Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelumnya kita harus mengetahui arti dari proyek .Dimana proyek adalah
bentuk usaha dalam mencapai tujuan yang ditentukan dan dibatasi oleh waktu dan
juga sumber daya yang terbatas. Sehingga garis besar dari proyek konstruksi, yaitu
suatu upaya untuk mendapatkan hasil yang diubah menjadi bangunan atau
infrastruktur. Infrastruktur atau bangunan ini mencakup beberapa pekerjaan utama
yang termasuk di dalamnya bidang teknik sipil dan arsitektur/designer (perencana),
juga dapat melibatkan disiplin ilmu pengetahuan lainnya seperti akutansi/keuangan,
teknik mesin, teknik industri dan elektro.
Lebih dalam dari Manajemen Proyek Konstruksi (CPM), suatu proses
penerapan fungsi/kegunaan manajemen seperti perencanaan, pelaksanaan dan
penerapan.Dimana berjalan secara sistimatis pada setiap bagian-bagian tersebut yang
terdapat pada proyek, dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada secara efisien
dan efektif agar tercapai tujuan proyek tersebut dengan benar.
Manajemen Konstruksi membawahi mutu fisik dari konstruksi, biaya dan
waktu. Dimana manajemen tenaga kerja/sumber daya manusia dan manjemen
material lebih ditekankan dan digunakan. Karena pada Manajemen Konstruksi, dua
puluh persen dari manajemen perencanaan berperan dan sisanya, yaitu manajemen
pelaksanaan termasuk didalamnya

pengendalian biaya dan waktu proyek

mendapatkan bagian yang lebih besar.

1.2 Rumusan Masalah


Menelisik dari latar belakang yang tertera di atas maka dapat diperoleh
masalah-masalah yang perlu akan pembahasan dan berkesinambungan sehingga
masalahnya adalah sebagai berikut:
Bagaimanakah makna sebenarnya dari menejemen proyek konstruksi itu sendiri?
Seperti apakah tujuan dari manajemen proyek dalam pelaksanaan manajemen
konstruksi?
Apa saja pembentuk-pembentuk dari manajemen proyek mengingat peranaannya
sebagai menejemen konstruksi?
Seperti apakah peranan manajemen konstruksi pada tahapan proyek?
Seperti apakah tahapan siklus proyek konstruksi?
Seperti apakah karakteristik siklus proyek dalam manajemen konstruksi?
1.3 Tujuan
Adapun beberapa tujuan dari rumusan masalah di atas yang membahas
mengenai menejemen proyek yakni :
Mengetahui makna dari manajemen proyek konstruksi itu sendiri
Mengetahui apakah tujuan sebenarnya dari menejemen proyek dalam pelaksanaan
manajemen konstruksi
Mengerti akan apa saja pembentuk-pembentuk dari manajemen proyek mengingat
peranaannya sebagai manajemen konstruksi?
Mengetahui peranan manajemen konstruksi pada tahapan proyek
Mengetahui seperti apakah tahapan siklus proyek konstruksi
Mengetahui apakah karakteristik siklus proyek dalam manajemen konstruksi.

BAB II
2

PEMBAHASAN
2.1

Pengertian Manajemen, Proyek dan Manajemen Proyek.

2.1.1

Pengertian Manajemen Konstruksi


Manajemen konstruksi adalah bagaimana sumber daya yang terlibat dalam

proyek dapat diaplikasikan secara tepat. Sumber daya dalam proyek konstruksi
dikelompokkan dalam 5 m (manpower, material, mechines, money and method).
Manajemen memang mempunyai pengertian lebih luas dari pada itu, tetapi
definisi tersebut memberikan kenyataan bahwa manajemen berutama mengelola
sumber daya manusia, bukan material atau finansial. Selain manajemen
mencakup

fungsi

perencanaan

(penetapan

apa

yang

akan

dilakukan),

pengorganisasian (perancangan dan penugasan kelompok kerja), penyusun


personalia (penarikan, seleksi, pengembangan pemberian kompensasi dan penilaian
prestasi kerja), pengarahan (motivasai, kepemimpinan, integritas, dan pengelolaan
konflik) dan pengawasan.
Pengertian manajemen begitu luas, sehingga dalam kenyataannya tidak ada
definisi yang digunakan secara konsisten oleh semua orang. Seperti yang
dikemukakan oleh Stoner sebagai berikut :
Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya
organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Dari definisi di atas terlihat bahwa Stoner telah menggunakan kata proses
bukan seni. Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti bahwa hal itu
adalah kemampuan dan keterampilan pribadi. Suatu proses adalah cara sistematis
untuk melakukan pekerjaan. Manajemen didefinisikan sebagai proses karena semua
manajer, tanpa memperdulikan keahlian atau keterampilan khusus mereka. Harus
melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai
tujuan yang mereka inginkan. Proses tersebut terdiri dari kegiatan-kegiatan
manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.
2.1.2

