Anda di halaman 1dari 5

SAKRAMEN PERKAWINAN DAN IMAMAT

SAKRAMEN PERKAWINAN
Sakramen pernikahan atau perkawinan adalah suatu sakramen yang mengkonsekrasi penerimanya
guna suatu misi khusus dalam pembangunan Gereja, serta menganugerahkan rahmat demi
perampungan misi tersebut. Sakramen ini, yang dipandang sebagai suatu tanda cinta-kasih yang
menyatukan Kristus dengan Gereja, menetapkan di antara kedua pasangan suatu ikatan yang bersifat
permanen dan eksklusif, yang dimeteraikan oleh Allah. Dengan demikian, suatu pernikahan antara
seorang pria yang sudah dibaptis dan seorang wanita yang sudah dibaptis, yang dimasuki secara sah
dan telah disempurnakan dengan persetubuhan, tidak dapat diceraikan sebab di dalam kitab
suci tertulis: Justru karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.
Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan
meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu
daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan
Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya pula
kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka: Barangsiapa menceraikan istrinya lalu
kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinaan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri
menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zina. (Mrk. 10:112)
Sakramen ini menganugerahkan kepada pasangan yang bersangkutan rahmat yang mereka perlukan
untuk mencapai kekudusan dalam kehidupan perkawinan mereka serta untuk menghasilkan dan
mengasuh anak-anak mereka dengan penuh tanggung jawab. Sakramen ini dirayakan secara terbuka
di hadapan imam (atau saksi lain yang ditunjuk oleh Gereja) serta saksi-saksi lainnya, meskipun dalam
tradisi teologis Gereja Latin yang melayankan sakramen ini adalah kedua pasangan yang
bersangkutan.
Demi kesahan suatu pernikahan, seorang pria dan seorang wanita harus mengutarakan niat dan
persetujuan-bebas (persetujuan tanpa paksaan) masing-masing untuk saling memberi diri seutuhnya,
tanpa mengecualikan apapun dari hak-milik esensial dan maksud-maksud perkawinan. Jika kedua
pihak merupakan anggota Gereja Katolik yang sudah dibaptis, maka perkawinan mereka merupakan
sakramen karena kedua orang itu telah menjadi satu iman dalam Kristus. Jika salah seorang belum
dibaptis secara Katolik, maka perkawinan semacam itu (perkawinan campuran) sulit ditentukan nilai
Gerejawinya, karena tidak ada persatuan iman. Tetapi karena pihak yang Katolik bersatu dengan
Kristus dan pihak yang lain umumnya juga percaya kepada Allah, maka perkawinan ini pasti tidak di
luar rencana Allah.

SAKRAMEN PERKAWINAN DAN IMAMAT

Menurut Gereja Katolik perkawinan itu bersifat kekal atau tidak terceraikan dan ini sesuai dengan KS
(bdk Markus 10:1-12, Roma 7:2-3 dan Lukas 16:18). Pada kutipan KS yang lain ada seolah-olah
semacam celah untuk melakukan perceraian seperti Matius 19:1-12, terutama pada ayat 9:
"Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia
berbuat zinah." Tetapi sebenarnya menurut para ahli kata di atas merupakan sisipan dari penulis injil.
Mengapa?? Karena injil Matius ditujukan untuk pembaca Yahudi. Kita tahu bahwa hukum Taurat itu
mengijinkan perceraian sehingga akhirnya penulis injil menyisipkan kata "Kecuali karena zinah" agar
tidak menimbulkan kesan bahwa Yesus mengubah hukum taurat, karena Yesus dalam injil Matius
mengatakan "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau
kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu
titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi." (Mat 5:17-18) Jadi
maksud Yesus tetap bahwa perkawinan itu tetap tak terceraikan. Hal itu dapat disimpulkan jika kita
membaca ayat 9 pada Matius 19 dengan kesatuan dengan keseluruhan konteks perkawinan dalam KS.
Ada yang mengatakan bahwa selain Mat 19:1-12, 1 Kor 7:10-11 juga mengisyaratkan akan
bolehnya perceraian (lihat pada ayat 11).
Tetapi jelas sekali dalam perikop ini bahwa kalau memang harus berpisah (= Paulus menyebutnya
bercerai ) istri yang menceraikan suaminya tidak diperkenankan menikah lagi dan sebisa mungkin
kembali rujuk dengan suaminya. Nah dalam hal ini sudah jelas bahwa Paulus mengatakan perceraian
itu tidak diijinkan. Dalam Efesus 5:22-32 kita dapat menyimpulkan bahwa perceraian itu tidak
dimungkinkan. Mengapa? Karena pada perikop itu dijelaskan bahwa hubungan Yesus dengan Jemaat
adalah sebagai Kepala dan Tubuh yang sudah pasti tidak dapat diceraikan. Nah kalau Paulus juga
menyamakan hubungan itu dengan hubungan suami dan istri berarti secara otomatis hubungan antara
suami dan istri tidak dapat diceraikan, karena hubungan Yesus dengan jemaat tidak dapat diceraikan.
Dalam Perjanjian Lama ditegaskan bahwa Allah sendiri membenci perceraian (Mal 2:16).
Dalam istilah Gereja ada istilah Annulments yang dalam hukum Gereja berarti sejak awal mula tidak
ditemukan perkawinan yang sah (perkawinan yang menjadi batal karena tidak memenuhi hukum
Gereja atau sebab musabab yang sesuai hukum Gereja). dalam hal ini mereka yang mengalami
mungkin dapat menikah kembali di Gereja. Dalam Gereja Katolik jika pasangan yang menikah salah
satunya ada yang meninggal maka pasangan yang satunya dapat pula kembali menikah di Gereja.

