Anda di halaman 1dari 7

PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)

Konsep PTSD
1.

Pengertian
Post Traumatic Stress Disorder adalah gangguan kecemasan yang dapat
terbentuk dari sebuah peristiwa atau pengalaman yang menakutkan/mengerikan,
sulit dan tidak menyenangkan dimana terdapat penganiayaan fisik atau perasaan
terancam (American Psychological Association, 2004).
Post-traumatic stress disorder (PTSD) is a disorder that can develop
following a traumatic event that threatens your safety or makes you feel helpless
(Smith & Segal, 2008).
Sebuah trauma psikis merupakan kejutan emosional yang memiliki efek
jangka panjang. Ini terjadi ketika seseorang terkena suatu peristiwa luar biasa
sementara tak berdaya dan tidak mampu menggunakan mekanisme pertahanan
yang ada pada diri dalam menghadapi bahaya yang mengancamnya (Eth &
Pynoos dalam Kadison; 2006).
PTSD didefinisikan oleh Nanda (2005) sebagai respon maladaptif yang terus
menerus akibat peristiwa traumatis secara berlebihan. PTSD adalah konsekuensi
jangka panjang dari trauma dimana gejalanya bertahan lebih dari satu bulan.
Dalam kejadian-kejadian traumatis, seringkali tanda-tanda, suara, bau dan hal-hal
lain terhubung dengan kesadaran dan ketidaksadaran serta respon tubuh sebagai
memori tentang peristiwa tersebut. Hal-hal ini menjadi pemicu yang
mengakibatkan terjadinya reaksi yang intensitasnya sama dengan kondisi aslinya
dulu. Sejumlah memori dapat diingat individu dengan sangat jelas, tapi beberapa
aspek mungkin hilang atau tidak dapat diingat lagi. Dikatakan bahwa 10-80%
korban trauma dapat mengalami PTSD, khusus untuk anak-anak berbagai
penelitian Hiew mendapat hasil satu dari tiga anak yang mengalami trauma dapat
mengalami PTSD.
PTSD disebut akut jika gejalanya bertahan kurang dari tiga bulan, dan disebut
kronis jika gejalanya menetap selama tiga bulan atau lebih. Delayed onset terjadi
jika gejala mulai muncul minimal enam bulan sesudah kejadian. Gejala PTSD
sendiri biasanya dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu: intrusive-reexperiencing, avoidence,, dan arousal.

Peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa traumatik pada


umumnya mengandung tiga buah elemen sebagai berikut (Jaffe, Segal, & Dumke,
2005):
1. Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected)
2. Orang yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi /
kejadian demikian (The person was unprepared)
3. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh orang tersebut untuk mencegah
terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to
prevent it from happening)
Pengalaman hidup apapun yang terlalu "mengguncang" dapat memicu PTSD,
terutama jika peristiwa tersebut dilihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diduga
dan dikendalikan / dikontrol (Smith & Segal. 2008).
Smith & Segal menyebutkan peristiwa traumatik yang dapat mengarah pada
munculnya PTSD termasuk:
1. Perang (War)
2. Pemerkosaan (Rape)
3. Bencana alam (Natural disasters)
4. Kecelakaan mobil / Pesawat (A car or plane crash)
5. Penculikan (Kidnapping)
6. Penyerangan fisik (Violent assault)
7. Penyiksaan seksual / fisik (Sexual or physical abuse)
8. Prosedur medikal - terutama pada anak-anak (Medical procedures especially in kids)
2. Kelompok PTSD
Menurut Diagnostik and Statistic Manual Disorder (DSM-IV-1994) (Hetti
Zuliani, 2011) terdapat 3 bentuk Post traumatik stress disorder yaitu:
a. Intrusive-Re-Experiencing, yaitu selalu kembalinya peristiwa traumatik dalam
ingatan.
Gejala - gejalanya adalah sebagai berikut :
1) Berulang -ulang muncul dan mengangu perasaan mengenai peristiwa yang
pernah terjadi;
2) Muncul kembali dalam mimpi mengenai peristiwa;

3) Pikiran - pikiran mengenai peristiwa traumatik selalu muncul, termasuk


perasaan hidup kembali pengalaman traumatik, ilusi, halusinasi, dan
mengalami flashbackmengenai peristiwa;
4) Ganguan psikologis yang sangat kuat ketika menyaksikan sesuatu yang
mengingatkan tentang peristiwa traumatik; Terjadi reaktivitas fisik, seperti
mengigil, jantung berdebar keras atau panic ketika bertemu dengan sesuatu
yang mengingatkan peristiwa
b. Avoidence, yaitu selalu menghindari sesuatu yang berhubungan dengan trauma
dan perasaan terpecah.
Gejala - gejala yaitu :
1) Berusaha menghindar situasi, pikiran - pikiran atau aktivitas yang
berhubungan dengan peristiwa traumatik;
2) Kurangnya perhatian atua partisipasi dalam berbagai kegiatan sehari - hari;
3) Merasa terpisah atau perasaan terasing dari orang lain;
4) Membatasi perasaan -perasaan, termasuk untuk memiliki rasa kasih
sayang;
5) Perasaan menyerah dan takut pada

masa depan, termasuk tidak

mempunyai harapan terhadap karir, pernikahan, anak -anak atau hidup


normal.
c. Arousal, yaitu kesadaran secara berlebihan.
Gejala lainya antara lain :
1) Mengalami ganguan tidur atau bertahan untuk selalu tidur
2) Mudah marah dan meledak-ledak
3) Kesulitan memusatkan kosentrasi
4) Kesadaran berlebihan
5) Gugup dan mudah terkejut
3.

