/kambuhnya TB tidak berpariasi dalam terapi.
i.

Pemeriksaan Diagnostik
Kultur

sputum

(+)

untuk

mycobacterium

tuberculosis

pada

tahap

aktif

penyakit.

(Daengoes,2000:h240-241)
2.2.2 diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adala suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari
individu atau kelompok di mana perawat secara akuntabilitas dapat megientifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan. (Hidayat A.Azzis Alimul :
2009:h92)
a.

Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tak adekuat kerusakan
jaringan tambahan infeksi ditandai denga kurangnya pengetahuan untuk menghindari pemajaan

phatogen.
b. Bersihkan jalan napas tak efektif berhubungan dengan secret darah, kelemahan dan upaya batuk
c.

buruk, ditandai dengan frekwensipernapasan udara ke dalam tidak normal.


Resiko tinggi kerusakan pertkaran berhubungan dengan tidak dapat diterapkan adanya tanda-

tanda dan gejala membuat diagnosa actual.


d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemaan sering btuk
produksi sputum dispea,ditandai dengan berat badan di bawah 10-20% ideal untuk bentuk tubuh
dan berat.
e. Kurang pengetahuan mengenai kndisi aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan
2.2.3

permintaan informasi menunjukkan kesalahan konsep status kesehatan.


intervensi
intervensi adalah perencanaan strategi design untuk mencegah, mengurangi, mengoreksi
masalah-masalah yang telah diidentifikasi maupu yang belum dilaksanakan pada diagnosa
keperawatan. (idayat A.Aziz Alimul 2009,h:106)
diagnosa I
mandiri

kaji patologi penyakit (aktif fase aktif diseminasi infeksi melalui bronkus untuk membatasi
jaringan atau melalui aliran darah sistem limpatik.

Identifikasi orang lain yan berisiko.

Anjurkan pasie untuk batuk dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah.

Kaji tindakan kontrol infeksi sementara

Awasi suhu sesuai indikasi

Identifikasi fktor resiko individu terhadappengangkutan berulang tuberkulosis

Tekanan penting tidak menghentikan terapi obat

Kaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang secara priodik terhadap sputum lama diterapi.

Dorong untukmemilih makanan seimbang beri makanan sedikit tapi sering


Kolaborasi

Berikan agen anti infeksi sesuai indikasi :igoniazid (inti)


Rasionalisasi

Membantu pasien menyadari penerimaan perlunya memenuhi program untuk mncegah


pengaktifan penyakit Tbatau komplikas.
Diagnosa II
Mandiri

Kaji fungsi pernapasan seperti bunyi napas, keceptan, irama

Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa batuk efektif

Berikan pasien posisi semi fowler tinggi

Pertahankan masukan cairan


Kolaborasi

Lembabkan udara/oksigen inspirasi

Beri obat-obatan sesuai indikai seperti : asetilsistein okstrifilin, kortikosteroid.


Rasionalisasi

penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis menunjukkan akumulasi secret


ketidakmampuan pengeluaran sulit bila secret sangat tebal.
Diagnosa III
Mandiri

kaji dispnea, takipnea, tak normal . menurunnya bunyi napas peningkatan upaya pernapasan

evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sianosis dan perubahan pada warna kulit

tunjukkan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi.

Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas


Kolaborasi

Awasi seri GDA/nadi oksimetri

Berikan oksigen tambahan yang sesuai


Rasinalisasi

TB paru menyebabkan efek luaspada paru dari bagian kecil bronkopneumoniasampai implamasi
difus luas.
Diagnosa IV
Mandiri

Catat status nutrisi asien pada penerimaan. Catat tugor kulit

Pastikan pola diet pasien

Awasi masukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik

Selidiki anoreksia, mua dan muntah dan catat kemungkinan komplikasi obat

Dorong dan berikan periode istahat sering

Berikan perawatan mulut sesudah dan sebelum tindakan pernapasan

Dorong makanan sedikit tapi sering


Kolaborasi

Rujuk ke ahli diet ntuk menentkan komposisi diet

Konsul dengan terapi pernapasan untuk jadwal pengobatan 1-2 jam sebelum makan

Awasi pemeriksaan lnoratorium


Rasionalisasi

Membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan pasien dan pertimbangan lingkungan individu


dapat memperbaiki pemasukan diet menurunkan rasa nyeri karena sisa sputum, kemudian
memberikan pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah dan mual. Memberikan
bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
Diagnosa V
Mandiri

Kaji kemampuan pasien belajar. Contoh tingkat takut, masalah

Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawat

Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi

Berikan intruksi dan informsi tertulis khusus pada pasien

Jelaskan dosis obat, frekwensi pemberian kerja yang diharapkan dan alasan.

