Anda di halaman 1dari 16

BAB 9

MENULIS STUDI KUALITATIF

Beberapa Strategi Penulisan


Tidak diragukan, bentuk narasi sangat beragam dalam penelitian kualitatif. Ketika
mengulas bentuk ini, Glesne dan Peshkin (1992) mencatat bahwa narasi dalam corak
penuturan cerita telah mengaburkan batas antara fiksi, jurnalisme dan studi ilmiah.
Sebagian penulisan sangat berstandar pada deskripsi tentang peristiwa, sementara yang
lain mengembangkan sejumlah yang kecil temaau perspektif. Narasi dapat mencakup
kehidupan khas dari individu atau kelompok. Sebagian penulisan sangat berorientasi
pada teori, misalnya Harper School dari Stakes (1995), menggunakan sedikit
literature dan teori. Di samping itu, sejak terbitnya karya Clifford dan Marcus (1986)
Writing Culture dalam etnografi, penulisan kualitatif banyak dipengaruhi oleh
kebutuhan para peneliti untuk terbuka tentang peran mereka dalam penulisan,
dampaknya pada para partisipan, dan bagaimana informasi yang disampaikan dibaca
oleh para audiensi. Refleksivitas dan representasi dari peneliti menjadi isu pertama yang
akan kita bahas.

Refleksitas dan Penyajian dalam Penelitian


Para peneliti sekarang ini jauh lebih terbuka tentang tulisan kualitatifnya daripada
beberapa tahun sebelumnya. Sebagaimana ditulis oleh Laurel Richardson, para peneliti
tidak perlu mencoba manjadi Tuhan, menulis sebagai narrator yang mahatahu memiliki
pengetahuan umum yang universal dan kekal. Sebagai respons Denzin (1989) dalam
pendekatan interpretative-nya, para peneliti sekarang ini mengakui bahwa penulisan
teks kualitatif tidak dapat dipisahkan dari penulis, bagaimana ia dipaahami oleh
pembaca, dan bagaimana ia memengaruhi para partisipan dan tempat yang sedang
diteliti.
Bagaimana kita menulis adalah refleksi dari penafsiran kita sendiri berdasarkan
pada kebudayaan, sosial, gender, kelas dan politik pribadi yang kita bawa ke dalam
0

riset. Menurut Richardson (1994), tulisan yang baik adalah tulisan yang mengakui
ketidakpastiannya, dan semua tulisan memiliki subteks yang menempatkan atau
memosisikan materi tersebut kerangka waktu dan tempat yang spesifik. Dalam
perspektif ini, tidak ada tulisan yang memiliki status istimewa atau superioritas di atas
tulisan lain.
Selain itu, terdapat perhatian yang semakin meningkat tentang dampak tulisan
terhadap para partisipan. Barangkali tulisan para peneliti secara objektif, dalam cara
ilmiah, memiliki dampak membungkam para partisipan, dan membungkam para
penelitiannya juga. Gilgun (2005) menyatakan bahwa kebungkaman ini kontradiktif
dengan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendengar semua suara dan
perspektif. Selain itu, tulisan tersebut juga memiliki dampak pada pembaca yang juga
membuat penafsiran terhadap tulisan tersebut, bahkan mungkin membentuk penafsiran
yang sepenuhnya berbeda dari penafsiran penulis atau partisipan. Sungguh, tulisan
tersebut dapat berupa penampilan/ertunjukan, dan penulisan penelitian kualitatif
menjadi teks telah meluas hingga mencakup tulisan split-page, teater, puisi, fotografi,
music, kolase, lukisan, patung, quilting, dan tarian.
Weis dan Fine (2000) membahas refleksi diri tentang rangkaian titik-titik
kesadaran kritis di seputar persoalan tentang bagaimana merepresentasikan tanggung
jawab dalam tulisan kualitatif. Beberapa poin yang harus dipertimbangkan oleh
peneliti kualitatif:

Haruskah saya menulis tentang apa yang dikatakan oleh orang-orang atau
mengakui bahwa terkadang mereka tidak dapat mengingat atau memilih
untuk tidak mengingat?

Apa saja refleksivitas politik saya yang perlu di masukkan dalam laporan
saya?

Apakah tulisan saya menghubungkan suara dan ceritadari individu dengan


rangkaian hibungan historis, structural, dan ekonomi di mana mereka
terlibat di dalamnya?

Sejauh mana seharusnya saya bergerak dalam meneorikan kata-kata dari


para partisipan?

Apakah saya telah mempertimbangkan bagaimana kata saya dapat


digunakan untuk kebijakan sosial yang progresif, konservatif dan represif?

Etika dan Filsafat Komunikasi

Sejauh mana analisis (dan tulisan) saya menawarkan alternative di samping


pemahaman umum atau diskursus yang dominan?

