Anda di halaman 1dari 36

BAB 2

KERANGKA KERJA LOGIS PEMBANGUNAN SANITASI


2.1. UMUM
Kota Probolinggo merupakan salah satu daerah kota di wilayah bagian Utara Propinsi
Jawa Timur yang terdiri dari 5 (lima) kecamatan yang membawahi 29 Kelurahan. Kelima
kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Mayangan, Kecamatan Kanigaran, Kecamatan
Kademangan, Kecamatan Wonoasih dan Kecamatan Kedopok.
Penduduk Kota Probolinggo pada tahun 2008 berjumlah 215.833 jiwa yang tersebar
secara tidak merata dimana kepadatan tertinggi di Kecamatan Mayangan, dengan kepadatan
7.179 jiwa per Km2 dan kepadatan terendah di Kecamatan Kedopok dengan kepadatan 2.187
jiwa per Km2. Pertumbuhan penduduk 0,45 % per tahun.
Luas wilayah sebesar 56,67 km2 atau 5.667 ha yang meliputi lahan sawah dengan luas
1.962,50 ha atau 34,62 % dan lahan bukan sawah seluas 3.705 ha (65,38 %) dari luas
keseluruhan Kota Probolinggo. Lahan bukan sawah terdiri atas lahan kering 3.606,48 ha
(97,34 %) dan lahan lainnya 98,72 ha (2,66 %) dengan lahan pertanian paling luas berada di
Kecamatan Kedopok sebesar 860,98 ha, kemudian berikutnya adalah Kecamatan
Kademangan dengan luas lahan pertanian sebesar 667,21 ha dan Kecamatan Wonoasih
dengan luas lahan pertanian sebesar 514,48 ha. Penggunaan lahan paling dominan berikutnya
setelah lahan pertanian adalah lahan permukiman, yaitu sebesar 2.090,04 ha atau 36,88% dari
luas Kota Probolinggo.
Persebaran permukiman di Kota Probolinggo cukup merata di seluruh kecamatan, hal
ini dapat dilihat berdasarkan selisih luas lahan permukiman pada setiap kecamatan yang tidak
terlalu mencolok. Luas lahan permukiman paling besar berada di Kecamatan Kanigaran yaitu
sebesar 474,29 ha, kemudian berikutnya adalah Kecamatan Wonoasih sebesar 412,24 Ha.
Penggunaan tanah lainnya seperti fasilitas pendidikan, perkantoran, perdagangan maupun
industri menjadi terlihat tidak signifikan jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian
ataupun permukiman. Luas fasilitas permukiman, perkantoran, perdagangan dan industri di
Kota Probolinggo berturut-turut adalah sebesar 132,50 ha (2,34% luas wilayah Kota
Probolinggo), 108,91 ha (1,92%), 20,64 ha (0,36%), dan 90,08 ha (1,59%).
Sebagai salah satu kota tujuan investasi di Jawa Timur, Kota Probolinggo memiliki
beberapa permasalahan. Salah satunya adalah permasalahan lingkungan serta sanitasi yang
buruk. Permasalahan tersebut tidak lepas dari persoalan kemiskinan yang mempunyai kaitan
erat dengan persoalan sanitasi. Kemiskinan bisa menjadi penyebab buruknya akses dan

layanan sanitasi yang tidak memadai, dimana hal ini akan berdampak buruk terhadap kondisi
kesehatanan dan lingkungan yang pada gilirannya akan berdampak pada tingkat produktifitas
masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Probolinggo untuk
membenahi sanitasi.
Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam
menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup,
kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi
seringkali dianggap sebagai urusan belakang, sehingga sering termarjinalkan dari urusanurusan yang lain, namun seiring dengan tuntutan peningkatan standart kualitas hidup
masyarakat, semakin tingginya tingkat pencemaran lingkungan dan keterbatasan daya dukung
lingkungan itu sendiri menjadikan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus
diperhatikan.
Salah satu aspek dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang sehat, perlu
diperhatikan masalah drainase, persampahan dan air limbah serta Higiene. Masih sering
dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi, yaitu air limbah, persampahan, drainase,
dan Higiene masih berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing aspek tersebut ditangani secara
terpisah, meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan yaitu sanitasi, sehingga masih
terdapat tumpang tindih kegiatan pembangunan bidang sanitasi oleh institusi yang berbedabeda, yang kadang-kadang membingungkan masyarakat sebagai subyek dan obyek
pembangunan.
Apabila kualitas lingkungan terjaga dengan baik, derajat kesehatan manusia akan
meningkat pula. Oleh karena itu, Pemerintah maupun masyarakat bertanggungjawab untuk
menjaga dan mengelola lingkungannya agar tidak membawa dampak buruk bagi
penghuninya. Dampak tersebut notabene merupakan efek samping dari aktivitas manusia
sehari-hari, sehingga permasalahan yang timbul biasanya adalah masalah sosial kesehatan
masyarakat itu sendiri.

Pembangunan sanitasi Kota Probolinggo diharapkan berkontribusi dalam pencapaian


visi misi kota dan sanitasi yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Probolinggo dan Tim
Sanitasi Kota sebagai berikut:
Visi Misi Kota Probolinggo
Visi:
Terwujudnya kesejahteraan masyarakat
kota probolinggo melalui Percepatan
penanggulangan
kemiskinan
dan
pengangguran berbasis investasi Produktif
dan berkesinambungan

Visi Misi Sanitasi


Visi:
Terwujudnya Sanitasi Kota Probolinggo yang
berwawasan
lingkungan
melalui
pemberdayaan masyarakat pada tahun 2014

Misi:
Misi:
Mewujudkan
masyarakat
Kota Meningkatkan kapasitas dan kinerja Pokja
Probolinggo yang berdaya, mandiri,
sanitasi daerah.
berbudaya, demokratis dan agamis yang Menyediakan sarana dan prasarana sanitasi
didukung oleh sumber daya manusia yang
yang berwawasan lingkungan.
berkualitas dan berakhlak mulia.
Mengembangkan teknologi sanitasi yang
Mewujudkan kesejahteraan masyarakat
tepat guna dan berwawasan lingkungan.
seutuhnya melalui pertumbuhan ekonomi Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
yang merata,berkeadilan dan berwawasan
sanitasi
lingkungan.
Meningkatkan
perubahan
perilaku
Mewujudkan iklim investasi yang
masyarakat terhadap pemanfaatan sarana dan
prospektif dan kondusif yang didukung
prasarana sanitasi.
oleh sarana dan prasarana kota yang
Meningkatnya PHBS bagi masyarakat Kota
berkualitas serta pelayanan publik yang
Probolinggo.
prima.
Menegakkan
supremasi
hukum,
ketentraman dan ketertiban umum yang
disertai
dengan
penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa
berlandaskan prinsip - prinsip tata
pemerintahan yang baik.

Strategi Pengembagan Kota Probolinggo yang merupakan ringkasan dari rencana


kota, memuat potensi dan masalah serta rencana arah pengembangan kota. Adapun rencana
kota yang ada antara lain : Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Probolinggo 20092028. Potensi dan Masalah pengembangan Kota Probolinggo meliputi potensi dan masalah
terkait struktur ruang kota, pola ruang kota, kawasan strategis serta kawasan pesisir. Untuk
menunjang kebijakan pusat Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Probolinggo - Lumajang,
maka kebijaksanaan spasial Kota Probolinggo dibagi menjadi 1 (satu) Pusat Pelayanan Kota
dan 4 (empat) Sub Pusat Pelayanan Kota (SPPK) dengan masing-masing memiliki prioritas
pembangunan. Adapun penentuan pusat dari masing-masing SPPK tersebut didasarkan atas
potensi yang telah dimiliki oleh wilayah tersebut serta potensi yang nantinya memiliki
kemungkinan yang cukup besar untuk dikembangkan. Potensi yang dimaksud disini terutama

adalah adanya fasilitas-fasilitas pelayanan sosial yang cukup seperti misalnya sarana
kesehatan, pendidikan, transportasi, dan sebagainya.

2.2. SUB-SEKTOR AIR LIMBAH


Secara umum dikenal dua (2) sistem pengelolaan air limbah domestik, yaitu:
-

Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off site system); yaitu sistem penanganan air
limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke Instalasi Pengelolaan
Air Limbah (IPAL). Off site system dapat dimulai dari kawasan bisnis seperti kawasan
perhotelan dan perkantoran, pertokoan dan pusat pasar.

Sistem pengelolaan air limbah setempat (on site system); yaitu sistem penanganan air
limbah domestik yang dilakukan secara individual dan/atau komunal dengan fasilitas dan
pelayanan dari satu atau beberapa bangunan yang pengolahannya diselesaikan secara
setempat atau di lokasi sumber.
Limbah perkotaan berasal pada dua kegiatan pokok, yaitu limbah yang bersumber dari

kegiatan industri dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (limbah domestik).
Penyelesaian permasalahan pengelolaan limbah rumah tangga di Kota hanya dapat diatasi
dengan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pembuangan air limbah rumah tangga
yang benar. Di sinilah letak peran Pemerintah Kota, dimana pemerintah berkewajiban untuk
menjadi fasilitator baik dalam proses sosialisasi demi meningkatkan kesadaran masyarakat
maupun bertindak aktif dalam pembangunan MCK umum dan IPAL/septictank komunal
untuk wilayah yang sangat memerlukan. Proses sosialisasi harus terus dilakukan terutama
kepada masyarakat yang masih belum memiliki pengetahuan atau kesadaran yang cukup
mengenai permasalahan air limbah rumah tangga.
Pada umumnya sistem pembuangan air limbah di Kota Probolinggo adalah sistem
setempat (On Site System) dan langsung dibuang ke badan sungai. Masyarakat yang
menggunakan sarana sanitasi, biasanya membuang air limbah dari kamar mandi dan dapur
langsung ke saluran drainase. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki sarana
sanitasi, membuang langsung air limbah yang berasal dari WC dan kamar mandi serta dapur
ke lingkungan sekitar.
Kota Probolinggo telah memiliki instalasi pengelolaan lanjutan untuk pengelolaan
lumpur tinja dari tangki septicktank berupa IPLT dengan lokasi TPA. Kota Probolinggo