Kaji potensial efek amping pengobatan

Tekankan kebutuhan untuk tidak minum alkohol

Rujuk untuk pemeriksaan mata

Dorong pasien/orang terdekat untuk menyatakan masalah

Evaluasi kerja pada pengecoran logam

Dorong untuk tidak merokok

Kaji bagaimana TB ditularkan


Rasionalisasi

Belajar agar tidak bergantung pada emosi dan kekerasan fisik

Memenuhi kebutuhan metabolik membentu mengurangi kelemahan tubuh

Mencegah dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan therapy dalam tahap pengobatan

2.2.4

implementasi
implementasi adalah pelaksanaan dari rencana yang telah dibuat sebelumnya untuk
mencapai tujuan fisik (Hidayat A. Aziz Alimul,2009.h:101)
Diagnosa I

mengkaji patologi (aktif/fase tak aktif : diseminisasi infeksi mealui bronkus)

mngidentifikasi orang lain yang berisiko

menganjurkan pasien untuk batuk/bersin

mengkaji tindakan kontrl infeksi sementara.contoh masker

mengawasi suhu sesuai indikasi

mengidentifikasi faktor resiko individu terhadap pengaktifan berulang tuberkulosis

menekankan pentingnya tidak menghentikan terai obat

mengkaji pentingnya mengikuti dan kultur ulang

memberikan makanan seimbang

memberikan agen anti infeksi indikasi


Diagnosa II

mengkaji fungsi pernapasan

mencatat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif

memberikan pasien posisi semifowler tinggi

membersihkan secret dari mulut trakea

memperthankan masukan cairan sedikitnya 2500ml/hari

melembabkan udara/oksigen inspirasi

memberikan obat sesuai indikasi


agen mukolitik . contoh : asetilsistein
bronkodilator. Contoh :okstrifillin
Diagnosa III

mengkaji dispnea, takipnea, tak normal/menurunnya bunyi napas

mengevaluasi perubahan pada tingkat kesdaran

menunjukkan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi

meningkatkan tirahh baring/batasi aktivitas

mengawasi seri GDA/nadi oksimetri

memberikan oksigen tambahan yang sesuai


Diagnosa IV

mencatatat status nutrisi pasien pada penerimaan

memastikan pola diet biasa pasien

mengawasi masukan/pengeluran da berat badan

menyelidiki anoreksia, mual dan muntah yang dialami pasien

mendorong dan memberi eriode istrahat sering

memberikan perawatan mulut

memberikan makanan sedikit tapi sering

mengkolaborasikan dengan dokter masalah terapi pernapasan

mengawasi pemeriksaan laboratorium

memberikan antipiretik
Diagnosa V

mengkaji kemampuan pasien untuk belajar

mengidentifikasi gejala yang timbul pada asien

menekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi

memberikan instruksi dan informasi untuk rujukan

memperjelas dosis obat dan frekuensi pemberian

mengkaji potensial efek samping pengobatan

menekankan pasien agar tidak minum alkohol

merujuk untuk pemberian mata

mendorong pasien utuk menceritakan masalahnya

mengevaluasi kerja pada pengecoran logam

mendrong pasien untuk tidak merokok

mengkaji bagaiman TB ditularkan.

