Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Merupakan neoplasma jinak yang bersifat menyusup secara lokal dan


mungkin ganas (10-15%).dulu disebut Cystosarcoma phyllodes merupakan tumor
jinak yang terjadi hampir semata-mata pada payudara wanita. Namanya berasal dari
kata Yunani sarcoma, yang berarti tumor berdaging, dan phyllo, yang berarti daun.
Disebut demikian oleh karena tumor tersebut menampilkan karakteristik yang besar,
sarkoma ganas, tampilan seperti-daun ketika dipotong, dan epitel, ruang seperti-kista
bila dilihat secara histologis. Karena sebagian besar tumor itu jinak maka disebut juga
sebagai tumor filoides.
Meskipun tumor jinak tidak bermetastase, namun mereka memiliki
kecenderungan untuk tumbuh secara agresif dan rekuren secara lokal. Mirip dengan
sarkoma, tumor maligna bermetastase secara hematogen. Gambaran patologis tumor
filoides tidak selalu meramalkan perilaku klinis neoplasma karenanya pada beberapa
kasus terdapat tingkat ketidakpastian tentang klasifikasi lesi.
Ciri-ciri tumor filoides maligna adalah sebagai berikut:

Tumor maligna berulang terlihat lebih agresif dibandingkan tumor asal.

Paru merupakan tempat metastase yang paling sering, diikuti oleh tulang,
jantung, dan hati.

Gejala untuk keterlibatan metastatik dapat timbul segera, sampai beberapa


bulan dan paling lambat 12 tahun setelah terapi awal.

Kebanyakan pasien dengan metastase meninggal dalam 3 tahun dari terapi


awal.

Tidak terdapat pengobatan untuk metastase sistemik yang terjadi.

Kasarnya 30% pasien dengan tumor filoides maligna meninggal karena


penyakit ini.

Etiologi tumor filoides secara pasti belum diketahui, diperkirakan berhubungan


dengan fibroadenoma dalam beberapa kasus, karena pasien dapat mungkin memiliki
gambaran histologis kedua lesi pada tumor yang sama. Namun, apakah tumor filoides

berkembang dari fibroadenoma atau keduanya berkembang bersama-sama, atau


apakah tumor filoides dapat muncul de novo, masih belum jelas
Tumor ini memiliki tekstur halus, berbatas tajam dan biasanya bergerak secara bebas.
Tumor ini adalah tumor yang relatif besar, dengan ukuran rata-rata 5 cm. Namun, lesi
yang > 30 cm pernah dilaporkan.
Haagensen melaporkan kira-kira satu tumor filodes untuk setiap 40 fibroadenoma.
Distribusi usia menurut Haagensen mayoritas terjadi antara usia 35 dan 55 tahun.
Tumor bilateral sangat jarang dan jarang juga terjadi pada pasien di bawah usia 20
tahun, pertama kali muncul memberikan reaksi jinak.

BAB II
LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas Pasien
Nama
Jenis Kelamin
No. rekam medis
Tmp, tgl lahir
Usia
Alamat
Pekerjaan
NRP/NIP
Pangkat/Golongan
Kesatuan
Penjamin
Agama
Status
Tanggal masuk RS

: Ny. M
: Perempuan
: 32 87 **
: Jakarta, 20/05/1973
: 41 tahun
: KP. Kalibata
: Ibu rumah tangga
:::: BPJS MANDIRI
: Islam
: Menikah
: 5/06/2014

Anamnesis (Autoanamnesis pada tanggal 30 mei 2014)


Keluhan utama
Benjolan pada payudara kanan sejak 5 bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang di poli bedah Rumkital Cilandak dengan keluhan
terdapat benjolan pada payudara kanan. Benjolan dirasa 5 bulan
yang lalu sebesar biji salak, tidak ada nyeri, dan benjolan keras
serta dapat digerakkan. Lalu os berpikir benjolan biasa karena tidak
dirasa nyeri dan tidak mengganggu. 3 bulan selanjutnya benjolan
itu bertambah besar dari yang sebiji salak menjadi satu buah apel.
Tetapi os mengatakan benjolan tidak dirasa nyeri, os berpikir
benjolannya berbahaya karena bertambah besar tetapi os menunda
memeriksanya karena menunggu anak kembali dari kerja di luar
pulau. Os mengaku tidak ada penurunan berat badan, penurunan
nafsu makan, batuk yang lama, sakit tulang, trauma pada payudara
dan tidak adanya keluar cairan pada payudara serta benjolan tidak
nyeri saat haid. Lalu 2 bulan kemudian atau tepat 5 bulan sejak
terdapat benjolan, os mengaku benjolan semakin besar hingga
sebesar buah melon kecil, permukaan kulitnya licin mengkilat,

tetapi semakin memerah dan teraba hangat bila disentuh dengan


pelebaran pembuluh darah yang tampak di permukaan kulitnya.

