Anda di halaman 1dari 18

TUGAS ENDAPAN MINERAL #1

ENDAPAN MINERAL ASAL ENDOGENIK

DISUSUN OLEH :
ALBERTUS KURNIAWAN P.
410012159
KELAS 2

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL YOGYAKARTA
2015
PENDAHULUAN

Sumber daya alam adalah semua kekayaan berupa benda mati maupun
benda hidup yang berada di bumi dan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan hidup manusia (Abdullah, 2007: 3). Sumber daya mineral merupakan
sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui, pengelolaannya memerlukan
teknologi pengambangan sumber daya mineral, seperti teknik atau cara untuk
memanfaatkan sumber daya mineral dan manajemen pengelolaannya.
Wilayah Indonesia merupakan daerah pertemuan atau tumbukan tiga
lempeng tektonik, yaitu Eurasia, Hindia-Australia, dan Lempeng Pasifik.
Tumbukan tersebut telah terjadi sejak berjuta-juta tahun yang lalu, yang
mengakibatkan terbentuknya struktur geologi yang beragam. Berbagai jenis dan
umur batuan yang bervariasi membuat wilayah Indonesia kaya akan sumber daya
geologi, baik mineral, logam, mineral non logam, dan energi. Penyebaran mineral
di Indonesia tidak merata, hal ini dipengaruhi oleh kondisi geologinya.
Secara umum genesa bahan galian mencakup aspek-aspek keterdapatan,
proses pembentukan, komposisi, model (bentuk, ukuran, dimensi), kedudukan,
dan faktor-faktor pengendali pengendapan bahan galian (geologic controls).
Tujuan utama mempelajari genesa suatu endapan bahan galian adalah
sebagai pegangan dalam menemukan dan mencari endapan-endapan baru,
mengungkapkan sifat-sifat fisik dan kimia endapan bahan galian, membantu
dalam penentuan (penyusunan) model eksplorasi yang akan diterapkan, serta
membantu dalam penentuan metoda penambangan dan pengolahan bahan galian
tersebut.
Endapan-endapan mineral yang muncul sesuai dengan bentuk asalnya
disebut dengan endapan primer (hypogen). Jika mineral-mineral primer telah
terubah melalui pelapukan atau proses-proses luar (superficial processes) disebut
dengan endapan sekunder (supergen).

A. KETERDAPATAN MINERAL BIJIH

Kerak bumi terdiri dari batuan-batuan beku, sedimen, dan metamorfik.


Pengertian bijih adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak (diambil)
mineral berharganya secara ekonomis, dan bijih dalam suatu endapan ini
tergantung pada dua faktor utama, yaitu tingkat terkonsentrasi (kandungan logam
berharga pada endapan), letak serta ukuran (dimensi) endapan tersebut.
Untuk mencapai kadar yang ekonomis, mineral-mineral bijih atau komponen
bahan galian yang berharga terkonsentrasi secara alamiah pada kerak bumi sampai
tingkat minimum yang tertentu tergantung pada jenis bijih atau mineralnya.
Batuan merupakan suatu bentuk alami yang disusun oleh satu atau lebih
mineral, dan kadang-kadang oleh material non-kristalin. Kebanyakan batuan
merupakan heterogen (terbentuk dari beberapa tipe/jenis mineral), dan hanya
beberapa yang merupakan homogen. Deret reaksi Bowen (deret pembentukan
mineral pada batuan) telah dimodifikasi oleh Niggli, V.M. Goldshmidt, dan H.
Schneiderhohn.

Gambar 1. Diagram Urutan Pengendapan Mineral

Sedangkan proses pembentukan mineral berdasarkan komposisi kimiawi


larutan (konsentrasi suatu unsur/mineral), temperatur, dan tekanan pada kondisi
kristalisasi dari magma induk telah didesign oleh Niggli.