2.2.5

evaluasi
evaluasi adalah tindakan elektual untuk meengkapi proses keperawata yang menandakan
keberhasilan dari proses keperawatan sebelumnya. (Hidayat A.Aziz Alimul.2009,h :12)
Diagnosa I

mengidentifikasi intervensi untuk mencegah resiko penyebab infeksi

menunjukkan teknik/melakukan perubahan pola hidu untuk meningkatkan lingkungan yang


nyaman.
Diagnosa II

memertahankan jalan napas pasien

mengeluarkan secret tanpa bantuan

memperbaiki dan mempertahankan jalan napas

berprtisipasi dalam program pengobatan

mengidentifikasipotensial komplikasi
Diagnosa III

melaporkan tidak adanya penurunan dispnea

menunjukkan perbaikan renytasi dan oksigenisasi jaringan adekuat ada dalam rentang normal

bebas dari gejala distress pernapasan


Diagnosa IV

menunjukkan bert badan meningkat, mencapai tujuan dengan nilai laboratorium norma dan
bebas tanda mal nutrisi

melakukan prilaku perubahan pola hidup meningkatkan mempertahankan bera badan yang tepat
Diagnosa V

menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan


melakukan perilaku/perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan
menurunkan resiko pengaktifan ulang TB

mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi/intervensi


mengambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adekuat.
BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Biodata
3.1.1identitas pasien
Nama

: Ny.N

Jenis kelamin

: perempuan

Status perkawinan

: sudah menikah

Agama

: islam

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: IRT

Alamat

: jln. Kuala gumit binjai

Tangga masuk RS

: 17-09-2012

No.register

:-

Ruangan/kamar

: sakura (RW III)

Golongan darah

:O

Tanggal pengkajian

: 19-09-2012

Tanggal operasi

:-

Dianosa medis

: tuberkulosis paru

3.1.2 penaggung jawab


Nama

: Tn.M

Hubungan dengan pasien

: Suami

Pekerjaan

: wiraswasta

Alamat

: Jln.kuala gumit binjai

Umur

: 34 tahun

3.2 keluhan utama

Pasien mengatakan badan lemah, nafsu makan brkurang. Batuk diserti sputum (+) da
sesak pada dada kemudian pasien mengalami suli tidur malam hari karena batuk terus menerus.
3.2 Riwayat kesehtan sekarang
Penyebab penyakit pasien karena kurang istrahat. Hal-hal yang bisa memperbaiki pasien
konsultasi ke dokter lalu dibawa ke rumah sakit dan minum obat . pasien merasa sakit pada
bagian dadanya. Pasien nampak lemas dan jalan napas tidak eektif dan aktivitas pasien terganggu
karena batuk nyeri pada bagian dada dikarenakan terjadinya penyemitan jalan napas. Penyakit ini
dapat menyebar aabila pasien batuk.
3.4 Riwayat kesehatan masa lalu
Penyakit yang pernah dialami Ny.B biasa seperti batuk dan flu pasien tidak pernah
dirawat atau diperasi di rumah sakit. Selama pasien sakit pasien hanya minum obat-obatan
warung seperti paramex dan procold.
3.5 Riwayat kesehatan keluarga
Menurut keterangan dari keluarga pasien tidak mempunyai penyakit keturunan . keluarga
pasien tidak ada yang meninggal karena penyait keturunan.

Genogram :

Keterangan :
: laki-laki

: perempuan

:pasien

:meninggal
: tinggal satu rumah

3.6 Riwayat kesehatan sekarang


Pasin dalam berkomunikasi menggunakan bahasa indonesia. Persepsi pasien tentang
penyakitnya sangat optimis bahwa penyakitnya dapat sembuh dan postur tubuh pasien kurus.
Kadaan emosi pasien stabil. Terapi pasien takut dengn lawan bicaranya karena takut dan malu.
Hubugan pasien dengan keluarga baik pasien selalu berdoa kepaa Allah SWT.
3.7 pemeriksaan fisik
A. keaaan umum

penampilan

: kurang baik

kesadaran

: pasien dalam keadaan sadar

B. Tanda-tanda vital

temp : 36,10C

TD

: 110/70 mmHg

TB

: 158 cm

RR

: 36 x/i

Pols

: 82 x/i

BB

: 46 kg

C. Pemeriksaan kepala dan leher

Kepala dan rambut


Bentuk kepala oval, rambut ikal tidak mudah rontok, rambut hitam tidak berketombe

Mata
Ketajaman penglihatan pasien baik tidak menggunakan alat bantu kaca mata. Pasien
dapat membaca dengan jarak 30 cm tidakada luterus. Upil baik, cornea dan visus normal

Hidung
Tidak ada polip dan peradangan pada rongga hidung

Telinga
Tidak ada perbedaan pada telinga pasien, bentuk ukuran dan lubang normal.