Riwayat Penyakit Dahulu


o Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya
o Pasien tidak memiliki riwayat Hipertensi, hepatitis, batuk
kronis, diabetes mellitus, alergi, dan asma

Riwayat Penyakit Keluarga


o Riwayat penyakit serupa, hipertensi, diabetes mellitus,
asma, dan penyakit turunan lainnya disangkal

Riwayat Menstruasi
o Menarch
o Siklus menstruasi
o Nyeri saat menstruasi
o KB

: 13 tahun
: 26-28 hari
: (-)
: (-)

Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan


o Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga
o Pasien mempunyai sosial ekonomi menegeah
o Pasien menjamin dengan BPJS MANDIRI

Riwayat Kebiasaan
o Pasien menyangkal merokok, minum-minuman keras dan
mengkonsumsi obat-obatan terlarang

III.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
Kesadaran
Tanda vital
o Tekanan darah
o Nadi
o Laju nafas
o Suhu
Status Generalis

: tampak sakit sedang


: compos mentis
: 140/80 mmHg
: 76 x/menit
: 20 x/menit
: 36,3 oC

Kepala dan Leher


Kepala

Normosefali, tidak tampak adanya


lesi, rambut tidak mudah dicabut
Sklera tidak ikterik, konjungtiva

Mata

pucat -/-, refleks cahaya langsung

Leher

+/+, tidak langsung +/+


Pembesaran KGB (-)

THT
Telinga
Hidung
Tenggorokan

Dalam batas normal


Mukosa hidung dalam batas
normal, sekret (-), darah (-)
Tonsil T1/T1, mukosa faring tidak
hiperemis

Thorax
-

Inspeksi: gerak napas simetri


kanan dan kiri, lesi (-), massa

Paru

(-)
Palpasi: gerakan napas simetris

kanan dan kiri


Perkusi: sonor pada kedua

lapang paru
Auskultasi:
vesikuler

ronchi

-/-,

kordis
Palpasi:

teraba
Perkusi: batas jantung normal
Auskultasi: S1S2 regular,

murmur (-), gallop (-)


Inspeksi: datar dan

tampak lesi
Palpasi: supel, hepar dan lien

tidak teraba, nyeri tekan (-)


Perkusi: timpani pada seluruh

Abdomen

+/+,

nafas

wheezing -/Inspeksi: tidak tampak iktus

Jantung

Ekstremitas

suara

iktus

kordis

tidak

tidak

lapang abdomen
- Auskultasi: bising usus (+)
akral hangat, CTR < 2 detik

Status Lokalis Mamae dekstra (6/06/2014)

Inspeksi :
Posisi duduk dengan tangan di kepala, tangan di pinggang, dan
badan condong ke depan: (saat sebelum dilakukan Operasi)

Tampak massa di mammae dekstra dengan ukuran diameter

18 cm batas tegas, tepi (regular/irregular)


Tampak distensi vena di regio laterosuperior lateroinferior

medioinferior dan di region mediosuperior mammae dekstra


retraksi kulit (-)
peau dorange (-)
ulkus (-)
dekok (-)
sekret putting (-)

Palpasi :

Teraba massa di mammae dekstra dengan ukuran 28 cm x


15 cm konsistensi keras di kuadran laterosuperior
lateroinferior medioinferior dan di region mediosuperior,

tidak terfiksir, permukaan berbenjol-benjol, nyeri (-)


Tidak teraba massa pada mammae sinistra
Tidak terdapat pembesaran KGB axilla, infraklavikula,
supraklavikula, parasternal

IV.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG mamae
Mamae dekstra : Ukuran membesar, tampak kista bersepta-septa dengan
bagian solid didalmnya, dengan dupler tampak peningkatan vaskular pada
bagian yang solid
Mamae sinistra : Ukuran normal, echo parenkim homogen, tampak lesi
kistik multiple di retro areola di jam 3,4,5,6

Axila kanan dan kiri : Tak tampak pembesaran KGB


Kesan :
Cystoma Pyloider kanan
Multiple kista mamae kiri
Pemeriksaan Laboratorium pada tanggal 5/06/2014
Test

Unit

Reference
Range

Darah Rutin
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Masa
Pembekuan

12,9
38,2
484.000
11.600
5

g/dl
%
103/ul
103/ul
Menit

13 17
37-54
150-400
5-10
2-6

(CT)
Masa

Menit

1-3

85
18
0,87

mg/dl
mg %
mg/dl

< 200
20-50
0,8-1,1

Perdarahan

(BT)
Glukosa sewaktu
Ureum darah
Creatinin darah

V.

Result

Resume
Ny. M datang ke Rumkital Cilandak dengan keluhan benjolan pada
payudara kanan sejak 5 bulan yang lalu yang terus membesar dengan
cepat. Benjolan keras, tidak terfiksir, permukaan kulit berwarna merah,
mengkilat, teraba hangat, dan tidak nyeri. Pada pemeriksaan fisik didapat
massa di mammae dekstra dengan ukuran diameter 18 cm konsistensi
keras di kuadran laterosuperior lateroinferior medioinferior dan di region
mediosuperior, tidak terfiksir, permukaan berbenjol-benjol, nyeri (-),
pembesaran KGB (-). Pemeriksaan penunjang USG mamae didapat kesan
Cystoma Pyloider kanan. Pemeriksaan laboratorium yang berarti kenaikan
leukosit dan GDS dibawah normal.

VI.

Diagnosis
Diagnosis Kerja:
Pyllodes tumor
Diagnosis Banding: -

VII.