Pengertian Proyek
3

Proyek merupakan suatu tugas yang perlu dirumuskan untuk mencapai sasaran
yang dinyatakan secara kongkrit serta harus diselesaikan dalam suatu periode
tertentu dengan menggunakan tenaga manusia dan alat-alat yang terbatas dan begitu
kompleks sehingga dibutuhkan pengelolaan dan kerjasama yang berbeda dari yang
biasanya digunakan.
Menurut DI Cleland dan Wr. King (1987), proyek merupakan gabungan dari
berbagai sumber daya yang dihimpun dalam organisasi sementara untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.
Selain itu proyek juga bertujuan menghasilkan produk atau kerja akhir tertentu.
Dalam proses mewujudkan produk tersebut di atas, ditentukan jumlah biaya, jadwal,
serta kriteria mutu. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya
tugas. Titik awal dan titik akhir ditentukan dengan jelas
Macam-Macam Proyek :
Menurut R.D Achibalt (1976), macam-macam proyek adalah sebagai berikut :
a. Proyek Kapital (Modal). Meliputi : pembebasan tanah, pembelian material dan
peralatan, desain mesin, dan kostruksi guna pembangunan instalasi pabrik baru.
b. Proyek pengembangan produk baru adalah kegiatan untuk menciptakan produk
baru yang biasanya merupakan gabungan antara proyek kapital dan proyek riset
dan pengembangan. Contoh : penemuan alat elektronik karaoke.
c. Proyek penelitian dan pengembangan berupa kegiatan untuk melakukan penelitian
dengan sasaran yang ditentukan.
d. Proyek sistem informasi adalah kegiatan yang sifatnya spesifik dengan
mempergunakan alat-alat pemrosesan data (data processing personal dan alat-alat
lainnya).
e. Proyek yang berkaitan dengan manajemen : perusahaan merancang reorganisasi,
perusahaan

merancang

program

efisiensi,

dan

penghematan

merancang

diversifikasi.

2.1.3

Manajemen Proyek
4

Manajemen proyek merupakan suatu usaha merencanakan, mengorganisasi,


mengarahkan, mengkoordinasi, dan mengawasi kegiatan dalam proyek sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan jadwal waktu dan anggaran yang telah ditetapkan. Suatu
pekerjaan rutin biasanya berlangsung secara kontinu, berulang-ulang dan berorientasi
ke proses. Sebagai suatu proses yang terus menerus, pekerjaan yang rutin tidak
dianggap suatu proyek atau manajemen proyek adalah suatu cara mengelola,
mengarahkan, dan mengkoordinasikan sumber daya (manusia/material)disaat
mulainya sebuah proyek hingga akhir untuk mencapai suatu tujuan, yang dibatasi
oleh biaya, waktu, dan kualitas untuk mencapai kepuasan.
Pengelola dalam sebuah proyek disebut sebagai Proyek Manager (PM), Proyek
Manager bertanggung jawab untuk mengatur dan mengawasi semua kegiatan
pelaksanaan proyek, agar sesuai dengan standart kualitas, biaya dan waktu. Dan
tentunya selalu bertanggung jawab untuk selalu berkomunikasi dengan tim, atasan
(owner), dan pelanggan (user). Maksudnya manajer harus mampu memberikan
contoh tehnik, mampu mengambil keputusan yang tepat, dan pemimpin yang dapat
memberikan informasi berupa laporan kepada atasan.
Manfaat manajemen proyek:
a. Mengidentifikasi fungsi tanggung jawab
b. Meminimalkan tuntutan pelaporan rutin
c. Mengidentifikasi batas waktu untuk penjadwalan
d. Mengidentifikasi metode analisa peramalan
e. Mengukur prestasi terhadap rencana
f. Mengidentifikasi masalah dini & tindakan perbaikan
g. Meningkatkan kemampuan estimasi untuk rencana
h. Mengetahui jika sasaran tidak dapat dicapai/terlampaui