memiliki truk tangki dengan kapasitas 3m3 dan 4 m3. Serta memiliki ponten umum 2 unit
akan tetapi yang satu rusak.
Rencana program peningkatan pengolahan limbah cair di kota Probolinggo adalah
memperbaiki sanitasi di wilayah kota Probolinggo khususnya di daerah pemukiman kumuh,
setiap tahun secara bertahap akan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu,
pada tahun 2010 ini sudah dibangun 2 (dua) unit IPAL beserta jaringan perpipaan. Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal yang dibangun di RT. 8 RW. 7 Kelurahan Sukabumi
Kecamatan Mayangan cakupan KK yang terlayani sebanyak 21 KK. Sedangkan IPAL
Komunal yang dibangun di RT. 7 RW. 1 Kelurahan Ketapang Kecamatan Kademangan yang
terlayani sebanyak 11 KK.
Untuk kepemilikan jamban atau yang sering dikenal dengan MCK umum dan Jamban
Keluarga, di Kota Probolinggo telah mencapai 23.652 buah (48,06%) sedangkan sisanya
merupakan bantuan pembangunan dari pemerintah, yaitu sebanyak 150 (0,30%) untuk MCK
umum dan sebanyak 2.529 (5,14%) untuk jamban keluarga, sedangkan sekitar 46,50% masih
belum terlayani oleh fasilitas MCK dan jamban keluarga. Kecamatan dengan kepemilikan
MCK dan jamban keluarga terbesar adalah Kecamatan Mayangan dan yang terkecil adalah
Kecamatan Kedopok.
Faktor yang tidak kalah penting mempengaruhi kondisi kualitas lingkungan adalah
adanya pencemaran dari limbah industri. Saat ini pola perubahan kualitas air dan debit air
semakin menurun pada berbagai sumber di wilayah Kota Probolinggo, hal ini disebabkan
oleh beberapa hal, salah satunya adalah adanya kegiatan manusia dalam kehidupan seharihari terutama kegiatan industri besar, industri rumah tangga dan kegiatan pertanian serta
sampah yang ada di wilayah Kota Probolinggo sangat berpengaruh akan terjadi pencemaran
air dimana-mana.
Perkembangan jumlah industri kecil di Kota Probolinggo mengalami peningkatan
signifikan dalam tahun-tahun terakhir, dimana jumlah industri kecil pada tahun 2003 sebesar
121 industri, pada tahun 2004 hingga tahun 2006 industri kecil konstan dengan jumlah
124 industri, akan tetapi pada tahun 2007 jumlah industri kecil mengalami kenaikan sebesar
103,22% menjadi 252 industri. Sedangkan jumlah industri besar dalam kurun waktu 5
(lima) tahun terakhir tidak mengalami peningkatan dan tetap dengan jumlah 19 industri
pada tahun 2003 hingga tahun 2006, pada tahun 2007 jumlah industri besar berkurang
menjadi 18 industri. Dengan peningkatan jumlah pada beberapa industri tersebut tetap akan
mempunyai pengaruh yang kuat akan terjadinya pencemaran lingkungan air. Untuk
mengetahui kualitas air limbah industri dilakukan dengan pengambilan contoh (sampling)

effluent air limbah. Air limbah tersebut yang berasal dari end pipe treatment setiap industri
yang menghasilkan limbah cair.
Sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2007 tentang
Dokumen Pemantauan dan Pengelolaan Lingkungan, untuk meminimalisir

tingkat

pencemaran air khususnya disektor industri, maka tiap-tiap jenis usaha/industri yang
memiliki dampak terhadap lingkungan diwajibkan memiliki dokumen UKL/UPL (dampak
kecil) dan AMDAL (dampak besar), serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pada
kenyataannya hanya 13.1% usaha/industri di Kota Probolinggo memiliki kelengkapan
tersebut. Pada kebijakan tersebut juga menyebutkan bahwa apabila industri tersebut sudah
berdiri, maka dapat dilengkapi dengan dokumen DPPL. Sehingga dengan demikian sudah
seharusnya setiap industri yang memiliki dampak terhadap lingkungan memiliki dokumen
pemantauan lingkungan. Pada kenyataannya hanya 11.9% usaha/industri di Kota Probolinggo
memiliki dokumen tersebut.

Tabel 2.1 Kerangka Kerja Logis Sub Sektor Air Limbah


I. Sub Sektor Air Limbah
Isu dan
Permasalahan

Tujuan dan
Sasaran

2
Penggunaan fasilitas
sarana air limbah
belum optimal akibat
kurangnya kesadaran

3
Meningkatkan
pengetahuan
masyarakat
tentang air limbah
domestik

Masih banyak rumah


tangga yang tidak
memiliki jamban/WC
pribadi sehingga
BABS dilakukan di
WC umum, sungai dll.

Masyarakat agar
tidak membuang
BABS
disembarang
tempat

Pembuangan limbah
domestik dan industri
rumah tangga
langsung kesaluran
air dan badan air
sehingga terjadi
pencemaran air

Pengolahan
limbah cair secara
maksimal

No
1
1

Pendekatan dan
Strategi
Pembangunan
4
Kampanye/promosi dan
sosialisasi
pembangunan dan
penggunaan sarana
sanitasi air limbah
kepada mesyarakat

Kebijakan

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

5
Kampanye dan
promosi

6
Program
mengikutsertakan
berbagai media untuk
sosialisasi dan promosi

7
1. Kampanye dan
sosialisasi mengenai
air limbah
2. Kampanye bidang
PLP
3. Sosialisasi bidang
pemanfaatan fasilitas
sanitasi yang akan
dan telah dibangun
4. Kampanye dan
pembinaan industri
rumah tangga yang
sehat dan ramah
lingkungan
1. Pembangunan MCK
Umum
2. Pembangunan
septicktank komunal
yang dilengkapi
jamban keluarga
3. Rehab MCK Umum

Kampanye /promosi
kepada masyarakat
penggunaan jamban
dengan septicktank
yang memenuhi syarat

Menyediakan
sarana dan
prasarana
BABS

Program peningkatan
kesehatan dengan
penggunaan jamban
yang sesuai standart
oleh masyarakat

Perencanaan yang baik


dan pemilihan teknologi
yang sesuai, efisien dan
efektif

Pengurangan
pencemaran
tanah dan air

Program
1. Pembebasan lahan
pengembangan sistem
untuk IPAL Komunal
sanitasi terpusat
2. Pembangunan IPAL
Program pengurangan
Komunal
pencemaran lingkungan 3. Pemasangan
akibat aktifitas industri
sambungan rumah ke
dan fasilitas umum
IPAL
4. Pembangunan IPAL
industri Rumah
tangga

Output
8
... sekian kali
kampanye
... sekian
kali/orang/area

... unit terbangun


di ...

Outcome

Penilaian Kinerja

9
1. Pengetahuan
Peningkatan
mesyarakat
pengguna fasilitas
tentang air limbah
sanitasi yang ada
2. Peningkatan
pengetahuan
Meningkatnya
3. Menimbulkan
pengolahan
kesadaran
makanan sehat
masyarakat untuk
menggunakan
fasilitas sanitasi
4. Peningkatan
kesadaran pemilik
industri rumah
tangga
1. Bangunan MCK 1. Berkurangnya
Umum
BABS
2. Bangunan
2. Berkurangnya
Septicktank
pencemaran air
komunal dan
dan BABS
jamban keluarga 3. Berkurangnya
3. Bangunan MCK
BABS
Umum
1. Pembebasan
Tersedianyan
lahan
lahan untuk IPAL
2. Pembangunan
Pengurangan
sarana instalasi
pencemaran air
air limbah
Tersambungnya
3. Penyambungan
limbah rumah
rumah ka IPAL
tangga ke IPAL
4. Tersedianya IPAL Terolahnya limbah
industri ramah
industri rumah
tangga
tangga

No
1
4

Isu dan
Permasalahan

Tujuan dan
Sasaran

2
Lemahnya data riil
masyarakat yang
tidak memiliki jamban
keluarga dan
septicktank

3
Melaksanakan
pendataan secara
menyeluruh

Kurang koordinasi
antara SKPD terkait
yang menangani
masalah air limbah
industri dan rumah
tangga

Meningkatkan
koordinasi antar
SKPD terkait

Pembuangan limbah
cair pembuatan tahu
ke badan air

Pembuangan limbah
cair pembuatan
tempe ke badan air

Pendekatan dan
Strategi
Pembangunan
4
Melaksanakan
pendataan dan
klasifikasi masyarakat
yang tidak memiliki
jamban dan septicktank
sampai dengan tingkat
RT

Kebijakan

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

Output
8
Hasil pendataan dan
klasifikasi

Outcome

5
Pendataan dan
klasifikasi

6
Program pendataan
dan klasifikasi
masyarakat yang tidak
memiliki jamban
keluarga dan
septicktank

7
1. Pendataan
masyarakat yang
tidak memiliki jamban
keluarga dan
septicktank
2. Pengklasifikasian
data berdasarkan
tingkat penghasilan
masyarakat, model
jamban keluarga
yang dimiliki

Melaksanakan rapat
koordinasi, monitoring
dan evaluasi bersama.