Tatalaksana
IVFD RL 20 tpm

Persiapan operasi (puasa 8 jam)


Anesthesi dilakukan oleh dr Eka Sp.An
Simple radikal mastectomy (oleh dr. Hendrasto Sp.B)

VIII. Prognosis
Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam

: bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

CATATAN PERKEMBANGAN DAN TINDAK LANJUT


Inisial Pasien

: Ny. M

Usia

: 41 tahun

No. RM

: 32 87 **

Tanggal masuk

: 05/06/2014

Tanggal pulang

: 09/05/2014

Tanggal
07/06/2014

Jam
10:00

Bagian
Koas

Jenis Kelamin : Perempuan

Follow-up
S: nyeri pada bekas jahitan. Mual (-),
muntah (-), BAK (+), BAB (-)
O:
KU: tampak sakit sedang
Kesadaran: compos mentis
TTV:
-

TD: 130/80 mmHg


HR: 80x/min
RR: 22x/min
Suhu: 36.5 C

Kepala : normocephal
Mata: CA -/-, SI -/.
THT, leher: dalam batas normal
Dada: gerak napas simetris, retraksi (-)
Jantung: S1-S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Paru: suara napas vesikuler +/+, wheezing
-/-, ronchi -/Abdomen: datar, lemas, hepar dan lien
tidak teraba, BU (+), NT (-)
Ekstrimitas: hangat, edema (-), CRT<2

St. lokalis mamae dekstra


Look: bekas jahitan terpasang kassa

verban, rembesan (-), DC (+) 10cc/24 jam


Feel: nyeri tekan (+)
Move: ROM A: Pyllodes tumor mamae dekstra post
simple radikal masectomy hr 2
P:

08/06/2014

09:15

Koas

- IVFD RL 20 tpm
- Ceftriaxone IV 2 x 1 gram
- Ketorolac IV 3 x 30 mg
- Vit K IV 3x1 @
S: nyeri pada bekas jahitan sudah
berkurang, mual (-), muntah (-), BAK (+),
BAB (+-)
O:
KU: tampak sakit sedang
Kesadaran: compos mentis
TTV:
-

TD: 130/90 mmHg


HR: 72x/min
RR: 20x/min
Suhu: 36,4 oC

Kepala : normocephal
Mata: CA -/-, SI -/.
THT, leher: dalam batas normal
Dada: gerak napas simetris, retraksi (-)
Jantung: S1-S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Paru: suara napas vesikuler +/+, wheezing
-/-, ronchi -/Abdomen: datar, lemas, hepar dan lien
tidak teraba, BU (+), NT (-)
Ekstrimitas: hangat, CRT<2
St. Lokalis mamae dekstra

Look: bekas jahitan terpasang kassa


verban, rembesan (-), DC (+) 10cc/24 jam
Feel: nyeri tekan (+)
Move: ROM A: Pyllodes tumor mamae dekstra post
simple radikal masectomy hr 3
P:
09/06/2014

09:20

Koas

Infus RL 20 tpm
Ceftriaxone IV 2 x 1 gram
Ketorolac IV 3 x 30 mg
Vit K 3x1 @

S: Nyeri berkurang pada bekas jahitan,


mual (-), muntah (-), BAK(+), BAB (-)
O:
KU: tampak sakit ringan
Kesadaran: compos mentis
TTV:
-

TD: 140/80 mmHg


HR: 85x/min
RR: 22x/min
Suhu: 36,5 oC

Kepala : normocephal
Mata: CA -/-, SI -/.
THT, leher: dalam batas normal
Dada: gerak napas simetris, retraksi (-)
Jantung: S1-S2 reguler, murmur (-),
gallop (-)
Paru: suara napas vesikuler +/+, wheezing
-/-, ronchi -/Abdomen: datar, lemas, hepar dan lien
tidak teraba, BU (+), NT (-)
Ekstrimitas: hangat, edema (-), CRT<2

St. Lokalis mamae dekstra


Look: bekas jahitan terpasang kassa
verban, rembesan (-), DC (+) 10cc/24 jam
Feel: nyeri tekan (+)
Move: ROM A: Pyllodes tumor mamae dekstra post
simple radikal masectomy hr 4
P:
-

Infus RL 20 tpm
Ceftriaxone IV 2 x 1 gram
Ketorolac IV 3 x 30 mg
Vit K 3x1 @

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
I.

DEFINISI
Cystosarcoma phyllodes berasal dari kata Yunani, sarcoma, yang berarti tumor

berdaging, dan phyllo, yang berarti daun. Tumor ini menampilkan karakteristik
yang besar, sarkoma ganas, mengambil tampilan seperti-daun ketika dipotong, dan
menampilkan epitel, ruang seperti-kista bila dilihat secara histologis. Karena
sebagian besar tumor itu jinak, namanya dapat menyesatkan. Dengan demikian,
terminologi yang disukai sekarang adalah tumor filodes.
Johann Muller merupakan orang yang pertama kali memberikan nama
cystosarcoma phyllodes pada tahun 1838, karena tumor ini seringkali kistik dan
secara klasik memiliki proyeksi seperti daun ke dalamnya.
Tumor ini biasanya besar sekali dan berkembang dengan cepat. Tumor ini
mungkin saja benigna atau maligna dan bisa menyebar ke bagian lain tubuh. Juga
disebut CSP (Cystosarcoma phyllodes) atau tumor filodes. Merupakan tipe
neoplasma jaringan ikat yang timbul dari stroma intralobular payudara.
II.

SINONIM
Cystosarcoma phylloides, cystosarcoma phyllodes, tumor filodes.

III.

FREKUENSI
Tidak ada perbedaan frekuensi tumor filodes antara pasien-pasien di Amerika

Serikat dan pasien-pasien di negara lain. Tumor filodes diperkirakan sekitar 1%


dari total neoplasma payudara.
IV.

