Anda di halaman 1dari 3

PERGESERAN BAHASA NASIONAL SEBAGAI

INDIKATOR MELEMAHNYA SOLIDARITAS


NASIONAL
Budaya dilahirkan beribu tahun lalu sejak manusia ada di bumi. Kebiasaan yang
membentuk perilaku manusia tersebut diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya secara
superorganis. Bahasa adalah salah satu produk pemikiran dari akal budi manusia yang
digunakan sebagai media interaksi antar sesama dan menjadikan manusia berbeda dengan
makhluk lain. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari adanya interaksi dan
komunikasi antarsesamanya. Bahasa sebagai sarana komunikasi mempunyai fungsi utama
sebagai penyampaian pesan atau makna oleh seseorang kepada orang lain. Namun, Bahasa
Indonesia perlahan mulai bergeser dan terintimidasi karena tidak diimbangi dengan kecintaan
dan kesadaran masyarakat terutama generasi muda untuk ikut berpartisipasi menggunakan
bahasa yang baik sesuai kaidah. Nilai bahasa yang dimiliki oleh setiap masyarakat yang
memiliki kekayaan begitu besar, seiring perkembangan zaman upaya pelestariannya pun
mulai luntur yang dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun faktor internal masyarakat itu
sendiri serta semakin berkembangnya sikap Eksosentrisme terhadap budaya dan bahasa luar
yang dianggap sebagai paradigma baru dalam gaya hidup yang lebih modern dan fleksibel.
Bahasa Indonesia yang seharusnya menjadi identitas bahasa masyarakat kita dan
sebagai bahasa pemersatu Indonesia, sengaja ditenggelamkan dengan adanya akulturasi
bahasa yang merusak sistem bahasa kita. Dalam perkembangan masyarakat modern saat ini,
Indonesia dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa masyarakat cenderung lebih senang dan
merasa lebih intelek dengan menggunakan bahasa asing. Contoh sederhana dapat dilihat dari
pemakaian kata no smoking, exit, open, delivery order, dan lain sebagainya di tempat-tempat
umum, padahal kata-kata tersebut memiliki padanan dalam bahasa Indonesia. Sifat
eksosentrisme tersebut semakin lama akan semakin melunturkan kecintaan terhadap bahasa
Indonesia yang telah menyatukan ratusan bahasa lokal yang ada di Indonesia. Bagaimanakah
jika bahasa pemersatu NKRI tersebut musnah dari peradabannya?
Eksistensi bahasa kita saat ini sudah mulai dijajah oleh berbagai macam budaya asing
yang tidak mampu disaring terutama oleh generasi muda. Budaya tersebut masuk dan mulai
mengakar di dalam diri para pemuda. Terlihat dari pemakaian bahasa Indonesia yang
melenceng dari kaidah berbahasa yang baik yang sesuai dengan kearifan budaya berbahasa
bangsa Indonesia. Bagaimana kita ingin mewujudkan komunikasi yang baik, efektif dan