2.1.3.1 Konsep Manajemen Proyek


5

Manajemen proyek sistem informasi ditekankan pada tiga faktor, yaitu :


manusia, masalah dan proses. Dalam pekerjaan sistem informasi faktor manusia
sangat berperan penting dalam suksesnya manajemen proyek. Pentingnya faktor
manusia dinyatakan dalam model kematangan kemampuan manajement manusia (a
people management capability maturity model/ PM-CMM) yang berfungsi untuk
meningkatkan kesiapan organisasi perangkat lunak (sistem informasi) dalam
menyelesaikan masalah dengan melakukan kegiatan menerima, memilih, kinerja
manajemen, pelatihan, kompensasi, pengembangan karier, organisasi dan rancangan
kerja serta pengembangan tim.
2.1.3.2 Dasar-Dasar Organisasional
Organisasi adalah sistem yang saling mempengaruhi dan saling bekerja sama
antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam suatu kelompok untuk
mencapai suatu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama. Organisasi merupakan
sistem maka terdiri dari beberapa elemen yaitu :
a. orang, dalam organisasi harus ada sekelompok orang yang bekerja dan salah
satunya ada yang memimpin organisasi tersebut.
b. tujuan, dalam organisasi harus ada tujuan yang harus dicapai, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
c. posisi, setiap orang yang ada dalam suatu organisasi akan menempati posisi atau
kedudukannya masing-masing.
d. pekerjaan, setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut mempunyai pekerjaan
(job) masing-masing sesuai dengan posisinya.
e. teknologi, untuk mencapai tujuan organisasi membutuhkan teknologi untuk
membantu dalam pengolahan data menjadi suatu informasi.
f. struktur, struktur organisasi merupakan pola yang mengatur pelaksanaan
pekerjaan dan hubungan kerja sama antar setiap orang yang ada dalam organisasi
tersebut.
g. lingkungan luar, merupakan elemen yang sangat penting dan akan mempengaruhi
keberhasilan suatu organisasi, misalnya adanya kebijakan pemerintah tentang
organisasi.
6

Prinsip-prinsip organisasi adalah nilai-nilai yang digunakan sebagai landasan


kerja bagi setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut untuk mencapai
keberhasilan tujuan yang telah disepakati. Prinsip-prinsip yang ada dalam organisasi
meliputi :
a. Tujuan organisasi yang jelas
b. Tugas yang dilakukan harus jelas
c. Pembagian tugas yang adil
d. Penempatan posisi yang tepat
e. Adanya koordinasi dan integrasi

2.2

Tujuan dari Manajemen Proyek dalam Pelaksanaannya


Tujuan Manajemen Konstruksi adalah mengelola fungsi manajemen atau
mengatur pelaksanaan pembangunan sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil
optimal sesuai dengan persyaratan (spesification) untuk keperluan pencapaian tujuan
ini, perlu diperhatikan pula mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan
waktu pelaksanaan Dalam rangka pencapaian hasil ini selalu diusahakan pelaksanaan
pengawasan mutu (Quality Control), pengawasan biaya (Cost Control) dan
pengawasan waktu pelaksanaan (Time Control).
Penerapan konsep manajemen konstruksi yang baik adalah mulai tahap
perencanaan, namun dapat juga pada tahap-tahap lain sesuai dengan tujuan dan
kondisi proyek tersebut sehingga konsep MK dapat diterapkan pada tahap- tahap
proyek sebagai berikut :
a. Manajemen Konstruksi dilaksanakan pada seluruh tahapan proyek. Pengelolaan
proyek dengan sistem MK, disini mencakup pengelolaan teknis operasional
proyek, dalam bentuk masukan-masukan dan atau keputusan yang berkaitan
dengan teknis operasional proyek konstruksi, yang mencakup seluruh tahapan
proyek, mulai dari persiapan, perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan
penyerahan proyek.

