Anda di halaman 1dari 11

2.1.

Transaksi Terapeutik
Dalam pelayanan medis umumnya dokter melihat pasien dan keluarganya datang
meminta bantuan dan ia sebagai dokter berkewajiban untuk membantunya. Dokter tidak
pernah membuat suatu perjanjian tertulis sebelum mengobati pasien, kecuali persetujuan
yang diperlukan dokter di rumah sakit saat akan melakukan tindakan bedah.
Namun, keadaan itulah yang sekarang harus diketahui dan dipahami oleh para dokter
bahwa memang ada landasan hukum yang mengatur tentang hubungan dua pihak yang
bersepakat untuk mencapai suatu tujuan. Setiap pihak memiliki hak dan kewajiban yang
harus ditaati. Apabila salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya maka pihak yang
dirugikan dapat menuntut atau menggugat.
1.

Pengertian transaksi terapeutik


Transaksi berarti perjanjian atau persetujuan, yaitu hubungan timbal balik antara dua

pihak yang bersepakat dalam satu hal. Terapeutik adalah terjemahan dari therapeutic yang berarti
dalam bidang pengobatan. Istilah ini tidak sama dengan therapy atau terapi yang berarti
pengobatan. Persetujuan yang terjadi antara dokter dan pasien bukan di bidang pengobatan saja,
tetapi lebih luas mencakup bidang diagnostik, preventif, rehabilitatif maupun promotif sehingga
persetujuan ini disebut persetujuan terapeutik atau transaksi terapeutik.
Dalam bidang pengobatan, para dokter dan masyarakat menyadari bahwa tidak mungkin
dokter menjamin upaya pengobatan akan selalu berhasil sesuai dengan yang diinginkan pasien
atau keluarga, yang dapat diberikan dokter adalah upaya maksimal. Hubungan dokter dengan
pasien ini dalam perjanjian hukum perdata termasuk kategori perikatan berdasarkan daya upaya
atau usaha maksimal (inspanningsverbintesnis). Ini berbeda dengan ikatan yang termasuk
kategori perikatan yang berdasarkan hasil kerja(resultaatsverbintnis).

Transaksi terapeutik merupakan kegiatan di dalam penyelenggaraan praktik dokter


berupa pemberian pelayanan kesehatan secara individual atau disebut pelayanan medik yang
didasarkan atas keahlian dan keterampilan serta ketelitian. Sifat hubungan pelayanan medik itu
merupakan faktor utama yang menentukan hasil komunikasi antara dokter dengan pasien, antara
lain terjalinnya kerja sama yang baik, pentaatan terhadap aturan medik (pengobatan), dan upaya
pencapaian tujuan pelayanan medik.
Didasarkan Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia yang dilampirkan dalam
Keputusan Menteri Kesehan RI Nomor : 434/MEN.KES/X/1983 tentang berlakunya Kode Etik
Kedokteran Indonesia bagi para dokter di Indonesia, maka yang dimaksud dengan transaksi
terapeutik adalah hubungan antara dokter dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling
percaya (konfidensial), senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan, dan kekhawatiran
makhluk insani.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa transaksi terapeutik merupakan hubungan
antara dua subjek hukum yang saling mengikatkan diri didasarkan sikap saling percaya. Apabila
dihubungkan dengan Pasal 1313 jo 1320 Buku III KUHPerdata, maka hubungan antara dua
subjek hukum yang saling mengikatkan diri didasarkan kesepakatan disebut perjanjian. Akan
tetapi sikap saling percaya itu akan dapat ditumbuhkan jika terjalin komunikasi secara terbuka
antara dokter dan pasien karena masing- masing dapat saling memberikan informasi atau
keterangan yang diperlukan bagi terlaksananya kerjasama yang baik dan tercapainya tujuan
transaksi terapeutik tersebut.
2.

