Anda di halaman 1dari 20

INTISARI

Alkohol merupakan senyawa yang diperlukan bagi kehidupan manusia, yang memiliki
gugus hidroksil dan berikatan dengan atom karbon. Tujuan percobaan ini adalah untuk membuat
alkohol dari sari buah nanas, membandingkan konversi alkohol dengan variable tertentu, dan
mengetahui fenomena yang terjadi pada fermentasi alkohol.
Penggunaan nanas sebagai medium pembuatan alcohol adalah karena nanas memiliki
kandungan gula total yang cukup tinggi 12,1% (Kwartiningsih, 2015) dan keberadaannya yang
melimpah. Dalam pembentukan alcohol melalui fermentasi, mikroorganisme yang digunakan
dalam praktikum ini adalah saccharomyces cereviceae. Yeast (saccharomyces cereviceae)
berperan sebagai katalis yang membantu mengonversi sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.
Cara kerja pada percobaan ini mula-mula menyiapkan starter dari sari buah nanas,
sterilkan dengan cara dididihkan. Kemudian dinginkan pada suhu kamar, atur ph hingga 4,
tambahkan ragi roti kedalam larutan, hitung banyaknya yeast menggunakan hemositometer, dan
diamkan selama 2 hari. Langkah selanjutnya adalah analisa glukosa standard an mengukur kadar
glukosa sari buah. Kemudian fermentasi media sari buah nanas dengan disterilkan terlebih
dahulu, dinginkan hingga suhu kamar, atur ph 4,5 dan tambahkan starter kedalam sari buah
dengan variable yang telah ditentukan. Langkah terakhir adalah analsia hasil dengan mengukur
densitas dan kadar glukosa setiap variable.
Dari hasil percobaan, didapatkan bahwa jumlah mikroorganisme pada keempat startere
mengalami kenaikan lalu menurun pada hari ke dua. Kadar glukosa dari seluruh variable
mengalami penurunan, karena glukosa pada substrat digunakan oleh Saccharomyces cerevisiae
sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.
Saran pada praktikum ini adalah simpan starter pada tempat yang tidak terkena cahaya
matahari langsung dan pastikan alat percobaan dalam keadaan steril.

BAB IV
PEMBAHASAN

IV.1. Hasil Percobaan


Tabel 4.1. Data hasil percobaan sari buah awal
Variabel
F
M
sari buah
V sari buah
%SB hari ke 0
%SB hari ke 1
%SB hari ke 2
%SB hari ke 3

Sari buah nanas


25,1 ml
20,8 ml
1,036 gr/ml
200 ml
1,036 %
1,375 %
0,748 %
0,024 %
Tabel 4.2. Data hasil percobaan starter

Variabel

(gr/ml)
Hari Hari Hari

sel

Jumlah mikroorganisme

Hari

Hari

Hari

Hari ke 0

Hari ke 1

Hari ke 2

ke 0
1,07

ke 1
1,02

ke 2
1,059

ke 0
33

ke 1
74

ke 2
42

3.3x1011

7.4x1011

4,2x1011

2
1,07

5
1,02

1,064

35

124

60

3.5x1011

1.24x1012

6x1011

8
1,07

8
1,03

1,065

75

158

54

7.5x1011

1.58x1012

5,4x1011

7
1,07

1
1,03

1,062

89

286

112

8.9x1011

2.86x1012

1,12x1012

1
Tabel 4.3. Analisa hasil

Variabel

Volume
konstan
(ml)

1
2
3

220
260
300

Hari

(gr/ml)
Hari
Hari

Hari

Hari

Hari

Hari

Hari

ke 0
1,034
1,031
1,022

ke 1
1,018
1,022
1,028

ke 5
1,051
1,052
1,054

ke 0
2,055
1,939
1,321

ke 1
0,834
0,905
0,973

ke 2
0,703
0,822
0,966

ke 5
0,666
0,546
0,474

ke 2
1,031
1,033
1,035

%h

4
5
6
7
8
9

220
260
300
220
260
300

1,042
1,031
1,027
1,040
1,034
1,028

1,021
1,023
1,027
1,018
1,026
1,032

1,033
1,033
1,036
1,036
1,038
1,042

1,051
1,056
1,058
1,054
1,054
1,054

2,855
2,425
1,826
1,995
1,789
1,411

0,808
0,733
0,657
0,712
0,633
0,557

0,653
0,629
0,603
0,507
0,554
0,504

IV.2. Pembahasan
IV.2.1. Pengaruh Waktu terhadap Kadar Glukosa yang Dihasilkan saat Fermentasi

Gambar 4.1 Grafik Hubungan Waktu terhadap Kadar Glukosa ( %h) Starter B

Gambar 4.2. Grafik Hubungan Waktu terhadap Kadar Glukosa ( %h) Starter C

0,404
0,331
0,330
0,451
0,521
0,379

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Waktu terhadap Kadar Glukosa ( %h) Starter D
Berdasarkan gambar 4.1 , 4.2 , dan 4.3 dapat dilihat bahwa semua variabel terjadi
penurunan kadar glukosa,. Fenomena tersebut disebabkan

karena glukosa pada substrat

digunakan oleh Saccharomyces cerevisiae sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.


