Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengetahuan
2.1.1. Definisi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan pada satu objek tertentu. Pengindraan terjadi
melalui panca indra manusia, indra pendengaran, penciuman, penglihatan,
rasa, raba dan sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan
telinga (Sunaryo, 2005).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk

terbentuknya

tindakan

seseorang.

Rogers

(1974)

dalam

Notoatmodjo (2007), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi


perilaku baru dalam diri orang tersebut sehingga terjadi suatu proses
berurutan, yaitu :
a.

Awarenes, dimana orang tersebut menyadari pengetahuan

terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).


b.

Interest dimana orang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan


terhadap baik buruknya stimulus tersebut bagi dirinya.
d. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baik.
e. Adaptation, individu telah berprilaku baru sesuai dengan
pengetahuan sikap.

17

Dalam mengantisipasi tingkat kebutuhan masyarakat yang semakin


bermutu terhadap pelayanan kebidanan, perubahan-perubahan yang cepat
dalam pemerintah maupun dalam masyarakat dan perkembangan IPTEK
serta persaingan yang ketat di era globalisasi ini diperlukan tenaga
kesehatan khususnya tenaga bidan yang berkualitas baik tingkat
pengetahuan, ketrampilan dan sikap profesionalisme (Sofyan, 2008).
Bidan satu-satunya tenaga kesehatan yang mempunyai wewenang
cukup besar karena pendidikan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki
sehingga mampu mandiri dalam memberi pertolongan kesehatan
menggunakan pedoman teknis medis yang dikuasainya serta kemampuan
melakukan rujukan saat diperlukan (Manuaba, 2011).

2.1.2.

Tingkat Pengetahuan

Tingkat pengetahuan menurut Sunaryo (2005) mempunyai 6


tingkatan yaitu :
a. Tahu
Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
Tahu artinya dapat mengingat atau mengingat kembali suatu
materi yang telah dipelajari sebelumnya. Ukuran bahwa ia tahu
ialah ia dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan dan
menyatakan.
b. Memahami

Memahami

diartikan

suatu

kemampuan

untuk

menjelaskan dan menginterpretasikan dengan benar tentang objek

17

yang diketahui. Seseorang yang telah paham tentang sesuatu


harus dapat menjelaskan, memberikan contoh dan menyimpulkan.
c.

Penerapan
Yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi dan kondisi nyata atau dapat menggunakan


hukum-hukum, rumus, metode dalam situasi nyata.
d.

Analisis
Suatu kemampuan menguraikan objek-objek kedalan

bagian-baian kecil, tetapi masih di dalam suatu struktur objek


tersebut dan masih terkait satu sama lain. Ukuran kemampuan
adalah ia dapat menggambarkan, membuat bagan, membedakan,
memisahkan, membuat bagan proses adopsi perilaku dan dapat
membedakan pengertian psikologi dengan fisiologi.
e. Sintesis

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk


menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru atau kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada. Ukuran kemampuan adalah ia
dapat

menyusun,

meringkaskan,

merencanakan

dan

menyesuaikan suatu teori atau rumusan yang telah ada.


f.

Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk mengadakan
penilaian terhadap suatu objek. Evaluasi dapat menggunakan
kriteria yang telah ada atau disusun sendiri. Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

17

penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin


kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkattingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2007).
2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses yang unsur-unsurnya
terdiri dari masukan (input), yaitu sasaran pendidikan, dan
keluaran (output) yaitu suatu bentuk prilaku baru atau
kemampuan baru dari sasaran pendidikan. Proses tersebut
dipengaruhi oleh perangkat lunak (soft ware) yang terdiri dari
kurikulum, pendidik, metode dan sebagainya serta perangkat
keras (hard ware) yang terdiri dar ruang, perpustakaan (bukubuku) dan alat-alat bantu pendidikan lain. Jalur pendidikan formal
akan membekali seseorang dengan dasar-dasar pengetahuan, teori
dan logika, pengetahuan umum dan kemampuan analisis serta
pengembangan kepribadian. Berdasarkan proses intelektual,
belum menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu proses
dengan tujuan utama menhasilkan perubahan perilaku manumur
yang secara opersional tujuannya di bedakan menjadi 3 aspek
yaitu aspek pengetahuan (kognitif), aspek sikap (afektif), dan
aspek keterampilan (psikomotor).(Notoatmodjo, 2005)