SAKRAMEN PERKAWINAN DAN IMAMAT

SAKRAMEN IMAMAT
Berkat Sakramen Pembaptisan, semua orang diikutsertakan dalam Imamat Kristus. Namun berkat
Sakramen Tahbisan, orang beriman atas caranya yang khas mengambil bagian dalam Imamat Kristus
dan diarahkan satu kepada yang lain, walaupun berbeda dalam kodratnya (LG 10), untuk
mengembangkan rahmat Pembaptisan dalam penghayatan iman, harapan dan cinta, dalam hidup
sesuai dengan Roh Kudus. Sakramen Imamat diterima oleh seseorang sekali seumur hidup. Dengan
sakramen ini maka seorang manusia diangkat untuk mengabdikan hidupnya sebagai citra Kristus.
Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak
atas nama Kristus, Kepala [in persona Christi capitis]. Menjadi konfigurasi Kristus selaku Kepala
Gereja dan Imam Agung, serta menganugerahkan baginya kuasa, sebagai asisten uskup setempat,
untuk merayakan sakramen-sakramen dan kegiatan-kegiatan liturgis lainnya, teristimewa Ekaristi.
Hanya uskup yang boleh melayani sakramen ini.
Imamat ini adalah satu pelayanan. Adapun tugas yang oleh Tuhan diserahkan kepada para gembala
umat-Nya itu, sungguh-sungguh merupakan pengabdian (LG 24). Ia ada sepenuhnya untuk Allah dan
manusia. Ia bergantung seutuhnya dari Kristus dan imamat-Nya yang satu-satunya dan ditetapkan
demi kesejahteraan manusia dan persekutuan Gereja. Sakramen Tahbisan menyampaikan satu kuasa
kudus, yang tidak lain dari kuasa Kristus sendiri. Karena itu, pelaksanaan kuasa ini harus mengikuti
contoh Kristus, yang karena cinta telah menjadi hamba dan pelayan untuk semua orang.
Tiga Jenjang Tahbisan
Pelayanan Gereja yang ditetapkan oleh Allah dijalankan dalam berbagai pangkat oleh mereka, yang
sejak kuno disebut Uskup, Imam, dan Diaken (LG 28). Ajaran iman Katolik yang dinyatakan dalam
liturgi, dalam magisterium dan dalam cara bertindak Gereja yang berkesinambungan, mengenal dua
jenjang keikutsertaan dalam imamat Kristus; episkopat dan presbiterat. Diakonat mempunyai tugas
untuk membantu dan melayani mereka. Karena itu istilah sacerdos dalam pemakaian dewasa ini
menyangkut uskup dan imam, tetapi bukan diakon. Meskipun demikian ajaran iman Katolik
mengajarkan bahwa ketiga jenjang jabatan; kedua jenjang imamat (episkopat dan presbiterat) dan
jenjang jabatan pelayanan (diakonat), diterimakan oleh satu kegiatan sakramental, yang dinamakan
penahbisan, artinya melalui Sakramen Tahbisan.

