Anda di halaman 1dari 71

1

MODEL RANCANG BANGUN


SENTRA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS
KOMODITAS UNGGULAN (SPAKU) PEPAYA
Diabstraksikan dan dirangkum oleh:
Prof Dr Ir Soemarno MS
Bahan kajian MK. Landuse Planning & Land Development , PDIP
PPSFPUB 2013

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Selama PJPT I pembangunan sektor pertanian diarahkan
pada sasaran pokok untuk (1) mencapai dan mempertahankan
swasembada pangan khususnya beras, (2) menyediakan kebutuhan
pangan secara
beragam untuk emningkatkan kualitas gizi
masyarakat, (3) menyediakan bahan baku industri dalam negeri, (4)
meningkatkan penerimaan devisa negara melalui peningkatan
ekspor dan pengurangan impor, (5) menciptakan lapangan kerja, (6)
meningkatkan kesejahteraan petani, (7) membantu pemeliharaan
stabilitas ekonomi nasional melalui pengendalian harga komoditas
pertanian dan mendorong pertumbuhan produksi sektor pertanian.
Tujuan pembangunan pertanian di masa mendatang ialah
membangun pertanian tangguh yang efisien dan meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia. Dengan demikian pertanian mampu
secara optimal meningkatkan pendapatan epetani, meningkatkan gizi
masya rakat, mening katkan devisa negara dan mendorong
pertumbuhan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja di pedesaan.
Upaya-upaya ini perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan
aspek kelestarian sumberdaya dan lingkungan hidup. Sektor
pertanian dihadapkan pada semakin terbatasnya ketersediaan
sumberdaya dan resiko kemerosotan kualitas sumberdaya alam
sehingga menuntut pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam
secara tepat. Sektor pertanian diharapkan juga mampu menjamin
berkelanjutan
pemba-ngunan
pertanian
yang
memberikan
peningkatan kesejahteraan para pelakunya. Konversi lahan
pertanian di Jawa untuk kegiatan non pertanian menyebabkan
produksi pertanian harus bergeser ke areal di luar P. Jawa yang
memiliki kualitas relatif lebih rendah. Produktivitas lahan tersebut
diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas lahan
di Jawa. Wilayah tersebut ditandai oleh keterbatasan sarana/
prasarana dan kurangnya insentif ekonomi. Pemanfataan secara

optimal potensi sumberdaya pertanian dan keunggulan kompetitif


komoditas pertanian, dikembangkan usaha pertanian dalam sutau
sistem agribisnis yang utuh dan dalam kerangkia pembangunan
berkelanjutan. Pada PJP II sektor pertanian harus dibangun menjadi
suatu industri pertanian yang tangguh dan efisien. Industri pertanian
berarti adanya "kesatuan terpadu" antara industri hulu, sistem usaha
pertanian, agroindustri dan pemasraan
dalam suatu sistem
agribisnis. Melalui industri pertanian (agribisnis dan agroindustri)
yang tangguh dan efisien sumberdaya pertanian memberikan nilai
tambah lebih besar sesuai dengan potensi optimal yang ada.

SPAKU PEPAYA

Pembangunan sentra agribisnis komoditas unggulan pada


hakekatnya adalah kegiatan awal untuk memacu pembangunan
ekonomi di suatu wilayah. Secara bertahap berkembangnya kegiatan
produksi pertanian diupayakan untuk dapat diikuti oleh muncul dan
berkembangnya kegiatan-kegiatan ekonomi terkait, baik secara
horizontal maupun vertikal, serta pengadaan jasa-jasa di sekitarnya
sehingga menumbuhkan dinamika perekonomian wilayah. Mulai TA
1996/1997 tampaknya pembangunan sentra agribisnis komoditas
akan lebih didukung dengan mengerahkan kegiatan lintas sektoral
maupun subsektor yang terfokus dan terintegrasi pada lokasi yang
telah terpilih. Upaya terfokus ini dilaksanakan multi tahun, untuk
mendukung dan menghantarkan petani dan masyarakat pelaku
usaha agribisnis untuk mampu melakukan dan menjalin kegiatan-

kegiatan agribisnis dengan kekuatan sendiri secara berkesinambungan. Berdasarkan analisis dan konsultasi dengan Instansi
terkait di wilayah, dapat ditetapkan komoditas unggulan pepaya
untuk wilayah Kecamatan Wajak.
Untuk membangun sentra agribisnis tersebut diperlukan subsub kegiatan mulai dari penyediaan agro-input, teknologi budidaya,
penanganan pascapanen buah hingga pemasaran, serta prasarana
dan kelembagaan pendukung yang merupakan perpaduan berbagai
bidang kerja yang berada pada kendali dari berbagai pihak, yaitu
pemerintah dan masyarakat, termasuk pengusaha swasta,
perorangan dan badan usaha. Untuk itu harus disusun rancang
bangun multi tahun Sentra Pengembangan Agribisnis Komoditas
Unggulan Pepaya (SPAKU PEPAYA).
Agar pembangunan sentra agribisnis tersebut berhasil,
kegiatan dan pendanaan yang tersebar secara parsial harus dapat
dikoordinasikan dan dirangkai ke dalam suatu kegiatan yang saling
bersambung, membentuk sistem agribisnis yang utuh. Untuk itu
koordinasi perencanaan dan pengendalian sejak di tingkat propinsi
hingga tingkat lokasi, yang menjamin terfokusnya berbagai
sumberdaya dan dana untuk pengembangan sentra dimaksud
merupakan aspek yang sangat penting. Sehubungan dengan hal
itu peranan Pemerintah Daerah sebagai penguasa yang mengatur
gerak pembangunan daerah sangat penting.
Rancang bangun yang disusun ini memuat gambaran kondisi
saat ini, deskripsi sentra agribisnis yang akan diwujudkan, rincian
kegiatan yang harus dilaksanakan, kontribusi yang harus diberikan
setiap sektor, subsektor maupun institusi sektoral, subsektoral
maupun institusi lainnya. Rancang bangun tersebut dilengkapi
dengan mekanisme perencanaan, pelaksanaan, koordinasi dan
pengendalian di tingkat lokasi hingga tingkat propinsi. Untuk itu
keterlibatan seluruh instansi yang terkait, dalam penyusunan
rancang bangun ini sangat penting.
1.2. Tujuan
Pembuatan Rancang Bangun Sentra Agribisnis Komoditas
Unggulan (SPAKU) Pepaya ini ditujukan untuk menyusun rencana
induk serta rencana operasional multi tahun atas pengembangan
sentra agribisnis komoditas unggulan pepaya, untuk memberi
kekuatan awal, memfasilitasi dan memandu masyarakat setempat,
hingga mampu menggerakkan agribisnis dengan kekuatan sendiri.
Rancang bangun ini merupakan acuan bagi seluruh pihak yang
harus berperan dalam pembangunan sentra tersebut.
1.3. Sasaran
Penyusunan rencana menyeluruh atas lokasi pengembangan
sentra komoditas unggulan pepaya di wilayah Kecamatan Wajak,

Kabupaten Malang ini menghasilkan dokumen rancang bangun yang


memerlukan dukungan dan kesepakatan dari instansi terkait, dan
memuat hal-hal sebagai berikut :
a. Rancang Bangun atau Rancang Induk menyeluruh Sentra
Agribisnis Komoditas Unggulan Pepaya yang memuat output,
target grup, manfaat yang dihasilkan proyek, dilengkapi dengan
disain fisik dan indikator pengukurnya.
b. Rencana tahapan kegiatan hingga terwujudnya Sentra dimaksud,
memuat rencana kegiatan sinergis lintas sektor, subsektor,
program dan institusi, beserta volume fisik menurut tahapan per
tahun anggaran.
c. Rencana operasional rinci yang harus dilaksanakan oleh masingmasing instansi terkait.
d. Mekanisme koordinasi perencanaan dan pengendalian di tingkat
lokasi, Dati II, Dati I yang mengait dengan Tingkat pusat.
1.4. Lingkup Kegiatan
Beberapa aspek yang dicakup dalam rancang bangun ini
adalah sebagai berikut.
1.4.1. Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Usaha
Pemilihan lokasi didasarkan atas ketersediaan lahan, kesesuaian lahan serta agroklimatnya, kesiapan prasarana, ketersediaan
tenaga kerja serta sumberdaya lain yang membentuk keunggulan
lokasi yang bersangkutan (berdasarkan hasil studi Pewilayahan
Komoditas). Pemilihan komoditas utama dan penunjang serta jenis
usahanya didasarkan atas potensi menghasilkan
keuntungan,
potensi pemasarannya, kesiapan dan penerimaan masyarakat atas
jenis usahatani yang akan dikembangkan, serta keselarasan dengan
kebijakan pemba-ngunan daerah. Untuk menduga unggulan wilayah
serta komoditas yang akan dipilih dilakukan analisis kuantitatif dan
kualitatif yang memperhatikan faktor-faktor ekonomi dan sosial.
1.4.2. Penentuan Kegiatan yang Dilakukan
Penentuan kegiatan yang perlu dilakukan didasarkan atas
analisis kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan, yang dirinci
menurut komponen- komponen penting sistem agribisnis, yaitu target
grup, ketersediaan dan kesesuaian lahan, dan prasarana nya,
ketersediaan sarana produksi, kemampuan pengelolaan budidaya,
penanganan pasca panen, pemasaran, dukungan prasarana dan
kelembagaan. Dari analisis tersebut dapat diketahui upaya dan
kegiatan yang diperlukan untuk sentra agribisnis, dalam satuan
volume yang jelas. Keseluruhan kegiatan tersebut selanjutnya
diuraikan menurut tahapan per tahun, disesuaikan dengan kondisi
fisik lokasi, kondisi sosial ekonomi serta tingkat kemampuan
masyarakat. Desain lokasi sentra tersebut harus dilengkapi dengan

gambar fisiknya untuk mengetahui volume serta lokasi yang tepat


atas pembangunan dan kegiatan fisik yang diperlukan.

Tanaman pepaya
muda ditanam secara
monokultur

1.4.3. Rincian Kegiatan Sinergis Lintas Sektoral


Tahapan kegiatan tahunan tersebut selanjutnya diuraikan
menurut program/proyek serta institusi yang harus memberikan
kontribusi terhadap pembangunan sentra agribisnis pepaya. Secara
garis besar hal ini dapat disajikan dalam bentuk matriks keterpaduan
pengembangan Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan Pepaya.
Kegiatannya antara lain meliputi hal-hal berikut ini.
1. Pengembangan Budidaya
Pengembangan budidaya pepaya dan tanaman komplementernya, diidentifikasi menurut volume fisik yang jelas. Garis besar
kegiatannya meliputi persiapan lahan dan penyiapan petani,
pelatihan usahatani, penyediaan agroinput & alat pertanian, dan
penyelenggaraan penyuluhan. Pembinaan teknis budidaya, cara
memanen dan cara untuk mempertahankan kualitas produk,
perlakuan pasca panen
2. Pasca Panen dan Pemasaran
Peningkatan ketrampilan teknis dalam penanganan pasca
panen seperti cara memanen, mengumpulkan dan menyeleksi hasil

panen serta peralatan yang diperlukan untuk mempertahankan


kualitas hingga cara pengolahan produk untuk meningkatkan nilai
tambah serta meningkatkan kemampuan pemasaran, khususnya
yang menyangkut produk buah-buahan. Untuk melaksanakan
pembinaan dengan sarana yang tersedia di wilayah secara lebih
optimal maka kerjasama dengan instansi perindustrian dan
perdagangan setempat harus dilakukan. Sinergi kegiatan hanya
dapat dicapai dengan koordinasi perencanaan dan pembagian tugas
yang jelas.
3. Pembinaan Pengembangan Usaha Pertanian
Kelompok kegiatan yang menyangkut peningkatan kemam
puan mengelola usaha dan melaksanakan kemitraan dengan
pedagang, eksportir maupun industri pengolahan pangan
dilaksanakan melalui pembinaan Kelompok Usaha Bersama
Agribisnis (KUBA) ke arah terbentuknya koperasi petani pepaya,
pembentukan Forum Komunikasi Agribisnis (FORKA), pelaksanaan
temu-temu usaha, pelatihan kewirausahaan, dan peningkatan
kemampuan BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sebagai pusat
konsultasi dan pelayanan agribisnis.
4. Kegiatan Penunjang
a. Pelayanan Sarana Produksi
Lembaga pelayanan ini (misalnya KUD) diperlukan untuk
membantu penyediaan sarana produksi dan peralatan yang
dibutuhkan para petani, pedagang dan pengolah untuk
melaksanakan kegiatan usahanya. Pelayanan ini harus ada untuk
menjamin ketersediaan sarana usahatani tepat waktu, jumlah dan
harga yang wajar. Instansi pemerintah setempat harus mampu
menciptakan iklim usaha dan memberikan dukungan agar
koperasi atau pengusaha dapat menjalankan fungsinya secara wajar.
Diperlukannya rekomendasi berbagai program insentif untuk
mendorong tumbuhnya lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi
yang terpencil.
b. Pelayanan Informasi Teknologi Spesifik Lokasi
Diidentifikasi jenis teknologi spesifik yang diperlukan untuk
pembangunan sentra agribisnis. Pelayanan ini mencakup pemilihan
kultivar dengan kualitas tinggi yang secara ekonomis dapat
diproduksi di lokasi setempat, teknologi pembibitan, teknologi
budidaya, pasca panen, pengolahan primer, sekunder hingga
pengepakan buah segar maupun olahannya. Kerjasama penelitipenyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus dilakukan
secara intensif.

c. Pelayanan Perlindungan Tanaman


Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pelaksanaan
sentra agribisnis terutama adalah pengawasan sebagai tindak
preventif serta metode penanggulangan hama dan penyakit yang
mungkin mengganggu tanaman, serta komoditas penunjangnya. Hal
ini sangat penting untuk mencegah kerugian akibat kegagalan panen
atau penurunan kualitas produk. Pelayanan ini dialokasikan pada
proyek PSSP yang dikelola Dinas-dinas lingkup pertanian melalui
Balai Perlindungan atau institusi lain.
d. Pelayanan Pembibitan
Penangkar bibit harus diarahkan untuk mengalokasikan
sebagian kegiatannya mendukung pengembangan komoditas
unggulan pepaya maupun komoditi penunjangnya (tanaman sela:
jagung, kedelai, kacang tanah; tanaman pagar: sengon, melinjo,
buah-buahan lain), pada wilayah sentra agribisnis. Kegiatan yang
diperlukan beragam dan dirinci menurut volume dan jenis. Aspek ini
mencakup pengadaan bibit, pengawasan dan sertifikasi bibit, serta
pembinaan petani penangkar bibit, khususnya untuk tanaman
unggulan serta komoditas penunjangnya.
e. Pembinaan Penyuluhan
BPP ditingkatkan kemampuannya agar dapat memberikan
kontribusi sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat bertanya,
berlatih, berbagi pengalaman antar petani dan tempat pertemuan
antara petani, pedagang dan pengelola agroindustri. Untuk itu perlu
dipersiapkan sumberdaya manusia (SDM) serta perangkat keras dan
lunak yang memadai untuk menjalankan fungsi pusat pelayanan
agribisnis.
f. Pengairan
Sentra agribisnis memerlukan air untuk budidaya, pasca
panen, dan kegiatan penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan
meningkat kalau telah terdapat kegiatan pengolahan, terutama
dalam bentuk industri pengolahan pangan. Program pengairan yang
dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum diminta untuk
mengalokasikan kegiatan penyediaan sumber air (sumur atau
embung) dan
saluran pengairan untuk kawasan sentra ini.
Koordinasi dengan Pemda dan instansi terkait sangat penting untuk
mengarahkan kegiatan fisik yang tepat pada lokasi yang tepat pula.
g. Transportasi
Sarana transportasi sangat vital dalam membangun sentra
agribisnis, dengan demikian program pembangunan sarana
transportasi yang dikelola oleh Departemen Pekerjaan Umum dan
Departemen Perhubungan harus mampu menjamin tersedianya

prasarana jalan (jalan desa dan jalan kebun) serta fasilitas


transportasi yang memadai di kawasan sentra produksi, yang
menghubungkannya dengan pusat-pusat pelayanan dan pemasaran.
h. Energi
Energi diperlukan antara lain dalam proses penanganan
pasca panen terutama untuk alat pengeringan, pengupasan, sortasi,
pengo-lahan, perlakuan pemanasan, pendinginan dan sebagainya.
Energi yang dibutuhkan dapat berupa listrik, bahan bakar minyak,
gas atau bahan bakar dari limbah tanaman seperti daun, kayu dan
ranting hasil pangkasan.
i. Sarana dan Prasarana Pemasaran
Sarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alat penyimpanan dengan fasilitas pendingin, alat-alat
pengepakan, informasi harga serta fasilitas fisik pasar yang
memadai, sangat vital dalam pengembangan sentra agribisnis.
Kebutuhan fasilitas ini sangat beragam sesuai dengan komoditas
unggulan komoditas penunjangnya.
j. Lembaga Keuangan/Permodalan
Tersedianya lembaga keuangan dan permodalan sangat
penting bagi para pelaku usaha agribisnis, sehingga harus
diusahakan di lokasi sentra atau lokasi yang sangat mudah dicapai
dari kawasan sentra, dengan biaya transportasi dan biaya
administrasi yang minimum. Kerjasama antara Pemda dengan
instansi terkait diperlukan untuk menyediakan sumber modal yang
dapat diakses dengan prosedur yang cepat dan murah.
5. Koordinasi dan Pengendalian
Koordinasi operasional keseluruhan harus di tangan Pemerintah Daerah II melalui Bappeda maupun di tingkat lokasi. Koordinasi
perencanaan sektoral, khusus pertanian dilakukan kegiatan
monitoring dan evaluasi program pembangunan pertanian serta
koordinasi lintas subsektor yang terkait.

II. METODOLOGI
2.1. Batasan Istilah
2.1.1. Rancang Bangun
Rancang bangun adalah rancang bangun multi tahun komoditas pepaya di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, kegiatannya

meliputi komoditas unggulan dan komoditas penunjangnya serta


pembangunan kegiatan lainnya yang serasi dan dibutuhkan
sehingga pembangunan wilayah agroekosistem dengan komoditas
unggulannya akan dapat mencapai sasaran, yaitu peningkatan
kesejahteraan petani dan pertumbuhan ekonomi wilayah.
2.1.2. Sentra Pengembangan
Sentra Pengembangan adalah suatu hamparan komoditas
pepaya berskala ekonomi di suatu wilayah agroekosistem, dimana
wilayah tersebut dilengkapi dengan sarana- prasarana yang
dibutuhkan, kelembagaan, pengolahan/pemasaran, dan sektor lain
yang menunjang perkembangan dari sentra komoditas tersebut.

