Anda di halaman 1dari 2

1.

Polutan paling berbahaya dalam indoor air polution


WHO (2008), Kualitas udara dalam ruangan dipengaruhi oleh
konsentrasi polutan udara luar, sumber dalam ruangan polusi,
karakteristik bangunan dan kebiasaan warga. Polusi udara dalam ruangan
mungkin timbul dari penggunaan api terbuka, bahan bakar yang tidak
aman atau pembakaran biomassa bahan bakar, batubara dan minyak
tanah. Kompor gas atau buruk diinstal kayu bakar unit dengan ventilasi
yang buruk dan pemeliharaan dapat meningkatkan kadar karbon
monoksida dalam ruangan, nitrogen dioksida dan partikel. Polutan lain
tidak terkait dengan pembakaran bahan bakar termasuk bahan bangunan
seperti asbes dan semen, kayu pengawet dan lain-lain. Senyawa organik
yang mudah menguap dapat dirilis oleh berbagai sumber termasuk cat,
lem, resin, bahan polishing, parfum, semprotan propelan dan agen
pembersih. Formaldehida adalah komponen dari beberapa produk rumah
tangga dan dapat mengiritasi mata, hidung dan saluran udara.
2. Pembakran tidak sempurna beserta contohnya
Pada pembakaran bahan bakar yang sempurna maka yang dihasilkan adalah gas CO 2 dan
H2O. Pembakaran yang sempurna ini terjadi hanya jika ada pasokan oksigen yang cukup.
Jika tidak sempurna, maka akan dihasilkan senyawa hidrokarbon (HC), karbon
monoksida (CO), karbon dioksida (CO 2), timbal, serta nitrogen oksida (NOx) pada
kendaraan berbahan bakar bensin. Sedangkan pada kendaraan berbahan bakar solar, gas
buangnya mengandung sedikit HC dan CO tetapi lebih banyak sulfur oksida (SOx).
Diantara gas-gas yang beracun tersebut, yang perlu lebih banyak mendapat perhatian
adalah gas CO (karbon monoksida) karena pengaruhnya yang besar erhadap kesehatan
manusia.
3. Mekanisme polutan indoor air polution dapat menyebakan gangguan atau penyakit
Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan
ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan
dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun
metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti
halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 > O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO > COHb (karboksihemoglobin)

kestabilan phasa gasnya. CO berbahaya karena bereaksi dengan haemoglobin darah


membentuk Carboxy haemoglobin (CO-Hb). Akibatnya fungsi Hb membawa oksigen
ke sel- sel tubuh terhalangi, sehingga gejala keracunan sesak nafas dan penderita
pucat. Reaksi CO dapat menggantikan O2 dalam haemoglobin dengan reaksi :
02Hb + CO

>

OHb + O2

yang diterima oleh manusia tersebut, bahkan dapat menyebabkan kematian.


Sifat CO yang berupa gas yang tidak berbau dan tidak berwarna serta sangat toksik
tersebut, maka CO sering disebut sebagai silent killer. Efek terhadap kesehatan gas

CO merupakan gas yang berbahaya untuk tubuh karena daya ikat gas CO terhadap
Hb
adalah 240 kali dari daya ikat CO terhadap O2. Apabila gas CO darah (HbCO) cukup
tinggi, maka akan mulai terjadi gejala antara lain pusing kepala (HbCO 10 persen),
mual dan sesak nafas (HbCO 20 persen), gangguan penglihatan dan konsentrasi
menurun (HbCO 30 persen) tidak sadar, koma (HbCO 40-50 persen) dan apabila
berlanjut akan dapat menyebabkan kematian.
4. Kadar dan ambang batas polutan
Halaman 25 K3 (ITB)
Permenkes nomer 1077 tahun 2011 tentang

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Sulfur dioksida (SO2) ppm 0,1 24 jam


Nitrogen dioksida (NO2) ppm 0,04 24 jam
Carbon monoksida (CO) ppm 9,00 8 jam
Carbondioksida (CO2) ppm 1000 8 jam
Timbal (Pb) g/m3 1,5 15 menit
Asbes 5 serat/ml Panjang serat 5
Formaldehid (HCHO) 0,1 ppm 30 menit
Volatile Organic Compound (VOC) 3ppm 8 jam
Environmental Tobaco Smoke (ETS) 35g/m3 24 jam

5. Definisi biomass beserta contohnya