17

Jalur

pendidikan

terdiri

atas

pendidikan

formal,

nonformal, dan informal. Jenjang pendidikan formal terdiri atas


(Depdiknas, 2004) :
1) Pendidikan dasar, pendidikan dasar berbentuk : Sekolah Dasar
(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang
sederajat; serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.
2) Pendidikan menengah, pendidikan menengah berbentuk : Sekolah
Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Alaiyah Kejuruan
(MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
3) Pendidikan tinggi, perguruan tinggi dapat berbentuk : akademi,
politeknik, sekolah tinggi, institusi, atau universitas. Perguruan
tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan
pengabdian

kepada

masyarakat.

Perguruan

tinggi

dapat

menyelenggarakan program akademik, profesi, dan / atau advokasi.


Trisna (2010) juga menjelaskan tingkat pendidikan orang
tua akan berpengaruh dalam memberi respon yang datang dari
luar terhadap anak. Orang yang berpendidikan tinggi akan
memberi respon yang lebih rasional terhadap informasi yang
datang dan akan sejauh mana keuntungan yang mungkin akan
mereka peroleh dari gagasan tersebut sehingga sehingga ibu yang
berpendidikan tentu akan banyak memberikan pemahaman

17

terhadap apa yang mereka lakukan di masa lalu sehingga dapat


mengarahkan anaknya kearah yang positif.
b. Informasi
Menurut

Notoatmodjo

(2005),

sumber

informasi

mempengaruhi pengetahuan baik dari media maupun orang-orang


yang terkait dengan kelompok manusia memberi kemungkinan
untuk

di

pengaruhi

dan

mempengaruhi

anggota-anggota.

Seseorang di dalam proses pendidikan juga memperoleh


pengetahuan melalui berbagai macam alat bantu. Alat Bantu
media akan membantu dalam melakukan penyuluhan. Agar pesan
kesehatan dapat disampaikan dengan jelas. Dengan media orang
dapat lebih mengerti fakta kesehatan yang dianggap rumit
sehingga mereka dapat menghargai betapa bernilainya kesehatan.
Alat Bantu Media menurut Notoatmodjo (2005), dapat di bagi
dalam tiga macam :
1) Media Cetak
Yaitu sarana komunikasi yang menyampaikan pesan
kesehatan dengan variasi seperti:
a) Boklet, suatu media untuk menyampaikan pesanpesan kesehatan dalam bentuk tulisan maupun
gambar.

17

b) Leafer, bentuk penyampaian informasi melalui


lembaran yang dilipat. Isi informasi dapat dalam
bentuk kalimat maupun dalam bentuk gambar.
c) Lembar Balik (Flip Chart), bentuk penyampaian
pesan atau informasi-informasi kesehatan dalam
bentuk lembar balik dimana tiap lembarannya
berisi gambaran peragaan dan di baliknya berisi
kalimat yang berkaitan dengan gambara tersebut.
d) Rubik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau
majalah yang berkaitan dengan kesehatan.
e) Foster, Bentuk media cetak berisi pesan-pesan atau
informasi kesehatan yang biasanya ditempel di
tembok-tembok,

ditempat-tempat

umum

atau

kendaraan umum.
2) Media Elektronik
Media

sarana

komunikasi

dengan

menggunakan

elektronik terdiri dari televisi, radio, video, dan lain-lain.


Untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi.
3) Media Papan
Papan yang dipasang di tempat-tempat umum yang
diisi dengan pesan-pesan atau informasi kesehatan.
Informasi adalah keterangan pemberitahuan kabar berita
tentang suatu media dan alat (sarana) komunikasi seperti koran,

17

majalah, radio, televisi, poster, spanduk, internet. Media


komunikasi adalah media yang digunakan pembaca untuk
mendapatkan informasi sesuatu atau hal tentang pengetahuan.
Berkaitan dengan penyediaan informasi bagi manajemen dalam
penagmbilan

keputusan,

informasi

yang

diperoleh

harus

berkualitas (Tugiman, 2005). Kualitas informasi tergantung tiga


hal yaitu :
a) Akurat,

bebas

dari

kesalahan,

tidak

bisa

atau

menyesatkan.
b) Tepat waktu, informasi yang disampaikan tidak terlambat.
c) Relevan, informasi mempunyai manfaat bagi pemakaian.
Media informasi adalah media uang digunakan pembaca
untuk mendapatkan suatu informasi atau hal tentang pengetahuan
berkaitan dengan penyediaan informasi bagi manajemen dalam
pengambilan keputusan, informasi yang diperoleh haruslah
berkualitas (Tugiman, 2005).
c. Lama Bekerja

Lama bekerja merupakan masa yang di jalankan seorang


dalam melakukan pekerjaannya, dihitung mulai pertama memulai
pekerjaan. lama bekerja dapat meningkatkan pengalaman dan
pengetahuan tentang pekerjaan yang dilakukan, sehingga dapat
mencari solusi terhadap suatu masalah berdasarkan pengalaman
pada tugas terdahulu (Henderson, 2007)
Pengalaman akan mempengaruhi peningkatan pengetahuan
seseorang karena semakin banyak seseorang mendengar, melihat

17

dan melakukan tindakan tertentu, maka semakin bertambah


pengetahuannya tentang subjek tersebut. Pengalaman adalah guru
terbaik dalam kehidupan seseorang. Pengalaman negatif seseorang
terhadap subjek tertentu akan

mengajarkan dirinya

untuk

memperbaiki kesalahan yang sama dimasa yang akan datang atau


paling tidak akan meningkatkan pengetahuannya terhadap resiko
tertentu.

Sebaliknya

pengalaman

positif

seseorang

akan

meningkatkan kemampuannya dalam subjek tersebut. menyatakan


bahwa

pengalaman

yang

diperoleh

seseorang

dapat

mempengaruhi kemampuannya (Taufik, 2001).


Lama bekerja di bagi 3 ( Tiga) Kategori sebagai berikut
(Sofyan, 2006):
a. Baru: Bidan yang telah bekerja kurang dari 6 tahun
b. Sedang : Bidan yang berkerja antara 6 10 tahun
c. Lama : Bidan yang bekerja diatas 10 tahun
2.2.Bidan
2.2.1.Definisi Bidan
Menurut Permenkes RI (2010) menyatakan bahwa bidan adalah
seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah
teregistrasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan
menurut IBI dalam Estiwidani (2008) bidan adalah seorang wanita yang
telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan bidan yang telah diakui
oleh pemerintah dan lulus ujian sesuai persyaratan yang berlaku, dicatat
(registrasi), diberi izin secara sah untuk menjalankan praktik.

17

Menurut Internasional Confederation of Midwives (ICM) yang


diadopsi oleh seluruh organisasi bidan diseluruh dunia dan diakui oleh
federation of international gynecologist obstetrition (FIGO), definisi bidan
adalah seseorang yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang
diakui di negaranya, telah lulus dari pendidikan bidan tersebut serta
memenuhi kualifikasi untuk didaftar (registrasi) atau meminta izin yang
sah untuk melalukan praktik bidan (Kepmenkes RI, 2007).
Bidan adalah satu-satunya tenaga paramedis yang karenan
pendidikan dan ketrampilannya diberikan hak dan kewajiban untuk
membantu dalam hal melakukan asuhan antenatal, melakukan pertolongan
persalinan, melakukan perawatan bayi baru lahir, post partum dan
puerperium serta melakukan tindak lanjut (Manuaba, 2011).
2.2.2