b. Tim Manajemen Konstruksi sudah berperan sejak awal disain, pelelangan dan
pelaksanaan proyek selesai, setelah suatu proyek dinyatakan layak mulai dari
tahap disain.
c. Tim Manajemen Konstruksi akan memberikan masukan dan atau keputusan dalam
penyempurnaan disain sampai proyek selesai, apabila manajemen konstruksi
dilaksanakan setelah tahap disain
d. Manajemen Konstruksi berfungsi sebagai koordinator pengelolaan pelaksanaan
dan melaksanakan fungsi pengendalian atau pengawasan, apabila manajemen
konstruksi dilaksanakan mulai tahap pelaksanaan dengan menekankan pemisahan
kontrak-kontrak pelaksanaan untuk kontraktor.
2.3 Pembentuk Manajemen Proyek
Komponen-komponen sistem yang berupa unsur atau subsistem terkait satu
dengan yang lain dalam suatu rangkaian yang membentuk sistem fungsi dan
efektifitas sistem dalam usaha mencapai tujuannya tergantung dari ketepatan susunan
rangkaian atau struktur terhadap tujuan yang telah ditentukan.
a. Bersifat Dinamis
Sistem menunjukan sifat yang dinamis, dengan prilaku tertentu. Prilaku sistem
umumnya dapat diamati pada caranya mengkonversikan masukkan (input)
menjadi hasil (output).
b. Sistem Terpadu Lebih Besar Daripada Jumlah Komponen-komponennya
Bila elemen atau bagian tersebut tersusun atau terorganisir secara benar, maka
akan terjalin satu sistem terpadu yang lebih besar dari pada jumlah bagiannya.
c. Mempunyai Arti yang Berbeda
Satu sistem yang sama mungkin dipandang atau diartikan berbeda, tergantung
siapa yang mengamatinya dan untuk kepentingan apa.
d. Mempunyai Sasaran yang Jelas
Salah satu tanda keberadaan sistem adalah adanya tujuan atau sasaran yang jelas.
Umumnya identifikasi tujuan merupakan langkah awal untuk mengetahui perilaku
suatu sistem dan bagiannya.
e. Mempunyai Keterbatasan
8

Disebabkan oleh faktor luar dan dalam. Faktor luar berupa hambatan dari
lingkungan, sedangkan faktor dari dalam adalah keterbatasan sumber daya.
2.4

Peranan Manajemen Konstruksi pada Tahapan Proyek

2.4.1 Agency Construction Manajement (ACM)


Pada sistim ini konsultan manajemen konstruksi mendapat tugas dari pihak
pemilik dan berfungsi sebagai koordinator "penghubung" antara perencana dan
kontraktor. Konsultan MK dapat mulai dilibatkan mulai dari fase perencanaan tetapi
tidak menjamin waktu penyelesaian proyek, biaya total serta mutu bangunan. Pihak
pemilik mengadakan ikatan kontrak langsung dengan beberapa kontraktor sesuai
dengan paket-paket pekerjaan yang telah disiapkan.
2.4.2

Extended Service Construction Manajemen (ESCM)


Perencana dan pelaksana/main kontraktor dapat memberikan jasa Construction

Management. Pemilik dapat mengadakan kontrak langsung dengan sub kontraktor.


2.4.3

Owner Construction Management (OCM)


Dalam hal ini pemilik mengembangkan bagian manajemen konstruksi

profesional yang bertanggungjawab terhadap manajemen proyek yang dilaksanakan


2.4.4

Guaranted Maximum Price Construction Management (GMPCM)


Konsultan ini bertindak lebih kearah kontraktor umum daripada sebagai wakil

pemilik. Disini konsultan GMPCM tidak melakukan pekerjaan konstruksi tetapi


bertanggungjawab kepada pemilik mengenai waktu, biaya dan mutu. Jadi dalam
Surat Perjanjian Kerja/ Kontrak konsultan GMPCM tipe ini bertindak sebagai
pemberi kerja terhadap para kontraktor (sub kontraktor). Manajemen konstruksi juga
dapat diartikan sebagai sebuah model bisnis yang dilakukan oleh konsultan
konstruksi dalam memberi nasihat dan bantuan dalam sebuah proyek pembangunan.
2.4.5

Construction Management Association of America (CMAA)

menyatakan bahwa ada tujuh kategori utama tanggung jawab seorang manajer
konstruksi, yaitu perencanaan proyek manajemen, manajemen harga, manajemen
waktu, manajemen kualitas, administrasi kontrak, manajemen keselamatan, dan dan
praktek profesional.
Sebagai manajer proyek konstruksi akan menangani semua tahap konstruksi
proyek Anda. Pada tahap pra-konstruksi, kita akan melakukan semua yang
diperlukan studi kelayakan dan penelitian. Kemudian datang desain dan
perencanaan.