Gambar 2. Diagram Temperatur-Konsentrasi-Tekanan (Diagram Niggli)

Jika pembentukan endapan mineral dikelompokkan menurut proses


pembentukannya, maka salah satu pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut :

B. PENGERTIAN MENDALA METALOGENIK


Istilah Mendala Metalogenik atau Metallogenic Province memiliki
pengertian suatu area yang dicirikan oleh kumpulan endapan mineral yang khas,
atau oleh satu atau lebih jenis-jenis karakteristik mineralisasi. Suatu mendala
metalogenik mungkin memiliki lebih dari satu episode mineralisasi yang disebut
dengan Metallogenic Epoch.
Beberapa contoh mendala metalogenik antara lain ; segregasi lokal dari
kromium dan nikel di bagian yang paling dalam dari kerak samudera, dan
pengendapan sulfida-sulfida masif dari tembaga dan besi di tempat-tempat yang
panas, metal-bearing brine menuju samudra melalui zona regangan, endapanendapan mineral magmatik-hidrotermal berhubungan dengan proses-proses
subduksi. Tumbukan dan subduksi membentuk gunung-gunung yang besar seperti
di Andes, yang mana endapan-endapan mineral dibentuk oleh diferensiasi magma.

Gambar 3. Diagram Skematis yang Menggambarkan Setting Geologi Endapan-Endapan


Mineral, dan Hubungannya dengan Proses-proses Tektonik Lempeng (Gocht, Zantop,
Eggert; 1988)

Contoh mendala metalogenik yang terdapat di Indonesia antara lain:


mendala metalogenik Malaya (terdiri dari batuan beku asam dengan mineral
berharga kasiterit), mandala metalogenik Sunda (terdiri dari batuan intermediet
dengan mineral berharga elektrum (Au, Ag), serta mendala metalogenik SangiheTalaut (terdiri dari batuan ultrabasa dengan mineral berharga nikel).

C. SEBARAN MINERAL DAN TIPE MINERALISASI DI INDONESIA


Berdasarkan Mandala Metalogenik, dapat diidentifikasi sebaran berbagai
jenis mineral di Indonesia. Karateristik mineral menetukan metode eksplorasi
untuk mengungkap potensi sumber daya mineral tersebut. Secara umum dapat
dikelompokkan beberapa tipe mineralisasi sebagai berikut :
1. Tipe endapan mineral timah dan mineral ikutannya sangat berhubungan
dengan pembentukan batuan granit. Berupa jalur granitik yang memanjang
dari IndoChina bagian utara, Thailand, Malaysia hingga ke bagian utara
Pulau Sumatera.
2. Tipe laterit nikel, terdapat di bagian timur Indonesia yang berasosiasi
dengan batuan ultra basa, seperti : Soroako (Sulawesi), P. Maluku,
Halmahera, Gebe, Gag, Waigeo, dan Papua.
3. Tipe laterit bauksit, terdapat di bagina timur pulau Sumatera dan di
Kalimantan, yang berasosiasi dengan batuan granitik yang kaya ajan
alumunium.
4. Tipe endapan pasir besi berupa plaser yang banyak terdapat di sekitar pesisir
pantai, berasosiasi dengan batuan berkomposisi menengah-basa.
5. Tipe minearalisasi emas-perak-tembaga yang dibedakan atas tiga jenis
yakni:
a. tipe mineralisasi Au-Ag yang berasosiasi dengan Cu (dikenal dengan
porfiri). Contoh di Grasberg, Erstberg, Papua, terdapat jalur magmatik
Irian Jaya; dan batuhijau di Sumbawa, berada pada busur Sunda Banda
bagian timur.
b. tipe mineralisasi Au-Ag yang tidak berasosiasi dengan Cu (dikenal
dengan tipe/model epitermal). Contoh cebakan emas Gunung Pongkor
di Bogor, berada pada jalur magmatik Sunda Banda, cebakan emas
Gosowong di Halmahera, cebakan emas Kelian di Kalimantan Timur.
c. tipe endapan Au sekunder yang dihasilkan dari endapan sedimen
(dikenal dengan tipe/model plaser), contoh di Sungai Barito, Sungai
Kapuas, Sungai Kahayan (Kalimantan).