Para peneliti kualitatif perlu memosisikan diri mereka dalam tulisan mereka.
Hal ini merupakan konsep tentang refleksivitas di mana penulis sadar akan bias, nilai
dan pengalaman yang dia bawa serta ke dalam studi penelitian kualitatif. Salah satu ciri
dari penelitian kualitatif yang baik adalah peneliti menyatakan secara jelas posisi-nya.
Refleksivitas memiliki dua bagian. Bagian pertama, peneliti berbicara tentang
pengalamannya dengan fenomena yang sedang diteliti. Hal ini melibatkan penyebutan
pengalaman masa lalu tentang pekerjaan, sekolah, dinamika keluarga dan seterusnya.
Bagian kedua adalah membahas bagaimana pengalaman masa lalu ini memengaruhi
penafsiran peneliti terhadap fenomena tersebut.

Audiens untuk Tulisan Kita


Sebuah aksioma dasar menyatakan bahwa penulis menulis untuk audiensi. Maka
dari itu, para penulis secara sadar berfikir tentang satu kelompok audiensi atau beragam
audiensi untuk studi-studi mereka. Tierny (1995), misalnya mengidentifikasi empat
audiensi potensial kolega, mereka yang terlibat dalam wawancara dan pengamatan, para
pembuat kebijakan, dan masyarakat umum. Pendeknya, bagaimana temuan disajikan
bergantung pada audiensi yang dituju oleh tulisan tersebut.

Mengodekan Tulisan Kita


Topik yang terkait erat adalah tentang pentingnya pengaruh bahasa dalam
membentuk teks-teks kualitatif kita. Studi Richardson (1990) tentang para perempuan
yang menikah memperlihatkan bagaimana seorang penulis dapat membentuk karya
secara berbeda untuk audiensi dari kalangan akademisi, atau audiensi dari kalangan
moral/politik. Untuk audiensi dari kalangan pembeli, dia mengodekan karyanya dengan
alat-alat literer seperti berikut
Judul yang mencolok, sampul yang atraktif, tidak adanya jargon khusus, peminggiran
metodologi, metafora dan gambar popular, dan komentar pujian terhadap buku
tersebut dan materi pembukuan tentang daya tarik dari buku tersebut (Richardson,
1990)

Etika dan Filsafat Komunikasi

Untuk audiensi moral/politik, dia melakukan pengodean melalui alat-alat seperti:


Kata-kata

kalanga-sendiri

dalam

judulnya,

misalnya,

perempuan/kaum

perempuan/feminis dalam tulisan feminis reputasi moral atau aktivis dari penulis,
misalnya, peran penulis dalam gerakan sosial tertentu; referensi dan otoritas moral
dan aktivis; metafora memberdayaan, dan komentar pujian terhadap buku tersebut dan
materi pembukaan tentang bagaimana karya ini berhubungan dengan kehidupan
masyarakat nyata. ( Richarson, 1990, hlm. 32)
Terakhir, untuk audiensi akademisi, ia menandainya dengan:
Penampilan yang mencolok tentang reputasi akademis dari penulis, referensi catatan
kaki, bagian metologi, penggunaan metafora dan gambar akademis yang familier (
misalnya teori pertukaran, peran dan stratifikasi), dan komentar pujian
terhadap buku tersebut dan materi pembukaan tentang ilmu pengetahuan yang
dilibatkan.(Richadrson, 1990, hlm. 32)
Pengodean semacam itu dapat mencakup hal-hal sebagai berikut
Struktur keseluruhan yang tidak sesuai dengan pengantar, metode, hasil dan
format diskusi kuantitatif yang standar.
Gaya penulisan yang personal dan familier, sangat mudah dibaca, bersahabat, dan
cocok untuk beragam audiens serta memberikan efek persuasive.
Tingkat kerincian yang membuat karya tersebut menjadi hidup ----- yang
mencpaai kriteria verisimilitude.

Kutipan dalam Tulisan Kita


Richardson (1990) mengungkapkan tentang tiga jenis kutipan. Pertama adalah
kutipan pendek yang mencolok mata. Kutipan ini mudah dibaca, memakan sedikit
ruang, dan di luar dari teks penutur dan di maksudkan untuk menekankan keragaman
perspektif.
Ini adalah penyakit, tetapi dalam benak saya, saya tidak berpikir bahwa saya sedang
sakit. Oleh karena ijika anda memikirkan penyakit ini, hal itu akan membebani anda
lebih berat. Ini lebih seperti permainan otak.agar anda tetap hidup, anda tidak perlu
memikirkannya sama sekali. Penyakit itu tidak ada dalam pikiran. (hlm. 1347)
Jenis kedua adalah kutipan melekat, frasa yang di kutip secara ringkas dalam
narasi. Kutipan ini, menurut Richardson (1990), memungkinkan pembaca untuk
Etika dan Filsafat Komunikasi