MORTALITAS/MORBIDITAS
Karena data yang terbatas, persentase tumor filodes jinak dibanding ganas

tidak terdefenisi dengan baik. Laporan yang ada mengindikasikan bahwa sekitar
80-95% tumor filodes adalah jinak dan itu sekitar 10-15% adalah ganas.

Meskipun

tumor

jinak tidak

bermetastase,

namun

mereka

memiliki

kecenderungan untuk tumbuh secara agresif dan rekuren secara lokal. Mirip dengan
sarkoma, tumor maligna bermetastase secara hematogen. Sayangnya, gambaran
patologis tumor filodes tidak selalu meramalkan perilaku klinis neoplasma;
karenanya pada beberapa kasus terdapat tingkat ketidakpastian tentang klasifikasi
lesi. Ciri-ciri tumor filodes maligna adalah sebagai berikut:

Tumor maligna berulang terlihat lebih agresif dibandingkan tumor asal

Paru merupakan tempat metastase yang paling sering, diikuti oleh tulang,
jantung, dan hati
Gejala untuk keterlibatan metastatik dapat timbul mulai dari sesegera beberapa

bulan sampai paling lambat 12 tahun setelah terapi awal


Kebanyakan pasien dengan metastase meninggal dalam 3 tahun dari terapi

awal

Tidak terdapat pengobatan untuk metastase sistemik yang terjadi

Kasarnya 30% pasien dengan tumor filodes maligna meninggal karena


penyakit ini
V.

RAS, JENIS KELAMIN DAN USIA

Predileksi tampaknya tidak ada untuk tumor filodes.

Tumor filodes muncur hampir secara eksklusif pada wanita. Laporan kasus
jarang telah dijelaskan pada pria.
Tumor filodes dapat terjadi pada segala usia; namun usia pertengahan adalah

dekade kelima kehidupan.


Beberapa fibroadenoma juvenil pada remaja dapat terlihat seperti tumor

filodes secara histologis; namun, mereka berperilaku jinak sama seperti


fibroadenoma lainnya
VI.

ETIOLOGI
Tumor filodes secara nyata berhubungan dengan fibroadenoma dalam

beberapa kasus, karena pasien dapat memiliki kedua lesi dan gambaran histologis
kedua lesi mungkin terlihat pada tumor yang sama. Namun, apakah tumor filodes
berkembang dari fibroadenoma atau keduanya berkembang bersama-sama, atau
apakah tumor filodes dapat muncul de novo, tidaklah jelas. Noguchi dan kolega

telah mempelajari pertanyaan ini dengan analisis klonal dalam tiga kasus dimana
fibroadenoma dan tumor filodes diperoleh berurutan dari pasien yang sama. Pada
masing-masing kasus, kedua tumor monoklonal dan memperlihatkan alel inaktif
yang sama. Mereka berargumen dengan meyakinkan bahwa tumor filodes
memiliki asal yang sama dengan fibroadenoma, fibroadenoma tertentu dapat
berkembang menjadi tumor filodes.
Studi menarik oleh Yamashita dkk, mengamati immunoreactive endothelin
1 (irET-1), contoh perilaku dimana ilmu pengetahuan modern menjelaskan
mekanisme yang akan dengan pasti terbukti penting dalam memahami kedua
fungsi normal payudara dan patologi, sementara memungkinkan pergeseran dalam
penekanan dari model rodentia ke studi manusia. Level jaringan irET-1 diukur
dengan ekstrak dari 4 tumor filodes dan 14 fibroadenoma.Immunoreactive
endothelin 1 dapat dibuktikan dalam semua kasus, namun levelnya jauh lebih
tinggi pada tumor filodes dibandingkan pada fibroadenoma. Endothelin 1 pada
prinsipnya merupakan vasokonstriktor kuat, namun juga memiliki banyak fungsi
lainnya. Ia menyebabkan stimulasi sederhana DNA fibroblas payudara, namun
dapat

digabungkan

dengan insulin-like

growth

factor

1 (IGF-1)

untuk

menciptakan stimulasi kuat. ET-1 tidak terdapat pada sel epitel payudara normal,
namun reseptor ET-1 spesifik terdapat pada permukaan sel stroma normal.
Reseptor ET-1 dijumpai pada permukaan sel dari sel-sel stroma tumor filodes
namun sel-selimmunoreactive ditemukan dalam sel-sel epitel tapi bukan sel-sel
stroma, memberi kesan bahwa ET-1 disintesis oleh sel epitel tumor filodes.
Dengan demikian hal tersebut menyediakan kemungkinan mekanisme parakrin
pada stimulasi pertumbuhan stroma cepat yang selalu terlihat bersama tumor
filodes.
Apa yang penting adalah bahwa tumor filodes tidak seharusnya dibingungkan
dengan sarkoma murni (tanpa elemen epitel sama sekali), untuk memiliki tingkat
lebih besar pada keganasan dan gumpalan keduanya sama-sama bisa
mengaburkan sifat jinak dasar kebanyakan tumor filodes. Imunositokemistri dan
mikroskop elektron memperlihatkan bahwa sel stroma pada kedua tumor filodes
jinak dan ganas merupakan campuran dari fibroblas dan miofibroblas. Teknikteknik ini membebaskan perbedaan dari leiomiosarkoma dan mioepitelioma, yang
dapat menyerupai tumor filodes menunjukkan reaksi yang sama sekali berbeda.

VII.