Tujuan Transaksi Terapeutik


Oleh karena transaksi teurapeutik merupakan bagian pokok dari upaya kesehatan yaitu

berupa pemberian pelayanan medik yang didasarkan atas keahlian, keterampilan, serta ketelitian,

maka tujuannya tidak dapat dilepaskan dari tujuan ilmu kedokteran itu sendiri, sebagaimana
tersebut di bawah ini:
Pertama, yaitu untuk menyembuhkan penyakit. Dalam hubungan ini, pemberi pelayan
medik berkewajiban untuk memberikan bantuan medik yang dibatasi oleh kriterium memiliki
kemamppuan untuk menyembuhkan, dan dapat mencegah atau menghentikan proses penyakit
yang bersangkutan. Secara yuridis ditegaskan dalam Pasal 50 UU No 23 Tahun 1992 bahwa
tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya bertugas menyelenggarakan atau melakukan
kegiatan kesehatan sesuai dengan idang keahlian dan atau kewenangannya. Untuk menjamin
terselenggaranya kegiatan tersebut, maka setiap tenaga kesehatan termasuk dokter berhak
memperoleh perlindungan hukum, sepanjang kegiatan yang dilakukannya sesuai dengan standar
profesi dan tidak melanggar hak pasiennya. Adapun standar profesi yang dimaksudkan dalam
uraian ini adalah standar pelayanan medik yang disusun oleh IDI, yang selanjutnya digunakan
dengan istilah standar medik. Standar medik itu dapat dirumuskan sebagai cara bertindak secara
medik dalam peristiwa yang nyata berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Dengan
demikian standar medik dapat meliputi lebih dari satu metode pengobatan dan perawatan.
Kedua, untuk meringankan penderitaan. Oleh karena tindakan medik yang dilakukan
dalam penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan pasien harus secara nyata ditujukan
untuk memperbaiki keadaan pasien, atau agar keadaan kesehatan pasien lebih baik dari
sebelumnya, maka guna meringankan penderitaan pasien, penggunaan metode diagnostik atau
terapeutik yang lebih menyakitkan seharusnya dihindarkan.
Ketiga, untuk mendampingi pasien. Di dalam pengertian ini, termasuk juga
mendampingi menuju ke kematiannya. Kegiatan mendampingi pasien ini seharusnya sama
besarnya dengan kegiatan menyembuhkan pasien. Di dalam dunia kedokteran tidak ada alasan
yang menyatakan bahwa kegiatan yang didasarkan keahlian secara teknis merupakan kewajiban

yang lebih penting daripada kegiatan untuk mengurangi penderitaan dan kegiatan untuk
mendampingi pasien. Oleh karena itu, jika pendidikan ilmu kedokteran kurang memerhatikan
masalah kewajiban profesional menurut norma etis dan hukum, maka para dokter yang
dihasilkannya cenderung untuk melakukan kegiatan teknis pelayanan medik.
3.

Proses transaksi terapeutik


Oleh karena dalam mengghadapi masalah kesehatannya seseorang tidak dapat

menanganinya sendiri, maka diperlukan bantuan atau pertolongan seorang ahli dibidang medik.
Akan tetapi banyak masalah kesehatan yang tidak dapat ditangani dan diselesaikan ditemapat
praktik dokter tetapi harus dilakukan diklinik dengan berobat jalan atau dirumahsakit dengan
opname. Ada banyak tenaga kesehatan juga yang harus diurus oleh dokter di Rumah Sakit
sehingga ada berbagai peraturan yang dibuat pihak rumah sakit tersebut.
a.

Terjadinya Transaksi Terapeutik


Pada umumnya seseorang yang merasakan adanya gangguan terhadap kesehatannya dan

telah berusaha mengatasi gangguan tersebut tetapi tidak berhasil, maka orang tersebut akan
berusaha mencari pertolongan. Oleh karena setiap orang bertanggung jawab atas kesehatannya
sendiri maka jika seseorang menggunakan orang lain untuk menolong mengatasi permasalahan
kesehatannya, berarti sebagian tanggunang jawabnya diserahkan

kepada pemberi bantuan.