mengikuti pergeseran penekanan atau penyampaian sebuah point dan memungkinkan


penulis (dan pembaca ) untuk bergerak lebih lanjut. Jenis ketiga adalah kutipan yang
lebih panjang yang digunakan untuk menyampaikan pemahaman yang lebih kompleks.
Kutipan jenis ini sulit di terapkan karena keterbatasan ruang dalam penerbitan dan
karena kutipan yang panjang dapat mengandung banyak ide, sehingga pembaca harus
di pandu untuk masuk ke dalam kutipan tersebut maupun keluar dari kutipan
tersebut untuk memusatkan perhatianya pada ide yang hendak di sampaikan oleh
penulis.

Strategi penulisan keseluruhan dan melekat.


Tabel 9.1 sebagai panduan bagi pembahasan berikutnya, di mana saya mendaftar
bannyak pendekatan structural menyeluruh dan melekat ketika di terapkan pada kelima
pendekatan penelitian.
Tabel 9.1 Struktur Penulisan Keseluruhan dan Melekat Dan Kelima Pendekatan
Narasi

Struktur penulisan keseluruhan

Struktur penulisan melekat

Proses yang fleksibel dan


baru ( clandinin & connely
,2000)

clandinin

&

connely, 2000 )

smith, 1994)
Metafora

dan

transisi

Lomask, 1986)
Metodi

& connely, 2000 )


Pengurutan informasi yang

atau

progresif-regresif
pembesaran

dan

temporal atau episodic (

pengecilan

Riessman,2008)

2004; Denzin, 1989b)

Melaporkan apa yang di


katakana para partisipan (
tema ), bagaimana mereka
mengakatakannya ( urutan
cerita

Etika dan Filsafat Komunikasi

mereka

clandinin & connely 2000;

Kronologi cerita (clandinin

Tema, peristiwa penting atau


alur ( czarniawska, 2004;

Model penelitian ruang tigadimensi

Epiphanies ( Denzin 1989b)

),

Tema

atau

(czarniawska

kategori

Riessman, 2008)
Dialog atau percakapan (
Riessman, 2008)

atau

bagaimana

mereka

berinteraksi dengan yang


lain

dialog

dan

penampilan/pertunjukan) (
Riessman, 2008)
Fenomenologi

Struktur dari mauskrip


riset ( moustakas, 1994)

melaporkan esensi-esensi (

Format laporan riset (


Tema, analisis analitis, mulai
asensi,

grigsby & megel, 1995)


Pembahasan

polkinghorne, 1989)

dengan

Gambar atau table yang

terlibat

dengan para penulis lain, (

filosofis

harper, 1981)
Penutup kreatif ( moustakas,
1994)

fan manen, 1990)


Grounded theory

Komponen studi grounded

Swanson, 1986)

theory ( Mei, 1986)


Hasil dari coding terbuka,
aksial,

dan

selektif,

Strauss & Corbin, 1990,


1998)
Fokus

Luasan analisis ( Chenitz &


Propinsi ( Strauss & Corbin,
1990 )
Diagram visual ( Harley,
dkk., 2009)

dan

Emosi, bahasa sederhana,

yang

ritme dan timing, definisi

mendukungnya ( Charmaz,

dan pernyataan tak terduga,

2006)

pertanyaan retoris, nada,

pada

teori

argument

tempo,

cerita,tulisan

evokatif ( Charmaz, 2006)


Etnografi

Tipe cerita ( Van maanen,

ley & Atkinson, 1995)

1988)
Dekskripsi,
penafsiran

analisisn
(

dan

wollcot,

Etika dan Filsafat Komunikasi

Dekskripsi tebal ( Denzin,


1989b; fatterman, 2010)
Dialog ( Nelson, 1990);

1994b)
narasi

Cerita figurative ( Hammers

tematik

Latar ( Emerson, Fretz&


5

Emerson, fretz, & shaw,

Shaw, 1995)
Alat literer, misalnya suara

1995)

dari para pembicara yang


berbeda, meningkatkan dan
menurunkan tempo narasi,
metafora, ironi, simile, (
Fetterman,

2010;

Richardson, 1990)
Studi kasus

Format

dengan

sketsa

Stake, 1995)
Format

Pendekatan

corong

mussen & Cresswell,1995)

laporan

kasus

Dekskripsi ( Merriam, 1988)

substantive ( Linclon &


Guba, 1985)
Tipe kasus ( Yin, 2009)
Struktur

alternative

berdasarkan

pada

pendekatan linier dan non


linier ( Yin, 2009)

