Anda di halaman 1dari 8

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS GADJAH MADA


FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI
LAPORAN PRAKTIKUM GEOFISIKA EKSPLORASI 1
METODE POLARISASI
TERIMBAS

DISUSUN OLEH :
MOHAMAD IRZA FANDI PRADANA
12/329795/TK/39058

ASISTEN ACARA :
REZKY DESTRIO NUGROHO
JOSSA PRAGIA BUNATO
MUHAMMAD SAKUR

YOGYAKARTA
NOVEMBER
2014

DASAR TEORI
Polarisasi terimbas adalah metode geofisika yang mendeteksi terJadinya
polarisasi listrik pada mineral mineral logam yang terdapat di bawah permukaan
bumi. Pada metode geofisika tersebut, arus listrik searah diinjeksikan ke dalam
bumi melalui dua elektroda arus, kemudian beda potensial diukur melalui dua
elektroda potensial setelah arus dimatikan.
Terdapat 2 jenis polarisasi yang terjadi, yaitu Polarisasi Elektroda dan
Polarisasi Membran. Polarisasi Elektroda adalah jenis polarisasi yang terjadi jika
dalam sistem logam dialirkan arus listrik yang mengakibatkan adanya
pengkutuban muatan pada bidang batas antara mineral logam dengan larutannya.
Polarisasi Membran adalah jenis polarisasi yang terjadi karena sifat membrannya
dimana ion ion positif memenuhi diameter kapiler dan ion ion negatif
terkumpul di ujung kapiler, sehingga terjadi polarisasi muatan pada sistem ini.
Ion- ion tersebut akan bergerak sesuai dengan arah medan listrik apabila diberi
beda potensial. Distribusi ion- ion positif dapat membentuk gumpalan ion positif
yang terdekat di sekitar mineral lempung, namun ion ion negatif akan terhambat
dan terkumpul pada ion positif.
Metode polarisasi terimbas ini mempunyai 4 macam pengukuran yaitu
pengukuran dalam domain waktu, domain frekuensi, pengukuran sudut fasa dan
Magnetic Inducted Polarization (MIP). Metode ini biasanya digunakan untuk
eksplorasi logam dasar ( Base Metal ) dan untuk penyelidikan air tanah ( Ground
Water ). Berdasarkan letak elektroda potensial dan arus, rangkaian elektroda yang
umum dipakai yaitu dipole dipole, pole dipole dan gradien .
Penyajian hasil pengukuran di lapangan dapa dilakukan dengan 4 cara ,
yaitu :

Diagram IPS : Sumbu ordinat merupakan nilai tahanan jenis semu

dan polarisasi sedangkan sumbu absis merupakan jarak bentangan.


Profil IP : digunakan untuk susunan pole dipole dan gradien,
sumbu ordinat berupa nilai polarisasi dan tahanan jenis semu

sedangkan sumbu absis merupakan jarak retangan, kedua nilai

tersebut dibuat dalam satu grafik.


Sayatan semu IP : bentuk sayatan semu dipakai untuk penyaian
data hasil susunan dipole dipole dan pole dipole, cara ini paling

banyak digunakan.
Peta kontur IP : Peta kontur IP dapat digunakan untuk semua
susunan, tetapi lintasannya harus selalu berdekatan satu sama lain.

C1 C2 P1 P2 a(m) n
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

2
3
4
5
6
7
8
1
2
3
4
5
6
7
8
1
2
3

3
4
5
6
7
8
9
2
3
4
5
6
7
8
9
2
3
4

4
5
6
7
8
9
10
4
5
6
7
8
9
10
11
5
6
7

5
6
7
8
9
10
11
5
6
7
8
9
10
11
12
6
7
8

50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50

1
1
1
1
1
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
3
3
3

I(mA)
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

V1(mV
)

R1(oh pL.F
m)
(pa)

V2(mA) R2(ohm)

150 0.107121 0.010712 10.09079 0.1066853 0.0106685


1
8
150 0.109242 0.010924
10.29059
0.1071501 0.010715
2
6
150 0.096515 0.009651
9.091713
0.0920905 0.0092091
5
150 0.074242 0.007424
6.993596 0.0671274 0.0067127
2
4
150 0.097576 0.009757
9.191659
0.0930139 0.0093014
6
2
150 0.109242 0.010924
10.29059
0.1073733 0.0107373
2
6
150 0.107121 0.010712 10.09079 0.1070047 0.0107005
1
8
600 0.026515 0.002651
9.990852
0.0240455 0.0024046
5
600 0.027576 0.002757
10.39063 0.0274053 0.0027405
6
7
600 0.022803 0.002280
8.592170
0.0214509 0.0021451
3
4
600 0.020947 0.002094
7.892829
0.018554 0.0018554
7
6
600 0.020682 0.002068 7.792977 0.0184827 0.0018483
2
6
600 0.023068 0.002306
8.692022
0.0217003 0.00217
8
4
600 0.027576 0.002757
10.39063
0.027247 0.0027247
6
7
600 0.026515 0.002651
9.990852
0.0240455 0.0024046
5
1500 0.011136 0.001113 10.49011 0.0110208 0.0011021
6
2
1500 0.008803 0.000880
8.292426
0.0082269 0.0008227
3
1500 0.008591 0.000859
8.092722 0.007896 0.0007896
1

