Anda di halaman 1dari 3

Manfaat Kajian Pustaka dalam Penelitian

Penelitian merupakan kegiatan ilmiah untuk memberikan jawaban atas sebuah masalah, memberikan
sumbangan pengetahuan dan menemukan teori baru pada bidang ilmu yang dikaji. Sebagai bagian dari
upaya pengembangan pengetahuan, penelitian tidak dimulai dari titik nol. Untuk itu, penting bagi peneliti
dalam mengawali kegiatan penelitian melakukan kajian terhadap hasil penelitian sebelumnya dan literatur
terkait. Jangan berharap seorang peneliti dapat memberikan sumbangan pengetahuan pada ilmu
pengetahuan sebelum yang bersangkutan mengetahui apa saja yang telah dilakukan orang lain dan apa
saja yang masih tersisa. Untuk mengetahui yang sudah dan belum diteliti orag lain tidak ada cara lain
kecuali melalui kajian pustaka. Sumber bacaan untuk kajian pustaka bisa berupa tesis, disertasi, jurnal
ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, buku tulisan para ahli, makalah seminar, konferensi, dan
sebagainya.
Yang dimaksud menyumbang ilmu pengetahuan bisa berbentuk teori baru (benar-benar baru),
menambah atau mengembangkan, menolak, merevisi, serta memperkuat teori yang sudah ada
sebelummya. Misalnya, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan sedang melakukan penelitian
tentang kepemimpinan kepala sekolah perlu belajar dan mengetahui lebih dahulu teori-teori mengenai
kepemimpinan oleh para pengkaji dan peneliti sebelumnya. Semakin banyak literatur yang dipelajari,
semakin luas wawasannya di bidang itu, apa saja yang telah dikatakan orang lain tentang tema tersebut
dan sekaligus memperjelas posisinya mengenai teori mana yang hendak disumbang.
Dalam penelitian kualitatif, kajian pustaka (review of literature) merupakan langkah paling awal begitu
tema penelitian (bukan judul) diperoleh. Kajian pustaka mencakup tiga hal, yaitu: penempatan,
pembacaan, dan penilaian terhadap hasil-hasil penelitian dan kajian yang sudah ada yang terkait dengan
rencana penelitian yang akan kita lakukan.
Tulisan ini menguraikan alasan mengapa Kajian Pustaka harus dilakukan dan saya pandang sangat
penting karena kenyataannya mahasiswa yang melakukan penelitian untuk kepentingan skripsi bahkan
disertasi masih memiliki pengetahuan beragam mengenai hal itu. Bahkan, banyak kajian pustaka yang
ditulis tidak tepat sasaran, sehingga hanya menambah ketebalan dokumen laporan penelitian. Sebagian
isi tulisan ini berupa pengalaman saya selama membimbing dan menguji skripsi, tesis dan disertasi
beberapa tahun terakhir. .
Secara ringkas, menurut Borg dan Gall (1989: 114-119), dan Latief (2012: 43-50) setidaknya ada enam
(6) alasan mengapa kajian pustaka harus dilakukan, sebagaimana uraian berikut:
1.

Sangat bermanfaat untuk menajamkan rumusan masalah penelitian yang diajukan, sehingga
besar kemungkinan rumusan masalah yang sudah dibuat berubah setelah peneliti membaca pustaka
karena telah memiliki wawasan tentang tema yang diteliti lebih luas daripada sebelumnya. Dengan
demikian, rumusan masalah, terutama dalam penelitian kualitatif, bersifat tentatif. Tidak sedikit penelitian
gagal karena masalah yang diteliti terlalu luas. Rumusan masalah yang spesifik dan dalam lingkup yang
kecil jauh lebih baik daripada yang luas dan umum. Umumnya, rumusan masalah yang tidak jelas
berakibat pada data yang diperoleh juga tidak jelas, sehingga antara masalah yang hendak dijawab dan
data yang ada tidak sambung. Ujungnya kesimpulannya tidak berangkat dari data, tetapi pendapat

2.

3.

4.

5.

6.

