Anda di halaman 1dari 22

1.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Organ Limfoid


1.1 Makroskopik
Organ limfoid primer : Organ limfoid primer terdiri dari
sumsum tulang dan timus. Sumsum tulang merupakan jaringan
yang kompleks tempat hematopoiesis dan depot lemak. Lemak
merupakan 50% atau lebih dari kompartemen rongga sumsum
tulang. Organ limfoid diperlukan untuk pematangan, diferensiasi
poliferasi sel T dan B sehingga menjadi limfosit yang dapat
mengenal antigen.Sel hematopoietik yang diproduksi di sumsum
tulang menembus dinding pembuluh darah dan masuk ke
sirkulasi dan di distribusikan ke bagian tubuh.
Thymus: Timus tumbuh terus hingga pubertas. Setelah mulai pubertas, timus
akan mengalami involusi dan mengecil seiring umur kadang sampai tidak
ditemukan. akan tetapi masih berfungsi untuk menghasilkan limfosit T yang baru
dan darah. Mempunyai 2 buah lobus, mempunyai bagian cortex dan medulla,
berbentuk segitiga, gepeng dan kemerahan. Thymus mempunyai 2 batasan, yaitu
:
Batasan anterior : manubrium sterni dan rawan costae IV
Batasan atas : Regio colli inferior (trachea)
Letak :Terdapat pada mediastinum superior, dorsal terhadap sternum.
Dasar timus bersandar pada perikardium, ventral dari arteri pulmonalis, aorta,
dan trakea.Batas anterior yaitumanubrium sterni, dan rawan costae IV.Batas Atas
yaitu regio colli inferior (trachea).
Perdarahan :Berasal dari arteri thymica cabang dari arteri thyroidea
inferior dan mammaria interna. Kembali melalui vena thyroidea inferior dan vena
mammaria interna
Sumsum Tulang: Terdapat pada sternum, vertebra, tulang iliaka, dan tulang iga.
Sel stem hematopoetik akan membentuk sel-sel darah. Proliferasi dan
diferensiasi dirangsang sitokin. Terdapat juga sel lemak, fibroblas dan sel
plasma. Sel stem hematopoetik akan menjadi progenitor limfoid yangkemudian
mejadi prolimfosit B dan menjadi prelimfosit B
yang selanjutnya menjadi limfosit B dengan
imunoglobulin D dan imunoglobulin M (B Cell
Receptor) yang kemudian mengalami seleksi
negatif sehingga menjadi sel B naive yang
kemudian keluar dan mengikuti aliran
darahmenuju ke organ limfoid sekunder. Sel
stem hematopoetik menjadi progenitor limfoid
juga berubah menjadi prolimfosit T dan
selanjutnya menjadi prelimfosit T yang akhirnya
menuju timus.
Organ limfoid sekunder :Organ limfoid sekunder merupakan tempat sel dendritic
mempersentasikan antigen yang yang ditangkapnya di bagian lain tunuh ke sel T yang
memacunya untuk poliferasi dan diferensiasi limfosit.

Limfonodus: Terletak disekitar pembuluh darah yang


berfungsi untuk memproduksi limfosit dan anti bodi
untuk mencegah penyebaran infeksi lanjutan,
menyaring aliran limfatik sekurang-kurangnya oleh
satu nodus sebelum dikembalikan kedalam aliran
darah melalui duktustorasikus, sehingga dapat
mencegah penyebaran infeksi lebih luas. Terdapat
permukaan cembung dan bagian hillus (cekung) yang
merupakan tempat masuknya pembuluh darah
dansaluran limfe eferen yang membawa aliran limfe
keluar dari limfonodus. Saluran afferent memasuki
limfonodus pada daerah sepanjang permukaan
cembung.
Bentuk : Oval seperti kacang tanah atau kacang merah dengan pinggiran
cekung (hillus).
Ukuran : Sebesar kepala peniti atau buah kenari, dapat diraba pada daerah
leher, axilla, dan inguinal dalam keadaan infeksi.
Lien: Merupakan organ limfoid yang
terbesar, lunak, rapuh, vaskular berwarna
kemerahan karena banyak mengandung
darah dan berbentuk oval. Pembesaran
limpa disebut dengan splenomegali.
Pembesaran ini terdapat pada keaadan
leukimia, cirrosis hepatis, dan anemia
berat.
Letak : Regio hipochondrium sinistra intra peritoneal. Pada proyeksi
costae 9, 10, dan 11.Setinggi vertebrae thoracalis 11-12. Batas anterior yaitu
gaster, ren sinistra, dan flexura colli sinistra. Batas posterior yaitu diafragma,
dan costae 9-12.
Ukuran :Sebesar kepalan tangan masing-masing individu.
Aliran darah :Aliran darah akan masuk kedaerah hillus lienalis yaitu arteri
lienalis dan keluar melalui venalienalis ke vena porta menuju hati.
Tonsil: Tonsil termaksud salah satu dari organ limfoid yang terdiri atas 3 buah
tonsila yaituTonsila Palatina, Tonsila Lingualis, Tonsila Pharyngealis. Ketiga
tonsil tersebut membentuk cincin pada saluran limf yang dikenal dengan Ring
of Waldeyer hal ini yang menyebabkan jika salah satu dari ketiga tonsila ini
terinfeksi dua tonsila yang lain juga ikut
meradang. Organ limfoid yang terdiri atas 3 buah
tonsila, yaitu :
o Tonsila palatine
Terletak pada dinding lateralis,
orofaring dekstra dan sinistra
Terletak dalam satu lekukan yang
dikenal dengan fossa tonsilaris,