PATOFISIOLOGI

Tumor filodes merupakan neoplasma non-epitelial payudara yang paling


sering terjadi, meskipun hanya mewakili 1% dari tumor payudara. Tumor ini
memiliki tekstur halus, berbatas tajam dan biasanya bergerak secara bebas. Tumor
ini adalah tumor yang relatif besar, dengan ukuran rata-rata 5 cm. Namun, lesi
yang > 30 cm pernah dilaporkan.
VIII. PERILAKU TUMOR
Sementara tumor filoides memperlihatkan kecenderungan jelas untuk berulang
secara lokal jika dieksisi dengan batas dekat, metastasis lokal atau jauh adalah
jarang. Faktanya, tumor-tumor tersebut dinilai sebagai jinak setelah studi
histologis menyeluruh dapat diharapkan memiliki prognosis yang baik, khususnya
jika pada awalnya diterapi dengan eksisi komplit. Tumor yang secara histologi
maligna (sarkoma filoides) tidak dapat diprediksi perilakunya.
Studi pusat-tunggal dari 32 kasus memberikan indikasi perilaku yang wajar.
Tumor-tumor jinak tidak memperlihatkan rekurensi jika dieksisi komplit, namun
setengahnya (6 dari 13) yang dieksisi tak-komplit mengalami rekurensi lokal.
Tidak terdapat rekurensi yang terlihat setelah eksisi komplit pada empat batasan
dan empat tumor maligna, namun eksisi tak komplit tumor maligna mengarah
pada penyakit dinding dada tak-terkontrol.
Pada umumnya, rekurensi lokal tumor jinak tetap jinak, namun transformasi
ke malignansi dapat terjadi dan ledakan malignansi telah dilaporkan setelah 15
episode rekurensi lokal jinak.
Prognosis menyenangkan secara keseluruhan terlihat pada seri Haagensen,
dimana hanya empat dari 84 pasien yang diketahui mengalami metastase.
Sementara kita menemukan rekurensi lokal pada pasien, tak satupun yang
mengalami metastase. Seri terbaru 66 kasus dari Mayo Clinic menegaskan bahwa
yang paling berperilaku derajat-rendah, tumor non-metastasis, namun baik
evaluasi histologis maupun analisis DNA dengan aliran sitometri memberikan
penilaian perilaku yang dapat dipercaya pada tumor individual.

IX.

GAMBARAN KLINIS
Haagensen melaporkan kira-kira satu tumor filodes untuk setiap 40

fibroadenoma. Distribusi usia luas, dari 10-90 pada seri Haagensen dari 84 pasien,
namun dengan mayoritas antara 35 dan 55 tahun. Tumor bilateral sangat jarang,
meskipun sebuah kasus luar biasa dari tiga buah tumor terpisah pada jaringan
payudara ektopik aksila bilateral juga payudara normal telah dilaporkan. Tumor
filodes jarang pada pasien dibawah usia 20 tahun, ketika muncul untuk
memberikan reaksi terutama dengan cara jinak, tanpa memperhatikan corak
histologis. Juga telah dijelaskan dalam kelenjar mirip mammae di vulva, payudara
pria dan di prostat dan vesikula seminalis.
Kebanyakan tumor tumbuh dengan cepat menjadi ukuran besar sebelum
pasien datang, namun tumor-tumor tidak menetap dalam arti karsinoma besar. Hal
ini disebabkan mereka khususnya tidak invasif; besarnya tumor dapat menempati
sebagian besar payudara, atau seluruhnya, dan menimbulkan tekanan ulserasi di
kulit, namun masih memperlihatkan sejumlah mobilitas pada dinding dada.
Anamnesa

Pasien khususnya muncul denganmassapayudara keras, bergerak, berbatas


jelas, tidak lunak

Sebuahmassakecil dapat dengan cepat berkembang ukurannya dalam beberapa


minggu sebelum pasien mencari perhatian medis

Tumor jarang melibatkan kompleks puting-areola atau meng-ulserasi kulit

Pasien dengan metastase bisa muncul dengan gejala seperti dispnoe,


kelelahan, dan nyeri tulang

Pemeriksaan fisik (Salah satu skrining / screening yang penting)

Disadari adanya massa payudara keras, bergerak, berbatas-jelas, tidak lunak

Secara ganjil, cystosarcoma phylloides cenderung melibatkan payudara kiri


lebih sering dibandingkan payudara kanan

Diatas kulit mungkin terlihat tampilan licin dan cukup translusen untuk
memperlihatkan vena payudara yang mendasarinya

Temuan fisik (misal, adanya massa bergerak dengan batas jelas) mirip dengan

yang ada pada fibroadenoma


Tumor filoides umumnya bermanifestasi sebagai massa lebih besar dan

memperlihatkan pertumbuhan yang cepat


Temuan mamografi (misal, tampilan kepadatan bundar dengan batas halus)

juga serupa dengan yang terdapat fibroadenoma

Tumor maligna rekuren terlihat lebih agresif dibandingkan tumor asal

Paru merupakan tempat metastase paling sering, diikuti oleh tulang, jantung
dan hati
Gejala untuk keterlibatan metastatik dapat timbul mulai dari sesegera beberapa

bulan sampai paling lambat 12 tahun setelah terapi awal


Kebanyakan pasien dengan metastase meninggal dalam 3 tahun dari terapi

awal

Tidak terdapat pengobatan untuk metastase sistemik yang terjadi

Hitungan kasar 30% pasien dengan tumor filoides maligna meninggal karena
penyakit ini