SPAKU PEPAYA

2.1.3. Komoditas Andalan


Komoditas andalan adalah sejumlah komoditas yang dapat
dibudidayakan/ dikembangkan di suatu wilayah Kabupaten
berdasarkan analisis kesesuaian agroekologi (tanah dan iklim).
2.1.4. Komoditas Unggulan
Komoditas unggulan (misalnya pepaya) adalah salah satu
komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan/dikembangkan di suatu wilayah yang mempunyai prospek
pasar dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani dan

10

keluarga serta mempunyai potensi sumberdaya lahan yang cukup


besar.
2.1.5. Komoditas Penunjang
Komoditas penunjang ialah komoditas-komoditas lain yang
dapat dipadukan pengusahaannya dengan komoditas pokok
(unggulan) yang dikembangkan di suatu lokasi/sentra komoditas
unggulan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya
(lahan, tenaga kerja, sarana/prasarana) dan peningkatan
pendapatan petani melalui peningkatan produksi maupun
keterpaduan pengusahaannya akan meningkatkan efisiensi/saling
memanfaatkan.
2.1.6. Agribisnis
Agribisnis merupakan suatu kegiatan penanganan komoditas
secara komprehensif mulai dari hulu sampai hilir (pengadaan dan
penyaluran agroinput, proses produksi, pengolahan dan pemasaran).
2.1.7. Sekala ekonomi Agribisnis Komoditas Unggulan
Suatu luasan/besaran usahatani komoditas unggulan yang
dapat menghasilkan volume produksi tertentu untuk memenuhi
kebutuhan pasar/agroindustri (skala kecil/sedang/besar) di wilayah
agroekosistem tertentu.
2.2. Analisis Pengkajian Komoditas
2.2.1. Seleksi Komoditas
Seleksi komoditas dilakukan untuk mendapatkan alternatif
komoditas (unggulan dan penunjangnya) yang sesuai dikembangkan
di suatu wilayah dengan lingkungan tumbuh tertentu. Inventarisasi
dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh
rakyat, kemudian baru merambah kepada jenis-jenis komoditas yang
belum dikenal. Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi
bertumpu pada aspek agroteknologinya untuk dikembangkan lebih
lanjut, potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor, nilai tambah
ekonomi bagi petani, serta dampaknya terhadap kesempatan kerja
dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari seleksi ini akan
didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman
pangan, perkebunan, maupun tanaman hortikultura.
2.2.2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha
Uraian tentang profil komoditas meliputi gambaran tentang
persyaratan tumbuh, penyebaran komoditas saat ini, teknik budidaya
yang cukup memadai dan tingkat kelayakan usahanya. Untuk
beberapa komoditas tertentu juga dapat disajikan profil industri
pengolahan, baik dari aspek teknis, investasi maupun prospek

11

pasarnya. Tujuan pengkajian profil ini terutama untuk mendapatkan


informasi yang akan digunakan sebagai masukan guna mengadakan
estimasi terhadap dampak pengembangan komoditas yang terutama
akan menggunakan tolok ukur penciptaan lapangan kerja,
peningkatan pendapatan petani dan kelestarian fungsi lingkungan.
Disamping itu informasi yang diperoleh dari profil komoditas
diharapkan dapat digunakan sebagai indikator awal tentang
kelayakan usahataninya. Hal ini akan bermanfaat bagi investor,
perbankan, para perencana serta pelaksana kebijakan. Namun
demikian sesuai dengan makna sebuah "profil" maka informasi yang
disajikan masih memerlukan penelitian dan pengkajian yang lebih
rinci atau lebih dalam lagi dari berbagai segi sebelum dapat
digunakan untuk penerapannya.
Uraian tentang teknik budidaya meliputi persiapan tanam,
pemeliharaan pertanaman, sampai dengan pemungutan hasil.
Berdasarkan pada teknologi budidaya yang diterapkan di lapangan
saat ini, dengan penyesuaian ke arah paket teknologi
rekomendasi/anjuran. Selain itu pemilihan teknologi didasarkan pada
kemampuan produsen, baik dari segi managerial maupun
praktikalnya. Pertimbangan yang sama juga berlaku bagi industri
pengolahan dengan memper hatikan skala ekonomi yang memadai
dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun
industri pengolahan diasumsikan berasal dari sistem perbankan
formal, sehingga tingkat bunga harus disesuaikan.
Periode analisis finansial bervariasi sesuai dengan satu siklus
umur produktif tanaman dengan luasan satu hektar.
Untuk
mengetahui tingkat kelayakan usahanya digunakan beberapa
alternatif tolok ukur seperti pendapatan, B/C, R/C, NPV dan IRR.
2.2.3. Strategi Analisis
Untuk memudahkan analisis dan evaluasinya, maka
penelaahan Sistem Agribisnis Komoditas Unggulan dibagi menjadi
tujuh bidang yaitu:
(1). Kesesuaian Lingkungan Tumbuh
Untuk dapat berproduksi secara baik tanaman harus tumbuh
pada daerah yang sesuai dengan syarat tumbuhnya. Tiga faktor
lingkungan tumbuh yang dianggap paling berperan dalam pembudidayaan tanaman adalah kualitas tanah (dapat dibedakan menjadi
Tanah kapur dan Tanah Vulkanik), Curah hujan (Daerah basah dan
Daerah kering) dan Ketinggian tempat (Dataran rendah, Dataran
Menengah dan Dataran Tinggi).
(2). Pewilayahan Daerah Penyebaran
Setelah diketahui syarat lingkungan tumbuh tanaman, maka
perlu juga ditentukan wilayah yang kondisi lingkungannya memung

12

kinkan untuk pengembangannya. Sehingga sentra produksi yang


selama ini hanya terletak pada wilayah tertentu, lokasinya dapat
diperluas. Hal ini membuka peluang untuk meningkatkan
kesempatan menciptakan lapangan kerja.
(3). Paket Teknologi Budidaya dan Kondisi SosioTeknologi
Produktivitas tanaman dapat tercapai dengan baik apabila
dibudidayakan dengan cara yang benar. Meskipun pemilihan lokasi
sudah sesuai dengan syarat lingkungan tumbuh, namun apabila
sistem budidaya yang diterapkan tidak tepat, maka produksi
tanaman tidak akan sesuai dengan potensi yang ada. Oleh karena
itu untuk optimasi produksi diperlukan penerapan teknologi budidaya
secara terpadu mulai dari persiapan tanam sampai pasca panen.
Usaha-usaha yang dapat ditempuh meliputi, pengolahan tanah,
penggunaan benih/bibit bermutu, sistem tanam, pemeliharaan
tanaman dan pemungutan hasil.
(4). Penanganan Pasca panen dan Industri Pengolahan
Fluktuasi harga komoditas tidak dapat sepenuhnya ditentukan
dengan pasti oleh petani produsen. Hal ini sangat tergantung kepada
mekanisme pasar. Pada saat pasar kekurangan stok, harga
komoditas pertanian melojak tinggi, namun sewaktu terjadi panen
raya, harga akan turun drastis. Untuk mengatasi masalah ini
diperlukan teknologi pasca panen yang mampu mengubah bahan
mentah menjadi bahan olah yang tahan lama.
(5). Analisis Finansial dan Ekonomi
Pertama kali yang mendorong petani melakukan usahatani
adalah tingkat pendapatan (income) yang dapat diperoleh per luasan
areal yang diusahakan per satuan waktu. Semakin tinggi keuntungan
yang diperoleh, maka minat petani untuk mengusahakan akan
semakin tinggi pula. Oleh karena itu pemilihan jenis komoditas yang
diusahakan akan sangat ditentukan oleh analisis usahataninya.
(6). Pemasaran Hasil
Disamping analisis usahatani, faktor lain yang sangat
menentukan minat petani untuk melakukan usahatani adalah masalah pemasaran, terutama yang berkenaan dengan efisiensi pemasaran, peluang pasar, dan perimbangan supply/demand. Meskipun nilai
keuntungan yang diperoleh petani tinggi, namun apabila pemasaran
hasil sulit dilakukan, maka petanipun akan enggan untuk mengusa
hakan. Kesulitan ini dapat dikurangi dengan cara memperbaiki
kualitas atau mengembangkan komoditas yang dapat digunakan
sebagai bahan baku industri.

13

(7). Analisis kelembagaan


Tujuan dari analisis ini ialah untuk merekayasa kelembagaan
sosial-ekonomi di tingkat pedesaan yang mampu menunjang
penerapan Konsep SPAKU. Hasil yang diharapkan ialah rancangan
kelembagaan sosial dan kelembagaan ekonomi di tingkat pedesaan
yang dapat diakses oleh petani dan Kelompok Tani, serta dapat
mengakses kelembagaan pada hierarkhi yang lebih tinggi.
Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas andalan, pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosialekonomi sebagai suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang
dibutuhkan oleh para petani untuk dapat melakukan fungsinya.
Lembaga sosial dapat dibedakan dengan organisasi atau seringkali
disebut dengan istilah lembaga non-formal dan lembaga formal.
Lembaga sosial timbul karena kebutuhan masyarakat, berakar pada
norma sosial dan peralatan yang dimiliki oleh masyarakat; sedangkan organisasi pada umumnya dibentuk dengan tujuan tertentu, dengan kegiatan anggota yang saling mengisi dan tunduk pada
aturan-aturan yang dibuat, agar bagian-bagian yang ada dapat
berfungsi efektif. Dalam konsep struktur pedesaan progresif
sebagaimana dikemukakan Mosher (1976), lokalitas usahatani
dikemukakan pula sebagai salah satu modal yang dapat diterapkan
untuk pencapaian tujuan. Beberapa komponen pokok dan penunjang
adalah adanya sarana kelembagaan yang menunjang dan
pentingnya pendidikan pembangunan bagi petani dalam proses
transfer teknologi.
Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan
hubungan sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat
diperlukan dalam penanganan Sistem Agrikoman sehingga
memberikan manfaat dan memungkinkan keterlibatan penuh
anggota-anggotanya. Menemukan lembaga-lembaga tradisional
yang tumbuh dalam komunitas pedesaan khususnya dalam
pengusahaan komoditas andalan, sejak penanaman, pertanahan,
pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen dan pengolahan serta
pemasaran hasil merupakan langhkah awal dalam upaya rekayasa
dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya,
keberhasilan dalam produksi menuntut adanya bentuk- bentuk
kelembagaan yang lebih besar dan berorientasi ekonomis sehingga
mampu mengelola sistem pertanian secara lebih efisien .
Sebagaimana telah diberlakukan dalam pengelolaan tanaman
pangan dan tanaman perkebunan, di pedesaan telah diintroduksi
pola-pola hubungan pertanian kontrak, BIMAS, dan PIR, yang
melibatkan Kelompok Tani, KUD, lembaga penyuluhan, lembaga
pengolahan hasil (INDUSTRI pengolah hasil, dll.) dan lembaga
pemasaran. Masing-masing model pengembangan kelembagaan
tersebut dalam penerapannya mempunyai kelemahan dan
keunggulan.

14

Dalam konteks pertanian lahan kering terdapat kelompok tani


lahan kering dengan aktivitasnya meliputi konservasi lahan dan
manajemen produksi pertanian. Agar kelompok tani yang ada dapat
ditingkatkan fungsi dan peranannya diperlukan lembaga penunjang
yang lebih luas khususnya dalam pengolahan hasil dan pemasaran.
2.3. Strategi Penanganan SPAKU
Sebagaimana dijelaskan dalam bagian sebelumnya,
penyusunan konsep penanganan SPAKU dilandasi dengan
pendekatan "Agrosistem" dengan tiga aspek utamanya, yaitu aspek
teknis-teknologi (termasuk pertimbangan bio-fisik), aspek ekonomibisnis, dan aspek sosial-budaya (termasuk kelembagaan
penunjang).
2.3.1. Penetapan Komoditas Unggulan
Suatu tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik di
suatu lahan pertanian apabila kondisi lahan tersebut memenuhi
syarat. Masing-masing daerah mempunyai ciri khusus tentang
macam komoditas yang dikembangkan. Selain kondisi lingkungan
yang sesuai tentunya pengembangan komoditas juga harus
mempertimbangkan tingkat keuntungan yang dapat dipetik.
Kepentingan ini dapat direncanakan sejak dini, misalnya dengan
membuat peta wilayah komoditas pada masing-masing daerah yang
akan dikembangkan.
(a). Pendekatan ekonomi wilayah
Pendekatan ini dilakukan dengan cara menentukan jenis
tanaman yang secara ekonomi layak untuk dikembangkan dan
dibudidayakan. Pewilayahan tanaman yang dilakukan berdasar
kepada keuntungan atau nilai tambah yang diterima petani dalam
upaya meningkatkan pendapatan perkapita. Dengan kata lain
tanaman tersebut menguntungkan petani apabila dibudidayakan.
Analisis ini diperoleh dari selisih antara investasi yang ditanam dari
usaha tersebut dengan hasil yang diperoleh. Dari sektor-sektor
usaha yang berkembang di masyarakat akan terpilih beberapa sektor
dominan yang layak untuk ditangani lebih serius, karena memberikan
prospek baik.
Berdasarkan pendekatan ini dari seluruh sektor yang ada di
masyarakat yaitu, tanaman pangan dan hortikultura, tanaman
perkebunan, tanaman hutan, peternakan, industri,perdagangan,
angkutan, jasa , tambang, ada lima sektor yang berperan dan sangat
menentukan tingkat pendapatan perkapita petani meliputi ; sektor
peternakan, industri, pertanian tanaman pangan dan hortikultura,
tanaman perkebunan serta tanaman hutan.
Dari lima sektor
tersebut, masing-masing daerah mempunyai prioritas yang berbeda-

15

beda. Ini dikarenakan adanya perbedaan daya dukung lahan serta


alam di lokasi tiap-tiap wilayah.
Di wilayah pedesaan, biasanya terdapat dua sektor paling
doniman yang mampu memberikan sumbangan terbesar bagi
pendapatan petani yaitu subsektor sektor pertanian tanaman bahan
makanan dan subsektor peternakan. Dua sektor tersebut masingmasing memberi sumbangan sebesar 60-80 % dan 20- 40% dari
pendapatan petani. Dari hasil pengamatan didapatkan jenis
komoditas yang secara ekonomi berkembang di masyarakat dan
banyak diusahakan oleh petani sebagai tumpuhan hidup mereka,
baik tanaman pangan dan hortikultura maupun tanaman perkebunan;
diantaranya : padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang tanah,
cabe, kelapa dan kapok randu. Sedang di sektor peternakan
nampaknya kambing dan sapi lokal merupakan primadona peternakan yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Hal ini
disamping sapi dikem bangkan untuk menambah pendapatan petani
juga dimanfaatkan sebagai sumber tenaga pengolah tanah pertanian.
(b). Pendekatan Ekologi Wilayah
Pendekatan ini didasarkan pada kesesuaian komoditas
pertanian untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik di suatu
daerah.
Untuk menentukan jenis komoditas yang mampu
berkembang, selain berdasar kepada komoditas yang sudah ada
tidak menutup kemungkinan mengembangkan jenis komoditas yang
secara ekologis sesuai. Penentuan jenis komoditas yang sesuai
untuk dikembangkan di suatu wilayah dilakukan dengan cara
pendekatan secara ekologis yaitu dengan cara melihat syarat
tumbuh bagi masing-masing komoditas dan juga melihat kondisi
wilayahnya.
Dari kedua faktor ekologis yang berperan menetukan tingkat
kesesuaian lahan yaitu konsidi wilayah dan syarat tumbuh yang dibutuhkan setiap komoditas, akan diperoleh informasi tentang jenis
komoditas yang secara ekologis sesuai untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis secara ekologis jenis komoditas yang dapat
tumbuh dengan baik pada kondisi lahan kering a.l. : padi, jagung, ubi
kayu, ubi jalar, cabe, kelapa, mangga, rambutan, melinjo , jeruk,
jambu mete dan kapok randu. Dengan diketahuinya jenis komoditas
yang secara ekomonis lebih menguntungkan
atau lebih
menguntungkan di antara komoditas lain yang sudah ada dan secara
ekologis daerah tersebut sesuai (baik syarat tumbuh maupun kondisi
wilayah bersangkutan), maka komoditas-komoditas tersebut perlu
segera dikembangkan.
Dengan demikian sasaran untuk
meningkatkan tarap hidup petani akan tercapai. Di samping itu
program pengembangan ini dapat dipadukan dengan program
pertanian berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Artinya dari

16

hasil pemetaan akan didapatkan jenis komoditas yang secara


agroekologi dapat dikembangkan dengan baik, dapat meningkatkan
kesuburan tanah atau bahkan menunjang upaya konservasi lahan.
2.3.2. Kelembagaan
Untuk memperlancar program pengembangan SPAKU yang
sudah terencana, setelah diketahuinya komoditas andalan yang akan
dekembangkan, diperlukan langkah-langkah yang harus dilaksanakan. Paket pengembangan program harus tersusun secara
sistematis sehingga tahapan pelaksanaan dapat berjalan dengan
baik, mulai dari persiapan sampai usaha tersebut menghasilkan
sesuatu.
(a). Penentuan Kelompok Sasaran (KUBA)
Program pengembangan ini tentunya dapat diproiritaskan bagi
petani yang kurang mampu, dengan harapan dapat meningkatkan
kesejahteraannya. Dasar pertimbangannya adalah bahwa petani
tersebut biasanya kurang berani mengambil resiko kegagalan dan
menanamkan modal untuk usaha yang belum pernah ditekuni.
Disamping itu petani tersebut kurang mampu untuk mencari modal
yang cukup besar untuk usahataninya.
Penentuan kelompok sasaran ini dapat dilakukan dengan cara
seleksi yang mendasarkan kepada beberapa kriteria yang dapat
digunakan sebagai tolok ukur taraf hidup petani. Kriteria pemilihan
berpedoman kepada beberapa fasilitas sarana fisik yang dimiliki
seperti, pemilikan ternak, alat transport, luas lahan, rumah serta
status pekerjaan. Apabila petani tersebut lolos dari persyaratan
minimal yang diajukan maka tidak memenuhi syarat sebagai petani
kurang mampu, sehingga tidak mendapatkan prioritas bantuan dan
sebaliknya.
Sistem pengelolaan Usaha kelompok masyarakat miskin
harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dengan harga yang
bersaing. Untuk tujuan tersebut, maka Kelompok masyarakat miskin
harus dirangsang berupa pelayanan yang baik. Usaha ini dapat
dilakukan apabila telah mempunyai ketrampilan yang memadai
dalam proses produksi , kebijakan dalam investasi, pembelian,
pemasaran dan pengelolaan keuangan. Usaha Pemerintah untuk
mengembangkan usaha ini dapat dilakukan melalui : bimbingan,
pelatihan, permodalan, sarana dan prasana serta bantuan perluasan
jangkauan pemasaran. Disamping itu usaha tersebut seyogyanya
pula mempunyai mitra usaha dari perusahaan besar baik milik
Pemeritah maupun swasta. Untuk menunjang kegiatan tesebut
intervensi pemerintah juga diharapkan pada pengembangan
infrastruktur

17

Berdasarkan kenyataan bahwa suatu usaha adalah suatu


investasi bisnis, maka prinsip kelayakan usaha juga harus menjadi
pertimbangan. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
(1). Kelayakan Usaha Berdasarkan Finansial, meliputi: Comparative
& Competitive advantages, enterprise choice cabang usaha,
Opportunity cost, dan Economic of scale.
(2). Kelayakan Usaha Berdasarkan Managerial, meliputi : Sistem
pengorganisasian, model kredit begulir, model pembinaan,
model pelunasan pinjaman, sistem keterkaitan dengan mitra
usaha, dll.
(3). Kelayakan Usaha Berdasarkan Sosial, meliputi : respon ma
syarakat, Partisipasi, dan daya jangkau kebutuhan masyarakat.
(b). Penyuluhan
Mengingat tingkat pengetahuan petani lahan kering di wilayah
pedesaan miskin sangat terbatas, khususnya mengenai hal-hal yang
mesih dianggap baru, maka petani harus diperkenalkan dengan
teknologi budidaya tanaman tersebut. Pengenalan IPTEK baru ini
meliputi beberapa aspek baik teknis maupun non teknis. Hal-hal
yang bersifat teknis misalnya teknologi budidaya yang perlu
diperhatikan mulai dari penyediaan bibit atau bahan tanam,
pemupukan, pemeli haraan tanaman sampai kepada pasca
panennya. Hal yang bersifat noon teknis misalnya manfaat tanaman
bagi peningkatan pendapatan, prospek tanaman untuk memenuhi
kebutuhan pasar lokal maupun peluangnya untuk ekspor dan
sebagainya. Dengan demikian petani akan terbuka wawasannya
dan mempunyai minat besar untuk mengembangkan komoditas
tersebut.
(c). Penyediaan bahan tanam/Bibit
Salah satu aspek yang menentukan berhasil tidaknya suatu
usahatani adalah tersedianya bahan tanam baik berupa bibit maupun
benih. Kesalahan dalam memilih bahan tanam tersebut banyak yang
mengakibatkan kerugian yang membawa akibat fatal bagi petani.
Sebagai contoh, kalau seandainya petani ingin menanam kelapa,
sementara mereka tidak memperhatikan bibit yang digunakan sebagai bahan tanam, maka kesalahan penggunaan bibit ini akan baru
dirasakan setelah menunggu selama 5 - 7 tahun berikutnya.
Sehingga petani disamping rugi dengan biaya yang dikeluarkan, juga
akan rugi waktu. Karena mereka bersusah payah menunggu sampai
bertahun-tahun akhirnya tanaman yang diusahakan tidak
memuaskan.
Sistem penyediaan bahan tanam dapat ditempauh melalui
dua cara yaitu pertama dengan cara mendatangkan bibit atau benih
dari penyalur resmi dan kedua melalui kebun bibit yang didirikan oleh
masyarakat setempat. Penyediaan bibit atau benih dengan cara

