Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latarbelakang
Manusia sebagai makhluk hidup yang mulia mengalami perubahanperubahan dalam dirinya yang berhubungan dengan pertumbuhan dan
perkembangan. Manusia tumbuh dan berkembang tentunya berlangsung dengan
adanya gerak-gerak yang disesuaikan pada fasenya masing-masing. Manusia sejak
lahir ke bumi telah melakukan pergerakan dari bagian-bagian tubuhnya oleh
rangsang yang diterimanya.
Untuk menguasai suatu gerakan tertentu tentunya diawali dengan adanya
proses belajar tahap demi tahap hingga sesuai dengan yang diharapkan. Oleh
sebab itu, perlu kiranya adanya pemahaman yang tepat tentang teori-teori belajar
gerak. Pada makalah ini akan dibahas tentang teori-teori yang berhubungan
dengan belajar gerak (motorik) yang diadaptasikan terhadap pembelajaran
Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan.
B. Tujuan
Tujuan yang ingin diperoleh dari pembuatan makalah ini, yaitu; (1) untuk
memenuhi tugas mata kuliah Motor Kontrol dalam Pembelajaran Pendidikan
Jasmani dan Olahraga, (2) sebagai bahan masukan bagi guru-guru Penjas dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, (3) sebagai bahan masukan bagi para
peneliti yang ingin meneliti tentang teori-teori belajar motorik.
C. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Bagi penulis, mendapatkan kredit nilai dari dosen pengampu mata kuliah
1
Motor Kontrol dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga.

2. Bagi para guru Penjas, agar kiranya lebih memahami dan dapat menerapkan
teori belajar motorik dalam pembelajaran dengan baik dan tepat.
3. Bagi para peneliti, agar kiranya lebih paham tentang teori-teori belajar gerak
(motorik).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Belajar Motorik/Gerak
Pengertian Pengertian belajar motorik/gerak pada prinsipnya tidak jauh
berbeda dengan pengertian belajar secara umum. Berikut adalah beberapa
penjelasan belajar motorik menurut para ahli:
1. Schmidt (1991) menjelaskan bahwa, pembelajaran gerak adalah serangkaian
proses yang dihubungkan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah
pada perubahan-perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan
seseorang untuk menampilkan gerakan-gerakan yang terampil.
2. Oxendine (1984) menjelaskan bahwa, belajar motorik adalah suatu proses
perubahan perilaku gerak yang relatif permanen sebagai hasil dari latihan dan
pengalaman.
3. Rahantoknam (1988) menjelaskan bahwa, belajar motorik adalah proses
peningkatan suatu keterampilan motorik yang disebabkan oleh kondisi latihan

atau diperoleh dari pengalaman, bukan karena kondisi maturasi atau motivasi
temporer dan fluktuasi fisiologis.
Dari gambaran di atas dapat diambil kesimpulan bahwa belajar gerak
adalah suatu rangkaian proses perubahan perilaku gerak yang relatif permanen
yang diperoleh dari hasil pengalaman dan latihan untuk menampilkan gerakan
yang benar dan terampil.
B. Unsur Belajar Gerak/ Motorik
Berdasarkan pengertian belajar motorik tersebut, maka diidentifikasi
beberapa unsur dalam belajar motorik, yaitu sebagai berikut:
1. Belajar motorik adalah suatu proses 3
Belajar motorik adalah proses internal yang terjadi pada siswa/atlet, karena
adanya faktor eksternal (keadaan di luar diri siswa yang memberi pengaruh
pada perkembangan motoriknya) dan faktor internal (karakteristik siswa,
seperti: kecerdasan, tipe tubuh, kemampuan motorik) itu sendiri. Berdasarkan
pada teori belajar information processing (Singer, 1980), belajar motorik
terjadi karena adanya informasi yang masuk kemudian diolah dan
diaktualisasikan dalam bentuk gerak.
2. Hasil dari belajar merupakan kemampuan merespon yang diaktualisasikan
dalam bentuk gerakan.
Hasil akhir yang diharapkan adalah siswa dapat menguasai faktor-faktor
internal dari suatu keterampilan dan dilakukan secara teratur serta tepat waktu.
Kualitasnya diukur dari kinerja saat melakukan gerakan dan hasil gerakannya
(responnya).
3. Kemampuan atau gerakan yang dihasilkan relatif permanen
Keterampilan motorik yang dikuasai dan dipelajari oleh siswa/atlet dapat
melekat pada diri dalam waktu yang relatif lama. Namun berdasarkan Theory
of Retention and Forgetting (Singer, 1980 dan Schmidt, 1988) bahwa