X.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan laboratorium
Tidak ada penanda tumor hematologik atau uji darah lainnya yang bisa
digunakan untuk mendiagnosa cystosarcoma

Studi Pencitraan
Pada mammogram, tumor Phyllodes akan memiliki tepi yang berbatas jelas.
Baik mammogram ataupun USG payudara dapat membedakan secara jelas antara
fibroadenoma dan Phyllodes jinak atau tumor ganas. Jenis tumor payudara ini
biasanya tidak ditemukan di dekat microcalcifications. Sel-sel dari biopsi
jarum dapat diuji di laboratorium tapi jarang memberikan diagnosis yang jelas,
karena sel-sel dapat menyerupai karsinoma dan fibroadenoma. Pada Biopsi bedah

akan menghasilkan potongan jaringan yang akan memberikan sampel sel lebih
baik dan akan menghasilkan diagnosa yang tepat untuk sebuah tumor Phyllodes.

MRI payudara dapat membantu tindakan operasi dalam pengangkatan


jaringan tumor phyllodes. Sebuah studi membandingkan mammogram di
Italia, USG dan MRI payudara dari tumor Phyllodes melaporkan bahwa MRI
memberikan gambaran yang paling akurat dan ini membantu ahli bedah tumor
dalam menjalankan rencana operasi mereka. Bahkan jika tumor itu cukup
dekat dengan otot-otot dinding dada, payudara MRI bisa memberikan
gambaran yang lebih baik dari tumor phyllodes daripada mammogram atau
USG.

Prosedur

FNA untuk pemeriksaan sitologi biasanya tidak memadai untuk diagnosis


tumor filoides. Biopsi jarum lebih dapat dipercaya, namun masih bisa terdapat
kesalahan pengambilan sampel dan kesulitan dalam membedakan lesi dari
sebuah fibroadenoma

Biopsi payudara eksisi terbuka untuk lesi lebih kecil atau biopsi insisional
untuk lesi lebih besar adalah metode pasti untuk mendiagnosis tumor filoides

Temuan histologis
Semua tumor filoides mengandung komponen stroma yang dapat bervariasi
dalam tampilan histologis dari satu lesi ke lesi lainnya. Umumnya, tumor filoides
jinak memperlihatkan peningkatan jumlah mencolok pada fibroblas fusiformis
reguler dalam stroma.

Adakalanya, sel-sel sangat anaplastik dengan perubahan miksoid yang


diamati. Atipia seluler tingkat tinggi, dengan peningkatan selularitas stroma
dan peningkatan jumlah mitosis, hampir selalu diamati pada bentuk
maligna cystosarcoma phylloides. Secara ultra-struktural, pada tumor filoides
bentuk jinak dan ganas, nukleolus dapat mengungkapkan nukleolonema yang
bertautan kasar dan sisterna berlimpah dalam retikulum endoplasma.

XI.

DIAGNOSA BANDING

Angiosarcoma

Kanker payudara

Masalah lain yang perlu dipertimbangkan :

Juvenile fibroadenoma

Giant fibroadenoma

Inflammatory carcinoma

Sclerosing adenosis

Radial scar

Fat necrosis

Perubahan fibrokistik

Abses payudara

Adenokarsinoma

Mastitis
XII.

PENATALAKSANAAN

Usia penting dalam manajemen lesi-lesi ini. Dibawah umur 20, semuanya
harus diterapi dengan enukleasi, karena mereka hampir selalu berperilaku dalam
sikap jinak.
Sitologi aspirasi dapat memberi kesan diagnosis tumor filoides namun
histologi yang lebih tepat pada biopsi jarum inti dibutuhkan sebelum
merencanakan pengobatan.
Situasinya lain pada pasien yang lebih tua. Beberapa dokter bedah memiliki
pengalaman cukup untuk menjadi dogmatis mengenai manajemennya. Haagensen
melaporkan satu dari seri terbesar, dan merekomendasikan eksisi lokal luas
sebagai pendekatan primer pada penanganan tumor filoides jinak. Dia memiliki
angka rekurensi lokal sebesar 28% diantara 43 pasien yang ditangani dengan
eksisi lokal, dengan follow-up minimal 10 tahun. Namun hanya 3 dari rekurensi
tersebut yang menuntut mastektomi sekunder, dan tak satupun yang meninggal
akibat tumor ini. Hanya 1 dari 21 pasien yang diterapi dengan mastektomi (simpel
atau radikal) mengalami rekurensi lokal; ini adalah sarkoma filoides yang dengan
cepat menimbulkan metastasis lokal dan sistemik. Angka rekurensi lebih tinggi
untuk tumor filoides jinak dibandingkan ganas telah dilaporkan dalam sejumlah