Mulut dan faring


Keadaan bibir kering dan pecah-pecah ludah , gusi dan gigi pasien norma

Leher
Pada trakhea tidak ada peradangan dan tidak ada pembengkakkan pada kelenjar limfe
normal, dan pols 82 x/i
D. pemeriksaan integument
Kebersihan pasien terjaga kehangatan tubuh asien normal 36,10C. Warna kulit
kuninglangsat. Pada turgor pasien elastis dan tidak ada kelainan dn peradangan pada kulit.
E. pemeriksaan payudara dan ketiak

Payudara pasien normal,warna payudara dan aerola baik, dan tidak ada peradangan pada
payudara puting.
F. Pemeriksaan thoraks /dada
Inspeksi thoraks
Bentuk thoraks simestris pasien kesulitan bernafas karena sesak pada dada dan irama
tanci basah RR: 36x/i

Pemeriksaan paru
Pada pmeriksan tidak ada di jumpai kelainan dan auskultasinya tansi basah.

Pemeriksaan jantung
Pada pemeriksaan jantung dijumpai inpeksi dan pulsasai terihat normal.

Auskultasi
Bunyi jantung 1dan 2 normal dan begitu jga dengan bunyi jantung tambahan dan mrumur normal
G. pemeriksaan abdomen

Inspeksi
bentuk abdomen oval dan tidak terdapat benjolan. Bayangan pembuluh darah normal.

Palpasi
Nyeri pada bagian diafragma. Tidak ada benjolan dan pada hepar tidak teraba oleh palpasi

Perkusi
Pada perkusi ini suara abdomen terdengar kembung.
3.8 pengkajian pola fungsional

Pola istirahat dan tidur


Sebelum masuk rumah sakit tidur siang 2-3 jam tidur malam 3-4 jam. Hal-hal yang
membuat pasien susah tidur di karenakan pasien selalu batuk pada malam hari sputum (+). Dan
pasien selalu minum obat dan berposisi semi fowler agar dapat tidur. Sesudah masuk rumah sakit
tidur malam 3-4 jam dan tidur siang 1-2 jam. Pasien susah tidur karena batuk dan lingkungan
yang kurang nyaman.

Pola eliminasi
Sebelum masuk rumah sakit BAB normal dan bauk khas tidak ada kelainan. Konsistensi
lunak berwarna kuning kecoklatan sesudah masuk rumah sakit. BAB 1 kali sehari, bau khas dan

tidak ada kelainan konsitensi lunak warna kuning kecoklatan sebelum masuk rumah sakit BAK
normal 4 kali sehari. Warna kuning dan tidak ada kelainan sesudah masuk rumah sakit BAK 2
kali sehari warna kuning tua dan tidak ada kelainan.

Pola nutrisi dan metabolisme


Sebelum masuk rumah sakit pola nutrisi dan metabolisme pasien minum 6-8 gelas dalam
sehari. Sesudah masuk rumah sakit pasien minum 4 gelas. Pola makan pasien 31 sehari dan
pasien kesulitan mengunyah dan menelan di karenakan pasien terpasang oksigen dan pola nafas
tidak lancar.jadi porsi yang disajikan hanya habis porsi.

Pola bernapas
Pola napas tidak efektif peningkatan frekuensi pernapasan (fibrosis parenkim paru dan
pleural) pengembangan pernapasan tidak simetris

Pola mempertahankan tubuh


Pasien tampak sulit bernapas dan mengatakan panas. Pakaia yang digunakan pasien
pakaian tipis yang tidak panas dan tidak berkeringat

Kebutuhan spritual
Terkadang pasien beribadah dan berdoa agar penyakitnya dapat disembuhkan.

Kebutuhan berpakaian
Pasien selalu menggunakan pakaian tipis dan sering digunakan setia waktu

Kebutuhan rasa aman dan nyaman


Pasien merasa aman bila ada di dekat keluarganya dan pasien merasa nyaman bila
keadaan ruangan bersih da menang.