D. KLASIFIKASI DAN TIPE ENDAPAN MINERAL


Para ahli geologi membuat klasifikasi cebakan mineral dengan berbagai cara
yang antara lain berdasarkan pada :
Komoditas yang sedang ditambang
Tatanan tektonik dimana terdapatnya cebakan mineral
Tatanan geologi cebakan mineral
Model genetik mulajadi cebakan bijih
Dari beberapa kriteria tersebut yang paling umum digunakan adalah
klasifikasi berdasarkan genesa cebakan mineral. Tipe cebakan mineral sangat
berkaitan erat dengan genesa atau mulajadi. Genesa mineral ini juga akan
mempengaruhi bentuk pengendapan cebakan bijih tersebut. Bentuk lapisan
biasanya disebabkan oleh proses sedimentasi, bentuk vein (urat), berkaitan dengan
proses magmatisme, dan lain sebagainya.
Secara garis besar, genesa cebakan mineral sangat berkaitan dengan 3 proses
pembentukan batuan yakni magmatisme, sedimentasi dan metamorfisme. Ketiga
proses tersebut mempengaruhi terbentuknya berbagai macam tipe cebakan serta
kelompok asosiasi mineral bijih tertentu. Sedangkan pemberntukan endapan
mineral secara umum terbagi atas dua yakni endogenik dan eksogenik. Endapan
mineral endogenik ialah endapan yang terbentuk jauh di dalam kerak bumi,
bersamaan dengan terbentuknya batuan beku atau yang disebut cebakan primer.
Endapan mineral endogenik terdiri dari endapan magmatik, endapan pegmatik,
endapan hidrothermal dan endapan metasomatik.

1.

Tipe Endapan Magmatik


Proses magmatisme akan membentuk berbagai macam tipe cebakan seperti

(early) magmatic, pegmatic, greissen, skarn, hidrothermal, epitermal dan lain


sebagainya dengan membentuk tubuh bijih yang beraneka ragam dari yang
isometris, lapisan, vein (urat), kantong (pocket), atau yang bentuknya rumit
lainnya.

Gambar 4. Pembentukan Endapan Magmatik

Tipe endapan magmatik merupakan endapan mineral yang terbentuk hasil


langsung dari fraksinasi kristalisasi magma baik yang terjadi karena pembekuan
magma itu sendiri setelah proses differensiasi atau segregasi. Endapan segregasi
magma adalah semua endapan yang terbentuk melalui kristaslisasi langsung dari
magma. Pembentukannya relatif pada jauh di kedalaman. Bijih biasanya terdapat
pada masa intrusi atau disepanjang pinggirannya, atau membentuk retas atau
offshoot dalam tubuh intrusi itu sendiri dan mungkin juga extrusive flows.

Gambar 5. Skematik Proses Differensiasi Magma pada Fase Magmatik

Keterangan untuk Gambar :


1. Vesiculation, Magma yang mengandung unsur-unsur volatile seperti air (H2O),
karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), sulfur (S) dan klorin (Cl). Pada
saat magma naik kepermukaan bumi, unsur-unsur ini membentuk gelombang
gas, seperti buih pada air soda. Gelombang (buih) cenderung naik dan
membawa serta unsur-unsur yang lebih volatile seperti sodium dan potasium.
2. Diffusion, Pada proses ini terjadi pertukaran material dari magma dengan
material dari batuan yang mengelilingi reservoir magma, dengan proses yang
sangat lambat. Proses diffusi tidak seselektif proses-proses mekanisme
differensiasi magma yang lain. Walaupun demikian, proses diffusi dapat
menjadi sama efektifnya, jika magma diaduk oleh suatu pencaran (convection)
dan disirkulasi dekat dinding dimana magma dapat kehilangan beberapa
unsurnya dan mendapatkan unsur yang lain dari dinding reservoar.
3. Flotation, Kristal-kristal ringan yang mengandung sodium dan potasium
cenderung untuk memperkaya magma yang terletak pada bagian atas reservoar
dengan unsur-unsur sodium dan potasium.