18

pertama tidak banyak mengalami kesulitan, namun memerlukan


biaya yang tinggi. Lain halnya apabila usaha pengadaan benih atau
bibit ini dilakukan oleh masyarakat setempat. Secara ekonomi hanya
memer lukan biaya yang relatif kecil, namun secara teknis lebih sulit.
2.4. DATA DAN ANALISIS
2.4.1. Data dan Informasi
Data dan informasi yang akan dikumpulkan meliputi:
a. Data Biofisik
1. Sumberdaya Lahan: Kualitas dan karakteristik lahan yang
diperlukan untuk keperluan evaluasi kesesuaian lahan
2. Sumberdaya air: Curah hujan, aliran sungai, sumber air .
3. Agroklimat: temperatur udara, dan data-data meteorologi dari
stasiun terdekat.
4. Sumberdaya Biologi: flora dan fauna, termasuk tanaman
budidaya, dan ternak.
b. Data Ekonomi
1. Ekonomi wilayah: sumberdaya dan sektor ekonomi yang
potensial di tingkat kecamatan / desa; matapencaharian
penduduk dan sumber pendapatan rumahtangga
2. Usahatani tanaman dan ternak: Struktur dan perilaku usahatani
3. Kelembagaan ekonomi/finansial: koperasi/KUD, lembaga
keuangan pedesaan/pelayanan permodalan, pengolahan/
pemasaran hasil dan saprodi.
4. Data penunjang lainnya
c. Data Kelembagaan Sosial-Budaya
1. Pola panutan masyarakat dan stratifikasi sosial/kelompok tani
2. Perilaku kelembagaan dan mekanisme transfer informasi dan
IPTEK: Penerangan masyarakat, penyuluhan, komunikasi
massa dan interpersonal.
3. Data penunjang lainnya.
d. Data agroteknologi:
1. Teknologi produksi tanaman dan ternak yang dikuasai petani
dan yang terdapat di pusat/lembaga inovasi terdekat.
2. Teknologi konservasi sumberdaya lahan dan air
3. Teknologi pengelolaan lingkungan hidup.
e. Data Agroindustri/industri rumahtangga/kerajinan rakyat:
1. Penanganan pascapanen dan pengolahan hasil tanaman dan
ternak
2. Teknologi produksi/pengendalian kualitas produk non-farm

19

3. Promosi dan pemasaran hasil.

20

III.

POTENSI
KOMODITAS PEPAYA

PENGEMBANGAN

3.1. PENGEMBANGAN TANAMAN BUAH-BUAHAN


Pengembangan tanaman hortikultura dalam Pelita VI
mengacu kepada
tujuan pembangunan sub sektor pertanian
tanaman pangan dan hortikultura yang diarahkan untuk mewujudkan
pertanian yang tangguh dan efisien, sehingga mampu (a)
menghasilkan pangan dan bahan mentah yang cukup bagi
pemenuhan kebutuhan rakyat, (b) memelihara kemantapan
swasembada pangan, (c) memperbaiki keadaan gizi masyarakat
melalui penganekaragaman jenis bahan pangan, (d) meningkatkan
produktivitas dan efisiensi serta kualtas sumberdaya manusia, (e)
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, (f) memperluas
kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, (g) mengisi dan
memperluas pasar dalam negeri dan luar negeri, dan (h)
menciptakan keterkaitan dan keterpaduan dengan sektor industri dan
jasa menuju terbentuknya jaringan kegiatan agribisnis dan
agroindustri yang produktif (Adjid, 1993).
Peningkatan konsumsi buah-buahan masyarakat sangat penting. Rataan konsumsi buah-buahan saat ini masih sangat rendah,
baru mencapai sekitar 53.9% dari anjuran gizi, yaitu 32.6 kg per
kapita per tahun (tahun 1978). Keadaan seperti ini ternyata masih
belum mampu dipenuhi oleh produksi buah domestik, sehingga
masih terjadi impor buah-buahan yang cukup besar. Impor buahbuahan yang terlalu banyak dikhawatirkan tidak merangsang petani
untuk
mengusahakan
mkomoditi
buah-buahan,
sehingga
diberlakukanlah kebijaksanaan pembatasan impor buah-buahan (SK
Menteri perdagangan dan Koperasi Nomor 505/KP/XII/1982).
Setelah itu jumlah impor buah-buahan menurun dan sekaligus diikuti
oleh peningkatan produksi dalam negeri dan ekspor.
Dalam kurun waktu lima tahun setelah pembatasan impor,
rata-rata produksi buah-buahan meningkat sebesar 3.56% dan diikuti
dengan meningkatnya ekspor
buah-buahan hingga mencapai
57.83% serta menurunnya impor sebesar 39.76%. Hal ini
menunjukkan bahwa pembatasan impor buah-buahan berdampak
positif dalam pengembangan buah-buahan di Indonesia.
Peningkatan ekspor buah-buahan terutama terjadi pada komoditi
mangga, manggis, durian, pisang, pepaya, rambutan, nenas, alpokad, dan melon (Tabel 3.1); serta ekspor buah olahan seperti nenas,
jambu biji, pepaya, sirsak, markisa, pisang, rambutan, salak, nangka
dan anggur (Tabel 3.2).
Tantangan dalam pengembangan komoditi buah-buahan akan
menjadi semakin berat kalau pembatasan impor buah-buahan ditiada

21

kan. Dalam kondisi seperti ini pengembanan buah-buahan dalam


negeri dituntut untuk lebih dapat bersaing dengan produksi buahbuahan impor. Menurut Soerojo (1993) dalam PJP II peranan
komoditi hortikultura buah-buahan akan terus ditingkatkan melalui
pengembangan agribisnis dan agroindustri, sehingga nilai tambah
produk buah-buahan dalat lebih ditingkatkan.
Pemerintah
memberikan pelu ang yang lebih besar bagi pihak koperasi dan
suasta untuk berusaha di bidang agribisnis buah-buahan, terutama
komoditas pesuplai bahan baku industri, ekspor, substitusi impor dan
mempunyai nilai ekonomi tinggi. Untuk itu diperlukan strategi
pengembangan buah-buahan yang baru untuk menjawab tantangan
tersebut.
Tabel 3.1. Perkembangan ekspor buah segar Indonesia
Komoditi
1. Mangga
2. Durian
3. Pisang
4. Pepaya
5. Rambutan
6. Jeruk

1990
573
272
155
109
108
-

Fisik (ton)
1993
1503
331
24917
2
202
308

Nilai FOB (US $ 000)


1990
1993
579
1707
156
274
282
3301
88
2
158
317
112

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura dan BPS


Tabel 3.2. Perkembangan ekspor buah olahan Indonesia
Komoditas

1. Buah & kulit dalam gula


2. Nanas dalam sirup
3. Grape fruit juice

Fisik (ton)

Nilai FOB
(US $ 000)

1990

1993

1990

1993

94

4964

63

1694

7149

99742

4086

49983

192

10936

96

21392

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura dan BPS


Menurunnya impor buah-buahan terutama terjadi pada buah
jeruk, apel, anggur, pear, jeruk mandarin, kurma kering, dan anggur
kering (Tabel 3.3).

22

Tabel 3.3. Perkembangan impor buah-buahan


Komoditas

1. Jeruk
2. Anggur
3. Apel
4. Pear
5. Kurma

Fisik (ton)
1990
179
249
2178
1407
1617

Nilai CIF (US $ 000)


1993
22791
7453
25454
7044
?

1990
218
427
1490
892
352

1993
23836
8517
21705
5529
?

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura (1987) dan BPS


(1991)
Potensi Produksi
Potensi riil komoditi buah-buahan penting di Jawa Timur
selama beberapa tahun terakhir terus meningkat (Tabel 3.4).
Komoditi buah yang terus berkembang yaitu mangga, pisang, nenas,
pepaya, apel, rambutan, dan salak. Walaupun demikian ternyata
masih harus terus ditingkatkan untuk memenuhi pasar domestik dan
ekspor.

Tabel 3.4. Produksi komoditi buah-buahan di Jawa Timur


Komoditi
1. Alpokad
2. Anggur
3. Apel
4. Durian
5. Jeruk besar
6. Jeruk Keprok
7. Jeruk manis
8. Jeruk Siem
9. M Arumanis
10. Mangga
Golek
11. M lainnya
12. Nanas
13. Pepaya
14. Pisang
15. Rambutan

Luas areal panen (pohon)

Produksi buah (ton)

1983
862.833
23.192
6891.333
398.904
783.255
1220.912
339.115
580.873
709.970
742.877

1990
1005.528
51.112
3831.149
701.677
951.178
2590.266
652.115
1498.809
2567.210
1622.179

1983
32.635
900
138.425
15.852
18.527
23.031
9.139
13.144
21.324
16.091

1990
44.867
2.552
152.213
67.882
85.760
73.238
25.839
136.700
178.832
77.897

3089.693
76743.132
27688.817
89149.513
1744.544

5467.763
386852.334
38183.003
163105.037
2893.564

105.205
112.800
719.836
898.371
70.520

318.217
427.035
972.131
3121.930
171.965

Sumber: Diperta Jawa Timur

23

Ekologi Tanaman
Kapabilitas sumberdaya lahan dan kondisi agroekologi di
suatu wilayah pengembangan sangat beragam, sehingga
memungkinkan aneka jenis tanaman buah-buahan untuk tumbuh
dan berproduksi. Oche (1975) telah berupaya mengelompokkan
kesesuaian komoditi buah- buahan berdasarkan kondisi agroekologi
wilayah menjadi empat, yaitu zone rendah kering, zone remdah
basah, zone tinggi kering, dan zone tinggi basah (Tabel 3.5).
Sedangkan Terra (1955) mengelompokkan kesesuaian komoditi
buah-buahan berdasarkan ketinggian tempat dan iklim (Tabel 3.6).
Hubungan antara kondisi sumberdaya lahan dengan respon
tanaman dalam upaya pengelolaan lahan akan menentukan tingkat
produktivitas lahan. Berbagai teknik telah dikembangkan untuk
memperkirakan tingkat produktivitas lahan melalui proses evaluasi
kesesuaian lahan. Hasil evaluasi ini sangat penting dalam rangka
perencanaan penggunaan dan pengelolaan sumberdaya lahan.
Tabel 3.5. Pengelompokkan Tanaman buah-buahan
Ketinggian
tempat
(m dpl)
Tinggi
(>700 mdpl)

Rendah
(< 700 m dpl)

Iklim Schmidt dan Ferguson:


Basah (Tipe A; B; C)
Markisa; Jeruk sieam
Kasemek; Alpokad
Jeruk nipis; Nangka
Pepaya; Sawo
Pisang Ambon; Sirsak
Pisang Tanduk; Jambu
Biji
Jeruk keprok
Rambutan; Jeruk siem
Durian ; Jeruk keprok
Duku ; Jeruk manis
Mangga ; Alpokad
Salak ; Sirsak
Nanas ; Jambu biji
Blimbing manis;Nangka
Pepaya ; Sawo
Pisang Ambon; Sukun
Pisang Raja; Jeruk besar
Pisang Tanduk

Kering (Tipe D; E; F)
Apel; Jeruk
Lengkeng; Alpokad
Pisang Ambon; Sirsak
Pisang Lumud; Jambu Biji
Nenas; Nangka
Strawberry; Sawo
Jeruk keprok
Mangga; Jeruk keprok
Anggur ; Alpokad
Langsat ; Jeruk manis
Manggis ; Jambu Biji
Blimbing; Sirsak
Salak ; Nangka
Pepaya ; Sawo
Pisang Ambon; Jeruk
Besar
Pisang Kepok; Nenas

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura.

24

Tabel 3.6. Syarat tumbuh ketinggian tempat dan Iklim


No. Jenis Tanaman

1. Alpokad
2. Blimbing manis
3. Jambu Biji
4. Jeruk Besar
5. Jeruk Keprok
6. Jeruk Nipis
7. Jeruk Manis
8. Jeruk Siem
9. Duku
10. Durian
11. Juwet
12. Mangga
13. Manggis
14. Nangka
15. Rambutan
16. Sawo
17. Sirsak
18. Klengkeng
19. Pepaya
20. Pisang
21. Salak

Tinggi
tempat
m dpl
0-1000
0- 500
0-1000
0- 400
0-1200
0-1000
0-1000
0- 700
0- 650
0- 800
0- 500
0- 300
0- 800
0-1000
0- 600
0- 700
0- 500
300-900
0- 700
0- 800
0- 400

Iklim Schmidt & Ferguson:


A
A-bcd
A-abcd
A-abcd
A-bcd
B2-bcd
A-abcd
A-bcd
A-bcd
A-abcd
A-bcd
A-bcd
A-abcd
A-bcd
A-bcd
A-abcd
A-abcd
A-bcd
A-abcd
A-abcd
A-abcd

B
B-bc
B-abc
B-abcd
B-bc
B-bcd
B-abc
B-bcd
B-bc
B-abc
B-bcd
B-bc
B2abcd
B-ab
B-bcd
B-bcd
B-abcd
B-abc
B-bc
B-abc
B-abc
B-abc

C
C-bc
C-abc
C-abc
C-bc
C-abc
C-bc
C-ab
C-bc
C-abc
C-ab
C-bc

D
D-bcd
D-bc
D-abc
-

C-abc
C-ab
C-ab
C-ab

Sumber: Direktorat Bina Produksi Hortikultura, 1987


Keterangan: Kedalaman air tanah: a = < 50 cm; b = >50-150 cm; c = >150200 cm; d = sangat dalam.
Iklim: A1 = 12 bulan basah dan 0 bulan kering
A2 = < 12 bulan basah dan 0 bulan kering
B1 = 12 bulan basah dan 1 bulan kering hingga 9-10 bulan basah dan 2
bulan kering
B2 = 9 bulan basah dan 4 bulan kering hingga 7 -8 bulan basah dan 4
bulan kering
C = 7 bulan basah dan 4 bulan kering hingga 5-6 bulan basah dan 6
bulan kering
D = 5 bulan basah dan 6 bulan kering hingga 2- 4 bulan basah dan 8
bulan kering.

Model Kelembagaan Agribisnis


Lembaga penyuluhan, perkreditan, pemasaran tidak berjalan
efektif. Di lain pihak teknologi yang diterapkan petani rendah,
adanya kesulitan modal bagi petani untuk pengembangan, petani
cenderung untuk berorentasi pada kecukupan pangan, keadaan
pasar yang cenderung membuat posisi petani lemah. Berdasarkan
keadaan ini, maka dalam strategi pengembangan kelembagaan
agribisnis buah-buahan seperti mangga dan rambutan, seyogyanya

25

dipilih model PIR dengan mitra-kerja para eksportir, apabila lokasi


pengembangan lahannya terletak dalam suatu wilayah hamparan
dengan model usahatani tumpangsari dengan tanaman pangan pada
waktu umur tanaman pokok masih muda. Sedangkan apabila lokasi
hamparan petani berjauhan lebih tepat jika dikembangkan Model
Anak Angkat. Pemecahan masalah modal bagi petani seyogyanya
berbentuk model jasa petani terhadap perusahaan inti yang dapat
berupa jasa pemeliharaan tanaman milik perusahaan inti, usaha
pembibitan ataupun aktivitas lainnya dari perusahaan inti.
Kendala Pengembangan Agribisnis di Jawa Timur
Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan agri
bisnis komoditi buah-buahan di Jawa Timur dapat diidentifikasikan
seperti berikut ini.
(1). Faktor Agroekologi
Faktor-faktor agroekologi seringkali menjadi penyebab rendah
nya produksi buah pepaya di Jawa Timur. Berdasarkan hasil-hasil
penelitian dan observasi lapangan di daerah produksi, beberapa
gangguan terhadap pembuahan tersebut dapat dapat dikelompokkan
menjadi enam, yaitu:
(a). Gangguan penyerbukan bunga, gangguan yang sering terjadi
adalah karena turunnya hujan lebat pada masa pembungaan
pepaya.
(b). Rendahnya tingkat kesuburan tanah
(c). Gangguan hama, penyakit, dan gulma
(d). Rendahnya intensitas radiasi matahari yang sampai pada
permukaan tajuk tanaman
(e). Ketidak-sesuaian dengan kondisi iklim dan musim
(f). Laju pertumbuhan tanaman; tanaman yang tumbuhnya terlalu
cepat seringkali tidak dapat berbunga dan berbuah dengan baik.
Penghambatan laju pertumbuhan ini dapat dilakukan dengan
beberapa cara, a.l. pemotongan sebagian akar, mengikat batang
atau cabang dengan kawat, membalut batang atau cabang
dengan kaleng.
(2). Sistem Pengusahaan
Sistem usahatani durian, mangga dan rambutan selama ini
masih secara sambilan dengan memanfaatkan lahan pekarangan.
Tampaknya masih sedikit tanaman pepaya yang diusahakan dengan
sistem kebun monokultur. Sebagian besar usahatani dilakukan
secara kecil-kecilan oleh individu rumah tangga, sehingga
varietasnya sangat beragam, intensitas perawatan ta-naman relatif