Kebutuhan kerja
Sebelum masuk rumah sakit pasien dapat melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga
sesudah di rumah sakit pasien hanya bisa badrest di tempat tidur sambi nonton TV disela-sela
waktunya.
3.9 Data penunjang
Diagnosa medis penyakit ini adalah TB paru yaitu peradangan paru-paru yang disebabkan
oleh paru-paru yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis :
Pemeriksaan diagnosis
Laboratorium :

Hasilrongsen : - trakea media


: - bercak infiltrat pada sebelah kanan dan sebelah kiri
: - cr 50
Normal
Hb

: 12,3 gr/dl

LK : 12-16 Pr : 10-15 anak2 : 12-15,5

Leukosit

: 9800 mm

D : 4000-10000 anak : 5000-12000

Laju endap darah: 53mm/rl

LK : 0-10 Pr : 10-20

Trombosit

150000-450000

: 205000/rl

Eritrosit

: 449 juta

Glukosa

: (-)

Terapi :

Isoniazid (INH/H) 3x1

Ethombutol hydrochloride (EMB/E) 3x1

Rimfompisin (RP/R) 3x1

Pyrazinomide (PZA/Z) 3x1

LK : 4-5,5 Pr : 3,5-5,5

3.10 Analisa data


No
1

DATA
ETIOLOGI
DS : pasien mengatakan sesak pada Peningkatan sputum
dadanya

MASALAH
Jalan napas tidak efektif

DO : pasien tampak sesak, lemas, sputum


(+)

batuk(+)

TD : 110/80 mmHg
2

RR : 36 x/i
DS : pasien mengatakan tidak selera Anoreksia

Perubahan nutrisi kurang

makan

dari kebutuhan tubuh

DO : pasien tampak lemas porsi yang


3

tersedia habis bagian


DS : pasien mengatakan tidak bisa tidur

Perubahan suasana di Gangguan pola istrahat

DO : mata cekung, pucat tidur siang 1-2 RS


4

jam tidur malam 3-4 jam


DS : pasien mengatakan nyeri pada dada

Penyempitan

Do : pasien tampak pucat dan selalu napas

jalan Gangguan rasa nyaman


nyeri

memegang dadanya
RR : 36 x/i
Pols : 82 x/i

3.2.11 Prioritas masalah


1.

Jalan napas tidak efektif b/d peningkatan sputum d/d pasien mengatakan sesak pada dadanya

pasien tampak sesak, lemas, sputum (+, batuk(+)TD : 110/80 mmHg,RR : 36 x/i
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d aoreksia d/d pasien mengatakan tidak selera
makan, pasien tampak lemas porsi yang tersedia habis bagian
3. Gangguan kebutuhan istrahat tidur b/d perubahan suasana di RS d/d pasien mengataan tidak bisa
4.

tidur, mata cekung, pucat tidur siang 1-2 jam tidur malam 3-4 jam
Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penyempitan jalan napas d/d pasien mengatakan nyeri pada
dadanya, pasien tampak pucat dan selalu memegang dadanya RR : 36 x/i,Pols : 82 x/i

No

DATA

DS

DIAGNOSA

: pasien Jalan

TUJUAN

PERENCANAAN
INTERVENSI
RASIONALISASI

napas Jaan napas -Bersihkan jalan napas


tidak efektif tidak efektif -Atur posisi yang
mengatakan
nyaman
b/d
-Anjurkan
pasien
sesak
pada
peningkatan
batuk efektif
-Beri
air
minum
dadanya
sputum
d/d
hangat secukupnya
pasien
DO : pasien
-Kolaborasi
dengan
mengatakan
dokter
tampak sesak,
sesak
pada

-Dengan

lemas,

lagi

sputum dadanya

(+)
batuk(+)
TD

RR : 36 x/i

jalan

napas pasien dapat


bernapas

dengan

tenang
-Dengan mengatur
posisi pasien agar
pasien tidak sesak

pasien

-Dengan

tampak sesak,

mnganjurkan pasien

lemas,

batuk efekti agar

110/80 sputum

mmHg

memberikan

(+,

sputum

dapat

batuk(+)TD :

dikeluarkan

110/80

-Dengan

mmHg,

memberikan

RR : 36 x/i

minum
dapat

air
hangat

mengurangi

batuk sputum
-Dengan
berkolaborasi
dengan dokter dapat
membantu diagnosa
pasien

IMPL

-membe
napas
-Menga
pasien
seperti
-Menga
pasien b
- mem
minum
pasien
gelas pe
-Berkol
dengan
pember
Inj :
500/m
Ranitid