beradab, jika antar jenjang usia saja tidak ada kesepahaman dalam menggunakan bahasa.
Contoh nyata saat ini, penggunaan bahasa gaul oleh pemuda. Kata-kata lebay, bokis, ember
dan sebagainya, adalah kosakata buatan dalam menunjang komunikasi mereka. Hanya bagian
dari komunitas tersebut yang tahu makna dari kata buatan tersbeut. Bagimana dengan jenjang
usia yang lebih dewasa? Sudah bisa dipastikan penggunaan bahasa tersebut tidak dipahami
oleh mereka yang lebih tua. Jika antar jenjang usia saja tidak ada kesepahaman, bagaimana
arus bahasa baru ini bisa menjadi sarana komunikasi yang baik untuk Indonesia yang
memiliki bahasa lokal yang sangat beragam. Dalam berbudaya, hal tersebut dipandang
sebagai suatu yang melenceng dari budaya lokal terutama budaya nasional kita. Bagaimana
bahasa pemersatu kita tidak lagi digunakan, justru dirombak untuk mengikuti arus
globalisasi. Apa yang seharusnya dilakukan adalah tetap mempertahankan penggunaan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun dimodifikasi sesuai peruntukannya. Bukan
malah menggeser penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa yang selama ini menunjang
solidaritas Indonesia, seakan dilemahkan hanya karena budaya luar yang masuk dan menjajah
paradigma pemuda kita untuk mengikuti arus perkembangan zaman ini. Hal tersebut
menimbulkan kekhawatiran akan berdampak terhadap perkembangan bahasa Indonesia
sebagai jati diri bangsa. Dampak dari akulturasi bahasa asing yang paling ditakutkan adalah
masyarakat Indonesia kehilangan bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Karakteristik
bangsa Indonesia salah satunya tercermin dari kesantunan bahasa masyarakatnya. Akulturasi
bahasa yang benar adalah dengan tetap mempertahankan kedua bahasa yang masuk. Bukan
menggeser salah satunya. Dalam konteks ini, Bahasa Indonesia harus dipertahankan dan
digunakan dengan kaidah yang benar dan bahasa lain juga digunakan sesuai peruntukannya.
Tidak dapat dipungkiri, sebagai bagian dari bangsa yang hidup di tengah globalisasi,
Indonesia tidak akan bisa menutup diri dari pengaruh asing, termasuk dalam ranah
kebahasaan. Selama bahasa masih dijadikan sebagai media komunikasi, dengan sendirinya
akan terus mengalami proses adaptasi budaya. Bahasa akan terus berproses mengikuti
dinamika perkembangan peradaban. Ini artinya, bangsa Indonesia harus adaptif dalam
menghadapi perubahan global. Jika bangsa Indonesia tetap kukuh menolak akulturasi bahasa
dengan dalih menjaga jati diri bangsa, dikhawatirkan bangsa Indonesia justru akan terjebak
ke dalam perangkap keterasingan di tengah pergaulan dunia. Akulturasi bahasa asing yang
masuk dalam bahasa Indonesia merupakan kenyataan yang harus ditanggapi dengan bijak.
Proses saling memengaruhi dan dipengaruhi akan terus terjadi dalam pergaulan antarbangsa
secara simultan dan terus-menerus. Kearifan zaman-lah yang akan menjadi filter utama dalam

menilai apakah proses akulturasi bahasa itu sesuai dengan karakteristik bangsa dan pola pikir
masyarakat atau tidak. Dalam konteks kebahasaan, proses akulturasi tidak bisa ditolak
sepenuhnya. Bahasa Indonesia tidak bisa selamanya menutup diri dari pengaruh bahasa asing.
Fakta justru membuktikan bahwa kosakata bahasa Indonesia menjadi kaya karena sentuhan
pengaruh bahasa asing yang secara perlahan-lahan mengalami proses adaptasi sehingga
istilah serapan tidak lagi terkesan sebagai sesuatu yang asing. Seiring dengan peran bangsa
Indonesia di tengah kancah perubahan global, bahasa Indonesia idealnya semakin terbuka
terhadap istilah-istilah asing.
Akulturasi bahasa asing memberikan manfaat dan juga dampak bagi perkembangan
bahasa Indonesia, khususnya berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri dan kebanggaan
masyarakat dalam menggunakan bahasa. Maraknya penggunaan bahasa asing dalam
komunikasi yang dilakukan masyarakat Indonesia memancing ketakutan dan kontroversi dari
berbagai pihak. Kehilangan karakteristik bangsa Indonesia merupakan salah satu
kekhawatiran terbesar. Oleh karena itu, agar bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa yang
bermartabat di kancah nasional maupun Internasional, kita harus menggunakan Bahasa
Indonesia dan bahasa asing secara proporsional, meningkatkan pemakaian Bahasa Indonesia
secara baik dan benar serta menjaga karakteristik Bangsa Indonesia melalui Bahasa Indonesia
sebagai bahasa pemersatu NKRI.
Bangsa Indonesia memiliki karakteristik yang menjadi cerminan realitas kehidupan
bernegara. Karakter sebuah bangsa merupakan merupakan jatidiri, nilai dan norma kehidupan
yang menjadi landasan berpikir dan bertindak suatu bangsa. Karakter suatu bangsa juga
menjadi cerminan dari karakter individunya. Indonesia di kenal dunia sebagai bangsa yang
berkarakter santun, ramah dan penyabar. Hal itu terlihat jelas dalam perilaku dan tindakan
serta bahasa keseharian rakyat Indonesia. Sehingga, sebagai generasi penerus bangsa, ada
baiknya kita tetap berada pada jalur yang benar dengan berkomunikasi menggunakan bahasa
Indonesia yang baik, sehingga pembentukan karakter bangsa bisa tercapai. Karena bahasa
menjadi cerminan dari nilai-nilai yang di anut oleh suatu masyarakat dan juga
menggambarkan karakter suatu bangsa.