Anda di halaman 1dari 7

STRUMA

A. Definisi
Struma merupakan suatu pembesaran kelenjar thyroid.
B. Klasifikasi
Secara umum stroma dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:

Struma non-toksik : struma tanpa disertai hipertiroidisme.


o Difusa : endemic goiter, gravida
o Nodusa : neoplasma

Struma toksik : struma yang disertai hipertiroidisme


o Difusa : Grave, Tirotoksikosis primer.
o Nodusa : Tirotoksikosis sekunder.

C. Etiologi
1. Defisiensi Iodium, seperti pada endemic goiter, gravida.
2. Autoimun : Tiroiditas, Hashimoto.
3. Defisiensi enzyme kongenital : Dyshormonogenetis Goiter.
4. Idiopatik : Struma riedel de Querveins, Grave, Neoplasma.

Penyebab struma nodusa non toksik bermacam-macam. Pada setiap orang dapat
dijumpai massa dimana pertumbuhan kebutuhan terhadap tiroksin bertambah,
terutama pada masa pertumbuhan, pubertas, menstruasi, kehamilan, laktasi,
menopause, infeksi dan stress lain. Pada masa-masa tersebut dapat ditemui
hiperplasi dan involusi kelenjar tiroid. Perubahan ini dapat menimbulkan
nodularitas kelenjar tiroid serta kelainan arsitektur yang dapat berlanjut dengan
berkurangnya aliran darah di daerah tersebut sehingga terjadi iskemia.

Adapun penyebab struma difusa toksik, walaupun etiologinya tidak diketahui


tampaknya terdapat peran antibody terhadap reseptor TSH yang menyebabkan
peningkatan produksi tiroid. Penyakit ini ditandai dengan peninggian
penyerapan yodium radioaktif oleh kelenjar tiroid.

D. Manifestasi klinik
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan, maka tanda dan gejala pasien
struma adalah :
Status Generalis (umum)
o Tekanan darah meningkat (systole)
o Nadi meningkat
o Mata : - Exophtalamus
- Stellwag sign : jarang berkedip
- Von Graefe sign : palpebra mengikuti bulbus okuli waktu
melihat ke bawah.
- Morbius sign : sukar konvergensi
- Jeffroy sign : tak dapat mengerutkan dahi.
- Rossenbach sign : tremor palpebra jika mata ditutup.
o Hipertoni simpatis : kulit basah dan dingin, tremor
o Jantung : takikardi.
Status Lokalis : Regio Colli Anterior.
o Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, bergerak waktu menelan.
o Palpasi : - permukaan, suhu
- Batas atas----- kartilago tiroid
- Batas bawah --- incisura jugularis
- Batas medial --- garis tengah leher
- Batas lateral --- m.sternokleidomastoid.
Struma kistik
o Mengenai 1 lobus
o Bulat, batas tegas, permukaan licin, sebesar kepalan.
o Kadang multilobularis.
o Fluktuasi (+)
Struma Nodusa
o Batas jelas
o Konsistensi : Kenyal sampai keras

o Bila keras curiga neoplasma, umumnya berupa adenocarsinoma


tiroidea
Struma Difusa
o Batas tidak jelas
o Konsistensi biasanya kenyal, lebih kearah lembek.
Struma vaskulosa
o Tampak pembuluh darah (biasanya arteri), berdenyut
o Auskultasi : Bruit pada neoplasma dan struma vaskulosa
o Kelenjar getah bening : Paratracheal Jugular Vein
E. Diagnosa
1. Anamnesa

Usia dan jenis kelamin

Benjolan pada leher, lama dan pembesarannya.

Gangguan menelan, suara serak (gejala penekanan), nyeri.

Riwayat radiasi di daerah leher dan kepala.

Asal/tempat tinggal.

Riwayat keluarga

Struma toksik : kurus meski banyak makan, irritable, keringat banyak,


nervous, palpitasi, tidak tahan udara panas, hipertoni simpatikus (kulit basah,
dingin dan tremor halus).

Struma non toksik : gemuk, malas dan banyak tidur, ganggun pertumbuhan.