4. Gravitational Settling, Mineral-mineral berat yang mengandung kalsium,


magnesium dan besi, cenderung memperkaya resevoir magma yang terletak
disebelah bawah reservoir dengan unsur-unsur tersebut. Proses ini mungkin
menghasilkan kristal badan bijih dalam bentuk perlapisan. Lapisan paling
bawah diperkaya dengan mineral-mineral yang lebih berat seperti mineralmineral silikat dan lapisan diatasnya diperkaya dengan mineral-mineral silikat
yang lebih ringan.
5. Assimilation of Wall Rock, Selama emplacement magma, batu yang jatuh dari
dinding reservoir akan bergabung dengan magma. Batuan ini bereaksi dengan
magma atau secara sempurna terlarut dalam magma, sehingga merubah
komposisi magma. Jika batuan dinding kaya akan sodium, potasium dan
silikon, magma akan berubah menjadu komposisi granitik. Jika batuan dinding
kaya akan kalsium, magnesium dan besi, magma akan berubah menjadi
berkomposisi gabroik.
6. Thick Horizontal Sill, Secara umum bentuk ini memperlihatkan proses
differensiasi magmatik asli yang membeku karena kontak dengan dinding
reservoir. Jika bagian sebelah dalam memebeku, terjadi Crystal Settling dan
menghasilkan lapisan, dimana mineral silikat yang lebih berat terletak pada
lapisan dasar dan mineral silikat yang lebih ringan.

10

2.

Tipe Endapan Pegmatik


Endapan pegmatik merupakan endapan yang terbentuk pada suatu batuan

beku yang memiliki ukuran kristal yang (sangat) kasar, terbentuk selama
kristalisasi magma (pada dapur magma/magma chamber), pada kondisi larutan
yang memiliki kandungan air yang tinggi, dan pertumbuhan kristal yang relatif
cepat. Pegmatit muncul pada tahapan akhir kristalisasi magma dan kadang-kadang
mengandung pengkayaan beberapa mineral logam jarang yang mengandung unsur
Boron, Lithium, Uranium dan REE. Pegmatit terbentuk pada bagian atas suatu
komplek struktur dan biasanya berasosiasi secara spasial dengan intrusi plutonik
dengan komposisi granitik.
Pegmatit adalah sumber utama dari beryllium, lithium, cesium, tantalum,
muscovite dan feldspar. Pegmatit juga merupakan sumber minor dari Uranium,
Tytrium, REE, Tin dan Tungsten. Miarolitik pegmatite adalah sumber penting dari
gemston seperti beryl (emerald), topaz dan tourmaline. Pegmatit bisa terbentuk
dari metamorfisme regional yang menyebabkan batuan menuju fase granitization,
yang menghasilkan produk akhir berupa granit dan pegmatite. Selain itu, pegmatit
juga dapat terbentuk dari aktifitas magma, yaitu ketika magma terbentuk sehingga
terjadi diferensiasi yang mengakibatkan kandungan volatile tinggi dan
terinjeksikan pada batuan sekitar sehingga terbentuk pegmatite. Material yang
diinjeksikan pada sistem tertutup (sistem kimia) sehingga terbentuk pegmatite
sederhana yang mengandung albit, kuarsa, mikroklin dan muskovit. Ketika ada
interaksi dengan dapur magma sehingga terjadi pergantian, maka akan terbentuk
pegmatite kompleks yang membawa rare minerals. Umumnya pegmatite muncul
berupa dike atau vein. Zonasi Endapan Pegmatit (berdasarkan mineralogi dan
tekstur) berdasarkan Cameron, dkk 1949 dalam Guilbert, 1986.
a) Border zone, tipis, terdiri dari mineral feldspar, kuarsa, muskovit,
aksesoris (garnet, tourmaline, beryl)
b) Wall zone, umum hadir dengan mineral yang hampir sama dengan border
zone tetapi lebih intensif dan kasal, muncul mineral logam

11

c) Intermediete zone, dapat mengandung mineral bijih yang ekonomis (Be,


Nb, Ta, Sn, Li, U), variasi mineral cukup banyak (berylniobite-tentaliteperthite-cessiterite-uranite-gems), ukuran butir kasar
d) Core zone, didominasi kuarsa.