dasar dari lekukan itu adal tonsil bed


Tonsil membuka ke cavum oris terdiri dari 12-15 crypta tonsilaris
Ditutupi oleh selapis jaringan ikat fibrosa yang berbentuk capsula
Persyarafan tonsil oleh N IX (Glossopharyngues) dan N palatinus
(NV2)
Pendarahan berasal dari arteria tonsilaris cabang a.maxillaris
externa(facialis) dan arteria tonsilaris vabang a.pharyngica
ascendens lingualis
o Tonsila lingualis
Terletak dibelakang lidah, 1/3 bagian posterior, tidak mempunya
papilla sehingga terlihat permukaan berbenjol-benjol (folikel).
Pendarahan tonsil berasal dari arteria dorsalis lingue (cabang
arterialingualis), arteria carotis eksterna
o Tonsila pharyngealis
Terdapat di daerah nasofaring dibelakang pintu hidung belakang
Bila membesar disebut adenoid, dapat menyebabkan sesak
nafaskarena dapat menyumbat pintu nares posterior (choanae),
terletak didaerah nasopharynx, tepatnya diatas torus tobarius dan
OPTA
1.2 Mikroskopik

Tyhmus: Timus memiliki suatu simpai jaringan


ikat yang masuk ke dlm parenkim dan membagi
timus menjadi lobulus. Setiap lobulus memiliki
satu zona perifer gelap disebut korteks dan zona
pusat yang terang disebut medula korteks dan
medula berisi sel-sel limfosit. Sel limfosit
berasal dr sel mesenkim yg menyusup ke dlm
suatu epitel primordium dr kantung faringeal ke
3 dan 4. Mengandung badan hassal
(corpusculum tymicum) yang merupakan sel
retikular epitel gepeng yg tersusun konsentris ,
mengalami degenerasi dan mengandung granula
keratohialin.
o Korteks timus
limfosit T yg sangat banyak,
Sel retikular epitel yg tersebar
Beberapa makrofag
o Medulla timus
Mengandung sel retikular dan limfosit
Sel2 ini menyebabkan medula tampak lebih pucat dibanding bgn
korteks
Timus mengalami involusi stlh pubertas. Timus ditempati oleh sel-sel yg
dihasilkan dr sumsum tulang. Sel-sel ini mulai menjalani diferensiasinya mjd sel

T. Timus menghasilkan beberapa faktor pertumbuhan protein yg merangsang


proliferasi dan diferensiasi limfosit T.

Limfonodus: Organ bersimpai berbentuk bulat /


mirip ginjal, terdiri dari jaringan limfoid.
Tersebar diseluruh tubuh disepanjang jalannya
pembuluh limfe. Nodus ditemukan di ketiak dan
di lipat paha, sepanjang pembuluh-pembuluh
besar di leher dan dalam jumlah besar di toraks
dan abdomen terutama dalam mesenterium.
Limfonodus memiliki sisi konveks (cembung)
dan konkaf (cekung) yang disebut hilus
tempat arteri dan saraf masuk dan vena keluar
dari organ.
o Korteks luar:
Dibentuk oleh jar.limfoid yang terdiri dari satu jar. sel retikular
dan serat retikular yang dipenuhi oleh limfosit B
Di dalam jar.limfoid korteks terdapat struktur berbentuk sferis
yang disebut nodulus limfatikus
Terdapat sinus subkapsularis, yang dibentuk oleh suatu jar.ikat
longgar dari makrofag, sel retikular dan serat retikular
o Korteks dalam:
Merupakan kelanjutan korteks luar, mengandung beberapa
nodulus
Mengandung banyak limfosit T
o Medulla:
Terdiri dari korda medularis yg merupakan perluasan korteks
dalam
Banyak mengandung Limfosit B dan beberapa sel plasma
Korda medularis dipisahkan oleh struktur seperti kapiler yg
berdilatasi sinus limfoid medularis yang mengandung cairan
limfe
Limfe mengalir ke nodus limfatikus untuk membersihkannya dari partikel asing
sebelum kembali ke sirkulasi darah. Sewaktu cairan limfe mengalir melalui
sinus, 99% atau lebih antigen dan kotoran lainnya dipindahkan oleh aktivitas
fagositosis makrofag. Infeksi dan perangsangan antigenik menyebabkan
limfonodus yang terinfeksi membesar dan membentuk pusat-pusat germinativum
yang banyak dengan proliferasi sel yang aktif

