Anda di halaman 1dari 17

MARJIN PEMASARAN

Menurut Rahim Hastuti (2007)

dalam Manggopa (2013) marjin

pemasaran merupakan selisih antara harga yang dibayarkan oleh konsumen


dengan

harga

yang

diterima

oleh

produsen.

Besar

kecilnya

margin

pemasaan akan mempengaruhi tinggi rendahnya harga komoditas tersebut.


Secara sistematis margin pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut :
MP = Pr Pf, dimana MP = margin pemasaran, Pr= harga di tingkat
pengecer, dan Pf,= harga di tingkat petani.
Menurut Sudiyono (2004) dalam Widayanti apabila dalam pemasaran
produk pertanian, terdapat lembaga pemasaran yang melakukan fungsifungsi pemasaran, maka margin pemasaran secara matematis dapat ditulis :

Pada survey pasar yang telah dilakukan di pasar Sukun dan Superindo
untuk komoditas kacang hijau dan kentang, data yang didapatkan hanya
berupa volume pembelian, harga beli, dan harga jual. Sementara pada pasar
modern Superido, hanya didapatkan data berupa harga jual produk. Karena
data yang didapat seperti yang telah disebutkan di atas, maka untuk
penghitungan margin pada komoditas kacang hijau dan kentang digunkan
rumus MP = Pr Pf.
Berikut merupakan analisis margin pemasaran komoditas kentang dan
kacang hijau pada pasar tradisional Sukun dan pasar modern Superindo :
Margin pemasaran di pasar tradisonal
1. Komoditas kentang di Pasar Sukun

Dari hasil survey yang telah dilakukan di pasar Sukun untuk


komoditas kentang pada enam pedagang yang ada di pasar
tersebut didapatkan seperti pada table di atas. Untuk margin
pemasarannya akan diuraikan di bawah ini :
a. Pedagang 1 (Ibu Sri)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
Sri di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 300 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 8000/kg. dan dijual dengan
harga

Rp.

9000/kg.

dengan

data

tersebut

margin

pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 9000 8000
= 1000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 300.000
b. Pedagang 2 ( ibu summi)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
Summi di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 30 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 7.500/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 9000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 9000 7.500
= 1500
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 45.000
c. Pedagang 3 ( ibu jamilah)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
Jamilah di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 500 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 7.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 9000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf

MP = 9000 7.000
=2000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 1.000.000
d. Pedagang 4 (ibu nining)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
Nining di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 30 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 7.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 9000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 9000 7.000
= 2000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 60.000
e. Pedagang 5 (ibu Fatimah)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
Fatimah di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 300 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 7.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 8000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 8000 7.000
= 1000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 300.000
f. Pedagang 6 (mbak fitri)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber mbak
fitri di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 20 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 6.000/kg. dan dijual dengan
harga

Rp.

8000/kg.

pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 8000 6.000

dengan

data

tersebut

margin

= 1000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 40.000
2. Komoditas kacag hijau di pasar Sukun

Dari hasil survey yang telah dilakukan di pasar Sukun untuk


komoditas kacang hijau pada enam pedagang yang ada di pasar
tersebut didapatkan seperti pada table di atas. Untuk margin
pemasarannya akan diuraikan di bawah ini :
a) Pedagang 1 (ibu sri)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
sri di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 20 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 17.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 18.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 18.000-17.000
= 1000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 20.000
b) Pedagang 2 (ibu iyah)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
iyah di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 20 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 17.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 18.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 18.000-17.000
= 1000

Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar


Rp. 20.000
c) Pedagang 3 (ibu heni)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
iyah di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 7.5 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 14.800/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 17.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 17.000-14.800
= 2.200
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 16.500
d) Pedagang 4 (bapak toyib)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber
bapak toyib di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 150 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 16.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 17.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 17.000 16.000
= 1000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 150.000
e) Pedagang 5 (ibu ani)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
ani di dapatkan data berupa volume penjualan per bulan
sebesar 25 kg. pedagang ini membeli kentang dari Pasar
Gadang dengan harga beli Rp. 17.000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 18.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 18.000 17.000
= 1000

Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar


Rp. 25.000
f) Pedagang 6 (ibu mariyah)
Dari data survey yang dilakukan dengan narasumber ibu
mariyah di dapatkan data berupa volume penjualan per
bulan sebesar 25 kg. pedagang ini membeli kentang dari
Pasar Gadang dengan harga beli Rp. 14..000/kg. dan dijual
dengan harga Rp. 18.000/kg. dengan data tersebut margin
pemasarannya sebesar :
MP = Pr- Pf
MP = 18.000 14.000
= 4000
Untuk margin pemasaran perbulan dapat diketahui sebesar
Rp. 100.000
Dari hasil analisis margin pemasaran pada pasar tradisional Sukun, untuk
komoditas kentang margin pemasaran rata-rata sebesar 1000- 2000. Untuk
komoditas kentang margin pemasaran rata-rata 1000, namun terapat juga
pedagang yang memperoleh margin pemasaran yang cukup tinggi yaitu
sebesar 2.200 dan 4000.

Margin pemasaran di pasar Modern Superindo


Dari hasil survey yang dilaksanakan di pasar modern Superindo,
pada Rabu 26 November 2014, data yang diperoleh untuk dapat
menentukan margin pemasaran hanyalah data harga jual yang
ada di Superindo baik untuk komoditas kentang maupun kacang
hijau. Untuk harga beli maupun kuantitas pembelian tidak
diketahui. Menurut manager Superindo yang bernama Rois (30
th) untuk kegiatan pemesanan produk ada bagian atau divisi
tersendiri. Divisi tersebutlah yang mengetahui secara rinci
seberapa banyak produk yang harus dipesan atau dibeli per
bulan beserta harganya. Sementara untuk Superindo sendiri
merupakan bagian celling atau penjualan saja. Jadi informasi
mengenai

harga

beli

maupun

kuantitas

pembelian

bukan

merupakan kewenangan dari pihak Superindo Dieng yang kami


temui.

Oleh

karena

itu,

penghitungan

margin

pemasaran

komoditas kentang dan kacang hijau pada pasar modern


Superindo tidak bisa dilakukan karena kurangnya data yang
mendukung.
SALURAN PEMASARAN
saluran pemasaran

merupakan

suatu

tindakan

ekonomi

yang

mendasarkan pada kemampuannya untuk membantu dalam penciptaan nilai


ekonomi ( Swasta, 1979). Dari hasil survey yang telah dilakukan pada pasar
Sukun dan Superindo, yang dapat diketahui saluran pemasarannya hanyalah
komoditas yang ada di pasar Sukun sedangkan di Superindo tidak diketahui
slauran pemasaran produknya.
Di pasar Sukun mayoritas membeli produk atau komoditas kentang dari
pedangang besar yang ada di Pasar Gadang, sementara untuk komoditas
kacang hijau disuplai dari pedagang besar yang mengirim produk langsung
ke pedagang di pasar Sukun. Kemudian komoditas tersebut di jual kembali di
pasar Sukun. saluran pemasaran dari komoditas kentang dan kacang hijau
adalah sebagai berikut :
Kentang

Pedagang besar / grosir


(ada di pasar Gadang)

Pedagang pengecer
(pedagang pasar sukun)

konsumen

Kacang hijau

Pedagang besar / grosir


(ada di pasar Gadang)

Pedagang pengecer

Dari bagan di atas dapat diketahui jika untuk sampai kepada konsumen
(pedagang pasar sukun)

komoditas kentang dan kacang hijau melewati 2 lembaga pemasaran.


