Anda di halaman 1dari 2

Pentingnya Pembelajaran PAI Yang Bermakna

Dalam Menghadapi Tantangan Zaman


Tulisan
ini terinspirasi dari kegiatan lokakarya dan seminar yang
diselenggarakan MGMP PAI propinsi Jawa Tengah dengan tema Menangkal Ajaran
Radikalisme Beragama Terhadap Generasi Muda Melalui Media Informasi Untuk
Membangun Karakter Islam Rahmatan Lil Alamin Dalam Perspektif Pendidikan
Agama Islam Di Sekolah. Hadir sebagai narasumber Bp Bekti Nugroho (Anggota KPI
Pusat), Dr.H.A Lutfi Hamidi, M.Ag (Rektor IAIN Purwokerto) dan Kepala Kanwil
Kemenag Propinsi Jawa Tengah.
Sebuah wacana kekinian yang penting untuk dicermati bagi kehidupan masa
depan beragama, berbangsa dan bernegara. Seminar yang menarik tapi sangat
terbatas waktunya, sehingga dalam forum tersebut tidak terbuka dialog dengan
guru PAI sebagai audiens yang mewakili rekan GPAI Kabupaten-kabupaten di Jawa
Tengah.
Isu tentang Radikalisme, ISIS, pemikiran pragmatisme yang terbungkus
dengan wajah agama adalah latarbelakang keprihatinan besar yang menimbulkan
kesadaran bagi seorang Pendidik Agama Islam (GPAI) untuk memiliki wacana yang
luas dan dalam untuk mendampingi dan mengantarkan putra putrinya dalam
membangun konsep beragama.
lets Think Globally,Act Locally , Kalau bagi penulis sebagai GPAI
mengikuti pemaparan para narasumber yang terjadi adalah memikirkan tentang
keberadaan kita sebagai salah satu unsur yang ikut menetukan mindset/
pemahaman siswa didik kita kepentingannya terhadap Islam Sebagai Rahmatan lil
Alamin.Penting banget untuk menanamkan pemahaman agama secara mendalam
bukan hanya di kulit-kulitnya semata, tentang misi Islam yang dari kata dasarnya
adalah keselamatan. Bagaimana Islam mengajarkan dan membimbing seseorang
untuk hadir sebagai sosok pribadi yang tidak bisa dan tidak boleh lepas dari
kehidupan sosialnya.
Terlebih mempertimbangkan Kebetulan saya GPAI yang mengajar di daerah
yang multi kultur, adat ,budaya agama dan golongannya. Di sekolah negeri seperti
tempat kami adalah tempat yang menempa kekuatan membangun tasamuh,
toleransi, memahami makna bersama , berteman, bersahabat dan bekerjasama.
Semua unsur baik itu siswa, tenaga pendidik dan kependidikan, disini kami
berkumpul dengan agama yang berbeda-beda. Menikmati piring makanan bersama,
bercanda tertawa bersama, menyemangati dan bekerjasama. Perbedaan itu indah
disini.
Seperti itulah berpesan dalam tema-tema pembelajaran PAI, menceritakan
kisah damainya kita meskipun dalam perbedaan, tanpa harus membuat kita
kehilangan prinsip-prinsip yang harus tetap di genggam.

Mengutip sebuah catatan inspiratif dari dinding facebook seorang teman @umie
marfuah dari purworejo :
1.Kita wajib menghargai perbedaan, jadi jangan paksa Untuk harus sama ya, yes,
pluralisme no
2. Kita punya hak asasi untuk diperjuangkan, tapi jangan lupa juga kita punya
kewajiban asasi yg hrus dijalankan, yg beradab yess, liberal no
3. Org bilang: Islam itu bukan Arab, jadi orang Indonesia tak perlu ke-arab2an untuk
menjadi muslim. Ok..ok... (meski tak mu gkin lah sholat pakai bahasaIndonesia...)
Tapi modern dan beradab itu bukan Barat, jadi orang Indonesia tak perlu ke
Barat2an untuk menjadi manusia modern yg beradab , Arab, Barat, Timur, smua
yess yg baik2.... no yg g baik
4. Banyak yg ribut saat beberapa kurang respon dg budaya (seni/hiburan), tapi
sdikit yg ribut saat budaya (etika, adab/sopan santun) di obrak abrik.... yess, edan
no

Jadi intinya GPAI punya peran untuk mengantar pembelajaran agama yang
bermakna yang memainkan hati pikiran dan motoriknya. Tidak sekedar menghafal
atau ikut-ikutan tetapi memahami essensi kebenaran dan menempatkan agama
sebagai bimbingan kebaikan dalam kehidupanya.