Lien: Merupakan tempat destruksi bagi banyak sel darah merah. Merupakan
tempat pembentukan limfosit yang masuk ke dalam darah. Limpa bereaksi segera
terhadap antigen yang terbawa darah dan merupakan organ pembentuk antibodi
penting. Dibungkus oleh simpai jaingan ikat padat yang menjulurkan trabekula
yang membagi parenkim atau pulpa limpa menjadi kompartemen tidak
sempurna. Pulpa limpa tidak mempunyai pembuluh limfe. Limpa dibentuk oleh
jalinan kerja jaringan retikular yang mengandung sel limfoid, makrofag dan sel-

sel
antigen-presenting.
Tidak
memperlihatkan adanya daerah korteks dan
medula yang jelas. Kapsul pada limpa lebih
tebal dibanding pada limfonodus
Pulpa limpa:
- Pada permukaan irisan melalui
limpa, tampak bintik-bintik putih
dalam
parenkim

nodulus
limfatikus (pulpa putih/pulpa alba)
- Pulpa alba terdapat dalam jaringan merah tua yang penuh dengan darah
pulpa merah/pulpa rubra.
- Pulpa rubra terdiri atas bangunan memanjang yaitu korda limpa (korda
billroth) yg terdapat diantara sinusoid
o Pulpa putih
Terdiri dari jar. limfoid yang menyelubungi A. sentralis dan
nodulus limfatikus
Sel-sel limfoid yang mengelilingi A. sentralis terutama Limfosit T
dan membentuk selubung periarteri.
Nodulus limfatikus terutama limfosit B
Diantara pulpa putih dan pulpa merah terdapat zona marginalis
o Pulpa merah: jar.retikular dengan ciri khas, yaitu adanya:
korda limpa yang terdiri dari sel dan serat retikular
makrofag
limfosit
sel plasma dan banyak unsur darah (eritrosit, trombosit,
granulosit)
Banyak terdapat sinusoid
o Zona marginalis
Terdiri dari banyak sinus dan jar.ikat longgar.
Terdapat sedikit limfosit dan banyak makrofag yg aktif
Banyak mengandung antigen darah peran utama dalam
aktivitas imunologis limpa
o Fungsi limpa
Pembentukan limfosit, dibentuk dalam pulpa putih pulpa rubra
sinusoid bercampur darah
Destruksi eritrosit: Dilakukan oleh makrofag dalam korda pulpa
merah
Pertahanan organisme: Oleh karena kandungan limfosit B,
limfosit T, sel antigen presenting dan makrofag
Tonsil:
o Tonsil Palatine:
Terletak pada dinding lateral faring bagian oral
Permukaan tonsila palatina dilapisi oleh epitel berlapis gepeng
tanpa lapisan tanduk yang juga melapisi bagian mulut lainnya
Setiap tonsila memiliki 10-20 invaginasi epitel (epitel berlapis
gepeng tanpa lapisan tanduk) yang menyusup ke dalam parenkim

membentuk kriptus yang mengandung sel-sel epitel yg terlepas,


limfosit hidup dan mati, dan bakteri dalam lumennya
Yang memisahkan jar.limfoid dari organ-organ berdekatan adalah
satu lapis jaringan ikat padat yamgg disebut simpai tonsila yg
biasanya bekerja sebagai sawar terhadap penyebaran infeksi
tonsila
Di bawah tonsila palatina terdapat jar.ikat padat yang membentuk
kapsul. Dari kapsul terbentuk trabekula dengan pembuluh darah,
dibawah kapsul terdapat serat otot rangka
o Tonsila Lingualis:
Lebih kecil dan lebih
banyak
Terletak pada pangkal
lidah
Ditutupi epitel berlapis
gepeng
Masing-masing
mempunyai
sebuah
kriptus
o Tosila Faringea:
Merupakan tonsila tunggal
yang
terletak dibagian superoposterior faring.
Ditutupi epitel bertingkat
silindris bersilia
Terdiri dari lipatan-lipatan
mukosa
dengan
jar.
Limfoid difus dan nodulus
limfatikus
Tidak memiliki kriptus
Simpai lebih tipis dari T.
palatina
2. Memahami dan Menjelaskan Antigen
2.1. Definisi

Antigen adalah molekul asing besar yang unik yang memicu respon imun spesifik
terhadap dirinya jika masuk ke dalam tubuh. (Sherwood, L. Fisiologi Manusia ed. 6
hal 458)