Setelah

spesifikasi

arsitektur

dan

tujuan

penjadwalan

yang

didefinisikan dengan baik, pekerjaan dilanjutkan oleh pembangun dan kontraktor


untuk memulai membangun aktual bawah pengawasan yang ketat kami. Menekankan
pada independen dari para profesional lain yang terlibat dalam konstruksi. netralitas
ini memungkinkan untuk secara objektif dan tidak memihak menyarankan klien pada
pilihan consultans dan kontraktor, yang memungkinkan klien untuk mendapatkan
manfaat maksimal.
2.5 Tahapan Siklus Proyek Konstruksi
Siklus hidup proyek adalah tahap-tahapan yang saling berhubungan mulai awal
kegiatan proyek sampai akhir kegiatan proyek (PMI, 2004). Mengingat suatu proyek
bersifat unik, maka akan selalu dijumpai
pelaksanaan

masalah ketidak pastian.

Dalam

suatu proyek biasanya dilaksanakan dalam beberapa tahap/phase.

Tahap-tahap pelaksanan proyek dikenal dalam istilah siklus hidup proyek.


2.5.1

Karakteristik Tahapan Suatu Proyek


Tiap-tiap tahapan suatu proyek ditandai dengan penyelesaian satu atau lebih

deliverables. Suatu deliverables bersifat terukur, misalnya study kelayakan, detaildetail suatu desain atau pekerjaan suatu prototype. Deliverables. dan karenanya
suatu tahapan merupakan bagian dari urutan-urutan umum dari desain yang logis
untuk menjamin definisi produk atau proyek yang sesuai.
Dapat disimpulkan bahwa tahapan proyek umumnya ditandai dengan tinjauan
ulang (review) terhadap dua kunci utama deliverables dan unjuk kerja proyek yaitu
(a) menentukan kapan proyek dilanjutkan ketahap berikutnya, dan (b) mendeteksi
10

dan membetulkan kesalahan dalam analisis biaya secara efektif. Tahap atau tinjauan
akhir ini sering disebut phases exist (tahap pengadaan), stage gates (gerbang
langkah) or kill points (titik berbahaya).
Setiap tahap proyek secara umum meliputi seperangkat rencana definisi
deliverables untuk menetapkan tingkat pengawasan manajemen yang diinginkan.
Kebanyakan tahap-tahap ini berhubungan deliverable tahap pertama, dan tahapan
berikutnya seperti analisis kebutuhan (requirwements), desain (design), membangun
(built), uji coba (test), memulai (startup), penyerahan (turnover), dan sebagainya.
2.5.2

Siklus dan Proses Sistem dalam Manajemen


Aspek penting dari pendekatan sistem terletak pada siklus sistem dan

prosesnya, yaitu perubahan teratur yang mengikuti pola dasar tertentu dan terjadi
selama sistem masih aktif. Dalam rangka mewujudkan gagasan menjadi kenyataan
fisik, maka perlu penilaian menyeluruh terhadapsistem yang bersangkutan. Yang
dinilai adalah karakteristik sistem yang dijabarkan sebagai parameter, spesifikasi,dan
kriteria terhadap biaya yang diperlukan.
Siklus biaya (life cycle cost), mencakup semua biaya yang diperlukan selama
periode siklus sistem, yaitu dari penelitian dan pengembangan, desain engineering,
manufaktur dan kontruksi, sampai pada opersai atau produksi atau utilisasi dan
pemeliharaan.

2.6

Karakteristik Siklus Proyek


Siklus proyek menyajikan tentang definisi kegiatan proyek dari awal sampai
akhir. Siklus proyek akan menentukan apakah kegiatan study kelayakan diperlukan
sebagai tahap awal proyek atau bagian yang terpisah dari proyek. Siklus proyek juga
menentukan apakah tindakan transisi pada awal dan akhir proyek, termasuk kegiatan
11

proyek atau tidak. Dalam hal ini siklus proyek dapat digunakan sebagai penghubung
antara dengan kegiatan operasional untuk membentuk organisasi proyek.
Siklus Proyek umumnya mendefinisikan:
a. Kegiatan teknis apakah yang akan dikerjakan (misalnya apakah bagian arsitek
termasuk dalam tahap definisi atau bagian dari tahap pelaksanaan)
b. Kapan deliverable (penyampaian) akan dihasilkan pada setiap phase (tahap) dan
bagian setiap deliverable review (ulasan penyampaian), diverifikasi dan falidasi
c. Siapakah yang akan terlibat dalam setiap tahap proyek
d. Bagaimana melakukan pengawasan dan menyetujui kegiatan tiap tahap.
Siklus proyek dapat bersifat umum dan bersifat detail. Deskripsi siklus proyek
yang tertalalu detail memiliki berbagai bentuk, bagan dan ceklist untuk menunjukkan
struktur dan konsistensi pelaksanaan proyek. Siklus proyek yang detail sering disebut
dengan metodologi manajemen.
Kebanyakan siklus proyek memiliki sejumlah karakteristik umum yaitu:
a.