Struktur Penulisan Narasi


Struktur keseluruhan. Para peneliti naratif mendorong individu untuk menulis
studi yang bereksperimen dengan bentuk naratif (Clandinin & Connelly, 2000) . para
peneliti dapat menghasilkan bentuk narasisnya dengan pertama-pertama melihat pilihan
bacaan mereka ( misalnya, memoir, novel), membaca di sertasi dan buku orang lain, dan
melihat studi neratif sebagai penulisan bolak-balik, sebagai proses ( Clandinin &
Connelly). Mereka mengulas dua disertasi doctoral yang menggunakan riset naratif.
Keduanya memiliki struktur narasi yang berbeda. Yang satu menyediakan

narasi

tentang kronologi dari kehidupan tiga orang perempuan; yang lain menggunakan
pendekatan disertasi yang lebih klasik yag mencakup pengantar, tinjauan literature dan
metodologi.
Dalam riset naratif, sebagaimana dalam semua bentuk penelitian kualitatif,
terdapat hubungan yang erat antara prosedur pengumpulan data, analisis, bentuk dari
Etika dan Filsafat Komunikasi

As

laporan tertulisnya. Dalam pendekatan yang lebih strukturmenganalisis bagaimana


individu menuturkan cerita unsur-unsur yang disajikan dalam laporan tersebut dapat
mengikuti enam unsur, apa yang oleh Riessman (2008) disebut naratif bentukan
penuh. Unsur-unsur tersebut adalah
Rangkuman dan/atau poin dari cerita tersebut;
Orientasi (Waktu, tempat, karakter dan situasi
Aksi komplikasi (rangkaian peristiwa, atau alur)]
Evaluasi
Resolusi
Kode (mengakhiri cerita dan membawanya kembali ke masa sekarang)
Dalam studi naratif ini yang berfokus pada interogasi antara pembicara, struktur
penulisan besar tersebut akan berfokus pada pembicaraan dan dialog langsung.
Struktur melekat. Struktur penulisan besar berproses dengan eksperimentasi dan
fleksibilitas, struktur penulisan pada level yang lebih kecil berhubungan dengan
beberapa unsur strategi penulisan yang mungkin digunakan oleh para penulis dalam
menyusun studi naratif.
Mungkin terdapat unsur spasial pada tulisan tersebut, seperti dalam metode
progresif-regresif (Denzin, 1989b) di mana penulis biografi memulai dengan peristiwa
penting dalam kehidupan partisipan dan kemudian bekerja maju dan mundur dari
peristiwa tersebut, sebagaimana dalam studi Denzin (1989b) tentang para pecandu
alcohol.
Peristiwa penting atau epiphany, yaitu momen dan pengalaman interaksi
penting yang menandai kehidupan seseorang. Denzin (1989b) membedakan emoa tipe
peristiwa utama yang terjadi dalam kehidupan individu; peristiwa kumulatif atau
representative, pengalaman yang terus berlanjut untuk beberapa waktu; epiphany kecil,
yang merepresentasikan momen dalam kehidupan seseorang dan episode atau epiphany
yang dikenang kembali.
Tema juga dapat dilaporkan dalam tulisan naratif. Smith (1994) menyarankan
agar penelitian menemukan tema untuk memandu pengembangan kehidupan yang
hendak ditulis. Tema ini muncul dari pengetahuan awal atau ulasam tentang
keseluruhan kehidupan tersebut, meskipun peneliti sering kali mengalami kesulitan
dalam membedakan tema utama dari tema-tema yang lebih kecil. Clandinin dan
Etika dan Filsafat Komunikasi

Connely (2000) menunjuk pada penulisan teks riset riset dengan batasanreduksionistis,
pendekatan yang melibatkan pereduksian menjadi tema di mana peneliti mencari
benang atau unsur yang sama di antara para partisispan.
Strategi penulisan narasi yang spesifik juga mencakup penggunaan dialog.
Dialog berkembang dalam proses studi tersebut, dan sering kali disajikan dalam
beragam bahasa, termasuk bahasa dari penutur dan terjemahan dalam bahasa inggris.
Alat retorika naratif yang lain diantaranya adalah penggunaan transisi. Lomask
(1986) menyebutkan bahwa transisi ini dibangun ke dalam narasi dalam hubungan
kronologis yang alamiah. Di samping transisi, peneliti naratif menggunakan peramalan
(foreshadowing), penggunaan isyarat naratif tentang hal-hal yang akan muncul atau
peristiwa atau tema yang akan dikembangkan berikutnya.

Struktur Penulisan Fenomenologi


Struktur keseluruhan. Pendekatan analisis yang sangat terstruktur oleh
Moustakes (1994) menampilkan formulir yang detail untuk menyusun studi
fenomenologis.