Peran dan Fungsi Bidan


Menurut Sofyan (2008) dalam melaksanakan tugasnya, bidan

memiliki peranan sebagai berikut:


1. Peran sebagai Pelaksana
Sebagai pelaksana bidan mempunyai 3 (tiga) kategori tugas
yaitu diberikan:
a) Tugas Mandiri
Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap
asuhan kebidanan yang diberikan.
b) Tugas Kolaborasi/Kerja sama

17

Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap


asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi kolaborasi
dengan melibatkan klien dan keluarga.
c) Tugas Ketergantungan/Merujuk
Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap
asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi ketergantungan
dengan melibatkan klien dan keluarga.
2.2.3

Peran sebagai Pengelola


Mengembangkan

pelayanan

kesehatan

masyarakat

terutama

pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga, kelompok khusus dan


masyarakat diwilayah kerja dengan melibatkan masyarakat/klien
1.

Bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat mengkaji


kebutuhan kesehatan masyarakat terutama yang berhubungan
dengan kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan dan
mengembangkan pelayanan kesehatan diwilayah kerjanya

2.

Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil pengkajian dengan


melibatkan masyarakat

3.

Mengelola kegiatan-kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat


khususnya kesehatan ibu dan anak serta kesesuaian dengan rencana

4.

Mengorganisasikan, mengawasi dan membimbing kader, dukun


atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program/kegiatan
pelayanan kesehatan ibu dan anak serta KB.

17

5.

Mengembangkan

strategi

untuk

meningkatkan

kesehatan

masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak serta KB termasuk


pemanfaatan sumber-sumber yang ada pada program dan sektor
lain
6.

Menggerakkan, mengembangkan kemampuan masyarakat dan


memelihara kesehatannya dengan memanfaatkan sumber-sumber
yang ada.

17

7.

Mempertahankan, meningkatkan mutu dan keamanan praktek


profesionalnya melalui pendidikan, pelatihan dan kegiatan-kegiatan
dalam kelompok profesi.

2.2.4 Peran sebagai Pendidik


Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat tentang penanggulang
masalah kesehatan ibu, anak, dan KB
1.

Bersama klien mengkaji kebutuhan dan pendidikan serta penyuluhan


kesehatan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan ibu, anak,
dan KB

2.

Bersama klien menyusun rencana penyuluhan kesehatan masyarakat


sesuai dengan kebutuhan yang telah dikaji baik untuk jangka pendek
maupun jangka panjang

3.

Menyiapkan alat dan bahan pendidikan dan penyuluhan sesuai dengan


rencana yang telah disusun

4.

Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan


sesuai dengan rencana jangka pendek dan jangka panjang dengan
melibatkan unsur-unsur yang terkait termasuk masyarakat

5.

Bersama klien mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan


masyarakat dan menggunakannya untuk perbaikan dan meningkatkan
program dimasa yang akan datang

6.

Mendokumentasikan

semua

kegiatan

dan

hasil

pendidikan/

penyuluhan kesehatan masyarakat secara lengkap dan sistematis.

17

2.2.5

Peran sebagai Peneliti/Investigator


Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang

kesehatan baik secara mandiri maupun secara kelompok


1.

Mengidentifikasi kebutuhan investigasi yang akan dilaksanakan

2.

Menyusun rencana kerja

3.

Melaksanakan investigasi sesuai dengan rencana

4.

Mengolah dan menginterprestasikan data hasil investigasi

5.

Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut


Memanfaatkan

hasil

investigasi

untuk

meningkatkan

serta

mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.