Yaitu pedagang besar dang pedangan pegecer yang ada di pasar sukun.
Saluran pemasaran yang adakonsumen
pada komoditas kentang maupun kacang
hijau di pasar sukun belum bisa dikatakan efisien maupun tidak efisien,
dikarenakan informasi harga di tingkat produsen (petani) tidak diketahui.
Namun jika dilihat dari margin pemasaran dari antar pedagang yang ratarata 1000 dan termasuk rendah bisa dikatakan saluran pemasaran
tersebut efisien. Seperti yang dikemukan oleh Widayanti (2009) saluran
pemasaran yang pendek akan menyebabkan nilai margin yang rendah
sehingga harga akhir konsumen tidak jauh
produsen. Selain itu Soekartwai (1987)

berbeda dengan harga di

dalam Widayanti (2009) juga

mengungkapkan jika pemasaran dapat dikatakan efisien jika share


keuntungan antara lembaga pemasaran yang terlibat dalam satu saluran
pemasaran relative merata.
SHARE HARGA YANG DITERIMA PEDAGANG
Share harga yang diterima pedagang adalah biaya yang dikeluarkan
dalam produksi ditambah dengan keuntungan yang diterima dari
usaha/usaha taninya. Dan dalam hal ini, saluran pemasaran produk akan
menyebabkan besarnya share harga yang diterima produsen berbeda
pula. Share harga secara matematis dapat dirumuskan sebagai SPf=

Pf
Pr

x100%.
Dari survey yang telah dilaksanakan maka share harga pada masingmasing pedagang kacang hijau dan kentang di pasar sukun maupun
superindo adalah sebagai berikut :

Share harga kentang di pasar sukun


SHARE HARGA KENTANG DI TINGKAT PEDAGANG

N
O

NAMA
PEDANGANG

sri (Pdg. 1)

summi (Pdg.2)

jamilah (Pdg.3)

nining (Pdg.4)

fatimah (Pdg.5)

fitri (Pdg.6)

HARGA BELI/kg (Pf)


IDR
8,000.00
IDR
7,500.00
IDR
7,000.00
IDR
7,000.00
IDR
7,000.00
IDR
6,000.00

HARGA JUAL/kg (Pr)


IDR
9,000.00
IDR
9,000.00
IDR
9,000.00
IDR
9,000.00
IDR
8,000.00
IDR
8,000.00

SHARE
HARGA
88.89%
83.33%
77.78%
77.78%
87.50%
75.00%

Dari table di atas dapat diketahui share harga pada masing-masing


pedagang kentang di pasar Sukun. pada pedagang pertama yaitu ibu Sri
diketahui share harganya sebesar 88.89%. share harga pada pedagang
pertama ini merupakan share harga yang paling besar dibanding dengan
kelima pedagang yang lain. pada pedagang 2 yaitu ibu summi share harga
tidak terlalu jauh dari pedagang pertama yaitu sebesar 83.33%. untuk
pedagang ketiga ibu jamillah share harganya sebesar 77.78% dan share
harga ini sama dengan share harga pada pedagang keempat yaitu ibu
nining. Pada pedagang kelima yaitu ibu fatimah share harganya sebesar
87.50%. untuk pedagang keenam yaitu mbak firi, share harganya sebesar
75%.
Nilai share harga yang diterima pedagang 1 sebesar 88.89% artinya
adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk dari pedagang
besar ditambah dengan keuntungan yang diterima adalah sebesar 88.89%.
demikian seterusnya sampai pedagang ke 6.