Penyebab PTSD
a. Trauma yang disebabkan oleh bencana seperti bencana alam (gempa bumi,
banjir, angin topan), kecelakaan, kebakaran, menyaksikan kecelakaan atau
bunuh diri, kematian anggota keluarga atau sahabat secara mendadak,
mengidap penyakit yang mematikan (AIDS, kanker).
b. Trauma yang disebabkan individu menjadi korban dari interperpersonal attack
seperti: korban dari penyimpangan atau pelecehan seksual, penyerangan atau
penyiksaan fisik, peristiwa kriminal (perampokan dengan kekerasan),

penculikan, menyaksikan perisiwa penembakan atau tertembak oleh orang


lain.
c. Trauma yang terjadi akibat perang atau konflik bersenjata seperti: tentara yang
mengalami kondisi perang, warga sipil yang menjadi korban perang atau yang
diserang, korban terorisme atau pengeboman, korban penyiksaan (tawanan
perang), sandera, orang yang menyaksikan atau mengalami kekerasan.
d. Trauma yang disebabkan oleh penyakit berat yang diderita individu seperti
kanker, rheumatoid arthritis, jantung, diabetes, renal failure, multiple
sclerosis, AIDS dan penyakit lain yang mengancam jiwa penderitanya.
4. Manifestasi klinis yang dapat muncul pada pasien PTSD berupa :
1.

2.

Hyperarousal (rangsangan yang berlebihan)


a.

Ansietas yang menetap

b.

Kewaspadaan yang berlebihan

c.

Konsentrasi buruk

d.

Insomnia

Instrusion (pengacauan)
a. Kilasan balik
b. Mimpi buruk
c. Ingatan yang hidup

3.

Avoidance (penghindaran)
a. Menghindari hal-hal yang mengingatkan
b. Ketidakmampuan mengingat beberapa bagian dari kejadian
c. Minat yang rendah terhadap kehidupan sehari-hari

Pada pasien ini terdapat gejala-gejala yang disebutkan diatas, diantaranya


ansietas, kewaspadaan yang berlebihan, kilasan balik, ingatan yang hidup, serta
menghindari hal-hal yang mengingatkan.
5. Pedoman Diagnostik
Pedoman diagnostik

PTSD

berdasarkan

PPDGJ

III

Penggolongan Penyakit dan Diagnosis Gangguan Jiwa) adalah :

(Pedoman

1. Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu
6 bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten berkisar antara beberapa
minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai melebihi 6 bulan).
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu
mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, asal saja
manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternatif kategori
gangguan lain.
2. Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang atau
mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kembali
(flashback)
3. Gangguan otonomik, gangguan afek, dan kelainan tingkah laku semuanya
dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas
4. Suatu sequele menahun yang terjadi lambat setelah stres yang luar biasa,
misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasikan dalam
kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang berlangsung lama setelah
mengalami katasrofi)

Daftar pustaka
Jelita, Bisnis. Catatan Ringkas Gangguan Jiwa, Pegangan Dokter Umum. Diakses
pada

tanggal

19

Mei

2015

dari

http://www.scribd.com/doc/58297245/6/GANGGUAN-STRES-PASCATRAUMA-POSTTRAUMATIC-STRES-DISORDER-PTSD
Lestari, Weny & Wardhani, Yurika F. Gangguan Stres Paska Trauma pada Korban
Pelecehan Seksual dan Perkosaan. Diakses pada tanggal 19 Mei 2015 dari
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/Gangguan%20Stres%20Pasca%20Trauma
%20pada%20Korban.pdf
Maslim, Rusdi. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ
III. Jakarta :Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya Jakarta
Jaffe, J., Segal, J., & Dumke, L.F. (September, 16, 2005) "Emotional and
Psychological Trauma: Causes, Symptomps, Effects, and Treatment. Diakses
pada

tanggal

19

Mei

2015

dari

http://www.helpguide.org/mental/emotional_psychological_trauma.htm.
American Psychological Association. (2004). "The effects of Trauma Do Not
Have to Last a Lifetime".APA Online. This data retrieved form
http://www.psychologymatters.org/ptsd.html.
Smith, M., Segal R., Segal, J. (November, 2008). "Post-traumatic Stress
Disorder (PTSD): Symptoms, Treatment, and Self-Help." Diakses pada
tanggal

19

Mei

2015

dari

http://www.helpguide.org/mental/post_traumatic_stress_disorder_symptoms_
treatment.htm.
American Psychiatric Association. (1994). "Diagnostic and statistical manual
of mental disorders, 4th ed". Washington, DC
Yulianto.(2015).Guided Imagery : Konsep Konseling Kreatif untuk Penanganan
Post Traumatic Stress Dissorder (PTSD). Jurnal Fokus Konseling Volume 1
No. 1, Januari 2015 Hlm. 70-81. Diakses pada tanggal 19 Mei 2015 dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=293389&val=6366&title=GUIDED%20IMAGERY:%20KONSEP
%20KONSELING%20KREATIF%20UNTUK%20PENANGGANAN

%20%20POST%20TRAUMATIC%20STRESS%20DISORDER
%20%28PTSD%29