Pembentukan
satgas
penanganan air
limbah

Program peningkatan
koordinasi antar SKPD
terkait

1. Membentuk Satgas
penanganan air
limbah
2. Melaksanakan rapat
koordinasi antar
SKPD
3. Melaksanankan
monitoring dan
evaluasi bersama

Pengolahan
limbah cair secara
maksimal

Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) yang baik dan
pemilihan teknologi
sesuai, efisien, dan
efektif

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) pabrik tahu

Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah pabrik tahu
yang terbangun di
dalam pabrik tahu

Terolahnya limbah
tahu sesuai dengan
standard yang
ditetapkan

Pengolahan
limbah cair secara
maksimal

Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) yang baik dan
pemilihan teknologi
sesuai, efisien, dan
efektif

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) pabrik tempe

Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah pabrik tempe
yang terbangun di
dalam pabrik tahu

Terolahnya limbah
tempe sesuai
dengan standard
yang ditetapkan

Penilaian Kinerja
9
Tersedianya data
yang valid

1. Terbentuknya
Satgas
penanganan air
limbah
2. Adanya program
kerja

No
1

Isu dan
Permasalahan

Tujuan dan
Sasaran

2
Pembuangan
limbah cair Hotel
ke badan air

3
Pengolahan
limbah cair
secara maksimal

Pembuangan
minyak dan lemak
buangan Hotel ke
badan air

Pembuangan
minyak dan
lemak buangan
Hotel ke badan
air

10

Pengolahan limbah
medis (incenerator)
yang ada tidak
dapat mengolah
limbah B3 secara
sempurnakarena
Incenerator yang
ada hanya mampu
mem berikan
pemanasan kurang
dari 10000C
Peningkatan level
Rumah Sakit

Menghindari
pembuangan
limbah medis di
sembarang
tempat termasuk
di TPA

Menghindari
pembuangan
limbah medis di
sembarang
tempat termasuk
di TPA
Pengolahan
limbah cair
secara maksimal

11

12

Pembuangan
limbah cair rumah
makan/restoran

Pendekatan dan
Strategi
Pembangunan
4
Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air
Limbah (IPAL) yang
baik dan pemilihan
teknologi sesuai,
efisien, dan efektif
Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air
Limbah (IPAL) yang
baik dan pemilihan
teknologi sesuai,
efisien, dan efektif

Kebijakan

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

Output

Outcome

5
Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

6
Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

7
Pembangunan
Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL)
perhotelan

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan
Instalasi Pengolahan
minyak dan lemak

Melakukan
pengelolaan limbah
pencemar terpusat

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan
instalasi pengolahan
air limbah rumah
sakit/medis/B3 di
rumah sakit

8
Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah perhotelan
yang terbangun di
sekitar perhotelan
tersebut
Satu Instalasi
Pengolahan minyak
dan lemak yang
terbangun di sekitar
perhotelan sebelum
dibuang ke badan
air
Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah medis yang
terbangun di rumah
sakit

Melakukan
pengelolaan limbah
pencemar terpusat

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan
instalasi pengolahan
air limbah rumah
sakit/medis/B3 di
rumah sakit

Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah medis yang
terbangun di rumah
sakit

Terolahnya
limbah medis
sesuai dengan
standard yang
ditetapkan

Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air
Limbah (IPAL) yang
baik dan pemilihan
teknologi sesuai,
efisien, dan efektif

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan
Instalasi Pengolahan
Air Limbah (IPAL)
Rumah
Makan/Restoran

Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah medis yang
terbangun di rumah
makan /restoran

Terolahnya
limbah medis
sesuai dengan
standard yang
ditetapkan

Penilaian Kinerja
9

Terolahnya
limbah cair
perhotelan sesuai
dengan standard
yang ditetapkan
Terolahnya
limbah minyak
dan lemak sesuai
dengan standard
yang ditetapkan
Terolahnya
limbah medis
sesuai dengan
standard yang
ditetapkan

No

Isu dan
Permasalahan

Tujuan dan
Sasaran

1
13

2
Pembuangan limbah
cair mall/pusat
perbelanjaan

3
Pengolahan
limbah cair secara
maksimal

14

Kebocoran tangki
penyimpanan BBM

Pencegahan
jangan sampai
terjadi kebocoran

Pendekatan dan
Strategi
Pembangunan
4
Perencanaan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) yang baik dan
pemilihan teknologi
sesuai, efisien, dan
efektif
Perencanaan
pengecekan berkala
tangki BBM yang baik
dan pemilihan teknologi
sesuai, efisien, dan
efektif

Kebijakan

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

5
Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

6
Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

7
Pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) mall/pusat
pebelanjaan

Industri kecil
dan menengah
memiliki IPAL
mandiri sesuai
SNI

Pengembangan
infrastruktur
pengelolaan limbah

Pembangunan Instalasi
Pengolahan Air Limbah
(IPAL) SPBU dan
pengecekan tangki

Output
8
Satu Instalasi
Pengolahan Air
Limbah medis yang
terbangun di
mall/pusat
perbelanjaan

Outcome

Penilaian Kinerja
9

Terolahnya limbah
medis sesuai
dengan standard
yang ditetapkan

2.3. SUB-SEKTOR PERSAMPAHAN


Pengolahan persampahan di Kota Probolinggo merupakan peralihan dari paradigma
pengolahan lama ke paradigma pengolahan baru. Paradigma lama yang menganut sistem
pengelolaan sampah konvensional (Silasko) mengelola sampah dilakukan melalui 3 tahapan
kegiatan, yakni: pengumpulan, pengangkutan dan pengolahan akhir. Tahapan kegiatan
tersebut merupakan suatu sistem, sehingga masing-masing tahapan dapat disebut sebagai sub
sistem.
Sistem pengelolaan sampah konvensional (Silasko) memiliki permasalahan sebagai
berikut:
Menurunnya kualitas lingkungan (pencemaran air, tanah dan udara), baik pada saat
proses pengumpulan maupun pengangkutan, sehingga dapat menyebabkan menurunnya
tingkat kesehatan masyarakat
Munculnya berbagai permasalahan mengenai Tempat Pengolahan Akhir, karena sampah
kota setiap saat selalu bertambah sedangkan luas lahan TPA sangat terbatas, kemudian
sangat sulit untuk mendapatkan lahan TPA baru
Kesadaran dan keterlibatan masyarakat akan pengelolaan sampah masih belum optimal.
Karena pelayanan persampahan semuanya diserahkan kepada Pemerintah Kota.
- TPA masih merupakan tempat pembuangan akhir dari sampah kota atau tempat
pemrosesan sampah.
- TPS hanya berfungsi sebagai tempat pengumpul sementara sebelum sampah diangkut
ke TPA. Tidak ada pemrosesan sampah dalam TPS.
- Masyarakat masih belum banyak mengetahui nilai tambah yang dapat dihasilkan dari
sampah
Pengelolaan sampah belum menjadi prioritas pembangunan
Komposisi fisik sampah mencakup prosentase dari komponen pembentuk sampah
yang secara fisik dapat dibedakan menjadi sampah Organik, Kertas, Plastik, Logam dan lainlain dimana komposisinya sangat bergantung kepada karakteristik kegiatan yang ada pada
kawasan penghasil sampah. Timbulan sampah Kota Probolinggo mencapai 127 ton/hari atau
127.000 kg/hari.
Berdasarkan asal/sumber penghasil sampah, sampah-sampah yang ada di Kota
Probolinggo terdiri dari sampah yang dihasilkan oleh Kawasan Perumahan, Kawasan
Industri, Kawasan Perdagangan dan Jasa, Kawasan Perkantoran, Rumah Sakit serta Pasar.

Karakteristik penanganan sampah yang dihasilkan oleh kawasan-kawasan diatas adalah


sebagai berikut ;
1. Perumahan
Pada Kawasan Perumahan sampah pada umumnya tidak dipilah namun langsung diangkut
ke tempat pengumpulan sementara yang terletak di dekat perumahan. Pada beberapa
perumahan sedang diuji cobakan alat pengolah sampah organik yaitu Komposer Aerob.
Alat ini berfungsi untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.
2. Industri
Sampah dari Industri umumnya sudah mengalami pemilahan seperti sampah basah dan
kering. Limbah (cair dan padat berbahaya) pada industri besar sebagian besar sudah
dilakukan pengolahan secara mandiri oleh masing-masing industri. Pemanfaatan sampah
industri antara lain pengolahan sampah kertas, plastik, kulit dan karung yang biasanya
banyak diusahakan dengan sistem daur ulang maupun dijual secara langsung kepada
pengusaha bahan bekas.
3. Fasilitas Perdagangan dan Jasa
Sistem pemilahan sampah pada kawasan perdagangan dan jasa tidak dilakukan sehingga
sampah yang masuk ke dalam TPS Kontainer merupakan sampah yang tercampur. Setiap
hari sampah yang sudah diletakkan di depan Toko diangkut oleh petugas penyapu jalan ke
dalam TPS yang ada di wilayah tersebut.
4. Fasilitas Kesehatan
Sampah pada fasilitas kesehatan umumnya sudah mengalami pemilahan antara sampah
medis dan non medis. Perlakuan terhadap sampah medis bisanya dibuang pada tempat
sampah khusus seperti incenerator sehingga sampah berbahaya seperti alat suntik dapat
langsung dibakar pada suhu tertentu di dalam incenerator tersebut.
5. Pasar
Sampah pasar yang ada di Kota Probolinggo 92% berupa sampah organik dan 8% berupa
sampah plastik dan kertas. Dalam pembuangannya langsung dibuang ke TPS Kota
Probolinggo setelah sebelumnya ditempatkan pada TPS Kontainer yang terdapat
dilingkungan pasar. Volume sampah organik

dapat mencapai

2-3 kontainer setiap

harinya. Lokasi Pengolahan Sampah Terpadu Pasar Baru di Kota Probolinggo terdapat di
Jalan Gubernur Suryo (Ungup-Ungup). Pada lokasi tersebut sampah kertas, plastik, kaca
dan organic sudah mengalami pengolahan (composer aerob), sehingga dapat mereduksi
volume sampah pasar yang masuk ke TPA. Selain itu pada lokasi Pengolahan Sampah

Terpadu Pasar Baru juga telah terjadi kerjasama antara Pemerintah Kota Probolinggo
dangan Yayasan Danamon Peduli (Bank Danamon).
Tabel 2.2 Komposisi Sampah Kota Probolinggo Tahun 2007
Komposisi Sampah
Perumahan Perdagangan Kesehatan
Pasar
Organik
73,64%
27,20%
31,70%
85,20%
Kertas
10,20%
25,63%
28,00%
3,05%
Plastik
8,29%
37,42%
29,90%
4,25%
Lainnya
1,43%
2,95%
4,00%
2,80%
Kayu
2,00%
1,50%
1,00%
1,70%
Kain
1,05%
1,05%
3,00%
0,60%
Metal
1,05%
1,15%
1,20%
0,80%
Karet / Kulit
0,50%
1,10%
0,50%
0,50%
Kaca
1,04%
0,80%
0,70%
0,40%
Pasir
0,80%
1,20%
0,00%
0,70%
Sumber : Profil Persampahan Kota Probolinggo, Tahun 2010
Jenis Sampah

Industri
49,13%
29,67%
8,00%
3,00%
5,00%
2,00%
0,70%
2,00%
0,40%
0,10%

Berkaitan dengan operasional pelayanan kebersihan dan pengelolaan sampah, sarana


pengangkutan yang dimiliki Bidang P2DPLH pada Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota
Probolinggo hingga tahun 2008 adalah sebanyak 18 unit kendaraan yang terdiri dari berbagai
jenis sebagaimana uraian berikut :
Truk Sampah Besar (2 unit)
Dump Truck (4 unit)
Armroll truck (5 unit)
Colt Pick-Up (2unit)
Kendaraan Roda Tiga (5 unit)
Truk Penyedot Tinja (2 unit)
Dalam operasional pengumpulan sampah, faktor efisiensi dan fleksibikitas dalam
penempatan dan masalah pemindahan memegang peranan yang sangat penting. Saat ini
sarana pengumpulan dan pemindahan sampah yang dimiliki Bidang P2DPLH yaitu Kontainer
(26 unit) dan Gerobak (120 unit). Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) merupakan tempat
dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam perjalanannya sejak mulai dari timbul di
sumber, pengumpulan, pemindahan hingga pengangkutan. TPA (Tempat Pemrosesan Akhir)
Terletak di Kelurahan Sukabumi Kecamatan Mayangan dengan kapasitas seluar 4 ha. TPA
Kota Probolinggo dikelola dengan menggunakan 2 metode, yaitu Sanitary Landfill dan
Controled landfill.