kemampuan manusia untuk mengingat sangat terbatas, makin lama makin


berkurang bahkan bisa hilang atau lupa sama sekali.
4. Keterampilan gerak sebagai akibat dari latihan dan pengalaman
Keterampilan motorik bukan karena pertumbuhan, perkembangan dan
kematangan, tetapi hasil latihan. Seperti dijelaskan Rahantoknam (1988) di
atas.
5. Perubahan dapat ke arah negatif maupun positif
Atlet berlatih setiap hari pada hakikatnya ingin meningkatkan ketrampilan
motorik yang telah dikuasai dan mempertahankan prestasi yang telah dicapai.
Tetapi hasil belajar/latihan tidak selalu mengarah pada peningkatan secara
terus menerus, karena banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan hasil
latihan.
C. Tahapan Pembelajaran Gerak
Dalam proses pembelajaran gerak dapat diidentifikasi beberapa tahapantahapan yang membutuhkan perhatian khusus agar kiranya lebih bermanfaat dan
mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu; (1) tahapan verbal-kognitif, (2) tahapan
motorik, (3) tahapan otomatisasi.
1. Tahapan Verbal-Kognitif
Pada tahapan ini, tugasnya adalah memberikan pemahaman secara lengkap
mengenai bentuk gerak baru kepada peserta didik. Sebagai pemula, mereka
belum memahami mengenai apa, kapan, dan bagaimana gerak itu dilakukan.
Oleh karena itu, kemampuan verbal-kognitif sangat mendominasi tahapan ini.
Instruksi, demonstrasi, film clips, dan informasi verbal lainnya secara khusus
dapat memberikan kontribusi positif dalam tahapan ini.
2. Tahapan Motorik
Pada tahapan motorik hal yang sangat perlu diperhatikan adalah
bagaimana caranya membentuk pola gerak yang lebih efektif. Untuk
membentuk pola gerak yang lebih efektif tentunya harus ada kontrol dari guru

dan rasa percaya diri peserta didik dalam melakukan pola gerakan-gerakan
yang diberikan. Pada tahap ini peserta didik juga diharapkan agar mengikuti
dan melaksanakan instruksi yang diberikan oleh guru/pelatih dengan baik dan
benar sehingga tercapailah efisiensi dari gerakan tersebut. Dengan
meningkatnya efisiensi dalam bergerak akan menghemat jumlah energi yang
dikeluarkan dan memberikan suatu nilai estetika.
3. Tahapan Otomatisasi
Setelah peserta didik melakukan gerak dengan jumlah yang banyak dan
diulang-ulang, secara sendirinya akan mengarah pada gerak otomatisasi.
Dengan adanya pengulangan gerak yang benar dan teratur akan membuat
motor program berkembang dengan baik dan bahkan dapat mengontrol gerak
dalam waktu yang singkat. Gerakan-gerakan yang dilakukan pada tahapan ini
akan kelihatan lebih terampil, efektif dan efisien.
D. Manfaat Belajar Gerak/Motorik
Manfaat dari belajar motorik diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Agar siswa/atlet dapat memperoleh kemampuan keterampilan kemudian
berlatih untuk meningkatkan kemampuan tersebut.
2. Memberikan perubahan yang permanen di dalam perilaku untuk melakukan
gerakan dengan benar sebagai hasil dari belajar motorik.
3. Dapat memberikan umpan balik yang berhubungan dengan perasaan dari
pergerakan yang berkelanjutan yang telah ada dari hasil latihan di dalam
system saraf yang telah disimpan oleh memori untuk melakukan otomatisasi
gerak.
4. Meningkatkan koordinasi antara persepsi dan tindakan secara baik dan benar
dan otomatisasi gerakan dari keterampilan gerak.
5. Dapat mengambil keuntungan dari mekanika sistem musculoskeletal untuk
mengoptimalkan serta efisiensi dari pergerakan tersebut.

E. Teori Belajar Motorik Diadaptasikan pada Psikologi Pendidikan


Terdapat dua kelompok besar dari teori belajar, yaitu: (1) teori asosiasi
stimulus-respons atau teori koneksionis, dan (2) teori gestalt-field atau teori
kognitif.
1. Teori Asosiasi Stimulus-Respons
Teori yang tergolong pada teori asosiasi stimulus-respons, yaitu: (a) teori
koneksionis Thorndike, (b) teori contiguity Guthrie, (c) teori reinforcement
Hull, (d) teori operant conditioning Skinner.
Edward L. Thorndike (1874-1949) termasuk tokoh besar dalam
pengembangan teori belajar. Dia mengembangkan teori-teori dan prinsipprinsip sebagai pendekatan ilmiah bagi pemecahan masalah pendidikan.
Sebagian besar teorinya dikembangkan berdasarkan data yang diperoleh dari
hasil penelitian terhadap perilaku belajar hewan yang lebih rendah
tingkatanyan dan gejala belajar mencoba dan salah (trial and error) pada
manusia.
Edwin R. Guthrie (1886-1959) mengembangkan toeri contiguity yang
menekankan asosiasi antara stimulus dan respons. Dia menyatakan bahwa
jiwa cenderung mengaitkan kedua hal itu yang masuk ke dalam dunia mental
dalam waktu bersamaan. Guthrie percaya bahwa respons yang didahului atau
diikuti oleh suatu stimulus atau suatu kombinasi dari rangsang akan diulang
manakala stimulus atau kombinasi dari rangsang itu diulang.
Clark L. Hull (1884-1952) adalah tokoh teori stimulus-respons lainnya
yang menekankan pentingnya reduksi dorongan sebagai faktor utama dalam
belajar. Hull menyatakan, organisme selalu dalam keadaan tidak seimbang
dengan lingkungannya, kebutuhan organisme direalisasikan dalam suatu
dorongan (drive). Kebutuhan itu ada yang bersifat primer (berkaitan dengan

keniscayaan fisiologis) dan sekunder (berkaitan dengan keinginan yang


bersifat psikologis).
B.F. Skinner (lahir 1904) mengembangkan sebuah teori yang menekankan
pentingnya reinforcement dari respons sebagai faktor yang paling menentukan
dalam belajar. Dalam belajar keterampilan motorik, Skinner memiliki dampak
kuat dan luas khususnya dalam pengembangan metode latihan. Teori Skinner
disebut operant conditioning. Bagi Skinner, operant berarti seperangkat
tindakan atau respons. Jadi, operant conditioning berarti proses belajar yang
menyebabkan respons makin sering terjadi dengan cara memberikan
reinforcement atau penguat terhadap tindakan yang diharapkan (Oxendine,
1968-1984). Dapat ditambahkan, sebuah reinforcer atau penguat
didefenisikan atas dasar efeknya. Setiap rangsang merupakan unsur penguat
jika unsur itu meningkatkan peluang terjadinya respons (Hilgard & Bower,
1977).
2. Teori Gestalt-Field (Kognitif)
Ide dasar dari teori kognitif adalah bahwa seorang pelajar
mengorganisasikan rangsang atau persepsinya ke dalam suatu pola atau bentuk
secara keseluruhan. Semua rangsang saling terkait dengan yang lain, dan
kesemua rangsang itu memiliki karakteristik yang diperoleh dari hubungannya
dengan yang lain. Konsep utama dari teori gestalt ialah figure dan ground. Ini
berarti bahwa, medan sensoris seperti; pengamatan, pendengaran, dan lain-lain
iorganisasikan ke dalam sebuah gambar dengan suatu latarbelakang.
Seseorang akan mempersepsi gambar dan latarbelakang itu secara serempak.
Edward C. Tolman (1886-1959) dikenal sebagai tokoh teori gestalt, karena
dia mengkombinasikan berbagai konsep dari psikologi gestalt dan

mengembangkannya ke dalam sebuah teori belajar yang dapat diterima.


Konsep utama Tolman adalah sign-gestalt yang berarti pengorganisasian atau
pembentukan pola rangsang yang bertindak sebagai tuntunan atau petunjuk
bagi si pelajar (Oxedine, 1968, 1984).
Kurt Lewin (1890-1947) dikenal sebagai tokoh sebuah teori yang menekankan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan pada Bagian II Pembahasan, dapat diperoleh kesimpulan
bahwa dalam proses pembelajaran gerak sangat diperlukan teori-teori pendukung
agar pola gerak yang kita ajarkan dapat dipahami oleh peserta didik dengan baik
dan benar. Pemahaman tentang teori-teori belajar gerak tidak hanya dibutuhkan
oleh Guru Penjas, tetapi sangat dibutuhkan oleh semua orang yang ingin
mengajarkan pola gerak tertentu, seperti: orangtua, pelatih, peneliti, dan lainya.
B. Saran
Penulis sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat kekurangankekurangan baik dari segi penulisan maupun pendalaman materi. Untuk itu,
penulis menyarankan kepada para pembaca ataupun peneliti yang ingin
mengembangkan pemahaman teori belajar gerak, tidak hanya memakai makalah
ini menjadi referensi utama. Sebaiknya para pembaca atau peneliti mencari
sumber-sumber lain yang dapat mendukung pencapaian tujuan yang diharapkan
dan memperkaya khasanah ilmu tentang teori belajar gerak.

DAFTAR PUSTAKA
Amung dan Yudha. (2000). Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak. Jakarta:
10

DEPDIKBUD DIRJEN DIKDASMEN


Lutan, Rusli. (1988). Belajar Keterampilan Motorik, Pengantar Teori dan
Metode. Jakarta: DEPDIKBUD DIRJEN DIKTI
http://turnadoku.blogspot.com/2012/07/teori-belajar-motorik.html
https://kurwindakristi.wordpress.com/2012/03/04/belajar-gerak/

11