Namun karena yang diminta bantuan itu seorang dokter yang memiliki kemampuan profesional
dan terikat pada norma etis dan norma hukum tertentu yang mengatur kewajiban profesionalnya
maka sebagai pemberi pertolongan maka sebagai pemberi pertolongan maka dokter juga
mempunyai kewajiban profesinal terlepas dari adanya permintaan pertolongan tersebut.
Seharusnya pasien juga akan mendapatkan pertolongan yang sebaik-baiknya didasarkan

keahlian, kewenangan serta ketelitian seorang pemberi jasa profesional dididang medik. Apalagi
sesuai dengan sistem pelayanan kesehatan yang berlaku di indonesia, dokter berdekukukan
sebagai abdi negara yang mengemban tugas untuk meningkatkan derajat kesihatan masyarakat
dengan menggunakan keahlian profesionalnya sehubungan dengan itu, didalam Pasal 53 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1992 ditegaskan bahwa tenaga kesehatan dalam melakukan
tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar propesi dan memenuhi hak pasien. Untuk itu,
pasien juga dilibatkan untuk berperan serta sebagai mana ditegaskan dalam pasal 5 undang
undang tersebut yaitu berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan baik perseorangan keluarga ataupun lingkungannya.
b.

Syarat Sahnya Transaksi Teraputik


Pada umumnya perjanjian atau kontrak telah diterima sebagai sumber dari hubungan

antara dokter dan pasien, sehingga transaksi terapeutik disebut pula dengan istilah perjanjian atau
kontrak terapeutik. Akan tetapi dengan semakin menigkatnya kepekaan terhadap martabat
manusia, maka penataan hubungan antar manusia termasuk hubungan yang timbul dari transaksi
terapeutik yang juga dihubungkan dengan hak manusia. Hal ini terbukti dari pegakuan secara
universal bahwa Perjanjian Terapeutik (transaksi terapeutik) bertumpu pada dua macam hak
asasi, yaitu hak untuk menentukan nasib sendiri dan hak untuk mendapatkan informasi.
Didasarkan pada kedua hak tersebut maka dalam menentukan tindakan medik yang akan
dilakukan oleh dokter terhadap pasien harus ada informed consent (persetujuan yang didasarkan
atas informasi atau penjelasan)yang di Indonsesia diterjemahkan sebagai persetujuan tindakan
medik. Namun informed consent bukan hanya disyaratkan dalam trasnsaksi terpeutik tetapi juga
dalam penelitian bio medik pada manusia, sebagai mana dicantumkan dalam Deklaasi Helsinki

yang penyusunannya berpedoman pada The Nuremberg Code yang semula disebut sebagai
persetujuan sukarela. Didalam Nuremberg Code dikemukakan empat syarat sahnya
persetujuanyang harus diberikan sevara sukarela yaitu:
1.
2.
3.
4.

Persetujuan harus diberikan secara sukarela.


Diberikan oleh yang berwanang hukum.
Diberitahukan.
Dipahami.

Secara tegas di dalam Nuremberg Code disebutkan bahwa the voluntary consent of the
human subjct is absolutely essensial. Berarti bahwa persetujuan merupakan syarat mutlak dalam
penelitian. Oleh karena itu, dapat disebut beberapa alasan pentingnya perstujuan sehingga
dicetuskannya Deklarasi Helsinki, yaitu :
1. Melindungi otonomi pasien, karena pasien menguasai kehidupannya sendiri;
2. Melindungi martabat manusia, karena pasien bertanggung jawab atas
hidupnya;
3. Berfungsi untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa para subjek tidak
dimanipulasi atau ditipu;
4. Menciptakan suasana kepercayaan antara subjek penelitian dan dokter
4.