Sebelum pelaksanaan pembongkaran dan pemilahan sampah pada petak-petak yang


telah ditentukan berdasarkan jenis sampah yang masuk, lebih dulu petugas TPA mencatat
sumber, volume serta alat angkut yang digunakan. Dari data yang diperoleh volume sampah
tiap bulannya per Januari sampai Oktober 2010 terus rata-rata sebanyak 41.651 kg/hari.
Sampah yang terangkut tersebut kemudian masuk ke TPA Kota probolinggo.
Untuk lebih jelasnya mengenai volume sampah yang terangkut dapat dilihat pada
tabel berikut:
Tabel 2.3 Data Estimasi Volume Timbulan Sampah Kota Probolinggo Tahun 2010
Kecamatan
Mayangan

Kademangan

Wonoasih

Kanigaran

Kedopok

Kelurahan
Jati
Mangunharjo
Mayangan
Sukabumi
Wiroborang
Sub Total
Kademangan
Ketapang
Pilang
Pongsangit kidul
Triwung kidul
Triwung Lor
Sub Total
Jrebeng Kidul
Kedungasem
Kedunggaleng
Pakistaji
Sumber Taman
Wonoasih
Sub Total
Curahgrinting
Kanigaran
Kebonsari Kulon
Kebonsari Wetan
Sukoharjo
Tisnonegaran
Sub Total
Jrebeng Kulon
Jrebeng Lor
Jrebeng Wetan
Kareng Lor
Kedopok
Sumber Wetan
Sub Total

Total Timbulan
Sumber : Profil Persampahan Kota Probolinggo, Tahun 2010

Volume
m3/hr
26,7
36
18,7
22,9
11
115,3
10,8
11,9
10,4
8,2
13,2
9,4
63,7
8,4
10,9
4,4
8,2
9,6
6,4
48
6,3
28,3
30,7
8,7
12,1
10,6
96,7
7,2
17,2
3,9
6,8
6,3
8,5
49,9
373,5

Ton/hr
9,1
12,2
6,3
7,8
3,7
39,2
3,7
4
3,5
2,8
4,5
3,2
21,7
2,8
3,7
1,5
2,8
3,3
2,2
16,3
2,1
9,6
10,4
2,9
4,1
3,6
32,9
2,4
5,8
1,3
2,3
2,2
2,9
17
127

Tabel 2.4. Kerangka Logis Sub Sektor Persampahan


II. Sub Sektor Persampahan
No
1

Isu dan
Permasalahan

Tujuan dan
Sasaran

Tingkat pelayanan
persampahan
sebesar ....%
(wilayah selatan
sebagian besar
belum terlayani)

Peningkatan
pelayanan
persampahan
dalam hal
sarana
pengangkutan
dan
pewadahan

Timbulan
sampah...m3/hr,
rata-rata yang
terangkut ke
TPA...m3/hr,
komposting...m3/h
r, daur
ulang...m3/hr,,
sehingga yang
tidak
terangkut...m3/hr

Memperluas
jangkauan
pelayanan
pengambilan
sampah
masyarakat
untuk
ditampung di
TPA

(ditampilkan juga
dlm %)
Menurunnya
kualitas
lingkungan saat
proses
pengumpulan
maupun

Terjaganya
kualitas
lingkungan
(udara, air,
tanah)

Pendekatan dan
Strategi
Pembangunan
4

1. Mengupayakan
seluruh TPA
yang ada adalah
Sanitari Landfill
dengan acuan
dokumen SSK
2. Mengoptimalkan
3R untuk
mengurangi
sampah yang
masuk TPA
1. Mengoptimalkan
daya tampung
TPA dengan
menerapkan
sistem dan
teknologi
Sanitari Landfill
2. Melakukan
kajian bersama
antara Pemda
dan masyarakat
dan merumuskan
regulasi terkait
sampah plastik

Kebijakan
5

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

Pemantapan
manajemen
pengelolaan
persampahan

Pemantapan
manajemen
pengelolaan
persampahan

Pengendalian
dampak
pencemaran
lingkungan

Penyusunan
Raperda terkait
sampah plastik

Advokasi legislatif
terkait pembatasan
sampah plastik

Output

Outcome

Penilaian Kinerja

Semua wilayah
dalam lingkup
Kota Probolinggo
terlayani

Daerah-daerah
terutama
bagian selatan
tidak
terjangkau
pelayanan
sampah

Semua sampah
terangkut

Pengelolaan
sampah tidak
efektif dan
efisien

Lingkungan
disekitar tempat
pengumpulan
sampah bersih

Tercemarnya
lingkungan
sekitar akibat
kegiatan
pengumpulan
dan

pengangkutan
sampah
Sudah ada
kegiatan
pemilahan
sampah dari
sumbernya namun
pelaksanaannya
belum maksimal

Pemberdayaan
masyarakat
melalui
kelompokkelompok
masyarakat
untuk memilah
dan mengolah
ampah

Mengoptimalkan
peran forum dan
Pokmas untuk
mendorong
masyarakat untuk
mengolah sampah

Peningkatan
peran serta
masyarakat
dalam
pengelolaan
persampahan

Pemilahan sampah

Mengoptimalkan
proses pewadahan
dan pengangkutan
sampah agar
sampah tidak
dibuang
sembarangan

Penyediaan
sarana dan
prasarana
pengelolaan
persampahan

Pewadahan dan
pengangkutan
sampah

Kurangnya
jumlah tempat
sampah, TPS, dan
transfer depo
terutama didaerah
yang belum
terlayani

Pemerataan
daerah
penyebaran
dan
peningkatan
jumlah
fasilitas
pengumpulan
dan
pewadahan
sampah

Belum ada tempat


khusus untuk
limbah B3, ewaste dan sampah
medis

Kondisi fisik
kendaraan
angkutan sampah
belum memenuhi
syarat kesehatan

Tertanganinya
limbah B3, ewaste dan
sampah medis
melalui proses
penanganan
yang sesuai di
TPA
Peningkatan
efisiensi dan
efektifitas
layanan
pengangkutan

1. Optimalisasi
kinerja UPTD
Pengolahan
Limbah dan
Sampah
2. Perlu adanya
pembentukan
Pokmas baru
ditingkat RT/RW
tentang
pengolahan
sampah
1. Pengadaan wadah
sampah
2. Pengadaan alat
angkut sampah
3. Peningkatan
sarana dan
prasarana
pewadahan dan
pengangkutan
sampah
4. Pembangunan
TPST

pengangkutan
sampah
Sampah
berserakan dan
tercampur
antara organik
dan non
organik

Terpisahnya
sampah
berdasarkan
jenisnya

Tersedianya
tempat sampah
bersekat

DED TPST dan


transfer depo
sesuai dengan
kriteria

Tersedianya
tempat sampah,
TPS, dan
transfer depo
dengan jumlah
yang memadai

Sampah
menumpuk
dan tidak
terangkut

Pengembang
an teknologi
pengolahan
persampahan

Limbah B3, ewaste dan sampah


medis dapat
tertangani dengan
baik

Tersedianya
tempat
penampungan/p
engolahan
sampah B3

Penyediaan
prasarana
dan sarana
pengelolaan
sampah

Pengadaan
kendaraan
pengangkut
sampah

Tersedianya
kendaraan
angkutan
sampah sesuai
spesifikasi

Limbah B3, ewaste dan


sampah medis
tidak
tertangani
sehingga
mencemari
lingkungan
Sampah yang
diangkut dapat
berjatuhan/bet
erbangan
menuju TPA

10

11

lingkungan
Bangunan IPAL
belum memenuhi
syarat dalam hal
konstruksi
maupun
operasionalnya
Penurunan
kualitas
lingkungan (air,
tanah, udara)
akibat kegiatan
operasional TPA
dan IPAL

Kesadaran dan
keterlibatan
masyarakat akan
pengelolaan
sampah masih
belum optimal
karena adanya
pandangan bahwa
pengeloaan
sampah
merupakan
tanggung jawab
peaerintah daerah
Kurangnya
kesadaran dan
pengetahuan
masyarakat
tentang
pemanfaatan
kompos (pupuk
organik).

sampah
Mengoptimalis
asikan
operasional
bangunan
IPAL
Tidak adanya
pencemaran
akibat
operasional
TPA dan IPAL
yang dapat
membawa
dampak
negatif pada
lingkungan
Meningkatkan
partisipasi dan
ketrampilan
masyarakat
dalam
pengolahan
sampah
melalui
program 3R

Mengurangi
timbulan
sampah yang
masuk ke TPA

Peningkatan
operasi dan
pemeliharaan
prasarana
dan sarana
persampahan
Pengendalian
dampak
pencemaran
lingkungan

Memanfaatkan
Forum dan Pokmas
melakukan
advokasi dan
penyuluhan kepada
masyarakat agar
sadar mengelola
sampah