2.3

Alat Pelindung Diri (APD)

2.3.1. Pengertian
Alat pelindung diri adalah alat-alat yang mampu memberikan
perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin timbul.
Departement Tenaga Kerja Republik Indonesia mengatakan APD adalah
kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan resiko
kerja untuk menjaga keselamatan pekerjaan itu sendiri dan orang di
sekelilingnya.
Menurut

OSHA

atau

Occupational

Safety

and

Heatl

Administration, Personal Protective Equipment atau alat pelindung diri


(APD) dalam Nindiasa (2011,h.10) mendefinisikan APD adalah alat yang

17

digunakan untuk melindungi pekerja dari luka atau penyakit diakibatkan


oleh adanya kontak dengan bahaya (hards) di tempat kerja, baik yang
bersifat kimia, biologis, radiasi, fisik, elektrik, dan mekanik.
Menurut Budiono A,M,dkk (2003,h.329) APD adalah seperangkat
alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh
tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. APD tidak
secara sempurna dapat melindungi tubuhnya, tetapi akan dapat
mengurangi tingkat keparahan yang mungkin terjadi. Pengendalian ini
sebaiknya tetap dipadukan dan sebagai pelengkap pengendalian teknis
maupun pengendali administratif.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
APD adalah suatu alat yang digunakan untuk melindungi pekerja, baik
sebagian maupun seluruh tubuh dari potensi terjadinya kecelakaan di
tempat kerja. Penggunaan alat pelindung diri saat bekerja bukan untuk
mencegah terjadinya kecelakaan, akan tetapi hanya sekedar mengurangi
tingkat keparahan dari kecelakaan.
2.3.2. Persyaratan Alat Pelindung Diri
Menurut Sumamur (2009), alat pelindung diri harus mempunyai
beberapa kriteria agar memenuhi persyaratan dalam penyediaan yang
antara lain :
1. Alat pelindung harus dapat memberikan perlindungan efektif terhadap
bahaya yang khusus, sebagaimana alat pelindung tersebut didesain.

17

2. Enak dipakai pada kondisi pekerjaan yang sesuai dengan desain alat
pelindung tersebut.

3. Tidak mengganggu pada saat bekerja, dalam arti pelindung diri harus
cocok dengan tubuh pemakainya dan tidak menyulitkan gerak
penggunanya.
2.3.3. Pedoman Pemilihan Alat Pelindung Diri
Tujuan dari pemilihan alat pelindung diri (OSHA, 2000) adalah :
1. Mengetahui dengan baik potensi bahaya, jenis alat pelindung diri yang
tersedia serta kegunaannya.
2. Membandingkan bahaya yang ada di lingkungan kerja dengan
kemampuan alat pelindung diri yang tersedia.
3. Memilih alat pelindung diri yang mempunyai tingkat perlindungan
yang lebih besar untuk melindungi pekerja dari bahaya.
4. Mengetahui penggunaan, pemeliharaan, serta keterbatasan dari alat
pelindung diri yang digunakan.
2.3.4. Jenis Alat Pelindung Diri

17

1.

Sarung tangan : melindungi tangan dari bahan yang dapat


menularakan

penyakit

dan

melindungi

pasien

dari

mikroorganisme yan berada ditangan petugas kesehatan. Sarung


tangan merupakan penghalang (barrier) fisik paling penting
untuk mencegah penyebaran infeksi. Sarung tangan harus diganti
antara setiap kontak dengan satu pasien dengan pasien lainnya,
untuk menghidari kontaminasi silang.
2.

Masker : harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut,


bagian bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker
digunakan untuk menahan cipratan yang sewaktu petugas
kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta
untuk mencegah percikan darah atau cairan tubuh lainnya
memasuki hidung atau mulut petugas kesehatan. Bila masker
tidak terbuat dari bahan yang tahan dari cairan, maka masker
tersebut tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut.

3.

Alat pelindung mata : melindungi petugas dari percikan darah


atau cairan tubuh lainnya dengan cara melindungi mata.
Pelindung mata mencakup kacamata (goggles) plastik bening,
kacamata pengaman, pelindung wajah dan visor. Kacamata
koreksi atau kacamata dengan lensa polos juga dapat digunakan,
tetapi hanya jika ditambahkan pelindung pada bagian sisi mata.
Petugas kesehatan harus menggunakan masker dan pelindung
mata atau pelindung wajah, jika melakukan tugas yang

17

memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak sengaja


kearah wajah. Bila tidak tersedia pelindung wajah, petugas
kesehatan dapat menggunakan kacamata pelindung atau kacamata
biasa serta masker.
4.

Topi : digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga


serpihan kulit dan rambut tidak masuk kedalam luka selama
pembedahan. Topi harus cukup besar untuk menutup semua
rambut. Meski pun topi dapat memberikan sejumlah perlindungan
pada pasien, tetapi tujuan utamanya adalah untuk melindungi
pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik atau
menyemprot.

5.

Gaun pelindung : digunakan untuk menutupi atau mengganti


pakai biasa atau seragam lain, pada saat merawat pasien yang
diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui
droplet/airbone. Pemakain gaun pelindung terutama adalah untuk
melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi.
Ketika merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita
penyakit menular tersebut, petugas kesehatan harus menggunakan
gaun pelindung setiap masuk ruangan untuk merawat pasien
karena ada kemungkinan percikan atau semprotan darah cairan
tubuh, sekresi atau eksresi. Pangkal sarung tangan harus menutupi
ujung lengan gaun sepenuhnya. Lepaskan gaun sebelum
meninggalkan area pasien. Setelah gaun dilepas pastikan bahwa

17

pakaian dan kulit tidak kontak dengan bagian potensial tercemar,


lalu cuci tangan segera untuk berpindahnya organisme.
6.

Kontaminasi pada pakaian yang dipakai saat bekerja dapat


diturunkan 20-100 kali dengan memakai gaun pelindung. Perawat
yang menggunakan apron plastik saat merawat pasien bedah
abdomen dapat menurunkan transmisi S. Aureus 30 kali
dibandingkan dengan perawat yang memakai baju seragam dan
ganti tiap hari.

7.

Apron : yang terbuat dari karet atau plastik, merupakan


penghalang tahan air untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas
kesehatan. Petuagas kesehatan harus mengunakan apron dibawah
gaun penutup ketika melakukan perawatan langsung pada pasien,
membersihkan pasien, atau melakukan prosedur dimana ada
resiko tumpahan darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal ini sangat
penting bila gaun pelindung tidak tahan air apron akan mencegah
cairan tubuh pasien mengenai baju dan kulit petugas kesehatan.

8.

Pelindung kaki : digunakan untuk melindung kaki dari cedera


akibat benda tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara
tidak segaja ke atas kaki. Oleh karena itu, sandal jepit atau sepatu
yang terbuat dari bahan lunak (kain) tidak boleh dikenakan.
Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan lebih
banyak perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas
kontaminasi darah atau tumpahan cairan tubuh lain. Penutup

17

sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih. Sepatu yang tahan


terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di kamar
bedah, sebuah penelitian menyatakan bahwa penutup sepatu dari
kain atau kertas dapat meningkatkan kontaminasi karena
memungkinkan darah merembes melalui sepatu dan sering kali
digunakan sampai diruang operasi. Kemudian di lepas tanpa
sarung tangan sehingga terjadi pencemaran (OSHA, 2000).

2.4. Kerangka Teori

17

Pendidikan
Notoatmodjo, 2005
Depdiknas, 2004
Trisna, 2010

Informasi
-

Notoatmodjo, 2005

Tugiman, 2005

Pengetahuan Bidan Tentang


Alat Pelindung Diri (APD)

Lama Bekerja
- Henderson, 2007
- Taufik, 2001
- Sofyan, 2006

Gambar 2.1. Kerangka Teoritis