Dasar Hukum Transaksi Terapeutik


Untuk dapat melihat hubungan dokter dengan pasien yang mempunyai landasan hukum,
dapat dimulai dengan pasal 1313 KUH Perdata:
Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikat dirinya
terhadap satu orang atau lebih.

Dalam bidang pengobatan, jelas ada hubungan atau persetujuan antara pasien atau
keluarga pasien dengan satu orang dokter atau beberapa dokter. Dengan demikian, akibat
persetujuan ini akan terjadi perjanjian antara kedua pihak.
Dalam undang-undang dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan perikatan/perjanjian
adalah hubungan hukum antara dua orang atau lebih, dengan pihak yang satu berhak
menuntut sesuatu dari pihak lain, sedangkan pihak lain itu berkewajiban memenuhi tuntutan
itu.
Dari ketentuan ini, dapat dilihat bahwa dalam pelayanan kesehatan memang terjadi
hubungan antara pasien atau keluarga pasien yang meminta bantuan dan dokter yang dengan
keahlian yang dimilikinya sanggup memenuhi bantuan yang diminta pasien/keluarga pasien.
Dalam hal ini dikatakan bahwa pihak pasien/keluarga menuntut suatu prestasi dari dokter.
Syarat Sahnya Suatu Persetujuan
Berpedoman pada pasal 1320 KUH Perdata. Untuk sahnya persetujuan-persetujuan
diperlukan 4 syarat, yaitu:
1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya.
Dalam hubungan dokter pasien hal ini mudah dipahami sebab bila salah satu tidak setuju,
maka tidak akan terjadi suatu transaksi terapeutik. Pasien setuju dengan dokter yang
dipilihnya, dan dokter sanggup mengatasi problema kesehatan pasien yang datang
kepadanya.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian
Kecakan ini harus ada pada kedua belah pihak, yaitu yang memberi pelayanan maupun
yang memerluka pelayanan. Dari pihak pasien menurut ketentuan ini dituntut orang yang

cakap untuk membuat perikatan, yaitu orang dewasa yang waras. Bila lain dari ini tentu
harus ada pendamping. Sebagai tambahan, kalang dokter harus memiliki kecakapan yang
dituntut atau diperlukan oleh pasien, yaitu para dokter umum sebagai dokter umum dan
dokter spesiali sebagai dokter spesialis sesuai spesialisasinya. Dan harus memiliki bukti,
seperti ijazah atau sertifikat yang diakui pemerintah maupun perhimpunan keahliannya.
3. Sesuatu hal tertentu.
Yang dimaksud sesuatu hal tertentu dalam persetujuan adalah suatu penyakti atau
keadaan yang perlu diatasi dokter. Sesuatu ini bisa lebih dari satu hal. Pada tindakan
khusus, seperti pembedahan atau tindakan invasif lainnya, misalnya pada bedah seksio
sesaria, mengeluarkan anak melalui operasi disertai tindakan dokter mengangkat
apendiks pasien yang patologik boleh dilakukan karena terpaksa. Namun setelah pasien
siuman, dokter harus menyampaikan tindakan yang diluar prosedur tersebut kepada
pasien dan menjelaskan keadaannya. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan tahun
1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik (pasal 7 ayat 2 dan 3).
4. Sesuatu yang halal.
Hal ini tidak berkaitan dengan kepercayaan atau agama. Yang dimaksud dengan halal di
sini adalah sesuatu perikatan yang tidak melanggar hukum. Contoh klasik adalah
melakukan pengguguran kandungan yang ilegal, atau mengubah wajah secara operasi
kosmetik untuk menghindari penangkapan oleh polisi, atau menghilangkan sidik jari dan
lain-lain.
Pembatalan Persetujuan
Persetujuan tidak akan selalu berjalan mulus. Kadang dapat terjadi salah satu pihak yang
tidak mau melanjutkan transaksi di bidang pengobatan ini. Masalah pembatalan persetujuan
ini diatur dalam pasal 1338 KUH perdata:

Semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua
belah pihak atau alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.
Persetujuan harus dilakukan dengan itikat baik.
Dalam pasal ini jelas dinyatakan bahwa persetujuan yang telah terjadi tidak dapat
dibatalkan begitu saja karena persetujuan yang kita sebut sebagai transaksi atau kontrak
terapeutik, berlaku sebagai undang-undang.
Pembatalan ini tidak selamanya harus tertulis sebab keadaan atau alasan-alasan yang oleh
undang-undang dinyatakan cukup, juga merupakan bukti bahwa persetujuan itu telah batal.
5. Aspek Etik Transaksi Terapeutik
Aspek etika bagi dokter berprinsip dasar altruisme atau primum non nocera yaitu tidak
merugikan orang lain dan dari segi pasien adalah asas resiprokal yaitu imbalan yang wajar.
Hak dan kewajiban
Hak pasien adalah berobat. Kewajibannya adalah bertanya, berterima kasih, patuh
dan beritikad baik. Kewajiban dokter adalah melakukan upaya pengobatan dan tidak
mengingkari amanah pasien. Haknya adalah menerima rasa terima kasih pasien.
Hanya ada satu kiat untuk tidak mengingkari amanah pasien. Kiat itu adalah
menghormati hak pasien. Menghormati hak pasien berarti melakukan upaya yang
sebaik-baiknya bertujuan untuk mencapai tepat pengobatannya, cara pelayanannya,
hemat biayanya dan selamat dunia akhirat Upaya tersebut hanya bisa dicapai bila

upaya dokter memenuhi unsur tidak mencelakakan, efektif dan efisien serta tidak
melanggar

Kode

etik

atau

hukum.

Hak pasien diatur dalam UU Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen. Dalam


aturan itu disebutkan mengenai hak pasien yaitu hak atas kenyamanan, keamanan,
keselamatan, memilih, informasi, didengar, mendapatkan advokasi dan upaya
perlindungan, pelayanan yang tidak diskrimatif, mendapatkan ganti rugi dan hak yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan lain. Kesemuanya itu bermuara pada
HAM yaitu hak atas pelayanan kesehatan dan hak otonomi atas diri pasien.
Hak atas pelayanan kesehatan diperoleh sejak masih dalam kandungan. Hak ini
adalah bagian dari hak dasar manusia yang dikenal sebagai hak asasi manusia.
Walaupun hak dasar sudah dikumandangkan oleh berbagai agama sejak dunia
terkembang, kepustakaan mencatat nama John Locke tahun 1690 sebagai penemunya.
Baru pada tahun1960 hak ini diakui secara resmi di Indonesia. Undang-undang
Kesehatan no. 9 tahun 1960 pasal 1 menyebutkan : Tiap-tiap warga negara berhak
memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dan perlu diikutsertakan dalam
usaha-usaha kesehatan pemerintah. Ketentuan ini diperbarui dalam Undang-undang
Kesehatan no. 23 tahun 1992 pasal 4 yang menyebutkan : Setiap orang mempunyai
hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal.
Sama halnya dengan pasien, dokter adalah warga negara. Sebagai warga negara
dokter tidak boleh melanggar hukum. Dokter tidak boleh melanggar hak atas
pelayanan kesehatan. Hak atas pelayanan kesehatan inilah yang mendasari adanya
hubungan dokter-pasien.

Hak atas pelayanan kesehatan menimbulkan kewajiban hukum melayani dari


dokter. Kewajiban ini tidaklah mutlak. Artinya dokter tidak wajib memberikan
pertolongan kepada orang yang menolak pertolongan itu. Hak ini dikenal dengan hak
otonomi atas diri pasien. Hak ini juga disebut dengan hak menentukan nasib sendiri.
Dari pihak pasien hak otonomi ini tidaklah mutlak, karena dibatasi oleh aturan
hukum. Misalnya usaha mengakhiri hidup atau euthanasia merupakan tindakan
melanggar hokum