Peningkatan
peran serta
masyarakat
dalam
pengelolaan
persampahan

Kualitas effluent
IPAL memenuhi
standart baku
mutu lingkungan

Terbangunnya
IPAL yang
memenuhi
kriteria standar
pengolahan air
lindi

Effluent lindi
mencemari
lingkungan
sekitar
terutama air
tanah
Tercemarnya
lingkungan
sekitar akibat
kegiatan
operasional
TPA dan IPAL

Penyuluhan kepada 1. Kampanye Publik


masyarakat tentang 2. Perlu adanya
perlunya
sosialisasi dan
pengolahan sampah
pelatihan tentang
pengolahan
sampah

Pemahaman
masyarakat

Berkurangnya
timbulan
sampah organik
maupun
anorganik dari
sumbernya

Biaya
operasional
pengangkuta
n sampah
tinggi
Lingkungan
kotor

Advokasi
pentingnya 3R

Peningkatan
kemampuan
masyarakat untuk
pengomposan
sampah

Masyarakat bisa
membuat
kompos sendiri
dari sampah
organik

Masyarakat
tidak tahu
bagaimana
cara mengolah
sampah
organik
menjadi
kompos

Penerapan Sanitary
Landfill pada TPA

1. Adiwiyata
2. Kampanye publik
3. Lomba 3R

12

Kurangnya
jumlah fasilitas
pengomposan
baik skala rumah
tangga maupun
instansi

Penyediaan
prasarana
dan sarana
pengelolaan
persampahan

13

Terbatasnya
jaringan distribusi
pemasaran
kompos

14

Belum
optimalnya
sosialisasi Perda
di masyarakat

Melakukan
optimalisasi
sosialisasi Perda

15

Terbatasnya
tenaga di bidang
persampahan baik
dari segi jumlah
maupun keahlian.

Mengoptimalkan
keahlian staf
Pemda di Bidang
Persampahan

Pengadaan
fasilitas
komposter skala
rumah tangga

Kampanye Perda

Peningkatan
kemampuan
aparat
pengelolaaan
persampahan

Pelatihan
Penguatan
Kapasitas

Tersedianya
fasilitas
pengomposan
dalam jumlah
yang cukup

Sampah
organik tidak
terolah

Tersedianya
jaringan
distribusi
pemasaran
kompos

Kesulitan
pemasaran
produk pupuk
kompos

Kampanye publik
melalui media radio
maupun media
cetak
1.Pelatihan
Manajemen
Pengolahan Sampah
2.Pelatihan Sistem
dan Teknologi
Pengolahan Sampah

Masyarakat
tidak
mengetahui
adanya Perda
Tersedianya
tenaga kerja
yang
mempunyai
keahlian dalam
bidang
persampahan

Pengelolaan
sampah tidak
ditangani
dengan
maksimal
karena
kurangnya
tenaga.

2.3. SUB-SEKTOR DRAINAGE


Drainase adalah prasarana yang berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan
air yaitu sumber air permukaan tanah yang berupa sungai, danau, laut dan dibawah
permukaan tanah berupa air tanah di dalam tanah atau bangunan. Sistem drainase Probolinggo
dimaksudkan untuk memanfaatkan seoptimal mungkin jaringan yang ada baik berupa saluran
drainase lingkungan, drainase jalan, saluran pembuangan irigasi (Avour ), maupun saluran
alam yang telah ada.
Menurut data terbaru dari Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kota Probolinggo tahun
2009, terdapat 10 saluran drainase primer di Kota Probolinggo, yaitu; Saluran Kali Pancor,
Saluran Kali Banger, Saluran Kali Kasbah, Saluran Kali Umbul, Saluran Afvoer Brantas,
Saluran Afvoer Bromo, Saluran Afvoer RSU Dr. Moch. Saleh, Saluran Barat TPA, Saluran
Beloan, dan Saluran Bangsingan. Saluran primer tersebut menampung aliran air dari
limpasan air hujan, saluran pembuang irigasi (afvour), limbah domestik cair dari kawasan
permukiman penduduk dan disalurkan menuju laut. Disamping itu terdapat saluran-saluran
pematusan dari pemukiman yang langsung menuju laut.
Selain adanya beberapa kondisi saluran yang kurang baik, permasalahan drainase di
Kota Probolinggo juga ditunjukkan dengan adanya genangan di beberapa daerah. Genangan
tersebut muncul khususnya pada saat musim penghujan. Munculnya genangan tersebut
dikarenakan saluran drainase yang ada tidak dapat mengalirkan air limpasan hujan dengan
cepat. Adanya endapan dan sampah pada saluran drainase cukup mengganggu fungsi dari
saluran sehingga tidak dapat optimal dalam mengalirkan air buangan. Selain itu faktor
rendahnya daerah terhadap saluran juga turut memicu terjadinya genangan. Pada saat terjadi
banjir musiman genangan air di beberapa daerah sampai pada batas kedalaman satu meter.
Secara keseluruhan saluran irigasi yang ada di Kota Probolinggo kondisinya telah
mengalami penurunan fungsi dikarenakan adanya sedimentasi dan beberapa kondisi fisik
saluran dan bangunan air yang ada mengalami kerusakan.
Tabel 2.3 Data Dan Lokasi Genangan Air dan Banjir Di Kota Probolinggo
Nama Saluran
Sal. Bangsingan
Permukiman Jl. Basuki Rahmat
Permukiman Jl. Gatot Subroto, Jl.
Let.jen Suprapto, KH. Hasyim Ashari,
Jl. MT Haryono
Kali Pancor
Permukiman di Jl. Basuki Rahmat, Kel.
Mangunharjo

Kedalaman
(cm)

Lama
(jam)

20 - 30

1. Sal. Bangsingan meluap

20 - 30

1. Sal. Tepi jalan/ tersier penuh sedimen


2. Luapan Sal. Bangsingan

30 - 40

1. Elevasi kampung lebih rendah dari Jl.


Basuki Rahmat
2. Luapan dari K. Pancor

Penyebab

Kedalaman
(cm)

Lama
(jam)

Jl. DI Panjaitan

30 - 40

Jl. KH. Mansur

30 - 40

Jl. A. Yani

30 - 40

Jl. Suroyo

20 - 30

Jl. Imam Bonjol

20 - 30

20 - 30
20 - 30
20 - 30

1
1
1

Jl. Cut Nyak Dien

30 - 40

Jl. Siaman

30 - 40

Perumahan/ Permukiman Kel.


Kebonsari Kulon, Sebelah Selatan Jl.
Pahlawan, Barat Jl. KH. Dahlan

40 - 50

50

Jl. Pahlawan

20 - 30

Permukiman Jl. Juanda

20 - 30

Jl. Cokroaminoto

15 - 25

Permukiman Jl. Supriadi

40 - 50

Kampung dibelakang Yon Zipur

20 - 30

Pabrik tekstil PT. Eratex Djaya

30 - 40

50

Nama Saluran

Penyebab

Afour RSUD

Jl. Sutomo
Jl. Diponegoro
Jl. P. Sudirman
Kali Banger

Pintu Air K. Banger/ Bendung


Tanjungan
Kali Kasbah

1. Luapan saluran RSUD, yang tertutup


oleh trotoir
1. Luapan saluran KH. Mansur
1. Saluran tepi jalan banyak sedimen
2. Luapan Sal. RSUD dan K. Banger
1. Luapan Sal. RSUD dan K. Banger
1. Saluran tepi jalan banyak sedimen
2. Luapan Sal. RSUD dan K. Banger
1. Luapan K. Banger
1. Luapan saluran RSUD
1. Luapan saluran P. Sudirman
1. Saluran tepi jalan dibawah trotoir
tersumbat
1. Saluran tepi jalan dibawah trotoir
tersumbat
1. Peninggian jalan dan sal. Drainase
tepi jalan Jl. Pahlawan tidak
memperhitungkan kawasan jalan
disekitarnya
1. Kapasitas pintu air tidak cukup
walaupun sudah dibuka saat hujan
1. Kapasitas saluran tepi jalan tidak
cukup
1. Syphon menuju Jl. Pahlawan
tersumbat sampah dan sedimen
1. Saluran tepi jalan dibawah trotoir
meluap
2. Sedimentasi didasar saluran meluap
1. Sedimentasi di dasar saluran, sumber
mata air tanah
1. Saluran primer Kasbah meluap
1. Saluran primer Kasbah dan Umbul
meluap

Afour Gladak Serang


Perumahan/ Pemukiman Sebelah Utara Jl.
TGP

1. Meluapnya afvour gladak serang


yang masih belum di plengseng pada
banyak lokasi

Afour Brantas

Jl. Brantas di perempatan Jl. Soekarno


Hatta

40 - 50

Jl. Brantas

20 - 30

1. Saluran tepi jalan di bawah trotoir


tidak dapat dideteksi sedimennya
dan arah alirannya
2. Muara saluran yang berada di Jl.
Anggrek mengalami bottle neck Rel
KA, dan habis disawah
3. Elevasi badan jalan yang rendah dan
membentuk cekungan
1. Sal. Tepi jJl. Brantas sebelah timur
tidak cukup kapasitasnya
2. Tidak ada gorong-gorong yang
melintas Jl. Brantas ke K. Brantas
yang masih kosong pada saat hujan
3. Genangan di jalan tidak bisa masuk
ke K. Brantas karena terhalang

Nama Saluran

Kedalaman
(cm)

Lama
(jam)

Penyebab
tanggul brantas

Kali Dringu/ Kedung Galeng


Jembatan Desa Kedung asem Kec.
Wonoasih
Permukiman Desa Wonoasih,
Permukiman Desa kedung asem,
Permukiman desa Kedung Galeng,
Permukiman Desa Pakistaji
Saluran Sukun - Randu
Permukiman Desa Jrebeng Lor
Kampung Desa Triwung Kidul
Permukiman Desa Triwung Kidul
Permukiman Desa Triwung Kidul, Jl.
Bromo, arteri primer ke G.Bromo
Kampung Desa Ketapang
Permukiman Desa Ketapang

50 - 100

1. K. Kedung galeng meluap


2. Penyempitan lebar sungai pada
jembatan

50 - 100

1. Kali Kedung galeng meluap,


sedimentasi yang berat pada K. Kedung
galeng

40 - 50

1. Sedimentasi dan sampah di bawah


jembatan
2. Setengah alur kali diduduki oleh
bangunan tepat di hilir DAM Randu

10

1. Saluran irigasi Pakis meluap

50

2. Saluran irigasi Pakis meluap

20

0.5

1. Penyempitan afvour bromo antara Jl.


Raya Probolinggo-Pasuruan ke Laut

Sumber: Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Kota Probolinggo, 2009.