2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan penunjang

Scanning tiroid
- Presentasi uptake dan I131 yang didistribusikan tiroid.
- Dari uptake dapat ditentukan fungsi tiroid
- Uptake normal, 15-40% dalam 24 jam.
- Hot area : uptake > normal, jarang pada neoplasma
Misal pada : struma adenomatosa, adenoma toksik, radang neoplasma.
- Cold area : uptake < normal, sering pada neoplasma.

Cold area curiga ganas jika :moth eaten appearance, pada pria usia
tua/anak-anak.
Contoh : kista, hematoma/perdarahan, radang neoplasma.

Ultrasonografi : untuk membedakan kelainan kistik/solid (neoplasma


biasanya solid).

Radiologik
Foto leher, foto soft-tissue, foto thorak, bone scanning.

Fungsi tiroid
- BMR : (0,75 x N) + (0,74 + IN) 72%
- PB I mendekati kadar hormone tiroid, normal 4-8 mg%
- Serum kolesterol meningkat pada hipertiroid (N: 150-300 mg%).
- Free tiroksin index : T3/T4
- Hitung kadar FT4, TSH, Tiroglobulin, dan Calsitonin bila perlu.

Potong beku

Needle biopsy
- Large Needle Cutting Biopsy : jarum besar, sering perdarahan.
- Fine Needle Aspiration Biopsy : jarum no 22.

Termografi
Yaitu suatu metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada
suatu tempat dengan memakai dynamic telethermografi. Pemeriksaan khusus
pada curiga keganasan. Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas
dengan sekitarnya > 0,9C dan dingin apabila < 0,9C. Pada penelitian Alves
dkk didapatkan bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas.

Petanda tumor
Yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg) serum. Kadar Tg serum
normal antara 1,5-3,0 mg/ml. Pada kelainan jinak rata-rata 323 ng/ml dan
pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.

F. Penatalaksanaan Medis
Modalitas terapi :
1. operatif.
2. Radiasi.
3. Kemoterapi.

Konservatif
a. Indikasi: - toleransi operasi tidak baik
-

struma yang residif

pasien usia lanjut.

b. Struma non-toksik : Iodium, ekstrak tiroid 30-20 mg/dl


c. Struma toksik : Bed rest, lugol 5-10 mg 3xsehari selama 14 hari, PTU 100200 mg 3xsehari, periksa leukosit.

Operatif
a. Indikasi :

- curiga/pasti ganas
- Timbul tanda-tanda desakan trachea/esophagus.
- Struma toksik
- Struma besar (kosmetik)
- Struma retrosternal
- Preventif

b. Strumektomi
Dilakukan pada stroma yang besar dan menyebabkan keluhan mekanis.
Strumektomi juga diindikasikan terhadap kista tiroid yang tidak mengecil
setelah dilakukan biopsy aspirasi jarum halus. Juga pada nodul panas dengan
diameter > 2,5 mm karena dikhawatirkan mudah timbul hiperoidisme.
c. Terapi lain :
o L- tiroksin selama 4-5 bulan
Diberikan apabila nodul hangat lalu dilakukan pemeriksaan sidik tiroid
ulang. Bila nodul mengecil maka terapi diteruskan namun apabila tidak
mengecil dilakukan biopsy aspirasi/operasi.
o Biopsi aspirasi jarum halus
Dilakukan pada kista tiroid hingga nodul <10 cm
G. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Cemas b.d prosedur pengobatan.
2. Nyeri (akut) b.d kerusakan jaringan (prosedur operatif)
3. Resiko infeksi
4. Gangguan menelan b.d obstruksi partial mekanik
5. Kurang pengetahuan b.d tidak mengenal sumber-sumber informasi.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny R


DENGAN PRE DAN POST ISTMOLUBEKTOMI
DI BANGSAL D RSUP dr SOERADJI
TIRTONEGORO KLATEN
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat
Memperoleh Gelar Profesi Ners
Universitas Gadjah Mada

OLEH:
FIKA NUR INDRIASARI
00/137910/KU/09769

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA
2005