Antigen adalah bahan yang berinteraksi dengan produk respons imun yang
dirangsang oleh imunogen spesifik seperti antibody dan atau TCR / T Cell Receptor.
(Imunologi Dasar Ed.11)
2.2 Klasifikasi
Antigen dapat dibagi menurut epitop, spesifisitas, ketergantungan terhadap sel T dan
sifat kimiawi:

1) Pembagian antigen menurut epitop


Unideterminan, univalen
Hanya satu jenis determinan/epitop pada satu molekul. Contoh: Hapten
Unideterminan, multivalen
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut
ditemukan pada satu molekul. Contoh: Polisakarida
Multideterminan, univalen
Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya saty dari setiap
macamnya (kebanyakan protein). Contoh: Protein
Multideterminan, multivalen
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu
molekul (antigen dengan berat molekul yang tinggi dan kompleks secara
kimiawi)/ contoh: Kimia kompleks
2) Pembagian antigen menurut spesifisitas
Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
Xenoantigen, yang hanya dimiliki spesies tertentu
Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
Antigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3) Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T
T dependen, yang memerlukan pengenalam oleh sel T terlebih dahulu
untuk dapat menimbulkan respons antibodi. Kebanyakan antigen protein
termasuk dalam golongan ini.
T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk
membentuk antibodi. Kebanyakan antigen golongan ini berupa molekul
besar polimerik yang dipecah didalam tubuh secara perlahan-lahan
misalnya lipopolisakarida, ficoll, dekstran, levan dan flagelin polimerik
bakteri
4) Pembagian antigen menurut sifat kimiawi
Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik. Glikoprotein yang merupakan
bagian permukaan sel banyak mikroorganisme dapat menimbulkan
respons imun terutama pembentukan antibodi. Contoh lain adalah respons
imun yang ditimbulkan golongan dara ABO, sifat antigen dan spesifitas
imunnya berasal dari polisakarida pada permukaan sel dara merah
Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik, tetapi menjadi imunogenik bila diikat
protein pembawa. Lipid dianggap sebagai hapten, contohnya adalah
sfingolipid
Asam nukleat
Asam nukelat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila
diikat protein molekul pembawa. DNA dalam bentuk heliksnya biasanya
tidak imunogenik. Respons imun terhadap DNA terjadi pada penderita
dengan LES
Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umunya multideterminan dan univalen

2.3 Fungsi
Untuk merangsang sistem imun (kekebalan) untuk menimbulkan respons spesifik

3. Memahami dan Menjelaskan Antibodi


3.1. Definisi
Antibodi adalah molekul immunoglobulin yang bereaksi dengan antigen spesifik yang
menginduksi sintesisnya dan dengan molekul yang sama; digolongkan menurut cara
kerja seperti agglutinin, bakteriolisin, hemolisin, opsonin, atau presipitin. Antibodi
disintesis oleh limfosit B yang telah diaktifkan dengan pengikatan antigen pada reseptor
permukaan sel. Antibodi biasanya disingkat penulisaanya menjadi Ab. (Dorlan).
3.2. Klasifikasi
1.

Immnunoglobulin G (IgG) :
IgG merupakan komponen utama serum, merupakan 75% dari semua immunoglobulin. igG
memiliki sifat opsonin yg efektif karena sel-sel fagosit, monosit dan makrofag mempunyai
reseptor untuk fraksi Fc dari IgG. IgG jg dapat menembus plasenta masuk ke janin.

2.

Immnunoglobulin A (IgA) :
Merupakan Ig utama dalam cairan sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan luar tubuh.
IgA dapat menetralkan toksin,mengaglutinasikan kuman dan bekerja sebagai opsonin. IgA
sendiri dapat mengaktifkan komplemen jalur alternatif.

3.

Immnunoglobulin M (IgM) :
IgM merupakan Ig terbesar. IgM juga merupakan Ig paling efektif dalam aktifasi komplemen
Jalur klasik. IgM dibentuk paling awal pada respons imun primer terhadap kebanyakan
antigen. IgM juga merupakan Ig yg predominan diproduksi janin.

4.

Immnunoglobulin D (IgD) :
IgD ditemukan dalam serum dengan kadar yg sangat rendah.IgD merupakan komponen
permukaan utama sel B dan merupakan tanda dari differensiasi sel B yg sudah lebih matang.
IgD jg tidak mengikat komplemen dan tidak dilepas sel plasma.

5.

Immnunoglobulin E (IgE) :
IgE berperan dalam pertahanan terhadap infeksi parasit pengerahan agen antimikrobial. IgE
terutama berperan dalam reaksi alergi dan dapat menimbulkan syok anafilaksis.