Peran serta masyarakat dalam sektor drainase di Kota Probolinggo sudah mulai
terbentuk. Masyarakat sudah mulai berperan aktif untuk segera melaporkan apabila ada
kerusakan ataupun gangguan pada saluran/sistem drainase. Dalam forum Musrenbang,
masyarakat selalu menyalurkan aspirasinya mengenai perbaikan jalan maupun pembangunan
jalan baru di wilayah mereka. Kemudian juga telah terbentuk suatu Program Kali Bersih
(Prokasih) yang mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam tujuannya untuk menjaga
kebersihan sungai dan saluran-saluran drainase di Kota Probolinggo. Memang pada
kenyataannya kesadaran masyarakat akan pentingnya fungsi dan peranan saluran drainase
masih rendah, namun dengan adanya program semacam ini, maka kedepan kesadaran
masyarakat lambat laun akan dapat ditingkatkan.
Di Kota Probolinggo saat ini terdapat 2 saluran irigasi primer dan 7 saluran irigasi
sekunder. Saluran irigasi primer yaitu; saluran Kedung Galeng dan Saluran Legundi, serta
saluran irigasi sekunder yaitu; Saluran Sumber Ardi, Saluran Wiroborang, Saluran Esan,
Saluran Gladak Serang, Saluran Pakis, Saluran Kedung Kemiri, dan Saluran Sukun.
Keberadaan saluran irigasi juga dapat mengurangi limpasan air hujan yang terjadi, meskipun
tidak secara maksimal karena memang bukan fungsinya dan diluar sistem jaringan drainase.
Selain itu di Kota Probolinggo terdapat saluran yang berfungsi ganda yaitu sebagai saluran
irigasi dan sebagai saluran drainase seperti, Avfoer Brantas, Kali Pancor, Kali Kasbah dan
Kali Umbul.

Batas daerah tangkapan air ditentukan berdasarkan peta topografi yang dilengkapi
dengan ketinggian serta memperhatikan model arah aliran. Berdasarkan pembagian daerah
tangkapan air Kota Probolinggo dibedakan menjadi 53 daerah tangkapan air. Mengenai nama
dan luasan masing-masing daerah tangkapan air dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Tabel 2.4 Daerah Tangkapan Air Kota Probolinggo
No

Nama

Simbol

Kali Pesisir2

C1

Luas
(Ha)
139,79

2
3
4

Afvour Bromo 2
Ke laut 1
Sumber Langse 2

C2
C3
C4

416,2
140,79
36,28

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26

Sumber Langse 1
Afvour Brantas 3
Ke laut 2
Kali Umbul 2
Kali Umbul 1
Ke laut 3
Kasbah 3
Kasbah 2
Kasbah 1
Ke laut 4
Saluran Barat TPA 2
Saluran Barat TPA1
Sukarno Hatta
Ke laut 5
Afvour RSUD 2
Afvour RSUD 1
Sudirman 1
Akup
Mayangan
Kali Banger
Ke laut 6
Bangsingan 1

C5
C6
C7
C8
C9
C10
C11
C12
C13
C14
C15
C16
C17
C18
C19
C20
C21
C22
C23
C24
C25
C26

23,15
224,46
59,85
133,71
268,59
35,07
7,75
19,83
126,04
16,97
21,35
83,07
72,52
10,79
4,55
104,21
29,59
45,57
152,57
59,15
58,67
46,69

No

Nama

27

Bangsingan 2

C27

Luas
(Ha)
17,81

28
29
30

Esan 2
Pancor 1
Ke laut 7

C28
C29
C30

27,68
67,07
53,86

C31
C32
C33
C34
C35
C36
C37
C38
C39
C40
C41
C42
C43
C44
C45
C46
C47
C48
C49
C50
C51
C52
C51

246,41
91,47
20,06
56,99
5,74
19,02
6,50
90,46
46,58
601,46
9,5
70,28
550,37
4,27
3,23
313,41
14,03
3,92
72,31
507,88
25,17
202,74
13,86

31
Pancor 2
32
Esan 1
33
Pancor 3
34
Wiroborang
35
Kali Pesisir 1
36
Pakis 4
37
Afvour Bromo1
38
Pakis 3
39
Afvour Brantas 2
40
Gladak Serang
41
Sumber Sentong
42
Sumber Ardi
43
Beloan
44
Sukun
45
Kedung Kemiri
46
Kali Dringu
47
Pakis 2
48
Afvour Brantas 1
49
Pakis 1
50
Legundi 2
51
Legundi 1
52
Kedung Galeng 2
53
Kedung Galeng 1
Sumber : Masterplan Drainase Kota Probolinggo Tahun 2008 - 2028

Simbol

2.4 Kerangka Logis sub sektor Drainase


III.

Sub Sektor
DRAINASE

NO

Isu/Permasalahan

Tujuan/Sasaran

Pendekatan/Strategi
Pembangunan

Kebijakan

1. Mewujudkan
1. Menggunakan RTRW dan Adanya
pelaksanaan
RDTRK sebagai alat
tindakan
pembangunan dan kontrol perencanaan/ site
sosialisasi
prasarana sanitasi plan pengembangan
untuk
yang berkelanjutan wilayah
melibatkan
dan berwawasan
semua
Terjadinya penumpukan
lingkungan serta 2. Menegakkan Perda terkait
komponen
sampah di ruas saluran
mengoptimalkan
tata ruang dan wilayah
masyarakat
maupun di dinding saluran
pemanfaatannya
untuk menjaga
yang belum di plengseng
3. Merumuskan penanganan
dan
yang dapat menghambat
2. Mengoptimalkan
pendangkalan dengan
memelihara
aliran air.
pemanfaatan
melaksanakan program
saluran
biopori di jalan
kegiatan dengan orientasi
drainase yang
Di beberapa tempat belum
lingkungan.
jangka panjang
ada
terdapat treatment seperti
plengsengan, terutama
3. Penataan tingkat
4. Merencanakan sistem
Adaya
pada bagian ruas saluran
elevasi saluran
drainase skala kota yang
pegembangan
yang kondisi tebingnya
sesuai dengan
tepat
saluran
rawan terhadap longsor,
kondisi topografi
drainase yang
erosi dan pada belokantermasuk
5. Mengoptimalkan media
berkelanjutan
belokan saluran
penetapan tingkat
penyerapan air
dan
dimensi saluran
memelihara
Karena kurangnya
pembuang yang
6. Normalisasi dan
fungsi drainase
kemiringan saluran yaitu
mempertimbangka
pembebasan saluran dari
Kota
pada ruas-ruas tertentu
n land use dan
bangunan dan benda yang
Probolinggo
yang dapat disebabkan
kondisi area
dapat menghambat
agar terhindar
oleh endapan
mengingat
kelancaran aliran air
dari ancaman
mengakibatkan
banyaknya
banjir lokal
tumbuhnya tanaman liar
permukiman baru. 7. Merencanakan saluran
dan Genangan
sehingga menghambat dan 4. Adanya
drainase yang disesuaikan
air sparsial
mengurangi kapasitas
dengan kaidah teknis
penampungan /
dimusim
aliran
bozem pada saat
kemarau
musim penghujan 8. Merencanakan saluran
Kurang atau terlambatnya
drainase yang terintegrasi
untuk
pemeliharaan terhadap
dengan sistem drainase
dimanfaatkan
jaringan drainase akan
yang tepat
irigasi.
mempercepat usia guna
Tingginya tingkat
sedimentasi yang
menghambat kelancaran
aliran dan mengurangi
kapasitas saluran

Program

Ruang
Lingkup
Kegiatan

1. Sosialisasi
Perda

1. Pemantauan
Lapangan
terkait sistem
2. Memperketat
drainase
perijinan
khususnya
2. Sosialisasi
yang terkait
Perda
dengan
penyediaan
3. Revitaliasasi
prasarana
dan
dasar
pembangunan
permukiman
saluran
drainase
3. Normalisasi
saluran
4. Identifikasi,
Perencana
pemetaan
sistem
saluran
drainage
drainase skala
Biopori dan
kota
Sumur
Resapan
5. Perencanaan
Bozem
Sistem
Drainase
4. Penyuluhan
Skala Kota
kepada
warga agar
6. Pemasangan
mau
biopri
memindahka
n bangunan
7. Pembuatan
atau
Bozem
barangnya
8. Pembersihan
5. Penyusunan
saluran
sistem dan
teknologi
drainase
disesuaikan
9. Pemetaan

Output/
Outcome
1. Saluran
drainase dapat
bertahan
dalam waktu
yang lama

Performance Asumsi
Indicator
dan
Resiko
1.Tersedianya
dokumen
perencanaan
sistem
drainase skala
kota

2. Memberikan
manfaat sosial
ekonomi yang
besar bagi
masyarakat
Kota
Probolinggo

3. Mengurangi
genangan

3. Mengatasi
masalah
genangan
yang terjadi

4. Tidak ada lagi


saluran
drainase yang
neralih fungsi

4. Saluran bersih
dari sampah
dan
sedimentasi
5. Tidak adanya
hambatan
aliran
sehingga tidak
terjadi
penurunan
elevasi banjir
6. Saluran dapat
digunakan
sesuai dengan
fungsinya

2. Peningkatan
kapasitas
saluran

dan kerusakan.
6

Pada daerah tertentu


seperti pemukiman
misalnya di Kali Banger
dan Saluran Panglima
Sudirman tidak dijumpai
jalan inspeksi.
Beberapa tempat kondisi
tanggul yang berfungsi
sebagai jalan inspeksi
sudah terkikis dan longsor.

dengan
topografi
lahan

6.