seri, mencerminkan pendekatan bedah yang lebih sederhana untuk tumor-tumor


yang diperkirakan kurang serius.
Jelas bahwa eksisi tak-komplit merupakan penentu utama rekurensi pada lesi
jinak dan menengah. Mengapa rekurensi tinggi dilaporkan dari kebanyakan seri
sementara hal ini begitu baik diperlihatkan? Ada dua alasan utama: kegagalan
untuk mengantisipasi kemungkinan tumor filoides dan kegagalan mendefinisikan
tenik yang akan meyakinkan eksisi komplit. Yang pertama dapat dijumpai hanya
dengan kecurigaan tingkat tinggi, dan penilaian rangkap tiga pada semua massa
sebelum pembedahan. Khususnya penting untuk menghindari biopsi eksisi
sebagai prosedur diagnostik karena hampir tidak mungkin mempengaruhi batas
eksisi tegas dari rongga biopsi, dimana hal ini dilakukan sebagai prosedur primer
sementara tumor masih in situ. Untuk alasan ini, diagnosis histologis harus dibuat
dengan biopsi jarum-inti, atau setidaknya tidak ada prosedur lebih besar selain
biopsi insisi.
Eksisi makroskopik komplit, dengan usulan batas 1 cm, dapat dipastikan
dengan teknik yang tepat. Dengan teknik eksisi biasa sementara menempatkan
traksi pada massa, mudah untuk melakukan diseksi terlalu dekat ke tumor pada
beberapa titik diseksi. Cara yang dapat dipercaya untuk menghindari hal ini adalah
agar dokter bedah menempatkan jari-jari kiri pada massa, dan memotong diluar
jari, dengan traksi hanya pada jaringan payudara sekitarnya.
Untuk lesi kecil dimana diagnosis diusulkan oleh penilaian rangkap tiga atau
tampilan makroskopik (lunak, coklat, tampilan berdaging), tumor harus dieksisi
dengan batas 1-cm dari jaringan payudara normal. Jika histologinya jinak, hal ini
merupakan penatalaksanaan yang cukup, dengan eksisi quadrantic (seperempatlingkaran) untuk lesi menengah. Dimana diagnosis pertama kali dikenali pada
pemeriksaan histologi dari spesimen biopsi eksisi, eksisi quadrantic jaringan parut
direkomendasikan dengan maksud memastikan bersihan lokal yang memenuhi
syarat.
Untuk lesi besar dan lesi rekuren, pembersihan yang baik pasti melibatkan
mastektomi mendekati-total dan kami lebih menyukai mastektomi sederhana,
dengan rekonstruksi menengah yang seharusnya diharapkan pasien. Terdapat
beberapa bukti meningkatnya insiden karsinoma payudara yang berhubungan,
serentak atau selanjutnya, pada pasien dengan tumor filoides dan hal ini

merupakan alasan tambahan untuk follow-up jangka panjang yang teliti terhadap
pasien-pasien yang demikian.
Terapi Bedah
Pada kebanyakan kasus cystosarcoma phylloides, melakukan eksisi luas
normal, dengan lingkaran jaringan normal. Tidak terdapat aturan tentang besarnya
batas. Namun, batas 2 cm untuk tumor kecil (< 5 cm) dan batas 5 cm untuk tumor
besar (> 5 cm) telah dianjurkan.
Lesi tidak seharusnya dikupas keluar, seperti yang mungkin dilakukan
dengan fibroadenoma, atau angka rekurensi tanpa dapat diterima jadi meningkat.

Jika tumor terhadap rasio payudara cukup tinggi dilakukan eksisi segmental,
mastektomi total, dengan atau tanpa rekonstruksi, adalah sebuah alternatif.

Prosedur yang lebih radikal tidak secara umum dibenarkan.

Melakukan diseksi nodus limfatikus aksila hanya untuk nodus yang dicurigai
secara klinis. Namun, sebenarnya semua nodus ini reaktif dan tidak
mengandung sel-sel maligna.
XIII. KOMPLIKASI
Seperti kebanyakan operasi payudara, komplikasi paska operasi dari
penatalaksanaan bedah tumor filoides termasuk berikut ini:

Infeksi

Pembentukan seroma

Rekurensi lokal dan/atau jauh


PROGNOSIS

Meskipun cystosarcoma phylloides dianggap sebagai tumor jinak secara klinis,


kemungkinan untuk rekurensi lokal setelah eksisi selalu ada, khususnya dengan
lesi yang memperlihatkan histologi maligna. Tumor setelah pengobatan awal
dengan eksisi lokal luas, yang rekuren secara lokal idealnya diterapi dengan
mastektomi total.

Penyakit metastase khususnya diamati pada paru, mediastinum dan tulang.

Sajian klinis beragam

Jika tumor jinak, prognosis jangka panjang baik sekali mengikuti eksisi

lokal yang memadai


Jika tumor berulang recara lokal setelah eksisi, maka selanjutnya

dilakukan eksisi lokal atau mastektomi total khususnya kuratif

BAB IV
DISKUSI KASUS
Ny. M 42 tahun, datang dengan keluhan benjolan pada payudara kanan,
benjolan dirasa keras bisa digerakkan dan batasnya jelas tetapi tidak terdapat nyeri
sejaak 5 bulan yang lalu. Benjolan terus membesar dari seperti biji salak sampai
dengan buah melon kecil dalam kurun waktu 5 bulan. Dengan anamnesis yang didapt
dapat kita simpulkan bahwa ini pyllodes tumor karena pada teori kita ketahui bahwa
pyllodes tumor perjalan perkembangan massanya bertumbuh sangat cepat membesar,
pada pasien ini dalam 5 bulan dapat bertumbuh dari sebiji salak hingga menjadi
sebuah melon. Pada pasien ini juga tidak terdapat nyeri maupun sekret yang keluar
dari putingnya. Apabila ditemukan kedua itu biasanya kita dapat DD dengan
Fibroadenoma. Pada inspeksi harus dlihat Dasar teori PF:
1. Inspeksi: (Berdiri di depan pasien)
Pasien berposisi : Tangan di KEPALA, Tangan di PINGGANG, Badan
CONDONG ke DEPAN (ditarik) 5S (Size, Symmetry, Shape, Skin dan
Scars)
o Ukuran dibandingkan keduanya : simetris?
o Bentuk
o Kontour: dekok (dimpling), benjolan?
o Kulit: peau dorange, rash, ulcer?
o Skar: recent surgery?
o Nipple: discharge (konsistensi & warna), retraksi
2. Palpasi:
a. KGB (Pasien duduk) Permukaan (reguar/irregular), konsistensi
-