3.3 Fungsi
Fungsi utamanya adalah mengikat antigen dan menghantarkannya ke sistem efektor
pemusnahan.
Antibodi molekul sendiri memiliki dua fungsi terpisah. Pertama, antibodi memiliki
kemampuan unik untuk mengenali dan menempel pada zat yang menyebabkan penyakit.
Kedua, dalam mengenali dan melekatkan diri dengan molekul-molekul patogen, mereka

bertindak sebagai penanda, mengirimkan sinyal ke bagian lain dari sistem kekebalan tubuh
untuk menyerang dan menghilangkan zat penyakit terkait.
4. Memahami dan Menjelaskan Respon Imun Tubuh
4.1. Definisi
Sistem perlindungan dari pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan
organ khusus pada suatu organisme.
Sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan
oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan
benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta
menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan
melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan
patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam
tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan
terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa
jenis kanker.
Sistem Imun bisa juga diartikan gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan
dalam resistensi terhadap infeksi, reaksi yang dikoordinasi sel-sel dan molekul-molekul
terhadap mikroba
4.2 Klasifikasi
I. Sistem Imun Non-Spesifik
Disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah ada
dan siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas terhadap
bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial.
Sistem tersebut dalam mengahadapi serangan berbagai mikroba dan dapat
memberikan respons langsung.
A. Pertahanan fisik/mekanik
Kulit, selaput lendir, silia saluran napas, batuk dan bersin, merupakan
garis pertahanan terdepan terhadap infeksi. Keratinosit dan lapisan epidermis
kulit sehat dan epitel mukosa yang utuh tidak dapat ditembus kebanyakan
mikroba. Kulit yang rusak menyebabkan risiko infeksi meningkat. Tekanan
oksigen yang tinggi di paru bagian atas membantu hidup kuman obligat aerob
seperti tuberkulosis
B. Biokimia
Beberapa mikroba dapat masuk melalui kelenjar sebaseus dan folikel
rambut. pH asam keringat dan sekresi sebaseus, berbagai asam lemak yang
dilepas kulit mempunyai efek denaturasi terhadap protein membran sel sehingga
dapat mencegah infeksi yang dapat terjadi melalui kulit. Lizosim dalam keringat,
ludah, air mata dan air susu ibu, melindungi tubuh terhadap berbagai kuman
positif-Gram peptidoglikan dinding bakteri. Air susu ibu juga mengandung
laktooksidase dan asam neuraminik yang mempunyai sifat anti bakterial terhadap
E.koli dan stafilokok. Saliva mengandung enzim seperti laktooksidase yang
merusak dinding sel mikroba dan menimbulkan kebocoran sitoplasma dan juga
mengandung antibodi serta komplemen yang dapat berfungsi sebagai opsonin
dalam lisis sel mikroba.

Asam hidroklorida dalam lambung, enzim proteolitik, antibodi dan empedu


dalam usus halus membantu menciptakan lingkungan yang dapat mencegah
infeksi banyak mikroba. pH yang rendah dalam vagina, spermin dalam semen
dan jaringan lain dapat mencegah tumbuhnya bakteri positif-Gram. Pembilasan
oleh urin dapat menyingkirkan kuman patogen. Laktoferin dan transferin dalam
serum mengikat besi yang merupakan metabolit esensial untuk hidup beberapa
jenis mikroba seperti pseudomonas.
Bahan yang disekresi mukosa saluran napas (enzim dan antibodi) dan telinga
berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi. Mukus dapat menangkap
bakteri dan bahan lainnya yang selanjutnya dikueluarkan oleh gerakan silia.
Polusi, asap rokok, alkohol dapat merusak mekanisme tersebut sehingga
memudahkankan terjadinya infeksi oportunistik.
C. Humoral
Sistem imun nonspesifik menggunakan berbagai molekul larut. Molekul larut
terntu diproduksi di tempat infeksi atau cedera dan berfungsi lokal. Molekul
tersebut antara lain adalah peptida antimkroba seperti defensin, katelisidin dan
IFN dengan efek antiviral.
1) Komplemen: Komplemen merupakan sistem yang terdiri atas sejumlah
protein yang berperan dalam pertahanan penjamu, baik dalam sistem imun
nonspesifik maupun sistem imn spesifik. Komplemen merupakan salah satu
sistem enzim serum yang berfungsi dalam inflamasi, oposonisasi dan
kerusakan (lisis) membran patogen.
Komplemen juga dapat berperan dalam sistem imun spesifik yang setiap
waktu dapat diaktifkan kompleks imun.
Aktivasi komplemenmerupakan usaha tubuh untuk menghancurkan
antigen asing, namun sering pula menimbulkan kerusakan jaringan sehingga
merugikan tubuh sendiri. Komplemen sangat sensitif terhadap sinyal kecil.
- Mediator yang dilepas komplemen
- Aktivasi komplemen
- Reseptor komplemen
- Fungsi biologis komplemen
- Regulator inhibitor komplemen
- Defisiensi komplemen
2) Protein fase akut: Selama fase ini, terjadi perubahan pada kadar beberapa
protein dalam serum yang disebut APP. Protein yang meningkat atau
menurun selama fase akut disebut juga APRP yang berperan dalam
pertahanan dini. APRP diinduksi oleh sinyal yang berasal dari tempat cedera
atau infeksi melalui darah. Hati merupakan tempat sistesis APRP.
a. C-Reactive Protein
CRP yang meruapaka salah satu PFA, termasuk golngan protein yang
kadarnya dalam darah meningkat pada infeksi akut sebagai respons
imunitas nonspesifik. Sebagai opsonin, CRP mengikat bergbagai
mikroorganisme, protein C pneumokok yang membentuk kompleks dan
mengaktifkan komplemen jalur klasik.
b. Lektin
Lektin berperan sebagai opsonin, mengaktifkan komplemen.

c. Protein fase akut lain


Protein fase akut yang lain adalah 1-antitripsin, amiloid serum A,
haptoglobin, C9, faktor B dan fibrinogen yang juga berperan pada
peningkatan laju endapan darah akibat infeksi, namun dibentuk jauh lebih
lambat dibanding dengan CRP.
3) Mediator asal fosfolipid: Metabolisme fosfolipid diperlukan untuk produksi
PG dan LTR. Keduanya meningkatkan responsinflamasi melalui peningkatan
permeabilitas vaskular dan vasodilatasi.
4) Sitokin IL-1, IL-6, TNF-
Selama terjadi infeksi, produk bakteri seperti LPS mengaktifkan makrofag dan
sel lain untuk memproduksi dan melepas berbagai sitokin seperti IL-1 yang
merupakan irogen endogen, TNF- dan IL-6.
5) Pertahanan selular: Fagosit, sel NK, sel mast dan eosinofil berperan dalam
sistem imun nonspesifik selular. Sel-sel sistem imun tersebut dapat ditemukan
dalam sirkulasi atau jaringan.
II. Sistem Imun Spesifik
Sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang
dianggap asing bagi dirinya. Benda asing pertama kali terpajan dengan tubuh segera
dikenal oleh sistem imun spesifik. Pajanan tersebut menimbulkan sensitasi, sehingga
antigen yang sama dan masuk tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan
kemudian dihancurkan.
A. Humoral
Pemeran utama dalam sistem imun spesifik humoral adalah linfosit B atau sel B.
Sel B dirangsangoleh benda asing akan berproliferasi, berdiferensiasi dan
berkembang menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi. Antibodi yang
dilepas dapat ditemukan dalam serum.
B. Selular
Limfosit T atau sel T berperan dalam sistem imun spesifik selular. Berbeda
dengan sel B, sel T terdiri atas beberapa subset sel dengan fungsi yang berlaian
yaitu sel CD4+ (Th1, Th2), CD8+ atau CTL atau Tc dan Ts atau sel Tr atau Th3.
Sel CD4+ mengaktifkan sel Th1 yang selanjutnya mengaktifkan makrofag untuk
menghancurkan mikroba. Sel CD8+ memusnahkan sel terinfeksi.
4.3 Fungsi
Fungsi sistem imun sendiri ada 3, yaitu :
1. Pertahanan
2. Homeostasi tubuh
3. Peremajaan
5. Memahami dan Menjelaskan Imunisasi dan Vaksin
5.1. Definisi
Vaksin adalah segala persiapan dimaksudkan untuk menghasilkan kekebalan terhadap penyakit
dengan merangsang produksi antibodi. Vaksin termasuk, misalnya, suspensi mikroorganisme
dibunuh atau dilemahkan, atau produk atau turunan dari mikroorganisme. Metode yang paling

umum dari pemberian vaksin adalah melalui suntikan, namun ada juga yang diberikan melalui
mulut atau semprot hidung. (WHO)
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan antigen serupa,
tidak terjadi penyakit (Ranuh, 2008). Imunisasi adalah proses dimana seseorang
dibuat kebal atau resisten terhadap penyakit menular, biasanya dengan pemberian
vaksin (WHO, 2013).
5.2 Klasifikasi
.
Imunisasi dibagi

menjadi 2,

yaitu

imunisasi aktif dan imunisasi pasif.

Imunisasi aktif adalah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan kepada
tubuh dari antigen yang berasal dari suatu patogen, dengan harapan tubuh akan
membentuk sistem kekebalan terhadap patogen tersebut. Imunisasi aktif sering
disebut dengan vaksinasi (Abbas et al, 2001 dan Grabenstein, 2006)
Imunisasi telah dipersiapkan sedemikian rupa, agar tidak menimbulkan
merugikan. Imunisasi ada 2 macam yaitu:
1) Imunisasi aktif

efek-efek

yang

Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah dilemahkan (vaksin) agar nantinya sistem
imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan terhadap antigen ini, sehingga
ketika terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan merersponnya. Contoh imunisasi aktif adalah
imunisasi polio atau campak.
2) Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara
pemberian
zat
imunoglobulin yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal
dari plasma manusia (kekebalan yang di dapat bayi dari ibu melalui plasenta) atau binatang
(bisa ular) yang digunakan untuk mengatasi mikroba yang sudah masuk dalam tubuh yang
terinfeksi. Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum)
pada orang yang mengalami luka kecelakaan (Proverawati, 2010).
a. Imunisasi BCG

Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis


(TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak
dianjurkan karena keberhasilannya diragukan.
Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur
kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih
dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.

Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang


dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.
Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem
kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan
steroid
jangka
panjang,
penderita
infeksi
HIV).

Reaksi yang mungkin terjadi:


1) Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat
penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba
keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung
berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus).
Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12
minggu dengan meninggalkan jaringan parut.
2) Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau
leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan
menghilang dalam waktu 3-6 bulan.
Komplikasi yang mungkin timbul adalah:
Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena
penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan.
Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan
aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.
Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau
dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.
b. ImunisasiDPT

Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap


difteri, pertusis dan tetanus.
Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang
berumur kurang dari 7 tahun.Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk
suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2
bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu
tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun
setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun).
Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka
sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan
booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun
(karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah
10
tahun
perlu
diberikan
booster).
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang
mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap
difteri selama 10 tahun.
DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam
ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek


o
o
o
o

samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam


vaksin.
Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut
:
demam tinggi (lebih dari 40,5 Celsius)
kejang
kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah
mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)
syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).

Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi
DPT bisa ditunda sampai anak sehat. Jika anak pernah mengalami kejang,
penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda
sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.
1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan,
nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan. Untuk mengatasi
nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).
Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres
hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang
bersangkutan.
c. Imunisasi DT

Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh


kuman penyebab difteri dan tetanus.
Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh
atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima
imunisasi difteri dan tetanus.
Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL. Vaksin ini tidak
boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam
tinggi. Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan
pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 12 hari.
d. Imunisasi TT

Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap


penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk
pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.
Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat
kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan. Vaksin ini disuntikkan pada otot paha
atau lengan sebanyak 0,5 mL. Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi
lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa
nyeri.

e. Imunisasi Polio

Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.


Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun
kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot
pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.
Terdapat 2 macam vaksin polio :
o IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio
yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
o OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang
telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk
monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak
kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah
imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat
meninggalkan SD (12 tahun).

Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2


tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang
berisi air gula.
Kontra indikasi pemberian vaksin polio:
o Diare berat
o Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)
o Kehamilan.

Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.


Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan
primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan
kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertinggi.
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak
perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian
ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang
belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi,
sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi
alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau
neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita
gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia,
kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada
orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau
obat imunosupresan lainnya.
IPV
bisa
diberikan
kepada
anak
yang
menderita
diare.
Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan
imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih.
IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang
biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.

f. Imunisasi Campak

Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak


(tampek).
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan
atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan
diulangi
6
bulan
kemudian.
Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.
Kontra indikasi pemberian vaksin campak :
o infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38?Celsius
o gangguan sistem kekebalan
o pemakaian obat imunosupresan
o alergi terhadap protein telur
o hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin
o wanita hamil.
Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare,
konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).
g. Imunisasi MMR

Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan


campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.
Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair.
Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa
menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan
kematian. Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan
pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan
bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan
pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada
buah zakar sehingga terjadi kemandulan. Campak Jerman (rubella) menyebabkan
demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher.
Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.
Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan
bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli). Terdapat dugaan bahwa
vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa
tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.
Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak,
gondongan dan campak Jerman. Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR
hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu
memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.
Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan
pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat,
karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum
masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).

Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau
lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau
baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.
Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah
memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit
tersebut pada masa kanak-kanak. Pada 90-98% orang yang menerimanya,
suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak,
campak
Jerman
dan
gondongan.
Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak
dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.
Efek samping : 1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal
ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR. Demam 39,50 Celsius atau
lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam
ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2
hari. Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.
Komponen
gondongan
Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung selama
beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.
Komponen
campak
Jerman
Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari,
timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15%
anak yang mendapat suntikan MMR.
Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu
setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima
suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang
nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul).
Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada
kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan
MMR.
Jarang
terjadi
kerusakan
sendi
akibat
artritis
ini.
Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada
orang
dewasa.
Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun
bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2
minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.
Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih. Imunisasi MMR sebaiknya tidak
diberikan kepada:
o anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin
o anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin
o anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker,
leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid,
kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.
o wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.

h. Imunisasi Varisella

Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.


Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara
perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.
Anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan
untuk menjalani imunisasi varisella. Anak-anak yang mendapatkan suntikan
varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin. Kepada
anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan
vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2
dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.
Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah
kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan
varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan
(kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal)
dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat.
Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 1020 tahun, mungkin juga seumur hidup.
Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa :
o demam
o nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan
o ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.
Efek samping yang lebih berat adalah :
o kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah
penyuntikan
o pneumonia
o reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan
pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan
perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa
menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat
jarang terjadi.
o ensefalitis
o penurunan koordinasi otot.
Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada :
Wanita hamil atau wanita menyusui
Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan
yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan
imunosupresif bawaan
Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik
neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil
kedua bahan tersebut
Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius,
kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)

Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi


kortikosteroid
Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau
komponen darah lainnya
Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima
suntikan immunoglobulin.

i. Imunisasi HBV

Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah


suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.
Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki
HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan. Imunisasi dasar
diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I
dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV
III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum
memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg.
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.
Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV
pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan
kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak
berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan.
Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan
HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu
diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan
HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu). Pemberian imunisasi kepada
anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih. Vaksin
HBV dapat diberikan kepada ibu hamil.
Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan
sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang
akan hilang dalam beberapa hari.

Jenis vaksin

Penyakit

Keuntungan

Kerugian

Vaksin hidup

Memerlukan
alat
Campak,
parotitis,
Respon imun kuat, sering pendingin
untuk
polio(sabin),
virus
seumur hidup dengan menyimpan dan dapat
rota, rubella, yellow
bebrapa dosis
berubah
menjadi
fever, tuberkolosis
bentuk virulen

Vaksin mati

Toksoid

Respons imun lebih


Stabil, aman dibanding
Kolera,
influenza,
lemah
dibanding
vaksin
hidup,
tidak
hepatitis A, pes, polio,
vaksin hidup, biasanya
memerlukan
alat
(salk), rabies
diperlukan
suntikan
pendingin.
booster.

Difteri, tetanus

Respons imun
untuk mengenal
bakteri

dipacu
toksin

Antigen
spesifik
Subunit
(eksotoksin Hepatitis B, pertusis,
Sulit
menurunkan kemungkinan
yang diinaktifkan)
S. pneumoni
dikembangkan
efek samping

untuk

Memacu sistem imun bayi


H. influenza B, S.
untuk mengenak sistem
Pneumoni
tertentu

Konjugat

DNA

Dalam uji klinis

Respons imun humoral dan


selular kuat, relatif tidak
Belumdiperoleh
mahal untuk
Manufaktur

Vektor rekombinan

Dalam uji klinis

Menyerupai
infeksi
alamiah,menghasilkan
Belum diperoleh
respon imun yang kuat

5.3 Fungsi
1)Untuk anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit dan kemungkinan cacat
atau kematian.
2) Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak
sakit. Mendorong pembentukan keluarga
apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
3) Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal
untuk melanjutkan pembangunan negara (Proverawati, 2010).
5.4 Tata Cara Pemberian Imunisasi

Sebelum melakukan vaksinasi, dianjurkan mengikuti tata cara seperti berikut :


Memberitahukan secara rinci tentang resiko imunisasi dan resiko apabila
tidak divaksinasi.
Baca dengan teliti informasi tentang yang akan diberikan dan jangan lupamendapat
persetujuan orang tua.
Tinjau kembali apakah ada indikasi kontra terhadap vaksin yang akan diberikan.
Periksa identitas penerima vaksin.
Periksa jenis vaksin.
Periksa tanggal kadaluarsa

Yakin bahwa vaksin yang akan diberikan sesuai jadwal.


Berikan vaksin dengan teknik yang benar.

5.5 Kontraindikasi
Kontraindikasi dalam pemberian imunisasi ada 3 yaitu
a. Analfilaksis atau reaksi hipersensitivitas yang hebat merupakan kontraindikasi
mutlak terhadap dosis vaksin berikutnya. Riwayat kejang demam dan panas lebih
dari 38C merupakan kontraindikasi pemberian DPT atau HB1 dan campak.
b. Jangan berikan vaksin BCG kepada bayi yang menunjukkan tanda- tanda dan
gejala AIDS, sedangkan vaksin yang lain sebaiknya diberikan.
c. Jika orang tua sangat berkeberatan terhadap pemberian imunisasi kepada bayi
yang sakit, lebih baik jangan diberikan vaksin, tetapi mintalah ibu kembali lagi
ketika bayi sudah sehat (Proverawati,2010).
6. Pandangan Islam Terhadap Pemberian Vaksin
Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena termasuk penjagaan diri dari
penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barangsiapa
yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan
sihir(HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyariatkannya mengambil sebab untuk
membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi
wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala
terkena penyakit.
Boleh dalam kondisi darurat dalil firman Allah :
Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS. Al- Anam [6]:119)