Peny

usunan
masterplan
drainase

bangunan dan
sistem saluran
drainage
10. Pemetaan
sistem
drainase
eksisting
11. Perencanaan
sistem dan
konstruksi
saluran
drainage

12. Pembangun
an /revitalisasi
saluran
drainase

4.5 Sub Sektor Higiene


Hygiene atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan semua perilaku
kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat
menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan
kesehatan di masyarakat. Keadaan lingkungan yang sehat tercipta dengan terwujudnya
kesadaran individu dan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), untuk
mencapai tujuan tersebut dijabarkan dalam sasaran meningkatkan kesadaran dan kemandirian
masyarakat untuk hidup sehat dengan indikator rumah tangga sehat, institusi kesehatan yang
berperilaku sehat, institusi pendidikan yang sehat, tempat kerja yang sehat, tempat-tempat
umum yang sehat,

posyandu

purnama dan mandiri serta meningkatkan kemandirian

masyarakat sebagai peserta jaminan pemeliharaan kesehatan.


Untuk PHBS Dinas Kesehatan telah melakukan berbagai upaya agar masyarakat bisa
mengetahui, memahami, mengerti dan akhirnya mau melakukan apa yang menjadi kewajiban
sebagai warga masyarakat untuk turut serta membangun kesehatan baik individu, sosial dan
lingkungan. PHBS cukup banyak jenis atau tatanannya diantaranya yaitu :
1. PHBS Rumah Tangga
2. PHBS Pondok Pesantren
3. PHBS Tempat-Tempat Umum
4. PHBS Tempat Kerja
5. PHBS Sekolah
6. PHBS Institusi Kesehatan
Kampanye PHBS telah dilakukan di Kota Probolinggo yang dilakukan pada PHBS
Tatanan Rumah Tangga melalui 10 indikator yang telah ditetapkan, yaitu ;
1. Persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan
2. Memberi bayi ASI eksklusif
3. Menimbang bayi dan balita setiap bulan
4. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
5. Menggunakan air bersih
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah
8. Makan sayur dan buah setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah

Untuk Cakupan Pelayanan atau Kegiatan PHBS yang dilakukan di Kota Probolinggo sebagai
berikut :
a. Cuci Tangan Dengan Air Bersih dan Sabun / CTPS
Kampanye dilakukan di sekolah-sekolah bekerjasama dengan Dinas Pendidikan melalui
UKS yang berada di setiap sekolah. Kampanye berupa kegiatan penyuluhan dan demo cara
cuci tangan yang baik dan benar dengan menggunakan air bersih serta sabun. Juga
pemberian sarana percontohan untuk cuci tangan untuk beberapa sekolah (tahun 2010).
Pada tahun 2009 kegiatan CTPS ini telah dilakukan di seluruh SD/MI se-Kota Probolinggo
(139 SD/MI).
b. Menggunakan Air Bersih
Kampanye PHBS Air Bersih dilakukan penyuluhan kesehatan lingkungan di posyandu dan
kelompok pemakai MCK. Disamping itu juga dengan mengadakan sarana percontohan air
bersih (perbaikan sumur gali & SPT) serta pemeriksaan bakteriologis air bersih. Hingga
tahun 2009 cakupan pemakai air bersih baru mencapai 83%.
c. Menggunakan Jamban Sehat
Tahun 2009, jumlah keluarga yang memiliki jamban baru mencapai 60%. Untuk
meningkatkan cakupan pemakaian dan kepemilikan jamban maka telah dilakukan
pengadaan MCK dan jamban keluarga, dimana pengadaannya dibantu dari lintas sektor
(Dinas PU). Untuk memaksimalkan MCK yang ada, dilakukan penyuluhan kesehatan
lingkungan pada kelompok pengguna MCK di masyarakat.
d. Memberantas Jentik di Rumah
Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu ada setiap tahun . Pada tahun 2009
kasus DBD berjumlah 436 penderita, sedangkan Angka Bebas Jentik (ABJ) pada tahun
2009 masih mencapai 88,08% dari target 95%. Kampanye memberantas jentik dilakukan
dengan peyuluhan PSN DBD disetiap posyandu (215 posyandu) dan sekolah serta kerja
bakti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan disetiap rumah dibantu oleh
kader Jumantik serta petugas kesehatan. Setiap bulan juga dilaksanakan pemantauan jentik
di rumah-rumah warga yang dilakukan oleh Kader Jumantik.
e. Tidak Merokok Di Dalam Rumah
Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahaya rokok, pada tahun 2009
dilakukan kampanye / penyuluhan bahaya rokok di beberapa lapisan masyarakat,
diantaranya di sekolah (SMP, SMU), pondok pesantren, kelompok tani (3 kelompok tani),
abang becak (3 kelompok), keluarga perokok/penderita TB Paru (6 Puskesmas) dan
posyandu.

2.5 Kerangka Logis Sub Sektor Higiene Kota Probolinggo


IV.
No

PHBS
Isu/Permasalahan

Tujuan/Sasaran

Pendekatan /

Kebijakan

Program

Strategi

Ruang Lingkup
Kegiatan

Output/
Outcome

Performance

Asumsi

Indikator

dan

Pembangunan
1
1

3
4

Angka morbiditas
penyakit diare tahun
2010 adalah
30,13/100.000
penduduk dari target
nasional 20/100.000

Target angka
morbiditas penyakit
diare tahun 2014
adalah 10/100.000
penduduk

Angka morbiditas
penyakit DBD tahun
2006-2010 adalah
113,62/100.000732,71/100.000
penduduk dari target
nasional 15/100.000

Target angka
morbiditas penyakit
diare tahun 2014
adalah 10/100.000
penduduk

Presentase Rumah
tangga tahun 2010 baru
mencapai 37,64%
Presentase Rumah
Tangga dengan
kebiasaan merokok
didalam rumah sebesar
63,11% dari jumlah
Rumah tangga yang
disurvey Sarana PHBS
masih belum banyak
Masih rendahnya
kesadaran masyarakat

Target Rumah tangga


Sehat tahun 2014
70%
Target Rumah Tangga
dengan kebiasaan
merokok dalam
rumah 0 % dari
jumlah rumah Tangga

Resiko

Mengupayakan
peningkatan
kualitas kesehatan
masyarakat yang
berhasil dan
berdaya guna,
meliputi usaha
promotif,
preventif, kuratif
dan rehabilitatif
serta dukungan
sarana dan
prasarana

Meningkatkan
program
PHBS di
berbagai
tatanan

Promosi
kesehatan dan
Pemberdayaan
Masyarakat

Meningkatkan
Promosi
kesehatan
kesemua
lapisan
masyarakat
dengan
berbagai
metode
Peningkatan
lingkungan
sehat melalui
Pembinaan,
pengawasan
dan
pengembanga
n sarana
sanitasi

7
Intervensi Pengadaan
Sarana PHBS (Cuci
Tangan) di Sekolah
Survey PHBS tatanan
Rumah Tangga oleh
Kader PHBS

Penyehatan
lingkungan

Sosialisasi PHBS pada


anak sekolah, Guru, BP
dan UKS
Sosialisasi PHBS pada
kader kesehatan
Pemantapan Kinerja 216
kader PHBS
Survey PHBS tatanan
Rumah Tangga:
1. Cetak Blanko survey
2. Survey PHBS tatanan
Rumah Tangga
3. Tabulasi data PHBS
(Rekapitulasi &
inventarisasi kondisi
PHBS)
Sosialisasi dan
Kampanye PHBS kepada

8
Berkurangnya
angka
morbiditas
penyakit diare
dan DBD
Meningkatnya
jumlah rumah
tangga sehat di
Kota
Probolinngo

10

akan lingkungan sehat

masyarakat:
1. Peningkatan kesadaran
PHBS melalui leaflet,
poster, banner, dan
umbul-umbul
2. Sosialisasi PHBS
melalui koran
3. Sosialisasi
pemberantasan sarang
nyamuk
4. Kampanye
pembudayaan kerja
bakti secara rutin dan
berkala
5. Kampanye
penggunaan dan
pemeliharaan
MCK(penggunaan
jamban bersih)
6. Sosialisasi 5 indikator
PHBS kepada dunia
pendidikan
Kampanye PHBS
melalui lomba
Pembuatan perda tentang
Kawasan bebas rokok
Koordinasi dan advokasi
antar satker terkait
Perencanaan dan
Persyaratan Teknis
Pembangunan Rumah
Sehat

Pengelolaan Penyediaan Air Minum


Peningkatan kebutuhan terhadap air minum sebagai akibat dari perkembangan dan
pertumbuhan penduduk kota Probolinggo menuntut pihak pemerintah, masyarakat dan swasta
untuk menyediakan kebutuhan air minum dengan sebaik-baiknya. Kebutuhan ini cenderung
meningkat dari tahun ketahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan.
Keterbatasan penyediaan prasarana air minum perkotaan yang memadai dapat mempengaruhi
kehidupan manusia, produktivitas ekonomi, dan kualitas kota secara keseluruhan.
Program yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih dan air minum
Kota Probolinggo Sarana penyedian air bersih pembuatan berupa tandon air dan pemasangan
Meter Listrik & Penyediaan Instalasi Listrik 900 Kwh Untuk Sarana Air Minum.
Ditinjau berdasarkan kebijakan RTRW Kota Probolinggo, pengembangan sistem
penyediaan air bersih dan air minum ini sangat mendukung aktivitas masyarakat dalam
pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Agar sistem penyediaan air bersih berupa tandon air dan saluran pipa tersier tetap
bertahan dalam waktu yang lama maka dibutuhkan kepedulian dan keterlibatan masyarakat di
Kota Probolinggo terhadap pemeliharaan dan perawatan penyedian air bersih yang ada. Dan
perlu adanya tindakan sosialisasi untuk melibatkan semua komponen masyarakat untuk
menjaga dan memelihara penyediaan air bersih yang ada.
Selain itu masyarakat banyak yang memanfaatkan air tanah melalui pembuatan sumur
gali dan sumur pompa. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh letak Kota Probolinggo 0-50 m
dpl sehingga mudah untuk mendapatkan air tanah dengan kualitas yang cukup baik. Selain
itu, fasilitas air bersih juga disediakan melalui hidran dan kran umum. Gambaran umum
ketersediaan air dapat memberikan gambaran kelayakan sumber air berdasarkan debit air yang
dihasilkan serta keberlangsungan sumber mata air untuk menjamin pemenuhan kebutuhan air
minum penduduk Kota Probolinggo. Dengan asumsi kebutuhan air tiap orang adalah 120
liter / hari, maka kapasitas maksimal sumber mata air Ronggojalu mampu melayani
kebutuhan air 306.000 jiwa perharinya. Sumber mata air Ronggojalu pada dasarnya memiliki
debit air sekitar 2.500 liter/detik. Kapasitas terpasang pada sumber mata air Ronggojalu
adalah sekitar 425 liter/detik, sehingga bila pemanfaatan air mencapai tahap maksimal maka
volume produksi air yang bisa dimanfaatkan mencapai 36.720.000 liter/harinya. Jumlah
maksimal pelayanan tersebut masih jauh di atas perhitungan proyeksi penduduk dalam kurun
waktu 10 tahun mendatang. Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat diperoleh melalui
sumur dan PDAM. Masyarakat yang terlayani PDAM umumnya yang berada di jalan utama

