Anda di halaman 1dari 5

Testis

Embrio dikatakan secara genetik adalah pria apabila sel germinal primordial
membawa kromosom seks komplek XY. Di bawah pengaruh dari gen SRY pada kromosom
Y yang mengkode testis determining factor, korda seks primitif berkembang secara
proliferatif dan masuk lebih dalam ke medula untuk membentuk testis atau ke dalam korda
medula. Untuk menuju bagian hilus dari kelenjar, korda berpisah ke bagian untaian sel
kecil yang nantinya akan menjadi tubulus dari rete testis. Selama perkembangan yang lebih
lanjut, lapisan padat dari jaringan konektif fibrosa yaitu tunica albugenia memisahkan
korda testis dari permukaan epitel

Gambar 2.5 A. Testis 8 minggu, B. Testis dan duktus genital 4 bulan

Skema1. Pengaruh sel germinal primordial pada gonad indiferen

Pada testis, sel-sel epitel coelom yang tumbuh di dalamnya (sel pra-sertoli),
membentuk korda yang letaknya sedemikian dekat satu sama lain dan saling terjalin satu
dengan yang lain (korda seksual, duktuli pluger) yang merupakan tempat tinggal sel
germinal dan terhambatnya diferensiasi sel tersebut lebih lanjut oleh faktor-faktor
inhibitorik. Di dalam mesenchyme yang tumbuh dari mesonefros muncul sel yang lebih
besar dan memproduksi hormon, yaitu sel Leydig janin yang sudah memproduksi
testosteron dari minggu ke-8 yang penting untuk kelanjutan perkembangan seksual yang
spesifik pada janin
Pada minggu ke-10, anyaman korda seksual mulai memudar. Struktur tersebut
membentuk tubulus seminiferus yang independen dan sangat berliku-liku yang
memisahkan korteks dari epitel benih melalui lapisan jaringan ikat kasar (tunika
albugenia). Kini sel-sel germinal tidak dapat lagi mencapai testis. Sisa sel-sel yang tersebar
di korteks mulai berdegenerasi. Oleh karena saluran kecil sperma (tubulus seminiferus)
berakhir buntu dan simpai testis menebal melalui tunica albugenia, pengeluaran sel

germinal hanya dapat terjadi ke arah dalam. Agar penyaluran sperma dapat terjadi, terjadi
diferensiasi duktus mesonefros yang berbatasan dengan testis menjadi duktus eferens dan
bersatu di atas rete testisdengan tubulus seminiferus. Di bawah pengaruh testosteron,
duktus Wolff di daerah gonad menjadi saluran epididimis dan ke arah distal menjadi
saluran sperma (duktus deferens). Dari minggu ke-20 pada dasarnya testis sudah mencapai
tahap diferensiasi tersebut, yang setelah lahir tetap berlangsung sampai pematangan
seksual (pubertas) terjadi (Rohen & Drecoll, 2003).

Skema 2. Penentuan jenis kelamin pada janin

Perkembangan Duktus Genetalia Pada Pria


Genetalia embrio masih bersifat indiferen sampai minggu ke-7. Lalu dalam pengaruh
hormon estrogen yang dibentuk di dalam blastema gonad, duktus Muller terus berkembang

menjadi tuba fallopii, uterus, dan bagian proksimal vagina pada janin wanita, sedangkan
pada saat yang sama mesonefros dan duktus Wolff mengalami degenerasi.

Gambar 2.9 A. Duktus genital pada janin laki-laki 4 bulan, B. Duktus genital setelah
desensus testis
Pada janin laki-laki, terjadi hal yang sebaliknya, yaitu duktus Muller mengalami
degenerasi dalam pengaruh MIS, sedangkan dalam pengaruh testosteron, mesonefros di
daerah bakal gonad terus berdiferensiasimenjadi epididimis dan duktus Wolff menjadi vas
deferens (duktus deferens). Pada kedua jenis kelamin, bakal gonad mengalami suatu
penurunan (desensus) ketika ligamen genetal bertindak sebagai penuntun. Gonad wanita
pada proses penurunan hanya mencapai pelvis minor yang juga berada di rongga perut.
Testis mengembara lebih jauh melalui kanalis inguinalis sampai ke skrotum (desensus
testis) sehingga ligamen gonadal ridge (gubernakulum testis) memendek dan testis tertarik
ke bawah melalui kanalis inguinalis dari duktus Muller hanya tersisa suatu vesikel pada
puncak atas testis, begitu juga pada bagian awal uretra, yaitu utriculus prostaticus.

Degenerasi duktus Muller diinduksi oleh MIS atau AMH. Dari bagian akhir duktus Wolff
yang kelak menjadi vas deferens, vesicula seminalis tumbuh dengan salurannya yang
disebut duktus ejakulatorius dan bermuara ke dalam uretra.

Gambar 2.10 a) perkembangan organ


genetalia yang indiferen, b) perkembangan
organ genetalia laki-laki

Rohen, Johanes W, Drecoll, Elke Lutjen. 2003. Embriologi Fungsional, Perkembangan Sistem
Fungsi Organ Manusia. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Langman, Sadler T. W. 2009. Embriologi kedokteran. Edisi 10. Jakarta: EGC