Glukosa tersebut kemudian akan diubah menjadi etanol, sehingga kadar glukosa media pada
akhir percobaan berkurang dari kadar awal.
Saccharomyces cerevisiae akan mengubah sebagian glukosa di dalam substrat menjadi
karbondioksida dan alkohol, sedangkan sisanya tanpa ada nitrogen diubah menjadi produk
penyimpanan cadangan. C6H12O6 2C2H5OH + 2CO2
. (Rudy,dkk,2013)
IV.2.2. Pengaruh Jumlah Ragi terhadap Densitas Starter

Gambar 4.4 Fenomena perubahan densitas vs waktu tiap variabel (starter)

Berdasarkan Gambar IV.2 menunjukan terjadi penurunan densitas starter seiring


bertambahnya waktu. Hal ini dapat terjadi apabila kondisi pada medium tidak memungkinkan
mikroorganisme yaitu Saccharomyces cerevisae tumbuh dan berkembang sehingga terjadi
penurunan densitas. Namun pada percobaan yang kami lakukan terjadi penurunan kadar glukosa
yang mengindikasikan terjadinya fermentasi glukosa menjadi ethanol yang menunjukan masih
adanya mikroorganisme. Hal ini tidak sesuai dengan yang seharusnya, karena apabila semakin
lama waktu inokulasi maka semakin banyak atau bertambah densitas starter yang disebabkan
semakin banyaknya jumlah koloni mikroorganisme yang ada dan adanya aktivitas mikroorganis
S.cerevisae dalam berkembang dan tumbuh.
(Rikana & Adam, 2008)
IV.2.3. Pengaruh Jumlah Ragi terhadap Jumlah Mikroorganisme

Gambar 4.5. Pengaruh Jumlah Ragi Terhadap Jumlah Mikroorganisme


Pada Gambar 4.5 menunjukkan bahwa jumlah mikroorganisme (Saccharomyces
cerevisiae ) bertambah pada hari ke-1 secara signifikan kemudian turun pada hari ke-2.
Fenomena yang terjadi yakni petumbuhan jumlah mikroba mulai meningkat secara siginifikan
setelah melewati hari pertama. Saccharomyces cerevisiae diperkirakan masih dalam fase
penyesuaian (lag phase) sampai hari pertama, sehingga pertumbuhan mikroba belum terlalu
signifikan. Fase pertumbuhan logaritmik baru terjadi pada hari pertama, pada fase ini mikroba
mengalami peningkatan jumlah yang sangat signifikan karena pertumbuhan mikroba terjadi
secara logaritmik, sehingga jumlah mikroba yang terdapat pada setiap starter meningkat cukup
pesat dibandingkan hari-hari sebelumya. Sedangkan pada hari ke-2, jumlah mikroba turun
disebabkan karena terjadi fase penurunan populasi. Semakin lama waktu fermentasi, laju

pertumbuhan spesifik mikrobia semakin menurun. Penurunan populasi mikrobia disebabkan


berkurangnya nutrisi penting dalam media, hal ini terjadi karena mikrobia memanfaatkan
senyawa yang terkandung dalam media untuk kebutuhan metabolismenya (Ahmad,dkk,2007).
Jika ditinjau dari jumlah ragi yang ditambahkan (penambahan ragi untuk starter A sebesar
10 gr/L , starter B sebesar 20 gr/L, starter C sebesar 30, dan starter D 40 gr/L. ) pada Gambar
4.5 ,semakin banyak ragi maka semakin banyak mikroorganisme dalam starter.
IV.2.4. Pengaruh Waktu terhadap Densitas Setiap Variabel pada Proses Fermentasi

Gambar 4.6 Fenomena perubahan densitas terhadap waktu fermentasi pada starter A

Gambar 4.7 Fenomena perubahan densitas terhadap waktu fermentasi pada starter B

Gambar 4.8 Fenomena perubahan densitas terhadap waktu fermentasi pada starter C
Berdasarkan gambar 4.6, 4.7 dan 4.8 fenomena perubahan densitas yang terjadi selama
waktu fermentasi untuk seluruh variabel dan starter adalah pada hari pertama mengalami
penurunan densitas dan pada hari selanjutnya densitas mengalami kenaikan. Pada hari pertama,
densitas mengalami penurunan di akibatkan karena kandungan glukosa yang ada dalam sempel
melebihi nilai kritisnya, sehingga menyebabkan pertumbuhan bakteri terhambat dan nilai
densitas turun (Yuliana,2008). Pada hari berikutnya densitas mengalami kenaikan dikarenakan
bakteri mengalami peningkatkan aktivitas metabolisme, sehingga tumbuh dan berkembang serta
meningkatkan aktivitas bakteri dalam mengkonversi glukosa menjadi ethanol. Pertumbuhan
bakteri inilah yang menyebabkan densitas meningkat.
(Rikana dan Adam,2008)

IV.2.5. Pengaruh Penambahan Volume Starter terhadap Kadar Glukosa (%h)

Lembar Perhitungan
I.