DS

pasien Perubahan

mengatakan
tidak

nutrisi kurang

selera

-Sajikan makanan -Dengan

nutrisi

dalam

terpenuhi

hangat

dari

makan
DO

Kebutuhan

yang

porsi

dalam makana

keadaan hangat maka keadaan

tubuh

bervariasi/bergizi
-Beri

b/d

tersedia
aoreksia

habis bagian

keadaan makanan

-berikan makanan selera makan pasien -Memb

: tampak kebutuhan

lemas

menyajikan -Menya

d/d

pasien
mengatakan

ada

makana

makanan -Dengan memberikan bervaria

sedikit tapi sering

makanan

bervariasi -Memb

-Beri

pasien merasa pasien makana

manfaattetang

merasa

manfaat makanan

untuk makan

tidak

bosan sering s

-Memb

-Dengan memberikan penjela


tidak

selera

makanan sedikit tapi manfaa

makan, pasien

sering

maka

pasien akan terpenuhi

tampak lemas

-dengan
porsi

yang

memberikan

penjelasan

tersedia habis

pasien

makanan

untuk
DS : pasien Gangguan

Pola

-Batasi

mengatakan

istrahat

berkunjung

pasien

-Batasi

terpenuhi

pengunjung

tidak

kebutuhan

bisa
istrahat tidur b/d

tidur
DO

: perubahan

cekung,
pucat

tidur

siang

1-2

jam
malam

d/d

pasien

tidur mengataan tidak


3-4

bisa tidur, mata

jam

penyembuhan
jam -Dengan membatasi jam -Me

berkunjung pasien pasien berk


jumlah dapat

istrahat

tenang

pucat

dengan -Me

jum

membatasi peng

nyaman

jumlah pengunjung agar -me

-Ciptakan

istrahat

lingkungan
nyaman

pasien

yang terganggu
-dengan

tidak posi

nyam

memberikan posi

-Bersihkan/ rapikan posisi yang nyaman dapat -Me


tempat tidur

cekung,

membantu

-Beri posisi yang -Dengan

suasana di RS

maka
mengetahui

manfaat

bagian

nutrisi

memicu

tidur

pasien ling

tidur siang 1-2

nyaman
-Dengan

jam tidur malam

nyam

menciptakan -Me

lingkungan yang nyaman, temp


3-4 jam

DS

pasien Gangguan

mengatakan
nyeri

Rasa
rasa nyaman hilang

pada nyeri

dadanya
DO

pasien dapat tidur nyenyak

b/d

nyeri -Kaji

skala -Dengan mengkaji skala -Me

nyeri

nyeri pasien agar kita skal

-Beri

posisi mengetahui tingkat nyeri -Me

penyempitan

yang nyaman

jalan

napas

-beri minum air -Denga

pasien

hangat

pasien d/d

pasien

pucat mengatakan

mengurangi

dan

selalu nyeri

pasien

memegang

dadanya,

memberikan nyam

posisi yang nyaman dapat posi

tampak

pada

posi

-Dengan

rasa

nyeri fow

-Me
memberi

air puti

dadanya RR : pasien

hangat jalan napas pasien

36 x/i,Pols : 82 tampak pucat

menjadi hangat

x/i

dan

selalu

memegang
dadanya RR :
36 x/i,Pols :
82 x/i

BABA IV
PEMBAHASAN
Pada bab pembahasan ini akan diuraikan mengenai kesenjangan kesenjangan yang
penulis jumpai antara tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus yang penulis lakukan dalam
menerapkan Asuhan keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem pernapasan TB Paru di
ruang RW III di rumah sakit PTPN Bangkatan kota Binjai. Selanjutnya penulis akan
memaparkan dukungan-dukungan maupun maupun hambatan dalam melakukan asuhan
keperawatan yang meliputi pengkajian diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
4.1 Pengkajian
Tahap pengkajian dalam proses keperawatan merupakan langkah awal yang dilaksanakan
daam pengumpulan data. Dalam taap ini penulis melakukan pendekatan untuk memperoleh data
mengenai keadaan pasien melalui hasil observasi, wawancara baik dengan pasien maupun
keluarga dan catatan medik juga tim kesehatan lainnya.
Selama tahap pengkajian ini penulis tidak megalamikesulitan, karena pasien mau bekerja
sama selama penulis melakukan pengkajian, sehingga dapat diperoleh kemudahan dan
kelancaran dalam pengumpulan data.
4.2 Diagnosa keperawatan
Berdasarkan tinjauan kepustakaan yang ada pada diagnosa keperawatan dengan
gangguan sistem pernapasan TB paru maka ditemukan 5 diagnosa keperawan.
Menurut tinjauan teori yang dijumpai pada kasus TB paru ini adalah :
1. Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d pertahanan primer tak adekuat kerusakan jaringan tambahan
infeksi d/d kurangnya pengetahuan untuk menghindari pemajaan phatogen.
2.