Share harga kacang hijau di pasar sukun

SHARE HARGA YANG DITERIMA PEDAGANG


N
O

NAMA
PEDANGANG

Sri

iyah

heni

toyib

ani

mariyah

HARGA BELI(kg)
IDR
17,000.00
IDR
17,000.00
IDR
14,800.00
IDR
16,000.00
IDR
17,000.00
IDR
14,000.00

HARGA JUAL (kg)


IDR
18,000.00
IDR
18,000.00
IDR
17,000.00
IDR
17,000.00
IDR
18,000.00
IDR
18,000.00

SHARE HARGA
94.44 %
94.44 %
87.06 %
94.12 %
94.44 %
77.78 %

Dari table di atas dapat diketahui jika share harga pada masing-masing
pedagang kacang hijau pada pasar sukun. pada pedagang 1 (ibu sri) share
harganya sebesar 94.44%, nilai ini sama dengan pedangan 2 (ibu iyah),
dan pedagang 5 (ibu ani). Untuk pedagang 3(ibu heni) share harganya
sebesar 87.06%. pada pedagang 4 (bapak toyib) sebesar 94.12%. dan
pedagan 6 (ibu mariyah sebesar 77.78%. dari keenam pedagang tersebut
share harga yang paling besar ada pada pedaganr 1 (ibu sri), pedagang 2
(ibu iyah), dan pedagang 5 (ibu ani) yaitu sebesar 94.44%
Nilai share harga yang diterima pedagang 1 sebesar 94.44% artinya
adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan produk dari pedagang
besar ditambah dengan keuntungan yang diterima adalah sebesar 94.44 %.
demikian seterusnya sampai pedagang ke 6.

Share harga di Superindo pada komoditas kentang dan kacang


hijau
Dari hasil survey yang dilaksanakan di pasar modern Superindo,
pada Rabu 26 November 2014, data yang diperoleh untuk dapat
menentukan share harga yang diterima pedagang hanyalah data
harga jual yang ada di Superindo baik untuk komoditas kentang
maupun kacang hijau. Untuk harga beli maupun kuantitas

pembelian tidak diketahui. Menurut manager Superindo yang


bernama Rois (30 th) untuk kegiatan pemesanan produk ada
bagian atau divisi tersendiri. Divisi tersebutlah yang mengetahui
secara rinci seberapa banyak produk yang harus dipesan atau
dibeli per bulan beserta harganya. Sementara untuk Superindo
sendiri merupakan bagian celling atau penjualan saja. Jadi
informasi mengenai harga beli maupun kuantitas pembelian
bukan merupakan kewenangan dari pihak Superindo Dieng yang
kami temui. Oleh karena itu, penghitungan share harga yang
diterima pedagang pada komoditas kentang dan kacang hijau
pada pasar modern Superindo tidak bisa dilakukan karena
kurangnya data yang mendukung.

Tingkat Kelayakan Usaha (R-C ratio)


R-C ratio merupakan alat analisis untuk mengetahui apakah
suatu usaha layak atau tidak layak untuk dijalankan. Rumus
matematis untuk menghitung nilai R-C ratio adalah sebagai
TR
berikut R-C ratio= TC
Dari penghitungan R/C ratiotersebut, akan dicapai kriteria
sebagai berikut:
1. R-C ratio > 1, maka usaha tersebut layak diusahakan dan
menguntungkan,
2. R-C ratio = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan
tidak
merugikan (impas),
3. R-C ratio < 1, maka usaha tersebut tidak layak dan merugikan.

Dari survey yang telah dilaksanakan di pasar sukun dan


superindo, R/C ratio pada komoditas kentang dan kacang hijau
adalah sebagai berikut :

R/C ratio komoditas kentang di pasar sukun

Pada table di atas, pedagang 1 diketahui memiliki total


cost (TC) sebesar 2.400.000 dan total revenue (

TR)

sebesar 2.700.000. dengan nilai TR dan TC seperti


tersebut didapatkan R/C ratio sebesar 1.13. nilai R/C ratio
ini lebih besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak
untuk dikembangkan dan dilanjutkan.
Pada table di atas, pedagang 2 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 225.000 dan total revenue ( TR) sebesar
270.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.20. nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.
Pada table di atas, pedagang 3 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 3.500.000 dan total revenue (

TR)

sebesar 4.500.000 dengan nilai TR dan TC seperti tersebut


didapatkan R/C ratio sebesar 1.29. nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.

