Anda di halaman 1dari 10

Hernia inguinalis

Etiologi
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang
didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak pada lelaki ketimbang
perempuan. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk hernia pada
anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantong hernia dan isi hernia.
Selain itu diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah
terbuka cukup lebar itu.
Pada orang yang sehat, ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia
inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m.oblikus internus
abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi dan adanya fasia
transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hasselbach yang umumnya hampir tidak
berotot. Gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya hernia.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya hernia inguinalis antara lain
1. Kelemahan aponeurosis dan fasia tranversalis,
2. Prosesus vaginalis yang terbuka, baik kongenital maupun didapat,
3. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik, hipertrofi prostat, konstipasi,
dan asites,
4. Kelemahan otot dinding perut karena usia,
5. Defisiensi otot,
6. Hancurnya jaringan penyambung oleh karena merokok, penuaan atau penyakit
sistemik.
Pada neonatus kurang lebih 90 % prosesus vaginalis tetap terbuka, sedangkan pada
bayi umur satu tahun sekitar 30 % prosesus vaginalis belum tertutup. Akan tetapi, kejadian
hernia pada umur ini hanya beberapa persen. tidak sampai 10 % anak dengan prosesus
vaginalis paten menderita hernia. Pada lebih dari separuh populasi anak, dapat dijumpai
prosesus vaginalis paten kontralateral, tetapi insiden hernia tidak melebihi 20 %. Umumnya
disimpulkan adanya prosesus vaginalis yang paten bukan merupakan penyebab tunggal
terjadinya hernia, tetapi diperlukan faktor lain, seperti anulus inguinalis yang cukup besar.

Dalam keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus
turut kendur. Pada keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis
berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi, kanalis inguinalis
berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya
usus ke dalam kanalis inguinalis. Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat
kerusakan n.ilioinguinalis dan iliofemoralis setelah apendektomi. Jika kantong hernia
inguinalis lateralis mencapai skrotum, hernia disebut hernia skrotalis.
Gambaran Klinis dan Diagnosis
Gejala dan tanda klinis hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada hernia
reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha yang muncul pada waktu
berdiri, batuk, bersin, atau mengedan dan menghilang setelah berbaring. Keluhan nyeri
jarang dijumpai kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau periumbilikal
berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus halus
masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual muntah baru timbul kalau terjadi
inkaserata karena ileus atau strangulasi karena nekrosis atau gangren.
Tanda klinis pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada saat inspeksi
saat pasien mengedan, dapat dilihat hernia inguinalis lateral muncul sebagai penonjolan di
regio inguinalis yang berjalan dari lateral atas medial bawah. Kantong hernia yang kosong
dapat diraba pada funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang
memberikan sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut tanda sarung tangan
sutera, tetapi pada umumnya tanda ini susah ditentukan. Kalau kantong hernia berisi organ,
tergantung isinya, pada palpasi mungkin teraba usus, omentum maupun ovarium. Dengan jari
telunjuk atau dengan jari kelingking, pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia dengan
cara mendorong isi hernia dengan menekan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga
dapat ditentukan apakah hernia ini dapat direposisi atau tidak. Dalam hal hernia dapat
direposisi, pada waktu jari masuk berada dalam anulus eksternus, pasien diminta mengedan.
Kalau ujung jari menyentu hernia berarti hernia inguinalis lateralis, dan bagian sisi jari yang
menyentuhnya adalah hernia inguinalis medial. Diagnosis ditegakkan atas dasar benjolan
yang dapat direposisi, atau jika tidak dapat direposisi, atas dasar tidak adanya pembatasan
jelas di sebelah kranial dan adanya hubungan ke kranial melalui anulus eksternus.

Penatalaksanaan hernia inguinalis


Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakian
penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. Reposisi
tidak dilakukan pada hernia strangulata kecuali pada anak-anak. Reposisi dilakukan secara
bimanual dimana tangan kiri memegang isi hernia dengan membentuk corong dan tangan
kanan mendorong isi hernia ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang tetap
sampai terjadi reposisi.
Pada anak-anak inkaserasi sering terjadi pada umur kurang dari dua tahun. Reposisi
spontan lebih sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi dibanding
orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh karena cincin hernia pada anak-anak masih elastis
dibanding dewasa. Reposisi dilakukan dengan cara menidurkan anak dengan pemberian
sedatif dan kompres es di atas hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil maka anak akan
dipersiapkan untuk operasi berikutnya. Jika reposisi tidak berhasil dalam waktu enam jam
maka harus dilakukan operasi sesegera mungkin. Pemakaian bantalan atau penyangga hanya
bertujuan agar menahan hernia yang sudah direposisi dan tidak pernah menyembuh dan harus
dipakai seumur hidup. Cara ini mempunyai komplikasi antara lain merusak kulit dan tonus
otot dinding perut di daerah yang ditekan sedangkan strangulasi tentang mengacam. Pada
anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofi testis karena tekanan pada tali sperma yang
mengandung pembuluh darah testis.
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip pengobatan hernia
adalah herniotomi dan hernioplasti.
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya, kantong dibuka
dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlengketan, kemudian direposisi, Kantong hernia
dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplastik dalam mencegah residif
dibandingkan dengan herniotomi. Dikenalnya berbagai metode hernioplastik seperti
memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat
fasia tranversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus abdominis internus dan m. internus
abdominis yang dikenal dengan cojoint tendon ke ligamentum inguinal poupart menurut
metode basinni atau menjahit fasia tranversa, m.tranversa abdominis, m.oblikus internus ke
ligamentum cooper pada Mc Vay. Teknik herniorafi yang dilakukan oleh basinni adalah
setelah diseksi kanalis inguinalis, dilakukan rekontruksi lipat paha dengan cara