Langkah

analisisnyamengidentifikasikan

pernyataan

penting,

menyusun satuan makna, mengelompokkan tema, mengembangkan deskripsi tekstual


dan structural, dan diakhiri dengan deskripsi lengkap tentang struktur esensial dari
pengalaman tersebutmenyediakan prosedur yang jelas untuk mengorganisasikan
laporan (Moustakes, 1994).
Moustakes (1994) merekomendasikan bab-bab spesifik dalam menyusun sebuah
manuskrip
Bab 1 : Pengantar tentang topic dan garis besar. Topic itu bisa mencakup
pernyataan autobiografis tentang pengalaman peneliti yang mengantar topic
tersebut, insiden yang mengantar pada teka-teki atau keingintahuan tentang topic
tersebut, implikasi sosial dan relevansi topic tersebut, pengetahuam baru dan
sumbangsih bagi profesi lanjutan yang muncul dari pengkajian topic tersebut,
pengetahuan yang diperoleh oleh peneliti, pertanyaan riset, dan syarat dari studi
itu.
Bab 2 : Tinjauan tentang literature yang relavan. Topic-topiknya mencakup
alasan tentang database, pengantar pada literature, prosedur untuk memilih studi,
pelaksanaan studi ini dan tema yang muncul di dalamnya, dan rangkuman tentang
Etika dan Filsafat Komunikasi

temuan penting dan pernyataan tentang bagaimana riset tersebut berbeda dari riset
yang sebelumnya.
Bab 3 : Kerangka konseptual dari model tersebut. Topiknya mencakup teori
yang akan digunakan dan juga konsep yang terkait dengan desain risetnya.
BAB 4 : Metodologi. Topiknya mencakup metode dan prosedur dalam
persiapan

pelaksanaan

riset,

dalam

pengumpulan

data,

dan

dalam

pengorganisasian, analisis, dan sitesis data.


BAB 5 : Penyajian data. Topiknya mencakup contoh dari pengumpulan
data, analisis data, sintesis data, horizontalisasi, satuan makna, tema berkelompok,
deskripsi tekstural dan structural, dan sistesis makna dan esensi dari pengalaman
tersebut
BAB 6 : Rangkuman, implikasi, dan hasil. Bagiannya mencakup rangkuman
dari studi tersebut, pernyataan tentang bagaimana temuannya berbeda dari
temuam dalam tinjauan literature, saran untuk studi masa depan, identifikasi
keterbatasan, pembahasan tentang implikasi, dan penutup kreatif yang berbicara
tentang esensi dari studi tersebut dan inspirasinya bagi peneliti.
Model kedua, tidak begitu spesifik, terdapat dalam Polkinghorne (1989) di mana
ia membahas tentang laporan riset. Dalam model ini, peneliti mendeskripsikan
prosedur pengumpulan data dan langkah untuk bergerak dari data mentah menuju
deskripsi umum tentang pengalaman tersebut.
Model ketiga dari struktur penulisan keseluruhan dari studi fenomenologis berasal
dari van Manen (1990). Studi tersebut dapat diorganisasikan secara tematik untuk
mempelajari aspek esensial dari fenomena yang sedang diteliti. Ia juga dapat disajikan
secara analitis dengan mengerjakan kembali data teks tersebut menjadi ide yang lebih
besar, atau berfokus lebih sempit pada deskripsi tentang situasi kehidupan tertentu.
Struktur melekat. Beralih pada struktur retoris melekat , literature menyediakan
bukti paling baik. Peneliti menyajikan esensi dari pengalaman tersebut kepada para
partisipan dnegan menyusun paragraf pendek tentang nya atau dengan membungkus
paragraf ini dalam bagan. Alat structural yang lain adalah dengan mendidik pembaca
melalui pembahasan tentang fenomenologi dan asumsi-asumsi filosofisnya.

Etika dan Filsafat Komunikasi

Struktur Penulisan Grounded Theory


Dari tinjauan terhadap studi-studi grounded theory dalam bentuk artikel jurnal,
para peneliti kualitatif dapat menyimpulkan bentuk (dan variasi) umum untukmenyusun
narasinya.
Struktur keseluruhan. Yang paling penting, peneliti menampilkan teorinya dala setiap
narasi grounded theory. Sebagaimana komentar dari May (1986),Dalam sudut pandang
yang kaku, temuan dalam penelitian adalah teori itu sendiri, yaitu serangkaian konsep
dan proposisi yang menghubungkan semuanya. May kemudian mendeskripsikan
prosedur riset dalam setiap narasi griunded theory.

Tinjauan literature tidak menyediakan konsep penting dan tidak juga


mengemukakan hipotesis. (May, 1986, hlm. 149). Akan tetapi, tinjauan
literature dalam grounded theory memperlihatkan gap atau bias dalam
oengetahuan yang ada, karenanya menyediakan landasan ,pemikiran bagi
jenis studi kualitati ini.

Metodologi muncul selama berlangsungya penelitian, karena jika tergesa


menulisnya sejak awal akan menghadapi banyak kesulitan. Akan tetapi,
peneliti mulai dari tempat, dan ia mendeskripsikan ide pendahuluan tentang
sampel, setting, dan prosedur pengumpulan data.

Bagian temuan menyajikan skema teoritis. Peneliti mencatumkan referensi


dari berbagai literature untuk memperlihatkan dukungan luar bagi model
teoritis tersebut. Selain itu, bagian data actual dalam bentuk sketsa dan
kutipan menyediakan bahan penjelasan yang berguna. Bahan ini membantu
pembaca menyusun penilaian tentang seberapa baik teori tersebut
didasarkan pada data.

Bagian pembahasan akhir membahas akhir membahas tentang hubungan


teori tersebut dengan pengetahuan lain dan implikasi dari teori tersebut bagi
riset dan praktik di masa depan.

Strauss dan Corbin (1990) juga menyediakan parameter penulisan yang luas untuk
studi grounded theory mereka. Mereka menyarankan beberapa langkah berikut

Mengembangkan cerita analitis yang jelas. Hal ini harus dilakukan pada fase
coding selektif dari studi tersebut.

Etika dan Filsafat Komunikasi

10

Menulis pada level konseptual, di mana deskripsi dijaga pada posisi


sekunder terhadap konsep dan cerita analitisnya. Hal ini berarti peneliti
memberikan sedikit deskripsi tentang fenomena yang sedang dipelajari dan
lebih banyak membahas teori analitis pada level abstrak.

Menentukan hubungan antara berbagai kategori. Hal ini merupakan bagian


peneorian dari grounded theory grounded theory yang berlangsung dalam
coding aksial ketika peneliti menuturkan ceritanya dan mengajukan
proposisi.

Menentukan variasi dan kondisi yang relevan, konsekuensi, dan sebagainya


untuk menghubungkan kategori.dalam teori yang baik, seseorang dapat
menemukan beragam kondisi yang kepadanya teori tersebut berpijak. Hal ini
berarti bahwwa beragam perspektif atau variasi dalam tiap komponen dari
coding aksial dikembangkan secara penuh.

Charmaz (2006) menyarankan pendekatan yang kurang terstruktur dalam


penulisan naskah studi grounded theory. Ia menekankan pentingnya memunculkan ide
ketika teori tersebut berkembang, merevisi naskah awal, mengajukan kepada diri Anda
sendiri pertanyaan tentang teori tersebut.
Struktur melekat. Dalam studi grounded theory, peneliti memvaiasikan laporan
naratifnya berdasarkan pada keluasan analisis datanya. Dalam kata pengantar, mereka
menyebutkan bahwa analisis datanya.
Fitur lain dari narasi melekat adalah mempelajari bentuk untuk menyatakan
proposisi atau hubungan teoritis dalam studi grounded theory. Terkadang, proposisi ini
disajikan dalam bentuk diskursif, atau mendeskripsikan teori tersebut dalam bentuk
narasi. Strauss dan Corbin (1990) menyajikan model semacam itu dalam teori mereka
tentang protective governing di tempat perawanan kesehatan.
Struktur melekat yang lain adalah penyajian diagram logis, kerangka mini,
atau diagram integrative, di mana peneliti menyajikan teori aktualnya dalam bentuk
model visual. Peneliti mengidentifikasikan unsur dari struktur ini dalam fase coding
aksial, kemudian menuturkan ceritanya dalam coding aksial sebagai variasi darinya.
Charmaz (2006) menyediakan strategi penulisan melekat yang berguna dalam
laporan grounded theory.Charmaz juga mengajak untuk menggunakan defisi dan
pernyataan yang tidak diperkirakan oleh penulis grounded theory. Pertanyaan retoris
Etika dan Filsafat Komunikasi

