Anda di halaman 1dari 4

GURITA PRAKTIK KORUPSI AKIBAT

DESENTRALISASI
Oleh : Muhammad Irham Fathoni
Apakah korupsi telah menjadi budaya? jawabannya pasti akan beragam tergantung
apa yang dimaksud dengan budaya serta kekuatan ikatannya dalam menentukan pola nilai
dan norma kehidupan sosial masyarakat. Bung Hatta pernah menyatakan bahwa korupsi di
indonesia telah menjadi budaya dengan melihat fenomena yang terjadi, namun bila budaya
itu diwariskan apakah nenek moyang kita mengajarkan korupsi atau suatu perbuatan yang
kemudian dalam masa modern ini disebut korupsi ?
Banyak orang cerdas di Indonesia yang menduduki berbagai jabatan penting di
pemerintahan. Namun, rupanya kecerdasan akademik tidak linier dengan pembangunan
karakter luhur dan moral yang baik. Artinya, cerdas belum tentu bermoral dan berkarakter
baik. Bahkan, dalam realita sosial, orang yang cerdas seringkali menjadi koruptor besar yang
merugikan masyarakat. Korupsi dan kekuasaan memang ibarat dua sisi dari satu mata uang.
Korupsi selalu mengiringi perjalanan kekuasaan dan sebaliknya kekuasaan merupakan pintu
masuk bagi tindak korupsi. Dengan adagium Lord Acton, kekuasaan itu cenderung korup,
dan kekuasaan yang absolut cenderung korup secara absolut. Gagasan tentang desentralisasi
kemudian menjadi energi baru bagi masyarakat untuk mendobrak hegemoni negara dengan
kekuasaannya yang mengerucut kepada kekuasaan yang absolut di era orde baru,
menyebabkan dukungan yang luas terhadap gelombang desentralisasi. Namun memicu
pertanyaan bagaimana kapasitas institusi lokal dalam merespon perubahan tersebut?.
Kapasitas ini terkait dengan ranah pengembangan demokrasi, pelayanan publik, ekonomi dan
sektor krusial lainnya.
Penerapan desentralisasi yang dilakukan pemerintah atas pertimbangan keberagaman
potensi yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Tujuan desentralisasi tidak lain adalah
sebagai upaya untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun
kenyataannya kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang diharapkan berjalan di tempat dan
terkesan lambat. Hal ini terjadi dikarenakan maraknya aksi korupsi oleh elit-elit yang ada di
daerah. Melihat kebelakang pada UU No. 5 Tahun 1974, penyelenggaraan pemerintahan
daerah di belenggu oleh pemerintah yaitu dalam bentuk pengawasan. ujung-ujungnya di
tingkat pusat, korupsi juga selalu menjerat.

Lahirnya Undang-Undang Otonomi Daerah ternyata tidak serta merta membawa


angin segar bagi pemberantasan korupsi. Reposisi pendulum kekuasaan antara pusat dengan
daerah yang imbang harusnya menjadi angin segar bagi pemerintah daerah terutama dalam
mewujudkan cita-cita bangsa, yakni untuk mensejahterakan rakyat. Faktanya, korupsi justru
makin subur di era desentralisasi. Reformasi menghasilkan DPR yang lebih berkuasa
dibanding presiden, sedangkan otonomi menghasilkan DPRD yang tidak kalah berkuasanya
dibandingkan kepala daerah. Laporan pertanggungjawaban kepala daerah dan pemilihan
kepala daerah dijadikan ajang korupsi secara gotong royong. Modus paling populer dalam
korupsi berjamaah di daerah yakni APBD jadi-jadian. Misalnya saja untuk tunjangan
aktivitas dewan yang dianggarkan minimal Rp 625 juta dan maksimal 1% dari PAD sering
dimanipulasi dengan jumlah yang irasional namun tidak tersentuh oleh media dan pemerintah
pusat. Sehingga praktik tersebut terus menggurita keseluruh elemen pemerintahan daerah.
Hal itu jelas mengancam masa depan negeri ini. Sektor pemerintahan lingkup terkecil dan
yang paling dekat dengan masyarakat sudah terinfeksi korupsi. Hal tersebut mengisyaratkan
akan adanya faktor yang paling membahayakan bagi masa depan pembangunan bangsa
Indonesia yang melebihi gerakan militer atau transisi politik yang kacau. Faktor itu adalah
korupsi.
Kontrol pemerintah yang dulu kuat, kini tak lagi kokoh. Penyebabnya adalah UU
Otonomi Daerah, yang telah jelas membagi kekuasaan politik kepada DPRD dan kekuasaan
keuangan kepada Kepala Daerah. Kontrol pemerintah pusat tidak sekuat dulu dan ada
perubahan di tingkat eksekutif dan legislatif di daerah. Dan sejalan dengan itu, antara DPRD
dan kepala daerah saling menimbulkan ketergantungan kepentingan yang menciptakan
praktek-praktek korupsi. Terutama pada musim-musim tertentu. Saat pemilihan kepala derah,
penetapan APBD serta pertanggungjawaban kepala daerah kepada DPRD.
Salah satu penyebab penyebaran korupsi secara mendasar di daerah karena kekuasaan
yang demikian besar pada elite lokal. Untuk mencegah korupsi di daerah adalah dengan
membatasi kekuasaan pemerintah daerah dan khususnya DPRD. Sistem demokrasi
perwakilan telah memberikan kekuasaan yang besar kepada wakil rakyat untuk public
trust seperti sekarang ini. Karenanya sistem demokrasi langsung sekarang ini relevan
dikedepankan, khususnya terhadap beberapa hak demokrasi yang fundamental seperti
memilih kepala daerah, melakukan kontrol terhadap penyelenggaraan negara di tingkat
daerah yang selama ini menjadi ajang politik, money politik, kompromi-kompromi politik,
dan lain sebagainya

Pemerintahan dengan pemimpin dalam balutan kesederhanaan yang mewakili suara


dan kegelisahan rakyat yang lantang ia bergempita mengorasikan seruan pembelaan terhadap
bangsa Indonesia demi rakyat., dan untuk rakyat sekarang tidak lagi terdengar
menggaung seantero negeri. Yang ada hanya pemimpin-pemimpin korup yang berhasil
menghancurkan citra pemerintahan di masyarakat dan berhasil membuat citra baru
pemerintahan sebagai Sektor yang kotor. Wajar saja jika rakyat menggeneralisasi
pemikiran mereka, karena hampir semua bagian dari pemerintahan tersentuh penyakit sosial
ini. Tidak terkecuali yudikatif yang harus nya menjadi benteng pelindung bangsa ini dari
kejamnya korupsi. Tindakan korupsi tidak hanya terjadi di pemerintahan pusat saja.
Pemerintahan daerah yang tidak terjamah oleh media perlu juga diberi perhatian. Karena data
menunjukkan bahwa korupsi di daerah juga cukup besar nilainya.
Indonesia adalah negara yang besar, dengan berbagai dinamika
sosial, politik dan ekonomi yang menuliskan tinta merah di tiap lembar
perjalanannya. Mencari asa dalam duka, mencoba berdiri dengan gagah,
walau tertatih ia dengan sisa-sisa tenaga. Menjadi seorang pemuda
penerus tonggak perjalanan bangsa bukanlah hal yang mudah. Kita harus
mulai berfikir saat ini. Bagaimana memutus mata rantai korupsi yang
seperti diwariskan dari generasi saat ini ke generasi selanjutnya serta
mulai mengakar dalam diri pribadi bangsa kita. Untuk bisa menatap
Indonesia yang lebih cerah dan beretika. Tentunya dengan tidak adalagi
korupsi di negeri ini. Integrasi masyarakat yang lebih kuat dan kritis
mutlak diperlukan saat ini. Karena tugas melawan korupsi bukan hanya
oleh KPK, tapi mulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Agar
kepercayaan dan gairah demokrasi dapat tumbuh kembali dengan adanya
calon pemimpin yang

sesuai dengan harapan rakyat. Karena Korupsi

bukanlah tanda bahwa negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah
privatisasi kekuasaan sebagai amanat publik yang telah diperdagangkan
sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa
kewibawaan

BIOGRAPHICAL DATA
Nama
Spesialisasi
Alamat
Nomor hp
Email

: Muchamad Irham Fathoni


: Diploma 1 Pajak 2E
: Jalan sekolahan nomor 5 Jurangmangu Timur
: 085854077734
: muhammadirhamfathoni@gmail.com

Riwayat Pendidikan
-

MI Darul Ulum Pepelegi


SMP Negeri 1 Taman, Sidoarjo
SMA Negeri 1 Sidoarjo
S1 Ekonomi Pembangunan FEB UNAIR

- D1 Pajak STAN

(2000-2006)
(2006-2009)
(2009-2012)
(2012-2013)
(2013-2014)

Pengalaman Organisasi :
-

Ketua Try Out Nasional USM STAN 2014 Regional Sidoarjo 2014
Research & Development Ikatan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan
Indonesia se-Jawa Timur, Bali & NTB periode 2012-2013
Anggota Departemen Keilmuan HIMA EP UNAIR periode 2013
Ketua Tim Soal Olimpiade Ekonomi UNAIR 2013
Liasion Officer 6th Eccents FEB UNAIR 2012
Ketua Pelaksana Diskusi Ekonomi Terpadu I FEB UNAIR 2012

Anggota MPK SMAN 1 Sidoarjo 2011

Prestasi
-

Juara 1 Lomba menulis Artikel Balai Diklat Keuangan Pontianak


UNPREDICTABLE 2014
Peserta Terbaik STAN Discussion Panel 2014
Juara 1 Lomba Karya Tulis Mahasiswa YOUTEE 2014 STAN
Mahasiswa berprestasi HIMA Ekonomi Pembangunan UNAIR 2013
Finalis Lomba Kepenulisan Essay Muslim Day FT UNDIP 2012
Finalis Lomba Essay Ajang Jurnalistik ARJUNA 2012 UNDIP
Distinction Grade, Australian Nasional Chemistry Quiz 2011 for
Senior High School