mengaproksimasi muskulus oblikus internus, muskulus tranversus abdominis dan fasia


tranversalis dengan traktus iliopubik dan ligamentum inguinale, teknik ini dapat digunakan
pada hernia direk maupun hernia inderek. Kelemahan teknik Basinni dan teknik lain yang
berupa variasi teknik herniotomi Bassini adalah terdapatnya regangan berlebihan dari otot
yang dijahit. Untuk mengatasi masalah ini pada tahun delapan puluhan dipopulerkan
pendekatan operasi bebas regangan. Pada teknik itu digunakan protesis mesh untuk
memperkuat fasia transversalis yang membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa menjahit
dasar otot-otot ke inguinal.
Komplikasi
Komplikasi hernia tergatung kepada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi hernia
dapat bertahan dalam kantong hernia pada hernia ireponibel, ini dapat terjadi kalau isi hernia
terlalu besar, misalnya terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal, disini tidak ada keluhan
kecuali ada benjolan. Dapat pula isi hernia terjepit oleh cincin hernia yang akan menimbulkan
hernia strangulata. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi
hernia. Pada permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi udem organ atau struktur
didalam hernia dan terjadi transudasi kedalam kantong hernia. Timbulnya udem akan
menambah jepitan pada cincin hernia sehingga perfusi jaringan makin terganggu. Isi hernia
menjadi nekrosis dan kantong hernia akan terisi transudat yang bersifat serosanguinis. Kalau
isi hernia terdiri dari usus maka akan terjadi perforasi yang akhirnya akan menimbulkan
abses lokal, fistel dan peritonitis jika ada hubungan dengan rongga perut. Gambaran klinis
pada hernia inkaserata yang mengandung usus yang dimulai dengan gambaran obstruksi usus
dengan gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basah. Bila terjadi strangulasi
akan menyebabkan gangguan vaskularisasi dan akan terjadilah ganggern. Hernia strangulata
adalah keadaan emergensi yang perlu tindakan operatif secepatnya.

FRAKTUR
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya.
( Smeltzer, Suzanne C. 2001 )
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan oleh
rudapaksa. ( Mansjoer, Arif. 2000 )
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh. ( Reeves, Charlene J. 2001 )
Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,
terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar
dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)
Klasifikasi Fraktur
1. Menurut ada tidaknya hubungan antara patahan tulang dengan dunia luar:
1.1 Fraktur tertutup (Closed)
Dikatakan tertutup bila tidak terdapat hubungan antara frakmen tulang dengan dunia
luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada
fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak
sekitar trauma, yaitu :
1) Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera jaringan lunak sekitarnya.
2) Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
3) Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam
dan pembengkakan.
4) Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata dan ancaman
sindroma kompartement.
1.2 Fraktur terbuka (Open/Compound fraktur)
Dikatakan terbuka bila tulang yang patah menembus otot dan kulit yang
memungkinkan/potensial untuk terjadi infeksi dimana kuman dari luar dapat masuk
ke dalam luka sampai ke tulang yang patah.
Derajat patah tulang terbuka :
1) Derajat I : Laserasi < 2 cm, fraktur sederhana, dislokal fragmen minimal.
2) Derajat II : Laserasi > 2 cm, kontusio otot dan sekitarnya, dislokasi fragmen jelas.
3) Derajat III : Luka lebar, rusak hebat, atau hilangnya jaringan sekitar.

2. Menurut derajat kerusakan tulang :


2.1 Patah tulang lengkap (Complete fraktur). Dikatakan lengkap bila patahan tulang
terpisah satu dengan lainnya, atau garis fraktur melibatkan seluruh potongan
menyilang dari tulang dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
2.2 Patah tulang tidak lengkap (Incomplete fraktur). Bila antara patahan tulang masih
terjadi hubungan sebagian. Salah satu sisi patah yang lainnya biasanya hanya bengkok
yang sering disebut green stick.
3. Menurut bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.
3.1 Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan
akibat trauma angulasi atau langsung.
3.2 Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu
tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.
3.3 Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan
trauma rotasi.
3.4 Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang ke arah permukaan lain.
3.5 Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan
4. Menurut jumlah garis patahan.
4.1 Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling
berhubungan.
4.2 Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
4.3 Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang
yang sama
Patofisiologi
Fraktur paling sering disebabkan oleh trauma. Hantaman yang keras akibat
kecelakaan yang mengenai tulang akan mengakibatkan tulang menjadipatah dan fragmen
tulang tidak beraturan atau terjadi discontinuitas di tulang tersebut. Fraktur dapat berupa
fraktur terbuka dimana ujung tulang yang patahmenembus keluar dari kulit sehingga
berhubungan dengan dunia luar atau dapat berupa fraktur tertutup dimana ujung tulang yang
patah masih berada didalam kulit. Ujung tulang yang patah sangat tajam dan berbahaya bagi