11

juga berguna, dan penulisannya mencakup pengaturan tempo dan nada yang mengantar
seorang pembaca ke dalam topic tersebut. Cerita dapat dituturkan dalam studi
grounded theory, dan keseluruhan penulisan mengusung, bahasa evokatif untuk
memersuasi pembaca dari teori tersebut.
Studi grounded theory dari Harley dkk. (2009) yang disajikan Apendiks D
mengilustrasikan struktur yang lebih formal dari riset grounded theory ilmiah. Studi itu
dimulai dengan permasalahan riset dan tinjauan literature, kemudian berlanjut
padametode, hasil, pembahsan dan implikasi praktis. Struktur retorisnya berfokus pada
pengembangan model teoritis tentang evolusi dari aktivitas fisik. Di bagian hasil, kode,
dan kategori spesifik tidak disajikan. Akan tetapi, pembahasan dengan cepat masuk ke
dalam model teoritis dan diskusi detail tentang fase dari modul tersebut. Satu aspek
dari model tersebut perencanaan metode juga perlu disoroti untuk pembahasan
secara detail. Dalam sudut pandang strategi penulisan melekat, studi itu menyajikan
gambaran visual dari teori tersebut, dan menyebutkan bahwa para peneliti
menggunakan prinsip dasar dari analisis data grounded theory (kode dikelompokkan
menjadi konsep, konsep dipadukan menjadi kerangka teoritis). Dalam pengertian ini,
penulisan detail dan penulisan luas dalam laporan grounded theory dalam studi ini
lebih banyak merefleksikan proses penulisan studi grounded theory dengan berfokus
pada teori dan argument dari teori tersebut sebagaimana yang dibahas oleh Charmaz
(2006). Ia menempatkan kerangka analisis pada panggung utama (Charmaz, 2006)

Struktur Penulisan Etnografi


Struktur keseluruhan. Struktur penulisan keseluruhan untuk studi etnografi
sangatlah beragam. Sebagian etnografi ditulis sebagai cerita realis, laporan yang
menyediakan gambaran langsung, berdasarkna fakta, tentang kebudayaan yang
dipelajari tanpa banyak informasi tentang bagaimana para etnografer menghasilkan
gambaran tersebut. Laporan ini memiliki unsur penulisan realis dan konfesional dan
menurut saya, meyajikan cerita yang menekan dan persuasive.
Wolcott (1994b) menyediakan tiga komponen yang merupakan ciri utama dari
penulisan etnografi yang baik dan langkah dalam analisis data. Pertama, seorang
etnografer menulis diskripsi tentang kebudayaan yang menjawab pertanyaan Apa
yang sedang terjadi di sini?. Wolcott menyampaikan teknik yang berguna untuk
Etika dan Filsafat Komunikasi

12

penulisan deskripsi ini: urutan kronologis, rutan peneliti atau penutur, focus progresif,
peristiwa kritis atau penting, alur dan karakter, kelompok yang berinteraksi, kerangka
analitis, dan cerita yang dituturkan melalui beberapa perspektif. Kedua, setelah
mendeskripsi kebudayaan tersebut dengan menggunakan salah satu pendekatan ini,
peneliti menganalisis data. Ketiga, penafsiran dimasukkan dalam struktur retorika.
Hal ini berarti bahwa peneliti dapat memperluas analisisnya, membuat kesimpulan
informasi, melakukan sebagaimana yang diarahkan atau disarankan oleh para penafsiran
itu sendiri, menghubungkannya dengan pengalaman personal, menganalisis atau
menafsirkan proses penafsiran atau menggali format alternative.
Narasi tematis ini dibangun secara induktif dari ide atau tesis utama yang
mencakup beberapa tema analitis spesifik dan dijabarkan di seluruh bagian studi
tersebut. Studi itu disusun sebagai berikut:

Pertama adalah kata pengantar yang menarik perhatian pembaca dan


memfokuskan

studi

tersebut,

kemudian

peneliti

menghubungkan

penafsirannya dengan isu-isu yang lebih luas

Setelah itu, peneliti mengenalkan setting dan metode untuk mempelajarinya.

Peneliti menyajikan klaim analitis, dan Emerson dkk., (1995) menunjukkan


kegunaan dari satuan komentar kutipan, di mana seorang penulis
memasukkan poin analitis, menyediakan informasi orientasi tentang poin
tersebut.

Di bagian akhir, peneliti berefleksi dan menjabarkan tentang tesis yang


diajukan pada bagian awal.

Struktur melekat. Para etnografer menggunakan alat-alat retoris melekat,


misalnya figuratif (menyediakan gambaran visual dan spasial atau karakteristik
dramaturgical dari aksi sosial sebagai teater) atau metafora (synecdoche).
Denzin berbicara tentang pentingnya menggunakan deskripsi tebal dalam
penulisan penelitian kualtitatif. Maksudnya adalah narasi tersebut menyajikan detail,
konteks, emosi dan jaringan hubungan sosial [dan] membangkitkan emosi dan
perasaan.
Studi itu berada di antara cerita realis, dengan tujuan literaturnya dan
pembahasan metodenya yang luas, dan cerita kritis, dengan orientasinya kea rah

Etika dan Filsafat Komunikasi

13

pengkajian dari dekat perlawanan subkultur, dan refleksivitas dari penulis ketika ia
membahas keterlibatannya sebagai pengamat partisipan.