Bersihkan jaan napas tak efektif b/d secret darah kelemahan tubuh dan upaya uapaya batuk
buruk d/d frekuensi frekuensi pernapasan udara ke dalam tidak normal.

3. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b/d tidak dapat ditetapkan adanya tanda-tanda dan gejala
membuat diagnosa aktual
4.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kelemahan sering batuk produksi sputum
dispnea d/d berat badan di bawah 10-20 % ideal untuk bentuk tubuh dan berat.

5.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan b/d permintaan
informasi menunjukkan kesalahan konsep kesehatan
Sedangkan diagnosa yang penulis temukan pada tinjauan kasus adalah :

1.

Jalan napas tidak efektif b/d peningkatan sputum d/d pasien mengatakan sesak pada dadanya

pasien tampak sesak, lemas, sputum (+, batuk(+)TD : 110/80 mmHg,RR : 36 x/i
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d aoreksia d/d pasien mengatakan tidak selera
makan, pasien tampak lemas porsi yang tersedia habis bagian
3. Gangguan kebutuhan istrahat tidur b/d perubahan suasana di RS d/d pasien mengataan tidak bisa
tidur, mata cekung, pucat tidur siang 1-2 jam tidur malam 3-4 jam
4. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penyempitan jalan napas d/d pasien mengatakan nyeri pada
dadanya, pasien tampak pucat dan selalu memegang dadanya RR : 36 x/i,Pols : 82 x/i
Dari iagnosa di atas ditemukan perubahan antara diagnosa yang ada di teori tetapi tidak ada
ditemukan pada kasus :

1. Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d pertahanan primer tak adekuat kerusakan jaringan tambahan
infeksi d/d kurangnya pengetahuan untuk menghindari pemajaan phatogen. Hal ini tidak terdapat
pada kasus karena pasien tidak mengalami gangguan resiko tinggi terjadinya infeksi.
2. Resiko tinggi kerusakan pertukaran gas b/d tidak dapat ditetapkan adanya tanda-tanda dan gejala
membuat diagnosa aktual. Hal ini tidak terdapat pada kasus karena pasien cepat mendapatkn
perawatan dan pengobatan.
3.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi aturan tindakan dan pencegahan b/d permintaan
informasi menunjukkan kesalahan konsep kesehatan. Hal ini tidak terdapat pada kasus karena
pasien mengtahui tentang penyakitnya
Sedangkan diagnosa yang ditemukan pada asus tetapi tidak ditemukan pada teori :

1. Gangguan kebutuhan istrahat tidur b/d perubahan suasana di RS d/d pasien mengataan tidak bisa
tidur, mata cekung, pucat tidur siang 1-2 jam tidur malam 3-4 jam. Hal ini ditemukan pada kasus
karena istrahat pasien terganggu , tampak mata pasien terlihat cekung dan pucat
2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d penyempitan jalan napas d/d pasien mengatakan nyeri pada
dadanya, pasien tampak pucat dan selalu memegang dadanya RR : 36 x/i,Pols : 82 x/i. Hal ini
ditemukan pada kasus karena istrahat pasien merasakan nyeri dengan skala nyeri 3.
4.3 Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini penulis membuat suatu rencana asuhan keerawtn dengan
menentukan tujuan tindakan dann evaluasi. Pada tahap ini enulis secara secara umum tidak
menemukan hambatan dan kesulitan yang berarti.sebaliknya banyak faktor yng membantu
seperti adanya kerja sama yang baik antara tim kesehatandan respon positif dari pasien dan
keluarga pasien serta fasilitas yang tersedia di Rumah Sakit.
4.4 Pelaksanaan
Pada dasarnya dalm tahap pelaksanaan penulis tetap mengaku pada tindakan perencanaan
keperawatan yang disesuaikan dengan kondisi. Sitasi dan kebutuhan pasien serta fasilitas yang
ada di rumah sakit. Pada tahap ini penulis tidak menemukan kesulitan dan hambatan karena
semua rencana tindkan yang telah disusun dapat dilakukan sesuai dengan perencanan.
4.5 Evaluasi
Tahap evalusi merupakan tahap proses terakhir dan tidak ditemukan hambatan dan
kesulitan karena hasil yang diinginkan dapat dilihat dengan jelas. Pada tahap ini dapat dari hasil
pengamatan pasien dan mendapat respn psien terhadap tindakan keperawatn yang diberikan
kepada pasien dan keluarganya. Penulis memberikan asuhan keperawatan pada pasien sert
dukungan dan kerjasama dari tim medis lainnya.