pribadi peneliti. Tentu ini tidak bisa dibenarkan. Hal demikian bisa dihindari melalui kajian pustaka dengan
serius.
Kajian pustaka tidak saja untuk mempelajari apa yang telah dilakukan orang lain, tetapi juga
melihat apa yang terlewatkan dan belum dikaji oleh peneliti sebelumnya. Bagian atau wilayah yang
terlewatkan itu bisa menjadi area penelitian baru. Tetapi kenyataannya sering terjadi karena pengalaman
yang kurang, isu-isu penting yang mestinya bisa diangkat terlewatkan begitu saja, terutama pada bidangbidang yang belum banyak diteliti.
Untuk melihat bahwa pendekatan penelitian yang kita lakukan steril dari pendekatan-pendekatan
lain. Sebab, pada umumnya kajian pustaka justru menyebabkan peneliti meniru pendekatan-pendekatan
yang sudah lama dipakai orang lain, sehingga tidak menghasilkan temuan yang berarti. Mencoba
pendekatan baru --- walau mungkin salah --- lebih baik daripada mengulang hal yang sama berkali-kali
walau benar. Pengulangan justru menunjukkan peneliti tidak cukup melakukan pembacaan literatur
secara memadai. Kesalahan metodologis akan disusul dan dikoreksi oleh peneliti selanjutnya, sehingga
menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang. Karena itu, dalam ilmu pengetahuan kesalahan bukan
sesuatu yang aib. Proses demikian oleh Polanyi disebut sebagai falsifikasi.
Memperoleh pengetahuan (insights) mengenai metode, ukuran, subjek, dan pendekatan yang
dipakai orang lain dan bisa dipakai untuk memperbaiki rancangan penelitian yang kita lakukan.
Rancangan penelitian, lebih-lebih untuk penelitian kualitatif, bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkan
terus diperbaiki agar diperoleh metode yang tepat untuk memperoleh data dan menganalisisnya.
Kenyataan di lapangan ditemukan racangan penelitian kualitatif seragam dari satu proyek penelitian ke
yang lain. Padahal, walaupun berangkat dari paradigma yang sama rancangan penelitian kualitatif bisa
berbeda dari penelitian ke penelitian lainnya, karena penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau
fenomena tertentu.
Melalui kajian pustaka, bisa diperoleh pengetahuan berupa rekomendasi atau saran-saran bagi
peneliti selanjutnya. Informasi ini tentu sangat penting karena rekomendasi atau saran merupakan
rangkuman pendapat peneliti setelah melakukan penelitian. Usai penelitian, kita juga diharapkan bisa
memberikan rekomendasi atau saran bagi peneliti selanjutnya, sebagaimana kita telah mengambil
manfaat dari peneliti sebelumnya. Karena itu, rekomendasi atau saran yang baik bukan sembarang
saran, melainkan usulan yang secara spesifik bisa diteliti.
Untuk mengetahui siapa saja yang pernah meneliti bidang yang sama dengan yang akan kita
lakukan. Orang yang sudah lebih dahulu meneliti bisa dijadikan teman diskusi mengenai tema yang kita
lakukan, termasuk membahas hal-hal yang menjadi kekurangan atau kelemahan penelitian, sehingga kita
bisa memperbaiki, karena dia telah memperoleh pengalaman lebih dahulu. Malah bisa jadi peneliti
terdahulu kita jadikan informan dalam penelitian kita. Sebab, salah satu syarat informan adalah memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai tema penelitian yang kita angkat, sehingga dia bisa berdiskusi dan
memberi informasi (to inform) kepada peneliti mengenai tema yang diteliti.
Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa luas lingkup kajian pustaka yang harus dilakukan oleh
seorang peneliti. Sebenarnya tidak ada pedoman yang baku mengenai apa dan seberapa banyak buku
atau literatur yang harus dibaca peneliti sebagai bagian Kajian Pustaka. Yang jelas peneliti wajib
membaca dan mengkaji semua penelitian dan literatur yang terkait dengan rumusan masalah atau fokus
penelitian. Misalnya, seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris mengajukan pertanyaan
penelitian How was the school-based English Curriculum practised at Senior High School?, maka dia
wajib mengkaji sampai tuntas literatur mengenai kurikulum bahasa Inggris yang secara umum
dipraktikkan di sekolah. Tujuannya adalah agar memperoleh wawasan yang luas tentang pokok masalah
yang diajukan sebelum akhirnya dia sendiri bisa menjawabnya berdasarkan data yang diperoleh.

Kekurangan bacaan akan berakibat kurangnya kepekaan teoretik terhadap masalah yang diangkat.
Akibatnya, peneliti gagal menangkap esensi persoalan yang diteliti secara mendalam.
Masalah yang sering muncul dan bisa membuat seorang peneliti frustasi adalah tidak banyak penelitian
terdahulu dan literatur yang langsung terkait dengan tema yang diteliti, dan kalaupun terkait hanya
sebagian kecil saja, terutama tema-tema penelitian yang benar-benar jarang atau masih langka. Jika ini
terjadi, solusinya adalah sekecil atau sedikit apa pun informasi mengenai pokok masalah yang diangkat
tetap ditulis dalam Kajian Pustaka. Kesulitan ini bisa ditulis pada bagian atau sub bagian Keterbatasan
Penelitian. Sikap jujur demikian wajib dilakukan oleh seorang peneliti. Selamat mencoba!