Struktur Penulisan Studi Kasus


Merriam (1988) menyatakan bahwa tidak ada format standar untuk pelaporan
studi kasus. Tujuan keseluruhan dari studi kasus tidak diragukan lagi adalah
membentuk struktur besar dari narasi tertulis tersebut.
Struktur keseluruhan. Seseorang dapat membuka dan menutup laporan studi
kasus dengan sketsa untuk menarik pembaca ke dalam kasus tersebut. Cara untuk
menempatkan topic dalam studi kasus yang baik:

Peneliti membuka tulisan dengan sketsa

Peneliti mengidentifikasi persoalan, tujuan, dan metode dari studi tersebut.

Pendeskripsian secara luas terhadap kasus tersebut dan konteksnya


kumpulan data yang relative tidak dipertentangkandeskripsi yang dapat
dibuat oleh pembaca seandainya ia hadir di sana.

Berbagai persoalan disajikan kemudian, yaitu beberapa persoalan penting,


sehingga pembaca dapat memahami kompleksitas dari kasus tersebut.

Beberapa persoalan itu kemudian diselidiki lebih lanjut.

Berikutnya adalah penegasan, rangkuman tentang segala sesuatu yang


dipahami oleh penulis tentang kasus tersebut dan apakah generalisasi
naturalisti awal, kesimpulan yang dihasilkan melalui pengalaman personal
atau yang dipaparka n sebagai pengalaman mengesankan untuk pembaca,
telah diubah secara konseptual atau ditantang.

Peneliti mengakhiri dengan sketsa penutup, suatu catatan pengalaman,


mengingatkan pembaca bahwa laporan ini.

Lincoln dan Guba (1985) mengemukakan kebutuhan untuk menjelaskan dan


menganalisis permasalahan penelitian, deskripsi yang lengkap tentang konteks atau
settimg, dekripsi tentang transaksi atau proses yang diamati dalam konteks tersebut,
penonjolan di tempat penelitian dan hasil penelitian.
Yin (2009) juga menyajikan beberapa struktur untuk menyusun laporan studi
kasus. Dalam pendekatan analitis-linier, pendekatan standar menurut Yin, peneliti
membahas permasalahan, metode, temuan, dan kesimpulan. Dalam struktur alternative,
Etika dan Filsafat Komunikasi

14

peneliti mengulangi studi kasus yang sama beberaa kali dan membandingkan deskripsi
atau penjelasan alternative dari kasus yang sama tersebut. Dalam struktur kronologis,
peneliti menyajikan studi kasus dalam rangkaian. Teori juga digunakan sebagai
kerangka dan studi kasus tersebut dapat memperdebatkan beragam hipotesis atau
proposisi. Dalam struktur suspense,jawaban atau hasil dari studi kasus dan
pengaruhnya disajikan di baba tau bagian awal. Dalam sstruktur tak-berangkaian,
peneliti mendeskripsikan kasus dengan tanpa urutan tertentu untuk bagian atau babnya.
Struktur melekat. Seorang penulis mungkin, untuk deskripsi tentang konteks
dan setting kasus tersebut, memulai dari gambaran luas menuju gambaran sempit. Para
peneliti juga perlu mengetahui sebanyaknya deskripsi dalam studi kasus mereka
dibandingkan

deskripsi

dan

analisis,

Merriam

(1988)

menyarankan

bahwa

keseimbangan yang tepat adalah 60%-40% atau 70%-30% dengan deskripsi lebih
banyak.
Seorang peneliti dapat mempertimbangkan struktur melekat alternative untuk
membangun analisis kasus.

Perbandingan Antara Berbagai Struktur Naratif


Pertama, Trope naratif dan alat literer, yang dibahas oleh para etnografer dan para
peneliti naratif, memiliki aplikabilitas (daya terap), apa pun pendekatannya. Kedua,
struktur penulisan sangat terkait dengan presedur analisis data. Diingatkan sekali lagi
bahwa sulit untuk memisahkan aktivitas pengumpulan data, dan penulisan laporan
dalam studi kualitatif. Ketiga, penekanan yang diberikan pada penulisan narasi,
khususnya struktur naratif melekat, juga sangat beragam di antara pendekatan tersebut.
Keempat, struktur narasi keseluruhan ditentukan secara jelas di sebagian pendekatan.
Sementara itu, studi itu bersifat fleksibel dan baru dalam pendekatan lain.

Sumber Buku :
John W Creswell, 2014, Penelitian Kualitatif & Desain
Riset, Yogyakarta, Pustaka Pelajar

Etika dan Filsafat Komunikasi

15