26

rendah, teknologi yang diterapkan rendah, serta penanganan pasca


panen yang kurang memadai.
Suatu hal yang menarik dari aspek teknologi ini adalah pene
muan teknologi oleh pusat-pusat pengembangan IPTEK di Indonesia
dirasakan masih kurang dapat dimanfaatkan oleh petani. Sebagai
teladan adalah teknologi pembibitan, teknologi manipulasi tajuk dan
bunga untuk merangsang pembuahan, teknologi pengawetan dan
pengolahan buah . Keadaan yang lebih memprihatinkan dijumpai
pada komoditi pepaya walaupun mempunyai potensi ekonomi untuk
dikembangkan, tetapi penemuan dan penyebaran agro- teknologi
dan agro-industrinya masih sangat kurang.
3.2. Sistem AGRIBISNIS KOMODITAS PEPAYA
3.2.1. Pendahuluan
Pepaya merupakan tanaman tropika yang dapat tumbuh
meluas di lahan pekarangan. Tanaman ini diperkirakan berasal dari
daerah tropika Amerika. Lazimnya tanaman ini ditanam ependuduk
di kebun, tegalan sempit- sempit atau sebagai tanaman individual di
pekarangan untuk konsumsi sendiri. Daging buahnya bernilai gizi
tinggi, mengnadung banyak vitamin A dan C. Tanaman ini mudah
beradaptasi secara lokal dan tersebar luas, ditanam di daerah
sekitar ekuator hingga daerah lintang sedang.
Pertumbuhan
tanaman di daerah tropika lebih cepat dan akan berbunga setelah
umur 6 bulan dan menghasilkan buah yang masak pada umur 9
bulan. Pepaya akan mati kalau terkena frost. Di derah iklim sangat
basah ia mudah terserang penyakit busuk akar terutama kalau
drainase tanah buruk. Dataran tinggi hingga 1500 m dpl di daerah
tropika masih sesuai bagi pepaya asalkan tidak terlalu basah dan
berawan.
Tanah harus mempunyai drainase yang bagus, sehingga
tanah-tanah berpasir sangat sesuai. Tanah-tanah masam dengan
pH < 5 harus dikapur untuk memperkecil gangguan penyakit busuk
akar. Pepaya tidak boleh ditanam bertutur-turut pada tanah yang
sama tanpa adanya fumigasi.
Benih pepaya diperoleh dapat dari tanamannya sendiri. Pada
dasarnya ada dua cara untuk mendapatkan benih yang baik, yaitu:
(a). Biji diambil dari pohon yang menghasilkan banyak buah dan tipe
buahnya bagus; (b). Persilangan pohon-pohon yang hasilnya tinggi
juga dapat dilakukan. Karena pepaya sering mengalami polinasi dari
luar, maka hasil yang lebih baik
dapat diperoleh dengna
menyialngkan pohon-pohon tertentu yang terpilih. Penyilangan
pohon betina yang buahnya banyak dengan tanaman hermaprodite
akan menghasilkan banyak biji yang akan tumbuh menjadi pohon
betina.
Bibit ini sangat dibutuhkan untuk tanaman di

27

lapangan/kebun. Kalau diinginkan pepaya dengan tipe buah kecil,


pohon hermaprodit dapat disilangkan. Pollen diambiln dari bunga
hermaprodit dan disimpan dalam tabung reaksi yang disumbat
dengan pakas dalam suatu desikator.
Pelepasan polen
dilakukan/berlangsung pada saat hari cerah dimulai dsari pagi ahri.
Bunga-bunga betina harus dibungkus dengan kertas secara rapat
selama 10 hari setelah petal dibuang dan pollen ditaburkan pada
stigma. Biji-biji diambil dari buah masak/matang dan dapat ditanam
langsung atau dikeringkan dan disimpan selama waktu tertentu
hingga setahun. Kadangkala lapisan lemak berlendir pada biji
dibuang dahulu sebelum ditanam.
Biji dikecambahkan pada petakan rata tanah berpasir yang
drainasenya bagus. Biji disusun dengan jarak 2 cm dan ditutup
dengan lapisan tanah halus setelab 1 cm. Biji akan berkecambah
dengna baik kalau mendapatkan cahaya pagi. Becambah akan mati
akibat penyakit mati pucuk kalau diairi secara berlebihan, sehingga
tanah harus diairi sedikit-demi sedikit dua kali sehari. Kadangkala
perlu menggunakan tanah yang telah disterilkan atau difumigasi
dengan bromo-methan. Setelah umur seminggu bibit muda dapat
dipindahkan ke kantong plastik ukuran 15x20 cm, dan dipelihara
selama 3-4 minggu sebelum ditanam .
Pepaya umumnya ditanam dengan jarak 2x3 m, jarak yang
lebih rapat memberikan hasil lebih banyak pada tahun pertama,
tetapi tanaman mengalami etiolasi dan hasilnya menurun pada
tahun ke dua. Umumnya pepaya ditanam tidak lebih dari 3-4 tahun.
Untuk mendapatkan proporsi tanaman betina yang banyak,
menanam tiga bibit dengan jarak 25 cm dengan biji yang berasal dari
polinasi luar. Tanaman betina murni dapat dikenali oleh tidak adanya
bunga jantan sebelum tiga bulan di daerah tropika; pada saat ini
tanaman yang kelihatan betina ditinggalkan dan yang lain dipotong.
Rabuk organik dan pupuk buatan keduanya dipakai untuk
pepaya. Untuk mendapatkan buah yang banyak diperlukan pupuk
majemuk NPK (15-15-15) dengan dosis 1.5 kg/tanaman/tahun.
Rincian dosis pupuk menurut umur tanaman adalah:
Umur 0-3 bulan: 20 g/tanaman/bulan
Umur 4-6 bulan: 50 g/tanaman/bulan
Umur > 7 bulan: 100 g/tanaman/bulan
Kalau buah pepaya akan digunakan untuk konsumsi kalengan
maka dosis pupuk nitrogen harus dikurangi. Dosis N yang tinggi akan
menimbulkan kadar nitrat yang tinggi pada pepaya dan ini
membahayakan kaleng. Untuk pengalengan ternyata pupuk lengkap
NPK dengan rasio 1:2:2 harus digunakan dan dosisnya tidak boleh
lebih dari 50 g/tanaman/bulan.
Penyiangan secara manual harus hati-hati supaya tidak
merusak akar tanaman. Herbisida Diuron dengan dosis 2 kg/ha dan
paraquat 1 liter/ha memberikan hasil yang baik kalau disemprotkan

28

di lingkaran tajuk seputar batang, asalkan tidak pada tanah berpasir


dan gambut.
Pepaya mudah terserang nematoda dan lahan tidak boleh
ditanami pepaya lebih dari sekali (1-3 tahun) sebelum dirotasikan
dengan tanaman lainnya.
Pada lahan yang terserang parah,
nematisida separeti Nemagon sangat dianjurkan. Formalin (25 ml
larutan metanal 4%) dituangkan dalam lubang tanam juga
dianjurkan. Pada tanah-tanah yang drainasenya jelek, dan tanah
tanah yang sebelumnya telah ditanami pepaya, maka Phytophthor
dan berbaqabusuk akar lainya menyebabkan kerugian yang serius
pada pepaya.Berbagai penyakit batang dan daun juga ada dan
kadang kadang dapat dikendalikan dengan menyemprot
fungisida.Ada banyak penyakit virus pada pepaya dengan gejala
seperti mosaik, kerdil, lambatnya pertumbuhan tanaman dan kerdil,
menguningnya daun dan tajuk yang kecil. Mereka umumnya
disebarkan oleh serangga,tetapi sukar diberantas. Suatu tanaman
yang tumbuhnya tidak normal harus segera dibongkar dan dibakar
atau dikubur. Beberapa tanaman menunjukkan resitensi dan ini
harus digunakan untuk memprokduksi biji benih. Pepaya
pegunungan juga agak resisten terhadap gangguan virus penyakit.
Buah pepaya harus dipanen pada saat setengah masak,ketika
daging buahnya masih keras dan tekstur seperti wortel.Buah ini akan
cepat masak selama 1-3 hari dan harus segera diangkut ke pasar
sebelum menjadi lunak.
Dalam hal budidaya tanaman pepaya dan pengelolaannya,
mulai
dari
persemaiannya
benih
sampai
dengan
pemanenannya, terdapat beberapa permasalahan yang umum
dijumpai oleh petani pepaya di wilayah Jawa Timur, yakni kualitas
bibit yang tidak bagus (bahkan terkesan apa adanya), kerontokan
bunga yang cukup besar, terjadinya tanaman jantan, produksi buah
tidak teratur /beragam dan buah hasil panen yang tidak tahan lama
dan mudah rusak/busuk.
(a). Kualitas bibit yang kurang baik
Umumnya petani mendapatkan bibit pepaya dari buah yang
diperoleh dari tetangga atau membeli buah di pasar bebas. Biji
dari buah ini kemudian disemaikan dan bibitnya ditanam. Bibit
yang diperoleh dengan cara seperti ini ternyata ragam
produksinya sangat besar dan umumnya mempunyai
produktivitas yang rendah.
(b). Kerontokan bunga
Kerontokan bunga sering terjadi pada tanaman pepaya,
terutama bila terjadi hujan deras dan angin kencang selama
periode pembungaan berlang sung.
(c). Terjadinya buah yang kecil-kecil dan bentuknya tidak teratur

29

Pada masa pemanenan buah, tak jarang kita jumpai adanya


buah-buah yang kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan.
Kondisi seperti ini biasnaya dibarengi dengan buah yang tumbuh
jarang-jarang pada pohon pepaya.
3.2.2. Potensi Produksi di Jawa Timur
Di Jawa Timur, sentra produksi pepaya terletak di daerah
Kediri-Malang-Lumajang-Jember hingga Banyuwangi. Di daerah ini
dapat dijumpai tanaman pepaya yang ditanam secara campuran
dengan tanaman lain pada lahan pekarangan dan tegalan, ada pula
petani-petani yang mengkhususkan diri menanam pepaya dalam
kebun monokultur.
Tabel 3.7. Potensi riil produksi pepaya di Jawa Timur
Kabupaten
1. Mojokerto
3. Bojonegoro
4. Tuban
5. Madiun
7 .Ngawi
8 .Ponorogo
9 . Pacitan
10. Kediri
11. Nganjuk
12. Blitar
13. Malang
14. Lumajang
15. Bondowoso
17. Jember
18. Banyuwangi
19. Sumenep

Tanaman
menghasilk
an (pohon)
199.637
191.054
225.994
130.734
193.151
481.145
126.433
1058.056
334.663
396.325
1928.204
249.098
301.266
657.106
649.414
319.600

Produksi
buah (ton)
1777
5428
4379
1035
3232
4103
1319
33663
3019
3485
32377
8350
3215
3286
20423
1620

Rataan
prodktivitas
(kg/pohon)
8.90
28.41
19.38
7.92
16.73
8.53
10.43
34.65
9.02
8.79
16.79
33.52
10.67
5.00
31.45
5.07

Kategori Daerah
Rendah
Tinggi
Sedang
Rendah
Sedang
Sedang
Rendah
Sangat tinggi
Sedang
Sedang
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Sangat Tinggi
Rendah

Keterangan: Rendah : < 2500 ton/tahun; Sedang: 2500 - 5000; Tinggi: 5000
- 10.000; Sangat Tinggi: > 10.000 ton/tahun.

3.2.3. Ekologi Tanaman


Kondisi Agroklimat
Tanaman pepaya dapat dijumpai pada hampir seluruh wilayah
Jawa Timur, dengan keanekaan jenis yang sangat besar dan ragam
produktivitas yang sangat tinggi. Tanaman ini mudah beradaptasi
secara lokal dan tersebar luas pada berbagai kondisi daerah.
Kondisi lingkungan tumbuh tanaman ternyata sangat
berpengaruh terhadap produktivitas buah dan ukuran individu buah.

30

Kualitas buah ini sangat tergantung pada fluktuasi musiman suhu


udara dan radiasi matahari (Hamilton, 1971). Preferensi buah
pepaya yang ukurannya kecil untuk ekspor, rataan sekitar 340 - 560
g, telah mendorong
penanaman pepaya strain "Puna" atau
"Kapoho" di Hawaii. Manipulasi lingkungan tumbuh tanaman melalui
teknologi budidaya tanaman, terutama suplai air irigasi dan pupuk
juga berpengaruh terhadap ukuran buah. Di wilayah bebas salju di
Afrika Selatan, buah pepaya menunjukkan pola pertumbuhan
sigmoid dalam meningkatkan volumenya, tetapi bentuk kurvenya
sangat beragam tergantung pada bulan fruit-set dan klon tanaman
(Kuhne dan Allan, 1970). Suhu rataan mingguan sekitar 19oC akan
memperpanjang fase initial dan fase akhir dari pertumbuhan yang
relatif lambat. Fase pertengahan meningkat dengan cepat volume
buahnya dan paling kurang terpengaruhi oleh suhu udara yang
rendah. Laju pertumbuhan pada fase initial lebih cepat apabila suhu
udara lebih tinggi selama masa pra-anthesis dan fase initial dari
kurva eksponensial (log volume buah). Rataan suhu mingguan
(<15oC) selama fase ini menyebabkan penangguhan laju
pertumbuhan dan reduksi ukuran buah. Ukuran buah mencapai
puncaknya apabila fruitset terjadi pada musim panas dan kemudian
menurun dengan cepat.
Musim hujan yang berkepanjangan dan drainase tanah yang
jelek dapat mengakibatkan gugur daun (premature) pada bagian
bawah, menguningnya daun-daun muda, batang kurus dan tumbuh
memanjang, dan hasil buah sedikit. Dalam rangka untuk mengatasi
masalah ini biasanya petani membuat bedengan yang tinggi dengan
parit-parit yang lebar dan dalam.
Kondisi Tanah
Kondisi tanah yang ideal bagi tanaman pepaya dalah tanah
lempung berpasir yang ringan, namun dmeikian tanaman ini masih
mampu tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah yang
mampu menahan cukup banyak air tersedia dan drainasenya bagus.
kondisi air tergenang sangat berbahaya, dan drainase yang kurang
bagus akan mendorong gangguan penyakit busuk akar dan busuk
batang. Fumigasi tanah dapat mengurangi gangguan akibat penyakit
busuk akar Phytophthora dan Pythium. Syarat tumbuh lainnya untuk
mendapatkan hasil buah yang bagus ialah kondisi struktur tanah
yang baik dan mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang
memadai. Pada kondisi iklim yang baik, dan suplai unsur hara
tersedia yang memadai, tanaman pepaya akan tumbuh pendek,
batangnya kuat dan dengan cepat menghasilkan bunga dan buah.
Tanah yang sangat masam harus dikapur hingga nilai pH-nya
mencapai 6.0 - 6.5.

31

Kebutuhan hara dan pemupukan


Menurut Chandler (1964), praktek pemupukan yang dianggap
paling baik ialah mempertahankan suplai nitrogen agak tinggi dan
mensuplai secukupnya hara lain yang defisien. Untuk mensuplai
fosfat tersedia dalam tanah, terutama bagi tanaman muda, sebanyak
500 g pupuk fosfat dicampur secara merata dengan tanah pada liang
tanam, atau pemupukan sebelum tanam bibit sekitar 1250 kg/ha
campuran pupuk yang mengandung N, P dan K, dengan rasio
N/P2O5/K2O = 1:3:1, dibenamkan dalam tanah lapisan atas 15-20
cm. Defisiensi P mengakibatkan daun berwarna hijau gelap dengan
tulang daun dan tangkai daun berwarna ungu kemerahan. Kalium
menjadi snagat penting setelah fase pembungaan. Selama masa
pertumbuhan awal, periode vegetatif 5-6 bulan pertama tanaman
sangat ememelrukan nitrogen, setelah itu kebutuhan utamanya
adalah nitorgen dan kalium dengan rasio K2O/N = 1.5:2. Telah
terbukti bahwa pada tanah-tanah yang tampaknya subur, dimana
hanya respon nitrogen yang terjadi, pemupukan P dan K cenderung
merangsang pertumbuhan yang cepat dan pembungaan yang lebih
awal. Penggunaan rabuk kandang pada awal musim tanam atau
sebelum tanam bibit sangat disarankan, terutama kalau
dikombinasikan dengan fosfat, dalam rangka untuk meningkatkan
ketersediaan fosfat dalam tanah. Namun demikian tidak disarankan
menempatkan rabuk kandang dalam liang tanam karena dapat
merangsang perkembangan jamur Pythium.
Tujuan utama dari program pemupukan yang berimbang
adalah perkembangan tajuk tanaman yang penuh dan sehat. Kalau
daun-daun di bagian bawah menguning, ini mengindikasikan
defisiensi nitrogen. Sangat diperlukan untuk menjaga daun-daun
bagian bawah tetap hijau sehat selama mungkin karena
pertumbuhan tanaman, rasa dan kandungan gula dalam buah
secara langsung tergantung pada luas permukaan daun ini dan
sintesis karbohidratnya. Standar tentatif nitrogen dan fosfor, yang
didasarkan pada tangkai daun dewasa terakhir telah diteliti oleh
Awada et al. (1969). Informasi mengenai nilai baku hara tanaman ini
dapat diabtraksikan sbb:
Hara

Lokasi
percobaan

Sampling

Nitrogen

Waimanalo

Fosfor

Malama-Ki

Juni
Agst-Sept
September
Mei-Juni

Standard; % bhan kering


Maksimum
5% dari
maksimum
1.28
1.20
1.14
0.25

1.14
1.07
1.02
0.21

Rekomendasi pemupukan pada perkebunan pepaya di Angola


ialah 50 g pupuk lengkap 10-10- 10 pada saat tanam bibit, diikuti

32

dengan 250 g selang 3-4 bulan berikutnya pada pertenghaan musim


hujan. Pada tahun ke dua, 1000 g/tanaman harus diberikan,
setengahnya pada awal musim hujan dan sisanya pada
pertengahan musim hujan.
Berikut ini adalah rekomendasi pemupukan yang lazim
dilakukan petani:
Untuk tanaman yang umurnya kurang
setahun
Ammonium sulfat
Superfosfat (18% P2O5)
Sulfat kalium

Dosis per tanaman

Untuk tanaman yang umurnya lebih


setahun
Ammonium sulfat
Superfosfat (18% P2O5)
Sulfat kalium

Dosis per tanaman

50-100 g
150-300 g
20-40 g

300-400 g
400-800 g
100-200 g.