Gambar 6. Contoh Bentuk Endapan Pegmatik

12

3.

Tipe Endapan Hidrothermal


Hidrothermal merupakan fluida atau larutan air panas yang naik akibat

proses magmatik ataupun dari proses lainnya seperti meteoritik atau yang
terbebaskan pada suatu proses malihan. Air panas tersebut melarutkan unsur-unsur
logam dari batuan yang dilaluinya sehingga akan terjadi pengkayaan unsur-unsur
dan akan diendapkan di suatu tempat dengan temperatur yang lebih rendah.
Sebagian besar dari cebakan mineral berasal dari proses ini.
Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan
merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan
hidrothermal, yaitu :

Cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di


dalam batuan.

Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan


dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan

hidrothermal, antara lain Ephithermal (T 0oC - 200oC), Mesothermal (T 150oC


350oC), dan Hipothermal (T 350oC-500oC). Setiap tipe endapan hidrothermal
diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut altersi
yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi mineral-mineral seperti
pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu
terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal.
Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au),
magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS),
pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit
(CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs),
spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldsparfeldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat
Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah :
stanite (Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu 3AsS4), Cu sulfida, Sb
sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS),

13

dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : karbonat-karbonat,


kuarsa, dan pirit.
Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native
cooper (Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS 2),
pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb 2S3), stannit (CuFeSn),
dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO 2), Mg karbonat-karbonat,
rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat).

Gambar 7. Proses Hidrothermal

Gambar 8. Endapan bijih perak berupa endapan hidrothermal tipe epithermal dengan
pengkayaan bijih di sepanjang rekahan-rekahan dan urat-urat di Pachuca Meksiko (Dari
Park, 1975 p. 349)

14

4. Tipe Vulkanogenik
Endapan vulkanogenik terjadi akibat adanya aktivitas gunung api bawah
laut. Kegiatan vilkanik bersusunan riolitik yang menghasilkan breksi tufa asam ini
berlangsung di bawah laut. Salah satu karkteristik cebakan ini adalah adanya
perlapisan rijang, endapan sulfida, barit dan gipsum. Endapan sulfida terdiri dari
dari bijih hitam, bijih kuning, dan bijih kuning yang berbentuk stockwork. Contoh
endapan ini ialah bijih Pb-Zn di jepang (tipe Kuroko), Kazakhtan, Rusia dan
Lerokis Pulau Wetar, Indonesia.
Endapan vulkanogenik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan
bijih secara primer. Sebagai hasil kegiatan fase vulkanis adalah :

1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas
Ekshalasi dibagi menjadi fumarol (terutama terdiri dari uap air H 2O),
solfatar (berbentuk gas SO2), mofette (berbentuk gas CO2), saffroni (berbentuk
baron). Bentuk (komposisi kimia) dari mata air panas adalah air klorida, air sulfat,
air karbonat, air silikat, air nitrat, dan air fosfat.
Jika dilihat dari segi ekonomisnya, maka endapan ekonomis dari fase
vulkanik adalah belerang (kristal belerang dan lumpur belerang), oksida besi
(misalnya hematit, Fe2O3).

Gambar 9. Model Geologi Endapan Tembaga-Timbal-Seng volkanogenik (After Horikoshi &


Sato, 1970; Sato,1981)