jaringan disekitarnya, karena saraf dan pembuluh darah berada didekat tulang sehingga sering
kali terkena jika terjadi fraktur.
Lesi neurovaskuler ini dapat terjadi karena laserasi oleh ujung atau karena
peningkatan tekanan akibat pembengkakan atau hematoma. Fraktur tertutup dapat sama
berbahayanya dengan fraktur terbuka karena jaringan lunak yang cidera sering kali
mengeluarkan darah cukup banyak. Perlu diingat bahwa setiap ada kerusakan kulit didekat
daerah fraktur dapat dianggap sebagai jalan masuk bagi kontaminasi. Fraktur terbuka
memiliki resiko terjadinya kontaminasi disamping hilangnya darah. Jika fragmen tulang yang
keluar atau menembus kulit dimasukan lagi, maka ujung tulang yang telah terkontaminasi
bakteri akan menyebabkan bakteri ikut masuk kedalam jaringan sehingga dapat menyebabkan
infeksi. Infeksi ini akan menyebabkan sulitnya penyembuhan tulang dan dapat menyebabkan
komplikasi sepsis.
Manifestasi Klinik
1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat
2. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
3. Pemendekan tulang terjadi karena kontraksi otot yang melekat di atas dan
bawah tempat fraktur.
4. Krepitasi akibat gesekan fragmen satu dengan lainnya
5. Pembengkakan /edema
6. Kurang/hilang sensasi
7. Pergerakan abnormal
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur
2. Scan tulang, tomogram, CT-scan / MRI: Memperlihatkan fraktur dan mengidentifikasi
kerusakan jaringan lunak
3. Pemeriksaan darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multipel). Peningkatan
sel darah putih adalah respon stres normal setelah trauma.
4. Kreatinin: Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal.

Penatalaksanaan
Empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur yaitu:
1. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, derajat keparahannya, harus jelas untuk mentukan diagnosa dan
tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan
bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas
rangka.
2. Reduksi (Manipulasi / Reposisi)
Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang
yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya. Upaya untuk
memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimun.
Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka.
Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak
kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada
kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mulai
mengalami penyembuhan.
3. Retensi (Immobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti
semula secara optimum. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi,
atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi
eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin dan teknik gips, atau
fiksator eksterna. Implan logam dapat digunakan untuk fiksasi interna yang berperan
sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
4. Rehabilitasi
Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi
dan kontraktur. Bila keadaan memungkinkan, harus segera dimulai melakukan
latihan-latihan untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi

HIDROKEL
Hidrokel, hydroceles adalah penumpukan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis
dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berada di dalam rongga itu
memang ada dan berada dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem
limfatik di sekitarnya

Etiologi
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: (1) belum
sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran cairan peritoneum ke
prosesus vaginalis (hidrokel komunikans) atau (2) belum sempurnanya sistem limfatik di
daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel. Pada orang dewasa, hidrokel
dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena
didapatkan kelainan pada testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem
sekresi atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu mungkin suatu
tumor, infeksi, atau trauma pada testis/epididimis.
Gambaran klinis
Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri. Pada
pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum dengan konsistensi kistus
dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya transiluminasi. Pada hidrokel
yang terinfeksi atau kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan
pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan ultrasonografi. Menurut letak
kantong hidrokel terhadap testis, secara klinis dibedakan beberapa macam hidrokel, yaitu (1)
hidrokel testis, (2) hidrokel funikulus, dan (3) hidrokel komunikan. Pembagian ini penting
karena berhubungan dengan metode yang akan dilakukan pada saat melakukan koreksi
hidrokel.

Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah-olah mengelilingi testis sehingga testis
tak dapat diraba. Pada anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah sepanjang
hari.

Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di funikulus yaitu terletak di sebelah
kranial dari testis, sehingga pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di luar kantong
hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap sepanjang hari.

Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara prosesus vaginalis dengan rongga
peritoneum sehingga prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritonium. Pada anamnesis,
kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah yaitu bertambah besar pada saat anak
menangis. Pada palpasi, kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat dimasukkan ke
dalam rongga abdomen.

Terapi
Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan
harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri; tetapi jika
hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar perlu difikirkan untuk dilakukan koreksi.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan operasi. Aspirasi cairan
hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat
menimbulkan penyulit berupa infeksi.
Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: (1) hidrokel yang
besar sehingga dapat menekan pembuluh darah, (2) indikasi kosmetik, dan (3) hidrokel
permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya
sehari-hari.
Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali hidrokel ini
disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel, sekaligus melakukan
herniorafi Pada hidrokel testis dewasa dilakukan pendekatan skrotal dengan melakukan eksisi
dan marsupiliasi kantong hidrokel sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel
sesuai cara Lord. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto