Anda di halaman 1dari 6

4.

1 Interpretasi Hasil
Hasil negatif (-) tampak 2 garis pada huruf C dan T
Hasil positif (+) tampak 1 garis pada huruf C
Hasil invalid
tidak muncul garis pada huruf C.
1

Keterangan :
1. Interpretasi hasil uji skrining pada sampel analisis tidak
mengandung senyawa golongan narkotika atau psikotropika.
2. Interpretasi hasil uji skrining pada sampel analisis mengandung
senyawa golongan narkotika atau psikotropika.
3. Interpretasi hasil uji skrining tidak valid.

BAB V

PEMBAHASAN
Secara umum tugas analisis toksikologi dalam melakukan analisis dapat
dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu:
1) Penyiapan sampel sample preparation
2) Analisis meliputi uji penapisan screening test atau dikenal juga dengan
general unknown test dan uji konfirmasi yang meliputi uji identifikasi dan
kuantifikasi
3) Langkah terakhir adalah interpretasi temuan analisis dan penulisan laporan
analisis.
Dari ketiga tahap analisis tersebut, pada praktikum kali ini menggunakan
penyiapan sampel dan juga melakukan uji skrining pada sampel urine. Uji
skirining merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan apabila seseorang diduga
mengidap penyakit tertentu atau mengonsumsi zat tertentu, dalam praktikum kali
ini yaitu narkotika/psikotropika. Uji skrining dilakukan hanya untuk deteksi awal
yang kemudian akan dilakukan uji konfirmatif sebagai lanjutannya.
Sampel urine yang digunakan adalah sampel dari Mahasiswa yang dimana
pada urine aslinya tentu tidak mengandung zat narkotika maupun psikotropika
oleh karena itu ditambahkan zat narkotika oleh dosen pembimbing yang dimana
zatnya telah diketahui untuk memberikan hasil positif narkotika/psikotropika pada
sampel urine yang akan diperiksa

Preparasi Sampel
Pada praktikum kali ini, dilakukan uji skrining narkotika/psikotropika pada

sampel urine.Sampel urine harus dipreparasi terlebih dahulu sebelum dianalisis


untuk mendapatkan hasil yang maksimum.
Sampel urine yang digunakan kali ini adalah sampel urine pagi, yaitu urine
yang dikeluarkan pada saat pertama kali buang air kecil di pagi hari.Mungkin
sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih,
bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan.Jenis sampel ini cukup baik

untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus, serta dapat digunakan untuk uji
skrining narkotika/psikotropika.
Sampel urine yang digunakan adalah sampel dengan warna yang bening
sehingga tidak memerlukan proses sentrifugasi pada sampel urine yang diperiksa
dengan pH urine adalah 7 yang artinya netral dan berbau khas urine, kemudian
urine tersebut ditambahkan senyawa narkotika/psikotropika oleh Dosen
Pembimbing.
Beberapa hal yang perlu diperhitungkan dalam tahapan penyiapan/preparasi
sampel adalah: jenis dan sifat biologis spesimen, fisikokimia dari spesimen, serta
tujuan analisis. Dengan demikian akan dapat merancang atau memilih metode
penanganan sampel, jumlah sampel yang akan digunakan, serta memilih metode
analisis yang tepat. Penanganan sampel perlu mendapat perhatian khusus, karena
sebagian besar sampel adalah materi biologis, sehingga sedapat mungkin
mencegah terjadinya penguraian dari analit.

Uji Skrining dengan Teknik Immunoassay


Uji skirining merupakan pemeriksaan awal yang dilakukan apabila

seseorang diduga mengidap penyakit tertentu atau mengonsumsi zat tertentu,


dalam praktikum kali ini yaitu narkotika/psikotropika. Uji skrining dilakukan
hanya untuk deteksi awal yang kemudian akan dilakukan uji konfirmatif sebagai
lanjutannya.
Pada praktikum kali ini, dilakukan uji skirining terhadap sampel urine
mahasiswa yang diberikan kepada kelompok 2 yang telah ditambahkan zat
psikotropika/narkotika tertentu oleh dosen pembimbing dengan tujuan mengetahui
ada atau tidaknya zat narkotika/psikotropika dalam sampel tersebut.
Dalam

deteksi

penyalahgunaan

narkotika/psikotropika,

uji

skrining

dilakukan untuk menentukan golongan analit (narkotika dan psikotropika) yang


digunakan.Hasil dari uji skrining dapat dijadikan dasar dugaan atau hanya sebagai
petunjuk dan bukan merupakan bukti yang kuat bahwa seseorang telah
mengkonsumsi narkotika dan psikotropika karena uji skrining belum mampu

mendeteksi jenis zat narkotika dan psikotropika secara spesifik yang terkandung
di dalam sampel urine yang diperiksa.
Pada praktikum uji skirining pada sampel urine mahasiswa kali ini adalah
immunoassay.Immunoassay

adalah

suatu

teknik

untuk

mengidentifikasi

keberadaan suatu obat maupun metabolitnya dalam sampel biologis.


Teknik ini didasari oleh reaksi antara antigen dan antibodi yang terjadi
dalam strip test pada uji skrining. Teknik immunoassay yang digunakan kali ini
adalah Enzyme Multiplied Immonuassay Technique (EMIT), dimana metode ini
merupakan cara pengujian yang menggunakan suatu enzim yang sama untuk
menguji beberapa senyawa. Pengujian dengan menggunakan metode ini
didasarkan dari adanya kompetisi obat pada sampel dan obat yang telah dilabeli
dengan enzim glukosa-6-fosfat-dehidrogenase (G6P-DH) dengan sisi aktif suatu
antibodi.
Prinsip dalam uji skrining dengan teknik immunoassay ini adalah pada saat
spesimen mengandung narkotika atau psikotropika di zona S, spesimen akan
berikatan dan menjenuhi IgG anti - narkotika/psikotropika substrat, sehingga
waktu didifusikan ke zona T tidak terjadi ikatan dengan narkotika/psikotropikaenzimnya (KNE) karena narkotika/psikotropika sudah jenuh berikatan dengan IgG
anti - narkotika/psikotropika substrat, sehingga tidak terjadi reaksi enzim-substrat
dan tidak muncul reaksi warna. Sebaliknya di zona C terjadi reaksi warna sebab
narkotika/psikotropika spesimen tidak spesifik untuk dapat berikatan dengan IgG
goat.
IgG-goat ini sudah disertakan pada zona S sebagai control validitas. IgGgoat ini akan berdifusi bersama IgG anti - narkotika/psikotropika substrat ke
daerah C. IgG goat akan mengikat IgG anti-IgG goat yang dikonjugasi enzim
(KAGE) sehingga terjadi reaksi enzim-substrat yang berwarna di zona C.
Sementara itu jika spesimen tidak mengandung narkotika/psikotropika,
maka spesimen hanya mendifusikan IgG anti - narkotika/psikotropika substrat dan
IgG goat substrat dari zona S ke zona T dan C. Di zona T, IgG anti narkotika/psikotropika substrat akan berikatan dengan narkotika /psikotropikaenzimnya (KNE) sementara di zona C IgG goat akan berikatan dengan IgG anti-

IgG goat yang dikonjugasi enzim (KAGE) sehingga baik di zona T maupun C
timbul garis warna.

Pemeriksaan Sampel Urine


Pada praktikum kali ini, dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan 3

strip test berbeda untuk 3 golongan narkotika/psikotropika yang berbeda karena


hanya

tersedia

strip

yang

berbeda

yaitu

BZO

(Benzodiazepine),

Methamphetamine (Shabu-shabu), Opiates/Morphine/Heroin test.


Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, diperoleh hasil positif pada strip
pemeriksaan Methamphetamine (Shabu-shabu) dan Opiates/Morphine/Heroin tes,
terlihat dari terbentuknya 1 garis yaitu hanya pada area C saja karena, seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya, kandungan narkotika dalam spesimen sudah
berikatan dan menjenuhi IgG anti narkotika/psikotropika substrat sehingga hanya
pada area S terbentuk garis warna.Lebih jelasnya adalah karena pada saat
spesimen mengandung narkotika atau psikotropika di zona S, spesimen akan
berikatan dan menjenuhi IgG anti - narkotika/psikotropika substrat, sehingga
waktu didifusikan ke zona T tidak terjadi ikatan dengan narkotika/psikotropikaenzimnya (KNE) karena narkotika/psikotropika sudah jenuh berikatan dengan IgG
anti - narkotika/psikotropika substrat, sehingga tidak terjadi reaksi enzim-substrat
dan tidak muncul reaksi warna. Sebaliknya di zona C terjadi reaksi warna sebab
narkotika/psikotropika spesimen tidak spesifik untuk dapat berikatan dengan IgG
goat.
Sedangkan pada strip BZO (Benzodiazepine), menunjukan hasil negatif,
terlihat dari terbentuknya garis warna merah pada area T dan C. Pada sampel
urine yang diperiksa tidak mengandung narkotika/psikotropika, maka spesimen
hanya mendifusikan IgG anti - narkotika/psikotropika substrat dan IgG goat
substrat dari zona S ke zona T dan C. Di zona T, IgG anti - narkotika/psikotropika
substrat akan berikatan dengan narkotika /psikotropika-enzimnya (KNE)
sementara di zona C IgG goat akan berikatan dengan IgG anti-IgG goat yang
dikonjugasi enzim (KAGE) sehingga baik di zona T maupun C timbul garis
warna.

Dari hasil yang didapatkan dari praktikum uji skrining pada sampel urine
Mahasiswa yang telah ditambahkan zat psikotropika/ narkotika didapatkan hasil
positit terhadap Methamphetamine (Shabu-shabu) dan Opiates/Morphine/Heroin
tes yang berarti pada sampel mengandung sat narkotika tersebut, kemudian untuk
memastikan jenis dari senyawa psikotropika tersebut dapat dilanjutkan ke uji
konfirmasi yang meliputi uji identifikasi dan kuantifikasi yang dapat dilakukan
pada praktikum selanjutnya.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan


Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pada praktikum kali ini,

yaitu:
1. Penggunaan APD (Alat Pelindung Diri) mengingat sampel yang digunakan
berupa cairan tubuh (urine) yang dianggap infeksius.
2. Kondisi strip test yang digunakan. Diperhatikan tanggal kadaluarsa dan
juga penyimpanannya, apakah sudah sesuai dengan yang dianjurkan atau
tidak. Sebab, penyimpanan yang kurang baik dapat menyebabkan reagen
yang terkandung dalam strip test rusak/tidak berfungsi secara optimal.
Strip test harus disimpan pada suhu 2-25oC. Bungkusan (kantong foil) dari
strip test juga dipastikan tidak rusak sebelum digunakan, untuk menjamin
kesterilan dan khualitas dari strip test.
3. Kondisi sampel. Harus diperhatikan apakah sesuai dengan ciri-ciri sampel
yang layak digunakan sebagai sampel atau tidak. Dapat dilihat dengan
memperhatikan ciri makroskopisnya.
4. Strip test dan sampel dipastikan dalam kondisi suhu ruang, agar komponen
yang ada didalamnya dalam bekerja secara optimal.
5. Setelah sampel dicelupkan, hasil dibaca antara 10-30 menit. Dalam
pembacaan jangan sampai lebih ataupun kurang karena meninmbulkan
hasil negatif maupun positif palsu.