SAKRAMEN PERKAWINAN DAN IMAMAT

Pentahbisan uskup merupakan kegenapan sakramen Imamat. Menjadikannya anggota badan penerus
(pengganti) para rasul dan memberi misi untuk mengajar, menguduskan, dan menuntun, disertai
kepedulian dari semua Gereja. Orang-orang yang berkeinginan menjadi imam dituntut oleh Hukum
Kanonik (Kanon 1032 dalam Kitab Hukum Kanonik) untuk menjalani suatu program seminari yang
selain berisi studi filsafat dan teologi sampai lulus, juga mencakup suatu program formasi.
Upacara Tahbisan
Seperti dalam banyak sakramen lain, begitu juga upacara sakramen tahbisan tidak ditentukan dalam
Kitab Suci. Dalam Kis 13:2- 3 diceriterakan bahwa Barnabas dan Paulus ditumpangi tangan, lalu diutus
oleh jemaat sebagai pewarta Injil. Penumpangan tangan merupakan tanda berkat, dan mungkin juga
penyerahan kuasa (lih. juga Kis 20:28; 1Tim 4:14; 5:22; 2Tim 1:6). Tetapi tidak jelas adakah itu
dimaksudkan sebagai upacara sakramen tahbisan, yang baru ditetapkan pada pertengahan abad ke-3.
Sejak itu inti pokok upacara pentahbisan ialah penumpangan tangan disertai doa, yang dalam tahbisan
imam berbunyi:
Berikanlah, kami mohon, Bapa yang Mahakuasa
kepada hamba-hamba-Mu ini martabat imamat;
perbaruilah dalam hati mereka Roh kekudusan;
semoga mereka diberi tugas derajat kedua,
yang diterima daripada-Mu, ya Allah, dan
mengajarkan kewajiban moral dengan teladan hidup mereka.
Dengan demikian, terungkap bahwa mereka sungguh menjadi imam, tetapi sekaligus bahwa mereka
hanya pembantu saja. Juga: kepemimpinan mereka tidak hanya h arus dijalankan dengan kata, tetapi
terutama dengan teladan hidup.
Makna Imamat
1. Imamat Jabatan
Salah satu ciri Gereja Katolik adalah "apostolik" (berasal dari para Rasul). Sehingga seluruh tahbisan
dalam Gereja Katolik dapat ditelusuri sejak dari zaman para rasul, yang mana diutus oleh Yesus Kristus

SAKRAMEN PERKAWINAN DAN IMAMAT

sendiri. Perutusan Yesus tersebut dilanjutkan oleh Gereja sampai akhir zaman melalui tahbisan dalam
tiga tahap:

Episkopat : uskup (penerus para Rasul)

Pentahbisan seseorang menjadi uskup menganugerahkan kegenapan sakramen Imamat baginya,


menjadikannya anggota badan penerus (pengganti) para rasul, dan memberi dia misi untuk mengajar,
menguduskan, dan menuntun, disertai kepedulian dari semua Gereja.

Presbiterat : pastor (presbiter)

Pentahbisan seseorang menjadi imam mengkonfigurasinya menjadi Kristus selaku Kepala Gereja dan
Imam Agung, serta menganugerahkan baginya kuasa, sebagai asisten uskup yang bersangkutan,
untuk merayakan sakramen-sakramen dan kegiatan-kegiatan liturgis lainnya, teristimewa Ekaristi.

Diakonat : diakon

Pentahbisan seseorang menjadi diakon mengkonfigurasinya menjadi Kristus selaku Hamba semua
orang, menempatkan dia pada tugas pelayanan uskup yang bersangkutan, khususnya pada kegiatan
Gereja dalam mengamalkan cinta-kasih Kristiani terhadap kaum papa dan dalam memberitakan firman
Allah.
2. Imamat Bersama (Umum)
Melalui Sakramen Baptis, semua umat awam Kristiani diharuskan juga menjadi 'imam'; yaitu dengan
menjadi saksi Kristus yang baik, hidup menurut iman, pengharapan, dan kasih. Kesaksian hidup umat
diharapkan menjadi pancaran terang kasih Kristus kepada sesamanya.