Pada pertanaman pepaya monokultur di Queensland, Agnew


(1968) merekomendasikan penaburan 1250 kg pupuk lengkap 1234-12 per hektar dan membenamkannya ke dalam tanah 15 cm,
diikuti dengan pemupukan 40 kg N/ha setiap dua bulan. Kalau
tanaman dibudidayakan untuk pengalengan buah, yang
menghendaki buah bebas nitrat, jadwal pemupukan ini harus
dilakukan hingga akhir Februari pada musim summer setelah tanam
bibit, dan setelah itu penugalan pupuk harus dibatasi hingga
Nopember-Februari setiap tahun berikutnya. Kalau tanaman
menunjukkan gejala defisiensi nitrogen, harus diberikan tambahan
nitrogen sebagai semprotan urea. Rekomendasi lainnya (Kruger dan
Menary, 1968) adalah menggunakan 100 g N dalam tiga kali aplikasi
dari saat panen buah hingga Januari, dengan tambahan semprotan
urea kalau diperlukan. Dalam rangka untuk menghindari kelebihan
nitrogen pada musim winter maka tidak boleh ada tanaman pupuk
hijau atau tanaman legum dan rabuk kandang. Pada pertanaman
pepaya di New South Wales, Leigh (1969) merekomendasikan basaldressing 1250 kg per ha pupuk lengkap NPK 1:3:1, yang diikuti
dengna side dressing campuran pupuk yang serupa dengan dosis
240 g/tanaman pada bulan Agustus, Nopember dan Februari selama
tahun pertama. Selama tahun-tahun berikutnya, dosis pupuk dapat
ditingkatkan hingga maksimum 1350 g/tanaman setahun.
Persyaratan Tumbuh Tanaman

33

Hackett dan Carolane (1982) menyusun kriteria evaluasi


syarat lingkungan tumbuh tanaman sebagai beirkut:
1. Agen biologis yang diperlukan dalam pembuahan (1-5): 2
2. Persyaratan kelembaban udara: agak tinggi
3. Kebutuhan hara:
Perlunya pemupukan hara makro (2-8):
N :7
Ca dan Mg : 6
P :7
K :7
Kebutuhan pupuk mikro (1-5) : 2
4. Fotoperiodisitas: Hari panjang atau hari pendek.
5. Toleransi kemiringan lahan (o):
Maksimum : > 10o
Minimum
: 0
6. Kedalaman efektif tanah (2-8):
Kurang dari 10 cm
: 4
10 - 20 cm
: 6
21 - 40 cm
: 8
> 40 cm
: 8
7. Reaksi (pH) tanah (2-8):
Kurang dari 5.5
: 2
5.5 - 7.0
: 8
7.1 - 8.5
: 8
8. Tekstur tanah (2-8):
Lempung, seragam
: 8
Lempung di atas liat
: 6
Tanah berbatu
: 4
Pasir , seragam
: 8
Pasir di atas liat
: 6
Tidak ada medium solid
2
9. Suhu udra (oC):
Suhu dasar
: 10-12
Kisaran optimum
: 21 - 30
Batas atas (siang/malam) : 45 / 30.
Kepekaan salju (1-9)
:6
Kebutuhan vernalisasi (1-5)
:1
10. Toleransi
Kekeringan (1-8)
:5
Banjir (2-7)
:2
Garam sebagai spray(1-9) : 2
Garam di daerah perakaran (1-9) : 2
Naungan (1-5)
:1
Angin (3-7)
:3
11. Daerah sentra produksi

34

Elevasi ( m dpl)
Produktivitas
Garis lintang
Garis bujur

< 800
0 -200 ton/ha/th.
20 oLU
155o BB

3.4. Sistem Usahatani Tanaman Pepaya


Tanaman pepaya berproduksi mulai umur satu tahun sampai
dengan umur 5-7 tahun. Modal investasi usahatani dibutuhkan
sampai tanaman berumur satu tahun (sebelum berproduksi). Analisis
cash-flow usahatani pepaya menunjukkan biaya produksi per tahun
per hektar sampai dengan umur lima tahun adalah sekitar
Rp.250.000 hingga Rp 450.000. Pada tingkat usahatani pepaya
secara monokultur umumnya dapat diperoleh keuntungan yang
memadai, dengan Net B/C (DF 18%) 2.75 - 4.50, NPV (DF 18%)
Rp.2.500.000 - Rp 5.500.000,- dan IRR umumnya lebih dari 25%.
(1). Sifat Pengusahaan
Secara agroekologis wilayah Kabupaten Kediri, Malang, Blitar,
dan sekitarnya cocok untuk budidaya tanaman pepaya dan juga
pemeliharaannya tidak terlalu sulit. Tanaman pepaya umumnya
ditanam petani dalam sistem campuran pada l;ahan pekarangan dan
tegalan, sistem budidaya pepaya dalam kebun monokultur buiasanya
dilakukan oleh petani yang modalnya kuat dan dilakukan secara
intensif.
Tetapi akhir-akhir ini banyak petani yang sudah mulai
memperhatikan pengusahaan tanaman ini secara monokultur karena
harganya cukup baik. Perhatian petani tersebut berupa usaha-usaha
untuk mengadakan pemeliharaan dan pemupukan terhadap tanaman
pepaya. Asal bibit tanaman pepaya sebagian besar berasal dari biji
yang tumbuh dengan sendirinya (tukulan) yaitu sebanyak 60-70%
dan sisanya berasal dari penangkar bibit. Mereka umumnya
menanam pepaya di lahan pekarangan sebagai batas pekarangan
atau pada pekarangan yang tidak diusahakan untuk tanaman
pangan.
Rata-rata pemilikan tanaman pepaya adalah relatif kecil, di
Kabupaten Kediri, Blitar dan Malang dn sekitarnya yakni 15-20
pohon, dengan variasi 5 - 50 pohon. Petani yang memiliki pohon
pepaya cukup banyak, sudah mulai mengusahakan tanaman ini
secara intensif. Tetapi ada juga yang memiliki pohon pepaya cukup
banyak berasal dari bibit "tukulan" di pekarangannya dan biasanya
tidak dipelihara. Umur rata-rata pohon pepaya produktif tersebut
adalah 2-3 tahun, yang paling muda dijumpai berumur 1 tahun dan
yang paling tua berumur hanmpir 10 tahun. Sebagai tanaman
pekarangan pepaya ditanam tidak memakai jarak tanam yang
teratur. Rata-rata jarak tanam dari pohon yang satu ke pohon yang
lainnya adalah 8-10 meter, tetapi petani ada yang menanam dengan

35

jarak 5 m atau bahkan 20 m antara satu pohon dengan pohon yang


lain.
(2). Intensitas Pengusahaan
Perawatan tanaman pepaya walaupun masih kurang tetapi
sudah ada usaha ke arah pengelolaan secara intensif. Sebagian
besar responden (sekitar 70% petani) melakukan pembumbunan
pada tanaman ini dan yang lainnya membiarkan tanaman ini seperti
tanaman liar. Sumber air untuk tanaman pepaya berasal dari air
hujan, mendapat pengairan dari sumur dan dari sungai/saluran
irigasi. Usaha untuk membuat saluran drainase untuk tanaman ini
hampir dilakukan oleh seluruh petani, sebagian petani sudah ada
yang melakukan pembuatan teras pada lahan tempat tumbuh dari
tanaman ini karena kemiringannya lebih dari 15%.
(3). Analisa Biaya dan Pendapatan.
Tanaman pepaya monokultur dipelihara secara intensif oleh
sebagian petani. Oleh karena itu dikenal dua macam petani, yaitu
petani pepaya monokultur yang melakukan pemeliharaan secara
intensif dan petani pepaya campuran yang tidak melakukan usaha
pemeliharaan sama sekali. Untuk golongan petani yang pertama,
biaya pemeliharaan tahun pertama untuk satu pohon sekitar Rp.
2000 - 2250.

36

Tabel 3.8. Taksiran rataan biaya produksi pepaya per pohon/tahun.


Macam biaya
1. Pupuk Kandang 20 Kg
Pupuk Urea 1.5 Kg
Pupuk ZA 0.5 Kg
Pupuk TSP 1.5 Kg
Pupuk KCl 0.5 Kg
2. Biaya Tenaga Kerja:
- Pemupukan
- Pemangkasan
3. Pestisida dan Penyemprotan
Total

Jumlah (Rp.)
500.00
425.00
150.00
425.00
150.00
150.00
75.00
250.00
2125.00

Harga pupuk buatan rata-rata per kg Rp.300, pupuk kandang


Rp.25/kg. (Soemarno. 1992.)
Usaha pemupukan yang dilakukan oleh petani antara lain
pembe rian pupuk kandang dilakukan oleh 100% petani, kompos
25%, Urea 80%, ZA 35%, TSP 80%, KCl 10% dan NPK 5 %..
Pemberian pupuk dilakukan menjelang pepaya berbunga dan
setelah panen. Petani yang menyatakan memberikan pupuk pada
saat menjelang berbunga adalah sebesar 75-80%, dan setelah
panen sebesar 25-30%. Pemanenan raya buah pepaya mulai
dilakukan sekitar bulan April sampai bulan Nopember, musim raya
buah pepaya sekitar lima bulan, dan setelah itu buah masih dapat
dipanen sepanjang tahun. Dalam waktu lima bulan tersebut pohon
pepaya dapat dipanen beberapa kali, tergantung dari ketersediaan
air untuk pertumbuh annya. Penerimaan dari penjualan buah pepaya
(Harga jual rataan Rp 125/kg) rata-rata Rp. 27.500 per pohon
setahun dengan kisaran Rp.15.500-Rp.50.000 tergantung dari
produktifitas tanaman pepaya. Rata-rata pemilikan petani 15-25
pohon dengan kisaran 5 - 50 pohon per keluarga yang memiliki
tanaman. Umur pohon pepaya milik petani berkisar antara 1-10
tahun.
3.2.5. Sistem Pemasaran Buah
(1). Lembaga Pemasaran
Petani Produsen
Petani pepaya umumnya menanam beberapa pohon (15-50
pohon) di lahan pekarangan dan tegalan dicampur dengan tanaman
lainnya. Mereka ini umumnya tidak mengusahakan tanaman pepaya
secara intensif, pemeliharaan tanaman dilakukan secara sederhana
dan kalau tiba saatnya berbuah barulah petani memperhatikan

37

tanamannnya dari gangguan. Pada musim panen buah mereka


menjual buah secara tebasan kepada pedagang (penebas).
Sebagian kecil petani telah menanam pepaya secara monokultur
(>500 pohon) dan dipelihara secara intensif. Tanaman sela selama
tahun pertama biasanya jagung atau sayur-sayuran. Petani seperti
ini biasanya berhubungan dengan pedagang besar dan memasarkan
buah pepaya segar ke kota-kota besar seperti Surabaya, Bandung,
dan Jakarta.
Penebas dan Tengkulak I.
Penebas adalah orang yang membeli buah pepaya yang
masih berada di atas pohon. Penebas tersebut menaksir jumlah
buah yang dapat dihasilkan oleh satu atau beberapa pohon
sekaligus, kemudian menentukan harganya.
Transaksi antara
penebas
dengan
petani
(umumnya
petani
monokultur)
pembayarannya dilakukan secara kontan, dan hanya sebagian kecil
lainnya (8-10% petani) dengan cara membayar uang muka sejumlah
50% dari nilai transaksi.
Tengkulak I adalah orang yang membeli buah pepaya setelah
buah dipetik oleh pemiliknya. Transaksi pembelian dilakukan per
satuan buah pepaya atau per satuan berat (kuintal atau ton). Cara
pembayarannya adalah kontan atau dibayar setelah buah pepaya
terjual habis (khusus untuk tengkulak I yang berasal dari dalam
desa). Volume perdagangan dari penebas/tengkulak I ini dalam satu
lokasi antara 3-5 ton buah pepaya per bulan pada saat musim panen
raya, dan 0.5- 1.5 ton pada saat panen biasa. Modal usaha dari
tengkulak I rata Rp. 250.000 - Rp 500.000 berupa modal yang
digunakan dalam pembelian dan penjualan.
Tengkulak II (TK II)
TK II adalah orang yang membeli buah pepaya dari para
tengkulak I atau penebas. Pedagang ini berdomisili di luar desa
sentra produksi dan menjual hasil pembeliannya kepada para
pedagang pengecer di kota. Volume perdagangan dari TK II ini
daspat mencapai 10-15 ton buah pepaya per bulan pada saat musim
panen raya. Modal yang digunakan rata-rata Rp. 2 -5 juta.
Pedagang Pengumpul.
Pedagang ini umumnya berdomisili di kota-kota besar, tetapi
melakukan kegiatannya sampai di desa/lokasi kebun pepaya.
Pedagang ini membeli buah pepaya dari para tengkulak I atau
tengkulak II. Penjualan dilakukan ke para pengecer di kota-kota
besar seperti Kediri, Malang, Surabaya, Bandung dan Jakarta.
Volume perdagangan dapat mencapai 20-25 ton buah pepaya per
bulan pada saat musim panen yang berlangsung sekitar tiga hingga
empat bulan. Alat transportasi yang digunakan dalam pengangkutan

38

barang dagangannya adalah truk colt-diesel yang berkapasitas 5-7.5


ton pepaya sekali angkut. Modal yang digunakan diperkirakan lebih
dari Rp. 10 juta.
(2). Saluran Pemasaran
Buah pepaya oleh petani pada umumnya dijual kepada penebas (75-80% petani), tengkulak 15%, pedagang pengecer 5%.
Biasanya pembeli yang datang kepada petani, dari sejumlah kasus
penjualan yang dilakukan oleh petani hanya kurang dari 10% saja
petani yang menjual buah pepayanya ke pasar atau yang menjual
buah pepayanya dengan mendatangi pembelinya. Saluran tataniaga
pepaya dari petani sampai dengan konsumen yang utama adalah:
Petani, penebas/Tengkulak I, Tengkulak II, Pedagang pengumpul,
dan Pedagang pengecer
(3). Transaksi Penjualan
Panen pepaya dapat dimulai pada bulan Desember dan
berakhir dalam waktu 4-5 bulan, satu pohon pepaya dapat
menghasilkan buah sepanjang tahun tergantung dari cukup tidaknya
air dan hara yang tersedia bagi pertumbuhannya. Cara tebasan
nampak lebih dominan (terutama pada sistem monokultur),
pembayaran penebas pada sebagian besar petani dilakukan secara
kontan. Dalam penentuan harga antara pembeli dan penjual
biasanya dilakukan dengan tawar menawar (75% responden) dan
lainnya ada yang memperoleh informasi harga dari pasar (15%
responden) atau biasanya pihak penjual sudah mengetahui harga
dari tetangganya (10-20% responden).
Dalam melakukan pembelian pepaya kepada petani, seorang
penebas/tengkulak I harus mengeluarkan biaya untuk 100 kg pepaya
sebagai berikut:
1. Ongkos Petik Rp.1000 - Rp.1500 (tengkulak I tidak mengeluarkan
biaya panen).
2. Ongkos Angkut Rp.500 - Rp.1000 (tergantung dari jarak yang
ditempuh untuk ke luar dari desa sentra produksi).
Tengkulak II membeli pepaya dari berbagai tempat sentra
produksi pepaya. Dalam melakukan aktivitas pembelian dan
penjualan, pedagang mengeluarkan biaya-biaya untuk 1 ton pepaya
sebanyak:
1. Ongkos angkut Rp.5.000 - Rp.7.500 (tergantung dari jarak yang
ditempuh).
2. Ongkos Penimbangan Rp. 1500
3. Rafraksi antara Rp 20.000 - Rp.25.000
Pedagang Pengumpul membeli pepaya dari para tengkulak
I/tengkulak II di pasar tempat sentra produksi pepaya setiap hari.
Volume pembeliannya rata-rata setiap hari adalah 1.0-2.5 ton. Alat
angkut yang digunakan untuk mengangkut buah pepaya ke kota

39

adalah truk colt-diesel yang berkapasitas 5-7.5 ton. Dalam transaksi


perdagangan biaya yang harus dikeluarkan untuk 5 ton pepaya
sekitar Rp.218.000 (Tabel 3.9).
Tabel 3.9.

Biaya fungsi marketing yang


pedagang pengumpul (5 ton).

dikeluarkan

oleh

Macam biaya
Biaya (Rp.) ...........
1. Ongkos angkut
35.000.
2 Ongkos muat bongkar
30.000.
3. Ongkos packing
15.000.
4. Ongkos Penimbangan
5.000.
5. Retribusi
2.500.
6. Rafraksi
125.000.
Total
24.500.
Sumber: Diolah dari data primer (Soemarno. 1992).
Pedagang Pengecer
Pengecer biasanya menjual pepaya dan buah- buahan
lainnya. Rata-rata setiap hari pedagang ini harus menanggung biaya
retribusi sebesar Rp 400 - Rp 500. Modal yang digunakan dalam
perdagangan pepaya sebesar Rp.250.000 - Rp 500.000.
(4). Analisis Biaya dan Margin
Harga yang diterima petani per kg pepaya Rp.150 atau sekitar
25% dari harga eceran yang dibayar konsumen yaitu Rp.550- Rp
600. Perbedaan harga konsumen dan produsen sebesar Rp.400 450 per kg pepaya, sekitar 35 % digunakan untuk biaya fungsi
tataniaga dan 65% merupakan keuntungan yang diterima oleh
lembaga tataniaga. Pada transaksi penjualan dari tengkulak II ke
pedagang pengumpul, dan transaksi antara pedagang pengumpul ke
pengecer biasanya ada rafraksi sebesar 5-10 % berupa potongan
harga yang diberikan pada pembeli untuk transaksi partai besar.
3.6. Teknik Budidaya Tanaman
(1). Produksi biji atau benih
Benih pepaya diperoleh dapat dari tanamannya sendiri. Pada
dasarnya ada dua cara untuk mendapatkan benih yang baik, yaitu:
(a). Biji diambil dari pohon yang menghasilkan banyak buah dan tipe
buahnya bagus.
(b). Persilangan pohon-pohon yang hasilnya tinggi juga dapat
dilakukan.
Karena pepaya sering mengalami polinasi dari luar, maka
hasil yang lebih baik dapat diperoleh dengan menyilangkan pohon-

40

pohon tertentu yang terpilih. Penyilangan pohon betina yang


buahnya banyak dengan tanaman hermaprodite akan menghasilkan
banyak biji yang akan tumbuh menjadi pohon betina. Bibit ini sangat
dibutuhkan untuk tanaman di lapangan/kebun monokultur. Kalau
diinginkan pepaya dengan tipe buah kecil, pohon hermaprodit dapat
disilangkan.
(2). Pesemaian
Biji dikecambahkan pada petakan rata tanah berpasir yang
drainasenya bagus. Biji disusun dengan jarak 2 cm dan ditutup
dengan lapisan tanah halus setebal 1 cm. Biji akan berkecambah
dengan baik kalau mendapatkan cahaya pagi. Pengalaman empiris
petani menyatakan bahwa kecambah akan mati akibat penyakit mati
pucuk kalau diairi secara berlebihan, sehingga tanah harus diairi
sedikit-demi sedikit dua kali sehari. Kadangkala perlu menggunakan
tanah yang telah disterilkan atau difumigasi dengan bromo-methan.
Setelah umur seminggu bibit muda dapat dipindahkan ke kantong
plastik ukuran 15 cm x 20 cm, dan dipelihara selama 3-4 minggu
sebelum ditanam .
(3). Cara Bertanam Bibit dan Populasi Tanaman
Pepaya monokultur umumnya ditanam dengan jarak 2 m x 3
m, jarak yang lebih rapat memberikan hasil lebih banyak pada tahun
pertama, tetapi tanaman mengalami etiolasi dan hasilnya menurun
pada tahun ke dua. Umumnya pepaya ditanam tidak lebih dari 4-5
tahun. Untuk mendapatkan proporsi tanaman betina yang banyak,
menanam tiga bibit dengan jarak 25 cm dengan biji yang berasal dari
polinasi luar. Tanaman betina murni dapat dikenali oleh tidak adanya
bunga jantan sebelum tiga bulan di daerah tropika; pada saat ini
tanaman yang kelihatan betina ditinggalkan dan yang lain dipotong.
Kepadatan populasi tanaman monokultur yang lazim adalah
1000 - 2000 tanaman per hektar. Praktek yang baik ialah menanam
tiga atau empat bibit secara terpisah dengan jarak 20-25 cm dan
kemudian dijarangkan tinggal satu tanaman yang bagus. Surplus
pohon jantan dipotong dan ditinggalkan pohon betina yang terbaik.
Untuk mendapatkan polinasi yang memadai, diperlikan satu pohon
jantan untuk setiap 10 pohon betina bagi varietas yang berumah dua
(dioecious) Kalau kebun pepaya terdiri atas campuran pohon
hermaprodit, jantan dan betina, maka diperlukan lebih sedikit pohon
jantan untuk menjamin polinasi yang efektif.
Cara bertanam pohon pepaya tidak banyak berbeda
dengan cara bertanam pohon buah-buahan lainnya. Sebelum bibit
ditanam pada tempat yang telah disediakan, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan untuk memperoleh hasil penanaman yang
memuaskan. Oleh karena produksi buah yang dihasilkan kelak

41

sangat tergantung kepada cara bertanamnya selain faktor keadan


bibit itu sendiri.
Dalam penelitiannya mengenai pepaya di Tanzania utara,
Northwood (1970), mendapatkan hasil papain sebanyak 169 kg/ha
selama periode 11 bulan dengan jarak tanam 3 m x 3 m, dan jarak
tanam 3 m x 1.5 m ternyata 50% lebih tinggi dibandingkan dengan
jarak tanam 3 x 4.5 m. Pemupukan N tidak berpengaruh nyata.
Masalah gangguan penyakit harus dipertimbangkan dalam memilih
jarak tanam yang sesuai dan populasi tanaman harus cukup tinggi
untuk mengimbangi kehilangan.
(4). Pemeliharaan Tanaman
Pemberian mulsa
Pemulsaan merupakan praktek yang bagus untuk
mengkonservasi air tanah dan mengendalikan pertumbuhan gulma.
Kalau bahan organik miskin nitrogen digunakan sebagai bahan
mulsa maka diperlukan tambahan pupuk nitrogen untuk menghindari
defisiensi nitrogen. Mulsa perlu diberikan terutama pada waktu bibit
masih muda dan pada waktu musim kemarau, sejak selesai
penanaman bibit ke lubang tanam. Mulsa diberikan di sekeliling
tanaman hingga menutupi tanah sekitar tanaman dengan cara
melingkar. Mulsa yang digunakan biasanya dari jerami. Guna
pemberian mulsa ini adalah untuk mempertahankan kelembaban
tanah di sekitar tanaman agar tetap lembab, tidak cepat kering.
Penyiangan dan Pendangiran
Penyiangan gulma dilakukan bersamaan dengan menutupi
tanah di sekeliling tanaman dengan mulsa berupa jerami atau
daun-daunan. Pada dasarnya penyiangan harus tetap dilakukan
secara rutin di sekeliling tanaman apabila ternyata gulma tetap
tumbuh dan mengganggu, terutama ketika tanaman masih muda
(umur setahun). Cara penyiangan dapat dilaksanakan dengan
menggunakan sabit, cangkul, dicabut dengan tangan biasa,
sekop, kecol, atau secara khemis dengan menggunakan herbisida.
Pendangiran adalah pengerjaan tanah di sekeliling
tanaman dengan cara mencangkuli tanah-tanah di sekitarnya,
agar tanah gembur
sekaligus
memperbaiki
aerasi dan
drainasinya. Dalam mengerjakan penggemburan tanah diusahakan
sebaik-baiknya
agar
akar tanaman tidak
rusak akibat
pencangkulan, maka harus dilakukan dengan hati-hati sekali.
Akan lebih baik bila alat yang digunakan berupa garpu untuk
menghindari putusnya akar akibat pencangkulan. Pekerjaan
pendangiran harus dilakukan secara rutin untuk mendukung
pertumbuhan tanaman agar lebih baik, terutama pada tanah-tanah
yang mudah padat dan pada tanaman yang sedang mengalami
fase pertumbuhan aktif. Perioda perkembangan dan pertumbuhan

42

tanaman pepaya biasanya dimulai sejak masa


sampai tanaman berumur lebih kurang lima tahun.

transplanting

Pemupukan
Pupuk organik dan pupuk buatan keduanya dipakai oleh
petani monokultur untuk pepaya muda (umur kurang dari setahun)
dan tanaman dewasa (umur lebih dari setahun). Untuk mendapatkan
buah yang banyak diperlukan pupuk majemuk NPK (15-15-15)
dengan dosis 1.5 kg/tanaman/tahun. Rincian dosis pupuk yang
lazim menurut umur tanaman muda adalah:
Umur 0-3 bulan: 20 g/tanaman/bulan
Umur 4-6 bulan: 50 g/tanaman/bulan
Umur > 7 bulan: 100 g/tanaman/bulan
Kalau buah pepaya akan digunakan untuk konsumsi kalengan
maka dosis pupuk nitrogen harus dikurangi. Dosis N yang tinggi akan
menimbulkan kadar nitrat yang tinggi pada pepaya dan ini
membahayakan kaleng. Untuk pengalengan ternyata pupuk lengkap
NPK dengan rasio 1:2:2 harus digunakan dan dosisnya tidak boleh
lebih dari 50 g/tanaman/bulan.
Jenis pupuk yang diberikan pada tanaman pepaya dapat
berupa pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau atau kompos)
dan pupuk anorganik. Pupuk organik dapat diberikan bersamaan
waktu tanam atau saat selanjutnya setelah tanam.
Pupuk
anorganik diberikan selang bebe rapa waktu setelah tanam. Waktu
pemupukan yang paling tepat diberikan pada saat mulai turun
hujan. Dosis pemupukan untuk setiap tanaman berbeda tergantung
umur tanaman, keadaan tanah dan tanaman serta lingkungannya.
Tetapi secara umum dosis pupuk
yang
perlu
diberikan
berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 3.10.
Tabel 3.10. Pemupukan tanaman pepaya berdasarkan umur
Tahun ke
Waktu
tanam
I - II
II - III
Lebih III

Pupuk
kandang
(kg)
5
5-10
10 - 15
10 - 15

NPK(g)

Keterangan

50-100

per phn per thn

100 - 150
150 - 200
150 -200

per phn per thn


per phn per thn
per phn per thn

Sumber: Diolah dari data primer (usahatani pepaya monokultur)


Dalam penelitian Awada (1969) telah dilakukan penentuan
secara tentatif nilai baku N dan P untuk keperluan program
pemupukan. Tangkai daun dewasa paling akhir, yang ditandai oleh
adanya bunga termuda pada ketiak daun, dipilih sebagai jaringan

43

indeks untuk N dan P. Nilai Standar N yang dinyatakan dalam


epersentase berat ekering beragam dari 1.28 pada bulan Juni hingga
1.20 pada Agustus/September dan 1.14 pada September. NIlai
standar P adalah 0.25 untuk sampling bulan Mei/Juni.
Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan terhadap
daun yang terserang
penyakit yang diperkirakan sulit disembuhkan dan terhadap daun
yang kering atau mati; pemangkasan wiwilan dilakukan terhadap
tunas-tunas vegetatif yang tumbuh. Pemangkasan pemeliharaan
juga dilakukan pada tanaman yang terlalu rimbun. Di Ghana,
formula untuk mengestimasi luas daun pepaya telah diteliti (Karikari,
1973). Formula ini menyediakan metode yang cepat dan cukup
akurat yang dapat digunakan pada daun yang masih utuh, dan
tampaknya formula ini juga dapat dipakai untuk mengestimasi luas
daun pepaya di negara lain.
(5). Pembungaan dan pemeliharaan buah pepaya
Pembungaan
Pembungaan tanaman pepaya dapat terjadi sepanjang tahun,
namun demikian pembungaan lebat dapat terjadi pada awal musim
hujan.
Selama periode pembungaan ini, peka sekali terhadap
tiupan angin yang kencang.
Apabila terjadi tiupan angin yang
kencang, proses pembuahan akan gagal terjadi sehingga produksi
buahnya kelak akan merosot jumlahnya. Apabila sesudah periode
pembungaan terjadi periode kering yang berat, proses pembuahan
akan gagal terjadi dengan baik sehingga produksi buah yang
dihasilkan kelak menjadi gepeng. Bunga pepaya juga tidak tahan
terhadap hujan yang terlalu deras, karena menyebabkan banyak
bunga yang gugur dan gagal melakukan pembuahan. Periode
pembentukan buah pada pepaya dapat terjadi sepanjang musim.
Pemeliharaan buah
Pemeliharaan buah pada waktu buah belum dipanen
merupakan hal yang penting untuk dikerjakan, karena pemeliharaan
ini akan menentukan kualitas buah, dan harga buah bila kelak
dipanen. Untuk konsumsi buah dalam bentuk segar, kualitas buah
menjadi faktor penting yang harus diperhatikan yang meliputi
ukuran buah, penampakan buah dan warna yang menarik, tebal
daging buah, aroma, rasa dan sebagainya. Terdapat bebe rapa
cara memelihara buah yang masih melekat di pohonnya agar
kualitas buah tetap terjaga dengan baik.
Buah pepaya dibungkus secara individual dengan kantong
poli-etilen berlubang-lubang atau kertas tissue dan dikemas dalam
kotak karton. Kemudian dikirim lewat udara dengan lama perjalanan

44

dua hari dalam suatu peti kemas yang terkendali tekanan dan
suhunya; atau dikirim lewat laun selama 21 hari dalam peti kemas
beku. Buah-buah yang dibungkus dengan kantong polietilena
ternyata masih menunjukkan kenampakan yang bagus.
Praperlakuan buah dengan 2% Zineb gagal mereduksi kehilangan
selama periode pematangan (Lee, 1973).
a. Penyemprotan buah
Buah
pepaya
(milik petani kebun pepaya monokultur)
kadangkala disemprot dengan obat-obatan berupa insektisida
maupun fungisida untuk mencegah
serangan hama
penyakitnya, karena seringkali diserang hama seperti lalat atau
lainnya apabila dibiarkan, sehingga akan merusak buah dan
kualitasnya. Pada buah yang sudah terserang hama/penyakit
yang berat sekali dan diperkirakan sulit diberantas, lebih baik
dipetik untuk mencegah penularannya.
b. Perbaikan warna buah
Buah pepaya diusahakan dapat menerima cahaya matahari
langsung untuk memperbaiki warnanya, agar buah berwarna
lebih bagus dan menarik.
Sehingga daun-daun tua yang
terlampau rimbun dan seringkali menutupi buah perlu dipangkas,
atau dengan menyangga ranting yang berbuah banyak dengan
tiang penyangga dan diusahakan buah tersembul ke atas dari
pentupan daun. Dengan demikian buah dapat terkena cahaya
matahari langsung.
(6). Hama - penyakit Tanaman dan Pengendaliannya
Ada beberapa macam hama dan penyakit yang biasa
terdapat menyerang tanaman pepaya. Jenis hama yang sering
ditemukan antara lain kalong/codot, burung, ulat daun. Sedangkan
jenis penyakitnya antara lain embun tepung, penyakit layu,
nematode dan beberapa penyakit lainnya.
Masih banyak jenis
hama dan penyakit tanaman pepaya yang
belum dapat
disebutkan disini,
karena yang diutamakan adalah hama
penyakit penting yang biasa menyerang tanaman pepaya.
Pepaya mudah terserang nematoda dan lahan tidak boleh
ditanami pepaya lebih dari sekali (1-3 tahun) sebelum dirotasikan
dengan tanaman lainnya.
Pada lahan yang terserang parah,
nematisida separeti Nemagon sangat dianjurkan. Formalin (25 ml
larutan metanal 4%) dituangkan dalam lubang tanam juga
dianjurkan. Pada tanah-tanah yang drainasenya jelek, dan tanah
tanah yang sebelumnya telah ditanami pepaya, maka Phytophthor
dan berbaqabusuk akar lainya menyebabkan kerugian yang serius
pada pepaya.Berbagai penyakit batang dan daun juga ada dan
kadang kadang dapat dikendalikan dengan menyemprot fungisida.

45

Ada banyak penyakit virus pada pepaya dengan gejala seperti


mosaik, kerdil, lambatnya pertumbuhan tanaman dan
kerdil,
menguningnya daun dan tajuk yang kecil. Mereka umumnya
disebarkan oleh serangga, tetapi sukar diberantas. Suatu tanaman
yang tumbuhnya tidak normal harus segera dibongkar dan dibakar
atau dikubur. Beberapa tanaman menunjukkan resitensi dan ini
harus digunakan untuk memproduksi biji benih. Pepaya pegunungan
juga agak resisten terhadap gangguan virus penyakit.
Hama Tanaman
a. Kalong/Codot
Bagian tanaman yang diserang adalah buah. Buah pepaya
yang masak sangat digemari hewan ini, buah akan diambil
dan dimakan.
Tak jarang buah pepaya berjatuhan akibat
serangan hama ini.
Kalong/ codot kebanyakan menyerang
pada malam hari. Cara mengatasinya dengan cata gropyokan
yaitu
menangkap hewan ini beramai-ramai, kemudian
membunuhnya.
b. Ulat daun
Bagian tanaman yang diserang adalah daun, terutama daundaun yang masih muda. Hama ini menyerang bunga dan tunastunas muda.
Pemberantasan kimiawi, dilakukan dengan
menggunakan insektisida Diazinon atau Basudin 0.2 - 0.5%.
c. Kumbang hijau
Serangannya ditandai dengan penggerekan terhadap
batang
dan membuat liang panjang didalamnya. Pemberantasan
kimiawi dengan menggunakan Karbolineum plantarum .
d. Tungau atau mites
Hama ini umumnya menyerang tanaman dengan menghisap zat
cair organ tanaman/daun muda. Pada serangan berat daun
tampak
mengering. Cara
menanggulanginya
dengan
menyemprotkan bubur California atau dengan penghembusan
tepung belerang.
Penyakit Tanaman
Faktor utama yang mendorong terjadinya gangguan penyakit
pada pepaya ialah kondisi tanah yang jelek, termasuk defisien
hara, kondisi iklim/cuaca buruk, teknik budidaya yang tidak memadai,
kontaminan atmosfer, dan kelainan pertumbuhan karena faktor
genetik (Barbosa, 1971).
Istilah "Mosaik" telah digunakan dalam penyakit virus pepaya
baik untuk mendeskripsikan gejala yang berhubungan dengan lebih
dari satu penyakit maupun sebagai nama umum untuk penyakit
tunggal yang disebabkan oleh suatu infeksi tertentu (Cook, 1972).
Dalam uji rumahkaca yang dilakukan di Hawaii, virus mosaik

46

papaya dan virus ringspot pepaya dapat dikenali melalui daya


infeksinya pada inang yang terpilih (Cook dan Milbrath, 1969).
Tanaman kacang buncis (Vicia faba), Ocium basilicum, dan Celosia
plumosa yang semula dianggap tidak peka ternayata dapat terinfeksi
virus mosaik pepaya. Daun-daun Chenopodium amaranticolor yang
diinokulasi dengan virus ringspot pepaya ternyata menumbuhkan
lesion lokal yang dapat dikenali dengan jelas berbeda dengan yang
disebabkan oleh virus mosaik pepaya. Penyakit mosaik pepaya di
Hawaii serupa dengan Mosaik Bombay di India, becak ringspot di
Florida, dan Mosaik pepaya di Puerto Rico.
Pengendalian gulma
Penyiangan secara manual dilakukan oleh petani dengan
sangat hati-hati supaya tidak merusak akar tanaman. Herbisida
Diuron dengan dosis 2 kg/ha dan paraquat 1 liter/ha memberikan
hasil yang baik kalau disemprotkan di lingkaran tajuk seputar batang,
asalkan tidak pada tanah berpasir. Paraquat dan diuron lazim
digunakan untuk mengendalikan gulma pada perkebunan pepaya di
Hawaii (Romanowski, 1972). Perlakuan yang dianjurkan ialah
Paraquat (+surfactant) pada dosis 0.56- 1.12 kg produk komersial
(c.p.)per hektar; dan Diuron dosis 2.8 - 5.6 kg c.p./ha. Paraquat
diaplikasikan sebagai basic-spray untuk gulam yang berkecambah
dengan dosis 750-950 l/ha. Surfactan non-ionik seperti X-77 harus
ditambahkan sekitar 230-460 g ke dalam 100 gallons (378 l) bahan
semprotan. Bahan semprotan ini tidak boleh kontak dengan batang
dan daun pepaya yang berwarna hijau. Diuron hanya boleh
digunakan setelah kebun pepaya tumbuh baik minimal umur 6 bulan.
Veinal klorosis dapat terjadi pada daun-daun tua. Tanaman tidak
boleh ditanam selama dua tahun setelah aplikasi Diuron terakhir.
Kebun pepaya di Hawai berada pada tanah vulkanik kasar memerlukan perlakukan khusus dalam budidayanya. Frekuensi pemupukan
harus lebih sering dibandingkan dengna kebun pepaya pada tanahtanah yang normal. Karena tanah yang porus ternyata pengendalian
gulma dengan herbisida juga menjadi masalah. Dua bahan kimia
yang digunakan ialah solven petroleum 150-375 l/ha dan paraquat
0.5-1.1 kg/ha dengan surfactan 2.5-5 l/ha. Diuron dengan dosis 2.2
kg/ha diberikan tidak lebih dari duakali setahun (Ito, 1969).
3.7. Panen dan Pascapanen
Buah pepaya harus dipanen pada saat setengah masak,
ketika daging buahnya masih keras dan tekstur seperti wortel. Buah
ini akan cepat masak selama 1-3 hari dan harus segera diangkut ke
pasar .
Tanda-tanda kemasakan buah pepaya terutama ditandai
adanya perubahan warna kulit buah dari hijau menjadi kuning atau
kemerahan. Tanda kemasakan dengan melihat warna buah ini

47

adalah merupakan cara paling sederhana dan mudah. Buah yang


masak benar dicirikan dengan tidak adanya campuran warna hijau
pada kulit buah. Kulit buah berwarna kuning atau kemerahan atau
campuran kedua warna tersebut. Kemasakan buah umumnya
terjadi 4- 5 bulan setelah pembungaan.

48

IV.
RANCANGAN
PENGEMBANGAN
SPAKU PEPAYA

KEGIATAN

Untuk mewujudkan Sentra Pengembangan Agribisnis


Komoditas Unggulan (SPAKU) Pepaya di wilayah Kecamatan Wajak,
Kabupaten Malang, maka berbagai kegiatan dalam seluruh
subsistem-subsistem agribisnis termasuk subsistem penunjangnya
perlu direncanakan. Perwujudan Kecamatan Wajak sebagai sentra
pengembangan agribisnis komoditas pepaya akan memerlukan
waktu sekitar 5 tahun, dimana 2 tahun adalah kebutuhan waktu
untuk pembangunan kebun (penanaman) dan 3 tahun adalah
kebutuhan waktu untuk pembinaan KUBA mandiri.
Berikut ini diuraikan kegiatan-kegiatan yang ditargetkan untuk
dapat dilaksanakan dalam kurun waktu 5 tahun. Rancangan
kegiatan ini difokuskan pada pengembangan 1000 Ha kebun
pepaya monokultur sebagai inti dan sekitar 500 ha pepaya
pekarangan sebagai daerah dampak dari SPAKU pepaya.
Rancangan kegiatan ini memberikan gambaran kegiatankegiatan pokok yang akan ditangani melalui proyek sejak
penanaman sampai dengan pemeliharaan tahun ke 2 karena
tanaman pepaya baru dapat di panen pada tahun ke 2.
4.1. Pengadaan dan Penyaluran Agroinput
4.1.1. Pengadaan dan Penyaluran Bibit Pepaya
Sesuai target/sasaran, dalam kurun waktu lima tahun akan
dikembangkan 1000 Ha tanaman pepaya, pada lima kecamatan
terpilih. Untuk itu dibutuhkan bibit pepaya Thailand sebanyak minimal
1.000.000 bibit ditambah 5 - 10 % perkiraan kebutuhan cadangan
bibit untuk sulaman tanaman yang mati.
Pengadaan bibit untuk kebutuhan pengembangan sentra
pepaya tersebut diharapkan dapat dipenuhi dari penangkarpenangkar setempat.
Selain bibit pepaya juga diperlukan pengadaan bibit tanaman
aneka jenis hortikultura sayuran, sela jagung, kedelai, kacangtanah,
dan kacang hijau; serta bibit tanaman pagar seperti sengon, kapok
randu, melinjo, petai, pisang, alpokad, atau lainnya.
4.1.2. Pengadaan dan Penyaluran Saprodi
1. Pupuk
Sesuai dengan agroekosistem/kondisi lahan ke lima
Kecamatan terpilih sebagai lokasi sentra agribisnis pepaya, maka
rencana pengadaan pupuk yang dibutuhkan untuk tanaman pepaya

49

mulai tanam sampai dengan pemeliharaan tanaman menjelang


panen adalah sebagaimana disajikan dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Rencana Pengadaan Pupuk Sentra Agribisnis


Pepaya
Jenis
Pupuk
Urea
ZA
TSP
KCl

Penanaman
62.5
62.5
62.5
62.5

Kebutuhan, kg/ha
Pemeliharaan
Th.I
Th.II
Th.III

Th.IV

Pengadaan
untuk
1000 Ha

125
125
125
125

250
250
200
200

812500
812500
637500
637500

125
125
125
125

250
250
125
125

Pengadaan pupuk ini diusulkan disalurkan melalui/oleh KUD.