Pada table di atas, pedagang 4 diketahui memiliki total


cost (TC) sebesar 210.000 dan total revenue ( TR) sebesar
270.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.29. nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.
Pada table di atas, pedagang 5 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 2.100.000 dan total revenue (

TR)

sebesar 2.400.000 dengan nilai TR dan TC seperti tersebut


didapatkan R/C ratio sebesar 1.14. nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.
Pada table di atas, pedagang 6 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 120.000 dan total revenue ( TR) sebesar
160.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.33. nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.
Dari analisis data di atas dapat diketahui jika usaha komoditas
kentang di pasar sukun memilik nilai R/C ratio lebih besar dari
1 semua. Yang artinya usaha dari ke enam pedagang kentang
di pasar sukun layak untuk dikembangkan.

R/C Ratio komoditas kacang hijau di pasar sukun

Pada table di atas, pedagang 1 diketahui memiliki total


cost (TC) sebesar 340.000 dan total revenue ( TR) sebesar
360.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.06 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan.
Pada table di atas, pedagang 2 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 340.000 dan total revenue ( TR) sebesar
360.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.06 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan
Pada table di atas, pedagang 3 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 111.000 dan total revenue ( TR) sebesar
127.500

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.15 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan
Pada table di atas, pedagang 4 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 2.400.000 dan total revenue (

TR)

sebesar 2.550.000 dengan nilai TR dan TC seperti tersebut


didapatkan R/C ratio sebesar 1.06 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan
Pada table di atas, pedagang 5 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 425.000 dan total revenue ( TR) sebesar
450.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.06 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan
Pada table di atas, pedagang 6 diketahui memiliki total
cost (TC) sebesar 350.000 dan total revenue ( TR) sebesar

450.000

dengan

nilai

TR

dan

TC

seperti

tersebut

didapatkan R/C ratio sebesar 1.29 nilai R/C ratio ini lebih
besar daripada 1 yang artinya usaha ini layak untuk
dikembangkan dan dilanjutkan
Dari analisis data di atas dapat diketahui jika usaha
komoditas kacang hijau di pasar sukun memilik nilai R/C ratio
lebih besar dari 1 semua. Yang artinya usaha dari ke enam
pedagang kentang di pasar sukun layak untuk dikembangkan.

R/C ratio di Superindo


Dari hasil survey yang dilaksanakan di pasar modern
Superindo, pada Rabu 26 November 2014, data yang
diperoleh untuk dapat menentukan R/C ratio yang
diterima pedagang hanyalah data harga jual yang ada
di Superindo baik untuk komoditas kentang maupun
kacang hijau. Untuk harga beli maupun kuantitas
pembelian tidak diketahui. Menurut manager Superindo
yang bernama Rois (30 th) untuk kegiatan pemesanan
produk

ada

bagian

atau

divisi

tersendiri.

Divisi

tersebutlah yang mengetahui secara rinci seberapa


banyak produk yang harus dipesan atau dibeli per bulan
beserta harganya. Sementara untuk Superindo sendiri
merupakan bagian celling atau penjualan saja. Jadi
informasi

mengenai

harga

beli

maupun

kuantitas

pembelian bukan merupakan kewenangan dari pihak


Superindo Dieng yang kami temui. Oleh karena itu,
penghitungan R/C ratio untuk menilai kelayakan usaha
pada komoditas kentang dan kacang hijau pada pasar
modern

Superindo

tidak

bisa

kurangnya data yang mendukung.

dilakukan

karena

DAFTAR PUSTAKA

Manggopa, Chrisandi Jordan. 2013. Efisiensi Pemasaran Nanas Di Desa


Lobong Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow
Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo.
Widayanti, Ely. 2009. Analisis Pemasaran Bunga Potong Anthurium (Studi
Kasus

Di Desa

Sidomulyo

Universtias Brawijaya.

Kabupaten

Batu).

Fakultas

Pertanian