Pembuatan Starter
1. Kebutuhan nutrient =
2. Kebutuhan ragi =
Variabel A =
Variabel B =
Variabel C =

Variabel D =
3. Densitas =

gr/ml

a. Variabel A :
Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

b. Variabel B :
Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

c. Variabel C :
Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

d. Variabel D :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

4. Jumlah mikroorganisme =

a.

Variabel A :

Hari ke 0 =
Hari ke 1 =
Hari ke 2 =
b.

100 x 200

Variabel B :

Hari ke 0 =

Hari ke 1 =

Hari ke 2 =
c.

Variabel C :

Hari ke 0 =

100 x 200

Hari ke 1 =

Hari ke 2 =
d.

100 x 200

Variabel D :

Hari ke 0 =

Hari ke 1 =

Hari ke 2 =
II.

100 x 200

Fermentasi Alkohol
1.

Densitas =
a.

gr/ml

Variabel 1 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

b.

Variabel 2 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

a.

Variabel 3 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

b.

Variabel 4 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

c.

Variabel 5 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke5 =

gr/ml

d.

Variabel 6 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

e.

Variabel 7 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

a. Variabel 8 :

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

b. Variabel 9 :

2.

Hari ke 0 =

gr/ml

Hari ke 1 =

gr/ml

Hari ke 2 =

gr/ml

Hari ke 5 =

gr/ml

%SB Sari buah nanas murni :

3.

a.

Hari ke 0 =

b.

Hari ke 1 =

c.

Hari ke 2 =

d.

Hari ke 5 =

%h :
a.

b.

c.

Variabel 1 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1=

Hari ke 2 =

Hari ke 5 =

Variabel 2 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 3 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

d.

e.

f.

g.

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 4 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 5 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 6 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 7 =

Hari ke 0 =

h.

i.

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 8 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

Variabel 9 =

Hari ke 0 =

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 5

BAB V
PENUTUP
V.1. Kesimpulan
1. Fenomena penurunan kadar glukosa disebabkan

karena glukosa pada substrat

digunakan oleh Saccharomyces cerevisiae sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya.


2.

Penurunan densitas terjadi apabila kondisi pada medium tidak memungkinkan

mikroorganisme yaitu Saccharomyces cerevisae tumbuh dan berkembang.


3. Peningkatan jumlah mikroorganisme pada hari pertama disebabkan karena berada pasa
fase lag adan penurunan pada hari kedua disebabkan karena nutrisi yang diperlukan semakin
berkurang.
4. Densitas mengalami kenaikan pada hari terakhir fermentasi dikarenakan bakteri
mengalami peningkatkan aktivitas metabolisme, sehingga tumbuh dan berkembang serta
meningkatkan aktivitas bakteri dalam mengkonversi glukosa menjadi ethanol
5. Perbedaan penambahan volume starter pada medium dapat dilihat dari tingginya
glukosa hari ke 0 yang menunjukkan penambahan starter terendah 10%v memberikan kadar
glukosa tertinggi.
V.2. Saran
1. Pada saat praktikum, sterilkan bahan terlebih dahulu.
2. Pastikan mengatur pH dengan teliti.
3. Tutup rapat beaker glass dengan penutup alumunium foil.
4. Simpan starter pada tempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung

Daftar Pustaka

II.5. Siklus Pembentukan Alkohol/Etanol

Fermentasi alkohol diawali dengan proses glikolisis. Pada glikolisis, diperoleh 2 NADH
+ H+ + 2 ATP + asam piruvat. Karena reaksin bersifat anaerob, maka akan ada akseptor hidrogen
permanen berupa asetildehida atau asam piruvat.
Pada fermentasi alkohol, asam piruvat diubah menjadi etanol atau etil alkohol melalui
dua langkah reaksi. Langkah pertama adalah pembebasan CO2 dari asam piruvat yang kemudian
diubah menjadi asetaldehida. Langkah kedua adalah reaksi reduksi asetaldehida oleh NADH
menjadi etanol. NAD yang terbentuk akan digunakan untuk glikolisis (Ferdinand dan
Wibowo,2009).
Sel ragi dan bakteri melakukan respirasi secara anaerob. Hasil fermentasi berupa etanol
dalam industri dimanfaatkan untuk pembuatan bioetanol sedangakan CO2 yang
P1 terbentuk dalam
industri roti dimanfaatkan untuk mengembangkan adonan roti sehingga pada roti terdapat poripori.
Secara lengkap dapat digambarkan:

(Sumber: Ferdinand dan Wibowo, 2009)

Gambar 2.1 Tahapan Fermentasi