Selain itu juga diperlukan pengadaan pupuk untuk menunjang
program intensifikasi usahatani tanaman sela, sesuai dengan paket
agroteknologi yang disarankan.
2. Pestisida
Beberapa hama dan penyakit yang umumnya menyerang
tanaman pepaya adalah wereng pepaya atau sikada, penggerek
batang dan buah, lalat buah dan antrakaose. Untuk mencegah dan
memberantas hama penyakit yang mungkin dapat menyerang
tanaman pepaya, maka dalam kurun waktu berlangsungnya
pembangunan sentra (1000 Ha) diperlukan pengadaan pestisida
sebesar 125000 liter dengan rincian sebagaimana disajikan dalam
Tabel 4.2.
Tabel
Pepaya

4.2.

Jenis

Basudin
Azodrin
Metil Cugero
Benlate/
Dithare M-45

Pengadaan

Pestisida

Sentra Agribisnis

Saat
tanam
0.0
0.0
0.0

Kebutuhan, kg/ha
Pemeliharaan
P1
P2
P3
P4
5.0
5.0
5.0
10.0
5.0
5.0
5.0
10.0
5.0 5.0
5.0
10.0

0.0

10.0 10.0

15.0

15.0

Pengadaan
untuk
1000 ha
25000
25000
25000
50000

50

Jumlah kebutuhan pengadaan agroinput (pupuk dan


pestisida) untuk tanaman pepaya s/d tanaman berproduksi optimal
(tahun ke 10) dapat dilihat pada paket budidaya tanaman.

3. Pengadaan benih tanaman sela


Sebagai sumber penghasilan tambahan bagi petani sebelum
pepaya berproduksi, maka akan dibudidayakan tanaman kedelai,
kacangtanah, kacang hijau, cabai, jagung atau tanaman sayuran
sebagai tanaman sela. Dengan memperhitungkan pergiliran
tanaman, maka kebutuhan benih jagung dan kedelai untuk tanaman
sela pada areal seluas 1000 Ha dapat dihitung berdasarkan paket
usahatani yang disarankan. Pengadaan benih tanaman sela ini
dapat disalurkan melalui KUD setempat.
4.2. Pengadaan Sarana, Prasarana dan Alsintan
Alsintan yang dibutuhkan pada saat tanaman diproduksi
sampai dengan panen adalah alat pengolah tanah dan penyiangan.
Perkiraan kebutuhan pengadaan alsintan untuk pengembangan
SPAKU pepaya di Kecamatan Wajak adalah satu unit per
rumahtangga. Sarana yang sangat diperlukan dalam pengembangan komoditas pepaya ini yaitu pengairan yang diupayakan
melalui pembuatan sumur galian sebanyak 2 unit/ha kebun.
Prasarana utama yang perlu dibangun adalah jalan kebun sepanjang
100 m/ha kebun dalam waktu 5 tahun.
4.3. Pemantapan Kelembagaan
Kelembagaan yang harus ada di lokasi SPAKU meliputi
kelembagaan petani, kelembagaan ekonomi dan kelembagaan
aparatur.
a.
b.
c.
d.
e.

f.
g.

4.3.1. Kelembagaan Pengelola SPAKU Pepaya


Setiap petani menjadi anggota KUBA Pepaya.
Setiap KUBA Pepaya tani beranggotakan 20 petani.
Setiap petani menguasai sekitar 1 Ha lahan untuk pepaya.
Setiap 15 KUBA Pepaya oleh 1 PPL.
Setiap PPL mengelola 5 Ha kebun inti yang berfungsi sebagai
kebun produksi, pusat informasi teknologi budidaya pepaya, yang
dilengkapi dengan SAUNG (gubuk tempat pertemuan kelompok
tani).
Setiap petani juga menjadi anggota Koperasi Petani
Pepaya/KUD.
Setiap KUD menjadi mitra sumber dana yang terdiri dari BRI,
BPD, BUMN, BUMS.

51

Dalam rangka menyusun model pembinaan KUBA Pepaya


digunakan langkah-langkah sebagai berikut :

52

1. KONDISI SAAT INI


2. PELUANG PENGEMBANGAN

3. MODEL RANCANG-BANGUN

EVALUASI KELAYAKAN
4. TEKNOLOGI

5. SOSIAL EKONOMI

6. REKAYASA KELEMBAGAAN ORGANISASI/


PRANATA

7. JUSTIFIKASI KELEMBAGAAN

8. RANCANG-BANGUN SISTEM

9. STRATEGI IMPLEMENTASI

10. RENCANA ENFORCEMENT DAN PEMANTAUAN

53

(A). Rona Lingkungan Aktual


1. Sosial Ekonomi
a. Rataan pendapatan per kapita per tahun para pemilik pepaya
(petani lahan kering) di wilayah kecamatan Wajak, Kabupaten
Malang masih harus ditingkatkan untuk mencapai tingkat
kesejahteraan yang lebih baik
b. Fluktuasi pendapatan bersifat musiman dan sangat tergantung
pada dinamika pasar/harga pepaya di pasaran serta fluktuasi
pasar/harga saprodi, terutama pupuk dan pestisida;
c. Rataan anggota keluarga 4 - 5 orang, dengan 2 - 3 orang anak.
a.
b.
c.
d.
e.

2. Teknologi Pemeliharaan Tanaman Pepaya (Produksi)


Jumlah dan kualitas pohon sangat beragam dan kualitasnya
umumnya rendah
Populasi pohon pepaya 50 - 100 pohon
Luas pekarangan 500-1000 m persegi untuk menanam tanaman
pepaya dan ditanami dengan aneka tanaman tahunan lainnya
Sasaran produksi : buah pepaya ;
Tenaga kerja keluarga: suami-istri, dan anak-anak .
3. Kelembagaan Produksi Primer: Petani lahan kering

a. Hubungan antara anggota kelompok tani yang ada sekarang


bersifat tradisional
b. Usaha pemeliharaan tanaman dengan sistem kebun campuran
kurang intensif;
c. Setiap kelompok tani beranggotakan 20-30 RTP dan dipimpin
oleh seorang ketua dan seorang sekretaris dan seorang bendahara; namun demikian aktivitas kelompok ini masih sederhana
d. Kelompok tani yang ada sekarang belum membentuk Koperasi
formal yang beranggotakan semua RTP (Rumah Tangga Petani)

1.

2.

(B) Permasalahan dan Peluang Pengembangan


Keterbatasan penguasaan informasi, modal dan teknologi
mengakibatkan operasi pemeliharaan tanaman sangat terbatas
dan hasil buah pepayanya juga masih relatif rendah. Peluang
inovasi teknologi dapat dilakukan melalui pembinaan kelompok
tani (KUBA=Kelompok Usaha Bersama Agribisnis) secara
intensif sehingga mempunyai akses yang lebih besar terhadap
kemudahan-kemudahan yang disediakan oleh pemerintah atau
investor swasta.
Fluktuasi harga buah pepaya pada tingkat petani masih cukup
besar dan "bargaining power" dalam mekanisme pasar relatif
sangat lemah , karena informasi pasar yang dikuasai sangat

54

3.

4.

terbatas dan daerah pemasarannya sangat terbatas. Informasi


pasar yang memadai diharapkan dapat memperbaiki situasi ini.
Rintisan kemitraan dengan kelembagaan suasta yang bergerak
dalam bidang pemasaran buah pepaya diharapkan dapat
membantu petani memasarkan hasil buahnya. Dalam kaitan ini
perlu adanya lembaga pengumpul (pengepul) di desa sebagai
"perwakilan" dari perusahaan suasta tersebut yang berperan
sebagai pedagang desa. Lembaga pengepul inilah yang
berhubungan langsung dengan KUBA.
Salah satu kendala serius yang masih dihadapi para petani
ialah dalam pengadaan saprodi, terutama bibit pepaya yang
unggul, sedangkan pupuk dan pestisida telah dapat tersedia
secara lokal dengan harga yang layak. Jalinan kemitraan juga
perlu dikembangkan dengan melibatkan agen-agen dari
produsen bibit/penangkar bibit yang bersertifikat, serta kioskios/toko pertanian yang merupakan perwakilan dari produsen
saprodi, seperti pupuk daun, hormon /zat trumbuh dan
pestisida.
Khusus
dalam
kaitannya
dengan
pembinaan
dan
pengembangan KUBA Pepaya diperlukan suatu "Forum
Komunikasi Agribisnis Pepaya (FORKA Pepaya)" yang
beranggotakan
wakil-wakil
dan
dinas/instansi
terkait,
koperasi/KUD, Suasta, ketua-ketua KUBA dan tokoh masyarakat. Fungsi dan tugas FORKA ini adalah membahas segenap
permasalahan pengembangan KUBA pepaya dan mencari
alternatif penanganannya.

(C). Hopotesis Disain Agro-Teknologi


Usaha pemeliharaan pepaya dengan sistem KUBA disarankan
dengan perbaikan paket agrtoteknologi alternatif sebagai berikut :
1. Sistem perkebunan pepaya permanen dengan pemeliharaan
tanaman secara intensif
2. Menggunakan bibit pepaya jenis unggul, misalnya Thailand
3. Kebun monokultur lebih disarankan apabila memungkinkan.
4. Pengawasan kesehatan dan kesuburan tanaman dilakukan
dengan menerapkan praktek budidaya tanaman secara intensif.
5. Recording buku harian individu tanaman pepaya dan
pengawasan periode pembungaan dan pembuahan kalau
memungkinkan.
6. Menerapkan teknologi penanaganan pasca panen buah untuk
menyeragamkan pematangan buah atau menangguhkan proses
pematangan melalui manipulasi teknologi kemasan.
(D). Kelayakan Disain Kebun Pepaya

55

1. Kelayakan Teknis
Kebun monokultur digunakan secara khusus untuk
memproduksi buah-buah pepaya yang kualitasnya bagus dan
seragam; sedangkan pengelolaan kebun dapat mengikuti
rekomendasi yang ada. Tanaman selama selama lima tahun
pertama adalah kedelai atau jagung yang dikelola secara intensif.
2. Kelayakan Ekonomi
Sekala ekonomi minimum bagi rumah tangga petani adalah
0.5-1.0 ha dengan jumlah pohon produktif 500-1000 pohon.
Peningkatan produksi dan pendapatan usahatani pepaya
mulai tahun ke V diharapkan telah cukup tinggi untuk memenuhi
kebutuhan hidup keluarga secara memadai (telah melampaui batas
ambang kemiskinan); Fluktuasi pendapatan dan produksi hampir
merata dari tahun ke tahun tahun. Penyerapan tenaga kerja
memungkinkan mempekerjakan tenagakerja luar keluarga ; Secara
ekonomi layak;
Beberapa faktor penunjang kelayakan ekonomi tersebut
adalah :
a. Menambah sasaran produksi, yaitu grading buah-buah pepaya
untuk pasar lokal, regional dan kota-kota besar.
b. Meningkatkan hasil buah pepaya secara bertahap setiap tahun
hingga sasaran akhir tahun ke X dengan sekala usaha 500-1000
pohon produktif setiap rumahtangga yang memiliki lahan kering
0.5 -1.0 ha.
c. Mengurangi fluktuasi produksi dan pendapatan dengan jalan
disiplin usaha dan pemantauan/pemeliharaan tanaman produktif
secara intensif.
d. Menciptakan adanya pola usaha bersama (KUBA) secara
berkelompok dengan pangsa yang relatif sama.
3. Kelayakan Sosial
Usaha pemeliharaan pepaya secara berkelompok telah lazim
dilakukan dengan kerjasama yang serasi; dengan demikian proyek
SPAKU Pepaya ini tidak akan menimbulkan konflik sosial dan
mengganggu sistem kelompok yang telah serasi.
(E). Rekayasa Kelembagaan
1. Petani yang terikat pinjaman dengan pedagang/pelepas uang
harus melunasi untuk melepaskan ikatan tersebut;
2. Respon terhadap inovasi teknologi masih harus ditingkatkan,
karena keterbatasan akses individu petani terhadap sumber
informasi inovasi, peluang- peluang bisnis dan informasi pasar
yang ada;

56

3. Respon terhadap KUD umumnya rendah dan terkesan bahwa


peran KUD dalam membantu pemasaran hasil buah serta
penyediaan modal belum banyak dirasakan oleh masyarakat
petani ;
4. Respon terhadap perkreditan formal rendah, hal ini disebabkan
pengalaman sebelumnya dimana penyaluran kredit kurang
aspiratif, terlalu birokratif, bunga tinggi dan tidak sesuai dengan
kebutuhan petani .
Berdasarkan atas beberapa kendala tersebut, maka strategi
rekayasa kelembagaan yang perlu disarankan adalah sebagai
berikut :
1. Menciptakan
usaha
berkelompok
dari
RTPLK
yang
memungkinkan berkongsi dengan pangsa yang relatif seimbang
dalam bentuk KUBA;
2. Meningkatkan peran serta PTL, PPL, dan tokoh masyarakat
dalam pembinaan KUBA pepaya;
3. Mengurangi secara bertahap ketergantungan petani pada
pedagang/ lembaga pemasaran sehingga meningkatkan posisi
tawar- menawar dalam pemasaran hasil ;
4. KUBA-KUBA pepaya perlu membentuk koperasi petani pepaya
(Unit Usaha Otonom Agribisnis dari KUD) yang berfungsi sebagai
jembatan penghubung antara kelompoktani pepaya dengan dunia
luar, baik dunia bisnis, birokrasi dan perbankan, maupun sumber
inovasi teknologi
5. Memperkenalkan kredit yang ditempuh dengan sistem bagi hasil,
serta mengatur sistem bagi hasil yang lebih seimbang dengan
melibatkan lembaga antara , yaitu Koperasi petani pepaya atau
KUD.
(F). Justifikasi Kelembagaan
Ikatan antara sesama petani dan antara petani dalam
lembaga tradisional yang ada, serta antara petani dengan tokoh
masyarakat sangat kuat. Pada sisi lain keterbatasan penguasaan
modal dan informasi teknologi dirasakaan sebagai kendala pokok
bagi pengembangan agribisnis pepaya. Oleh karena itu usaha yang
sekarang dilakukan masih terkesan tradisional dengan sekala usaha
yang relatif rendah.
Sistem kredit bagi hasil dengan lembaga antara KUBA dan
Koperasi Petani Pepaya (Unit usaha otonom KUD) dimaksudkan
untuk mengurangi keterbatasan modal usaha melalui penggunaan
fasilitas KPPA. Dengan demikian perbankan formal, seperti Bank
Jatim, sebagai penyedia fasilitas kredit diharapkan mampu menjalin
kerjasama kemitraan dengan para petani .
(G). Rancangan Sistem SPAKU Pepaya

57

1. Organisasi Produsen Primer

FORKA
Pepaya

Investor
Pemerintah
(Mis. Bank Jatim)
Konsultasi/investasi/Perkreditan

( PTL dan PPL)


Tokoh
Masyarakat

kredit
dengan
sistem
bagi hasil

Suasta/
perwakilan
Pedagang buah
Produsen Saprodi
kerjasama

Penyuluhan
DIKLAT

Modal
usaha

Pemasaran
hasil buah
& SAPRODI

KOPERASI PETANI Pepaya

KUBA PEPAYA
25-30 RTP
2. Struktur Sistem Pembinaan

58

FORKA
PEPAYA
BPTP
PPL
tokoh masyarakat

Pusat
Penangkaran
bibit

Koperasi
Petani Pepaya

KUBA pepaya
25-30 RTP

KUBA pepaya
25-30 RTP

Suasta

..............
.........

3. Pranata
Tugas dan tanggung masing-masing komponen organisasi
yang diusulkan tersebut diuraikan sebagai berikut :
a. Investor PEMERINTAH:
- Menyediakan fasilitas kredit bagi hasil dalam bentuk paket
agribisnis pepaya intensif untuk KUBA melalui koperasi petani
pepaya;
- Menjalin kerjasama kemitraan dalam permodalan dengan
koperasi petani dengan jalan menyediakan kemudahankemudahan birokrasi dan administrasi;
- Menjalin kerjasama konsultatif dengan Koperasi petani pepaya,
khususnya dalam pelatihan manajemen permodalan bagi usaha
agribisnis pepaya.
b. Suasta: Pedagang buah/Produsen Saprodi :
- Diharapkan bersedia sebagai mitra kerja Koperasi Petani Pepaya
atau KUBA pepaya, dengan jalan menunjuk perwakilannya di
desa ;

59

Menjalin kerjasama kemitraan dengan jalan menyediakan


informasi-informasi pasar dan transfer teknologi inovatif .

c. Petugas Penyuluhan/Teknis Lapangan (PPL/PTL) :


- Bertanggung jawab terhadap pelatihan dan penyuluhan untuk
lebih meningkatkan akses petani kecil terhadap peluang-peluang
ekonomi yang ada dan penguasaan teknologi;
- Menjalin kerjasama konsultatif dan kemitraan dengan instansi
terkait dan tokoh masyarakat setempat dalam pelaksanaan
transfer teknologi dan pembinaan pengelolaan usaha
d. Koperasi Petani Pepaya (Unit Usaha Otonom KUD)
- Mengawasi, mengkoordinasikan dan membina pelaksanaan
sistem usaha agribisnis yang dilakukan oleh KUBA pepaya ; Membantu KUBA dalam operasionalisasi kegiatan pembinaan
agribisnis pepaya ;
- Membina mekanisme kerja pengembalian kredit sehingga dapat
memenuhi aspirasi petani dan sumber kredit ;
- Menjalin kerjasama kemitraan dengan suasta pedagang telur dan
produsen/pedagang SAPRODI ;
- Membina dan mengembangkan mekanisme tabungan sukarela
dari para petani.
e. Petani Pepaya
- Melaksanakan usaha agribisnis pepaya melalui KUBA
- Menjalin kerjasama kemitraan dengan instansi/ investor melalui
mekanisme "kerjasama yang saling menguntungkan";
- Mengikuti pelatihan teknologi sebelum/selama operasionalisasi
kegiatan;
- Memasarkan hasil produksinya kepada lembaga pemasaran yang
bermitra dengan KUBA
- Pengelolaan pemilikan alat produksi (jika kredit telah lunas), tetap
berusaha secara kongsi di bawah pengawasan dan pembinaan
KUBA dan Koperasi;
- Menjalin kerjasama dengan Koperasi Petani Pepaya melalui
program tabungan bebas sebagai dana untuk perawatan alat-alat
produksi.
(H). Strategi Implementasi
1. Aspek Kelembagaan
a. Pengaturan adanya usaha agribisnis pepaya secara berkelompok
(KUBA) dilakukan dengan sistem kredit bagi hasil ;
b. Sarana alat produksi dan SAPRODI menjadi milik RTPLK yang
berkelompok menjadi KUBA

60

c. Pembagian hasil diatur sedemikian rupa, sehingga saling menguntungkan semua pihak secara proporsional
d. Pada tahap awal, pemilihan kelompok sasaran perlu diarahkan
pada pribadi-pribadi yang memiliki status sosial hampir
sama/merata dan respon terhadap mekanisme pembinaan ;
e. Perlu dijalin kerjasama kemitraan yang harmunis antara instansi
pemerintah, investor suasta, pedagang/pengolah/produsen
SAPRODI, Koperasi dan tokoh masyarakat desa melalui forum
komunikasi agribisnis (FORKA). Kunci keberhasilan pembinaan
sangat tergantung pada peran serta semua pihat terkait,
termasuk petani.
2. Operasionalisasi Teknis
Rekapitulasi pengaturan teknis yang diperlukan untuk
menunjang keberhasilan kredit bagi hasil adalah sebagai berikut :
a. Jumlah Jumlah tanaman produktif yang dipelihara minimum 500
pohon setiap RTPLK ;
b. Jumlah RTPLK dalam usaha kelompok 25-30 RTPLK;
c. Ketentuan bagi hasil dalam pengembalian kredit dan perguliran
berdasarkan asas saling menguntungkan;
d. Nilai kredit/modal yang diinvestasikan disesuaikan dengan
kebutuhan.