Penggunaan biaya dan staf/tenaga kerja pada awal rendah dan bertambah tinggi
kearah akhir, dan langsung rendah/turun pada tahap akhir

b.

Kemungkinan kesuksesan pelaksanan proyek rendah, dan risiko ketidakpastian


tinggi pada awal proyek. Kemungkinan kesuksesan pelaksanaan proyek
umumnya akan nampak pada tahap pelaksanaan proyek selanjutnya.

c.

Kemampuan stakeholder (pemangku kepentingan)

untuk mempengaruhi

karakteristik final produk dan biaya final proyek sangat tinggi pada saat awal dan
langsung menurun/rendah pada setelah proyek berjalan. Konstribusi utama pada
penomena ini adalah perubahan biaya dan koreksi kesalahan umumnya meningkat
saat proyek berlangsung.
2.7

Representasi Siklus Proyek


Contoh berikut dapat dijadikan contoh beberapa model siklus proyek yang
sering digunakan. Proyek depertemen Pertahanan AS (April 2000) tahapan siklus
proyek dilakukan sebagai berikut:

12

a.

Tahap

konsep dan

pengembangan

teknologi

(concept

and

technology

development) meliputi kegiatan : pengkajian terhadap berbagai alternatif yang


akan digunakan, pengembangan komponen/subsistem dan pendemonstrasian
teknologi dengan sistem konsep baru, dan tahap ini diakhiri dengan pemilihan
teknologi yang akan digunakan.
b.

Tahap pengembangan

sistem dan uji coba (system

development and

demonstration) meliputi kegiatan: integrasi sistem, meminimalisasi risiko yang


mungkin terjadi, uji coba pengembangan model, pengembangan dan uji coba
awal terhadap pelaksanaan dan evaluasi. Tahap ini diakhir dengan uji coba pada
lingkungan/konteks yang sebenarnya.
c.

Tahap produksi dan penyebaran (production and deployment) meliputi kegiatan


produksi awal dalam volume terbatas, produksi secara penuh sesuai kapasitas.
Tahap ini tumpang tindih dengan tahap operasi dan pendukung

d.

Tahap pendukung (support) : tahap ini sebenarnya bagian dari tahap produksi,
tetapi kenyataannya proses pelaksaaan manajemen secara berkelanjutan. Dalam
berbagai proyek, dalam tahap ini dilakukan proses perbaikan kapasitas, koreksi
terhadap kesalahan produk dan sebagainya.

Proyek Konstruksi: siklus proyek konstruksi umumnya sebagai berikut:


1.

Tahap studi kelayakan (feasibility), tahap ini meliputi kegiatan : perumusan


proyek, studi kelayakan, strategi perencanaan dan persetujuan. Keputusan untuk
melajutkan atau tidak proyek yang akan dibuat dilakukan pada akhir tahap ini.

2.

Perencanaan dan disain (planning and design), tahap ini meliputi kegiatan :
pembuatan desain utama (base design), pembiayaan dan penjadualan, masalah
kontrak dan pembuatan detail perencanaan. Penyelesaian kontrak dilakukan dalam
akhir tahap ini.

3.

Tahap konstruksi (constraction), tahap ini meliputi manufacturing (penyiapan


mesin), penyerahan, pekerjaan sipil, pemasangan mesin-mesin dan uji coba.
Semua fasilitas harus sudah lengkap dan sempurna pada akhir tahap ini.

13

4.

Tahap akhir dan mulai operasi (turnover and startup), tahap ini meliputi : uji coba
akhir dan perawatan. Pada akhir tahap ini semua fasilitas harus sudah dapat
bekerja secara penuh.

BAB III
PENUTUP

14

3.1 Kesimpulan
Dari sekian banyak pembahasan yang tertera di atas maka dapat kita simpulkan
bahwa manajemen proyek sangatlah penting dalam suatu manajemen konstruksi
dimana dengan proyek konstruksi yang serumit dan sebesar itu tentunya diperlukan
suatu alat yang berguna dalam pengaturan jalannya proyek tersebut yang disebut
manajemen proyek konstruksi.
3.2 Saran
Mengingat begitu pentingnya dan sentralnya manajemen proyek posisinya
dalam manajemen konstruksi maka disarankan agar melakukan persiapan sematangmatangnya dalam melakukan perencanaan manajemen karena apabila adanya
kesalahan manajemen, maka akan gagal suatu proyek tersebut.

15