19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

4
5
6
7
0
1
2
3
4
5
6
7

5
6
7
8
1
2
3
4
5
6
7
8

8
9
10
11
5
6
7
8
9
10
11
12

9
10
11
12
6
7
8
9
10
11
12
13

50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50

3
3
3
3
4
4
4
4
4
4
4
4

10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10
10

1500 0.008909 0.000890 8.392278 0.0082951 0.0008295


9
1500 0.008591 0.000859
8.092722 0.0078815 0.0007882
1
1500 0.008909 0.000890
8.392278 0.0083183 0.0008318
9
1500 0.011136 0.001113 10.49011 0.0110904 0.001109
6
2
3000 0.005462 0.000546
10.29040
0.0054123 0.0005412
2
8
3000 0.004295 0.000429 8.09178 0.0040219 0.0004022
5
3000 0.004295 0.000429
8.09178 0.0040256 0.0004026
5
3000 0.004455 0.000445 8.39322 0.004098 0.0004098
5
3000 0.004455 0.000445
8.39322 0.0041131 0.0004113
5
3000 0.004295 0.000429
8.09178 0.0040256 0.0004026
5
3000 0.004295 0.000429 8.09178 0.0040256 0.0004026
5
3000 0.005515 0.000551
10.39026 0.0054314 0.0005431
5

CONTOH PERHITUNGAN
2. R1 = V1/I = 0.109242/ 10 = 0.0109242
R2 = V2/I = 0.010715/ 10 = 0.0010715
a = 2KR1 = 2 x 3.14 x 150 x 0.0109242= 10.290596
HF = 2KR2 = 2 x 3.14 x 150 x 0.0010715= 10.0935394
PFE = 100 x (V1-V2) / V2 = 100 x (0.109242 - 0.010715) / 0.010715=
1.952308
M = PFE / (100+PFE) = 1.952308/(100 + 1.952308) = 0.019149
MF = 21000PFE / a = 2 x 3.14 x 1000 x 1.952308 / 10.290596 =
1191.427
MF = 21000PFE /

= 2 x 3.14 x 1000 x 0.408397 /

10.090798 = 254.1658

8.

R1 = V1/I = 0.026515 / 10 = 0.0026515


R2 = V2/I = 0.0240455 / 10 = 0.0024046

a 2KR = 2 x 3.14 x 350 x 0.0026515 = 5.827997


HF = 2KR = 2 x 3.14 x 350 x 0.0024046 = 5.2852009
=

PFE = 100 x (V1-V2) / V2 = 100 x (0.026515 - 0.0240455) /


0.0240455 = 10.27011
M = PFE / (100+PFE) = 10.27011 / (100 + 10.27011) =
0.093136
MF = 21000PFE /

= 2 x 3.14 x 1000 x 10.27011 / 5.827997

= 11066.63
16.

R1 = V1/I = 0.011136 / 10 = 0.0011136


R2 = V2/I = 0.0110208 / 10 = 0.0011021
a = 2KR1 = 2 x 3.14 x 650 x 0.0011136 = 4.5457152
HF = 2KR2 = 2 x 3.14 x 650 x 0.0011021 = 4.49869056
PFE = 100 x (V1-V2) / V2 = 100 x (0.0011136 - 0.0011021) /
0.0011021 = 1.045296
M = PFE / (100+PFE) = 1.045296 / (100 + 1.045296) =

0.010345

MF = 21000PFE / a = 2 x 3.14 x 1000 x 1.045296 / 4.5457152


= 1444.098

INTERPRETASI
TABEL 1
Dari kontur hasil perhitungan Pa, M dan MF yang ada pada tabel 1
memberikan interpretasi kondisi geologi bawah permukaan pada daerah tersebut
terdiri atas batulempung dan endapan aluvial yang pada bagian batulempung
tersebut terdapat struktur geologi berupa antiklin dengan bagian crestnya yang
banyak mengalami rekahan-rekahan akibat sifat litologinya yang mendekati batas
elastis. Pada lapisan batulempung terdapat air tanah dan adanya endapan mineral
logam sulfida yang mengisi rekahan-rekahan dan mineral logam sulfida masif
pada bagian puncak dari crest. Keterdapatan mineral-mineral logam sulfida ini
sebagai konsekuensi dari adanya fluida (Larutan Hidrotermal) yang mengalir di
bawah lapisan batulempung dan uapnya mengisi rekahan-rekahan yang telah
tersedia pada bagian crest tersebut. Kemudian seperti yang kita ketahui bahwa
pada bagian puncak antiklin, memiliki sifat lebih lemah dibandingkan bagian
lainnya, sehingga pada bagian tersebutlah uap hasil larutan hidrotermal tersebut
mengendapkan mineral logam sulfida.
TABEL 2
Dari kontur hasil perhitungan Pa, M dan MF yang ada pada tabel 2
memberikan interpretasi kondisi geologi bawah permukaan pada daerah tersebut
terdiri atas batulempung dan endapan aluvial yang pada lapisan batulempung
terdapat air tanah dan adanya endapan mineral logam tembaga placer yang berada
pada bagian bawah dari lapisan batulempung. Keterdapatan mineral-mineral
logam tembaga placer ini sebagai konsekuensi dari adanya pengendapan pada
sistem fluvial dimana host rock dari mineral logam tersebut berupa batuan beku
asam yang umumnya berasosiasi dengan mineral tembaga pada bagian hulu dari
sungai. Kemudian akibat proses eksogenik sehingga mineral tembaga tersebut

terendapkan pada sungai sehingga didapatkan dalam bentuk placer yang


diekspresikan oleh nilai-nilai dari Pa, M dan MF yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Keary, Philip, Michael Brooks, Ian Hills. 2002. An Introduction to Geophysical
Exploration. Third edition. London, Blackwell Science.
Wintolo, Djoko,dkk. 2010. Buku Panduan Praktikum Geofisika Eksplorasi,Edisi
IV. Yogyakarta: Laboratorium Geofisika Eksplorasi Jurusan Teknik
Geologi Fakultas Teknik UGM.

LAMPIRAN