61

3. Operasionalisasi Pengorganisasian.
Pengorganisasian yang perlu diakukan untuk menunjang
program ini adalah :
N
o.
1
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.

Tahapan kegiatan
Pengaturan
kerjasama
investor
dengan
Petani
Penentuan
pedagang
sebagai
komponen
pembina-an
Pengaturan
kerjasama
antar
kelembagaan
yang terkait
Pelatihan PPL tentang teknologi yang
akan
diintroduksikan.
Penentuan/seleksi RTPLK
untuk
usaha
kelompok dalam KUBA Pepaya
Pelatihan Petani
Operasionalisasi kegiatan usaha
agribisnis
secara berkelompok/berkongsi :
a. Pemeliharaan Tanaman
b. Pembeli hasil produksi pepaya
c. Pengatur dan pengawasan bagi
hasil
d. Pengawasan harga
e. Pembelian Saprodi
f. Penanggung jawab bagi hasil
g. Penambahan modal usaha
Pengaturan usaha bersama petani
setelah
kredit lunas

Pelaksana
Investor dan Di
nas/Instansi
FORKA
FORKA
Dinas/BLPP
BPTP
Instansi/Tokoh
masyarakat/Desa
PPL/FORKA/BPTP

RTPLK
Pedagang/Pengepul
Ketua KUB
Koperasi
Koperasi; RTP
Koperasi, KUB
Koperasi, KUB
Koperasi+KUB

(I). Enforcement dan Pemantauan


Dalam rangka untuk mengamankan dan membantu
kelancaran kredit bagi hasil untuk petani kecil tersebut perlu
dikembangkan pola insentif dan penalti yang melibatkan Koperasi,
KUBA, aparat pemerintahan desa, dan kelembagaan lain yang
terkait.
Dalam hubungan ini pendekatan persuasif sangat
diperlukan.

62

4.3.2. Kelembagaan Ekonomi/Keuangan


Kelembagaan ekonomi yang diperlukan adalah : BRI, BPD,
BUMN, Swasta, KUD, Pedagang dan Arisan/pengajian.
4.3.3. Kelembagaan Aparatur
Kelembagaan aparatur, berdasarkan fungsinya dapat dibagi
menjadi :
a. Lintas sektoral
Misalnya : LKMD, Forum Musyawarah LKMD.
b. Struktural sektoral
- Mantri Tani, berfungsi untuk administrasi
tanaman pepaya atau SIMKM (Sistem Informasi
Manajemen Kebun Pepaya)
- Kepala Dinas Tk. II
- Kepala Dinas Tk. I
- Kakanwil Dep. Pertanian Propinsi Jawa Timur
c. Struktural fungsional
- PPL pepaya, dibekali ketrampilan teknis dan
manajerial dan dengan modal kredit usahatani.
- PPS di tingkat BIPP Kabupaten.
d. Balai Latihan Kerja dan Diklat Petani
- Sekolah Lapangan (SL) Agribisnis pepaya di lokasi
sentra.
- BLPP di Tingkat Kabupaten
4.4. Peningkatan Pengolahan dan Pemasaran
Salah satu aspek sangat penting dalam pembangunan
sentra agribisnis adalah pengolahan/pemasaran hasil. Memasuki
perdagangan bebas, aspek-aspek penting dari produk usahatani
atau produk agroindustri yang akan dipasarkan adalah :
a. Kuantitas (volume produksi) yang berskala ekonomi
b. Kontinuitas (ketersediaan sepanjang waktu)
c. Kualitas/mutu yang tinggi dan Harga (efisiensi) yang
kompetitif
4.4.1. Peningkatan pengolahan meliputi :
a. Pengadaan alat pengolahan hasil (Cold storage)
b. Pelatihan pengolahan hasil bagi petani (pemakaian bahan
kimia untuk penyeragaman pemasakan)
c. Pelatihan peningkatan mutu hasil (Sekolah Lapang
Agribisnis Pepaya)
d. Magang petani di perusahaan agroindustri
e. Magang di BLPP/BPTP Karangploso, Malang.

63

4.4.2. Peningkatan pemasaran meliputi :


a. Pengembangan sistem informasi pasar Melalui Radio
Komunikasi Informasi Pertanian (RKIP) Wonocolo
Surabaya.
b. Temu Usaha
c. Magang di perusahaan agribisnis produk pepaya yang ada
d. Studi banding ke daerah PUSAT pemasaran
4.5. Dukungan Sektor Terkait
Pembangunan Sentra Agribisnis Komoditas Unggulan
memerlukan dukungan sektor lain yang terkait seperti :
a. Pembangunan jalan kebun (Dep. PU)
b. Pembangunan Irigasi /sumur (Dep. PU)
c. Pengembangan Koperasi/KUD (Dep. Koperasi dan PPK)
d. Pembangunan Pasar Lelang, pasar induk (Dep. PERINDAG)
e. Pembangunan Industri Pengolahan Hasil (DEPERINDAG)
f. Teknologi tepatguna inovatif (BPTP Karangploso, Malang)
4.6. Analisis Faktor Pendorong dan Penghambat
Dalam rangka pembangunan sentra pengembangan komoditi
unggulan pepaya di Kabupaten Kediri, perlu dianalisis faktor
pendorong dan penghambat.
4.6.1. Faktor pendorong
Meliputi sosioteknologi, agroekosistem cacah, infra struktur
memadai, kelembagaan agro-support mendukung, supra struktur
politis kondusif.
4.6.2. Faktor penarik
Meliputi pemasaran prospektif, trend kenaikan pendapatan,
kesadaran gizi masyarakat, Program Gerakan Kembali ke Desa,
perkembangan struktur ekonomi wilayah perdesaan.
4.6.3. Faktor penghambat
Meliputi pemilihan lahan sempit, kesulitan air, orientasi
subsistensi, keragaman poliklonal, musiman dan binial bearing
(pembuahan tidak teratur), volume besar dan berat serta mudah
rusak.
4.7. Pengorganisasian Proyek
4.7.1. Koordinasi Perencanaan Proyek
1. Kegiatan

64

Tahapan kegiatan-kegiatan tahunan seperti dijabarkan pada


Bab VI merupakan rencana kegiatan untuk pengembangan sentra
agribisnis pepaya di Kabupaten Malangyang perlu disepakati oleh
fungsi perencanaan pada Kanwil Departemen Pertanian Propinsi
Jawa Timur, Bappeda Tingkat I Propinsi Jawa Timur, Dinas Pertanian
Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. I dan Tk. II serta Bappeda
Kabupaten Kediri, dan disetujui oleh Departemen Pertanian dan
Pemda Kabupaten Malangserta Dinas-dinas sektor terkait lainnya.
2. Pendanaan
Biaya pembangunan sentra produksi pepaya selama 5 - 10
tahun diusulkan untuk dapat dialokasikan tidak saja dari dana APBN
tetapi juga dari dana APBD Tk. I atau APBD Tk. II. Dengan
sistem/pola pendanaan :
- Pemeliharaan th. I = APBN
- P II - P III - P IV = APBD I dan II
4.7.2. Pelaksanaan
Pengembangan sentra agribisnis pepaya di Kabupaten
Malangini dilaksanakan oleh Unit Pelayanan Pengembangan (UPP)
sentra agribisnis pepaya yang berada di bawah tanggung jawab
Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. II Kabupaten Kediri.
4.7.3. Pengendalian
Pengendalian kegiatan pengembangan sentra agribisnis
pepaya (selama masa konstruksi proyek) di Kabupaten
Malangdilaksanakan oleh Tim Teknis Pembangunan Pertanian
Propinsi Jawa Timur. FORKA Pepaya (Forum Komunikasi Agribisnis
Pepaya) dibentuk dan diharapkan dapat berfungsi penuh selama
pasca proyek.
4.7.4. Monitoring dan Evaluasi
Evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan (on going)
dilaksanakan secara terpadu oleh Kanwil Deptan Propinsi Jawa
Timur, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Tk. I dan
Tk. II Kabupaten Kediri, Bappeda Kabupaten Malangserta Dinasdinas sektor terkait di Kabupaten Kediri.
Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan tahunan
bertujuan memantau kegiatan tahunan agar sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan dan merekomendasi penyesuaianpenyesuaian yang perlu dilaksanakan seandainya demi tercapainya
tujuan pengembangan sentra agribisnis pepaya.
Evaluasi dampak (ex post) akan dilaksanakan setelah 5 - 6
tahun berjalan yang melibatkan Instansi Pertanian tingkat Pusat.
Evaluasi dampak bertujuan melihat/menganalisa dampak
yang timbul akibat adanya kegiatan pembangunan sentra agribisnis

65

pepaya. Diharapkan dampak yang timbul adalah dampak positif yaitu


antara lain : meningkatnya pendapatan petani khususnya dan
perekonomian desa pada umumnya.

66

V. PENTAHAPAN KEGIATAN
Untuk mengembangkan Kecamatan Wajak, Kabupaten
Malang menjadi sentra agribisnis pepaya diperlukan pembinaan dan
pembiayaan dari Pemerintah selama 5 tahun. Dengan kata lain,
masa kerja Unit Pelayanan Pengembangan (UPP) sentra agribisnis
pepaya akan berlangsung selama 5 tahun. Dasar pertimbangan
dibutuhannya waktu 5 tahun adalah sebagai berikut :
1. Sasaran luas areal yang akan dikembangkan menjadi
inti/percontohan adalah 1000 Ha dengan target
penanaman 200 Ha/tahun. Dengan demikian dibutuhkan
waktu selama 5 tahun untuk mengembangkan 1000 Ha
sentra produksi pepaya di lokasi terpilih.
2. Tanaman pepaya baru dapat berproduksi setelah tanaman
berusia 2 tahun. Agar petani mampu melakukan pemeliharaan tanaman sesuai paket teknologi yang dianjurkan,
maka diharapkan pembinaan dan bantuan Pemerintah
diberikan kepada petani tidak hanya berupa paket 1 tahun
(pada tahun penanaman) tapi juga pembinaan dan paket
pemeliharaan tanaman sampai dengan tanaman mulai
berproduksi. Tanaman yang ditanam pada tahun ke 4 baru
akan berproduksi pada tahun ke 4. Oleh karena itu
dibutuhkan waktu sampai dengan 5 tahun pembinaan.
Pada tahun ke 5, sebelum berakhirnya masa tugas Unit
Pelayanan Pengembangan sentra agribisnis pepaya akan
dilaksanakan evaluasi dampak (ex-post evaluation) untuk menilai
dampak pembangunan sentra agribisnis pepaya terhadap
peningkatan pendapatan petani khususnya, dan peningkatan
kegiatan ekonomi pedesaan pada umumnya.

67

VI. P E N U T U P
6.1. Mekanisme Pendanaan
Untuk
tercapainya
sasaran kegiatan pengembangan
Agribisnis pepaya yang tahapan kegiatannya telah dijabarkan pada
Bab V, maka setiap tahun pada penyelenggaraan Rakor
bangtan/Rakorbang Tk. II, perlu dibahas rancangan kebutuhan
biaya pelaksanaan pembangunan sentra agribisnis pepaya setiap
tahunnya. Hal ini diperlukan untuk pengalokasian dana dari masingmasing sumberdana yang seperti telah diusulkan pada bab-bab
terdahulu.
6.2. Manfaat Yang Diharapkan
Pembangunan "SPAKU" Pepaya di Kecamatan Wajak,
Kabupaten Malang ini jika berhasil akan memberikan dampak
langsung berupa pening-katan pendapatan dan kualitas hidup
1000-2000 rumah tangga petani peserta yang akan dibina, dimana
pada umumnya kualitas hidup rata- rata para petani tersebut masih
berada di sekitar ambang kemiskinan.

68

BAHAN BACAAN
AAK. 1980. Bertanam Pohon Buah-buahan I. Yayasan Kanisius.
Yogyakarta
AAK. 1980. Bertanam Pohon Buah-buahan II. Yayasan Kanisius.
Yogyakarta.
Adriance, G.W. dan F.R. Brison. 1967. Propagation of Horticultural
Plant. Second ed. Tata McGraw Hill Publ. Co. Ltd., New
Dwlhi.
Afriastini, J.J.
1985.
Daftar Nama Tanaman.
Swadaya. Jakarta.

PT Penebar

Astawan, M. dan M.W. Astawan. 1991. Teknologi Pengolahan


Pangan Nabati Tepat Guna. Penerbit Akademika Pressindo.
Jakarta.
Ayers, R.S. dan D.W. Westcot. 1976. Water Quality for Agriculture.
FAO Irrigation and Drainage Paper No 20. Rome.
Azis, A. 1991. Interaksi Sektor Pertanian dan Sektor Industri dalam
Proses Industrialisasi. Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional V,
Jakarta 3-7 September 1991, Pusat Analisa Perkembangan
IPTEK-LIPI, Jakarta.
Brinkman,A.R. dan A.J. Smyth. 1973. Land Evaluation for Rural
Purposes. Publ. No. 17. ILRI, Wageningen.
Chicester,DF and FW Tanner, 1968. Antimicrobial Food Additives. In
Handbook of Food Additives by Furia, TE. The Chemical
Rubber Co. Ohio. p. 1963-1966
Dent,J.B. dan J.R. Anderson. 1971. System Analysis in
Agricultural Management. John Wiley and Sons,Australia
PTY, Sydney.
DeWit,C.T. 1958. Transpiration and Crop Yield. Versl. Landbkundig
Onderz., 64(5) Pudoc, Wageningen.
Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi
Bahan Makanan. Bhatara Karya Aksara, Jakarta.
Doorenbos, J. dan W.O. Pruitt. 1977. Guidelines for Predicting Crop
Water Requirements. FAO Irrigation and Drainage Paper No.
24. Food and Agriculture Organization of The United Nations,
Rome.
Doorenbos, J dan A.H. Kassam. 1979. Yield Response to Water. FAO
Irrigation and Drainage Paper No 33. Food and Agriculture
Organization of The United Nations. Rome.

69

Downey, W.D. dan S.P. Erickson. 1989. Manajemen Agribis nis.


(Terjemahan R.S. Ganda). Penerbit Erlangga, Jakarta.
Dwi Astuti, R., M. Dewani , S. Wijana dan Solimun. 1995. Abstraksi
Sistem Agribisnis Rambutan. Review Hasil-hasil Penelitian
dalam Rangka Implementasi PIP Universitas Brawijaya Tahun
1990/91 - 1993/94. Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya,
Malang
Dwiastuti, M.E., A. Muharam dan A. Triwiratno, 1992. Biokarakterisasi
koleksi strain lemah virus Tristeza Jeruk (CTV) di Indonesia.
Penelitian Hortikultura 3 (1).
Dwiastuti, M.E., A. Triwiratno, dan A. Muharam, 1992. Deteksi cepat
CVPD pada jeruk dengan teknik immunoflurescence
technique. Penelitian Hortikultura 3 (1).
FAO. 1978. A Framework for Land Evaluation. Soils Bulletin No.
32. Food and Agriculture Organization of The United Nations.
Rome.
FAO. 1978. Agro-ecological Zone Project. Soil Resources Report
No. 48. Rome.
Fisher, R.A. dan R.M. Hagan. 1965. Plant Water Relations, Irrigation
Management and Crop Yields. Exp. Agric. 1:161-177.
Flach, K.W. 1986. Modeling of Soil Productivity and Related
Land Classification. Soil Conservation Services, USDA,
Washington, D.C.
France, J. dan J.H.M. Thornley. 1984. Mathematical Models in
Agriculture. A Quantitative Approach to Problems in
Agriculture and Related Sciences. Butterworths & Co.
(Publishers) Ltd., London
Frazier,WC., 1978. Food Microbiology. Tata Mac
Publishing Co. Ltd. New Delhi. India. p. 368.

Graw

Hill

Gibbon,D. dan A. Pain. 1985. Crops of the Drier Regions of the


Tropics. Intermediate Tropical Agriculture Series. Longman,
London.
Godefroy, J. dan Ph. Melin. 1973. Effect of sulphur applications on
the chemical characteristics of a volcanics soil used for
banana cultivation. Fruits (France) 28(4): 255-261.
Gonzales, C.I., B.G. Mercado, B.G. Dimayuga, and L.V. Magraye,
1991. Recent development technologies towards the control of
citrus greening disease in thr Philippines. Proc. of 6th Int. Asia
Pacific Workshop on Integrated citrus health management.
Kualalumpur, Malaysia.

70

Hamer, W.I. 1982. Final Soil Conservation Consultant Report.


AGOF/INS/78/006. Technical Note No. 26.Centre for Soil
Research, Bogor.
Hernandez, R.P. 1986. Land Inventory and Traditional Agrotechnology Information as basis for the Mapping of Land
Management Units in Central Mexico. Soil Sci. Laboratory,
Dept. of Agric. Sci., Univ. of Oxford, U.K.
Hernandez, L. J. 1973. The elaboration of full orange juices. Boletin
Estacion Experimental Agricola de Tucuman (Argentina) No.
113, 9p.
Kamarijani, 1983. Perencanaan Unit Pengolahan Hasil Pertanian.
Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi
Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Kartasapoetra, G., A.G. Kartasapoetra, dan R.G. Kartasapoetra.
1985. Management Pertanian (Agribisnis). Penerbit Bina
Aksara Jakarta.
Kassam, A.H. 1977. Net biomass production and yield of crops.
Present and Potential Land Use by Agroecological Zones
Projects, FAO, Rome.
Kipps, M.S. 1970. Production of field crops. A Textbook of Agronomy.
McGraw Hill, New York.
Malavolta, E. 1962. On the mineral nutririon of some tropical crops.
Editors: International Potash Institute, Berne, Switzerland.
Malquori, A. 1980. The Potassium requirements of fruit crops. Dalam
Potassium Requirements of Crops. IPI Research Topics No. 7,
International Potash Institute Bern/Switzerland.
Malquori, A. dan F. Parri. 1980. Potassium requirements of fruit
crops. Dalam Potassium requirement of crops. Int. Potash
Inst. Research Topics No. 7, Bern/Switzerland.
Mangkusubroto, K dan L. Trisnadi, 1987. Analisa Keputusan.
Pendekatan Sistem Dalam Manajemen Usaha dan proyek.
Ganeca Exact Bandung. Bandung.
Pusat Pengembangan Agribisnis. 1988. Commodity Profiles. Pusat
Pengembangan Agribisnis (PPA) Jakarta.
Quilici, S. 1989. Report of mission to Indonesiaas a consultant for
FAO Proyect INS/84/007 on Citrus rehabilition. France
Rismunandar.
1983. Membudayakan Tanaman Buah-Buahan.
Penerbit Sinar Baru. Bandung,

71

Rodriguez,A.J., R. Guadalupe, L.M.de G. Iquina. 1974. the ripening


of local papaya cultivars under controlled conditions . Jour. of
Agric. of the Univ. of puerto Rico 58(2) : 184-196.
Ryall, A.L. dan W.J. Lipton. 1983. Handling, Transportation and
Storage of Fruits and Vegetables. Volume I. AVI Publishing
Company, Inc. Westport, Connecticut.
Samson, J.A. 1980. Tropical Fruits. Longman. London.
Soemarno. 1992. Studi Model Pewilayahan Komoditi Pertanian yang
Berwawasan Lingkungan di Sub DAS Lesti, Kabupaten
Malang, Jawa Timur. Proyek Penelitian yang dibiayai oleh
Proyek ARM Balitbang Pertanian.
Sys, C. 1985. Land Evaluation. Part III. International Training Centre
for Post-Graduate Soil Scientists, State University of Ghent.
Tohir, K. A. 1983. Bercocok Tanam Pohon Buah-buahan. Pradnya
Paramita. Jakarta.