yang berada di Kecamatan Mayangan dan Kanigaran. Sedangkan masyarakat yang berada di
Kecamatan Kademangan, Wonoasih dan Kedopok rata-rata menggunakan sumur.
Untuk memenuhi kebutuhan penduduk Kota Probolinggo akan air bersih, sebagian
dari PDAM dan sebagian besar masih dipenuhi dari sumur gali, sumur pompa serta lainnya
dari sumber mata air dan sungai. Jumlah air minum yang disalurkan pada tahun 2007
meningkat 1,96% dari tahun 2006 yaitu dari 3.487.540 M3 meningkat menjadi 3.556.004 M3.
peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah pelanggan yaitu 5,13%. Dari
total 13.308 pelanggan, 91,57% adalah rumah tangga dengan volume pemakaian air adalah
76,89%.
Terkait dengan kualitas air, khususnya air minum, pengujian kualitas air dilakukan
berdasarkan persyaratan baku mutu air. Pengujian kualitas air di Kota Probolinggo dilakukan
melalui pengujian laboratorium yang dilakukan pada sampel air yang berasal dari sumber
mata air Ronggojalu. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium dapat disimpulkan bahwa
tinjauan parameter kualitas air sangat layak untuk dimanfaatkan sebagai sumber air minum
dan tidak memerlukan system pengolahan khusus sebelum dimanfaatkan

iv. Sub sektor Air bersih


No Isu/Permasalahan

Tujuan/
Sasaran

Pendekatan/
Strategi

Kebijakan

Program

Ruang Lingkup
Kegiatan

Output/
Outcome

Performance

Indikator

Pembangunan
1
1

2
Mayoritas masyarakat
yang belum terlayani air
bersih PDAM
berpendapatan rendah,
terutama bagian
selatan Kota Probolinggo

3
Meningkatkan
kualitas sarana
dan prasarana
air bersih guna
menunjang
kesejahteraan
masyarakat
Kota
Probolinggo.

4
Peningkatan
Kualitas Produksi
Air Bersih

Peningkatan alat
perpompaan
pada sumber
produksi PDAM
(Sumber Air
Ronggojalu)

Pemasangan pipa intake


1. Terpenuhinya
kebutuhan air
dan transmisi pendamping
bersih dan air
(Ronggojalu - Jorongan) /
minum
jembatan pipa
2. Peningkatan
Rehab rumah pompa di
kapasitas
Ronggojalu
Produksi
Pengadaan dan
pemasangan pompa dan
motor, panel listrik di
Ruang Pompa
Pembuatan rumah Pompa
Pendamping dan
Pemasangan pompa serta
penambahan daya listrik
PLN

Penambahan
sarana
bangunan/gedun
g PDAM

Renovasi gedung kantor


induk PDAM Kota
Probolinggo
Pengadaan lahan &
pembangunan loket
pembantu

Pemantauan
sistem kualitas
air bersih

Pemantauan takaran ,
kadar pemberian cenlor /
kaporit dengan sistem
injeksi secara tepat dan
terus menerus
Pengiriman sampel air
bersih secara berkala (1
minggu/1 bulan)
Pemantauan kualitas air

Asumsi
Dan
Resiko
10

dengan pengambilan
sampel kimia dan
bakteriologis di sumber
air, rumah pelanggan dan
tandon-tandon air
2

Belum tersedianya
jaringan perpipaan
terutama di wilayah
Kecamatan Wonoasih
dan Kedopok

Meningkatkan
kualitas
penyediaan air
bersih bagi
masyarakat
Kota
Probolinggo

Menggali potensi
Sumber air baku

Kajian Kerjasama
Pemanfaatan Air
Baku

Kajian Manfaat dan biaya


kerjasama pemanfaatan
air baku
Database informasi
ketersediaan kualitas
Sumber Air Baku Kot

Kualitas air tanah


semakin buruk, terutama
di wilayah Kecamatan
Mayangan akibat filtrasi
air laut

Perluasan
jangkauan
pelayanan
jaringan pipa
pada daerah
yang belum
terlayani air
bersih

Meningkatkan
Akses pelayanan
& SR baru untuk
MBR

Penambahan
kapasitas
pendistribusian air
bersih pada ujung
pelayanan PDAM

Pembuatan ground
reservoir & pengadaan
lahan Kecamatan
Mayangan &
Kademangan (Kapasitas
1600 m3)
Pembuatan ground
reservoir & pengadaan
lahan Kecamatan
Wonoasih (Kapasitas
5000 m3)
Penyempurnaan ground
reservoir Kecamatan
Wonoasih (kapasitas 1600
m3)
Pembuatan rumah pompa,
pengeboran sumber air,
pemasangan pompa
(kapasitas 200 lt/detik,
160 KW, H = 55 M) &
pasang baru listrik PLN
Kecamatan Mayangan
Pembuatan rumah pompa,
pengeboran sumber air,

Keterbatasan dana untuk


pengembangan system
penyediaan air bersih

Tingkat kebocoran
air secara
teknis yang
masih relative
tinggi, rata-rata 17%
Kota Probolinggo tidak
memiliki sumber mata
air dengan debit yang
cukup besar untuk
dikembangkan
sebagai sumber air bersih

Revitalisasi pipa
jaringan distribusi

Pengembangan
jaringan pipa
pelayanan air
bersih
Meningkatan
kesadaran untuk
menjaga
kelestarian
lingkungan dalam
pemanfaatan air

Subsidi SR
untuk MBR
Peningkatan
penggunaan air
bersih
Penggantian
secara bertahap
pipa jaringan
dengan usia di
atas 25 tahun
Perbaikan /
rehab teknis
jaringan
transmisi dan
distribusi

Peningkatan
Kontrol terhadap
sistem distribusi
air bersih

pemasangan pompa
(kapasitas 200 lt/detik,
160 KW, H = 55 M) &
pasang baru listrik PLN
Kecamatan Kademangan
Inventarisasi kelayakan
kapasitas ukuran jaringan
perpipaan
Tarif khusus pemasangan
SR MBR
Sosialisasi Program
Sosialisasi penggunaan
air bersih
Inventarisasi umur
jaringan pipa
Penggantian pipa yang
melebihi masa pakai
Rehab jaringan transmisi
& Distribusi di Jaringan
Jalan Utama dan ijin
perlintasan dari PJKA
Rehabilitasi, penggantian
& pasangan meter induk
air di tempat produksi,
menara air, reservoir, dll
Penggantian meter air SR
yang rusak & pasangan
meter air di tiap SR
Kebijakan penggantian &
kalibrasi meter air yang
sudah ada
Pengecekan berkala teka
nan air di jaringan
distribusi
Test aliran air pada

Mahalnya biaya
pemasangan jaringan air
bersih, terutama pada
wilayah yang belum
terdapat jaringan
perpipaan.

Pengembangan
jaringan pipa
pelayanan air
bersih

Pemasangan
Jaringan Pipa
Baru

Penambahan
pelanggan air
bersih
Pengembangan
pelayanan
terhadap
customer

Masyarakat enggan
menggunakan
Air PDAM

Peningkatan
kesadaran untuk
menjaga

Pengendalian
pemnfaatan
Air Bawah

malam hari (minimum


night flow test)
Analisa regular terhadap
kebocoran air yang
dikeluarkan
Monitoring sistem dis
tribusi air untuk deteksi
dini
Pemasangan Jaringan
Pipa di 33 titik Jaringan
Jalan Utama
Pemasangan Jaringan
Pipa + Ijin Crossing Rel
KA + Ijin Bina Marga
pada 1 titik jaringan
Pemasangan Jaringan
Pipa + Ijin Bina Marga
pada 3 titik jaringan jalan
utama

Pemasangan SR Baru
1000 SR / Tahun
Layanan terpadu satu atap
Pelayanan Customer Ser
vice dan Pengaduan
Survey Tingkat Kepuasan
Layanan PDAM oleh Pela
nggan (IKM- Indeks
Kepuasan Masyarakat)
Pelayanan pembayaran
rekening air melalui bank
Pelayanan informasi tagi
han (kerjasama dengan
Telkom)
Pengawasan &
pengendalian penggunaan
ABT

karena
berbau kaporit

kelestarian
lingkungan dalam
pemanfaatan air

Tanah (ABT)

Pengamanan/
pelestarian
sumber mata
air
Peningkatan
kualitas air

Tandonisasi

Pengdaan/
pembuatan
SPT di
masyarakat

Penataan Perijinan
pemanfaatan ABT,
khususnya bagi industri
Pembatasan pemanfaatan
ABT, khususnya bagi
industri & pertanian
Penyiraman kawasan
tanah kering untuk fungsi
penyimpanan air
Pemanfaatan kerjasama
Dengan kelompok
masyarakat untuk
sosialisasi program air
bersih
Penanaman pohon
Advokasi kepada daerah
pemilik sumber air baku
Pembuatan biopori
pemeriksaan berkala
untuk uji kimia dan
bakteri
Pemantauan kualitas alat
konstruksi / perpipaan
tandon
Pemantauan kualiitas air
di tandon-tandon
Penyediaan 1 (satu)
tandon untuk 10 (sepuluh)
KK
Pengadaan SPT di akses
jaringan jalan utama
untuk kebutuhan air
bersih umum