(Lunak/keras) dan Terfiksir atau tidak


Axilla Cara salaman
Infraclavicula
Supraclavicula
Parasternal

b. Breast Pasien tiduran (Tangan ipsilateral (yang diperiksa) di atas


kepala, Taro ganjelan/bantal di bawah scapula ipsilateral) START
dari Payudara Sehat (Bukan dikeluhkan), palpasi dengan buku
jari

jari,

tangan)

dgn

metoda

circular/clock

rotation(wedges)/Linear (u/ linear: periksa breast lateral tangan di


-

atas kepala, breast medial tangan di atas bahu)


Radial atau linear motion
Massa ?
Konsistensi ?
Permukaan rata atau tidak
Mobile ? Terfikasi ?
Tail of spence teraba / Jepit nipple Sakit/-, discharge, darah, konsistensi, banyak/dikit

Pada pasien :
Inspeksi :
Posisi duduk dengan tangan di kepala, tangan di pinggang, dan badan condong
ke depan: (saat sebelum dilakukan Operasi)

Tampak massa di mammae dekstra dengan ukuran 28cm x

15cm batas tegas, tepi (regular/irregular)


Tampak distensi vena di regio superomedial mammae

dekstra
retraksi kulit (-)
peau dorange (-)
ulkus (-)
dekok (-)
sekret putting (-)

Teraba massa di mammae dekstra dengan ukuran 28 cm x

Palpasi :
15 cm konsistensi keras di kuadran laterosuperior
lateroinferior medioinferior dan di region mediosuperior,

tidak terfiksir, permukaan berbenjol-benjol, nyeri (-)


Tidak teraba massa pada mammae sinistra
Tidak terdapat pembesaran KGB axilla, infraklavikula,
supraklavikula, parasternal

Ada yg namanya triple diagnostic:


1. Pemeriksaan fisik
2. Mammografi / USG

3. Biopsy (fine needle aspiration biopsy, core biopsy, excisional


biopsy, sentinel node biopsy)
-. FNAB: bisa dipandu USG, tidak bisa menilai grade tumor
-. Core biopsy: bisa dipandu USG, bisa menentukan tumor invasive atau tidak
serta grade tumor
-. Excisional biopsy: angkat seluruh massa tumor dan menyertakan sedikit
jaringan sehat di sekitar massa tumor
-. Sentinel node biopsy: menentukan keterlibatan KGB aksila dan parasternal
dengan cara pemetaan limfatik, manfaatnya staging nodus, penentuan/prediksi
terapi adjuvant sistemik, penentuan tindakan diseksi regional; jika (-) tidak
usah diseksi
Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan peunjang USG dengan kesan Cystoma
Pyloider kanan.
Lebih jelasnya kita dapat melihat melalui pemeriksaan mamografi karena
usia >40 tahun jaringan lemak sudah berkurang jadi yang
dinilai adalah densitas dan kalsifikasi.
Untuk penatalaksanannya
1. Classic radical mastectomy: yang diangkat seluruh kelenjar payudara,
otot pektoralis mayor minor, KGB axilla level I, II, III
2. Modified radical mastectomy: yang diangkat seluruh kelenjar
payudara, tapi mempertahankan otot pektoralis mayor minor shingga
KGB aksila yg terangkat hanya level I dan II
3. Simple mastectomy: seluruh kelenjar payudara saja

DAFTAR PUSTAKA
1.

Ramli muchlis. KUMPULAN KULIAH ILMU BEDAH.1995.Jakarta : Binarupa


aksara.

2.

Jong de wim. BUKU AJAR ILMU BEDAH EDISI 2.2004. Jakarta : EGC.

3.

Manning. MAJOR DIAGNOSIS FISIK EDISI IX. 1996. Jakarta : EGC.

4.

Schwartz. INTISARI PRINSIP-PRINSIP ILMU BEDAH EDISI 6. 2000.


Jakarta : EGC.

5. Crum PC, Lester SC, Cotran RS. The Female Genital System and Breast.
Dalam : Kumar V, Cotran RS, Robbins SL, editor. Robbins Basic Pathology.
7th ed. Philadelphia: Saunders; 2003. Hal 710.

6. Bland KI, Beenken SW, Copeland III EM. The Breast. Dalam: Brunicardi FC,
Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE, editor.
Schwartzs Principles of Surgery. 8th ed. New York: McGraw-Hill; 2005. Hal
494.

7. Verma S, Singh RK, Rai A, Pandey CP, Singh M, Mohan N. Extent of surgery
in the management of phyllodes tumor of the breast: A retrospective
multicenter study from India. J Can Res Ther [serial online] 2010 [cited 2011
Oct

2];6:511-5.

Available

from: http://www.cancerjournal.net/text.asp?

2010/6/4/511/77085.

8. Non-epithelial Noeplasm of the Breast. Dalam : Krueres Breast Surgical


Oncology. New York : McGraw-Hill; 2010. Hal 251-4.