15

5. Endapan Tipe Metamorfik dan Metamorfisme Kontak


Cebakan

tipe

metamorfik

terbentuk

berhubungan

dengan

proses

metamorfisme yang disebabkan oleh tekanan dan temperatur yang mengalami


perubahan (peningkatan). Pada endapan ini hanya menghasilkan sedikit endapan
mineral karena batuan induknya mengandung sedikit ion-ion metal. Tubuh bijih
yang terbentuk terkadang sederhana, seringkali tidak teratur dengan sebaran bijih
di dalamnya teratur atau tidak teratur. Metamorfisme dapat mengakibatkan rekristalisasi dari sulfida yang telah ada menjadi berukuran lebih besar, lebih
ekonomi, mineralisasi yang memberikan kadar metal yang tinggi. Endapan
mineral yang mempunyai nilai ekonomis terbentuk akibat proses malihan pada
kondisi temperatur dan tekanan tinggi, contoh : asbes serpentin, grafit, talk,
pyropilit, silimanit, andalusit, kyanit, garnet dan wollastonit.
Pada metamorfisme kontak magma menjadi sumber air, volatil material dan
variasi unsur-unsur, bila material ini kontak dengan country rock, maka akan
terbentuk skarn, yang prosesnya juga disebut metasomatisme. Endapan
metasomatik terbentuk karena adanya penerobasan batuan beku asam pada
formasi batugamping atau batuan gampingan. Proses ini dirtandai dengan
pembentukan skarn, yaitu kumpulan mineral yang terdiri dari garnet da piroksen
dan dapat beragam susunan mineral. Skarn dapat terbentuk dalam batuan beku di
dekat kontaknya, (endoskarn) atau dalam batuan samping (exoskarn).
Pemineralan juga dapat terbentuk pada kedua jalur tersebut. Tubuh bijih
yang terbentuk karena proses metasomatik berbentuk lensa-lensa, tidak teratur,
urat, tabung (pipe like), dan perlapisan. Sebaran mineral berharga masif, terserak
tidak merata. Contoh : bijih metasomatik kontak di antaranya adalah bijih Fe di
Cornwall, Kalimantan Selatan dan Sumatera Barat; Au-Cu di Papua (Ertsberg,
DOM, DOZ, IOZ, Big Gossan).

16

KESIMPULAN
Tipe dan bentuk cebakan mineral-mineral yang telah kita bahas sebelumnya
sangat menentukan jenis kegiatan eksplorasi yang harus dijalankan. Untuk jenis
cebakan mineral yang teratur baik isometris maupun berupa lapisan dengan
sebaran komponen berharganya teratur. Sedangkan untuk bijih yang tidak teratur
dan apalagi sebaran komponen berharganya tidak teratur, selain pengeboran,
pembuatan terowongan juga akan sangat membantu dalam penentuan cadangan
dengan ketelitian yang lebih tinggi.
Untuk

kondisi

geologi

Indonesia,

Yaya

Soenaryo

dkk.,

(1996)

mengelompokkan keterdapatan endapan bijih berdasarkan batuan induknya ke


dalam lima kelompok yakni :
a) Intrusive-hosted deposits
b) Vulcanic-hosted deposits
c) Sediment-hosted deposits
d) Metamorphic-hosted deposits
e) Ultramafic-hosted deposits
Secara umum endapan bahan galian memiliki tipe-tipe yang berbeda menurut
genesa dan bentuknya seperti berikut :
1) Tipe Magmatik
2) Tipe Pegmatik, tipe endapan greisen
3) Tipe hidrothermal
4) Tipe Vulkanogenik
5) Tipe Metemorfik dan metasomatik kontak

17

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Harr. 2013. Endapan Mineral. Retrieved from harr_ahmad
https://www.scribd.com/doc/171412972/Endapan-Mineral-doc
A. Machali Muchsin., D. 2012. Penyelidikan Mineral. Bandung: Badan Geologi
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Arthur.

2013. Endapan Mineral. Retrieved from de'Arthur


http://dearthurjr.blogspot.com/2013/05/endapan-mineral.html

Jr:

Fajar, A. 2013. Endapan Pegmatit. Retrieved from Cerita Geologi:


http://ceritageologi.wordpress.com/2012/12/15/endapan-pegmatit/
Juner, A. 2010. Endapan Sedimen Residual. Retrieved from Blog Spot:
http://angghajuner.blogspot.com/2010/10/endapan-sedimen-residual.html

18