BABV
KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah pasien menguraikan tentang proses keperawatan pada umumnya. Adapun


kesimpulan yang diambilpenulis adalah sebagai berikut :
5.1 Kesimpulan
1. Tuberkulosis adalah peradangan paru-paru yang disebabkan oleh masuknya benda asing ke dlam
paru-paru yang disebabkan oleh masuknya benda asing ke dalam paruparu seperti
mucobacterium tuberkulosis, sehingga menimbulkan rasa sesak dan batuk serta nyeri pada dada.
2. Pemberian asuhan keperawatan pada pasien akan terlaksana dengan baiak bila ada kerja sama
yang baik serta dorongan dari semua pihak terkait, baik dari tim meds, perawat yang bertugs di
ruangan dan keluarga pasien.
3. Dalam perencanaan harus sesuai dengan tujuan mengatasi masalah pasien dan tahap pelaksanaan
berpedoman pada perencanaan keperawatan.
4. Untuk hal pengobatan sngat penting untuk memepersiapkan fisik dan mental pasien dan keluarga
dalam pengobatan lanjutan agar melaksanakan dapat berjalan dengan lancar.
5.2 saran
Saran dalam penulisan karya tulis adalah :
1.

Perlu adanya pengetahuan yang lebih baik lagi dalam mengatasi penyakit TB paru ini agar
penyakit ini dapat tuntas sehingga pasien tidak terlalu lama menahan sakit

2.

Dalam penulisan perumusan diagnosa ini tidak bisa hanya berpedoman paa teori, tetapi harus
mempertimbangkan dan mengkaji langsung pada pasien yang mengalami penyakit Tbparu

3.

Dalam melaksanakan asuhan keperwatan hendaknya dibuat secara sistematis serta


didokumentasi agar pelaksanaan tepat dan efesien. Juga perlu mengembangkan komunikasi yang
akrabdan terbuka sehingga tercipta hubungan saling percaya antara perawat, pasien dan
keluarganya

4. Hendaknya psien dilengkapi dengan pendidikan kesehatan dan pemulihan kondisi pasien.
Alangkah baiknya bila rumah sakit lebih meningkatkan saran dan prasarana dalm
peningkatan mutu pelayanan dam perawatan.

DAFTAR PUSTAKA
A.Aziz Alimu .H.2009, kebutuha dasar manusia, Jakarta. Penerbit PT Gramedia Medika
Arief mansjoer 2001. Kapita selekta kedokteran, jakarta

Penerbit media aesculapius

Aru W. Sudoyo.2006, buku ajar ilmu penyakit dalam , Jakarta Penerbit Departemen Ilmu
penyakit dalam fakultas kedokteran indonesia
Asih .SKP . 2003 keperawatan medikal bedah, jakarta Penerbit EGC
Drs. H. Syaifuddin. AMK. Anatomi fisiologi, jakarta Penerbit EGC
Elizabeth J.corwin.2002. Patofisiologi, jakarta penerbit EGC
Evelyn C. Pearce.2009. Anatomi dan fisiologi, Jakarta Penerbit PT Gramedia medika
Irman Soemantri.2008. Keperawatan medikal bedah , jakarta Penerbit salemba medika
Marilyn E. Doenges.2000. rencana asuhan keperawtan .jakarta penerbit Buku kedokteran EGC
Widoyono.2008. Penykit tropis, jakarta penerbit Erlangga